Anda di halaman 1dari 3

ANALISIS JURNAL TERKAIT

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN PEMENUHAN


KEBUTUHAN AMAN DAN NYAMAN NYERI DENGAN DIAGNOSA MEDIK HERNIA
INGUINALIS

Disusun Oleh :

Mardalena, S.Tr.Kep

NIM: 2014901070

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN TANJUNG KARANG
JURUSAN KEPERAWATAN TANJUNGKARANG
PRODI PROFESI NERS
2020
The International Association for the Study of Pain (IASP) mendefinisikan nyeri sebagai
pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat adanya kerusakan atau
ancaman kerusakan jaringan. Berdasarkan definisi tersebut nyeri merupakan suatu gabungan
dari komponen objektif (aspek fisiologi sensorik nyeri) dan komponen subjektif (aspek
emosional dan psikologis). Nyeri menjadi salahsatu keluhan utama yang sering dialami oleh
pasien, demikian juga pada pasien dengan diagnose medis Hernia Inguinalis. Pada asuhan
keperawatan yang penulis berikan kepada klien terkait, didapatkan keluhan utama keperawatan
yang ada pada klien yaitu nyeri pada abdomen dekat area selangkangan.

Perawat melakukan asuhan keperawatan dimulai dengan pengkajian, kemudian


menentukan diagnose keperawatan, membuat perencanaan tindakan keperawatan, kemudian
mengimplementasikan rencana tindakan dan mengevaluasi. Tindakan yang perawat lakukan yaiu
terdiri dari observasi, terapeutik, edukasi dan kolaborasi. Pada tindakan terapeutik, perawat
memberikan terapi nonfarmakologis berupa teknik relaksasi nafas dalam. Tindakan-tindakan
yang perawat lakukan merujuk pada pedoman asuhan keperawatan SIKI ( Standar Intervensi
Keperawatan Indonesia) dan menilik dari penelitian-penelitian yang sudah dilakukan oleh
peneliti dengan referensi jurnal dan artikel terkait. Diantara jurnal yang menjadi rujukan penulis
yaitu penelitian oleh Agustinus Kri Ediyanto, (2018) tentang upaya penanganan nyeri pada
pasien post hemoroidektomi, dengan intervensi keperawatan yang diberikan pada klien dengan
diagnosa keperawatan nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik (prosedur bedah) antara
lain : lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif meliputi lokasi, karakteristik,
durasi,frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi, ajarkan manajemen nyeri menggunakan teknik
non-farmakologi yaitu anjurkan klien untuk memilih posisi yang nyaman, dan berikan antalan
saat duduk, ajarkan teknik relaksasi nafas dalam ketika nyeri muncul, ajarkan teknik distraksi
bila nyeri muncul, lakukan stimulus kutaneus atau sentuhan, berikan informasi tentang nyeri,
kolaborasi dengan dokter pemberian analgetik untuk menurunkan nyeri. Dari penelitian ini
didapatkan bahwa teknik nonfarmakologi yang diberikan dalam menurunkan nyeri terbukti
efektif dari skala nyeri 8 menjadi 4.

Sedangkan Megawahyuni,dkk (2018), memberikan hasil penelitian terkait terapi


nonfarmaklologis dalam asuhan keperawatan pada pasien dengan nyeri post section caesarria
dengan teknik meniup balon menunjukkan hasil bahwa relaksasi nafas dalam dengan teknik
meniup balon memiliki pengaruh terhadap perubahan skala nyeri pasca operasi seksio sesarea di
RSIA Bahagia Makassar. Demikian juga penelitian yang dilakukan oleh Zulfia Samiun (2019)
didapatkan hasil bahwa teknik nonfarmakologis relaksasi nafas dalam dan distraksi mampu
mengurangi rasa nyeri pada pasien degan rupture perineum. Selanjutnya menilik penelitian yang
dilakukan oleh Harmawati,(2019), yang meneliti mengenai asuhan keperawatan pada pasien
dengan Pre Operasi Benign Prostate Hiperplasia (BPH), terkait rasa aman nyaman, didapatkan pada hasil
penelitian berupa penurunan skala nyeri pada pasien dari skala 8 menjadi skala 5.

Dari asuhan keperawatan yang dilakukan oleh perawat dan berdasarkan jurnal/ artikel terkait,
penulis dapat menyimpulkan bahwa tindakan nonfarmakologis berupa terapi relaksasi nafas dalam
dapat membantu meringankan rasa nyeri pada klien dengan gangguan aman nyaman nyeri.