Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM IMUNOSEROLOGI I

PEMERIKSAAN CRP (C-REAKTIF PROTEIN)

Disusun oleh :

Nama : A. Ikah Puspitasari

NIM : PO714203191001

Kelas : A1

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN MAKASSAR

JURUSAN ANALIS KESEHATAN

PRODI SARJANA TERAPAN TEKNOLOGI LABORATOIUM MEDIS

TAHUN 2021
Hari/Tanggal Praktikum : Rabu, 07 April 2021(Metode Kualitatif)

Kamis, 14 April 2021 (Metode Kuantitatif)

Judul Pemeriksaan : Pemeriksaan C-Reaktif Potein (CRP)

Kualitatif dan Semi Kuantitatif


Tujuan Praktikum : Untuk mengetahui kadar CRP dalam serum yang
menandakan adanya inflamasi.

Prinsip :

Tes CRP adalah test aglutinasi slide secara kualitatif dan semi kuantitatif. Dimana
pereaksi mengandung antibodi khusus CRP yang akan bereaksi dengan serum yang
mengandung CRP sehingga terjadi aglutinasi

A. Dasar Teori

C-reactive protein merupakan molekul polipeptida dari kelompok


pentraxins yang merupakan protein fase akut. CRP diproduksi di hati dan
produksinya dikontrol oleh sitokin khususnya interleukin - 6 (Puspa Dewi, 2018).
CRP diproduksi di dalam hepatosit saat terjadi reaksi inflamasi. Banyak
penelitian telah menggunakan CRP sebagai pertanda prognosis karena CRP
memiliki nilai sensitifitas yang tinggi. CRP meningkat 4-6 jam setelah
stimulus; konsentrasinya meningkat 2 kali lipat setiap 8 jam; dan mencapai
puncak dalam 36-50 jam. Waktu paruh CRP 19 jam sehingga bahkan
dengan hanya 1 stimulus membutuhkan beberapa hari untuk kembali ke
kadar awal. Walaupun termasuk protein fase akut, kadar CRP juga berubah
selama proses inflamasi kronis (Puspa Dewi, 2018).
Pneumonia merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas anak
berusia di bawah lima tahun (balita). Diperkirakan hampir seperlima
kematian anak di seluruh dunia (±2 juta anak balita), utamanya di Afrika
dan Asia Tenggara, terjadi akibat pneumonia. Menurut Survey Kesehatan
Nasional (SKN) 2001, 27,6 % kematian bayi dan 22,8 % kematian balita di
Indonesia disebabkan oleh penyakit sistem respirasi, terutama pneumonia.
Saat ini masih belum ada pemeriksaan baku yang dapat dipakai untuk
menilai prognosis pada penyakit pneumonia anak. Prognosis biasanya
diperkirakan dengan gambaran awal saat pasien dating. Penelitian sebelumnya
melaporkan tentang penggunaan alat baku untuk menentukan prognosis
pasien pneumonia. Penggunaan alat tersebut kebanyakan pada pasien
pneumonia dewasa, belum ada alat baku yang menentukan prognosis penyakit
pneumonia pada anak (M. Said, 2009).

B. Prosedur Pemeriksaan

1. Pra Analitik
 Persiapan Praktikan Menggunakan Alat Pelindung Diri (APD)
a) Jas Laboratorium
b) Masker
c) Handscoon
d) Face Shield
e) Menggunakan Sepatu Laboratorium

 Persiapan pasien

Tidak membutuhkan persiapan yang khusus. Jangan lupa untuk


memberikan identitas pada sampel pasien agar tidak tertukar dengan
pasien lain.
 Persiapan Sampel

 Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan

 Mengambil sampel darah vena pada pasien sesuai dengan jumlah


sampel yang diperlukan

 Memindahkan darah yang telah diambil dari pasien kedalam tabung


dengan cara dialirkan melalui dinding tabung

 Sentrifuge sampel tersebut selama 10 menit dengan kecepatan 3000


rpm

 Mengambil cairan supernatant yang berwarna kuning bening


kemudian masukkan kedalam tabung reaksi

 Sampel serum siap digunakan

 Persiapan serum
Serum bebas dari darah, lemak, dan kontaminasi. Serum dapat
disimpan pada suhu 1-80OC selama 48 jam jika tidak segera dikerjakan,
bias juga disimpan pada freezer untuk waktu yang lama.

 Kit pemeriksaan crp


1. Reagen Lateks (Tutup Putih), mengandung partikel latex berwarna
putih yang dilapisi antibody anti-human C-Reaktif Protein.
2. Kontrol positif (tutup merah), mengandung serum positif CRP
3. Kontrol negative (tutup biru), mengandung serum yang tidak terdapat
CRP
4. Slide Test

 Alat dan bahan


Alat
1. Slide test
2. Batang Pengaduk
3. Mikropipet atau pipet tetes
4. Timer

Bahan

5. Larutan Saline (NaCl 0,9%)


6. Reagen Latex
7. Serum
8. Sampel serum darah

2. Analitik
Cara Kerja
Metode kualitatif
a. Reagen CRP dihomogenkan
b. Ditempatkan 1 tetes serum, kontrol positif dan kontrol negatif pada
lingkaran reaksi terpisah.
c. Ditambahkan 1 tetes reagen latex ke tiap lingkaran reaksi
d. Dihomogenkan menggunakan batang pengaduk
e. Slide dimiringkan secara perlahan kedepan dan kebelakang.
f. Slide dibaca setelah inkubasi mencapai 2 menit.

Metode Semi Kuantitatif


a. Hasil pemeriksaan positif pada Metode Kualitatif dilanjutkan untuk tes
pengenceran terseri (metode semi kuantitatif)
b. Disiapkan 4 tabung masing-masing berisi NaCl 0,9% sebanyak 100µl
c. Dimasukkan sampel serum darah sebanyak 100µl kedalam tabung
pertama, dan dihomogenkan (Pengenceran 1/2)
d. Dipipet sebanyak 100µl larutan dari tabung pertama ke dalam tabung
kedua dan dihomogenkan (pengenceran 1/4)
e. Dipipet sebanyak 100µl larutan dari tabung kedua kedalam tabung
ketiga dan dihomogenkan (pengenceran 1/8)
f. Dipipet sebanyak 100µl larutan dari tabung ketiga kedalam tabung
keempat dan dihomogenkan (pengenceran 1/16)
g. Tiap larutan pengenceran di teteskan sebanyak 50µl pada lingkaran
slide yang berbeda, serta control negative dan positif sebanyak 1 tetes.
h. Tiap lingkaran slide diteteskan reagen lateks sebanyak 1 tetes, dan
dihomogenkan secara manual.
i. Dilakukan pembacaan setelah 2 meni

3. Pasca Analitik
a) Interpretasi hasil
 Tes kualitatif

Hasil : sampel negative CRP tidak terdapat aglutinasi

 kuantitatif
 Hasil negatif karena tidak terbentuk aglutinasi pada lingkaran ½,
¼, 1/8, dan 1/16.

Keterangan :

Tes kualitatif
Menunjukkan adanya tidaknya kandungan C-RP pada serum darah
Negatif = tidak ada aglutinasi/gumpalan
Positif = terdapat aglutinasi.

Tes Semi Kuantitatif


Menunjukkan adanya tidaknya kandungan C-RP pada serum darah
Negatif = tidak ada aglutinasi/gumpalan
Positif = terdapat aglutinasi

1
Kadar RCP = Sensitivitas Reagen x
pengenceran
1
Kadar CRP = 6 mg/ L x
pengenceran

C. Kesimpulan
Dari hasil praktikum yang dilakukan pemeriksaan CRP metode kualitatif
menunjukkan tidak adanya aglutinasi pada serum darah. Dari hasil praktikum
yang dilakukan pemeriksaan CRP metode semi kuantitatif yang ditandai dengan
adanya aglutinasi pada serum darah untuk menentukan titer, setelah kadar CRP
diketahui setelah dimasukkan ke dalam rumus perhitungan. Setelah dilakukan
prosedur pemeriksaan CRP pada sampel, tidak ditemukan adanya aglutinasi pada
titer pengenceran yang menandakan kadar CRP sampel berada dibawah
sensitivitas reagen yatu 6 mg/L
 Kelebihan Metode Kualitatif
1. Deskripsi dan interpretasi dari informan dapat diteliti secara mendalam.
2. Mempunyai landasan teori yang sesuai fakta
3. Pengerjaannya sederhana

 Kekurangan Metode Kualitatif


1. Tidak dapat menujukkan kadar CRP secara pasti dalam darah
2. Ukuran penelitian kecil
3. Tidak efektif jika ingin meneliti secara keseluruhan atau besar-besaran 

 Kelebihan Metode Semi Kuantitatif


1. Dapat diketahui kadar CRP dalam sampel

 Kekurangan Metode Semi Kuantitatif


1. Pengerjaan lebih lama
2. Tidak efektif bila ingin dilakukan secara besar-besaran.

DAFTAR PUSTAKA

Puspa Dewi, Y. (2018). C-reactive protein ( CRP ) Vs high-sensitivity CRP ( hs-


CRP ), (September), 4–6

Said, M. 2009. Imunologi Dalam Sistem Kekebalan Tubuh. Jember : Media Pustaka

Praktikan I,

A. Ikah Puspitasari
Pembembing 1 Pembimbing II

Nurdin,S.Si.,M.Kes Alvin Resya Virgiawan S.Si,.M.Si

Pembimbing III

Yaumil Fachni Tandjungbulu S.ST.,M.Kes

Anda mungkin juga menyukai