Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN

A. TINJAUAN KASUS
1. Pengertian
Dengue Hemmorhagic Fever adalah penyakit yang disebabkan
oleh virus dengue melalui gigitan nyamuk, penyakit ini dengan cepat
menyebar di seluruh wilayah WHO dalam beberapa tahun terakhir.
Virus dengue ditularkan oleh nyamuk betina terutama dari spesies
Aedes aegypti dan, pada tingkat lebih rendah, A. albopictus. Penyakit
ini tersebar luas di seluruh daerah tropis, dengan variasi lokal dalam
risiko dipengaruhi oleh curah hujan, suhu dan urbanisasi yang cepat
tidak direncanakan (WHO, 2015).
Penyakit ini mempunyai perjalanan penyakit yang sangat cepat
dan sering menjadi fatal karena banyak pasien yang meninggal akibat
penanganan yang terlambat. Dengue hemorrhagic fever (DHF) disebut
juga demam berdarah dengue (DBD), dengue fever (DF), demam
dengue dan dengue shock sindrom (DDS) (Widoyono, 2011). DHF
adalah penyakit menular yang ditularkan melalui gigitan nyamok
aedes aegepty (Susilaningrum dkk, 2013).

2. Etiologi
Demam berdarah dengue tidak menular melalui kontak
manusia dengan manusia. Virus dengue sebagai penyebab demam
berdarah hanya dapat ditularkan melalui nyamuk. Oleh karena itu,
penyakit ini termasuk kedalam kelompok arthropod borne diseases.
Virus dengue berukuran 835-45 nm. Virus ini dapat terus tumbuh dan
berkembang dalam tubuh manusia dan nyamuk. Terdapat tiga faktor
yang memegang peran pada penularan infeksi dengue, yaitu manusia,
virus, dan vektor perantara. Virus dengue masuk ke dalam tubuh
nyamuk pada saat menggigit manusia yang sedang mengalami
viremia, kemudian virus dengue ditularkan kepada manusia melalui
gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus yang infeksius.
Seseorang yang di dalam darahnya memiliki virus dengue (infektif)
merupakan sumber penular DBD. Virus dengue berada dalam darah
selama 4-7 hari mulai 1-2 hari sebelum demam (masa inkubasi
instrinsik). Bila penderita DBD digigit nyamuk penular, maka virus
dalam darah akan ikut terhisap masuk ke dalam lambung nyamuk.
Selanjutnya virus akan berkembangbiak dan menyebar ke seluruh
bagian tubuh nyamuk, dan juga dalam kelenjar saliva. Kira-kira satu
minggu setelah menghisap darah penderita (masa inkubasi ekstrinsik),
nyamuk tersebut siap untuk menularkan kepada orang lain. Virus ini
akan tetap berada dalam tubuh nyamuk sepanjang hidupnya. Oleh
karena itu nyamuk Aedes aegypti yang telah menghisap virus dengue
menjadi penular (infektif) sepanjang hidupnya. Penularan ini terjadi
karena setiap kali nyamuk menggigit (menusuk), sebelum menghisap
darah akan mengeluarkan air liur melalui saluran alat tusuknya
(probosis), agar darah yang dihisap tidak membeku. Bersama air liur
inilah virus dengue dipindahkan dari nyamuk ke orang lain. Hanya
nyamuk Aedes aegypti betina yang dapat menularkan virus dengue.
Nyamuk betina sangat menyukai darah manusia (anthropophilic) dari
pada darah binatang. Kebiasaan menghisap darah terutama pada pagi
hari jam 08.00-10.00 dan sore hari jam 16.00-18.00. Nyamuk betina
mempunyai kebiasaan menghisap darah berpindah-pindah berkali-kali
dari satu individu ke individu lain (multiple biter). Hal ini disebabkan
karena pada siang hari manusia yang menjadisumber makanan darah
utamanya dalam keadaan aktif bekerja/bergerak sehingga nyamuk
tidak bisa menghisap darah dengan tenang sampai kenyang pada satu
individu. Keadaan inilah yang menyebabkan penularan penyakit DBD
menjadi lebih mudah terjadi.
3. Patofisiologis
Virus dengue yang telah masuk ketubuh penderita akan
menimbulkan viremia. Viremia mengakibatkan penderita mengalami
demam, sakit kepala, mual, nyeri otot pegal pegal di seluruh tubuh,
ruam atau bintik bintik merah pada kulit, hiperemia tenggorokan dan
hal lain yang mungkin terjadi pembesaran kelenjar getah bening,
pembesaran hati (hepatomegali). Hal tersebut akan menimbulkan
reaksi oleh pusat pengatur suhu di hipotalamus sehingga menyebabkan
(pelepasan zat bradikinin, serotinin, trombin, histamin) terjadinya
peningkatan suhu tubuh. Selain itu viremia menyebabkan pelebaran
pada dinding pembuluh darah yang menyebabkan perpindahan cairan
dan plasma dari intravascular ke interstisial yang menyebabkan
hipovolemia. Trombositopenia dapat terjadi akibat dari, penurunan
produksi trombosit sebagai reaksi dari antibodi melawan virus
(Murwani, 2011).
Pada pasien dengan trombositopenia terdapat adanya
perdarahan baik kulit seperti peteki atau perdarahan mukosa di mulut.
Hal ini mengakibatkan adanya kehilangan kemampuan tubuh untuk
melakukan mekanisme hemostatis secara normal. Hal tersebut dapat
menimbulkan perdarahan dan jika tidak tertangani maka akan
menimbulkan syok (Candra, 2010).
Virus bereaksi dengan antibodi dan terbentuklah kompleks
virus antibodi, dalam sirkulasi dan akan mengativasi sistem
komplemen. Akibat aktivasi C3 dan C5 akan akan di lepas C3A dan
C5A, dua peptida yang berdaya untuk melepaskan histamin dan
merupakan mediator kuat sebagai faktor meningkatnya permeabilitas
dinding pembuluh darah yang mengakibatkan terjadinya pembesaran
plasma ke ruang ekstraseluler. Pembesaran plasma ke ruang eksta
seluler mengakibatkan kekurangan volume plasma, terjadi hipotensi,
hemokonsentrasi dan hipoproteinemia serta efusi dan renjatan/ syok
(Suriadi, 2010).
4. Manifestasi Klinis
Gejala klinis utama pada DBD adalah demam dan manifestasi
perdarahan baik yang timbul secara spontan maupun setelah uji
torniquet.
a. Demam tinggi mendadak yang berlangsung selama 2-7 hari
b. Manifestasi perdarahan
1) Uji tourniquetpositif
2) Perdarahan spontan berbentuk peteki, purpura,
ekimosis, epitaksis, perdarahan gusi, hematemesis,
melena.
c. Hepatomegali
d. Renjatan, nadi cepat dan lemah, tekanan nadi menurun
(<20mmHg) atau nadi tak teraba, kulit dingin, dan anak
gelisah.
5. Pemeriksaan Penunjang/Diagnostik
Langkah-langkah diagnose medik pemeriksaan menurut (Murwani,
2011):
a. Pemeriksaan trombositopenia pada pasien dengan penyakit
infeksi virus dengue terjadi trombositopenia (< 100.000/ uL)
sebagai bukti adanya kebocoran plasma.
b. Pemeriksaan hematokrit (Ht) : ada kenaikan bisa sampai 20%,
normal: pria 40-50%; wanita 35-47%.
c. Uji torniquit: caranya diukur tekanan darah kemudian diklem
antara tekanan systoledan diastole selama 10 menit untuk
dewasa dan 3-5 menit untuk anak-anak. Positif ada butir-butir
merah (petechie) kurang 20 pada diameter 2,5 inchi.
d. Tes serologi (darah filter): ini diambil sebanyak 3 kali dengan
memakai kertas saring (filter paper) yang pertama diambil pada
waktu pasien masuk rumah sakit, kedua diambil pada waktu
akan pulang dan ketiga diambil 1-3 mg setelah pengambilan
yang kedua. Kertas ini disimpan pada suhu kamar sampai
menunggu saat pengiriman.
e. Isolasi virus: bahan pemeriksaan adalah darah penderita atau
jaringan-jaringan untuk penderita yang hidup melalui biopsy
sedang untuk penderita yang meninggal melalui autopay. Hal
ini jarang dikerjakan.
6. Penatalaksanaan Medis
Untuk penderita DF/DHF sebaiknya dirawat dikamar yang bebas
nyamuk (berkelambu) untuk membatasi penyebaran. Perawatan kita
berikan sesuai dengan masalah yang ada pada penderita sesuai dengan
beratnya penyakit.
a. Derajat I: terdapat gangguan kebutuhan nutrisi dan
keseimbangan elektrolit karena adanya muntah, anorexsia.
Gangguan rasa nyaman karena demam, nyeri epigastrium, dan
perputaran bola mata.Perawat: istirahat baring, makanan lunak
(bila belum ada nafsu makan dianjurkan minum yang banyak
1500-2000cc/hari), diberi kompres dingin, memantau keadaan
umum, suhu, tensi,nadi dan perdarahan, diperiksakan Hb, Ht,
dan thrombosit, pemberian obat-obat antipiretik dan
antibiotikbila dikuatirkan akan terjadi infeksi sekunder.
b. Derajat II: peningkatan kerja jantung adanya epitaxsismelena
dan hemaesis. Perawat: bila terjadi epitaxsis darah dibersihkan
dan pasang tampon sementara, bila penderita sadar boleh diberi
makan dalam bentuk lemak tetapi bila terjadi hematemesis
harus dipuaskan dulu, mengatur posisi kepala dimiringkan agar
tidak terjadi aspirasi, bila perut kembung besar dipasang maag
slang, sedapat mungkin membatasi terjadi pendarahan, jangan
sering ditusuk, pengobatan diberikan sesuai dengan intruksi
dokter, perhatikan teknik-teknik pemasangan infus, jangan
menambah pendarahan, tetap diobservasi keadaan umum, suhu,
nadi, tensi dan pendarahannya, semua kejadian dicatat dalam
catatan keperawatan, bila keadaan memburuk segera lapor
dokter.
c. Derajat III dan IV: terdapat gangguan kebutuhan O2 karena
kerja jantung menurun, penderita mengalami pre shock/ shock.
Perawatan: mengatur posisitidur penderita, tidurkan dengan
posisi terlentang denan kepala extensi, membuka jalan nafas
dengan cara pakaian yang ketat dilonggarkan, bila ada lender
dibersihkan dari mulut dan hidung, beri oksigen, diawasi terus-
meneris dan jangan ditinggal pergi, kalau pendarahan banyak
(Hb turun) mungkin berikan transfusi atas izin dokter, bila
penderita tidak sadar diatur selang selin perhatian kebersihan
kulit juga pakaian bersih dan kering.
7. Komplikasi
Demam berdarah yang tidak tertangani dapat menimbulkan komplikasi
serius, seperti:
a. Dengue Shock Syndrome (DSS). Selain menampakkan gejala
demam berdarah, DSS juga memunculkan gejala seperti:
1) Tekanan darah menurun.
2) Pelebaran pupil.
3) Napas tidak beraturan.
4) Mulut kering.
5) Kulit basah dan terasa dingin.
6) Denyut nadi lemah.
7) Jumlah urine menurun.

Tingkat kematian DSS yang segera ditangani adalah sekitar 1-


2%. Namun sebaliknya, bila tidak cepat mendapat penanganan,
tingkat kematian DSS bisa mencapai 40%. Karena itu, penting
untuk segera mencari pertolongan medis, bila Anda mengalami
gejala demam berdarah. Pada kondisi yang parah, demam
berdarah bisa menyebabkan kejang, kerusakan pada hati,
jantung, otak, dan paru-paru, penggumpalan darah, syok, hingga
kematian.
b. Ensefalopati Dengue
Pada umumnya ensefalopati terjadi sebagai komplikasi
syok yang berkepanjangan dengan pendarahan, tetapi dapat
juga terjadi pada DBD yang tidak disertai syok. Gangguan
metabolikseperti hipoksemia, hiponatremia, atau perdarahan,
dapat menjadi penyebab terjadinya ensefalopati. Melihat
ensefalopati DBD bersifat sementara, maka kemungkinan
dapat juga disebabkan oleh thrombosis pembuluh darahotak,
sementara sebagai akibat dari koagulasi intravaskularyang
menyeluruh. Dilaporkan bahwa virus dengue dapat menembus
sawar darahotak. Dikatakan pula bahwa keadaan
ensefalopatiberhubungan dengan kegagalan hati akut. Pada
ensefalopati cenderung terjadi udem otak danalkalosis, maka
bila syok telah teratasi cairan diganti dengan cairan yang tidak
mengandung HC03-dan jumlah cairan harus segera dikurangi.
Larutan laktat ringer dektrosasegera ditukar dengan larutan
NaCl (0,9%): glukosa (5%) = 1:3. Untuk mengurangi udem
otak diberikan dexametason 0,5 mg/kg BB/kali tiap 8 jam,
tetapi bila terdapat perdarahan saluran cerna sebaiknya
kortikosteroid tidak diberikan. Bila terdapat disfungsi hati,
maka diberikan vitamin K intravena 3-10 mg selama 3 hari,
kadar gula darah diusahakan > 80 mg. Mencegah terjadinya
peningkatan tekanan intrakranialdengan mengurangi jumlah
cairan (bila perlu diberikan diuretik), koreksi asidosis dan
elektrolit. Perawatan jalan nafas dengan pemberian oksigen
yang adekuat. Untuk mengurangi produksi amoniak dapat
diberikan neomisindan laktulosa. Usahakan tidak memberikan
obat-obat yang tidak diperlukan (misalnya antasid, anti
muntah) untuk mengurangi beban detoksifikasiobat dalam hati.
Transfusi darah segar atau komponen dapat diberikan atas
indikasi yang tepat. Bila perlu dilakukan tranfusi tukar. Pada
masa penyembuhan dapat diberikan asam amino rantai pendek.
c. Kelainan ginjal
Gagal ginjal akut pada umumnya terjadi pada fase
terminal, sebagai akibat dari syok yang tidak teratasi dengan
baik. Dapat dijumpai sindrom uremik hemolitik walaupun
jarang. Untuk mencegah gagal ginjal maka setelah syok diobati
dengan menggantikan volume intravaskular, penting
diperhatikan apakah benar syok telah teratasi dengan baik.
Diuresismerupakan parameter yang penting dan mudah
dikerjakan untuk mengetahui apakah syok telah teratasi.
Diuresis diusahakan > 1 ml / kg berat badan/jam. Oleh karena
bila syok belum teratasi dengan baik, sedangkan volume cairan
telah dikurangi dapat terjadi syok berulang. Pada keadaan syok
berat sering kali dijumpai akute tubular necrosis, ditandai
penurunan jumlah urin dan peningkatan kadar ureum dan
kreatinin.
d. Udema paru
Udem paru adalah komplikasi yang mungkin terjadi
sebagai akibat pemberian cairan yang berlebihan. Pemberian
cairan pada hari sakit ketiga sampai kelima sesuai panduan
yang diberikan, biasanya tidak akan menyebabkan udem paru
oleh karena perembesan plasma masih terjadi. Tetapi pada saat
terjadi reabsorbsi plasma dari ruang ekstra vaskuler, apabila
cairan diberikan berlebih (kesalahan terjadi bila hanya melihat
penurunan hemoglobin dan hematokrit tanpa memperhatikan
hari sakit), pasien akan mengalami distress pernafasan, disertai
sembab pada kelopak mata, dan ditunjang dengan gambaran
udem paru pada foto rontgen dada. Komplikasi demam
berdarah biasanya berasosiasi dengan semakin beratnya bentuk
demam berdarah yang dialami, pendarahan, dan shock
syndrome. Komplikasi paling serius walaupun jarang terjadi
adalah sebagai berikut:
1) Dehidrasi
2) Pendarahan
3) Jumlah platelet yang rendah
4) Hipotensi
5) Bradikardi
6) Kerusakan hati

B. TINJAUAN ASKEP
1. Pengkajian
Pengkajian keperawatan adalah proses sistematis dari
pengumpulan, verifikasi, komunikasi dan data tentang pasien.
Pengkajian ini didapatdaridua tipe yaitu data subyektif dan persepsi
tentang masalah kesehatan mereka dandata obyektif yaitu
pengamatan/pengukuran yang dibuat oleh pengumpulan data.
Berdasarkan klasifikasi NANDA (Herdman, 2010), fokus
pengkajian yang harus dikaji tergantung pada ukuran, lokasi, dan
etiologi kalkulus:
a. Aktivitas/ Istirahat
Gejala: keterbatasanaktivitas sehubungan dengan kondisi
sebelumnya, pekerjaan dimana pasien terpajan pada
lingkungan bersuhu tinggi.
b. Sirkulasi
Tanda: peningkatan TD, HR, nadi, kulit hangat dan kemerahan.
c. Eliminasi
Gejala: riwayat ISK, obstruksi sebelumnya, penurunan
volumeurin, rasa terbakar.
Tanda: oliguria, hematuria, piouria, perubahan pola berkemih.
d. Pencernaan
Tanda: mual-mual, muntah.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Peningkatan suhu tubuh (hipertermi) berhubungan dengan
proses penyakit.
b. Nyeri akut berhubungan dengan proses patologis penyakit.
c. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan
berhubungan dengan mual, muntah, anoreksi.
d. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan
cairan aktif
e. Resiko terjadinya syok berhubungan dengan kebocoran plasma
darah
3. Perencanaan
a. Prioritas Masalah
1) Peningkatan suhu tubuh (hipertermi)
2) Kekurangan volume cairan
3) Resiko syok
4) Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari
kebutuhan
5) Nyeri akut
b. Rencana Keperawatan
Diagnose Tujuan Rencana Rasional
keperawatan keperawatan tindakan tindakan
Peningkatan suhu Setelah diberikan 1. Kaji saat timbulnya 1. Untuk mengidentifikasi
tubuh (hipertemi) asuhan keperawatan demam pola demam pasien.
berhubungan selama 3 x 24 jam 2. Observasi tanda vital 2. Tanda-tanda vital
dengan proses diharapkan suhu (suhu, nadi, tensi, merupakan acuan untuk
penyakit tubuh pasien normal. pernafasan) mengetahui keadaan
Dengan kriteria hasil: 3. Berikan kompres hangat umum pasien
- Pasien 4. kolaborasi terapi cairan 3. Dengan vasodilatasi dapat
mengatakan intravena dan obat- meningkatkan penguapan
kondisi tubuhnya obatan. yang mempercepat
nyaman penurunan suhu tubuh.
- Suhu 36,8°C- 4. Pemberian cairan dan obat
37,5°C, Tekanan sangat penting bagi pasien
darah 120/80 dengan suhu tinggi
mmHg, Respirasi
16-24 x/mnt, Nadi
60-100 x/mnt.
Kekurangan Setelah diberikan 1. Pantau tanda-tanda vital, 1. hipovolemia dapat
volume cairan asuhan keperawatan catat adanya perubahan dimanisfestasikan oleh
berhubungan selama 3 x 24 jam tanda vital hipotensi dan takikardi
dengan kehilangan diharapkan 2. Pertahankan catatan 2. memberi perkiraan akan
cairan aktif perubahan status intake dan output pasien cairan pengganti, fungsi
nutrisi kurang dari 3. Monitor status hidrasi ginjal, dan program
kebutuhan tubuh (kelembaban membrane pengobatan.
dapat teratasi. mukosa, nadi adekuat) 3. mengidentifikasi
Dengan kriteria hasil: 4. Kolaborasi pemberian terjadinya dehidrasi
- Tanda-tanda vital cairan IV 4. mempercepat proses
dalam batas penyembuhan untuk
normal memenuhi kebutuhan
- Tidak ada tanda cairan
dehidrasi,
elastisitas turgor
kulit baik,
membrane
mukosa lembab,
tidak ada rasa
haus yang
berlebihan
Resiko syok Setelah diberikan 1. Monitor keadaan 1. memantau kondisi
berhubungan asuhan keperawatan umum pasien (hasil pasien selama masa
dengan kebocoran selama 3 x 24 jam trombosit dan perawatan terutama
plasma darah diharapkan tidak hematokrit) pada saat terjadi
terjadi syok 2. Observasi tanda- perdarahan sehingga
hipovolemik. Dengan tanda vital segera diketahui tanda
kriteria hasil: 3. Monitor tanda awal syok dan dapat segera
- Turgor kulit baik syok dan perdarahan. ditangani
- Kadar elektrolit 4. Anjurkan pasien 2. tandatanda vital
dalam batas untuk banyak minum normal menandakan
normal air keadaan umum baik
- Hematokrit dalam 3. perdarahan cepat
batas normal diketahui dan dapat
diatasi sehingga pasien
tidak sampai syok
hipovolemik.
4. untuk mengurangi
dehidrasi dan
membantu hematokrit
dalam batas normal
Gangguan Setelah diberikan 1. Observasi keadaan umam 1. mengetahui kebutuhan
pemenuhan nutrisi asuhan keperawatan pasien dan keluhan yang diperlukan oleh
kurang dari selama 3 x 24 jam pasien. pasien.
kebutuhan diharapkan 2. Timbang berat badan 2. Untuk mengkaji
berhubungan perubahan status setiap hari atau sesuai pemasukan makanan yang
dengan kurang nutrisi kurang dari indikasi. adekuat (termasuk
minat pada kebutuhan tubuh 3. Ajarkan pasien dan absorbsi dan utilisasinya)
makanan, mual, dapat teratasi. libatkan keluarga pasien 3. Meningkatkan rasa
muntah Dengan kriteria hasil: pada perencanaan makan keterlibatannya;
- Mampu sesuai indikasi. Memberikan informasi
mengidentifikasi 4. Kolaborasi dengan dokter kepada keluarga untuk
nutrisi sesui untuk pemberian obat memahami nutrisi pasien
kebutuhan anti mual. 4. Pemberian obat antimual
- Tidak ada tanda dapat mengurangi rasa
malnutrisi mual sehingga kebutuhan
- Tidak terjadi nutrisi pasien tercukupi
penurunan berat
badan yang berarti
Nyeri akut Setelah diberikan 1. Observasi tingkat 1. Mengindikasi kebutuhan
berhubungan asuhan keperawatan nyeri pasien (skala, untuk intervensi dan juga
dengan proses selama 3 x 24 jam frekuensi, durasi) tanda-tanda
patologis penyakit diharapkan nyeri 2. Ajarkan pasien teknik perkembangan/resolusi
pasien dapat distraksi dan komplikasi
berkurang dan relaksasi 2. Relaksasi akan
menghilang. Dengan 3. Berikan lingkungan memindahkan rasa nyeri
kriteria hasil: yang tenang dan ke hal lain dan untuk
- Pasien nyaman dan tindakan menanggulangi nyeri
mengatakan kenyamanan. 3. Lingkungan yang nyaman
nyerinya hilang - Libatkan keluarga akan membantu proses
- Nyeri berada pada dalam asuhan relaksasi.
skala 0-3 keperawatan. 4. Keluarga akan membantu
- Kolaborasi dengan proses penyembuhan
dokter untuk dengan melatih pasien
pemberian obat relaksasi.
analgetik 5. Memberikan penurunan
- rasa nyeri
4. Implementasi
Implementasi keperawatan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh
perawat untuk membantu klien dari masalah status kesehatan yang dihadapi
kestatuskesehatan yang baik yang menggambarkan kriteria hasil yang diharapkan.
5. Evaluasi
Evaluasi merupakan tahap akhir yang bertujuan untuk menilai apakah tindakan
keperawatan yang telah dilakukan tercapai atau tidak untuk mengatasi suatu masalah.
Pada tahap evaluasi, perawat dapat mengetahui seberapa jauh diagnosa keperawatan,
rencana tindakan, dan pelaksanaan telah tercapai.
WOC

Virus Dengue terdapat


pada nyamuk aedes

Nyamuk aedes aeygypty


menggigit Manusia

Masuk ke Aliran Darah

Viremia

Mekanisme Tubuh Untuk Komplemen Antigen dan Renjatan (proses


Melawan Virus Antibodi Meningkat
imunologi)
Peningkatan Asam Pembebasan Histamin
Ke pembuluh darah dan ke otak melalui
lambung aliran darah
Anoreksia, mual, Peningkatan
muntah permebialitas Virus berkembang di
BB menurun dinding pembuluh dalam darah
darah

Kekurangan Kebocoran plasma Hipertermi


Gangguan
volume cairan
pemenuhan
nutrisi kurang
dari kebutuhan Plasma banyak enguap pada
Pendarahan eksta seluler
jaringan interstitial tubuh

Resiko syok
Edema

Penekanan
saraf

Nyeri akut
DAFTAR PUSTAKA

Nanda. 2015. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi. EGC: Jakarta

Nurarif, Amin & Kusuma, Hardi. 2015. Aplikasi Asuhan keperawatan berdasarkan
diagnose medis, Nanda dan Nic-Noc. Jogjakarta: MediaAction

Murwani, A. (2011) Perawatan Pasien Penyakit Dalam. Yogyakarta: Goshyen


Publishing.

Sudoyo, A.W. 2010. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. Edisi V. Jakarta: Balai
Penerbit FK UI.

Susilaningrum, R. 2013. Asuhan Keperawatan Bayi dan anak untuk Perawat dan
Bidan Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika

WHO. 2015. Dengue and Severe Dengue. Diakses pada hari Senin, 12 Desember
2020 jam 14. 00 WITA dari
http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs117/en/