Anda di halaman 1dari 16

BUKU JAWABAN UJIAN (BJU)

UAS TAKE HOME EXAM (THE)


SEMESTER 2020/21.1 (2020.2)

Nama Mahasiswa : Shinta Wulandari Lay

Nomor Induk Mahasiswa/NIM : 031483547

Tanggal Lahir : 26 September 1987

Kode/Nama Mata Kuliah : ADPU4230

Kode/Nama Program Studi : 50/Ilmu Administrasi Negara

Kode/Nama UPBJJ : 79/KUPANG

Hari/Tanggal UAS THE : Selasa, 08 Desember 2020

Tanda Tangan Peserta Ujian

Petunjuk

1. Anda wajib mengisi secara lengkap dan benar identitas pada cover BJU pada halaman ini.
2. Anda wajib mengisi dan menandatangani surat pernyataan kejujuran akademik.
3. Jawaban bisa dikerjakan dengan diketik atau tulis tangan.
4. Jawaban diunggah disertai dengan cover BJU dan surat pernyataan kejujuran akademik.

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS TERBUKA
Surat Pernyataan
Mahasiswa
Kejujuran Akademik

Yang bertanda tangan di


bawah ini ;

Nama Mahasiswa : Shinta Wulandari Lay

NIM : 031483547

Kode/Nama Mata Kuliah : ADPU4230

Fakultas : FHISIP

Program Studi : Ilmu Administrasi Negara

UPBJJ-UT : Kupang

1. Saya tidak menerima naskah UAS THE dari siapapun selain mengunduh dari aplikasi THE pada
laman https://the.ut.ac.id.
2. Saya tidak memberikan naskah UAS THE kepada siapapun.
3. Saya tidak menerima dan atau memberikan bantuan dalam bentuk apapun dalam pengerjaan soal
ujian UAS THE.
4. Saya tidak melakukan plagiasi atas pekerjaan orang lain (menyalin dan mengakuinya sebagai
pekerjaan saya).
5. Saya memahami bahwa segala tindakan kecurangan akan mendapatkan hukuman sesuai dengan
aturan akademik yang berlaku di Universitas Terbuka.
6. Saya bersedia menjunjung tinggi ketertiban, kedisiplinan, dan integritas akademik dengan
tidak melakukan kecurangan, joki, menyebarluaskan soal dan jawaban UAS THE melalui media
apapun, serta tindakan tidak terpuji lainnya yang bertentangan dengan peraturan akademik
Universitas Terbuka.

Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya. Apabila di kemudian hari terdapat
pelanggaran atas pernyataan di atas, saya bersedia bertanggung jawab dan menanggung sanksi akademik
yang ditetapkan oleh Universitas Terbuka.

Kupang, 08 Desember 2020

Yang Membuat Pernyataan

Shinta Wulandari Lay


1. Hirarki atau tata urutan peraturan perundang-undangan di Indonesia merujuk

Pada Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pemben-

tukan Peraturan Perundang-Undangan dan perubahannya yang terdiri atas :

a. Undang-Undang Dasar Negara republic Indonesia Tahun 1945

b. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR)

c. Peraturan Pemerintah

d. Peraturan Presiden

e. Peraturan Daerah Provinsi

f. Perautan Daerah Kabipaten/Kota


Kekuatan hukum peraturan perundanng-undangan diatas sesuai dengan

Hirarki tersebut dan peraturan perundang-undangan yang lebih rendah tidak

Boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi

Berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 dapat diterjemahkan pola


hubungan

a. antara pemerintah pusat dan daerah sebagai berikut:


a) Desentralisasi adalah penyerahan sebagian kewenangan eksekutif dari Pemerintah Pusat
kepada Daerah, dimana dalam pasal 9 (sudah disebutkan) di halaman sebelumnya) bahwa
Urusan pemerintahan Konkuren inilah yang menjadi dasar Otonomi Daerah.

b) Pembagian urusan pemerintahan konkuren tersebut berdasarkan Pasal 13 didasarkan


pada prinsip akuntabilitas, efisiensi, dan eksternalitas, serta kepentingan strategis
nasional. Prinsip akuntabilitas dimaksudkan bahwa Penanggungjawabnya berdasarkan
kedekatannya dengan luas, besaran, dan jangkauan dampak yang ditimbulkan oleh
penyelenggaraan suatu Urusan Pemerintahan. Adapun yang dimaksud dengan prinsip
efisiensi adalah Perbandingan tingkat daya guna yang paling tinggi yang dapat diperoleh.
Sedangkan Prinsip eksternalitas merupakan Luas, besaran, dan jangkauan dampak yang
timbul akibat penyelenggaraan suatu Urusan Pemerintahan. Dan Prinsip kepentingan
strategis nasional bahwa dalam rangka menjaga keutuhan dan kesatuan bangsa,
kedaulatan Negara, implementasi hubungan luar negeri, pencapaian program strategis
nasional dan pertimbangan lain.

C) Berdasarkan pasal 13 ayat (2) kriteria Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan
Pemerintah Pusat adalah:

Urusan Pemerintahan yang lokasinya lintas Daerah provinsi atau lintas negara

Urusan Pemerintahan yang penggunanya lintas Daerah provinsi atau lintas negara
Urusan Pemerintahan yang manfaat atau dampak negatifnya lintas Daerah provinsi
atau lintas =egara

Urusan Pemerintahan yang penggunaan sumber dayanya lebih efisien apabila


dilakukan oleh Pemerintah Pusat

Urusan Pemerintahan yang peranannya strategis bagi kepentingan nasional

d) Sedangkan yang menjadi kewenangan pemerintah daerah provinsi disebutkan dalam Pasal
13 ayat (3) meliputi

Urusan Pemerintahan yang lokasinya lintas Daerah kabupaten/kota

Urusan Pemerintahan yang manfaat atau dampak negatifnya lintas Daerah


kabupaten/kota; dan/atau

Urusan Pemerintahan yang penggunaan sumber dayanya lebih efisien apabila


dilakukan oleh Daerah Provinsi

e) Selanjutnya dalam Pasal 13 ayat (4) kriteria Urusan Pemerintahan yang menjadi
kewenangan Daerah kabupaten/kota adalah:

Urusan Pemerintahan yang lokasinya dalam Daerah kabupaten/kota

Urusan Pemerintahan yang penggunanya dalam Daerah kabupaten/kota

Urusan Pemerintahan yang manfaat atau dampak negatifnya hanya dalam Daerah
kabupaten/kota; dan/ atau

Urusan Pemerintahan yang penggunaan sumber dayanya lebih efisien apabila dilakukan
oleh Daerah kabupaten/kota.

f) Pembagian urusan kewenangan tersebut dikontrol oleh pemerintah pusat dengan


menerapkan norma, standar, prosedur, dan kriteria (NPSK) dalam rangka penyelenggaraan
Urusan Pemerintahan; dan melaksanakan pembinaan dan pengawasan terhadap
penyelenggaraan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah. Hal ini
tercantum dalam Pasal 16. Norma, standar, prosedur, dan kriteria tersebut berupa
ketentuan peraturan perundang-undangan yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat
sebagai pedoman dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan konkuren yang menjadi
kewenangan Pemerintah Pusat dan yang menjadi kewenangan Daerah. Penetapan norma,
standar, prosedur, dan kriteria dilakukan paling lama 2 (dua) tahun terhitung sejak
peraturan pemerintah mengenai pelaksanaan urusan pemerintahan konkruen
diundangkan. Apabila dalam jangka waktu 2 (dua) tahun Pemerintah Pusat belum
menetapkan norma, standar, prosedur, dan kriteria, penyelenggara Pemerintahan Daerah
melaksanakan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah.

g) Pada pasal 18 ditentukan adanya skala prioritas pelaksanaan urusan, bahwa Pemerintahan
Daerah memprioritaskan pelaksanaan Urusan Pemerintahan Wajib yang berkaitan
dengan Pelayanan Dasar. Juga ditekankan bahwa Pelaksanaan Pelayanan Dasar pada
Urusan Pemerintahan Wajib yang berkaitan dengan Pelayanan Dasar berpedoman pada
standar pelayanan minimal (SPM) yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat. Dengan kata
lain, Pemerintah provinsi dan Pemerintah kabupaten/Kota wajib memprioritaskan 6
(enam) urusan Pelayanan Dasar yang disebut pada Pasal 12, yaitu: pendidikan; kesehatan;
pekerjaan umum dan penataan ruang; perumahan rakyat dan kawasan permukiman;
ketenteraman, ketertiban umum, dan perlindungan masyarakat; dan sosial. Artinya
keenam program pelayanan dasar ini mendapatkan prioritas pembiayaan, sumber daya
manusia, Sarana/prasarana, dan manajemennya sehingga bisa berjalan baik ditingkat
Provinsi dan Kabupaten/ Kota. Berkaitan dengan urusan wajib pemerintahan berkaitan
dengan pelayanan dasar (8 urusan) tidak perlu diatur lagi di Daerah karena sudah memiliki
SPM dan NSPKnya, sehingga Daerah sudah langsung dapat melaksanakannya

h) Sedangkan berkaitan dengan urusan wajib non pelayanan dasar (18 urusan) perlu
dilakukan pemetaan urusan masing-masing Daerah (Pasal 24), dimana bahwa intensitas
masing-masing urusan tersebut pasti berbeda, hal ini dilakukan untuk menentukan
tipologi SKPD. Semakin tinggi tipologi urusannya, maka alokasi APBN akan semakin besar,
tidak selama ini yang dibuat sama rata di semua daerah. Pemetaan dilakukan dengan
variable umum, terdiri dari jumlah penduduk, besaran APBD, dan luas wilayah, sedangkan
untuk variable khususnya dapat disusun bersama-sama dengan kementerian/ lembaga
terkait.

i) Menurut DR. Kurniasih, SH, M.Si selaku Direktur Urusan Pemerintah Daerah Wilayah I
Ditjen Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri. Sesuai dengan UU Nomor 23 Tahun
2014, terjadi peralihan kewenangan urusan pemerintahan, hal ini perlu segera dilakukan
peralihan kewenangan tersebut, bukan dengan MoU (kesepakatan/ kerjasama) karena
Pemerintah Daerah merupakan sub ordinat dari Pemerintahan diatasnya (http://
wirapati.raddien.com/2015/03/sosialisasi-implementasiuu-232014-bagi.html diakses pada
5 mei 2015). Perlu adanya penegasan terhadap kekuasaan pemerintahan, bahwa sesuai
dengan Pasal 5 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014, Presiden RI memegang kekuasaan
pemerintahan sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945 dimana kekuasaan
pemerintahan tersebut diurai ke dalam berbagai urusan pemerintahan, dimana berbagai
urusan pemerintahan tersebut dilaksanakan di Daerah berdasarkan asas Desentralisasi,
Dekonsentrasi, dan Tugas Pembantuan. Selanjutnya beliau menjelaskan bahwa untuk
pemetaan urusan pilihan berdasarkan potensi, proyeksi penyerapan tenaga kerja, dan
pemanfaatan lahan, dimana tujuan dari pemetaan ini adalah menentukan Daerah apakah
mempunyai atau melaksanakan urusan pemerintahan pilihan dimana Pemetaan urusan
pemerintahan ini secara umum bertujuan untuk menyusun SOTK Pemerintah Daerah
dimana nomenklatur perangkat daerah harus memperhatikan pedoman dari
kementerian/lembaga pemerintah non kementerian terkait. Hal ini diatur dalam Pasal
211.

j) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 ini pun berpedoman dengan Undang-Undang


Nomor 5 tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara, dimana tujuan umumnya antara lain:
(a) Untuk menjaga profesionalisme dan menjauhkan birokrasi dari intervensi politik maka
perlu diatur Standar Kompetensi Jabatan dalam birokrasi pemerintah daerah dan (b)
Selain memenuhi kompetensi teknis, kompetensi manajerial dan kompetensi social
cultural menjadi pertimbangannya.

k) Berkaitan dengan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 120/253/SJ tanggal 16
Januari 2015 perlu ditekankan kembali bahwa: (a) Dengan berlakunya Undang-Undang 23
Tahun 2014 otomatis urusan pemerintahan harus beralih, sedangkan yang diberikan
tenggang waktu diselesaikan 2 tahun ke depan adalah yang berkaitan dengan Personel,
pendanaan, Sarana dan prasarana serta dokumen (P3D). Hal ini sesuai dengan Pasal 404
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 dan (b) Perubahan SOTK dilakukan setelah adanya
pemetaan urusan pemerintahan, Provinsi perlu melakukan pemetaan urusan
Kabupaten/Kota didampingi oleh Kementerian/ Lembaga Pemerintah Non kementerian.
Yang perlu diperhatikan adalah akibat adanya peralihan kewenangan, seperti
personil/pegawai, aset dan pendanaannya.

Adanya pembagian urusan antara pemerintah pusat dan daerah tersebut mencerminkan
bahwa Indonesia masih menjalankan adanya bentuk negara kesatuan. Daerah diberi
kewenangan namun sudah diperinci dalam undangundangnya, hal ini memberikan penafsiran
bahwa pemberian kewenangan tersebut masih di bawah kontrol dan kendali dari pemerintah
pusat. Apabila dikaitkan dengan teori Clarke dan Steward, model hubungan antara
pemerintah pusat dan daerah bisa dikategorikan menganut The Agency Model. Model
dimana pemerintah daerah tidak mempunyai kekuasaan yang cukup berarti sehingga
keberadaannya terlihat lebih sebagai agen pemerintah pusat yang bertugas untuk
menjalankan kebijaksanaan pemerintah pusatnya. Karenanya pada model ini berbagai
petunjuk rinci dalam peraturan perundangan sebagai mekanisme kontrol sangat menonjol.
Hal ini sangat wajar mengingat proses pemberian kewenangan dari pemerintah pusat ke
daerah dilatarbelakangi oleh beberapa faktor dan sistem politik yang terjadi di Indonesia.
Pemerintah pusat tidak menginginkan adanya kebebasan pemerintah daerah dalam
menjalankan kewenangan yang diberikan dalam undang-undang, namun masih ada
pengawasan dan kontrol yang harus dilakukan pemerintah pusat.

2. Mekanisme Perencanaan Anggaran terdiri dari :

a. Tahap Perencanaan dan Penganggaran APBN


b. Penetapan dan Persetujuan APBN
c. Pelaksanaan APBN
d. Pelaporan dan Pencatatan APBN
e. Pemeriksaan dan Pertanggungjawaban APBN

Sistem Penganggaran di Indonesia

a. Anggaran Terpadu : Penyusunan rencana keuangan tahunan yang dilakukan secara


terintergrasi untuk seluruh jenis belanja guna melaksanakan kegiatan pemerintah yang
didasarkan pada prinsip pencapaian efisiensi alokasi dana.

b. Anggaran Berbasis Kenierja : Penganggaran berbasis kinerja mengutamakan upaya


pencapaian output (keluaran) dan outocome (hasil) atas alokasi belanja (input) yang
ditetapkan dengan tujuan untuk memperoleh manfaat sebesar-besarnya dari
penggunaan sumber daya yang terbatas.

c. Kerangka Pengeluaran Jangka Menengah : Pendekatan penganggaran berdasarkan


kebijakan dengan pengambilan keputusan yang menimbulkan implikasi anggaran
dalam jangka waktu lebih dari 1 tahun anggaran.

Sistem penganggaran yang diterapkan di Indonesia menurut yang diamanatkan oleh


Undang-Undang No.17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara adalah penganggaran
berbasis kinerja.  Sistem penganggaran berbasis kinerja berfokus pada hasil yang dicapai
dari penggunaan sumber daya. Dulu dalam pengalokasian anggarannya, Indonesia
menggunakan sistem tradisional dimana berfokus pada bagaimana merinci program dalam
kegiatan dan biayanya sehingga terbentuk alokasi anggaran yang menyeluruh atas
program, tetapi telah berubah menjadi penganggaran berdasarkan kinerja.

Anggaran dikategorikan sebagai suatu hal yang krusial. Perencanaan anggaran tidak
hanya sistematis, tetapi juga harus teliti mengingat anggaran memfasilitasi keseluruhan
program dan aktivitas organisasi. Idealnya, dalam menyusun suatu perencanaan
anggaran, harus memperhatikan beberapa kriteria seperti

f. Angggaran sebagai suatu terjemahan dari rencana strategis organisasi, termasuk


rencana anggaran tahunan dan rencana anggaran jangka panjang yang sesuai dengan
tujuan pendirian dan misi organisasi.
g. Anggaran disusun secara partisipatif, artinya seluruh komponen dianggap penting
dalam memberikan kontribusi dalam berjalannya suatu organisasi nirlaba, termasuk
penyusunan anggaran. Sehingga informasi terkait anggaran menjadi dokumentasi
bersama. Misalnya dalam proses penerimaan dan pengeluaran anggaran.
h. Anggaran dimonitor dan evaluasi secara periodik, karena bisa saja anggaran perlu
direvisi sesudahnya dengan tujuan dapat menjadi panduan pelaksanaan kegiatan
dengan lebih baik dalam artian anggaran mencerminkan lebih mendekati kondisi nyata.

Pengawasan Anggaran
Pengawasan anggaran adalah kegiatan melihat, memperhatikan, memonitor,
memeriksa, menilai, dan melaporkan penggunaan anggaran yang dialokasikan untuk
membiayai pelaksanaan dari rencana yang sudah direncanakan sebelumnya. Hal ini
dilakukan agar anggaran tersebut digunakan sebagaimana mestinya dan dapat
dilaksanakan secara efektif dan efisien.

Tujuan Pengawasan Anggaran

a. Menjamin ketetapan pelaksanaan tugas sesuai dengan rencana yang sudah dibuat
sesuai kebijakan.
b. Melaksanakan koordinasi kegiatan-kegiatan
c. Mencegah pemborosan dan penyelewengan
d. Menjamin terwujudnya kepuasan masyarakat atas barang dan jasa yang dihasilkan
e. Membina kepercayaan masyarakat terhadap kepemimpinan organisasi.
Prosedur Pengawasan Anggaran

Dalam melakukan pengawasan anggaran juga memiliki prosedur baku yang harus
ditaati. Prosedur pengawasan ditentukan agar pengawasan anggaran tetap mempunyai
batasan kerja yang tidak melanggar privasi lainnya. Ada tiga prosedur pengawasan yaitu :

a. Memantau (monitoring)
b. Menilai
c. Melaporkan hasil temuan kegiatan terhadap kinerja aktual berdasarkan proses dan
hasilnya.
Kegiatan pengawasan anggaran dilakukan dengan mengunakan ukuran atau indikator
berdasarkan kriteria yang telah digariskan dalam perencanaan. Pemeriksaan anggaran
pada dasarnya merupakan aktivitas menilai, baik catatan (record) dan menentukan
prosedur-prosedur dalam mengimplementasikan anggaran, apakah sesuai dengan
peraturan, kebijakan, dan standar-standar yang berlaku. Dalam pemeriksanaan dilakukan
oleh pihak luar lembaga (external audit), seperti BPK (badan pemeriksa keuangan)
atau akuntan publik yang mempunyai sertifikasi, dan pimpinan langsung (internal audit)
terhadap penerimaan dan pengeluaran biaya.

3. Di era globalisasi, paradigma penyelenggaraan pemerintah telah terjadi pergeseran dari


paradigma rule goverment menjadi good governance pemerintah dalam penyelenggaraan
pemerintahan, pembangunan dan pelayanan publik. Adanya pergeseran paradigma
instansi pemerintah yang mendasar di berbagai bidang kehidupan manusia menjadi
tantangan bagi administrasi publik, sejalan dengan meningkatnya kebutuhan terhadap
pelayanan masyarakat yang efesien dan responsif. Dimana pemerintah menjadi tumpuan
masyarakat terhadap urusan administratif yang bersifat kewajiban sebagai sipil. Sehingga
pelayanan terhadapa masyarakat diharapkan dapat memainkan peranan penting dalam
upaya peningkatan daya saing dan pembangunan nasional, bukan sebagai sumber infesien
dan hal – hal yang bersifat maladministrasi.

Peran pemerintah dalam sektor publik lebih dominan daripada sektor swasta. Oleh
karena itu itu fungsi-fungsi yang dijalankan oleh pemerintah itu sebagai besar diantaranya
secara langsung atau tidak menyangkut pelayanan publik, maka dengan sendirinya
distribusi atas paket-paket pelayanan yang disediakan pemerintah itu pada umumnya
akan dilakukan melaui struktur dan mesin birokrasi pemerintah. Untuk itu pemerintah kini
sudah berbenah untuk memberikan pelayanan terbaik kepada publik yang dimana hal ini
sudah Undang-Undang yang mengatur pelayanan publik. Aturan ini tertuang di
dalam “Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009” tentang Pelayanan Publik. Dalam Bab II
Pasal 3b disebutkan tujuan peraturan perundang-undangan ini adalah terwujudnya sistem
penyelenggaraan pelayanan publik yang sesuai dengan asas-asas umum pemerintahan dan
korporasi yang baik. Dengan demikian jelas bahwa pemerintahan harus memberikan
pelayanan terbaik kepada public baik secara ekternal maupun internal.

Pelayanan =ublic dalam pemerintahan yang baik harus memenuhi kualitas yang harus
dipenuhi. Pelayanan =ublic yang ada harus berfungsi untuk mengurangi (bahkan
menghilangkan) kesenjangan peran antara organisasi pusat dengan organisasi-organisasi
pelaksana yang ada dilapangan. Jumlah staf/aparat yang ada sesuai, tidak kurang dan
tidak pada level menengan dan level atas agar pelayanan =ublic dapat tepat sasaran .
pelayanan yang diberikan juga harus mendekatkan birokrasi dengan masyarakat
pelanggan.

Begitu pentingnya profesionalisasi pelayanan =ublic ini bagi setiap lini organisasi
pemerintahan di Indonesia, pemerintah melalui Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur
Negara telah mengeluarkan suatu kebijaksanaan Nomor.81 Tahun 1993 tentang Pedoman
Tatalaksana Pelayanan Umum yang perlu dipedomani oleh setiap birokrasi =ublic dalam
memberikan pelayanan kepada masyarakat berdasar prinsip-prinsip pelayanan sebagai
berikut :

 Kesederhanaan, dalam arti bahwa prosedur dan tata cara pelayanan perlu ditetapkan
dan dilaksanakan secara mudah, lancar, cepat, tepat, tidak berbelit-belit, mudah
dipahami dan mudah dilaksanakan oleh masyarakat yang meminta pelayanan.
 Kejelasan dan kepastian, dalam arti adanya kejelasan dan kepastian dalam hal prosedur
dan tata cara pelayanan, persyaratan pelayanan baik teknis maupun administratif, unit
kerja pejabat yang berwenang dan bertanggung jawab dalam meberikan pelayanan,
rincian biaya atau tarif pelayanan dan tata cara pembayaran, dan jangka waktu
penyelesaian pelayanan
 Keamanan, dalam arti adanya proses dan produk hasil pelayanan yang dapat
memberikan keamanan, kenyamanan dan kepastian hukum bagi masyarakat.
 Keterbukaan, dalam arti bahwa prosedur dan tata cara pelayanan, persyaratan, unit
kerja pejabat penanggung jawab pemberi pelayanan, waktu penyelesaian, rincian
biaya atau tarif serta hal-hal lain yang berkaitan dengan proses pelayanan wajib
diinformasikan secara terbuka agar mudah diketahui dan dipahami oleh masyarakat,
baik diminta maupun tidak diminta.
 Efesiensi, dalam arti bahwa persyaratan pelayanan hanya dibatasi pada hal- hal yang
berkaitan langsung dengan pencapaian sasaran pelayanan dengan tetap
memperhatikan keterpaduan antara persyaratan dengan produk pelayanan.
 Ekonomis, dalam arti bahwa pengenaan biaya atau tarif pelayanan harus ditetapkan
secara wajar dengan memperhatikan: nilai barang dan jasa pelayanan, kemampuan
masyarakat untuk membayar, dan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
 Keadilan dan Pemerataan, yang dimaksudkan agar jangkauan pelayanan diusahakan
seluas mungkin dengan distribusi yang merata dan adil bagi seluruh lapisan
masyarakat.
 Ketepatan Waktu, dalam arti bahwa pelaksanaan pelayanan harus dapat diselesaikan
tepat pada waktu yang telah ditentukan.

4. Dampak positif diterapkannnya sistem e-government di Indonesia adalah masyarakat


dapat menerima laporan kinerja pemerintah secara aktual dan transparan, rakyat juga
bisa dengan leluasa mengakses informasi seputar kinerja pemerintah. Selain itu
sistem e-government juga dapat menekan anggaran biaya. Dengan teknologi online,
pekerjaan juga tentunya akan lebih efesien, secara biaya dan waktu.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Kota Bandung dan, Pandeglang juga mulai
menerapkan sistem e-government lewat konsep smart city. Konsep smart city terfokus
pada pemanfaatan teknologi komunikasi untuk mendukung kinerja pemerintah seperti
memasangkan sensor dan peralatan rumah sakit, jaringan listrik, perkeretaapian, jembatan
dan memonitor kejadian di dalam kota seperti kondisi jalan dan apabila ada bencana
banjir.
Dengan diterapkannya sistem e-governmernt yang sangat mudah diakses dan
transparan dapat mengarahkan keadaan good and open government di Indonesia.
Pemerintah sendiri sudah memiliki strategi dalam menerapkan sistem e-government,
yaitu;

a. Mengembangkan sistem pelayanan yang handal dan dapat terjangkau masyarakat


luas
dengan cara pemerataan jaringan komunikasi yang merata di seluruh wilayah
Indonesia.

b. Menata sistem dan proses kerja pemerintah dan pemerintah otonom secara holistik
dengan cara menyiapkan SDM yang terbiasa dengan teknologi.

c. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi secara optimal dengan cara


memberikan informasi secara lengkap.

d. Meningkatkan peran serta dunia usaha dan mengembangkan industri telekomunikasi


dan teknologi informasi.

e. Melaksanakan pengembangan secara sistematik melalui tahapan yang realistik dan


terukur yaitu melalui tahapan persiapan, pematangan, pemantapan, dan
pemanfaatan.

Cita-cita good and open government di Indonesia hanya bisa terwujud apabila semua
lapisan ikut bekerja. Tak hanya pemerintah yang memfasilitasinya lewat  e-government dan
smart city, namun kita sebagai masyarakat juga harus ikut berpartisipasi bekerja dan
berperan aktif mendukung cita-cita ini. Tak hanya itu para pelaku industri, dan lembaga
pemerintah non-kementerian yang bergerak di bidang riset juga diharapkan dapat bekerja
sama untuk mewujudkan cita-cita ini.

Anda mungkin juga menyukai