Anda di halaman 1dari 5

TUGAS INDIVIDU TEKNIK ANALISIS ISU LATSAR CPNS

NAMA : FITRI SRI HERDIYANTI,S.Pd

NIP : 198805152020122005

Menentukan Isu Prioritas dengan Teknik APKL

 Aktual : Artinya isu atau pokok persoalan sedang terjadi atau akan terjadi dan sedang
menjadi pembicaraan orang banyak.
 Problematika : Artinya isu yang menyimpang dari kondisi yang seharusnya, standar ketentuan yang
menimbulkan kegelisahan yang perlu dicari penyebab dan pemecahannya.
 Kelayakan : Isu bersifat logis dan patut dibahas sesuai dengan tugas dan tanggung jawab
 Kekhalayakan : Isu yang secara langsung menyangkut hajat hidup orang banyak

Jenis Isu Actual di Instansi:

Problematika pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ) di masa pandemi

Penyebab Pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang


sudah berjalan hampir satu tahun menyisakan
berbagai tantangan dan peluang yang perlu
ditindak lanjuti. Tantangan yang dihadapi antara
lain kompetensi guru dan juga ketimpangan akses
teknologi informasi, selain itu tantangan yang
paling utama khususnya yang dihadapi di instansi
tempat saya bekerja adalah sulitnya untuk
menyampaikan nilai-nilai pembentukan karakter
terhadap anak dan meningkatnya kejenuhan
peserta didik dengan pembelajaran jarak jauh.
Bagaimana mengelola kesehatan mental peserta
didik yang sedang mengalami pembatasan
aktivitas dan tidak bisa bersosialisasi dengan
teman sebaya mereka.
Dampak Pandemi Covid-19 dan pemberlakuan
pembatasan sosial telah menimbulkan rasa takut
dan kecemasan di seluruh dunia, tidak terkecuali
di Indonesia. Kebijakan pembatasan sosial yang
dilaksanakan di bidang pendidikan dengan
adanya pemberlakuan sistem pembelajaran jarak
jauh (PJJ) atau biasa dikenal sebagai belajar dari
rumah bagi seluruh siswa di Indonesia
menimbulkan berbagai polemik bagi para siswa
dan orang tua siswa.
Dengan kebijakan tersebut, tentunya para siswa
mengalami perubahan drastis terkait dengan
aktivitas normal di sekolah. Sejatinya aktivitas di
sekolah adalah sarana untuk belajar dan bermain
bagi anak dan remaja. Jadi, sejak pemberlakuan
pembatasan, beragam aktivitas tersebut harus
dilakukan di rumah bersama anggota keluarga
dan orang tua mereka. Hilangnya waktu bermain
dan belajar bersama dengan teman di sekolah,
terbatasnya kesempatan untuk berkunjung ke
area bermain, ataupun pengalaman menyaksikan
secara langsung dampak Covid-19 terhadap
orang tua atau anggota keluarga mereka
(dampak fisik, ekonomi, dan psikologi), adalah
pengalaman yang sulit bagi anak-anak dan
remaja. Anak-anak mungkin banyak yang belum
atau tidak mampu menghadapi perubahan yang
terjadi secara cepat dan tiba-tiba ini. Kemampuan
anak dan remaja dalam melakukan adaptasi
terhadap perubahan akibat Covid-19 ini tentu
saja sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor,
seperti usia, kematangan, ataupun tahapan
perkembangan anak.
Selain itu munculnya dampak negatif lainnya
seperti bangun lebih siang, bermalas-malasan
dan kurang motivasi untuk menjalani aktivitas
harian. Pembatasan ativitas anak usia remaja
khususnya ditempat saya bertugas dapat
menyebabkan perasaan tidak nyaman bagi
aktivitas sosial mereka. Hal ini disebabkan
perkembangan sosial anak yang mulai nyaman
melakukan aktivitas bersama teman-temannya di
sekolah di samping mereka membutuhkan sarana
untuk eksistensi diri. Jadi, dengan adanya
pembatasan aktivitas di luar rumah dalam waktu
lama, anak-anak dan remaja secara umum akan
rentan untuk mengalami tekanan psikologi dan
gangguan kesehatan mental.
Permasalahan yang nampak jelas adalah ketika
belajar secara daring peserta didik cenderung
untuk telat merespon seperti tugas yang kadang
ada siswa yang tidak mengerjakan bahkan tidak
mengikuti PJJ sama sekali, ini memerlukan
perhatian khusus dari pihak sekolah dan orang
tua peserta didik itu sendiri.
Untuk Guru sendiri sebagai bagian terpenting dari
program PJJ ini dituntut untuk menguasai IT,
untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dan
materi tersampaikan dengan baik.
Rekomendasi Penyelesaian Untuk menyelesaikan berbagai permasalahan
dan keluhan yang terjadi dalam program
pembelajaran jarak jauh , seharusnya pemerintah
harus turun tangan menanggulangi dampak
psikologis pandemi terhadap siswa dengan
mendorong pemberdayaan guru bimbingan
konseling terkait kesehatan mental siswa.
Solusi yang bisa diambil diantaranya guru
mengikuti Program Guru Berbagi, Seri Bimtek
Daring, dan Seri Webinar, penyediaan kuota
gratis, relaksasi BOS dan BOP, “Belajar dari
Rumah” di TVRI, belajar di radio RRI, Rumah
Belajar, dan kerjasama dengan platform
pembelajaran daring. Langkah yang dapat
ditempuh adalah menyusun kurikulum darurat.
Penyusunan kurikulum darurat menggunakan
dasar hukum utama tentang Panduan Kurikulum
Darurat pada Madrasah yaitu SK Dirjen Pendis
Nomor 2791 Tahun 2020. Selain itu didukung
juga dengan beberapa dasar hukum yang lain.
Kurikulum darurat merupakan penyederhanaan
jumlah KD yang mengacu pada K-2013. Kurikulum
darurat diharapkan akan memudahkan proses
pembelajaran di masa pandemi dengan adanya
pemilihan KD esensial. Dampak yang diharapkan
setelah penerapan kurikulum darurat bagi guru,
orangtua, dan peserta didik antara lain
tersedianya acuan kurikulum yang sederhana,
berkurangnya beban mengajar bagi guru, Peserta
didik tidak lagi merasa terbebani tuntutan untuk
menuntaskan seluruh capaian kurikulum, guru
dan Peserta didik dapat lebih fokus pada
pendidikan serta pembelajaran yang esensial dan
kontekstual, orangtua di rumah lebih mudah
mendampingi anaknya belajar, sehingga
kesejahteraan psikososial guru, Peserta didik, dan
orangtua menjadi lebih baik. Pelaksanaan PJJ
selama masa darurat Covid-19 untuk masing-
masing madrasah sangat bervariasi, sesuai
dengan asumsi dan kesiapan sekolah.
Implementasi pelaksanaan kurikulum darurat
menuntut guru untuk merubah paradigma pada
perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran,
serta pada penilaian hasil belajar karena kegiatan
pembelajaran tidak lagi dilaksanakan di
madrasah, tetapi dilaksanakan peserta didik dari
rumah. Kegiatan belajar dari rumah (BDR)
menuntut adanya kerjasama antara guru,
orangtua dan peserta didik.
Belajar dari rumah pada hakikatnya tidak hanya
untuk memenuhi tuntutan kompetensi (KI-KD)
pada kurikulum, tetapi lebih ditekankan pada
pengembangan karakter, akhlak mulia, ubudiyah
dan kemandirian Peserta didik. Guru harus bisa
lebih kreatif dan inovatif dalam menyajikan
materi pelajaran dan memberi tugas kepada
peserta didik, agar terwujud kegiatan
pembelajaran yang lebih bermakna,
menginspirasi, dan lebih menyenangkan agar
peserta didik tidak mengalami kejenuhan belajar
dari rumah.

Teknik Analisis Isu Teknik APKL (Aktual, Problematika, Kelayakan


dan Kekhalayakan)

Anda mungkin juga menyukai