Anda di halaman 1dari 8

Imtiyaz Yusuf: Kontribusi Ismail al-Faruqi untuk Academic Study of Religion

Reza M. Pahlewi, S.Pd., M.A

Profil Ismail al-Faruqi

Al-Faruqi adalah pelopor dari apa yang disebutnya Islamics atau Islamic Studies di zaman
modern. Sejak 1960-an dan seterusnya, dia, bersama dengan Fazlur Rahman dari University of
Chicago dan Seyyed Hossein Nasr dari George Washington University, masing-masing dengan
perspektif mereka sendiri tentang Islam dan Studi Islam, adalah tiga cendekiawan Islam terkemuka
pertama di Barat. Saat itulah Islam muncul sebagai bidang studi, penelitian, dan wacana di
universitas. Masing-masing memberikan kontribusi khusus untuk Studi Islam di Amerika Serikat;
Fazlur Rahman dalam pemikiran dan filsafat Islam, Seyyed Hossein Nasr dalam mistisisme Islam,
dan Ismail al-Faruqi terhadap kajian Islam di bidang fenomenologi dan sejarah agama dan dialog
antaragama. Meskipun ia lebih dikenal di dunia Muslim karena karyanya, Teori Islamisasi
Pengetahuan ((Islamisation of Knowledge) yang hanya satu dari sekian banyak kontribusi
intelektualnya terhadap hubungan antara Islam dan pengetahuan.1

Perjalanan Karir dan Akhir Hayat

Terlatih dalam filsafat dari Indiana University, dia juga belajar Islam di Universitas al-
Azhar antara 1954–1958. Pada tahun 1958 dia mengambil posisi sebagai “visiting fellow” di
Faculty of Divinity di Universitas McGill. Antara 1961 dan 1963, al-Faruqi bekerja sebagai
profesor tamu di Central Institute of Islamic Research, Karachi, Pakistan. Pada tahun 1964–1968
ia diangkat sebagai profesor madya Studi Islam di Departemen Agama, Universitas Syracuse. Pada
tahun 1968, ia diangkat sebagai Profesor Islamik di Departemen Agama yang baru didirikan,
Universitas Temple, Philadelphia di mana ia tinggal sampai kematiannya pada tahun 1986. Pada
tahun 1973, al-Faruqi mendirikan Kelompok Studi Islam di American Academy of Religion

1 Ismail al-Faruqi and David Edward Sopher, eds., Historical Atlas of the Religions of the World (New York:
Macmillan, 1975); Edward W. Said, Orientalism (New York: Vintage Books, 1979); Romila Thapar, Interpreting
Early India (Delhi: Oxford University Press, 1992); Thomas R. Trautmann, Aryans and British India (Berkeley:
University of California Press, 1997); V. Y. Mudimbe, The Invention of Africa: Gnosis, Philosophy, and the Order of
Knowledge (Bloomington: Indiana University Press, 1988); Walter D. Mignolo, The Idea of Latin America (Malden,
MA/Oxford: Blackwell Publishing, 2005) didalam Imtiyaz Yusuf Ismail al-Faruqi’s Contribution to the Academic
Study of Religion. Hal 101.
(AAR) dan memimpinnya selama sepuluh tahun. Dalam kapasitas akademis lainnya, ia juga
menjabat sebagai wakil presiden Inter-Religious Peace Colloquium, Konferensi Muslim-Yahudi-
Kristen, dan presiden American Islamic College di Chicago, AS.

Ismail bersama istrinya Lamya (Lois) al-Faruqi dibunuh secara tidak manusiawi di rumah
mereka pada tanggal 18 Ramadhan, 1406/27 Mei 1986, oleh seorang Afro-Amerika yang masuk
Islam yang telah mengenal al-Faruqi selama kegiatan kerja sosialnya dengan tahanan. Setelah
dibebaskan, orang ini biasa menghadiri acara sosial Muslim di Philadelphia yang kadang-kadang
diikuti oleh al-Faruqi. 2

Latar Belakang

Cendekiawan Muslim saat ini tidak menonjol dalam studi akademis kontemporer tentang
agama. Alasan yang sering dikutip adalah pertama, pandangan teologis Muslim yang populer
menganggap Islam sebagai agama “Final” dan kedua, politisasinya. Studi akademis modern
tentang agama dimulai dengan pemisahan studi ilmiah agama dari teologi Kristen oleh Pencerahan
Eropa yang terlihat dalam referensi Friedrich Max Müller [1823–1900] ke
Religionswissenschaft— “ilmu agama” dalam kuliahnya tahun 1870-an di Royal Institute of
London. Sejak saat itu muncul dua pandangan tentang studi agama di kalangan akademisi modern,
yaitu:

1. Dalam ilmu-ilmu sosial yang didorong oleh pendekatan reduktif atau fungsionalis
Darwinis Sosial yang memandang agama sebagai produk sampingan budaya daripada
entitas itu sendiri.
2. Fenomenologi dan sejarah agama yang diilhami oleh fenomenologi filosofis Edmund
Husserl [1859–1938] sebagai pendekatan akademis dan interdisipliner untuk
mempelajari agama

Mayoritas universitas di dunia Muslim, menghindari atau memandang pendekatan modern


terhadap studi agama serta agama lain, dan dianggap berbahaya bagi keyakinan Muslim. Dengan
demikian mereka mengajarkan Islam dan Agama Komparatif melalui cara-cara pengakuan,
apologetis dan eksklusif. Sedangkan di sisi lain, mayoritas ilmuwan sosial Muslim mengadopsi

2 Imtiyaz Yusuf: Ismail al-Faruqi’s Contribution to the Academic Study of Religion. Hal 102.
pendekatan reduktif atau fungsionalis untuk mengkaji dan meneliti tentang agama sebagai fakta
budaya. Hal ini berakibat pada:

1. Ketidakmampuan dalam menawarkan perspektif ilmiah tentang krisis sosial yang


menyebabkan kesalahpahaman intra dan antaragama, konflik dan kekerasan di
berbagai negara.
2. Pendekatan bercabang modern terhadap pengetahuan ini tidak mampu membangun
jembatan antara agama, budaya dan komunitas, juga tidak menawarkan untuk
melakukan analisis sistematis sehingga gagal untuk menyelesaikan krisis sosial.

Al-Faruqi adalah akademisi Muslim pertama yang terlibat dalam studi dan berkontribusi pada
pendekatan fenomenologis dan sejarah agama. Dia melihat pend ekatan ini secara positif dan
berkontribusi pada apresiasi Islam: sebagai bagian dari sejarah agama manusia, memungkinkan
keterlibatan Muslim dalam studi modern tentang agama dan sebagai peserta dalam membangun
pemahaman antar agama.

Pemikiran al-Faruqi

Pandangan Ismail al-Faruqi tentang Islam adalah “Arabist without being Arab nationalist”.
Arabismenya berdasarkan agama dan bertentangan dengan nasionalisme berbasis ras di zaman
modern. Tentu saja, posisi seperti itu berlawanan dengan pandangan orientalis tentang agama-
agama Timur Tengah Yudaisme, Kristen, dan Islam sebagai entitas yang terpisah. Bahwa tradisi
semitisme adalah sebuah kesatuan, sebuah arus yang banyak gerakan didalamnya. Bahwa setiap
gerakan tersebut adalah sebuah perkembangan dari apa yg sebelumnya ada. Agama agama yg
terakhir seperti Judaism, Christianity, and Islam itu hanya agama yang sementara. Tidak berbeda
dengan agama agama Asyiria maupun Babylonia, walapun Judaism, Christianity, and Islam jauh
lebih dewasa dan kompleks karena berada pada arus yang terakhir.

Bagi Al-Faruqi, Yudaisme, Kristen, dan Islam merupakan kesatuan monoteistik dari
perbedaan pengakuan. Selain dari para sarjana Barat, teori ini juga mendapat kecaman keras dari
sarjana Muslim non-Arab, seperti Fazlur Rahman, yang mengatakan bahwa Al-Faruqi dipandang
sebagai seorang Arabo sentris, "pemuda Muslim Palestina yang marah" dan juga "seorang sarjana
gerilya."3

Pendekatan Ismail al-Faruqi terhadap Al-Quran

Pendekatan Ismail al-Faruqi terhadap Al-Qur'an adalah ideasional, aksiologis, dan estetis

1. Ideasional dalam arti menyoroti sentralitas tauhid (Monotheisme) sebagai gagasan inti.
Ideational perspective atau perspektif ideasional adalah perspektif penelitian yang
mendefinisikan ide, simbol, dan struktur mental sebagai kekuatan pendorong dalam
membentuk perilaku manusia.
2. Aksiologis — nilai ketaatan pada Islam, yaitu kesetiaan pada nilai-nilai kesalehan
tauhid, etika, dan world affirmation. Ketaatan pada islam dan bukan pada nasional,
rasial, atau ideologis (bagi mereka yang merosot menjadi fanatisme)
3. Estetika — bagi Al-Faruqi Al-Qur'an merupakan wahyu estetis, terlihat dari karakter
estetik bahasa Arabnya yang menjadi sumber ekspresi estetika yang terdapat dalam
seni sastra, kaligrafi, arsitektur, musik, dan seni lukis Muslim.

Jadi bagi al-Faruqi, dimensi teologis, moral, dan estetis dari kehidupan, pemikiran, dan
tindakan Muslim yang menekankan dualitas antara pencipta dan makhluk. Dalam bidang
pemikiran Islam, Al-Faruqi sangat terkesan dengan rasionalisme Islam para teolog Mu'tazilah
seperti Al- Nazzam [775–845], Qadi 'Abd al-Jabbar [935–1025 ] the ethics of kelompok filsuf
abad kesebelas Ikhwan al safa atau "Saudara-saudara Kemurnian“ (brethren of purity) dan
Tawhidi-teologi kesatuan Muhammad b. ‘Abd al-Wahhab [1703–1792]. Dua tema umum yang
muncul dalam pemikiran para teolog dan aliran filsafat ini adalah Tauhid — keesaan Tuhan dan
'adl — keadilan. Sebagai seorang Muslim dan seorang Palestina, dua topik ini adalah yang
terpenting bagi al-Faruqi. Faktanya, dalam tradisi para teolog Muslim klasik, al-Faruqi
melanjutkan menulis Kitab alTawhid miliknya dalam bahasa Inggris demi generasi baru Muslim,
yang fasih berbahasa Inggris. Ini menyajikan pandangan filosofis dan ideasionalnya tentang Islam.

Ismail Al-Faruqi dan Studi Agama

1. Arab, “stream of Being” (Arab, eksistensi yang berkelanjutan)

3 Ibid, Hal 104.


Ini adalah bidang studi dan penelitian yang langka di dunia Muslim dan juga tidak
disambut baik oleh nasionalis Muslim Arab dan non- Cendekiawan Muslim Arab. Inilah
kenapa kontribusi Al-Faruqi kurang impresif jika dibandingkan dengan Fazlur Rahman dan
Seyyed Hossein Nasr

2. Islamisation of Knowledge (Islamisasi Pengetahuan)

Selama beberapa dekade terakhir, akademisi Muslim menjadi terpaku pada satu-
satunya kontribusi alFaruqi yaitu Islamisation of Knowledge. Sangat jauh berbeda dari
perspektif pengetahuannya yang, dalam pemahaman Imtiyaz Yusuf, yang adalah proses
memperoleh kontribusi dari masa lalu dan melampaui mereka seperti halnya para
akademisi, filsuf, dan ilmuwan Muslim awal yang berkontribusi pada sejarah intelektual
Islam dan dunia.

Islamisasi Pengetahuan saat ini bermuara pada politisasi pengetahuan dan persaingan
untuk itu, antara Muslim yang berbeda yang memegang pandangan yang berbeda juga.
warisan al-Faruqi yang menyerukan kepada para cendekiawan dan peneliti Muslim untuk
berkontribusi pada proses pengetahuan di mana Islam adalah salah satu dari banyak aliran
pemahaman manusia tentang realitas telah dikesampingkan. Pandangan dunia Islam telah
dipersempit menjadi legalistik atau ideologi politik.4

Kontribusi Al-Faruqi: Islamics dan History of Religions

Kontribusi Ismail al-Faruqi dimulai pertama dengan fokusnya pada hubungan antara
agama dan geografi, ia bersama rekannya David E. Sopher mengedit Atlas Sejarah Agama-agama
Dunia. Pendekatan studi agama ini disebut "geografi budaya". Ini melibatkan:

1. Pengaruh pengaturan lingkungan pada evolusi sistem keagamaan dan institusi keagamaan
tertentu;
2. Cara sistem dan lembaga keagamaan mengubah lingkungan mereka;
3. Perbedaan cara sistem keagamaan menempati dan mengatur segmen ruang bumi;
4. distribusi geografis agama dan cara sistem agama menyebar dan berinteraksi satu sama lain.

4 Ibid, Hal 106.


Di bidang sejarah agama, al-Faruqi menawarkan perspektif Muslim tentang agama
berdasarkan studi dan pengetahuan penelitian kritis-historis dari sejarah dan teks Near Eastern
kuno. Al-Faruqi melihat pergulatan antara tauhid dan politeisme sebagai tema sentral agama-
agama di teater Arab. Bagi al-Faruqi, seorang Muslim memiliki visi etis “tauhid” yang berakar
pada pandangan Al-Qur'an tentang din berdasarkan prinsip tauhid, universalisme, toleransi, dan
penegasan hidup, yang akan memungkinkannya untuk bertahan dengan tantangan kontemporer
dari materialisme dan konflik etnis-agama. Ini memfasilitasi kemitraan Muslim dalam dialog
antara agama, budaya, dan peradaban. Ia membandingkan cara pandang religius tersebut dengan
cara pandang religius "mitopoeik" yang ditemukan dalam agama politeistik, yang tidak mampu
melampaui pandangan dunia religius yang abstrak.5

Al-Faruqi juga satu-satunya profesor Muslim di zaman modern yang meminta penyelidikan
dan penelitian tentang Islam pra-Hijrah, menyoroti pentingnya metodologis untuk studi dan
penelitian tentang Islam. Islam pra-hijrah sebagai realita sejarah, komunitas yang secara sadar
berkoitmen untuk menegakkan islam, Pra-Hijrah dikatakan sebagai saat dimana Islam belum ada.
Para nenek moyang kita juga tidak merasa perlu untuk mempelajari aspek pra-Hijrah yang
merupakan sejarah agama Yudaisme dan Kristen. Karena Al-Qur'an telah menyampaikan berita-
peristiwa dari agama-agama tersebut, umat Islam merasa tidak perlu untuk menyelidiki sejarah
mereka.

Al-Faruqi dan Dialog Antaragama

Selama akhir 1960-an hingga 80-an, dialog antaragama adalah upaya akademis baru yang
dilakukan sebagian besar di antara kelompok-kelompok terbatas spesialis dan akademisi yang
tertarik. Profesor Leonard Swidler, peran perintis dalam usaha ini di tingkat dunia dari posisinya
di Temple University. Dia juga melibatkan sebagian besar rekannya dalam tugas ini: al-Faruqi
adalah salah satunya. Al-Faruqi juga terlibat dalam dialog Islam dengan agama lain, terutama
Kristen di Barat. Sebagai warga negara dan penduduk Barat, ia aktif berpartisipasi dalam dialog
antaragama sejak tahun 1960-an selama masa pertumbuhannya di Barat, mengikuti inisiatif dialog
dari Dewan Gereja Dunia dan Konsili Vatikan Kedua. Dalam upayanya ini, ia mengadaptasi

5Al-Faruqi and Sopher, eds., Historical Atlas of the Religions of the World, 3 –28 didalam Imtiyaz Yusuf: Ismail al-
Faruqi’s Contribution to the Academic Study of Religion
epistemologi Muslim bahwa ada hubungan mendasar antara pengetahuan, sains, dan pendidikan
— agama dan umum — dengan perubahan zaman. Ia antusias berdialog dengan umat Kristiani,
Yahudi, Hindu, Budha, dan pemeluk agama lain.

Bagi al-Faruqi, tujuan dialog adalah untuk menyatukan agama Tuhan dan kebenaran,
membawa konversi ke kebenaran, dan memungkinkan pemahaman nilai dan makna. Ia juga
mengatakan bahwa metodologi dialog membutuhkan kritik, koherensi internal, perspektif sejarah,
memperhatikan realitas agama, tidak bergantung pada figurisasi kitab suci yang absolut yang
terjadi di semua agama, termasuk Islam. Ia menyimpulkan bahwa potensi keberhasilan dialog
terletak pada bidang etika6

Kritikan pada kontribusi Al-Faruqi mengenai Kajian Agama

Abdulkader Tayob

Al Faruqi menyatakan hutangnya kepada Kant, tetapi dia juga menghindari perangkat kritis
sepenuhnya dari alasan kritis. Dia menerima beberapa analisis kritis Kant tentang persepsi yang
sering menyebabkan kesalahpahaman tentang agama, tetapi dia tidak mau menerima implikasi
penuh dari filosofinya yang menolak "transendensi dan fundamentalisme" (al Faruqi 1962: 218).
Al Faruqi hanya menerima perangkat kritis Kant sejauh itu sesuai dengan teologi Islam yang dia
sukai. Pengetahuan tentang esensi (dzat) Tuhan tidak dapat diketahui, menurut alasan kritis Kant
dan teologi Muslim berdasarkan ayat Al-Qur'an ("tidak ada yang seperti Dia" [Quran 42:11]).
Namun, Al Faruqi juga berpendapat bahwa ada hubungan langsung antara atribut Tuhan dan dunia.
Seperti pemikir Muslim modernis lainnya, Al Faruqi menggunakan Kant dan pemikiran kritis
modern hanya sampai batas tertentu.7

Bagi alFaruqi, studi tentang agama bukanlah tentang menguji validitasnya dengan tes
eksternal atau fungsional seperti yang dilakukan oleh pendekatan reduksionis kontemporer seperti

6 Al-Faruqi, “Islam and Christianity,” 45–77. didalam Imtiyaz Yusuf: Kontribusi Ismail al-Faruqi untuk Academic Study
of Religion.
7 Talal Asad, “Anthropological Conceptions of Religion: Reflections on Geertz,” Man 18, no. 2 (1983): 237–59. Dalam

Imtiyaz Yusuf: Kontribusi Ismail al-Faruqi untuk Academic Study of Religion


ilmu kognitif yang mereduksi asal-usul dan praktik agama menjadi hanya neural8 atau proyek
dakwah. Bagi alFaruqi, studi tentang agama merupakan kajian tentang kondisi homo religious.

Kesimpulan

Al-Faruqi berpandangan bahwa Islam tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan dan
teknologi modern, baik yang didasarkan pada paradigma masa lalu maupun modern. Yang penting
adalah apakah hal itu secara aksiologis masuk akal dalam hal nilai-nilai di bidang etika, estetika,
dan agama — karena hal itu memengaruhi persepsi, keputusan, dan tindakan kita.

Al-Faruqi menampilkan Islam sebagai agama, pandangan dunia, dan bagian integral dari
proses pengetahuan tanpa terlibat dalam apologetika, tetapi dengan mengembangkan teori-teori
baru tentang peran Arab dan Islam dalam aliran religius dalam istilah non-nasionalis. Sebuah teori
estetika Islam yang berakar pada tauhid Al-Qur'an dan Islamisasi ilmu juga termasuk dalam
kontribusinya yang terbesar.

8 lihat artikel mengenai kognisi dan psikologi budaya oleh Armin W. Geertz; Justin L. Barrett and David A. Warburton
in New Approaches to the Study of Religion: Textual, Comparative, Sociological, and Cognitive Approaches, Peter
Antes, Armin W. Geertz, and R. R. Warne, eds. (Berlin: De Gruyter, 2004), 347 –56.