Anda di halaman 1dari 7

Nama : Febriani Dian Putri

Nim : 031209557

TUGAS TUTORIAL 3

MATA KULIAH: PSIKOLOGI SOSIAL

No Soal Skor maksimal


1 Jelaskan perbedaan antara prasangka dengan diskriminasi. Berikan contohnya. 15

2 Dalam kehidupan sehari - hari Anda tentu pernah melihat munculnya prasangka. 30
Cobalah identifikasi prasangka yang pernah Anda lihat tersebut.

 a. Uraikan bentuk prasangka yang anda lihat.

 b. Berikan saran cara mengatasinya dengan menggunakan teknik yang tepat.

Jawaban harus berdasarkan teori yang ada dalam Psikologi Sosial, bukan
pendapat pribadi Anda!

3 Pandemi Covid-19 telah membuat banyak aktivitas ekonomi lumpuh. Pusat-pusat


perbelanjaan, pusat hiburan dan wisata, serta sekolah tutup; bisnis transportasi
kehilangan penumpang; hotel dan restoran sepi tamu, dan masih banyak lagi.
Covid-19 juga memunculkan banyak perubahan.  Guru, murid, dan orang tua
mendadak kenal dan pintar belajar daring; semua orang terdorong berperilaku
bersih dan sehat. Udarapun terasa lebih bersih dan segar. Segalanya terasa
berubah, dan kita semua harus beradaptasi dengan perubahan itu.

a. Jelaskan perubahan sosial dan aspek-aspek perubahan sosial apa saja yang
terjadi dalam ilustrasi di atas? 15

b. Teori perubahan sosial apakah yang dapat digunakan untuk menjelaskan


fenomena di atas? Jelaskan dengan menggunakan minimal 2 teori perubahan
sosial. 25

c. Faktor-faktor apa sajakah yang dapat memunculkan perubahan sosial?


Jelaskan! 15

Jawab :

1. perbedaan antara prasangka dengan diskriminasi:


dari segi pengertian :
Prasangka berarti membuat keputusan sebelum mengetahui fakta yang relevan mengenai objek
tersebut. Awalnya istilah ini merujuk pada penilaian berdasar ras seseorang sebelum
memiliki informasi yang relevan yang bisa dijadikan dasar penilaian tersebut. Atau Prasangka
adalah Sikap yang negatif terhadap sesuatu tanpa ada alasan yang mendasar atas pribadi tersebut.

Contoh prasangka :
 orang yang lebih kaya tetapi jarang bergabung dalam kegiatan sosial mungkin akan
dinilai sebagai orang yang kikir dan sombong. Prasangka ini jelas saja bisa menimbulkan
situasi yang lebih negatif lagi.
 seseorang yang kurang percaya diri merasa benci saat dibandingkan dengan orang yang
mungkin lebih rupawan. Ia kemudian akan berprasangka bahwa ia tidak disukai oleh
banyak orang.
 ketika ada asumsi tertentu terhadap pengemis yang tidak perlu dikasihani, maka ia bisa
saja menaruh prasangka bahwa semua pengemis pada dasarnya adalah pemalas sehingga
tidak perlu dibantu.
 seseorang yang kurang percaya diri merasa benci saat dibandingkan dengan orang yang
mungkin lebih rupawan. Ia kemudian akan berprasangka bahwa ia tidak disukai oleh
banyak orang.

Diskriminasi adalah sikap membedakan secara sengaja terhadap golongan-golongan yang


berhubungan dengan kepentingan tertentu. Pembedaan tersebut biasanya didasarkan pada agama,
etnis, suku, dan ras. Diskriminasi cenderung dilakukan oleh kelompok mayoritas terhadap
kelompok minoritas. Ketika seseorang diperlakukan secara tidak adil karena karakteristik suku,
antar golongan, kelamin, ras, agama dan kepercayaan, aliran politik, kondisi fisik atau karateristik
lain yang diduga merupakan dasar dari tindakan diskriminasi.

Contoh diskriminasi :
Dalam bidang politik bisa dikemukakan pada saat pemilihan presiden RI yang lalu, seperti
jabatan presiden RI tidak mungkin dipegang oleh wanita (Prasangka Gender) atau presiden RI
tidak mungkin orang luar jawa (Prasangka Etnis). Individu yang berprasangka bahwa jabaatan
presiden RI harus Pria, maka ia tidak akan memilih calon presiden perempuan, demikian pula
individu yang berprasangka bahwa presiden harus berasal dari suku jawa, maka ia tidak akan
memilih calon presiden yang bukan etnis jawa.

Contoh dari Diskriminasi dalam Kehidupan Sehari-Hari


Berikut ini beberapa contoh diskriminasi dalam kehidupan sehari-hari:
 Para difabel yang tidak diberi fasilitas umum yang layak oleh pemerintah, entah itu
kendaraan, trotoar, ataupun tempat duduk di kendaraan umum.
 Seorang Ibu yang memperlakukan anaknya dengan semena-mena karena anaknya adalah
penyandang autis. Sementara itu, anak-anaknya yang normal diperlakukannya dengan
begitu istmewa.
 Seorang guru yang terlalu memperhatikan murid-muridnya yang cerdas, sedangkan
murid-muridnya yang biasa saja malah diabaikan. Padahal, setiap murid mempunyai
kemampuan masing-masing dan berhak diperlakukan setara.
 Wasit di suatu pertandingan sepakbola yang cenderung memberi keputusan yang
mengutungkan bagi tim tuan rumah.
 Rumah sakit yang tidak memberikan pelayanan kepada pasien yang miskin karena tidak
bisa membayar biaya pengobatan.
 Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) yang dijauhi masyarakat akibat penyakit yang
mereka idap. Padahal, penyakit yang mereka idap tersebut tidak akan menular meskipun
orang-orang ada di dekatnya.
 Perusahaan yang cenderung menerima lulusan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dibanding
lulusan Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Padahal, kemampuan lulusan PTN dan PTS
tidaklah jauh berbeda. Hal ini disebabkan karena masih adanya stereotip di pihak
perusahaan yang menganggap bahwa lulusan PTN adalah lulusan yang berkualitas dan
siap untuk bekerja.
 Perempuan masih dianggap tidak layak menjalani beberapa profesi yang biasa dilakukan
laki-laki, seperti sopir, montir, dan sebagainya. Padahal, perempuan juga mempunyai hak
untuk bekerja sesuai dengan kemampuan mereka, meskipun pekerjaan tersebut adalah
pekerjaan para laki-laki.
 Masih adanya anggapan bahwa orang yang pendiam adalah orang yang antisosial, tidak
menyenangkan, dan bahkan dianggap aneh. Padahal, orang yang pendiam sebetulnya
sama dengan orang-orang pada umumnya. Hanya saja, cara berkomunikasi dan
berekspresinya saja yang berbeda.
 Orang yang tidak mengenyam pendidikan formal hingga lulus sering dianggap sebagai
orang dengan masa depan suram. Padahal, peruntungan seseorang tidaklah selalu dari
jenjang pendidikan yang dia tempuh. Tidak sedikit yang pendidikan formalnya tidak
selesai namun mempunyai kesuksesan yang bisa melampaui lulusan pendidikan formal.
 Masih adanya anggapan bahwa sekolah negeri jauh lebih baik ketimbang swasta. Selain
itu, sekolah swasta juga dianggap sebagai tempat bagi para siswa yang gagal masuk
negeri serta para siswa yang badung. Padahal, kualitas sebuah lembaga pendidikan
tergantung dari kualitas pengajar serta peran lembaga pendidikan tersebut dalam
memajukan siswa-siswanya.
 Masih banyak siswa SMA yang menganggap bahwa jurusan IPA jauh lebih baik dan
menjanjikan dibanding jurusan IPS maupun Bahasa. Padahal, semua jurusan pada
hakikatnya sama-sama baik dan menjanjikan.
 Anak yang berpenampilan culun masih sering dijadikan bahan olokan. Mereka dianggap
sebagai manusia aneh dan tidak mempunyai kemampuan dan masa depan yang baik.
Padahal, setiap manusia hakikatnya mempunyai kemampuan dan potensi tersendiri dan
juga patut untuk dihargai dan dihormati.
 Adanya ketidakadilan dalam putusan hakim pada kasus pencurian ayam dengan kasus
korupsi. Pelaku pencurian ayam dihukum penara hingga puluhan tahun, sedangkan
pelaku korupsi hanya dihukum penjara selama beberapa bulan saja. Hal ini merupakan
tanda adanya diskriminasi serta permasalahan hukum di Indonesia.

Contoh lainnya :
bentuk diskriminasi ras yang masih menjadi isu hingga saat ini ialah, perilaku etnis dominan
terhadap etnis Tionghoa dalam birokrasi. Sejak peristiwa Mei di tahun 1998, keturunan etnis
Tionghoa hingga saat ini kesulitan untuk menjadi pegawai birokrasi pemerintahan.

Perbedaan prasangka dan diskriminasi lainnya :


Prasangka merupakan kesiapan atau prediposisi perilaku, bisa juga suatu wacana. sedangkan
diskriminasi merujuk pada tindakan nyata yang didasari oleh prasangka.

Referensi :
BMP ADPU4218 Modul 4
https://id.wikipedia.org/wiki/Prasangka
https://www.kompasiana.com/noname5800/5b8b75aa6ddcae425a361952/prasangka-dalam-
lingkup-kelompok-sosial
https://kbr.id/editorial/08-2019/prasangka_pada_papua/100262.html
https://materiips.com/contoh-diskriminasi-dalam-kehidupan-sehari-hari
https://blog.ruangguru.com/bentuk-diskriminasi-di-masyarakat

2. Uraian bentuk prasangka yang dilihat :


Prasangka Negatif
Mengapa prasangka negatif berakibat negative terhadap hubungan antar pribadi dan
hubungan antar kelompok ? jawabannya adalah karena suatu prasangka didasari oleh streotipi
(stereotrype), sifat yang diyakini melekat pada suatu kelompok atau anggota kelompok. Sebagai
sumber prasangka, streotipi bersifat tidak adil, tidak cermat, dan memukul rata secara serta merta
suatu gejala. Bila kita memiliki stereotipi bahwa orang ambon pandai menyanyi , misalnya , maka
dalam pikiran kita ada anggapan bahwa “semua” orang bisa dan pandai menyanyi. Demikian pula
kita bisa mempunyai stereotipi mengenal orang bali, yakni mereka pandai menari , bahkan kita
meyakini bahwa bukan orang bali kalau tidak bisa menari.
Bagaimana terbentuknya stereotipi yang merupakan sumber prasangka itu ? menurut teori
psikologi kognitif, tebentuknya stereotipi diawali oleh proses kategorisasi dan pembentukan
skema dalam pikiran atau kognisi manusia. Dalam kehidupan nyata sehari-hari manusia selalu
berupaya melakukan penggolongan atas obyek yang dilihatnya. Pada saat bertemu dengan orang
lain, individu cenderung mengategorisasikan orang yang baru ditemuinya, misalnya laki-laki
berusia 40 tahunan, suku jawa dan pengusaha batik. Dengan kata lain, individu tadi dalam waktu
singkat telah mengategorisasikan orang tersebut atas dasar usia, suku bangsa, dan pekerjaan.
Selanjutnya, atas dasar kategorisasi yang sekejap ini, individu tersebut mengambil keputusan
(Judgement) mengenai orang yang baru dikenalnya itu, yakni etos kerjanya tinggi tidak seperti
halnya orang yang berusia lanjut dan pegawai negeri yang etos kerjanya rendah. Kategorisasi
yang bisa melahirkan stereotipi bisa juga atas dasar status (militer, sipil), gender, agama dan
kelompok. Misalnya, kalau “militer” sebagai satu kategori dikontraskan dengan kategori “sipil”
di pihak lain maka dengan sangat mudah akan terbentuk stereotipi militer seperti disiplin, suka
main pukul, sikapnya kaku, setia dan patuh pada perintah atasan yang kesemua ciri itu berbeda
bahkan bertentangan dengan stereotipi orang sipil.

Referensi : BMP ADPU4218 Modul 4 KB 1

Cara mengatasinya dengan menggunakan teknik yang tepat :


mengatasi prasangka bukanlah hal yang mudah karena didalamnya selalu ada kepentingan
kelompok, sulitnya memenuhi harapan masing-masing kelompok yang bertikai, dan terjadinya
risiko yang menguntungkan salah satu kelompok.
Ada 3 cara untuk menangani prasangka :
1. Sosialisasi.
Terdapat indikasi bahwa prasangka sepertinya dipelajari pada usia-usia awal
dalam kehidupan dan pandangan itu menjadi stabil atau mapan seiring perkembangan
usia.
Melalui penelitian , Firebaugh dan Davis (1988) memperlihatkan bahwa prasangka secara
spontan berkurang. Perubahan besar yang terjadi ini karena orang-orang yang lebih
mudah tumbuh dengan prasangka yang lebih sedikit dibandingkan dengan generasi
sebelumnya sehingga perlahan-lahan prasangka memudar. Pendidikan juga berkaitan
dengan prasangka, semakin terdidik seseorang, terutama ketika ia mengenyam
pendidikan tinggi, semakin kecil kemungkinan prasangka.
Hal ini memperlihatkan bahwa satu sisi prasangka ditularkan dari generasi
kegenerasi dan sisi lain menimbulkan pertanyaan sejauh mana prasangka dapat dicegah
melalui pendidikan. Sebab, bahwa pendidikan mempunyai efek mengurangi prasangka
belumlah ditemukan jawabannya. Namun, ada indikasi bahwa prasangka dapat dikurangi
dengan cara melakukan pengajaran secara langsung.
Temuan-temuan lain memperlihatkan bahwa ada beberapa orang yang dapat
mengendalikan prasangka mereka secara sadar dan sukarela serta mngikuti pelatihan
secara langsung dan ekstensif dalam menegaskan stereotipi terbukti efektif dalam
mengendalikan prasangka. Namun, tidak hanya itu, bebrapa temuan juga memperlihatkan
bahwa tidak jarang konfrontasi secara langsung mengenai prasangka yang dimiliki subjek
malah mengakibatkan efek negative, mereka menjadi terganggu dan cenderung
meningkatkan antagonisme terhadap sasaran prasangka.
2. Kontrak antar Kelompok.
Pandangan ini berawal mula dari pemikiran bahwa ketidaktahuan atau
ketidaksadaran mengakibatkan stereotipi antar kelompok. Tidak jarang ketidaktahuan ini
diakibatkan oleh sedikit atau minimnya interaksi atau kontak antar kelompok. Sebagai
contoh, sejumlah komplek timpat tinggal yang tesegegrasi berkonstribusi menciptakan
minimnya kontak antar ras yang menyebabkan minimnya pengetahuan satu kelompok
mengenai kelompok yang lain yang pada akhirnya merupakan lahan subur bagi
berkembangnya stereotipi. Jika ini masalahnya maka seharusnya , dengan mengusahakan
lebih banyak kontak atau interaksi anatar kelompok dapat menciptakan persepsi yang
akurat terhadap kelompok lain dan dengan sendirinya mereduksi prasangka.
4 kondisi penting yang dapat membantu mengurangi prasangka :
1.Kerja sama salaing ketergantungan.
2.Kontak antar pribadi dengan status yang setara
3.Kedekatan
4.Dukungan institusi
3. Kategorisasi Ulang.
Salah satu pendekatan utama lain yang memusatkan pada basis kognitif dari
stereotipi adalah melakukan kategorisasi ulang. Walaupun sudah terdapat kontak atau
interaksi antar in-group dan out-group yang bertikai dan ketika out-group ditemukan
tidak lagi cocok dengan stereotipi yang dimiliki in-griup , tetap saja, kecendrungan
terhadap pengategorisasikan dan stereotipi masih kuat
Kategorisasi ulang adalah sebuah strategi yang melibatkan anggota-anggota in-
group dan out-group dikategori ulang pada sebuah identitas kelompok yang lebih besar
dan inklusif contoh yang dapat diambil adalah ketika pemain sepak bola dari kedua
kelompok yang bermain melakukan doa bersama setelah pertandingan. Ketika berdoa,
identitas kelompok-kelompok dilebur dan menyatu dalam identitas kelompok baru yang
lebih besar seperti umat islam, Kristen atau umat beragama dan lain sebagainya.

Referensi : BMP ADPU4218 Modul 4 KB 4

3. Jelaskan perubahan sosial dan aspek-aspek perubahan sosial apa saja yang terjadi dalam
ilustrasi di atas?
Jawab :
Perubahan sosial.
Perubahan sosial adalah proses perubahan pola tingkah laku, budaya dan struktur masyarakat
yang terjadi seiring dengan berjalannya waktu.
Perubahan sosial ini merupakan proses yang terjadi pada segala aspek kehidupan masyarakat,
sehingga sebagai akibatnya, akan mempengaruhi pola interaksi sosial sehari-hari dan struktur
pranata sosial yang terdapat di dalam masyarakat yang bersangkutan. Sedangkan rogers dan
shoemaker merumuskan perubahan sosial sebagai proses terjadinya perubahan pada struktur dan
fungsi suatu sistem sosial.

Aspek-aspek sosial perubahan sosial :


1. Sumber Perubahan sosial
Sumber dan inisiatif perubahan sosial suatu masyarakat dapat berasal dari dalam dan dari
luar sistem masyarakat yang berasangkutan. Menurut Rogers dan Shoemaker (1971),
sumber perubahan sosial yang berasal dari masyarakat yang bersangkutan disebut
immanentchange, sedangkan perubahan sosial yang bersumber dari luar masyarakat,
disebut sebagai contact change yang dapat dibagi menjadi selective contact change dan
directed contact change.
2. Motivasi perubahan sosial
Motivasi atau tenaga pendorong yang menyebabkan terjadinya perubahan sosial, dapat
dikelompokkan menjadi perubahan sosial karena direncanakan (planned social change)
dan tidak direncanakan (unplanned social change). Perubahan sosial yang direncanakan
(planned social change) mempunyai padanan istilah lain, yakni social planning (Andrew,
1994) planned charge (Lippit, Watson, Westley, 1958) , social marketing (Kotler dan
Zaltman, 1972) dan change management (Kaufman, 1972) yang maknanya sama dengan
social change.
Perubahan sosial yang direncankan akan mendorong muncul serangkaian langkah nyata
(action plan) dengan menggunakan strategi tertentu. Suatu perubahan sosial yang
direncanakan dapat menghasilkan perubahan sosial yang tidak direncanakan (unplanned
social change). Perubahan yang sosial yang tidak direncanakan merupakan hasil interaksi
antara berbagai kekuatan ( forces) selama berlangsungnya proses perubahan sosial yang
direncanakan, dan sering bersifat tidak rasional terjadi atau muncul begitu saja, dan
konsekuensinya tidak kita harapkan.
3. Manifestasi perubahan sosial
Manifesti perubahan sosial yang meliputi dimensi sasaran perubahan dan dimensi waktu,
dimensi waktu meliputi dampak jangka pendek dan jangka panjang. Dimensi waktu ini
bersifat relatif, bisa dalam anti hari, minggu, bulan atau tahun. Sedangkan dampaknya
bisa terjadi pada tingkat micro (individu), intermediate (kelompok) dan macro
(masyarakat). Bila dimensi “waktu” digabungkan dengan dimensi “dampak”.
4. Konsekuensi perubahan sosial
Konsekuensi dari suatu perubahan sosial menurut Rogers dan Shoemaker (1971) dapat
dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yakni :
a. Konsekuensi Fungsional versus konsekuensi tidak fungsional
b. Konsekuensi langsung versus konsekuensi tidak langsung
c. Konsekuensi manifest versus konsekuensi laten

Referensi : BMP ADPU4218 Modul 8 KB 1

Teori perubahan sosial apakah yang dapat digunakan untuk menjelaskan fenomena di
atas? Jelaskan dengan menggunakan minimal 2 teori perubahan sosial.
Jawab :
1. Perspektif Evolusioner (Evolutionary Perspective)
Teori perspektif evolusioner dikemukakan oleh Herbert Spencer dan Gerhard Lenski.
Menurut mereka perubahan sosial merupakan proses yang terjadi secara linear, jadi
perubahan sosial dipandang serupa dengan evolusi biologis
2. Perspektif Siklus (Clycical Perspective)
Dikemukakan oleh Oswald Spengler, Arnold Toynbee, dan Paul Kennedy. Mereka
beranggapan bahwa perubahan sosial merupakan proses yang terjadi di dalam sebuah
siklus, semua masyarakat memiliki sebuah siklus kehidupan yang alami : lahir, tumbuh,
menjadi dewasa, meredup dan kemudian mati tergantikan oleh bentuk masyarakat yang
baru. Focus utamanya bukanlah untuk mencari arah perubahan dari masyarakat,
melainkan untuk mengetahui seperti apa siklus kehidupan masing-masing masyarakat.
3. Perspektif Fungsional (Functional Perspective)
Dikemukakan oleh William Ogburn berpendapat bahwa perubahan sosial merupakan
sebuah proses dinamis, terus bergerak, yang dilakukan oleh masyarakat dalam rangka
mencapai keseimbangan (equilibrium). Dalam budaya terdapat faktor material dan non-
material. Sumber perubahan sosial terdapat pada perkembangan dalam faktor material,
seperti : perlatan, senjata, maupun proses-proses teknis. Adanya perkembangan dalam
faktor material menyebabkan faktor non-material yaitu : nilai-nilai sosial, norma, agama,
hukum, maupun keluarga, bergerak berubah untuk menyesuaikan diri. Di sinilah
perubahan sosial terjadi.

Referensi : BMP ADPU4218 Modul 8 KB 2

Faktor-faktor apa sajakah yang dapat memunculkan perubahan sosial? Jelaskan!


Jawab :
1. Lingkungan Fisik
Lingkungan fisik merupakan faktor yang sangat berpengaruh dalam perubahan sosial.
Jika suatu masyarakat ingin bertahan, pertama yang harus dilakukannya adalah
beradpatasi dengan lingkungannya. Ketika lingkungannya berubah, masyarakat juga
harus cepat menyesuaikan diri, baik dengan membentuk sistem sosial yang baru maupun
menciptakan teknologi baru yang sesuai.
2. Populasi
Dinamisnya jumlah individu yang ada dalam suatu masyarakat akan menyebabkan
beberapa perubahan di beberapa bidang.
3. Inovasi
Ada dua jenis inovasi, yaitu penemuan (discovery) dan penciptaan (invention) keduanya
merupakan representasi usaha masyarakat dalam menggunakan pengatahuan yang
mereka miliki. Usaha tersebut dilakukan guna mengatasi keterbatasan atau ancaman yang
bersumber dari lingkungan sekitarnya dengan tujuan meningkatkan kualitas kehidupan
mereka.
Usaha tersebut tentunya menimbulkan perubahan-perubahan pada sebagian besar bidang
kehidupan masyarakat.
4. Difusi
Difusi diartikan sebagai proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan dari satu msyarakat
ke masyarakat lainnya. Perubahan sosial dapat terjadi karena dengan terjadinya
penyebaran kebudayaan, sebuah masyarakat memiliki kesempatan belajar dari
pengalaman masyarakat lain mengenai banyak hal. Dari hasil pembelajarannya itu,
masyarakat yang bersangkutan bergerak untuk mencapai kemajuan yang telah dicapai
oelh masyarakat yang lain. Dalam hubungan ini dapat dikemukakan penemuan mesin
cetak di Jerman, misalnya. Penemuan ini kemudian disebarkan dan dipelajari oleh
Negara-negara lain, yang kemudian menyebabkan terjadinya perubahan dalam berbagai
bidang, seperti pada bidang media massa, tiras surat kabar meningkat, jumlah buku yang
diterbitkan meningkat dan penyebaran informasi pun menjadi efektif.

Referensi : BMP ADPU4218 Modul 8 KB 3

Anda mungkin juga menyukai