Anda di halaman 1dari 16

CRITICAL BOOK REPORT

TEKNIK JALAN RAYA

Disusun Oleh:

Nama : Andrini Octavia

Nim : 5193250010

Kelas : S1 Teknik Sipil Reguler B 2019

Dosen Pengampu : Ir. Hamidun Batubara, M. T.

Syahreza Alvan, S. T., M. Si.

TEKNIK SIPIL

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2020
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha
Esa karena atas rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas mata
kuliah Geografi Transport dan Permukiman Critical Book Review. Selama
penyusunan makalah ini, penulis banyak mengalami kesulitan dan hambatan.
Namun berkat bantuan dan dorongan dari berbagai pihak, makalah ini dapat
terselesaikan. Penulis menyadari bahwa baik isi maupun teknik penyajian tulisan
masih jauh dari sempurna, maka dari itu penulis mengharapkan kepada para
pembaca untuk memberi tanggapan berupa kritik dan saran yang sifatnya
membangun untuk meningkatkan mutu penulisan selanjutnya. Akhir kata semoga
tugas makalah ini bermanfaat untuk kalangan umum maupun pendidikan.

Medan, 3 Desember 2020

Andrini Octavia Sinaga


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................................. ii


DAFTAR ISI ............................................................................................................. iii

BAB 1 : PENDAHULUAN ...................................................................................... 1


1.1 Informasi Bibliografi ..................................................................................... 1

BAB 2 : PEMABAHASAN CRITICAL BOOK REVIEW ...................................... 2


2.1 Latar Belakang .............................................................................................. 2
2.2 Permasalahan yang akan Dikaji .................................................................... 3
2.3 Kajian Teori .................................................................................................. 3
2.4 Metode yang Digunakan ............................................................................... 3

BAB 3 : PEMBAHASAN BUKU ............................................................................ 4


3.1 Sinopsis Buku ................................................................................................ 4
3.2 Kelebihan dan Kekurangan Buku .................................................................. 9
3.3 Analisis Critical Book Review ...................................................................... 10

BAB 4 : PENUTUP .................................................................................................. 11


4.1 Kesimpulan ................................................................................................... 11
4.2 Saran .............................................................................................................. 11

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................... 13


LAMPIRAN
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Informasi Bibliografi

1. Buku Utama
Judul : PERENCANAAN &
PEMODELAAN TRANSPORTASI
Penulis : Ofyar Z. Tamia
ISBN : 979-9299-10-1
Penerbit : ITB
TahunTerbit : 2013
Urutan Cetakan : Kedua
Dimensi Buku :-
Tebal Buku : 21a + 615 halaman

2. Buku Pembanding
Judul : MANAJEMEN TRANSPORTASI
DALAM KAJIAN DAN TEORI
Penulis : Andriansyah
ISBN : 978-602-9006-12-4
Penerbit : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Prof. Dr. Moestopo
Beragama
Tahun Terbit : 2015
Urutan Cetakan : Pertama
Dimensi Buku :-
Tebal Buku : xi + 153 halaman
BAB 2
PEMBAHASAN CRITICAL BOOK RIVIEW

2.1 Latar Belakang


Transportasi adalah pemindahan manusia atau barang dengan
menggunakan wahana yang digerakkan oleh manusia atau mesin. Transportasi
digunakan untuk memudahkan manusia untuk melakukan aktivitas sehari-hari.
Banyak ahli telah merumuskan dan mengemukakan pengertian transportasi. Para
ahli memiliki pandangannya masing-masing yang mempunyai perbedaan dan
persamaan antara yang satu dengan lainnya.
Kata transportasi berasal dari bahasa latin yaitu transportare yang mana
trans berarti mengangkat atau membawa. Jadi transortasi adalah membawa
sesuatu dari satu tempat ke tempat yang lain. Menurut Salim (2000) transportasi
adalah kegiatan pemindahan barang (muatan) dan penumpang dari suatu tempat
ke tempat lain. Dalam transportasi ada dua unsur yang terpenting yaitu
pemindahan/pergerakan (movement) dan secara fisik mengubah tempat dari
barang (comoditi) dan penumpang ke tempat lain.
Permasalahan transportasi dan teknik perencanaannya mengalami revolusi
yang pesat sejak tahun 1980-an. Pada saat ini kita masih merasakan banyak
permasalahan transportasi yang sebenarnya sudah terjadi sejak tahun 1960-an dan
1970-an, misalnya kemacetan, polusi suara dan udara, kecelakaan, dan tundaan.
Permasalahan transportasi yang sudah ada sejak dulu bisa saja masih dijumpai
pada masa sekarang, tetapi dengan tingkat kualitas yang jauh lebih parah dan
kuantitas yang jauh lebih besar; mungkin saja mempunyai bentuk lain yang jauh
lebih kompleks karena semakin banyaknya pihak yang terkait sehingga lebih
sukar diatasi.
Pada akhir tahun 1980-an, negara maju memasuki tahapan yang jauh lebih
maju dibandingkan dengan 20 tahun yang lalu di sektor perencanaan dan
pemodelan transportasi. Hal ini disebabkan antara lain oleh pesatnya
perkembangan pengetahuan mengenai elektronika dan peralatan komputer yang
memungkinkan berkembangnya beberapa konsep baru mengenai sistem prasarana
transportasi, sistem pergerakan, dan peramalan kebutuhan akan transportasi yang
tidak pernah terpikirkan pada masa lalu.
Di Indonesia, permasalahan transportasi sudah sedemikian parahnya,
khususnya di beberapa kota besar seperti DKI-Jakarta, Surabaya, Medan, dan
Bandung. Kota yang berpenduduk lebih dari 1−2 juta jiwa dapat dipastikan
mempunyai permasalahan transportasi. Pada akhir tahun 2000, diperkirakan
hampir semua ibukota propinsi dan beberapa ibukota kabupaten akan
berpenduduk di atas 1−2 juta jiwa sehingga permasalahan transportasi tidak bisa
dihindarkan. Hal ini merupakan lampu merah bagi para pembina daerah perkotaan
di Indonesia karena mereka akan dihadapkan pada permasalahan baru yang
memerlukan pemecahan yang baru pula, yaitu permasalahan transportasi
perkotaan.

2.2 Permasalahan yang akan Dikaji


Permasalahan yang akan dikaji adalah permasalahan mengenai isi dari
kedua buku yang akan di riview, baik itu isinya maupun penggunaan kata yang
terdapat pada kedua buku tersebut. Permasalahan itu kemudian dibentuk kedalam
pembahasan secara umum isi buku.

2.3 Kajian Teori


dalam pembuatan CBR ini periview tidak menggunakan kajian teori,
dikarenakan dalam menganalisis sebuah buku tidak diperlukan sebuah teori
khusus didalamnya.

2.4 Metode yang Digunakan


Metode yang digunakan dalam meriview buku ini adalah dengan cara
membaca kedua buku yang akan di riview samapai habis dan kemudian akan
dilakukan pengamatan terhadap kelebihan dan kekurangan buku yang dibaca
untuk dipertahankan ataupun untuk diperbaiki oleh penulis.
BAB 3
PEMBAHASAN BUKU

3.1 Sinopsis Buku


1. Buku Utama
Permasalahan transportasi dan teknik perencanaannya mengalami revolusi
yang pesat sejak tahun 1980-an. Pada saat ini kita masih merasakan banyak
permasalahan transportasi yang sebenarnya sudah terjadi sejak tahun 1960-an dan
1970-an, misalnya kemacetan, polusi suara dan udara, kecelakaan, dan tundaan.
Permasalahan transportasi yang sudah ada sejak dulu bisa saja masih dijumpai
pada masa sekarang, tetapi dengan tingkat kualitas yang jauh lebih parah dan
kuantitas yang jauh lebih besar; mungkin saja mempunyai bentuk lain yang jauh
lebih kompleks karena semakin banyaknya pihak yang terkait sehingga lebih
sukar diatasi
Tujuan dasar para perencana transportasi adalah memperkirakan jumlah
serta lokasi kebutuhan akan transportasi (misalnya menentukan total pergerakan,
baik untuk angkutan umum maupun angkutan pribadi) pada masa mendatang atau
pada tahun rencana yang akan digunakan untuk berbagai kebijakan investasi
perencanaan transportasi. Agar lebih terarah dan jelas, penjelasan berikut akan
diarahkan pada perencanaan transportasi di daerah perkotaan.
Pada penjelasan sebelumnya telah dijelaskan kaitan antara sistem tata guna
lahan (kegiatan), sistem prasarana transportasi (jaringan), dan sistem arus
lalulintas (pergerakan) dengan panjang lebar (kualitatif). Selain itu, pendekatan
kuantitatif juga dibutuhkan untuk mendapatkan penjelasan atau gambaran yang
lebih jelas serta terukur mengenai kaitan tersebut. Dalam pendekatan secara
‘sistem’, cara tersebut dikenal dengan pemodelan sistem. Model adalah alat bantu
atau media yang dapat digunakan untuk mencerminkan dan menyederhanakan
suatu realita (dunia sebenarnya) secara terukur; beberapa di antaranya adalah:
 model fisik (model arsitek, model teknik, wayang golek, dan lain-lain);
 model peta dan diagram;
 model statistik dan matematik (fungsi atau persamaan) yang dapat
menerangkan secara terukur beberapa aspek fisik, sosial ekonomi, atau
model transportasi.
Tujuan dasar tahap bangkitan pergerakan adalah menghasilkan model
hubungan yang mengaitkan parameter tata guna lahan dengan jumlah pergerakan
yang menuju ke suatu zona atau jumlah pergerakan yang meninggalkan suatu
zona. Zona asal dan tujuan pergerakan biasanya juga menggunakan istilah trip
end.
Pola pergerakan dalam sistem transportasi sering dijelaskan dalam bentuk
arus pergerakan (kendaraan, penumpang, dan barang) yang bergerak dari zona
asal ke zona tujuan di dalam daerah tertentu dan selama periode waktu tertentu.
Matriks Pergerakan atau Matriks Asal−Tujuan (MAT) sering digunakan oleh
perencana transportasi untuk menggambarkan pola pergerakan tersebut.
Model pemilihan moda bertujuan untuk mengetahui proporsi orang yang
akan menggunakan setiap moda. Proses ini dilakukan dengan maksud untuk
mengkalibrasi model pemilihan moda pada tahun dasar dengan mengetahui
peubah bebas (atribut) yang mempengaruhi pemilihan moda tersebut. Setelah
dilakukan proses kalibrasi, model dapat digunakan untuk meramalkan pemilihan
moda dengan menggunakan nilai peubah bebas (atribut) untuk masa mendatang.
Sisi kebutuhan akan transportasi terdiri dari indikator sejumlah pergerakan
(bisa dalam bentuk MAT) moda transportasi tertentu yang dilakukan untuk tingkat
pelayanan tertentu. Kebutuhan akan transportasi merupakan kebutuhan turunan
akibat adanya proses usaha pemenuhan kebutuhan. Salah satu unsur utama yang
menyatakan tingkat pelayanan adalah waktu tempuh, biaya perjalanan (tarif dan
bahan bakar), dan juga hal lain seperti kenyamanan dan keamanan penumpang.
Kemacetan dan tundaan di daerah perkotaan merupakan masalah yang
sangat kritis yang dihadapi banyak kota besar di negara sedang berkembang,
misalnya Indonesia. Permasalahan ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti
urbanisasi, pertumbuhan penduduk yang pesat, laju pertumbuhan ekonomi, dan
pertumbuhan lalulintas yang tinggi. Di Indonesia, masalah kemacetan ini timbul
di beberapa kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan, Bandung, dan akan
diikuti oleh beberapa kota lainnya pada akhir tahun 2000.
Seperti di negara sedang berkembang lainnya, berbagai kota besar di
Indonesia berada dalam tahap pertumbuhan urbanisasi yang tinggi akibat laju
pertumbuhan ekonomi yang pesat sehingga kebutuhan penduduk untuk
melakukan pergerakan pun menjadi semakin meningkat. Mobil sebagai kendaraan
pribadi sangat menguntungkan, terutama dalam hal mobilitas pergerakannya.
Jumlah penduduk yang tinggal di daerah perkotaan di Indonesia diperkirakan
meningkat dari tahun ke tahun akibat tingginya tingkat urbanisasi ini.
Untuk mengimbangi dan menekan laju peningkatan penggunaan angkutan
pribadi, harus dilakukan perbaikan sistem angkutan umum berdasarkan
kemampuan angkut yang besar, kecepatan yang tinggi, keamanan dan
kenyamanan perjalanan yang memadai dan, karena digunakan secara massa,
haruslah dengan biaya perjalanan yang terjangkau. Jadi, harus ada sistem
transportasi baru yang tidak terikat oleh jalan raya yang memenuhi semua
persyaratan itu.

2. Buku Pembanding
Menurut Miro (2005) transportasi dapat diartikan usaha memindahkan,
mengerakkan, mengangkut, atau mengalihkan suatu objek dari suatu tempat ke
tempat lain, di mana di tempat lain ini objek tersebut lebih bermanfaat atau dapat
berguna untuk tujuan-tujuan tertentu. Sedangkan menurut Nasution (2008) adalah
sebagai pemindahan barang dan manusia dari tempat asal ke tempat tujuan. Jadi
pengertian tranportasi berarti sebuah proses, yakni proses pemindahan, proses
pergerakan, proses mengangkut, dan mengalihkan di mana proses ini tidak bisa
dilepaskan dari keperluan akan alat pendukung untuk menjamin lancarnya proses
perpindahan sesuai dengan waktu yang diinginkan.
Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiki lebih dari 17.000
pulau dengan total wilayah 735.355 mil persegi. Indonesia menempati peringkat
keempat dari 10 negara berpopulasi terbesar di dunia (sekitar 220 juta jiwa). Bisa
dibayangkan, tanpa sarana transportasi yang memadai maka akan sulit untuk
menghubungkan seluruh daerah di kepulauan ini. Kebutuhan transportasi
merupakan kebutuhan turunan (derived demand) akibat aktivitas ekonomi, sosial,
budaya, dan sebagainya.
Dalam kerangka makro-ekonomi, transportasi merupakan tulang
punggung perekonomian nasional, regional, dan lokal, baik di perkotaan maupun
di pedesaan. Harus diingat bahwa sistem transportasi memiliki sifat sistem
jaringan di mana kinerja pelayanan transportasi sangat dipengaruhi oleh integrasi
dan keterpaduan jaringan. Sarana transportasi yang ada di darat, laut, maupun
udara memegang peranan vital dalam aspek sosial ekonomi melalui fungsi
distribusi antara daerah satu dengan daerah lain. Distribusi barang, manusia, dan
lain-lain akan menjadi lebih mudah dan cepat bila sarana transportasi yang ada
berfungsi sebagaimana mestinya sehingga transportasi dapat menjadi salah satu
sarana untuk mengintegrasikan berbagai wilayah di Indonesia.
Sejak dahulu kala trasportasi telah digunakan dalam kehidupan
masyarakat. Hanya saja alat angkut yang digunakan bukan seperti sekarang ini.
Sebelum tahun 1800 alat yang digunakan adalah secara manual atau tenaga
manusia, hewan dan sumber tenaga dari alam. Pengangkutan barang-barang dalam
jumlah kecil dan membutuhkan waktu cukup lama. Antara tahun 1800-1860
transportasi telah mulai berkembang dengan dimanfaatkannya sumber tenaga
mekanis seperti kapal uap dan kereta api yang banyak digunakan dalam dunia
perdagangan.
Pada tahun 1860-1920 telah ditemukan kendaraan bermotor, pesawat
terbang dalam masa ini angkutan kereta api dan jalan raya memegang peranan
yang sangat penting. Dalam tahun 1920 trasportasi mencapai tingkat
perkembangannya (mature) dengan sistem transportasi multi modal (multi modal
system). Transportasi sebagai dasar untuk pembangunan ekonomi dan
perkembangan masyarakat serta pertumbuhan industralisasi. Dengan adanya
transportasi menyebabkan adanya spesialisasi atau pembagian pekerjaan sesuai
dengan bidang keahlian yang dimiliki.
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, tansportasi merupakan proses
perpindahan barang, manusia, maupun jasa. Dalam proses perpindahan tersebut
terdapat suatu proses di mana seseorang akan melakukan aktivitas ekonomi. Salah
satu contoh yang paling sederhana adalah ketika seorang mahasiswa berangkat
menuju kampus menggunakan sarana transportasi umum berupa bus. Ketika
mahasiswa menumpang bus tersebut telah terjadi aktivitas ekonomi pada saat
mahasiswa membayar ongkos kepada kernet. Dalam perjalanan biasanya
pedagang asongan akan turut menumpang bus dengan menawarkan barang
daganganya. Ketika itu kembali lagi terjadi aktivitas ekonomi pada saat
mahasiswa tersebut membeli barang dagangan pedagang tersebut.
Melalui contoh sederhana tersebut dapat dimaknai bahwa transportasi
merupakan sarana penunjang bagi aktivitas ekonomi. Dalam era otonomi daerah
saat ini, transportasi memegang peranan penting bagi kelancaran pertumbuhan
ekonomi daerah tersebut. Perubahan sistem dari sentralisasi menjadi desentralisasi
membawa angin segar bagi daerah agar sebisa mungkin dapat mendayagunakan
kemampuan dan potensi daerahnya untuk kelangsungan pembangunan. Distribusi
barang dan jasa yang baik dan lancar menuntut keberadaan sarana dan prasarana
transportasi yang memadai agar distribusi mampu mengcover seluruh lingkup
daerah tersebut.
Dalam tulisan panjang yang disebut makalah Buku Putih yang berjudul
Penelitian, Pengembangan, dan Penerapan Iptek dan Manajemen Transportasi
yang disusun oleh Kementerian Negara Riset dan Teknologi, dijelaskan dengan
gamblang tentang ilmu pengetahuan dan teknologi bidang transportasi.
Di dalam makalah yang diterbitkan tahun 2006 tersebut, disebutkan bahwa
makalah disusun tidak saja dimaksudkan sebagai wacana evaluasi baik terhadap
pelaksanaan program-program maupun kinerja penelitian dan pengembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi bidang transportasi, namun juga sebagai bentuk
pertanggungjawaban Tim Penyusun Buku Putih terhadap masyarakat dan
komunitas yang bergerak dalam bidang teknologi dan manajemen transportasi.
Sistem Transportasi Nasional yang keberadaannya memiliki posisi dan
peranan yang sangat penting dan strategis dalam cakupan upaya pencapaian
tujuan pembangunan nasional maupun dalam kaitannya dengan hubungan
internasional yang terdiri dari transportasi darat, laut dan udara. Oleh karena itu,
pentingnya pemerintah dalam mengeluarkan kebijakan-kebijakan nasional dalam
masalah pengangkutan di indonesia.
Transportasi udara merupakan salah satu alat transportasi yang cepat
dibandingkan alat transportasi lainnya dalam memperlancar roda perekonomian
nasional dan internasional, membuka akses ke daerah pedalaman atau terpencil,
membina dan memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa menegakkan
kedaulatan negara, menjamin dan menjaga keutuhan wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia serta mempengaruhi aspek kehidupan masyarakat.
Pentingnya sistem transportasi tercermin dengan semakin meningkatnya
kebutuhan jasa angkutan bagi mobilitas orang dan barang di dalam negeri dari
dalam dan luar negeri serta berperan sebagai pendorong dan penggerak bagi
pertumbuhan daerah dan pengembangan wilayah. Menyadari pentingnya posisi
dan peranan sistem transportasi tersebut, khususnya penyelenggaraan
penerbangan harus di tata dalam satu kesatuan sistem transportasi nasional secara
terpadu dan mampu mewujudkan penyediaan jasa transportasi yang seimbang
dengan tingkat kebutuhan, keselamatan, keamanan, keefektifan dan keefisienan.

3.2 Kelebihan dan Kekurangan Buku


1. Buku utama ditulis oleh Ofyar Z. Tamia yang berasal dari kalangan
mahasiswa ITB sedangkan buku kedua disusun oleh Adriansyah yang
merupakan dosen dari Universitas Prof. Dr. Moestopo Beragama
2. Buku utama terlihat lebih memperlihatkan bahwa buku tersebut cocok
untuk kalanagan terpelajar (mahasiswa) dan kalangan pemerintahan yang
terkait dengan isi buku tersebut. Sedangkan buku kedua dikhususkan
untuk mahasiswa dan buku ini sesui sasaran dari penulis buku.
3. Pada buku utama terdapat soal-soal yang relevan dengan isinya dan dapat
mengasah pengetahuan pembaca. Sedangkan buku kedua tidak terdapat hal
serupa dengan buku utama.
4. Kedua buku ini menjelaskan isi didalamnya sangat detail dan mudah
dipahami oleh pembaca ditambah lagi berbagai macam gambar yang dapat
mempermudah pembaca dalam mempraktikannya.
5. Gagasan-gagasan yang terdapat pada kedua buku tersebut sangatlah sesuai
dengan kenyataan, hal ini dikarenakan pembahasan buku ini bukan
mengenai teori melainkan mengenai ilmu pasti.
6. Gagasan yang terdapat pada kedua buku tersebut dijelaskan oleh penyusun
buku secara analisis mulai dari awal hingga akhir.
7. Buktu-bukti pendukung yang ada pada kkedua buku tersebut sangatlah
jelas dan sangat kuat, hal ini dikarenakan penulis menterterakan bukti-
bukti tersebut pada buku yang mereka tulis.
8. Kedua buku ini sama-sama membahas mengenai transportasi, namun buku
utama lebih mendalam dan lebih lengkap penjelasannya dibandingkan
buku kedua.
9. Kesimpulan pada kedua buku tersebut dapat terlihat apa tujuan yang akan
disajikan oleh penulis terhadap pembaca.
10. Masih terdapat kekurangan pada kedua buku tersebut yang berupa tidak
dicantumkannya ukuran dimensi kedua buku tersebut yang merupakan
sebagai pelengkap suatu buku.
11. Tidak terdapat saran pada kedua buku tersebut bagi pemaba untuk lebih
lanjutnya mengenai pembahasan buku tersebut.
12. Kedua buku tersebut sama-sama mencantumkan daftar pustaka sebagai
sumber informasi lainnya bagi pemaba.
13.
3.3 Analisis Critical Book Review
Tujuan dari penulisan buku utama adalah sebagai bahan bacaan bagi
kalangan umu dana kalangan mahasiswa yang berkecimpung dibidang geografi
dan transportasi, sedangkan buku kedua ditulis untuk bertujuan sebagai bahan
bacaan kalngan umum dan kalngan mahasiswa juga.
Terdapat berbagai macam pembahasan pada buku utama mulai dari teori
hingga pada hasil yang nyata dapat ditampilkan pada buku tersebut. Sedangkan
buku kedua tidak beda jauh dengan isi buku utama, namun hanya saja klengkapan
isi buku kedua tidak lebih baik dari buku utama. Secara keseluruhan kedua buku
tersebut layak dan cocok untuk dibaca dan dijadikan sebagai pedoman.
BAB 4
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan sebelumnya, maka dapat disimpulkan sebagai
berikut:
Untuk mengimbangi dan menekan laju peningkatan penggunaan angkutan
pribadi, harus dilakukan perbaikan sistem angkutan umum berdasarkan
kemampuan angkut yang besar, kecepatan yang tinggi, keamanan dan
kenyamanan perjalanan yang memadai dan, karena digunakan secara massa,
haruslah dengan biaya perjalanan yang terjangkau. Jadi, harus ada sistem
transportasi baru yang tidak terikat oleh jalan raya yang memenuhi semua
persyaratan itu.
Hal ini hanya dapat diberikan oleh sistem angkutan terpandu atau jalan rel
yang kecepatannya diatur sesuai dengan kebutuhan, dan, karena frekuensinya bisa
diatur, daya angkut per satuan waktu dapat dijamin besarnya. Karena fungsinya
yang demikian itulah sistem angkutan umum ini dikenal sebagai Sistem Angkutan
Umum Massa (SAUM).
Yang tidak kalah pentingnya adalah sistem transportasi pengumpan. Pada
beberapa daerah di pusat kota terlihat bahwa pengoperasian bus kecil dan bus
sedang pada ruas jalan terpadat mencapai frekuensi yang sangat tinggi (waktu
antara kendaraan sekitar 6 detik). Kondisi pengoperasian yang demikian
menghambat arus lalulintas dan selanjutnya mempengaruhi pelayanan sistem
angkutan umum. Terlihat juga bahwa pengoperasian bus sedang dan bus kecil
mendominasi sistem angkutan umum di daerah perkotaan bila dibandingkan
dengan jumlah armada bus besar. Akan tetapi, bila ditinjau dari sisi kapasitas yang
tersedia dengan pengoperasian armada angkutan umum seperti itu, maka bus
sedang dan bus kecil menyediakan kapasitas yang kira-kira sama dengan kapasitas
bus besar.
Secara umum penanganan sistem pengelolaan transportasi perkotaan di
daerah tingkat II atau kotamadya belum dilaksanakan secara intensif dan tuntas,
kecuali untuk wilayah DKI-Jakarta. Hal ini disebabkan karena hal berikut.
Organisasi belum terbentuk secara sempurna. Contohnya, hanya
DKIJakarta yang dinilai mempunyai organisasi yang paling siap dan lengkap
dalam melaksanakan aspek transportasi yang dilimpahkan berdasarkan PP Nomor
22 Tahun 1990. Jadi, diperlukan usaha yang nyata untuk mempercepat proses
pembentukan DLLAJ Tingkat II, misalnya melalui Instruksi Gubernur.
Pelimpahan tugas yang tidak begitu jelas. Hal ini dapat ditunjukkan
dengan tumpang-tindihnya aspek transportasi yang dilimpahkan sehingga
menyebabkan tidak jelasnya sistem pengelolaan transportasi yang akan dilakukan.

4.2 Saran
Diharapkan bagi pembaca artikel ini agar dapat memberikan saran dan
masukan yang dapat membangun dan dapat memotivasi penulis agar lebih bagus
lagi dalam menghasilkan karya lainnya. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi
penulis dan bagi pembaca.
DAFTAR PUSTAKA

Tamin, Ofyar Z. 2013. PERENCANAAN DAN PEMODELAN


TRANSPORTASI. Bandung: ITB

Andriansyah. 2015. Manajemen transportasi dalam kajian dan teori. Jakarta:


Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Prof. Dr. Moestopo
Beragama