Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH PENANGANAN TRAUMA PADA REMAJA YANG

MENGALAMI KASUS BULLYING


Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah perawatan trauma.
Dosen : Ns. Asmadi M.Kep Sp.Kom

Disusun oleh :
Cicih Kuraesih (CKR0180083)
Cindy Adhi Gusti (CKR0180084)
Dewi Nurhayanti (CKR0180085)
Lilis Rismayanti (CKR0180099)
Pebbi Irmala Desinawati (CKR0180105)

Keperawatan Reguler C

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUNINGAN


Jl. Lingkar Kadugede No.2 Kuningan Jawa Barat Indonesia (0232) 875 847 fax:(0232) 875 123
Website : Stikku.ac.id email : info@stikeskuningan.ac.id
KATA PENGATAR

Bismallahirrahmanirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullah hiwabarakatuh.

            Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat,
nikmat dan hidayah-Nyalah sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang penanganan
trauma pada remaja yang mengalami kasus bullying. Makalah ini kami buat untuk memenuhi
salah satu tugas mata kuliah perawatan trauma.

            Dalam hal ini tak luput kami ucapkan terima kasih kepada Dosen mata kuliah Perwatan
Trauma yaitu Bapa Ns. Asmadi M.Kep Sp.Kom yang telah memberi tugas membuat makalah ini,
dan kami juga mohon maaf jika terdapat kesalahan dalam makalah ini. Demikianlah, makalah ini
semoga bermanfaat bagi yang membacanya. Terima kasih.

Wassalammu’alaikum warahmatullah hiwabarakatuh.

Kuningan, 19 April 2021

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGATAR.........................................................................................................................i
DAFTAR ISI....................................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang......................................................................................................................1
B. Rumusan Masalah.................................................................................................................2
C. Tujuan...................................................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Bullying..............................................................................................................3
B. Faktor Faktor yang Mempengaruhi Bullying.......................................................................4
C. Bentuk-Bentuk Bullying.......................................................................................................6
D. Dampak Perilaku Bullying...................................................................................................8
E. Cara Mengatasi Bullying......................................................................................................9
F. Pemulihan Trauma Pada Korban Bullying.........................................................................11
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan.........................................................................................................................15
B. Saran...................................................................................................................................15
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................................16

ii
BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Di Indonesia, penelitian tentang fenomena bullying masih baru. Hasil studi oleh ahli
intervensi bullying, Huenck (dalam Yayasan Semai Jiwa Amini, 2008) mengungkap bahwa
10-60% siswa di Indonesia melaporkan mendapat ejekan, cemoohan, pengucilan,
pemukulan, tendangan, ataupun dorongan, setidaknya sekali dalam seminggu.
Di sekolah masih banyak siswa yang kurang mencapai perkembangan yang optimal.
Salah satu fenomena yang menyita perhatian di dunia pendidikan zaman sekarang adalah
kekerasan (bullying) di sekolah, baik yang dilakukan oleh guru terhadap siswa, maupun oleh
siswa terhadap siswa lainnya. Maraknya aksi tawuran dan kekerasan (bullying) yang
dilakukan oleh siswa di sekolah yang semakin banyak menghiasi deretan berita di halaman
media cetak maupun elektronik menjadi bukti telah tercerabutnya nilai-nilai kemanusiaan.
Tentunya kasus-kasus kekerasan tersebut tidak saja mencoreng citra pendidikan yang selama
ini dipercaya oleh banyak kalangan sebagai sebuah tempat di mana proses humanisasi
berlangsung, tetapi juga menimbulkan sebuah pertanyaan, bahkan gugatan dari berbagai
pihak yang semakin kritis mempertanyakan esensi pendididkan di sekolah dewasa ini.
Fenomena bullying telah lama menjadi bagian dari dinamika sekolah. Umumnya orang lebih
mengenalnya dengan istilah-istilah seperti penggencetan, pemalakan, pengucilan, intimidasi
dan lain-lain. Istilah bullying sendiri memiliki makna lebih luas, mencakup berbagai bentuk
penggunaan kekuasaan atau kekuatan untuk menyakiti orang lain sehingga korban merasa
tertekan, trauma dan tak berdaya. Praktik bullying bisa terjadi diberbagai tingkat sekolah
baik SD, SMP, SMA bahkan Perguruan Tinggi.
Para ahli menyatakan bahwa school bullying mungkin merupakan bentuk agresifitas antar
siswa yang memiliki dampak paling negative bagi korbannya. Hal ini disebabkan adanya
ketidak seimbangan kekuasaan dimana pelaku berasal dari kalangan siswa atau siswi yang
lebih merasa senior melakukan tindakan tertentu kepada korban, yaitu siswa atau siswi yang
lebih junior dan mereka merasa tidak berdaya karena tidak dapat melakukan perlawanan.
Dampak lain yang dialami oleh korban bullying adalah mengalami berbagai macam
gangguan yang meliputi kesejahteraan psikologis yang rendah (low psychological well-

1
being) dimana korban akan merasa tidak nyaman, takut, rendah diri, serta tidak berharga,
penyesuaian sosial yang buruk dimana korban merasa takut ke sekolah bahkan tidak mau
sekolah, menarik diri dari pergaulan, prestasi akademik yang menurun karena mengalami
kesulitan untuk berkonsentrasi dalam belajar, bahkan berkeinginan untuk bunuh diri dari
pada harus menghadapi tekanan-tekanan berupa hinaan dan hukuman.
Hal ini sangat berbahaya karena dapat merugikan korban bullying dan bahkan dapat
menyebabkan korban bunuh diri atau kematian terhadap korban. Sehingga, masalah bullying
yang marak terjadi sekarang ini seharusnya mendapat perhatian khusus.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari bullying?
2. Apa saja
3. Apa saja bentuk-bentuk bullying?
4. Apa saja dampak perilaku bullying?
5. Bagaimana cara mengatasi bullying?
6. Bagaimana pemulihan trauma pada korban bullying?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari bullying.
2. Untuk mengetahui faktor faktor yang mempengaruhi bullying.
3. Untuk mengetahui bentuk-bentuk bullying.
4. Untuk mengetahui dampak perilaku bullying.
5. Untuk mengetahui cara mengatasi bullying.
6. Untuk mengetahui pemulihan trauma pada korban bullying.

2
BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Bullying
Bullying berasal dari kata "bully" yang artinya penggertak atau orang yang mengganggu
orang lain yang lemah. Bullying secara umum juga diartikan sebagai perpeloncoan,
penindasan, pengucilan, pemalakan, dan sebagainya (Chakrawati, 2015 : 11). Bullying
terjadi karena adanya perpeloncoan, pengucilan, pemalakan, penindasan dari pihak kuat
kepada pihak yang lemah dan dilakukan secara berulang-ulang kepada korbanya.
Perilaku bullying adalah suatu tindakan kekerasan yang dilakukan oleh seseorang atau
kelompok secara fisik, verbal, psikis, dan sosial. Selain itu, adakesenjangan untuk
merugikan orang lain dan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan akan kekuasaan. Perilaku
ini dilakukan secara berulang-ulang dengan tujuan menyerang secara emosional yang
disertai dengan ancaman.
Bullying adalah tindakan bermusuhan yang dilakukan secara sadar dan disengaja yang
bertujuan untuk menyakiti, seperti menakuti melalui ancaman agresi dan menimbulkan teror.
Termasuk juga tindakan yang direncanakan maupun yang spontan, bersifat nyata atau
hampir tidak kentara, di hadapan seseorang atau di belakang seseorang, mudah untuk
diidentifikasi atau terselubung dibalik persahabatan, dilakukan oleh seorang anak atau
kelompok anak. Sehingga dapat disimpulkan bahwa perilaku bullying adalah suatu tindakan
negatif berulang yang dilakukan secara sadar dan disengaja yang bermaksud untuk
menyebabkan ketidaksenangan atau menyakitkan orang lain.
Definisi lain tentang bullying dapat dikemukakan sebagai berikut:
a. Bullying adalah penggunaan kekuasaan atau kekuatan untuk menyakiti seseorang
atau sekelompok, sehingga korban merasa tertekan, trauma dan tidak berdaya.
b. Bullying sebagai penggunaan agresi dalam bentuk apapun yang bertujuan menyakiti
ataupun menyudutkan orang lain secara fisik maupun mental. Bullying dapat berupa
tindakan fisik,verbal, emosional, dan juga seksual.
c. Bullying adalah bentuk-bentuk perilaku berupa pemaksaan atau usaha menyakiti
secara fisik maupun psikologis terhadap seseorang atau kelompok yang lebih lemah
oleh seseorang atau sekelompok orang yang mempersiakannya lebih kuat.

3
Terjadinya bullying di sekolah menurut Salmivalli dan kawan-kawan merupakan proses
dinamika kelompok dan di dalamnya ada pembagian peran. Peran-peran tersebut adalah
bully, asisten bully, reinfocer, defender, dan outsider.
- Bully yaitu siswa yang dikategorikan sebagai pemimpin, berinisiatif dan aktif terlibat
dalam perilaku bullying.
- Asisten bully, juga terlibat aktif dalam perilaku bullying, namun ia cenderung
bergantung atau mengikuti perintah bully.
- Rinfocer adalah mereka yang ada ketika kejadian bullying terjadi, ikut menyaksikan,
mentertawakan korban, memprofokasi bully, mengajak siswa lain untuk menonton dan
sebagainya.
- Defender adalah orang-orang yang berusaha membela dan membantukorban, sering kali
akhirnya mereka menjadi korban juga.
- Outsider adalah orang-orang yang tahu bahwa hal itu terjadi, namun tidak melaukan
apapun, seolah-olah tidak peduli.
Pada intinya, bullying merupakan salah satu tindakan kekerasan yang bertujuan untuk
melukai fisik maupun psikologis dan mengganggu orang lain yang lemah. Bullying dapat
dilakukan oleh sendiri maupun kelompok dengan memilih orang-orang yang dianggap
rentan dan lemah yang akan dijajdikan korban. Perilaku bullying dilakukan secara berulang-
ulang untuk menyerang emosional korban yang biasanya disertai dengan ancaman

B. Faktor Faktor yang Mempengaruhi Bullying


Bullying dapat terjadi karena kesalahpahaman (prasangka prejudice) antarpihak yang
berinteraksi. Bullying bukanlah merupakan suatu tindakan yangkebetulan terjadi, melainkan
dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti faktor sosial, budaya dan ekonomi. Biasanya
dilakukan oleh pihak - pihak yang merasa lebih terhormat untuk menindas pihak lain untuk
memperoleh keuntungan tertentu. Bullying dapat terjadi dimana saja seperti di keluarga,
masyarakat, dan sekolah yang merupakan tri pusat pendidikan (Wiyani : 2014).
Anderson dan Bushman dalam Saifullah (2014 : 203) menyatakan bahwa faktor-faktor
yang mempengaruhi terjadinya perilaku bullying meliputi faktor personal dan faktor
situasional. Faktor personal adalah semua karakteristik yang ada pada siswa, termasuk sifat-
sifat kepribadian, sikap dan kecenderungan genetik atau bawaan. Pada faktor personal inilah
dijelaskan bahwa karakteristik individu terdapat pada kepribadian, hal ini mempengaruhi
4
konsep diri seseorang dalam pergaulanya sehari-hari terutama lingkungan sekolah sehingga
akan memicu timbulnya bullying.
Sejalan dengan Anderson dan Bushman, Rahayu (2017 : 23) menyebutkan bahwa
terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya tindakan bullying diantaranya:
faktor individu, faktor keluarga, dan faktor sekolah.
1) Faktor individu adalah faktor yang berasal dari pengalaman individu sehingga
membentuk perilaku yang tampak antara lain :
a. Pernah menjadi korban bullying (balas dendam),
b. Ingin diakui,
c. Ingin menunjukan eksistensi,
d. Mencari perhatian,
e. Menutupi kekurangan diri,
f. Kepribadian,
g. Komunikasi interpersonal,
h. Pengalaman masa lalu yang menyakitkan (trauma) i. Sifat agresif yang tinggi
(tempramen).
2) Faktor keluarga, adalah faktor pertama bagaimana perilaku bullying itu dapat terjadi.
Keluarga sebagai sekolah pertama seorang anak, maka apa yang dilakukan oleh orang
tua dan lingkungan keluarga akan ditiru anak. Oleh karena itu, keluarga harus berhati -
hati dalam bertindak. Beberapa perilaku keluarga yang dapat mengakibatkan perilaku
bullying, yaitu ;
a. Kurangnya kasih sayang dan perhatian orangtua,
b. Sering mendapat perlakuan kasar di rumah,
c. Pengaruh tayangan TV yang negatif saat di rumah.
3) Faktor lingkungan sekolah, lingkungan sekolah dapat mempengaruhi perilaku bullying
dan sebagai tempat terjadinya praktik bullying. Misalnya, senioritas yang dijunjung
tinggi di lingkungan sekolah yang berakibat adanya jarak antara senior dan junior.
Selain senioritas, ada juga peran kelompok sebaya dan iklim sekolah.
Selain faktor-faktor yang disebutkan diatas faktor keluarga merupakan salah satu faktor
yang dapat mempengaruhi tindakan bullying. Faktor keluarga yang dapat mempengaruhi
tindakan bullying diantaranya adalah gaya pengasuhan. Gaya pengasuhan yang diterapkan

5
dalam suatu keluarga akan berdampak pula pada terbentuknya perilaku anak. Baumrind
dalam Berkowitz (1995 : 234) menyebutkan bahwa terdapat tiga tipe gaya pengasuhan
orangtua dan pola perilaku anak yang diperkirakan akan terbentuk, yaitu :
Gaya Orang Tua Perilaku Anak
Otoriter Bingung - mudah tersinggung
Menetapkan aturan dengan kaku Tidak Takut, gelisah Menjengkelkan Campuran
menerangkan aturan dengan jelas perilaku antara agresif dan suka
Menerapkan disiplin dengan keras, suka menyendiri Murung dan sedih
menghukum Kurang hangat dan dekat
Bersikap marah dan tidak senang
Otoritatif Enerjik – bersahabat
Menerapkan aturan dengan ketat Mandiri Memiliki tingkat energi tinggi
Mengkomunikasikan aturan dengan jelas Ceria, bersahabat Mau bekerja sama
Tidak menyerah terhadap perlawanan anak dengan orang dewasa Mampu
Tidak senang dan jengkel terhadap menghadapi stres
kenakalan anak Senang dan mendukung
perilaku konstruktif anak
Permisif – pemurah Impulsif – agresif
Tidak mengkomunikasikan aturan dengan Menentang - tidak patuh Kurang percaya
jelas Tidak menegakan aturan Menyerah diri Kurang kontrol diri Agresif Impulsif
pada perlawanan atau tangisan anak Tidak mempunyai tujuan
Mengerjakan disiplin yang tidak konsisten
Cukup hangat Menyukai ungkapan impulsif

C. Bentuk-Bentuk Bullying
Menurut Murphy dalam Hidayati (2012 : 43) menyebutkan bahwa apabila ditinjau dari
bentuknya, bullying dapat dibedakan menjadi :
a. Direct bullying, yakni ketika seorang anak diolok-olok, diganggu, ataupun dipukul oleh
anak lain. Bullying yang bersifat langsung maupun bersifat fisik.
b. Indirect Bullying, meupakan jenis bullying yang lebih tidak kasat mata namun
dampaknya sama buruknya bagi korban. Bullying jenis ini juga dikenal dengan istilah
relational bullying atau bullying sosial (social bullying).
c. Cyberbullying, yaitu ketika seseorang mengalami kekerasan, dipermalukan,
memperoleh ancaman oleh orang lain melalui media internet ataupun melalui berbagai
media teknologi interaktif seperti telepon seluler.

6
Sejalan dengan Murphy, Chakrawati (2015 : 14) menyebutkan bahwa bentuk bullying
secara garis besar dibedakan menjadi tiga, yaitu:
a. Fisik Bullying seperti ini bertujuan menyakiti tubuh seseorang. Misalnya, memukul,
mendorong, menampar, mengeroyok, menendang, menjegal, menjahili, dan sebagainya.
b. Verbal Bullying Verbal, artinya menyakiti dengan ucapan. Misalnya mengejek,
mencaci, menggosip, memaki, membentak, dan sebagainya.
c. Psikis Bullying seperti ini menyakiti korban secara psikis. Misalnya mengucilkan,
mengintimidasi, atau menekan, mengabaikan, mendiskriminasi dan sebagainya.
Bauman dalam Saifulah (2016 : 2015) mengungkapkan tipe-tipe bullying, diantaranya :
a. Overt Bullying (Intimidasi Terbuka) Meliputi bullying secara fisik dan secara verbal,
misalnya dengan mendorong hingga jatuh, memukul, mendorong dengan kasar,
memberi julukan nama, mengancam dan mengejek dengan tujuan untuk menyakiti.
b. Indirect Bullying (Intimidasi Tidak Langsung) Meliputi agresi relasional, dimana
bahaya yang ditimbulkan oleh pelaku bullying dengan cara menghancurkan hubungan-
hubungan yang dimiliki oleh korban, termasuk upaya pengucilan, menyebarkan gosip,
dan meminta pujian atau suatu tindakan tertentu dari kompensasi persahabatan.
Bullying dengan cara tidak langsung sering dianggap tidak terlalu berbahaya jika
dibandingkan dengan bullying secara fisik, dimaknakan sebagai cara bergurau antar
teman saja. Padahal relational bullying lebh kuat terkait dengan distress emosional
daripada bullying secara fisik. Bullying secara fisik akan semakin berkurang ketika
siswa menjadi lebih dewasa tetapi bullying yang sifatnya merusak hubungan akan terus
terjadi hingga usia dewasa.
c. Cyberbullying (Intimidasi melalui dunia maya) Seiring dengan perkembangan dibidang
teknologi, siswa memiliki media baru untuk melakukan bullying, yaitu melalui sms,
telpon maupun internet. Cyberbullying melibatkan penggunaan teknologi informasi dan
komunikasi, seperti e-mail, telpon seluler, dan peger, sms, website pribadi yang
menghancurkan reputasi seseorang, seurvei di website pribadi yang merusak reputasi
orang lain, yang dimaksudkan adalah untuk mendukung perilaku menyerang seseorang
atau sekelompok orang, yang ditujukan untuk menyakiti orang lain, secara berulang-
ulang kali.

7
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa tidakan bullying dapat dilakukan
dengan berbagai cara yang dapat merugikan dan mengancam korbanya. Secara umum
bullying memiliki berbagai macam bentuk sesuai dengan tindakan yang dilakukan oleh
pembuly atau bulies.

D. Dampak Perilaku Bullying


Dampak perilaku bullying terjadi pada siswa adalah siswa mengalami ketakutan dan
kecemasan saat berada di sekolah menurunnya kesejahteraan psikologis dan penyesuaian
sosial yang buruk seperti dendam, kesal, tertekan, takut, malu, sedih, tidak nyaman tetapi
tidak mampu dihadapinya serta kesulitan menyesuaikan diri di lingkungan sekolanya karena
pandangan siswa lain yang terlihat buruk.
Dampak perilaku bullying dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu dampak pada korban
bullying dan dampak pada pelaku bullying.
a. Dampak pada korban
Dampak perilaku bullying pada korban secara langsung, yaitu rasa sakit pada bagian
tubuh akibat perilaku bullying fisik. Dampak tidak langsung dapat diartikan sebagai
dampak psikologis. Korban dapat mengalami halusinasi, keinginan bunuh diri, depresi,
konsep diri dan self-esteem yang rendah. Dampak psikologis perilaku bullying pada
korban diantaranya :
1. Perilaku yang ditampakkan seperti; korban sering terlihat menyendiri, saat di rumah
lebih senang untuk mengurung diri, school phobia, mudah berkeringat dingin saat
takut, dan cemas.
2. Perilaku yang terlihat seperti; dendam, kesal, tertekan, takut, malu, sedih, tidak
nyaman, meminta pindah sekolah, dan tidak mau bermain/bersosialisasi dengan
teman sebaya ataupun dengan lingkungan sekitar.
3. Adanya ketidakmampuan secara psikologis untuk menghadapi atau melawan
bullying yang diterimanya.
4. Kesulitan penyesuaian diri terutama di lingkungan sekolah, dapat dilihat dengan
prestasi belajar dan konsentrasi belajar yang menurun.
5. Emosi yang sering muncul adalah mudah sensitif, menangis, menjadi pendiam,
mudah marah, mudah tersinggung.
b. Dampak perilaku bullying pada pelaku
8
Diantaranya:
1. Prestasi akademik berkurang
2. Sering membolos
3. Sikap menghormati guru dan teman sangat rendah
4. Sering terlibat perkelahian
5. mencuri barang-barang atau merusak
6. Minum alkohol dan merokok (lebih parahnya mengkonsumsi narkoba)
7. Merasakan iklim negatif di sekolah Tindakan bullying memiliki dampak yang tidak
hanya pada korbanya, melainkan juga berdampak pada pelaku tindakan bullying
atau bullies.
Dampak pada pelaku bullying atau bullies dapat mengarah pada kenakalan remaja yang
serius kedepanya atau kriminalitas jika tidak ditangani dengan baik. Tindakan bullying juga
dapat berdampak pada korban apabila tidak tertangani dengan baik.
Korban bullying akan menjadi pelaku bullying jika tidak ditangani dengan baik, karena
pengalaman pernah menjadi korban bullying akan berdampak pada perilaku yang terbentuk
(balas dendam).

E. Cara Mengatasi Bullying


Pencegahan agar anak tidak menjadi pelaku bullying orang tua harus mampu
mengembangkan kecerdasan emosional anak sejak dini. Ajarkan anak untuk memliki rasa
empati, menghargai orang lain, dan menyadarkan sang anak bahwa dirinya adalah mahluk
sosial yang membutuhkan orang lain dalam kehidupannya.
Beberapa tips mencegah terjadinya bullying :
1. Berikan mereka alternatif komunitas yang mengakuinya Pada dasarnya setiap
manusia membutuhkan pengakuan atas keberadaan dirinya, terlebih pada usia remaja
yang sedang dalam masa transisi dan krisis identitas, para remaja lebih senang
berkumpul dengan teman-teman sebaya yang menurutnya lebih bisa menerima dan
senasib dan sepenanggungan. Oleh karena itu kewajiban kita untuk memberikan
alternatif komunitas yang positif dan tetap memenuhi kriteria penerimaan identitas
para remaja, misalnya buat perkumplan pecinta alam atau wira usaha yang sesuai
dengan keiginannya. Membuat kelompok band, atau kelompok kesenian dan
sebagainya.
9
2. Putus mata rantai pelaku dan budaya bullying Biasanya budaya bullying diwariskan
dengan sistem kaderisasi yang kuat, motivasi senioritas adalah faktor yang
terkuatnya. Untuk menghindari gejala tersebut sebaiknya bimbinglah para remaja
dengan cara mengadakan kegiatan bersama antara generasi tersebut maupun
alumninya dan buatlah suatu ikatan supaya terbentuk jalinan. Persaudaraan yang
akan melahirkan kesadaran bahwa senior harus membimbing dan para junior harus
menghormati seniornya.
3. Ajarkan cara mengantisipasi kekerasan bukan melakukannya Latihan bela diri
misalnya merupakan salah satu alternatif pembentukan mental spiritual dan jasmani
yang kuat.
4. Tingkatkan kepedulian lingkungan sosial untuk mencegah praktek bullying Sudah
waktunya masyarakat ikut peduli dan melakukan pencegahan atas praktek bullying
yang terjadi di lingkungannya.
5. Dukung gerakan diet siaran televisi Batasi anak-anak dan remaja menonton televisi,
karena acara dan penampilan yang disiarkan televisi ikut membentuk masyarakat
pengaksesnya.
Berbagai strategi dalam mengantisipasi bullying dapat dilakukan dengan berbagai cara,
seperti yang diungkapkan oleh Abdullah (2013 : 53) bahwa ada beberapa strategi bagaimana
menghindari bullying :
1. Hindari tindakan bullying dan tak berteman dengan orang tersebut.
2. Tidak mudah terpancing emosi karena memang hal tersebut yang diinginkan oleh
pelaku. Untuk meredakan amarah dengan menarik nafas dalam-dalam, menghitung
sampai sepuluh, menulis kemarahan dalam tulisan atau pergi menjauh.
3. Bersikap berani lalu menjauh dan acuhkan pelaku bullying.
4. Adukan kepada guru, kepala sekolah, orangtua, atau siapapun yang dapat
menghentikan tindakan tersebut.
5. Bicarakan dengan orang lain yang dipercayai dan bisa memberikan saran atau jalan
keluar.
6. Cobalah untuk tidak membawa barang-barang berharga ke sekolah atau tidak
membawa uang jajan, sebagai penggantinya dengan membawa bekal.

10
Rudi (2010:7) menyatakan bahwa cara untuk mengurangi kemungkinan atau pencegahan
agar tidak menjadi sasaran tindakan bullying dapat dilakukan dengan;
a. Pertama, bantulah anak kecil dan remaja menumbuhkan self-esteem(harga diri) yang
baik. Anak ber-self esteem baik akan bersikap dan berpikir positif, menghargai dirinya
sendiri, menghargai orang lain, percaya diri, optimis, dan berani mengatakan haknya.
b. Kedua, mempunyai banyak teman. Bergabung dengan group berkegiatan positif atau
berteman dengan siswa yang sendirian.
c. Ketiga, kembangkan keterampilan sosial untuk menghadapi bullying, baik sebagai
sasaran atau sebagai bystander (saksi), dan bagaimana mencari bantuan jika mendapat
perlakuan bullying.
Orang tua, lingkungan sekitar, dan tenaga pendidik mempunyai peranan penting dalam
mencegah tindakan bullying, menurut Susanto (2016) pencegahan tindakan bullying
dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1. Selalu waspada terhadap perilaku yang tidak biasa. Meski tak memiliki gejala yang
sama, secara umum ada keluhan seperti sakit perut, khawatir, ketakutan, tidak mau ke
sekolah, mudah marah, gampang tersinggung, membangkang, atau ada perubahan
dalam tidur dan nafsu makan, merupakan pertanda ada masalah. Bisa kemungkinan
bullying atau ada masalah lain yang perlu didalami lebih jauh.
2. Jadilah role model positif bagi anak, lingkungan adalah faktor penting yang
mempengaruhi perilaku. Jika anak dibesarkan di lingkungan permisif dengan bully
berpotensi anak akan melakukan hal yang sama.

F. Pemulihan Trauma Pada Korban Bullying


Bullying atau lebih sering kita artikan sebagai penindasan adalah salah satu bentuk
tindakan bersifat negatif yang bertujuan untuk merendahkan seseorang. Tidak hanya secara
fisik, tapi tindak bullying juga dapat dilakukan secara verbal dengan menghina, mengancam
ataupun menyakiti seseorang menggunakan kata-kata ejekan. 
Tindakan bullying tentunya akan meninggalkan bekas luka pada korbannya. Namun tidak
seperti luka luar yang mudah disembuhkan, luka di dalam hati para korban bullying yang
berbentuk trauma justru lebih sulit dan membutuhkan jangka waktu yang lebih lama untuk
bisa sembuh total.

11
Korban-korban perundungan cenderung pasif, takut, hingga depresi menghadapi
kehidupannya. Padahal korban tersebut masih memiliki kesempatan untuk bangkit dan
berprestasi. Yang menjadi korban harus dibekali keberanian untuk pulih. Nah, berikut 5
langkah yang bisa Anda lakukan untuk menanamkan keberanian pada siswa korban bullying.
1. Beri tanggung jawab 
Seringkali korban bullying menerima kata-kata intimidasi yang menegaskan
bahwa korban tidak berguna atau hidup si korban tidak berharga sama sekali. Maka,
memberi tugas-tugas yang pasti bisa dilakukan oleh siswa dapat dicoba untuk
menumbuhkan kepercayaan diri dan keberanian. Sebelum menyelesaikan tugasnya
sendiri, biarkan siswa membantu pekerjaan yang bisa dilakukan bersama-sama. 
Ketika di sekolah, coba minta anak untuk membawakan buku dari kelas ke ruang
guru atau membersihkan papan tulis ketika berganti pelajaran. Selain itu, pekerjaan
rumah tangga di rumah seperti menyiapkan meja makan atau menyiram pot bunga dapat
mulai diberikan pada anak. Setiap anak menyelesaikan tugasnya, pastikan untuk
memberikan ucapan terima kasih yang tulus dan sampaikan betapa berharganya bantuan
yang telah ia berikan. 
2. Sediakan ruang eksplorasi bakat dan kemampuannya 
Pada dasarnya, pelaku maupun korban bullying memiliki karakteristik yang sama,
yaitu low self-esteem. Ini merupakan suatu keadaan ketika seorang individu
memandang rendah pada dirinya sendiri. Pihak pelaku melampiaskan perasaan itu
dengan merendahkan diri orang lain untuk menunjukkan kuasa, sementara pihak korban
merasakan dirinya lemah dan tidak dapat mengubah keadaan. Oleh karena itu, penting
untuk menemukan bakat dan kemampuan pada pihak-pihak yang terkait
dalam bullying. 
Memberikan siswa ruang untuk mengeksplorasi diri dapat membuka jalan untuk
menemukan bakat alaminya. Hal ini dapat dimulai dari minat anak. Apakah itu dalam
bidang sains, bahasa, seni, atau olahraga. Setiap individu diciptakan unik dengan
kelebihan dan kekurangan masing-masing. Bila perhatian difokuskan pada bagian
kelebihan, maka prestasi tentunya dapat dituai. Prestasi yang diraih anak dapat
memupuk keberanian dalam dirinya. 
3. Ajak siswa bergabung dengan klub olah raga 

12
Akan banyak sekali manfaat jika bergabung dengan klub olah raga. Olahraga
berguna untuk memperkuat daya tahan tubuh serta membantu melancarkan sirkulasi
darah. Selain itu olahraga juga dinilai sebagai salah satu cara terbaik untuk meredakan
stress. Hal ini dikarenakan olahraga mampu menurunkan tekanan darah serta hormon
depresan yang terdapat dalam tubuh. Olahraga juga mampu mengurangi waktu untuk
berfikir negatif ataupun teringat pada trauma bullying yang pernah dialami sebelumnya.
Selain itu juga, bentuk-bentuk latihan yang diberikan dapat membuat peserta mengenali
kelemahan dan kekurangan dalam dirinya. Selain menambah kebugaran, olah raga regu
juga akan mengasah kepercayaan diri dan kerja sama di dalam tim. Adanya komunikasi
dalam permainan ini tentunya mengembangkan lingkaran pertemanan siswa. 
Siswa yang terlihat susah bersosialisasi dan tidak memiliki teman cenderung
menjadi objek bullying. Oleh karena itu, membekali cara-cara berkomunikasi dapat
menanamkan keberanian dalam berteman. Bila siswa tidak memiliki ketertarikan pada
olah raga, aktivitas-aktivitas lain yang melibatkan fisik dapat dicoba seperti
menari, bersepeda, hiking, hingga membuat kerajinan tangan. 
4. Ajarkan berkomunikasi secara asertif 
Takut, marah, hingga depresi adalah perasaan yang diharapkan pelaku bullying
pada korban. Ketika korban menunjukkan perasaan-perasaan tersebut melalui ucapan
atau perilaku, maka pihak pelaku telah berhasil mengambil kendali pada perasaan
korban. Hal ini dapat terus berlanjut hingga korban tidak menunjukkan reaksi yang
diharapkan.  
Individu yang memiliki kemampuan asertif dapat merespon secara efektif situasi
yang berada di sekitarnya. Dalam hal ini, respon yang diberikan tetap tenang dan selalu
berfikir positif tanpa terlihat agresif ataupun pasif. Misalnya, ketika diejek mengenai
rambut yang dimiliki, siswa dapat menjawab "Terima kasih sudah turut memperhatikan
rambutku,". Atau ketika dicemooh, "Kamu bodoh dan pecundang,", maka ia
menjawab "Kalau aku berusaha, pasti aku mampu melakukannya,". Kemampuan asertif
ini dapat menanamkan keberanian dalam diri siswa korban bullying dan mencegahnya
kembali menjadi korban.
5. Pujilah secara tulus 

13
Pujian yang diberikan pada individu, terutama pada siswa dapat membuatnya
merasa dihargai. Bila hasilnya belum memuaskan, pujian dapat ditujukan pada
perjuangan yang telah ia lakukan. Pada korban bullying, sikap dihargai ini perlu
ditekankan. Pujian yang tepat akan memacu sang anak untuk semakin berprestasi
dan percaya diri menghadapi kehidupan. Namun, perlu diingat juga terlalu berlebihan
memuji hanya akan menjatuhkan mentalnya.
Menanamkan keberanian pada korban bullying ini mungkin membutuhkan waktu yang
tidak sebentar. Dukungan baik di sekolah maupun di rumah sangat diperlukan. Namun,
semua keadaan pasti dapat dihadapi, dan kesempatan untuk berprestasi senantiasa terbuka
lebar.  

14
BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan
Bullying adalah tindakan di mana satu orang atau lebih mencoba untuk menyakiti atau
mengontrol orang lain dengan cara kekerasan. Bullying tidak hanya dilakukan secara
langsung. Namun, bullying juga dapat dilakukan melalui media social atau internet, yang
disebut Cyberbullying.
Pada umumnya orang melakukan bullying karena merasa tertekan, terancam, terhina,
dendam, dan lain sebagainya. Bullying disebabkan oleh korban dari keadaan lingkungan
yang membentuk kepribadiannya menjadi agresif dan kurang mampu mengendalikan emosi,
juga diakibatkan tayangan televisi yang dapat mempengaruhi remaja.
Pemulihan trauma pada korban bullying dapat dilakukan dengan cara seperti beri
tanggung jawab, sediakan ruang eksplorasi bakat dan kemampuannya, ajak siswa
bergabung dengan klub olah raga, jarkan berkomunikasi secara asertif, dan pujilah secara
tulus.

B. Saran
1. Saya mengusulkan supaya pemerintah memberi perhatian lebih terhadap kasus bullying,
karena sekarang ini sebagian besar remaja melakukan bullying.
2. Saya juga mengusulkan supaya sekolah dapat memilih guru dengan benar,supaya dapat
membimbing siswa dan memperhatikan siswa. Tidak hanya memarahi siswa yang malah
akan menyebabkan aksi bullying.

15
DAFTAR PUSTAKA
https://www.ruangguru.com/blog/memulihkan-trauma-bullying-dengan-menanamkan-
keberanian-pada-siswa
https://www.idntimes.com/life/inspiration/dwi-kurniawati-lestari/jangan-sepelekan-5-cara-ini-
bisa-membantumu-atasi-trauma-bullying-c1c2/5
Makalah Bullying - Makalah (papermakalah.com)
https://www.academia.edu/29743573/Makalah_Cyberbullying
https://kelompok4ictunila.wordpress.com/2016/05/18/perilaku-bullying-di-kalangan-remaja/
(DOC) Upaya Penanganan Kasus Bullying pada Remaja | meul isti - Academia.edu

16