Anda di halaman 1dari 3

Nama : Andi Iskandarsyah

NRI : 080113057

TRISMUS

Trismus digambarkan sebagai kondisi patologis dari otot-otot pengunyahan yang umum
mempengaruhi pasien yang sedang menjalani prosedur perawatan gigi, bedah mulut, dan terapi
radiasi untuk mengobati kanker kepala dan leher. Trismus adalah hasil dari kontraksi berkelanjutan
dari satu atau lebih dari otot-otot pengunyahan: masseter, temporalis atau otot pterigoid yang dapat
menghasilkan kontrakture dari jaringan ikat yang dapat menimbulkan pembatasan dalam membuka
mulut.1

Trismus biasanya terjadi dalam kasus ekstraksi molar ketiga mandibula, dan ditandai oleh
pembatasan membuka mulut karena kekejangan otot-otot pengunyah. Kekejangan ini mungkin
akibat cedera dari otot pterygoid medial yang disebabkan oleh jarum atau trauma bedah, terutama
pada saat melakukan prosedur bedah yang lama dan memiliki tingkat kesulitan. Faktor penyebab
lainnya adalah peradangan pada luka pasca ekstraksi, hematoma, dan edema pasca operasi.2

Gejala
Kesulitan membuka mulut adalah tanda utama dari trismus. Masalah dengan bicara
dan/atau menelan juga dapat terjadi. Tingkat keparahan trismus tergantung pada penyebabnya.
Nyeri juga bisa menjadi suatu gejala.3

Diagnosa
Dokter gigi atau dokter akan membahas riwayat kesehatan anda ketika terjadi trismus dan
melakukan pemeriksaan fisik. Pencitraan Kepala dan leher mungkin diperlukan untuk mendeteksi
penyebabnya. Ini mungkin bisa dilakukan dengan panorama X-ray, magnetic resonance imaging
(MRI) atau computed tomography (CT) scan.3

Jangka waktu yang diharapkan


Berapa lama terjadinya trismus tergantung pada penyebabnya. Misalnya, trismus dari nyeri
otot (yang disebabkan oleh gerakan menggiling pada gigi) dapat hilang hanya dalam seminggu.
Trismus disebabkan oleh terapi radiasi atau trauma akan memakan waktu lebih lama untuk
sembuh.3

Pencegahan
Cara untuk mencegah trismus adalah mencegah penyebabnya. Hal ini tidak selalu dapat
dilakukan. Jika Anda menutup atau menggiling pada gigi anda, bite splint mungkin dapat mencegah

1
terjadinya trismus. Orang yang mendapatkan terapi radiasi pada kepala dan leher bisa menjalani
terapi fisik untuk rahang. Ini akan mengurangi resiko trismus. Mengobati suatu infeksi rahang
sedini mungkin dapat mencegah jaringan parut, yang dapat menyebabkan trismus.3
Ada empat cara untuk membantu mencegah trismus. Bahkan jika tidak memiliki gejala
apapun, Anda harus melakukan ini untuk mencegah masalah yang akan timbul.
• Menjaga kebersihan mulut dengan baik.
• Menjaga postur tubuh yang baik.
• Melakukan pijat pada otot rahang.
• Melakukan latihan otot-otot rahang.4

Pengobatan
Tergantung pada penyebab dari trismus tersebut, berbagai perawatan dapat dilakukan.
Pemeriksaan diagnostik harus dimulai sesegera mungkin. Jika tidak, kondisi bisa lebih buruk. Hal
ini akan membuat pengobatan menjadi lebih sulit.
Beberapa peralatan dapat digunakan untuk membuka mulut secara bertahap. Alat-alat ini
berbeda dalam biaya, fungsi dan seberapa baik alat-alat tersebut bekerja. Alat-alat ini tidak
ditentukan dalam setiap kasus.
Latihan biasanya yang dianjurkan. Latihan harus dilakukan beberapa kali sehari. Beberapa
orang mungkin perlu untuk terus menggunakan perangkat dan/atau melakukan latihan selama
berbulan-bulan untuk memastikan bahwa trismus tidak bertambah buruk atau timbul kembali.
Dalam kasus yang lebih parah, terapi fisik dan relaksasi otot dapat dilakukan.3
Selain itu juga, dapat dilakukan:
• Terapi panas yaitu kompres panas ditempatkan pada ekstraoral kira-kira 20 menit setiap
jam sampai gejala mereda.
• Pijat dengan lembut pada daerah TMJ.
• Memberikan analgesik, anti inflamasi, dan obat relaksasi otot.
• Memberikan obat penenang, untuk mengatasi strees yang memburuk pada saat
mengalami trismus, yang menyebabkan peningkatan kejang otot pada daerah tersebut.2

Referensi

1. Journal of Oral Science, vol.51, no.1, 141, 2009. Treating trismus with dynamic
splinting : Case report.
2. Text book, Fragiskos D.Fargiskos, Oral Surgery, chapter 8, 195.

2
3. Website, www.simplestepdental.com.
4. Patient information booklet: trismus, Memorial Sloan-Kettering Cancer Center,
New york, 2008.