Anda di halaman 1dari 35

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN

PENYAKIT ANEMIA SISTEM HEMATOLOGI KMB I

OLEH :

ADELYA PRATIWI RAHIM 2118023

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
GEMA INSAN AKADEMIK
MAKASSAR
2021

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan karunia-
Nya lah kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan juduL ANEMIA . Makalah
ini ditulis untuk memenuhi salah satu tugas pada mata kuliah KMB 1 dalam
penulisan makalah ini, tidak terlepas bimbingan dari berbagai pihak, baik moral
maupun materil. Untuk itu dalam kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih.

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................ 2

DAFTAR ISI............................................................................................... 3

BAB I PENDAHULUAN........................................................................... 4

A. Latar Belakang.......................................................................... 4
B. Rumusan Masalah..................................................................... 4
C. Tujuan ...................................................................................... 4
BAB II PEMBAHASAN............................................................................ 5

A. Pengertian Anemia....................................................................
B. Klasifikasi................................................................................. 7
C. Etiologi...................................................................................... 8
D. Tanda dan Gejala....................................................................... 9
E. Patofisiologi.............................................................................. 12
F. Pemeriksaan Penujang.............................................................. 13
G. Penatalaksaan............................................................................ 15
H. Pathway.................................................................................... 20
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN..................................................... 21

A. Pengkajian..........................................................................
B. Diagnose .............................................................................
C. Perencanaan keperawatan................................................
D. Implementasi .....................................................................
E. Evaluasi ..............................................................................

BAB IV PENUTUP....................................................................................

A. Kesimpulan.................................................................... 21
B. Saran............................................................................... 21
DAFTAR PUSTAKA................................................................................. 22

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Anemia adalah keadaan yang menunjukkan rendahnya hitung sel darah
merah, kadar hemoglobin, dan hematocrit di bawah normal. Anemia bukan
merupakan suatu penyakit tunggal, melainkan merupakan pencerminan terhadap
keadaan suatu penyakit atau gangguan pada fungsi tubuh.Secara fisiologis,
anemia terjadi apabila terdapat kekurangan jumlah hemoglobin untuk mengangkat
oksigen ke jaringan (Smeltzer, 2001). Prevalensi anemia di Indonesia menurut
kelompok populasi paling sering terjadi pada populasi wanita dewasa hamil
dengan prevalensi 50-70%, diikuti wanita dewasa tidak hamil 30-40%, laki-laki
dewasa 20-30%, dan anak-anak usia sekolah 25-35% (Handayani & Andi, 2008).
Berdasarkan latar belakang diatas, laporan pendahuluan ini dibuat bertujuan
untuk mengetahui pengertian, etiologi, patofisiologi, tanda dan gejala, pathway,
pemeriksaan penunjang, penatalaksanaan, pengkajian, diagnosa keperawatan, dan
fokus intervensi dari anemia.

B. Rumusan masalah
1. Bagaiaman mengetahui klasifikasi anemia ?
2. Bagaiamana mengetahui Etiologi anemia ?
3. Bagaiman penatalaksaan anemia ?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa itu anemia.
2. Untuk mengetahui klasisfikasi anemia.
3. Untuk etiologi.
4. Untuk mengetahui Patofisiologi anemia.
5. Untuk mengetahu cara penatalaksanaan anemia

4
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian

Anemia (dalam bahasa Yunani: Tanpa darah) adalah keadaan saat jumlah
sel darah merah atau jumlah hemoglobin (protein pembawa oksigen) dalam
sel darah merah berada di bawah normal. Sel darah merah mengandung
hemoglobin yang memungkinkan mereka mengangkut oksigen dari paru-paru,
dan mengantarkannya ke seluruh bagian tubuh. Anemia menyebabkan
berkurangnya jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin dalam sel
darah merah, sehingga darah tidak dapat mengangkut oksigen dalam jumlah
sesuai yang diperlukan tubuh (kamus bahasa Indonesia).

Anemia adalah keadaan rendahnya jumlah sel darah merah dan kadar
hemoglobin (Hb) atau hematokrit (Ht) dibawah normal. Anemia menunjukkan
suatu status penyakit atau perubahan fungsi tubuh (Smeltzer, 2001).Anemia
merupakan keadaan dimana masa eritrosit dan atau masa hemoglobin yang
beredar tidak memenuhi fungsinya untuk menyediakan oksigen bagi jaringan
tubuh. Secara laboratoris, anemia dijabarkan sebagai penurunan kadar
hemoglobin serta hitung eritrosit dan hematokrit dibawah normal (Handayani
& Andi, 2008).

Batasan umum seseorang dikatakan anemia dapat menggunakan kriteria


WHO dengan kriteria sebagai berikut (Handayani & Andi, 2008):

 Laki-laki dewasa Hb < 13 gr/dl


 Perempuan dewasa tidak hamil Hb < 12 gr/dl
 Perempuan dewasa hamil Hb < 11 gr/dl
 Anak usia 6-14 tahun Hb < 12 gr/dl
 Anak usia 6 bulan – 6 tahun Hb < 11 gr/dl

5
Untuk kriteria anemia di klinik, rumah sakit, atau praktik klinik pada
umumnya dinyatakan anemia bila terdapat nilai sebagai berikut (Handayani
& Andi, 2008):

 Hb < 10 gr/dl
 Hematokrit < 30%
 Eritrosit < 2,8 juta/mm2
Derajat anemia ditentukan oleh kadar Hb. Klasifikasi derajat anemia yang
umum dipakai adalah (Handayani & Andi, 2008):
 Ringan sekali Hb 10 gr/dl – 13 gr/dl
 Ringan Hb 8 gr/dl – 9,9 gr/dl
 Sedang Hb 6 gr/dl – 7,9 dr/dl
 Berat Hb < 6 gr/dl

B. Klasifikasi
Menurut Baughman (2000), klasifikasi anemia adalah:
1. Anemia Aplastik
Anemia aplastik (hipoproliferatif) disebabkan oleh penurunan pada
prekusor sel-sel sumsum tulang dan penggantian sumsum dengan lemak.
Anemia ini dapat disebabkan oleh kongenital atau didapat, idiopati akibat
dari infeksi tertentu, obat-obatan dan zat kimia, serta kerusakan akibat
radiasi. Penyembuhan sempurna dan cepat mungkin dapat diantisipasi
jika pemajanan pada pasien dihentikan secara dini.Jika pemajanan tetap
berlangsung setelah terjadi tanda-tanda hipoplasi, depresi sumsum tulang
hampir dapat berkembang menjadi gagal sumsum tulang dan irreversible.
2. Anemia Defisiensi Besi
Anemia defisiensi besi adalah kondisi dimana kandungan besi dalam
tubuh menurun dibawah kadar normal. Zat besi yang tidak adekuat
menyebabkan berkurangnya sintesis Hb sehingga menghambat proses
pematangan eritrosit. Ini merupakan tipe anemia yang paling

6
umum.Anemia ini dapat ditemukan pada pria dan wanita pasca
menopause karena perdarahan (misal, ulkus, gastritis, tumor
gastrointestinal), malabsopsi atau diit sangat tinggi serat (mencegah
absorpsi besi).Alkoholisme kronis juga dapat menyebabkan masukan besi
yang tidak adekuat dan kehilangan besi melalui darah dari saluran
gastrointestinal.
3. Anemia Megaloblastik (Defisiensi Vitamin B12 dan Defisiensi Asam
Folat).
Anemia yang disebabkan oleh defisiensi vitamin B12 dan defisiensi
asam folat memperlihatkan perubahan-perubahan sumsum tulang dan
darah perifer yang identik.Defisiensi vitamin B12 sangat jarang terjadi
tetapi dapat terjadi akibat ketidakadekuatan masukan pada vegetarian
yang ketat, kegagalan absorpsi saluran gantrointestinal, penyakit yang
melibatkan ilium atau pankreas yang dapat merusak absorpsi vitamin B12.
Tanpa pengobatan pasien akan meninggal setelah beberapa tahun,
biasanya akibat gagal jantung kongesti sekunder akibat dari anemia.
Sedangkan defisiensi asam folat terjadi karena asupan makanan yang
kurang gizi asam folat, terutama dapat ditemukan pada orang tua,
individu yang jarang makan sayuran dan buah,alkoholisme, anoreksia
nervosa, pasien hemodialisis.
4. Anemia Sel Sabit
Anemia sel sabit adalah anemia hemolitik berat yang diakibatkan oleh
defek molekul Hb dan berkenaan dengan serangan nyeri.Anemia ini
ditemukan terutama pada orang Mediterania dan populasi di Afrika, serta
terutama pada orang-orang kulit hitam.Anemia sel sabit merupaka
gangguan resesif otosom yang disebabkan oleh pewarisan dua salinan gen
hemoglobin defektis, satu buah dari masing-masing orang
tua.Hemoglobin yang cacat itu disebut hemoglobin S (HbS), menjadi
kaku dan membentuk konfigurasi seperti sabit apabila terpajan oksigen
berkadar rendah.

7
5. Anemia Hemolitik
Anemia hemolitik adalah anemia yang disebabkan oleh proses
hemolysis, yaitu pemecahan eritrosit dalam pembuluh darah sebelum
waktunya. Anemia hemolitik adalah jenis yang tidak sering dijumpai,
tetapi bila dijumpai memerlukan pendekatan diagnostik yang tepat.
Anemia hemolitik dapat disebabkan oleh anemia sel sabit, malaria,
penyakit hemolitik pada bayi baru lahir, dan reaksi transfuse.

C. Etiologi
1. Anemia terjadi ketika tubuh kekurangan sel darah merah sehat atau Hb
2. Kekurangan zat besi membuat tubuh tidak mampu mengahasilkan Hb
3. Anemia dapat disebabkan oleh perdarahan berat yang terjadi secara
perlahan dalam waktu lama atau terjadi seketika
Menurut Price& Wilson (2005) penyebab anemia dapat dikelompokan
sebagai berikut:
1. Gangguan produksi eritrosit yang dapat terjadi karena:
a. Perubahan sintesa Hb yang dapat menimbulkan anemi difisiensi Fe,
Thalasemia, dan anemi infeksi kronik.
b. Perubahan sintesa DNA akibat kekurangan nutrien yang dapat
menimbulkan anemi pernisiosa dan anemi asam folat.
c. Fungsi sel induk (stem sel) terganggu , sehingga dapat menimbulkan
anemia aplastik dan leukemia.
d. Infiltrasi sumsum tulang, misalnya karena karsinoma.
1. Kehilangan darah
a. Akut karena perdarahan atau trauma atau kecelakaan yang terjadi
secara mendadak.
b. Kronis karena perdarahan pada saluran cerna atau menorhagia.

8
2. Meningkatnya pemecahan eritrosit (hemolisis). Hemolisis dapat terjadi
karena:
a. Faktor bawaan, misalnya, kekurangan enzim G6PD (untuk mencegah
kerusakan eritrosit.
b. Faktor yang didapat, yaitu adanya bahan yang dapat merusak eritrosit
misalnya, ureum pada darah karena gangguan ginjal atau penggunaan
obat acetosal.
3. Bahan baku untuk pembentukan eritrosit tidak ada.
Bahan baku yang dimaksud adalah protein , asam folat, vitamin B12, dan
mineral Fe. Sebagian besar anemia anak disebabkan oleh kekurangan satu
atau lebih zat gizi esensial (zat besi, asam folat, B12) yang digunakan
dalam pembentukan sel-sel darah merah. Anemia bisa juga disebabkan
oleh kondisi lain seperti penyakit malaria, infeksi cacing tambang.

D. Tanda Gejala
Menurut Baughman (2000), tanda dan gejala dari anemia, meliputi:
1. Lemah, Letih, Lesu, Lelah, Lunglai (5L).
2. Sering mengeluhkan pusing dan mata berkunang-kunang.
3. Gejala lebih lanjut, adalah kelopak mata, bibir, lidah, kulit, dan telapak
tangan menjadi pucat.
Sedangkan menurut Handayani & Andi (2008), tanda dan gejala anemia
dibagi menjadi tiga golongan besar, yaitu sebagai berikut:
1. Gejala umum anemia
Gejala umum anemia atau dapat disebur juga sindrom anemia adalah
gejala yang timbul pada semua jenis anemia pada kadar Hb yang sudah
menurun di bawah titik tertentu. Gejala-gejala tersebut dapat
diklasifikasikan menurut organ yang terkena, yaitu:
 Sistem kardiovaskuler: lesu, cepat lelah, palpitasi, takikardi, sesak
nafas saat beraktivitas, angina pektoris, dan gagal jantung.

9
 Sistem saraf: sakit kepala, pusing, telinga mendenging, mata
berkunang-kunang, kelemahan otot, iritabilatas, lesu, serta perasaan
dingin pada ekstremitas.
 Sistem urogenital: gangguan haid dan libido menurun.
 Epitel: warna pucat pada kulit dan mukosa, elastisitas kulit
menurun, serta rambut tipis dan halus.
2. Gejala khas masing-masing anemia
Gejala khas yang menjadi ciri dari masing-masing jenis anemia
adalah sebagai berikut:
 Anemia defisiensi besi: disfagia, atrofi papil lidah, stomatitis
angularis, keletihan, kebas dan kesemutan pada ekstremitas
 Anemia defisiensi asam folat: lidah merah (buffy tongue).
 Anemia hemolitik: ikterus dan hepatosplenomegali.
 Anemia aplastik: perdarahan kulit atau mukosa dan tanda-tanda
infeksi.
3. Gejala akibat penyakit yang mendasari
Gejala ini timbul karena penyakit-penyakit yang mendasari anemia
tersbut. Misalnya anemia defisiensi besi yang disebabkan oleh infeksi
cacing tambang berat akan menimbulkan gejala seperti pembesaran
parotis dan telapak tangan berwatna kuning seperti jerami.
E. Patofisiologi
Timbulnya anemia mencerminkan adanya kegagalan sumsum tulang
atau kehilangan sel darah merah berlebihan atau keduanya.Kegagalan
sumsum tulang dapat terjadi akibat kekurangan nutrisi, pajanan toksik,
invasi tumor, atau akibat penyebab yang tidak diketahui.Lisis sel darah
merah terjadi dalam sel fagositik atau dalam sistem retikulo endothelial,
terutama dalam hati dan limpa. Sebagai hasil sampingan dari proses tersebut,
bilirubin yang terbentuk dalam fagositi akan memasuki aliran darah. Apabila
sel darah merah mengalami penghancuran dalam sirkulasi, maka
hemoglobin akan muncul dalam plasma.

10
Apabila konsentrasi plasmanya melebihi kapasitas hemoglobin
plasma, makan hemoglobin akan berdifusi dalam glomerulus ginjal dan ke
dalam urin. Pada dasarnya gejala anemia timbul karena dua hal, yaitu
anoksia organ target karena berkurangnya jumlah oksigen yang dapat
dibawa oleh darah ke jaringan dan mekanisme kompensasi tubuh terhadap
anemia. Kombinasi kedua penyebab ini akan menimbulkan gejala yang
disebut sindrom anemia (Handayani & Andi, 2008).
Berdasarkan proses patofisiologi terjadinya anemia, dapat digolongkan
pada tiga kelompok (Edmundson, 2013 dalam Rokim dkk, 2014):
1. Anemia akibat produksi sel darah merah yang menurun atau gagal
Pada anemia tipe ini, tubuh memproduksi sel darah yang terlalu sedikit
atau sel darah merah yang diproduksi tidak berfungsi dengan baik.Hal
ini terjadi akibat adanya abnormalitas sel darah merah atau kekurangan
mineral dan vitamin yang dibutuhkan agar produksi dan kerja dari
eritrosit berjalan normal. Kondisi kondisi yang mengakibatkan anemia
ini antara lain sickle cell anemia, gangguan sumsum tulang dan stem
cell, anemia defisiensi zat besi, vitamin B12, dan Folat, serta gangguan
kesehatan lain yang mengakibatkan penurunan hormon yang diperlukan
untuk proses eritropoesis.
2. Anemia akibat penghancuran sel darah merah
Bila sel darah merah yang beredar terlalu rapuh dan tidak mampu
bertahan terhadap tekanan sirkulasi maka sel darah merah akan hancur
lebih cepat sehingga menimbulkan anemia hemolitik.
Penyebab anemia hemolitik yang diketahui atara lain:
a. Keturunan, seperti sickle cell anemia dan thalassemia.
b. Adanya stressor seperti infeksi, obat obatan, bisa hewan, atau
beberapa jenis makanan.
c. Toksin dari penyakit liver dan ginjal kronis.
d. Autoimun.

11
e. Pemasangan graft, pemasangan katup buatan, tumor, luka bakar,
paparan kimiawi, hipertensi berat, dan gangguan thrombosis.

Mutasi sel eritrosit/perubahan pada sel eritrosit



Antigesn pada eritrosit berubah

Dianggap benda asing oleh tubuh

sel darah merah dihancurkan oleh limposit

Anemia hemolisis

3. Anemia akibat kehilangan darah


Anemia ini dapat terjadi pada perdarahan akut yang hebat ataupun pada
perdarahan yang berlangsung perlahan namun kronis. Perdarahan kronis
umumnya muncul akibat gangguan gastrointestinal (misal ulkus,
hemoroid, gastritis, atau kanker saluran pencernaan), penggunaan obat
obatan yang mengakibatkan ulkus atau gastritis (misal OAINS),
menstruasi, dan proses kelahiran.
F. KOMPLIKASI YANG MUNCUL
Komplikasi umum akibat anemia adalah:
1. gagal jantung,
2. kejang.
3. Perkembangan otot buruk ( jangka panjang )
4. Daya konsentrasi menurun
5. Kemampuan mengolah informasi yang didengar menurun

G. Pemeriksaan Penunjang

12
Pemeriksaa penunjang yang dapat dilakukan pada pasien dengan diagnose
anemia adalah (Handayani & Andi, 2008):
1. Pemeriksaan laboratorium hematologis
 Tes penyaring: dilakukan pada tahap awal pada setiap kasus anemia.
Pemeriksaan ini meliputi pengkajian pada komponen-komponen, seperti
kadar hemoglobin, indeks eritrosit (MCV, MCH, dan MCHC), asupan
darah tepi.
 Pemeriksaan rutin: untuk mengetahui kelainan pada sistem leukosit dan
trombosit. Pemeriksaan yang dikerjakan meliputi laju endap darah
(LED), hitung diferensial, dan hitung retikulosit.
 Pemeriksaan sumsum tulang: dilakukan pada kasus anemia dengan
diagnosis definitive meskipun ada beberapa kasus diagnosisnya tidak
memerlukan pemeriksaan sumsum tulang.
2. Pemeriksaan laboratorium nonhematologis
 Faal ginjal
 Faal endokrin
 Asam urat
 Faat hati
 Biakan kuman
3. Pemeriksaan penunjang lain
 Biopsi kelenjar yang dilanjutkan dengan pemeriksaan hispatologi.
 Radiologi: torak, bone survey, USG, atau limfangiografi.
 Pemeriksaan sitogenetik.
 Pemeriksaan biologi molekuler (PCR: polymerase chain reaction, FISH:
fluorescence in situ hybridization).

H. Penatalaksanaan
Bila Anda merasakan gejala anemia di atas dan orang-orang di sekeliling
anda melihat anda tampak pucat dan lelah, segeralah berkonsultasi dengan

13
dokter. Dokter akan menanyakan kebiasaan makan anda dan obat yang
sedang anda minum. anda lalu akan mendapatkan pemeriksaan fisik,
pemeriksaan darah dan pemeriksaan penunjang lainnya untuk menentukan
apakah terdapat anemia dan apa penyebabnya.
1. Penanganan anemia tergantung pada penyebabnya. Bila penyebabnya
adalah kekurangan zat besi, dokter akan mencari tahu dan mengatasi
penyebab kekurangan tersebut. Suplemen zat besi dalam bentuk tablet
atau sirup mungkin diberikan. (Bila anemia disebabkan oleh masalah
penyerapan pasca- operasi gastrektomi, pemberian suplemen akan
diberikan secara intramuskular atau intravenal).
2. Pemulihan biasanya berlangsung enam hingga delapan minggu setelah
penanganan. Setelah anemia tertangani, Anda masih akan terus menerima
asupan suplemen zat besi hingga beberapa bulan untuk menjaga kondisi.
Tinja Anda akan berwarna hitam selama perawatan.
3. Bila anemia disebabkan penyakit tertentu, satu-satunya solusi adalah
menyembuhkan penyakitnya.
4. Anemia kronis yang ditandai dengan gejala parah seperti denyut jantung
cepat, nafas tersengal dan pingsan mungkin harus segera ditangani dengan
transfusi darah.
a. Mengatasi penyebab perdarahan kronik, misalnya pada
ankilostomiasis diberikan antelmintik yang sesuai.
b. Pemberian preparat Fe: fero sulfat 3 x 325 mg secara oral dalam
keadaan perut kosong, dapat dimulai dengan dosis yang rendah dan
dinaikkan bertahap. Pada pasien yang tidak kuat, dapat diberikan
bersama makanan.
Fero glukonat 3 x 200 mg secsra oral sehabis makan. Bila
terdapat intoleransi terhadap pemberian preparat Fe oral atau
gangguan pencernaan sehingga tidak dapat diberikan oral, dapat
diberikan secara perenteral dengan dosis 250 mg Fe (3 mg/kg BB)
untuk tiap g% penurunan kadar Hb dibawah normal.

14
Iron dekstran mengandung Fe 50 mg/ml, diberikan secara
intramuskuler mula-mula 50 mg, kemudian 100-250 mg tiap 1-2 hari
sampai dosis total sesuai perhitungan. Dapat pula diberikan intravena,
mula-mula 0,5 ml sebagai dosis percobaan. Bila dalam 3-5 menit tidak
menimbulkan reaksi, boleh diberikan 250-500 mg.
Penatalaksanaan yang tepat dilakukan untuk pasien anemia sesuai jenisnya,
dapat dilakukan dengan (Baughman, 2000):
1. Anemia Aplastik
 Transplantasi sumsum tulang.
 Pemberian terapi imunosupresif dengan globulin antitimosit (ATG).
 Hentikan semua obat yang menyebabkan anemia tersebut.
 Cegah timbulnya gejala-gejala dengan melakukan transfuse sel-sel
darah merah dan trombosit.
 Lindungi pasien yang rentan terhadap leukopenia dari kontak
dengan orang-orang yang menderita infeksi.
2. Anemia defisiensi besi
 Teliti sumber penyebab yang mungkin dapat berupa malignasi
gastrointestinal, fibroid uteri, atau kanker yang dapat disembuhkan.
 Lakukan pemeriksaan feses untuk mengetahui darah samar.
 Berikan preparat besi orang yang diresepkan.
 Hindari tablet dengan salut enteric, karena diserap dengan buruk.
 Lanjutkan terapi besi sampai setahun setelah perdarahan terkontrol.
3. Anemia megaloblastik (defisiensi vitamin B12 dan defisiensi asam folat)
Anemia defisiensi vitamin B12:
 Pemberian suplemen vitamin atau susu kedelai difortifikasi (pada
vege tarian ketat).
 Suntikan vitamin B12 secara IM untuk kelainan absorpsi atau tidak
terdapatnya faktor-faktor instriksik.

15
 Cegah kambuhan dengan vitamin B12 selama hidup untuk pasien
anemia pernisiosa atau malabsorpsi yang tidak dapat diperbaiki.
4. Anemia defisiensi asam folat:
 Pemberian diit nutrisi dan 1 mg gram asam folat setiap hari.
 Asam folat IM untuk sindrom malabsorpsi.
 Asam folat oral diberikan dalam bentuk tablet (kecuali vitamin
prenatal).
5. Anemia sel sabit
 Arus utama terapi adalah hidrasi dan analgesia.
 Hidrasi dengan 3-5L cairan intravena dewasa per hari.
 Berikan dosis adekuat analgesik narkotik.
 Transfusi dipertahankan untuk krisis aplastik, krisis yang tidak
responsive terhadap terapi, pada preoperasi untuk mengencerkan
darah sabit, dan kadang-kadang setengah dari masa kehamilan
untuk mencegah krisis.

16
I. Pathway

17
18
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
1. DENTIFIKASI PASIEN
Nama initial : Ny. N
Umur : 43 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Status perkawinan : Belum Kawin
Jumlah anak : -
Agama/suku : islam/Gorontalo
Warga Negara : Indonesia
Bahasa yang digunakan : Bahasa Indonesia dan Gorontalo
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : asisten Rumah Tangga (ART)
Alamat rumah : Jln. Trans Sulawesi dusun II
palu-palu
2. DATA MEDIK
Diagnosa medic : ANEMIA
3. KEADAAN UMUM
a. KEADAAN SAKIT :
Pasien terlihat lemas dan mengatakan pusing. Pasien
mengatakan pasa saat melakukan aktivitas yang berlebihan
seperti mengangkat barang yang berat atau melakukan aktivitas
1 jam lebih. Pada saat pengkajian wajah pasien terlihat pucat
dan lesu.
B. TANDA-TANDA VITAL
1) Kesadaran:

19
Skala koma glaslow
a). Respon motorik : 6
b) Respon bicara :
4
c) Respon membuka mata :
4
Jumlah : 14
Kesimpulan: Compasmentis (CM)
2) Tekanan darah : 110/60 mmHg
MAP: mmHg
Kesimpulan : Normal
3) Suhu : 36 °C di  Oral axilla Rectal
4) Pernapasan : 26 x/menit
Irama: √ teratur Kusmaul Cheynes-stokesa Takipnea
Jenis :  dada Perut
5) Nadi :84 x/menit
Irama : teratur tachikardi Bradichardi
Kuat Lemah

C. PENGUKURAN
1. Lingkar lengan atas : 37 cm
2. Tinggi badan :155 cm
3. Berat badan :49 kg
4. IMT :20,4 kg/m²
Kesimpulan : normal
D. GENOGRAM

11

20
Keterangan :

: Laki-laki

: Perempuan

: Meninggal

: Pasien

------- : Tinggal serumah

E. PENGKAJIAN POLA KESEHATAN


A. POLA PERSEPSI KESEHATAN DAN PEMELIHARAAN
KESEHATAN
1) Keadaan sebelum sakit
Sebelum pasien mengetahui bahwa dia terkena penyakit anemia pasien
hanya merasakan pusing yang di anggapnya dapat sembuh dengan sendiri
nya hanya dengan berbaring ataupun mengkonsumsi obat yang ada di
warung terdekat.

21
2) Riwayat penyakit saat ini: pasien mengeluh badan lemas, pusing
dan pasien juga terlihat pucat atau tidak bersemangat
3) Keluhan utama : pasien mengatakan pusing dan lemas
4) Riwayat keluhan utama : pada saat pengkajian pasien terlihat
lemas pasien juga mengatakan sering pusing dan merasa mual kadang bisa
muntah.
5) Riwaya penyakit yang pernah dialami : dari hasil wawancara
pasien mengatakan tidak ada riwayat penyakit lainnya. Pasien juga
pengatakan belum pernah di rawat inap di RS.
4) Riwayat kesehatan keluarga : pasien mengatakan bahwa dalam
keluarga pasien, tidak ada yang menderita penyakit yang sama seperti di
derita oleh pasien yaitu Anemia
5) Pemeriksaan fisik:
a). Kebersihan rambut : rambut tampak bersih
b) Kulit kepala : tampak bersih dan tanpa ketombe
c) Kebersihan kulit : tampak bersih
d). Higiene rongga mulut : tampak bersih
e) Kebersihan genitalia : -
f) Kebersihan anus :-
B. POLA NUTRISI DAN METABOLIK
1) Keadaan sebelum sakit : pasien makan 3x sehari, satu porsi habis.
Makanan yang dikonsumsi pasien berupa nasi sayur dan lauk. Kemudian
pasien minum 8 sampai 10 gelas perhari berupa air putih. Pasien juga
menyukai semua jenis makanan dengan selera makannya juga baik.
Biasanya ia menggunakan peralatan makan seperti piring dan sendok.
2) Keadaan sejak sakit: pasien mengatakan tidak mengalami perubahan
pada pola makannya dan mengurangi sedkit porsi makanan.
Observasi : pasien Nampak menikmati makanan
3) Pemeriksaan fisik:
a) Keadaan rambut : rambut cepak tampak beruban

22
b) Hidrasi kulit : turgor kulit kasar, warna sawo
matang
c) Palpebra/conjungtiva : warna merah muda
d) Sclera : warna putih
e) Hidung : bentuk simetris
f) Rongga mulut : bersih
g) Gusi : bersih dan tidak ada luka atau
sariawan
h) Gigi : bersih dan masih lengkap
i) Kemampuan mengunyah keras : masih berkuat untuk
mengunyah makanan yang keras
j) Lidah : bersih
k) Pharing : baik
l) Kelenjar getah bening : tidak ada
m) Kelenjar parotis : tidak ada
n) Abdomen :
- Inspeksi : simetris
- Auskultasi : bising usus normal
- Palpasi : tidak ada nyeri tekan
- Perkusi : asites positif  negatif
a) Kulit
- Edema negatif 
- Ikterik negatif 
b) Lesi : tidak ada
5. Pemeriksaan diagnostik :
a) Laboratorium :-
b) USG : -
c) Lain-lain : -
4) Terapi : -
C. POLA ELIMINASI

23
1. Keadaan sebelum sakit :
BAK teratur setiap hari dan tidak mengganggu aktivitas dan tidur
pasien. Pola eliminasi urine pasien biasanya 3-4x dalam sehari sementara
BAB 1-2x sehari.
2. Keadaan sejak sakit : pasien mengatakan tidak mengalami pola
eliminasi
3. Observasi:
pasien tampak biasa karena tidak mengalami gejala atau perubahan
eliminasi urine.
4. Pemeriksaan fisik :
a) peristaltik usus : 28 x/menit.
b) palpasi kandung kemih √ penuh kosong.
c) nyeri ketuk ginjal positif. negatif

d) mulut uretra :-
e) anus : -
- peradangan : -
- Hemoroid : -
- Fistula : -
5. Pemeriksaan diagnostik :
a) Laboratorium : -
b) USG : -
c) Lain-lain : -
6. Therapi : -
C. POLA AKTIVITAS DAN LATIHAN
1) Keadaan sebelum sakit : pasien setiap hari
bekerja sebagai ibu rumah tangga dalam melakukan
kegiatan sehari-hari meliputi makan, mandi,
BAB/BAK dan berpakaian pasien melakukannya
secara mandiri dan tidak menggunakan alat bantu

24
2) Keadaan sejak sakit : saat ini aktivitas seperti
mengerjakan atau membantu pekerjaan rumah di batasi
karenakan kondisi fisik lemah.
3) Observasi :
Pasien tampak lesu dan tidak bersemangat
a) Akitivitas harian :
- Makan :0
- Mandi :0
- Pakaian :0 1. mandiri
- Kerapihan :0 2. bantuan dengan alat
3. bantuan orang
- Buang air besar :0 4. bantuan alat dan orang
- Buang air kecil :0 5. bantuan penuh

- Mobilisasi ditempat tidur:0


b) Postur tubuh : simetris
c) Gaya jalan : baik
d) Anggota gerak yang cacat : tidak ada
e) Fiksasi : tidak ada
f) Tracheostomi : tidak ada

4. Pemeriksaan fisik
a) JVP : 5 cm
Kesimpulan : normal
b) Perfusi perifer pembuluh kuku: tidak ada
c) Thorax dan pernapasan :
- Inspeksi :
Bentuk thorax : simetris
Sianosis : tidak ada (kebiruan kulit)
Stridor :tidak ada suara tinggi
- Palpasi :
Vocal fremitus :

25
- Perkusi : sonor redup pekak.
Batas paru hepar : 2 jari

Kesimpulan : pada saat melakukan perkusi


pada dada ditemukan bunyi
sonor
- Auskultasi :
Suara napas : tidak ada
Suara ucapan : tidak ada
Suara tambahan : tidak ada
d) Jantung
- Inspeksi : dada simetris
Ictus cordis : tidak ada
- Palpasi : teraba denyut jantung ictus cordis pada ICS 5
mid clavikula
Ictus cordis :
- Perkusi : pekak
Batas atas jantung : ICS 2
Batas kanan jantung : ICS 6
Batas kiri jantung : ICS 4
- Auskultasi : S1>S2 regukr tidak ada bunyi, suara
tambahan
Bunyi jantung II A : tidak ada
Bunyi jantung II P : tidak ada
Bunyi jantung I T : tidak ada
Bunyi jantung I M : tidak ada
Bunyi jantung II irama gallop: tidak ada
Murmur : tidak ada
HR : x/menit
Bruit : Aorta : tidak ada

26
A. Renalis : tidak ada
A. Femoralis : tidak ada
e) Lengan dan tungkai
- Atrofi otot :  positif negatif
- Rentang gerak : baik

- Uji kekuatan otot :


Kiri : 1 2 3 4 5

Kanan : 1 2 3 4 5
- Refleks fisiologi : normal
- Refleks patologi :normal
Babinski, kiri :  positif negatif
Kanan :  positif negatif
- Clubbing jari-jari : tidak ada
- Varises tungkai : tidak ada
f) Columna vertebralis : tidak ada
- Inspeksi : simetris
- Palpasi : normal
N. III-IV-VI : normal
N. VIII Romberg Test :  positif negatif.
N. XI : normal
5. Pemeriksaan diagnostik :
a) Laboratorium : tidak ada
Hasil pemeriksaan: tidak ada
b) Lain-lain : -
6.. Terapi medik : tidak ada
E. POLA TIDUR DAN ISTIRAHAT
1. Keadaan sebelum sakit :

27
Sebelum sakit kebutuhan istrahat-tidur pasien tercukupi, pasien
biasanya dalam sehari tidur 6-8 jam dan merasa sengar atau bersemangat dalam
beraktivitas kembali.
2. Keadaan sejak sakit :
Selama sakit pasien mengatakan tidak ada perubahan dalam pola
tidurnya hanya saja pasien lebih sering menguap. Tetapi sesekali ia terbangun untuk
BAK .
1. Observasi :
Pasien tampak biasa dan terlihat ngantuk
Ekspresi wajah mengantuk : positif  negatif
Banyak menguap : positif  negatif
Palpebra inferior berwarna gelap : positif  negatif
2. Therapi : -

F. POLA PERSEPSI KOGNITIF


1. Keadaan sebelum sakit : pasien mengatakan apabila sakit pasien dan
keluarga berobat di klinik terdekat. Pasien belum terlalu mengerti tentang pengobatan
rutin dan masih acu ta acuh dengan kesehatannya
2. Keadaan sejak sakit : pasien mengatakan sudah mulai melakukan
pengobatan sesuai ancuran dokter dan selalu di bantu oleh orang
terdekat seperti tetangga nya.
3. Obervasi :
Tampak biasa dan berkomunikasi seperti biasanya
4. Pemeriksaan fisik :
a) penglihatan :
- Cornea : baik
- Visus : baik
- Pupil :
- Lensa mata : tidak ada
- Tekanan Intra Okuler (TIO) : tidak ada

28
b) Pendengaran :
- Pina : baik
- Kanalis : baik
- Membran timpani : baik
- Tes pendengaran : baik
c) N. I : normal
d) N.II : normal
e) N.V :
f) N.VII : normal
g) N.VIII : normal
h) Test Romberg : normal
5. Pemeriksaan diagnostik :
a) laboratorium : tidak ada
b) Lain-lain : tidak ada
c) Therapi : tidak ada

G. POLA PERSEPSI DAN KONSEP DIRI


1. Keadaan sebelum sakit :
Pasien melakukan aktivitas sehari-hari seperti biasanya dan pasien
menghargai dirinya dan selalu mempunyai harapan terhadap hidupnya.
2. Keadaan sejak sakit :
Pasien mengatakan lemas. Pasien sedikit terganggu dalam
menjalankan aktivitas karena merasa lemas dan seperti tidak
menghargai dirinya sendiri.
b. Observasi :
Pasien tampak tidak menghargai dirinya sendiri tetapi masih bisa
melakukan aktivitas.
a) Kontak mata : baik
b) Rentang perhatian : baik
c) Suara dan cara bicara : baik

29
d) Postur tubuh : simestris

4. Pemeriksaan fisik :
a) Kelainan bawaan yang nyata: tidak ada
b) Abdomen :
Bentuk : simetris
Bayangan vena :tidak ada
Benjolan massa :tidak ada
c) Kulit : lesi kulit :tidak ada
d) Penggunaan protesa :tidak ada

H. POLA PERAN DAN HUBUNGAN DENGAN SESAMA


1. Keadaan sebelum sakit :
Pasien sering mengujungi rumah saudara atau keluarga untuk jalan-
jalan dan bertamu di rumah keluarganya. Pasien jga sering mengujungi tetangga
untuk berkomunikasi atau bersilaturahim
2. Keaadaan sejak sakit :
Pasien sudah jarang berkunjung ke tempat keluarga
3. Observasi :
Pasien tampak ingin berkunjung ke tempat keluarganya
Data focus
Data subjektif
I. POLA REPRODUKSI DAN SEKSUALITAS
1. Keadaan sebelum sakit :Tidak dikaji
2. Keadaan sejak sakit :Tidak dikaji
3. Observasi :Tidak dikaji
4. Pemeriksaan fisik :tidak ada
5. Pemeriksaandiagnostik :
a). Laboratorium : tidak ada
b) lain-lain : tidak ada

30
6. Therapi : -

J. POLA MEKANISME KOPING DAN TOLERANSI TERHADAP


STRES
1. Keadaan sebelum sakit :
Pasien mengatakan sering emosi tapi tidak berlebihan saat ada yang
tidak dituruti.
2. Keadaan sejak sakit : pengambilan keputusan dalam menjalankan
tindakan dilakukan oleh pihak keluarga dan orang terdekat pasien, demi kebaikan dan
perkembangan kesehatan pasien
3. Observasi :
Pasien tampak pasrah dengan keputusan keluarga asal demi kebaikan
dirinya.
4. Pemeriksaan fisik :
a) Tekanan darah :
Berbaring : - mmHg
Duduk : 110/60 mmHg
Berdiri : - mmHg

Kesimpulan : hipotensi ortotastik positif. negatif


b) HR : - x/menit
c) Kulit : kering
Keringat dingin : tidak
Basah : tidak
5. Therapi : tidak ada

K. POLA SISTEM NILAI KEPERCAYAAN


1. Keadaan sebelum sakit :
Pasien sering menjalankan ibadah shalat berjamaah di masjid dan
mengikuti tadarus Qur’an di masjid dan di arisan desa

31
2. Keadaan sejak sakit :
Pasien mengatakan setelah sakit pasien tetap sholat 5 waktu tetapi
dilakukan dirumah saja. Dan mengaji dilakukan di rumah.
3. Observasi :
Pasien tampak tepat waktu dalam beribadah 5 waktu
B. Analisa data

No Data Etimologi Masalah


1 Data subjektif : Penurunan kadar Ketidakefektifan
Pasien terlihat hemoglobin perfusi jaringan
lemas dan dalam darah perifer.
mengatakan
pusing. Pasien
mengatakan pasa
saat melakukan
aktivitas yang
berlebihan
seperti
mengangkat
barang yang
berat atau
melakukan
aktivitas 1 jam
lebih. Pada saat
pengkajian wajah
pasien terlihat
pucat dan lesu.

Data objektif :
TD : 110/60
mmHg

32
N : 84x/menit
P : 26x/menit
S : 36◦C

C. Diagnose keperawatan

No Diagnose Tanggal di Tanggal TTD/nama


keperawatan temukan teratasi jelas
Ketidakefektifan 27/5/21 29/5/21
perfusi jaringan
perifer
berhubungan
dengan
Penurunan
kadar
hemoglobin
dalam darah

D. Intervensi keperawatan

No diagnosa Tujuan dan kriteria intervensi Rasional


keperawatan
Ketidakefektifan Tujuan : kecukupan
perfusi jaringan aliran darah melalui
perifer pembuluh kecil
berhubungan diujung kaki dan
dengan tangan untuk
Penurunan mempertahankan
kadar fungsi jaringan
hemoglobin
dalam darah Setelah dilakukan
asuhan keperawatan
selama perfusi
jaringan perifer
adekuat dengan
kriteria hasil :
 Pengisian
kapiler
ekstremitas
 Muka tidak
pucat

33
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan
Anemia (dalam bahasa Yunani: Tanpa darah) adalah keadaan saat
jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin (protein pembawa oksigen)
dalam sel darah merah berada di bawah normal. Sel darah merah mengandung
hemoglobin yang memungkinkan mereka mengangkut oksigen dari paru-paru,
dan mengantarkannya ke seluruh bagian tubuh. Anemia menyebabkan
berkurangnya jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin dalam sel
darah merah, sehingga darah tidak dapat mengangkut oksigen dalam jumlah
sesuai yang diperlukan tubuh (kamus bahasa Indonesia).
Anemia adalah keadaan rendahnya jumlah sel darah merah dan kadar
hemoglobin (Hb) atau hematokrit (Ht) dibawah normal. Anemia menunjukkan
suatu status penyakit atau perubahan fungsi tubuh (Smeltzer, 2001).Anemia
merupakan keadaan dimana masa eritrosit dan atau masa hemoglobin yang
beredar tidak memenuhi fungsinya untuk menyediakan oksigen bagi jaringan
tubuh. Secara laboratoris, anemia dijabarkan sebagai penurunan kadar
hemoglobin serta hitung eritrosit dan hematokrit dibawah normal (Handayani
& Andi, 2008).

B. Saran
Dalam penulisan makalah ini masi banyak penulisan, penempatan huruf,
bahasa, letak titik koma yang kurang sempurna, oleh karena itu kami sebagai
penulis mengharapka kritik dan saran dari pembacah yang dapat membangun
agar penulisan makalah ini kedepannya lebih baik.

34
DAFTAR PUSTAKA

Baughman, D. C. (2000).Keperawatan medikal bedah: buku saku untuk Brunner


dan Suddarth. Jakarta: EGC.
Handayani, W., Andi, S. H. (2008).Buku ajar asuhan keperawatan pada klien
dengan gangguan siste hematologi. Jakarta: Salemba Medika.
Price, S. A., Wilson, L. M. (2005). Patofisiologi: Konsep klinis proses-proses
penyakit. Jakarta: EGC.
Rokim, K. F., Eka, Y., Firdaus, W. (2014). Hubungan usia dan status nutrisi
terhadap kejadian anemia pada pasien kanker kolorektal. (Karya Tulis
Ilmiah). Malang: Universitas Diponegoro.
Smeltzer, S. C. (2001). Buku ajar keperawatan medikal bedah Brunner &
Suddart.Jakarta: EGC.

35

Anda mungkin juga menyukai