Anda di halaman 1dari 12

PENGELOLAAN TERPADU LIMBAH PASAR

Pendahuluan
Limbah atau sampah pada dasarnya merupakan suatu bahan yang
terbuang atau dibuang dari suatu sumber hasil aktivitas manusia, maupun hasil
proses-proses alam. Limbah dan penanganannya kini menjadi suatu masalah
yang kian mendesak. Sumber limbah yang mencemari perairan dapat
dikelompokan menjadi tiga, yaitu; (a) yang berasal dari darat (land-based
pollution); (b) dari kegiatan di laut (marine-based pollution); dan (c) sumber
limbah yang berasal dari udara (atmospheric deposition). Sumber limbah yang
berasal dari darat merupakan sumber limbah yang berasal dari kegiatan yang
dilakukan di darat seperti kegiatan rumah tangga (domestik), kegiatan industri,
dan kegiatan pertanian. Sumber limbah yang berasal dari darat ini masuk
kedalam perairan melalui tiga cara yaitu (1) melalui aliran air sungai; (2) melalui
aliran air permukaan (run-off); (3) melalui aliran air tanah (ground water).
Permasalahan limbah atau sampah pada dasarnya bukan hanya masalah
lingkungan yang kotor, seperti badan air yang tercemar atau bau busuk dari
sampah yang tertumpuk akibat tidak terkelola selama berhari-hari, namun
permasalahan juga harus dilihat dengan pendekatan keterkaitan ekologis antar
ekosistem pesisir dan daerah aliran atas dalam penataan ruang wilayah.
Keberhasilan penanggulangan limbah kawasan pesisir dan laut sangat
ditentukan oleh keberhasilan upaya pengelolaan limbah di daratan (lahan atas,
upland areas).
Gambar 1. Skema aliran limbah pasar
Saluran
Cair
pembuangan

Limbah
pasar Swasta Daur ulang
Dikumpulkan
Pemerintah TPA

Padat

Tidak Terbuang ke Laut


Teluk
terkumpul sungai Jakarta

1
Sampah pasar mempunyai jenis dan karakteristik seperti sampah rumah
tangga hanya bervariasi dan jumlahnya lebih banyak, serta kebanyakan bahan
organiknnya lebih besar. Adapun batasan limbah pasar dalam kajian ini berupa
sisa kegiatan aktivitas pasar yang terdiri dari limbah organik (sisa makanan,
daun),dan an organik (kertas, plastik, kayu, gelas kaca dan lain-lain).

Tujuan
Tujuan dilakukannya kajian ini adalah untuk membuat program
perencanaan pengelolaan limbah pasar secara terpadu.

Hasil dan Pembahasan


Berdasarkan hasil wawancara dan observasi di lapangan maka dapat
dikumpulkan beberapa issu sekitar pengelolaan limbah khususnya limbah pasar
yang masuk kedalam sungai yaitu :
1. Tersedianya akses ke sungai
Keberadaan pasar di pinggiran sungai memberi kemudahan kepada para
penjual untuk membuang sampah-sampah sisa di sungai. Berdasarkan hasil
pengamatan di lapangan, para pedagang merasa lebih praktis untuk
membuang sampahnya di sungai, jika dibandingkan dengan keharusan untuk
membuang sampah mereka ke tempat penampungan yang disediakan.
Keadaan ini diperparah jika lokasi tempat penampungan itu tidak mudah
dijangkau oleh para pedagang. Pada kasus di beberapa pasar, lokasi tempat
penampungan sampahnya berada di sisi terjauh dari pasar sehingga sangat
menyulitkan pedagang untuk membuang sampahnya.

2. Sampah yang dibuang bermanfaat bagi organisme perairan


Berdasarkan hasil wawancara maka diketahui bahwa adanya anggapan dari
beberapa pedagang yang berpikir kalau sampah yang mereka buang itu
merupakan makanan bagi ikan yang ada di sungai. Secara logis hal ini
dimungkinkan jika ternyata sampah yang dibuang itu berupa sisa-sisa
makanan, namun ternyata kebanyakan sampah yang dibuang juga berupa
sampah plastik.

3. Kapasitas dan lokasi Tempat Penampungan Sampah


sementara yang tidak memenuhi syarat.
Tempat Pembuangan Sampah (TPS) yang ada di pasar tidak memiliki
kapasitas yang cukup serta berada pada lokasi yang tidak strategis.

2
Kapasitas tempat pembuangan sampah yang ada di pasar tersebut tidak
cukup untuk menampung sampah yang dihasilkan setiap harinya. Hal ini
merupakan salah satu penyebab penanganan sampah di pasar tidak
maksimal karena fasilitas TPS yang tersedia tidak representatif. Dalam hal
ini TPS yang ada tidak mampu menampung seluruh limbah yang diproduksi
sehingga meskipun semua limbah padat itu diarahkan ke TPS, tetap ada
yang tidak terangkut sehingga menimbulkan pencemaran di sekitar TPS.
Lebih lanjut sampah yang tidak terangkut ini kemungkinan terbuang keluar
TPS kemudian bisa masuk ke badan sungai. Selain itu, lokasi TPS tersebut
terkadang tidak strategis sehingga tidak mudah dicapai oleh keseluruhan
pengguna pasar.

4. Koordinasi antar pemerintah daerah yang belum padu


Belum ada koordinasi terpadu antar pemerintah daerah yang wilayahnya
dilalui oleh DAS. Hal ini menyebabkan berbagai kebijakan yang ditempuh
oleh pemerintah daerah tidak akan maksimal implementasinya jika tidak ada
dukungan dari pemerintah daerah yang berwenang mengelola bagian tengah
dan hulu sungai.

5. Limbah pasar tidak mendapatkan prioritas dalam


pengelolaan limbah di sungai
Program-program pengelolaan DAS seperti PROKASIH baru pada tataran
pengawasan limbah industri, sedangkan untuk limbah yang dihasilkan pasar
belum mendapat perhatian. Alasan yang dikemukakan adalah limbah yang
dihasilkan industri memberi dampak yang lebih besar jika dibandingkan
dengan limbah yang dihasilkan sektor lainnya.

Rencana Pengelolaan Limbah Pasar Berbasis DAS


Berbagai permasalahan yang mungkin ditimbulkan oleh masuknya sampah
dari sungai telah banyak diketahui oleh masyarakat berikut beberapa contoh
yang telah terjadi beberapa tahun ini berupa banjir di bagian hilir yang
diakibatkan oleh intensitas hujan yang tinggi di bagian hulu. Namun hal ini bukan
berarti memberi kesadaran kepada masyarakat dan pemerintah untuk
mengantisipasi hal ini secara keseluruhan. Dalam hal ini diperlukan suatu
langkah-langkah pengelolaan yang diharapkan dapat mengatasi permasalahan
ini secara keseluruhan dan berkelanjutan.

3
Oleh karena itu kebijakan pengelolaan limbah berbasis DAS perlu dibuat
dan dilaksanakan, antara lain untuk mendorong semua aktor yang terlibat dalam
aktivitas pada skala DAS saling menyadari dampak yang ditimbulkan oleh
pembuangan limbah di daerah aliran sungai . Dengan demikian dapat dilakukan
evaluasi dini terhadap gejala-gejala terjadinya degradasi lingkungan dan
tindakan perbaikan yang diperlukan dapat segera dilaksanakan.
Berdasarkan isu permasalahan yang diperoleh selama melakukan
observasi diperlukan suatu upaya pengelolaan limbah pasar yang berbasis DAS.
Pengelolaan limbah pasar harus mencakup dimensi ekonomi, sosial dan ekologi.
Dimensi ekonomi menekankan pada peningkatan pendapatan dari pola
pengelolaan yang dilakukan. Dimensi sosial mencakup aspek proses
pengelolaan yang partisipatif dan pemberdayaan masyarakat. Sedangkan
dimensi ekologi menekankan pada pentingnya pengelolaan limbah yang
mendukung fungsi dasar ekosistem sehingga tidak mengganggu fungsi ekologi.
Pengelolaan limbah pasar ini melalui pendekatan ekosistem DAS dapat
dilakukan dibagi menjadi tiga bagian yaitu :

1. Arahan Teknis
a. Pendekatan ekosistem DAS
Pentingnya posisi DAS sebagai unit pengelolaan yang utuh merupakan
konsekuensi logis untuk menjaga kesinambungan pemanfaatan bagian hulu
sampai ke hilir. DAS bagian hulu dicirikan sebagai daerah konservasi, DAS
bagian hilir merupakan daerah pemanfaatan. DAS bagian hulu mempunyai arti
penting terutama dari segi perlindungan fungsi tata air, karena itu setiap
terjadinya kegiatan di daerah hulu akan menimbulkan dampak di daerah hilir
dalam bentuk perubahan fluktuasi debit dan transport sedimen serta material
terlarut dalam sistem aliran airnya. Dengan perkataan lain ekosistem DAS,
bagian hulu mempunyai fungsi perlindungan terhadap keseluruhan DAS.
Perlindungan ini antara lain dari segi fungsi tata air, dan oleh karenanya
pengelolaan DAS hulu seringkali menjadi fokus perhatian mengingat dalam suatu
DAS, bagian hulu dan hilir mempunyai keterkaitan biofisik melalui daur hidrologi.
Terkait dengan masalah limbah pasar, maka dalam pengelolaannya
diperlukan koordinasi dinas kebersihan bagian hulu dan hilir. Pasar di bagian
hulu umumnya merupakan pasar tradisional, yang sebagian besar sampah yang
dihasilkan adalah organik. Demikian halnya dengan pasar yang berada di
daerah hilir yang umumnya adalah pasar modern dimana limbah anorganik lebih

4
dominan. Adanya perbedaan semacam ini menyebabkan kegiatan pengelolaan
yang akan dilakukan sebaiknya mengikuti trend tersebut. Untuk daerah hulu,
pola pengelolaan limbahnya diarahkan untuk mengelola limbah organik seperti
kegiatan komposting. Untuk pasar di bagian hilir yang lebih banyak
menghasilkan limbah organik, kegiatan daur ulang merupakan solusi yang
pantas untuk diajukan, dengan demikian fokus pengelolaan di bagian hulu dan
hilir akan berbeda. Dengan demikian jumlah limbah pasar yang masuk ke DAS
dapat diminimalisasi. Penerapan proses produksi bersih yang menekankan pada
daur ulang (recycle) dan penggunaan kembali (reuse), serta pengurangan
(reduction) limbah yang dihasilkan seharusnya lebih digalakkan.
Pengelolaan sampah dengan mengacu pada fungsi DAS dapat dibuat
beberapa rekomendasi teknis antara lain :
Tabel 1. Rekomendasi Teknis Pengelolaan Limbah Pasar
No. DAS Kegiatan Teknis Keterangan
1. Hulu 1. Membuat sumur resapan di dekat
pasar
2. Kegiatan penghijauan dekat
lingkungan pasar dapat dilakukan
3. Optimalisasi kegiatan komposting
4. Kebijakan zero waste management

2. Tengah 1. Kegiatan komposting dilakukan


sebagai upaya peningkatan fungsi
retensi ekologi alur sungai.
2. Perbaikan sistem drainase di
lingkungan pasar.
3. Pembuatan perangkap sampah di
saluran pembuangan
3. Hilir 1. Pembersihan limbah di sungai sebagai
bagian dari normalisasi hilir sungai
2. Fokus untuk pengolahan limbah
anorganik
3. Normalisasi saluran buatan sebagai
pembuangan limbah cair

5
b. Pengaturan tata ruang wilayah

Salah satu persoalan pengelolaan DAS dalam konteks wilayah adalah


letak hulu sungai yang biasanya berada pada suatu kabupaten tertentu dan
melewati beberapa kabupaten serta daerah hilirnya berada di kabupaten lainnya.
Oleh karena itu, daerah-daerah yang dilalui harus memandang DAS sebagai
suatu sistem terintegrasi. Artinya tanggung jawab perilaku terhadap sungai tidak
mempunyai hulu sungai, namun merupakan tanggung jawab bersama.
Selama ini metodologi perencanaan DAS kurang memperhatikan aspek-
aspek yang mengintegrasikan berbagai kepentingan kegiatan pembangunan,
misalnya antara kepentingan pengembangan pertanian, kepentingan industri,
kepentingan daya dukung lingkungan (ecological demand). Kawasan hulu
mempunyai peran penting yaitu selain sebagai tempat penyedia air untuk
dialirkan ke daerah hilirnya bagi kepentingan pertanian, industri, pasar dan
pemukiman juga berperan sebagai pemelihara keseimbangan ekologis untuk
sistem penunjang kehidupan. sehingga kesalahan pemanfaatan akan berdampak
negatif pada daerah hilir. Dengan demikian diperlukan penataan ruang DAS yang
baik dan benar akan meminimalkan beban pencemaran yang berasal dari
daratan lahan atas (hulu) terhadap hilir, yang secara langsung dapat mengurangi
beban limbah yang masuk ke laut.
Sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 47/1997 mengenai Rencana
Tata Ruang Wilayah Nasional, maka penataan ruang DAS harus mengikuti
konsep perencanaan kawasan yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1. Concern nasional yang penataan ruangnya diprioritaskan
2. Melibatkan lintas sektor dan lintas wilayah
3. Sebagai satu kesatuan ekosistem
4. Mempunyai pengaruh yang besar terhadap upaya pengembangan
tata ruang di wilayah sekitarnya.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa penataan ruang yang
dilakukan haruslah terintegrasi. Menurut Djakapermana (2004), konsep ini jika
diimplementasikan kedalam pola pengelolaan kawasan seharusnya mencakup
penataan ruang DAS yang berada di kawasan tersebut dengan tujuan
meningkatkan kapasitas pengendalian banjir, kualitas lingkungan hidup serta
pelayanan utilitas kota.
Dalam hal pengendalian limbah yang masuk ke sungai khususnya yang
berasal dari pasar, maka penataan ruang menjadi salah satu aspek yang harus

6
di perhatikan. Pengaturan tata ruang yang baik dapat menutup peluang
stakeholder yang ada di pasar untuk berinteraksi lanngsung dengan sungai.
Idealnya, posisi pasar tidak berada di sempadan sungai. Tujuannya selain untuk
memperkecil akses ke sungai, juga mencegah kemungkinan pasar tersebut
terkena banjir jika air di sungai meluap. Penataan ruang ini perlu
mempertimbangkan kebutuhan masyarakat dalam jangka panjang, sehingga
aspek ini termasuk pola pengelolaan yang bersifat jangka panjang.

c. Fasilitas tempat penampungan sampah sementara yang representatif

Perbaikan fasilitas penampungan limbah sementara (TPS) dilakukan


dengan mengukur kemampuan produksi limbah di pasar tersebut serta trend
perubahan yang terjadi (perluasan lahan pasar, peningkatan jumlah pedagang,
jenis bahan dagangan serta aktivitas masyarakat di pasar tersebut). Dengan
demikian diharapkan perbaikan fasilitas, semua limbah padat bisa tertangani.
Selain perbaikan kapasitas daya tampung, pemilihan lokasi TPS yang
strategis turut menunjang pengelolaan limbah di pasar. Hal ini sulit
dilaksanakan, karena lokasi strategis yang berarti mampu terjangkau dari seluruh
pasar telah terpakai oleh kegiatan perdagangan. Diperlukan suatu kesepakatan
bersama yang diinisiasi oleh Badan Pengelola pasar tersebut.

d. Strategi Pemanfaatan Limbah

Paradigma baru dalam pengelolaan sampah memberikan pengertian


bahwa sampah merupakan potensi sumberdaya yang dapat dimanfaatkan
sehingga mempunyai nilai tambah sebagai produk daur ulang maupun produk
baru. Dalam strategi pemanfaatan limbah pasar dapat dilakukan melalui konsep
3R yaitu Reduce, Reuse, Recycling.
Mengurangi jumlah sampah (R1-reduce); masyarakat harus mempunyai
kesadaran sebagai pemilik dan konsumen lingkungan bahwa kegiatan daur
ulang mempunyai dampak pada penurunan jumlah sampahyang dibuang di
lingkungannya.
Menggunakan kembali material bekas pakai (R2-reuse); mendorong
penggunaan bahan-bahan/material yang subtainable dan reusable, yang
diharapkan mempunyai masa pakai yang lebih panjang dan bersedia
membeli atau menerima barang bekas pakai

7
Mendaur ulang sampah (R3-recyling) ; daur ulang sampah adalah
merupakan proses tiga tahap yang meliputi :(1) pengumpulan material bekas
pakai (sampah pasar) yang dapat didaur ulang (re-usable), (2) pembuatan
kembali (re-manufacturing) menjadi produk baru yang sejenis atau berbeda,
(3) pembelian produk hasil daur ulang.

Sampah
Pasar

Organik Anorganik

TPS TPS
Tepung protein

Instalasi Pembakaran
Gas Composting Daur
Limbah

Kompos
Tidak dapat
Sisa Dapat dibakar Sisa Gas
dibakar

Atmosfer

Bahan baku
Sanitary Reklamasi Energi
industri

Gambar 2. Bagan alir rencana pemanfaatan sampah pasar

Untuk melaksanakan strategi Reduce, Reuse dan Recycling maka


dilakukan beberapa langkah sebagai berikut :
A Penyiapan perangkat hukum
Agar program 3R dapat di implementasikan dengan baik perlu perangkat
hukum/peraturan yang mendukung seperti :
pasar harus mempunyai tempat sampah yang memisahkan sampah kering
dengan sampah basah
pemberian subsidi dan/atau membantu pemodalan, pemasaran,
penampungan produk kompos berlebih bagi produsen kompos
memberikan insentif bagi produsen yangg menggunakan bahan baku
material bekas pakai.
Mendorong pengurangan jumlah sampah pada sumber melalui peraturan,
dan penyediaan fasilitas daur ulang
B. Promosi pengolahan sampah 3R:

8
pemilihan sampah mulai dari sumbernya (pewadahan terpisah untuk
sampah basah dan kering) dan pengumpul dan pengangkutan yang juga
terpisah
promosi penggunaan kompos yang lebih menguntungkan
penyebarluasan pertimbangan sosial dan ekonomi :
Subsidi produsen kompos sebagai kompensasi pengurangan sampah
yang dibuang di TPA
Menampung kelebihan produksi kompos di TPA
Membantu pemasaran kompos
C. Membeli produk yang mempunyai produk daur ulang.
Agar stretegi R ke tiga (recyling)/daur ulang berhasil, maka :
Membuat kebijakan bersama dimana pebinis dan konsumen harus
membeli produk yang dibuat dari material yang mempunyai kandungan
bahan daur ulang (recyled-content)
Komitment bersama untuk membeli produk yang mempunyai kandungan
bahan daur ulang, sehingga akan menyakinkan pabrik untuk
menggunakan bahan baku recyled-content pada pembuatan produk baru.
D. Kebijakan yang membuat polusi , harus membayar (making the polluter
pay)
Kebijakan ini bertujuan agar seluruh stakeholder di lingkungan pasar tidak
menghasilkan sampah yang banyak. Penerapan pola ini harus disosialisasikan
secara menyeluruh, mengingat aturan semacam ini dapat menimbulkan antipati
dari para pengguna pasar sehingga dapat menimbulkan konflik.

Tabel 2. Rencana Pelaksanaan 3-R di lingkungan pasar


Penanganan 3-R Cara Pengerjaan
R-1  Berikan insentif oleh produsen bagi pembeli yang
(reduse) mengembalikan kemasan yang dapat digunakan
kembali
 Berikan tambahan biaya bagi pembeli yang
meminta yang meminta kemasan/bungkusan untuk
produk yang dibelinya.
 Sediakan produk yang kemasannya tidak
menghasilkan sampah dalam jumlah besar
 Kenakan biaya tambahan untuk permintaan kantong
plastik belanja

9
 Jual atau berikan sampah yanng telah terpilah
kepada yang memerlukannnya
R-2 (Reuse)  Gunakan kembali sampah yang masih dapat
dimanfaatkan untuk produk lain, seperti pakan
ternak
 Berikan insentif bagi yang membawa wadah sendiri,
atau wadah belanjaan yang diproduksi oleh
swalayan yang bersangkuatn sabagai bukti
pelanggan setia
 Menyediakan perlengkapan untuk pengisian
kembali produk umum isi ulang (minyak, minuman
ringan)

R-3  Jual produk-produk hasil daur-ulang sampah


(recycling) dengan lebih menarik
 Berikan insentif kepada masyarakat yang membeli
barang hasil daur-ulang sampah
 Lakukan penanganan sampah organik menjadi
kompos atau memanfaatkanya sebagai kebutuhan
 Lakukan penanganan sampah organik

2. Arahan Sosial Ekonomi


Pemberdayaan Masyarakat
Program pengolahan limbah pasar mempunyai tingkat kegagalan yang
tinggi bila masyarakat belum atau kurang menyadari manfaat program tersebut
terhadap dirinya sendiri maupun terhadap lingkungan. Untuk memberdayakan
masyarakat dan swasta dalam masalah lingkungan pasar perlu melakukan
terobosan antara lain :
 Sosialisasi yang dilakukan melalui sarasehan. Workshop, seminar,
desiminasi, pendidikan (pra-sekolah,Sd,SLTP,SMU, PT dan pendidikan
lainnya)
 Sosialisasi melalui mass media, elektronik, TV, LSM/Kelompok peduli
lingkungan, mimbar agama dan lain-lain
 Penyuluhan partisipatif kepada petani, budidaya tanaman hias, pengelola
lapangan golf mengenai pemanfaatan kompos

10
 Perencanaan partisipatif dengan penyusunan rencana kegiatan, penentuan
bentuk dan tingkat keterlibatan masyarakat
 Mendorong warga untuk bekerjasama dengan pemulung yang terintegrasi
dimulai dari warga masyarakat, pemulung, petugas sampah dan Pengelola
Kebersihan
 Latihan Pengembangan Kemampuan Kewirausahaan dan Pengelolaan
Kelompok Usaha bagi para pemulung atau sektor usaha kecil menengah di
bidang daur ulang.
 Latihan Peningkatan Teknis untuk mengikuti produk yang layak pasar
untuk pengembangan kemampuan menangkap kebutuhan pasar.
 Bantuan Teknis pendampingan terhadap masyarakat sampah dalam
perencanaan pasar dan bantuan mendapatkan akses pinjaman modal
kredit

Pemberdayaan Kelembagaan di lingkungan pasar


Keberhasilan upaya penanganan sampah di kawasan pasar dapat dicapai
jika dilakukan secara bersama oleh semua stakeholder yang ada di dalam pasar.
Adanya rasa memiliki dapat diciptakan dengan melibatkan dalam semua
program, akan lebih baik lagi jika dapat dapat memanfaatkan lembaga-lembaga
informal yang telah berdiri di pasar tersebut seperti kelompok pedagang atau
kumpulan pengemudi ojek sepeda motor. Memberdayakan lembaga informal
yang telah eksis di pasar akan memperkuat sistem pengelolaan sampah yang
diterapkan. Insentif yang dapat diberikan kepada lembaga ini baik berupa
materi, ketrampilan pengolahan sampah serta bantuan pendampingan teknis.

3. Arahan kebijakan
Latar belakang arahan kebijakan adalah karena adanya berbagai kemungkinan
hambatan yang terjadi dalam pengelolaan limbah ini yang harus dicermati.
Penanganan secara parsial tidak akan berhasil, karena DAS melewati berbagai
wilayah administrasi yang berbeda kebijakan. Dengan demikian diperlukan
suatu komitmen yang kuat dari pemerintah untuk melakukan penanganan limbah
ini dengan melakukan penanganan secara terpadu. Kawasan DAS merupakan
satu kawasan yang sebenarnya tidak boleh terpisah pengelolaannya. Dalam
arahan kebijakan ada dua hal penting yang dilaksanakan, yaitu :

Keterpaduan antara instansi yang terkait

11
Pengelolaan limbah pasar yang terpadu memerlukan suatu koordinasi yang
baik antara beberapa instansi pemerintah, antara lain pihak pengelola pasar,
Dinas Kebersihan dan Dinas Tata Ruang. Kerjasama antar instansi ini
diperlukan sehingga tidak terjadi hambatan dalam aliran sampah hingga sampai
di tempat penampungan akhir.
Selain itu, mengingat DAS melewati berbagai wilayah administrasi, maka
keterpaduan antara pemerintah daerah harus terjalin. Dengan demikian
diharapkan tidak terjadi kebijakan di satu daerah akan memberi dampak negatif
di daerah lain.
Keterpaduan yang diharapkan berupa kerjasama di bidang teknis berupa
pola pengangkutan, pengolahan sampah, penataan TPA. Selain itu kerjasama
dalam menetapkan pemanfaatan ruang di kawasan terkait.

Perubahan skala prioritas

Seperti halnya dengan keberadaan industri dan pemukiman di sempadan


sungai, maka posisi pasar yang berada di sempadan akan memberi dampak
buruk bagi lingkungan sungai jika tidak ditangani. Program Kali Bersih yang
dilaksanakan oleh pemerintah dapat diperluas tidak hanya menangani limbah
yang dihasilkan oleh industri tetapi juga yang dihasilkan oleh pemukiman dan
pasar.

12