Anda di halaman 1dari 9

BUSINESS ETHICS

Dian Kartika Rahajeng, Ph.D

CASE 10:
Good Corporate Governance: Garuda Indonesia

Disusun oleh:
Kelompok 3

Amal Fitria Iriansah 464989


Donny Wahyu Niagara 465025
Nabilla Sekarsari 465092

MAGISTER MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2021
Summary

Perusahaan BUMN milik Indonesia di bidang penerbangan, yaitu Garuda Indonesia dalam beberapa
waktu lalu mengalami berbagai macam masalah mencengangkan dan menarik perhatian publik. Masalah
di Garuda yang cukup menyita perhatian publik, yaitu rekayasa laporan keuangan tahun 2018, kemudian
kasus penyelundupan Harley Davidson (HD) dan sepeda Brompton tercatat yang membuat geger
maskapai ini, serta tentu publik tidak lupa dengan kasus perselisihan antara Garuda Indonesia dengan
seorang youtuber Indonesia yang mengupload menu makanan di kelas bisnis Garuda Indonesia yang
ditulis tangan, bukan dicetak atau diketik.

Dari ke 3 kasus di atas, ketiganya dapat dinilai mencederai prinsip Good Corporate Governance (GCG),
yaitu kasus rekayasa laporan keuangan tahun 2018, serta penyelundupan Harley Davidson (HD) dan
sepeda Brompton.

1. Kasus Rekayasa Laporan Keuangan Garuda Indonesia tahun 2018

Garuda Indonesia mencatatkan laba bersih sebesar US$ 809.850 tahun 2018 atau setara Rp 11,33 miliar.
Capaian kinerja Garuda Indonesia ini melonjak tajam dibanding 2017. Garuda Indonesia tahun 2017
tercatat merugi US$ 216,5 juta. Dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Garuda yang digelar 24
April 2019, dua orang komisaris Garuda yakni, Chairal Tanjung dan Dony Oskaria tidak setuju atas
laporan keuangan Garuda Indonesia tersebut. Mereka keberatan dengan pengakuan pendapatan Garuda
Indonesia atas transaksi Perjanjian Kerja Sama Penyediaan Layanan Konektivitas Dalam Penerbangan
antara PT Mahata Aero Teknologi dengan PT Citilink Indonesia, anak usaha Garuda.

Manajemen Garuda Indonesia saat itu sudah mengakui pendapatan dari Mahata sebesar US$ 239,94 juta.
Perincian pendapatan Garuda Indonesia itu, antara lain sebesar US$ 28 juta merupakan bagian dari bagi
hasil yang didapat dari Sriwijaya Air. Padahal, pendapatan Garuda itu masih dalam bentuk piutang atau
tagihan bagi Garuda Indonesia.

Atas laporan keuangan Garuda ini, Bursa Efek Indonesia (BEI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Badan
Pemeriksa Keuangan (BPK), hingga Kementerian Keuangan (Kemenkeu) turun tangan. Kemenkeu
bahkan sudah menjatuhkan sanksi kepada Akuntan Publik (AP) Kasner Sirumapea dan Kantor Akuntan
Publik (KAP) Tanubrata, Sutanto, Fahmi, Bambang & Rekan, sebagai auditor laporan keuangan Garuda
Indonesia tahun 2018.

Ada dua sanksi Kemenkeu atas kantor akuntan publik yang mengaudit keuangan Garuda Indonesia yakni
pembekuan Izin selama 12 bulan terhadap AP Kasner Sirumapea.
Sanksi lainnya atas laporan keuangan Garuda itu adalah peringatan tertulis dengan disertai kewajiban
untuk melakukan perbaikan terhadap Sistem Pengendalian Mutu KAP dan dilakukan review oleh BDO
International Limited.

OJK juga menjatuhkan sanksi ke Garuda Indonesia sebagai emiten, direksi, dan komisaris secara kolektif.
Sebagai emiten, Garuda dikenakan denda Rp 100 juta. Direksi yang tanda tangan laporan keuangan
Garuda Indonesia dikenakan masing-masing Rp 100 juta. Secara kolektif direksi dan Komisaris Garuda
Indonesia minus yang tidak tanda tangan, dikenakan kolektif Rp 100 juta. Garuda Indonesia juga diminta
untuk menyajikan ulang laporan keuangan tahun buku 2018.

BEI juga memberikan sanksi ke Garuda Indonesia berupa Peringatan Tertulis III dan denda sebesar Rp
250 juta. Garuda dianggap menyalahi Peraturan BEI. BEI juga meminta Garuda Indonesia untuk
memperbaiki dan menyajikan kembali Laporan Keuangan Interim PT Garuda Indonesia Tbk per 31 Maret
2019.

2. Kasus Penyelundupan Harley Davidson (HD) dan sepeda Brompton

Pada 17 November 2019 Direktur Utama PT. Garuda Indonesia Ari Askhara, melakukan tindakan tidak
terpuji dengan menyalahgunakan jabatannya untuk menyelundupkan sebuah motor Harley Davidson dan
dua buah sepeda Brompton. Kasus penyelundupan ini muncul di tengah kasus rekayasa laporan keuangan
Garuda Indonesia, yang tentu menambah carut marut masalah di BUMN ini. Barang yang diselundupkan
adalah motor Harley Davidson dan 2 buah sepeda Brompton yang dilakukan menggunakan pesawat
terbaru Garuda Indonesia Airbus A330-900. Sebelum melakukan penerbangan dari Perancis menuju
Cengkareng, Direktur Utama PT. Garuda Indonesia ini bekerjasama dengan stafnya berinisial SAS.

Bahkan untuk kasus ini Menteri Keuangan dan Menteri BUMN ikut turun tangan. Menkeu
menyampaikan bahwa komponen motor harley yang diselundupkan tersebut berkisar sekitar Rp 200
hingga Rp 800 juta. Aksi penyelundupan via Garuda atas Harley Davidson dan sepeda Brompton
membuat negara mencatat kerugian hingga Rp 532 juta sampai Rp 1,5 miliar. Kerugian ini dihitung
berdasarkan kerugian bea cukai atas masuknya selundupan Harley Davidson tipe Softail Deluxe
Motorcycle melalui Garuda seharga Rp 800 juta. Sedangkan sepeda Brompton berjenis Brompton Explore
Edition M6L yang juga ikut diselundupkan berkisar Rp 50 juta sampai dengan Rp 60 juta.

Dari pemeriksaan Bea Cukai terdapat 22 penumpang yang berada di pesawat Garuda Indonesia jenis
A330-900 yang ketahuan menyelundupkan Harley Davidson dan sepeda Brompton dari Toulouse,
Prancis. Petugas Bea Cukai mengetahui hal ini saat melakukan pemeriksaan pesawat baru di Garuda
Maintenance Facility pada tanggal 1 Desember 2019.
Peristiwa ini membuat Direktur Utama PT. Garuda Indonesia sepakat diganti dengan adanya keputusan
dari Menteri BUMN. Direktur Utama tersebut terbukti melanggar aturan dimana setiap orang dilarang
untuk mengekspor barang tanpa menyertakan bukti kepabeanan dan dilarang untuk membongkar barang
impor di luar kawasan pabean atau tempat lain tanpa izin kepala kantor.

Pencopotan Direktur Utama Garuda ini juga berdasarkan bukti laporan dari komite audit Garuda
Indonesia pada tahun 2018. Komite Audit ini menyebutkan adanya permintaan dari Direktur Utama Ari
Askhara yang memberikan instruksi untuk mencari Harley Davidson tipe klasik kepada stafnya.

Tentunya hal ini memberikan citra negatif baik bagi perusahaan maupun pejabat Garuda tersebut baik dari
sisi moral maupun dari sisi hukum.

Pembahasan

1. Jelaskan (tak)tata kelola/(mis)governance yang ada pada Garuda Indonesia.

Suatu perusahaan yang beroperasi di dalam masyarakat harus dapat memperlihatkan tata kelola
yang baik, dibutuhkan akuntabilitas serta transparansi di hadapan masyarakat, sehingga informasi
yang diterima oleh masyarakat harus tepat dan akurat. Good Corporate Governance (GCG)
merupakan sebuah prinsip yang mengatur dan mengendalikan perusahaan dan menciptakan nilai
tambah bagi seluruh stakeholder (Monks,2003).

Misgovernance yang terjadi pada Garuda Indonesia dari kasus penyelundupan motor Harley
Davidson dan sepeda Brompton ini karena adanya pelanggaran terhadap prinsip GCG. Terdapat 5
prinsip GCG, yaitu transparency, accountability, responsibility, independency, dan fairness. Dari
ke 5 prinsip ini, terkait kasus penyelundupan di atas terdapat 4 prinsip yang dilanggar, yaitu :

a. Transparansi (Transparency)

Transparansi membuat dewan direksi dapat bertanggung jawab atas setiap keputusan
yang diambil dan kesalahan yang dilakukan. Transparansi dapat menguatkan kepercayaan
para pemegang saham terhadap kinerja perusahaan, baik dalam hal pengelolaan
perusahaan maupun pengembalian investasi yang lebih baik. Kasus penyelundupan motor
Harley dan sepeda Brompton ini telah terbukti melanggar prinsip ini. Sebagai Direktur
Utama seharusnya penerapan prinsip transparansi ini diterapkan dengan baik.
Penyelundupan ini dilakukan untuk menghindari adanya pembayaran pajak kepada
negara yang berpotensi senilai Rp 532 juta hingga Rp 1,5 miliar.

b. Akuntabilitas (accountability)

Perusahaan harus dapat mempertanggungjawabkan kinerja secara transparan dan wajar.


Pengelolaan perusahaan diarahkan pada pencapaian tujuan organisasi dengan tetap
mempertimbangkan kepentingan pemegang saham dan stakeholder lain.
Dari kasus rekayasa laporan keuangan tahun 2018 yang dilakukan oleh manajemen
Garuda Indonesia, telah melanggar prinsip akuntabilitas, karena mereka telah membuat
rekayasa laporan keuangan dengan tidak menggunakan aturan PSAK yang berlaku.
Berdasarkan penjelasan kasus di atas, maka manajemen oleh regulator diberikan sanksi
dan denda terkait pelanggaran yang telah dilakukan.

c. Tanggung jawab (Responsibility)

Seluruh kebijakan yang diambil oleh dewan direksi harus dapat dipertanggung jawabkan.
Pengambilan keputusan harus didasari dengan tanggung jawab, sehingga mencerminkan
bentuk kepatuhan dari perusahaan terhadap aturan yang berlaku. Tindakan yang
dilakukan oleh Dirut Garuda terkait kasus penyelundupan di atas mencerminkan perilaku
yang bertolak belakang dengan prinsip responsibility. Berdasarkan aturan Kepabeanan
yang berlaku tindakan penyelundupan ini dapat dijerat pidana, karena telah melakukan
penyelundupan di bidang impor.

d. Kewajaran dan kesetaraan (Fairness)

Suatu perusahaan harus dikelola dengan memberikan perlakuan yang wajar dan adil
kepada seluruh pihak yang ikut terlibat dalam berjalannya roda organisasi perusahaan.
Hak dari stakeholder dapat dipenuhi dengan memegang prinsip kesetaraan. Namun
perilaku yang dilakukan oleh Direktur Utama Garuda ini dapat dikatakan tidak memenuhi
prinsip fairness, karena yang dilakukannya merupakan perbuatan di luar kewajaran dan
mencemarkan nama baik perusahaan. Kasus penyelundupan ini menghilangkan norma
yang seharusnya dipegang oleh direksi perusahaan tersebut.

Penyelundupan yang dilakukan oleh Direktur Utama Garuda ini termasuk ke dalam
pelanggaran kode etik dan moral yang berat. Nama baik Garuda dipertaruhkan dan
tercederai sebagai perusahaan publik yang membawa nama Indonesia. Kejadian ini juga
mencederai kepercayaan publik kepada dewan direksi yang seharusnya mengemban tugas
secara amanah. Sebagai badan usaha milik negara dan rakyat Indonesia, Garuda
Indonesia seharusnya dikelola secara profesional, kompeten, berintegritas dan
menjalankan prinsip GCG secara benar, bukan disalahgunakan demi kepentingan pribadi
atau segelintir orang.

2. Uraikan mengenai dilema etika pada kasus tersebut? Jika terdapat dilema etika, pada level apakah
dilema etika tersebut terjadi?

Dari penjelasan terkait kasus penyelundupan motor Harley Davidson dan sepeda Brompton yang
dilakukan oleh Direktur Garuda Indonesia ini ada beberapa dilema etika yang dapat diangkat
sebagai berikut :

● Dilema pada level individu terjadi pada jajaran manajemen sampai dengan staf yang
mengetahui perbuatan tidak terpuji yang dilakukan oleh para direksinya, namun mereka
tidak kuasa untuk melakukan tindakan baik memperingatkan kepada Direksi yang
bersangkutan, maupun melaporkan ke bagian inspektorat atau audit terkait pelanggaran
yang telah dilakukan oleh dewan direksi. Mereka terkesan membiarkan perlakuan ini
dilakukan oleh jajaran direksi karena kuatir mereka akan dicopot dari jabatan atau
posisinya apabila bersuara. Seharusnya jajaran manajemen sampai dengan staf ini ikut
menjaga dan mencegah terjadinya pelanggaran ini, bukan hanya berdiam diri terhadap
perilaku pelanggaran yang dilakukan oleh para direksi perusahaan.

● Dilema pada level korporasi terjadi pada perusahaan Garuda Indonesia, karena perilaku
tindakan penyelundupan ini tidak hanya diketahui oleh jajaran direksi, namun juga
dibantu oleh jajaran dibawahnya (manajerial). Dewan direksi yang seharusnya
memberikan contoh yang baik kepada bawahannya malah menjadi otak dari perilaku
tidak etis di lingkungan perusahaan. Perilaku pelanggaran ini menunjukkan rendahnya
moral pemimpin dari sebuah perusahaan BUMN yang besar. Maka dapat dikatakan
bahwa selama ada pelanggaran di suatu perusahaan, maka budaya di perusahaan tersebut
belum baik.

● Pelanggaran etika kerja ini apabila tidak dihentikan akan memberikan anggapan di level
manajemen sampai dengan staf bahwa merupakan hal yang diperbolehkan menggunakan
fasilitas perusahaan untuk kepentingan pribadi. Tentunya hal ini tidak berdampak baik
bagi budaya dalam perusahaan. Apabila dibiarkan, maka akan menjadi dilema sistemik,
karena banyak karyawan yang akan melakukan pelanggaran ini di dalam maupun
lingkungan kerja, karena dianggap sebagai hal yang diperbolehkan dalam perusahaan.
Apalagi hal ini dilakukan oleh jajaran direksinya. Kasus yang dialami oleh Garuda
Indonesia tidak berdampak ke Industri penerbangan, karena pelanggaran yang dilakukan
murni tindakan pelanggaran yang dilakukan oleh oknum-oknum direksi atau manajemen
terkait.

Tindakan melanggar hukum yang dilakukan oleh Direksi Garuda ini tentu memberikan
efek negatif bagi nama baik perusahaan sebesar Garuda Indonesia. Nilai pasar perusahaan
Garuda di pasar saham tentu akan ikut terpengaruh. Hal ini dapat berimbas negatif ke
kondisi keuangan perusahaan yang masih merugi di tengah kasus rekayasa laporan
keuangan 2018 yang sedang hangat-hangatnya dibahas Apabila kondisi ini dibiarkan,
maka endingnya akan mempengaruhi omset dan profit perusahaan di kemudian hari.

3. Siapakah stakeholders yang terdampak pada kasus tersebut?

Dari uraian kasus di atas ada banyak pelanggaran hukum maupun etika yang dilakukan oleh
pemimpin PT Garuda Indonesia. Keputusan-keputusan yang diambil menyebabkan kerugian
stakeholders perusahaan, seperti:

- Konsumen yang tidak mendapatkan fasilitas sesuai dengan biaya yang dibayarkan serta
pelayanan kurang memuaskan akibat kinerja pramugari yang kurang prima.
- Negara yang harus menanggung kerugian hingga Rp1,5M dari penyelundupan sepeda
Brompton.
- Karyawan PT Garuda Indonesia terkhusus flight attendant yang memiliki jadwal terbang
padat yang dapat mengganggu kestabilan dalam melayani penumpang.
- Garuda Indonesia yang tercoreng nama baiknya dan menurunkan kepercayaan konsumen
akan kinerja dan kualitas layanan.
- Pemegang saham harus menanggung akibat dari perbuatan ini karena adanya pelanggaran
etika bisnis menyebabkan saham Garuda mengalami fluktuasi.
- Jajaran direksi dan karyawan yang diduga terseret kasus pelanggaran etika bisnis
diberhentikan dari jabatannya secara sementara maupun permanen. Pihak-pihak yang
masuk dalam daftar bisa jadi hanya mengikuti perintah karena jika tidak posisi
pekerjaannya akan terancam. Kelompok karyawan inilah yang dirugikan dari kasus
pelanggaran etika yang terjadi di Garuda Indonesia.
- Menteri BUMN mendapat tuntutan dari masyarakat untuk memperbaiki Garuda
Indonesia dan melakukan perombakan.

4. Diskusikanlah kasus tersebut dengan menggunakan sudut pandang prinsip etika berikut ini: (a)
utilitarian, (b) right, (c) justice, dan (d) caring.

a. Utilitarian

Pada kasus ini dapat dikatakan tidak sesuai dengan prinsip utilitarian karena Garuda
Indonesia tercoreng nama baiknya dan menurunkan kepercayaan konsumen akan kinerja
dan kualitas layanan, serta konsumen tidak mendapatkan manfaat sesuai dengan biaya
yang dibayarkan serta pelayanan kurang memuaskan akibat kinerja pramugari yang
kurang prima. Kasus penyelundupan Brompton dan laporan keuangan yang dialami GA
tidak sesuai dengan prinsip utilitarian karena berdampak pada kerugian hingga Rp1,5M.

Sumber: IDN Times diakses pada


https://www.idntimes.com/news/indonesia/axel-harianja/viral-daftar-menu-garuda-indonesia-ditulis-tangan-in
i-penjelasan-rius/2

b. Right

Pendekatan ini memiliki pengaruh besar dalam menghargai dan menghormati setiap
tindakan yang dilakukan orang lain. Namun, jika tindakan tersebut dinilai bisa
mengakibatkan suatu perpecahan atau benturan dengan hak orang lain, maka tindakan
tersebut harus dihindari.

Jajaran manajemen sampai dengan staf yang mengetahui perbuatan tidak terpuji yang
dilakukan oleh para direksinya, namun mereka tidak kuasa untuk melakukan tindakan
baik memperingatkan kepada Direksi yang bersangkutan, maupun melaporkan ke bagian
inspektorat atau audit terkait pelanggaran yang telah dilakukan oleh dewan direksi.
Mereka terkesan membiarkan perlakuan ini dilakukan oleh jajaran direksi karena kuatir
mereka akan dicopot dari jabatan atau posisinya apabila bersuara. Seharusnya jajaran
manajemen sampai dengan staf ini ikut menjaga dan mencegah terjadinya pelanggaran
ini, bukan hanya berdiam diri terhadap perilaku pelanggaran yang dilakukan oleh para
direksi perusahaan. Beberapa praktik GA yang melanggar prinsip right adalah perlakuan
semena-mena terhadap flight attendant dengan memberikan jadwal terbang yang
berlebih. Praktik ini tentu melanggar kewajiban perusahaan terhadap pegawai dalam
kondisi kerja berupa kesehatan dan keamanan.

c. Justice

Setiap pembuat keputusan memiliki kedudukan yang sama, serta bertindak adil. Dalam
memberikan pelayanan kepada pelanggan terdapat praktik yang kurang prima berupa
menu makanan yang terbuat dari kertas yang ditulis manual yang diberikan kepada
perorangan maupun kelompok. Hal ini melanggar compensatory justice yang mana
konsumen tidak mendapat kompensasi yang sesuai dengan tiket yang dibayarkan.

Tindakan melanggar hukum yang dilakukan oleh Direksi Garuda ini tentu memberikan
efek negatif bagi nama baik perusahaan sebesar Garuda Indonesia. Nilai pasar perusahaan
Garuda di pasar saham tentu akan ikut terpengaruh. Hal ini dapat berimbas negatif ke
kondisi keuangan perusahaan yang masih merugi di tengah kasus rekayasa laporan
keuangan 2018 yang sedang hangat-hangatnya dibahas. Misgovernance yang terjadi pada
Garuda Indonesia dari kasus penyelundupan motor Harley Davidson dan sepeda
Brompton ini karena adanya pelanggaran terhadap prinsip GCG, terutama pada
transparency, accountability, responsibility, dan fairness.

d. Caring

Prinsip caring berupa memperhatikan kesejahteraan dan kelayakan praktik bisnis.


Namun, pada kasus ini GA tidak menjalankan prinsip ini. Terbukti dengan konsumen
yang tidak mendapatkan fasilitas sesuai dengan biaya yang dibayarkan serta pelayanan
kurang memuaskan akibat kinerja pramugari yang kurang prima, artinya tidak
memperhatikan kesejahteraan praktik bisnis. Kemudian negara yang harus menanggung
kerugian hingga Rp1,5M dari penyelundupan sepeda Brompton. Selanjutnya, GA tidak
memperhatikan kesejahteraan dan kelayakan praktik bisnis dengan adanya karyawan PT
Garuda Indonesia terkhusus flight attendant yang memiliki jadwal terbang padat yang
dapat mengganggu kestabilan dalam melayani penumpang. Pemegang saham yang tidak
diperhatikan kesejahteraan dan kelayakan praktik bisnisnya, berupa hak akan informasi
yang sesuai dengan prinsip GCG dengan adanya kasus ini. Apabila tidak ditangani
dengan cepat serta tepat maka bukan mustahil pemegang saham akan terdampak langsung
yang mengakibatkan ditariknya dana investasi untuk GA.
Sumber:

Ari Askhara Dicopot dari Dirut, Saham Garuda Turun 2,42%. Terdapat di
https://www.cnbcindonesia.com/market/20191206162738-17-121030/ari-askhara-dicopot-dari-dirut-saha
m-garuda-turun-242 diakses pada 26 Mei 2021.

Saham Garuda Kinclong Pasca Erick Thohir Copot Ari Askhara. Terdapat di
https://finance.detik.com/bursa-dan-valas/d-4815208/saham-garuda-kinclong-pasca-erick-thohir-copot-ari
-askhara diakses pada 26 Mei 2021.

Terseret Kasus Ari Askhara, Semua Direksi Garuda Diberhentikan Sementara. Terdapat di
https://www.suara.com/bisnis/2019/12/07/171655/terseret-kasus-ari-askhara-semua-direksi-garuda-diberh
entikan-sementara diakses pada 26 Mei 2021.