Anda di halaman 1dari 6

CLOSE REVIEW: MENJELANG 123 TAHUN LETUSAN KRAKATAU

Kapan pertama kali Anda mengenal kata eksotik “KRAKATAU”? Mungkin


perkenalan Anda dengan “Krakatau” erat kaitannya dengan kegemaran Anda
mendengarkan musik karena memang Krakatau menjadi salah satu nama grup
band yang terkenal di Indonesia di era 80-an. Atau , bisa jadi Anda sudah lama
kenal nama tersebut sebelum grup Krakatau muncul yaitu dari komik Ganesh TH
yang berjudul “Krakatau” yang terbit di era tahun 70-an. Saya mengenal nama
“Krakatau” pertamakali ya dari baca komiknya Ganesh Th, Bapak
Bardamandrawata alias Si Buta Dari Goa Hantu ini. Komik yang cukup menarik,
dengan kisah drama percintaan, keluarga, dengan setting dunia percentengan
dan jawara era abad 19 di wilayah Banten dan sekitarnya, dan tentu saja tentang
Krakatau sendiri yang menjadi judul komik yang lumayan laris dulu. Dalam buku
komik Krakatau, peristiwa letusan Krakatau digambarkan diawali dengan
kekacauan secara ruhani di wilayah sekitar Banten, kezaliman dan kemaksiatan
nampak telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat di daerah , yang kalau
nggak salah, namanya Tanjung Kait. Jadi, sebelum kiamat yang dimunculkan
oleh Letusan Krakatau, penulis komik tersebut menggambarkan suatu kondisi
yang lumrah bahwa kiamat fisikal itu di dahului dengan kiamat ruhani terlebih
dahulu yang terjadi di kawasan sekitar Krakatau.

Senin, 27 Agustus 1883, gunung yang selama 99 hari telah menggeram dan
menggeliat-geliat itu akhirnya meledakkan dirinya dan lenyap atau moksa dari
muka bumi ini. Selama 65 juta tahun dua pelat tektonik yaitu pelat tektonik
oceanik indo australia dan pelat kontinental Asia bergerak perlahan tetapi
mantap dan saling menyikut, dengan istiqomah yang ditetapkan penciptanya,
dengan kecepatan 4 inchi per tahun atau 100 mm per 365 hari. Hari itu, tanpa
disadari oleh banyak orang di Hindia Belanda dengan pusat aktivitas di Batavia,
puncak dari pergeseran bawah Planet Bumi yang ada di wilayah Indonesia
selama jutaan tahun telah terjadi.
Lokasi: 105 BT, 6 LS, Elevation: 2000 m
Pulau Anak Krakatau.

The main crater of Anak Krakatau.


Matahari terbenam dilihat dari salah satu pulau.

Semua foto copyrighted by Steve O'Meara, Volcano Watch International.

Malam sebelumnya The Great World Circus yang melawat ke Hindia Belanda
mempertunjukan penampilan terbaik mereka, dan artis-artisnya sekarang telah
mendapatkan penginapan baru. Dua malam sebelumnya, terjadi keributan kecil
karena mengamuknya seekor gajah kecil dalam hotel Des Indes yang
nampaknya mencium hawa amarah wilayah Jawa Barat yang berasal dari
Krakatau. Hotel Des Indes merupakan salah satu hotel berbintang dari 3 hotel
yang mewah yang ada di ibukota Hindia Belanda Batavia. Itulah selintas kutipan
bagaimana penulis buku “Krakatau” Simon Winchester mengilustrasikan apa
yang terjadi pada saat menjelang D-Day meletusnya Krakatau, Senin 27 Agustus
1883, 123 tahun yang lalu di Indonesia hari ini.

Menjelang titik puncak letusan, Krakatau diketahui telah kejang-kejang dan


sekarat selama 20 jam 56 menit. Puncaknya terjadi dengan ledakan
mahadahsyat yang oleh semua pengamat disepakati terjadi pada pukul 10.02
pagi dengan gelombang kejut yang menjalar mengelilingi dunia seolah-olah
bertasbih sebanyak 7 kali dan mulai berhenti pada pukul 1.23 siang pada hari
Senin tanggal 27 Agustus 1883. Pada jam 10.02 pagi, setelah terbatuk-batuk 3
bulan lebih Krakatau pun memuntahkan semua isinya, pulau kecil di selat Sunda
yang sejak dahulu kala diketahui menyimpan misteri dengan berbagai sebutan
seperti Rakata atau Gunung Kapi alias Karang Api itu pun lenyap memuntahkan
semua isinya ke atas langit di Planet Bumi yang gaungnya terdengar
berkilometer-kilometer dari tempat asalnya, debunya mengitari bumi selama
hampir berbulan-bulan mengubah kontalasi iklim Planet Bumi memasuki wilayah
yang tidak menentu. Korban akibat letusan Krakatau diperkirakan mencapai
36.000 jiwa yang umumnya musnah ditelan tsunami akibat melonjaknya air laut
ke permukaan dengan ketinggian 30 meter dan menelan segala yang ada di
sekitar wilayah letusan, khususnya daerah Banten dan Lampung saat ini.

Letusan Krakatau pada tahun 1883 bukanlah letusan yang pertama. Catatan
sejarah yang dikutip Simon Winchester menyebutkan bahwa Krakatau diketahui
pernah meletus sekitar tahun 416 M (tahun ini merupukan dugaan karena bukti
yang kurang kuat), 535 M (bukti cukup sahih), dan tahun 1680 M sebelum
letusan tahun 1883. Bahkan, beberapa informasi yang kurang akurat karena
diselimuti legenda dan mitos menyebutkan adanya 7 letusan Krakatau diantara
periode abad ke-9 sampai abad ke-14 Masehi. Namun, bukti-buktinya kurang
akurat.

Secara geologis, Krakatau nampaknya merupakan gunung berapi purba yang


mempunyai peran juga dalam pembentukan iklim Bumi pada sekitar 60.000
tahun yang lalu, atau sekitar periode zaman es. 15 000 tahun sebelumnya (75
ribu tahun yang lalu), para geolog memperkirakan terjadinya suatu letusan lebih
purba dari suatu gunung purba yang saat ini menjadi Danau Toba , yang
membawa Planet Bumi memasuki zaman es atau Pleistocene.

Krakatau merupakan salah satu gunung berapi purba yang nampaknya menjadi
salah satu gunung yang menentukan formasi pembentukan iklim Planet Bumi
seperti yang kita lihat saat ini. Melihat kawasan Gunung Krakatau di Selat
Sunda, Para ahli memperkirakan bahwa pada masa purba terdapat gunung yang
sangat besar di selat sunda yang akhirnya meletus dahsyat yang menyisakan
sebuah kaldera (kawah besar) yang sisi sisinya dikenal sebagai pulau rakata,
pulau panjang dan sebuah pulau lagi. Ia merupakan satu dari 3 gunung purba
yang masih terlihat.

Gunung pertama jauh lebih purba lagi telah hancur menjadi kaldera yang saat
ini menjadi Danau Toba di Sumatera Barat, gunung lainnya adalah Gunung
Tambora yang juga mempunyai kaldera raksasa dan pernah meletus sekitar
tahun 1815 yang melenyapkan dua kerajaan Islam yang ada di Lombok. Baik
Toba, Krakatau, maupun Gunung Tambora merupakan bagian dari jajaran
gunung berapi di Indonesia yang mengalungi wilayah tengah Indonesia (RING
OF FIRE) sebagai zona patahan tektonik paling aktif sampai hari ini. Menurut
data terakhir, jumlah gunung berapi di Indonesia ada sekitar 129 buah, 79
diantaranya masih aktif salah satunya adalah Gunung Anak Rakata sebagai
gunung anak yang muncul dari tempat dimana dulu bapaknya yaitu Gunung
Rakata alias Krakatau 123 tahun yang lalu mengguncangkan Planet Bumi pada
tanggal 27 Agustus 1883 dengan korban sekitar 36000 jiwa.

Atmnd, 22/7/2006