Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN FARMAKOLOGI I

“ANALGETIK”

DISUSUN OLEH :

NAMA : ARIFIN AHMAD

NIM : 1900053

PRODI : D-III/3B

HARI PRATIKUM : SABTU (11.00-14.00)

DOSEN PEMBIMBING:

apt.NOVIA SINATA, M.Si

ASISTEN DOSEN :

1.HANIFAH ROHADATUL AISYI

2. WINDA YUSMA AMELIAH

PROGRAM STUDI D-III FARMASI

SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI RIAU

YAYASAN UNIVERSITAS RIAU

2020
PERCOBAAN III

“ANALGETIK”

I. TUJUAN PRAKTIKUM

 Mengenal berbagai cara untuk mengevaluasi secara eksperimental efek analgesik


suatu obat
 Memahami dasar-dasar perbedaan daya analgesik berbagai analgetika
 Mampu memberikan pandangan yang kritis mengenai kesesuaian khasiat yang
dianjurkan bentuk untuk sediaan-sediaan farmasi analgetik

II. PRINSIP PERCOBAAN

Metode pengujian aktivasi analgetika dilakukan dengan cara menilai kemampuan zat
uji untuk menekan atau menghilangkan rasa nyeri yang diinduksi pada hewan percobaan,
yang meliputi induksi secara mekanik, termik, elektrik, dan kimia

III. TINJAUAN PUSTAKA

Obat analgetik merupakan kelompok obat yang memiliki aktivitas mengurangi rasa
nyeri tanpa menghilangkan kesadaran. Pengujian aktivitas analgetik dilakukan dengan
dua metode yaitu induksi nyeri cara kimiawi dan induksi nyeri cara termik. Daya kerja
analgetik dinilai pada hewan dengan mengukur besarnya peningkatan stimulus nyeri yang
harus diberikan sampai ada respon nyeri atau jangka waktu ketahanan hewan terhadap
stimulus nyeri .Analgetika pada umumnya diartikan sebagai suatu obat yang efektif untuk
menghilangkan sakit kepala, nyeri otot, nyeri sendi dan nyeri lain misalnya nyeri pasca
bedah dan pasca bersalin, dismenore (nyeri haid) dan lain-lain sampai pada nyeri hebat
yang sulit dikendalikan. Hampir semua analgetika memiliki efek antipiretik dan efek anti
inflamasi (Katzung, 1998).

Obat analgesik adalah obat yang dapat mengurangi atau menghilangkan rasa nyeri
dan akhirnya akan memberikan rasa nyaman pada orang yang menderita. Nyeri adalah
perasaan sensoris dan emosional yang tidak nyaman,berkaitan dengan ancaman kerusakan
jaringan. Rasa nyeri dalam kebanyakan halhanya merupakan suatu gejala yang berfungsi sebagai
isyarat bahaya tentangadanya gangguan di jaringan seperti peradangan, rematik, encok atau
kejang otot (Tjay, 2007).
Reseptor nyeri (nociceptor) merupakan ujung saraf bebas, yang tersebar di kulit, otot,
tulang, dan sendi. Impuls nyeri disalurkan ke susunan saraf pusat melalui dua jaras, yaitu
jaras nyeri cepat dengan neurotransmiternya glutamat dan jaras nyeri lambat dengan
neurotransmiternya substansi P (Guyton & Hall, 1997;Ganong, 2003).
Semua senyawa nyeri (mediator nyeri) seperti histamine, bradikin, leukotriendan
prostaglandin merangsang reseptor nyeri (nociceptor )di ujung-ujung saraf bebasdi kulit,
mukosa serta jaringan lain dan demikian menimbulkan antara lain reaksiradang dan
kejang-kejang. Nociceptor ini juga terdapat di seluruh jaringan dan organtubuh,
terkecuali di SSP. Dari tempat ini rangsangan disalurkan ke otak melalui jaringan lebat
dari tajuk-tajuk neuron dengan sangat banyak sinaps via sumsum- belakang, sumsum-
lanjutan dan otak-tengah. Dari thalamus impuls kemudianditeruskan ke pusat nyeri di
otak besar, dimana impuls dirasakan sebagai nyeri (Tjaydan Rahardja, 2007).
Berdasarkan potensi kerja, mekanisme kerja dan efek samping, analgetika di bedakan
menjadi 2 kelompok, yaitu

 Analgetika yang bersifat kuat, bekerja pada pusat (hipoanalgetika → kelompok opiat)
 Analgetika yang berkhasiat lemah (sampai sedang), bekerja terutama pada perifer
dengan sifat antipiretika dan kebanyakan juga mempunyai sifat antiinflamasi dan
antireumatik (Tjay dan Rahardja, 2007).
Berdasarkan atas kerja farmakologisnya, analgetika dibagi menjadi 2 kelompok besar
yaitu :
1) Analgetik narkotik (analgetik sentral)
Analgetika narkotika bekerja di SSP, memiliki daya penghalang nyeri yang hebat sekali.
Dalam dosis besar dapat bersfat depresan umum (mengurangi kesadaran), mempunyai
efek samping menimbulkan rasa nyaman(euphoria). Hampir semua perasaan tidak
nyaman dapat dihilangkan oleh analgesik narkotik kecuali sensasi kulit.Harus hati-hati
menggunakan analgesik ini karena mempunyai resiko besar terhadap ketergantungan obat
(adiksi) dan kecenderungan penyalahgunaan obat. Obat ini hanya dibenarkan untuk
penggunaan insidentil pada nyeri hebat (trauma hebat, patah tulang, nyeri infark jantung,
kolik batu empedu/batu ginjal.Obat golongan ini hanya dibenarkan untuk penggunaan
insidentil pada nyeri hebat (trauma hebat, patah tulang, nyeri infark jantung, kolik batu
empedu/batu ginjal. Tanpa indikasi kuat, tidak dibenarkan penggunaanya secara kronik,
disamping untuk mengatasi nyeri hebat, penggunaan narkotik diindikasikan pada kanker
stadium lanjut karena dapat meringankan penderitaan. Fentanil dan alfentanil umumnya
digunakan sebagai premedikasi dalam pembedahan karena dapat memperkuat anastesi
umum sehingga mengurangi timbulnya kesadaran selama anastesi.
Penggolongan analgesik - narkotik sebagai berikut :
 Alkaloid alam : morfin, codein
 Derivat semi sintesis : heroin
 Derivat sintetik : metadon, fentanil
 Antagonis morfin : nalorfin, nalokson dan pentazocin

2) Analgesik non opioid (non narkotik)


Disebut juga analgesik perifer karena tidak mempengaruhi susunan saraf pusat. Semua
analgesik perifer memiliki khasiat sebagai anti piretik yaitu menurunkan suhu badan pada
saat demam. `
Khasiatnya berdasarkan rangsangan terhadap pengatur kalor dihipotamalus,
mengakibatkan vosodilatasi perifer dikulit dengan bertambahnya pengeluaran kalor
disertai banyaknya keluar keringat.
Antiradang sama kuatnya dengan analgesik digunakan sebagai anti nyeri atau
rematik.Berdasarkan rumus kimianya analgesik perifer digolongkan menjadi:
 Golongan salisilat
 Golongan para aminofenol
 Golongan pirazolon (dipiron)
 Golongan antanilat (asam mefenamat). (Katzung, 1998)
Demam terjadi jika “ set point “ pada pusat pengatur panas di hipotalamus anterior
meningkat. Hal ini dapat di sebabkan oleh sintesis PEG yang di rangsang bila suatu zat
penghasil demam endogen (pirogen) seperti sitokinin di lepaskan dari sel darah putih
yang di aktivasi oleh infeksi, hipersensitifitas, keganasan atau inflamasi.
Salisilat menurunkan suhu tubuh si penderita demam dengan jalan menghalangi sintesis
dan pelepasan PEG. (Mycek J. Mary, 2001)
Medicetator nyeri yang penting adalah mista yang bertanggung jawab untuk
kebanyakan reaksi. Akerasi perkembangan mukosa dan nyeri adalah polipeption
(rangkaian asam amino) yang dibentuk dari protein plasma. Prosagilandin mirip
strukturnya dengan asam lemak dan terbentuk dari asam-asam anhidrat. Menurut
perkiraan zat-zat bertubesiset vasodilatasi kuat dan meningkat permeabilitas kapiler yang
mengakibatkan radang dan nyeri yang cara kerjanya serta waktunya pesat dan bersifat
local. (Tjay Hoan Tan, 2007)
Pengujian aktivitas analgetik suatu bahan uji pada induksi nyeri cara kimiawi yang
responnya berupa geliat harus ditentukan daya analgetiknya. Daya analgetik merupakan
perbandingan antara jumlah geliat rata-rata kelompok perlakuan dengan jumlah geliat
rata-rata kelompok kontrol. Daya analgetik untuk mengetahui besarnya kemampuan
bahan uji tersebut dalam mengurangi rasa nyeri kelompok kontrol. Dari daya analgetik
dapat dijadikan dasar untuk perhitungan efektifitas analgetik yang dibandingkan dengan
pembanding analgetik untuk mengetahui keefektifan bahan uji yang diduga berfungsi
sebagai analgetik (Turner, 1965; Kardoko dan Eleison, 1999; Pudjiastuti dkk., 2000).

IV. ALAT & BAHAN


1. Metode jentik ekor
 Tikus putih jantan 3 ekor
 lar. Morfin HCl 1%, lar. Kodein HCl 6%, larutan antalgin 10%.
 alat suntik 1ml, jarum suntik intraperitoneal, penangas air suhu 50°C, stopwatch, alat
penahan tikus yang memungkinkan ekornya keluar, timbangan tikus.
2. Metode plat panas
 Mencit jantan 6 ekor
 Lar. Morfin HCl 0,1% , Lar. Antalgin 1%, Lar. NaCl 0,9%
 plat panas yang dilengkapi sumber panas dengan thermostat 55-56°C, alat suntik 1ml,
stopwatch, timbangan.
3. Metode siegmund
 Mencit jantan 6 ekor.
 Lar. Benzokuinon 0,02% dalam etanol 10% atau asam asetat 0,1%, Lar. Asetosal 1%,
Lar. Antalgin 1%, NaCl 0,9%
 seperangkat alat siegmund, stopwatch, alat suntik 1ml, timbangan mencit, sonde oral.

V. CARA KERJA
1. Timbang mencit untuk menentukan VAO obat asam asetat
2. Ambil obat dengan spuit untuk interperitonial, volume obat sesuai VAO
3. Suntikkan obat secara ip ke salah satu mencit
Amati dan tunggu 30 menit
4. Ambil Na CMC 1% dengan spuit oral, volume sesuai berat badan hewan dan VAO
5. Suntikkan Na CMC tersebut secara oral ke mencit lainnya. Tunggu dan amati 30
menit
6. Ambil asam asetat 1% dengan spuit ip . Suntikkan ke kedua mencit secara ip
7. Amati selama 1 jam. Hitung jumlah geliat tiap 5 menit

VI. HASIL
Hewan Menit Menit Menit Menit Menit Menit Menit Menit Menit Menit Menit Menit
Perlakuan
waktu ke- 5 ke- 10 ke- 15 ke- 20 ke- 25 ke- 30 ke- 35 ke- 40 ke- 45 ke- 50 ke- 55 ke- 60

Na-Cmc 1 8 6 11 7 6 7 7 6 7 5 6 2

2 11 9 11 11 7 6 9 11 9 9 7 6

3 9 9 11 11 7 7 6 11 5 5 5 6

4 7 6 9 9 8 7 9 5 6 3 5 3

5 5 7 5 10 7 5 5 4 8 7 9 3

Rata-rata 8 7,4 9,4 9,6 7 6,4 7,2 7,4 7 5,8 6,4 4

As.
Mefenamat 1 2 4 2 3 2 1 0 0 0 0 0 0
200 mg

2 8 6 5 4 3 2 1 0 0 0 0 0

3 6 7 6 3 5 4 2 1 1 0 0 0

4 5 6 4 3 2 2 2 2 1 0 0 0

5 2 3 2 2 2 1 2 0 0 0 0 0

Rata-rata 4,6 5,2 3,8 3,0 2,8 2,0 1,4 0,6 0,4 0,0 0,0 0,0

As.
Mefenamat 1 1 1 2 1 1 1 2 3 0 0 0 0
100 mg

2 10 2 1 4 1 4 0 0 0 0 0 0

3 9 5 6 7 5 4 2 1 1 4 3 0

4 12 8 7 4 6 4 3 3 4 5
2 2

5 7 6 3 1 4 1 2 2 2 0 0 0

Rata-rata 7,8 4,4 3,8 3,4 3,4 2,8 1,8 1,8 1,4 1,8 1,0 0,4
Asetosal 200
1 1 1 1 5 2 1 0 0 0 0 0 0
mg

2 1 7 7 3 6 5 2 3 2 0 0 0

3 5 12 8 7 6 5 3 1 2 2 2 0

4 9 10 6 3 4 3 1 3 1 0 0 0

5 1 1 2 4 3 5 1 2 0 0 0 0

Rata-rata 3,4 6,2 4,8 4,4 4,2 3,8 1,4 1,8 1,0 0,4 0,4 0,0

Antalgin 200
1 3 9 8 6 5 5 2 3 0 0 0 0
mg

2 1 2 3 5 3 2 0 0 0 0 0 0

3 1 6 6 8 6 1 4 2 2 0 0 0

4 3 3 3 3 4 4 1 1 0 0 0 0

5 2 3 2 1 1 1 0 0 0 0 0 0

Rata-rata 2,0 4,6 4,4 4,6 3,8 3,4 1,4 1,2 0,4 0,0 0,0 0,0
Persen Proteksi

Menit Menit
Hewan Menit Menit Menit Menit Menit Menit Menit Menit Menit Menit
Perlakuan ke- ke-
waktu ke-10 ke-15 ke-20 ke-25 ke-30 ke-35 ke-40 ke- 45 ke-50 ke-55
5 60

Kontrol - 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

4 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

5 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Rata-rata 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0

As.Mefenamat
1 75% 45,9% 78,72% 68,75% 71,42% 84,37% 100% 100% 100% 100% 100% 100%
200 mg

2 0 18.9% 46,80% 58,34% 57,14% 68,75% 86,12% 100% 100% 100% 100% 100%

3 25% 5.4% 36,17% 68.75% 28,57% 37,5% 72,23% 86,49% 85,71% 100% 100% 100%

4 37,5% 18.91% 54,44% 68,75% 71,42% 68,75% 72,23% 72,98% 85,71% 100% 100% 100%

5 75% 59,4% 78,72% 79,17% 71,42% 84,375% 72,23% 100% 100% 100% 100% 100%

Rata-rata 42,5% 29,702% 58,97% 68,752% 59,99% 68,74% 80,56% 91,89% 94,284 100% 100% 100%

As.Mefenamat
1 87,5% 86,49% 78,73% 89,59% 85,72% 84,38% 72,23% 59,46% 100% 100% 100% 100%
100 mg

2 -25% 72,98% 89,37% 58,34% 85,72% 37,5% 100% 100% 100% 100% 100% 100%

-
3 32,44% 36,18% 27,09% 28,58% 37,5% 72,23% 86,49% 85,72% 31,04% 53,12% 100%
12,5%

4 -50% -8% 25,54% 58,34% 14,29% 37,5% 58,34% 59,46% 48,26% 13,2% 68,75% 50%
5 12,5% 18,92% 68,09% 89,59% 42,86% 84,38% 72,23% 72,98% 71,43% 100% 100% 100%

Rata-rata 2,5% 40,56% 59,58% 64,59% 51,43% 56,25% 75,60% 75,67% 81,08% 68,84% 84,37% 90%

Asetosal 200 100% 100%


1 87,5% 86,48% 89,36% 47,91% 71,43% 84,37% 100% 100% 100% 100%
mg

2 87,5% 5,40% 25,53% 68,75% 14,28% 21,87% 72% 59,4% 71,4% 100% 100% 100%

3 37,5% -62,16% 14,89% 27,08% 14,28% 21,87% 58,3% 86,4% 71,4% 65,5% 68,75% 100%

- 100%
4 -35,13% 36,17% 68,75% 42,86% 53,12% 86,1% 59,4% 85,7% 100% 100%
12,5%

5 87,5% 86,5% 78,8% 58,4% 57,1% 21,8% 86,1% 72,9% 100% 100% 100% 100%

Rata-rata 57,5% 16,2% 48,9% 54,1% 40% 40,62% 80,5% 75,6% 85,7% 93,1% 93,75% 100%

Antalgin 200
1 62,5% -21,62% 14,89% 37,5% 28,57% 21,88% 72,22% 59,46% 100% 100% 100% 100%
mg

2 87,5% 72,97% 68,09% 47,92 % 57,14% 68,75% 100% 100% 100% 100% 100% 100%

3 87,5% 18,92% 36,17% 16,67% 14,29% 84,38 % 44,44% 72,97% 71,43% 100% 100% 100%

4 62,5% 59,46% 68,09% 68,75% 42,86% 37,5% 86,11% 86,49% 100% 100% 100% 100%

5 75% 59,46 % 78,72% 89,58% 85,71% 84,38% 100% 100% 100% 100% 100% 100%

Rata-rata 57,5% 37,84 % 53,19% 58,48% 45,11% 59,38% 80,55% 83,78% 94,29% 100% 100% 100%
Grafik

100% 100% 100%


94.29% 93.10% 93.75%
91.90% 94.20% 90%
83.78% 85.70%
81.08%
84.37%
80.55%
80.50%
75.67%
75.60% 75.60%
68.70% 68.74% 68.84%
64.59%
57.50% 59.58% 58.48% 59.90% 59.38%
58.97%
53.19% 54.10% 51.43% 56.25%
48.90%
42.50% 40.56% 45.11%
37.84% 40% 40.62%
29.70%

16.20%

2.50%
0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0% 0%
5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60

kontrol - asam mefanamat 200 mg asam mefanamat 100 mg


asetosal antalgin
VII. PEMBAHASAN

Pada percobaan kali ini melakukan uji analgetik dengan tujuan yaitu untuk
mengenal,memperaktikkan dan memabandngkan daya anlagetik. obat obat analgetik
yang diperbandingkan adalah obat obat analgetik golongan non narkotik/parifer yaitu
asam mefanamat,asetosal,dan antalgin menggunakan rangsang kimia. Bahan yang
digunakan sebagai perangsang kimia adalah larutan steril asam asetat glasial yang
diberikan secara intraperitonial dan oral. Dimana pada praktikum kali ini pemberian
larutansteril asam asetat glasial diberikan 30 menit setelah diberi obat. Pemberian,hal ini
diharapkan agar obat yang diberikan bekerja sehingga asam asetat langsung berefek dan
juga untuk mempengaruhi pengamatan onset dari obat itu.

Obat analgesic adalah obat yang Pereda nyeri untuk mengilangkan rasa sakit akibat
radang sendi, operasi, cedera, sakit gigi, sakit kepala, kram menstruasi dan nyeri otot.
Obat analgesic banayak dijual dipasaran dan juga banayak dikosusmsi oleh masyarakat
sekitar hingga anak anak sampai dewasa. Namun pada percobaan ini kita melakukan uji
anlagesik pada mencit untuk mengatahui efek dari suatu obat pada mencit dengan
menghitung geliat pada mencit tiap 5 menit.

Untuk praktikum kali ini mengenai analgetic, praktikan diharapkan mampu


mengenal cara untuk mengevaluasi secara eksperimental efek obat analgetic suatu obat,
memahami dasar dasar perbedaan daya analgaesik berbagai analgetika, serta mampu
memberikan padangan yang kritis mengenai kesesuaian khasiat yang dianjurkan bentuk
untuk sediaan sediaan farmasi analgetic.

Pada uji kali ini dilakukan uji analgetic degan metode proteksi, dimana diberikan
terlebih dahulu obatnya dan kemudiaan diinduksi nyeri. Karena induksi bahan kimia
secara intraperitonial pada mencit akan menimbulkan iritasi pada perut mencit dan
mengakibatkan efek geliat.
Obat analgetik adalah obat yang dapat mengurangi atau menghilangkan rasa nyeri
dan akhirnya akan memberikan rasa nyaman pada orang yang menderita.

Tiap sediaan ini diujikan ke mencit, tujuan dipilih pada objek kali ini mencit
ini adalah karena system organ pada mencit hampir sama dengan system
organ manusia, sehingga pada objek ini yang diguankan untuk pemberian
sampel yaitu mencit dengan menggunakan metode Ip atau oral.

Pada percobaan ini menggunakan metode siegmund, rangsang nyeri yang


digunakan adalah zat kimia, yaitu asam asetat secara intraperitoneal, respon
nyeri tersebut berupa geliatan, yaitu reatraksi abd omen. Hewan mencit
dengan rangsang nyeri ini akan memberi respon minimal 1 kali kegiatan
dalam 5 menit. Dimana geliatan pada mencit dapat ditandai dengan 2 kaki
depan menarik kedepan dan 2 kaki belakang menarik belakang sehingga
terkadang bagian perut bersentuhan dengan perut karena terjadai rasa nyeri
mencit tersebut.

Rute pemberian obat kepada mencit yaitu melaui oral dan Ip dimana rute
pemeberian oral kepada mencit harus seusai dengan prosedur sehingga tidak terjadi
kesalahan dalam pemberian obat dan mengakibatkan kematian pada mencit tersebut. Rute
pemberian oral ini sering dilakukan pada pratikum di labortarium karena sangat mudah
dikerjakan. Dan cara kedua pemberian secara Spuit Ip dengan penyutikan

Pada rute oral, Tiap sediaan diberikan melalui pemberian secara peroral dengan cara
diberikan dengan alat suntik yang dilengkapi dengan jarum oral. Kanulla dimasukkan ke
dalam mulut, kemudian perlahan-lahan dimasukkan melalui tepi langit-langit ke belakang
sampai esophagus. dan intraperitoneal dengan cara dipegang punggungnya sehinnga kulit
abdomennya menjadi tegang. Pada saat penyuntikan posisi kepala mencit lebih rendah
dari abdomennya. Jarum disuntikkan dengan membentuk sudut 10º dengan abdomen
agak menepi dari garis tengah untuk menghindari terkenanya kandung kencing. Jangan
pula terlalu tinggi agar tidak mengenai hati.

Pada percobaan kali ini adalah dengan mengenal, mempraktekkan, dan


membandingkan daya analgetika dari obat asam mefenamat, Na CMC, dan Antalgin
menggunakan metode rangsang kimia. Dimana Na CMC merupakan suatu senyawa
turunan selulosa yang berperan sebagai suspending agent untuk meningkatkan kestabilan
suspensi. NA CMC bekerja dengan mekanisme meningkatkan viskositas atau
kekentalan sediaan. Na CMC ini ialah zat dengan warna putih atau sedikit kekuningan
tidak berbau dan tidak berasa dimana berbentuk granula yang halus atau bubuk yang
bersifat higroskopis.

Sedangkan asam mefanamat adalah obat yang meredakan nyeri seperti sakit gigi,
sakit kepala dan nyeri haid , Dimana asam mefanamat tersedia dalam pasaran bebentuk
tablet 250 mg,500 mg dan sirup. Asam mefanamat bekerja menghambat enzim yang
memperoduksi prostaglandin yaitu senyawa penyebab rasa sakit dan peradangan
dimana asam mefanamat termasuk kelompok sifat antiinflamasi yang rendah. Asam
mefanamat banyak digunakan atau dikosumsi oleh masyarakat.

Selanjutnya yaitu antalgin, antalgin adalah obat yang bermanfaat meredakan rasa
nyeri serta menurun panas, obat ini biasa digunakan untuk menggantikan obat
parasetamol. Dimana obat antalgin bisa digunakan sakit kepala,sakit gigi,dan nyeri
minstruasi. Antalgin yang tersedia dipasaran adalah 500 mg berbentuk tablet derta
berbentuk 250 mg/ml untuk oba sedian suntik.Dimana obat antalgin ini bekerja
menghambat produksi hormone prostaglandin salah satu hormone yang memicu
peradangan,nyeri dan demam.

Pada praktikum kali ini langkah pertama yang dilakukan adalah kita timbang mencit
untuk menentukan VAO obat asam asetat. setelah itu, ambil obat dengan spuit untuk
intraperitoneal, volume obat yang diberikan sesuai VAO. Setelah itu, suntikkan obat
secara intraperitoneal ke salah satu mencit, amati dan tunggu 30 menit. Pemberian
dilakukan secara intraperitoneal karena untuk mencegah penguraian asam asetat saat
melewati jaringan fisiologik pada organ tertenntu. Dan larutan asam asetat dikhawatirkan
dapat merusak jaringan tubuh jika diberikan melalui rute lain, misalnya per oral, karena
sifat kerongkongan cenderung bersifat tidak tahan terhadap pengaruh asam.

Larutan asam asetat diberikan setelah 30 menit karena diketahui bahwa obat yang
telah diberikan sebelumnya sudah mengalami fase absorbs untuk meredakan rasa nyeri.
Selama beberapa menit kemudian, setelah diberi larutan asam asetat mencit menggeliat
dengan dua kaki depan menarik kedepan, dan dua kaki belakang menarik ke belakang,
sehingga terkadang bagian perut kejang karena terjadi rasa nyeri pada mencit tersebut.

Kegunaan asam asetat ini sebagai pereaksi kimia untuk menghasilkan berbagai
senyawa kimia Sebagian besar (40-45%) dari asam asetat dunia digunakan sebagai bahan
untuk memproduksi monomer vinil asetat (vinyl acetate monomer, VAM). Selain itu
asam asetat juga digunakan dalam produksi anhidrida asetat dan juga ester.

Dari percobaan tersebut, didapatkan hasil obat yang memiliki geliat tertinggi yaitu
asam mefanamat dengan dosis 100 mg dan kemudian selanjutnya yaitu asetosal dengan
dosis 200 mg kemudian selanjutnya antalgn dengan dosis 200 mg dan terakhir asam
mefanamat 200 mg. Hal ini juga dipengaruhi dengan jumlah dosis untuk mencapai efek
suatu analgesic pada uji ini, semakin tinggi dosis, maka geliat dari mencit akan semakin
berkurang, dan sebaliknya. Apabila melewati dosis terapi maka akan mengakibatkan
kematian pada mencit karena mengonsumsi obat tersebut tidak sesuai dengan dosis
terapi.

Faktor yang dapat mempengaruhi hasil pada percobaan kali ini adalah:

 Sifat genetic pada hewan uji


 Kesalahan dalam pemberian dosis
 Karakteristik dan lingkungan fisik hewan uji
 Factor lingkungan yang dapat mempengaruhi obat, contohnya cahaya
 Pengaruh stress pada hewan uji
VIII. KESIMPULAN

- analgetik merupakan kelompok obat yang memiliki aktivitas mengurangi rasa nyeri
tanpa menghilangkan kesadaran
- Berdasarkan atas kerja farmakologisnya, analgetika dibagi menjadi 2 kelompok besar
yaitu :
o Analgetik narkotik (analgetik sentral)
o Analgesik non opioid (non narkotik)
- Asam asetat digunakan untuk penginduksi nyeri
- Faktor yang dapat mempengaruhi hasil pada percobaan kali ini adalah:
o Sifat genetic pada hewan uji
o Kesalahan dalam pemberian dosis
o Karakteristik dan lingkungan fisik hewan uji
o Factor lingkungan yang dapat mempengaruhi obat, contohnya cahaya
o Pengaruh stress pada hewan uji

IX. DAFTAR PUSTAKA

Anief, M. 2000. Prinsip Umum dan Dasar Farmakologi. Gadjah Mada University Press:
Yogyakarta

Guyton, A.C. 1995. Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit. Penerjemah: Andrianto,
P. Jakarta: EGC.

Katzung, G. B. 1998. Farmakologi Dasar dan Klinik Edisi keenam. EGC: Jakarta.

Tjay Hoan Tan, 2007 .“Obat-obat penting”. PT Alex media ; Jakarta

Tjay, T.H dan K. Rahardja. 2007. Obat-obat Penting. PT Gramedia: Jakarta

Turner, R.A. 1965. Screening Methods in Pharmacology. New York: Academic Press.
X. LAMPIRAN

XI. PERTANYAAN

1. Kemukakan beberapa implikasi praktis dari hasil pengamatan saudara.

Jawaban :

Antalgn memiliki daya analgetik yang lebih kuat dibandingkan Na CMC yang
merupakan control dalam percobaan tersebut, antalgin dapat meredakan nyeri ringan
hinnga sedang.

Implikasi pada mencit yang telah diberikan obat setelah di induksia denagn asam
asetat menunjukkan jumlah geliatannya yang berkurang setiap selang waktu 5 menit
tetapi nyeri masih rasa berulang kembali.

2. Rumuskan dari pengamatan saudara beberapa parameter untuk pengujian efek


analgetik.
Jawaban :
- Mencit menarik kedepannya dan belakang (menggeliat)
- Menggaruk mengaruk perutnya,gelisah
3. Kemukakan beberapa alas anmengapa saudara mengamati perbedaan-perbedaan
dalam daya analgesik obat-obat yang digunakan dalam eksperimen ini.
Jawaban :
Tujuan untuk mengatahui obat mana yang memiliki daya analgetik yang paling kuat
serta pada waktu berepakah obat bekerja konstan

4.Indonesia index of medical specialities (IIMS) memuat sejumlah analgesik-


antipiretik yang beredar di Indonesia dengan susunan dan indikasinya. Pilih salah satu
sediaan yang menurut saudara dinyatakan secara wajar khasiat dan satu sediaan yang
tidak demikian halnya. Kemukakan alasan saudara.

Jawaban :

Parasetamol 500 mg tab

Jenis obat analgesic golongan bebas maanfaat analgetik dikosumsi dewasa dan anak
anak alsaanya karena pct merupakan obat yang umum bias dibeli secara bebas
diapotek dan terdapat banyak merek dagang dan PCT conoh merek dagang obat paten
terkenal yaitu Panadol

5.Kemukakan secara spesifik penderitaan nyeri yang diperingan oleh masing-masing


ergotamine senyawa-senyawa nitrit dan kolkhisin serta cara perwujudan efek ini.

Jawaban :

Antalgindengan menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri,sakit kepala,nyeri otot


sakit gigi dan nyeri pada saraf

6.Kemukakan metode lain untuk uji efek analgesik secara eksperimental.

Jawaban :

- Metode jentik ekor, Rancangan nyeri yang digunakan berupa air panas
- Metode plat panas, digunakan berupa lantai kadang panas yang akan menyebabkan
respon mengangkat kaki kedpean dan dijilat

Anda mungkin juga menyukai