Anda di halaman 1dari 2

1.

Coba jelaskan perbedaan urutan derajat urgensi aspek kapabilitas, kompatibilitas dan
akseptabilitas pada tiap tingkatan poisisi pemerintahan ?

1) Kapabilitas adalah kemampuan intelektual dan kualitas moral pimpinan yang dapat dilihat
dari rekam jejaknya (track record) dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam memimpin
organisasi yang pernah dipimpinnya. Kemampuan intelektual tidak hanya dilihat dari
pendidikan formal yang ditempuh, tetapi dapat dilihat juga dari kecepatannya memahami
dan mengambil sikap terhadap berbagai permasalahan aktual serta kemampuannya
memprediksi bahwa masa depan secara visioner.

2) Kompatibilitas adalah kemampuan untuk menyesuaikan berbagai tuntutan, permintaan,


perintah yang datang dari sumber-sumber berlainan, yang mungkin saling bertentangan.
Seorang pemimpin harus teguh dalam pendirian, tetapi luwes dalam implementasinya,
karena dia harus berhadapan dengan berbagai kelompok dengan berbagai kepentingan.
Luwes dalam hal ini bukan berarti tidak memiliki prinsip, tetapi menyesuaikan dengan situasi
dan kondisi setempat tanpa harus mengorbankan prinsip atau keputusan yang telah
ditetapkan sebelumnya.

3) Akseptabilitas adalah daya terima dari bawahan yang dipimpinnya ataupun dari para
pengikutnya. Daya terima ini dapat dilihat dari rasa hormat bawahan maupun pengikutnya
Secara tulus, bukan rasa hormat yang dibuat- buat untuk sekedar menyenangkan hati
pemimpin. Karena rasa hormat yang tulus akan mendorong bawahan atau pengikut siap
berkorban baik waktu, tenaga, pikiran, bahkan uang untuk mendukung keputusan yang telah
diambil oleh pemimpin. Para bawahan atau pengikut yakin bahwa dengan mendukung si
pemimpin maka tujuan atau cita-cita bersama akan dapat tercapai. Sebagai contoh, ,
mejelang pemilihan presiden maupun kepala daerah biasanya muncul kelompok-kelompok
pendukung atau tim sukses yang keberja secara sukarela untuk kemenangan calon
presiden yang didukungnya.

2. Bagaimana seharusnya kepemimpinan kepala daerah pada era otonomi daerah sekarang
?

Ciri penting kepemimpinan dalam sektor publik atau kepemimpinan menurut Mark Tucci
(2008).

1). Membangun kesatuan tujuan (building unity of purpose), dengan cara berbagai visi
(shared vision) yaitu melibatkan sekaligus mendidik aparatur dan mempertegas hal-hal yang
menjadi tanggung jawab pada dirinya; sehingga tidak berkembang ke arah pola-pola
mengambil manfaat pribadi. Dalam posisi ini, visi bersama yang dibangun ialah tujuan
berbangsa dan bernegara.

2). Melakukan klarifikasi arahan (clarifying direction), berupa langkah-langkah strategis yang
diturunkan dari visi dan pola-pola aksi yang terukur. Hal ini penting untuk semua aparat
memahami sasaran ideal yang ingin dicapai dan sekaligus aparat dapat memahami rencana
kerja detail yang menjadi bagian tugasnya, inilah kesempatan terbaik untuk menjabarkan
visi menjadi kenyataan.

3). Bergeser dari pendekatan transaksi menjadi tranformasi, yaitu berbagi visi dan
memahami tujuan operasional dan organisasional yang lebih luas guna menghindari fokus
yang sempit dan hanya dalam orientasi transaksi individual. Mendorong kontribusi individual
kepada sasaran yang lebih tinggi dan tujuan yang lebih luas serta untuk mencapai hal-hal
yang lebih bernilai, lebih efektif dan lebih efisien atas sistem dan proses berbagai transaksi.

Sumber : 1. ADPU4334 (hal 8.17)


2. ADPU4334 (hal 8.16)

Terimakasih.

Anda mungkin juga menyukai