Anda di halaman 1dari 23

TINJAUAN MATA KULIAH

Mata kuliah Etika Administrasi Pemerintahan merupakan peng-gabungan dari 2 bidang


pengetahuan yang sama sekali berlainan, yaitu filsafat dan ilmu administrasi publik.
Kedua bidang pengetahuan itu cukup sulit untuk dijadikan sebuah pemaparan yang amat
lancar dan bersatu padu. Filsafat adalah pengetahuan yang murni rasional dengan
menggunakan hanya alasan-alasan yang masuk akal berusaha membahas semua masalah
kehidupan manusia di dunia ini. Ilmu administrasi publik boleh dikatakan adalah
pengetahuan ilmiah yang berusaha menemukan petunjuk-petunjuk yang efisien dalam
proses penyelenggaraan pemerintahan. Mempersatukan alasan-alasan yang berdasarkan
akal semata-mata dengan petunjuk-petunjuk yang efisien dalam pelaksanaan administrasi
pemerintahan tidak selalu mudah dijalankan.
Etika Administrasi Pemerintahan ini dimaksudkan sebagai bahan pembelajaran bagi
mahasiswa yang kelak berharap menjadi seorang administrator pemerintahan. Dengan
mempelajari mata kuliah ini mahasiswa harus dapat memahami dan membina suatu
akhlak mulia yang berlandaskan berbagai asas dan nilai etis sehingga kelak menjadi
seorang petugas pemerintah yang arif, bajik, dan cerdas.
Mata kuliah Etika Administrasi Pemerintahan ini akan membahas 9 pokok soal yang
dituangkan dalam 9 modul, yaitu sebagai berikut.

Modul 1 : Studi tentang Etika Umumnya dan Etika Administrasi Pemerintahan Khususnya
Terdiri dari 3 kegiatan belajar.
1. Etika sebagai Salah Satu Cabang dari Rincian Filsafat Sistematis.
2. Studi tentang Etika Umumnya.
3. Studi tentang Etika Administrasi Pemerintahan Khususnya.

Modul 2 : Tiga Asas Luhur dalam Kehidupan Manusia


Terdiri dari 3 kegiatan belajar.
1. Asas Keutuhan Watak.
2. Asas Keadilan.
3. Asas Kesusilaan.

Modul 3 : Empat Nilai Utama dalam Kehidupan Masyarakat


Terdiri dari 3 kegiatan belajar.
1. Asas Mula 4 Nilai Utama.
2. Kaitan Satu Sama Lain 4 Nilai Utama
3. Sebuah Teori Keberuntungan-Kebaikan.

Modul 4 : Nilai, Jenis, dan Ragam dari Keadilan


Terdiri dari 3 kegiatan belajar.
1. Keadilan sebagai Suatu Nilai Sangat luhur dalam Pemerintahan.
2. Berbagai Jenis Keadilan.
3. Berbagai Ragam Keadilan.
Modul 5 : Keadilan Sebagai Sebuah Kebajikan Moral
Terdiri dari 3 kegiatan belajar.
1. Pengertian Kebajikan.
2. Penggolongan Kebajikan.
3. Keadilan sebagai Kebijakan Moral bagi Administrator Pemerintahan.

Modul 6 : Teori-Teori Keadilan


Terdiri dari 3 kegiatan belajar.
1. Teori Keadilan Plato.
2. Teori Keadilan Aristoteles.
3. Teori Keadilan John Rawls.

Modul 7 : Berbagai Ajaran Keadilan bagi Administrator Pemerintahan


Terdiri dari 3 kegiatan belajar.
1. Pengembangan Diri menjadi Orang yang Adil.
2. Orang yang Adil dan Tindakan yang Adil.
3. Ajaran-Ajaran Keadilan dalam Bidang-bidang Etika Hukum, Ekonomi, dan Politik.

Modul 8 : Asas-asas Etis dalam Administrasi Pemerintahan


Terdiri dari 3 kegiatan belajar.
1. Enam Asas Etis.
2. Kode Etika bagi Administrator Pemerintahan .
3. Petunjuk Pelaksanaan Kode Etika.

Modul 9 : Kebahagiaan sebagai Tujuan Penghabisan dari Kegiatan Manusia


Terdiri dari 3 kegiatan belajar.
1. Teori Kebahagiaan Manusia.
2. Tiga Asas Hidup yang Luhur.
3. Berbagai Cara untuk Mewujudkan Kebahagiaan.

Dalam pembahasan sesuatu pokok soal diusahakan dapat terumuskannya sebuah teori etis
yang menjadi pedoman bagi kelakuan dan perbuatan setiap orang. Sesuatu teori
diharapkan dapat memberikan alasan pembenaran sesuai dengan akal manusia terhadap
segi-segi moral yang dikemukakan.

MODUL 1: STUDI TENTANG ETIKA UMUMNYA DAN ETIKA


ADMINISTRASI PEMERINTAHAN KHUSUSNYA
Kegiatan Belajar 1:

Etika sebagai salah satu Cabang dari Rincian Filsafat


Sistematis
1. Filsafat adalah pemikiran reflektif atau memantul diri yang dilakukan oleh budi
manusia dalam arti senantiasa bertanya dan mencari jawaban terhadap berbagai masalah
yang membuat manusia merasa kagum pada dunia sekelilingnya.
2. Semua persoalan yang mencengangkan manusia itu disebut persoalan filsafati yang
dapat dibedakan menjadi 6 jenis, yaitu berikut ini.
a. Persoalan metafisis.
b. Persoalan epistemologis.
c. Persoalan metodologis.
d. Persoalan logis.
e. Persoalan etis.
f. Persoalan estetis.

3. Berdasarkan 6 jenis persoalan filsafati itu kemudian telah tumbuh dan berkembang 6
cabang filsafat sistematis, yaitu berikut ini.
a. Metafisika.
b. Epistemologi.
c. Metodologi.
d. Logika.
e. Etika.
f. Estetika dan ditambah dengan 1 cabang lagi.
g. Sejarah filsafat.

4. Saling kaitan yang menyeluruh dari cabang tersebut di atas merupakan struktur dari
bidang pengetahuan filsafat sistematis.

Kegiatan Belajar 2:

Studi tentang Etika Umumnya


1. Etika sebagai salah satu cabang dari filsafat sistematis dapat juga disebut filsafat moral
dan filsafat etis.
2. Etika dan moralitas keduanya menunjuk pada asas-asas benar dan salah dalam
perbuatan manusia.
3. Hanya dalam penggunaannya bilamana mengacu pada asas-asas dari bidang kerja
khusus dipakai istilah etika (misalnya etika politik) dan bilamana mengacu pada kelakuan
perorangan dipakai istilah moralitas (misalnya moralitas seksual).
4. Moralitas sebagai konsep paling pokok dalam etika umum telah melahirkan berbagai
konsep lain, di antaranya ide-ide tentang benar atau salah mengenai perbuatan dan baik
atau buruk mengenai sikap pribadi yang berlaku dalam kehidupan masyarakat.
5. Semua warga masyarakat perlu sekali menerapkan perbuatan yang benar atau
menghindarkan perbuatan yang salah dan menunjukkan sikap pribadi yang baik atau
meniadakan sikap pribadi yang buruk dalam kehidupannya sehari-hari sehingga dapat
tercipta sebuah kehidupan masyarakat yang aman, damai, dan tenteram.
Kegiatan Belajar 3:

Studi tentang Etika Administrasi Pemerintahan


Khususnya
1. Etika kini dapat dibedakan menjadi etika umum dan etika khusus. Salah satu etika
khusus, misalnya etika administrasi pemerintahan.
2. Etika administrasi pemerintahan merupakan penerapan studi filsafat dalam
penyelenggaraan administrasi pemerintahan dan berusaha memberikan berbagai asas etis,
ukuran baku, pedoman perilaku, dan kebajikan moral yang perlu dijalankan oleh setiap
administrator guna terselenggaranya pemerintahan yang baik bagi kepentingan rakyat.
3. Sebagai bidang studi kedudukan etika administrasi pemerintahan termasuk dalam ruang
lingkup ilmu administrasi publik maupun studi filsafat.
4. Etika administrasi pemerintahan bersifat normatif dalam arti menentukan norma-norma
mengenai apa yang seharusnya dilakukan oleh semua administrator dalam jabatannya.
5. Etika umum dan etika administrasi pemerintahan membahas kebaikan, tindakan etis,
dan kelakuan moral dari manusia untuk memerangi penyakit keburukan yang
menghinggapi masyarakat karena itu sangat penting bagi suatu kehidupan masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA
Abelson, Raziel, & Kai Nielsen. (1967). “Ethics, History of” Dalam Paul Edwards, ed.,
The Encyclopedia of Philosophy. Volume 3 New York: Macmillan R: Free Press.

Adler, Mortimer J., ed. (1980). The Great Ideas: A Syntopicon of Great Books of the
Western World. Volume 1 Chicago: Encyclopaedia Britannica, 23rd printing.

Butler, J. Donald. (1951). Four Philosophies and Their Practice in Education and
Religion. New York: Harper & Brothers.

Hamlyn, D. W. (1967). “Epistemology, History of” Dalam Paul Edwards, ed. The
Encyclopedia of Philosophy. Volume 3. New York: Macmillan & Free Press.

Nielsen, Kai. (1967). “Ethics, Problems of” Dalam Paul Edwards, ed. The Encyclopedia
or Philosophy. Volume 3. New York: Macmillan & Free Press.
Rohr, John A. (1976). “The Study of Ethics in the P.A. Curriculum” Public
Administration Review. Volume 36. July/August 1976.

Rosenbloom, David H., & Deborah D. Goldman. (1986). Public Administration:


Understanding Management, Politics, and Law in the Public Sector. New York: Random
House.

The Liang Gie. (2004) Filsafat Keindahan. Edisi Kedua. Yogyakarta: Pusat Belajar Ilmu
Berguna.
________. (2004). Filsafat Seni: Sebuah Pengantar. Edisi Kedua. Yogyakarta: Pusat
Belajar Ilmu Berguna.

________. (1998). Kamus Logika (Dictionary of Logic). Edisi Ketiga. Yogyakarta:


Liberty & Pusat Belajar Ilmu Berguna.

________. (1998). Pengertian. Kedudukan, dan Perincian Ilmu Administrasi. Edisi


Ketiga, cetakan ke-11. Diperlengkap oleh Sutarto. Yogyakarta: PUBIB (Pusat Belajar
Ilmu Berguna).
________. (1998). Philosophy as an Element of Human Existence: A Systematic
Clarification. Yogyakarta: Center for the Learning of Useful Knowledge.

________. (1979). Suatu Konsepsi ke Arab Penertiban Bidang Filsafat. Cetakan ke-3.
Yogyakarta: Karya Kencana.

Thompson, Dennis F. (1985). “The Possibility of Administrative Ethics” Public


Administration Review. Volume 45, September/Oktober 1985.

Wakefield, Susan. (1976). “Ethics and the Public Service: A Case for Individual
Responsibility” Public Administration Review. Volume 76, November/Desember 1976.

MODUL 2: TIGA ASAS LUHUR DALAM KEHIDUPAN MANUSIA


Kegiatan Belajar 1:

Asas Keutuhan Watak


1. Dalam kehidupan manusia yang terbaik terdapat 3 asas luhur yang wajib dianut dan
dilaksanakan oleh setiap orang, yaitu:
a. keutuhan watak;
b. keadilan;
c. kesusilaan;

2. Keutuhan watak adalah kesempurnaan akhlak pribadi dari seseorang dalam menjalani
hidupnya dan melaksanakan pekerjaannya serta mencakup kejujuran, kesetiaan, dan
pengabdian.
3. Perbedaan pokok antara pengertian kesetiaan dengan pengabdian ialah kesetiaan
terutama tertuju pada cita-cita yang diyakini kebenarannya atau cita-cita menjunjung
tinggi suatu paham yang luhur, sedangkan pengabdian terfokus pada jabatan, keahlian,
dan bidang profesi dari seseorang.
4. Untuk tercapainya sebuah kehidupan masyarakat yang aman, damai, dan tenteram, para
anggota masyarakat harus sungguh-sungguh berusaha memiliki keutuhan watak.
Kegiatan Belajar 2:

Asas Keadilan
1. Asas keadilan adalah salah satu ide agung dalam sejarah peradaban manusia karena
bersifat pokok dan sangat perlu bagi pemahaman terhadap manusia itu sendiri,
masyarakatnya, dan dunianya.
2. Mortimer Adler dengan Institute for Philosophical Research terakhir dalam tahun 1991
mencatat adanya 64 ide agung yang sangat luas cakupannya yang lahir, tumbuh, dan
melembaga di dunia Barat.
3. Asas keadilan tepat sekali dijadikan suatu landasan dari etika administrasi
pemerintahan karena dalam suatu negara yang baik pada umumnya dituntut adanya
pemerintahan yang adil, hukum yang adil, pajak yang adil, kehidupan masyarakat yang
adil, pemerataan sumber kemakmuran yang adil, dan berbagai tata tertib lainnya yang
serba semuanya. Dari asas keadilan itu dapat diperkembangkan berbagai asas dan ajaran
tentang kelakuan yang baik bagi para administrator pemerintahan yang fungsinya
mengabdi kepada rakyat.
4. Konsepi keadilan sebagai suatu ide mempunyai banyak makna dan definisi. Makna
keadilan menunjuk pada arti atau maksud yang melekat pada istilah keadilan, seperti
kepantasan, kelayakan, persamaan perlakuan, sikap tidak memihak, perlakuan tepat atau
kelurusan.
5. Definisi keadilan yang tertua telah dirumuskan oleh para ahli hukum pada zaman
Romawi dalam bahasa Latin yang berbunyi demikian: “Justitia est constans et perpetua
voluntas jus suum cuique tribuendi”, artinya ialah keadilan adalah kemauan yang tetap
dan kekal untuk memberikan kepada setiap orang apa yang semestinya.
6. Berbagai perumusan lainnya telah dikemukakan oleh para ahli dewasa ini mengenai
definisi keadilan.
7. Selanjutnya para ahli juga mengemukakan berbagai ragam keadilan, yaitu keadilan
pembagian, keadilan penggantian, keadilan timbal balik, keadilan prosedural, dan
keadilan kontributif.
8. Pengertian “apa yang semestinya” bagi setiap orang mempunyai 2 bentuk penerapan
umum berupa:
a. Jaminan hak-hak agar bebas dari pelanggaran.
b. Perlakuan yang layak, yaitu memperlakukan hal-hal yang sama secara sama dan hal-hal
yang tidak sama secara tidak sama seimbang dengan ketidaksamaan itu.
9. Ide keadilan merupakan kebaikan yang tidak memiliki batas dan tidak mempunyai
derajat perbandingan karena merupakan suatu kebaikan yang bulat dan utuh.
10. Definisi keadilan merupakan sebuah perumusan yang cukup terinci mengenai segi-
segi dan ciri-ciri dari sesuatu gejala untuk dikenal sebagai keadilan.

Kegiatan Belajar 3:
Asas Kesusilaan
1. Asas kesusilaan berarti suatu asas yang menunjukkan kebajikan pribadi dalam diri
seseorang yang senantiasa berubah mempunyai akhlak yang baik dan menunjukkan
kelakuan yang benar.
2. Setiap anggota masyarakat harus sungguh-sungguh berusaha mempunyai kesusilaan
dalam dirinya dan melaksanakannya dalam hidupnya sehingga masyarakatnya menjadi
ajang hidup yang aman, damai, dan tenteram.
3. Kehidupan setiap orang bagaikan sebuah garis lurus yang ujung-ujungnya mengarah
pada ide kebaikan dan kejahatan. Setiap anggota masyarakat sedapat-dapatnya perlu
melakukan kebaikan bagi masyarakatnya. Akan tetapi, kalau seseorang karena
keadaannya yang terpuruk tidak mampu berbuat kebaikan untuk masyarakatnya maka
hendaknya ia pantang melakukan kejahatan dan berdiri di tengah garis secara netral.
Keadaan yang seperti ini dapat disebut Teori Berdiri Netral di Tengah-tengah Kehidupan.
4. Asas keutuhan watak, asas keadilan dan asas kesusilaan sebagai kesatuan dapat
dianggap sebagai Teori 3 Asas Luhur dalam Kehidupan Manusia yang wajib dianut dan
dilaksanakan oleh setiap anggota masyarakat sehingga masyarakatnya menjadi aman,
damai, dan tenteram.
5. Teori 3 Asas Luhur dalam Kehidupan Manusia lebih penting lagi bagi para
administrator pemerintahan yang melaksanakan fungsinya dan menjalankan tugasnya
sehari-hari karena mereka perlu memberikan pelayanan yang terbaik kepada seluruh
rakyat.

DAFTAR PUSTAKA
Adler, M. J. (1981). Six Great Ideas. New York: Macmillan.

Adler, M. J. (1980). The Great Ideas: A Syntonicon of Great Books of Western World. 2
Volumes. Chicago: Encyclopedia Britannica, 23rd printing.

Angeles, P. A. (1981). Dictionary of Philosophy. New York: Barnes & Noble.

Benn, S. I. (1967). Justice dalam Paul Edwards, ed. The Encyclopedia of Philosophy.
Volume 4. New York: Macmillan & Free Press.

Chopra, C. S. (tt). How to Achieve Total Success in Life. New Delhi: New Light.

Ginnsberg, M. (1965). On Justice in Society.

Hoult, T. F. (1974). Dictionary of Modern Sociology. Totowa: Littlefield, Adams,


reprinted.

Justice. (1973). Dalam The Encyclopedia Americana. Volume 16. New York: Americana
Corporation, International Edition.
Oshima, H. T. (1981). Manpower Quality in the Differential Economic Growth between
East and Southeast Asia. Paper, August 1981. stensil.

The Liang Gie. (1993). Keadilan sebagai Landasan bagi Etika Administrasi Pemerintahan
dalam Negara Indonesia. Yogyakarta: Liberty.

_____________. (2003). Renungan Liku-liku Kehidupan. Yogyakarta: Pusat Belajar Ilmu


Berguna. Cetakan ke-5.

_____________. (1979). Webster’s New Twentieth Century Dictionary of the English


Language Unabridged. Second Edition. Tanpa Kota: William Collins.

MODUL 3: EMPAT NILAI UTAMA DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT

Kegiatan Belajar 1:

Asal Mula 4 Nilai Utama


1. Secara singkat nilai adalah objek dari keinginan manusia yang terdiri dari unsur-unsur
kebutuhan, minat, dan keterikatan emosional.
2. Nilai merupakan suatu kenyataan objektif dari hal-hal di luar diri manusia dari
kesadaran subjektif dalam diri manusia yang saling mengadakan hubungan interaksi
sehingga menciptakan nilai dalam kehidupan masyarakat.
3. Segi kesadaran subjektif dalam diri orang-orang menjelaskan sebabnya mengapa ada
perbedaan penilaian di antara orang-orang.
4. Nilai kepercayaan tercipta oleh perbuatan semesta yang dilakukan orang-orang dalam
masyarakat dan akhirnya menciptakan nilai keluhuran.
5. Nilai etis tercipta oleh perbuatan individual yang dilakukan orang-orang dalam
masyarakat dan akhirnya menciptakan nilai kebaikan.
6. Nilai ilmiah tercipta oleh pengetahuan intelektual yang dimiliki orang-orang dalam
masyarakat dan akhirnya menciptakan nilai kebenaran.
7. Nilai estetis tercipta oleh pengetahuan indrawi yang dimiliki orang-orang dalam
masyarakat dan akhirnya menciptakan nilai keindahan.

Kegiatan Belajar 2:

Kaitan Satu Sama Lain 4 Nilai Utama


1. Keluhuran adalah kebaikan yang sekaligus merupakan kebenaran.
2. Kebaikan adalah keluhuran yang sekaligus merupakan keindahan.
3. Kebenaran adalah keindahan yang sekaligus merupakan keluhuran.
4. Keindahan adalah kebenaran yang sekaligus merupakan kebaikan.
5. Saling hubungan di antara 4 nilai keluhuran, kebaikan, kebenaran, dan keindahan
membuat mereka mempunyai sebuah struktur yang memiliki 4 interaksi berupa:
a. Keluhuran dengan Kebaikan
b. Kebenaran dengan Keindahan
c. Keluhuran dengan Keindahan
d. Kebenaran dengan Kebaikan

6. Hubungan saling memerlukan dan melengkapi di antara 4 nilai utama ternyata dalam
sejarah peradaban manusia menjadi kaitan yang sangat erat, misalnya kaitan antara
keluhuran dengan keindahan telah melahirkan seni keramat atau antara kebenaran dengan
kebaikan telah melahirkan ide tentang seorang yang berilmu dan bermoral.
7. Kaitan sangat erat di antara 4 nilai utama dari manusia itu dapat dianggap sebagai
sebuah Teori 4 Nilai Utama dalam Kehidupan Masyarakat.
8. Etika administrasi pemerintahan selain perlu berlandaskan pada Teori 3 Asas Luhur
dalam Kehidupan Manusia juga perlu sekali berpegang pada Teori 4 Nilai Utama dalam
Kehidupan Masyarakat.

Kegiatan Belajar 3:

Sebuah Teori Keberuntungan Kebaikan


1. Teori Keberuntungan-Kebaikan yang diajukan bertumpu pada sebuah dalil bahwa
keberuntungan seseorang berjalan seiring dengan kebaikannya.
2. Keberuntungan adalah sesuatu hal yang membuat seseorang merasa lebih baik
ketimbang keadaan sebelumnya.
3. Kebaikan atau sifat baik mempunyai ruang lingkup yang amat luas dan dapat dikaitkan
dengan segala sesuatu di alam semesta ini.
4. Setiap orang dalam hidupnya harus berusaha memiliki, melakukan, dan meningkatkan
kebaikan sehingga Dewi Keberuntungan mau menyertainya untuk memberikan
keberuntungan kepadanya.
5. Teori Keberuntungan-Kebaikan selain berlaku untuk orang perseorangan kiranya juga
berlaku bagi sesuatu bangsa. Bangsa itu akan memperoleh keberuntungan kalau memiliki,
melakukan, dan meningkatkan kebaikan dalam perjalanan hidupnya.

DAFTAR PUSTAKA
Adler, Mortimer J. (1981). Six Great Ideas. New York: Macmillan.

Angeles, Peter A. (1981). Dictionary of Philosophy. New York: Barnes & Noble.

Gallant, Edgar. (1980). Code of Behaviour for Public Servants - Canadian Experience.
Kertas kerja dalam pertemuan tahunan American Society for Public Administration, 14
April 1980.

Lacey, A. R. (1979). A Dictionary of Philosophy. London: Routledge & Kegan Paul.


Osborne, H. (1933). Foundations of the Philosophy of Value: An Examination of Value
and Value Theories. London: Cambridge University Press.

Sahakian, William S. (1968). Systems of Ethics and Value Theory. Totowa: Littlefield,
Adams.

Sardar, Ziauddin. (1977). Science, Technology and Development in the Muslim World.
Atlantic Highlands: Humanities Press.

The Liang Gie. (1982). Dari Administrasi ke Filsafat: Suatu Kumpulan Karangan Lagi.
Cetakan ke-3. Yogyakarta: Supersukses.

________. (1993). Keadilan sebagai Landasan bagi Etika Administrasi Pemerintahan


dalam Negara Indonesia. Yogyakarta: Liberty.

________. (2003). Riwayat Hidup Sendiri dari Seorang Ayah yang Selalu Beruntung:
Sebuah Autobiografi Intelektual. Edisi Kedua. Yogyakarta: Pusat Belajar Ilmu Berguna.

Wheelwright, Philip. (1960). The Way of Philosophy. New York: Odyssey Press, revised
edition.

MODUL 4: NILAI, JENIS, DAN RAGAM DARI KEADILAN


Kegiatan Belajar 1:

Keadilan sebagai Suatu Nilai sangat Luhur dalam


Pemerintahan
1. Nilai dewasa ini dapat digolongkan menjadi jenis nilai dan ragam nilai. Jenis nilai
menunjuk pada isi substantif dari objek yang berkaitan dengan segi-segi kehidupan
manusia. Ragam nilai mengacu pada sifat pendirian dari objek yang berkaitan dengan
fungsinya untuk memuaskan keinginan manusia.
2. Ragam nilai yang terkenal ialah dwipembagian dalam nilai ekstrinsik dan nilai
intrinsik. Nilai ekstrinsik adalah suatu nilai yang berfungsi sebagai sarana/alat untuk
mencapai sesuatu hal lain, termasuk sesuatu nilai lain apa pun. Nilai intrinsik adalah suatu
nilai dari ide atau pengalaman yang bersifat baik atau patut dimiliki sebagai suatu tujuan
tersendiri.
3. Selain itu dikenal pula nilai yang penghabisan, yaitu suatu nilai atau cita yang suatu
masyarakat menganggapnya sebagai bersifat pokok, tak dapat dibantah, dan tak berubah.
4. Istilah Latin summum bonum berarti hal baik yang terluhur, yaitu suatu tujuan (atau
nilai) yang tertinggi dari kehidupan manusia yang demi itu semua hal lain dilakukan atau
suatu tujuan yang penghabisan dari kelakuan manusia, yang secara intrinsik dan substantif
adalah baik.
5. Keadilan menjadi objek dari keinginan yang didambakan dalam kehidupan masyarakat
dan diusahakan terwujud pada perilaku para anggota masyarakat itu. Dengan demikian,
keadilan merupakan sebuah nilai.
6. Keadilan sebagai suatu nilai yang sangat luhur merupakan nilai perserikatan dan
sekaligus juga nilai perwatakan. Sebagai suatu nilai perserikatan keadilan merupakan
faktor yang sangat penting dalam setiap kehidupan negara dan penyelenggaraan
pemerintahan bagi tercapainya suatu masyarakat yang aman, damai, dan tenteram.
Sebagai suatu nilai perwatakan keadilan menjadi pedoman utama bagi penerapan
kebajikan perseorangan dan perwujudan watak luhur dari masing-masing anggota
masyarakat.

Kegiatan Belajar 2:

Berbagai Jenis Keadilan


1. Ide keadilan sebagai objek dari pemikiran manusia telah dibahas oleh para cendekiawan
pemikir di dunia Barat sejak dahulu sampai sekarang. Ada 15 topik utama yang telah
diperbincangkan, yaitu sebagai berikut.
a. Berbagai konsepsi keadilan.
b. Berbagai ajaran keadilan.
c. Berbagai tugas keadilan.
d. Hubungan keadilan dengan kebijaksanaan.
e. Hubungan keadilan dengan persamaan.
f. Hubungan keadilan dengan kebebasan.
g. Keadilan rumah tangga.
h. Keadilan ekonomi.
i. Keadilan politik.
j. Keadilan hukum.
k. Keadilan ilahi.

2. Lima topik terakhir di atas merupakan jenis-jenis keadilan, yaitu keadilan yang
menunjuk pada sesuatu ruang lingkup tempat berlangsungnya keadilan pada kehidupan
manusia dalam masyarakat, yaitu sebagai berikut.
a. Kehidupan rumah tangga.
b. Kehidupan ekonomi.
c. Kehidupan politik.
d. Kehidupan hukum.
e. Kehidupan ilahi.

Kegiatan Belajar 3:

Berbagai Ragam Keadilan


1. Ragam keadilan menunjuk pada salah satu segi, ciri atau tata cara pelaksanaan keadilan
dalam kehidupan masyarakat.
2. Para ahli pemikir selama ini telah mengembangkan 5 ragam keadilan, yaitu sebagai
berikut.
a. Keadilan pembagian.
b. Keadilan penggantian.
c. Keadilan timbal-balik.
d. Keadilan prosedural.
e. Keadilan kontributif.

3. Ide keadilan dengan semua seginya termasuk dalam bidang kebaikan. Dengan
demikian, keadilan dapat pula dibahas sebagai ide kebaikan. Keadilan merupakan
kebaikan dari perbuatan. Bertindak adil dalam segala hal berarti berbuat baik.

DAFTAR PUSTAKA
Adler, M. J. ed. (1980). The Great Ideas: A Synptopicon of Great Books of the Western
World. 2 volumes. Chicago: Encyclopedia Britannica, 23rd printing.

Bahm, A. J. (1972). “Is a Universal Science of Aesthetics Possible?” The Journal of


Aesthetics and Art Criticism. Fall.

Heimanson, R. (1967). Dictionary of Political Science and Law. Dobbs Ferry, Oceana
Publications.

The Liang Gie. (1993). Keadilan sebagai Landasan bagi Etika Administrasi Pemerintahan
dalam Negara Indonesia. Yogyakarta: Liberty.

Theodorson, G.A. & Achiless, G. T. (1970). A Modern Dictionary of Sociology. New


York: Thomas Y. Crowell.

Titus, H. H. (1964). Living Issues in Philosophy: An Introductory Textbook. 4th edition.


New York: American Books.

MODUL 5: KEADILAN SEBAGAI SEBUAH KEBAJIKAN MORAL


Kegiatan Belajar 1:

Pengertihan Kebajikan
1. Konsepsi kebajikan dari zaman Yunani Kuno menganggapnya sebagai ciri kualitas
yang membuat seseorang baik dalam segi watak maupun pikirannya.
2. Menurut Socrates kebajikan merupakan semacam kearifan atau kebijaksanaan yang
menimbulkan keselarasan pada jiwa seseorang, yaitu kesehatan, keindahan, dan
kesejahteraan dari jiwa.
3. Menurut Plato kebajikan adalah suatu ciri kualitas yang membuat sesuatu hal
melaksanakan fungsinya secara baik. Suatu negara yang sempurna untuk dapat
melaksanakan fungsinya secara baik harus memiliki 4 kebajikan utama berupa kearifan,
ketabahan, disiplin, dan keadilan.
4. Menurut Aristoteles kebajikan adalah keadaan suatu hal yang merupakan
keunggulannya yang khas dan memungkinkan hal itu melaksanakan fungsinya secara
baik. Pada manusia kebajikan itu berupa kegiatan dari akal dan dari berbagai kebiasaan
yang tersusun secara rasional. Asal mula kebajikan ialah alam, kebiasaan, dan asas
rasional. Akhirnya, kebajikan berkaitan dengan kebahagiaan sebagaimana halnya sarana
dengan tujuan. Kebahagiaan adalah perwujudan dan pelaksanaan yang sempurna dari
kebajikan dan merupakan tujuan terakhir dari kelakuan manusia yang mencakup semua
hal baik lainnya.

Kegiatan Belajar 2:

Penggolongan Kebajikan
1. Aristoteles menggolongkan kebajikan menjadi kebajikan moral dan kebajikan
intelektual yang terdiri atas 8 hal berikut.
a. Pembatasan.
b. Ketabahan.
c. Keadilan.
d. Kearifan.
e. Ilmu.
f. Akal intuitif.
g. Kebijaksanaan.
h. Seni.
h merupakan kebajikan intelektual.−c merupakan kebajikan moral dan d−a

2. Thomas Aquinas mengelompokkan kebajikan teologis terdiri dari berikut ini.


a. Kepercayaan.
b. Pengharapan.
c. Cinta kasih.

3. Thomas Hobbes mendaftar kebajikan moral terdiri dari berikut ini.


a. Keadilan.
b. Rasa terima kasih.
c. Kerendahan hati.
d. Kepantasan.
e. Belas kasihan.

4. Benjamin Franklin mendaftar kebajikan moral terdiri dari berikut ini.


a. Pembatasan.
b. Pendiaman diri.
c. Ketertiban.
d. Ketetapan hati.
e. Kehematan.
f. Kerajinan.
g. Ketulusan.
h. Keadilan.
i. Sikap tidak berlebihan.
j. Kebersihan.
k. Ketenangan.
l. Kesucian.
Kerendahan hati.

Kegiatan Belajar 3:

Keadilan sebagai Kebajikan Moral bagi Administrator


1. Sebagian pemikir politik membicarakan tentang kebajikan politik yang menyangkut
kehidupan politik, tujuan negara, dan bentuk pemerintahan.
2. Montesquieu menetapkan kebajikan sebagai asas dalam bentuk pemerintahan republik.
Kebajikan pada sebuah negara republik yang perlu dimiliki warga negaranya ialah cinta
kepada negaranya.
3. John Stuart Mill menetapkan kebajikan sebagai tujuan dari suatu pemerintahan yang
baik. Pokok keunggulan terpenting yang suatu bentuk pemerintahan dapat memilikinya
ialah memajukan kebajikan dan kecerdasan dari rakyat.
4. Pengembangan kebajikan terasa lebih penting bagi para administrator pemerintahan
yang sehari-hari menjalankan roda pemerintahan.
5. Aristoteles melihat adanya kesatuan di antara berbagai kebajikan moral dalam rangka
suatu keadilan umum karena keadilan umum terdiri dari semua kebajikan moral sepanjang
kebaikan moral itu diarahkan pada kesejahteraan masyarakat dan kebaikan dari orang lain.
Keadilan umum yang demikian itu merupakan kebajikan seluruhnya yang bersifat
lengkap.
6. Keadilan merupakan kebajikan moral yang utama, yang pokok, atau yang terpenting
untuk diperkembangkan pada para administrator pemerintahan sehingga setiap
administrator pemerintahan dari kedudukan yang terendah sampai jabatan yang tertinggi
dapat terbina jiwa keadilan dalam budi pikiran, hasrat kemauan, dan hati sanubarinya
secara kokoh. Tanpa jiwa keadilan sebagai landasannya dan berbagai kebajikan moral
lainnya sebagai pedoman, seseorang administrator pemerintahan mudah sekali tergoda
oleh kekuasaan jabatannya dan terjerumus dalam berbagai keburukan.
7. Kebajikan merupakan ganjarannya itu sendiri karena bilamana dimiliki seseorang
merupakan sebuah pahala sendiri bagi diri pribadinya dan sekaligus juga merupakan suatu
kesenangan sejati.

DAFTAR PUSTAKA
Adler, M. J., ed. (1980). The Great Ideas: A Syntopicon of Great Books of the Western
World. 2 volumes. 23rd printing. Chicago: Encyclopaedia Britannica.

Brody, B. A. (1977). Beginning Philosophy. Englewood Cliffs: Prentice-Hall.

Franklin, B. (1982). The Autobiography of Benjamin Franklin. Dikutip dalam Og


Mandino, ed., Og Mandino’s University of Success. New York: Bantam Books.

Garcy, W. (1968). Plato’s Republic and Dialogues: Notes. London: Coles.

Sahakian, W. S. (1968). Systems of Ethics and Value Theory. Totowa: Littlefield Adams.

The Liang Gie. (1993). Keadilan sebagai Landasan bagi Etika Administrasi Pemerintahan
dalam Negara Indonesia. Yogyakarta: Liberty.

Theodorson, G. A. & Achilles G. Theodorson. (1970). A Modern Dictionary of


Sociology. New York: Thomas Y. Crowell.

MODUL 6: TEORI-TEORI KEADILAN


Kegiatan Belajar 1:

Teori Keadilan Plato


1. Teori keadilan adalah suatu rangkaian keterangan yang saling berkaitan secara logis
dan sistematis untuk menjelaskan mengapa suatu hal dianggap adil.
2. Teori keadilan Plato merupakan sebuah teori tentang keadilan moral yang dasar
alasannya dan ukuran pembenarannya ialah asas keselarasan. Segala sesuatu yang selaras
menciptakan keadilan. Keadilan adalah kebajikan yang tertinggi dari negara yang baik.
Keadilan pada negara tercipta bilamana masing-masing warga negara menjalankan satu
fungsi dalam masyarakat yang paling selaras baginya menurut kemampuannya. Fungsi
penguasa ialah membagi-bagikan fungsi-fungsi kepada masing-masing orang sesuai
dengan asas keselarasan itu.

Kegiatan Belajar 2:

Teori Keadilan Aristoteles


1. Aristoteles berpendapat bahwa keadilan adalah kelayakan dalam tindakan manusia.
Filsuf itu mengemukakan keadilan pembagian, yaitu bilamana 2 orang mempunyai
persamaan dalam ukuran yang telah ditetapkan, masing-masing harus memperoleh
pembagian yang sama. Kalau tidak sama maka masing-masing akan menerima pembagian
yang tidak sama dalam suatu perimbangan yang sesuai.
2. Aristoteles mengemukakan pula keadilan perbaikan untuk mengembalikan persamaan
dengan menjatuhkan hukum kepada pihak yang melakukan kesalahan dan memberikan
ganti rugi kepada korban kesalahan.
3. Aristoteles juga mengemukakan keadilan niaga sebagai suatu perimbangan bercorak
timbal-balik dalam usaha pertukaran benda atau jasa di antara anggota masyarakat.
Pertukaran timbal-balik itu harus seimbang sehingga tercapai keadilan.
4. Bagi Aristoteles pengertian keadilan merupakan asas pertalian dan ketertiban dalam
masyarakat.

Kegiatan Belajar 3:

Teori Keadilan John Rawls


1. Persoalan tentang keadilan timbul bilamana terdapat berbagai kepentingan saling
bersaing dan tuntutan saling bertentangan dalam masyarakat yang perlu diselesaikan.
2. Teori Keadilan John Rawls menetapkan suatu prosedur yang adil untuk menghasilkan
asas-asas keadilan yang diterapkan pada berbagai pranata dan praktik dalam masyarakat.
3. Dari prosedur yang adil itu dapat ditetapkan 2 asas keadilan yang disetujui oleh para
anggota masyarakat, yaitu sebagai berikut.
a. Asas persamaan terhadap kebebasan-kebebasan dasar yang perlu dimiliki oleh setiap
orang.
b Asas perbedaan yang bertalian dengan hal-hal baik yang utama (kesempatan dan
kekuasaan, penghasilan dan kekayaan yang perlu diatur demi manfaat terbesar bagi
mereka yang paling tidak beruntung dan persamaan kesempatan yang layak dalam
berbagai jabatan dan kedudukan.
4. Asas persamaan terhadap kebebasan dasar akan terjamin dalam penyusunan suatu
konstitusi, sedangkan asas perbedaan terhadap hal-hal baik lainnya dapat tercapai melalui
perundang-undangan. Tugas berbagai pranata sosial dan politik ialah memelihara dan
meningkatkan kebebasan dan kesejahteraan perorangan.

DAFTAR PUSTAKA
Beck, R. N. ed. (1967). Perspectives in Social Philosophy: Readings in Philosophic
Sources of Social Thought. New York: Holt, Rinehart and Winston.

Bowie, N. E. & Robert L. S. (1977). The Individual and the Political Order: An
Introduction to Social and Political Philosophy. Englewood Cliffs: Prentice-Hall.

Garcy, W. (1968). Plato’s Republic and Dialogues: Notes. London: Coles.

Hoult, T. F. (1974). Dictionary of Modern Sociology. Totowa: Littlefield, Adams,


reprinted.

Plamenatz, J. P. (1965). “Justice” dalam Julius Gould William L. Kolb, eds. (1965). A
Dictionary off the Social Sciences. 3rd printing. New York: Free Press.

Rawls, J. (1971). A Theory of Justice Cambridge. Harvard University Press.

Runes, Dagobert D. ed. (1975). Dictionary of Philosophy. Totowa: Littlefield, Adams,


1962 Edition, reprinted.
Warrington, J. ed. (1963). Aristotle’s Ethics.

Wolman, Benjamin B. (1973). Dictionary of Behavioral Science. New York: Van


Nostrand Reinhold.

MODUL 7: BERBAGAI AJARAN KEADILAN BAGI ADMINISTRATOR


PEMERINTAHAN
Kegiatan Belajar 1:

Pengembangan Diri menjadi Orang yang Adil


1. Sebuah negara dan pemerintah yang baik harus melaksanakan tujuan mengembangkan
kebajikan-kebajikan moral pada para petugasnya. Demikian pula, para administrator
pemerintahan harus mengembangkan dirinya agar memiliki berbagai kebajikan moral,
terutama keadilan.
2. Setiap administrator pemerintahan yang baik wajib secara mandiri mengembangkan
dirinya agar menjadi seorang yang adil. Orang yang adil menurut Plato adalah seseorang
yang bagian-bagian dari jiwanya yakni akal, emosi, dan hasrat secara selaras menjalankan
fungsinya masing-masing dengan dikendalikan oleh akal.
3. Ciri-ciri lainnya dari orang yang adil menurut beberapa cendekiawan pemikir ialah
memiliki keutuhan watak, asas-asas hidup yang ajeg, watak yang tulus, dan berkeinginan
menjadi adil.
4. Pengembangan diri menjadi orang yang adil memang tidak mudah karena adanya
berbagai godaan dan gangguan dalam masyarakat modern dewasa ini. Namun,
keberhasilan seseorang administrasi pemerintahan menjadi orang yang adil dan memiliki
jiwa keadilan merupakan suatu pahala tersendiri yang memberikan kebahagiaan sejati.

Kegiatan Belajar 2:

Orang yang Adil dan Tindakan yang Adil


1. Sebagian cendekiawan pemikir memperbincangkan perbedaan antara orang yang adil
dan tindakan yang adil. Kedua hal itu tidak selalu berjalan seiring, yaitu orang adil dapat
melakukan tindakan yang tidak adil dan sebaliknya orang yang tidak adil dapat
melakukan tindakan yang adil.
2. Samuel Pufendorf secara tegas membedakan keadilan orang dengan keadilan tindakan.
Keadilan orang adalah hasrat yang tetap dan tidak kunjung hilang untuk memberikan
kepada setiap orang apa yang semestinya. Keadilan tindakan adalah penerapan yang benar
dari tindakan-tindakan pada seseorang.
3. Sifat dasar manusia ialah sebagai makhluk moral. Menurut pendapat Charles Kelbley
intisari makhluk moral ialah kemampuan memiliki rasa keadilan dan rasa kebaikan.
4. Setiap administrator pemerintahan wajib mengembangkan dirinya sehingga benar-benar
menjadi orang yang adil dan sungguh-sungguh melakukan tindakan yang adil dalam
pelaksanaan tugasnya.

Kegiatan Belajar 3:

Ajaran-ajaran Keadilan dalam Bidang-bidang Etika,


Hukum, Ekonomi, dan Politik
1. Sejak zaman kuno sampai masa sekarang telah berkembang ajaran-ajaran keadilan yang
dapat diterima dalam kehidupan masyarakat. Ada 4 bidang luas yang merupakan ajang
perkembangan berbagai ajaran keadilan, yaitu bidang-bidang etika, hukum, ekonomi, dan
politik.
2. Bidang etika menumbuhkan berbagai ajaran keadilan moral yang menitikberatkan pada
perintah berbuat baik dan larangan berbuat salah terhadap orang lain.
3. Bidang hukum menumbuhkan berbagai ajaran keadilan hukum yang menerima keadilan
sebagai suatu cita dan tujuan dalam hukum. Ajaran-ajaran itu menyangkut pembuatan
peraturan dan proses peradilan yang intinya memberikan kepastian hukum kepada para
anggota masyarakat maupun ketenteraman hidupnya.
4. Bidang ekonomi menumbuhkan berbagai ajaran keadilan ekonomik yang berpusat pada
asas kelayakan dalam proses produksi, distribusi, dan pertukaran barang atau jasa. Asas
kelayakan itu tidak membenarkan adanya penghisapan dan pencatutan dalam bidang
ekonomi.
5. Bidang politik menumbuhkan berbagai ajaran keadilan politik yang bertalian dengan
kekuatan negara, fungsi pemerintahan, dan kedudukan warga negara. Berbagai ajaran itu
menekankan cita kebebasan, asas persamaan dan kehendak rakyat.
6. Setiap administrator pemerintahan yang adil wajib melaksanakan tindakan yang adil
dalam pelaksanaan tugasnya. Ajaran-ajaran keadilan yang telah ada dapat diterapkan atau
dijadikan pedoman dalam pembuatan keputusan sehingga terwujud tindakan yang adil.

DAFTAR PUSTAKA
Beck, Robert N., ed. (1967). Perspectives in Social: Philosophy: Readings in Philosophic
Sources of Social Thought. New York: Holt, Rinehart and Winston.

Benn, Stanley I. (1967). “Justice” dalam Paul Edwards, ed., The Encyclopedia of
Philosophy. Volume 4. New York: Macmillan & Free Press.

Cherrington, David J. (1980). The Work Ethic: Working Values and Values That Work.
New York: AMACOM.

Kelbley, Charles A., ed. (1979). The Value of Justice: Essays on the Theory and Practice
of Social Virtue. New York: Fordham University Press. Essay 7: Charles A. Kelbley,
“Justice and Goodness”.
Pufendorf, S. (1967). “Justice and Right Action” from De Jure naturae et gentium (1934)
dalam Robet N. Beck, ed. Perspectives in Social Philosophy: Readings in Philosophic
Sources of Social Thought. New York: Holt, Rinehart and Winston.

MODUL 8: ASAS-ASAS ETIS DALAM ADMINISTRASI PEMERINTAHAN


Kegiatan Belajar 1:

Enam Asas Etis


1. Setiap administrator pemerintahan wajib memahami asas-asas etis dalam administrasi
pemerintahan, berusaha menghayatinya, dan menerapkannya dalam melaksanakan tugas
jabatan.
2. Asas-asas etis yang pokok dalam administrasi pemerintahan ada 6 buah, yaitu sebagai
berikut.

a. Pertanggungjawaban
Hasrat setiap petugas administrasi pemerintahan untuk merasa memikul kewajiban penuh
dan ikatan kuat dalam pelaksanaan semua tugas pekerjaan secara memuaskan.
b. Pengabdian
Hasrat keras setiap petugas administrasi pemerintahan untuk menjalankan semua tugas
pekerjaan dengan seluruh tenaga fisik, pikiran, semangat kegairahan, dan perhatian tanpa
pamrih apa-apa yang bersifat pribadi.
c. Kesetiaan
Kesadaran setiap petugas administrasi pemerintahan untuk setulusnya patuh kepada
tujuan bangsa, konstitusi negara, peraturan perundangan, badan instansi, tunas jabatan
maupun pihak atasan demi tercapainya cita-cita bersama yang ditetapkan.
d. Kepekaan
Kemauan dan kemampuan setiap petugas dalam administrasi pemerintahan untuk
memperhatikan serta siaga terhadap berbagai perkembangan yang baru, situasi yang
berubah, dan kebutuhan yang timbul dalam kehidupan masyarakat dari waktu ke waktu
dengan disertai usaha-usaha untuk menanggapi secara sebaik-baiknya.
e. Persamaan
Hasrat setiap petugas administrasi pemerintahan untuk memberikan perlakuan yang sama
tanpa membeda-bedakan atau pilih kasih kepada semua pihak.
f. Kepantasan
Hasrat setiap petugas administrasi pemerintahan untuk memperhatikan persoalan dan
kebutuhan dalam masyarakat yang sangat beraneka ragam sehingga memerlukan
perbedaan perlakuan asalkan berdasarkan pertimbangan yang adil atau alasan yang benar.

Kegiatan Belajar 2:
Kode Etika bagi Administrator Pemerintahan
1. Asas-asas etis dalam administrasi pemerintahan untuk keperluan penerapannya pada
tindakan-tindakan jabatan perlu dituangkan dalam sebuah kode etika yang berisi
perumusan mengenai tindakan-tindakan apa, kelakuan-kelakuan mana, dan sikap-sikap
bagaimana yang wajib dijalankan atau dihindari oleh petugas administrasi pemerintahan.
2. American Society for Public Administration dalam tahun 1984 menyetujui sebuah kode
etika terdiri dari 12 pasal yang berikut.
a. Menunjukkan ukuran baku tertinggi tentang keutuhan watak pribadi, kebenaran,
kejujuran, dan ketabahan dalam menjalankan tugas.
b. Melayani rakyat secara hormat, perhatian, sopan, dan tanggap.
c. Berjuang ke arah keunggulan profesional perseorangan.
d. Menghampiri berbagai kewajiban operasional dan organisasi dengan sikap positif.
e. Melayani dalam cara sedemikian hingga tidak mewujudkan keuntungan pribadi yang
tidak semestinya dari pelaksanaan tugas.
f. Menghindari kepentingan atau kegiatan yang bertentangan dengan penunaian kewajiban
resmi.
g. Menghormati dan melindungi keterangan yang diperoleh berdasarkan hak-hak istimewa
dalam pelaksanaan tugas.
h. Menjalankan wewenang kebijaksanaan apa pun untuk memajukan kepentingan umum.
i. Menerima sebagai kewajiban pribadi tanggung jawab untuk mengikuti perkembangan
baru dan menangani urusan rakyat dengan sebaik-baiknya.
j. Melaksanakan penempatan tenaga kerja menurut penilaian kecakapan dan program
tindakan tidak membeda-bedakan.
k. Melenyapkan semua bentuk pembedaan, kecurangan, dan salah urus keuangan negara.
l. Menghormati berbagai konstitusi negara federal dan negara bagian serta hukum-hukum
lainnya.

Kegiatan Belajar 3:

Petunjuk Pelaksanaan Kode Etika


1. Berbagai asas etis dalam administrasi pemerintahan untuk keperluan penerapannya
pada tindakan-tindakan jabatan perlu sekali dituangkan dalam sebuah kode etika.
2. Sebuah kode etika jabatan yang pada umumnya berisi ide-ide pokok selanjutnya perlu
sekali dilengkapi dengan suatu uraian terinci yang merupakan petunjuk pelaksanaannya.
Dengan demikian, para petugas administrasi pemerintahan tidak ragu-ragu lagi dalam
menerapkan berbagai asas-asas etis dan ide-ide pokok itu.
3. Kode etika dari Perhimpunan Amerika untuk Administrasi Publik yang ditetapkan
dalam tahun 1984 telah diberi sebuah petunjuk pelaksanaan dalam tahun 1985. Dalam
petunjuk pelaksanaan itu 5 asas-asas etis dan 7 asas-asas mutu dikelompokkan bersama.
DAFTAR PUSTAKA
“American Society for Public Administration Code of Ethics and Implementation
Guidelines” P.A. Times, May 1, 1985 Suplement.

Chandler, Ralph Clark. “The Problem of Moral Reasoning in American Public


Administration: The Case for a Code of Ethics” Public Administration Review, January,
February 1983.

Graham, George A. Ethical Guidelines for Public Administrators: Observations on Rules


of the Game Public Administration Review. January, February 1974.

Mertins, Herman, Jr., & Patrick J. Hennigan, eds. (1982). Applying Professional
Standards and Ethics in the ‘80s: A Workbook and Study Guide for Public Administrator.
2nd edition. Washington, D.C.: American Society for Public Administration.

Senior Executive Association. “Code of Professional Ethics”. Stensil. tanpa tahun.

The Liang Gie. (1998). Kode Etika bagi Petugas Pemerintahan: Bahan Pemikiran untuk
Membina Pegawai Negeri yang Bersih dan Berwibawa. Yogyakarta: PUBIB.

MODUL 9: KEBAHAGIAAN SEBAGAI TUJUAN PENGHABISAN DARI


KEGIATAN MANUSIA
Kegiatan Belajar 1:

Teori Kebahagiaan Manusia


1. Setiap manusia di dunia ini secara sadar atau tidak berusaha mencari, mengejar, dan
memiliki kebahagiaan dalam hidupnya.
2. Dalam kehidupan manusia pada kenyataannya terdapat 3 macam kebahagiaan, yaitu
sebagai berikut.
a. Kebahagiaan palsu - hanya mendatangkan bencana.
b. Kebahagiaan semu - mempunyai akibat sampingan yang tidak baik.
c. Kebahagiaan sejati - mendatangkan ketenangan pikiran, ketenteraman perasaan, dan
kedamaian batin pada seseorang.
3. Untuk mencapai kebahagiaan sejati seseorang perlu memiliki beberapa asas hidup yang
luhur.
Kegiatan Belajar 2:
Tiga Asas Hidup yang Luhur
1. Dalam diri setiap orang sejak semula sudah tertanam bibit kebahagiaan yang tinggal
dipelihara dan dikembangkannya. Kebahagiaan bukan suatu hal di luar diri seseorang
yang perlu dicari, dikejar, ditangkap, dan dimiliki oleh seseorang.
2. Salah satu cara yang baik untuk mengembangkan bibit kebahagiaan yang sudah
tertanam dalam diri seseorang ialah dengan berusaha memiliki 3 asas hidup yang luhur,
yaitu sebagai berikut.
a. Keutuhan watak.
b. Keadilan.
c. Kesusilaan.

3. Seseorang akan memperoleh kebahagiaan kalau hidupnya berpegang dan melaksanakan


dalam perilakunya 3 asas hidup yang luhur itu.
4. Satu hal lagi dalam diri seseorang yang berkaitan timbal-balik saling mendukung
dengan kebahagiaan ialah kesehatannya. Untuk merasa bahagia orang harus sehat dan
untuk merasa sehat orang harus bahagia.

Kegiatan Belajar 3:

Berbagai Cara untuk Mewujudkan Kebahagiaan


1. Untuk mewujudkan kebahagiaan dalam diri seseorang ternyata ada banyak caranya,
mencapai 100 cara lebih yang masing-masing dapat dilakukan sendiri oleh setiap orang
sehingga ia dapat merasa bahagia.
2. Goodwin Watson mengemukakan 4 cara yang umumnya bertalian dengan unsur
pekerjaan (sukses dalam pekerjaan, sukses berhubungan dengan orang, dan bekerja keras
yang sungguh-sungguh).
3. Diane Swanbrow terutama meninjaunya dari segi psikologi dengan mengemukakan
cara-cara, seperti kedekatan dengan seseorang, bersifat menolong, kerahkan tenaga
sendiri, dan berjuang secara mantap.
4. David Niven merinci sampai 100 cara-cara sederhana yang telah dilakukan oleh
berbagai orang untuk mewujudkan kebahagiaan dalam diri sendiri. Cara-caranya itu
menyangkut berbagai segi dari kehidupan manusia, seperti persahabatan, kesehatan,
pendidikan, moral, sampai keadilan serta masih banyak hal lainnya.

DAFTAR PUSTAKA
Adler, M. J. (1981). Six Greate Ideas. New York: MacMillan.

Angeles, Peter A. (1981). Dictionary of Philosophy. New York: Barnes A. Noble.


Binstock, Louis, “How to Have a Happy Life” dalam Og Mandino, ed., Og Mandino’s
University of Success. New York: Bantam Books.

Chant, J. (1983). The Tao of the Loving Couple: True Liberation through the Tao. New
York: E. P. Dutton.

Maltz, M. (1980). Psycho-Cybernetics and Self-Fulfillment. New York: Bantam Books.

Niven, D. (2000). The 100 Simple Secrets of Happy People: What Scientists Have
Learned and How You Can Use It. New York: HarperSan Francisco.

Swanbrow, D. (1989). “The Paradox of Happiness”. Psychology Today. July-August


1989.
The Liang Gie. (1999). “Asas-.Asas Hidup yang Luhur untuk Mencapai Kebahagiaan
Sejati”. Kemajuan Masyarakat 6. Juni 1999.

_____________. (2003). Renungan Liku-liku Kehidupan. Cetakan ke-5. Yogyakarta:


Pusat Belajar Ilmu Berguna.

Watson, G. (1930). Happiness among Adult Students of Education.