Anda di halaman 1dari 4

Tatalaksana dan Pencegahan Diare

oleh Evan Regar, 0906508024

Pendahuluan

Kasus diare yang ditandai dengan tinja berbentuk cair atau setengah padat dengan konsistensi
cair dengan frekuensi berulang mengisyaratkan banyaknya kehilangan cairan tubuh yang dapat terjadi.
Dengan demikian, tatalaksana utama dalam kasus diare, khususnya diare akut adalah dengan
melakukan rehidrasi. Namun demikian, untuk diare akibat infeksi spesifik tertentu atau diare kronik
membutuhkan tatalaksana khusus.

Rehidrasi

Rehidrasi pada umumnya sudah mencukupi pasien yang mengalami diare akut. Lebih lanjut
lagi, kasus yang ringan bahkan hanya membutuhkan konsumsi air, sari buah, dengan biskuit asin
(salted crackers) sebagai pencegahan terjadinya dehidrasi.1 Untuk kasus yang lebih berat, dibutuhkan
terapi rehidrasi oral khusus. Apabila kehilangan cairan semakin banyak, pilihan terapi rehidrasi
menggunakan cairan intravena menjadi pilihan2 Pilihan rehidrasi akan bergantung pada tingkat
dehidrasi. Tingkat dehidrasi terbagi menjadi 3, yakni dehidrasi ringan, sedang, dan berat.3

Simptom Derajat dehidrasi#


Ringan (<3% m.t) Sedang (3% – 9% Berat (>9% m.t)
m.t)
Status mental Kompos mentis Lelah, gelisah Apati, letargik, tidak
sadar
Rasa haus Minum banyak, dapat Haus, meninginkan Minum sedikit, tidak
menolak minuman minuman dapat minum
Denyut jantung Normal Normal atau bertambah Takikardi, kadang-
kadang bradikardi
Kekuatan denyut Normal Normal atau bekrurang Lemah, tidak teraba
Pernapasan Normal Normal atau cepat Dalam
Mata Normal Sedikit sayu Sayu
Air mata Ada Berkurang Tidak ada
Mulut dan lidah Lembab Kering Sangat kering
Pengisian kapiler Normal Lebih lama Lebih lama dan tak
sempurna
Ekstremitas Hangat Kurang hangat Dingin, sianosis
Pengeluaran urin Normal sampai berkurang Berkurang Sedikit, sangat sedikit
Lipat kulit ketika Kembali secara cepat Kembali <2 detik Kembali >2 detik
dicubit
Tatalaksana umum Tidak membutuhkan Terapi rehidrasi oral Terapi rehidrasi intravena
rehidrasi, melanjutkan
makanan seperti biasa

Tabel 1 – Derajat dehidrasi


Sumber: Centers for Disease Control and Prevention (CDC) – Sumber lain menyatakan bahwa
dehidrasi ringan terjadi apabila kekurangan cairan 2-5%, sedang apabila 5-8%, dan berat apabila 8-
10%2

Menurut World Health Organization (WHO)2, terapi menggunakan rehidrasi oral meliputi air
yang ke dalamnya ditambahkan 2,6 gram NaCl; 2,5 gram NaHCO 3 (atau 2,9 gram Na-sitrat); 1,5 gram
KCl; dan 13,5 gram glukosa (atau 27 gram sukrosa).

Gastrointestinal 2010/2011 / Pemicu 2 1


Pemilihan terapi rehidrasi dilakukan berdasarkan derajat dehidrasi serta faktor lain, seperti
apakah ada rasa mual atau kecenderungan untuk muntah.. Dehidrasi ringan biasanya tidak
membutuhkan terapi rehidrasi. Meskipun demikian cairan rehidrasi oral kadang-kadang dapat
diberikan untuk menggantikan kehilangan cairan yang terjadi. Dehidrasi sedang membutuhkan terapi
rehidrasi oral, sedangkan dehidrasi berat biasanya membutuhkan terapi rehidrasi intravena. Rehidrasi
intravena juga merupakan indikasi apabila pasien mengalami rasa mual dan sering muntah. Setelah
mempertimbangkan derajat dehidrasi dan tatalaksana yang tepat, dibutuhkan jumlah cairan yang
dibutuhkan. Dalam hal menentukan jumlah cairan, ada beberapa rumus yang dapat digunakan, di
antaranya adalah:2

1. Menghitung berat jenis plasma

2. Metode Pierce berdasarkan status klinis derajat dehidrasi penderita. Metode ini menjabarkan
bahwa:
a. Dehidrasi ringan membutuhkan cairan rehidrasi sebanyak 5% dari berat badan;
b. Dehidrasi sedang membutuhkan cairan rehidrasi sebanyak 8% dari berat badna;
c. dan Dehidrasi berat membutuhkan cairan rehidrasi sebanyak 10% dari berat badan.

3. Metode Daldiyono, yang mana metode ini menggunakan skor penilaian klinis. Dari seluruh
definisi skor, nilai dijumlah untuk dikonversi ke dalam rumus kebutuhan cairan. Skor yang
kurang dari 3 mengindikasikan hanya dibutuhkan cairan oral, sementar skor yang lebih dari 3
membutuhkan pemberian cairan intravena.

Setelah menentukan jumlah cairan rehidrasi ynag dibutuhkan, pemberian cairan harus
dilakukan menggunakan beberapa tahap. Tahap awal merupakan tahap rehidrasi inisial, di mana
jumlah cairan rehidrasi ynag dibutuhkan langsung diberikan agar terapi rehidrasi optimal tercapai.
Satu jam berikutnya, pemberian cairan ditentukan berdasarkan kehilangan cairan selama 2 jam
pemberian cairan rehidrasi tahap awal. Jam berikutnya pemberian cairan dilakukan berdasrkan
kehilangan cairan melalui tinja maupun insensible water loss.2

Medikasi

Selain pemberian cairan rehidrasi, tatalaksana diare lainnya adalah dengan menggunakan
obat-obat antidiare. Walaupun demikian, obat-obatan seperti ini sebaiknya dihindari untuk pasien
dengan diare berdarah, demam, serta toksisitas sistemik karena dapat menyebabkan eksaserbasi
penyakit.4 Selain daripada diare akut, diare kronik akibat irritable bowel syndrome (IBS) dan
inflammatory bowel disease (IBD) dapat juga efektif terhadap pengobatan ini.

Obat dengan golongan agonis opioid berefek terhadap konstipasi melalui inhibisi serabut
saraf presinaps kolinergik di pleksus submukosa dan mienterik sehingga meningkatkan waktu transit
di usus dan penyerapan air di kolon. Obat ini juga mengurangi pergerakan di kolon dan menghambat
refleks gastrokolik. Obat yang termasuk contoh dari golongan ini dalah loperamid dan difenoksilat.
Penggunaan atropin sebagai obat antikolinergik dapat pula memiliki efek antidiare.

Kaolin merupakan magnesium aluminium silikat yang terhidrasi (attapulgite) serta pektin
(serat tak tercerna yang banyak ditemukan di buah apel) bermanfaat sebagai penyerap cairan dan
racun bakteri sehingga mengurangi likuiditas dan jumlah tinja yang bermanfaat untuk diare akut

Gastrointestinal 2010/2011 / Pemicu 2 2


(namun jarang digunakan utnuk diare kronik). Akibat efek absorpsinya, obat-obatan ini tidak
dianjurkan untuk diberikan 2 jam setelah pemberian obat-obat lain.

Diare akut yang sangat sering diakibatkan oleh infeksi mikroorganisme tentunya
membutuhkan eradikasi mikroorganisme melalui pemberian antibiotik. Namun demikian perlu
dipertimbangkan tentang faktor virulensi dari bakteri yang terlibat. Banyak infeksi akibat bakteri
maupun virus yang non-invasif menimbulkan self limited disease dan tidak membutuhkan antibiotik.
Infeksi yang invasif seperti traveller’s diarrhea atau infeksi pada penderita yang imunosupresif cukup
efektif diberikan antibiotik golongan kuinolon (sebagai contoh: siprofloksasin). Golongan kuinolon
biasanya efektif terhadap patogen invasif seperti Campylobacter, Shigella, Salmonella, Yersinia, serta
Aeromonas (banyak kuman gram-negatif)2 Antibiotik golongan ini menghambat kerja enzim DNA
girase (DNA girase berguna untuk menimbulkan negative supercoiling = mencegah puntiran
berlebihan saat memisahkan struktur DNA double-helix). Siprofloksasin dan ofloksasin juga efektif
untuk penangangan demam tifoid.6

Infeksi parasit seperti giardiasis efektif apabila ditangani dengan obat antiparasit seperti
metronidazol. Obat lain yang dapat digunakan adalah tinidazol. Infeksi akibat clostridium difficile
juga diterapi menggunakan metronidazol.

Walaupun antibiotik diberikan untuk pengobatan infeksi, namun demikian antibiotik dapat
pula diberikan sebagai profilaksis khususnya bagi orang-orang yang merencanakan untuk berpergian
ke negara-negara dengan tingkat infeksi yang tinggi.5 Profilaktik dapat menggunakan siprofloksasin
yang dapat memberikan perlindngan mencapai 90%.2

Pencegahan

Oleh karena diare (khususnya diare akut) hampir seluruhnya disebabkan oleh infeksi, prinsip
dasar dalam pencegahan diare adalah dengan menutup serapat mungkin kemungkinan infeksi dari
mikroorganisme.

1. Makanan sebagai salah satu sumber infeksi merupakan hal yang dapat dijaga. Masaklah
makanan dengan baik sampai suhu yang disarankan.
2. Sebelum mengonsumsi buah dan sayuran, cucilah buah dan sayur di air bersih agar
menanggalkan semua kemungkinan mikroorganisme.
3. Dalam hal mengonsumsi susu, proses pasteurisasi merupakan proses yang menjadikan susu
bebas dari bakteri. Oleh karena itu mengonsumsi susu takterpasteurisasi sebaiiknya dihindari.
4. Saat berpergian ke negara lain, terutama negara yang dilaporkan menjadi sumber infeksi,
pastikan untuk tidak mengonsumsi makanan dari tempat yang tidak terjamin kehigienisannya
(misal: penajaja di pinggir jalan). Janganlah meminum air keran secara langsung atau es batu
yang terbuat dari air yang tidak bersih.

Selain daripada diare akibat infeksi, diare osmotik akibat pencernaan makanan yang kurang sempurna
dapat pula dihindari. Sebagai contoh, apabila seseorang telah mengetahui bahwa dirinya mengalami
intoleransi laktosa, konsumsi susu merupakan hal yang dapat dihindari untuk mencegah terjadinya
diare.

Gastrointestinal 2010/2011 / Pemicu 2 3


Kepustakaan

1. Greenberger N, Blumberg RS, Burafkoff R, editors. Current diagnosis & treatment


gastroenterology, hepatology, & endoscopy. New York: McGraw Hill; 2009
2. Simadibrata M, Daldiyono. Diare akut. In: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M,
Setiati S, editors. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Jilid I. Edisi V. Jakarta: Interna Publishing;
2009
3. Centers for Disease Control and Prevention. Guidelines for the management of acute diarrhea
after a disaster [Internet]. 2010 [cited 2010 Feb 15]. Available from:
http://www.bt.cdc.gov/disasters/disease/diarrheaguidelines.asp
4. McQuaid KR. Drugs used in the treatment of gastrointestinal diseases. In: Katzung BG,
Masters SB, Trevor AJ, editors. Basic & clinical pharmacology. 11 th edition. New York:
McGraw Hill; 2009
5. Camilleri M, Murrah JA. Diarrhea and constipation. In: Fauci AS, Braunwald E, Kasper DL,
Huaser SL, Longo DL, Jameson JL et.al, editors. Harisson’s principles of internal medicine.
17th edition. New York: McGraw Hill; 2008
6. Setiabudy R. Golongan kuinolon dan florokuinolon. In: Gan SG, Setiabudy R, Nafrialdi,
Elysabeth, editors. Farmakologi dan terapi. Edisi 5. Jakarta: Departemen Farmakologi dan
Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2007

Gastrointestinal 2010/2011 / Pemicu 2 4