Anda di halaman 1dari 17

SUMBER HUKUM ISLAM

HADITS
Pengertian
hadits al-hadits baru atau berita.

Hadits berarti perkataan segala perkataan,


atau ucapan. perbuatan, dan
ketetapan (taqrir) yang
dilakukan oleh Nabi
Muhammad SAW

Yang membedakan dengan sunnah, jika hadits perkataan,


perbuatan dan ketetapan Muhammad saw setelah diangkat
menjadi rasul, kalau sunnah perbuatan dan pembiasaan
perilaku Muhammad saw sejak lahir sampai meninggal.

Ilmu yang mempelajari dan memahami persoalan hadis disebut


mustahalul hadits
UNSUR HADITS

Hadits dalam arti perkataan atau ucapan rasulullah saw


terdiri dari beberapa bagian yang saling terkait satu sama
lain, yaitu:
a. Sanad, yaitu sekelompok orang atau seseorang yang
menyampaikan hadits dari rasulullah saw sampai kepada
kita sekarang
b. Matan, yaitu isi atau materi hadits yang disampaikan oleh
rasulullah saw
c. Rawi, yaitu orang yang meriwayatkan hadits
CONTOH UNSUR HADITS

Sanad

Matan

Rawi
ARTINYA
Sanad Abu Nu’aim menyampaikan
kepada kami dari Sufyan, dari
alqamah bin Martsad, dari Abu
Abdurrahman as-Sulami, dan
Utsman bin Affan bahwa Nabi
SAW bersabda, “Sungguh, orang
Matan yang paling utama di antara kalian
adalah orang yang mempelajari
al-Qur’an dan mengajarkannya”
Rawi (HR Bukhari)
Hadits Berdasarkan Bentuknya

a. Hadits Qauliyah

Yakni segala ucapan (perkataan) nabi saw yang didengar oleh


sahabat-sahabatnya kemudian disampaikan kepada orang lain.

Contoh

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa‟d telah


menceritakan kepada kami Abdul Wahhab, menuturkan; aku
mendengar Yahya bin Sa‟id mengatakan; telah mengabarkan
kepadaku Muhammad bin Ibrahim bahwasanya ia mendengar
„Alqomah bin Waqqash Al Laitsi menuturkan; aku mendengar
Umar bin Khattab ra, Rasulullah saw bersabda,
“Sesungguhnya amalan itu hanyalah tergantung niatnya, dan
setiap orang hanya mendapatkan apa yang diniakannya.” (HR
Bukhari)
b. Hadits Fi‟liyah

Yakni hadits atas dasar perilaku (perbuatan) Nabi Muhammad


saw yang dilihat oleh sahabat-sahabantnya kemudian
disampaikan kepada orang lain melalui ucapan sahabat-
sahabatnya
Contoh
Telah menceritakan kepada kami Muslim bin Ibrahim berkata,
telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Abu Abdullah
berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abu Katsir
dari Muhammad bin „Abdurrahman dari Jabir bin „Abdullah
berkata, “Rasulullah saw shalat di atas tunggangannya
menghadap kemana arah tunggangannya menghadap. Jika
Beliau hendak melaksanakan shalat yang fardlu, maka beliau
turun lalu shalat menghadap kiblat.” (HR Bukhari)
c. Hadits Taqririyah

Yakni hadits atas dasar persetujuan Nabi saw terhadap apa


yang dilakukan oleh para sahabatnya. Artinya nabi saw
membenarkan penafsiran atas perbuatan yang dilakukan oleh
sahabatnya.
Contoh
Contoh ketika nabi saw meliha sahabat memakan daging dhab
(sejenis biawak) dihadapannya, nabi saw tidak memberikan
komentar tentang apa yang dilakukan sahabatnya itu. Hal ini
menunjukkan bahwa diamnya nabi saw membolehkan (tidak
mengharamkan) memakan daging tersebut.
Macam-macam hadits
Ditinjau dari KUANTITASNYA:

a. Hadits Mutawattir

Yaitu hadits yang mempunyai kebenaran tingkat tinggi karena


banyak perawi yang meriwayatkan, baik dari kalangan
sahabat maupun generasi sesudahnya dan dipastikan diantara
mereka tidak ada kesepakatan dusta.

Contoh

Hadits Nabi saw: “Barang siapa berdusta atas namaku dengan


segaja, maka tempatnya adalah neraka” (HR Bukhari, Muslim,
Ad-Darimi, Abu Daud, Ibnu Majah, Tirmidzi, Abu Hanifah,
Thabrani, dan Hakim)

9 rawi
b. Hadits Masyhur

Yaitu hadits yang diriwayatkan dari tiga sanad yang berlainan


dan tingkat kualitas keontetikannya satu tingkat di bawah
hadits mutawattir.

Contoh

Hadits nabi saw, “Orang islam ialah orang-orang yang tidak


mengganggu orang lainnya dengan lidah dan tangannya” (HR
Bukhari, Muslim, Tirmidzi)
Contoh 3 Sanad berlainan

Sanad Bukhari Sanad Muslim Sanad Tirmidzi

Adam Said Qutaidah

Syu‟bah Yahya Al-Lais

Abdullah bin Safar Abu Burdah Al-Qa‟qa

As-Syabi Abu Musa Abu Salih

Abdullah bin Amr Rasulullah saw Abu Hurairah

Rasulullah saw Rasulullah saw


c. Hadits Ahad

Yaitu hadits yang hanya diriwayatkan oleh satu atau dua


orang perawi, sehingga tidak mencapai derajat mutawattir

Contoh: Telah menceritakan kepada kami Muslim bin


Ibrahim berkata, telah menceritakan kepada kami Hisyam
bin Abu Abdullah berkata, telah menceritakan kepada kami
Yahya bin Abu Katsir dari Muhammad bin „Abdurrahman
dari Jabir bin „Abdullah berkata, “Rasulullah saw shalat di
atas tunggangannya menghadap kemana arah
tunggangannya menghadap. Jika Beliau hendak
melaksanakan shalat yang fardlu, maka beliau turun lalu
shalat menghadap kiblat.” (HR Bukhari)

1 perawi
Macam-macam hadits
Ditinjau dari KUALITASNYA:

a. Hadits Sahih

Yaitu hadits yang hanya diriwayatkan oleh perawi yang adil,


kuat hafalanya, tajam penelitiannya, sanadnya bersambung
kepada rasulullah saw, tidak tercela, dan tidak bertentangan
dengan riwayat orang yang lebih terpercaya. Hadits ini
dijadikan sebagai sumber hukum utama.

Hadis sahih dapat dilihat dari kitab hadits yang diriwayatkan


oleh Bukhari dan Muslim dalam kitabnya Sahih Bukhari dan
Sahih Muslim.
b. Hadits Hasan

Yaitu hadits yang hanya diriwayatkan oleh perawi yang adil,


tetapi kurang kuat hafalanya, sanadnya bersambung kepada
rasulullah saw, tidak cacat/ tidak mengerjakan dosa, dan tidak
bertentangan dengan riwayat orang yang lebih terpercaya.
Hadits ini dijadikan sebagai sumber hukum dalam beribadah.

Hadits Hasan dapat dilihat dalam kitab hadits yang ditulis oleh
An-Nasa‟I, At-Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Majah, dan Ahmad bin
Hambal.
c. Hadits Dha‟if

Yaitu Hadits yang tidak bersambung sanadnya, atau sanadnya


termasuk orang yang cacat/ bukan orang Islam, belum baligh,
dikenal pendusta, pelupa, sering berbuat tercela. Hadits ini
tidak memenuhi kualitas hadits shahih dan hasan. Para ulama
mengatakan bahwa hadits ini tidak dijadikan sebagai hujjah,
tetapi dapat digunakan sebagai motivasi dalam beribadah
Contoh

Barangsiapa yang berkatakepada orang miskin,


”bergembiralah”, maka wajib baginya surga. (HR Ibnu „Adi).
Diantara sanad hadits ialah Abu Mali bin Harun. Menurut Imam
Yahya, ia pendusta. Sedangkan Ibnu Hiban menvonisnya
sebagai pemalsu hadits/ hadits palsu (maudlu)
d. Hadits Maudu‟

Yaitu hadits yang bukan bersumber kepada rasulullah saw,


atau hadits palsu. Dikatakan hadits padahal bukan sama sekali
hadits. Hadits ini jelas tidak dapat dijadikan sebagai landasan
hukum.
Penerapan Pemahaman
1. Membaca dan mempelajari Hadits, khusunya Hadits shahih
2. Dapat menghafal hadits-hadits pendek untuk dijadikan
bahan berdakwah
3. Menghindari hadits-hadits palsu, agar tidak salah dalam
beribadah dan beramal
4. Mengenal (mengetahui) sejarah hadits atau memiliki
beberapa buku hadits
5. Menempatkan hadits sebagai sumber hukum kedua