Anda di halaman 1dari 31

RESUME

PENGANTAR ILMU KOMUNIKASI

FAIRUZ RAIHANA SAFITRI

B 501 18 087

KELAS B

PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK


UNIVERSITAS TADULAKO

2018
1. Proses dan Model-model Komunikasi

Proses komunikasi adalah proses peleburan makna dari lambing-lambang

komunikasi yang disampaikan oleh komunikator dan komunikan. Osgood (1998)

meninjau proses komunikasi dari peranan manusia dalam hal memberikan

interprestasi (Penafsiran) terhadap lambing-lambang tertentu (Message).

Proses komunikasi melibatkan banyak factor atau unsur yang ada di dalamnya,

yaitu pelaku atau peserta, pesan (meliputi bentuk, isi, dan cara penyajiannya),

saluran, media atau alat yang dipergunakan untuk menyampaikan pesan, waktu,

tempat, hasil atau akibat yang terjadi, hambatan yang muncul, serta situasi atau

kondisi saat berlangsungnya proses komunikasi.

Secara linier, proses komunikasi setidaknya melibatkan empat elemen atau

komponen, yaitu sebagai berikut :

a. Sumber/pengirim pesan/komunikator, yaitu seseorang atau sekelompok

orang atau organisasi/institusi yang mengambil inisiatif mengirim pesan.

b. Pesan, berupa lambing atau tanda seperti kata-kata tertulis atau lisan,

gambar, angka, dan gestura.

c. Saluran, yaitu sesuatu yang dipakai sebagai alat penyampaian/pengiriman

pesan (Misalnya telepon, radio, surat, surat kabar, majalah, televise, gelombang

udara dalam konteks komunikasi antar pribadi secara tatap muka).

d. Penerima/komunikan, yaitu seseorang atau sekelompok orang atau

organisasi/institusi yang menjadi sasaran penerima pesan.

Di samping keempat elemen tersebut, ada faktor lainnya yang juga penting

dalam proses komunikasi, yaitu :


a. Akibat/dampak/hasil yang terjadi pada pihak penerima/komunikan.

b. Umpan balik/feedback, yaitu tanggapan balik dari pihak

penerima/komunikan atas pesan yang diterimanya.

c. Noise (Gangguan), yaitu faktor-faktor fisik maupun psikologis yang dapat

mengganggu atau menghambat kelancaran proses komunikasi.


Osgood (1998) menjelaskan bahwa berdasarkan tahapannya, proses

komunikasi dibedakan menjadi berikut :

a. Proses komunikasi primer, yaitu proses penyampaian pikiran/pesan

seseorang kepada orang lain dengan menggunakan simbol/lambang sebagai media

utama. Lambang dapat berwujud bahasa lisan, kial, isyarat, gambar yang secara

langsung mampu menerjemahkan pikiran/perasaan audiens.

b. Proses komunikasi sekunder, yaitu proses penyampaian pesan dengan

menggunakan media kedua setelah memakai lambang sebagai media

utama/pertama.

c. Proses komunikasi linier, yaitu penyampaian pesan dan komunikator

kepada komunikan sebagai titik terminal.

d. Proses komunikasi sirkular, yaitu terjadinya feedback atau umpan balik

dari komunikan ke komunikator.

Sedangkan model komunikasi adalah gambaran sederhana dari proses

komunikasi yang memperlihatkan kaitan antara satu komponen komunikasi dan

komponen lainnya. Secara umum, model komunikasi dapat dibagi menjadi lima

kelompok. Kelompok pertama disebut sebagai model-model dasar. Kelompok

kedua menyangkut pengaruh personal, penyebaran, dan dampak komunikasi

massa terhadap perorangan. Kelompok ketiga meliputi model-model tentang efek

komunikasi massa terhadap kebudayaan dan masyarakat (Onong Uchyana

Effendy, 2015). Kelompok keempat berisikan model-model yang memusatkan

perhatian pada khalayak. Kelompok kelima mencakup model-model komunikasi

tentang system, produksi, seleksi, dan alur media massa.


Model-model dalam proses komunikasi antara lain sebagai berikut :

a. Model S-R (Stimulus-Respons)

Model SR adalah model komunikasi paling dasar. Model ini dipengaruhi

oleh disiplin psikologi behavirostik. Model ini menunjukkan bahwa komunikasi

sebagai proses ‘aksi-reaksi’ yang sangat sederhana. Model ini mengasumsikan

bahwa kata-kata verbal, isyarat nonverbal, gambar dan tindakan terntentu akan

merangsang orang lain untuk memberikan respons dengan cara tertentu.

b. Model Aristoteles

Model ini merupakan model komunikasi yang paling klasik dala ilmu

komunikasi, yang disebut juga dengan model terorikal. Model ini sering disebut

sebagai seni berpidato. Model ini membuat rumusan tentang model komunikasi

verbal yang pertama.

c. Model Lasswell

Model ini menggambarkan komunikasi dalam ungkapan who says what in

which channel to whom with what effect atau dalam bahasa Indonesia berarti siapa

mengatakan apa dengan medium apa kepada siapa dengan pengaruh apa. Model

ini sering digunakan pada komunikasi massa.

d. Model Gerbner

Model ini merupakan perluasan dari model komunikasi milik Lasswell.

Model ini terdiri atas model verbal dan model diagramatik. Model verbal adalah

seseorang memersepsi kejadian dan bereaksi dalam situasi itu melalui berbagai
pemaknaan untuk membuat bahan-bahan yang dibutuhkan dalam beberapa bentuk

dan konteks dalam suatu isi dengan konsekuensi yang ada.

e. Model Dance

Model ini menjelaskan bahwa komunikasi tidak berlangsung dalam satu

lingkaran penuh, tetapi bergerak maju. Model komunikasi ini dapat dikaji sebagai

pengembangan dari model sirkular dari Osgood dan Schramm. Ketika

membandingan model komunikasi linier dan sirkular, Dance mengatakan bahwa

saat ini banyak orang menganggap bahwa pendekatan sirkular adalah paling tepat

dalam menjelaskan proses komunikasi.

Selain dari kelima model komunikasi di atas, masih banyak lagi model

komunikasi yang ada. Seperti model Schramm, Shannon, dll.

2. Kompleksitas Komunikasi Antar Manusia

Ilmu sosial sangat erat hubungannya dengan kehidupan manusia sehari-

hari pada umumnya yang mempelajari segala bentuk tingkah laku manusia, seperti

pemenuhan kebutuhan, jual-beli, musyawarah, politik, geografi, antropologi,

keluarga dan sebagainya.Segala bentuk interaksi antar individu dengan

menggunakan media apapun, seprti komunikasi langsung dengan tatap muka,

surat-menyurat, telepon, internet, merupakan bagian dari ilmu sosial.

Hal pertama yang kita tangkap dari pengertian di atas adalah, adanya unsur

komunikasi sebgai landasan terbentuknya interaksi sosial.Setiap manusia

berhubungan satu dengan yang lainya, sebagai contoh hal mendasar dari tingkah

laku manusia adalah pemenuhan kebutuhan.Dalam memenuhi kebutuhannya


manusia memerlukan peran dari manusia lainnya. Itu lah mengapa manusia

disebut sebagai makhluk sosial, karena manusia tidak bisa hidup tanpa adanya

peran manusia yang lain. Perlu adanya komunikasi sebagai media penghubung

terbentuknya interaksi antar individu manusia agar kenginan atau maksud tertentu

dapat tersampaikan.

Sejak manusia dilahirkan, sudah dikenalkan dengan dengan komunikasi,

dari bentuk paling sederhana seperti seorang ibu yang berkomunikasi dengan

bayinya dengan hanya dengan gerakan tangan yang membuat sang bayi tersenyum

atau bahkan tertawa. Hingga sang bayi tersebut tumbuh dan mengenal beberapa

patah kata hingga kalimat dalam bahasa tertentu yang dibawa oleh orang tuanya

atau saudara-saudaranya. Bagaimana mungkin seorang bayi atau anak kecil dapat

memagami bahasa komunikasi tanpa ada yang memperkenalkan terlebih

dahulu.Apa jadinya jika seorang bayi tidak pernah diajak berinteraksi?

Dengan adanya komunikasi antar individu, dan terus berkembang menjadi

sebuahkelompok, yang saling berhubungan dalam memenuhi kebutuhan sehari-

hari dan membentuk sistem ekonomi tertentu. Interaksi antar kelompok terus

berkembang menjadi sebuah masyarakat yang besar, dan tidak hanya sampai

disitu, semakin kompleksnya kehidupan masyarakat hingga memerlukan

pemimpin atau sekelompok pemerintah yang bisa mengatur jalanya roda

kehidupan agar berjalan teratur dan tertib, timbulah sistem politik yang

merupakan titik awal terbentuknya sebuah negara. Sekelompok masyarakat luas

tentunya memeliki tempat bernaung, tempat tinggal tetap, dan tempat dimana
mereka melakukan segala bentuk pemenuhan kebutuhan, seperti pasar, sekolah,

olahraga, dan sebagainya. Wilayah dimana sebuah masyarakat berdiri akan

ditentukan batas wilayah, yang akhirnya timbul sistem geografi yang menentukan

luas wilayah, nama negara/kota, batas pemerintahan, dan ciri-ciri tertentu dalam

sebuah negara yang terbentuk.

Suatu negara memiliki ciri khusus yang membedakannya dengan negara

yang lain, daritata cara pernikahan, becocok tanam, mata pencaharian, sistem

pemerintahan. Hal-hal tersebut dinamakan adat istiadat, dan ilmu mengenai hal

tersebut adalah antropologi.Perbedaan-perbedaan tersebut yang membuat

masyarakat terkotak-kotak dan tidak jarang terjadi perselisihan antar adat atau

bahkan antar kota hingga perang antar negara.

Segala bentuk perselisihan tersebut merupakan bagian dari sistem sosial

yang dinamis, cara-cara lama akan terus berkembang membentuk cara-cara baru

yang dianggap lebih baik dan lebih sesuai untuk masyarakat yang bersangkutan.

Kadang timbul dibenak kita, mengapa terjadi perang, padahal manusia dapat

memenuhi kebutuhannya dengan cara yang baik, tanpa kekerasan. Dan tentunya

hal baik akan memperoleh hal baik pula.

Namun pada kenyataannya, sistem sosial tidak berkata demikian, saat

individu merasa tidak puas dengan apa yang diperolehnya, maka ia akan mencari

segala cara untuk mendapat lebih dari yang lain, baik dengan cara mencuri,

merampok, bahkan sampai membunuh. Sejarah dunia sudah banyak menampilkan

tokoh-tokoh yang berwatak demikian, hingga berkuasa di sebuah negara, dan


memerangai negara lainnya, yang dianggap tidak cocok dengan pemikian individu

tersebut.

Demikian lah ilmu sosial dari sudut pandang saya yang mana merupakan

ilmu dari segala bentuk tingkah laku di dalam masyarakat. Blog yang saya bangun

ini akan mencoba mengupas lebih dalam, bersama para pembaca untuk

mendiskusikan apa yang sedang terjadi dan akan terjadi pada masyarakat kita dan

dunia dari sudut pandang ilmu sosial.

3. Aspek-aspek Dalam Komunikasi Manusia

Lima aspek yang perlu dipahami dalam membangun komunikasi yang efektif,

yaitu :

a. Kejelasan

Hal ini dimaksudkan bahwa dalam komunikasi harus menggunakan bahasa

dan mengemas informasi secara jelas, sehingga mudah diterima dan dipahami

oleh komunikan.

b. Ketepatan

Ketepatan atau akurasi ini menyangkut penggunaan bahasa yang benar dan

kebenaran informasi yang disampaikan.

c. Konteks

Konteks atau sering disebut dengan situasi, maksudnya adalah bahwa bahasa

dan informasi yang disampaikan harus sesuai dengan keadaan dan lingkungan

dimana komunikasi itu terjadi.


d. Alur

Bahasa dan informasi yang akan disajikan harus disusun dengan alur atau

sistematika yang jelas, sehingga pihak yang menerima informasi cepat tanggap

e. Budaya

Aspek ini tidak saja menyangkut bahasa dan informasi, tetapi juga berkaitan

dengan tatakrama dan etika. Artinya dalam berkomunikasi harus menyesuaikan

dengan budaya orang yang diajak berkomunikasi, baik dalam penggunaan bahasa

verbal maupun nonverbal, agar tidak menimbulkan kesalahan persepsi.

4. Proses Penerimaan Pesan dan Persepsi Pesan

Pengalaman tentang objek peristiwa, atau hubungan-hubungan yang

diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan.persepsi ialah

pemberian makna pada stimuli indrawi.hubungan dengan sensasi dengan persepsi

sudah jelas.sensasi merupakan bagian dari persepsi (Desirato.1976).

Persepsi merupakan sebuah proses memilah, mengorganisir, dan

menginterpretasikan berbagai informasi dan mengolahnya agar kita dapat

mendapatkan pandangan tentang dunia yang sebenarnya.

A. Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi

- Faktor fungsional

Berasal dari kebutuhan, pengalamanmasa lalu, pengetahuan, kebiasaan dan

berbagai hal lain yang bersifat personal-Objek-objekyang mendapatkan tekanan

dalam persepsi adalah objek-objek yang memenuhi tujuan individu yang

melakukan persepsi. Contoh : Bila seseorang haus dan ia datang kesebuah


warung, yang pertama ia perhatikan adalah minuman apa saja yang dijual di

warung tersebut.

- Faktor situasional

Untuk memahami suatu peristiwa kita harus melihat Secara keseluruhan,

Di dalam konteks. Manusia selalu menghubungkan suatu hal sebelum

memberikan makna. Contoh : Melihat rumah seseorang yang besar, kita

berpendapat bahwa orang tersebut adalah orang kaya kecenderungan dalam

melakukan persepsi.

B. PERSEPSI DAN KEBUDAYAAN

 Budaya sangat menentukan bagaimana seorang individu mempersepsi

sesuatu.

 Miskomunikasi akan sering terjadi bila seseorang dari satu budaya

melakukan kontak dengan orang lain yang berasal dari budaya yang

berbeda.

C. PERSEPSI DAN EMPATI

 Salah satu cara untuk mengatasi kesalahan persepsi adalah dengan

Empati

 Empati adalah kemampuan seseorang untuk menempatkan dirinya di

tempat orang lain, dan melihat dari sudut pandang individu tersebut.

5. PROSES PENERIMAAN PESAN

Proses Penerimaan Pesan Terdiri dari :

 Seleksi Informasi : Banyaknya stimuli yang datang kepada individu pada

saat yang bersamaan,seorang individu memilah dan akhirnya memaknai


informasi tertentu yang sesuai dengan budaya atau nilai-nilai yang telah ia

pahami sebelumnya.

 Interpretasi : Interprestasi terjadi saat seseorsng individu

mengkonstruksikan makna dari sebuah pesan

 Retensi : Kemampuan untuk menerima, memasukkan, menyimpan dan

menimbulkan kembali hal-hal yang telah lampau (Woddworth & Marquis,

1957)

Fungsi Memori:

1. Mengingat kembali (to recall) Individu dapat menimbulkan kembali

pengetahuannya TANPA adanya objek sebagai stimulus Mis: orang dapat

menjelaskan ciri-ciri fisik pasangannya

2. Mengenal kembali (to recognize) Individu dapat mengenal kembali

dengan BANTUAN objek sebagai stimuli. Mis: seseorang yang

kehilangan mobil dapat mengenali kembali mobilnya ketika ia melihat

mobilnya di kantor polisi

- Listening

Listening adalah proses dimana gelombang suara memasuki telinga dan

menimbulkan getaran yang ditransmisikan ke otak

- Content Oriented

 Pendengar tipe ini paling tertarik dengan kualitas pesan yang mereka

dengar. Mereka memperhatikan pesan dari para ahli dan pesan yang

disampaikan oleh seseorang yang kredibel.


 Gaya mendengarkan ini sesuai apabila Pembicara ingin mendapatkan

saran atau pendangan dari perspektif yang berbeda

 Apabila topik yang dibicarakan merupakan hal yang rumit dan

memerlukan pemikiran

- People Oriented

 Pendengar dengan gaya ini sangat mementingkan hubungan yang positif

dengan orang lain, sehingga mereka berusaha menyesuaikan dengan emosi

pembicara dan merespon sesuai dengan keinginan pembicara.

 Pendengar tipe ini biasanya tidak suka menilai orang lain, tujuan mereka

adalah memahami dan mendukung orang lain

- Action Oriented

 Pendengar tipe ini hanya memperdulikan tugas dan tanggung jawab

mereka. Tujuan utama mereka mendengarkan dalah untuk mengetahui apa

yang harus dilakukan.

 Mereka selalu ingin mengetahui isi pesan dengan cepat, sehingga pesan

yang disampaikan haruslah singkat, jelas, dan langsung menuju inti

permasalahan.

 Gaya mendengarkan ini paling tepat diaplikasikan dalam situasi

organisasi/bisnis sehingga pendengar fokus pada pekerjaan mereka

- Time Oriented

 Pendengar tipe ini paling memerdulikan efisiensi, karena dalam perspektif

mereka waktu adalah komoditas yang sangat berharga. Pesan yang


panjang, bertele-tele dan menghabiskan waktu membuat mereka tidak

sabar.
MELATIH KEMAMPUAN MENDENGAR

Informational Listening

 Pendekatan ini diambil apabila tujuan mendengarkan adalah untuk

mencari tahu, mengerti dan memahami ide dan persepsi pembicara.

 Kita bisa mendapatkan berbagai informasi dari pembicara dengan

merespon secara aktif, mempertanyakan atau memperjelas berbagai

informasi yang disampaikan

Critical Listening

 Pendekatan ini diambil apabila tujuan kita adalah menilai sebuah ide adata

informasi.

 Kita menggunakan analisis secara kritis, mempertimbangkan kredibilitas

narasumber, mempertanyakan berbagai bukti otentik sebelum akhirnya

membuat sebuah penilaian.

Emphatic Listening

 Tujuan dari pendekatan ini adalah untuk menolong atau mendukung nara

sumber/pembicara.

 Pendengar yang baik harus menyesuaikan diri dengan emosi pembucara,

dan tidak boleh memberikan penilaian secara kritis

UNSUR-UNSUR KOMUNIKASI EFEKTIF

Untuk menciptakan sebuah komunikasi yang efektif, maka sebuah proses

komunikasi harus mengandung unsur-unsur komunikasi. Unsur-unsur komunikasi


setidaknya harus terdiri dari enam hal, yaitu sumber, komunikator, pesan, channel,

komunikasi itu sendiri, dan efek.

A. Sumber

Sumber sebagai salah satu unsur dalam unsur-unsur komunikasi adalah

dasar yang digunakan dalam penyampaian pesan dan digunakan dalam rangka

memperkuat pesan yang hendak disampaikan. Sumber sebagai salah satu unsur

dalam unsur-unsur komunikasi dapat berwujud dalam berbagai bentuk. Sumber

dapat berupa orang, lembaga, buku, dokumen, dan lain sebagainya.

B. Komunikator

Komunikator sebagai salah satu unsur dari unsur-unsur komunikasi dapat

dipahami sebagai orang yang membawa dan menyampaikan pesan. Dalam

komunikasi, komunikator memiliki peranan yang sangat penting untuk

menentukan keberhasilan dalam memengaruhi komunikan (penerima pesan).

Komunikator harus memiliki ketrampilan untuk memilih sasaran dan menentukan

tanggapan yang hendak dicapai. Sebelum melakukan proses komunikasi,

komunikator harus memperhitungkan apakah komunikan mampu menangkap

pesan yang disampaikannya. Komunikator juga harus bisa menentukan media

yang akan digunakan untuk melakukan persuasi sehingga lebih efisien dalam

mencapai sasaran.
C. Pesan

Unsur-unsur komunikasi yang ketiga adalah pesan. Pesan sebagai salah

satu unsur dalam unsur-unsur komunikasi dapat dipahami sebagai materi yang

diberikan oleh komunikator kepada komunikan. Pesan dapat disampaikan oleh

komunikator dalam berbagai cara, misalnya saja melalui kata-kata, nada suara,

hingga gerak tubuh dan ekspresi wajah.

Pesan sebagai salah satu unsur dalam unsur-unsur komunikasi dapat berwujud

dalam berbagai bentuk, diantaranya:

a. Pesan informatif

Pesan informatif bersifat memberikan keterangan-keterangan atau fakta-fakta

yang menuntun komunikan untuk mengambil keputusan

b. Pesan persuasif

Pesan persuasif adalah pesan yang berisikan bujukan yang bertujuan untuk

memberikan perubahan sikap komunikan. Perubahan yang terjadi merupakan

perubahanan yang tidak dipaksakan, melainkan berasal dari kehendak diri sendiri.

c. Pesan koersif

Pesan koersif adalah kebalikan dari pesan persuasif. Pesan koersif bersifat

memaksa dengan mengandalkan sanksi-sanksi untuk menekan komunikan.


D. Channel

Channel merupakan unsur-unsur komunikasi yang selanjutnya. Channel

merupakan saluran penyampaian pesan atau sering juga disebut dengan media

komunikasi. Media komunikasi dapat dibagi ke dalam dua kategori, yakni media

komunikasi personal dan media komunikasi massa. Media komunikasi personal

digunakan oleh dua orang atau lebih untuk saling berhubungan. Sifat dari media

komunikasi ini pribadi, sehingga dampaknya tidak bisa dirasakan oleh orang

banyak. Contoh dari media komunikasi personal adalah telepon, aplikasi chatting

(whatsapp, line, BBM), dan juga Skype.

Media komunikasi yang kedua adalah media komunikasi massa. Media

komunikasi ini digunakan untuk mengkomunikasikan pesan dari satu atau

beberapa orang kepada khalayak ramai. Karena sifatnya yang masif, maka media

komunikasi massa dapat memiliki dampak yang besar bagi banyak orang. Contoh

media komunikasi massa adalah televisi, radio, hingga yang terbaru adalah media

sosial (instagram, twitter, youtube).

E. Komunikasi

Unsur-unsur komunikasi yang selanjutnya adalah komunikasi itu sendiri.

Komunikasi sebagai salah satu unsur dalam unsur-unsur komunikasi dapat

dibedakan dalam berbagai macam kategori, mulai dari segi sifatnya, arahnya,

hingga jumlah orang yang terlibat di dalamnya. Unsur-unsur komunikasi ini


umumnya dibedakan berdasarkan kategori sifat, yakni dikelompokkan ke dalam

dua kategori, yaitu komunikasi verbal dan komunikasi non verbal.

a. Komunikasi Verbal

Komunikasi verbal merupakan bentuk komunikasi yang menggunakan

simbol-simbol verbal. Simbol-simbol verbal ini dapat diwujudkan ke dalam

bentuk lisan maupun tulisan. Unsur-unsur komunikasi secara lisan dapat

dilakukan oleh dua orang atau lebih melalui hubungan tatap muka secara langsung

tanpa ada jarak maupun peralatan yang menjadi medianya. Unsur-unsur

komunikasi lisan dapat terlihat pada kegiatan “ngobrol” yang dilakukan oleh

orang-orang ketika berada di kantor, sekolah, kampus, ataupun tempat-tempat

lainnya.

Selain secara lisan, unsur-unsur komunikasi verbal juga dapat dilakukan

melalui tulisan. Unsur-unsur komunikasi ini dapat berupa surat-menyurat

konvensional, surat elektronik (email), chatting, dan lain sebagainya.

b. Komunikasi Non Verbal

Komunikasi non verbal merupakan unsur-unsur komunikasi dalam bentuk

komunikasi yang dilakukan tanpa menggunakan kata-kata, melainkan melalui

simbol-simbol lainnya. Komunikasi non verbal dapat ditunjukkan oleh tubuh

manusia secara alami melalui gerak isyarat, bahasa tubuh, ekspresi wajah, dan

kontak mata. Sementara itu, komunikasi non verbal dapat pula ditunjukkan dari
hal-hal lain seperti gaya berpakaian, potongan rambut, intonasi suara, hingga gaya

berjalan.

F. Efek

Unsur-unsur komunikasi yang selanjutnya adalah efek. Efek merupakan

unsur-unsur komunikasi yang memiliki definisi hasil akhir dari suatu komunikasi.

Efek komunikasi dapat beraneka macam dan dapat dilihat dalam tiga kategori:

a. Personal opinion

Personal opinion adalah sikap dan pendapat seseorang pada suatu masalah tertentu

b. Publik opinion

Public opinion merupakan penilaian sosial mengenai suatu hal berdasarkan proses

pertukaran pikiran.

c. Majority opinion

Majority opinion dapat dipahami sebagai pendapat yang disetujui oleh sebagian

besar publik atau masyarakat.

UNSUR-UNSUR KOMUNIKASI MENURUT WILLIAM J. SELLER

Jika sebelumnya kita telah membahas unsur-unsur komunikasi secara

umum, maka William J Seller ternyata memiliki pendapat tersendiri mengenai

unsur-unsur komunikasi. Menurutnya, unsur-unsur komunikasi dapat dipecah ke


dalam unsur-unsur komunikasi yang lebih luas. William J. Seller membagi unsur-

unsur komunikasi menjadi delapan, yakni:

1. Lingkungan komunikasi

Lingkungan sebagai unsur-unsur komunikasi memiliki tiga komponen penting,

yaitu:

a. Fisik, Fisik merupakan tempat dimana komunikai berlangsung.

b. Sosial-psikologis, Sosial-psikologis meliputi peran yang dijalankan oleh

orang-orang yang terlibat dalam komunikasi. Budaya dan lingkungan

sosial juga berpengaruh dalam unsur-unsur komunikasi ini.

c. Temporal (waktu), Mencangkup waktu dalam hitungan jam, hari, atau

sejarah dimana komunikasi berlangsung.

2. Enkoding-Dekoding

Dalam ilmu komunikasi, tindakan menghasilkan pesan disebut dengan

encoding. Sementara tindakan menerima pesan disebut dengan decoding. Oleh

karena itu, seorang komunikator seringkali disebut sebagai encoder dan seorang

komunikan disebut sebagai decoder. Sama seperti sumber-penerima, dalam proses

komunikasi, kita juga melakukan proses encoding-decoding sebagai satu kesatuan

yang tidak terpisahkan. Proses ini terjadi secara simultan dan timbal balik.

3. Sumber Penerima
Unsur-unsur komunikasi selanjutnya adalah sumber penerima. Sumber

penerima merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan untuk menegaskan

bahwa setiap otang yang terlibat dalam komunikasi adalah sumber (komunikator)

sekaligus penerima (komunikan).

4. Kompetensi Komunikasi

Kompetensi komunikasi sebagai unsur-unsur komunikasi mengacu pada

kemampuan seseorang untuk berkomunikasi secara efektif. Kompetensi dalam

unsur-unsur komunikasi ini mencangkup hal-hal seperti pengetahuan tentang

peran lingkungan (konteks) dalam memengaruhi kandungan (content) dan bentuk

pesan.

5. Feed Back

Feed back atau umpan balik dalam unsur-unsur komunikasi adalah

informasi yang dikirimkan balik ke sumbernya.

6. Gangguan

Gangguan dalam unsur-unsur komunikasi adalah gangguan yang

mendistorsi pesan. Gangguan menghalangi penerima dalam menerima pesan dan

sumber dalam mengirimkan pesan. Gangguan dalam unsur-unsur komunikasi

dapat membuat pesan yang disampaikan oleh komunikator berbeda dengan pesan

yang diterima oleh komunikan.

7. Saluran
Saluran komunikasi merupakan unsur-unsur komunikasi berupa media

yang dilalui oleh pesan. Komunikasi seringkali berlangsung melalui lebih dari

satu saluran, namun menggunakan dua, tiga, atau lebih saluran yang terjadi secara

tumbang tindih.

8. Pesan

Pesan sebagai unsur-unsur komunikasi memiliki banyak bentuk. Manusia

mengirim dan menerima pesan melalui salah satu atau kombinasi dari panca

indera. Sama seperti unsur-unsur komunikasi yang telah dibahas sebelumnya,

pesan dalam unsur-unsur komunikasi menurut William J. Seller juga terbagi

dalam berbagai kategori.

TAHAP ENCODING DAN DECODING

Sebuahpesan (message)dalam proses komunikasi tidak bias melepaskan

diri dari apa yang diseut symbol dan kode, karena pesan yang dikirim oleh

komunikator kepada komunikan terdiri atas rangkaian symbol dan kode.Salah

satunya kode verbal.

Kode verbal dalam pemakaiannya menggunakan bahasa. Bahasa dapat

didefinisikan seperangkat kata yang telah disusun secara berstruktur sehingga

menjadi himpunan kalimat yang mengandung arti.

Bahasa memiliki banyak sekali fungsi, namun ada tiga fungsi utama yang erat

hubungannya dalam menciptakan komunikasi yang efektif, diantaranya :

a. Untuk mempelajari dunia sekeliling kita;


b. Untuk membina hubungan yang baik diantara sesama manusia

c. Untuk menciptakan ikatan-ikatan dalam kehidupan manusia.

a. Encoding-Decoding

Encoding mengacu pada tahapan produksi dimana realitas yang mentah,

suatu peristiwa yang terjadi di lapangan, dipotret, dikonstruksikan, serta dibingkai

sedemikian rupa, dengan penggunaan-penggunaan bahasa yang cenderung

menggunakan bahasa dari ideology kelompok dominan (dominant or preferred

meanings). Pembentukan pesan dalam tahap produksi tersebut juga melibatkan

pengetahuan mengenai seperti apa penerima yang akan disasar, bagaimana

karakteristik mereka untuk menentukan bagaimana bentuk pesan tersebut dikemas

hingga menarik bagi penerimanya. Sehingga sangat jelas terlihat bahwa sebuah

pesan diproduksi dengan melalui serangkaian proses yang tidak sederhana agar

pesan tersebut menjadi sebuahwacana yang bermakna(meaningful discourse) yang

dapat dipahami dan diterima.

Meski pun telah diusahakan sedemikian rupa agar bias dimaknai sama

dengan maksud awalnya,namun proses Decoding sangat bias membuat makna

awal tersebut diterima berbeda. Perbedaantersebutdipengaruholehpersepsi,

pemikiran, danpengalamanmasalalu, yang bagisetiap orang pun mestitaksama.

Secaraumum, Stuart Hall membagitigaposisiketikaseseorangmelakukan

decodingatas pesan.
 Pertama, posisidominan-hegemonis (dominant-hegemonic position).

Media menyajikan penafsiran yang dominanatassuatuisu / peristiwa,

danseseorangmenafsirkanpesansepertiyang dibuatoleh media.

 Kedua, posisioposisional (oppositional position ). Posisi ini kebalikan dari

posisi dominan, dimana khalayak memberikan tafsiran yang berbalikan

dengan yang dibuatoleh media. Khalayak melakukan perlawanan atas

pemaknaan dominan yang dibuat oleh media.

 Ketiga, posisi negosiasi (negotiated position). Disini khalayak menerima

pemaknaan dominan yang dibuat oleh media, tetapi khalayak juga

memberikan penafsiran atas pemaknaan yang dibuat oleh media.

Sebagai ilustrasi, masih ingat iklan salah satu merekterkemuka air dalam

kemasan yang mengangkat mengenai “jasanya” dalam membuat sumber air di

daerah-daerah kering? “Sekarang mata air sudekat”, begitu ucap salah satu anak

dalam iklan tersebut. Sebagai sebuah iklan, tentu proses di balik pembuatannya

sudah melalui serangkaian pengodean yang unik agar citra sebagai produsen air

dalam kemasan yang peduli sesame tertanam di benak khalayak(encoding). Selain

itu juga untuk mendongkrakpenjualan produknya, karena dalam iklan

dikatakan,dengan kita membeli 1 Liter produknya, maka kita telahmenyumbang

10 Liter air untuk saudara kita yang membutuhkannya.

Pertama kali saya melihat iklan tersebut dahulu, apa yang pertama terlintas

yakni “Wow..keren yamerek besar ini bisa bantu banyak

orang”(decoding).Seriuslah itu kesan pertama saya terhadap iklan tersebut,

terenyuh dengan penggambaran saudara di Indonesia timur yang kekurangan


air,dengan tokoh seorang anak sekolah yang sering membantu ibunya

mengambilkan air untuk mandi adiknya (dominant-hegemonic position). Hingga

saat menonton bersama suami, ia mencibir “Cih, duit dia buat bikin iklan itu mesti

lebih banyak dari apa yang udah dipakai untuk bantu bikin sumber

airnya,”katanya sinis(oppositional position). Belum lagi cerita di balik air yang

disedot perusahaannya, yang meninggalkan nestapa bagi masyarakat yang tinggal

di lingkungan sekitar pabrik.

Selain dua posisi dominant-hegemonic dan oppositional di atas, dapat

dimungkinkan juga terdapat pihak yang dalam men-decoding pesan yang sama

berada dalam posisi negotiated, misalnya “Membantu sesama yang kekurangan air

itu memang hal yang baik, tapi caranya ga harus selalu dengan membeli merek

tersebut”. Di satu sisi menerima preferred meanings yang disodorkan oleh

pembuat pesan bahwa betul ada hal baik yang dilakukan oleh merek tersebut

namun di sisi lain juga memiliki pendapat tersendiri atas pesan tersebut dengan

ungkapan bahwa membantu mereka tak harus dengan jalan membeli mereknya.

Pesan Verbal

Simbol atau pesan verbal adalah semua jenis simbol yang menggunakan

satu kata atau lebih. Bahasa dapat juga dianggap sebagai system kode verbal

(DeddyMulyana, 2005). Bahasa dapat didefinisikan sebagai seperangkat simbol,

dengan aturan untuk mengkombinasikan simbol-simbol tersebut, yang digunakan

dan dipahami suatu komunitas.


Tatabahasa meliputi tiga unsur: fonologi, sintaksis, dan semantik.

Fonologi merupakan pengetahuan tentangbunyi-bunyi dalambahasa. Sintaksis

merupakan pengetahuan tentang cara pembentukan kalimat. Semantik merupakan

pengetahuan tentang arti kata atau gabungan kata-kata.

a. Fungsi Bahasa

Menurut Larry L. Barker (dalamDeddy Mulyana,2005), bahasa mempunyai

tiga fungsi: penamaan(naming atau labeling), interaksi, dan transmisi informasi.

1. Penamaan atau penjulukan merujuk pada usaha mengidentifikasikan

objek, tindakan, atau orang dengan menyebut namanya sehingga dapat

dirujuk dalam komunikasi.

2. Fungsi interaksi menekankan berbagi gagasan dan emosi, yang dapat

mengundang simpati dan pengertian atau kemarahan dan kebingungan.

3. Melalui bahasa, informasi dapat disampaikan kepada orang lain, inilah

yang disebut fungsi transmisi dari bahasa. Keistimewaan bahasa sebagai

fungsi transmittsi informasi yang lintas waktu,dengan menghubungkan

masalalu, masa kini, dan masa depan, memungkinkan kesinambungan

budaya dan tradisi kita.

Keterbatasan Bahasa

a. Keterbatasan jumlah kata yang tersedia untuk mewakili objek.

Kata-kata adalah kategori-kategori untuk merujuk pada objek tertentu. Suatu

kata hanya mewakili realitas, tetapi bukan realitas itu sendiri. Dengan demikian,
kata-kata pada dasarnya bersifat parsial, tidak melukiskan sesuatu secara eksa .

Kata-kata sifat dalam bahasa cenderung bersifat dikotomis, misalnya baik-buruk,

kaya-miskin,pintar-bodoh, dsb.

b. Kata-kata bersifat ambigu dan kontekstual.

Kata-kata bersifat ambigu, karena kata- kata merepresentasikan persepsi dan

interpretasi orang erangyang berbeda, yang menganut latar belakang social

budaya yang berbeda pula. Kata berat, yang mempunyai makna yang nuansanya

beranekaragam.

c. Kata-kata mengandung biasbudaya.

Bahasa terikat konteks budaya. Oleh karena di dunia ini terdapat berbagai

kelompok manusia dengan budaya dan sub udaya yang berbeda, tidak mengheran

kan bila terdapat kata-kata yang(kebetulan) sama atau hampir sama tetapi

dimaknai secaraberbeda, atau kata-kata yang berbeda namun dimaknai secara

sama. Konsekuensinya, dua orang yang berasal dari budaya yang berbeda boleh

jadi mengalami kesalahpahaman ketika mereka menggunakan kata yang sama.

d. Percampur adukkan fakta, penafsiran, danpenilaian.

Dalam berbahasa kita sering mencampur aduk kan fakta (uraian), penafsiran

(dugaan), dan penilaian. Masalah ini berkaitan dengan dengan kekeliruan

persepsi.
Bahasa adalah alat penyandian, tetapi alat yang tidak begitu baik (lihat

keterbatasan bahasa di atas), untuk itu diperlukan kecermatan dalam berbicara,

bagaimana mencocokkan kata dengan keadaan sebenarnya, bagaImana

menghilangkan kebiasaan berbahasa yang menyebabkan kerhancuan dan

kesalahpahaman.

Komunikasi Verbal

Komunikasi verbal adalah suatu kegiatan percakapan/penyampaian

informasi yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain, baik secara lisan

maupun tulisan.

a. Tujuan Komunikasi Verbal

Adapun tujuan menggunakannya komunikasi verbal (lisandantulisan) antara lain:

 Penyampaian penjelasan, pemberitahuan, arahan dan lain sebagainya,

 Presentasi penjualan dihadapan para audien,

 Penyelenggaraan rapat,

 Wawancara dengan orang lain,

 Pemasaran melalui telepon, dsb .

b. Hambatan Komunikasi

Ada pun hambatan komunikasi yaitu :

 Intelegensi

 Budaya
 Pengetahuan

 Kepribadian

 Biologis

 Pengalaman