Anda di halaman 1dari 4

Nama : Fara Dina Rob’atul A’ida

NIM : 041814985
Kelas : Akuntansi semester 4
UPBJJ : Malang

Secara umum, pengertian globalisasi di bidang ekonomi adalah proses integrasi


ekonomi individu dan negara ke dalam ruang lingkup dunia. Salah satu contoh
globalisasi di bidang ekonomi adalah terjadinya praktik ekspor dan impor. Ekspor-
impor dapat meningkatkan devisa suatu negara dan memenuhi kebutuhan di dalam
negeri. Globalisasi yang terjadi di bidang ekonomi ini sangat berpengaruh terhadap
perdagangan antar beberapa negara yang sifatnya bebas. Karena memang pada
dasarnya globalisasi ini bertujuan untuk menghilangkan hambatan-hambatan yang
menjadi permasalahan dalam perdagangan internasional. Hambatan-hambatan tersebut
biasanya terjadi karena tarif ekspor atau impor yang terlalu tinggi sehingga membuat
harga barang tidak kompetitif. Bisa juga hambatannya berupa politik dagang yang
diberlakukan suatu negara untuk melindungi produksi dalam negeri. Secara teori,
hambatan-hambatan ini ditolak oleh perdagangan bebas.

1. Bagaimana upaya pemerintah untuk melindungi industri dalam negeri akibat adanya
perjanjian bebas bea masuk?

Upaya pemerintah untuk melindungi industri dalam negeri antara lain pengenaan
bea masuk dan pajak atas barang impor senilai US $ 3 yang dibeli melalui e-commerce.
Perubahan kebijakan ini tentunya akan sangat penting, karena menurut peraturan terbaru,
jika nilai barang yang baru diimpor melebihi $ 75 maka akan dikenakan bea masuk.
Peraturan ini merupakan respon pemerintah atas dukungan pemerintah terhadap usaha
mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Diharapkan dengan berlakunya regulasi tersebut,
produsen produk Indonesia bisa lebih kompetitif, terutama dari sisi harga jual.
Namun, publik mungkin sedikit lega karena dengan adanya perubahan regulasi, bea
masuk dan pajak yang dikenakan atas barang impor juga diturunkan. Menurut peraturan
terbaru, pajak impor yang dikenakan sebesar 7,5% dari nilai pembelian dan pajak
pertambahan nilai sebesar 10%. Hal yang paling berbeda di peraturan baru ini ialah tidak
dikenakannya pajak penghasilan terhadap nilai pembelian
Namun perlu diperhatikan bahwa perubahan pajak dan tarif impor tidak berlaku
untuk produk tekstil, tas dan sepatu. Pajak impor dan pajak atas produk-produk ini masih
mengikuti aturan lama, yaitu pajak impor produk kantong sekitar 15-20%, pajak impor
produk alas kaki 25-30%, dan pajak tekstil 15-20%. % Akan dikenakan batasan nilai pajak
tambahan 10% dan pajak penghasilan 7,5% sampai 10%.
Karena prioritas pemerintah, ada pengecualian untuk ketiga produk tersebut,
pemerintah berharap dapat melindungi industri dari ketiga produk tersebut di Indonesia.
Pemerintah ingin mencegah kekuatan makroekonomi kita melemah, yang didukung oleh
banyak industri prioritas ini. Pemerintah sangat menyadari, jika produk-produk tersebut
tidak dikenakan tarif impor yang tinggi, maka tidak adil bagi industri dalam negeri, karena
tingginya harga produk industri dalam negeri juga dipengaruhi oleh pajak yang harus
dibayarkan kepada negara.
Pemerintah melalui Kementerian Keuangan membantah pemberitaan penerapan
kebijakan tarif impor baru akan mempengaruhi arus perdagangan Indonesia ke barang
impor. Kementerian Keuangan berkeyakinan jika situasi ini terus berlanjut (arus impor
besar-besaran dan tidak terpengaruh oleh tarif pajak), fenomena ini dapat merusak roulette
ekonomi industri pilar ekonomi Indonesia. Tentunya, jika gangguannya besar dan tidak
terkendali, Indonesia akan menghadapi masalah besar terkait perekonomian dalam negeri.
Dalam hal ini, perlu dicatat bahwa pemerintah tidak boleh menjadi pemerintah yang
memburuk untuk melindungi pemerintah. Banyak perwakilan pengusaha percaya bahwa
peraturan ini baik, tetapi hanya sedikit yang memberikan bantuan kepada pemerintah untuk
membantu mereka membangun ekosistem industri yang baik di Indonesia. Harapannya jika
ekosistem industri sudah baik, produksi barang-barang di Indonesia juga bisa lebih murah
dan tidak perlu lagi mengharapkan proteksi dari pemerintah sehingga industri kita pun
menjadi lebih mandiri.

2. Kira kira sector apakah yang memiliki competitive advantage yang bisa mendongkrak
ekspor Indonesia? Jelaskan argumentasi anda, jika perlu support dengan data.

Menurut argumentasi saya sektor yang memiliki competitive advantage yang bisa
mendongkrak ekspor Indonesia yaitu apabila bisa mengekspor produk-produk olahan.
Salah satu produk olahan berbahan baku lokal adalah karet alam. Negara Indonesia
merupakan salah satu negara produsen karet alam terbesar di dunia. Produksi dan luas lahan
karet alam Indonesia mengalami peningkatan yang signifikan hingga tahun 2015, bahkan
produktivitasnya juga terus meningkat (Ditjenbun, 2016).
Menurut Kementrian Perindustrian (2016), pengguna karet alam utama di Indonesia
adalah industri ban (sebesar 55%) serta industri sarung tangan dan benang karet (17%).
Lainnya digunakan oleh industri alas kaki (11%), dan 9% oleh industri barang-barang karet
lain. Upaya untuk meningkatkan ekspor ban, dapat membantu meningkatkan kesejahteraan
petani karet, karena meningkatkan daya serap pasar karet alam.
Kawasan Amerika Latin Merupakan pasar ban potensial. Ekspor ban Indonesia ke
Amerika Latin setelah krisis (2009-2014) meningkat tajam. Nilai ekspor tahun 2009
sebesar US$ 14,245,000. Tahun 2010 meningkat menjadi US$ 31,380,000, dan tahun 2014
mencapai US$ 69,200,000.

Gambar :Ekspor ban Indonesia di Amerika Latin Ekspor ban Indonesia di Amerika Latin
Negara-negara dengan permintaan impor ban tinggi adalah Brazil dan Meksiko
(UNComtrade, 2016), seperti ditujukkan pada Gambar. Negara lainnya seperti Kolombia,
Paraguay, Argentina, Panama, Guatemala, Venezuela, Uruguay, dan Costa Rica relatif
kecil, namun permintaannya selalu meningkat.

Gambar Ekspor ban Indonesia ke sepuluh Negara utama di Amerika Latin

Terkonsentrasinya ekspor ban di dua negara, menjadi tantangan sekaligus ancaman


bagi Indonesia karena banyak negara lain (seperti Tiongkok, Jepang, Korea, Thailand dan
India) yang juga mengekspor ban ke Brazil dan Meksiko,. Posisi pasar ban Indonesia di
Amerika Latin perlu selalu dipantau (market intelegent) untuk mempertahankan atau
bahkan meningkatkan daya saing ban terhadap produk yang sama dari negara lain.
Demikian juga, pasar ban perlu diperluas, agar bisa dicapai economic of scale dari segi
biaya transport, yang selanjutnya dapat meningkatkan daya saing.
Daya saing ekspor ban Indonesia diukur menggunakan metode Revealed
Comparative Advantage (RCA) dan Export Product Dynamic (EPD). Dari sepuluh negara
yang diteliti, seluruhnya memiliki nilai RCA yang meningkat setiap tahunnya. Tahun 2014,
hanya ada negara yang nilainya RCA<1 yaitu pasar Argentina (Tabel 4). Artinya secara
umum ban Indonesia memiliki daya saing yang tinggi di kawasan Amerika Latin.
Tabel Hasil RCA produk ban Indonesia ke Amerika Latin

Di Kolombia nilai RCA lebih dari satu dan terus meningkat. Berarti ban Indonesia
memiliki keunggulan komparatif dan berdaya saing tinggi di Kolombia. Begitu pula yang
terjadi di negara Venezuela, meskipun sempat terjadi penurunan pada tahun 2013 sebesar
31,1% dari 12,756 menjadi 8,785, namun secara keseluruhan nilai RCA Venezuel memiliki
tren yang positif, bahkan pada tahun 2014, RCA Venezuela meningkat secara tajam sebesar
253,8% dari 8,785 menjadi 31,083. Hal tersebut juga terjadi pada negara meksiko, dimana
terjadi peningkatan sebesar 92,9% dari 24,684 pada tahun 2013 menjadi 47.621 pada tahun
2014.
Rata-rata RCA tertinggi terjadi di Costa Rica sebesar (yaitu 43,07), selanjutnya
diikuti oleh Uruguay, Meksiko, Venezuela, Paraguay, Guatemala, Brazil, Panama, dan
Kolombia. Negara Argentina memiliki nilai rata-rata RCA sebesar 0,36 yang berarti produk
ban Indonesia tidak memiliki keunggulan komparatif dan berdaya saing rendah
dibandingkan dengan pesaing negara produsen ban lainnya.
Ban Indonesia memiliki daya saing yang kuat di kawasan Amerika Latin, kecuali
di Argentina. Pasar ban Indonesia berada pada posisi falling star di Brazil, Kolombia,
Paraguay, dan Argentina. Posisi rising star terjadi di Panama, Venezuela, Meksiko,
Guatemala, Uruguay, dan Costa Rica. Faktor GDP riil perkapita, Nilai tukar riil, dan
populasi di negara tujuan ekspor berpengaruh positif dan siginifikan terhadap ekspor ban
Indonesia. Sedangkan GDP Ban Indonesia memiliki keunggulan kompetitif, dimana
kondisi terkuat adalah kondisi faktor, terutama bahan baku karena Indonesia merupakan
salah satu negara penghasil karet alam terbesar di dunia.

SUMBER :
• BMP ESPA4314 (Perekonomian Indonesia edisi 3) Modul 9 Halaman 9.3 – 9.18
• https://www.pajakku.com/read/5e43ee5d387af773a9e015a0/Perubahan-Bea-
Impor-sebagai-Cara-Pemerintah-Melindungi-Industri-Indonesia
• https://media.neliti.com

Anda mungkin juga menyukai