Anda di halaman 1dari 6

Nama : Putra Purnomo

No Pegawai : 2633

Proses Pembentukan Janin pada janin yaitu meliputi:


Embriogenesis Jantung
Proses embryogenesis jantung merupakan serangkaian peristiwa yang kompleks. Proses
tersebut dapat disederhanakan menjadi empat tahapan, yaitu: (1) tubing, yaitu tahapan
ketika bakal jantung masih merupakan tabung sederhana, (2) looping, yakni suatu
peristiwa kompleks berupa perputaran bagian-bagian bakal jantung dan arteri besar
(aorta dan arteri pulmonalis), (3) septasi, yakni proses pemisahan bagian-bagian bakal
jantung serta arteri besar dengan pembentukan pelbagai ruang jantung (4) migrasi,
yakni pergeseran bagian-bagian jantung sebelum mencapai bentuk akhirnya. Perlu
diingat bahwa keempat tahapan tersebut benar-benar merupakan proses yang terpisah,
namun merupakan rangkaian proses yang saling tumpang-tindih.
1. Tubing
Pada awalnya jantung hanya merupakan sebuah tabung lurus yang berasal dari
fusi sepasang primordia yang simetris. Pada tabung tersebut terdapat beberapa
dilatasi, yaitu aritmia primitive, komponen komponen ventrikel yang terdiri dari
segment inlet dan outlet, dan trunkus arteriousus yang kelka menjadi aorta dan
arteri pulmonalis.
Vena umbikalis yang mengalirkan darah dari plasenta, vena vitelina yang
berasal dari kandung kunir (yolk sach), serta vena kardinalisyang berasal dari
embrio bergabung dan masuk ke sinus venosus, untuk selanjutnya berhubungan
dengan atrium primitif dari tabung jantung. Bagian distal trunkus arteriosus
(aortic sac) di dalam perkembangannya bergabung dengan arkus aorta dan aorta
desendens. Keadaan ini terjadi pada embrio berusia 6 minggu dengan panjang
kira-kira 10 mm.
2. Looping
Tahapan selanjutnya dikenal sebagai suatu proses looping antara atrium dengan
komponen trilet ventrikel, dan juga antara komponen trilet dengan outlet
ventrikel. Sinus venosus, yang tertanam kuat pada septum transversum, menjadi
bagian dari ujung tabung yang terfiksasi. Perkembangan yang bertahap
menyebabkan atrium primitif bergeser ke arah sinus venosus, hingga terbentuk
lengkungan ke kanan antara atrium dan segmen inlet ventrikel. Pada komponen
inlet dan outlet ventrikel juga terbentuk lengkung dengan sudut sebesar 180
derajat. Sehingga trunkus berada di depan dan kanan kanalis atrioventrikularis.
Proses looping ini biasanya terjadi ke arah kanan, dan disebut sebagai dextro-
(d-)-ventrikular looping.

3. Septasi
Selanjutnya adalah tahapan septasi pada segmen atrium, ventrikel, dan trunkus
arteriosus. Perubahan segmen atrium sangat tergantung pada reorganisasi sistem
vena. Sistem vena yang simetris mengalami lateralisasi, dengan anastomosis dari
kiri ke kanan di daerah kepala dan abdomen.
 Anastomosis superior pada daerah kepala berlangsung antara sistem vena
karidnalis, hingga vena kardinalis superior kiri mengalir ke vena kardinalis
kanan dan selanjutnya ke sinus venosus. Vena karidnalis kanan ini nantinya
menjadi vena cava superior.
 Perubahan di daerah abdomen terjadi pada sistem vena vitelina dan vena
umbikalis. Sistem vena ini membentuk saluran yang baru yaitu duktus
venosus, yang menghubungkan vena umbikalis kiri ke vena vitelina kanan
untuk kemudian masuk ke dalam sinus venosus. Vena vitelina kanan ini
kemudian menjadi vena cava inferior. Vena-vena liannya mengalami regresi
dan sebagian dari vena vitelina bergabung dengan sistem vena porta.
Setelah terjadi reorganisasi sistem vena ini, maka darah seluruhnya
mengalir masuk ke bagian kanan sinus venosus melalui vena kava superior atau
vena karidnalis kanan) dan vena cava inferior (vena vitellina kanan), Bagian kiri
sinus venosus mengalami regresi dan hanya tersisa sebagai sinus koronarius dan
vena oblik.
Pada saat ini telah terjadi pergeseran ke kanan dari sinuatrial junction.
Sebuah saluran vena baru, yaitu vena pulmonalis primer. Tumbuh dari bagian
kiri atrium primitif. Bersamaan dengan pergeseran ke kanan ini juga terjadi
pergeseran ke arah kanan pada atrio-ventricular junction, yang akan diuraikan
kemudian.
Kanalis atrioventricularis dibagi oleh bantalan endocardium (endocardial
cushion) superior dan inferior, yang berstau di tengah, menjadi orifisum kanan
dan kiri. Atrium primitif disekat septum primum yang tumbuh dari atap atrium
mendekati bantalan endocardium. Celah antara septum primum dan bantalan
endocardium menutup ostium primum. Selanjutnya fusi septum primum dan
bantalan endocardium menutup ostium primum. Untuk mempertahankan
hubungan interatrial, tepi atas septum terlepas ke bawah memebentuk foramen
sekundum . Kemudian lipatan yang terbentuk di kanan dinding atrium primitive
menutup foramen sekundum dan melapisi bagian bawah septum primum. Celah
antara kedua sekat ini disebut foramen ovale.
Sisa sinuatrial junction merupakan sekat itpis yang menjadi katup untk
mengarahkan aliran darah vena cava inferior dari plasenta ke atrium kiri melalui
foramen ovale. Pada saat yang sama v. pulmoalis primer tumbuh ke arah tunas
yang baru (lung buds) yang berasal dari usus depan (foregut). Pleksus vena
pulmoalis yag terpisah juga terbentuk dalam paru. Bersala dari pleksus
splangnikus yang melingkari usus depan. Pada perkembangan normal, vena
pulmonalis yang berasal dari atrium bergabung dengan pleksusv,.
Interpulmonalis, mengalami reasorbsi menjadi atrium kiri dan ke-4 vena
pulmonalis.
Setelah looping maka akan terbentuk kantung-kantung dari komponen inlet
dan outlet ventrikel. Kantung yang terbentuk dari komponen inlet menjadi
daerah trabekular ventrikel kiri, sedang kantung dari kompoinen outlet menjadi
daerah trabekular ventrikel kanan. Akibat pembentukan kantung-kantung ini
terjadilah septum trabekular yang kelak akan menjadi bagian bawah dari cincin
lubang antara komponen inlet dan outlet ventrikel. Pada stadium ini maka
seluruh aliran kanalis atriventirkularis masuk ke daerah trabekular ventrikel kiri,
sedangkan aliran yang keluar melalui trukus akan berasal dari area trabekular
ventrikel kanan.

4. Migrasi
Bersamaan dengan septasi kanalis atriventrikularis dengan terbentuknya
bantalan endocardium yang telah diuraikan, terjadi juga pergeseran (migrasi)
segmen inlet ventrike, sehingga orifisium atrioventrikularis kanan akan
berhubungan dengan daerah trabekular ventrikel kanan. Pada saat yang
samaterbentuk septum inlet antara orifisium atrioventrikular kanan dan kiri,
sehingga ventrikel kanan sudah mempunyai daerah inlet dan outlet, sedangkan
ventrikel kiri hanya mempunyai inlet.
Darah yang masuk ke ventrikel kiri harus melalui lubang yang dibentuk
oleh septum inlet, septum trabekular, dan lengkung jantung bagian dalam (inner
heart curvature), masuk ke dalam ventrikel kanan dan baru dapat keluar ke aortic
outflow tract. Dalam perkembangan selanjutnya aortic outflow tract akan
bergeser ke arah ventrikel kiri dengan absorbsi dan perlengketan dari inner heart
curvature. Sekarang kedua ventrikel masing-masing sudah memiliki inlet, outlet
dan trabekular.
Pergeseran aorta ke arah ventrikel kiri ini akan menyebabkan septum
outlet (infundibilar) berada pada satu garis dengan septum inlet dan septum
trabekular. Komunikasi antara kedua ventrikel masih tetap ada, dan lubang baru
yang terbentuk ini selanjutnya akan tertutup oleh septum membranous, jadi
septum ventrikel terdiri dari 4 bagian, yaitu septum trabekular, septum inlet,
septum infundibular, dan septum membranasea.
Selanjutnya aortic outflow tract bergabung dengan arkus aorta ke-6,
sedang pulmonary outflow tract dengan arkus aorta ke-6. Pada masa janin
selanjutnya arkus aorta ke-6 ini berfungsi sebagai duktus arteriosus, yang
menghubungkan arteri pulmonalis dengan aorta desendens.
Katup atrioventrikularis terbentuk dari pengelupasan lapisan superfisial
dari segmen inlet ventrikel, sedang katup arterial (semilunar) dari outlet-truncal
junction. Pada awalnya kedua katup atrioventrikular ini terpisah dari kedua
katup arterial oleh lipatan ventrikulo-infundibular (inner heart curvature). Pada
saat pergeseran aorta kea rah ventrikel kiri, lipatan ini menghilang dan katup
aorta berdekatan dengan katup mitral (aortic mitral continuity) .
Sedangkan lipatan ventrikulo-infundibular antara katup pulmonal dan
tricuspid tetap ada, bahkan diperkuat oleh septum infundibular. Ke-2 struktur ini
membentuk krista supraventrikularis dan terjadilah tricuspid pulmonary
discontinuity.

2. Sirkulasi Janin
Pada janin darah dengan oksigen relative cukup (po2 30 mmhg) mengalir dari
plasenta melalui vena umbikalis. Separuh jumlah darah ini mengalir melaui hati,
sedanghkan sisanya memintas hati melalui duktus venosus ke vena cava inferior,
yang juga menerima darah dari hati (melalui ven ahepatika) serta tubuh bagian
bawah.
Sebagian besar darah dari vena cava inferior mengalir ke dalam atrium kiri
melalui foramen ovale, selanjutnya ke ventrikel kiri, aorta asendens, dan sirkulasi
coroner. Dengan demikian sirkualsi otak dan coroner mendapat darah dengan
tekanan oksigen yang cukup. Sebagian kecil darah dari vena cava inferior
memasuki ventrikel kanan melalui katup tricuspid. Darah yang kembali dari leher
dan kepala janin (p02 10 mmhg) memasuki atrium kanan melaui vena cava
superior dan bergabung dengan darah dari sinus coronaries menuju ventrikel
kanan, selanjutnya ke arteri pulmonalis. Pada janin hanya 15% darah dari
ventrikel kanan yang memasuki paru, selebihnya melewati duktus arterosus
menjuj ke aorta desendens, bercampur dengan darah dari aorta asendens,. Darah
dengan kandungan oksigen yang rendah ini akan mengalir ke organ-organ tubuh
sesuai dengan tahanan vascular masing-masing, dan juga ke plasenta melalui
arteri umbikalis yang keluar dari arteri iliaka interna.
Pada janin normal, ventrikel kanan memompakan 60% seluruh curah
jantung, sisanya dipompa oleh ventrikel kiri. Curah jantung janin didistribusikan
sebagai berikut: 40% menju ke aorta asendens, 4% ke sirkulasi coroner, 20% ke
arteri leher dan kepala, hanya 16% tersisa yang melewati istimus aorta meuju
aorta desendens: 60% dipompakan ke arteri pulmonalis, tetapi hanya 8% yang
menuju paru, dan 52% melewati duktus arteriosus menuju aorta desendens. Jadi
aorta desendens menerima 52% + 16% = 68% curah jantung, jauh lenih banyak
dari pada istimus yang hanya menerima 16% saja. Dimensi pembuluh darah
tergantung kepada besarnya aliran darah, karenanya istmus aorta yang sempit
pada janin merupakan keadaan yang normal. Bila duktus menutup pada saat
kelahiran, istmus akan melebar. Perlu dibedakan istmus yang sempit dan
koartaksio aorta pada periode ini.
Diameter duktus arteriosus pada janin sama dengan diameter aorta, dan
tekanan a. pulmonalis juga sama dengan tekanan aorta. Tahanan vascular paru
masih tinggi oleh karena konstriksi otot arteri pulmonalis. Dimensi aorta dan
arteri pulmonalis dipengaruhi oleh aliran darah ke kedua pembuluh ini. Pada
kelainan dengan hambatan aliran ke arteri pulmonalis, seluruh curah jantung
menuju ke aorta asendens, hingga penyempitan istmus tidak terjadi. Sebaliknya,
bila aliran ke aorta asendens terhambat, misalnya pada stenosis aorta, maka a.
pulmonalis berdilatasi dan terjadi hypoplasia aorta serta istmus