Anda di halaman 1dari 31

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN KASUS GANGGUAN SISTEM

PERSYARAFAN : TUMOR OTAK


D
I
S
U
S
U
N
OLEH
KELOMPOK 4
1. Santi Gita Lombu 1702040
2. Khairunnisa Tanjung 170204031
3. Sanny Saragih 1702040
4. Robin Halawa 1702040
5. Kartika Pakpahan 1702040

Dosen Pengajar: Ns. Amila, M.Kep, Sp.Kep.MB

PROGRAM STUDI NERS


FAKULTAS FARMASI DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA
MEDAN

2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan Kehadirat Tuhan yang Maha Esa atas Berkat-Nya, kami dapat
menyelesaikan makalah mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah III ini tepat waktu.
Kami menyadari, makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh sebab itu kami sangat
mengharapkan kritik serta saran dari berbagai pihak demi penyempurnaan isi makalah ini.
Pada kesempatan ini kelompok mengucapkan terima kasih kepada:
1. Parlindungan Purba, SH, MM, selaku ketua yayasan Universitas Sari Mutiara Medan.
2. Dr. ivan Elisabeth Purba, M.Kes, selaku Rector Universitas Sari Mutiara Indonesia
Medan.
3. Taruli Sinaga SP, M.KM, selaku Dekan Fakultas Farmasi dan Ilmu Kesehatan
Universitas Sari Mutiara Medan.
4. Ns. Rinco Siregar, S.Kep, MNS, selaku Ketua Program Studi Ners Fakultas Farmasi
dan Ilmu Kesehatan Universitas Sari Mutiara Indonesia Medan.
5. Ibu Ns. Amila, M.Kep, Sp.Kep.MB selaku Pembimbing Akademik yang telah
memberikan bimbingan, arahan dan saran kepada kelompok dalam menyelesaikan
Kesiapan Peningkatan Perkembangan Dewasa.

Serta semua pihak yang telah membantu dalam proses pengajaran Asuhan Keperawatan
Pasien Dengan Kasus Gangguan Sistem Persyarafan : Tumor Otak ini yang namanya tidak
kami cantumkan satu persatu, demikian materi ini di buat semoga bermanfaat bagi kita
semua.

Medan, Oktober 2019


Penyusun

Kelompok 4
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.........................................................................................................i
KATA PENGANTAR.....................................................................................................ii
DAFTAR ISI...................................................................................................................iii
BAB 1. PENDAHULUAN...............................................................................................1
1.1 Latar Belakang...................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah..............................................................................................1
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA.....................................................................................3
2.1 Definisi Tumor Otak..........................................................................................5
2.2 Etiologi Tumor Otak..........................................................................................5
2.3 PatofisiologiTumor Otak....................................................................................6
2.4 Klasifikasi Tumor Otak......................................................................................7
2.5 Manifestasi Klinik..............................................................................................8
2.6 Penatalaksanaan Tumor Otak...........................................................................13
2.7 Pemeriksaan Penunjang Tumor Otak...............................................................13
2.8 Komplikasi Tumor Otak .................................................................................14
BAB 3. ASUHAN KEPERAWATAN TEORI TUMOR OTAK...............................15
BAB 4 PENUTUP..........................................................................................................28
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................29
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Tumor otak adalah terdapatnya lesi yang ditimbulkan karena ada desakan ruang baik
jinak maupun ganas yang tumbuh diotak, meningen dan tengkorak (Sylvia.A. 1995:1030).
Tumor otaak dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu herediter, sisa sisa sel embrional,
radiasi, virus, substansi-substansi karsinogenik. Tumor otak menyebabkan gangguan
neurologis progresif. Gangguan neurologis ini disebabkan oleh adanya gangguan fokal oleh
tumor dan peningkatan tekanan intracranial. Gangguan fokal terjadi bila terdapat penekanan
pada jaringan otak dan infiltrasi atau invasi langsung pada parenkim otak dengan kerusakan
jaringan neuron. Tumor otak merupakan penyebab kematian yang kedua dari semua kasus
kanker yang terjadi pada pria berusia 20-39 tahun. Selama periode 2009-2013 terdapat 173
kasus. Dari 173 kasus secara keseluruhan diketahui bahwa wanita lebih banyak terkena tumor
otak dibanding pria dengan perbandingan 1,8:1. Selain itu diketahui bahwa meningioma
merupakan tumor terbanyak dengan 100 kasus dari 173 kasus(57,8%) diikuti oleh astrositoma
dengan 50 kasus (28,9%) dengan lokasi tumor terbanyak pada frontal (30,1%).
Penatalaksanaan tumor otak dapat melalui terapi operasi jika obat-obatan antiedema otak
tidak dapat diberikan secara terus menerus, terapi konservatif yang meliputi radioterapi,
kemoterapi dan imunoterapi. Radioterapi dilakukan untuk menghancurkan tumor dengan
dosis yang masih dapat diteleransi oleh jaringan normal yang ditembusnya. Kemoterapi
digunakan untuk tumor otak astrositoma, glioblastoma dan astrositoma anaplastik beserta
variannya. Imunoterapi diguanakan jika terdapat gangguan fungsi imunologi tubuh.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa definisi dari tumor otak?
2. Bagaimana etiologi dari tumor otak?
3. Bagaimana patofisiologi dari tumor otak?
4. Bagaimana manifestasi klinis dari tumor otak?
5. Bagaimana penatalaksanaan dari tumor otak?
6. Pemeriksaan penunjang apa yang bisa digunakan untuk pasien dengan tumor otak?
7. Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan tumor otak?
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Sistem Saraf Pusat


Otak terdiri dari serebrum, serebelum, dan batang otak yang dibentuk oleh
mesensefalon, pons, dan medulla oblongata. Bila kalvaria dan dura mater disingkirkan, di
bawah lapisan arachnoid mater kranialis dan pia mater kranialis terlihat gyrus, sulkus, dan
fisura korteks serebri. Sulkus dan fisura korteks serebri membagi hemisfer serebri menjadi
daerah lebih kecil yang disebut lobus (Moore & Argur, 2007).

otak terdiri dari tiga bagian, yaitu:


1. Serebrum (Otak Besar) Serebrum adalah bagian terbesar dari otak yang terdiri dari dua
hemisfer. Hemisfer kanan berfungsi untuk mengontrol bagian tubuh sebelah kiri dan hemisfer
kiri berfungsi untuk mengontrol bagian tubuh sebelah kanan. Masing-masing hemisfer terdiri
dari empat lobus. Bagian lobus yang menonjol disebut gyrus dan bagian lekukan yang
menyerupai parit disebut sulkus. Keempat lobus tersebut masing-masing adalah lobus frontal,
lobus parietal, lobus oksipital dan lobus temporal (CDC, 2004).
a. Lobus parietal merupakan lobus yang berada di bagian tengah serebrum. Lobus
parietal bagian depan dibatasi oleh sulkus sentralis dan bagian belakang oleh garis
yang ditarik dari sulkus parieto-oksipital ke ujung posterior sulkus lateralis (Sylvian).
Daerah ini berfungsi untuk menerima impuls dari serabut saraf sensorik thalamus
yang berkaitan dengan segala bentuk sensasi dan mengenali segala jenis rangsangan
somatik (Ellis, 2006).
b. Lobus frontal merupakan bagian lobus yang ada di bagian paling depan dari
serebrum. Lobus ini mencakup semua korteks anterior sulkus sentral dari Rolando.
Pada daerah ini terdapat area motorik untuk mengontrol gerakan otot-otot, gerakan
bola mata; area broca sebagai pusat bicara; dan area prefrontal (area asosiasi) yang
mengontrol aktivitas intelektual (Ellis, 2006).
c. Lobus temporal berada di bagian bawah dan dipisahkan dari lobus oksipital oleh garis
yang ditarik secara vertikal ke bawah dari ujung atas sulkus lateral. Lobus temporal
berperan penting dalam kemampuan pendengaran, pemaknaan informasi dan bahasa
dalam bentuk suara (Ellis, 2006).
d. Lobus oksipital berada di belakang lobus parietal dan lobus temporal. Lobus ini
berhubungan dengan rangsangan visual yang memungkinkan manusia mampu
melakukan interpretasi terhadap objek yang ditangkap oleh retina mata (Ellis, 2006).
2. Serebelum (Otak Kecil) Serebelum atau otak kecil adalah komponen terbesar kedua otak.
Serebelum terletak di bagian bawah belakang kepala, berada di belakang batang otak dan di
bawah lobus oksipital, dekat dengan ujung leher bagian atas. Serebelum adalah pusat tubuh
dalam mengontrol kualitas gerakan. Serebelum juga mengontrol banyak fungsi otomatis otak,
diantaranya: mengatur sikap atau posisi tubuh, mengontrol keseimbangan, koordinasi otot
dan gerakan tubuh. Selain itu, serebelum berfungsi menyimpan dan melaksanakan
serangkaian gerakan otomatis yang dipelajari seperti gerakan mengendarai mobil, gerakan
tangan saat menulis, gerakan mengunci pintu dan sebagainya (Clark, 2005).
3. Batang Otak Batang otak berada di dalam tulang tengkorak atau rongga kepala bagian
dasar dan memanjang sampai medulla spinalis. Batang otak bertugas untuk mengontrol
tekanan darah, denyut jantung, pernafasan, kesadaran, serta pola makan dan tidur. Bila
terdapat massa pada batang otak maka gejala yang sering timbul berupa muntah, kelemahan
otat wajah baik satu maupun dua sisi, kesulitan menelan, diplopia, dan sakit kepala ketika
bangun (CDC, 2004). Batang otak terdiri dari tiga bagian, yaitu:
a. Mesensefalon atau otak tengah (disebut juga mid brain) adalah bagian teratas dari
batang otak yang menghubungkan serebrum dan serebelum. Saraf kranial III dan IV
diasosiasikan dengan otak tengah. Otak tengah berfungsi dalam hal mengontrol
respon penglihatan, gerakan mata, pembesaran pupil mata, mengatur gerakan tubuh
dan pendengaran (Moore & Argur, 2007).
b. Pons merupakan bagian dari batang otak yang berada diantara midbrain dan medulla
oblongata. Pons terletak di fossa kranial posterior. Saraf Kranial (CN) V diasosiasikan
dengan pons (Moore & Argur, 2007).
c. Medulla oblongata adalah bagian paling bawah belakang dari batang otak yang akan
berlanjut menjadi medulla spinalis. Medulla oblongata terletak juga di fossa kranial
posterior. CN IX, X, dan XII disosiasikan dengan medulla, sedangkan CN VI dan
VIII berada pada perhubungan dari pons dan medulla (Moore & Argur, 2007).

2.2 Tumor Otak


Otak Neoplasma sistem saraf pusat (SSP) mencakup neoplasma yang berasal dari
dalam otak, medulla spinalis, atau meningen, serta tumor metastatik yang berasal dari tempat
lain. Neoplasma SSP primer sedikit berbeda dengan neoplasma yang timbul di tempat lain,
dalam artian bahwa bahkan lesi yang secara hitologis jinak, dapat menyebabkan kematian
karena penekanan terhadap struktur vital. Selain itu, berbeda dengan neoplasma yang timbul
di luar SSP, bahkan tumor otak primer yang secara histologis ganas jarang menyebar
kebagian tubuh lain (Kumar et al., 2007).
Tumor otak atau Glioma adalah sekelompok tumor yang timbul dalam sistem saraf
pusat dan dapat dijumpai beberapa derajat diferensiasi glia. Apabila sel-sel tumor berasal dari
jaringan otak itu sendiri disebut tumor otak primer dan bila berasal dari organ-organ lain
disebut tumor otak metastatis (Huff,2009). Pada saat tumor otak terjadi, pertumbuhan sel
yang tidak diperlukan secara berlebihan menimbulkan penekanan pada sel-sel lain di otak
yang menggangu fungsi otak bagian tersebut. Tumor tersebut akan menekan jaringan otak
sekitar dan menimbulkan tekanan yang disebabkan tekanan berlawanan oleh tulang
tengkorak, dan jaringan otak yang sehat, serta area sekitar saraf. Sebagai hasilnya tumor akan
merusak jaringan otak.

2.3 Etiologi Tumor Otak

Tidak ada faktor etiologi jelas yang telah ditemukan untuk tumor otak primer. Walaupun
tipe sel yang berkembang menjadi tumor sering kali dapat diidentifikasi, mekanisme yang
menyebabkan sel bertindak abnormal tetap belum diketahui. Kecenderungan keluarga,
imunosupresi, dan faktor-faktor lingkungan sedang diteliti. Waktu puncak untuk kejadian
tumor otak adalah decade kelima dan ketujuh. Selain itu, pria terkena lebih sering dari pada
wanita.
Penyebab tumor hingga saat ini masih belum diketahui secara pasti. Adapun faktor-
faktor yang perlu ditinjau, yaitu :
a. Herediter
Riwayat tumor otak dalam satu anggota keluarga jarang ditemukan kecuali
pada meningioma, astrositoma dan neurofibroma dapat dijumpai pada anggota-
anggota sekeluarga. Dibawah 5% penderita glioma mempunyai sejarah keluarga
yang menderita brain tumor. Sklerosis tuberose atau penyakit Sturge-Weber yang
dapat dianggap sebagai manifestasi pertumbuhan baru, memperlihatkan faktor
familial yang jelas. Selain jenis-jenis neoplasma tersebut tidak ada bukti-bukti yang
kuat untuk memikirkan adanya faktor-faktor hereditas yang kuat pada neoplasma.
b. Sisa-Sisa Sel Embrional (Embryonic Cell Rest)
Bangunan-bangunan embrional berkembang menjadi bangunan-bangunan
yang mempunyai morfologi dan fungsi yang terintegrasi dalam tubuh. Tetapi ada
kalanya sebagian dari bangunan embrional tertinggal dalam tubuh, menjadi ganas
dan merusak bangunan di sekitarnya. Perkembangan abnormal itu dapat terjadi pada
kraniofaringioma, teratoma intrakranial dan kordoma.
c. Radiasi
Radiasi jenis ionizing radiation bisa menyebabkan tumor otak jenis
neuroephitelial , meningiomas, dan nerve sheath tumors. Selain itu paparan
terhadap sinar X juga dapat meningkatkan resiko tumor otak.
d. Virus
Banyak penelitian tentang inokulasi virus pada binatang kecil dan besar yang
dilakukan dengan maksud untuk mengetahui peran infeksi virus dalam proses
terjadinya neoplasma, tetapi hingga saat ini belum ditemukan hubungan antara
infeksi virus dengan perkembangan tumor pada sistem saraf pusat.
e. Substansi-substansi Karsinogenik
Penyelidikan tentang substansi karsinogen sudah lama dan luas dilakukan.
Kini telah diakui bahwa ada substansi yang karsinogenik seperti
methylcholanthrone, nitroso-ethyl-urea. Ini berdasarkan percobaan yang dilakukan
pada hewan.
f. Trauma kepala
Trauma kepala yang dapat menyebabkan hematoma sehingga mendesak massa
otak akhirnya terjadi tumor otak.

2. 4 Patofisiologi Tumor Otak

Tumor otak menyebabkan gangguan neurologis progresif yang disebabkan oleh dua
faktor yaitu gangguan fokal oleh tumor dan kenaikan tekanan intracranial (TIK).Gangguan
fokal terjadi apabila terdapat penekanan pada jaringan otak dan infiltrasi atau invasi langsung
pada parenkim otak dengan kerusakan jaringan neuron.
Perubahan suplai darah akibat tekanan yang ditimbulkan tumor yang tumbuh
menyebabkan nekrosis jaringan otak.Akibatnya terjadi kehilangan fungsi secara akut dan
dapat dikacaukan dengan gangguan serebrovaskular primer.
Serangan kejang sebagai manifestasi perubahan kepekaan neuron akibat kompresi, invasi,
dan perubahan suplai darah ke dalam jaringan otak.
Peningkatan TIK dapat diakibatkan oleh beberapa faktor seperti bertambahnya massa
dalam tengkorak, edema sekitar tumor, dan perubahan sirkulasi CSS. Tumor ganas
menyebabkan edema dalam jaringan otak yang diduga disebabkan oleh perbedaan tekanan
osmosis yang menyebabkan penyerapan cairan tumor.Obstruksi vena dan edema yang
disebabkan oleh kerusakan sawar di otak, menimbulkan peningkatan volume intracranial dan
meningkatkan TIK.
Peningkatan TIK membahayakan jiwa jika terjadi dengan cepat.Mekanisme kompensasi
memerlukan waktu berhari-hari atau berbulan-bulan untuk menjadi efektif dan oleh karena
itu tidak berguna apabila tekanan intracranial timbul cepat.Mekanisme kompensasi ini
meliputi volume darah intrakranial, volum CSS, kandungan cairan intrasel, dan mengurangi
sel-sel parenkim otak. Kenaikan tekanan yang tidak diatasi akan mengakibatkan herniasi
untuk serebellum.
Herniasi unkus timbul jika girus medialis lobus temporalis bergeser ke inferior melalui
insisura tentorial karena adanya massa dalam hemisfer otak. Herniasi menekan mesensefalon,
menyebabkan hilangnya kesadaran dan menekan saraf otak ke-3. Pada herniasi serebellum,
tonsil serebellum tergeser ke bawah melalui foramen magnum oleh suatu massa posterior.
Kompresi medulla oblongata dan terhentinya pernapasan terjadi dengan cepat. Perubahan
fisiologis lain yang terjadi akibat peningkatan intrakranial yang cepat adalah bradikardia
progresif, hipertensi sistemik, dan gangguan pernapasan.

2.5 Klasifikasi Tumor Otak

1. Klasifikasi stadium (Klasifikasi lesi primer susunan saraf pusat dilakukan


berdasarkan grading) :
a. WHO grade I : tumor dengan potensi proliferasi rendah, kurabilitas pasca reseksi
cukup baik.
b. WHO grade II : tumor bersifat infiltratif , aktivitas mitosis rendah, namun sering
timbul rekurensi. Jenis tertentu cenderung untuk bersifat progresif ke arah derajat
keganasan yang lebih tinggi.
c. WHO grade III : gambaran aktivitas mitosis jelas, kemampuan infiltrasi tinggi,
dan terdapat anaplasia.
d. WHO grade IV : mitosis aktif, cenderung nekrosis, pada umumnya berhubungan
dengan progresivitas penyakit yang cepat pada pre/post operasi
2. Jenis – jenis Tumor otak berdasarkan WHO 2000, tumor otak dibagi menjadi :
a. Tumors of the Neuroepithelial tissue :
1) Astrocytic tumor terdiri dari :
a) Pilocytic astrocytoma (grade I)
b) Diffuse Astrocytoma (grade II)
c) Anaplastic astrocytoma (grade III)
d) Glioblastoma multiforma (grade IV)
2) Oligodendroglioma tumors :
a) Oligodendroglioma (grade II)
b) Anaplastic oligodendroglioma (grade III)
3) Glioma campuran :
a) Oligoastrocytoma (grade III)
b) Anaplastic oligoastrocytoma (grade III)
b. Ependymal tumors
c. Choroid plexus tumors
d. Pineal Parenchymal tumors
e. Embryonal tumors :
1) Medulloblastoma
2) Primitive neuroectodermal tumors (PNET)
f. Meningeal tumors :Meningioma
g. Primary CNS Lymphoma
h. Germs cell tumors
i. Tumors of the sellar region
j. Brain metastase of the systemic cancers.

2.6 Manifestasi Tumor Otak

1. Manifestasi Klinis
Manifestasi Klinis mungkin tidak spesifik yang dapat disebabkan oleh edema
dan peningkatan TIK atau spesifik yang disebabkan oleh lokasi anatomi tertentu.
a. Perubahan Status Mental

Seperti pada gangguan neurologis atau bedah syaraf, perubahan tingkat


kesadaran atau sensoris dapat ditemukan. Perubahan status emosional dan mental,
seperti letargi dan mengantuk, kebingungan, disorientasi, serta perubahan
kepribadian dapat ditemukan.
b. Sakit kepala

Merupakan gejala awal pada 20% penderita dengan tumor otak yang
kemudian berkembang menjadi 60%. Nyerinya tumpul dan intermitten. Nyeri
kepala berat juga sering diperhebat oleh perubahan posisi, batuk, maneuver
valsava dan aktivitas fisik. Muntah ditemukan bersama nyeri kepala pada 50%
penderita. Nyeri kepala ipsilateral pada tumor supratentorial sebanyak 80 % dan
terutama pada bagian frontal. Tumor pada fossa posterior memberikan nyeri alih
ke oksiput dan leher. 
Sakit kepala dapat terbatas atau keseluruhan. Biasanya intermiten dengan
durasi meningkat dan dapat diperparah dengan perubahan posisi atau mengejan.
Sakit kepala parah dan berulang pada klien yang sebelumnya bebas sakit kepala
atau sakit kepala berulang di pagi hari yang frekuensi dan keparahannya
meningkat dapat menandakan suatu tumor intrakranial dan membutuhkan
pengkajian lebih lanjut.
c. Mual dan Muntah

Manifestasi klinis mual dan muntah dipercaya terjadi karena tekanan pada
medula, yang terletak pusat muntah. Klien sering mengeluhkan sakit kepala parah
setelah berbaring di ranjang. Saat sakit kepala makin nyeri, klien juga dapat
mengalami mual atau muntah yang spontan. Selama episode muntah biasanya
nyeri kepala akan berkurang.
d. Papiledema

Kompresi pada nervus kranialis kedua, nervus optik, dapat menyebabkan


papiledema. Mekanisme patofisiologis yang mendasari hal ini masih belum
diapahami. Peningkatan tekanan intrakranial mengganggu aliran balik vena dari
mata dan menumpuk darah di vena retina sentralis. Juga dikenal sebagai “Choked
disc”, papiledema umum pada klien dengan tumor intrakranial dan mungkin
merupakan manifestasi awal dari peningkatan tekanan intrakranial. Papiledema
awal tidak menyebabkan perubahan ketajaman penglihatan dan hanya dapat
dideteksi dengan pemeriksaan oftalmologis. Papiledema parah dapat
bermanifestasi sebagai penurunan tajam penglihatan.
e. Kejang

Kejang, fokal atau umum, sering ditemui pada klien dengan tumor
intrakranial, terutama tumor hemisfer serebral. Kejang dapat parsial atau
menyeluruh. Kejang parsial biasanya membantu membatasi lokasi tumor.
2. Manifestasi Lokal

Manifestasi klinis lokal disebabkan oleh kerusakan, iritasi, atau kompresi dari
sebagian otak tempat tumor terletak.
1) Kelemahan Fokal ( misal, hemiparesis)
2) Gangguan sensoris, antara lain tidak dapat merasakan (anestesia), atau
sensasi abnormal (Parestesia)
3) Gangguan bahasa
4) Gangguan koordinasi (misal, jalan sempoyongan)
5) Gangguan penglihatan seperti diplopia (pandangan ganda) atau gangguan
lapang pandang (monopia)

2.7 Pemeriksaan Penunjang Tumor Otak

Menurut Muttaqin (2008) ada beberapa pemeriksaan diagnostik yang digunakan dalam
mengindikasi penyakit tumor otak, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Computed Tomography Scan (CT-Scan)
Computed Tomography (CT) Scan merupakan suatu teknik diagnostik dengan
menggunakan sinar sempit dari sinar-X untuk memindai kepala dalam lapisan yang
berurutan.Bayangan yang dihasilkan memberi gambaran potongan melintang dari
otak, dengan membandingkan perbedaan jaringan padat pada tulang kepala, korteks,
struktur subkortikal, dan ventrikel. Bayangan ditunjukkan pada osiloskop atau
monitor TV dan difoto. Lesi-lesi pada otak terlihat sebagai variasi kepadatan
jaringan yang berbeda dari jaringan otak normal sekitarnya. Jaringan abnormal
sebagai indikasi kemungkinan adanya massa tumor, infark otak dan atrofi
kortikal.Oleh karena itu,CT Scan merupakan alat diagnostik yang penting dalam
evaluasi pasen yang diduga menderita tumor otak. Sensitifitas CT Scan untuk
mendeteksi tumor yang berpenampang kurang dari 1 cm dan terletak pada basis
kranil. Gambaran CT Scan pada tumor otak, umumnya tampak sebagai lesi
abnormal berupa massa yang mendorong struktur otak disekitarnya. Biasanya tumor
otak dikelilingi jaringan udem yang terlihat jelas karena densitasnya lebih
rendah.Adanya kalsifikasi, perdarahan atau invasi mudah dibedakan dengan jaringan
sekitarnya karena sifatnya yang hiperdens. Beberapa jenis tumor akan terlihat lebih
nyata bila pada waktu pemeriksaan CT Scan disertai dengan pemberian zat kontras.
Penilaian CT Scan pada tumor otak:
a. Tanda proses desak ruang:
1. Pendorongan struktur garis tengah itak
2. Penekanan dan perubahan bentuk ventrikel
b. Kelainan densitas pada lesi:
1. Hipodens
2. Hiperdens atau kombinasi
c. Klasifikasi, perdarahan
1. Edema perifokal
2. Positron Emmision Tomography (PET)
Positron Emmision Tomography (PET) adalah teknik pencitraan nuklir berdasarkan
komputer yang dapat menghasilkan bayangan fungsi organ secara aktual. Klien
menghirup gas radioaktif atau diinjeksikan dengan zat radioaktif yang memberikan
partikel bermuatan positif. Bila positron ini berkombinasi dengan elektron-elektron
bermuatan negatif (normalnya didapat dalam sel-sel tubuh), resultan sinar gamma
dapat dideteksi oleh alat pemindai. Dalam alat-alat pemindai, detektor tersusun
dalam sebuah cincin dan seri-seri yang dihasilkan berupa gambar dua dimensi pada
berbagai tingkatan otak. Informasi ini terintegrasi oleh komputer dan memberikan
sebuah komposisi bayangan kerja otak.PET memungkinkan pengukuran aliran
darah, komposisi jaringan, dan metabolisme otak. PET mengukur aktifitas ini secara
spesifik pada daerah otak dan dapat mendeteksi perubahan penggunaan glukosa. Uji
ini digunakan untuk melihat perubahan metabolik otak, melokasikan lesi seperti
adanya tumor otak. PET digunakan untuk mendiagnosa kelainan metabolisme pada
otak dan mampu mendiagnosa penyakit Alzheimer serta penyebab lain dari
demensia.
3. Magnetic Resonance Imaging (MRI)
Pemindaian MRI dapat mendemonstrasikan otak dengan menggunakan
fasilitas multiplanar pada bidang aksial, koronal dan sagital dengan gambaran yang
sangat baik pada fosa posterior, karena tidak ada artefak tulang. MRI merupakan
pemeriksaan yang sangat sensitif dalam mendeteksi tumor seperti adenoma hipofisis
dan neuroma akustik.MRI menunjukkan gejala yang progresif atau tanda-tanda
penyakit otak yang difus atau fokal, atau salah satu tanda spesifik dari sindrom atau
gejala-gejala tumor. Kadang sulit membedakan tumor dari abses ataupun proses
lainnya. Pada keadaan tumor otak ini akan nampak warna yang kontras dengan
warna organ normal dan terjadi penebalan jaringan otak.
4. Elektroensefalografi
Elektroensefalografi (EEG) merekam aktifitas umum eletrik di otak, dengan
meletakkan elektroda-elektroda pada daerah kulit kepala atau dengan menempatkan
mikroelektroda dalam jaringan otak. Pemeriksaan ini memberikan kajian fisiologis
aktifitas serebri. EEG bertindak sebagai indikator kematian otak. Tumor, abses,
jaringan parut, bekuan darah, dan infeksi dapat menyebabkan aktifitas listrik berbeda
dari pola normal irama dan kecepatan.Pemeriksaan ini pada tumor otak berfungsi
untuk mengevaluasi lobus temporal pada saat kejang.
5. MR-Spectroscopy
MR-Spectroscopy (MRS) mampu membedakan berbagai lesi pada otak. Derajat
akurasinya mencapai 95-100% untuk membedakan lesi neoplasma atau
nonneoplasma. Choline adalah marker spesifik pada neoplasma intrakranial.
Peningkatan konsentrasi choline atau jumlah rasio Cho/Cr atau Cho/NNA
menunjukkan adanya suatu neoplasma (Castillo et al, 1998).Kelainan spesifik
tertentu dapat mempersulit untuk membedakan diagnostik antara tumor atau proses
inflamasi seperti pada high grade glioma dan abses serebri dimana puncak
konsentrasi choline dapat tidak muncul karena adanya proses nekrosis. Berbagai
cara tertentu dapat digunakan seperti penggunaan long TE dapat mempermudah
identifikasi puncak choline. Adanya puncak cytosolic amino acids pada 0,9 ppm
adalah karakteristik khusus untuk abses. Pada diffusion weight image, abses
menunjukkan high signal intensity sedangkan pada tumor dengan degenerasi
nekrosis menunjukkan ISO sampai low signal intensity. Pada abses biasanya
menunjukkan hipoperfusi sedangkan pada glioma menunjukkan hiperperfusi
6. Angiografi Serebral
Menegaskan adanya tumor. Memberikan gambaran pembuluh darah serebral dan
letak tumor serebral. Pada tumor otak ini pembuluh darah pada siklus Willis di
cabang arteri otak yang kecil akan mengalami pembesaran masa pembuluh darah
saat dilakukan pemeriksaan ini.
7. Pemeriksaan Lumbal Pungsi
Menunjukan peningkatan cairan serebrospinal (CSS), yang mencerminkan
TIK, peningkatan kadar protein, penurunan kadar glukosa, dan terkadang sel-sel
tumor pada CSS. Dilakukan untuk melihat adanya sel-sel tumor dan juga marker
tumor. Tetapi pemeriksaan ini tidak rutin dilakukan terutama pada pasien dengan
massa di otak yang besar. Umumnya diagnosis histologik ditegakkan melalui
pemeriksaan patologi anatomi, sebagai cara yang tepat untuk membedakan tumor
dengan proses-proses infeksi (abses cerebri).

2. 8 Penatalaksanaan
a. Pembedahan.
Craniotomi
b. Radiotherapi
Biasanya merupakan kombinasi dari terapi lainnya tapi tidak jarang pula merupakan
therapi tunggal. Adapun efek samping : kerusakan kulit di sekitarnya, kelelahan, nyeri
karena inflamasi pada nervus atau otot pectoralis, radang tenggorkan.
c. Chemotherapy
Pemberian obat-obatan anti tumor yang sudah menyebar dalam aliran darah. Efek
samping : lelah, mual, muntah, hilang nafsu makan, kerontokan membuat, mudah
terserang penyakit.
d. Manipulasi hormonal.
Biasanya dengan obat golongan tamoxifen untuk tumor yang sudah bermetastase

2.9 Komplikasi Tumor Otak


Menurut beberapa sumber salah satunya menurut Ginsberg(2008) komplikasi yang dapat
terjadi pada tumor otak antara lain:
1. Peningkatan Tekanan Intrakraial
Peningkatan tekanana intrakranial terjadi saat salah satu maupun semua faktor yang
terdiri dari massa otak, aliran darah ke otak serta jumlah cairan serebrospinal mengalami
peningkatan. Peningkatan dari salah satu faktor diatas akan memicu:
2. Edema Serebral
Peningkatan cairan otak yang berlebih terakumulasi disekitar lesi sehingga menambah
efek masa yang mendesak.
3. Hidrosefalus
Hidrosefalus terjadi akibat peningkatan produksi CSS ataupun karena adanya gangguan
sirkulasi dan absorbsi CSS. Pada tumor otak, massa tumor akan mengobstruksi aliran dan
absorbsi CSS sehingga memicu terjadinya hidrosefalus.
4. Herniasi Otak
Peningkatan tekanan intracranial dapat mengakibatkan herniasi sentra, unkus, dan singuli.
Herniasi serebellum akan menekan mesensefalon sehingga menyebabkan hilangnya
kesadaran dan menekan saraf otak ketiga (okulomotor) (Fransisca, 2008).
5. Epilepsi
Epilepsi diakibatkan oleh adanya perangsangan atau gangguan di dalam selaput otak
(serebral cortex) yang disebabkan oleh adanya massa tumor (Yustinus, 2006).
6. Berkurangnya fungsi neurologis
Gejala berkurangnya fungsi neurologis karena hilangnya jaringan otak adalah khas bagi
suatu tumor ganas (Wim, 2002). Penurunan fungsi neurologis ini tergantung pada bagian
otak yang terkena tumor.
7. Ensefalopati radiasi
8. Metastase ke tempat lain 
9. Kematian
BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN TEORI TUMOR OTAK
 
3.1 Pengkajian
Pengkajian keperawatan yang menyeluruh dan akurat sangat penting dalam merawat
pasien yang memiliki masalah saraf. Perawat perlu waspada terhadap berbagai perubahan
yang kadang samar dalam kondisi pasien yang mungkin menunjukkan perburukan
kondisi.
3.1.1 Anamnesa
1. Data Demografi
Identitas pada klien yang harus diketahui diantaranya: nama, umur, agama,
pendidikan, pekerjaan, suku/bangsa, alamat, jenis kelamin, status perkawinan,
dan penanggung biaya.

2. Keluhan utama

Biasanya klien mengeluh nyeri kepala yang hilang timbul dan durasinya makin
meningkat

3. Riwayat penyakit saat ini

Klien mengeluh nyeri kepala saat perubahan posisi dan dapat meningkat dengan
aktivitas, vertigo, muntah proyektil, perubahan mental seperti disorientasi,
letargi, papiledema, penurunan tingkat kesadaran, penurunan penglihatan atau
penglihatan double, ketidakmampuan sensasi (parathesia atau anasthesia),
hilangnya ketajaman atau diplopia.

4. Riwayat penyakit dahulu


Klien pernah mengalami pembedahan kepala atau trauma kepala

5. Riwayat penyakit keluarga

Adakah penyakit yang diderita oleh anggota keluarga yang mungkin ada
hubungannya dengan penyakit klien sekarang, yaitu riwayat keluarga dengan
tumor kepala.

6. Pengkajian psiko-sosio-spiritual

Perubahan kepribadian dan perilaku klien, perubahan mental, kesulitan mengambil


keputusan, kecemasan dan ketakutan hospitalisasi, diagnostic test dan prosedur
pembedahan, adanya perubahan peran.

3.1.2 Pemeriksaan Fisik ( ROS : Review of System )

Pemeriksaan fisik pada klien dengan tomor otak meliputi pemeriksaan fisik umum per
system dari observasi keadaan umum, pemeriksaan tanda-tanda vital, B1
(breathing), B2 (Blood), B3 (Brain), B4 (Bladder), B5 (Bowel), dan B6 (Bone).

1. Pernafasan B1 (Breath)

Adanya peningkatan irama pernafasan (pola napas tidak teratur) dan sesak napas
terjadi karena tumor mendesak otak sehingga hermiasi dan kompresi medulla
oblongata. Bentuk dada dan suara napas klien normal, tidak menunjukkan batuk,
adanya retraksi otot bantu napas, dan biasanya memerlukan alat bantu
pernapasan dengan kadar oksigen 2 LPM.

2. Kardiovaskular B2 (Blood)

Desak ruang intracranial akan menyebabkan peningkatan tekanan intracranial


sehingga mengakibatkan peningkatan tekanan darah. Selain itu terjadi
ketidakteraturan irama jantung (irreguler) dan bradikardi. Klien tidak
mengeluhkan nyeri dada, bunyi jantung normal, akral hangat, nadi bradikardi.

3. Persyarafan B3 (Brain)
a. Penglihatan (mata)  : Penurunan penglihatan, hilangnya ketajaman atau
diplopia.
b. Pendengaran (telinga): Terganggu bila mengenai lobus temporal
c. Penciuman (hidung)  : Mengeluh bau yang tidak biasanya, pada lobus frontal
d. Pengecapan (lidah)    : Ketidakmampuan sensasi (parathesia atau anasthesia)
1) Afasia : Kerusakan atau kehilangan fungsi bahasa, kemungkinan
ekspresif atau kesulitan berkata-kata, reseotif atau berkata-kata
komprehensif, maupun kombinasi dari keduanya.
2) Ekstremitas : Kelemahan atau paraliysis genggaman tangan tidak
seimbang, berkurangnya reflex tendon.
3) GCS : Skala yang digunakan untuk menilai tingkat kesadaran pasien,
(apakah pasien dalam kondisi koma atau tidak) dengan menilai respon
pasien terhadap rangsangan yang diberikan.

Hasil pemeriksaan dinyatakan dalam derajat (score) dengan rentang angka


1– 6 tergantung responnya yaitu :

a) Eye (respon membuka mata)

(4):Spontan

(3):Dengan rangsang suara (suruh pasien membuka mata).

(2):Dengan rangsang nyeri (berikan rangsangan nyeri, misalnya menekan


kuku jari)

(1): Tidak ada respon

b) Verbal (respon verbal)

(5) : Orientasi baik

(4) : Bingung, berbicara mengacau ( sering bertanya berulang-ulang )


disorientasi tempat dan waktu.

(3) : Kata-kata saja (berbicara tidak jelas, tapi kata-kata masih jelas,
namun tidak dalam satu kalimat. Misalnya “aduh…, bapak…”)
(2) : Suara tanpa arti (mengerang)

(1) : Tidak ada respon

c) Motor (respon motorik)

(6):Mengikuti perintah

(5):Melokalisir nyeri (menjangkau & menjauhkan stimulus saat diberi


rangsang nyeri)

(4):Withdraws (menghindar/menarik ekstremitas atau tubuh menjauhi


stimulus saat diberi rangsang nyeri)

(3):Flexi abnormal (tangan satu atau keduanya posisi kaku diatas dada &
kaki extensi saat diberi rangsang nyeri).

(2):Extensi abnormal (tangan satu atau keduanya extensi di sisi tubuh,


dengan jari mengepal & kaki extensi saat diberi rangsang nyeri).

(1):Tidak ada respon

Berdasarkan Fokal
Tumor Lobus Frontalis
a. Gangguan keperibadian dan mental seperti apatis,kesukaran dalam
pandangan ke depan, regresi dalam tingkah laku social
b. Graps refleks (reflek memegang)
c. Spasme tonik pada jari-jari kaki atau tangan
d. Kejang fokal atau wajah
e. Todd’s paralisis
f. Afasia motorik
g. Jika terjadi di traktus kortikospinalis :hemiparesis sampai hemiplegia
kontralateral lesi
h. Sindrom foster kennedy
Tumor lobus temporalis
a. Kajang parsiil
b. Movement motoric automatic
c. Nyeri epigastrium
d. Perasaan fluttering di epigastrik atau toraks
e. Dejavu
Tumor lobus parietalis
a. Astereognosis
b. Antopognosis
c. Hemianestesia
d. Tidak dapat membedakan kanan taua kiri
e. Loss of body image
Tumor lobus oksipitalis
a. Gangguan yojana penglihatan
b. Nyeri kepala di daerah oksipital
c. Hemianopsia homonym
Tumor Serebellum
a. Nyeroi kepala, muntah ban pupil edema
b. Ganguan gait dan gangguan koordinasi
c. Bila berjalan kan jatuh ke sisi lesi
d. Ataksia, tremor, nistagmus hipotonia
Tumor daerah thalamus
a. Refleks babinsky positif, hemiparesis, hiperrefleks
b. Tekanan intracranial yang tinggi
c. Lama kelamaan bisa menjadi hidrosefalus
Tumor daerah pineal/epifise
a. Tanda perinaud fenomena bell
b. Fenomena puppenkoft
c. Pupil argyl Robertson
d. Pubertas prekoks
e. Diabetes insipidus
Tumor batang otak
a. Kesadaran menurun
b. Gangguan N III
c. Sindrom webber
d. Sindrom benedict
e. Sindrom claude
Tumor sudut sereblo pontin
a. Gangguan pendengaran
b. Vertigo

Berdasarkan PTIK
Nyeri kepala,kejang, gangguan mental, pembesaran kepala, papiledema,
sensasi abnormal di kepala, false localizing sign

4. Perkemihan B4 (Bladder)

Gangguan control sfinter urine, kebersihan bersih, bentuk alat kelamin normal,
uretra normal, produksi urin normal

5. Pencernaan B5 (Bowel)

Mual dan muntah terjadi akibat peningkatan tekanan intracranial sehingga menekan
pusat muntah pada otak. Gejala mual dan muntah ini biasanya akan diikuti
dengan penurunan nafsu makan pada pasien. Kondisi mulut bersih dan mukosa
lembab

6. Muskuloskeletal/integument B6 (Bone)

Keterbatasan pergerakan anggota gerak karena kelemahan bahkan kelumpuhan.


Kemampuan pergerakan sendi bebas, kondisi tubuh kelelahan.

3.2 Diagnosa Keperawatan


1. Nyeri kronis berhubungan dengan perembesan tumor: peningkatan tekanan
intrakranial.
2. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan penekanan medula oblongata.
3. Risiko ketidakefekifan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan peningkatan
tekanan intrakranial, pembedahan tumor, edema serebri.
4. Resiko cedera berhubungan dengan vertigo sekunder terhadap hipotensi ortostatik.
5. Gangguan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan efek kemoterapi
dan radioterapi.
6. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan sensorik dan motorik
7. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan nyeri akibat tidak mampu menggerakan
leher.

3.3 Intervensi Keperawatan


1. Nyeri kronis (00133) berhubungan dengan perembesan tumor: peningkatan
tekanan intrakranial.

NOC NIC
Tujuan :  setelah dilakukan tindakan
Pain Management (1400)
keperawatan selama 1x24 jam nyeri
1) Mengurangi/menghilangkan faktor-
yang dirasakan berkurang 1 atau dapat
faktor yang memimbulkan /
diadaptasi oleh klien dengan kriteria
meningkatkan pengalaman nyeri
hasil :
2) Memilih dan mengimplementasikan
a. Klien mengungkapkan nyeri
satu jenis tindakan (farmakologi,
yang dirasakan berkurang atau
non-farmakologi, interpersonal)
dapat diadaptasi ditunjukkan
untuk memfasilitasi pertolongan
penurunan skala nyeri. Skala = 2
nyeri
b. Klien tidak merasa kesakitan.
3) Mempertimbangkan jenis dan
c. Klien tidak gelisah
sumber nyeri ketika memilih strategi
Domain-Health Knowledge &
pertolongan nyeri
Behaviour (IV)
4) Mendorong klien untuk
Pain Control (1605)
menggunakan pengobatan nyeri
Klien dapat mengenal onset nyeri
yang adekuat
Klien dapat menggambarkan faktor
5) Instruksikan pasien/keluarga untuk
penyebab
melaporkan nyeri dengan segera jika
Klien mengenal gejala yang
nyeri timbul.
berhubungan dengan nyeri (160509)
6) Mengajarkan  tehnik relaksasi dan
Melaporkan kontrol nyeri (160511)
metode distraksi
Pain: Disruptive Effects (2101)
7) Observasi adanya tanda-tanda nyeri
Hubungan interpersonal tidak
non verbal seperti ekspresi wajah,
terganggu
gelisah, menangis/meringis,
Tindakan peran seperti semula
perubahan tanda vital.
Dapat melakukan ktivitas sehari-hari
Aktivitas fisik tidak terganggu kolaborasi: Analgesic Administration
(2210)

1) Menentukan lokasi, karakteristik,


kualitas, dan keparahan nyeri
sebelum pengobatan klien
2) Mengecek permintaan medis untuk
obat, dosis, dan frekuensi dari
analgesik yang telah ditentukan
(resep)
2. Ketidakefektifan pola nafas (00032) berhubungan dengan penekanan medula
oblongata.

NOC NIC
Tujuan : setelah dilakukan tindakan Airway Management (3140)
keperawatan selama 1x24 jam pola 1) Monitor status respirasi dan
pernafasan kembali normal dengan oksigenasi, yang tepat
kriteria Hasil : Respiratory Management (3350)
1) Monitor kecepatan, irama,
a. Pola nafas efekif
kedalaman dan upaya pernafasan.
b. GDA normal
2) Monitor pola pernapasan
c. Tidak terjadi sianosis
3) Monitor tingkat saturasi oksigen
dalam klien yang tenang
Domain-Physiologic Health (II)
4) Auskultasi suara napas, mencatat
Class-Cardiopulmonary (E)
area penurunan ketiadaan ventilasi
Respiratory Status (0415)
dan keberadaan suara tambahan
Respiraroty Rate normal
Respiraory Rhytm normal
Kedalaman inspirasi normal
Saturasi oksigen normal
Tidak ada sianosis

3. Risiko ketidakefekifan perfusi jaringan serebral (00200) berhubungan dengan


peningkatan tekanan intrakranial, pembedahan tumor, edema serebri.

NOC NIC
Tujuan : setelah dilakukan tindakan Intracranial Pressure (ICP) Monitoring
keperawatan selama 1x24 jam perfusi (2590)
jaringan klien membaik ditandai 1) Monitor kualitas dan karakteristik
dengan tanda-tanda vital stabil dengan dari bentuk gelombang TIK
kriteria hasil : 2) Monitor tekanan perfusi cerebral
3) Monitor status neurologis
a. Tekanan perfusi serebral 
4) Monitor TIK klien dan respon
>60mmHg, tekanan intrakranial
neurologis untuk merawat aktivitas
<15mmHg, tekanan arteri rata-
dan stimuli lingkungan
rata 80-100mmHg
5) Monitor jumlah, kecepatan, dan
b. Menunjukkan tingkat kesadaran
karakteristik dari aliran cairan
normal
serebrospinal (CSF)
c. Orientasi pasien baik
6) Memberikan agen farmakologi
d. RR 16-20x/menit
untuk menjaga TIK pada batas
e. Nyeri kepala berkurang atau
tertentu
tidak terjadi
7) Memberi jarak waktu intervensi
Domain-Physiologic Health (II)
keperawatan untuk meminimalkan
Class-Cardiopulmonary (E)
PTIK
Perfusi Jaringan: Serebral (0406)
8) Monitor secara berkala tanda dan
Tekanan intracranial normal
gejala peningkatan TIK
Tekanan darah sistolik normal
a. Kaji perubahan tingkat
Tekanan darah diastolic normal
kesadaran, orientasi, memori,
Mean Blood Pressure normal
periksa nilai GCS
Sakit kepala hilang
b. Kaji tanda vital dan bandingkan
Tidak mengalami penurunan tingkat
dengan keadaan sebelumnya
kesadaran
c. Kaji fungsi autonom: jumlah dan
Tidak ada gangguan reflek neurologik
pola pernapasan, ukuran dan
reaksi pupil, pergerakan otot
d. Kaji adanya nyeri kepala, mual,
muntah, papila edema, diplopia,
kejang
e. Ukur, cegah, dan turunkan TIK
1. Pertahankan posisi dengan
meninggikan bagian kepala
15-300, hindari posisi
telungkup atau fleksi tungkai
secara berlebihan
2. Monitor analisa gas darah,
pertahankan PaCO2 35-45
mmHg, PaO2 >80mmHg
3. Kolaborasi dalam pemberian
oksigen
4. Hindari faktor yang dapat
meningkatkan TIK
9) Istirahatkan pasien, hindari tindakan
keperawatan yang dapat
mengganggu tidur pasien
10) Berikan sedative atau analgetik
dengan kolaboratif.
4. Resiko cedera berhubungan dengan vertigo sekunder terhadap hipotensi
ortostatik.

NOC NIC
Tujuan : setelah dilakukan tindakan Fall Prevention (6490)
keperawatan selama 1x24 jam 1) Identifikasi tingkah laku dan faktor
diagnosa tidak menjadi masalah actual yang berpengaruh pada risiko jatuh
dengan kriteria hasil : 2) Memberikan tanda untuk
a. Pasien dapat mengingatkan klien untuk meminta
mengidentifikasikan kondisi- tolong ketika pergi dari tempat tidur,
kondisi yang menyebabkan yang tepat
vertigo 3) Menggunakan teknik yang sesuai
b. Pasien dapat menjelaskan untuk mengantar klien ked an dari
metode pencegahan penurunan kursi roda, tempat tidur, toilet dan
aliran darah di otak tiba-tiba lainnya
yang berhubungan dengan 4) Kaji tekanan darah pasien saat
ortostatik. pasien mengadakan perubahan
c. Pasien dapat melaksanakan posisi tubuh.
gerakan mengubah posisi dan 5) Diskusikan dengan klien tentang
mencegah drop tekanan di otak fisiologi hipotensi ortostatik.
yang tiba-tiba. 6) Ajarkan teknik-teknik untuk
d. Menjelaskan beberapa episode mengurangi hipotensi ortostatik
vertigo atau pusing. a. Untuk mengetahui pasien
Domain-Health Knowledge & mengakami hipotensi ortostatik
Behaviour (IV) ataukah tidak.
Class-Risk Control & Safety (T) b. Untuk menambah pengetahuan
Falls Occurrence (1912) klien tentang hipotensi
Tidak terjadi jatuh ketika posisi ortostatik.
berdiri, berjalan, duduk dan ketika c. Melatih kemampuan klien dan
tidur memberikan rasa nyaman ketika
Domain-Health Knowledge & mengalami hipotensi ortostatik.
Behaviour (IV)
Class-Risk Control & Safety (T)
Physical Injury Severity (1913)
Cedera bedah kepala tidak ada
Gangguan mobilitas tidak ada
Penurunan tingkat kesadaran tidak
terjadi
Perdarahan tidak terjadi
5. Gangguan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan efek
kemoterapi dan radioterapi.

NOC NIC
Tujuan : setelah dilakukan tindakan Nutrition Monitoring (1160)
keperawatan selama 1x24 jam 1) Kaji tanda dan gejala kekurangan
kebutuhan nutrisi klien dapat nutrisi: penurunan berat badan,
terpenuhi dengan adekuat dengan tanda-tanda anemia, tanda vital
kriteria hasil: 2) Monitor intake nutrisi pasien
a. Antropometri: berat badan tidak 3) Berikan makanan dalam porsi kecil
turun (stabil) tapi sering.
b. Biokimia: albumin normal 4) Timbang berat badan 3 hari sekali
dewasa (3,5-5,0) g/dl 5) Monitor hasil laboratorium: Hb,
c. Hb normal (laki-laki 13,5-18 albumin
g/dl, perempuan 12-16 g/dl) 6) Kolaborasi dalam pemberian obat
1) Clinis: tidak tampak kurus, antiemetic
terdapat lipatan lemak,
rambut tidak jarang dan
merah
2) Diet: klien menghabiskan
porsi makannya dan nafsu
makan bertambah
Nutritional Status (1004)
Intake nutrisi adekuat
Intake makanan adekuat
Intake cairan adekuat
Hidrasi
6. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan sensorik dan motorik

NOC NIC
TuTujuan : setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 1x24 jam, gangguan 1) Kaji fungsi motorik secara berkala
mobilitas dapat diminimalkan dengan 2) Menjaga pergelangan kaki 90
kriteria Hasil : derajat dengan papan kaki.
1. Mempertahankan posisi fungsi yang Gunakan trochanter rolls sepanjang
dibuktikan dengan tidak adanya paha saat di ranjang
kontraktur. Foodtrop 3) Ukur dan pantau tekanan darah
2. Meningkatkan kekuatan tidak pada fase akut atau hingga stabil.
terpengaruh/ kompenssi bagian Ubah posisi secara perlahan
tubuh 4) Inspeksi kulit setiap hari. Kaji
3. Menunjukan teknik eprilaku yang terhadap area yang tertekan dan
meingkinkan dimulainya kembali memberikan perawatan kulit secara
kegiatan teliti
Mobility (0208) 5) Membantu mendorong pulmonary
Keseimbangan terjaga hygiene seperti napas dalam,
Koordinasi terjaga batuk, suction
Bergerak dengan mudah 6) Kaji dari kemerahan,
bengkak/ketegangan otot jaringan
betis
7. Gangguan rasa nyaman (00214) berhubungan dengan nyeri akibat tidak mampu
menggerakan leher.

NOC NIC
Tujuan : setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 1x24 jam 1) Kaji rentang gerak leher klien
memberikan kenyamanan gerak leher 2) Memberi helth education  kepada
pada klien dengan kriteria Hasil : pasien mengenai  penurunan fungsi
a. Klien dapat menggerakan leher gerak leher
secara normal 3) Kolaburasi dengan fisioterapi
b. Klien dapat beraktifitas secara 4) Mengetahui kemampuan gerak leher
normal klien
5) Membantu pasien untuk dapat
menerima kondisi yang dialami
6) Terapi dapat membantu
mengembalikan gerak leher klien
secara normal
BAB 4
PENUTUP
1.1 Kesimpulan

Tumor Otak adalah tumbuhnya sel abnormal pada otak.Tumor otak adalah suatu lesi
ekspansif yang bersifat jinak (benigna) ataupun ganas (maligna) membentuk massa dalam ruang
tengkorak kepala (intra cranial) atau di sumsum tulang belakang (medulla spinalis).
Tidak ada faktor etiologi jelas yang telah ditemukan untuk tumor otak primer. Walaupun tipe
sel yang berkembang menjadi tumor sering kali dapat diidentifikasi, mekanisme yang
menyebabkan sel bertindak abnormal tetap belum diketahui.Penyebab tumor otak terjadi karena
herediter, sisa sel embrional, radiasi, virus, dan substansi karsinogen.Faktor –faktor prognostik
sebagai pertimbangan penatalaksanaan meliputi usia, general health, ukuran, lokasi dan jenis
tumor. Tumor otak dapat ditatalaksana dengan terapi konsevatif dan terapi operatif. Langkah
pertama pada pengobatan tumor otak ialah pemberian kortikostreoid yang bertujuan untuk
memberantas edema otak.Selain itu terapi suportif yang dapat dilakukan yaitu IVFD RL XX
tetes/menit (makro), ceftriaxon vial 1 gram/12 jam, ranitidine ampul 1 gram/12 jam,
dexamethason 1 ampul/6 jam.Untuk tumor otak metode utama yang digunakan dalam
penatalaksaannya, yaitu pembedahan dan terapi medikamentosa.Ada beberapa pemeriksaan
diagnostik yang digunakan dalam mengindikasi penyakit tumor otak, diantaranya CT-Scan,
MRI, foto polos dada, pemeriksaan cairan serebrospinal, biopsy stereostatik, angiografi serebral
dan EEG.
DAFTAR PUSTAKA

Bruner & Suddarth. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah. Jakarta : EGC
Tarwoto, Watonah, dan Eros Siti Suryati. 2007. Keperawatan Medikal Bedah Gangguan Sistem
Persarafan. Jakarta: CV Sagung Seto
Batticaca, Fransisca B. 2008. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem
Persarafan. Jakarta: Penerbit Salemba Medika
Yueniwati, Yuyun. 2017. Pencitraan Pada Tumor Otak: Modalitas dan Intepretasinya. Malang:
UB Media
http://digilib.unila.ac.id/2359/9/BAB%20II.pdf

Anda mungkin juga menyukai