Anda di halaman 1dari 15

Pengertian Ijtihad

ijtahada-yajtahidu-ijtahadan. mengerahkan segala


kemampuan, bersungguh-
sungguh mencurahkan tenaga
atau bekerja secara optimal

ijtihad adalah mencurahkan segenap tenaga dan pikiran secara


sungguh-sungguh dalam menetakan suatu hukum.

Contoh penetapan tanggal dan hari awal puasa ramadhan dan


awal bulan syawal.

Dalam berijtihad terjadi perselisihan merupakan hal yang


wajar. Namun jangan sampai berkembang menjadi
perselisihan dan permusuhan.
Dalil

“…Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran,


wahai orang-orang yang mempunyai pandangan!” (QS Al-
Hasyr/59:2)

Dari Mua‟dz bahwa Nabi saw ketika mengutusnya ke negara


Yaman, beliau berkata:”Jika ada satu permasalahan
disodorkan kepadamu, bagaimanakah kamu
memutuskannya?”, ia menjawab:”Keputusan dengan
Kitabullah Swt, beliau bertanya:”maka bagaimana jika tidak
ada dalam Kitabullah? Ia menjawab:”Keputusan dengan
sunnah rasulullah saw, beliau bertanya””Bagaimana jika tidak
ada dalam sunnah rasulullah saw?, ia menjawab:”aku akan
berijtihad dengan pendapatku tidak lebih”. Ia berkata:”Waktu
itu beliau menepuk dadanya, kemudian beliau berkata:”Segala
puji bagi Allah yang memberi taufik kepada utusan Rasul-Nya
dengan sesuatu yang disenangi oleh-Nya.” (HR Ad-Darimy)
Dari Amru bin „Ash bahwa dia pernah mendengar rasulullah
saw bersabda:”Jika seorang hakim berijtihad dalam
menetapkan suatu hukum, ternyata hukumnya benar, maka
hakim tersebut akan mendapatkan dua pahala, dan apabila dia
berijtihad dalam menetapkan suatu hukum, namun dia salah,
maka dia akan mendapatkan satu pahala.” (HR Bukhari dan
Muslim)
• Sesudah nabi saw wafat, Ijtihad banyak dilakukan oleh para
sahabatnya. Pada masa khalifah Abu Bakar sudah
melakukan Ijtihad, misalnya saja dalam urusan teknik
pengangkatan seorang khalifah, mengambil keputusan
orang yang mengaku seorang nabi, murtad, ingkar zakat,
dll.
• Pada masa Khalifah Umar bin Khattab lebih banyak
melakukan Ijtihad umpamanya dalam mengabil keputusan
mualaf, hukum potong tangan bagi pencuri, persoalan
pembagian harta rampasan, dll.
• Setelah masa itu, Ijtihad terus berkembang.
Kaidah dalam Berijtihad
a. Hasil Ijtihad bukan merupakan keputusan mutlak, tetapi
bersifat relatif
b. Keputusan Ijthad bisa saja berlaku bagi seseorang saja
atau kelompok tertentu saja, atau daerah tertentu saja,
tidak berlaku secara universal
c. Hasil keputusan tidak bertentangan dengan al-Qur‟an dan
hadits
d. Dalam berijtihad faktor-faktor motivasi akibat kemaslahatan
umum (kepentingan umat) dan nilai-nilai menjadi ciri jiwa
dari ajaran Islam sangat diperhatikan dan harus menjadi
bahan pertimbangan (prioritas).
Syarat-syarat berijtihad adalah
a. Mempunyai pengetahuan yang luas dan mendalam
b. Mempunyai pemahaman mendalam tentang bahas arab,
ilmu tafsir, usul fikih, dan tarikh (sejarah).
c. Menguasai asbabunnuzul
d. Menguasai hadits dan segala persoalannya
e. Memahami cara merumuskan hukum (istinbath)
f. Mempunyai keluhuran akhlak mulia
Kedudukan Ijtihad

Ijtihad memiliki kedudukan sebagai sumber hukum Islam


setelah al-Qur‟an dan hadits.

Ijtihad dilakukan jika suatu persoalan tidak ditemukan


hukumnya dalam al-Qur‟an dan hadits.

Hukum yang dihasilkan dari ijtihad tidak boleh bertentangan


dengan al-Qur‟an dan hadits.
Bentuk-bentuk Berijtihad
1. Ijma’

Adalah kesepakatan para ulama ahli ijtihad dalam memutuskan


suatu perkara atau hukum.

Contoh
1. Ijma’ di masa sahabat adalah kesepakatan menghimpun wahyu
ilahi yang berbentuk lembaran-lembaran terpisah menjadi
sebuah mushaf al-Qur’an seperti sekarang.
2. Keputusan musyawarah para ulama untuk menentukan sebuah
perkara
2. Qiyas

Adalah mempersamakan/ menganalogikan masalah baru yang tidak


terdapat dalam al-Qur’an dan hadits dengan yang sudah terdapat
dalam al-Qur’an dan hadits karena persamaan karakter atau
sifatnya.

Contoh: Al-Qur’an mengahramkan seseorang meminum khamr


karena memabukkan. Khamr dapat dipersamakan dengan vodka,
wiski,narboka, brendy, dll

Khmar atau bir narkoba


3. Maslahah Mursalah (kebaikan yang Terbesar)

Adalah penetapan hukum yang menitikberatkan pada kemanfaatan


suatu perbuatan dan tujuan hakiki-universal terhadap syariat
Islam.

Contoh:
1. Membuat jalan untuk kepentingan bersama
2. Pencatatan buku pernikahan oleh KUA dan perundangan
pernikahan untuk mengatur batasan orang menikah
3. Menggunaan mikrofon di masjid
4. Berangka haji menggunakan pesawat
5. dll

Sekarang yang sedang diupayakan oleh


Menteri Agama demi kemaslahatan
adalah melarang pegawai menggunakan
cadar dan cingkrang
4. Istihsan (Istilah),

Adalah menetapkan hukum suatu perbuatan berdasarkan prinsip-


prinsip umum ajaran Islam atau didasarkan atas kepentingan
umum walaupun bertentangan dengan al-Qur’an dan sunnah

Misalnya, tindakan mengabaikan hukuman potong tangan untuk


para pencuri walaupun itu perintah dalam al-Qur’an.
5. Urf

Adalah menetapkan suatu perbuatan yang sudah dikenal dan telah


menjadi kebiasaan suatu masyarakat. Urf juga disebut dengan
“adah” (adat), yaitu urusan yang disepakati oleh segolongan
manusia dalam perkembangan hidupnya.

Contoh
1. Yasinan dan tahlilan
2. Nyandran
3. Halal bi halal
4. Gunungan
5. Lamaran
6. Menyambut ramadhan
7. dll
6. Istishab

Yaitu meneruskan berlakunya suatu hukum yang telah ada dan


telah ditetapkan karena nya suatu dalil sampai dalil lain yang
mengubah kedudukan dari hukum tersebut.

Contoh
Telah terjadi perkawinan antara laki-laki A dan perempuan B,
kemudian mereka berpisah dan berada di tempat yang berjauhan
selama 15 tahun. Karena telah lama berpisah itu maka B ingin
kawin dengan laki-laki C. Dalam hal ini B belum dapat kawin
dengan C karena ia telah terikat tali perkawinan dengan A dan
belum ada perubahan hukum perkawinan mereka walaupun
mereka telah lama berpisah. Berpegang ada hukum yang telah
ditetapkan, yaitu tetap sahnya perkawinan antara A dan B, adalah
hukum yang ditetapkan dengan istishab
Penerapan
a. Mempelajari dan mengenal para tokoh ijtihad dari zaman
rasulullah saw sampai masa pembaharuan
b. Kritis dan mengecek tentang hukum-hukum Islam baik
persoalan klasik dan kontemporer untuk dapat didiskusikan
untuk kepentingan bersama agama bangsa dan negara
c. Berlatif berfikir rasional
d. Aktif berdiskusi dan membiasakan untuk ikut berfikir
tentang persoalan agama dan bangsa.