Anda di halaman 1dari 47

PRAKTIKUM KIMIA FARMASI I

PERCOBAAN XIII
PEMISAHAN DAN IDENTIFIKASI KATION GOLONGAN IV DAN V

NAMA : RALITZA DIVA SALSABILLA


NIM : 2013016172
KELOMPOK : 2
PRODI : S-1 FARMASI
ASISTEN : PUTRI RINJANI

LABORATORIUM KIMIA FAKULTAS FARMASI


UNIVERSITAS MULAWARMAN
2021
PERCOBAAN XIII
PEMISAHAN DAN IDENTIFIKASI KATION GOLONGAN IV DAN V

A. WAKTU PRAKTIKUM
Hari/Tanggal : Kamis, 27 Mei 2021
Waktu : 11.00-14.00 WITA
B. JUDUL PRAKTIKUM
Pemisahan Dan Identifikasi Kation Golongan IV dan V.
C. TUJUAN PRAKTIKUM
Mengidentifikasi dan membedakan reaksi Ba2+, Ca2+, Sr2+, Mg2+, dan NH4+.
D. DASAR TEORI
Klasifikasi kation dalam golongan-golongan dibagi menjadi 5 dengan
dasar sifat-sifat kation itu terhadap beberapa magnesia. Dengan memakai apa
yang disebut reagensia golongan, kation dapat dipisahkan menjadi golongan-
golongan untuk mengidentifikasi lebih lanjut.
Reagensia golongan yang dipakai untuk klasifikasi kation yang paling
umum adalah asam klorida, hydrogen sulfide, ammonium sulfide, dan
ammonium karbonat. Klasifikasi ini berdasarkan atas apakah suatu kation
bereaksi dengan reagen-reagen ini dengan membentuk endapan atau tidak.
Secara prinsip, zat yang akan diidentifikasi dilarutkan kemudian ditambahkan
pereaksi tertentu yang sesuai, yang akan mengendapkan segolongan kation
garam yang sukar larut atau hidroksidanya. Pereaksi harus sedemikian rupa
sehingga pengendapan kation, golongan kation selanjutnya tidak terganggu
atau sebelumnya dapat dengan mudah dihilangkan dari larutan yang hendak
dianalisis.
Kation golongan keempat yaitu barium, strontium, dan kalsium. Kation
golongan ini akan membentuk endapan dengan ammonium karbonat dengan
adanya ammonium klorida dalam suasana netral atau sedikit asam. Pemisahan
golongan IV didasarkan pembentukan senyawa karbonat yaitu dengan
penambahan amonium karbonat (NH4)2CO3 dalam larutan basa yang
mengandung NH4Cl berlebih. Penambahan pereaksi tersebut dapat
menyebabkan terjadinya endapan putih dari kation golongan IV yaitu BaCO3,
CaCO3, dan SrCO3. Sedangkan kation golongan V tetap berada dalam
larutan.
Kation golongan kelima yaitu magnesium, natrium, kalium, dan
ammonium. Kation golongan V tidak memiliki reagensia umum untuk kation-
kation golongannya. Pada reaksi golongan kation-kation, golongan V tidak
bereaksi dengan asam klorida, hydrogen sulfide, ammonium sulfide, atau
dengan ammonium karbonat.

E. ALAT DAN BAHAN


1. Alat
No Nama Alat Gambar Fungsi
1. Botol cokelat Untuk menyimpan cairan
karena memberikan
perlindungan terhadap sinar
matahari (Lucas & Jusnita,
2016).
2. Corong kaca Corong digunakan untuk
memasukan atau memindah
larutan dari satu tempat ke
tempat lain (Lucas & Jusnita,
2016).
3. Gelas kimia Melarutkan suatu padatan,
untuk mencampurkan cairan,
dan untuk memanaskan
larutan (Lucas & Jusnita,
2016).
4. Pipet ukur Digunakan untuk mengukur
cairan atau larutan (Lucas &
Jusnita, 2016).
5. Pipet tetes Untuk meneteskan atau
mengambil larutan dengan
jumlah kecil dari suatu tempat
ke tempat lain (Lucas &
Jusnita, 2016).
6. Rak Tabung Digunakan untuk meletak kan
tabung reaksi (Lucas &
Jusnita, 2016).

7. Tabung reaksi Untuk Tempat mereaksikan


dua larutan/bahan kimia atau
lebih, serta sebagai tempat
mengembangbiakkan mikroba
dalam media cair (Lucas &
Jusnita, 2016).

2. Bahan
No Nama Sifat Fisik Sifat Kimia
Bahan
1. Ammonium Berat molekul : 130 gr/mol a. Tidak larut dalam
sulfat Berat jenis : 1,77 gr/lt alkohol, aseton, dan
Warna : dalam keadaan ammonia.
murni berwarna putih b. Ammonium sulfat
Sifat : mudah larut dalam merupakan senyawa
ammonia dan air dan mudah yang mempunyai
menyerap panas tingkat keracunan yang
Rumus molekul : rendah.
(NH4)2SO4 c. Tidak mudah terbakar.
Bentuk : kristal, higroskopik (Mangundap, 2013)
Titik leleh : 513◦C
Kelarutan dalam air : -70,6
gr/100mL (0◦C) 103,8
gr/100mL (100◦C).
(Mangundap, 2013)
2. Asam asetat Berat molekul : 60,05 g/gmol Asam asetat mengandung
(CH3COOH) Specific gravity : 1,049 tidak kurang dari 36,0
Titik didih : 118,1℃ %b/b dan tidak lebih dari
Berat jenis : 1,0468 g/ml 37,0 %b/b C2H4O2. Asam
Titik kritis : asetat mudah menguap di
 Tekanan : 5,74 kPa udara terbuka, mudah
 Temperatur : 591,95 K terbakar, dan dapat
Larut dalam air, etanol, dan menyebabkan korosif pada
eter dalam segala logam. Asam asetat larut
perbandingan dan dalam air dengan suhu
merupakan pelarut yang baik 20℃, etanol (9,5%) pekat,
untuk senyawa-senyawa dan gliserol pekat. Asam
organic. asetat jika diencerkan tetap
(Kurniawati, 2012) bereaksi asam. Penetapan
kadar asam asetat biasanya
menggunakan basa natrium
hidroksida, dimana 1 mL
NaOH 1N setara dengan
60,05 mg CH3COOH.
(Kurniawati, 2012)
3. Asam Titik leleh : 101,5℃ - Asam oksalat dengan
oksalat Densitas : 1,653 g/cm3 glycerol akan
(C2H2O4) Panas pembentukan standart membentuk alkyl
pada 18°C : -1422 kJ/mol alkohol.
pH (0,1 M larutan) : 1,3 - Asam oksalat anhidrat
Berat molekul : 126,07 menyublim pada suhu
Tidak berbau, berwarna 150℃, tetapi jika
putih, dan tidak menyerap dipanaskan lagi akan
air. terdekomposisi menjadi
(Atikah, 2017) karbondioksida dan
asam formiat.
- Jika asam oksalat
dipanaskan dengan
penambahan asam
sulfat, akan
menghasilkan karbon
monoksida,
karbondioksida, dan
H2O.
(Gabriella, 2014)
2+
4. Ba a. Fase: solid a. Barium bereaksi
(Barium) b. Titik lebur: 1000 K (727 dengan air dalam udara
oC, 1341 oF) yang lembab,
c. Titik didih: 2170 K membentuk oksida atau
(1897 oC, 3447 oF) hidroksida.
d. Kepadatan: 3.51% b. Kestabilan peroksida
e. Kalor pengleburan: 7.12 semakin stabil sesuai
kJ/mol dengan arah panah.
f. Kalor penguapan: 140.3 c. Sifat oksida: Basa.
kJ/mol d. Logam barium mudah
g. Kapasitas Kalor molar: diserang oleh
28.07 J/(mol.K). kebanyakan cairan
(Ilham, 2020) asam.
(Widanarto, dkk., 2015)
2+
5. Ca a. Titik leleh: 842°C. a. Bersifat trimorfik.
(Kalsium) b. Titik didih: 1484°C. b. Kurang reaktif.
c. Berwarna perak ke abu- c. Mudah dioksidasi.
abuan. d. Bereaksi mudah dengan
d. Kalor penguapan: 154,7 air dan asam.
kJ/mol. (Ryan, 2011)
e. Kalor peleburan: 8,54
kJ/mol.
f. Kapasitas kalor: 25,929
J/mol.K.
b. g. Fase: Solid.
(Suryaningsih, dkk.,
2018)
6. HCl Rumus molekul : HCl - Gas berwarna kuning
Berat molekul (g/mol) : 36,5 kehijauan dan berbau
Wujud : Cairan tak berwarna merangsang
Kemurnian : 37% - Merupakan oksidator
Titik leleh (℃) : -25,4 kuat
Titik didih (℃) : 50, 5 - Dapat larut dalam
(Santoso, 2019) alkali hidroksida,
kloroform, dan eter
- Merupakan zat beracun
(karsinogen).
(Santoso, 2019)
3
7. K2CrO4 a. Berat jenis : 2,732 g/cm a. Bersifat karsinogenik.
(Kalium b. Titik leleh 975 ° C. b. Senyawa ini juga
kromat) c. Kristal kuning  bersifat korosif dan
d. Larut dalam air. paparan dapat
menyebabkan
(Giovani & Puteri, 2020)
kerusakan mata atau
kebutaan yang parah.
c. Kalium kromat
(K₂CrO₄) merupakan
garam basa, karena
terbentuk dari reaksi
antara asam kromat
(H₂CrO₄) yang
merupakan asam
lemah, dan kalium
hidroksida (KOH) yang
merupakan basa kuat.

(Giovani & Puteri, 2020)


8. Kertas Kertas lakmus adalah kertas Setelah dicelupkan kertas
lakmus yang mengandung senyawa lakmus biru dan merah
organik yang disebut juga secara bersamaan di dalam
indicator, yaitu yang suatu larutan, jika kertas
mempunyai warna khusus lakmus biru berubah
pada pH tertentu. menjadi merah
(Saputra, 2020) menandakan larutan
bersifat asam, dan bila
kertas lakmus merah
berubah menjadi merah
menandakan bersifat basa.
Kertas lakmus adalah
kertas yang mengandung
senyawa organik yang
disebut juga indikator,
yaitu yang mempunyai
warna khusus pada pH
tertentu. Dengan mengubah
pH larutan, maka warna
indikator juga dapat
berubah dengan sendirinya.
(Saputra, 2020)
9. Mg2+ a. Fase: Solid. a. Magnesium sangat
(Magnesium) b. Magnesium memiliki mudah terbakar.
struktur kristal HCP, dan Apabila terbakar atau
relatif lunak. terkena panas tinggi
c. Titik lebur: 923 K (650 logam magnesium akan
℃, 1202℉). bereaksi dengan timbul
d. Titik didih: 1363 K nyala putih yang sangat
(1091 ℃, 1994℉). terang. Reaksi ini
e. Kepadatan: 1,738 g/cm3 terjadi apabila
f. Titik cair: 651℃. magnesium yang
g. Jari-jari atom: empiris bereaksi berbentuk
160 pm. serbuk kecil yang
h. h. Modulus elastisitas terkena panas atau api.
rendah yaitu 45 Gpa b. Magnesium dapat
(psi). diperoleh dengan cara
(Prabudiyanto, 2019) elektrolisa apabila
memiliki kemurnian
yang biasa dan akan
rusak apabila
dicelupkan kedalam air
laut.
c. Ketahanan korosi yang
dimiliki unsur
magnesium mendekati
ketahanan korosi yang
dimiliki oleh
aluminium dan lebih
baik dibanding dengan
ketahanan baja lunak.
(Prabudiyanto, 2019)
10 NaOH 1M a. Berwujud padat.   a. Senyawa basa kuat
. dan 6M b. Berat molekul: 40 yang berupa padatan
g/mol.   putih.
c. Titik didih: 318oC.   b. Mudah menyerap CO2.
d. Titik lebur: 1390oC.   c. Higroskopis.
e. Larut dalam air dan d. Sangat korosif pada
metanol.   jaringan organik.
f. Densitas: 2,1 g/mL.   (Antonius, dkk, 2021) 
g. Spesific Grafity: 2,1.  
h. Kelarutan: 111 g/100 mL
(20°C).  
(Aryoko, 2014)
11. NH4+ a. Tidak memiliki bau khas a. Ammonium (NH4+)
b. Massa molar : 18,04 merupakan bentuk
g/mol senyawa amonia
c. Keasaman (pKa) : 9,25 (NH3) di dalam air
d. Secara umum Ion pada pH rendah.
amonium dapat b. Ammonium dapat
ditemukan dalam garam menyebabkan
amonium seperti keracunan bagi
amonium klorida, kehidupan perairan
amonium karbonat dan c. Amonium adalah ion
amonium nitrat. poliatomik bermuatan
(Ngibad, 2019) positif.
(Ngibad, 2019)
12 NH4OH a. Larutan yang berwujud a. Sangat mudah larut
. (Amonium cair dalam air.
hidroksida) b. Tidak berwarna b. Mempunyai pH basa
c. Memiliki aroma yang 13,6 pada 32, pH 11,7
kuat pada 20, pH 13,8 pada
d. Mempunyai berat larutan 29%.
molekul 35,04 g/mol c. Mudah menguap.
e. Titik didih 37,7oC d. Bersifat beracun atau
f. Titik lebur: 57,5oC  korosif karena dapat
g. Memiliki kerapatan melepaskan gas
(densitas) 0,91 g/cm3 amonia ke udara.
(Lubis & Rahardian, 2018) e. Memiliki ikatan ionik
dan kovalen.
(Lubis & Rahardian, 2018)
2+
13 Sr a. Titik didih : 1655 K a. Stronsium adalah
. (1382oC., 2520 F) logam keperakan yang
b. Titik lebur : 1050 K lembut.
(7770oC, 1431 F) b. Radionuklida yang
c. Kepadatan : 2,64 g/cm3 banyak ditemukan pada
d. Massa atom : 87,62 limbah dari reaktor
e. Massa jenis : 2,6 g/cm3 nuklir.
f. Warna: Keperakan c. Jari-jari atom empiris:
(Vifaly, dkk., 2017) 215 pm.
d. Strontium cepat
bereaksi dengan air dan
udara.
e. Logam alkali tanah
Grup 2 (IIA).
(Vifaly, dkk., 2017)

F. BAGAN

Ke dalam 5 buah tabung reaksi dimasukkan larutan cuplikan A, B, C, D dan


E.

Ke dalam setiap tabung yang berisi larutan cuplikan ditambahkan larutan


asam oksalat.

Jika terbentuk endapan, pisahkan kemudian endapan ditambah asam asetat


encer.
Ulangi ad. 1 kemudian penambahan perekasi mengikuti tabel berikut.

G. PENGAMATAN
1. Hasil Pengamatan
Pereaksi A B C D E
Asam oksalat, Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan
jika terjadi berwarna menjadi tetap tetap tetap
endapan, bening keruh dan bening bening bening
tambahkan berwarna
asam asetat putih
encer
K2CrO4, jika Larutan Larutan Larutan Larutan Terbentuk
terbentuk berwarna menjadi berwarna berwarna endapan
endapan, kuning kuning kuning kekuning putih keruh
endapan dibagi bening bening bening an
dua: Endapan 1
1. tambah +
asam asetat CH3COOH
encer warna tetap
2. tambah HCl putih
kekuningan
dengan
endapan
kuning

Endapan 2
+ HCl
larutan
menjadi
kuning tua
Asam asetat Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan
encer, jika berwarna tetap tetap tetap tetap
terbentuk bening bening bening bening bening
endapan,
endapan
ditambahkan
amonium
sulfat
NH4OH + Larutan Larutan Larutan Larutan Larutan
asam tetap tetap tetap tetap sedikit
berwarna bening bening bening lebih keruh
bening
Larutan NaOH Larutan Larutan Terdapat Larutan Larutan
tetap menjadi endapan tetap tetap
berwarna putih putih bening bening
bening keruh
Larutan NaOH Tidak Tidak Larutan Kertas Kertas
6M, letakkan terjadi terjadi berwarna lakmus lakmus
sepotong perubahan perubahan keruh dan merah merah
kertas lamus warna warna lakmus menjadi tidak
merah pada kertas kertas berwarna kebiruan berubah
mulut tabung lakmus lakmus merah warna

2. Prosedur Kerja dan Hasil Pengamatan


No Prosedur Kerja Hasil Pengamatan
1. Asam oksalat, jika terjadi a. Sampel A + Asam oksalat
endapan, tambahkan asam Didapatkan hasil larutan berwarna
asetat encer bening.
b. Sampel B + Asam oksalat
Larutan menjadi keruh dan berwarna
putih.

c. Sampel C + Asam oksalat


Larutan tetap bening/tidak terjadi
perubahan warna larutan.

d. Sampel D + Asam oksalat


Didapatkan hasil larutan tetap
bening/tidak terjadi perubahan warna
larutan.

e. Sampel E + Asam oksalat


Larutan tetap berwarna bening.

2. K2CrO4, jika terbentuk a. Sampel A + K2CrO4


endapan, endapan dibagi dua: Didapatkan hasil larutan berwarna
1. tambah asam asetat encer kuning bening.
2. tambah HCl

b. Sampel B + K2CrO4
Larutan menjadi kuning bening.

c. Sampel C + K2CrO4
Larutan berwarna kuning bening.

d. Sampel D + K2CrO4
Didapatkan hasil larutan berubah
warna dari bening menjadi
kekuningan.

e. Sampel E + K2CrO4
Berubah warna menjadi endapan
putih keruh.

Endapan 1 ditambah CH3COOH


berwarna tetap putih kekuningan.

Endapan 2 ditambah HCL berubah


menjadi kuning tua dan tidak terdapat
endapan.

3. Asam asetat encer, jika a. Sampel A + Asam asetat encer


terbentuk endapan, endapan Didapatkan hasil larutan berwarna
ditambahkan amonium sulfat bening.

b. Sampel B + Asam asetat encer


Larutan tetap berwarna bening/tidak
terjadi perubahan warna larutan.

c. Sampel C + Asam asetat encer


Menghasilkan warna larutan tetap
bening.

d. Sampel D + Asam asetat encer


Didapatkan hasil larutan tetap
bening/tidak terjadi perubahan warna
larutan.

e. Sampel E + Asam asetat encer


Tidak terjadi perubahan warna/tetap
bening.

4. NH4OH + asam a. Sampel A + NH4OH + HCl


Didapatkan hasil larutan tetap bening.

b. Sampel B + NH4OH + HCl


Larutan tetap berwarna bening/tidak
terjadi perubahan warna larutan.
c. Sampel C + NH4OH + HCl
Menghasilkan warna larutan tetap
bening.

d. Sampel D + NH4OH + HCl


Didapatkan hasil larutan tetap
bening/tidak terjadi perubahan warna
larutan.

e. Sampel E + NH4OH + HCl


Larutan berubah warna menjadi
sedikit keruh.

5. Larutan NaOH a. Sampel A + NaOH


Didapatkan hasil larutan tetap bening.

b. Sampel B + NaOH
Larutan menjadi putih.

c. Sampel C + NaOH
Menghasilkan larutan dengan sedikit
endapan putih keruh.
d. Sampel D + NaOH
Didapatkan hasil larutan tetap
bening/tidak terjadi perubahan warna
larutan.

e. Sampel E + NaOH
Larutan tetap bening dan tidak ada
endapan.

6. Larutan NaOH 6M, letakkan a. Sampel A + NaOH 6M


sepotong kertas lamus merah Tidak terjadi perubahan warna pada
pada mulut tabung kertas lakmus merah.

b. Sampel B + NaOH 6M
Tidak terjadi perubahan warna
spesifik pada kertas lakmus/tetap
berwarna merah.

c. Sampel C + NaOH 6M
Didapatkan hasil larutan keruh dan
lakmus tetap berwarna merah.

d. Sampel D + NaOH 6M
Didapatkan hasil bahwa terjadi
perubahan kertas lakmus merah
menjadi kebiruan.

e. Sampel E + NaOH 6M
Tidak terjadi perubahan warna
larutan dan kertas lakmus merah
tidak berubah warna.
3. Reaksi

a. Ba2+
1) Ba2+ + asam oksalat
Ba2+ + C2H2O4 → BaC2O4 + 2H+
2) Ba2+ + kalium kromat
Ba2+ + K2CrO4 → BaCrO4 + 2K+
3) Ba2+ + asam asetat encer
Ba2+ + 2CH3COOH → Ba(CH3COO)2 + 2H+
4) Ba2+ + NH4OH + asam klorida
Ba2+ + NH4OH + HCl ↛ (tidak bereaksi)
5) Ba2+ + NaOH
Ba2+ + 2NaOH → Ba(OH)2 + 2Na+

b. Mg2+
1) Mg2+ + asam oksalat + asam asetat encer
Mg2+ + C2H2O4 → MgC2O4 + 2H+
MgC2O4 + 2CH3COOH → Mg(CH3COO)2 + H2CrO4
2) Mg2+ + kalium kromat
Mg2+ + K2CrO4 → MgCrO4 + 2K+
3) Mg2+ + asam asetat encer
Mg2+ + 2CH3COOH → Mg(CH3COO)2 + 2H+
4) Mg2+ + NH4OH + asam klorida

Mg2+ + NH4OH + HCl ↛ (tidak bereaksi)


5) Mg2+ + NaOH
Mg2+ + 2NaOH → Mg(OH)2 + 2Na+

c. Ca2+
1) Ca2+ + asam oksalat
Ca2+ + C2H2O4 → CaC2O4 + 2H+
2) Ca2+ + kalium kromat
Ca2+ + K2CrO4 → CaCrO4 + 2K+
3) Ca2+ + asam asetat encer
Ca2+ + 2CH3COOH → Ca(CH3COO)2 + 2H+
4) Ca2+ + NH4OH + asam klorida

Ca2+ + NH4OH + HCl ↛ (tidak bereaksi)


5) Ca2+ + NaOH
Ca2+ + 2NaOH → Ca(OH)2 + 2Na+

d. NH4+
1) NH4+ + asam oksalat
2NH4+ + C2H2O4 → (NH4)2C2O4 + 2H+
2) NH4+ + kalium kromat
2NH4+ + K2CrO4 → (NH4)2CrO4 + 2K+
3) NH4+ + asam asetat encer
NH4+ + CH3COOH → NH4CH3CO2 + H+
4) NH4+ + NH4OH + asam klorida

NH4+ + NH4OH + HCl ↛ (tidak bereaksi)


5) NH4+ + NaOH
NH4+ + NaOH → NH4OH + Na+

e. Sr2+
1) Sr2+ + asam oksalat
Sr2+ + C2H2O4 → SrC2O4 + 2H+
2) Sr2+ + kalium kromat + asam asetat encer + HCl
Sr2+ + K2CrO4 → SrCrO4 + 2K+
SrCrO4 + 2CH3COOH → Sr(CH3COO)2 + H2CrO4
SrCrO4 + 2HCl → SrCl2 + H2CrO4
3) Sr2+ + asam asetat encer
Sr2+ + 2CH3COOH → Sr(CH3COO)2 + 2H+
4) Sr2+ + NH4OH + asam klorida

Sr2+ + NH4OH + HCl ↛ (tidak bereaksi)


5) Sr2+ + NaOH
Sr2+ + 2NaOH → Sr(OH)2 + 2Na+
H. PEMBAHASAN
Kation golongan IV terdiri dari Barium, Strontium, dan Kalsium. Kation-
kation golongan ini adakah kation yang tidak bereaksi dengan asam klorida,
hydrogen sulfide, atau ion ammonium sulfide, tetapi bereaksi dengan
ammonium karbonat (jika ada ammonia/ion ammonium dalam jumlah yang
sedang) dengan membentuk endapan putih. Uji ini harus dilakukan dalam
larutan netral atau sedikit asam. Endapan-endapan putih yang terbentuk
dengan reagensia golongan adalah barium karbonat (BaCO3), strontium
karbonat (SrCO3), dan kalsium karbonat (CaCO3).
Kation golongan V merupakan kation golongan sisa karena tidak bereaksi
dengan reagensia-reagensia pada pengujian golongan sebelumnya. Ion kation
yang termasuk dalam golongan ini antara lain Magnesium, Natrium, Kalium,
dan Amonium. Keberadaan ion ammonium biasanya dapat dikenali melalui
gas yang dilepaskan, yaitu gas ammonia yang berbau menyengat.
Pereaksi yang digunakan dalam pengujian ini adalah asam oksalat, kalium
kromat (K2CrO4), asam asetat (CH3COOH), HCl, dan ammonium sulfat
(NH4OH). Asam oksalat dapat digunakan sebagai reagen dalam analisis
kimia, digunakan dalam pemurnian mineral dari logam, sebagai elektrolit,
memiliki daya tahan terhadap karat, dan digunakan sebagai zat pemutih serat.
Kalium kromat atau K2CrO4 adalah senyawa anorganik, berbentuk bubuk
dan berwarna kuning. Identifikasi kation yang dilakukan dengan penambahan
K2CrO4 hasil positifnya akan terbentuk endapan kuning.
Asam asetat berfungsi sebagai pereaksi dalam identifikasi kation
golongan IV dan V karena memiliki polaritas yang tinggi dan termasuk dalam
asam atau basa lemah. Pada percobaan tersebut Ba2+ dapat bereaksi dengan
asam asetat ini. Selain itu, asam asetat juga digunakan sebagai pengatur
keasaman dalam larutan, untuk memisahkan kation dan anion dalam
pelarutan, dan untuk mempercepat pengenceran dalam larutan dan
identifikasi kation. Pada pengujian ini, asam asetat berfungsi sebagai
pengoksidasi senyawa yang mengandung logam.
HCl digunakan sebagai asam pilihan dalam titrasi untuk menentukan
jumlah basa, sebagai bahan baku pembuatan besi (III) klorida atau FeCl3 dan
polyaluminium chloride (PAC). Selain itu, HCl juga berfungsi untuk
mencerna sampel-sampel analisis. Ammonium sulfat berfungsi sebagai
perekasi untuk mengikat kation dan mengidentifikasi kation. Fungsinya disini
untuk melarutkan endapan yang dihasilkan oleh pereaksi asam sulfat maupun
asam asetat.
NH4OH atau ammonium hidroksida merupakan golongan ammonia.
Larutan ammonia dapat melarutkan residu perak oksida, seperti pada reaksi
Tollens. Ketika ammonium hidroksida dicampur dengam hydrogen peroksida
encer dengan adanya ion logam sepertu Cu2+, maka peroksida akan
mengalami dekomposisi yang cepat.
Pereaksi terakhir yaitu NaOH yang berfungsi sebagai pereaksi untuk
membuat suasana larutan menjadi suasana basa. NaOH tidak memberikan
reaksi berupa perubahan warna dan terbentuk endapan pada sampel kation
golongan IV dan V karena kation golongan tersebut tidak dapat bereaksi
dengan reagensia yang telah digunakan pada golongan sebelumnya. Sebagai
sampel, NaOH berguna untuk membentuk larutan tidak berwarna/bening.
Pengujian pertama yaitu mereaksikan cuplikan A dengan masing-masing
pereaksi seperti asam oksalat, kalium kromat, asam asetat, HCl,
NH4OH+HCl, NaOH, dan pengujian kertas lakmus. Hasil pengamatan
menunjukkan bahwa ketika cuplikan A ditambahkan tetesan pereaksi asam
oksalat menghasilkan larutan berwarna bening. Ketika cuplikan A
ditambahkan tetesan pereaksi asam asetat didapatkan hasil larutan berwarna
kuning bening. Ketika cuplikan A ditambahkan tetesan pereaksi kalium
kromat (K2CrO4) didapatkan hasil larutan berwarna kuning bening. Ketika
cuplikan A ditambahkan tetesan pereaksi ammonium hidroksida + HCl
didapatkan hasil larutan tetap bening atau tidak terjadi perubahan warna
larutan. Ketika cuplikan A ditambahkan pereaksi NaOH didapatkan hasil
larutan tetap bening/tidak terjadi perubahan warna larutan. Ketika cuplikan A
ditambahkan beberapa tetes NaOH 6M, kemudian diberikan kertas lakmus
merah pada bagian atas tabung reaksi didapatkan hasil tidak terjadi perubahan
warna pada kertas lakmus (tetap merah).
Hasil positif dari barium ialah ketika di reaksikan dengan asam oksalat
membentuk endapan putih Ba(COO)2, larut dengan mudah dalam asam asetat
encer. Direaksikan dengan K2CrO4 terbentuk endapan kuning BaCrO4,
endapan tidak larut dalam asam asetat encer, tetapi larut dengan mudah dalam
asam mineral (HCl) terbentuk dikromatCr2O72-, pereaksi NaOH tidak terjadi
perubahan warna dan pada kertas lakmus tidak terjadi perubahan. Dari hasil
pengamatan diatas dapat disimpulkan bahwa cuplikan A merupakan kation
Ba2+.
Pengujian kedua yaitu mereaksikan cuplikan B dengan asam oksalat,
kalium kromat, asam asetat, HCl, NH4OH+HCl, NaOH, dan pengujian kertas
lakmus. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa ketika cuplikan B
ditambahkan larutan pereaksi asam oksalat didapatkan hasil larutan menjadi
keruh dan berwarna putih. Ketika cuplikan B ditambahkan larutan pereaksi
kalium kromat didapatkan hasil larutan menjadi kuning bening. Ketika
cuplikan B ditambahkan larutan pereaksi CH3COOH didapatkan hasil larutan
tetap bening atau tidak terjadi perubahan warna larutan. Ketika cuplikan B
ditambahkan larutan pereaksi NH4OH + HCl didapatkan hasil larutan tetap
bening atau tidak terjadi perubahan warna larutan. Ketika cuplikan B
ditambahkan larutan pereaksi NaOH didapatkan hasil larutan menjadi putih.
Ketika cuplikan B ditambahkan larutan pereaksi NaOH 6M dan dimasukkan
kertas lakmus merah, didapatkan hasil tidak terjadi perubahan warna spesifik
pada kertas lakmus (tetap merah).
Hasil positif dari magnesium ialah ketika ditambahkan dengan NaOH
membentuk endapan putih. Direkasikan dengan NH 4OH terbentuk endapan
putih, endapan larut dalam asam asetat encer dan HCl. Dari hasil pengamatan
diatas dapat disimpulkan bahwa cuplikan B adalah kation Mg2+.
Pengujian ketiga yaitu mereaksikan cuplikan C dengan asam oksalat,
kalium kromat, asam asetat, HCl, NH4OH+HCl, NaOH, dan pengujian kertas
lakmus. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa ketika cuplikan C
ditambahkan larutan pereaksi asam oksalat didapatkan hasil larutan tetap
bening. Ketika cuplikan C ditambahkan larutan pereaksi kalium kromat
didapatkan hasil larutan menjadi kuning bening. Ketika cuplikan C
ditambahkan larutan pereaksi CH3COOH didapatkan hasil larutan tetap
bening atau tidak terjadi perubahan warna larutan. Ketika cuplikan C
ditambahkan larutan pereaksi NH4OH + HCl didapatkan hasil larutan tetap
bening atau tidak terjadi perubahan warna larutan. Ketika cuplikan C
ditambahkan larutan pereaksi NaOH didapatkan hasil larutan dengan endapan
putih keruh. Ketika cuplikan C ditambahkan larutan pereaksi NaOH 6M dan
dimasukkan kertas lakmus merah, didapatkan hasil larutan berwarna keruh
dan lakmus tetap berwarna merah.
Hasil positif dari kalsium ialah ketika ditambahkan dengan K 2CrO4
terbentuk endapan, jika ditambahkan asam asetat akan melarut. Ditambahkan
dengan NH4OH terbentuk endapan putih. Endapan tidak larut dalam asam
asetat encar tapi larut dalam HCl. Direaksikan dengan NaOH larutan tetap
bening. Dari hasil pengamatan diatas dapat disimpulkan cuplikan C adalah
kation Ca2+.
Pengujian keempat yaitu mereaksikan cuplikan D dengan asam oksalat,
kalium kromat, asam asetat, HCl, NH4OH+HCl, NaOH, dan pengujian kertas
lakmus. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa ketika cuplikan D
ditambahkan larutan pereaksi asam oksalat didapatkan hasil larutan tetap
bening. Ketika cuplikan D ditambahkan larutan pereaksi kalium kromat
didapatkan hasil larutan dari bening menjadi kekuningan. Ketika cuplikan D
ditambahkan larutan pereaksi CH3COOH didapatkan hasil larutan tetap
bening atau tidak terjadi perubahan warna larutan. Ketika cuplikan D
ditambahkan larutan pereaksi NH4OH + HCl didapatkan hasil larutan tetap
bening atau tidak terjadi perubahan warna larutan. Ketika cuplikan D
ditambahkan larutan pereaksi NaOH didapatkan hasil larutan tetap bening.
Ketika cuplikan D ditambahkan larutan pereaksi NaOH 6M dan dimasukkan
kertas lakmus merah, didapatkan hasil terjadi perubahan kertas lakmus yang
berwarna merah menjadi kebiruan. Berdasarkan hasil pengamatan,
teridentifikasi bahwa cuplikan D merupakan NH4+ yang termasuk kation
golongan V.
Pengujian kelima yaitu mereaksikan cuplikan E dengan asam oksalat,
kalium kromat, asam asetat, HCl, NH4OH+HCl, NaOH, dan pengujian kertas
lakmus. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa ketika cuplikan E
ditambahkan larutan pereaksi asam oksalat didapatkan hasil larutan tetap
bening. Ketika cuplikan E ditambahkan larutan pereaksi kalium kromat
didapatkan hasil terbentuk endapan putih keruh. Endapan 1 ditambahkan
asam asetat menghasilkan warna putih kekuningan dan terdapat endapan
kuning. Endapan 2 ditambahkan HCl menghasilkan warna kuning tua dan
tidak terdapat endapan. Ketika cuplikan E ditambahkan larutan pereaksi
CH3COOH didapatkan hasil larutan tetap bening atau tidak terjadi perubahan
warna larutan. Ketika cuplikan E ditambahkan larutan pereaksi NH4OH +
HCl didapatkan hasil larutan sedikit lebih keruh. Ketika cuplikan E
ditambahkan larutan pereaksi NaOH didapatkan hasil larutan tetap bening.
Ketika cuplikan E ditambahkan larutan pereaksi NaOH 6M dan dimasukkan
kertas lakmus merah, didapatkan hasil tidak terjadi perubahan warna larutan
dan juga tidak terjadi perubahan pada kertas lakmus (tetap merah). Hasil
positif dari strontium ialah ketika ditambahkan dengan NaOH terbentuk
endapan putih susu. Direaksikan dengan K2CrO4 terbentuk endapan kuning,
endapan larut dalam asam asetat encer dan HCl. Direaksikan dengan NH 4OH
terbentuk endanpan putih. Dari hasil pengamatan diatas dapat dapat
disimpulkan bahwa cuplikan E adalah kation Sr2+.
I. KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan pemisahan dan identifikasi kation golongan IV
dan V dapat disimpulkan bahwa:
1. Pada pengujian kation golongan IV dan V digunakan sampel A, B, C, D,
dan E yang diidentifikasi golongan kationnya dengan menambahkan
larutan pereaksi asam oksalat, larutan K2CrO4, larutan asam asetat encer,
larutan NaOH + HCl, larutan NaOH, dan larutan NaOH 6M ke dalam
tabung reaksi masing-masing sampel.
2. Cuplikan A merupakan Ba2+ (Barium) yang termasuk kation golongan
IV. Cuplikan B merupakan Mg2+ (Magnesium) yang termasuk kation
golongan V. Cuplikan C merupakan Ca2+ (Kalsium) yang termasuk
kation golongan IV. Cuplikan D merupakan NH4+ (Amonium) yang
termasuk kation golongan V. Cuplikan E merupakan Sr2+ (Stronsium)
yang termasuk kation golongan IV.
J. DAFTAR PUSTAKA
Antonius, dkk. (2021). Senyawa Alkohol dan Fenol. Pontianak: Universitas
Tanjung Pura.
Aryoko, Y. (2014). Prarancangan Pabrik N-Metilanilin dari Klorobenzena
dan Metilamina dengan Kapasitas 25.000 Ton/Tahun. Disertasi.
Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Atikah. (2017). Pengaruh Oksidator dan Waktu Terhadap Yield Asam Oksalat
Dari Kulit Pisang Dengan Proses Oksidasi Karbohidrat. Jurnal
Redoks. 2(1): 1-11.
Gabriella, Christine. (2014). Prarencana Pabrik Asam Oksalat dari Ubi
Kayu. Undergraduate thesis. Surabaya: Universitas Katolik Widya
Mandala.
Giovani, S., & Puteri, N. E. (2020). Modul Praktikum Kimia Analitik. Jakarta
Selatan: Universitas Al-Azhar Indonesia.
Gunawan, Eka Sati T. (2016). Praktikum Kimia Analisa: Pemisahan
Golongan IV dan V. Surabaya: UPN “Veteran” Jawa Timur.
Ilham, R. I. (2020). Pengaruh Gaya Tekan dan Temperatur Sintering
terhadap Sifat fisik dan Kekerasan Bahan Dasar Magnet Barium
Ferit Berbasis Pasir Besi. Skripsi. Semarang. Universitas Negeri
Semarang.
Kurniawati, D. S. (2012). Pra Rencana Pabrik Acetic Acid Dari Butana Cair
dengan Proses Oksidasi. Surabaya: Universitas Pembangunan
Nasional “Veteran”.
Lubis, A. P., & Rahardian, Z. (2018). Padang: Universitas Negeri Padang.
Lucas, S., Jusnita, N. (2016). Buku Pedoman Praktikum Laboratorium
Farmasi (Good Laboratory Practice). Jakarta: Fakultas Farmasi
Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta.
Mangundap, F. (2013). Pra Rencana Pabrik Ammonium Sulfat dengan Proses
Netralisasi. Surabaya: Universitas Pembangunan Nasional
“Veteran”.
Ngibad, K. (2019). Penentuan Konsentrasi Ammonium dalam Air Sungai
Pelayaran Ngelom. Medicra (Journal of Medical Laboratory
Science/Technology), 2(1): 37-42.
Permata, Y. M., dkk. (2019). Penuntun Praktikum Kimia Analitik I. Medan:
Universitas Sumatera Utara.
Prabudiyanto, T. (2019). Pengaruh Penambahan Unsur Magnesium (Mg)
Terhadap Sifat Fisis dan Mekanis Hasil Coran Crankcase Mesin
Pemotong Rumput Berbahan ADC 12. Skripsi. Semarang.
Universitas Negeri Semarang.
Ryan, M. (2011). Logam Alkali Tanah. Bali: Universitas Udayana.
Santoso, A. V. & Susanto, A. (2019). Prarencana Pabrik Monoklorobenzena
Kapasitas 23.100 Ton/Tahun. Undergraduate thesis. Surabaya:
Universitas Katolik Widya Mandala.
Saputra, B. 2020. Analisis Keterampilan Proses Sains Siswa Menggunakan
Model Pembelajaran React (Realating, Experiencing, Applying,
Cooperating, Transfering) Pada Materi Asam Basa. Doctoral
Dissertation. Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.
Suryaningsih., Irwan, S., & Nurdin, R. (2018). Analisis Kadar (Ca) dan Besi
(Fe) Dalam Kandungan Kangkung Air (Ipomeae Aquatica Forsk)
dan Kangkung Darat (Ipomeae Reptan Forsk) Asal Palu. Jurnal
Akademika Kimia. 7(3): 130-135.
Vifaly, F., Istirokhatun, T., & Susanto, H. (2017). Penyisihan Kandungan
Cesium (Cs), Stronsium (Sr), Dan Surfaktan Pada Air Limbah
Radioaktif Menggunakan Membran Nanofiltrasi. Disertasi.
Diponegoro: Universitas Diponegoro.
Widanarto, W., Fauzi, F. N., Cahyanto, W. T., & Effendi, M. (2015).
Peningkatan Sifat Magnetik Material Hematit Melalui Subtitusi
Barium dan Kontrol Temperatur Sintering. Berkala Fisika. 18(4):
125- 130.
Yusuf, Y. (2019). Kimia Analisis. Jakarta: Penerbit EduCenter Indonesia.
K. JAWAB SOAL
No.
1. Soal Tuliskan setiap alat yang telah digunakan pada saat
praktikum (tabel 1)
Jawaban a. Botol cokelat
b. Corong kaca
c. Gelas kimia
d. Pipet ukur
e. Pipet tetes
f. Rak tabung
g. Tabung reaksi
Referensi -
2. Soal Tuliskan setiap bahan yang telah digunakan pada saat
praktikum (tabel 2)
Jawaban a. Ammonium sulfat
b. Asam sulfat
c. Asam oksalat
d. Ba2+
e. Ca2+
f. HCl
g. K2CrO4 (Kalium kromat)
h. Kertas lakmus merah
i. Mg2+
j. NaOH 1M dan 6M
k. NH4+
l. NH4OH (Amonium hidroksida)
m. Sr2+
Referensi -
3. Soal Uraikan kegunaan atau fungsi setiap alat pada soal nomor 1
Jawaban a. Botol cokelat
Untuk menyimpan cairan karena memberikan
perlindungan terhadap sinar matahari (Lucas & Jusnita,
2016).
b. Corong kaca
Corong digunakan untuk memasukan atau memindah
larutan dari satu tempat ke tempat lain (Lucas &
Jusnita, 2016).
c. Gelas kimia
Melarutkan suatu padatan, untuk mencampurkan
cairan, dan untuk memanaskan larutan (Lucas &
Jusnita, 2016).
d. Pipet ukur
Digunakan untuk mengukur cairan atau larutan (Lucas
& Jusnita, 2016).
e. Pipet tetes
Untuk meneteskan atau mengambil larutan dengan
jumlah kecil dari suatu tempat ke tempat lain (Lucas &
Jusnita, 2016).
f. Rak tabung
Digunakan untuk meletak kan tabung reaksi (Lucas &
Jusnita, 2016).
g. Tabung reaksi
Untuk Tempat mereaksikan dua larutan/bahan kimia
atau lebih, serta sebagai tempat mengembangbiakkan
mikroba dalam media cair (Lucas & Jusnita, 2016).
Referensi Lucas, S., Jusnita, N. (2016). Buku Pedoman Praktikum
Laboratorium Farmasi (Good Laboratory
Practice). Jakarta: Fakultas Farmasi Universitas 17
Agustus 1945 Jakarta.
4. Soal Uraikan kegunaan atau fungsi setiap bahan pada soal
nomor 2
Jawaban a. Ammonium sulfat
Fungsi amonium sulfat adalah melarutkan endapan
yang dihasilkan oleh pereaksi asam sulfat maupun asam
asetat. Larutan CaCl2 yang pekat ditambahkan H2SO4
encer akan menghasilkan endapan putih (kristal jarum)
CaSO4 . Pengendapan dapat dipercepat dengan
pemanasan. Endapan larut dalam larutan pekat panas
H2SO4 dan larutan ammonium sulfat .Selain itu,
amoniut sulfat juga dapat melarutkan endapan yang
dihasilkan oleh pereaksi amonia. Dengan penambahan
larutan ammonia pada MgSO4 akan terjadi endapan
putih seperti gelatin Mg(OH)2. Endapan tersebut
mudah larut dalam garam-garam ammonium dan sukar
larut dalam air ( Permata, dkk., 2019).
b. Asam asetat
Digunakan sebagai pereaksi kimia untuk menghasilkan
berbagai senyawa kimia. Sebagian besar (40-45%) dari
asam asetat dunia digunakan sebagai bahan untuk
memproduksi monomer vinil asetat (vinyl acetate
monomer, VAM). Selain itu asam asetat juga digunakan
dalam produksi anhidrida asetat dan juga ester.
c. Asam oksalat
Asam oksalat adalah senyawa kimia yang memiliki
rumus C2H2O4 dengan nama sistematis asam
etanadioat. Asam oksalat adalah asam dikarboksilat
paling sederhana, larut dalam air dan bersifat asam
kuat. Asam oksalat dan garamnya biasanya digunakan
sebagai reagen dalam analisis kimia (Nurfadila, 2017).
d. Ba2+
Barium merupakan suatu unsur kimia yang memiliki
lambang Ba dan nomor atom 56. Tingkat oksidasi dari
barium selalu menunjukkan +2, kecuali beberapa
spesies molekuler langka dan tidak stabil yang hanya
terdapat pada fase gas seperti BaF. Logam ini juga
digunakan dalam campuran untuk membuat komponen
superkonduktor suhu tinggi dan elektrokeramik. BaCl2
digunakan untuk zat penguji kandungan ion sulfat
dalam suatu larutan. Rendahnya kelarutan BaSO4
membuat senyawa BaCl2 banyak dipakai untuk
mengendapkan sisa-sisa ion sulfat pada proses
pemurnian larutan garam NaCl. Karena ion Ba2+
terlarut bersifat racun, maka senyawa-senyawa
terlarutnya digunakan sebagai rodentisida (Yanti &
Zainul, 2018).
e. Ca2+
Penggunaan kalsium dalam pembuatan baja memiliki
afinitas kimia yang kuat terhadap oksigen dan sulfur .
Oksida dan sulfidanya. setelah terbentuk, memberikan
cairan kapur aluminat dan sulfida inklusi dalam baja
yang mengapung. Kalsium (Ca2+) juga sebagai agen
pereduksi dalam produksi kromium , zirkonium ,
torium , dan uranium. Ca yang memiliki bilangan
valensi +2 yang sama dengan bilangan valensi Zn dapat
menjadi kompetitor dalam adsorpsi Zn terkait
afinitasnya terhadap partikel lempung (Sitohang, dkk.,
2016).
f. HCl
Asam klorida (HCl) merupakan senyawa asam kuat
yang stabil dan mudah larut atau dapat berdisosiasi
penuh dalam air sehingga sering digunakan dalam
analisis kimia untuk mendestruksi sampel analisis
(Supiati, dkk., 2013).
g. K2CrO4 (Kalium kromat)
K2CrO4 berfungsi sebagai agen pengoksidasi di
industri dan dalam sintesis organik. Kalium kromat
digunakan sebagai indikator dalam penentuan klorida
dengan titrasi dengan larutan perak nitrat standar.
Metode ini disebut metode penentuan klorida Mohr
(Wibowo & Ilman, 2011).
h. Kertas lakmus
Kertas lakmus digunakan sebagai alat ukut pH
konvensional. Kertas lakmus merah digunakan untuk
untuk mengukur pH basa, sedangkan kertas lakmus
biru digunakan untuk mengukur pH asam (Matiin, dkk,
2012).
i. Mg2+
Magnesium (Mg2+) merupakan ion yang memiliki
berbagai peran dalam reaksi kimiawi seperti halnya
enzim. Mg2+ dapat berinteraksi dengan substrat,
enzim, dan kadang-kadang keduanya. Mg2+ sangat
aktif dan berperan dalam reaksi kimia katalik. Mg2+
dapat berinteraksi dengan substrat dengan menstabilkan
anion atau zat yang reaktif, termasuk dalam pengikatan
ATP dan mengaktifkan molekul untuk menyerang
nukleofilik. Pada asam nukleat, Pengikatan Mg2+ ke
DNA dan RNA dapat menstabilkan struktur, hal ini
karena Mg2+ memiliki peran dalam aktivitas biokimia
asam nukleat sebagai ion untuk aktivasi dan katalisis
(Datu, dkk., 2013).
j. NaOH 1M dan 6M
Natrium Hidroksida (NaOH) juga dikenal sebagai soda
kaustik atau sodium hidroksida adalah sejenis basa
logam kaustik, NaOH merupakan basa kuat. NaOH
mampu larutan alkalin yang kuat ketika dilarutkan ke
dalam air. NaOH juga digunakan untuk mengendapkan
logam berat dan mampu mengontrol keasaman air
(Widhiyanuriyawan & Nurkholis, 2013).
k. NH4+
NH4+ berperan sebagai asam pada proses hidrolisis.
Menurut Bronsted-Lowry, asam adalah spesi yang
memberikan (donor) proton. Misalnya pada reaksi
berikut.
NH4+ + H2O ↔ NH3 + H3O + NH4+
berperan sebagai asam karena mendonorkan proton
(H+ ) pada H2O. Sementara itu, H2O merupakan basa
karena menerima proton (H+ ) dari NH4+. Persamaan
ini menyatakan pemindahan proton dari NH4+ ke H2O.
Maka reaksi-reaksi antara asam dan basa ini dinamakan
reaksi protolitik yang menghasilkan dua pasang asam-
basa konjugasi. Semua reaksi ini menuju ke
kesetimbangan, dalam beberapa hal kesetimbangan bisa
bergeser hampir sempurna ke salah satu arah. Arah
keseluruhan dari reaksi-reaksi ini tergantung pada
kekuatan relatif asam-asam dan basa-basa yang terlibat
dalam sistem ini (Qurniawati, dkk., 2018).
l. NH4OH (Amonium hidroksida)
Amonia berair digunakan dalam analisis anorganik
kualitatif tradisional sebagai pengompleks dan basa.
Seperti banyak amina, senyawa ini memberikan warna
biru tua dengan larutan tembaga(II). Larutan amonia
dapat melarutkan residu perak oksida, seperti yang
terbentuk dari pereaksi Tollens. Hal ini sering
ditemukan pada larutan yang digunakan untuk
membersihkan emas, perak, dan perhiasan platina,
namun mungkin memiliki efek negatif pada batu
permata berpori seperti opal dan mutiara. Ketika
amonium hidroksida dicampur dengan hidrogen
peroksida encer dengan adanya ion logam, seperti
Cu2+, peroksida akan mengalami dekomposisi yang
cepat (Lubis & Rahardian, 2018).
m. Sr2+
Stronsium Nitrat (Sr(NO2)3) adalah salah satu bahan
superkonduktor berbasis Bismut BSCCO.
Superkonduktor berbasis Bismut BSCCO adalah
material yang paling banyak dikaji untuk meningkatkan
suhu kritis (Sihombing & Nurhayati, 2017).
Referensi Datu, A. M., Indah, R., & M. Zakir. (2013). Pengaruh
Penambahan Ion Mg2+ Terhadap Kandungan Lipid
Fitoplankton Chlorella vulgaris Sebagai Bahan
Baku Pembuatan Biodiesel dengan Metode
Ultrasonik. Marina chimica acta. 14(2): 11-19.
Lubis, A. M., & Rahardian, Z. (2018). Interaksi Molekuler
Amonium Hidroksida. Padang: Universitas Negeri
Padang.
Matiin, N., dkk. (2012). Pengaruh Variasi Bending Sensor
pH Berbasis Serat Optik Plastik Menggunakan
Lapisan Silica Sol Gel Terhadap Sensitivitas.
Jurnal Teknik Pomits. 1(1): 1-6.
Permata, Y. M., dkk. (2019). Penuntun Praktikum Kimia
Analitik I. Medan: Universitas Sumatera Utara.
Qurniawati, A., Wulandari, E. T., & Margono, N. M.
(2018). Kimia. Klaten: Intan Pariwara.
Sitohang, D. A. N., & Suprihanto, N. (2016). Pengaruh
Kompetitor Kation Natrium, Kalsium, dan
Magnesium terhadap Adsorbsi Logam Seng oleh
Sedimen Ancol, Teluk Jakarta. Jurnal Teknik
Lingkungan. 22(2): 13-21.
Supiati, S., Muh, Y., & Sitti, C. (2013). Pengaruh
konsentrasi aktivator asam klorida (HCl) terhadap
kapasitas adsorpsi arang aktif kulit durian (Durio
Zibethinus) pada zat warna methanil yellow. Al-
Kimia. 1(1): 53-63.
Wibowo, W., & Ilman, M. N. (2011). Studi Eksperimental
Pengendalian Korosi pada Aluminium 2024-T3 di
Lingkungan Air Laut Melalui Penambahan
Inhibitor Kalium Kromat (K2CrO4). Jurnal
Rekayasa Proses. 5(1): 10-16.
Widhiyanuriyawan, D., & Nurkholis, H. (2013). Variasi
Temperatur Pemanasan Zeolite Alam-NaOH Untuk
Pemurnian Biogas. Jurnal Energi dan Manufaktur.
6(1): 1-94.
5. Soal Tuliskan kation yang termasuk dalam golongan IV
Jawaban Ba2+, Ca2+, dan Sr2+
Referensi Gunawan, Eka Sati T. (2016). Praktikum Kimia Analisa:
Pemisahan Golongan IV dan V. Surabaya: UPN
“Veteran” Jawa Timur.
6. Soal Tuliskan pereaksi spesifik kation golongan IV
Jawaban Pereaksi spesifik kation golongan IV yaitu ammonium
karbonat ((NH)2CO3) dengan keberadaan ammonium
klorida (NH4Cl) pada kondisi netral.
Referensi Alauhdin, M. (2020). Kimia Analitik Dasar. Semarang:
UNNES Press.
7. Soal Tuliskan pereaksi spesifik kation golongan V
Jawaban Tidak ada pereaksi spesifik untuk kation golongan V.
Kation golongan ini tidak bereaksi dengan pereaksi pada
golongan I, II, III, dan IV. Namun, untuk mengidentifikasi
ion ammonium (NH4+) biasanya melalui gas yang
dilepaskan yaitu gas ammonia yang berbau menyengat.
Untuk mengidentifikasi Mg2+ yaitu dengan menambahkan
pereaksi p-nitrobenzen-azo-resorcinol dan menghasilkan
warna biru pada senyawa Mg(OH)2. Sedangkan, untuk
kation Na+ dan K+ tidak ada pereaksi spesifik, biasanya
dilakukan dengan uji nyala.
Referensi Alauhdin, M. (2020). Kimia Analitik Dasar. Semarang:
UNNES Press.
8. Soal Tuliskan kation yang termasuk dalam golongan V
Jawaban Mg2+, Na+, K+, dan NH4+.
Referensi Gunawan, Eka Sati T. (2016). Praktikum Kimia Analisa:
Pemisahan Golongan IV dan V. Surabaya: UPN
“Veteran” Jawa Timur.
9. Soal Jika hasil yang diperoleh masing-masing sampel setelah
ditambahkan pereaksi terdapat perbedaan, jelaskan
mengapa perbedaan tersebut terjadi
Jawaban Kelarutan bergantung pada berbagai kondisi seperti
tekanan, suhu, konsentrasi bahan lain, perubahan pada
kelarutan dengan perubahan tekanan tidak mempunyai arti
penting dalam analisa kualitatif. Kenaikan pada suhu
umumnya dapat memperbesar kelarutan endapan,
perbedaan pada suhu bisa saja digunakan sebagai dasar
pemisahan kation karena suatu pereaksi menyebabkan
sebagian kation mengendap dan sebagian larut. Maka
setelah dilakukan penyaringan terhadap endapan terbentuk
dua kelompok campuran yang massa masing-masingnya
kurang dari campuran sebelumnya. Reaksi yang terjadi saat
pengidentifikasian menyebabkan terbentuknya zat-zat baru
yang berbeda dari zat semula dan berbeda sifat fisiknya.
Banyak reaksi-reaksi yang menghasilkan endapan berperan
penting dalam analisa kualitatif. Endapan tersebut dapat
berbentuk kristal atau koloid dan dengan warna yang
berbeda-beda, dan pemisahan endapan juga dilakukan
dengan penyaringan ataupun sentrifus.
Referensi Tim Analisis Senyawa Kimia. (2015). Diktat Petunjuk
Praktikum Analisis Senyawa Kimia. Yogyakarta:
Universitas Negeri Yogyakarta.
10. Soal Tentukan jenis kation yang terdapat dalam setiap cuplikan
Jawaban a. Cuplikan A merupakan Ba2+ (Barium) yang termasuk
kation golongan IV.
b. Cuplikan B merupakan Mg2+ (Magnesium) yang
termasuk kation golongan V.
c. Cuplikan C merupakan Ca2+ (Kalsium) yang termasuk
kation golongan IV.
d. Cuplikan D merupakan NH4+ (Amonium) yang
termasuk kation golongan V.
e. Cuplikan E merupakan Sr2+ (Stronsium) yang
termasuk kation golongan IV.
Referensi Svehla, G. (1979). Vogel: Buku Teks Analisis Anorganik
Kualitatif Makro dan Semimikro Edisi ke Lima
Bagian I. Jakarta: PT. Kalman Media Pustaka.
11. Soal Tuliskan persamaan reaksi yang terjadi
Jawaban a. Ba2+
1) Ba2+ + asam oksalat
Ba2+ + C2H2O4 → BaC2O4 + 2H+
2) Ba2+ + kalium kromat
Ba2+ + K2CrO4 → BaCrO4 + 2K+
3) Ba2+ + asam asetat encer
Ba2+ + 2CH3COOH → Ba(CH3COO)2 + 2H+
4) Ba2+ + NH4OH + asam klorida

Ba2+ + NH4OH + HCl ↛ (tidak bereaksi)


5) Ba2+ + NaOH
Ba2+ + 2NaOH → Ba(OH)2 + 2Na+
a. Mg2+
1) Mg2+ + asam oksalat + asam asetat encer
Mg2+ + C2H2O4 → MgC2O4 + 2H+
2) MgC2O4 + 2CH3COOH → Mg(CH3COO)2 + H2CrO4
3) Mg2+ + kalium kromat
Mg2+ + K2CrO4 → MgCrO4 + 2K+
4) Mg2+ + asam asetat encer
Mg2+ + 2CH3COOH → Mg(CH3COO)2 + 2H+
5) Mg2+ + NH4OH + asam klorida

Mg2+ + NH4OH + HCl ↛ (tidak bereaksi)


6) Mg2+ + NaOH
Mg2+ + 2NaOH → Mg(OH)2 + 2Na+
b. Ca2+

1) Ca2+ + asam oksalat

Ca2+ + C2H2O4 → CaC2O4 + 2H+


2) Ca2+ + kalium kromat

Ca2+ + K2CrO4 → CaCrO4 + 2K+


3) Ca2+ + asam asetat encer

Ca2+ + 2CH3COOH → Ca(CH3COO)2 + 2H+


4) Ca2+ + NH4OH + asam klorida

Ca2+ + NH4OH + HCl ↛ (tidak bereaksi)


5) Ca2+ + NaOH
Ca2+ + 2NaOH → Ca(OH)2 + 2Na+
c. NH4+
1) NH4+ + asam oksalat
2NH4+ + C2H2O4 → (NH4)2C2O4 + 2H+
2) NH4+ + kalium kromat
2NH4+ + K2CrO4 → (NH4)2CrO4 + 2K+
3) NH4+ + asam asetat encer
NH4+ + CH3COOH → NH4CH3CO2 + H+
4) NH4+ + NH4OH + asam klorida

NH4+ + NH4OH + HCl ↛ (tidak bereaksi)


5) NH4+ + NaOH
NH4+ + NaOH → NH4OH + Na+
d. Sr2+
1) Sr2+ + asam oksalat

Sr2+ + C2H2O4 → SrC2O4 + 2H+


2) Sr2+ + kalium kromat + asam asetat encer + HCl
Sr2+ + K2CrO4 → SrCrO4 + 2K+
SrCrO4 + 2CH3COOH → Sr(CH3COO)2 + H2CrO4
SrCrO4 + 2HCl → SrCl2 + H2CrO4
3) Sr2+ + asam asetat encer

Sr2+ + 2CH3COOH → Sr(CH3COO)2 + 2H+


4) Sr2+ + NH4OH + asam klorida

Sr2+ + NH4OH + HCl ↛ (tidak bereaksi)


5) Sr2+ + NaOH
Sr2+ + 2NaOH → Sr(OH)2 + 2Na+
Referensi Permata, Y. M., dkk. (2019). Penuntun Praktikum Kimia
Analitik I. Medan: Universitas Sumatera Utara.
Yusuf, Y. (2019). Kimia Analisis. Jakarta: Penerbit
EduCenter Indonesia.
12. Soal Simpulkan hasil percobaan yang sesuai dengan tujuan,
terkait dengan bahan dan teknik atau cara kerja yang
dilakukan, dan juga percobaan yang gagal atau hasilnya
tidak sesuai.
Jawaban Berdasarkan percobaan pemisahan dan identifikasi kation
golongan IV dan V dapat disimpulkan bahwa:
a. Pada pengujian kation golongan IV dan V digunakan
sampel A, B, C, D, dan E yang diidentifikasi golongan
kationnya dengan menambahkan larutan pereaksi asam
oksalat, larutan K2CrO4, larutan asam asetat encer,
larutan NaOH + HCl, larutan NaOH, dan larutan NaOH
6M ke dalam tabung reaksi masing-masing sampel.
b. Cuplikan A merupakan Ba2+ (Barium) yang termasuk
kation golongan IV. Cuplikan B merupakan Mg2+
(Magnesium) yang termasuk kation golongan V.
Cuplikan C merupakan Ca2+ (Kalsium) yang termasuk
kation golongan IV. Cuplikan D merupakan NH4+
(Amonium) yang termasuk kation golongan V.
Cuplikan E merupakan Sr2+ (Stronsium) yang
termasuk kation golongan IV.
Referensi -

LEMBAR PENGESAHAN
Samarinda, 29 Mei 2021
Asisten Praktikum, Praktikan,

Putri Rinjani Ralitza Diva Salsabilla


NIM. 1713015147 NIM. 2013016172