Anda di halaman 1dari 28

Critical Book Review

“STRATEGI BELAJAR MENGAJAR”


JUDUL : PROPOSAL PENGEMBANGAN MEDIA PANGGUNG BONEKA
INTERAKTIF UNTUK MENGEMBANGKAN BAHASA SISWA KELAS 2 SD IT
UMMU HAFIDZAH KECAMATAN BIRU-BIRU

OLEH:

Nama Mahasiswa : Nurul Mulkan Karima

NIM : 1173111076

Mata Kuliah : Seminar Masalah Aktual Bidang


Pendidikan

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIMED
2021
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat rahmat dan
karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas Critical Book Report mata kuliah
“seminar masalah aktual”.Adapun judul buku yang akan kami kritik yaitu “Strategi Belajar
Mengajar“ yang dikarang oleh Drs. Syaiful Bahri Djamarah, M.Ag. dan Drs. Aswan Zain
dengan buku pembanding yaitu “Diktat Strategi Belajar Mengajar” yang dikarang oleh Tim
Dosen Fakultas Ekonomi.
Kami berharap Critical Book Report ini dapat berguna bagi para pembaca dan juga bagi
kami selaku penulis tugas ini.
Kami menyadari bahwa tugas ini masih jauh dari kata sempurna.Untuk itu kami sangat
mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca untuk menambah kesempurnaan tugas ini.

Medan, Desember 2021

Penulis
Identitas Buku

A. Buku Utama
1. Judul Buku : Strategi Belajar Mengajar
2. Nama Pengarang : Drs. Syaiful Bahri Djamarah, M.Ag.dan Drs. Aswan
a. Zain
3. Penerbit : PT RINEKA CIPTA, Jakarta
4. Tahun Terbit : 2013
5. Jumlah Halaman :226 halaman

B. Buku Pembanding
1. Judul Buku : Strategi Belajar Mengajar
2. Pengarang : Ahmad Sabri
3. Penerbit : Quantum Teaching
4. Tahun Terbit : Cetakan ketiga, Maret 2010
5. Kota Terbit : Ciputat-Indonesia
6. ISBN : 979-97811-8-3
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Buku adalah media yang sangat berperan penting dalam dunia pendidikan. Sebagaimana
pepatah mengatakan “buku adalah jendela dunia”. Hal ini sudah dapat diartikan bahwa buku
adalah salah satu jalan untuk menentukan kemajuan dunia. Oleh sebab itu, buku yang diberikan
kepada para pelajar haruslah dimanfaatkan sesuai dengan fungsinya.Namun saat ini sudah jarang
para pelajar baik itu anak sekolah maupun mahasiswa yang gemar membaca buku, terutama
buku pelajaran.Seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih, para pelajar
lebih memilih media elektronik sebagai sumber belajar.Makauntuk menambah minat pelajar
dalam membaca buku, maka kita dapat melakukan pengkritikan terhadap buku guna untuk
menambah minat pelajar dalam membaca buku dan menambah wawasan pelajar terhadap buku.

B. Tujuan
1. Untuk menyelesaikan tugas Critical Book Report mata kuliah Strategi Pembelajaran.
2. Untuk mengetahui keunggulan dan kelemahan dari buku yang di kritik.
3. Untuk menambah wawasan dan pengalaman mahasiswa dalam hal mengkritik buku mata
pelajaran.
C. Manfaat
1. Hasil dari kritikan terhadap buku ini dapat dijadikan sebagai perbandingan terhadap buku
lain.
2. Dapat memahami keunggulan dan kelemahan buku Strategi Belajar Mengajar
3. Dapat menambah wawasan dan pengalaman mahasiswa dalam hal mengkritik buku mata
pelajaran.
BAB II
RINGKASAN ISI BUKU

A. Ringkasan Buku Utama ( Strategi Belajar Mengajar, Drs. Syaiful Bahri Djamarah,
M.Ag. dan Drs. Aswan Zain)
BAB I :PENDAHULUAN

Belajar mengajar adalah suatu kegiatan yang bernilai edukatif.Eduakasi yang bernilai
edukatif dikarenakan kegiatan belajar mengajar yang dilakukan, diarahkan untuk mencapai
tujuan tertentu yang telah dirumuskan sebelum pengajaran dilakukan.

Media sumber belajar adalah alat bantu yang berguna dalam kegiatan belajar mengajar.
Alat bantu dapat mewakili sesuatu yang tidak dapat disampaikan guru via kata-kata atau
kalimat. Kesulitan anak didik memahami konsep dan prinsip tertentu dapat diatasi dengan
bantuan alat bantu.

Pengembangan variasi mengajar yang dilakukan oleh guru pun salah satunya adalah
dengan memanfaatkan variasi alat bantu, baik dalam hal ini variasi media pandang, variasi
media dengar, maupun variasi media taktil.

Metode mempunyai andil yang cukup besar dalam kegiatan belajar mengajar. Tujuan
pembelajaran akan dapat dicapai dengan penggunaan metode yang tepat, sesuai dengan standar
keberhasilan yang terpatri didalam suatu tujuan.

Dengan tercapainya tujuan pembelajaran, maka dapat dikatakan bahwa guru telah
berhaasil dalam mengajar.Keberhasilan kegiatan belajar mengajar tentu saja diketahui setelah
diadakan evaluasi dengan seperangkat item soal yang sesuai degan rumusan beberapa tujuan
pembelajaran.

BAB II :KONSEP STRATEGI BELAJAR MENGAJAR

A. Pengertian Strategi Belajar Mengajar


Secara umum strategi mempunyai pengertian suatu garis-garis besar haluan untuk
bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan.Strategi bisa diartikan sebaagai
pola-pola umum kegiatan guru anak didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk
mencapai tujuan yang telah digariskan.

B. Klasifikasi Strategi Belajar Mengajar


Menurut Tabrani Rusyan dkk., terdapat berbagai masalah sehubungan dengan strategi
belajar mengajar yang secara keseluruhan diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Konsep Dasar Strategi Belajar Mengajar
Konsep dasar belajar mengajar ini meliputi hal-hal:
a. Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku
b. Menentukan pilihan berkenaan dengan pendekatan terhadap masalah belajar
mengajar
c. Memilih prosedur, metode, dan teknik belajar mengajar
d. Menerapkan norma dan kriteria keberhasilan kegiatan belajar mengajar
2. Sasaran kegiatan belajar mengajar
Setiap belajar mengajar mempunyai sasaran atau tujuan, yakni tujuan instruksional
khusus dan tujuan instruksional umum, tujuan kurikuler, tujuan nasional, sampai kepada
tujuan yang bersifat universal.
3. Belajar Mengajar Sebagai Suatu Sistem
Selaku suatu sistem, belajar mengajar meliputi suatu komponen, antara lain tujuan, bahan,
siswa, guru, motode, situasi, dan evaluasi.Agar tujuan itu tercapai, semua komponen yang
ada harus diorganisasikan sehingga antar sesama komponen terjadi kerjasama.
4. Hakikat Proses Belajar Mengajar
Belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan latihan. Artinya, tujuan
kegiatan adalah perubahan tingkah laku, baik yang menyangkut pengetahuan,
keterampilan maupun sikap, bahkan meliputi segenap aspek organisme atau pribadi.

5. Entering Behavior Siswa


Menurut Abin Syamsudn, entering behavior akan dapat diidentifikasi dengan cara:
a. Secara tradisional, telah lazim para guru mulai dengan pertanyaan mengenai
bahan yang pernah diberikan sebelum menyajikan bahan baru.
b. Secara inovatif, guru tertentu diberbagai lembaga pendidikan yang memiliki atau
mampu mengembangan instrument pengukuran prestasi belajar dengan
memenuhi syarat, mengadakan pre-tes sebelum mereka mulai mengikuti program
belajar mengajar
6. Pola-Pola Belajar Siswa
Robert M. Gagne membedakan pola-pola belajar siswa kedalam delapan tipe:
a. Signal Learning (Belajar Isyarat)
b. Stimulus-Respon Learning ( Belajar Stimulus- Respons)
c. Chaining (Rantai atau Rangkaian)
d. Verbal Association (Asosiasi Verbal)
e. Discrimintion Learning (Belajar Diskriminasi)
f. Concept Learning (Belajar Konsep)
g. Rule Learning (Belajar Aturan)
h. Problem Solving (Pemecahan Masalah)
7. Memilih Sistem Belajar Mengajar
Berbagai sistem pengajaan yang menarik perhatian akhir-akhir ini adalah:
a. Enquiry-Discovery Learning
b. Ekspository Learning
c. Mastery Learning
d. Humanistic Education
e. Pengorganisasian Kelompok Belajar

C. Implementasi Belajar Mengajar


Proses belajar mengajar adalah suatu aspek dari lingkungan sekolah yang diorganisasi.
Salah satu factor yang pendukung kondisi belajar didalam suatu kelas adalah job description
proses belajar mengajar yang berisi serangkaian pengertian peristiwa belajar yang dilakukan
oleh kelompok-kelompok siswa. Job description guru dalam implementasi proses belajar
mengajar adalah
1. Perencanaan instruksional, yaitu alat atau media untuk mengarahkan kegiatan-kegiatan
organisasi belajar.
2. Organisasi belajar yang merupakan usaha mmenciptakan wada dan fasilitas-fasilitas atau
lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan yang mengandung kemungkinan terciptanya
proses belajar mengajar.
3. Menggerakan anak didik yang merupakan usaha memancing, membangkitkan dan
mengarahkan motivasi belajar siswa.
4. Supervise dan pengawasan, yakni usaha mengawasi, menjunjung, membantu,
menugaskan, dan mengarahkan kegiatan belajar mengajar sesuai dengan perencanaan
instruksional yang telah didesain sebelumnya.
5. Penelitian yang bersifat penafsiran (assessment) yang mengandung pengertian yang lebih
luas disbanding dengan pengukuran atau evaluasi pendidikan.
BAB III :HAKIKAT, CIRI, DAN KOMPONEN BELAJAR MENGAJAR
A. Hakikat Belajar Mengajar
Dalam kegiatan belajar mengajar, anak adalah sebagian subjek dan sebagai objek dari
kegiatan pengajaran. Tujuan pengajaran tentu saja akan dapat tercapai jika anak didik berusaha
secara aktif untuk mencapainya.

B. Ciri-Ciri Belajar Mengajar


Sebagai suatu proses pengaturan, kegiatan belajar mengajar tidak terlepas dari ciri-ciri
tertentu, yang menurut Edi Suardi sebagai berikut:
1. Belajar mengajar memiliki tujuan, yakni untuk membentuk anak didik dalam suatu
perkembangan tertentu.
2. Agar dapat mencapai tujuan secara optimal maka dalam melakukan interaksi perlu ada
prosedur, atau langkah-langkah sistematik dan relevan.
3. Dalam hal ini materi harus didesain sedemikian rupa, sehingga cocok mencapai tujuan.
4. Aktivitas anak didik dalam hal ini, baik secara fisik maupun secara mental, aktif. Inilah
yang sesuai konsep CBSA. Jadi, tidak ada gunanya melakukan kegiatan belajar mengajar
kalau anak didik yang pasif.
5. Dalam peranannya sebagai pembimbing, guru harus berusaha menghidupkan dan
memberikan motivasi, agar terjadi proses interaksi yang kondusif.
6. Disiplin dalam kegiatan belajar mengajar ini diartikan sebagai suatu pola tingkah laku
yang diatur sedemikian rupa menurut ketentuan yang sudah ditaati bagi pihak guru
maupun anak didik dengan sabar.
7. Untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu dalam sistem berkelas (kelompok anak
didik), batas waktu menjadi salah satu ciri yang tidak bisa ditinggalkan. Setiap tujuan
akan diberi wakktu tertentu, kapan tujuan itu harus sudah tercapai.
8. Evaluasi harus guru lakukan untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan pengajaran yang
telah ditentukan.

C. Komponen-Komponen Belajar Mengajar


Penjelasan dari setiap komponen adalah sebagai berikut:
1. Tujuan
Tujuan adalah suatu cita-cita yang ingin dicapai dari pelaksanaan suatu kegiatan.
2. Bahan Pelajaran
Bahan pelajaran adalah substansi yang akan disampaikan dalam proses belajar
mengajar..
3. Kegiatan Belajar Mengajar
Kegiatan belajar mengajar adalah inti kegiatan dalam pendidikan.
4. Metode
Metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan.
5. Alat
Alat adalah segala sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka mencapai tujuan
pengajaran.
6. Sumber Pelajaran
Yang dimaksud sumber-sumber bahan dan belajar adalah sebagai sesuatu yang dapat
dipergunakan sebagai tempat dimana bahan pengajaran terdapat atau asal untuk belajar
seseorang.
7. Evaluasi
Menurut Wand dan Brown, evaluasi adalah suatu tindakan atau suatu proses untuk
menentukan nilai dari sesuatu.

BAB IV :BERBAGAI PENDEKATAN DALAM BELAJAR MENGAJAR


A. Pendekatan Individual
Perbedaan individual anak dididk memberikan wawasan kepada guru bahwa strategi
pengajaran harus memperhatikan perbedaan anak didik pada aspek individual ini.Pemilihan
metode tidak bisa begitu saja mengabaikan penggunaan pendekatan individual, sehingga guru
dalam melaksanakan tugasnya selalu saja melakukan pendekatan individual terhadap anak didik
dikelas.

B. Pendekatan Kelompok
Dengan pendekatan kelompok, diharapkan dapat ditumbuh kembangkan rasa sosial yang
tinggi pada diri setiap anak didik.Meraka dibina untuk mengendalikan rasa egois yang ada
dalam diri mereka masing-masing.

C. Pendekatan Bervariasi
Dalam kegiatan belajar mengaajar, guru bisa saja membagi anak didik kedalam beberapa
kelompok belajar.Tetapi dalam hal ini, terkadang diperlukan juga pendapat dan kemauan anak
didik.Boleh jadi dalam suatu pertemuan ada anak didik yang suka belajar dalam kelompok,
tetapi ada juga anak didik yang senang belajar sendiri.

D. Pendekatan Edukatif
Misalnya, ketika lonceng tanda masuk kelas berbunyi, anak-anak jangan dibiarkan
masuk dulu, tetapi suruhlah mereka berbaris didepan pintu masuk dan perintahkanlah ketua
kelas untuk mengatur barisan.Disisi pintu masuk guru berdiri sambil mengontrol bagaimana
anak-anak berbaris didepan pintu masuk kelas.Semua anak dipersilahkan masuk oleh ketua
kelas.Mereka pun satu persatu masuk kelas, mereka satu persatu menyalami guru dan mencium
tangan guru sebelum di lepas.
Contoh di atas menggambarkan pendekatan edukatif yang telah dilakukan oleh guru
dengan menyuruh anak didik berbaris di depan pintu masuk kelas. Guru telah melakukan tujuan
untuk membina watak anak didik dengan pendidikan akhlak yang mulia.

E. Pendekatan Keagamaan
Pendekatan agama dapat membantu guru untuk memperkecil kerdilnya jiwa agama
didalam diri siswa, yang pada akhirnya nilai-nilai agama tidak dicemohkan dan dilecehkan.

F. Pendekatan Kebermaknaan
Konsep penting yang menyadari pendekatan kebermaknaan sebagai berikut:
1. Struktur berperan sebagai alat pengungkapan makna (gagasan, pikiran, pendapat, dan
perasaan).
2. Makna ditentukan oleh lingkup kebahasan maupun lingkup situasi yang merupakan
konsep dasar dalam pendekatan kebermaknaan pengajaran bahasa natural, didukung oleh
pemahaman lintas budaya.
3. Makna dapat di wujudkan melalui kalimat yang berbeda.
4. Belajar bahasa asing adalah belajar berkomunikasi melalui bahasa terssebut.
5. Kadar motivasi ini banyak ditentukan oleh kadar kebermaknaan bahan pelajaran dan
kegiatan pembelajaran memiliki siswa yang bersangkutan.
6. Bahan pelajaran dan kegiatan pembelajaran menjadi lebih bermakna bagi siswa jika
berhubungan dengan pengalaman, minat, tata nilai, dan masa depannya.
7. Dalam proses belajar mengajar, siswa merupakan subjek utama, tidak hanya sebagai
subjek belaka.
8. Dalam proses belajar mengajar guru berperan sebagai fasilitator yang membantu siswa
mengembabngkan keterampilan berbahasanya.

BAB V :KEPENDUDUKAN PEMILIHAN DAN PENENTUAN METODE DALAM


PENGAJARAN
A. Kedudukan Metode Dalam Belajar Mengajar
Salah satu usaha yang tidak pernah guru tinggalkan adalah, bagaimana memahami
kedudukan metode sebagai salah satu komponen yang ikut ambil bagian bagi keberhasilan
kegiatan belajar mengajar.

B. Pemilihan Dan Penentuan Metode


Metode mengajar yang guru gunakan dalam setiap kali pertemuan kelas bukanlah asal
pakai, tetapi telah melalui seleksi yang berkesesuaian dengan perumusan tujuan intruksional
khusus.Karenanya, gurupun menggunakan metode lebih dari satu.

C. Macam-Macam Metode Mengajar


Metode-metode mengajar yang diuraikan berikut ini:
1. Metode Proyek
2. Metode Eksperimen
3. Metode Tugas Dan Resitas
4. Metode Diskusi
5. Metode Sosiodrama
6. Metode Demontrasi
7. Metode Problem Solving
8. Metode Karyawisata
9. Metode Tanya Jawab
10. Metode Latihan
11. Metode Ceramah
D. Praktik Penggunaan Metode Belajar
Dalam peraktiknya, metode mengajar tidak digunakan sendiri-sendiri, tetapi merupakan
kombinasi dari beberapa metode mengajar. Berikut akan dikemukakan kemungkinan kombinasi
metode mengajar.
1. Ceramah, Tanya Jawab, dan Tugas
2. Ceramah, Diskusi, dan Tugas
3. Ceramah, Demonstrasi, dan Eksperimen
4. Ceramah, Sosiodrama, dan Diskusi
5. Ceramah, Problem Solving, dan Tugas
6. Ceramah, Demonstrasi, dan Latihan

BAB VI :KEBERHASILAN BELAJAR MENGAJAR

A. Pengertian Keberhasilan

Untuk menyatakan bahwa suat proses belajar mengajar dapat dikatakan berhasil, setiap
guru memiliki pandangan masing-masing sejalan dengan filsafat. Namun, untuk menyamakan
persepsi sebaiknya kita berpedoman pada kurikulum yang berlaku saat ini yang telah
disempurnakan, antara lain bahwa “ Suatu proses belajar mengajar tentang suatu bahan
pengajaran dinyatakan berhasil apabila tujuan instruksional khusus (TIK)-nya dapat tercapai”.

B. Indikator Keberhasilan

Yang menjadi petunjuk bahwa suatu proses belajar mengajar dianggap berhasil adalah
hal-hal sebagai berikut :

1. Daya serap terhadap bahan pengajaran yang diajarkan mencapai prestasi tinggi, baik
secara individual maupun kelompok
2. Perilaku yang digariskan dalam tujuan pengajaran/instruksional khusus (TIK) telah
dicapai oleh siswa, baik secara individual maupun kelompok.
C. Penilaian Keberhasilan
1. Tes Formatif diguanakan untuk mengukur satu atau beberapa pokok bahasan tertentu dan
bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang daya serap siswa terhadap pokok
bahasan tersebut.
2. Tes Subsumatif tujuannya adalah untuk memperoleh gambaran daya serap siswa untuk
meningkatkan tingkat prestasi belajar siswa.
3. Tes Sumatif diadakan untuk mengukur daya serap siswa terhadap bahan pokok-pokok
bahasan yang telah diajarkan dalam satu semester.

D. Tingkat Keberhasilan

Sehubungan dengan hal inilah keberhasilan proses mengajar itu dibagi menjadi beberapa
tingkatan. Tingkatan keberhasilan tersebut adalah sebagai berikut :

1. Istimewa/maksimal
2. Baik sekali/optimal
3. Baik/minimal
4. Kurang

E. Program Perbaikan

Taraf atau tingkatan keberhasilan proses belajar mengajar dapat dimanfaatkan untuk
berbagai upaya. Salah satunya adalah sehubungan dengan kelangsungan proses belajar mengajar
itu sendiri.

Pengukuran taraf atau tingkatan keberhasilan proses belajar mengajar ini ternyata
berperan penting. Karena itu, pengukurannya harus betul-betul syahih, andal, dan lugas.
Pengajaran perbaikan biasanya mengandung kegiatan-kegiatan sebagai berikut :

a. Mengulang pokok bahasan seluruhnya.


b. Mengulang bagian dari pokok bahasan yang hendak dikuasai.
c. Memecahkan masalah atau menyelesaikan soal-soal bersama-sama.
d. Memberikan tugas-tugas khusus.

F. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan

Betapa tingginya nilai suatu keberhasilan, sampai-sampai seorang guru berusaha sekuat
tenaga dan pikiran mempersiapkan program pengajaran dengan baik dan sistematik. Dan itu
semua disebabkan oleh beberapa faktor, dan faktor-faktor yang dimaksud adalah :

1. Tujuan
Tujuan adalah pedoman sekaligus sebagai sasaran yang akan dicapai dalam kegiatan
belajar mengajar.

2. Guru

Guru adalah tenaga pendidik yang memberikan sejumlah ilmu pengetahuan kepada anak
didik disekolah.

3. Anak Didik

Anak didik adalah orang yang dengan sengaja datang kesekolah.Orang tuanyalah yang
memasukkannya untuk dididik agar menjadi orang yang berilmu pengetahuan di
kemudian hari.

4. Kegiatan Pengajaran

Pola umum kegiatan pengajaran adalah terjadinya interaksi antara guru dengan anak
didik dengan bahan sebagai perantara.

5. Bahan dan Alat Evaluasi

Bahan evaluasi adalah suatu bahan yang terdapat di dalam kurikulum yang sudah
dipelajari oleh anak didik guna kepentingan ulangan.

6. Suasana Evaluasi

Selain faktor tujuan, guru, anak didik, kegiatan pengajaran, serta bahan dan alat evaluasi,
faktor suasana evaluasi juga merupakan faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar
mengajar.

BAB VII :PENGGUNAAN MEDIA SUMBER BELAJAR DALAM PROSES BELAJAR


MENGAJAR

A. Pengertian Media

Kata "media" berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata
"medium", yang secara harfiah berarti "perantara atau pengantar". Dengan demikian, media
merupakan wahana penyalur informasi balajar atau penyalur pesan.Bila media adalah sumber
belajar, maka secara luas media dapat diartikan dengan manusia, benda, ataupun peristiwa yang
memungkinkan anak didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan.

B. Media sebagai Alat Bantu

Media sebagai alat bantu dalam proses belajar mengajar adalah suatu kenyataan yang
tidak dapat dipungkiri. Karena gurulah yang mengkehendakinya untuk membantu tugas guru
dalam menyampaikan pesan-pesan dari bahan pelajaran yang diberikan oleh guru kepada anak
didik.

C. Media Sebagai Sumber Belajar

Belajar mengajar adalah suatu proses yang mengolah sejumlah nilai untuk dikonsumsi
oleh setiap anak didik. Nilai-nilai itu tidak datang dengan sendirinya, tetapi terambil dari
berbagai sumber.

D. Macam-macam Media
1) Dilihat dari Jenisnya, Media Dibagi ke Dalam :
a. Media Auditif adalah media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja.
b. Media Visual adalah media yang hanya mengandalkan indra penglihatan
c. Media Audiovisual adalah media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar.
2) Dilihat dari Daya Liputnya, Media Dibagi ke Dalam :
a. Media dengan Daya Liput Luas dan Serentak. Penggunaan media ini tidak terbatas oleh
tempat dan ruang serta dapat menjangkau jumlah anak didik yang sama dalam waktu
yang sama.
b. Media dengan Daya Liput yang Terbatas oleh Ruang dan Tempat. Penggunaan media ini
membutuhkan ruang dan tempat yang khusus seperti film, sound slide, film rangkai,
yang harus menggunakan tempat yang tertutup dan gelap
c. Media untuk Pengajaran Individual. Penggunaan media ini hanya untuk seorang diri.
3) Dilihat dari Bahan Pembuatannya, Media Dibagi Dalam :
a. Media Sederhana. Media ini bahan dasarnya mudah diperoleh dan harganya murah, cara
pembuatannya mudah, dan penggunaannya tidak sulit.
b. Media Kompleks. Media ini adalah media yang bahan dan alat pembuatannya sulit
diperoleh serta mahal harganya, sulit membuatnya, dan pengguanaanya memerlukan
keterampilan yang memadai.
Karakteristik media yang mana yang dianggap tepat untuk menunjang pencapaian tujuan
pengajaran, itulah media yang seharusnya dipakai.

E. Prinsip-prinsip Pemilihan dan Penggunaan Media

Drs. Sudirman N. (1991) mengemukakan beberapa prinsip pemilihan media pengajaran


yang dibaginya ke dalam tiga kategori, yaitu :

1. Tujuan Pemilihan

Memilih media yang akan digunakan harus berdasarkan maksud dan tujuan pemilihan
yang jelas.

2. Karakteristik Media Pengajaran

Memahami karakteristik berbagai media pengajaran merupakan kemampuan dasar yang


harus dimiliki oleh guru dalam kaitannya dengan keterampilan pemilihan media
pengajaran.

3. Alternatif Pilihan

Memilih pada hakikatnya adalah proses membuat keputusan dari berbagai alternatif
pilihan.

F. Dasar Pertimbangan Pemilihan dan Penggunaan Media


1. Faktor-faktor yang Perlu Diperhatikan dalam Memilih Media Pengajaran
a. Objektivitas.
b. Program Pengajaran.
c. Sasaran Program.
d. Situasi dan Kondisi.
e. Kualitas Teknik.
f. Keefektifan dan Efesiensi Penggunaan.
2. Kriteria Pemilihan Media Pengajaran

Apabila akan menggunakan media pengajaran dengan cara memanfaatkan media yang
ada, guru dapat lebih mudah menggunakan media mana yang dianggap tepat untuk
membantu mempermudah tugas-tugasnya sebagai pengajar. Kehadiran media dalam
proses pengajaran bisa mempersulit guru.

G. Pengembangan dan Pemanfaatan Media Sumber


Media pengajaran adalah suatu alat bantu yang tidak bernyawa. Alat ini bersifat netral.
Peranannya akan terlihat jika guru pandai memanfaatkannya dalam belajar mengajar.

Ada 6 langkah yang bisa ditempuh guru pada waktu ia mengajar dengan
mempergunakan media. Langkah-langkah itu adalah :

1. Merumuskan
2. Persiapan guru
3. Persiapan kelas
4. Langkah penyajian pelajaran dan pemanfaatan media
5. Langkah kegiatan belajar siswa
6. Langkah evaluasi pengajaran

Dengan demikian, pembahasan mengenai penggunaan media dalam proses belajar


mengajar ini. Untuk dapat memanfaatkannya, guru dapat mempergunakan dan
mengembangkannya dalam proses belajar mengajar, baik didalam kelas maupun diluar kelas.
Media yang dapat dimanfaatkan guru adalah media yang sesuai dengan misi tujuan.

BAB VIII :BEBERAPA TEKNIK MENDAPATKAN UMPAN BALIK

Sebagai orang yang menginginkan keberhasilan dalam mengajar, guru selalu


mempertahankan agar umpan balik selalu berlangsung dalam diri anak didik.Umpan balik itu
tidak hanya dalam bentuk fisik, tetapi juga dalam bentuk mental yang selalu berproses untuk
menyerap bahan pelajaran yang diberikan oleh guru.

Berikut ini akan diuraikan beberapa teknik untuk mendapatkan umpan balik dari anak
didik.

A. Memancing Apersepsi Anak Didik

Anak didik adalah makhluk individual.Anak didik adalah orang yang mempunyai
kepribadian dengan ciri-ciri yang khas sesuai dengan perkembangan dan
pertumbuhannya.Perkembangan dan pertumbuhan anak didik mempengaruhi sikap dan tingkah
lakunya. Perkembangan dan pertumbuhan anak itu sendiri dipengaruhi oleh lingkungan dimana
anak itu hidup berdampingan dengan orang lain disekitarnya dan dengan alam lingkungan
lainnya.

B. Memanfaatkan Taktik Alat Bantu yang Akseptabel


Bahan pelajaran adalah isi yang disampaikan oleh guru dalam proses belajar mengajar.
Bahan yang disampaikan oleh guru bermacam-macam sifatnya, mulai dari yang mudah, sedang,
sampai ke yang sukar. Intelegensi adalah faktor lain yang menyebabkannya. Untuk seorang guru
yang kurang terbiasa berbicara dan kurang pandai memilih kata serta kalimat yang dapat
mewakili isi pesan yang disampaikan dari setiap bahan pelajaran akan mengalami kesulitan
untuk mengantarkan anak didik menjadi orang yang paham.

C. Memilih Bentuk Motivasi yang Akurat

Motivasi memang merupakan faktor yang mempunyai arti penting bagi seorang anak
didik. Sungguh pun begitu, guru tidak menutup mata bahwa diantara sekelompok anak didik
yang mempunyai motivasi untuk belajar, ada sekelompok anak didik lain yang belum
bermotivasi dalam belajar.

Ada beberapa motivasi yang dapat guru gunakan guna mempertahankan minat anak
didik terhadap bahan pelajaran yang diberikan. Bentuk-bentuk motivasi yang dimaksud adalah :

1. Memberi Angka
2. Hadiah
3. Pujian
4. Gerakan Tubuh
5. Memberikan Tugas
6. Memberi Ulangan
7. Mengetahui Hasil
8. Hukuman

D. Menggunakan Metode yang Bervariasi

Penggunaan metode akan menghasilkan kemampuan yang sesuai dengan karakteristik


metode tersebut. Penggunaan metode mengajar yang bervariasi dapat menggairahkan belajar
anak didik.Penggunaan metode yang bervariasi dapat menjembatani gaya-gaya belajar anak
didik dalam menyerap bahan pelajaran.

BAB IX :PENGEMBANGAN VARIASI MENGAJAR


Pada dasarnya semua orang tidak menghendaki adana kebosanan dalam hidupnya.
Keterampilan mengadakan variasi dalam proses belajar mengajar akan meliputi 3 aspek, yaitu
variasi dalam gaya mengajar, variasi dalam menggunakan media dan bahan pengajaran, dan
variasi dalam interkasi antara guru dan siswa. Apabila ketiga komponen tersebut
dikombinasikan dalam penggunaanya atau secara integrasi, maka akan meningkatkan perhatian
siswa, membangkitkan keinginan dan kemajuan belajar.

A. Tujuan Variasi Mengajar


1. Meningkatkan dan Memelihara Perhatian Siswa Terhadap Relevansi Proses Belajar
Mengajar
2. Memberikan Kesempatan Kemungkinan Berfungsinya Motivasi
3. Membentuk Sikap Positif Terhadap Guru dan Sekolah
4. Memberikan Kemungkinan Pilihan dan Fasilitas Belajar Individual
5. Mendorong Anak Didik untuk Belajar

B. Prinsip Penggunaan

Agar kegiatan pengajaran dapat merangsang siswa untuk aktif dan kreatif belajar, tentu
saja diperlukan lingkungan belajar yang kondusif. Salah satu upayanya adalah dengan cara
memperhatikan beberapa prinsip penggunaan variasi dalam mengajar. Prinsip-prinsip
penggunaan variasi mengajar itu adalah sebagai berikut :

1. Dalam menggunakan keterampilan variasi sebaiknya semua jenis variasi digunakan,


selain juga harus ada variasi penggunaan komponen untuk tiap jenis variasi
2. Menggunakan variasi secara lancar dan berkesinambungan, sehingga moment proses
belajar mengajar yang utuh tidak rusak, perhatian anak didik dan proses belajar tidak
terganggu
3. Penggunaan komponen variasi harus benar-benar terstruktur dan direncanakan oleh guru.

C. Komponen-komponen Variasi Mengajar

Komponen-komponen variasi mengajar itu dibagi kedalam tiga kelompok besar, yaitu :

1. Variasi Gaya Mengajar


2. Variasi Media dan Bahan Ajaran
3. Variasi Interaksi
BAB X : PENGELOLAAN KELAS

Masalah pokok yang dihadapi guru, baik pemula maupun yang sudah berpengalaman
adalah penelolaan kelas.Aspek yang paling sering didiskusikan oleh penulis profesional dan oleh
para pengajar adalah juga pengelolaan kelas.Pengelolaan kelas merupakan tingkah laku yang
kompleks, dan guru yang menggunakannyauntuk menciptakan dan memperthankan kondisi
kelas sedemikian rupa sehingga anak didik dapat mencapai tujuan pengajaran secara efesien dan
memungkinkan mereka dapat belajar.

Pengelolaan kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi
belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar
mengajar. dengan kata lain, ialah kegiatan-kegiatan untuk menciptakan dan mempertahankan
kondisi yang optimal bagi terjadi proses belajar mengajar.

A. Pengertian Pengelolaan Kelas

Pengelolaan kelas adalah salah satu tugas guru yang tidak pernah ditinggalkan. Guru
selalu mengelola kelas ketika dia melaksanakan tugasnya. Pengelolaan kelas yang dimaksudkan
untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi anak didik sehingga tercapai tujuan
pengajaran secara efektif dan efesien.

Dalam konteks yang demikian itulah kiranya pengelolaan kelas penting untuk diketahui
oleh siapa pun juga yang menerjunkan dirinya kedalam dunia pendidikan.Maka, penting untuk
mengetahui pengertia pengelolaan kelas dalam hal ini. Istilah lain dari pengelolaan adalah
manajemen. Manajemen adalah ketatalaksanaan, tata pimpinan, pengelolaan.

B. Tujuan Pengelolaan Kelas

Tujuan pengelolaan kelas pada hakikatnya telah terkandung dalam tujuan


pendidikan.Secara umum tujuan pengelolaan kelas adalah penyediaan fasilitas bagi bermacam-
macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional, dan intelektual dalam kelas.

C. Berbagai Pendekatan dalam Pengelolaan Kelas


Lahirnya interaksi yang optmal tentu saja bergantug dari pendekatan yang guru lakukan
dalam rangka penelolaan kelas.Berbagai pendekatan tersebut adalah seperti dalam uraian
berikut.

1. Pendekatan Kekuasaan.
2. Pendekatan Ancaman.
3. Pendekatan Kebebasan.
4. Pendekatan Resep.
5. Pendekatan Pengajaran.
6. Pendekatan Perubahan Tingkah Laku.
7. Pendekatan Suasana Emosi dan Hubungan Sosial.
8. Pendekatan Proses Kelompok.
9. Pendekatan Elektis atau Piuralistik.

D. Prinsip-prinsip Pengelolaan Kelas

Masalah pengelolaan kelas bukanlah merupakan tugas yang ringan.Berbagai faktor yang
menyebabkan kerumitan itu.Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi pengelolaan kelas
ada 2 golongan, yaitu faktor intern siswa dan faktor ekstern siswa.Faktor intern siswa
berhubungan dengan masalah emosi, pikiran, dan perilaku.Sedangkan faktor ekstern siswa
terkait dengan masalah suasana lingkungan belajar, penempatan siswa, pengelompokan siswa,
jumlah siswa dikelas, dan sebagainya.

Dalam rangka memperkecil masalah gangguan dalam pengelolaan kelas, prinsip-prinsip


pengelolaan kelas yang dapat dipergunakan antara lain:

1. Hangat dan Antusias


2. Tantangan
3. Bervariasi
4. Keluwesan
5. Penekanan pada Hal-hal yang Positif
6. Penanaman Disiplin Diri
E. Komponen-komponen Keterampilan Pengelolaan Kelas

Komponen-komponen keterampilan pengelolaan kelas ini pada umumnya dibagi menjadi


dua bagian, yaitu keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi
belajar yang optimal dan keterampilan yang berhubungan dengan pengembangan kondisi belajar
yang optimal.

1. Keterampilan yang Berhubungan dengan Penciptaan Pemeliharaan Kondisi Belajar yang


Optimal (Bersifat Preventif)
a. Sikap Tanggap.
Sikap ini dapat dilakukan dengan cara :
1. Memandang secara seksama
2. Gerak mendekati
3. Memberi pertanyaan
4. Memberi reaksi terhadap gangguan dan ketakacuhan
b. Memberi Perhatian.
Membagi perhatian dapat dilakukan dengan cara :
1. Visual
2. Verbal
c. Pemusatan Perhatian Kelompok.
Untuk itu ada beberapa hal yang dapat guru lakukan, yaitu :
1. Memberi Tanda
2. Pertanggungan Jawab
3. Pengarahan dan Penunjuk yang Jelas
4. Penghentian
5. Penguatan
6. Kelancaran
7. Kecepatan
2. Keterampilan yang Berhubungan dengan Pengembangan Kondisi Belajar yang Optimal

Keterampilan ini berkaitan dengan tanggapan guru terhadap gangguan anak didik yang
berkelanjutan dengan maksud agar guru dapat mengadakan tindakan remedial untuk
mengembalikan kondisi belajar yang optimal.

Bukanlah kesalahan profesional guru apabila tidak dapat menangani setiap masalah anak
didik dalam kelas.Namun pada tingkat yang berbeda guru dapat menggunakan seperangkat
strategi untuk tindakan perbaikan terhadap tingkah laku anak didik yang terus menerus
menimbulkan gangguan dan yang tidak mau terlibat dalam tugas di kelas. Strategi itu adalah :

a. Modifikasi Tingkah Laku


b. Pendekatan Pemecahan Masalah Kelompok
c. Menemukan dan Memecahkan Tingkah Laku yang Menimbulkan Masalah

F. Beberapa Masalah Pengelolaan Kelas

Pengelolaan kelas bukanlah hal mudah dan ringan.Jangankan bagi guru yang
menerjunkan diri kedalam dunia pendidikan, bagi guru yang sudah profesional pun sudah
merasakan betapa sukarnya mengelola kelas.Gagalnya seorang guru mencapai tujuan pengajaran
sejalan dengan ketidakmampuan guru mengelola kelas.Indikator dari kegagalan itu adalah
prestasi belajar siswa rendah, tidak sesuai dengan standar atau batas ukuran yang ditentukan.

Bentuk-bentuk pelanggaran disiplin yang bersifat individual adalah sebagai berikut :

1. Tingkah Laku untuk Menarik Perhatian Orang Lain


2. Tingkah Laku untuk Menguasai Orang Lain
3. Perilaku untuk Membalas Dendam

Sedangkan bentuk-bentuk pelanggaran disiplin yang bersifat kelompok adalah sebagai


kelompok :

1. Kelas Kurang Kohesif


2. Kesebalan terhadap Norma-norma yang Telah Disepakati Sebelumnya
3. Kelas Mereaksi Negatif terhadap salah Seorang Anggota
4. Menyokong Anggota Kelas yang Justru Melanggar Norma Kelompok
5. Semangat Kerja Rendah atau Semacam Aksi Protes
6. Kelas Kurang Mampu Menyesuaikan Diri dengan Situasi yang Baru

G. Penataan Ruang Kelas

Agar tercipta suasana belajar yang menggairahkan, perlu diperhatikan penataan ruang
kelas.Penyusunan dan pengaturan ruang belajar hendaknya memungkinkan anak duduk
erkelompok dan memudahkan guru bergerak secara leluasa untuk membantu siswa dalam
belajar. Dalam pengaturan ruang kelas, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :

1. Ukuran dan bentuk kelas


2. Bentuk serta ukuran bangku dan meja siswa
3. Jumlah siswa dalam kelas
4. Jumlah siswa dalam setiap kelompok
5. Jumlah kelompok dalam kelas
6. Komposisi siswa dalam kelompok

Dalam masalah penataan ruang kelas ini yang perlu diperhatikan adalah :

1. Pengaturan Tempat Duduk


2. Pengaturan Alat-alat Pengajaran
3. Penataan Keindahan dan Kebersihan Kelas
4. Ventilasi dan Tata Cahaya

Akhirnya, untuk memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya bagi siswa dalam belajar,
hal-hal yang perlu dijadikan pegangan, yaitu :

1. Mengatur tempat duduk siswa harus mencerminkan belajar efektif


2. Ruangan kelas yang bersih dan segar akan menjadikan siswa bergairah belajar.
3. Memelihara kebersihan dan kenyamanan suatu kelas belajar.

H. Pengaturan Siswa

Masalah pengaturan tempat duduk itu sebenarnya akan berhubungan dengan


permasalahan siswa sebagai individu dengan perbedaan pada aspek biologis, intelektual, dan
psikologis.

1. Pembentukan Organisasi.

Pembentukan organisasi kelas merupakn langkah awal untuk melatih siswa dan membina
siswa dalam hal organisai.Mereka dilatih untuk belajar bertanggung jawab atas tugas
yang dipercayakan.

2. Pengelompokan Siswa

Dalam melayani kegiatan belajar siswa aktif, pengelompokan siswa mempunyai arti
tersendiri. Pengelompokkan siswa bermacam-macam, dari yang sederhana sama kepada
yang kompleks.

Selain itu ada juga pola pengelompokan yang lain seperti :

a. Pembentukan Kelompok Diserahkan kepada Siswa


b. Pembentukan Kelompok Diserahkan oleh Guru Sendiri
c. Pembentukan Kelompok Diatur Guru atas Usul Siswa

I. Pengelolaan Kelas yang Efektif

Bila kelas diberikan batasan sebagai sekelompok orang yang belajar bersama, yang
mendapatkan pengajaran dari guru, maka didalamnya terdapat orang-orang yang melakukan
kegiatan belajar dengan karakteristik masing-masing yang berbeda dari yang satu dengan yang
lainnya.
BAB III
PENILAIAN TERHADAP BUKU

A. Keunggulan Buku
1. Dari segi cover, buku utama lebih menarik dibanding dengan buku pembanding. Karena
cover pada buku utama memiliki perpaduan warna yang cukup bagus, sedangkan pada
buku pembanding hanya memiliki satu warna.
2. Dari segi penulisan, buku utama juga lebih rapi dibanding dengan buku pembanding.
Pada buku utama warna tintanya cukup bagus, sedangkan pada buku pembanding warna
tintanya agak kusam dan hasil fotokopiannya kurang rapi. Selain itu pada buku utama
nyaris tidak ada kesalahan penulisan, sedangkan buku pembanding terdapat banyak
kesalahan penulisan dalam beberapa kata, seperti salah huruf dan kurang huruf.
3. Materi-materi yang disampaikan pada buku utama cukup lengkap dan terdiri dari 10 bab
sedangkan pada buku pembanding hanya terdapat 7 bab.
4. Kedalaman materidari kedua buku cukup baik dan disetiap subbab terdapat bagian-
bagian penjelasan yang lebih mendalam.
5. Pada buku utama, terdapat biodata penulis pada bagian belakang buku, sedangkan pada
buku pembanding tidak ada.

B. Keelemahan Buku
1. Pada buku utama tidak terdapat rangkuman disetiap akhir bab, sedangkan pada buku
pembanding ada rangkumannya namun pada bab 1 dan 2 tidak ada.
2. Meskipun materinya lengkap, namun pada buku utama terdapat beberapa pengulangan
materi dan pemaparan materinya agak berbelit. Sedangkan pada buku pembanding juga
nyaris sama dengan buku utama.
3. Dari segi kertas yang digunakan juga kurang bagus, baik itu buku utama maupun buku
pembanding.
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pada hakekatnya buku merupakan media pembelajaran yang sangat baik.Untuk lebih
memahami buku tersebut maka perlu dilakukannya resensi ataupun pengkritikan terhadap suatu
buku yang ingin di kaji. Dalam mengkritik sebuah buku, pengkritik harus mampu memahami
secara detail mengenai buku yang akan dikritik. Baik dari segi penampilan maupun isi atau
materi buku tersebut.

B. Saran

Sebaiknya mahasiswa sebagai calon guru harus lebih akrab dengan buku.Mahasiswa
harus mampu memanfaatkan buku dengan sebaik-baiknya dan dengan sebagaimana
mestinya.Mahasiswa juga sebaiknya menenal identitas dan isi buku secara lebih baik lagi.Salah
satu caranya adalah dengan melakukan Critical Book Review.
LAMPIRAN

Anda mungkin juga menyukai