Anda di halaman 1dari 2

KESETARAAN GENDER DALAM MUHAMMADIYAH

Dengan seiringi kesadaran perempuan yang mempertanyakan tentang sejauh manakah peran agama
dalam memberikan rasa aman dari berbagai tekanan, ketakutan dan ketidakadilan persoalan agama dan
perempuan menjadi marak. Dan sekarang agama mendapat suatu tantangan baru dengan di anggapnya
agama sebagai salah satu unsur yang melanggengkan suatu ketidakadilan bagi perempuan, oleh karena
itu pada agamawan baik individu atau kelompok di tuntut untuk melihat secara lebih jelas, apakah
persoalan itu inheren dalam agama itu sendiri ataukah persoalan terletak pada tafsir keagamaan, bisa
jadi terpengaruh oleh kultural tertentu

Perbedaan gender sesungguhnya tidaklah menjadi masalah selagi tidak muncul suatu ketidakadilan dan
diskriminasi, baik laki-laki dan perempuan, ketidakadilan gender termanisfestasi dalam berbagai bentuk
ketidakadilan. , yakni marjinalisasi subordinasi (anggapan tidak penting), stereotype (pelabelan
negative), violesence (kekerasan), beban kerja ganda atau lebih, dan sosialisasi ideologi nilai peran
gender, perbedaan gender yang menimbulkan ketidakadilan ini menyebabkan kerugian bagi laki-laki
maupun perempuan ( Animasi bergerak ).

. Muhammadiyah merupakan organisasi yang sejalan dengan semangat tajdid (perubahan)


Muhammadiyah yang sudah di gagaskan oleh KH Ahmad Dahlan yaitu “KESETARAAN GENDER” ( Peran
laki-laki dan perempuan, bukan dari segi tanggung jawab ). Dengan pendirian KH.Ahmad Dahlan yang
keras terhadap taqlid dan keterbukaannya terhadap perubahan menjadikan Muhammadiyah sebagai
organisasi yang dinamis dan bisa menyesuaikan diri dengan perubahan Dengan semboyan kembali
kepada Al-Qur‟an dan Sunnah.

PERAN PEREMPUAN MUHAMMADIYAH DALAM KEHIDUPAN BERBANGSA.

sejarah kenabian mencatat sejumlah besar perempuan yang ikut memainkan peran-peran ini
bersama kaum laki-laki. Khadijah, Aisyah, Umm Salamah, dan para isteri nabi yang lain, Fathimah (anak),
Zainab (cucu) dan Sukainah (cicit). Mereka sering terlibat dalam diskusi tentang tema-tema sosial dan
politik, bahkan mengkritik kebijakan-kebijakan domestik maupun publik yang patriarkis. Partisipasi
perempuan juga muncul dalam sejumlah “baiat” (perjanjian, kontrak) ) untuk kesetiaan dan loyalitas
kepada pemerintah dan Aisyah RA mempunyai tempat yang sangat istimewa yang sejak awal disiapkan
oleh Allah SWT untuk menjadi pendamping dan penyokong Rasulullah sebagai Pengemban Risalah.

Kepemimpinan yang ditunjukkan oleh Aisyah RA di Perang Jamal memiliki alasan yang mendasar
yang mempunyai keingin menegakkan keadilan pasca terbunuhnya Utsman yang terbunuh secara
zhalim. Sesungguhnya keterlibatan Aisyah r.a. bersama sekian banyak sahabat Nabi dan
kepemimpinannya dalam peperangan itu, menunjukkan bahwa beliau bersama para pengikutnya itu
menganut paham kebolehan keterlibatan perempuan dalam politik praktis sekalipun.

Maka dapat dikatakan bahwa setiap lelaki maupun perempuan memiliki hak aktif berpolitk,
karena tidak ditemukan satu ketentuan agama pun yang dapat dipahami sebagai melarang keterlibatan
perempuan dalam bidang kehidupan bermasyarakat. Bahkan sebaliknya, sejarah Islam menunjukkan
betapa kaum perempuan terlibat dalam berbagai bidang kemasyarakatan, tanpa kecuali.
Setelah berdiri, ‘Aisyiyah tumbuh dengan cepat. Sebagai organisasi perempuan Muhammadiyah,
‘Aisyiyah kemudian tumbuh menjadi organisasi otonom yang berkembang ke seluruh penjuru tanah air.

Kongres Aisyiyah

Pada tahun 1919, Aisyiyah merintis pendidikan dini untuk anak-anak dengan nama FROBEL

yang merupakan Taman Kanan-Kanak pertama kali yang didirikan oleh bangsa Indonesia. Selanjutnya
Taman kanak-kanak ini diseragamkan namanya menjadi TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal yang saat ini telah
mencapai 5.865 TK di seluruh Indonesia

pada tahun 1923, n mengadakan pemberantasan buta huruf pertama kali, baik buta huruf arab maupun
latin.

pada tahun 1926, menerbitkan majalah organisasi yang diberi nama Suara ‘Aisyiyah yang awal
berdirinya menggunakan Bahasa Jawa

Anda mungkin juga menyukai