Anda di halaman 1dari 11

NAMA : KARNEGI SILALAHI

NIM : 020215188

M.K. : PENGANTAR SOSIOLOGI

TUGAS : 3(TIGA)

Kemukakan analisis Anda tentang mengapa keluarga memiliki peran atau


sumbangan yang penting di masyarakat dilihat dari sudut pandang perspektif fungsional.

Jawab:

Fungsionalisme struktural yaitu sebuah sudut pandang luas yang mencakup dan atau termasuk
kedalam sosiologi dan juga antropologi yang berupaya menafsirkan (mengartikan) masyarakat
sebagai sebuah struktur (sosial) dengan bagian yang saling berhubungan. Fungsionalisme
menafsirkan masyarakat secara keseluruhan dalam hal fungsi atau guna dari elemen-elemen
konstituen; terutama norma, adat, tradisi dan institusi. Sebuah analogi umum yang dipopulerkan
Herbert Spencer menampilkan isi bagian masyarakat ini sebagai "organ" yang bekerja demi
berfungsinya seluruh "badan" (tubuh) secara wajar.Dalam arti yang paling mendasar, istilah ini
menekankan "upaya untuk menghubungkan (sebisa mungkin) dengan setiap fitur, adat, atau
praktik, dampaknya terhadap berfungsinya suatu sistem yang stabil dan kohesif." Bagi Talcott
Parsons, "fungsionalisme struktural" mendeskripsikan suatu tahap tertentu dalam pengembangan
metodologis ilmu sosial, bukan sebuah mazhab pemikiran.

Keberhasilan atau kegagalan keluarga menjalankan fungsi dapat kita pahami dari realitas
atau kenyataan sosial yang terjadi. Kenyataan itu merupakan wujud dan hasil dari tindakan sosial
individu-individu (unsur) keluarga. Pemahaman lebih lanjut dari tindakan sosial tersebut bisa
juga ditelusuri maknanya dari hal-hal atau segala sesuatu dibalik tindakan. Hal-hal tersebut
berupa nilai sosial, kepercayaan, sikap, dan tujuan, yang semuanya itu menjadi penuntun
tindakan seorang individu atas nama dirinya sendiri maupun keluarga dalam mewujudkan cita-
cita atau sebaliknya gagal mencapai yang diinginkan. Contohnya, pecahnya satuan keluarga inti
karena perceraian, antara lain dapat dijelaskan dari lemahnya sendi-sendi hubungan sosial
anggota keluarga (suami istri) karena saling curiga (rentannya kepercayaan) yang tidak dapat
dikendalikan, dan sebagainya.

Seluruh pemikiran mengenai studi kemasyarakatan dan keluarga yang berkembang di


Eropa telah meletakkan dasar bagi perkembangan pemikiran selanjutnya. Jasa besar para pemikir
tersebut mendorong tumbuh dan berkembangnya pemikiran sosiologis serta mengkondisikan
lahirnya berbagai pendekatan baru dalam mempelajari masyarakat dan keluarga; hal ini memiliki
arti penting bagi perkembangan studi Sosiologi dan Sosiologi Keluarga ke depan.

Pemikiran-pemikiran tersebut juga mengantar dan mengenalkan kita dalam mempelajari


masyarakat dan keluarga. Kita mendapatkan substansi pokok dan arah tentang apa, ke arah mana
dan mengapa mempelajari sosiologi keluarga.

Namun, ada baiknya kita teruskan pembelajaran ini dengan memahami terlebih dulu
tentang pengertian keluarga, sebelum berlanjut pada Sosiologi Keluarga. Pengertian mengenai
keluarga memiliki padanan istilah dan kata yang artinya sama atau hampir sama dan bahkan
berbeda. Mari kita coba perhatikan pengertian mengenai keluarga berikut ini.

Keluarga ialah satu kumpulan manusia yang dihubungkan dan dipertemukan melalui
pertalian/hubungan darah, perkawinan atau melalui adopsi (pengambilan) anak angkat. Di Barat
(negara-negara industri Eropa dan Amerika Utara) yang masyarakatnya hidup dan bekerja di
bidang industri maka keluarga didefinisikan sebagai satu satuan sosial terkecil yang mempunyai
hubungan darah atau memiliki pertalian hubungan sah melalui perkawinan, pengambilan anak
angkat dan sebagainya. Secara umum, keluarga inti yang kita kenal, memiliki komposisi unsur
yang terdiri atas ayah, ibu, dan anak-anak. Hubungan-hubungan sosial keluarga berlangsung
intim berdasarkan ikatan perasaan dan batin yang kuat, di mana orang tua berperan mengawasi
serta memotivasi untuk mengembangkan tanggung jawab sosial dalam keluarga dan masyarakat.

Burgess (dalam Eshleman) mengemukakan tentang karakteristik keluarga secara umum


sebagai berikut.

1. Keluarga terdiri dari orang-orang yang terikat oleh perkawinan, hubungan darah
atau adopsi.
2. Anggota keluarga hidup bersama di bawah satu atap (rumah) merupakan satuan
rumah tangga atau mereka menganggapnya sebagai rumah sendiri.
3. Keluarga terdiri atas orang-orang yang berinteraksi dan berkomunikasi satu
dengan yang lain menurut peranan masing-masing, seperti misalnya sebagai
suami, istri, ayah, ibu, anak laki-laki, anak perempuan, kakak atau adik laki-laki
atau perempuan.
4. Keluarga menghidupkan kebiasaan dan budaya tertentu yang diturunkan dari
budaya umum (masyarakat) dan keluarga sering kali mempraktikkannya sendiri
dalam bentuk tertentu.

Berikut ini definisi-definisi sosiologi yang dikemukakan beberapa ahli yang mendasari
perumusan pengertian sosiologi keluarga.

1. Pitirim Sorokin Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh
timbal balik antara aneka macam gejala sosial (misalnya gejala ekonomi, gejala
keluarga, dan gejala moral), sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan
pengaruh timbal balik antara gejala sosial dengan gejala nonsosial, dan yang terakhir,
sosiologi adalah ilmu yang mempelajari ciri-ciri umum semua jenis gejala-gejala
sosial lain.
2. Roucek dan Warren Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara
manusia dalam kelompok-kelompok.
3. William F. Ogburn dan Mayer F. Nimkof Sosiologi adalah penelitian secara ilmiah
terhadap interaksi sosial dan hasilnya, yaitu organisasi sosial.
4. J.A.A. Van Dorn dan C.J. Lammers Sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang
struktur-struktur dan prosesproses kemasyarakatan yang bersifat stabil.
5. Max Weber Sosiologi adalah ilmu yang berupaya memahami tindakan-tindakan
sosial.
6. Selo Sumardjan dan Soelaiman Soemardi Sosiologi adalah ilmu kemasyarakatan yang
mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial termasuk perubahan sosial.
7. Paul B. Horton Sosiologi adalah ilmu yang memusatkan penelaahan pada kehidupan
kelompok dan produk kehidupan kelompok tersebut.
8. Soerjono Soekanto Sosiologi adalah ilmu yang memusatkan perhatian pada segi-segi
kemasyarakatan yang bersifat umum dan berusaha untuk mendapatkan polapola
umum kehidupan masyarakat.
9. William Kornblum Sosiologi adalah suatu upaya ilmiah untuk mempelajari
masyarakat dan perilaku sosial anggotanya dan menjadikan masyarakat yang
bersangkutan dalam berbagai kelompok dan kondisi kehidupan kelompok.
10. E.M. Duval Sosiologi keluarga (dalam Eshleman) adalah mempelajari aspek-aspek
dan tahapan kehidupan keluarga, yaitu masa pacaran dan pemilihan jodoh.

pembentukan keluarga dan fungsi, pengaruh perubahan sosial pada keluarga, krisis
keluarga dan keretakan keluarga, kesuksesan hidup keluarga, pelapisan sosial dan
pengaruhnya pada keluarga. Secara umum, sosiologi keluarga menurut Eshleman
menekankan pada studi tentang bagaimana masyarakat dan kelompok sosial termasuk
keluarga terorganisir dalam struktur dan proses sosialnya, juga dalam sistem dan
kelembagaan sosialnya.

Dari uraian dan pembahasan tersebut di atas, dirumuskan pengertian sosiologi


keluarga sebagai ilmu pengetahuan kemasyarakatan yang mempelajari pembentukan
keluarga, hubungan dan pengaruh timbal balik dari aneka macam gejala sosial terkait
dengan hubungan antar dan intermanusia dalam kelompok (keluarga), sistem dan
kelembagaan sosial dengan individu dan/atau sebaliknya, struktur sosial, proses-proses
dan perubahan sosial, tindakan sosial, perilaku sosial serta aspek-aspek kelompok
maupun produk kehidupan kelompok.

Konsep Teori Struktural Fungsional Menurut Durkheim, masyarakat adalah


sebuah kesatuan di mana di dalamnya terdapat bagian-bagian yang dibedakan. Bagian-
bagian dari sistem tersebut mempunyai fungsi masing-masing yang membuat sistem
menjadi seimbang. Bagian tersebut seling interdependensi satu sama lain dan fungsional,
sehingga jika ada yang tidak berfungsi maka akan merusak keseimbangan sistem.
(Hidayat,2014) Durkhem mengartikan istilah fungsional dalam dua makna. Pertama,
fungsional adalah sebuah sistem dari pergerakan penting seperti pencernaan atau
respirasi, lalu yang kedua adalah mengacu kepada relasi/keterkaitan dalam pergerakan
tersebut termasuk hubungan saling ketergantungan dalam setiap organisme (Jones,
1986:26 dikutip dari Hidayat 2014). Banyak pemikir fungsionalis yang mengacu
pemikiran Emile Durkheim percaya bahwa masyarakat dibangun bersama oleh nilai-nilai
bersama dan saling ketegantungan sosial-ekonomi. Kalangan fungsionalis juga
menjelaskan bahwa selalu ada kemungkinan terjadinya runtuhnya masyarakat jika nilai-
nilainya tidak terus-menerus menegaskan kembali dan diturunkan dari satu generasi ke
generasi lain. Oleh karena itu, pemeliharaan nilai-nilai adalah „fungsi‟ penting dari
masyarakat. Namun orang tidak selalu mengikuti hati nurani kolektif ini karena mereka
secara alami memikirkan diri sendiri dan lebih memilih untuk menjaga kepentingan
mereka sendiri dengan mengorbankan orang lain.

Kokohnya masyarakat dalam pandangan Durkheim terjadi karena tegaknya


hukum dan berfungsinya sistem pendidikan serta terjadinya sosialisasi utama keluarga.
Hukum memang lebih lemah dari dua lembaga sosialisasi yaitu pendidikan dan keluarga.
Fungsi yang jauh lebih kuat adalah meresapnya „self-control‟ bahwa kita semua belajar.

Berikut adalah beberapa tokoh-tokoh fungsionalisme klasik dan fungsionalisme


modern:

a. Tokoh fungsionalis klasik

Dahrendorf Dahrendorf mengemukakan bahwa teori fungsionalisme sebagai


berikut: (1) setiap masyakarat merupakan suatu struktur unsur yang relatif gigih dan
stabil. (2) mempunyai struktur unsur yang terintegrasi dengan baik. (3) setiap unsur
dalam masyarakat mempunyai fungsi, memberikan sumbangan pada terpeliharanya
masyarakat sebagai suatu sistem; (4) setiap struktur sosial yang berfungsi didasarkan
pada konsensus mengenai nilai dikalangan para anggotanya. Auguste Comte Tokoh awal
teori ini ialah “bapak sosialogi” Auguste Comte. Sumbangan utama Comte bagi sosiologi
adalah pembagian antara statika sosial dan dinamika sosial serta organisme menampilkan
kesalingterkaitan yang erat.

b. Tokoh Fungsionalisme Modern

Talcott Parsons Talcott Parsons merupakan tokoh sosiologi modern yang


mengembangkan analisis Fungsional dan sangat rinci menggunakannya dalam karnya-
karyanya. Karya pertamanya yang memakai analisis fungsional adalah buku The Social
System (1951). Dalam karya berikutnya Parsons secara rinci menguraikan fungsi berbagai
struktur bagi dipertahankannya sistem sosial. (Wahyu, 2006) Fungsionalisme Struktural
Parsons mengenal empat fungsi penting untuk semua system dan terkenal dengan istilah
AGIL. Fungsi-fungsi penting tersebut ialah Adaptation, Goal Atteinment, Integration, dan
Latency. a. Adaptation ( adaptasi), Sistem tersebut harus menyesuaikan diri dengan
lingkungannya dan setelah itu membuat lingkungan sesuai dengan kebutuhan. b. Goal
Atteinment (Pencapaian tujuan), Sistem tersebut harus mendefenisikan dan mencapai
tujuannya. c. Integration (integrasi), Sistem tersebut harus mampu mensinergiskan antar
komponen dalam sistem tersebut dan juga ketiga fungsi yang lain (Adaptation, Goal
Atteinment, Latency) d. Latency( pemeliharaan pola), Sistem tersebut juga harus melengkapi,
memelihara dan memperbaiki, baik motivasi individual maupun pola-pola kultural yang
menciptakan dan menopang motivasi. Parson mendesain skema AGIL diatas untuk
digunakan disemua tingkat dalam sistem teoritisnya, yaitu: Organisme perilaku ialah sistem
tindakan yang melaksanakan fungsi adaptasi, menyesuaikan diri dengan lingkungan dan
mengubah lingkungan.

Sistem kepribadian melaksanakan fungsi pencapaian tujuan dengan menetapkan


tujuan system dan mengoptimalkan sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan. Sistem
Sosial menjalankan fungsi integrasi dengan mengendalikan setiap komponennya dan sistem
kultural melaksanakan fungsi pemeliharaan pola.
Robert K. Merton (1968) Sebagai seorang yang mungkin dianggap lebih dari ahli
teori lainnya telah mengembangkan pernyataan mendasar dan jelas tentang teori-teori
fungsionalisme, ia adalah seorang pendukung yang mengajukan tuntutan lebih terbatas bagi
perspektif ini. Mengakui bahwa pendekatan ini (fungsional-struktural) telah membawa
kemajuan bagi pengetahuan sosiologis. Merton telah mengutip tiga postulat yang ia kutip
dari analisa fungsional dan disempurnakannya, diantaranya ialah :
1. Kesatuan fungsional masyarakat yang dapat dibatasi sebagai suatu keadaan dimana
seluruh bagian dari system sosial bekerjasama dalam suatu tingkatan keselarasan atau
konsistensi internal yang memadai, tanpa menghasilkan konflik berkepanjangan yang
tidak dapat diatasi atau diatur. Atas postulat ini Merton memberikan koreksi bahwa
kesatuan fungsional yang sempurna dari satu masyarakat adalah bertentangan dengan
fakta. Hal ini disebabkan karena dalam kenyataannya dapat terjadi sesuatu yang
fungsional bagi satu kelompok, tetapi dapat pula bersifat disfungsional bagi kelompok
yang lain.
2. Fungionalisme universal yang menganggap bahwa seluruh bentuk sosial dan kebudayaan
yang sudah baku memiliki fungsi-fungsi positif. Terhadap postulat ini dikatakan bahwa
sebetulnya disamping fungsi positif dari sistem sosial terdapat juga dwifungsi. Beberapa
perilaku sosial dapat dikategorikan kedalam bentuk atau sifat disfungsi ini. Dengan
demikian dalam analisis keduanya harus dipertimbangkan.
3. Indispensability yang menyatakan bahwa dalam setiap tipe peradaban, setiap kebiasaan,
ide, objek materiil dan kepercayaan memenuhi beberapa fungsi penting, memiliki
sejumlah tugas yang harus dijalankan dan merupakan bagian penting yang tidak dapat
dipisahkan dalam kegiatan system sebagai keseluruhan. Menurut Merton, postulat yang
kertiga ini masih kabur (dalam artian tak memiliki kejelasan), belum jelas apakah suatu
fungsi merupakan keharusan.
Dengan kata lain, Merton memandang bahwa segala pranata sosial yang ada
dalam masyarakat itu bersifat fungsional dalam artian positif dan negatif. Sebagai contoh:
lembaga pendidikan, ini berfungsi dan sangat penting dalam masyarakat, terutama untuk
memajukan kualitas pendidikan di negeri ini. Lembaga pendidikan memberikan
pengajaran dan ilmu-lmu pengetahuan untuk para generasi muda penerus bangsa. Dalam
hal ini, lembaga pendidikan bersifat fungsional, dan menjurus pada artian yang positif.
Kemudian perampok, dan pelaku kriminalitas, pada dasarnya pelaku kriminalitas selain
merugikan masyarakat, juga mempunyai fungsi tersendiri. Bayangkan saja jika tidak ada
pelaku kriminalitas, apa yang akan dikerjakan dan ditangani oleh para polisi? Otomatis
mereka juga tidak mempunyai job untuk menghasilkan tambahan uang. Meskipun bagi
orang yang menjadi korban juga merupakan suatu kerugian tersendiri. Bagitulah dalam
kehidupan masyarakat, memang saling berkesinambungan, mempunyai suatu akibat dan
fungsi-fungsi tersendiri.
Penerapan Teori Struktural-Fungsional dalam Pendidikan di Sekolah Dalam buku
Manajemen Pendidikan Mutu berbasis Sekolah yang dikeluarkan oleh Direktorat
Pendidikan Menengah Umum, Dirjen Dikdasmen, Depdiknas (1999:6- 7) diungkapkan
beberapa indikator yang menjadi karesteristik dari konsep MPBS sekaligus merefleksikan
peran dan tanggung jawab masing-masing pihak antara lain; (1) lingkungan sekolah yang
aman dan tertib, (2) sekolah memiliki misi dan target mutu yang ingin dicapai, (3)
sekolah memiliki kepemimpinan yang kuat, (4) adanya harapan yang tinggi dari personil
sekolah (kepala sekolah, guru, dan staf lainnya, termasuk siswa) untuk berprestasi, (5)
adanya pengembangan staf sekolah yang terus menerus sesuai tuntutan IPTEK, (6)
adanya pelaksanaan evaluasi yang terus menerus terhadap berbagai aspek akademik dan
administrative, dan pemanfaatan hasilnya untuk penyempurnaan dan atau perbaikan
mutu, (7) adanya komunikasi dan dukungan insentif dar orang tua siswa dan masyarakat
lainnya. Oleh karena itu dapatlah disimpulkan bahwa praktek teori struktural-fungsional
yang mengedepankan integrasi, maka tanggung jawab dan peran masing-masing pihak
harus selalu menjadi prioritas dalam rangka membangun intergrasi solid di sekolah
terutama yang erat kaitannya dengan peningkatan mutu pendidikan .
Analisis SWOT (Strengths-Weakness-Opportunities-Threats) merupakan salah
satu metode yang dapat digunakan untuk membantu sekolah mengungkapkan dan
mengidentifikasi permasalahan. Pentingnya analisis SWOT dilakukan agar dapat
diketahui kekuatan dan kelemahan yang melekat dlam lingkungan internal system itu
sendiri, serta peluang dan tantangan yang dating dari lingkungan eksternal system
tersebut. Berbagai hasil studi empirik menunjukkan bahwa suatu manajemen itu akan
berhasil jika mampu mengoptimalkan pemberdayaan dan pemanfaatan kekuatan dan
peluang yang dimilikinya serta mampu meminimalkan intensitas pengaruh faktor
kelemahan dan hambatan disertai upaya untuk memperbaiki atau mengatasinya
(syamsuddin, 2000:5 dalam batubara 2004). 2.3 Sosialisasi dan Pendidikan Sosialisasi
adalah proses dimana seorang individu belajar dan menginternalisasi norma dan nilai
sepanjang hidupnya dalam masyarakat mana dia berada, dan membangun identitas
sosialnya.
Dalam pandangan Durkheim sekaligus menekankan bahwa pendidikan terdiri dari
beberapa metode sosialisasi kepada generasi muda. Pendidikan menjadi sebuah alat
sosialisasi kepada anak-anak dan generasi muda untuk menjadikan mereka sebagai
bagian dari kehidupan sosial. Sosialisasi dilakukan sebagai aktivitas yang sadar dan
sukarela dilakukan oleh generasi sebelumnya terhadap yang lebih muda. Pendidikan
dirumah dilakukan untuk membentuk kepribadian anak. Dengan kata lain menurut
Durkhem, hal tersebut sebagai proses konstruksi anak yang berorientasi, dimana, agar
nantinya akan bisa berguna sesuai dengan peran sosialnya serta bisa menempati posisi
sosial di masyarakat. Durkheim memberikan tiga karakteristik pendidikan. Pertama,
pendidikan merupakan wadah untuk mendapatkan peran sosial. Hal itu karena dalam
pendidikan memungkinkan terjadinya kontak antara seorang individu dengan masyarakat.
Kontak tersebut mengakibatkan terjadinya adaptasi individu tersebut dengan lingkungan
di mana dia tinggal sehingga dapat membentuk karakter dan memainkan peran yang
berguna di masyarakat. Sosialisasi yang baik adalah mempersiapkan peran sosial seorang
individu di masyarakat. Kedua, pendidikan sebagai sebuah metode sosialisasi orang
dewasa kepada generasi muda. Ketiga, pendidikan sebagai metafora hipnosis. Durkheim
mengunakan
metafora hipnosis untuk menekankan kekuatan tindakan pendidikan. Ada dua
dimensi dalam hipnosis yaitu dimensi pasif yang menunjuk pada kurangnya resistensi
dari subjek terhipnosis gagasan. Seorang individu mentransmisikan gagasan tersebut
kepada masyarakat. Dimensi kedua adalah ototritas yang berada di bawah kewenangan
hipnosis yang memiliki kewenangan untuk menunjukkan penolakan untuk mematuhi
bahkan tidak dibayangkan bahwa perbuatan tersebut harus dilakukan. Sesuatu yang harus
dilihat saat ia menunjukkan bahwa tidak bisa sebaliknya. Dalam pandangan Durkheim,
kedua kondisi tersebut terpenuhi dalam hubungan antara guru dan anak. Anak secara
alami dalam keadaan pasif cukup sebanding dengan yang artifisial yang ditempatkan
terhipnotis. 2.4 Peran Keluarga dalam Sosialisasi Menurut Durkheim, keluarga memiliki
peran penting dalam membentuk kondisi sosial, psikologis, moral dan emosi seorang
anak. Jika sebuah keluarga baik, maka moral anak pun akan baik. Relasi sosial keluarga
didasarkan pada hubungan pribadi yang intim dan sederhana tidak berdasarkan
keuntungan ekonomis. Hubungan sosial sederhana ini dapat membentuk anak dalam
kehidupan sosial. Proses sosialisasi tidak terbatas pada efek praktik pendidikan, yaitu
tindakan eksplisit dan spesifik oleh orang tua untuk mendidik anak-anak mereka dengan
cara tertentu. Pemikiran dan karakter anak pun dipengaruhi oleh tindakan-tindakan kecil
yang tervjadi setiap saat baik di sekolah maupun di rumah. Sosialisasi bisa melalui sistem
mentalitas dan sistem ide yang ada di setiap individu. Sistem ide bisa berupa sentimen
dan praktik-praktik yang di ekspresikan dalam diri kita. Pendidikan bisa melanggengkan
homogenitas yang ada di antara anggota masyarakat engan menanamkan dalam pikiran
anak hubungan dasar yang diperllukan oleh kehidupan di masyarakat. Melalui pendidikan
juga, seseorang bisa barubah dari makhluk individu (Individual beings) menjadi makhluk
sosial (social beings). Melalui pendidikan, individu belajar bagaimana untuk hidup dalam
masyarakat yang bertujuan memahami jumlahnya, aturan, norma dan spasi agar menjadi
makhluk sosial. Oleh karena itu pendidikan memiliki peran penting.
Sosialisasi merupakan sebuah mediasi utama untuk menciptakan integritas
kolektif yang memberikan implikasi pada pendidikan di masyarakat. Di dalamnya
menjadi perhatian dan tanngung jawab utama dari keluarga, negara, dan sekolah dalam
transpformasi anak-anak menjadi masyarakat dewasa (Haecht, 2006:22 di kutip dari
Hidayat, 2014). Kekuatan moral dalam proses sosial sangatlah penting karena itu
berkontribusi pada tingkat perkembangan masyarakat. Masyarakat bergerak ke arah
positif dengan diwarnai lahirnya generasi baru. Generasi baru perlu ditanamkan sistem
mentalitas dan sistem ide sebagai suatu generasi baru. Sosialisasi merupakan proses
permanen yang memungkinkan generasi baru bisa manjadi bagian dari masyarakat,
sementara itu generasi tua memiliki peran dan tanggung jawab untuk mengajarkan
kepada anak-anak muda tentang kehidupan sosial. Dengan kata lain, akan tercipta
transmisi kebudayaan di dalam masyarakat. Disetiap masyarakat selalu mengadopsi
pendidikan untuk menyesuaikan dengan nilai dan tujuannya. Sistem pendidikan
berkontribusi untuk eksistensi sebuah masyarakat melalui kurikulum yang diajarkan di
sekolah, sehingga murid-murid akan dipersiapkan untuk menantisipasi kondisi di masa
yang akan datang. Dengan kata lain pendidikan melalui praktik kurikulum di sekolah
akan menghasilkan individu dewasa yang ideal untuk masyarakat. Ada dua hal penting
mengenai pendidikan, yaitu, pertama, pendidikan merupakan sebuah alat sosialisasi
kepada generasi muda. Kedua, pendidikan dan sosialisasi saling berkaitan secara
permanen dan tidak bisa dipisahkan satu dengan lainnya (Beloni, 2007 dalam Hidayat
2014). Yang membedakan antara individu dengan hewan adalah pendidikan. Karena
hewan tidak mewariskan apa pun untuk keturunannya. Walaupun misalnya ibu burung
mengajarkan anaknya terbang dari sarangnya. Tetapi sebenarnya walaupun tidak
diajarkan, anak burung bis menemukan sendiri karena disertai dengan mekanisme
naluriah didirikan saat lahir. Lain dengan manusia dimana semua keterampilan tidak
dapat ditularkan dari satu generasi ke generasi lain dengan cara faktor keturunan, kecuali
melalui pendidikan. Pendidikan berarti bahwa keterampilan individu tidak turun temurun,
tetapi ditanamkan melalui pendidikan.
Kesimpulan Teori Struktural fungsional adalah teori yang membahas tentang
stratifikasi dan peranan (fungsi) yang ada didalam masyarakat. Teori ini menjelaskan
bagaimana struktur yang ada itu berinteraksi dan berfungsi sesuai dengan peranan
masing-masing lembaga tersebut dengan mengedepankan integrasi, Sehigga jika terjadi
konflik sosial maka akan dengan mudah diselesaikan. Pendidikan dalam teori ini bisa
dikatakan bahwa setiap strukturisasi jika berfungsi sesuai dengan stratifikasi yang
diperankan maka akan membentuk lembaga- lembaga yang paradigmatis untuk mendidik
masyarakat istiqama dan menjadi panutan. Artinya, fungionaris yang ada pada lembaga-
lembaga tersebut menjalankan fungsi serta peranannya yang sesuai oleh aturan-aturan
yang ada dalam masyarakat. Selain itu, sistem sosial mempunyai bagian yang saling
berhubungan, misalnya, status suami, istri, dan anak yang saling berhubungan sehingga
membentuk lembaga yang kita kenal sebagai keluarga. Pendidikan dalam lembaga
keluarga sangat kental dan jelas yang menjadikan suami sebagai kepala keluarga
bertanggung jawab penuh dan menjadi panutan keluarganya dengan peranannya mencari
nafkah buat keluarga.

Referensi :

Parwitaningsih, 2014, Pengantar Sosiologi, Tangerang Selatan: Penerbit UT

Rahmat, (2014), Sosiologi Pendidikan Emile Durkheim. Jakarta : PT. Raja Grafindo
Persada

Batubara, Muhyi, (2004), Sosiologi Pendidikan, Jakarta: Ciputat Press Wahyu, 2006,
sosiologi pendidikan, retrieved on

http://ikhsansindu.blogspot.co.id/2012/11/pendidikan-dalam-analisis-teori.html

Anda mungkin juga menyukai