Anda di halaman 1dari 10

10.1.

1 KLASIFIKASI KEWAJIBAN

Menurut PSAK, liabilitas adalah kewajiban saat ini yang timbul


akibat peristiwa masa lalu yang penyelesaiannya mengakibatkan arus
keluar sumber daya entitas yang mengandung manfaat ekonomi.

Klasifikasinya:

1. Kewajiban Jangka Panjang (Lancar)


Kewajiban lancar adalah kewajiban yang diharapkan akan dibayar
dalam waktu satu tahun dengan menggunakan aktiva lancer yang ada atau
hasil dari pembentukan kewajiban lancer yang lain. Kewajiban lancar
terbagi menjadi dua jenis, yaitu kewajiban lancar yang sudah pasti
(determinable current liabilities) dan Kewajiban kontinjensi/bersyarat
(contingent liabilities). Contohnya seperti Hutang hipotek, hutang obligasi
yang jatuh tempo lebih dari setahun, hutang pinjaman jangka panjang, dan
lain sebagainya.

Kewajiban jangka Panjang terdiri dari tiga jenis, yaitu:

a) Kewajiban yang berasal dari operasi normal perusahaan. Seperti,


kewajiban pensiun dan kewajiban pajak penghasilan yang
ditangguhkan.
b) Kewajiban yang berasal dari situasi pembiayaan khusus. Seperti,
wesel bayar jangka Panjang, kewajiban leasing jangka Panjang,
dan penerbitan obligasi.
c) Kewajiban yang tergantung pada terjadi tidaknya suatu kejadian di
masa depan atau disebut kewajiban bersyarat (contingent
liabilities) seperti kewajiban garansi.

2. Kewajiban Jangka Pendek

Kewajiban lancar adalah kewajiban yang diharapkan akan dibayar


dalam waktu satu tahun dengan menggunakan aktiva lancar yang ada atau
hasil dari pembentukan kewajiban lancar yang lain. Kewajiban lancar
terbagi menjadi dua jenis, yaitu kewajiban lancar yang sudah pasti
(determinable current liabilities) dan Kewajiban kontinjensi/bersyarat
(contingent liabilities). Kewajiban ini biasanya untuk mendanai biaya
operasional perusahaan yang diperkirakan akan menuai laba pada tahun-
tahun setelah laporan keuangan dibuat selama beberapa kali. Dalam
konteks hutang jangka panjang para debitur atau pemberi hutang harus
sangat hati-hati dalam memberikan pinjaman jangka panjang. Beberapa
contoh kewajiban jangka panjang yaitu hutang obligasi, hutang pinjaman
jangka panjang dan lain sebagainya.
Karena hutang jangka panjang ini biasanya digunakan untuk modal
perusahaan tanpa harus membagikan porsi kepemilikan saham kepada
pihak lain. Jika perusahaan peminjam bangkrut maka tidak ada kewajiban
untuk mengembalikan hutang yang sudah di pinjam. Maka dari itu para
pemberi pinjaman harus lebih berhati-hati jika memberikan pinjaman
dengn jangka waktu yang lama. Harus memiliki data akurat tentang
perusahaan peminjam untuk mengantisipasi modal yang dapat tidak
dikembalikan. Terlepas darinya adanya risiko besar ini pemberi pinjaman
juga di janjikan bunga yang biasanya melebihi bunga deposito. Karna
perusahaan pasti sangat diuntungkan dengan adanya kucuran dana
pinjaman yang memiliki jangka waktu yang sangat panjang tersebut.

Jenis-jenis kewajiban lancar sendiri terbagi menjadi 2 yaitu

1. Kewajiban Lancar yang Sudah Pasti


Syarat suatu kewajiban dapat dimasukkan sebagai kewajiban lancar
yang sudah pasti terdiri dari 2 syarat. Syarat pertama yaitu adanya
kepastian tanggal dan jumlah yang harus di bayarkan. Yang termasuk
dalam kelompok ini antara lain seperti hutang dagang, hutang wesel,
hutang dividen, pendapatan dibayar dimuka dan lain sebagainya. (Baca
juga : harga pokok produksi)

2. Kewajiban Bersyarat
Jika kewajiban tidak memenuhi dua syarat yang saya sebutkan
diatas dapat masuk menjadi klompok kewajiban bersyarat. Kewajiban
bersyarat ini hanya dapat ditaksir nominal pembayarannya karena tidak
adanya kepastian jumlah yang harus dibayarkan. Jadi kewajiban yang
sudah timbul tidak dapat di perkirakan waktu pembayaran dan nominal
yang harus dibayarkan. Dalam suatu kasus ada juga kemungkinan tidak
adanya nominal yang harus di bayarkan pada masa mendatang. Contoh
kewajiban ini yaitu hutang garansi. Hutang garansi biasanya muncul pada
jurnal perusahaan penjual mobil dan motor. Kewajiban tersebut akan di
bayarkan jika memenuhi syarat yang mengharuskan garansi tersebut
keluar berdasarkan perjanjian yang sudah di sepakati antara pembeli dan
penerima.

10.2 PENYAJIAN KEWAJIBAN DALAM NERACA

Dalam laporan keuangan kewajiban masih dalam laporan neraca pada sisi
debit. Seperti yang saya tuliskan diatas aset bersumber dari ekuitas dan
kewajiban jadi kewajiban masuk di sisi kanan pada laporan neraca. Nantinya
kewajiban ini dapat di buatkan rasio yang dapat menggambarkan
perkembangan perusahaan. Dengan membandingkan kewajiban pada neraca
keuangan tahun ini dengan kewajiban pada neraca keuangan tahun kemaren.
Seperti yang sudah saya sebutkan diatas untuk membayar kewajiban lancar
biasanya di ambil dari pos aktiva lancar yang berbentuk kas dan aktiva lancar
lainnya. Ini berarti dalam menentukan rasio keuangan kewajiban lancar tidak
boleh melebihi aktiva lancar. Jika kewajiban lancar melebihi aktiva lancar,
maka untuk pembayaran kewajiban lancar yang memiliki tenggat waktu
hanya di bawah 1 tahun ini harus menambah kewajiban lancar lagi.

Alias harus mencari hutang lagi untuk membayar hutang yang sebelumnya.
Hal ini berdampak buruk pada cash flow perusahaan karna pada setiap hutang
pasti akan di bebankan bunga. Entah bunga tersebut berdasarkan waktu atau
berdasarkan tempo pembayaran. Toh akhirnya bunga yang di ciptakan dari
adanya kewajiban akan berdampak pada laba perusahaan. (Baca juga :
pengelolaan kas kecil perusahaan)

Untuk perhitungan kewajiban bersyarat kita harus mengandalkan taksiran


atau estimasi. Seperti contoh misalnya hutang garansi. Hutang garansi baru
dicatat jika adanya kontrak yang menyatakan perusahaan memberikan garansi
kepada pembeli. Hal ini dapat menjadi dokumen landasan bagi akuntan dalam
mencatat transaksi. Jika ada hal yang mengharuskan perusahaan membayar
garansi tersebut akuntan dapat mencatat biaya tersebut dan secara otomatis
biaya yang dicatat tersebut mengurangi kewajiban perusahaan.

Secara laporan keuangan biaya yang muncul pada saat adanya kejadian yang
mengharuskan perusahaan membayar kewajiban di masukkan pada laporan
laba rugi. Sedangkan untuk stok kewajiban yang belum terbayarkan nantinya
masuk pada laporan neraca. jika sebuah akun sudah masuk laporan neraca
keuangan otomatis akan terakumulasi jika setiap periode pencatatan tidak ada
perubahan. maka dari itu akun ini dimasukkan dalam laporan neraca jika pada
suatu periode tidak mengalami penambahan dan pengurangan tetap bisa
diperhitungkan pada periode kedepannya. (Baca juga: prinsip-prinsip
akuntansi)

Namun jika sampai pada masa akhir kontrak garansi masih belum ada hal
yang mengharuskan perusahaan menanggung garansi maka sisa kewajiban
tersebut dapat dimasukkan pada pendapatan lain-lain perusahaan. Yang
nantinya pendapatan tersebut dilaporkan pada laporan laba rugi perusahaan.
Memang untuk kewajiban bersyarat ada beberapa versi pelaporan, apalagi
jika perusahaan tersebut memiliki potensi besar untuk memiliki kewajiban
bersyarat. Seperti perusahaan asuransi misalnya, pasti memiliki sistem
pelaporan tersendiri mengenai kewajiban bersyarat. Dan hal terseebut masih
di perbolehkan selama para investor, pihak menejemen perusahaan dan
auditor memahami laporan yang dibuat perusahaan tersebut. (Baca juga : cara
membuat neraca keuangan)
1. Penyajian Kewajiban Jangka Pendek (Lancar)
Penyajian Hutang Lancar dalam Neraca Menurut PSAK No.1 suatu
kewajiban diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka pendek, jika:
a) diperkirakan akan diselesaikan dalam jangka waktu siklus normal
operasi perusahaan; atau
b) Jatuh tempo dalam jangka waktu dua belas bulan dari tanggal
neraca. Semua kewajiban di lluar itu harus diklasifikasikan
sebagai kewajiban jangka panjang.

Hutang lancar adalah kelompok hutang yang harus dilaporkan


paling atas dalam neraca. Dalam kelompok ini, setiap jenis hutang
dicantumkan secara terpisah dan informasi mengenai jangka waktu
utang wesel serta informasi penting lainnya harus diungkapkan dalam
catatan atas laporan keuangan. Cara penyajian yang umum dalam
praktik adalah dengan mencantumkan hutang wesel paling atas
kemudian hutang dagang, dan berikutnya utang lancar lainnya.
Contoh pelaporan sebagai berikut:

PT ABC
Neraca
Per 31 Desember 2003

KEWAJIBAN LANCAR

Hutang wesel Rp.   362.000


Hutang dagang Rp.1.498.000
Hutang gaji Rp    733.000
Hutang pajak Rp.   356.000
Bagian hutang jangka panjang yang jatuh tempo Rp.     78.000
Hutang bunga Rp.  190.000
Hutang lain-lain Rp.    65.000
Jumlah Kewajiban Lancar Rp3.482.000 

2. Penyajian Kewajiban Jangka Panjang Dalam Neraca

10.4 AGIO DAN DISAGIO SAHAM

1. Agio Saham
Adalah kekayaan bersih perusahaan yang diperoleh dari penilaian
atau penjualan saham di atas nilai nominalnya. Nilai agio saham diambil
dari selisih harga jual dan harga beli suatu saham. Singkatnya, agio saham
adalah selisih lebih setoran pemegang saham di atas nilai nominalnya.
Misalnya diketahui harga jual suatu saham adalah Rp5.000 per lembar
sedangkan nilai nominalnya Rp1.000 per lembar. Berdasarkan informasi
yang telah disampaikan, diketahui agio saham yang dicatat adalah Rp4.000
per lembar saham.

Ilustrasi Agio Saham

Berikut adalah ilustrasi agio sejak awal perusahaan dibentuk,


setelah operasional hingga melakukan ekspansi

A. Awal Pembentukan Perusahaan Perseroan Terbatas


Misalkan ada 5 orang, sebut saja, Citra, Ella, Bayu, Budi
dan Debi. Perusahaan ritel dengan modal dasar Rp100 miliar.
Kelima orang tersebut sepakat untuk menyetor modal masing-
masing sebesar Rp10 miliar, sehingga terkumpul modal disetor
sebesar Rp50 miliar. Dengan demikian, ada kekurangan Rp50
miliar yang belum disetor. Sejauh ini diketahui:
a. Modal dasar: Rp100 miliar
b. Modal disetor: Rp50 miliar
c. Modal dicadangkan: Rp50 miliar

  Ali Budi Choky Deni Endy

Modal 10 10 10 10 10
Disetor (Rp) miliar miliar miliar miliar miliar

Nominal Per
Lembar 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000
Saham (Rp)

Jumlah
10 10 10 10 10
Lembar
juta juta juta juta juta
Saham

Persentase
Kepemilikan 20 20 20 20 20
(%)

Total Modal
50 miliar
Disetor (Rp)

Total Saham
50 juta
Beredar
Kelima orang tersebut menyepakati saham dari perusahaan
yang akan dibentuk diberi nominal Rp1.000 per lembar saham,
sehingga masing-masing orang mendapatkan 10 juta lembar saham
(Rp10 miliar dibagi dengan Rp1.000 per lembar saham). Dari
kesepakatan itu, dibuatlah akta notaris sebagai berikut:

Modal Disetor

Adapun modal yang belum disetor sebesar Rp50 miliar merupakan saham
yang belum beredar dengan jumlah saham sebanyak 50 juta lembar dengan nilai
nominal yang sama, yaitu Rp1.000 per lembar. Saham belum beredar tersebut
biasanya dikenal sebagai saham dalam portopel. Dalam akta notaris pun dicatat
sebagai berikut:

Modal Dicadangkan (Belum Dikeluarkan)

  Dalam Portopel (Belum Dikeluarkan)

Modal Disetor (Rp) 50 miliar

Nominal Per Lembar Saham


1.000
(Rp)

Jumlah Lembar Saham Belum


50 juta
Dikeluarkan
Pada bagian neraca di laporan keuangan perusahaannya pun, akan tertulis seperti
ini:

Modal 50 miliar

Laba Ditahan 0

Agio Saham 0

Total Ekuitas 50 miliar


 

B. Operasional Perusahaan Setelah 3 Tahun


Perusahaan tersebut beroperasi, dan seiring dengan
berjalannya waktu perusahaan itu berkembang cukup baik dan
berhasil membukukan keuntungan sebesar Rp75 miliar dalam
tempo 3 tahun. Keuntungan tadi tidak diambil oleh pemegang
saham, namun dijadikan laba ditahan. Dari seluruh keuntungan ini
pun belum ada yang dibagikan kepada pemegang saham sebagai
dividen, sehingga dalam neraca keuangan perusahaan akan
terlihat:

Modal 50 miliar

Laba Ditahan 75 miliar

Agio Saham 0

Total Ekuitas 125 miliar


 

C. Ekspansi Perusahaan
Melihat perkembangan bisnis yang baik ini, pengelola
perusahaan pun mengajukan usul untuk melakukan ekspansi usaha
kepada 5 pemegang saham perusahaan. Nilai investasi yang
dibutuhkan perusahaan mencapai Rp200 miliar. Namun, tidak
satupun pemegang saham berniat menyuntik modal tambahan.
Berdasarkan kalkulasi tingkat keuntungan perusahaan dan prospek
keuntungan perusahaan ke depannya, pemegang saham pun
menyepakati bahwa sisa saham di portopel yang sebanyak 50 juta
lembar, akan dijual dengan harga Rp5.000 per lembarnya.
Diasumsikan penjualan lembar saham  tersebut akan
terserap dengan baik di pasar. Manajemen pun akan mendapatkan
dana segar sebanyak Rp250 miliar, dari menjual 50 juta lembar
saham tersebut di harga Rp5.000. Selisih antara nilai nominal
saham seharga Rp1.000 dengan nilai jual saham portopel sebesar
Rp5.000, yang sebesar Rp4.000 itu yang disebut agio saham. 

Perusahaan pun mendapat tambahan ekuitas sebagai berikut:

a. Modal Tambahan Hasil IPO = 50 juta lembar x Rp1000 = Rp50 miliar


b. Total Modal = Modal Disetor + Modal Tambahan = Rp50 miliar + Rp50
miliar = Rp100miliar
c. Agio Saham = 50 juta lembar x Rp4.000 = Rp200 miliar

Dan laporan neraca di bagian ekuitasnya menjadi:

Modal 100 miliar

Laba Ditahan 75 miliar


Agio Saham 200 miliar

Total Ekuitas 375 miliar


 

Dari laporan di atas, maka diketahui terdapat Rp200 miliar ekuitas yang
berasal dari agio saham. Sementara, nilai Rp1.000 lainnya dicatatkan sebagai
ekuitas yang bersumber dari modal disetor. Komposisi pemegang saham pun
berubah menjadi:

Bud Cho Den End Publ


  Ali
i ky i y ik

Modal 10 10 10 10 10 50
Disetor mili mili milia mili mili mili
(Rp) ar ar r ar ar ar

Nominal
Per
1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00
Lembar
0 0 0 0 0 0
Saham
(Rp)

Jumlah
10 10 10 10 10 50
Lembar
juta juta juta juta juta juta
Saham

Persentas
e
10 10 10 10 10 50
Kepemili
kan (%)

Total
Modal
100 miliar
Disetor
(Rp)

Total
Saham 100 juta
Beredar
 

2. Disagio Saham
Disagio saham diartikan sebagai selisih kurang setoran pemegang saham di bawah
nilai nominalnya dalam hal saham dikeluarkan dengan nilai nominal. Dengan kata
lain, disagio adalah agio yang negatif. Bila mengacu pada ilustrasi di atas, bila
perusahaan ingin melakukan ekspansi sementara kondisi keuangannya masih
merugi, Mungkinkah investor akan membelinya di harga premium? Karena itulah
sahamnya akan dijual di bawah nilai nominalnya.

Disagio saham adalah selisih kurang setoran pemegang saham di bawah nilai
nominalnya dalam hal saham dikeluarkan dengan nilai nominal. Terjadinya selisih
kurang tersebut disebabkan karena perusahaan sedang dalam kondisi merugi,
karena itu saham dijual dibawah nilai nominalnya. Dengan kata lain disagio
saham disebut juga sebagai agio yang negatif.

 
DAFTAR PUSTAKA

https://www.sahamok.com/agio-saham/

https://www.finansialku.com/agio-saham-adalah/

http://ad4lah.blogspot.co.id/2017/01/disagio-saham-adalah.html

https://zahiraccounting.com/id/blog/bagaimana-klasifikasi-akun-menurut-ifrs/

http://sitirohimahfitriah.blogspot.co.id/2015/06/materi-akuntansi-kewajiban.html

http://qamaruddinshadie.blogspot.co.id/2012/07/pengertian-kewajiban-dalam-
akuntansi.html

http://www.materiakuntansi.com/pengertian-kewajiban-jangka-panjang-dalam-
akuntansi/

http://www.materiakuntansi.com/pengertian-kewajiban-jangka-panjang-dalam-
akuntansi/

https://dosenakuntansi.com/pengertian-kewajiban-dalam-akuntansi

http://akuntansi-1992.blogspot.co.id/2011/11/pengkelompokan-akun-hutang.html