Anda di halaman 1dari 20

2010

FAKULTAS TEKNOLOGI INFORMASI

SISTEM INFORMASI
UNIVERSITAS KANJURUHAN MALANG

MASYARAKAT MADANI

ANGGOTA KELOMPOK :
1. 6.
2. 7.
3. 8. ZAENAL FANANI (100403020105)
4. 9.
5. 10.
i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas Rahmat dan
Karunia-Nya sehingga Makalah ini dapat diselesaikan dalam waktu yang singkat.

Makalah ini berjudul “Masyarakat Madani”, merupakan tugas dari Mata Kuliah
Pendidikan Kewarganegaraan membahas secara detail yang berhubungan dengan
Masyarakat Madani, sejarah perkembangan, karakteristik, dan hubungannya dengan
demokrasi di Indonesia.

Kami sangat mengharapkan agar makalah ini bersifat pembelajaran, bahan


diskusi agar kita mengerti bagaimana mengimplementasikan gagasan masyarakat
madani dalam kehidupan sehari-hari. Dan dimasa yang akan datang mendapat
pengertian mengenai masyarakat madani

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................………………………….i

DAFTAR ISI......................................................................................................……..ii

I. PENDAHULUAN...........................................................................................1
II. PEMBAHASAN..............................................................................................3
A. Pemikiran Masyarakat Madani................................................................4
B. Arkeologi Konsep...................................................................................4
C. Ciri-Ciri masyarakat madani...................................................................6
D. Program Rekonstruksi Masyarakat Madani ...........................................9
E. Strategi Pemberdayaan Masyarakat Madani ........................................11
III. KESIMPULAN .............................................................................................16
DAFTAR RUJUKAN.........................................................................................……..iii
I. PENDAHULUAN

Semua orang mendambakan kehidupan yang aman, damai dan


sejahtera sebagaimana yang dicita-citakan masyarakat Indonesia, yaitu adil dan
makmur bagi seluruh lapisan masyarakat. Untuk mencapainya berbagai sistem
kenegaraan muncul, seperti demokrasi. Cita-cita suatu masyarakat tidak mungkin
dicapai tanpa mengoptimalkan kualitas sumber daya manusia. Hal ini terlaksana
apabila semua bidang pembangunan bergerak secara terpadu yang menjadikan
manusia sebagai subjek. Pengembangan masyarakat sebagai sebuah kajian
keilmuan dapat menyentuh keberadaan manusia yang berperadaban.

Pengembangan masyarakat merupakan sebuah proses yang dapat


merubah watak, sikap dan prilaku masyarakat ke arah pembangunan yang dicita-
citakan. Indikator dalam menentukan kemakmuran suatu bangsa sangat
tergantung pada situasi dan kondisi serta kebutuhan masyarakatnya. Akhir-akhir
ini masyarakat Indonesia mencuatkan suatu kemakmuran yang didambakan
yaitu terwujudnya masyarakat madani.

Munculnya istilah masyarakat madani pada era reformasi ini, tidak


terlepas dari kondisi politik negara yang berlangsung selama ini. Sejak Indonesia
merdeka, masyarakat belum merasakan makna kemerdekaan yang
sesungguhnya. Pemerintah atau penguasa belum banyak member kesempatan
bagi semua lapisan masyarakat mengembangkan potensinya secara maksimal.
Bangsa Indonesia belum terlambat mewujudkan masyarakat madani, asalkan
semua potensi sumber daya manusia mendapat kesempatan berkembang dan
dikembangkan.

Mewujudkan masyarakat madani banyak tantangan yang harus dilalui.


Untuk itu perlu adanya strategi peningkatan peran dan fungsi masyarakat dalam
mengangkat martabat manusia menuju masyarakat madani itu sendiri.
Demokrasi merupakan gagasan yang universal atau mendunia, artinya hampir
semua negara di dunia menamakan dirinya sebagai negara demokrasi bahkan di
era globalisasi ini, salah satu isu yang berkembang secara internasional adalah
konsep demokrasi global.

1
Namun demikian, dalam pelaksanaannnya tidak semua negara
melaksanakan prinsip-prinsip demokrasi dengan gaya dan model yang sama. Hal
ini disebabkan karena berbagai faktor, diantaranya adalah faktor gaya
kepemimpinan/pemerintahan, kondisi sosial budaya, kemajuan ekonomi, latar
belakang sejarah, dan sebagainya. upaya suatu negara untuk mewujudkan
pemerintahan yang demokratis.

2
II. PEMBAHASAN

A. Pemikiran Masyarakat Madani

Berbagai pemikiran yang dilontarkan akhir-akhir ini di seputar civil society,


-- yang di Indonesia telah diterjemahkan menjadi "masyarakat sipil" atau
"masyarakat madani" itu --, sebenarnya merupakan imbas dari perkembangan
pemikiran yang terjadi di dunia Barat, khususnya di negara-negara industri maju
di Eropa Barat dan Amerika Serikat, dalam perhatian mereka terhadap
perkembangan ekonomi, politik dan sosial-budaya di bekas Uni Soviet dan Eropa
Timur. Namun di kawasan bekas Blok Sosialis yang sedang dilanda badai
liberalisasi dan demokratisasi itu, berbagai kalangan akademi juga mulai tertarik
untuk membicarakan konsep lama ini.

Di Indonesia, -- dalam kaitannya dengan konsep masyarakat sipil ini --,


kita lebih banyak berbicara mengenai demokratisasi politik atau liberalisasi
ekonomi, semacam glasnots dan perestroika seperti yang merebak di Rusia
pada dasawarsa '80-an. Konsep masyarakat sipil sendiri di Indonesia adalah
sebuah istilah asing atau baru, yang ditanggapi dengan penuh kecurigaan,
pengertian "sipil" itu dikesankan sebagai berkaitan dan tandingan dari "militer",
yang dalam masyarakat hadir dalam bentuk dwi-fungsi ABRI itu.

Masyarakat sipil yang berkembang dalam masyarakat Barat secara teoritis


bercorak egilitarian, toleran, dan terbuka—nilai-nilai yang juga dimiliki oleh
masyarakat Madinah hasil bentukan Rasulullah. Masyarakat sipil lahir dan
berkembang dalam asuhan liberalisme sehingga hasil masyarakat yang
dihasilkannya pun lebih menekankan peranan dan kebebasan individu,
persoalan keadilan sosial dan ekonomi masih tanda tanya. Sedangkan dalam
masyarakat madani, keadilan adalah satu pilar utamanya.

Dalam masyarakat Barat, civil society sebenarnya adalah konsep lama


yang dilupakan. Ia mulai bangkit atau diungkap lagi dalam kaitannya dengan
perkembangan masyarakat di Eropa Timur di bawah rezim sosialis. Para sarjana
di barat mula-mula melihat konsep itu dalam gejala pergerakan Serikat Buruh
Solidaritas yang bangkit melawan negara.

3
Dalam sistem sosialis, kehadiran dan peranan negara sangat kuat.
Dimana negara sangat kuat dan mendominasi kehidupan individu dan
masyarakat, maka sulit dibayangkan adanya apa yang disebut civil society.
Tetapi dalam realitas, serikat buruh ternyata cukup kuat dan berperan sebagai
masyarakat sipil berhadapan dengan negara. Gerakan kemasyarakatan (social
movement) adalah bagian yang esensial dan merupakan pertanda kehadiran
masyarakat sipil. Karena itu kita bisa menarik kesimpulan, dalam sistem
komunispun, sebuah masyarakat sipil bisa tumbuh, walaupun ia tumbuh sebagai
kekuatan reaksi atau anti-tesis terhadap dominasi negara.

Pemerintah yang totaliter itu agaknya memang tidak mampu menemu-


kenali tumbuhnya masyarakat sipil sebagaimana yang dapat dilihat di negara-
negara demokrasi-liberal. Serikat buruh, yang diharapkan mendukung
pemerintah itu, ternyata justru berkembang menjadi masyarakat sipil.

B. Arkeologi Konsep

Secara harfiah, civil society itu sendiri adalah terjemahan dari istilah Latin,
civilis societas, mula-mula dipakai oleh CICERO (106-43 S.M), -- seorang orator
dan pujangga Roma --, yang pengertiannya mengacu kepada gejala budaya
perorangan dan masyarakat. Masyarakat sipil disebutnya sebagai sebuah
masyarakat politik (political society) yang memiliki kode hukum sebagai dasar
pengaturan hidup. Adanya hukum yang mengatur pergaulan antar individu
menandai keberadaban suatu jenis masyarakat tersendiri. Masyarakat seperti itu,
di zaman dahulu adalah masyarakat yang tinggal di kota. Dalam kehidupan kota
penghuninya telah menundukkan hidupnya di bawah satu dan lain bentuk hukum
sipil (civil law) sebagai dasar dan yang mengatur kehidupan bersama. Bahkan
bisa pula dikatakan bahwa proses pembentukan masyarakat sipil itulah yang
sesungguhnya membentuk masyarakat kota.

Di zaman modern, istilah itu diambil dan dihidupkan lagi oleh John Locke
(1632-1704) dan Rousseau (1712-1778) untuk mengungkapkan pemikirannya
mengenai masyarakat dan politik. Locke umpamanya, mendefinisikan
masyarakat sipil sebagai "masyarakat politik" (political society). Pengertian
tentang gejala tersebut dihadapkan dengan pengertian tentang gejala "otoritas

4
paternal" (peternal authority) atau "keadalan alami" (state of nature) suatu
kelompok manusia.

Ciri dari suatu masyarakat sipil, selain terdapatnya tata kehidupan politik
yang terikat pada hukum, juga adanya kehidupan ekonomi yang didasarkan pada
sistem uang sebagai alat tukar, terjadinya kegiatan tukar menukar atau
perdagangan dalam suatu pasar bebas, demikian pula terjadinya perkembangan
teknologi yang dipakai untuk mensejahterakan dan memuliakan hidup sebagai
ciri dari suatu masyarakat yang telah beradab.

Masyarakat politik itu sendiri, adalah merupakan hasil dari suatu perjanjian
kemasyarakatan (social contract), suatu konsep yang dikemukakan oleh
Rousseau, seorang filsuf sosial Prancis abad ke-18. Dalam perjanjian
kemasyarakatan tersebut anggota masyarakat telah menerima suatu pola
perhubungan dan pergaulan bersama. Masyarakat seperti ini membedakan diri
dari keadaan alami dari suatu masyarakat.

Dalam konsep Locke dan Rousseau belum dikenal pembedaan antara


masyarakat sipil dan negara. Karena negara, lebih khusus lagi, pemerintah,
adalah merupakan bagian dan salah satu bentuk masyarakat sipil. Bahkan
keduanya beranggapan bahwa masyarakat sipil adalah pemerintahan sipil, yang
membedakan diri dari masyarakat alami atau keadaan alami.

Perbedaan antara masyarakat sipil dan negara timbul dari pandangan


Hegel (1770-1831), pemikir Jerman yang banyak menarik perhatian, yang
ditentang dan sekaligus diikuti oleh Marx itu. Sama halnya dengan Locke dan
Rousseau, Hegel melihat masyarakat sipil sebagai wilayah kehidupan orang-
orang yang telah meninggalkan kesatuan keluarga dan masuk ke dalam
kehidupan ekonomi yang kompetitif. Ini adalah arena, dimana kebutuhan-
kebutuhan tertentu atau khusus dan berbagai kepentingan perorangan bersaing,
yang menyebabkan perpecahan-perpecahan, sehingga masyarakat sipil itu
mengandung potensi besar untuk menghancurkan dirinya. Tapi di sini,
masyarakat sipil, tidak sebagaimana halnya pandangan dua pemikir Inggris dan
Prancis yang terdahulu, bukanlah masyarakat politik. Yang dipandang sebagai
masyarakat politik adalah negara. Oleh Hegel, masyarakat sipil dihadapkan

5
dengan negara. Agaknya, dari teori Hegel inilah dikenal dikotomi antara negara
dan masyarakat (state and society)

Pengertian tentang masyarakat sipil di atas dibalik oleh Hegel dari


pandangan Locke dan Rousseau. Baginya, masyarakat sipil itu bukan satu-
satunya yang dibentuk dalam perjanjian kemasyarakatan (social contract).
Dengan perkataan lain, masyarakat sipil adalah satu bagian saja dari tatanan
politik (political order) secara keseluruhan. Bagian dari tatanan politik yang lain
adalah negara (state). Di sini, yang dimaksud dengan masyarakat sipil adalah
perkumpulan merdeka antara orang seorang yang membentuk apa yang
disebutnya burgerlische Gesellschaft atau masyarakat borjuis (bourgeois
society).

Hegel dan para pengikutnya membedakan masyarakat sipil dari dan


berhadapan dengan negara. Yang pertama adalah bentuk perkumpulan yang
bersifat spontan dan berdasarkan kebiasaan dalam masyarakat, tetapi tidak
bergantung pada hukum. Sedangkan yang kedua adalah lembaga hukum dan
politik yang mengayomi masyarakat secara keseluruhan.

Dari berbagai pandangan di atas, kita bisa pula membedakan antara


gejala masyarakat sipil dan masyarakat (society) itu sendiri. Yang pertama
adalah perkumpulan-perkumpulan yang mengandung aspek politik. Sedangkan
masyarakat merangkum keseluruhan perkumpulan, baik yang terartikulasi secara
legal-politis maupun yang tidak, tetapi diayomi, dalam arti diakui kehadirannya
dan dilindungi oleh negara. Bahkan prinsip non-intervensi yang meminimalkan
peranan negara dalam kehidupan ekonomi, misalnya laissez faire, sebagaimana
dikatakan oleh pemikir Marxis Itali, Gramsci, memerlukan legalitas dari atau
diciptakan oleh negara sendiri.

C. Ciri-Ciri Masyarakat Madani

Bangsa Indonesia berusaha untuk mencari bentuk masyarakat madani


yang pada dasarnya adalah masyarakat sipil yang demokrasi dan
agamis/religius. Dalam kaitannya pembentukan masyarakat madani di Indonesia,
maka warga negara Indonesia perlu dikembangkan untuk menjadi warga negara
yang cerdas, demokratis, dan religius dengan bercirikan imtak, kritis
argumentatif, dan kreatif, berfikir dan berperasaan secara jernih sesuai dengan

6
aturan, menerima semangat Bhineka Tunggal Ika, berorganisasi secara sadar
dan bertanggung jawab, memilih calon pemimpin secara jujur-adil, menyikapi
mass media secara kritis dan objektif, berani tampil dan kemasyarakatan secara
profesionalis, berani dan mampu menjadi saksi, memiliki pengertian kesejagatan,
mampu dan mau silih asah-asih-asuh antara sejawat, memahami daerah
Indonesia saat ini, mengenal cita-cita Indonesia di masa mendatang dan
sebagainya.

Karakteristik (ciri-ciri) masyarakat madani adalah sebagai berikut :

1. Free public sphere (ruang publik yang bebas), yaitu masyarakat memiliki
akses penuh terhadap setiap kegiatan publik, mereka berhak melakukan
kegiatan secara merdeka dalam menyampaikan pendapat, berserikat,
berkumpul, serta mempublikasikan informasikan kepada publik.
2. Demokratisasi, yaitu proses untuk menerapkan prinsip-prinsip demokrasi
sehingga muwujudkan masyarakat yang demokratis. Untuk
menumbuhkan demokratisasi dibutuhkan kesiapan anggota masyarakat
berupa kesadaran pribadi, kesetaraan, dan kemandirian serta
kemampuan untuk berperilaku demokratis kepada orang lain dan
menerima perlakuan demokratis dari orang lain. Demokratisasi dapat
terwujud melalui penegakkan pilar-pilar demokrasi yang meliputi :

(1) Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)


(2) Pers yang bebas
(3) Supremasi hukum
(4) Perguruan Tinggi
(5) Partai politik

3. Toleransi, yaitu kesediaan individu untuk menerima pandangan-


pandangan politik dan sikap sosial yang berbeda dalam masyarakat,
sikap saling menghargai dan menghormati pendapat serta aktivitas yang
dilakukan oleh orang/kelompok lain.
4. Pluralisme, yaitu sikap mengakui dan menerima kenyataan mayarakat
yang majemuk disertai dengan sikap tulus, bahwa kemajemukan sebagai
nilai positif dan merupakan rahmat dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

7
5. Keadilan sosial (social justice), yaitu keseimbangan dan pembagian
yang proporsiaonal antara hak dan kewajiban, serta tanggung jawab
individu terhadap lingkungannya.
6. Partisipasi sosial, yaitu partisipasi masyarakat yang benar-benar bersih
dari rekayasa, intimidasi, ataupun intervensi penguasa/pihak lain,
sehingga masyarakat memiliki kedewasaan dan kemandirian berpolitik
yang bertanggungjawab.
7. Supremasi hukum, yaitu upaya untuk memberikan jaminan terciptanya
keadilan. Keadilan harus diposisikan secara netral, artinya setiap orang
memiliki kedudukan dan perlakuan hukum yang sama tanpa kecuali.
Adapun yang masih menjadi kendala dalam mewujudkan masyarakat
madani di Indonesia diantaranya :
a. Kualitas SDM yang belum memadai karena pendidikan yang
belum merata
b. Masih rendahnya pendidikan politik masyarakat
c. Kondisi ekonomi nasional yang belum stabil pasca krisis moneter
d. Tingginya angkatan kerja yang belum terserap karena lapangan
kerja yang terbatas
e. Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sepihak dalam jumlah yang
besar
f. Kondisi sosial politik yang belum pulih pasca reformasi

Oleh karena itu dalam menghadapi perkembangan dan perubahan jaman,


pemberdayaan civil society perlu ditekankan, antara lain melalui peranannya
sebagai berikut :

1. Sebagai pengembangan masyarakat melalui upaya peningkatan


pendapatan dan pendidikan
2. Sebagai advokasi bagi masyarakat yang “teraniaya”, tidak berdaya
membela hak-hak dan kepentingan mereka (masyarakat yang terkena
pengangguran, kelompok buruh yang digaji atau di PHK secara sepihak
dan lain-lain)
3. Sebagai kontrol terhadap negara
4. Menjadi kelompok kepentingan (interest group) atau kelompok penekan
(pressure group)

8
5. Masyarakat madani pada dasarnya merupakan suatu ruang yang terletak
antara negara di satu pihak dan masyarakat di pihak lain. Dalam ruang
lingkup tersebut terdapat sosialisasi warga masyarakat yang bersifat
sukarela dan terbangun dari sebuah jaringan hubungan di antara
assosiasi tersebut, misalnya berupa perjanjian, koperasi, kalangan bisnis,
Rukun Warga, Rukun Tetangga, dan bentuk organisasi-organsasi lainnya.

D. Program Rekonstruksi Masyarakat Madani


Aksi yang dapat dilakukan untuk rekonstruksi pengembangan masyarakat
madani di Indonesia dalam rangka menjadikan sebagai salah satu landasan bagi
proses demokratisasi. Aksi tersebut tentunya disesuaikan dengan kondisi dan
keperluan kongkrit serta kemampuan yang dimiliki oleh para pelaksana. Dalam
konteks demokratisasi di Indonesia, program rekonstruksi pengembangan
masyarakat madani misalnya dengan mempetakan secara jelas dan kritis
kelompok-kelompok strategis dalam masyarakat madani yang dapat diandalkan
sebagai aktor-aktor utama di dalamnya.

Dalam hal ini bias dilakukan penelitian mengenai elemen-elemen kelas


menengah yang memiliki potensi dan yang masih menghadapi kendala-kendala
structural maupun kultural untuk tampil sebagai aktor masyarakat madani.
Dengan pemetaaan seperti itu akan menjadi jelas kekuatan dan kelemahan, baik
secara kualitatif dan kuantitatif, masyarakat madani di Indonesia. Seterusnya
akan bisa dilakukan proses pengembangan baik dari dalam maupun dari luar,
termasuk strategi penciptaan linkege antara elemen-elemen masyarakat madani
tersebut.

Di satu pihak LSM merupakan organisasi sosial yang muncul dari bawah
dan berada di luar lingkup negara, tetapi di pihak LSM di Indonesia di kontrol
oleh negara. Selanjutnya, sejauh mana LSM-LSM di Indonesia mampu
melakukan refleksi diri sehingga ia tidak menjadi bagian dari aparat hegemoni
negara. Pertanyaan yang sama dapat diajukan kepada berbagai ormas yang
sebenarnya mempunyai potensi pengembangan masyarakat tetapi masih
mengalami berbagai kendala untuk berkembang, dan bahkan sebagaian
cenderung memperlemahnya.

Sembari membuat pemetahan tersebut maka bisa dilakukan juga


penciptakan program-program aksi yang ditujukan bukan saja untuk

9
meningkatkan kemampuan dan kemandirian aktor-aktor tersebut, tetapi juga
merumuskan platform bersama sangat penting untuk diciptakan dan
disosialisasikan kepada masyarakat sebelum ia dapat dipergunakan.

Sayang sekali, kelompok pro-demokrasi di Indonesia tampaknya kurang


atau belum untuk melakukan perjuangan sendiri-sendiri dengan landasan
pemahaman dan visi demokrasi yang mereka yakini. Akibatnya, sifat perjuangan
demokratisasi di Indonesia menjadi bersifat sporadis dan tidak terorganisasi dan
karenanya mudah untuk dimanipulasi oleh kekuatankekuatan yang
menentangnya, khususnya negara. Selain itu, kaum prodemokrasi di Indonesia
juga mudah sekali untuk terpancing oleh perkembangan-perkembangan sesaat
sehingga terkesan tidak memiliki endurance yang tinggi serta hanya bersifat
hangat-hangat tahi ayam.

Jika proses demokratisasi dilakukan melalui jalan pengembangan


masyarakat, maka tidak bisa lain kecuali harus mengikis sikap-sikap
kecenderungan di atas. Untuk menuju kearah itu, salah satu program aksi yang
diperlukan adalah mensosialisasikan dan memperkokoh gagasan dasar yang
dapat diterima semua pihak dalam rangka pengembangan sistem politik
demokratis. Gagasan dasar tersebut adalah politik kewarganegaraan aktif yang
berorientasi pasa pemenuhan hak-hak azasi manusia. Dengan adanya landasan
itu, maka kendati masyarakat madani di negeri ini bersifat pluralistik dan
heterogen, akan tetapi memiliki sebuah ikatan dan orientasi perjuangan yang
sama.

Dengan adanya landasan kewarganegaraan aktif dan hak-hak azasi


tersebut. Salah satu persoalan yang senantiasa muncul dalam wacana dan
kiprah pengembangan masyarakat madani, adalah bagaimana mengembangkan
strategi yang paling tepat. Persoalan ini sangat layak untuk dijawab dan dikaji
terus menerus sehingga akan menghasilkan semakin banyak alternatif yang
dapat dipilih. Keberadaan sebuah masyarakat madani di dalam masyarakat
modern tentu tidak lepas dari hadirnya komponen-komponen struktural dan
kultural yang inheren di dalamnya.

Komponen struktural termasuk terbentuknya negara yang berdaulat,


berkembangannya ekonomi pasar, tersedianya ruang-ruang publik bebas,
tumbuh berkembangnya kelas menengah, dan keberadaan organisai-organisasi

10
kepentingan dalam masyarakat. Pada saat yang sama, masyarakat madani akan
berkembang dan menjadi dan menjadi kuat apabila komponen-komponen
kultural yang melandasinya juga kuat. Komponen tersebut adalah pengakuan
terhadap HAM dan perlindungan atasnya, khususnya hak bicara dan
berorganisasi, sikap toleran antar-individu dan kelompok dalam masyarakat,
adanya tingkat kepercayaan publik yang tinggi terhadap pranata-pranata sosial
dan politik, serta kuatnya komitmen terhadap kemandirian pribadi dan kelompok.

Pada tataran kultural, kita sejatinya telah memiliki landasan cukup kuat.
Pengakuan atas pentingnya hak-hak dasar secara eksplisit telah termaktub
dalam konstitusi. Begitu pula dengan berbagai ajaran agama-agama yang
dipeluk oleh bangsa Indonesia dan tradisi-tradisi yang dipraktekkan dalam hal
toleransi dan penghormatan terhadap kemajemukan. Sayangnya, kita lemah di
dalam mewujudkan landasan tersebut bahkan cenderung untuk
menginterpretasikannya secara keliru.

Karena itu, sejak dini para pendiri bangsa kita, telah menekankan arti
penting kemandirian pribadi sehingga perlu adanya perlindungan terhadap hak-
hak dasar mereka. Kembali pada persoalan pengembangan masyarakat madani
di negara kita, maka yang perlu menjadi perhatian adalah bagaimana kita
mempetakan secara gamblang elemen-elemen mana yang harus ditunjang, baik
pada tataran struktural maupun kultural. Dengan pemetaan yang tepat maka
diharapkan dapat dibuat strategi yang relevan serta produktif. Dalam
pemberdayaan elemen struktural, kita perlu memulainya dari pemahaman akan
kekuatan dan kelemahan struktur yang mendasari proses pembangunan dan
modernisasi.

E. Strategi Pemberdayaan Masyarakat Madani


Satu hal yang pasti adalah pemberdayaan masyarakat madani adalah
sebuah keniscayaan apabila bangsa Indonesia ini ingin bertahan dan sekaligus
menjadi bangsa yang demokratis. Adapun strategi pemberdayaan masyarakat
madani di Indonesia, menurut Dawam (1999) ada tiga strategi yang salah
satunya dapat digunakan sebagai strategi dalam memberdayakan masyarakat
madani di Indonesia, antara lain :

1. Strategi yang lebih mementingkan integrasi nasional dan politik. Strategi


ini berpandangan bahwa sistem demokrasi tidak mungkin berlangsung

11
dalam masyarakat yang belum memiliki kesadaran berbangsa dan
bernegara yang kuat. Bagi penganut paham ini pelaksanaan demokrasi
liberal hanya akan menimbulkan konflik, dan karena itu menjadi sumber
instabilitas politik. Saat ini yang diperlukan adalah stabilitas politik sebagai
landasan pembangunan, karena pembangunan—lebih terbuka terhadap
perekonomian global – membutuhkan resiko politik yang minim. Dengan
demikian persatuan dan kesatuan bangsa lebih diutamakan dari pada
demokrasi.

2. Strategi yang lebih mengutamakan reformasi sistem politik demokrasi.


Strategi ini berpandangan bahwa untuk membangun demokrasi tidak
usah menunggu rampungnya tahap pembangunan ekonomi. Sejak awal
dan secara bersama-sama diperlukan proses demokratisasi yang pada
essensinya adalah memperkuat partisipasi politik. Jika kerangka
kelembagaan ini diciptakan, maka akan dengan sendirinya timbul
masyarakat madani yang mampu mengontrol negara.

3. Strategi yang memilih membangun masyarakat madani sebagai basis


yang kuat ke arah demokratisasi. Strategi ini muncul akibat kekecewaan
terhadap realisasi dari strategi pertama dan kedua. Dengan begitu
strategi ini lebih mengutamakan pendidikan dan penyadaran politik,
terutama pada golongan menengah yang semakin luas.

Ketiga model strategi pemberdayaan masyarakat madani tersebut


dipertegas oleh Hikam bahwa di era transisi ini harus dipikirkan prioritas –
prioritas pemberdayaan dengan cara memahami target-target group yang paling
strategis serta penciptaan pendekatan-pendekatan yang tepat di dalam proses
tersebut. Untuk keperluan itu, maka keterlibatan kaum cendikia, LSM, ormas dan
keagamaan dan mahasiswa, mutlak adanya.

Lebih tegasnya sebagaimana tertera dalam strategi menurut Hikam(1999)


dibawah ini :

1. Pemetaan atau identifikasi permasalahan dasar menyangkut


perkembangan masyarakat madani, khususnya kelompok-kelompok
strategis di dalamnya harus mendapat prioritas. Pada tahap ini diupayakan

12
penelitian atau pengkajian yang mendalam baik secara umum maupun
khusus terhadap potensi-potensi yang ada dalam masyarakat untuk
menumbuh-kembangkan masyarakat madani. Umpamanya pemetaan
terhadap segmen-segmen kelas menengah yang diangap dapat menjadi
basis bagi tumbuhnya masyarakat madani berikut organisasi di dalamnya.
Kajian dan penelitian semacam ini sangat penting agar kita dapat dengan
segera melakkan proses recovery dan penataan kembali setelah
munculnya kesempatan karena jatuhnya rezim otoriter.

2. Menggerakkan potensi-potensi yang telah ditemukan tersebut sesuai


dengan bidang-bidang atau garapan masing-masing. Misalnya bagaimana
menggerakkan komunitas pesantren di wilayah-wilayah pedesaan agar
mereka ikut memperkuat basis ekonomi dan social lapisan bawah. Dalam
tahapan ini, jelas harus terjadi reorientasi dalam model pembangunan
sehingga proses penggerakan sumber daya di lapisan bawah tidak lagi
berupa eksploitasi karena pola top-down.

Justru dalam tahapan ini sekaligus diusahakan untuk menghidupkan dan


mengaktifkan keswadayaan masyarakat yang selama ini terbungkam.
Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan parsipatoris karena. Pada
tingkat kelas menengah, tahapan kedua ini diarahkan kepada penumbuhan
kembali jika entrepreneur yang sejati sehingga akan muncul sebuah kelas
menengah yang mandiri dan tangguh. Potensi demikian sudah cukup besar
dengan semakin bertambah banyaknya generasi muda yang berpendidikan
tinggi dan berpengalaman dalam bisnis yang berlingkup global.

Para professional muda ini, menurut pengamatan akan menjadi tulang


punggung utama kelas menengah baru yang memiliki kepedulian besar
terhadap kemandirian dan pemberdayan. Hal ini terbukti antara lain dengan
munculnya kelompok solidaritas profesional muda yang mendukung
gerakan reformasi. Mereka menuntut transparansi dan kemandirian dalam
dunia bisnis di samping menunjukkan kepedulian terhadap nasib rakyat
jelata di lapisan bawah. Hal yang sama berlaku juga bagi organisasi
kemasyarakatan yang telah berjasa menjadi saluran aspirasi masyarakat
selama ini, seperti organisasi-organisasi social keagamaan dan Lembaga

13
Swadaya Masyarakat. Pengembangan kelompok ini sangat penting artinya
karena merekalah yang biasanya berada di garis depan dalam membela
nasib kaum tertindas.

Melalui aktivitas-aktivitas mereka, misalnya, permasalahan sosial seperti


kemiskinan. Kelompok inilah yang menyuarakan aspirasi masyarakat
tertindas baik secara langsung kepada pemerintah ataupun kepada publik
secara keseluruhan. Pihak lain yang penting untuk dilibatkan pada tahapan
ini adalah media massa yang berperan sebagai wilayah publik bebas yang
menjadi tempat transaksi wacana publik. Media massa yang tidak
terkontrol secara ketat dan selalu dalam ancaman pemberangusan oleh
negara merupakan instrumen bagi proses pengembangan masyarakat
madani. Sebab disana dimungkinkan penyaluran aspirasi dan
pembentukan opini mengenai permasalahan yang berkaitan dengan
kepentingan-kepentingan publik, di samping sebagai alat kontrol terhadap
kekuasaan negara.

3. Upaya pengembangan jangka panjang yaitu dengan tumbuhnya media


massa yang memiliki kebebasan cukup luas, maka kehidupan publik akan
senantiasa mengalami penyegaran dan masyarakat pun memiliki ruang
untuk mengutarakan aspirasinya. Tentu saja, media massa juga
memerlukan pengawasan dari publik sehingga ia tidak menjadi alat
manipulasi kepentingan si pemilik, baik bagi penyebaran gagasan-gagasan
dan informasi tertentu maupun sebagai bagian dari bisnis. Media massa
yang tidak terkontrol sama sekali justeru akan memiliki kemampuan
agenda setting yang sangat kuat sehingga bisa mendistorsi kehidupan
politik.

Dalam upaya pengembangan jangka panjang adalah mengupayakan agar


seluruh elemen masyarakat madani memiliki kapasitas kemandirian yang
tinggi sehingga secara bersamaan dapat mempertahankan kehidupan
demokrasi. Dalam kaitan ini, agaknya kita perlu merenungkan kesimpulan
John Keane dalam Democracy and Civil Society (1988) dikutip oleh
Azyumardi Azra bahwa ; Demokrasi bukanlah musuh bebuyutan ataupun
teman kental kekuasaan negara. Demokrasi menghendaki pemerintah
untuk memerintah masyarakat sipil secara tidak berlebihan ataupun terlalu

14
sedikit. Sementara itu, tatanan yang lebih demokratis tidak bias dibangun
melalui kekuasaan negara, dan juga tidak bisa diciptakan tanpa kekuasaan
negara.

Masyarakat madani yang seperti ini dapat menjadi sumber input bagi
masyarakat politik, seperti orsospol, birokrasi, dan sebagainya dalam
pengambilan setiap keputusan publik. Pada saat yang sama, political society
juga dapat melakukan rekruitmen politik dari kelompok-kelompok dalam
masarakat madani sehingga kualitas para politisi dan elite politik akan sangat
tinggi. Hubungan antara masyarakat madani dan political society, dengan
demikian adalah simbiosis mutualisme dan satu sama lain saling memperkuat
bukan menegaskan. Tentu saja diperlukan waktu yang cukup lama untuk
menghasilkan hubungan semacam ini, karena situasi ini mengadaikan telah
terjadinya kesinambungan antara Negara dan rakyat.

Proses pengembangan masyarakat madani akan tergantung


kesuksesannya kepada sejauhmana format politik pasca reformasi dibuat. Jika
format tersebut hanya mengulangi yang lama, kendati dengan ornamen-ornamen
berbeda, maka pengembangan masyarakat madani juga hanya berupa angan-
angan belaka. Sayangnya, justeru prospek inilah yang tampaknya sedang si atas
angin. Kemungkinan terjadinya pemulihan dan konsolidasu rezim lama masih
cukup besar menyusul menguatnya pemerintah transisi.

15
III. KESIMPULAN

Banyak faktor yang turut menentukan dalam pemberdayaan masyarakat


madani, gambaran masyarakat berdaya yang diidamkan sangat menentukan
dalam perencanaan strategis dan operasionalnya. Oleh sebab itu, seluruh sektor
masyarakat terutama gerakan, kelompok, dan individu-individu independen yang
concered dan committed pada demokratisasi dan masyarakat madani—
seyogyanya mengambil strategi yang lebih stabil, lebih halus, bukan mengambil
jalan konfrontasi langsung yang tidak mustahil akan mengorbankan faktor-faktor
masyarakat madani itu sendiri.

Sehingga sebagai penutup membentuk masyarakat madani yang beriman


dan bertakwa maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan :

a. Memberikan pendidikan agama sejak dini, dan mewajibkan lembaga


pendidikan memberikan pengajaran agama sesuai dengan agama yang
dianut siswa.
b. Mengimplementasikan ajaran agama dalam kehidupan dan menjadikan
landasan moral dalam kegiatan bermasyarakat.
c. Memberikan kebebasan berekspresi bagi masyarakat sesuai dengan
agamanya, tanpa menimbulkan gangguan terhadap masyarakat lain.
d. Menyediakan fasilitas untuk beribadah yang layak bagi umat beragama.

16
DAFTAR RUJUKAN

Azra Azyumardi. 2000. Menuju Masyarakat Madani (Gagasan, fakta, dan


Tantangan). Remaja Rosdakarya. Bandung.

Din Syamsuddin, 1999, Etika Agama dalam membangun Masyarakat


Madani, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama

Hikam Muhammad, AS. 1999. Islam, Demokratisasi, dan Pemberdayaan Civil


Society. Penerbit Erlangga, Jakarta

Rahardjo,M. Dawam, 1996, Masyarakat Madani: Agama , Kelas Menengah


dan Perubahan Sosial, Jakarta.

LP3ES, 1999.cet. ke.1. 1996, Agama dan Masyarakat Madani, dalam Seri

Dialog kebudayaan STRATEGI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MADANI

Komunitas, Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam 28

Penyuluhan Pembangunan PPS-IPB. 2001. Proseding Seminar


“Pemberdayaan Sumberdaya Manusia Menuju Terwujudnya Masyarakat
Madani. Bogor. Pustaka Wirausaha Muda Bogor.

Tim ICCE UIN Jakarta, 2003. Demokrasi, Masyarakat Madani.

Yusuf, Y.1998. Azas-azas Teologi dan filosofis Masyarakat Madani, Makalah


Seminar Pembanguan Akhlak Bangsa dalam Reformasi Menuju Masyarakat
Madani, Padang : 28-29 November 1998

Bob S.Hadiwinata, “Masyarakat Sipil Indonesia: Sejarah, Kelangsungan, dan


Transformasinya”, dalam Wacana (Jurnal Ilmu Sosial Transformatif). Edisi
1.Vo.1,1999.

iii