Anda di halaman 1dari 3

NAMA : IDA MARYUNI

NIM : 042408302
UPBJJ : UT PEKANBARU
KELAS : EKMA4115.140

DISKUSI SESI 6

Investasi obligasi ataupun investasi saham pada dasarnya sama-sama


menguntungkan. Namun, keuntungan investasi obligasi dan keuntungan investasi
saham berbeda dari beberapa sisi.

Obligasi maupun saham, keduanya merupakan instrumen pasar modal yang


notabene instrumen investasi. Instrumen pasar modal itu terdiri dari lima
instrumen, yaitu:

 Saham
 Obligasi
 Reksadana
 Exchange Traded Fund (ETF)
 Derivatif

Obligasi adalah surat utang jangka menengah dan panjang yang diterbitkan
negara atau perusahaan dan dapat dipindahtangankan. Sementara saham adalah
tanda penyertaan modal dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas.

Kedua instrumen pasar modal ini berbeda dalam pemberian keuntungan atau
profit bagi investornya.

 Obligasi konvensional memberi profit dalam bentuk kupon/bunga dan


capital gain. Sementara obligasi syariah atau sukuk memberi keuntungan dalam
bentuk imbal hasil/nisbah dan juga capital gain.
 Saham, baik saham biasa maupun saham syariah, memberi keuntungan
dalam bentuk selisih harga positif (capital gain) dan dividen.

Dalam obligasi, kupon/bunga adalah tingkat imbal hasil yang diterima si


pemegang surat utang hingga masa jatuh tempo.

Pada saham, keuntungan dalam bentuk capital gain adalah selisih antara harga
beli dan harga jual yang mana harga jual lebih tinggi nilainya dibandingkan harga
beli. Sementara dividen adalah keuntungan yang dibagikan perusahaan atau
emiten kepada pemegang saham.
Kelebihan obligasi Kekurangan obligasi
Membutuhkan modal awal yang lebih besar
Secara umum lebih aman
(khususnya untuk corporate bond dan government
dibanding saham
bond non-retail)
Tingkat pengembalian yang jelas
Kurang likuid jika dibanding dengan saham
karena tergantung kuponnya
Ada rating dari lembaga yang
Ada risiko langsung ke suku bunga
kredibel
Obligasi tidak mengenal pembagian keuntungan dalam bentuk dividen. Sementara
saham tidak ada pembagian keuntungan dalam bentuk kupon atau bunga atau
bagi hasil.

Semua instrumen investasi, baik instrumen pasar modal maupun pasar uang, pada
dasarnya memberikan keuntungan.

Namun, di balik keuntungan tersebut, ada risiko-risiko yang bisa saja terjadi,
termasuk risiko berinvestasi obligasi dan investasi saham.

Berikut ini risiko-risiko investasi obligasi dan investasi saham. Kalau penasaran
dengan instrumen pasar uang, kamu bisa baca informasi lengkapnya di
artikel Pengertian Pasar Uang dan Jenis Instrumennya [Plus Contoh].

Risiko investasi
Penjelasan
obligasi
Risiko akibat kurang likuid atau sulitnya menjual kembali di pasar
Risiko likuiditas
sekunder karena kecilnya minat investor.
Risiko akibat masa jatuh tempo obligasi yang lama sehingga
Risiko maturitas
risikonya besar karena ketidakpastian.
Risiko default Risiko akibat gagal bayar. Biasanya terjadi pada obligasi korporasi.
Risiko investasi
Penjelasan
saham
Selisih antara harga jual dan harga beli yang mana harga beli
Capital loss lebih tinggi dibanding harga jual. Capital gain adalah
kebalikan capital loss.
Risiko akibat perusahaan yang sahamnya dimiliki investor
Risiko likuidasi dinyatakan bangkrut oleh Pengadilan atau perusahaan tersebut
dibubarkan.
 
Lebih Untung Investasi Obligasi atau Investasi Saham?

Jika yang diperhatikan hanya dari sisi return-nya, investasi saham adalah pilihan
investasi yang lebih menguntungkan.

Return rata-rata per tahun IHSG selama 10 tahun ada di sekitar 11%.
Sementara yield obligasi Pemerintah 10 tahun ada di sekitar 6,8%.

Namun, investasi tidak melulu tentang return, perlu dipertimbangkan faktor


lainnya. Investasi yang lebih “menguntungkan” untukmu belum tentu sama
“menguntungkan” untuk orang lain.

Kelebihan saham Kekurangan saham


Secara historis return lebih besar Secara umum risiko investasi lebih besar
dibanding obligasi dibanding obligasi
Biaya mulai lebih murah Return tidak dijamin
Jika perusahaan bangkrut, pemegang
Perdagangan lebih likuid
saham dibayar paling akhir
Sebab tiap-tiap investor memiliki profil investasi yang berbeda. Untuk mengetahui
cocok tidaknya suatu aset dengan profil investasi, ada baiknya kita melihat pro dan
kontranya.

 Untuk mengurangi risiko-risiko investasi, kamu bisa melakukan manajemen risiko


dengan diversifikas