Anda di halaman 1dari 30

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Puskesmas

2.1.1 Defenisi Puskesmas

Puskesmas merupakan singkatan dari Pusat Kesehatan

Masyarakat. Puskesmas adalah unit pelaksana teknis dinas

kabupaten/kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan

pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja (Depkes, 2011).

Menurut Permenkes RI No. 75 Tahun 2014 tentang Puskesmas,

Puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang

menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan

perseorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan upaya

promotif dan preventif untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat

yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya.

2.1.2 Fungsi Puskesmas

Menurut rangkuman dari berbagai sumber informasi ada 3 fungsi

utama yang diemban oleh Puskesmas dalam melaksanakan pelayanan

kesehatan dasar (PKD) kepada seluruh target sasaran di wilayah

kerjanya, yakni sebagai berikut:

1. Pusat Penggerak Pembangunan Berwawasan Kesehatan

Berupaya menggerakkan lintas sektor dan dunia usaha di wilayah

kerjanya agar menyelenggarakan pembangunan yang berwawasan

6
kesehatan, aktif memantau dan melaporkan dampak kesehatan dari

penyelenggaraan setiap program pembangunan di wilayah kerjanya.

2. Pusat Pemberdayaan masyarakat

Berupaya agar perorangan terutama pemuka masyarakat, keluarga

dan masyarakat:

a. Memiliki kesadaaran, kemauan dan kemampuan melayani diri

sendiri dan masyarakat untuk hidup sehat.

b. Berperan aktif dalam memperjuangkan kepentingan kesehatan

termasuk pembiayaan.

c. Ikutmenetapkan menyelenggarakan dan memantau pelaksanaan

program kesehatan.

d. Merangsang masyarakat termasuk swasta untuk melaksanakan

kegiatan dalam rangka menolong dirinya sendiri.

e. Memberiakan petunjuk kepada masyarakat tentang bagaimana

menggali dan menggunakan sumberdaya yang ada secara efektif

dan efisien.

3. Pusat Pelayanan Kesehatan Strata Pertama

Menyelenggarakan pelayanan kesehatan tingkat pertama (primer)

secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan (kontinyu)

mencakup:

a. Pelayanan kesehatan perorangan adalah pelayanan yang besifat

pribadi (private goods) dengan tujuan untuk menyembuhkan

penyakit dan pemulihan kesehatan perorangan, tanpa

7
mengabaikan pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit.

Pelayanan perorangan tersebut adalah rawat jalan.

b. Pelayanan kesehatan masyarakat adalah pelayanan yang bersifat

public (public goods) dengan tujuan utama memelihara dan

meningkatkan kesehatan serta mencegah penyakit tanpa

mengabaikan penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan.

Pelayanan kesehatan masyarakat tersebut antara lain adalah

promosi kesehatan, pemberatasan penyakit, penyehatan

lingkungan, perbaikan gizi, peningkatan kesehatan keluarga,

keluarga berencana, kesehatan jiwa masyarakat serta berbagai

program kesehatan masyarakat lainnya.

2.1.3 Tujuan Puskesmas

Tujuan pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh

puskesmas adalah mendukung tercapainya tujuan pembangunan

kesehatan nasional yakni meningkatkan kesadaran, kemauan, dan

kemampuan hidup sehat bagi setiap orang yang bertempat tinggal di

wilayah kerja puskesmas agar terwujud derajat kesehatan yang

setinggi-tingginya dalam rangka mewujudkan Indonesia Sehat.

2.1.4 Visi dan Misi Puskesmas

A. Visi Puskesmas

Visi pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh

puskesmas adalah tercapainya kecamatan sehat menuju terwujud

8
Indonesia sehat. Kecamatan sehat adalah gambaran masa depan yang

ingin dicapai melalui pembangunan kesehatan yakni: masyarakat yang

hidup dalam lingkungan dan dengan perilaku sehat, memiliki

kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu

secara adil dan merata serta memiliki derajat kesehatan. Indikator

kecamatan sehat yang ingin dicapai mencakup 4 indikator utama:

1. Indikator lingkungan sehat

2. Indikator perilaku sehat

3. Indikator pelayanan kesehatan yang bermutu

4. Indikator derajat kesehatan yang optimal

Rumusan visi untuk masing-masing Puskesmas harus mengacu

pada visi: pembangunan kesehatan puskesmas di atas yakni

terwujudnya Kecamatan Sehat, yang harus disesuaikan dengan situasi

dan kondisi masyarakat serta wilayah Kecamatan setempat.

B. Misi Puskesmas

Misi pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh

Puskesmas adalah perilaku masyarakat.

1. Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan di wilayah

kerjanya.

Puskesmas selalu menggerakan pembangunan sektor lain yang

diselenggarakan diwilayah kerjanya, agar memperhatikan aspek

kesehatan yaitu pembangunan yang tidak menimbulkan dampak

negatif terhadap kesehatan setidak-tidaknya terhadap lingkungan dan

9
masyarakat yang bertempat tinggal diwilayah kerjanya makin berdaya

dibidang kesehatan melalui kemandirian untuk hidup sehat.

2. Mendorong kemandirian hidup sehat bagi keluarga dan masyarakat

di wilayah kerjanya.

Puskesmas selalu berupaya agar setiap keluarga mendukung

tercapainya misi pembangunan kesehatan nasional.

3. Memelihara dan meningkatkan mutu

Pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan yang

diselenggarakan puskesmas selalu berupaya menyelenggarakan

pelayanan kesehatan serta meningkatkan efisiensi pengolahan dan

sehingga dapat dijangkau oleh seluruh anggota masyarakat.

4. Memelihara dan meningkatkan kesehatan individu, keluarga dan

masyarakat berserta lingkungan.

Puskesmas selalu berupaya memelihara dan meningkatkan

kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta

memulihkan kesehatan perorangan, keluarga dan masyarakat yang

berkunjung dan yang bertempat tinggal diwilayah kerjanya, tanpa

diskriminasi dan dengan menerapkan kemajuan ilmu dan teknologi

kesehatan yang sesuai.

10
2.1.5 Azas dan Upaya Penyelenggaraan Puskesmas

A. Azas Penyelenggaraan Puskesmas

Penyelenggaraan upaya kesehatan wajib dan upaya kesehatan

pengembangan harus menerapkan asas penyelenggaraan Puskesmas

secara terpadu.

Azas penyelenggaraan puskesmas yang dimaksud adalah:

1. Azas pertanggung jawaban diwilayah

Puskesmas harus bertanggung jawab meningkatkan derajat kesehatan

masyarakat yang bertempat tinggal diwilayah kerjanya, dengan

kegiatan antara lain:

a. Puskesmas sebagai penggerak pembangunan mengidentifikasi

resiko kesehatan yang timbul dimasyarakat,melaksanakan kegiatan

promosi kesehatan dan pencegahan penyakit

b. Sebagai pemberdayaan masyarakat, bertanggung jawab dalam

memberdayakan individu, keluarga, kelompok untuk mampu

menyelesaikan masalah secara mandiri

c. Sebagai pelayanan kesehatan strata 1: bertanggung jawab dalam

memberikan asukan kebidanan, kepada individu, keluarga,

kelompok khusus

d. Menyelenggarakan upaya kesehatan strata pertama secara merata

dan terjangkau diwilayah kerjanya.

11
2. Azas Pemberdayaan masyarakat

Puskesmas wajib memberdayakan perorangan, keluarga dan

masyarakat, agar berperan aktif dalam penyelenggaraan setiap upaya

puskesmas dengan kegiatan antara lain:

a. Upaya kesehatan ibu dan anak, posyandu, polindes bina keluarga

bahagia (BKB).

b. Upaya pengobatan: Posyandu, pos obat desa (POD).

c. Upaya perbaiki gizi: Posyandu, panti pemulihan gizi, Keluarga

SadarGizi (KADARZI).

d. Upaya kesehatan sekolah: Dokter kecil, penyertaan guru dan orang

tua/wali murid, saka Bakti Husaha (SBH), Pos kesehatan Pesantren

(POSKESTREN).

e. Upaya kesehatan lingkungan: Kelompok Pemakai Air

(POKMAIR), Desa Percontohan Kesehatan Lingkungan (DPKL).

f. Upaya Kesehatan Usia Lanjut: Posyandu USILA, Panti Wreda.

g. Upaya Kesehatan Kerja: Pos Kesehatan Kerja (POS UKK).

h. Upaya Kesehatan Jiwa: Posyandu, Tim Pelaksanaan Kesehatan

Jiwa Masyarakat (TPKJM).

i. Upaya Pembinaan Pengobatan Tradisional:Taman Obat Keluarga

(TOGA)

j. Upaya Pembiayaan jaminan kesehatan (inovatif): Dana Sehat,

Tabungan Ibu Bersalin (Tabulin), Mortalitas dan keagamaan.

12
3. Azas Keterpaduan

Berupaya memadukan kegiatan bukan saja dengan program

kesehatan lain tetapi juga dengan program dari sektor lain. Ada dua

macam keterpaduan yang perlu diperhatikan yakni:

a. Keterpaduan Lintas Program

Keterpaduan lintas program adalah upaya memadukan

penyelenggaraan berbagai upaya kesehatan yang menjadi tanggung

jawab Puskesmas. Contoh keterpaduan lintas program antara lain:

a) Manajemen terpadu balita sakit (MTBS) : keterpaduan KIA

dengan P2M, Gizi, Promosi Kesehatan, Pengobatan

b) Upaya kesehatan sekolah (UKS) keterpaduan kesehatan

lingkungan dengan promosi kesehatan, pengobatan, kesehatan

gigi, kesehatan reproduksi remaja dan kesehatan jiwa.

c) Puskesmas keliling: keterpaduan pengobatan dengan KIA/KB,

gizi promosi kesehatan, kesehatan gigi

d) Posyandu: keterpaduan KIA dengan KB, gizi, P2M, kesehatan

jiwa, promosi kesehatan.

b. Keterpaduan Lintas Sektor

Keterpaduan Lintas Sektor adalah upaya memadukan

penyelenggaraan upaya puskesmas dengan berbagai program dari

sektor terkait tingkat kecamatan, termasuk organisasi

kemasyarakatan dan dunia usaha. Contoh keterpaduan lintas sektor

antara lain:

13
a) Upaya kesehatan sekolah: keterpaduan sektor kesehatan dengan

camat, lurah/kepala desa, pendidikan, agama.

b) Upaya promosi kesehatan: keterpaduan sektor kesehatan dengan

camat, lurah/kepala desa, pendidikan, agama, pertanian.

c) Upaya kesehatan ibu dan anak: keterpaduan sektor kesehatan

dengan camat, lurah/kepala desa, organisasi profesi, organisasi

kemasyarakatan, PKK, PLKB.

d) Upaya perbaikan gizi: keterpaduan sektor kesehatan dengan

camat, lurah/kepala desa, pertanian, pendidikan, agama,

koperasi, dunia usaha, PKK, PLKB.

e) Upaya pembiayaan dan jaminan kesehatan: keterpaduan sektor

kesehatan dengan camat, lurah/kepala desa, tenaga kerja,

koperasi, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan.

f) Upaya kesehatan kerja: keterpaduan sektor kesehatan dengan

camat, lurah/kepala desa, tenaga kerja, dunia usaha.

4. Azas Rujukan

Dalam menjalankan program kerjanya, puskesmas harus

melaksanakan azas rujukan artinya jika tidak mampu menangani

suatu masalah kesehatan harus merujuk kesarana kesehatan yang

lebih mampu, untuk pelayanan kedokteran jalur rujukan adalah

rumah sakit.Sedangkan untuk pelayanan kesehatan masyarakat jalur

rujukannya adalah Kantor Dinas Kesehatan. Puskesmas merupakan

fasilitas pelayanan kesehatan pertama yang bila tidak mengatasi

14
masalah karena berbagai keterbatasan, bisa melakukan rujukan baik

secara vertikal ke tingkat yang lebih tinggi atau secara horizontal ke

puskesmas lainnya.

Ada 2 macam rujukan di Puskesmas yaitu:

a. Rujukan Upaya Kesehatan Perorangan

Cakupan rujukan pelayanan kesehatan perorangan adalah kasus

penyakit. Apabila suatu puskesmas tidak mampu menanggulangi

satu kasus penyakit tertentu, maka puskesmas tersebut wajib

merujuknya ke sarana pelayanan kesehatan yang lebih mampu

(baik horizontal maupun vertikal). Sebaliknya pasien paska rawat

inap yang hanya memerlukan rawat jalan sederhana, dirujuk ke

puskesmas.

Rujukan upaya kesehatan perorangan dibedakan atas tiga macam:

a) Rujukan kasus keperluan diagnostik, pengobatan, tindakan

medik (biasanya operasi) dan lain-lain.

b) Rujukan bahan pemeriksaan (spesimen) untuk pemeriksaan

laboratorium yang lebih lengkap.

c) Rujukan ilmu pengetahuan antara lain mendatangkan tenaga

yang lebih kompeten untuk melakukan bimbingan kepada

tenaga puskesmas dan ataupun menyelenggarakan pelayanan

medik di puskesmas.

15
b. Rujukan Upaya Kesehatan Masyarakat

Cakupan rujukan pelayanan kesehatan masyarakat adalah masalah

kesehatan masyarakat, misalnya kejadian luar biasa, pencemaran

lingkungan, dan bencana. Rujukan pelayanan kesehatan

masyarakat juga dilakukan apabila satu puskesmas tidak mampu

menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat wajib dan

pengembangan, padahal upaya kesehatan masyarakat tersebut

telah menjadi kebutuhan masyarakat. Apabila suatu puskesmas

tidak mampu menanggulangi masalah kesehatan masyarakat,

maka puskesmas tersebut wajib merujuknya ke Dinas Kesehatan

Kabupaten/Kota.

Rujukan upaya kesehatan masyarakat dibedakan atas tiga macam,

yaitu:

1) Rujukan sarana dan logistik, antara lain peminjaman peralatan

fogging, peminjaman alat laboratorium kesehatan,

peminjaman alat audio visual, bantuan obat, vaksin, bahan-

bahan habis pakai dan bahan makanan.

2) Rujukan tenaga antara lain dukungan tenaga ahli untuk

penyelidikan kejadian luar biasa, bantuan penyelesaian

masalah hukum kesehatan, penanggulangan gangguan

kesehatan karena bencana alam.

3) Rujukan operasional, yakni menyerahkan sepenuhnya masalah

kesehatan masyarakat dan tanggungjawab penyelesaian

16
masalah kesehatan masyarakat atau penyelenggaraan upaya

kesehatan masyarakat (antara lain Upaya Kesehatan Sekolah,

Upaya Kesehatan Kerja, Upaya Kesehatan Jiwa, pemeriksaan

contoh air bersih) kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.

Rujukan operasional diselenggarakan apabila puskesmas tidak

mampu.

B. Upaya Penyelenggaraan Puskesmas

Upaya kesehatan tersebut dikelompokan menjadi 2 yaitu:

1. Upaya Kesehatan Wajib

Upaya kesehatan wajib puskesmas adalah upaya yang ditetapkan

berdasarkan komitmen nasional, regional dan global serta yang

mempunyai daya ungkit tinggi untuk peningkatan derajat kesehatan

masyarakat dan harus diselenggarakan disetiap puskesmas. Upaya

kesehatan wajib tersebut adalah:

a. Upaya promosi kesehatan

b. Upaya kesehatan lingkungan

c. Upaya kesehatan ibu dan anak serta keluarga berencana

d. Upaya perbaiki gizi masyarakat

e. Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit menular

f. Upaya pengobatan

g. Upaya pencatatan dan pelaporan

17
2. Upaya Kesehatan Pengembangan

Upaya kesehatan pengembangan puskesmas adalah upaya yang

ditetepkan berdasarkan permasalahan kesehatan yang ditemukan oleh

masyarakat serta yang disesuaikan dengan kemampuan puskesmas,

yang dipilih dari daftar upaya kesehatan pokok puskesmas yang telah

ada, yakni:

a. Upaya kesehatan sekolah

b. Upaya kesehatan olahraga

c. Upaya perawatan kesehatan masyarakat

d. Upaya kesehatan kerja

e. Upaya kesehatan gigi dan mulut

f. Upaya kesehatan jiwa

g. Upaya kesehatan mata

h. Upaya kesehatan usia lanjut

i. Upaya pembinaan pengobatan tradisional

j. laboratorium sederhana

Upaya laboratorium medis dan laboratorium kesehatan masyarakat

serta upaya pencatatan pelaporan tidak termasuk pilihan karena ketiga

upaya ini merupakan pelayanan penunjang dari setiap usaha wajib dan

upaya pengembangan puskesmas.

18
2.1.6 Kedudukan

Kedudukan Puskesmas dibedakan menurut keterkaitannya

dengan Sistem Kesehatan Nasional (SKN), Sistem Kesehatan

Kabupaten/Kota dan Sistem Pemerintah Daerah:

1. Sistem Kesehatan Nasional

Kedudukan puskesmas dalam Sistem Kesehatan Nasional adalah

sebagai suatu sarana pelayanan kesehatan strata pertama yang

bertanggungjawab untuk menyelenggarakan upaya kesehatan

perorangan dan upaya kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya.

2. Sistem Kesehatan Kabupaten/Kota

Kedudukan puskesmas dalam Sistem Kesehatan Kabupaten/Kota

adalah sebagai Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan

Kabupaten/Kota yang bertanggungjawab menyelenggarakan

sebagian tugas pembangunan kesehatan kabupaten/kota di wilayah

kerjanya.

3. Sistem Pemerintah Daerah

Kedudukan puskesmas dalam Sistem Pemerintah Daerah adalah

sebagai Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota

yang merupakan unit struktural Pemerintah Daerah

Kabupaten/Kota bidang kesehatan di tingkat kecamatan.

4. Antar Sarana Pelayanan Kesehatan Strata Pertama

Di wilayah kerja puskesmas terdapat berbagai organisasi pelayanan

kesehatan strata pertama yang dikelola oleh lembaga masyarakat

19
dan swasta seperti praktek dokter, praktek dokter gigi, praktek

bidan, poliklinik dan balai kesehatan masyarakat. Kedudukan

puskesmas di antara berbagai sarana pelayanan kesehatan strata

pertama ini adalah sebagai mitra. Di wilayah kerja puskesmas

terdapat pula berbagai bentuk upaya kesehatan berbasis dan

bersumber daya masyarakat seperti posyandu, polindes, pos obat

desa dan pos UKK. Kedudukanpuskesmas di antara berbagai

sarana pelayanan kesehatan berbasis dan bersumberdaya

masyarakat adalah sebagai pembina.

2.1.7 Organisasi Puskesmas

Stuktur organisasi puskesmas tergantung dari kegiatan dan

beban tugas masing-masing puskesmas. Penyusunan struktur

organisasi puskesmas disatu kabupaten/kota dilakukan oleh Dinas

kesehatan kabupaten/kota, sedangkan penetapannya dilakukan dengan

peraturan daerah.

Sebagai acuan dapat dipergunakan pola struktur organisasi puskesmas

sebagai berikut:

a. Kepala puskesmas

b. Unit tata usaha yang bertanggung jawab membantu kepala

puskesmas dalam pengelolaan:

a) Data dan informasi

b)Perencanaan dan penilaian

c) Keuangan

20
d)Umum dan pengawasan

c. Unit pelaksana teknis fungsional puskesmas

a) Upaya kesehatan masyarakat, termasuk pembinaan terhadap

UKBM

b) Upaya kesehatan perorangan

d. Jaringan pelayanan puskesmas

a) Unit puskesmas pembantu

b) Unit puskesmas keliling

c) Unit bidan didesa/komunitas

1. Kriteria Personalia. Kriteria personalia yang mengisi

struktur organisasi puskesmas disesuaikan dengan tugas dan

tanggung jawab masing-masing unit puskesmas. Khusus

untuk kepala puskesmas kriteria tersebut dipersyaratkan

harus seorang sarjana dibidang kesehatan yang kurikulum

pendidikannya mencakup kesehatan masyarakat.

2. Eselon kepala puskesmas. Kepala puskesmas adalah

penanggung jawab pembangunan kesehatan ditingkat

kecamatan. Sesuai dengan tanggung jawab tersebut dan

besarnya peran kepala puskesmas dalam penyelenggaraan

pembangunan kesehatan ditingkat kecamatan, maka cabatan

kepala puskesmas adalah jabatan struktural eselon IV.

Dalam keadaan tidak tersedia tenaga yang memenuhi syarat

menjadi jabatan eselon, ditunjuk pejabat sementara yang

21
sesuai dengan kriteria kepala puskesmas yakni seorang

sarjana dibidang kesehatan yang kurikulum pendidikannya

mencakup bidang kesehatan masyarakat dengan

kewenangan yang setara dengan pejabat tetap.

2.1.8 Tata Kerja Puskesmas

1. Dengan Kantor kecamatan

Dalam melaksanakan fungsinya, puskesmas berkoordinasi dengan

kantor kecamatan melalui pertemuan berkala yang diselenggarakan

ditingkat kecamatan.Koordinasi tersebut mencakup perencanaan,

penggerakan pelaksanaan, pengawasan dan pengendalian serta penilaian.

Dalam hal pelaksanaan fungsi pengendalian sumber daya masyarakat

oleh puskesmas, koordinasi dngan kantor kecamatan mencakup pula

kegiatan fasilitasi.

2. Dengan Dinas kesehatan kabupaten/kota

Puskesmas adalah unit pelaksanaan teknis Dinas Kesehatan

kabupaten/kota, dengan demikian secara teknis dan administratif,

puskesmas bertanggung jawab kepada Dinas Kesehatan kabupaten/kota.

Sebaliknya Dinas Kesehatan kabupaten/kota bertanggung jawab

membina serta memberikan bantuan administratif dan teknis kepada

puskesmas.

3. Dengan jaringan pelayanan kesehatan strata pertama

22
Sebagai mitra pelayanan kesehatan strata pertama yang dikelola

oleh lembaga masyarakat dan swasta, puskesmas menjalin kerjasama

termasuk penyelenggaraan rujukan dan membantu kegiatan yang

diselenggarakan. Sedangakansebagai pembina upaya kesehatan

bersumber daya masyarakat, puskesmas melaksanakan bimbingan teknis,

pemberdayaan dan rujukan sesuai kebutuhan.

4. Dengan jaringan pelayanan kesehatan rujukan

Dalam menyelenggarakan upaya kesehatan perorangan dan upaya

kesehatan masyarakat, puskesmas menjadi kerjasama yang erat dengan

berbagai pelayanan kesehatan rujukan. Untuk upaya kesehatan

perorangan,jalinan kerjasama tersebut diselenggarakan dengan berbagai

sarana pelayanan kesehatan perorangan seperti rumah sakit

(kabupaten/kota) dan berbagai balai kesehatan masyarakat(balai

pengobatan penyakit paru-paru, balai kesehatan mata masyarakat balai

kesehatan kerja masyarakat, balai kesehatan olahraga masyarakat, balai

kesehatan jiwa mayarakat, balai kesehatan indra masyarakat).

Sedangakan untuk upaya kesehatan masyarakat, jalinan kerjasama

diselenggarakan dengan berbagai sarana pelayanan kesehatan masyarakat

rujukan, seperti dinas kesehatan kabupaten/kota, balai teknis kesehatan

lingkungan, balai laboratorium kesehatan serta berbagai balai kesehatan

masyarakat. Kerjasama tersebut diselenggarakan melalui penerapan

konsep rujukan yang menyeluruh dalam koordinasi dinas kesehatan

kabupaten/kota.

23
5. Dengan lintas sektor

Tanggung jawab puskesmas sebagai unit pelaksana teknis adalah

menyelenggarakan sebagian tugas pembangunan kesehatan yang

dibebankan oleh dinas kesehatan kabupaten/kota. Untuk mendapat hasil

yang optimal, penyelenggaraan pembangunan kesehatan tersebut harus

dapat dikoordinasikan dengan berbagai lintas sektor terkait yang ada

ditingkat kecamatan. Diharapkan disatu pihak, penyelenggaraan

pembagunan kesehatan dikecamatan tersebut mendapat dukungan dari

berbagai sektor terkait, sedangkan dipihak lain. Pembangunan yang

diselenggarakan oleh sektor lain ditingkat kecamatan berdampak positif

terhadap kesehatan.

6. Dengan masyarakat

Sebagai penanggung jawab penyelenggaraan pembangunan

kesehatan diwilayah kerjanya,puskesmas memerlukan dukungan aktif

dari masyarakat sebagai objek dan subjek pembangunan.Dukungan aktif

tersebut diwujudkan melalui pembentukan badan penyantun puskesmas

(BPP) yang menghimpun berbagai potensi masyarakat,seperti tokoh

masyarakat, tokoh agama, LSM, organisasi kemasyarakatan, serta dunia

usaha. BPP tersebut berperan sebagai mitra puskesmas dalam

menyelenggarakan pembangunan kesehatan.

24
2.2 HIPERTENSI

2.2.1 Pengertian Hipertensi

Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu peningkatan abnormal

tekanan darah dalam pembuluh darah arteri yang mengangkut darah dari jantung

dan memompa keseluruh jaringan dan organ–organ tubuh secara terus–menerus

lebih dari suatu periode (Irianto, 2014). Hal ini terjadi bila arteriol–arteriol

konstriksi. Konstriksi arterioli membuat darah sulit mengalir dan meningkatkan

tekanan melawan dinding arteri. Hipertensi menambah beban kerja jantung dan

arteri yang bila berlanjut dapat menimbulkan kerusakan jantung dan pembuluh

darah (Udjianti, 2010).

Hipertensi lebih dikenal dengan istilah penyakit tekanan darah tinggi.

Batas tekanan darah yang dapat digunakan sebagai acuan untuk menentukan

normal atau tidaknya tekanan darah adalah tekanan sistolik dan diastolik.

Bedasarkan JNC (Joint National Comitee) VII, seorang dikatakan mengalami

hipertensi jika tekanan sistolik 140 mmHg atau lebih dan diastolik 90 mmHg

atau lebih (Chobaniam, 2003).

Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan

sistoliknya diatas 140 mmHg dan tekanan diastolik diatas 90 mmHg. Pada

populasi lanjut usia, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg

dan tekanan diastolik 90 mmHg (Sheps, 2005).

Hipertensi merupakan penyebab utama gagal jantung, stroke, infak

miokard, diabetes dan gagal ginjal (Corwin, 2009). Hipertensi disebut juga

25
sebagai “pembunuh diam–diam” karena orang dengan hipertensi sering tidak

menampakan gejala, Institut Nasional Jantung, Paru dan Darah memperkirakan

separuh orang yang menderita hipertensi tidak sadar akan kondisinya. Penyakit

hipertensi ini diderita, tekanan darah pasien harus dipantau dengan interval

teratur karena hipertensi merupakan kondisi seumur hidup (Smeltzer dan Bare,

2002).

2.2.2 Klasifikasi Hipertensi

Hipertensi dapat dibedakan menjadi tiga golongan yaitu hipertensi sistolik,

hipertensi diastolik, dan hipertensi campuran. Hipertensi sistolik (isolated systolic

hypertension) merupakan peningkatan tekanan sistolik tanpa diikuti peningkatan

tekanan diastolik dan umumnya ditemukan pada usia lanjut. Tekanan sistolik berkaitan

dengan tingginya tekanan pada arteri apabila jantung berkontraksi (denyut jantung).

Tekanan sistolik merupakan tekanan maksimum dalam arteri dan tercermin pada hasil

pembacaan tekanan darah sebagai tekanan atas yang nilainya lebih besar.

Hipertensi diastolik (diastolic hypertension) merupakan peningkatan tekanan

diastolik tanpa diikuti peningkatan tekanan sistolik, biasanya ditemukan pada anakanak

dan dewasa muda. Hipertensi diastolik terjadi apabila pembuluh darah kecil menyempit

secara tidak normal, sehingga memperbesar tahanan terhadap aliran darah yang

melaluinya dan meningkatkan tekanan diastoliknya. Tekanan darah diastolik berkaitan

dengan tekanan arteri bila jantung berada dalam keadaan relaksasi di antara dua

denyutan. Hipertensi campuran merupakan peningkatan pada tekanan sistolik dan

diastolik.

Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibagi menjadi dua golongan, yaitu:

26
1) Hipertensi esensial atau hipertensi primer yang tidak diketahui penyebabnya, disebut

juga hipertensi idiopatik. Terdapat sekitar 95 % kasus. Banyak faktor yang

mempengaruhinya seperti genetik, lingkungan, hiperaktivitas susunan saraf simpatis,

sistem renin-angiotensin, defek dalam ekskresi Na, peningkatan Na 10 dan Ca

intraselular, dan faktor-faktor yang meningkatkan risiko, seperti obesitas, alkohol,

merokok, serta polisitemia

2) Hipertensi sekunder atau hipertensi renal. Terdapat sekitar 5% kasus. Penyebab

spesifiknya diketahui, seperti penggunaan estrogen, penyakit ginjal, hipertensi

vaskular renal, hiperaldosteronisme primer, dan sindrom Cushing, feokromositoma,

koartasio aorta, hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan, dan lain-lain.

Menurut The Seventh Report of The Joint National Committee on Prevention,

Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure (JNC VII), klasifikasi

hipertensi pada orang dewasa dapat dibagi menjadi kelompok normal, prehipertensi,

hipertensi derajat I dan derajat II.

Tabel 1

Klasifikasi tekanan darah menurut JNC VII29

Klasifikasi Tekanan Darah Tekanan Darah

Tekanan Darah Sistolik (mmHg) Diastolik (mmHg)


Normal < 120 < 80
Prehipertensi 120 – 139 80 – 89
Hipertensi derajat I 140 – 159 90 – 99
Hipertensi derajat II ≥ 160 ≥ 100

2.2.3 Etiologi Hipertensi

27
Berdasarkan penyebabnya hipertensi terbagi menjadi dua golongan

menurut Corwin (2009), Irianto (2014), Padila (2013), Price dan Wilson (2006),

Syamsudin (2011), Udjianti (2010):

1. Hipertensi Essensial atau hipertensi primer

Hipertensi essensial atau idiopatik adalah hipertensi tanpa kelainan dasar

patologis yang jelas. Hipertensi esensial yang didefinisikan sebagai

peningkatan tekanan darah yang tidak diketahui penyebabnya (Idiopatik).

Lebih dari 90% kasus merupakan hipertensi essensial. Penyebab hipertensi

meliputi faktor genetik dan lingkungan. Faktor genetik mempengaruhi

kepekaan terhadap natrium, kepekaan terhadap stress, reaktivitas pembuluh

darah terhadap vasokontriktor, resistensi insulin dan lain-lain. Sedangkan yang

termasuk faktor lingkungan antara lain diet, kebiasaan merokok, stress emosi,

obesitas dan lain-lain (Nafrialdi, 2009). Pada sebagian besar pasien, kenaikan

berat badan yang berlebihan dan gaya hidup tampaknya memiliki peran yang

utama dalam menyebabkan hipertensi. Kebanyakan pasien hipertensi memiliki

berat badan yang berlebih dan penelitian pada berbagai populasi menunjukkan

bahwa kenaikan berat badan yang berlebih (obesitas) memberikan risiko 65-70

% untuk terkena hipertensi primer (Guyton, 2008).

Beberapa faktor diduga berkaitan dengan berkembangnya hipertensi

esensial seperti berikut ini:

1. Genetik: individu yang mempunyai riwayat keluarga dengan hipertensi,

beresiko tinggi untuk mendapatkan penyakit ini. Faktor genetik ini tidak

28
dapat dikendalikan, jika memiliki riwayat keluarga yang memliki tekanan

darah tinggi.

2. Jenis kelamin dan usia: laki – laki berusia 35- 50 tahun dan wanita

menopause beresiko tinggi untuk mengalami hipertensi. Jika usia

bertambah maka tekanan darah meningkat faktor ini tidak dapat

dikendalikan serta jenis kelamin laki–laki lebih tinggi dari pada

perempuan.

3. Diet: konsumsi diet tinggi garam atau lemak secara langsung berhubungan

dengan berkembangnya hipertensi. Faktor ini bias dikendalikan oleh

penderita dengan mengurangi konsumsinya karena dengan mengkonsumsi

banyak garam dapat meningkatkan tekanan darah dengan cepat pada

beberapa orang, khususnya dengan pendeita hipertensi, diabetes, serta

orang dengan usia yang tua karena jika garam yang dikonsumsi

berlebihan, ginjal yang bertugas untuk mengolah garam akan menahan

cairan lebih banyak dari pada yang seharusnya didalam tubuh. Banyaknya

cairan yang tertahan menyebabkan peningkatan pada volume darah

seseorang atau dengan kata lain pembuluh darah membawa lebih banyak

cairan. Beban ekstra yang dibawa oleh pembuluh darah inilah yang

menyebabkan pembuluh darah bekerja ekstra yakni adanya peningkatan

tekanan darah didalam dinding pembuluh darah. Kelenjar adrenal

memproduksi suatu hormon yang dinamakan Ouobain. Kelenjar ini akan

lebih banyak memproduksi hormon tersebut ketika seseorang

mengkonsumsi terlalu banyak garam. Hormon ouobain ini berfungsi untuk

29
menghadirkan protein yang menyeimbangkan kadar garam dan kalsium

dalam pembuluh darah, namun ketika konsumsi garam meningkat

produksi hormon ouobain menganggu kesimbangan kalsium dan garam

dalam pembuluh darah.

Kalsium dikirim kepembuluh darah untuk menyeimbangkan kembali,

kalsium dan garam yang banyak inilah yang menyebabkan penyempitan

pembuluh darah dan tekanan darah tinggi. Konsumsi garam berlebih

membuat pembuluh darah pada ginjal menyempit dan menahan aliran darah.

Ginjal memproduksi hormone rennin dan angiostenin agar pembuluh darah

utama mengeluarkan tekanan darah yang besar sehingga pembuluh darah

pada ginjal bisa mengalirkan darah seperti biasanya. Tekanan darah yang

besar dan kuat ini menyebabkan seseorang menderita hipertensi.

Konsumsi garam per hari yang dianjurkan adalah sebesar 1500 – 2000 mg

atau setara dengan satu sendok teh. Perlu diingat bahwa sebagian orang

sensitif terhadap garam sehingga mengkonsumsi garam sedikit saja dapat

menaikan tekanan darah. Membatasi konsumsi garam sejak dini akan

membebaskan anda dari komplikasi yang bisa terjadi.

4. Berat badan

Faktor ini dapat dikendalikan dimana bisa menjaga berat badan dalam

keadaan normal atau ideal. Obesitas (>25% diatas BB ideal) dikaitkan

dengan berkembangnya peningkatan tekanan darah atau hipertensi.

30
5. Gaya hidup

Faktor ini dapat dikendalikan dengan pasien hidup dengan pola hidup

sehat dengan menghindari faktor pemicu hipertensi itu terjadi yaitu

merokok, dengan merokok berkaitan dengan jumlah rokok yang dihisap

dalam waktu sehari dan dapat menghabiskan berapa putung rokok dan

lama merokok berpengaruh dengan tekanan darah pasien. Konsumsi

alkohol yang sering, atau berlebihan dan terus menerus dapat

meningkatkan tekanan darah pasien sebaiknya jika memiliki tekanan darah

tinggi pasien diminta untuk menghindari alkohol agar tekanan darah

pasien dalam batas stabil dan pelihara gaya hidup sehat penting agar

terhindar dari komplikasi yang bisa terjadi.

2. Hipertensi Sekunder

Hipertensi sekunder merupakan 10% dari seluruh kasus hipertensi adalah

hipertensi sekunder, yang didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah

karena suatu kondisi fisik yang ada sebelumnya seperti penyakit ginjal atau

gangguan tiroid, hipertensi endokrin, hipertensi renal, kelainan saraf pusat yang

dapat mengakibatkan hipertensi dari penyakit tersebut karena hipertensi

sekunder yang terkait dengan ginjal disebut hipertensi ginjal (renal

hypertension). Gangguan ginjal yang paling banyak menyebabkan tekanan

darah tinggi karena adanya penyempitan pada arteri ginjal, yang merupakan

pembuluh darah utama penyuplai darah ke kedua organ ginjal. Bila pasokan

darah menurun maka ginjal akan memproduksi berbagai zat yang

meningkatkan tekanan darah serta ganguuan yang terjadi pada tiroid juga

31
merangsang aktivitas jantung, meningkatkan produksi darah yang

mengakibtkan meningkatnya resistensi pembuluh darah sehingga

mengakibtkan hipertensi. Faktor pencetus munculnya hipertensi sekunder

antara lain: penggunaan kontrasepsi oral, coarctation aorta, neurogenik (tumor

otak, ensefalitis, gangguan psikiatris), kehamilan, peningkatan volume

intravaskuler, luka bakar, dan stress karena stres bisa memicu sistem saraf

simapatis sehingga meningkatkan aktivitas jantung dan tekanan pada pembuluh

darah.

Pada kebanyakan kasus, disfungsi renal akibat penyakit ginjal kronis atau

penyakit renovaskular adalah penyebab sekunder yang paling sering. Obat-obat

tertentu, baik secara langsung ataupun tidak, dapat menyebabkan 11 hipertensi

atau memperberat hipertensi dengan menaikkan tekanan darah (Oparil, 2003).

Hipertensi yang penyebabnya dapat diketahui, sering berhubungan

dengan beberapa penyakit misalnya ginjal, jantung koroner, diabetes dan

kelainan sistem saraf pusat (Sunardi, 2000).

2.2.4. Gejala Klinis Hipertensi

Pada pemeriksaan fisik, tidak dijumpai kelainan apapun selain tekanan

darah yang tinggi, tetapi dapat pula ditemukan perubahan pada retina, seperti

perdarahan, eksudat, penyempitan pembuluh darah, dan pada kasus berat dapat

ditemukan edema pupil (edema pada diskus optikus). Menurut Price, gejala

hipertensi antara lain sakit kepala bagian belakang, kaku kuduk, sulit tidur,

32
gelisah, kepala pusing, dada berdebar-debar, lemas, sesak nafas, berkeringat dan

pusing .

Gejala-gejala penyakit yang biasa terjadi baik pada penderita hipertensi

maupun pada seseorang dengan tekanan darah yang normal hipertensi yaitu sakit

kepala, gelisah, jantung berdebar, perdarahan hidung, sulit tidur, sesak nafas,

cepat marah, telinga berdenging, tekuk terasa berat, berdebar dan sering kencing

di malam hari. Gejala akibat komplikasi hipertensi yang pernah dijumpai

meliputi gangguan penglihatan, saraf, jantung, fungsi ginjal dan gangguan

serebral (otak) yang mengakibatkan kejang dan pendarahan pembuluh darah

otak yang mengakibatkan kelumpuhan dan gangguan kesadaran hingga koma

dan sebagian besar gejala klinis timbul setelah mengalami hipertensi bertahun-

tahun adalah nyeri kepala saat terjaga, 15 kadang kadang disertai mual dan

muntah yang disebabkan peningkatan tekanan darah intrakranial .

2.2.5. Diagnosa Hipertensi

Berdasarkan anamnesis, sebagian besar pasien hipertensi bersifat

asimptomatik. Beberapa pasien mengalami keluhan berupa sakit kepala, rasa

seperti 8 berputar, atau penglihatan kabur. Hal yang dapat menunjang

kecurigaan ke arah hipertensi sekunder antara lain penggunaan obat-obatan

seperti kontrasepsi hormonal, kortikosteroid, dekongestan maupun NSAID, sakit

kepala paroksismal, berkeringat atau takikardi serta adanya riwayat penyakit

ginjal sebelumnya. Pada anamnesis dapat pula digali mengenai faktor resiko

kardiovaskular seperti merokok, obesitas, aktivitas fisik yang kurang,

33
dislipidemia, diabetes milletus, mikroalbuminuria, penurunan laju GFR, dan

riwayat keluarga.

Berdasarkan pemeriksaan fisik, nilai tekanan darah pasien diambil rerata

dua kali pengukuran pada setiap kali kunjungan ke dokter. Apabila tekanan

darah ≥ 140/90 mmHg pada dua atau lebih kunjungan maka hipertensi dapat

ditegakkan. Pemeriksaaan tekanan darah harus dilakukan dengan alat yang baik,

ukuran dan posisi manset yang tepat (setingkat dengan jantung) serta teknik

yang benar. Pemeriksaan penunjang dilakukan untuk memeriksa komplikasi

yang telah atau sedang terjadi seperti pemeriksaan laboratorium seperti darah

lengkap, kadar ureum, kreatinin, gula darah, elektrolit, kalsium, asam urat dan

urinalisis. Pemeriksaan lain berupa pemeriksaan fungsi jantung berupa

elektrokardiografi, funduskopi, USG ginjal, foto thoraks dan ekokardiografi.

Pada kasus dengan kecurigaan hipertensi sekunder dapat dilakukan pemeriksaan

sesuai indikasi dan diagnosis banding yang dibuat. Pada hiper atau

hipotiroidisme dapat dilakukan fungsi tiroid (TSH, FT4, FT3),

hiperparatiroidisme (kadar PTH, Ca2+), hiperaldosteronisme primer berupa

kadar aldosteron plasma, renin plasma, CT scan abdomen, peningkatan kadar

serum Na, penurunan K, peningkatan eksresi K dalam urin ditemukan alkalosis

metabolik. Pada feokromositoma, dilakukan kadar metanefrin, CT scan/MRI

abdomen. Pada sindrom cushing, dilakukan kadar kortisol urin 24 jam. Pada

hipertensi renovaskular, dapat dilakukan CT angiografi arteri renalis, USG

ginjal, Doppler Sonografi.

34
2.2.6. Penatalaksanaan Hipertensi

Penatalaksanaan hipertensi meliputi modifikasi gaya hidup namun terapi

antihipertensi dapat langsung dimulai untuk hipertensi derajat 1 dengan penyerta dan

hipertensi derajat 2. Penggunaan antihipertensi harus tetap disertai dengan modifikasi

gaya hidup.

Selain pengobatan hipertensi, pengobatan terhadap faktor resiko atau kondisi

penyerta lainnya seperti diabetes mellitus atau dislipidemia juga harus dilaksanakan

hingga mencaoai target terapi masing-masing kondisi.

Pengobatan hipertensi terdiri dari terapi nonfakmakologis dan farmakologis.

Terpai nonfarmakologis harus dilaksanakan oleh semua pasien hipertensi dengan tujuan

menurunkan tekanan darah dan mengendalikan faktor-faktor resiko penyakit penyerta

lainnya.

Modifikasi gaya hidup berupa penurunan berat badan (target indeks massa tubuh

dalam batas normal untuk Asia-Pasifik yaitu 18,5-22,9 kg/m2 ), kontrol diet berdasarkan

DASH mencakup konsumsi buah-buahan, sayur-sayuran, serta produk susu rendah lemak

jenuh/lemak total, penurunan asupan garam dimana konsumsi NaCl yang disarankan

adalah < 6 g/hari. Beberapa hal lain yang disarankan adalah target aktivitas fisik minimal

30 menit/hari dilakukan paling tidak 3 hari dalam seminggu serta pembatasan konsumsi

alkohol. Terapi farmakologi bertujuan untuk mengontrol tekanan darah hingga mencapai

tujuan terapi pengobatan. Berdasarkan JNC VIII pilihan antihipertensi didasarkan pada

ada atau tidaknya usia, ras, serta ada atau tidaknya gagal ginjal kronik. Apabila terapi

antihipertensi sudah dimulai, pasien harus rutin kontrol dan mendapat pengaturan dosis

setiap bulan hingga target tekanan darah tercapai. Perlu dilakukan pemantauan tekanan

darah, LFG dan elektrolit.

35