Anda di halaman 1dari 19

TUGAS KIMIA

HUKUM-HUKUM DASAR KIMIA DAN


STOIKIOMETRI

OLEH:

SUKRI
X IPS 4

SMAN 3 ENREKANG

TAHUN AJARAN 2018/2019


KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah

memberi petunjuk, bimbingan dan arahan, sehingga penulis dapat menyelesaikan

makalah ini dengan baik. Makalah ini disusun dalam rangka memenuhi tugas Kimia.

Makalah ini tersusun dari berbagai sumber referensi baik dari media cetak

maupun internet. Dengan adanya makalah ini diharapkan dapat membantu dalam

proses pembelajaran. Penulis menyadari bahwa makalah yang sudah penulis kerjakan

masih sangat jauh dari kata sempurna, Oleh karena itu kritik, saran serta pendapat dari

Guru Mata Pelajaran Kimia yang bersifat membangun selalu penulis harapkan dengan

tujuan supaya tugas - tugas yang selanjutnya dapat penulis kerjakan dengan lebih baik

lagi.

Akhir kata, penulis sampaikan terimakasih kepada Guru Mata Pelajaran Kimia

yang telah memberi bimbingan dan arahan hingga tersusunnya makalah ini. Apabila

ada salah kata penulis ucapkan mohon maaf yang sebesar-besarnya. Semoga apa yang

ditulis dapat bermanfaat bagi kita semua.

To’cemba, 20 Mei 2019

Penulis

2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL……………………………………………………….1

KATA PENGANTAR……………………………….…….....…………….2

DAFTAR ISI………………………………………….....……………........3

BAB I PENDAHULUAN............................................................................4

A. Latar Belakang..........................................................................................4
B. Rumusan Masalah.....................................................................................4
C. Tujuan.......................................................................................................4

BAB II PEMBAHASAN STOIKIOMETRI................................................5

A. Hukum – hukum Dasar kimia...……………………………......………..5


B. Teori Atom Dalton .....................……………………………..........…...9
C. Massa Atom Dan Massa Molekul Relatif ..……………………........….10
D. Konsep Mol.............................................................................................11
E. Rumus Empiris Dan Rumus Molekul......................................................11
F. Kemolaran...............................................................................................12
G. Persen Massa...........................................................................................13
H. Fraksi mol................................................................................................13

BAB III CONTOH SOAL DAN PEMBAHASAN..................................15

BAB IV PENUTUP...................................................................................18

A. Kesimpulan............................................................................................18
B. Saran......................................................................................................18

DAFTAR PUSTAKA................................................................................19

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Seperti yang kita ketahui bahwa air adalah salah satu senyawa paling

sederhana dan paling dijumpai serta paling penting. Bangsa Yunani kuno

menganggap air adalah salath satu dari empat unsur penysun segala sesuatu

(disamping, tanah, udara, dan api). Bagian terkecil daria air adalah molekul air.

Stoikiometri behubungan dengan hubungan kuantitatif antar unsure

dalam satu senyawa dan antar zat dalam suatu reaksi. Istilah itu berasal dari

Yanani, yaitu dari kata stoicheion, yang berarti unsur dan mentron yang artinya

mengukur. Dasar dari semua hitungan stoikiometri adalah pengetahuan tentang

massa atom dan massa molekul. Oleh karena itu, stoikiometri akan dimulai

dengan membahasa upaya para ahli dalam penentuan massa atom dan massa

molekul.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana Massa Atom , Jumlah Partikel , dan Mol

2. Bagaimana konsep Massa Atom Relatif ( Ar) ?

3. Bagaiman konsep Molekul Relatif ( Mr) ?

4. Bagaimana konsep Rumus Empiris dan rumus molekul

5. Bagaimana konsep persen massa

C. Tujuan

1. Untuk Mengetahi dasar- dasar Kimia

2. Mengetahui lebih mendalam tentang stoikiometri yang kita temukan

dalam kehidupan.

4
BAB II
PEMBAHASAN

A. HUKUM-HUKUM DASAR KIMIA

Ilmu kimia merupakan bagian ilmu pengetahuan alam yang mempelajari

materi yang meliputi susunan, sifat, dan parubahan materi serta energi yang

menyertai perubahan materi. Penelitian yang cermat terhadap pereaksi dan hasil

reaksi telah melahirkan hukum-hukum dasar kimia yang menunjukkan

hubungan kuantitatif atau yang disebut stoikiometri. Stoikiometri berasal dari

bahasa Yunani, yaitu stoicheon yang berarti unsur dan metrain yang berarti

mengukur. Dengan kata lain, stoikiometri adalah perhitungan kimia yang

menyangkut hubungan kuantitatif zat yang terlibat dalam reaksi. Hukum-hukum

kimia dasar tersebut adalah hukum kekekalan massa, hukum perbandingan tetap,

hukum perbandingan volume, dan hukum perbandingan berganda. Hukum-

hukum dasar kimia itu merupakan pijakan kita dalam mempelajari dan

mengembangkan ilmu kimia selanjutnya.

1. HUKUM KEKEKALAN MASSA (HUKUM LAVOISIER)

Pada awal abad ke- 18, para kimiawan dalam usahanya mempelajari

kalor dan pembakaran menemukan hal yang sangat aneh. Contohnya, jika kayu

dibakar, maka akan menghasilkan residu abu (padatan) yang jauh lebih ringan

daripada kayu semula. Akan tetapi, jika logam dibakar di udara bebas, maka

akan menghasilkan oksida yang lebih berat dibandingkan dengan logam semula.

Untuk menjawab keanehan tersebut, para kimiawan mengembangkan metode

eksperimen secara cermat dengan menggunakan neraca kimia dalam mengukur

volume atau massa gas, cair dan padat yang terjadi pada reaksi kimia. Oleh

5
karena itu, massa reaktan dan hasil reaksi dapat diukur dengan cermat. Hasil

eksperimen tersebut menyajikan fakta kepada pengamat dan menuntut mereka

ke perumusan hukum fundamental (dasar ) yang menguraikan sifat kimia.

Hukum dasar yang diperoleh dikenal dengan hukum kekekalan massa, yaitu

sebagai berikut.

’’ Massa tidak dapat diciptakan maupun dimusnahkan dalam perubahan

materi apa pun.’’

Fakta hukum dasar kekekalan massa sudah dibuktikan pada tahun 1756

oleh ilmuwan Rusia, M.V. Lomonosov. Mungkin karena masalah bahasa,

karyanya tidak dikenal di Eropa Barat secara meluas. Secara terpisah pada tahun

1783, seorang kimiawan besar Prancis, Antoine Lavoisier melakukan hal yang

sama dengan menggunakan neraca kimia untuk menunjukkan bahwa jumlah dari

massa hasil reaksi kimia sama dengan jumlah massa reaktannya.

Lavoisier melakukan eksperimen dengan memanaskan mrerkuri dalam

labu tertutup yang berisi udara. Setelah beberapa hari, terbentuk zat yang

berwarna merah yaitu merkuri(II) oksida. Gas dalam tabung massanya

berkurang dan tidak dapat lagi menyangga pembakaran (lilin dalam tabung tidak

menyala lagi) dan hewan akan mati jika dimasukkan ke dalamnya. Hal itu

menunjukkan bahwa gas oksigen dalam tabung sudah habis. Sekarang diketahui

bahwa gas yang tersisa adalah nitrogen, sedangkan oksigen dari udara dalam

tabung telah habis bereaksi dengan merkuri. Selanjutnya, Lavoisier mengambil

oksida merkuri tersebut dan memanaskannya sehingga terurai kembali.

Kemudian dia menimbang merkuri dan gas yang dihasilkan. Ternyata

massa gabungannya sama dengan massa merkuri(II) oksida yang digunakan

6
semula. Akhirnya setelah beberapa kali dilakukan eksperimen dan hasilnya

sama, Lavoisier menyatakan hukum kekekalan massa yaitu sebagai berikut.

’’ Dalam setiap reaksi kimia, massa zat sebelum dan sesudah reaksi selalu

sama.’’

2. HUKUM PROUST ATAU HUKUM PERBANDINGAN TETAP

Pada tahun 1799 kimiawan Prancis, Joseph Proust, melalui berbagai

percobaan menemukan suatu ketetapan yang dikenl dengan hukum Proust, yaitu

sebagai berikut.

“perbandingan massa unsur-unsur pembentuk senyawa selalu tetap, sekali

pun dibuat dengan cara yang berbeda”

Pada waktu itu Proust menemukan bahwa tembaga karbonat, baik dari

sumber alami maupun sintetis di laboratorium mempunyai susunan yang tetap.

Untuk menentukan susunan suatu senyawa, kita dapat menguraikan suatu

contoh senyawa yang telah kita timbang, kemudian senyawa-senyawa itu

diuraikan menjadi unsur-unsurnya. Masing-masing unsur pembentuk senyawa

itu kita timbang, ternyata diperoleh suatu perbandingan tertentu. Jika hal

tersebut diulang-ulang, maka akan diperoleh perbandingan yang sama. Metode

lain juga dapat dilakukan, yaitu dengan menimbang massa senyawa yang

terbentuk dari persenyawaan unsur-unsur yang masing-masing unsur tersebut

massanya diketahui. Dari sekian banyak eksperimen mengenai susunan unsur

dalam senyawa, selalu menghasilkan pernyataan berikut.

“Suatu senyawa murni selalu tersusun dari unsur-unsur yang tetap dengan

perbandingan massa yang tetap.”

7
3. HUKUM PERBANDINGAN BERGANDA

Ketertarikan John Dalton mempelajari dua unsur yang dapat membentuk

lebih dari satu senyawa ternyata Menghasilkan suatu kesimpulan yang disebut

hukum perbandingan berganda:

’’Bila dua unsur dapat membentuk lebih dari satu senyawa, maka

perbandingan massaunsur yang satu, yang bersenyawa dengan unsur lain

yang tertentu massanya merupakan bilangan bulat dan sederhana’’.

4. HUKUM PERBANDINGAN VOLUME

Hubungan antara volume-volume dari gas-gas dalam reaksi kimia telah

diselidiki oleh Joseph Louis Gay-Lussac dalam tahun 1905. Pada penelitian itu

ditemukan bahwa pada suhu dan tekanan tetap, setiap satu volume gas oksigen

akan bereaksi dengan dua volume gas hidrogen menghasilkan dua volume uap

air, dengan demikian perbandingan antara volume hidrogen, volume oksigen

dan volume uap air berurut adalah 2:1:2. Contoh lain : satu volume gas hidrogen

akan bereaksi dengan satu volume gas klor menghasilkan dua volume gas

hidrogen klorida; perbandingan volume hidrogen, volume klor dan volume

hidrogen klorida berurut adalah 1:1:2.

Pada reaksi antara gas nitrogen dan gas hidrogen membentuk gas

amonik, maka perbandingan volume dari ketiga gas itu berturut adalah 1:3:2

(N2 : H2 : NH3).

Berdasarkan uraian di atas,dapat disimpulkan bahwa:

“pada suhu dan tekanan yang sama, perbandingan volume gas pereaksi

dengan volume gas hasil reaksi merupakan bilangan bulat dan sederhana

(sama dengan perbandingan koefisien reaksinya)”.

8
B. TEORI ATOM DALTON

Mempelajari tentang teori atom sangatlah penting sebab atom

merupakan penyusun materi yang ada di alam semesta. Dengan memahami atom

kita dapat mempelajari bagaimana satu atom dengan yang lain berinteraksi,

mengetahui sifat-sifat atom, dan sebagainya sehigga kita dapat memanfaatkan

aam semesta untuk kepentingan umat manusia.

Nama “atom” berasal dari bahasa Yunani yaitu “atomos” diperkenalkan

oleh Democritus yang artinya tidak dapat dibagi lagi atau bagain terkecil dari

materi yang tidak dapat dibagi lagi. Konsep atom yang merupakan penyusun

materi yang tidak dapat dibagi lagi pertama kali diperkenalkan oleh ahli filsafat

Yunani dan India.

Konsep atom yang lebih modern muncul pada abab ke 17 dan 18 dimana

saat itu ilmu kimia mulai berkembang. Para ilmuwan mulai menggunakan teknik

menimbang untuk mendapatkan pengukuran yang lebih tepat dan menggunakan

ilmu fisika untuk mendukung perkembangan teori atom.

John Dalton seorang guru berkebangsaan Ingris menggunakan konsep

atom untuk menjelaskan mengapa unsur selalu bereaksi dengan perbandingan

angka bulat sederhana (selanjutnya lebih dikenal dengan hokum perbandingan

berganda) dan mengapa gas lebih mudah larut dalam air dibandingkan yang lain.

Dalton menyusun teori atomnya berdasarkan hukum kekekalan massa dan

hokum perbandingan tetap. Dimana konsep atomnya adalah sebagai berikut:

 Setiap unsur tersusun dari partikel kecil yang disebut sebagai atom.

 Atom dari unsur yang sama adalah identik dan atom dari unsur yang tidak

berbeda dalam beberapa hal dasar.

9
 Senyawa kimia dibentuk dari kombinasi atom. Suatu senyawa selalu

memiliki perbandingan jumlah atom dan jenis atom yang sama.

 Reaksi kimia melibatkan reorganisasi atom yaitu berubah bagaimana cara

mereka berikatan akan tetapi atom-atom yang terlibat tidak berubah selama

reaksi kimia berjalan.

Model atom Dalton ini biasanya disebut sebagai model atom bola

billiard dimana warna bola billiard yang berbeda-beda merupakan symbol atom

unsur yang berbeda-beda.

C. MASSA ATOM DAN MASSA MOLEKUL RELATIF

Atom adalah partikel yang sangat kecil sehingga massa atom juga terlalu

kecil bila dinyatakan dengan satuan gram. Karena itu, para ahli kimia

menciptakan cara untuk mengukur massa suatu atom, yaitu dengan massa atom

relatif. Massa atom relatif (Ar) adalah perbandingan massa rata-rata suatu atom

dengan satu per dua belas kali massa satu atom karbon-12.

Unit terkecil suatu zat dapat juga berupa molekul. Molekul disusun oleh

dua atau lebih atom-atom yang disatukan oleh ikatan kimia. Massa molekul

relatif (Mr) adalah perbandingan massa rata-rata suatu molekul dengan satu per

dua belas kali massa satu atom karbon-12.

Ar Y = massa rata-rata 1 molekul Y / (1/12 x massa 1 atom C-12)

Dalam rumus di atas digunakan massa atom dan massa molekul rata-rata.

Kenapa menggunakan massa atom rata-rata? Karena unsur di alam mempunyai

beberapa isotop.

Jika diketahui massa atom relatif masing-masing unsur penyusun suatu

molekul, massa molekul relatifnya sama dengan jumlah massa atom relatif dari

10
seluruh atom penyusun molekul tersebut. Molekul yang mempunyai rumus

AmBn berarti dalam 1 molekul tersbut terdapat matom A dan n atom B. Dengan

demikian massa molekul relatif AmBn dapat dihitung seperti berikut.

Mr AmBn = m x Ar A + n x Ar B

D. KONSEP MOL

Dalam mereaksikan zat, banyak hal yang perlu kita perhatikan misalnya

wujud zat berupa gas, cair dan padat. Cukup sulit bagi kita untuk mereaksikan

zat dalam ketiga wujud zat tersebut, dalam bentuk padat dipergunakan ukuran

dalam massa (gram), dalam bentuk cair dipergunakan volume zat cair dimana

didalamnya ada pelarut dan ada zat yang terlarut. Demikian pula yang berwujud

gas memiliki ukuran volume gas.

Kondisi ini menuntut para ahli kimia untuk memberikan satuan yang

baru yang dapat mencerminkan jumlah zat dalam berbagai wujud zat. Avogadro

mencoba memperkenalkan satuan baru yang disebut dengan mol. Definisi untuk

1 (satu) mol adalah banyaknya zat yang mengandung partikel sebanyak 6.023 x

1023. Bilangan ini dikenal dengan Bilangan Avogadro yang dilambangkan

dengan huruf N.

E. RUMUS EMPIRIS DAN RUMUS MOLEKUL

Rumus kimia suatu zat dapat menjelaskan atau menyatakan jumlah relatif

atom yang ada dalam zat itu. Rumus kimia dibedakan menjadi rumus molekul

dan rumus empiris. Rumus empiris adalah rumus yang paling sederhana dari

suatu senyawa.Rumus ini hanya menyatakan perbandingan jumlah atom-atom

yang terdapat dalam molekul.Rumus empiris suatu senyawa dapat ditentukan

apabila diketahui salah satu:

11
 Massa dan Ar masing-masing unsurnya

 % massa dan Ar masing-masing unsurnya

 Perbandingan massa dan Ar masing-masing unsurnya

Rumus molekul suatu zat menjelaskan jumlah atom setiap unsur dalam

satu molekul zat itu. Bila rumus empirisnya sudah diketahui dan Mr juga

diketahui maka rumus molekulnya dapat ditentukan.

F. KEMOLARAN

Kemolaran Larutan (M)

1. Kemolaran adalah suatu cara untuk menyatakan konsentrasi (kepekatan)

larutan.

2. Menyatakan jumlah mol zat terlarut dalam tiap liter larutan, atau jumlah

mmol zat terlarut dalam tiap mL larutan.

3. Misalnya : larutan NaCl 0,2 M artinya, dalam tiap liter larutan terdapat 0,2

mol (= 11,7 gram) NaCl atau dalam tiap mL larutan terdapat 0,2 mmol (=

11,7 mg) NaCl.

Rumus Pengenceran :

V1.M1 = V2.M2

Keterangan :

V1=Volume sebelum pengenceran(liter)

M1=Molaritas sebelum pengenceran(M)

V2=Volume sesudah pengenceran(liter)

M2=Molaritas sesudah pengenceran(M)

12
MOLALITAS

Molalitas menyatakan perbandingan mol zat terlarut dalam kilogram

pelarut. Molalitas dinyatakan antara jumlah mol zat terlarut dengan massa dalam

kg pelarut. Bagaimana simbol dari molalitas zat? Molalitas disimbolkan dengan

m, dengan

n = jumlah mol zat terlarut .........................(mol)

p = massa pelarut .......................................(kg)

m = molalitas .............................................(mol kg-1)

G. PERSEN MASSA ( PERSENTASE UNSUR DALAM SENYAWA )

Rumus kimia menunjukkan jumlah atom-atom penyusun suatu zat. Oleh

karena massa atom suatu unsur sudah tertentu, maka dari rumus kimia tersebut

dapat pula ditentukan persentase atau komposisi masing-masing unsur dalam

suatu zat. Salah satu kegiatan penting dalam ilmu kimia adalah melakukan

percobaan untuk mengidentifikasi zat. Ada dua kegiatan dalam identifikasi zat,

yakni analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Analisis kualitatif digunakan

untuk menentukan jenis komponen penyusun zat. Sedangkan analisis kuantitatif

dilakukan untuk menentukan massa dari setiap komponen penyusun zat. Dengan

mengetahui jenis dan massa dari setiap komponen penyusun zat, kita dapat

mengetahui komposisi zat tersebut. Komposisi zat dinyatakan dalam persen

massa (% massa). Perhitungan persen massa berikut.

Persen massa komponen = (massa komponen : massa zat) x 100%

H. FRAKSI MOL

Fraksi mol merupakan satuan konsentrasi yang menyatakan perbandingan

antara jumlah mol salah satu komponen larutan (jumlah mol zat pelarut atau jumlah

13
mol zat terlarut) dengan jumlah mol total larutan. Fraksi mol disimbolkan dengan

X . Misal dalam larutan hanya mengandung 2 komponen, yaitu zat B sebagai zat

terlarut dan A sebagai pelarut, maka fraksi mol A disimbolkan XA dan XB untuk

fraksi mol zat terlarut. 

XA = fraksi mol pelarut

XB = fraksi mol zat terlarut

nA = jumlah mol pelarut

nB = jumlah mol zat terlarut

Jumlah fraksi mol pelarut dengan zat terlarut sama dengan 1.

XA + XB = 1

11

14
BAB III

CONTOH SOAL DAN PEMBAHASAN

1. Suatu senyawa mempunyai rumus empiris CH3. Jika mempunyai Mr senyawa

tersebut 30, tentukan rumus molekul dari senyawa tersebut.

Pembahasan:

Menentukan rumus molekul (Mr RE) = Mr senyawa

(12 x 1 + 1 x 3)n = 30

(15)n = 30

n = 30/15 = 2

Maka rumus molekul nya : (CH3)2 = C2H6

2. Cuka perdagangan mengandung cuka 25%. Berapa mL air yang harus ditambahkan

kedalam 100 mL cuka tersebut agar mengandung 5%.

Pembahasan:

%1 . V1 = %2 . V2

25 . 100 = 5(100 + x)

2500 = 500 + 5x

5x = 2000

X = 400 mL

3. Jumlah mol dan jumlah grek 10 g NaOH (Mr. 40) yang dilarutkan dalam air hingga

volume 100 mL adalah...

Pembahasan :

Jumlah mol NaOH = m / Mr = 10 / 40 = 0,25 mol

Jumlah grek NaOH = mol x b = 0,25 x 1 = 0,25 grek

4. Kemolaran dan normalitas 10 g NaOH (Mr. 40) yang dilarutkan dalam air hingga

volume 100 mL adalah...

15
Pembahasan:

Hitung terlebih dahulu mol NaOH:

NaOH = m / Mr = 10 / 40 = 0,25 mol

Molaritas (M) = n / V = 0,25 / 0,1 = 2,5 M

Normalitas (N) = M x b = 0,25 x 1 = 0,25 N 

5. Jumlah mol dan grek 74 g Ca(OH)2 (Mr. 74) yang dilarutkan dalam air hingga volume 1

L adalah...

Pembahasan

Mol Ca(OH)2 = m / Mr = 74 / 74 = 1 mol

Grek C(OH)2 = mol x b = 1 x 2 = 2 grek

Jawaban: B

6. Kemolaran dan normalitas 74 g Ca(OH)2 (Mr. 74) yang dilarutkan dalam air hingga

volume 1 L adalah...

Pembahasan:

Hitung terlebih dahulu mol Ca(OH)2

Mol Ca(OH)2 = m / Mr = 74 / 74 = 1 mol

Menghitung kemolaran dan normalitas:

Molaritas (M) = n / V = 1 / 1 = 1 M

Normalitas (N) = M x b = 1 x 2 = 2 N

7. Massa zat terlarut 50 mL HNO3 0,1 N (Mr. HNO3 = 63) adalah..

Pembahasan :

M = N / a = 0,1 / 1 = 0,1 M

Mol HNO3 = volume HNO3 x kemolaran HNO3 = 0,05 x 0,1 = 0,005 mol

Massa HNO3 = mol x Mr HNO3 = 0,005 x 63 = 0,315 gram

8. Massa zat terlarut 3 L Ba(OH)2 0,2 N (Mr Ba(OH)2 = 171) adalah.....

16
Pembahasan:

M = N/a = 0,2 / 2 = 0,1 M

Mol Ba(OH)2 = 3 L x 0,1 M = 0,3 mol

Massa Ba(OH)2 = 0,3 x 171 = 51,3 gram

9. Sebanyak 20 mL larutan HCl dititrasi oleh larutan NaOH 0,1 M dengan menggunakan

indikator fenolftalein, Jika perubahan warna indikator menjadi merah muda memerlukan

25 mL larutan penetrasi, maka kemolaran larutan HCl adalah...

Pembahasan:

Normalitas larutan NaOH, Nb = Mb = 0,1 M

Va x Na = Vb x Nb

20 x Na = 25 x 0,1

Na = 0,125 N

Jadi kemolaran HCL = Na = 0,125 M

17
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan uraian materi di atas, dapat ditarik beberapa kesimpulan yaitu:

Stoikiometri adalah perhitungan kimia yang menyangkut hubungan kuantitatif zat

yang terlibat dalam reaksi.

Konsep mol digunakan untuk menentukan rumus kimia suatu senyawa, baik

rumus empiris (perbandingan terkecil atom dalam senyawa) maupun rumus molekul

(jumlah atom dalam senyawa)

Rumus empiris dihitung gram atau persen masing-masing penyusun senyawa

dan angka tersebut dibagi dengan Ar masing-masing diperoleh perbandingan mol

terkecil dari unsur penyusun senyawa.

Rumus molekul dan rumus empiris suatu senyawa ada kalanya sama, tetapi

kebanyakan tidak sama.

Menentukan rumus molekul senyawa ada dua hal yang harus terlebih dahulu

diketahui yaitu rumus empiris senyawa dan Mr atau BM senyawa.

Koefisien reaksi : Perbandingan mol seluruh zat yang ada pada persamaan

reaksi, baik reaksi ruas kiri maupun hasil di ruas kanan.

Jika salah satu zat sudah diketahui molnya, mk zat lain pada persamaan reaksi

dapat dicari dengan cara membandingkan koefisien.

Hukum-hukum gas Yaitu:

 Hukum Gay-Lussac (hukum perbandingan volume).

 Hukum Avogadro (pada suhu dan tekanan yang sama, gas-gas yang bervolume

sama akan memiliki mol yang sama).

18
 Keadaan Standar (setiap 1 mol gas apa saja pada suhu 0oC dan tekanan 1 atm

memiliki volume 22,4 liter (22,4 dm3)

B. Saran

Dengan adanya makalah ini semoga bisa menambah wawasan.

DAFTAR PUSTAKA

 Brady, E.J. 1999. Kimia Universitas. Jakarta : Binarupa Aksara.

 Chang, Raymond. 2005. Kimia Dasar Konsep-konsep Inti. Jakarta : Erlangga.

 Ompu, Marlan. 2002. Kimia SPMB. Bandung : Yrama Widya.

 Syukri, S. 1999. Kimia Dasar. Bandung : ITB.

 http : //www.google.co,id/kinetika kimia (diakses tanggal 10 Oktober 2010).

 Brady, E.J. 1999. Kimia Universitas. Jakarta : Binarupa Aksara.

 Chang, Raymond. 2005. Kimia Dasar Konsep-konsep Inti. Jakarta : Erlangga.

 Ompu, Marlan. 2002. Kimia SPMB. Bandung : Yrama Widya.

 Syukri, S. 1999. Kimia Dasar. Bandung : ITB.

 http : //www.google.co,id/stoikiometri (diakses tanggal 10 Oktober 2010).

 Keenan, C. 1999. Kimia Untuk Universitas. Jakarta : Erlangga.

19

Anda mungkin juga menyukai