Anda di halaman 1dari 4

Pengaruh Terapi Rom (Range Of Motion) Terhadap Penurunan Nyeri Pada lansia Penderita Reumathoid

Arthtritis di Wilayah Kerja Peskesmas Kerambitan II Kabupaten Tabanan.


A. Latar Belakang
Lansia merupakan proses tahapan akhir dari penuaan. Lansia merupakan periode penutup
rentang kehidupan yaitu dimana seseorang telah beranjak jauh dari periode terdahulu yang lebih
menyenangkan atau beranjak dari waktu yang penuh dengan manfaaat. Usia 60 tahun dipandang
sebagai garis pemisah antara usia madya dengan lanjut. Usia 65 sebagai usia pensiun dalam
berbagai urusan dan dianggap sebagai tanda dimulainya usia lanjut (Hurlock,2012).
Saat ini jumlah lansia di seluruh dunia 629 juta jiwa dan pada tahun 2025 diperkiraka
mencapai 1,2 miliar. Lansia mengalami dampak perubahan epidemiologis, penyakit pada lanjut
usia cenderung ke arah penyakit degenerative (Bell, 2014). Masalah kesehatan pada lansia pada
system musculoskeletal yaitu penyakit artritis rematoid. Artritis Rematoid ditandai dengan adanya
peradangan dari lapisan selaput sendi (sinovium) yang mana menyebabkan sakit,
kekauan,hangat,bengkak dan merah. Peradangan sinovium dapat menyerang dan merusak tulang
serta kartilago. Sel penyebab radang melepaskan enzim yang dapat mencerna tulang dan kartilago.
Sehingga dapat terjadi kehilangan bentuk dan kelurusan pada sendi, yang menghasilkan rasa sakit
dan pengurangan kemampuan bergerak (Nasution, 2017).
Pada lansia kekuatan pada otot mulai merosot, dengan kemunduran yang dipercepat
setelah usia 60 tahun. Dari 10 sampai 15% kekuatan otot dapat hilang setiap minggu jika otot
beristirahat sepenuhnya, dan sebanyak 5,5% dapat hilang setiap hari pada kondisi istirahat dan
imobilitas sepenuhnya (Stanley dan Beare, 2016). Penurunan fungsi muskuloskeletal
menyebabkan terjadinya perubahan secara degeneratif. Bertambah tua atau lansia selalu
berhubungan dengan penurunan tingkat aktivitas yang disebabkan 3 hal yaitu: perubahan pada
struktur dan jaringan penghubung (kolagen dan elastis) pada sendi, tipe dan kemampuan aktivitas
pada lansia berpengaruh sangat signifikan terhadap struktur dan fungsi jaringan pada sendi,
patologi dapat mempengaruhi jaringan penghubung sendi sehingga menyebabkan functional
limitation atau keterbatasan fungsi dan disability, yang bisa dikeluhkan lansia akibat nyeri yang
dirasakan sangat mengganggu aktivitas adalah penyakit rematik (Chintyawati, 2014).
Penyakit rematik adalah penyakit yang tidak hanya menyerang sendi, tetapi juga
menyerang organ atau bagian tubuh lainnya. Secara umum, definisi rematik adalah penyakit yang
menyerang sendi dan struktur atau penunjang disekitar sendi. Penyakit rematik yang paling umum
adalah osteoarthritis akibat degenerasi atau proses penuaan, arthritis rematoid (penyakit
autoimun), dan gout karena asam urat tinggi (Junaidi, 2012).
Rheumatoid arthritis atau yang disingkat RA merupakan salah satu penyakit kronik
sistemik pada system musculoskeletal. Penyakit ini ditandai dengan peradangan pada lapisan
sendi synovial. Sebagai penyakit kronik, kondisi ini dapat menyebabkan nyeri dan deformitas
(Smeltzer & Bare, 2012).
Prevalensi rheumatoid arthritis sekitar 0,3-1% pada wanita di dunia dan terjadi di Negara
berkembang (WHO,2018). Prevalensi penyakit sendi/rematik berdasarkan diagnosis di Indonesia
11,9% dan berdasarkan gejala 24,7% sedangkan prevalensi penyakit sendi/rematik di Provinsi
DKI Jakarta berdasarkan diagnosis 8,9% dan berdasarkan gejala 21,8% (Riskesdas, 2013). Profil
kesehatan provinsi Bali mengemukakan dari 10 penyakit terbanyak pada pasien di Puskesmas
tahun 2018, menunjukkan kasus arthritis menduduki posisi keempat dengan jumlah penderita
sebesar 57.124 Jiwa (Dinas Kesehatan Provinsi Bali,2018).
Angka ini menunjukan bahwa rasa sakit akibat rematik sudah cukup mengganggu aktivitas
masyarakat Indonesia, terutama mereka yang memiliki aktivitas sangat padat didaerah perkotaan
seperti mengendarai kendaraan ditengah arus kemacetan, duduk selama berjam-jam tanpa gerakan
tubuh yang berarti, tuntutan untuk tampil menarik dan prima, kurangnya porsi berolahraga, serta
faktor bertambahnya usia (Purnomo, 2010).
Rematik dapat menyebabkan nyeri karena terjadi reaksi autoimun dalam jaringan synovial
(cairan synovial berfungsi sebagai pelumas yang memungkinkan sendi bergerak secara bebas
dalam arah) kemudian membran synovial berproliferasi sehingga terbentuk pannus, kemudian
pannus menghancurkan tulang rawan sehingga terjadilah erosi tulang sehingga permukaan sendi
hilang dan mengganggu gerak sendi dan otot turut terkena dampak erosi. Sehingga otot
kehilangan elastisitasnya (otot menjadi kaku) kemudian leukotrine dan prostaglandin
memecahkan kolagen, pelepasan enzim-enzim dalam sendi menimbulkan edema dan pelepasan
mediator nyeri sehingga timbul rasa nyeri. (Kristanti, 2014).
Nyeri merupakan respon subyektif dimana seseorang memperlihatkan tidak nyaman secara
verbal maupun non verbal atau keduanya, akut maupun kronis. senssai nyeri akan muncul sebagi
respon dari pelepasan mediaor nyeri seperti serotini, bradikinin dan prostaglandin. Sensai neri
akan berkurang bila tubuh dapat mengeluarkan endorphin, dimana neurotrasnmitter ini akan
membuat tubuh menjadi lebih relaksasi (Engram, 2011). Untuk mengurangi nyeri dari penyakit
kronik tersebut, salah satu upaya untuk mengurangi nyeri rematik adalah dengan terapi
nonfarmakologi dengan menggunakan berbagai macam metode seperti senam, stretching dan
pemberian latihan rentang gerak (ROM). (Ulliya, 2007).
Latihan gerak sendi dengan ROM adalah latihan yang memungkinkan terjadinya kontraksi
dan pergerakan otot, dimana klien menggerakkan masing-masing persendiannya sesuai gerakan
normal baik secara aktif ataupun pasif. Latihan ROM aktif yaitu latihan isotonic yang mampu
mempertahankan atau meningkatkan kekuatan dan daya tahan otot serta dapat mencegah
perburukan kapsul sendi, ankilosis, dan kontraktur. Pada sendi lutut lansia sebanyak 25%
mengalami kekakuan pada posisi fleksi. Kekakuan tersebut dapat disebabkan adanya kalsifikasi
pada lansia yang akan menurunkan fleksibilitas sendi (Uliya, Soempeno dan Kushartanti, 2011).

B. Masalah Penelitian
Berdasarkan uaraian latar belakang diatas, maka masalah penelitian dalam penelitian ini adalah
Pengaruh Terapi Rom (Range Of Motion) Terhadap Penurunan Nyeri Pada lansia Penderita
Reumathoid Arthtritis di Wilayah Kerja Peskesmas Kerambitan II.
DAFTAR PUSTAKA

Adi Antoni & Nurhabibah Lubis (2018). Pengaruh latihan gerak aktif terhadap intensitas nyeri
rematik pada lansia. Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia (Indonesian Health Scientific Journal)
Vol 3 No. 2 Desember 2018.
Royani. (2018). Pengaruh Terapi Rom (Range Of Motion) Terhadap Intensitas Nyeri Rematik Pada
Lansia Di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 2 Cengkareng Jakarta Barat. Jurnal
Kesehatan STIKes IMC Bintaro | Volume II, Nomor 1 – Maret 2018.
Septi Andrianti. (2020). Pengaruh Range Of Motion (Rom) Aktif Dan Pasif Terhadap Rentang Gerak
Pada Lansia Yang Mengalami Artitis Rematoid Di Kota Bengkulu. Jmk: Jurnal Media
Kesehatan Volume 13 Nomor 2 Desember 2020.