Anda di halaman 1dari 34

ANALISIS PENINGKATAN GUGATAN CERAI GUGAT

( Studi Kasus Cerai Gugat Pengadilan Agama Kota Mataram Tahun 2019)

Dosen Pengampu : Dr. H. Sainun M.Ag.

Disusun Oleh :

Rosalia Madani Putri


NIM : 180202082

PROGRAM STUDI AHWAL AS SYAHKSIYYAH


FAKULTAS SYARI’AH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM
2021
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur bagi Allah SWT atas berkat rahmat, nikmat, serta
ridha-Nya telah memberikan kami kekuatan lahir batin sehingga mampu
menyelesaikan tugas makalah ini. Shalawat dan salam tetap terurahkan kepada Nabi
Muhammad SAW sebagai suri tauladan bagi seluruh manusia dimuka bumi ini.
Dalam menyelesaikan makalah ini, kami menyadari bahwa makalah ini dapat
diselesaikan atas bantuan dari berbagai pihak, terimakasih kami ucapkan kepada Ibu
Dosen yang telah membimbing kami, ibu, ayah, kemudian teman teman yang telah
memberi dukungan dan bantuan kepada kami. Semoga segala kebaikan dan
sumbangsih kalian dicatat dan berbalas.
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas dari Bapak/Ibu dosen, dalam mata
kuliah “Hukum Perkaiwinan 2”.Tema dalam mata kuliah pada kesempatan ini adalah
terkait Cerai Gugat,sedangkan judul yang kami bahas adalah tentang “Analisis Pening
katan Gugatan Cerai Gugat (Studi Kasus Cerai Gugat di Pengadilan Agama Kota Mat
aram Tahun 2019)” untuk sama sama dikaji dengan teman teman guna menambah
wawasan kita bersama.
Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna dan banyak yang
perlu diperbaiki. Akan tetapi kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi kami
khususnya dan pembaca tanpa terkecuali. Semoga harpan kita dapat terwujud Amiin
Yaa Rabbal’alamiim.

Mataram, 29 Mei 2021

Penyusun,

DAFTAR ISI

i
KATA PENGANTAR................................................................................................i

DAFTAR ISI..............................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN..........................................................................................1

A. Latar Belakang.................................................................................................1
B. Rumusan masalah............................................................................................3
C. Tujuan dan Manfaat.........................................................................................4
D. Metode Penelitian............................................................................................4
E. Teknik Penulisan dan Pengolahan Data..........................................................4
BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG CERAI GUGAT...................................6

A. Kerangka Konseptual......................................................................................6
B. Pengertian ..........................................................................................6
C. Dasar hukum perceraian.....................................................................7
D. Pengertian cerai talak dan cerai gugat................................................8
E. Alasan alasan perceraian.....................................................................1
F. Prosedur perceraian...........................................................................14
G. Akibat cerai gugat..............................................................................16
B. Kerangka Teoritis...........................................................................................17
BAB III GAMBARAN UMUM TENTANG PENGADIAN AGAMA
KOTA MATARAM .................................................................................................18

A. Sejarah Pengadilan Agama Kota Mataram.....................................................18


B. Visi dan misi Pengadilan Agama Mataram....................................................19
C. Tugas dan fungsi Pengadilan Agama Kota Mataram.....................................20
D. Data Statistik Kasus Peceraian dan Cerai Gugat Kota Mataram....................21
BAB IV ANALISIS PENINGKATAN GUGATAN CERAI GUGAT
DI PENGADILAN AGAMA KOTA MATARAM...............................................24

ii
BAB V PENUTUP ...................................................................................................29

A. Kesimpulan.....................................................................................................29
B. Saran...............................................................................................................28
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................30

LAMPIRAN

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perkawinan dinyatakan sebagai ikatan yang paling kokoh. Ikatan kokoh
antara suami isteri oleh al Quran disebut dengan mitsaqon ghalidzan1. Allah SWT.
Berfirman :
‫خَذنَ ِمن ُكم ِّمي ٰثَقًا َغلِيظًا‬
ْ َ‫ْض َوأ‬
ٍ ‫ض ُك ْم إِلَ ٰى بَع‬ َ ‫ْف تَأْ ُخ ُذونَ ۥهُ َوقَ ْ`د أَ ْف‬
ُ ‫ض ٰى بَ ْع‬ `َ ‫َو َكي‬
Artinya : ‘’bagaiman kamu akan mengmbilnya kembali, padahal sebagian kamu
telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami isteri. Dan mereka
telah mengambil dari kamu sekalian perjanjian yang kuat” ( An-Nisa/4:21)
Akan tetapi jika didalam rumah tangga suami isteri tetsebut sering terjadi
perselisihan. Perselisihan tersebut terkadang sulit untuk didamaikan yang
menyebabkan suami ataupun isteri menuntut cerai. Dalam penyelesaian
permasalah rumah tangga islam memberikan tahapan tahapan solusi, seperti jika
suami isteri sering terjadi percek-cokan terdapat dalam Qs. An- Nisa 4/35
penyelesaiannya, haruslah diselesaikan lewat hakam terlebih dahulu dari kedua
pihak atau salah satunya untuk mendamaikan keduanya. tetapi jika lewat jalur
hakam inipun tidak dapat diselesaikan dan keduanya tetap tidak mau berdamai,
maka tidak ada cara lain,perceraian merupakan salah satu jalan ( solosi) agar tidak
terjadi pertengkaran yang terus menerus dan menyebabkan tekanan batin ataupun
tekanan-tekanan laik terhadap pihak-pihak.
Pada dasarnya perkawinan itu dilakukan untuk selamanya sampai matinya
salah seorang suami isteri tersebut. Inilah sebenarnya yang dikehendaki Islam.
Akan tetapi dalam keadaan keadaan tertentu terdapat hal hal yang menhendaki
putusnya perkawinan, dikarnakan bila dilanjutkan maka akan terjadi
kemudharatan. Dan sebagai langkah terakhir dari usaha merukunkan rumah
tangga, putusnya perkawinan dianggap suatu jalan yang baik. 2 Sebelum

1
Abdul Qadir Djailani, keluarga Sakinah,(surbaya: PT. Bina Ilmu, 1995), Cet. Ke-1, hlmn. 316
2
Amir Syarifuddin, Garis-Garis Besar Fiqh, (Bogor: Kencana Prenada Media, 2003), Cet ke-1

1
kedatangan Islam, talak dilakukan dengan semena-mena, kemudian datanglah
islam dengan membawa aturan yang jelas tentang talak. Talak tetap merupakan
hal yang tidak baik kecualidengan pertimbangan dalam keadaan terpaksa serta
jika setelah terjadinya akan adanya kebaikan.
Al- Quran meneyerukan bahwa laki-laki dan perempuan tidak dibeda
bedakan, laki-laki dan perempuan memiliki kesamaan tanggung jawab dan
balasan amal, ada keseimbangan (timbal balik) antara hak dan kewajiban antara
suami dan isteri. Walaupun demikian, kesan seruan keseimbangan ini diikuti
dengan adanya diskriminasi terhadap perempuan, misalnya disebutkan bahwa
suami memiliki kelebihan satu derajat dibanding isteri, dan suami mempunyai
status pemimpin. Sedangkan perempuan tidak cocok memegang kekuasaan
ataupun memiliki kemampuan yang dimiliki laki laki. didalam melakukan
perceraian seorang suami mempunyai hak talak sepihak secara mutlak.
Dalam Kompilasi Hukum Islam Undang-Undang No. `1 Tahun 1974
mengatur putusnya perkawinan dengan alasan; 1) Kematian; 2) Perceraian; dan 3)
Putusan Pengadilan. Kemudian dalam pasal 115 KHI dan Pasal 39 ayat 1 UU
No.1/1974 menyatakan : “Perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang
Pengadilan Agama, setelah Pengadilan Agama tersebut berusaha dan tidak
berhasil mendamaikan kedua belah pihak”. Pasal 114 KHI putusya perkawian
yang disebbakan karena perceraian dapat terjadi karena talak atau berdasarkan
gugatan cerai”.
Pengadilan Agama (PA) juga menerima aduan kasus cerai gugat dengan
prosedur-prosedur penyelesaiannya, maksud cerai gugat adalah permintaan isteri
kepada suaminya untuk menceraikan dirinya dari ikatan perkawinan dengan
disertai iwadh, beberapa uang atau barang kepada suami dari pihak isteri sebagai
imbalan penjatuhan talak serai gugat pemberian hak yang sama bagi wanita untuk
melepaskan diri dari ikatan perkawinan tersebut,dan menyadarkan bahwa
isteripun mempunyai hak yang sama untuk mengakhiri perkawinan. Artinya
dalam situasi tertentu isteri yang sangat tersiksa akibat ulah suami ulah suami, ia
memiliki hak menuntut cerai dengan imbalan sesuatu.

2
Pada masa ini dimana kemajuan teknologi semakin maju dan budaya
budaya luar masuk kemudian terealisasi dalam kehidupan masyarakat, ditambah
lagi persamaan hak /kesetaraan gender yang begitu dipertimbangkan dengan dasar
dasar keadilan. Perempuan memiliki hak untuk menggugat cerai suaminya, kasus
kasus seperti ini sudah banyak terjadi (peristiwa isteri yang menggugat cerai
suaminya) jika dilihat dari penyebab semakin banyaknya peristiwa cerai gugat ini
tidak hanya dari permasalahan yang sama seperti sebab cerai talak, masalah ini
kadang datang dari arah yang berbeda. kasus cerai gugat di pengadilan kian
meningkat tiap tahunnya.
Adapun faktor dari perceraian di Indonesia disebabkan oleh banyak hal,
mulai dari perselingkuhan, ketidak harmonisan, dan faktor ekonomi. Faktor
ketidak harmonisan menjadi faktor yang paling banyak, kemudian uniknya 70%
yang mengajukan perceraian adalah isteri dengan berbagai macam alasan3. Data
tersebut menunjukkan keadaan yang sangat krusial dan tingginya tingkat
perceraian di Indonesia, lalu bagai mana dengan daerah daerah khusunya wilayah
Kota Mataram yang menjadi Objek penlitian ini. Yang mana data pada tahun
2019 PA Mataram mencatat lebih dari 1150 perkara yang ditangani. Humas PA
Mataram menyatakan bahwa yang lebih banyak ditangani ialah cerai gugat
(permohonan Istri) 4
Dari fenomena dan alasan inilah, penulis melihat bahwa masalah ini layak
untuk dijadikan sebuah penelitian dalam bentuk karya ilmiah studi kasus. Adapun
judulnya ialah “ANALISIS PENINGKATAN GUGATAN CERAI GUGAT (Studi
Kasus Pengadilan Agama Kota Mataram)’’.
B. Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang tersebut penulis merumuskan masalah dalam bentuk
pertanyaan penelitian sebagai berikut :
1. Bagaimana peningkatan gugatan Cerai Gugat di Pengadilan Agama Koata
Mataram?
3
https://m.hukumonline.com/berita/baca/it5b1fb923cb04f/melihat-tren-perceraian-dan-dominasi-
penyebabnya/
4
https://radarlombok.co.id/pemicu -angka perceraian dikota matarm/

3
2. Apa faktor dari peningkatan gugatan cerai gugat di Pengadilan Agama ?

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan


Mengacu pada masalah penelitian, maka tujuan yang dicapai ialah menegtahui
penyebab tingginya perkara cerai gugat di Pengadilan Agama Kota Mataram
selama.
1. Manfaat Praktis
Bagi penulis, manfaat penelitian dan penulisan ini merupakan pengamalan
teori yang telah didapatkan di perkuliahan dengan praktek yang ada
dilapangan dan realita sosial masyarakat. Dan sebagai bahan evaluasi dan
informasi pembaca untuk menanamkan nilai nilai atau dasar dasar pemahaman
agama yang kuat kepada masyarakat baik mengenai cerai gugat maupun
Pengadilan Agama, selain itu juga menjadi bahan latihan penulian karya tulis
akhir untuk mendapatkan gelar Sarjana Hukum.
2. Manfaat teoritis
Penilisan ini diharapkan dapat memperkaya perbendaharaan teori tentang
Hukum Perkawinan Islam , mengetahui seputar cerai gugat dan secar teoritis
juga tulisan ini dapat memberikan solusi bagi para pasangan dan bagaimana
prosedur cerai gugat di Pengandilan Agama.
D. Metode Penelitian
Dalam Penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian kualitatif dimana
penulisannya berangkat dari konsep, teori, lebih mengunakan analisis yang
sifatnya deskriptif. Ladasan teori dan konseptual sebagai pemandu kemudian
mengaitkan dengan fakta lapangan. Secara descriptif dengan melihat gambaran
gambaran dari sumber data kemudian eksploratif melihat mengaitkan dengan
fenomena analisis.
E. Pengolahan Data dan Teknik Penulisan
Penulis sebagai isrtumen peneliti utama mengunakan pengamatan/observasi
lapangan, wawancara, penggunaan dokumen dan sumber tertulis lainnya.
Wawancara dilakukan untuk melakukan analisis dan penafsiran langsung dari

4
teori teori yang sudah diamati seblumnya. Kemudian penulisan ini juga bersumber
dari data primer dan sekunder.data primer kami ada yang diperoleh langsung dari
objek yang diteliti seperti bebrapa responden dan data dari website Pengadilan
Agama Kota Mataram. Akan tetapi penulis lebih banyak memperoleh data dengan
jalan mengadakan studi kepustakaan atas dokumen dokumen yang berhubungan
dengan masalah yang diajukan, dokumen dokumen yang penulis maksud ialah Al
Qur’an, Hadist, Buku-buku Ilmiah, Jurnal-jurnal, dan Undang-undang Perkawinan
No. 1 Tahun 1974, Kompilasi Hukum Islam, data Dari website Pengadilan Agama
Kota Mataram. Kemudian menyusun dari hasi data data temuan dan telaah
kepustakaan tersebut, kemudian mengaitkan dengan fenomena.

5
BAB II
TINJAUAN UMUM
A. Kerangka Konseptual
1. Pengertian Perceraian
Secara bahasa kata “cerai” merupakan kata kerja yang berati, pisah,
putusnya hubungan sebagai suami istri. Kemudian “bercerai” merupakan
pemutusan hubungan atau perihal bercerai antara suami istri/talak5. Dalam
istilah fiqih thalaq berati membuka ikatan atau membatalkan perjanjian.
Menurut istilah, talak adalah melepaskan ikatan (hall al-qaid ) atau biasa
disebut pelepasan ikatan dengan menggunakan kata-kata yang telah
ditentukan.6.

Perceraian menurut Undang Undang Perkawinan No. 1 tahun 1974 yang


tercantum dalam pasal 38 memuat ketentuan bahwa “Perkawinan dapat putus
karena kematian, pereraian, dan atas putusan pengadilan”. Jadi istiah
perceraian secara yuridis berati putusnya perkawinan, yang mengakibatkan
putusnya hubungan sebagai suami istri”.

- Perceraian dalam pengertian cerai talak, yaitu perceraian yang


diajukan permohonan cerainya oleh dan atas inisiatif suami kepada
Pengadilan Agama, yang dianggap terjadi dan berlaku beserta segala
akibat hukumnya sejak saat perceraian itu dinyatakan (diikrarkan)
didepan sidang Pengadilan Agama7
- Perceraian dalam pengertian cerai gugat, yaitu pereraian yang diajukan
gugatang cerainya oleh dan atas inisiatif isteri kepada Pengadilan
Agama, yag dianggap terjadi dan berlaku beserta segala akibat
hukumnya sejak jatuhnya putusan Pengadilan Agama yang telah
memiliki kekuatan yang tetap8

5
KBBI, Pusat Bahasa edisi keempat, hlmn. 261
6
Abdurrahman Al-Jaziri, Kitab al Fiqh ‘ala Mazahib al-Arba’ah, Juz IV, (Kairo: Dar al-Pikr,t.r), hlmn. 278
7
videPasal 14-18 PP No. 9 tahun 1975
8
Vide pasal 20-36

6
2. Dasar Hukum Perceraian
Perkawinan dinyatakan sebagai ikatan yang paling kokoh. Ikatan kokoh
antara suami istri oleh al Quran disebut dengan mitsaqon ghalizan9. Ikatan
kokoh tersebut bisa menjadi tidak kokoh lagi dalam sebuah rumah tangga jika
antara suami dan istri sering terjadi perselisihan, terkadang sulit didamaikan
sehingga salah satu pihak menuntut cerai. Islam adalah agama yang solutif,
sehingga setiap masalah selalu dicari jalan keluarnya. Sehingga dalam al
Qur’an surat An-Nisa ayat 35 meyatakan bahwa, jika dalam rumah tangga
terjadi persengketaan atau cekcok maka hendaknya mengirim seorang hakam
dari pihak istri maupun suami. Akan tetapi jika dengan hal tersebut keduanya
tidapat berdamai maka tidak ada cara lain, perceraian merupakan salah satu
jalan (solusi) agar tidak terjadi pertengkaran yang terus menerus dan tidak
dapat dibina lagi.

Pada dasarnya perkawinan itu dilakukan untuk selamanya. Inilah yang


sebenarnya dikehendaki oleh islam. Tetapi jika yang terjadi seperti hal diatas
demi menghindari kemudharatan, terdapat langkah terakhir dari usaha
merukunkannya10. Dalam hadist Nabi SAW dikatakan sebagai perkara yang
paling dibenci, namun boleh untuk dilakukan. :

ِ ‫ ع َْن ُم َحار‬,‫ّف بْنُ واصل‬


‫ب بْن ِد‬ ِ ‫ َح َد ثنَا ُم َح َّم ُد بْنُ خَالِ ِد ع َْن ُم َعر‬,‫َح َد ثنَا كثِ ْي ُربْنُ َعبَ ْي ِد‬
‫ (ابَّغضُ الحالل إلى هللا َع َّز َو َج َّل‬: ‫ال‬ َّ ‫ع َْن اِبْنُ ُع َم َرعَن النَّب‬,‫ثار‬
َ َ‫ي صلى هللا عليه وسلم ق‬
)‫الطَّال قُ) (رواه ابوداود‬

Artinya : ”dikatakan Katsir Ibnu Ubaid, dikatakan Muhammad bin Khalid


dari Muarif bin wasil, dari Umar dari Nabi SAW berkata : “perbuatan halal
yang paling dibenci disisi Allah SWT adalah thalak”

Khuluk sebagai salah satu jalan keluar dari kemelut rumah tangga yang
diajukan oleh pihak istri didasarkan pada firman Allah SWT dalam surah al-

9
Abdul Qadir Djailani, keluarga Sakinah,(surbaya: PT. Bina Ilmu, 1995), Cet. Ke-1, hlmn. 316
10
Rusmala Dewi jayanti, faktor penyebab tingginya perkara cerai gugat (palembang 2007) hlmn. 26

7
Baqarah (2) ayat 229 yang artinya: "...Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami
istri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas
keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya..."
Alasan lain yang dikemukakan oleh ulama adalah sabda Rasulullah SAW dalam
hadis yang diriwayatkan al-Bukhari, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban tentang kasus
istri Sabit bin Qais yang mengadukan perihal suaminya kepada Rasulullah SAW.
Setelah Rasulullah SAW mendengar seluruh pengaduan tersebut, Rasulullah SAW
bertanya: "Maukah kamu mengembalikan kebunnya (Sabit)?" Istri Sabit men-
jawab: "Mau." Lalu Rasulullah SAW berkata kepada Sabit bin Qais: "Ambillah
kembali kebun engkau dan ceraikanlah ia satu kali."

Berdasarkan hadis ini, disunahkan seorang suami untuk mengabulkan


permintaan istrinya. Tuntutan khuluk tersebut diajukan istri karena ia merasa tidak
akan terpenuhi dan tercapai kebahagiaan di antara mereka, seperti yang
diungkapkan oleh istri Sabit bin Qais dalam riwayat tersebut, yakni: "Saya tidak
mencelanya karena agama dan akhlaknya, tetapi saya khawatir akan muncul suatu
sikap yang tidak baik dari saya disebabkan pergaulannya yang tidak baik."
Alasannya adalah pergaulannya yang tidak serasi dengan suaminya. Agar keadaan
tersebut tidak berlarut-larut sehingga dapat menjerumuskan rumah tangga mereka
pada keadaan yang tidak diingini Islam, maka istri Sabit melihat lebih baik mereka
bercerai. Dalam keadaan seperti itu, menurut Ibnu Qudamah, ahli fikih Mazhab
Hanbali, keduanya lebih baik bercerai. Akan tetapi, jika istri tidak memiliki alasan
yang jelas, maka ia tidak boleh mengajukan khuluk, karena Rasulullah SAW
mengingatkan dalam sabdanya: "Wanita mana saja yang menuntut cerai pada
suaminya tanpa alasan, diharamkan baginya bau surga" (HR. al-Bukhari, Muslim,
at-Tirmizi. Abu Dawud, dan Ibnu Majah).

3. PengertianCerai Talak Dengan Cerai Gugat


Perceraiandalam ikatan perkawinan adalah sesuatu yang dibolehkan oleh ajaran
islam. Apabila sudah ditemuh berbagai cara untuk mewujudkan kerukunan,
kedamaian, dan kebahagiaan, namun harapan dalam tujuan perkawinan tidaka akan

8
terwujud atau tercapai sehingga yang terjadi adalah perceraian. Perceraian diatur
dalam Undang-Undang Nomor 7 tahun 1989 jo. UU No. 3 Tahun 2006 Jo. UU No.
50 Tahun 2009 Peradila Agama (selanjutnya disebut UUPA) dan pasal 115 KHI.
Tata cara perceraian bila dilihat dari aspek subjek hukum atau pelaku yang
mengawali terjadinya perceraian dapat dibagi dalam dua aspek, yaitu sebagai
berikut :
a. Cerai Talak
Apabila suami yang mengajukan permohonan ke pengadilan untuk
menceraikan isterinya, kemudian sang isteri menyetujuinya disebut cerai
talak hal ini diatur dalam pasal 66 UUPA dan KHI Pasal 66 ayat (1). 11
Talak merupakan sebuah institusi yang digunakan untuk melepas sebuah
ikatan perkawinan. Dengan demikian ikatan perkawinan dapat putus dan
tata cara telah diatur baik dalam fikih, Undang-Undang Perkawinan
maupun KHI. Perkawinan merupakan ikatan sucu namun tidak boleh
dipandang mutlak atau tidak boleh dipandang tidak boleh diputuskan.
Talak itu hukumnya dibolehkan ketika dalam keadaan darurat, baik
inisiatif suami (talak) maupun isteri (khulu).
b. Cerai Gugat
Gugatan perceraian diajukan oleh istri atau kuasanya kepada Pengadilan
Agama yang daerah hukumnya mewilayahi tempat tinggal penggugat
kecuali isteri meninggalkan temoat kediaman bersama tanpa izin suami.
Jika isteri meninggalkan tempat kediaman bersama tanpa izin suami,
gugatan harus ditujukan kepada pengadilan yang daerah hukumnya
mewilayahi kediaman suaminnya. Hak untuk memohon memutuskan
ikatan perkawinan ini dlam hukum islam disebut Khulu’ , yaitu perceraian
atas keinginan pihak isteri, sedang suami tidak menghendaki.12
Khulu’ hanya dibolehkan kalau ada alasan yang tepat seperti suami
meninggalkan istrinya selama 2 tahun berturut-turut tanpa izin isterinya

Zainudin Ali , huku islam di Indonsia, (jakarta;Sinar Grafika 2002), cet. Ke-1, hlmn. 80
11

Bahder Juhan Nasution dan Sri Warjiyati, Hukum Perdata Islam, (bandung: Mandar Maju, 1997), hlmn.
12

33

9
serta alasan yang sah, atau suami seorang murtad dan tidak memenuhi
kewajiban terhadap istrinya, sedangkan isteri khawatir akan melanggar
hukum Allah SWT. Dalam kondisi seperti ini isteri tidak wajib menggauli
suami dengan baik dan ia berhak untuk khulu’. Alasan alasan yang dapat
dijadikan oleh seorang isteri untuk mengajukan gugatan dalam perceraian
sama dengan alasan yang digunakan dalam perceraian karena talak.
Beberapa kesimpulan dari rumusan perundang-undangan diatas adalah :
1. Perceraian dengan talak atau cerai gugat dapat terjadi hars dengan
alsan atau alasan alasan, bahwa suami isteri tidak akan dapat hidup
rukun dalam rumah tangga. Dengan demikian, perceraian dipandang
sebagai jalan terbaik atau tidaknya adalah pihak ketiga, yaitu
Pengadilan.
2. Dari sekian banyaksebab terjadinya perceraian, semua mempunyai
prinsip penyelesaian yang sama yaitu (1) pihak yang memutuskan
perceraian adalah pengadilan, (2) langkah langkah yang harus
ditempuh adalah,(a) mengajukan permohonan atau gugatan dari salah
satu pihak, (b) peanggilan untuk diperiksa oleh pengadilan, dan (c)
putusan oleh pengadilan.
3. Terjadinya perceraian baik dengan talak atau gugat cerai, terhitung
sejak putusan pengadilan Agama, putusan perkawinan hanya dapat
dibuktikan dengan surat cerai.13
Jika terjadi perceraian atara suami isteri, baik karena cerai gugat
maupun cerai talak, biasanya akan timbul masalah sekitar peguasaan
anak, nafkah anak, nafkah isteri selama ditinggal, nafkah iddah, dan
harta bersama. Gugatan tersebut dapat diajukan bersama-sama dan
sekaligus dengan gugatan perceraian, dapat juga diajukan secara
terpisah sesudah perceraian dilaksanakan dan putusan perceraian itu
telah mempunyai kekuatan hukum tetap. Apabila salah

Amir Nuruddin & Azhari Akmal Tarigan, Hukum perdata Islam di Indonesia (studi kritis perkembangan
13

Hukum Islam dari fikih, UU No. 1/1974sampai KHI),(Jakarta : Kencana 2004) cet. Ke-1

10
satupihakmeninggal dunia, sedangkan perkara gugatan yang diajukan
ke pengadilan belum mendapat putusan, maka gugata tersebut
gugur.14akibat putusnya perkawinan karena perceraian adalah :
a. Baik ibu maupun bapak wajib memelihara, melindungi, dan
mendidik anak-anaknya, semata-mata atas kepentingan anak,
bilamana ada perselisihan mengenai hak penguasaan anak
pengadilan dapat memberikan masalahnya.
b. Bapak yang bertanggung jawab atas semua biaya pemeliharaan
anak dan pendidikannya, bila bapak dalam kenyataannya tidak
dapat memenuhi kewajiban tersebut, pengadilan dapat
menentukan bahwa ibu ikut memikul biaya tersebut.
c. Pengadilan dapat mewajibkan kepada bekas suami untuk
memberikan biaya hidup untuk bekas isteri.15
4. Alasan – alasan Perceraian
a. Cerai gugat dengan alasan suami berbuat zina, atau menjadi pemabuk,
pemadat, penjudi danlain sebagainya yang sukar disembuhkan.
1) PP No. 9 A Tahun 1975.
Salah satu pihak berbuat zina atau pemabuk, pemadat, penjudi dan lain
sebagainya yang sukar disembuhkan.
2) UU. No7 pasal 87 tahun 1989
Apabila permohonan atau gugatan cerai diajukan dengan alasan salah
satu pihak melakukan zina, sedangkan pemohon tidak dapat
melengkapi bukti-bukti dan termohon menyanggah alasan tersebut,
dan hakim berpendapat bahwa permohonan atau gugatan itu bukan
tiada pembuktian sama sekali serta upaya peneguhan alat bukti tidak
munkin lagi diperoleh baik dari pemohon atau penggugat maupun dari
termohon atau tergugat, maka hakim karena jabatannya dapat
mengurus pemohon atau penggugat untuk bersumpah. ( pihak

14
Abdul Manan,Aneka Masalah Hukum Perdata Islam di Indonesia, (Jakarta, Kencana 2008)hlmn. 21
15
Ahmad Rofiq, hukum perdata Islam di Indonesia, (Jakarta : Rajawali Pers 2013) hlmn.223

11
termohon diberi kesempatan pula untuk menegaskan sanggahannya
dengan cara yang sama)
b. Cerai gugat dengan alasan suami meninggalkan isteri dua tahun
1) PP. No. 9 Pasal (b) Tahun 1975
Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama (dua) tahun berturut
turut tampa izin dari pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena
hal lain di luar kemmapuannya.
2) Kompilasi Hukum Islam
Pasal 116 (b)
Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama (dua) tahun berturut
turut tampa izin dari pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena
hal lain di luar kemmapuannya.
Pasal 133.
(1) Gugatan perceraian karena alasan pda pasal 116 (b) dapat diajukan
setelah lampau (dua) tahun terhitung sejak tergugat meninggalkan
rumah.
(2) Gugatan dapat diterima apabila tergugat menyatakan atau
mengajukan sikap tidak mau kembali lagi kekediaman bersama.
c. Cerai gugat dengan alasan suami mendapat hukuman penjara (lima) tahun.
PP. No. 9 Pasal 19(c) tahun 1975
Salah satu pihak mendapat hukuman penjara (lima) tahun atau hukuman
yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung.

d. Cerai gugat dengan alasan suami melakukan kekejaman atau


penganiayaan.
1) PP. No. 9 pasal 19 (a) tahun 1975 dan KHI pasal 116 (a)
Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang
membahayakan pihak lain.
e. Cerai gugat denga alasan suami mendapat cacat badan atau penyakit.
1) PP. No. 9 pasal 19 (c) tahun 1975 dan KHI pasal 116 (c)

12
Salah sat pihak mendapat cacat badan atau penyakit akibat tidak dapat
menjalankan kewajiban sebagai suami/ istri.
f. Cerai gugat akibat suami isteri terjadi perselisihan tersu menerus.
1) PP. No. 9 pasal 19 (f) tahun 1975 dan KHI pasal 116 (f)
Antara suami isteri terus menerus terjadi perseisihan dan pertengkaran
dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga.
g. Cerai talak dengan alasan melanggar sighat taklik talak
KHI pasal 116 (g)
Perceraian dapat terjadi karena alsan atau alasan alasan melanggar sighat
taklik talak.
“sewaktu-saya :
1. Meninggalan isteri saya dua tahun berturu turut
2. Atau saya tidak member nafkah wajib kepadanya selama tiga bulan
lamnaya
3. Atau saya menyakiti badan jasman isteri saya
4. Atau saya tidak memperdulikan isteri saya enam bulan lamnaya
Kemudian isteri saya tidk ridha dan mengajukan halnya kepada PA,
dan pengaduannya dibenarkan serta diterima oleh pengadilan, dan
isteri saya membayar sebagai iwadl (pengganti) kepada saya, maka
jatuhlah talak satu kepadanya.
h. Cerai gugat dengan alasam suami murtad
KHI Pasal 116 (h)
Peralihan agama atau murtad yang menyebabkan terjadinya ketidak
rukunan dalam rumah tangga.
i. Cerai gugat dengan alasan suami melalaikan kewajibannya.
1) UU No. Pasal 34 ayat (1) tahun 1974
Suami wajib melidungi isteri dan memebrikan segala sesuatu
keperluan hidup berumah tangga sesuai dengan kemampuannya.
2) KHI pasal 77 ayat (1)

13
3) Suami isteri melakukan kewajian yang luhur untuk menggerakkan
rumah tangga yang sakinah, mawaddah warahmah ang menjadi sendi
dasar dari susunan masyarakat.
j. Cerai gugat dengan alasan syiqaq
UU No. 7 Tahun 1989
Pasal 76
1) Apabila gugatan perceraian diajukan dengan alasan syiqaq, mak untuk
mendapatkan putusan perceraian harus didengar keterangan saksi saksi
yang berasal dari keluarga suami dan isteri
2) Pengadilan setelah mendengar keterangan dari saksi tentang sifat
persengketaan antara suami isteri dapat mengangkat seseorang atau
lebih dari keluarga masing masing pihak ataupun orang lain untuk
menjadi hakim.
5. Prosedur Perceraian
1. Gugatan cerai diajukan kepada PengadilanAgama
a. Cerai gugat dilakukan oleh seorang isteri yang perkawinannya
dilaksanakan sesuai dengan ajaran islam.
b. Gugatan perceraian diajukan kepada Pengadilan Agama (pasal 40 ayat
1jo. Pasal 63 ayat 1 Undang Undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974 ).
Gugatan tersebut diajukan kepada Pengadilan Agama setempat, yaitu
wilayah tempat tinggal isteri. Surat gugatan yang didaftarkan
kepaniteraan Pengadilan Agama harus dilengkapi dengan
perlengkapan-perlengkapan administrasi dan surat surat. Termasuk
diantaranya mereka yang hendak bercerai harus melampirkan surat
keterangan dari kelurahan atau kepala desa masing masing.16
2. Pemanggilan Pihak pihak
Setiap kali diadakan sidang Pengadilan yang memeriksa perceraian
baik suami maupun isteri atau kuasa hukum mereka dipanggil untuk

Raihan A. Rasyid,hukum Acara Pengadlan Agama,(Jakarta, PT. Raja Grafido Persada, 2002)cet. Ke-9,
16

hlmn. 67

14
menghadiri sidang tersebut. Hakim menanyakan kepada semua pihak-
pihak yang berkaitan atau kepada wakilnya tentang segala sesuatu yang
dianggap perlu untuk dapat menjatuhkan suatu putusan yang
tepat.17Panggilan dilakukan oleh juru sita/juru sita pengganti. Panggilan
disampaikan selambat-lambatnya 3 hari sebelum sidang.
3. Pemeriksaan
Pemeriksaan dilakukan oleh Majelis Hakim selambat-lambatnya 30 hari
setelah berkas didaftarkan pada Panitera. Pemriksaan dilakukan dalam
sidang tertutup, demikian juga dalam memeriksa saksi saksi (pasal 80 UU
No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama dan pasal 33 PP. No. 9
tentang 1975 tentang Pelaksanaan UU No. 1 Tahun 1974 tentang
Perkawinan).
4. Pembuktian
Hakim dalam proses perdata terutama harus menemukan dan menentukan
peristiwa atau hubungan hukumnya dan kemudian memperlakukan atau
menerapkan hukumya terhadap peristiwa yang telah ditetapkan itu.18
5. Putusan
PA setelah memeriksa gugatan dan berkesimpulan bahwa :
- Isteri mempunyai alasan yang cukup untuk bercerai
- Alasannya terbukti
- Kedua belah pihak tidak munkin didamaikan lagi, maka PA
memutuskan gugatan di kabulkan dengan suatu “putusan”. Yang
diumumkan. Putusan dengan khulu’ isteri diwajibka membayar
tebusan besaranya dipertimbangkan oleh Hakim. Dan tiap pihak dapat
melakukan banding.
6. Biaya perkara

17
Wijono Prodjodikoro, hukum acara Perdata di Indonesia, (Bandung, Sumur Bandung, 1982) cet. Ke-8
hlmn. 90
18
Sudikno Merto Kusumo,HukumAcara Perdata, (Yogyakarta; Liberty, 1998), Cet Ke-1, hlmn. 130

15
Biaya dalam hal ini dibebankan kepada penggugat. Berbeda denga hukum
acara perdata pada umumnya, karena dalam perceraian tidak ada yang
menang ataupun kalah.
6. Akibat Perceraian (Cerai Gugat)
Akibat perceraian karena cerai gugat diatur dalam Pasal 156 Kompilasi :
a. Anak yang belum mummayiz, berhak mendapatkan hadhanah dari ibunya,
kecuali bila ibunya meninggal dunia, maka kedudukannya digantikan
oleh :
1. Wanita-wanita dalam garis lurus ke atas dari ibu.
2. Ayah
3. Wanita-wanita dalam garis lurus ke atas dari ayah
4. Saudara-saudara dari anak yang bersangkutan
5. Wanita-wanita kerabat sedarah menurut garis samping dari ayah.
b. Anak yang sudah mummayiz berhak memilih untuk mendapatkan
hadhanah dari ayah atau ibunya.
c. Apabila pemegang hadhanah ternyata tidak dapat menjamin keselamatan
jasmani dan rohani anak, meskipun biaya nafkah dan hadhanah telah
dicukupi, maka atas permintaan kerabat yang bersangkutan pengadilan
berhak memindahkan hak hadhanah kepada kerabat lain yang mempunyai
hak hadhanah pula.
d. Semua biaya hadhanah dan nafkah anak menjadi tanggungan ayah
menurut kemampuannya, sekurang-kurangnya sampai anak tersebu
dewasa dan dapat mengurus diri sendiri (21 tahun).
e. Bilamana terjadi perselisihan mengenai hadhanah dan nafkah anak,
Pengadilan Agama memberikan putusannya berdasarkan huruf (a), (b)..
f. Pengadilan dapat pula dengan mengingat kemampuan ayahnya
menetapkan jumlah b iaya untuk pemeliharaan dan pendidikan anak-anak
yang tidak turut padanya.19

19
Ahmad Rofiq, Hukum Perdata Islam di Indonesia, (Jakarta: Rajawali Press, 2013), hlm. 226-227

16
g. Masalah nafkah iddah, mut’ah, madhiyah dapat diberikan dengan hakim
dapat mempertimbangkan rasa keadilan kepatutan dengan menggali fakta
kemampuan ekonomi suami dan fakta kebutuhan hidup isteri dan anak 20.
Dalam perkara cerai gugat tidak menutup kemunkinan pihak penggugat
isteri untuk mendapat nafkah dengan mengajukan tuntutanatas nafkah
tersebut.
h. Putusnya perkawina dengan bain sughra
i. Tidak dapat dirujuk.
B. Kerangka Teoritis
Sayyid Sabiq mendefinisikan talak dengan sebuah upaya untuk melepaskan
21
ikatan perkawinan dan selanjutnya mengahiri hubungan perkawinan itu sendiri.
definisiyang agak panjan dapat dilihat di dalam kitabKifayat al-Akhyar yang
menjelaskan talak sebagai sebuah nama untuk melepaskan ikatannikah dan talak
adalah lafaz jahiliyyah yang setelah Islam datang menetapkan lafaz itu sebagaikata
untuk melepas nikah. Dalil dalil tentang talak ituberdasarkan al kitb, hadist, ijma
ahli agama dan ahli sunnah.22
Perkawinan harus dipandang sebagai sesuatu yang alamiah, bisa bertahan
dengan bahagia sampai ajal menjelang dan bisa juga putus ditengah jalan.23Para
ulama klasik juga sudah menjelaskan dalam lembaran kitab-kitab fiqih. Menurut
Imam Malik sebab-sebab putusnya perkawinan adalah talak, khulu’,khiyar/faskh,
syiqaq, nusyuz, ila’, zihar. Imam Syafi’i menuliskan sebab-sebab putusnya
perkawinan adalah talak, khulu’, fasakh, khiyar, syiqaq, nusyuz, ila’ zihar, dan
li’an. As-Sarakashi juga menuliskan sebab sebab perceraian, talak, khulu’,ila’dan
zihar24

20
Surat edaran MA No. 30 tahun 2018
21

22
Sayyid Assabiq, fiqh sunnah,juz II,(beirut, dar Al-fikr,1983) hlmn. 206
23
Taqiyuddin, Kifayat al akhyar,juz II, (bandung: al-marifat,t.t) hlmn. 84
24
Khairuddin Nasution, status wanita diasia atenggara:studi terhadap UU Perkawinan Muslim Kontemporer di Indonesia dan Malaysia
seri INIS XXXiX, (jakarta:2002)hlmn. 203.

17
BAB III

GAMBARAN UMUM PENGADILAN AGAMA KOTA MATARAM

A. Sejarah Singkat Pengadilan Agama Kota Mataram25


diterimanya islam sebagai sebuah anutan (agama) maka Islam telah mewarnai
semua aspek kehidupan masyarakat dan bernegara. Proses pengambilan keputusan
dalam suatu perkara (upaya penegakan hokum), aspek social serta interaksi
kemasyarakatan lainnya kental dengan nuansa Islam.Artinya bahwa pelaksanaan
hukum Islam serta pola-pola kelembagaan bagaimanapun sederhananya telah
dilaksanakan apa adanya.

Halnya dengan Peradilan Agama, maka saepanjang sejarah Indonesia sebagai


sebuah bangsa, Negara (state) telah merekam dan menjadi bagian dari sejarah itu
sendiri. Peradilan Agama menjadi salah satu pita sejarah yang serta merta ikut
terlarut dalam perjalanan panjang bangsa Indonesia. Dengan demikian, Peradilan
Agama dari aspek manapun dalam kontek sejarah akan ditinjau akan mampu
memberikan penjabaran sistimatik tentang dirinya.

Akan halnya Pengadilan Agama, seabagaimana kebijakan atau tepatnya


politik yang dikembangkan oleh Belanda telah memberikan pengaturan
sedemikian rupa, karena dalam pemahamannya Pengadilan-Peradilan Agama
identik dengan Islam, maka kebijakan politikpun tidak jauh dari pertimbangan-
pertimbangan yang bersentuhan dengan Islam sebagai sebuah agama, paham.

Mahkamah Pengadilan Agama Syari’ah Mataram sendiri berada si bawah


lingkungan Mahkamah Syari’ah Tinggi Ujung Pandang. Sedangkan di bidang
administrasi umum/kepegawaian dan financial dibawah lingukungan tesadf
(inspektorat Pengadilan Agama di Sumbawa).

Pada tahun 1976 yuridiksi Mahkamah Syari’ah Mataram dimekarkan seiring


dengan berdirinya Pengadilan Agama/Mahkamah Syari’ah Lombok Tengah dan

25
https://pa-mataram.go.id/m/tentang-pengadian/profile-pengadilan/sejarah-singkat-pengadilan

18
Lombok Timur. Sehingga Pengadilan Agama/Mahkamah Syari’ah hanya untuk
wilayah hokum Lombok Barat.

Pemerintak Kota Mataram yang terlepas dari Pemerintah Daerah Lombok


Barat membawa konsekwensi pemekaran wilayah bagi yuridiksi Pengadilan
Agama Lombok Barat dan Kota Mataram. Dalam hal ini Pemerintah Kota
Mataram mewilayahi tiga kecamatan, Ampenan, Mataram dan Cakranegara.
Dengan demikian, yuridiksi Pengadilan Agama sama dengan Pemerintah Kota
Mataram.

Adapun kantor yang pernah ditempati Pengadilan Agama secara singkat


sering berpindah pindah. Dan pada akhirnya pada tahun 2008, Pengadilan Agama
Mataram membangun kantor yang baru di jalan Langko no. 03 Mataram dan
mulai digunakan pada tahun 2010 sampai dengan sekarang.

B. Visi dan Misi26


1. Visi
Terwujudnya Pengadilan Agama Mataram Yang Agung

2. Misi
1) Mewujudkan Peradilan sederhana, cepat dan biaya ringan.
2) Meningkatkan kualitas sumber daya aparatur peradilan yang akuntabel.
3) Meningkatkan pembinaan, pengawasan internal.
4) Meningkatkan kualitas managemen administrasi.`
5) Meningkatkan pelayanan kepada masyarakat pencari keadilan

26
https://pa-mataram.go.id/m/tentang-pengadian/visi-dan-misi/

19
C. Tugas dan Fungsi27
Pengadilan Agama, yang merupakan Pengadilan Tingkat Pertama bertugas dan
berwenang memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara-perkara ditingkat
pertama antara orang-orang yang beragama Islam dibidang perkawinan, kewarisan,
wasiat dan hibah yang dilakukan berdasarkan hukum Islam, serta wakaf dan
shadaqah, sebagaimana diatur dalam Pasal 49 Undang-undang Nomor 50 Tahun 2010
tentang Peradilan Agama.

Untuk melaksanakan tugas pokok tersebut, Pengadilan Agama mempunyai fungsi


sebagai berikut :

1. Memberikan pelayanan teknis yustisial dan administrasi kepaniteraan bagi


perkara tingkat pertama serta penyitaan dan eksekusi;
2. Memberikan pelayanan dibidang administrasi perkara banding, kasasi dan
peninjauan kembali serta administrasi peradilan lainnya;
3. Memberikan pelayanan administrasi umum kepada semua unsur di lingkungan
Pengadilan Agama (umum, kepegawaian dan keuangan kecuali biaya
perkara);
4. Memberikan Keterangan, pertimbangan dan nasehat tentang Hukum Islam
pada Instansi Pemerintah di daerah hukumnya, apabila diminta sebagaimana
diatur dalam Pasal 52 Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2010 tentang
Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 7 tahun 1989 tentang
Peradilan Agama;
5. Memberikan pelayanan penyelesaian permohonan pertolongan pembagian
harta peninggalan diluar sengketa antara orang-orang yang beragama Islam
yang dilakukan berdasarkan hukum Islam sebagaimana diatur dalam Pasal 107
ayat (2) Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas
Undang-Undang Nomor 7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama;
6. Waarmerking Akta Keahliwarisan di bawah tangan untuk pengambilan
deposito/ tabungan, pensiunan dan sebagainya;

27
https://pa-mataram.go.id/m/tentang-pengadian/profile-pengadilan/tugas-pokok-dan-fungsi/

20
7. Pelaksanakan tugas-tugas pelayanan lainnya seperti penyuluhan hukum,
pelaksanaan hisab rukyat, pelayanan riset/penelitian dan sebagainya.
D. Data Statistik Pengadilan Agama Kota Mataram28
Keadaan perkara yang diterima oleh pengadilan agama kota mataram, baik
dari sisa tahun sebelumnya dan diputuskan pada tahun 2019 di PengadilanAgama
Kota Mataram :
Jumlah penerimaan perkara tahun 2019 sisa perkara dari tahun 2018 sejumla 137
perkara, kemudian perkara yang diajukan pada tahun 2019 sebanyak 1228 jadi
jumlah total perkara pada tahun 2019 sebanyak 1365 perkara. Dengan tabel
sebagai berikut29 :

No
Jenis Putusan Jumlah Perkara
.
1. Dikabulkan 1151 perkara
2. Digugurkan 30 perkara
3. Ditolak 21 perkara
4. Tidak diterima 13 perkara
5. Dicoret 2 perkara
6. Dicabut 68 perkara
Total perkara yang diputus 1285 perkara
Sisa perkara tahun 2019 80 perkara

Dengan demikian pengadilan agama mataram telah memutus 1285 perkara atau
94,14 % dari jumlah perkara yang diterima tahun tahun 2019 dan sisa tahun
sebelumnya.

Berdasarkan data yang diperoleh dari pengadilan agama kota mataram Dari 1285
jumlah gugatan yang diterima tersebut, 791 merupakan kasus perceraian yang
berati 62% merupakan kasus perceraiaan baik cerai talak maupun cerai gugat,
berikut uraian data :

Jenis Sisa perkara Jumlah perkara Jumlah perkara Sisa perkara

28
https://pa-mataram.go.id/m/sistem-pengelolaan-pengadilan/statistik/statistik-perkara/

29
Laporan Pelaksanaan Kegiatan Pengadilan Agama Kota Mataram Kelas 1 A

21
Perceraia diterima diputuskan
na
Talak 40 169 193 16
Gugat 80 537 568 49

Dari 791 jumalah kasus perceraian tersebut, 666 merupakan kasus cerai gugat
yang berati 84% merupakan kasus cerai gugat

Kemudian data statistik alasan/faktor perceraian di Pengadilan Agama Kota


Mataram sebagai berikut :

No
Jenis Perkara Jumlah Perkara
.
1. Zina 3
2 Mabuk 4
3. Madat 1
4. Judi 4
5. Meninggalakan salah satu pihak 136
6. Dihukum penjara 0
7. Poligami 1
8. KDRT 25
9. Cacat Badan 1
10. Perselisihan dan pertengkaran terus menerus 449
11. Kawin Paksa 1
12. Murtad 4
13. Ekonomi 50
14. Lain lain 0
Jumlah 679

Perkara cerai gugat yang diterima di Pengadilan Agama Kota Mataram tahun
2017-2019

Tahun 2017 = 419

Tahun 2018 = 531

22
Tahun 2019 = 666
Berdasarkan data data statistik perceraian di atas, diketahui perbandingan antara
jumlah perkara cerai gugat baik yang diterima maupun yang diputus, diperoleh
bahwa jumlah perkara cerai gugat selalu melebihi dari jumlah cerai talak.
Kemudian juga intensitas perkara cerai gugat selalu bertambah tiap tahunnya.

23
BAB IV

ANALISIS PENINGKATAN GUGATAN CERAI GUGAT DI


PENGADILAN AGAMA KOTA MATARAM

A. Perkara cerai gugat di Pengadilan Agama Mataram


Pengadilan Agama Mataram dalam kurun waktu yaitu dari tahun 2017 sampai
dengan tahun 2019 telah menerima perkara cerai gugat sebanyak 1616 perkara, data
ini penulis ambil dari data statistik perkara yang ada dalam laporan tahunan
Pengadilan Agama Kota Mataram. Adapu rincian pertahunnya sebagai berikut :
1. Perkara yang masuk pada tahun 2017 adalah sebanyak 419
perkara
2. Perkara yang masuk pada tahun 2018 adalah sebanyak 531
perkara, jadi peningkatan kasus Cerai gugat pada tahun
2018 sebanyak 26,7%
3. Perkara yang masuk pada tahun 2019 adalah sebanyak 666
perkara, jadi peningkatan kasus cerai gugat pada tahun
2019 sebanyak 25,4%
Berdasarkan data statistik perkara cerai gugat yang ada di Pengadilan Agama Kota
Mataram dari tahun 2017 sampai 2019, terus mengalami peningkatan. Hal ini
disebabkan oleh banyak faktor yang mempengaruhinya.

B. Latar Belakang Penggugat


Latarbelakang penggugat yang mengajukan gugatan di Pengadian Agama Kota
Mataram ini kebanyakan dari mereka yang sudah sadar hukum. Dilihat dari segi
Profesi kebanyakan dari mereka dalah ibu rumah tangga, ada juga yang berprofesi
sebagai pegawai negeri sipil. Bila dilihat dari status pendidikannya pada umumnya
adalah lulusan SMA ada juga yang telah mencapai gelar SI.
C. Faktor faktor penyebab Cerai Gugat di Pengadilan Agama Kota Mataram
Karena tujuan perkawinan adalah untuk membentuk keluarga yang bahagia, kekal
dan sejahtera, maka Undang-undang Perkawinan di Indonesia menganut Prinsip

24
mempersukar terjadinya perceraian. Selain dimuatnya aturan bahwa perceraian hanya
dapat dilakukan di depan sidang pengadilan, setelah pengadilan yang bersangkutan
berusaha dan tidak berhasil mendamaikan suami isteri yang akan bercerai tersebut
Kompilasi Hukum Islam pasal 115 juga menjelaskan bahwa Perceraian hanya dapat
terjadi jika ada alasan atau Faktor-faktor yang membolehkan untuk bercerai30.
Perceraian yang terjadi di Pengadilan Agama Kota Mataram khususnya cerai
gugat, yang paling sering menjadi alasan pada umumnya adalah faktor sebagai
berikut beserta tingkatan jumlahnya :
1. Perselisihan dan pertengkatan terus menerus
Perselisihan dan pertengkaran terus menerus menjadi alasan paling banyak
yang diterima oleh Pengadilan Agama Kota Mataram,. Pada tahun 2019 isteri
yang mengajukan cerai gugat dengan alasan ini sebanyak 449 dari 666 isteri yang
mengajukan cerai gugat. Hal ini menunjukkan bahwa 67,4 % dari gugatan
beralasan perselisihan dan pertengkaran terus menerus. Tidakada keharmonisan
lagi dalam rumah tangga tersebut sering terjadi percekcokkan dan perselisihan
yang terus menerus kemudian berujung di Pengadilan. Hal ini disebabkan adanya
sikap-sikap dan prilaku dari suami seperti suami sering berkata kasar terhadap
penggugat, egois, suami tidak mandiri (selalu bergantung pada orang lain)
terkadang juga suami lebih memntingkan hal lain dari pada rumah tangganya
sendiri31.

2. Meninggalkan salah satu pihak


Meninggalkan salah satu pihak, suami yang meninggalkan isterinya, tidak
adanya tanggung jawab tidak memberikan nafkah kepada isteri dan membiayai
nafkah rumah tangga. Sehingga isteri menderita dikarnakan tidak menerima nafkah
lahir dan batin. Alasan ini adalah alasan kedua banyaknya terjadi cerai gugat di
Pengadilan Agama Kota Mataram, menurut data statistik PA Mataram 136 orang
yang bercerai akibat alasan ini, 20.42 % gugatan di ajukan dengan alasan ini
3. Ekomomi
30
A. Sutarmadi, Loc, Cit,. Hlmn.64
31
Wawancara pribadi,

25
Ekonomi merupakan salah satu hal terpenting bagi sebuah rumah tangga,
ekonomi merupakan faktor penunjang kelangsungan hidup sebuah rumah tangga.
Sekalipun ekonomi bukanlah segala-galanya, jika ekonomi tidak dapat terpenuhi
terutama kebutuhan primer, bagaimana sebuah rumah tangga melangsungkan
kehidupan, jika perekonomian sebuah keluarga kurang baik atau tidak baik tentu
saja akan memuncukan banyak masalah misalnya seperti tidak dapat terpenuhinya
kebutuhan pokok seperti sandang pangan papan , kebutuhan pendidikan dan lain
lain, masalah ekonomi ini menjadi alasan gugatan perceraian dengan jumlah
perkara sebanyak 50 kasus, yang berati 7,5% ajuan gugatan diajukan dengan alasan
ini.
4. Kekerasan Dalam Rumah Tangga
Kekerasan dalam rumah tangga ini menjadi alasan gugatan perceraian
sebanyak 25 kasus, yang berati 3,75% menjadi alasan diajukannya perceraian.
Kekerasan yang terjadi di dalam rumah tangga tentu merupakan ahal yang sangat
memilukan. Rumah yangs seharusnya menjadi tempat yang nyaman, saling
mengasihi dan menghormati malah menjadi sebaliknya dikarnakan kesewenang-
wenangan dan perlakuan kasar terhadap istri, menyakiti fisik, dan psikologis.
5. Alasan lain
Alasan-alasan lain misalnya seperti poligami,murtad, judi dan lain lain,
sebanyak 18 kasus yang berati 1,15% dari data yang tersedia.

Dari data-data dan keterangan diatas faktor penyebab terbanyak cerai gugat di
Pengadilan Agama Kota Mataram disebabkan oleh faktor pertengkaran dan
perselisihan yang terjadi terus menerus diantara suami isteri dengan persentase
sebanyak 67,4 persen.

D. Analisis Penulis
Kasus perceraian dari tahun ke tahun jumlahnya kian meningkat, terutama kasus
cerai gugat, baik di tingkat nasional maupun lokal di Kota Mataram, merupakan
masalah yang cukup serius dan tidak sesuai dengan tujuan perkawinan. Dimana
seharusnya sebuah perkawinan itu dilakukan untuk selamanya. Inilah yang

26
sebenarnya dikehendaki oleh islam. Perkawinan merupakan ikatan paling kokoh dan
diharapkan tidak akan putus, kecuali kematian salah satu pihak, akan tetapi realitas
kehidupan berkata lain. hasil penelitian menunjukkan bahwa kasus perceraian kian
meningkat dan ternyata kasus cerai gugat dua kali lipat lebih banyak dari kasus cerai
gugat. ,penyebab tingginya angka cerai gugat disebabkan banyak faktor. Faktor utama
pemicunya adalah karena ketidak harmonisan, ketidak harmonisan atau sering
terjadinya pertengkaran dan berakhir dipengadilan disebabkan karena tidak
terpenuhinya kebutuhan hidup, kekerasan fisik/psikis, krisis akhlak, gangguan pihak
ketiga, dan poligami tidak sehat. Selain itu ada beberapa faktor lain, namun tidak
dominan.
karena pemahaman perempuan terhadap hak-hak mereka sebagai isteri, semakin
terdidiknya, informasi yang semakin mudah diakses, kemandirian ekonomi, dan
kepedulian berbagai lembaga terhadap kaum perempuan. perempuan saat ini banyak
yang mau dan berani menggugat cerai suaminnya, bertambah baiknya pemahaman
perempuan terhadap hak mereka dalam rumah tangga (hak sebagai isteri), sehingga
mereka tidak rela kalau mereka diperlakukan tidak adil dan hak-hak mereka
diabaikan. Kemudian kemandirian ekonomi, dimana banyak perempuan yang bekerja
merasa memiliki power untuk menghidupi diri, dan bahkan anak-anaknya, meskipun
nantinya berstatus janda. Jadi perempuan perempuan tersebut tidak segan menggugat
cerai suaminya ketika suami tidak melakukan kewajibannya kemudian melanggar hak
hak isteri.
Pengadilan Agama telah memperketat penerimaan gugatan perceraian, yang mana
harus mencantumkan alasan alasan yang jelas dan masuk akal baik itu cerai talak
maupun cerai gugat, kemudian dalam perkara perceraian hakim selalu berusaha
mediasi, mengharapkan dapat bersatunya kembali suami dan isteri. akan tetapi jika
upaya tersebut tidak berhasil mendamaikan mereka sehingga jelas pihak tersebut
tidak ingin bersatu kembali dan alasannya kuat, maka hakim menjatuhkan
putusannya.

27
Perceraian menjadi alternatif terakhir, bila memang sangat sulit keadaan yang
dihadapi rumah tangga tersebut kemudian tidak ada lagi jalan lain untuk menjaga
kepentingan bersama tersebut.

28
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan
Peningkatan perkara perceraian di pengadilan agama mengalami peningkatan tiap
tahunnya Perkara yang masuk pada tahun 2017 adalah sebanyak 419 perkara. Perkara
yang masuk pada tahun 2018 adalah sebanyak 531 perkara, jadi peningkatan kasus
Cerai gugat pada tahun 2018 sebanyak 26,7%. Perkara yang masuk pada tahun 2019
adalah sebanyak 666 perkara, jadi peningkatan kasus cerai gugat pada tahun 2019
sebanyak 25,4%.

Perceraian yang terjadi di Pengadilan Agama Kota Mataram khususnya cerai


gugat, yang paling sering menjadi alasan pada umumnya adalah faktor sebagai
berikut beserta tingkatan jumlahnya (1)Perselisihan dan pertengkatan terus menerus
67,4 % ,(2)Meninggalkan salah satu pihak,yang bercerai akibat alasan ini, 20.42 %
(3) Ekomomi 7,5% ajuan gugatan(4) Kekerasan Dalam Rumah Tangga 3,75%
menjadi alasan diajukannya perceraian. alasan-alasan lain misalnya seperti
poligami,murtad, judi dan lain lain, sebanyak 18 kasus yang berati 1,15% dari data
yang tersedia.
B. Saran
1. Memaksimalkan pendidikan pranikah dan sosialisasi kepada masyarakat
tentang kehidupan rumah tangga yang ideal.
2. Penyuluhan agama dalam upaya pembinaan keluarga sakinah, menitik
beratkan pada tanggung jawab, dan senantiasa membangun keharmonisan
dalam hubungan rumah tangga.
3. Pemerintah, pendidik disekolah, tokoh masyarakat mengambil peran dan
memberikan pengajaran tentang bagaimana membentuk keluarga yang baik
menurut agama kepada masyarakat.
4. Penanaman nilai agama kepada generasi tentang kedudukan dan tujuan
perkawinan dalam Islam, hak dan kewajiban suami dan isteri dalam
perkawinan.

29
DAFTAR PUSTAKA

Assabiq, fiqh sunnah,juz II,(beirut, dar Al-fikr,1983)

https://pa-mataram.go.id/m/tentang-pengadian/profile-pengadilan/

laporan PelaksanKegiatan Tahunan Penagdilan Agama Mataram 2019, (PA Mataram


2019)

Manan Abdul Manan,Aneka Masalah Hukum Perdata Islam di Indonesia, (Jakarta,


Kencana 2008)

Nasution Bahder Juhan dan Warjiyat Sri , Hukum Perdata Islam, (bandung: Mandar
Maju, 1997)

Nuruddin Amiur, Akmal Tarigan Azhari, Hukum Perdata Islam di Indonesia, (Jakarta,
Kencana;2014)

Raihan A. Rasyid,hukum Acara Pengadlan Agama cet. Ke-9 ,(Jakarta, PT. Raja Grafido
Persada, 2002)

Rofiq Ahmad, Hukum Perdata Islam di Indonesia, (Jakarta: Rajawali Press, 2013)

Taqiyuddin, Kifayat al akhyar,juz II, (bandung: al-marifat,t.t).

Wijono Prodjodikoro, hukum acara Perdata di Indonesia, cet. Ke-8 (Bandung, Sumur
Bandung, 1982)

30