Anda di halaman 1dari 19

KESEHATAN SPIRITUAL

DI SUSUN OLEH:KELOMPOK I

1. Ihsanat Refi Suharti (2014901062)


2. Indana Zulfa (2014901064)
3. Siti Saodah ( 2014901085)

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES TANJUNGKARANG


JURUSAN KEPERAWATAN TANJUNGKARANG
PRODI PROFESI NERS TANJUNGKARANG
TAHUN AKADEMIK 2020/2021

i
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, kami ucapkan rasa syukur kita kehadirat ALLAH Subhannahu


wa ta'ala yang telah memberikan beragam nikmatnya, diantaranya ada nikmat terbesar
yaitu nikmat Islam, nikmat sehat, sehingga ALLAH azza wa jalla menggerakan hati
kami untuk mulai mengerjakan, menyelesaikan Tugas Psikososial
Sholawat teriringi salam semoga tetap tertujukan kepada Nabi ALLAH,
Muhammad Sholallahu 'alaihi wassalam. Kepada Keluarga beliau sholallahu 'alaihi
wassalam, Para sahabat, tabi'in, tabiut tabi'in, dan kepada setiap orang yang kokoh
berdiri menjalankan sunnahnya, istiqomah hingga yaumul akhir. InsyaaALLAH.
Alhamdulillah di minggu Pertama perkuliah pada semester pertama ini, kami
mendapat tugas pada mata kuliah Psikososial Tujuan dari penulisan ini, yaitu agar si
penyusun dan si pembaca kelak dapat memahami teori, psikososial serta mampu untuk
menjelaskan dan menerapkan kepada diri sendiri atau kepada orang lain.
Demikianlah alasan penyusunan dari makalah ini, Atas kekurangan yang
nampak pada penulisan ini, baik itu tersirat ataupun tersurat kami mohon maaf, dan
selebihannya semoga mendatangkan manfaat kepada kita semua, penyusun atau
pembaca.

Bandar Lampung, Agustus 2020

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...I


KATA PENGANTAR ............................................................................................II
DAFTAR ISI .........................................................................................................III
BAB 1 PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG ................................................................................1
B. RUMUSAN MASALAH ............................................................................2
C. TUJUAN UMUM .......................................................................................3
BAB IIPEMBAHASAN
A. PENGERTIAN KESEHATAN SPIRITUALITY ....................................4
B. ELEMEN – ELEMEN DALAM SPIRITUAL .........................................4
1. Kebutuhan Spritual..........................................................................4
2. Kesadaran Spritual...........................................................................6
1) Tingkat Existensia......................................................................7
2) Tingkat Transpersonal Bands...................................................7
3) Level of Mind.............................................................................7
3. Kesehatan Spiritual .........................................................................8
C. TANDA - TANDA KESEHATAN SPIRITUAL....................................9
a. Sabar Terhadap Ketidaknyamanan Fisik.........................................9
b. Sabar dengan Menahan Diri dari Segala Hal yang Dilarang ..........9
c. Bersabar dalam menghadapi orang yang mengganggu kita............9
D. MASALAH SPIRITUAL............................................................................9
1. Depresi atau rasa tertekan..............................................................10

BAB III CONTOH KASUS

1. Kasus masalah spiritual...........................................................................11

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan................................................................................................14
B. Saran ..........................................................................................................14

DAFTAR PUSTAKA

iii
iv
BAB 1PENDAHULUAN

D. LATAR BELAKANG
Kesehatan mutlak diperlukan manusia agar dapat melangsungkan kehidupan
di dunia ini, dan beraktivitas untuk mencapai sebuah tujuan tertentu.Dalam
sebuah pengertian menurut World Health Organization (WHO) kesehatan
merupakan keadaan baik secara menyeluruh termasuk kondisi fisik, mental dan
sosialnya, tidak sekedar terbebas dari suatu penyakit atau kecacatan. Namun,
jika kita melihat lebih jauh lagi pada konsep keperawatan holistik, dikatakan
bahwa sehat tidak hanya sebatas pada sehat fisik, mental dan juga sosial saja,
tetapi meliputi semua unsur pada diri manusia meliputi aspek biologis,
psikologis, sosial, kultural serta yang tak kalah pentingnya adalah spiritual (bio-
psiko-sosio-kultural dan spiritual). Kesehatan spiritual menjadi hal yang mutlak
diperlukan seorang manusia untuk mencapai derajat kesehatan yang
menyeluruh.Kalau dari konteks agama Islam, penciptaan manusia terdiri atas
tiga unsur, yaitu unsur badan/jasad (jasmaniah), unsur nyawa (Nafs) dan unsur
roh (ruh).Unsur jasmaniah merupakan unsur yang bisa kita lihat dengan panca
indera, sedangkan unsur nyawa berbeda dengan ruh.Nyawa/Nafs tidak hanya
dimiliki manusia saja, tetapi semua hewan dan tumbuhan juga memiliki
nyawa.Untuk unsur ruh, hewan dan tumbuhan tidak memilikinya.Unsur ruh
merupakan unsur yang paling special karena hanya manusia yang dibekali
ruh.Saking spesialnya, di kitab suci Al-Qur’an disebutkan bahwa ruh disebut
sebagai ciptaan khusus (khalqan akhar). Selain itu, ruh juga merupakan unsur
yang suci, karena sang Pencipta ketika memasukkan ruh pada saat penciptaan
manusia tidak melalui proses dipegang, melainkan ditiup.
Dalam pandangan ilmu keperawatan, hakikat manusia dikatakan “sehat”
kalau sudah mampu memenuhi semua kebutuhannya. Sekarang yang menjadi
pertanyaan, bagaimana cara memenuhi kebutuhan dari ketiga unsur yang ada di
dalam diri kita tersebut? Apakah hanya cukup makan, minum, istirahat, rekreasi,
olahraga saja?Tentu jawabannya adalah tidak.Makan, minum, istirahat, rekreasi,

1
olahraga hanya bisa memenuhi kebutuhan jasmaniah saja. Sedangkan untuk
unsur nyawa/Nafs dan ruh tidak bisa. Kebutuhan dari unsur ruh hanya dapat kita
penuhi dengan “mengingat” sang Pencipta. Sebagai sebuah unsur yang suci,
maka pemenuhan kebutuhan unsur ruh bisa dilakukan dengan “mengingat” yang
Maha Suci.Itulah yang dikatakan sebagai konsep pemenuhan kebutuhan spiritual
untuk mencapai derajat kesehatan spiritual. Kalau kita menengok ke belakang,
definisi istilah spiritual berasal daribahasa Yunani “spiritus” yang berarti
bernapas. Sedangkan istilah spiritual menurut beberapa pakar diantaranya
mengacu pada bagaimana menjadi manusia yang mencari makna melalui
hubungan intrapersonal, interpersonal dan transpersonal (Barbara, 2010).
Ada beberapa hal yang perlu kita ketahui, dengan penyakit spiritual yang
adapada diri kita dan mungkin kan mengerogoti kebugaran dan kesehatan ruhani
kita.Perhatikanlah ucapan kita.., jangan sampai terjangkit "Penyakit Bohong",
perhatikanlahibadah kita.., jangan sampai menjadi "Riya", perhatikanlah
kecantikan / ketampanankita, jangan sampai terindikasi "Penyakit Sombong",
jangan sampai karena kekayaankita menjadi "Penderita Kikir", Jangan sampai
dengan kemiskinan kita menjadi"Pengidap Kufur", Jangan sampai dengan
keilmuan kita menjadi "Penderita takabur", Hati - hatilah selalu jika kita, rajin
beribadah karena dilihat dan dipuji orang, dan menjadimalas ketika sendirian.
Sudahkah kita mengenal kondisi Kesehatan Spiritual kita ? Lakukanlah
identifikasi dengan benar, kenali langkah - langkah tindak lanjutnya,berobatlah
ke Klinik spiritual, lakukan perawatan intensif dan regular, sekali - kalimintakan
general check up spiritual, semoga kita menjadi manusia paripurna, yangbugar
dan sehat secara lahir dan bathin. Amin

E. RUMUSAN MASALAH
Mengidentifikasi permasalahan berdasarkan materi yang dipelajari yaitu Konsep
Kesehatan Spiritual.

2
F. TUJUAN UMUM
a. Mengetahui konsep kesehatan spiritual secara umum
b. Mampu menganalisa elmen – elmen dalam spiritual
c. Mengetahui tanda– tanda kesehatan spiritual
d. Mengetahui Masalah spiritual

3
BAB II
PEMBAHASAN

E. PENGERTIAN KESEHATAN SPIRITUALITY


Definisi istilah spiritual berasal dari bahasa Yunani “spiritus” yang berarti
bernapas. Sedangkan istilah spiritual menurut beberapa pakar diantaranya
mengacu pada bagaimana menjadi manusia yang mencari makna melalui
hubungan intrapersonal, interpersonal dan transpersonal (Barbara, 2010). Agama
merupakan keyakinan adanya Tuhan dan praktek yang terorganisir (Barbara,
2010).
Menurut Hamid (2009) karakteristik spiritual diantaranya, meliputi
hubungan manusia dengan diri sendiri, hubungan manusia dengan alam sekitar,
hubungan manusia dengan orang lain, dan hubungan manusia dengan Tuhan.
Hubungan dengan diri sendiri atau self reliance yaitu usaha untuk memahami
diri sendiri tentang siapa dirinya, apa tujuan hidupnya, kenapa dia ada dan apa
yang dapat dilakukan. Kalau usaha tersebut dilakukan seseorang dengan
sungguh-sungguh maka individu tersebut akan memiliki sikap kepercayaan diri,
percaya dengan masa yang akan datang, ketenangan batin, serta keselarasan
dengan diri sendiri. Hubungan dengan alam merupakan kewajiban manusia
untuk menjaga keseimbangan alam.
Spiritualitas merupakan konsep personal yang secara umum dipahami
tentang attitude seseorang yang berhubungan dengan Tuhan atau kekuatan non
material hidup dan alam (Carson, 2008, dan Brien, 2011).

F. ELEMEN – ELEMEN DALAM SPIRITUAL


1 Kebutuhan Spritual
Kebutuhan spiritual adalah kebutuhan untuk mempertahankan atau
mengembalikan keyakinan dan memenuhi kewajiban agama, serta kebutuhan
untuk mendapatkan maaf atau pengampunan, mencintai, menjalin hubungan
penuh rasa percaya dengan Tuhan (Carson, 1989).  Maka dapat disimpulkan
kebutuhan spiritual merupakan kebutuhan untuk mencari arti dan tujuan

4
hidup, kebutuhan untuk mencintai dan dicintai serta rasa keterikatan dan
kebutuhan untuk memberikan dan mendapatkan maaf. 
Menginventarisasi 10 butir kebutuhan dasar spiritual manusia (Clinebell
dalam Hawari, 2002), yaitu :
a. Kebutuhan akan kepercayaan dasar (basic trust), kebutuhan ini secara
terus-menerus diulang guna membangkitkan kesadaran bahwa hidup
ini adalah ibadah.
b. Kebutuhan akan makna dan tujuan hidup, kebutuhan untuk
menemukan makna hidup dalam membangun hubungan yang selaras
dengan Tuhannya (vertikal) dan sesama manusia (horisontat) serta
alam sekitaraya
c. Kebutuhan akan komitmen peribadatan dan hubungannya dengan
keseharian, pengalaman agama integratif antara ritual peribadatan
dengan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari.
d. Kebutuhan akan pengisian keimanan dengan secara teratur
mengadakan hubungan dengan Tuhan, tujuannya agar keimanan
seseorang tidak melemah.
e. Kebutuhan akan bebas dari rasa bersalah dan dosa. rasa bersalah dan
berdosa ini merupakan beban mental bagi seseorang dan tidak baik
bagi kesehatan jiwa seseorang. Kebutuhan ini mencakup dua hal yaitu
pertama secara vertikal adalah kebutuhan akan bebas dari rasa
bersalah, dan berdosa kepada Tuhan. Kedua secara horisontal yaitu
bebas dari rasa bersalah kepada orang lain
f. Kebutuhan akan penerimaan diri dan harga diri {self acceptance dan
self esteem), setiap orang ingin dihargai, diterima, dan diakui oleh
lingkungannya.
g. Kebutuhan akan rasa aman, terjamin dan keselamatan terhadap harapan
masa depan. Bagi orang beriman hidup ini ada dua tahap yaitu jangka
pendek (hidup di dunia) dan jangka panjang (hidup di akhirat). Hidup
di dunia sifatnya sementara yang merupakan persiapan bagi kehidupan
yang kekal di akhirat nanti.

5
h. Kebutuhan akan dicapainya derajat dan martabat yang makin tinggi
sebagai pribadi yang utuh. Di hadapan Tuhan, derajat atau kedudukan
manusia didasarkan pada tingkat keimanan seseorang. Apabila
seseorang ingin agar derajatnya lebih tinggi dihadapan Tuhan maka dia
senantiasa menjaga dan meningkatkan keimanannya.
2. Kesadaran Spritual
Kesadaran spiritual akan timbul saat seseorang dihadapkan pada
kebutuhan spiritual dan pencarian identitas, saat mempertahankan nilai-nilai
dan keyakinan atau kepercayaan.Tiga tingkat kesadaran menurut Wilber:
1) Tingkat Existensia
Pada level ini Wilber menggunakan istilah yang berasal dari
filsuf-filsuf eksistensial, yaitu penyatuan diri dengan orang lain
(uniting the self and others). Parafilsuf eksistensialis mengakui
bahwa makhluk di bumi memiliki ikatan otentik antara total individu
dengan lingkungannya. Mereka meyakini bahwa individu hanya eksis
ketika berada dalam relasi dengan orang-orang lain, dan bahwa
kehilangan kesadaran berarti memutuskan hubungan antara diri
dengan orang-orang lain.
Di sisi lain, meningkatkan kesadaran berarti melibatkan diri
dalam hubungan mendalam dengan orang-orang lain, yang hasilnya
akan memperkaya kesadaran internal (inner awareness) seseorang.
Menurut Wilber, peningkatan kesadaran ke tingkat eksistensial
dapat dicapai secara sederhana dengan duduk di tempat yang sepi
(tenang), menghentikan semua konsep mental tentang diri sendiri,
dan merasakan eksistensi dasar seseorang. Untukmenguatkan
identitas seseorang agar lebih permanen pada level ini,
biasanyadiperlukan bentuk-bentuk terapi eksistensial semacam
meditasi, hatha yoga, terapiGestalt, psikolog dan humanistic.
Jung menggunakan istilah synchronicity, yaitu suatu kejadian
yang penuh makna antara gejala psikis dan fisik. Bila dua kejadian,

6
yang satu bersifat psikis dan yang lain bersifatfisik, terjadi dalam
waktu yang sama, ini berarti terjadi synchronicity.
2) Tingkat Transpersonal Bands
Pada level ini individu mulai menyadari dan mengakui bentuk-
bentuk pengetahuan yang tidak bersifat dualistis (antara subjek dan
objek pengetahuan tidak terpisah). Individu mulai merealisasi dan
mengalami apa yang disebut sebagai reliansi/keyakinan eksklusif
dalam pengalaman. Wilber mengikuti konsep Jung dalam
menggambarkan elemen-elemen yang ada dalam tingkat
transpersonal ini. Jung menggunakan istilah synchronicity, yaitu
suatu kejadian yang penuh makna antara gejala psikis dan fisik. Bila
dua kejadian, yang satu bersifat psikis dan yang lain bersifat fisik,
terjadi dalam waktu yang sama, ini berarti terjadi synchronicity.

3) Level of Mind
Berikut adalah tingkat kesadaran paling tinggi dalam Spectrum of
Consciousness dari Wilber. Dalam menggambarkan Level of Mind,
Wilber menyatakan bahwa “Diri” orang yang mengalami kesadaran
sebenarnya bukanlah real self (“Diri” sesungguhnya) dari orang
tersebut. Bagaimanapun cara seseorang melihat, berpikir, dan
merasakan dirinya, “Diri” merupakan sesuatu yang kompleks. Ide,
konsep, pikiran, emosi, dan objek mental semuanya secara konstan
mengambil energi kita, yang menyebabkan adanya suatu tabir antara
diri kita dengan realitas. Pada tingkat ini, individu menyingkap tabir
tersebut, sehingga memungkinkan dia mengalami realitas secara
langsung. Ini disebut pengetahuan yang tidak dualistis (nondual
knowing).

7
3. Kesehatan Spiritual
Kesehatan spiritual adalah suatu kondisi yang ditandai oleh sebuah penguatan
hidup, kedamaian, keselarasan, dan perasaan saling berhubungan dengan Tuhan,
dirinya, komunitas, dan lingkungan yang pemeliharaan dan keseluruhan ternama
(Greer dan Moberg, 1998). Dalam hirarki kebutuhan manusia, kesehatan
spiritual tampak untuk pemenuhan yang mengandung arti dari kebutuhan
melebihi tingkat aktualisasi diri.
Dicapai ketika seseorang menemukan keseimbangan antara, nilai hidup:
 Hasil dan sistem kepercayaan
 Hubungan antara diri sendiri dengan orang lain

Dengan berjalannya kehidupan, spiritual seseorang dan kesadaran arti


spiritualakan lebih meningkat, sehingga tujuan dari nilai-nilai kehidupan akan
lebih nyata.

Kesehatan spiritual atau kesejahteraan adalah “rasa keharmonisan saling kedekatan antara
diri dengan orang lain, alam, dan dengan kehidupan yang tertinggi”(Hungelmann et al, 1985).
Rasa keharmonisan ini dicapai ketika seseorang menemukan keseimbangan antara nilai,
tujuan, dan system keyakinan mereka dengan hubungan mereka di dalam diri mereka sendiri
dan dengan orang lain. Pada saat terjadi stress, penyakit, penyembuhan, atau kehilangan,
seseorang mungkin berbalik ke cara-cara lama dalam merespons atau menyesuaikan
dengan situasi. Sering kali gaya koping ini terdapat dalam keyakinan atau nilai dasar orang
tersebut. Kemampuan untuk mengasihi orang lain dan diri sendiri secara
bermakna adalah bukti dari kesehatan spiritualitas. Menetapkan hubungan
dengan yang maha agung,kehidupan, atau nilai adalah salah satu cara
mengembangkan spiritualitas. Kesehatan spiritualitas yang sehat adalah sesuatu
yang memberikan kedamaian dan penerimaan tentang diri dan hal tersebut
sering didasarkan pada hubungan yang langgeng dengan yang Maha Agung.
Penyakit dan kehilangan dapat mengancam dan menantang proses
perkembangan spiritual. Kesehatan spiritual tercapai ketika seseorang
menemukan keseimbangan antara nilai hidup, tujuan hidup, sistem keyakinan,
dan hubunganseseorang dengan diri sendiri atau orang lain.

8
Ada 3 Tanda-tanda Kesehatan Spiritual

Kesabaran adalah sebuah tindakan melawan semua keinginan ego. Ada


Tiga Kesabaran, yaitu:

a. Sabar Terhadap Ketidaknyamanan Fisik :


Misalnya ketika kalian bangun di pagi hari yang dingin untuk
melaksanakan shalat, berwudhu dengan air yang dingin atau ketika kalian
antri kalian akan merasakan ketidak nyamanan. Begitu pula ketika kita
sedang sakit, atau pada saat kita sedang menyelesaikan tugas yang sulit
dan sebagainya.
b. Sabar dengan Menahan Diri dari Segala Hal yang Dilarang
Sabar adalah suatu sikap menahan emosi dan keinginan, serta bertahan
dalam situasi sulit dengan tidak mengeluh.  Sabar merupakan kemampuan
mengendalikan diri yang juga dipandang sebagai sikap yang mempunyai
nilai tinggi dan mencerminkan kekokohan jiwa orang yang
memilikinya. Semakin tinggi kesabaran yang seseorang miliki maka
semakin kokoh juga ia dalam menghadapi segala macam masalah yang
terjadi dalam kehidupan. Sabar juga sering dikaitkan dengan tingkah laku
positif yang ditonjolkan oleh individu atau seseorang.
c. Bersabar dalam menghadapi orang yang mengganggu kita.
Dalam kehidupan sehari-hari ada saja perbuatan orang lain yang tidak
berkenan bahkan menyakitkan hati kita. Bila kita menyimpannya dalam
hati, rasa sakit itu ternyata menimbulkan berbagai dampak fisik dan
psikologis. Sakit hati dapat membahayakan bagi kesehatan manusia, sakit
hati juga menjadikan hati manusia dipenuhi marah, dendam dan benci
kepada orang lain yang dipersepsi merugikannya. Ini menjadi sumber stres
dan depresi manusia. Hati yang dipenuhi energi negatif, akan mengarahkan
individu untuk berkata-kata yang destruktif, pengungkapan kemarahan di
depan publik, maupun hujatan.
Ini adalah tipe kesabaran yang paling baik di antara ketiganya.Al-Qur’an
mengatakan, Kami menguji beberapa di antara kalian dengan orang-orang

9
lainnya di antara kalian.” Kesabaran adalah hal yang paling penting dalam
hidup manusia.

G. MASALAH SPIRITUAL
Ketika penyakit, kehilangan atau nyeri menyerang seseorang, kekuatan
spiritualdapat membantu seseorang ke arah penyembuhan atau pada
perkembangankebutuhan dan perhatian spiritual.Selama penyakit atau misalnya
individu seringmenjadi kurang mampu untuk merawat diri mereka dan lebih
bergantung pada orang lain untuk perawatan dan dukungan. Distress spiritual
dapat berkembang sejalan denganseseorang mencari makna tentang apa yang
sedang terjadi, yang mungkin dapatmengakibatkan seseorang merasasendiri dan
terisolasi dari orang lain.
1. Depresi atau rasa tertekan
Depresi merupakan gangguan kesehatan mental yang ditandai
dengan suasana hati yang terus-menerus merasa tertekan atau
kehilangan minat dalam beraktivitas, sehingga mengakibatkan
penurunan kualitas hidup sehari-hari.
Faktor pertama yang bisa membuat seseorang rentan terkena depresi
ialah faktor biologis. Berhubungan dengan genetik dan neurotransmitter
yang diturunkan secara genetik dalam keluarga. Dengan kata lain, orang
dengan riwayat keluarga depresi lebih rentan mengalami hal yang sama.
Faktor psikososial, kata Agung, berhubungan dengan kondisi sosial dan
lingkungan sekitar. Misalnya, orang yang berada di lingkungan yang negatif
lebih mungkin terkena depresi dibandingkan dengan lingkungan sosial yang
positif dan suportif.
Sedangkan faktor spiritual, berhubungan dengan kondisi religi seseorang.
Seseorang yang lebih religius cenderung lebih menghargai kehidupan.
Sebaliknya, orang yang kurang religius rentan terhadap depresi.

10
BAB III

CONTOH KASUS

1. Ny. A berusia 59 tahun adalah seorang ibu rumah tangga yang aktif dalam berbagai
kegiatan di lingkungan rt nya. Namun sudah 3 tahun lalu Ny. A menderita penyakit
diabetes dan memiliki luka pada kaki nya. Luka semakin hari semakin bertambah lebar
dan ditambah lagi dengan bau yang menyengat. Semenjak sakit Ny. A selalu merasa
kurang mampu untuk merawat dirinya sendiri dan lebih bergantung pada orang lain.
Semenjak sakit Ny. A pun enggan mengikuti kegiatan yang ada di lingkungan
rumahnya tersebu. Semakin hari kondisi Ny. A semakin buruk, klien merasa bahwa
hidupnya sudah tidak berguna lagi dan hanya menyusahkan keluarganya saja.
Kesedihan klien bertambah karena dengan penyakitnya sekarang klien merasa
kehadirannya sudah tidak dibutuhkan lagi.akibatnya semakin hari kondisi klien semakin
menurun. Kama kelamaan klien kehilangan nafsu makan dan tidak ada keinginan untuk
sembuh. Ny. A kehilangan tujuan hidupnya dan kekuatan dalam dirinya, sehingga ia
selalu dihantui dengan pikiran- pikiran negative seperti kematian dan cara mengakhiri
hidupnya.

Berdasarkan contoh kasus diatas Ny. A mengalami gejala- gejala masalah kesehatan
spiritual. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumya, kesehatan spiritual adalah nlai
keyakinan individu untuk mencoba memahami dirinya sendiri, apa tujuan hidupnya,
ketenangan batin serta keselarasan dirinya sendiri. Kasus kesehatan spiritual tersebut
termasuk kedalam gangguan masalah spiritual seseorang dengan penyakit kronis.

2.  Diagnosa Keperawatan

a)       Distress spiritual

b)      Koping inefektif

c)       Ansietas

e)       Harga diri rendah

f)       Keputusasaan

3.       Perencanaan

a. Distress spiritual b.d anxietas

11
Definisi : gangguan pada prinsip hidup yang meliputi semua aspek dari 
seseorang yang menggabungkan aspek psikososial dan biologis
NOC :
1) Menunjukkan harapan
2) Menunjukkan kesejahteraan spiritual:
- Berarti dalam hidup
- Pandangan tentang spiritual
- Ketentraman, kasih sayang dan ampunan
- Berdoa atau beribadah
- Berinteraksi dengan pembimbing ibadah
- Keterkaitan dengan orang lain, untuk berbagi pikiran, perasaan dan
kenyataan
- Klien tenang
NIC :
1) Kaji adanya indikasi ketaatan dalam beragama
2) Tentukan konsep ketuhanan klien
3) Kaji sumber-sumber harapan dan  kekuatan pasisien
4) Dengarkan pandangan pasien tentang hubungan spiritiual dan
kesehatan
5) Berikan prifasi dan waktu bagi pasien untuk mengamati praktik
keagamaan
6) Kolaborasi dengan  pastoral
2. Koping inefektif b.d krisis situasi
Definisi : ketidakmampuan membuat penilaian yang tepat terhadat stressor,
pilihan respon untuk bertindak secara tidak adekuat dan atau ketidakmampuan
menggunakan sumber yang tersedia
NOC:
a. Koping efektif
b. Kemampuan untuk memilih antara 2 alternatif
c. Pengendalian impuls : kemampuan mengendalikan diri dari prilaku
kompulsif
d. Pemrosesan informasi : kemampuan untuk mendapatkan dan menggunakan
informasi

NIC :

a. Identifikasi pandangan klien terhadap kondisi dan kesesuaiannya


b. Bantu klien mengidentifikasi kekuatan personal
c. Peningkatan koping:
1) nilai kesesuaian pasien terhadap perubahan gambaran diri
2) nilai dampak situasi kehidupan terhadap peran

12
3) evaluasi kemampuan pasien dalam membuat keputusan
4) Anjurkan klien menggunakan tehnik relakssi
5) Berikan pelatihan ketrampilan sosial yang sesuai
d. Libatkan sumber – sumber yang ada untuk mendukung pemberian pelayanan
kesehatan
4. Intervensi
Dilaksanakan sesuai dengan NIC yang telah ditentukan
5. Evaluasi
Evaluasi dengan melihat NOC yang telah ditentukan , secaara umum  tujuan
tercapai apabila klien ( Hamid, 1999)
a. Mampu beristirahat dengan tenang
b. Menyatakan penerimaan keputusan moral
c. Mengekspresikan rasa damai
d. Menunjukkan hubungan yang hangat dan terbuka
e. Menunjukkan sikap efektif tanpa rasa marah, rasa bersalah dan ansietas
f. Menunjukkan prilaku lebih positif
g. Mengekspresikan arti positif terhadap situasi dan keberadaannya

13
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Spiritualitas merupakan konsep personal yang secara umum dipahami
tentang attitude seseorang yang berhubungan dengan Tuhan atau kekuatan
non material hidup dan alam (Carson, 2008, dan Brien, 2011).Spiritual
adalah suatu perasaan terhadap keberadaan dan arti dari zat yang lebih tinggi
dari manusia yang menjadi faktor intrinsik alamiah dan merupakan sumber
penting dalam penyembuhan. Dimana dikatakan pula sebagai keyakinan
(faith) bersumber pada kekuatan yang lebih tinggi akan membuat hidup
menjadi lebih hidup dapat mendorong seseorang untuk melakukan tindakan.
Setiap interaksi dan perilaku individu sangat dipengaruhi oleh spiritualisme
yang dialami dalam kehidupan yang sangat erat hubungannya dengan
kebudayaan yang ada.

B. Saran
Menurut analisa kelompok kami Berdasarkan uraian di atas perawat
professional dituntut untuk mampu memahami konsep elemen-elemen
spiritual agar dapat memberikan asuhan keperawatan pada lingkup kesehatan
spiritual sebagai wujud keperawatan holistic, perawat juga dituntut untuk
menanggapi keadaan sehat sakit manusia yang beraneka ragam dengan cara
yang berbeda tergantung pada individu secara spiritual karena setiap
interaksi dan perilaku individu sangat dipengaruhi oleh spiritualisme yang
dialami dalam kehidupan individu tersebut. Mempelajari elemen-elemen
spiritual, seorang perawat dapat mengunakan pendekatan ilmu spiritual
dalam memenuhi kebutuhan spiritual klien dalam mencari identitas dan
menemukan arti kehidupan dan menemukan cara untuk mengatasi sakit dan

14
stress yang terus menerus dalam kehidupan. Tepatnya pelayanan spiritual
dibutuhkann oleh perawat dalam memberikan pelayanan.

DAFTAR PUSTAKA

Perry&Potter, 2005.Buku Ajar Fundamental Keperawatan Konsep, Proses, dan


Praktik. Ed.4.Vol. 1.Jakarta : EGC
Suliswati,Hj.Tjie Anita Payapo,Jeremia,Yenny,1999.Konsep dasar keperawatan
kesehatan jiwa.
Fish and Shelly, 1978; Peterson and Nelson, 1987; Schoenbeck, 1994).
Syaikh Nazim al-Qubrusi al Haqqani an Naqshbandi,1998
www.mevlanasufi.blogspot.com, Rabbani Sufi Institute of Indonesia
www.rabbani-sufi.blogspot.com, Rabbani Sufi Institute of Indonesia
https://www.academia.edu/35993705/TUGAS_BAYU_SPRITUAL_

15