Anda di halaman 1dari 7

BUSINESS ETHICS

Dian Kartika Rahajeng, Ph.D

CASE 8:
Jenson v. Eveleth Taconite Co.

Disusun oleh:
Kelompok 3

Amal Fitria Iriansah 464989


Donny Wahyu Niagara 465025
Nabilla Sekarsari 465092

MAGISTER MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2021
1. Summary Case :

Lois Jenson mengajukan tuntutan terkait pelecehan seksual yang merupakan kasus
pertama yang pernah diajukan di AS. Tuntutan ini atas nama dirinya dan 14 rekan kerja
lainnya yang dipekerjakan di tambang Eveleth Taconite Co. (EVTAC) di Minnesota. Dari
keluhan dalam tuntutan, para pekerja wanita ini mengalami berbagai godaan seksual,
intimidasi, dan bentuk-bentuk pelecehan seksual lainnya yang tidak dikehendaki. Mereka
juga telah didiskriminasi dalam hal pekerjaan, penggajian, pelatihan, dan promosi karir.

Gugatan ini diajukan Jenson setelah 13 tahun dia bekerja di perusahaan ini, dimana dia
merasa menderita di lingkungan kerja yang tidak bersahabat. Pada tahun 1984, dia
mengajukan keluhan resmi kepada Departemen Hak Asasi Manusia Minnesota. Baru
lebih dari 2 tahun kemudian, keluhan ini ditangani oleh Departemen HAM, dimana
diperintahkan kepada salah satu pemilik perusahaan untuk membayar Jenson $11,000
dalam terkait tuntutan ini. Namun, perusahaan menolak, Jenson akhirnya mengajukan
gugatannya kembali pada bulan Agustus tahun 1988.

Tuntutan ini mulai menemui jalan terang, setelah pada bulan Mei 1993, saat Hakim
Richard Kyle memutuskan bahwa perusahaan gagal dalam tugasnya untuk mencegah
pelecehan. Manajemen EVTAC diperintahkan untuk membuat dan menerapkan program
kesadaran terkait pelecehan seksual kepada karyawan.

Langkah selanjutnya adalah pengadilan akan menentukan jumlah ganti rugi yang harus
dibayar oleh perusahaan kepada para penggugat. Selama proses awal sidang, ditunjuk
seorang pejabat khusus oleh hakim untuk mendengar bukti dan membuat rekomendasi.

Akhirnya pada bulan Maret 1996 dirilis laporan akhir terkait kasus pelecehan seksual di
lingkungan kerja EVTAC. Dengan penjelasan pelecehan seksual yang terjadi di laporan
tersebut, maka dianggap sebagai kemenangan atas kasus ini, para penggugat
masing-masing diberikan $10,000. Namun, keputusan itu dibatalkan karena perusahaan
mengajukan banding dan. Akhirnya pada bulan Desember 1998, EVTAC akhirnya setuju
untuk menyelesaikan kasus ini dengan memberi dana sebesar $ 3.5 juta kepada para
penggugat yang masih hidup.
2. Uraikan mengenai dilema etika pada kasus tersebut? Jika terdapat dilema etika, pada
level apakah dilema etika tersebut terjadi?

Dari penjelasan terkait kasus Jenson v. Eveleth Taconite Co. ini ada beberapa dilema
etika yang dapat diangkat sebagai berikut :

- Dilema pada level individu terjadi pada level pekerja pria yang tidak ikut melakukan
tindakan tidak etis pelecehan seksual terhadap karyawan wanita yang nyata-nyata
merupakan rekan kerja mereka. Namun, mereka terkesan membiarkan perlakuan ini
dilakukan oleh oknum rekan kerja pria mereka yang lain. Seharusnya mereka bisa ikut
menjaga dan mencegah terjadinya hal tersebut pada rekan kerja wanita, bukannya malah
berdiam diri terhadap tindakan pelecehan seksual, intimidasi dan tindakan tidak etis ini.

Dilema individu ini juga terjadi di sisi pekerja wanita yang mengalami tindakan
pelecehan dan intimidasi. Mereka dihadapkan pada keputusan apakah mereka harus
berhenti namun kehilangan pendapatan untuk hidup atau harus tetap bekerja tetapi tidak
merasa aman dan nyaman dalam bekerja.

- Dilema pada level korporasi terjadi pada perusahaan EVTAC karena pelecehan ini tidak
hanya terjadi pada level staf tapi juga pekerja wanita yang duduk di manajerial. Mereka
paham dengan situasi yang dihadapi Jenson, namun tidak dapat berbuat banyak akibat
budaya perusahaan yang buruk. Hal ini dibuktikan juga dengan keberatan dari salah satu
direksi perusahaan yang keberatan untuk membayar ganti rugi sebesar $11,000.
Penolakan tanggung jawab menunjukkan kepedulian yang sangat rendah dari
perusahaan terhadap penderitaan yang dialami karyawan wanitanya. Selain itu juga
muncul tindakan diskriminasi antara pekerja pria dan pekerja wanita yang dilakukan
oleh pihak manajemen terkait pekerjaan, salary, training dan promosi jabatan. Pekerja
pria cenderung lebih diutamakan dibanding pekerja wanita.

- Pelanggaran etika kerja ini apabila dibiarkan berlarut-larut tentunya dapat memberikan
anggapan kepada karyawan pria secara keseluruhan bahwa merupakan hal yang biasa
apabila melakukan perbuatan pelecehan seksual dan intimidasi terhadap sesama
karyawan di tempat kerja, baik itu ke wanita maupun juga ke karyawan pria. Tentunya
bila dibiarkan, maka akan menjadi dilema sistemik, karena banyak karyawan yang akan
melakukan pelanggaran ini di dalam maupun lingkungan kerja, karena dianggap hal
yang biasa.

Seharusnya seluruh pihak terkait terutama manajemen perusahaan EVTAC sedari awal
lebih proaktif dalam melindungi seluruh karyawannya dan menciptakan lingkungan
kerja yang aman dan nyaman bagi seluruh pekerjanya. Tentunya apabila kondisi
lingkungan kerja baik, maka produktivitas karyawan akan baik, dan ujung-ujungnya
omset dan profit perusahaan akan meningkat.

Isu gender ini sebenarnya sudah menjadi isu berkepanjangan yang terjadi di dunia kerja
bahkan dalam lingkup global. Maka untuk mengatasinya dibentuk undang-undang yang
mengatur dilarangnya diskriminasi di lingkungan kerja. Salah satu peraturan bisa
ditemukan pada UU no. 23 tahun 2003 pasal 3 dan 4 yang mengatur tentang larangan
diskriminasi dalam memperoleh pekerjaan dan dalam perlakuan. Selain itu juga pada SE
Menaker no. 03/MEN/IV/2011 diatur tentang pedoman pencegahan pelecehan seksual
di dunia kerja.

Efek yang timbul dengan adanya kasus ini terhadap pekerja wanita adalah karyawan
wanita tersebut akan mengalami tekanan batin dan trauma, yang pada akhirnya dapat
menyebabkan karyawan wanita tersebut mengajukan pengunduran diri, karena merasa
harkat dan martabatnya telah tercoreng akibat tindakan pelecehan maupun intimidasi
yang dialaminya.

3. Menurut Anda apakah isu moral utama yang dituntut oleh pekerja wanita di Eveleth?

Diskriminasi terhadap wanita merupakan isu utama dan akar permasalahan yang dialami
pekerja wanita di EVTAC. Selama berkarir di sana, Jenson dan kolega wanitanya bekerja
penuh tekanan dan rasa tidak nyaman. Dengan penuh kesadaran, individu atau pekerja
pria melakukan pelecehan seksual berupa godaan seksual fisik dan verbal serta
intimidasi. Sedangkan perusahaan pun dengan penuh kesadaran melakukan tindakan
diskriminasi dengan tidak memberikan respon atas laporan Jenson dan penolakan untuk
bertanggung jawab secara materiil. EVTAC juga tidak memberikan kesempatan yang
sama antara pekerja wanita dan pria dalam pelatihan, penggajian, maupun promosi.

Isu moral ini terjadi pada level postconventional, karena tuntutan Jenson bertujuan untuk
mendapatkan keadilan di lingkungan kerja tanpa memperdulikan grup atau kelompok
tertentu. Sedangkan rekan kerja pria yang tidak bersalah tapi tidak ingin terlibat berada
pada perkembangan moral level konvensional. Sikap acuh terhadap diskriminasi terjadi
karena mereka tidak ingin dijauhi oleh grup atau kelompok pekerja pria. Seharusnya,
semua pekerja dan perusahaan berada pada level postconventional yang tidak
mengutamakan golongan tertentu dan fokus pada kontrak sosial serta universal.

4. Apakah menurut Anda tuntutan hukum yang diajukan Jenson masuk akal dan bisa
dianggap sebagai class-action? atau hanya kasus hukum individual pekerja wanita di sana
mengingat masing-masing tuntutan individu mungkin akan berbeda?

Menurut kami pengajuan Jenson dapat dikategorikan sebagai class-action, karena


mewakili kolega wanita yang juga mengalami diskriminasi. Tindakannya memenuhi
kriteria class-action, yaitu:

1. Untuk menyelesaikan kasus diskriminasi yang terjadi pada EVTAC, class-action


menjadi pilihan yang paling baik dalam melakukan gugatan karena isu terjadi
pada sekelompok pekerja wanita di sana.
2. Tipe tuntutan yang diajukan oleh pekerja wanita adalah kesetaraan dan
penyelesaian isu diskriminasi.
3. Umumnya class-action membutuhkan penggugat yang banyak untuk mengajukan
gugatan. Menurut kami, banyak merupakan jumlah relatif. Jika 14 orang yang
melakukan tuntutan adalah keseluruhan atau mayoritas karyawan wanita di
EVTAC, maka jumlah tersebut bisa dikatakan sudah memenuhi kriteria ini.
4. Jenson dan semua pihak yang mengajukan gugatan merupakan perwakilan yang
tepat, karena mereka adalah korban diskriminasi.

Menurut kami ada kesamaan tuntutan dari masing-masing individu. Tujuan dari tuntutan
ini bukan semata-mata berupa penggantian kerugian materiil, tapi kesetaraan pada
perusahaan, kesempatan karir dan kenyamanan lingkungan kerja yang mana tidak
dimiliki oleh karyawan wanita EVTAC. Padahal semua karyawan pasti menginginkan
lingkungan dan budaya perusahaan yang sehat dimana semua tim dapat saling
mendukung dan berkembang.

5. Diskusikanlah kasus tersebut dengan menggunakan sudut pandang prinsip etika berikut
ini:

a. Utilitarian:

Tindakan diskriminasi tidak sesuai dengan prinsip utilitarian, karena produktivitas


bisa meningkat jika perusahaan fokus pada kapabilitas pekerja. Sebagai contoh,
performa EVTAC akan lebih baik jika semua pekerja baik wanita maupun pria
mendapat kesempatan yang sama dalam pekerjaan dan pelatihan. Berikan promosi
pada pekerja yang mencapai target tanpa memperhatikan jenis kelaminnya.

Selain itu, penolakan tanggung jawab yang dilakukan oleh EVTAC juga
berdampak pada visible cost berupa penalti class actions, internal cost berupa
biaya pelatihan terkait pelecehan seksual, dan intangible cost berupa penurunan
citra perusahaan di mata konsumen, penurunan produktivitas, dan hilangnya
moral karyawan.

b. Right

Teori Kantian menyatakan bahwa setiap orang memiliki hak untuk diperlakukan
sebagai free person dan memiliki kesetaraan satu sama lain. Pelecehan seksual
yang didapatkan Jenson dan pekerja wanita lain merupakan pelanggaran hak,
karena mereka diperlakukan seolah “lebih rendah” dari pekerja pria. Ketimpangan
ini juga terjadi pada level perusahaan yang tidak dapat mencegah terjadinya
diskriminasi dan tidak ada pembelaan terhadap korban.

c. Justice

Pengalaman buruk yang dialami Jenson melanggar teori justice, karena tindakan
diskriminasi tersebut terjadi hanya karena ia seorang wanita yang mana tidak
relevan terhadap kualitas kerjanya. Selain itu, karyawan wanita di EVTAC tidak
memiliki kesempatan yang sama terkait karir dan pekerjaan. Terdapat praktik
diskriminasi berupa membedakan orang-orang berdasarkan karakteristik jenis
kelamin yang tidak relevan dengan tugas yang harus dilaksanakan.

d. Caring

Penolakan tanggung jawab yang dilakukan EVTAC terhadap isu diskriminasi


membuktikan bahwa tidak adanya kepedulian perusahaan terhadap karyawan
wanitanya. Padahal secara etika kepedulian, EVTAC seharusnya bisa melindungi
karyawannya yang memiliki masalah pada pekerjaan.

Dapat disimpulkan bahwa banyak pelanggaran prinsip etika bisnis yang dilakukan oleh
EVTAC. Untuk mengatasinya, EVTAC perlu melakukan tindakan afirmatif demi
mencapai keadilan bagi semua pihak tanpa dibatasi ras atau jenis kelamin. Contoh
tindakan afirmatif antara lain memberikan pelatihan sesuai dengan kebutuhan dan
kemampuan karyawan, memberikan promosi bagi karyawan berdasarkan evaluasi
kinerja, dan penindakan tegas bagi karyawan yang melakukan diskriminasi.

Tindakan afirmatif dapat meningkatkan produktivitas perusahaan dan kesejahteraan


karyawan. Hal ini sesuai dengan prinsip utilitas karena semua pihak mendapatkan
manfaat yang sama. Selain itu, prinsip etika keadilan juga akan terpenuhi karena semua
karyawan akan mendapatkan kesempatan untuk berkembang dalam karir. Keseriusan
EVTAC menerapkan tindakan afirmatif menjadi bukti keseriusan (theory of care) dan
kepedulian perusahaan dalam menangani kasus dan dalam memberikan hak (rights)
karyawan untuk mendapatkan lingkungan kerja yang nyaman.

Sumber:

Class action. Terdapat di https://www.hukumonline.com/klinik/detail/ulasan/cl2436/class-action/


diakses pada 3 Mei 2021.

Undang-undang yang melarang diskriminasi di dunia kerja. Terdapat di


https://www.ilo.org/wcmsp5/groups/public/---asia/---ro-bangkok/---ilo-jakarta/documents/meetin
gdocument/wcms_759924.pdf diakses pada 4 Mei 2021.