Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN PEMENUHAN KEBUTUHAN RASA NYERI

Disusun Oleh :
ISTIATI CICI ANTIKA ( 2014901066)

POLITEKNIK KESEHATAN TANJUNGKARANG


JURUSAN KEPERAWATAN
PRODI PROFESI NERS
TAHUN AKADEMIK 2020/ 2021
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN PEMENUHAN
KEBUTUHAN RASA NYERI DENGAN DIAGNOSA MEDIK POST SC
A. Konsep Penyakit
1. Devinisi Diagnosa Medis
Seksio sesarea adalah sebuah bentuk melahirkan anak dengan melakukan
sebuah irisan pembedahan yang menembus abdomen seorang ibu dan uterus untuk
mengeluarkan satu bayi atau lebih. Cara ini biasanya dilakukan ketika kelahiran
melalui vagina akan mengarah pada komplikasi-komplikasi, kendati cara ini semakin
umum sebagai pengganti kelahiran normal. (Yusmiati, 2007)
Section caesarea yaitu tindakan operasi untuk mengeluarkan bayi dengan melalui
insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan syarat rahim dalam keadaan utuh
serta berat janin diatas 500 gram (Maryunani, 2016).
2. Etiologi
Manuaba (2002) indikasi ibu dilakukan sectio caesarea adalah ruptur uteri iminen,
perdarahan antepartum, ketuban pecah dini. Sedangkan indikasi dari janin adalah
fetal distres dan janin besar melebihi 4.000 gram. Dari beberapa faktor sectio
caesarea diatas dapat diuraikan beberapa penyebab sectio caesarea sebagai berikut:
a. CPD ( Chepalo Pelvik Disproportion )
Chepalo Pelvik Disproportion (CPD) adalah ukuran lingkar panggul ibu tidak
sesuai dengan ukuran lingkar kepala janin yang dapat menyebabkan ibu tidak
dapat melahirkan secara alami. Tulang-tulang panggul merupakan susunan
beberapa tulang yang membentuk rongga panggul yang merupakan jalan yang
harus dilalui oleh janin ketika akan lahir secara alami. Bentuk panggul yang
menunjukkan kelainan atau panggul patologis juga dapat menyebabkan kesulitan
dalam proses persalinan alami sehingga harus dilakukan tindakan operasi.
Keadaan patologis tersebut menyebabkan bentuk rongga panggul menjadi
asimetris dan ukuran-ukuran bidang panggul menjadi abnormal.
b. PEB (Pre-Eklamsi Berat)
Pre-eklamsi dan eklamsi merupakan kesatuan penyakit yang langsung disebabkan
oleh kehamilan, sebab terjadinya masih belum jelas. Setelah perdarahan dan
infeksi, pre-eklamsi dan eklamsi merupakan penyebab kematian maternal dan
perinatal paling penting dalam ilmu kebidanan. Karena itu diagnosa dini amatlah
penting, yaitu mampu mengenali dan mengobati agar tidak berlanjut menjadi
eklamsi.
c. KPD (Ketuban Pecah Dini)
Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda persalinan
dan ditunggu satu jam belum terjadi inpartu. Sebagian besar ketuban pecah dini
adalah hamil aterm di atas 37 minggu, sedangkan di bawah 36 minggu
d. Bayi Kembar
Tidak selamanya bayi kembar dilahirkan secara caesar. Hal ini karena kelahiran
kembar memiliki resiko terjadi komplikasi yang lebih tinggi daripada kelahiran
satu bayi. Selain itu, bayi kembar pun dapat mengalami sungsang atau salah letak
lintang sehingga sulit untuk dilahirkan secara normal.
e. Faktor Hambatan Jalan Lahir
Adanya gangguan pada jalan lahir, misalnya jalan lahir yang tidak memungkinkan
adanya pembukaan, adanya tumor dan kelainan bawaan pada jalan lahir, tali pusat
pendek dan ibu sulit bernafas.
f. Kelainan Letak Janin
1) Kelainan pada letak kepala
a) Letak kepala tengadah
Bagian terbawah adalah puncak kepala, pada pemeriksaan dalam teraba
UUB yang paling rendah. Etiologinya kelainan panggul, kepala bentuknya
bundar, anaknya kecil atau mati, kerusakan dasar panggul.
Presentasi muka
b) Letak kepala tengadah (defleksi), sehingga bagian kepala yang terletak
paling rendah ialah muka. Hal ini jarang terjadi, kira-kira 0,27-0,5 %.
c) Presentasi dahi
Posisi kepala antara fleksi dan defleksi, dahi berada pada posisi terendah
dan tetap paling depan. Pada penempatan dagu, biasanya dengan
sendirinya akan berubah menjadi letak muka atau letak belakang kepala.
2) Letak Sungsang
Letak sungsang merupakan keadaan dimana janin terletak memanjang dengan
kepala difundus uteri dan bokong berada di bagian bawah kavum uteri.
Dikenal beberapa jenis letak sungsang, yakni presentasi bokong, presentasi
bokong kaki, sempurna, presentasi bokong kaki tidak sempurna dan presentasi
kaki (Saifuddin, 2002).
3. Patofisiologi

4. Pemeriksaan Penunjang
Berikut adalah beberapa pemeriksaan penunjang untuk pasien section caesaria.
a. Elektroensefalogram ( EEG ), Untuk membantu menetapkan jenis dan fokus dari
kejang.
b. Pemindaian CT, Untuk mendeteksi perbedaan kerapatan jaringan.
c. Magneti resonance imaging (MRI), Menghasilkan bayangan dengan
menggunakan lapangan magnetik dan gelombang radio, berguna untuk
memperlihatkan daerah – daerah otak yang itdak jelas terliht bila menggunakan
pemindaian CT.
d. Pemindaian positron emission tomography ( PET ), Untuk mengevaluasi kejang
yang membandel dan membantu menetapkan lokasi lesi, perubahan metabolik
atau alirann darah dalam otak.
e. Uji laboratorium, Fungsi lumbal: menganalisis cairan serebrovaskuler, Hitung
darah lengkap: mengevaluasi trombosit dan hematocrit, Panel elektrolit, Skrining
toksik dari serum dan urin, AGD, Kadar kalsium darah, Kadar natrium darah,
Kadar magnesium darah.
5. Penatalaksanaan Medis
a. Periksa dan catat tanda - tanda vital setiap 15 menit pada 1 jam pertama dan 30
menit pada 4 jamkemudian.
b. Perdarahan dan urin harus dipantau secara ketat.
c. Pemberian tranfusi darah, bila terjadi perdarahan post partum.
d. Pemberian antibiotika.
Walaupun pemberian antibiotika sesudah sesar efektif dapat dipersoalkan,
namun pada umumnya pemberiannya dianjurkan.
e. Mobilisasi.
Pada hari pertama setelah operasi penderita harus turun dari tempat tidur
dengan dibantu, paling sedikit 2 kali. Pada hari kedua penderita sudah dapat
berjalan ke kamar mandi dengan bantuan.

B. Konsep Pemenuhan Kebutuhan Dasar


1. Pengertian Kebutuhan Rasa Nyeri
Pengalaman sensorik atau emosional yang berkaitan dengan kerusakan jaringan
actual atau fungsional, dengan onset mendadak atau lambat Dari berintensitas ringan
hingga berat yang berlangsung kurang dari 3 bulan.
2. Anatomi Fisiologi
Terdapat tiga komponen fisiologis dalam nyeri yaitu resepsi, presepsi, dan relaksi.
Stimulus penghasil nyeri mengirimkan impuls melalui serabut saraf perifer. Serabut
nyeri memasuki medula spinalis dan menjalani salah satu dari beberapa rute saraf dan
akhirnya sampai di dalam masa berwarna abu-abu di medula spinalis. Terdapat pesan
nyeri dapat berinteraksi dengan sel-sel saraf inhibitor, mencegah stimulus nyeri
sehingga tidak mencapai otak atau ditransmisi tanpa hambatan ke korteks serebral,
maka otak menginterpretasi kualitas nyeri dan memproses informasi tentang
pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki serta asosiasi kebudayaan dalam upaya
mempersiapkan nyeri (Wahyudi & Abd.Wahid, 2016).
3. Asuhan Keperawatan
a. Pengkajian
Pada pengkajian klien dengan sectio caesaria, data yang dapat ditemukan meliputi
distress janin, kegagalan untuk melanjutkan persalinan, malposisi janin, prolaps
tali pust, abrupsio plasenta dan plasenta previa.
1) Identitas atau biodata klien.
Meliputi, nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, tanggal masuk rumah
sakit nomor register, diagnosa keperawatan, alamat.
2) Keluhan utama.
Keluhan utama saat masuk rumah sakit dan keluhan utama saat pengkajian.
3) Diagnosa medis
4) Riwayat kesehatan
a) Riwayat kesehatan dahulu:
Penyakit kronis atau menular dan menurun sepoerti jantung, hipertensi, DM,
TBC, hepatitis, penyakit kelamin atau abortus.
b) Riwayat kesehatan sekarang :
Riwayat pada saat sebelun inpartu di dapatka cairan ketuban yang keluar
pervaginan secara sepontan kemudian tidak di ikuti tanda-tanda persalinan.
c) Riwayat kesehatan keluarga:
Adakah penyakit keturunan dalam keluarga seperti jantung, DM, HT, TBC,
penyakit kelamin, abortus, yang mungkin penyakit tersebut diturunkan kepada
klien.
5) Pola-pola fungsi kesehatan
a) Pola persepsi dan tata leksana hidup sehat
karena kurangnya pengetahuan klien tentang ketuban pecah dini, dan cara
pencegahan, penanganan, dan perawatan serta kurangnya mrnjaga kebersihan
tubuhnya akan menimbulkan masalah dalam perawatan dirinya
b)  Pola Nutrisi dan Metabolisme
Pada klien nifas biasanaya terjadi peningkatan nafsu makan karena dari
keinginan untuk menyusui bayinya.
c) Pola aktifitas
Pada pasien pos partum klien dapat melakukan aktivitas seperti biasanya,
terbatas pada aktifitas ringan, tidak membutuhkan tenaga banyak, cepat lelah,
pada klien nifas didapatkan keterbatasan aktivitas karena mengalami
kelemahan dan nyeri.
d) Pola eleminasi
Pada pasien pos partum sering terjadi adanya perasaan sering /susah kencing
selama masa nifas yang ditimbulkan karena terjadinya odema dari trigono,
yang menimbulkan inveksi dari uretra sehingga sering terjadi konstipasi
karena penderita takut untuk melakukan BAB.
e) Istirahat dan tidur
Pada klien nifas terjadi perubagan pada pola istirahat dan tidur karena adanya
kehadiran sang bayi dan nyeri epis setelah persalinan
f) Pola hubungan dan peran
Peran klien dalam keluarga meliputi hubungan klien dengan keluarga dan
orang lain.
g) Pola penagulangan sters
Biasanya klien sering melamun dan merasa cemas
h) Pola sensori dan kognitif
Pola sensori klien merasakan nyeri pada prineum akibat luka janhitan dan
nyeri perut akibat involusi uteri, pada pola kognitif klien nifas primipara
terjadi kurangnya pengetahuan merawat bayinya
i) Pola persepsi dan konsep diri
Biasanya terjadi kecemasan terhadap keadaan kehamilanya, lebih-lebih
menjelang persalinan dampak psikologis klien terjadi  perubahan konsep diri
antara lain dan body image dan ideal diri
j) Pola reproduksi dan sosial
Terjadi disfungsi seksual yaitu perubahan dalam hubungan seksual atau fungsi
dari seksual yang tidak adekuat karena adanya proses persalinan dan nifas.
6) Pemeriksaan fisik
a) Kepala
Bagaimana bentuk kepala, kebersihan kepala, kadang-kadang terdapat adanya
cloasma gravidarum, dan apakah ada benjolan
b) Leher
Kadang-kadang ditemukan adanya penbesaran kelenjar tioroid, karena adanya
proses menerang yang salah
c) Mata
Terkadang adanya pembengkakan paka kelopak mata, konjungtiva, dan
kadang-kadang keadaan selaput mata pucat (anemia) karena proses persalinan
yang mengalami perdarahan, sklera kunuing
d) Telinga
Biasanya bentuk telingga simetris atau tidak, bagaimana kebersihanya, adakah
cairan yang keluar dari telinga.
e) Hidung
Adanya polip atau tidak dan apabila pada post partum kadang-kadang
ditemukan pernapasan cuping hidung
f) Dada
Terdapat adanya pembesaran payu dara, adanya hiper pigmentasi areola
mamae dan papila mamae
g) Pada klien nifas abdomen kendor kadang-kadang striae masih terasa nyeri.
Fundus uteri 3 jari dibawa pusat.
h) Genitalia
Pengeluaran darah campur lendir, pengeluaran air ketuban, bila terdapat
pengeluaran mekomium yaitu feses yang dibentuk anak dalam kandungan
menandakan adanya kelainan letak anak.
i) Anus
Kadang-kadang pada klien nifas ada luka pada anus karena rupture
j) Ekstermitas
Pemeriksaan odema untuk mrlihat kelainan-kelainan karena membesarnya
uterus, karenan preeklamsia atau karena penyakit jantung atau ginjal.
k) Tanda-tanda vital
Apabila terjadi perdarahan pada pos partum tekanan darah turun, nadi cepat,
pernafasan meningkat, suhu tubuh turun.
4. Diagnosa Keperawatan Dengan SC
Diagnosa yang mungkin muncul:
1. Nyeri akut berhubungan dengan  agen pencedera fisik.
2. Gangguan pola tidur berhubungan dengan hambatan lingkungan
3. Resiko infeksi berhubungan dengan  ketidakadekuatan pertahanan tubuh primer.
5. Rencana Keperawatan

RENCANA KEPERAWATAN

NO DIAGNOSA TUJUAN DAN KRITERIA INTERVENSI


KEPERAWATAN HASIL
DAN KOLABORASI

1. Nyeri akut berhubungan Setelah dilakuakan asuhan Observasi


 Indetifikasi lokasi,
dengan  agen pencedera keperawatan selama 3x24 jam
karakteristik, durasi,
fisik maka intensitas nyeri pasien frekuensi, kualitas,
intensitas nyeri
menurun, dengan kriteria
 Indetifikasi skala nyeri
hasil:  Indetifikasirespon
4. Keluhan nyeri berkurang nyeri non verbal
 Indetifikasi
5. Pasien tidak meringis identivikasi factor
kesakitan yang memperberat dan
meper ringan nyeri
6. Sikap protektif berkurang  Indetifikasi pengaruh
7. Pasien tidak gelisah budaya terhadap
respon nyeri
8. Kesulitan tidur berkurang  Indetifikasi pengaruh
9. Frekuensi nadi normal nyeri terhadapkualitas
hidup
 Monitor keberhasilan
terapi komplementer
yang sudah diberikan
 Monitor efek samping
penggunaan analgentik
Terapeutik
 Berikan teknik non
farmakologis untuk
mengurangi rasa nyeri
(mis TENS, hipnosis,
akkupressure, terapi
musik, dll)
 Kontrol lingkungan
yang memperberat rasa
nyeri
 Fasilitasi istirahat tidur
 Pertimbangkan jenis
dan sumber nyeri
dalam pemilihan
strategi meredakan
nyeri
Edukasi
 Jelaskan penyebab,
periode, dan pemicu
nyeri
 Jelaskan strategi
meredakan nyeri
 Anjurkan memonitor
nyeri secara mandiri
 Anjurkan
menggunakan
analgetik secara tepat
 Ajarkan teknik
nonfarmakologis untuk
mengurangi nyeri
Kolaborasi
 Kolaborasi pemberian
analgetik jika perlu
Gangguan pola tidur Setelah dilakuakan asuhan Observsi
2. berhubungan dengan keperawatan selama 3x24 jam  Identifikasi pola
aktivitas dan tidur
hambatan lingkungan maka derajat infeksi menurun,
 Identifikasi faktor
dengan kriteria hasil: pengganggu tidur
1. Keluhan sulit tidur  Identifikasi makanan
dan minuman yang
berkurang menngganggu tidur
2. Keluhan sering terjaga  Identifikasi obat tidur
yang dikonsumsi
berkurang Terapeutik
3. Keluhan tidak puas tidur  Modifikasi lingkungan
 Batasi waktu tidur
berkurang siang biar perlu
4. Keluhan pola tidur  Fasilitasi
menghilangkan stress
berubah berkurang sebelum tidur
5. Keluhan istirahat tidak  Tetapkan jadwal tidur
rutin
cukup berkurang
 Lakukan prosedur
untuk meningkatkan
kenyamanan
 Sesuaikan pemberian
obat dan tindakan
untuk menjaga siklus
tidur
Edukasi
 Jelaskan pentingnya
tidur cukup selama
sakit
 Ajarkan menepati
kebiasaan waktu tidur
 Anjurkan menghindari
makanan/minuman
yang mengganggu
tidur
 Anjurkan
menggunakan obat
tidur yang tidak
mengandung supresor
terhadap tidur REM
 Ajarkan faktor-faktor
yang berkontribusi
terhadap gangguan
pola tidur
 Ajarkan relaksasi otot
autogenik atau cara
nonfarmakologi
lainnya.
Resiko infeksi Setelah dilakuakan asuhan
Observsi
3. berhubungan dengan  keperawatan selama 3x24 jam
 Monitor tanda gejala
ketidakadekuatan maka derajat infeksi menurun, infeksi lokal dan
sistemik
pertahanan tubuh primer. dengan kriteria hasil:
Terapeutik
1. Pasien tidak mengalami  Batasi jumlah
pengunjung
demam
 Berikan perawatan
2. Tidak terjadi kemerahan kulit pada daerah
diarea luka operasi operasi
 Cuci tangan sebelum
3. Tidak terjadi kebengkakan dan sesudah kontak
diarea luka operasi dengan pasien dan
lingkungan pasien
4. Kadar sel darah putih Edukasi
normal.  Jelaskan tanda dan
gejala infeksi
 Ajarkan cara
memeriksa luka
 Anjurkan
meningkatkan asupan
cairan
Kolaborasi
 Kolaborasi
pemeriksaan darah

6.
DAFTAR PUSTAKA

NANDA International. 2018. Diagnosis Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi 2018-


2020. Jakarta: EGC

https://www.academia.edu/34227099/LAPORAN_PENDAHULUAN_SC_SECTIO_CA
ESARIA

http://www.academia.edu/12913746/LAPORAN_PENDAHULUAN_POST_PARTUM_
DENGAN_SECTIO_CAESARIA