Anda di halaman 1dari 51

LAPORAN PRAKTIKUM DASAR ILMU TANAH

KESUBURAN TANAH

Nama : Dwi Septi Nur Amaliah

NIM : 20200210192

Kelas : Agroteknologi D

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta
karunia-Nya kepada praktikan, sehingga praktikan dapat menyelesaikan Laporan Praktikum
Kesuburan Tanah ini.

Dengan laporan ini kita bisa mengetahui tentang sifat-sifat tanah dan pemupukan.
Diharapkan laporan ini dapat memberikan banyak informasi untuk kita semua khususnya di
bidang pertanian. Tidak lupa, praktikan mengucapkan terimakasih kepada dosen pengampuh
mata kuliah Kesuburan Tanah dan Pemupukan ini serta tidak lupa praktikan mengucapkan
terimakasih kepada assisten dan coAss yang telah membimbing praktikan dalam
melaksanakan praktikum.

Praktikan menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu
kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu praktikan harapkan demi
kesempurnaan laporan ini.

Akhir kata, praktikan sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang berperan
serta dalam praktikum ini. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita.
Aamiin.

Yogyakarta, 13 Mei 2021

Praktikan

Dwi Septi Nur Amaliah


I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kesuburan tanah adalah mutu tanah untuk bercocok tanam yang ditentukan oleh
interaksi sejumlah sifat fisika, kimia dan biologi tanah yang menjadi habitat akar aktif
tanaman. Kesuburan habitat akar dapat bersifat hakiki dari bagian tubuh tanah yang
bersangkutan , dan di imbas oleh keadaan bagian lain dari tanah atau diciptakan pengaruh
dari keadaan lain lahan seperti lahan, iklim dan musim. Kesuburan tanah merupakan mutu
suatu tanah atau lahan melainkan bukan sifat tanah maka kesuburan tanah tidak dapat
diukur atau diamati melainkan hanya dapat ditaksir. Penaksiran kesuburan tanah dapat
dilakukan atas dasar sifat-sifat dan kelakuan fisik, kimia dan biologi tanah tersebut.

Kesuburan tanah merupakan kemampuan tanah menyediakan unsur hara yang


dibutuhkan oleh tanaman untuk mendukung pertumbuhan dan reproduksinya. unsur hara
dalam bentuk nutrisi dapat diserap oleh tanaman melalui akar titik nutrisi dapat diartikan
sebagai proses untuk memperoleh nutrien, sedangkan nutrien dapat diartikan sebagai zat-
zat yang diperlukan untuk kelangsungan hidup tanaman berupa mineral dan air.

Nutrisi di dalam tanah diserap tanaman agar dapat tumbuh dengan baik. penyediaan
nutrisi bagi tanaman dapat dilakukan dengan penambahan pupuk yang merupakan kan
kunci dari kesuburan tanah. pupuk dapat menggantikan nutrisi yang habis diserap
tanaman. pada saat ini para petani banyak menggunakan pupuk anorganik karena nutrien
dari bahan anorganik lebih mudah diserap tanah dan memiliki kandungan hara yang
tinggi. pemakaian pupuk anorganik dengan dosis yang tinggi secara terus menerus dalam
waktu yang lama telah memberikan dampak negatif terhadap tanah dan lingkungan
menurut sahiri 2003 pemakaian pupuk anorganik yang berlebihan akan menambah tingkat
polusi tanah yang akhirnya berpengaruh juga terhadap kesehatan manusia, sehingga
berkembanglah alternatif untuk menggunakan pupuk organik yang sekarang sedang
dikembangkan. Keragaman sifat tanah secara alamiah adalah akibat dari faktor dan proses
pembentukan nya mulai dari bahan induk berkembang menjadi tanah pada berbagai
kondisi lahan. sehubungan dengan tingginya keragaman tanah tersebut maka k-info
formasi yang lebih objektif tentang kesuburan tanah sangat diperlukan kan untuk lebih
mengarahkan pengelolaan tanahnya.
1.2 Landasan Teori

Sifat fisik tanah merupakan sifat tanah yang berhubungan dengan bentuk/kondisi
tanah asli, yang termaksud diantaranya adalah tekstur, struktur, bobot isi tanah, porositas,
stabilitas, konsistensi, warna maupun suhu tanah dan lain-lain. Sifat-sifat kimia tanah
yang dianalisis meliputi: pH, kadar C dan N-organik, P, K, Ca, dan Mg, KTK, kejenuhan
basa (KB), dan kemasaman dapat ditukar (Al dan H). Berikut adalah beberapa tanah yang
dijadikan bahan dalam praktikum ini ;

1) Tanah Grumusol

Tanah grumusol merupakan tanah yang terbentuk dari batuan induk kapur dan tuffa
vulkanik yang umumnya bersifat basa sehingga tidak ada aktivitas organik
didalamnya. Hal inilah yang menjadikan tanah ini sangat miskin hara dan unsur
organik lainnya. Sifat kapur itu sendiri yaitu dapat menyerap semua unsur hara di
tanah sehingga kadar kapur yang btinggi dapat menjadi racun bagi tumbuhan.

Tanah grumusol masih membawa sifat dan karakteristik seperti batuan induknya.
Pelapukan yang terjadi hanyalah mengubah fisik dan tekstur unsur seperti Ca dan Mg
yang sebelumnya terikat secara rapat pada batuan induknya menjadi lebih longgar
yang dipengaruhi oleh faktor faktor luar seperti cuaca, iklim, air dan lainnya.
Terkadang pada tanah grumusol terjadi konkresi kapur dengan unsur kapur lunak dan
terus berkembang menjadi lapisan yang tebal dan keras.

2) Tanah Regosol

Tanah Regosol merupakan salah satu jenis tanah yang ada di Indonesia. Tanah
Regosol merupakan jenis tanah yang merupakan butiran kasar yang berasal dari
meterial erupsi gunung berapi. Dengan demikian tanah regosol merupakan salah satu
hasil dari peristiwa vulkanisme. Tanah regosol merupakan tanah yang berupa tanah
aluvial yang diendapkan. Seperti jenis tanah lainnya, tanah regosol merupakan tanah
yang menyimpan materi berupa abu vulkanik dan juga pasir vulkanik. Bahkan setiap
daerah jenis tanahnya berbeda- beda, ada yang subur dan ada yang tidak subur, ada
yang mudah menyerap air, ada pula yang sulit menyerap air. Semua jenis tanah dapat
kita identifikasi melalui ciri- ciri fisik yang dimilikinya. Seperti tanah lainnya, tanah
regosol juga mempunyai beberapa ciri fisik. Beberapa ciri fisik yang dimiliki jenis
tanah regosol antara lain sebagai berikut:

 Mempunyai butiran- butiran kasar

 Belum menampakkan adanya lapisan horisontal

 Mempunyai variasi warna, yakni merah, kuning, coklat kemerahan, coklat, serta
coklat kekuningan. Sebenarnya warna- warna yang berbeda- beda ini tergantung pada
material yang dikandungnya.

 Peka terhadap erosi

 Kaya unsur hara

 Cenderung gembur

 Mampu mempunyai air yang tinggi

3) Tanah Latosol

Tanah laterit dikenal juga sebagai tanah inceptisol yang pernah kita bahas
sebelumnya. Tanah latosol atau tanah insepticol merupakan tanah yang mempunyai
lapisan solum. Lapisan solum yang dimiliki oleh tanah latosl ini cenderung tebal dan
bahkan sangat tebal. Lapisan solum tanah ini antara 130 cm hingga 5 meter dan
bahkan lebih. Batas horison dari tanah ini tidaklah begitu terlihat jelas. Sebagai salah
satu jenis tanah yang ada di permukaan Bumi, tanah latosol berbeda dengan jenis
tanah yang lainnya. Setiap jenis tanah mempunyai ciri- cirinya masing- masing.
Begitu pula dengan tanah latosol ini. Tanah latosol atau tanah inceptisol merupakan
tanah yang mempunyai beberapa ciri atau karakteristik tertentu. Adapun ciri- ciri dari
tanah latosol atau inceptisol antara lain sebagai berikut:

 Memiliki solum tanah yang agak tebal hingga tebal, yakni mulai sekitar 130 cm
hingga lebih dari 5 meter.

 Tanahnya berwarna merah, coklat, hingga kekuning- kuningan

 Tekstur tanah pada umumnya adalah liat

 Struktur tanah pada umumnya adalah remah dengan konsistensi gembur


 Memiliki pH 4,5 hingga 6,5, yakni dari asam hingga agak asam

 Memiliki bahan organik sekitar 3% hingga 9%, namun pada umumnya hanya 5% saja

 Mengandung unsur hara yang sedang hingga tinggi. unsur hara yang terkandung di
dalam tanah bisa dilihat dari warnanya. Semakin merah warna tanah maka unsur hara
yang terkandung adalah semakin sedikit.

 Mempunyai infiltrasi agak cepat hingga agak lambat

 Daya tanah air cukup baik

 Lumayan tahan terhadap erosi tanah

4) Tanah Mediteran

Tanah mediteran merupakan tanah yang relatif muda, masih banyak mengandung
mineral primer yang mudah lapuk, mineral liat kristalin dan kaya unsur hara. Tanah
ini mempunyai kejenuhan basa tinggi, kapasitas tukar kation (KTK) dan cadangan
unsur hara tinggi. Mediteran merupakan tanah-tanah yang memiliki timbunan liat di
horison bawah. Liat yang tertimbun di horison bawah ini berasal dari horison
diatasnya dan tercuci ke bawah bersama gerakan air perkolasi (Hardjowigeno, 1993)

Solum tanah alfisol memiliki ketebalan antara 90-200 cm dengan kenampakan batas
antar horizon tidak begitu jelas. Warna tanah adalah coklat sampai merah. Tekstur
agak bervariasi dari lempung sampai liat, dengan struktur gumpal bersusut.
Kandungan unsur hara tanaman seperti N, P, K dan Ca umumnya rendah dan reaksi
tanahnya (pH) sangat tinggi (Suci & Bambang, 2002).
II. HASIL PRAKTIKUM

1. SIFAT-SIFAT TANAH

A. Kadar Lengas Tanah

a) Alat dan Bahan

Alat : Botol timbang, timbangan analitis, oven dan desikator.

Bahan : contoh tanah kering udara bongkah, 2 mm dan 0,5 mm.

b) Cara Kerja

1) Timbang 1 botol timbang kosong dengan tutupnya ( misal beratnya a gram ).

2) Masukkan contoh tanah kering udara ukuran 0,5 mm kira-kira separuh volume
botol timbang, kemudian timbang beratnya ( misal beratnya b gram ).

3) Dengan tutup terbuka, masukkan botol timbang tersebut ke dalam oven pada suhu
105 - 110℃ selama minimal 4 jam berturut-turut.

4) Setelah selesai mengerjakan langkah no.3, masukkan botol timbang dan isinya ke
dalam desikator, setelah dingin (  10 menit ) botol timbang ditutup untuk
menghindari penyerapan kelengasan disekitarnya, kemudian ditimbang ( misal c
gram ).

5) Ulangi langkah kerja no. 1 - 4 untuk contoh tanah kering udara 2 mm dan
bongkah.

c) Data
Tanah Regosol

Tanah Latosol

Tanah Grumusol

Tanah Mediteran
B. Tekstur Tanah

a) Alat dan Bahan

1. gelas arloji bergaris tengah 8 - 10 cm

2. timbangan analitik

3. gelas piala 500 ml

4. tabung ukur 25 ml

5. penangas air (water bath)

6. corong gelas bergaris tengah 12 – 15 cm

7. erlenmeyer 500 atau 750 ml

8. tabung sedimentasi 1000 ml

9. thermometer

10. cawan porselin

11. alat pemipet

12. oven

13. desikator

14. kertas saring

15. kertas lakmus biru.

16. H2O2 30 %, HCl 2 N, NaOH 1 N

17. Contoh tanah kering udara 2 mm


b) Cara Kerja

Pendispersian Butir Tanah

1) Ambil tanah dengan berat (15 gram), lalu dimasukkan kedalam gelas piala,
kemudian tuang aquadest melalui dinding .

2) Tambahkan 15ml H2O2 kemudian gelas piala ditutup dan dibiarkan semalam.

3) Keesokan gelas piala dipanaskan diatas penangas air, setelah 15menit tambahkan
lagi 15ml H2O2 30% .

4) Butir-butir yang menempel didinding dibilas menggunakan pancaran air,


kemudian ditambahkan air hingga volume 150ml.

5) Tambahkan 25ml HCL 2N untuk menghilangkan kandungan kapur dan kation-


kation basa yang terjerap. Encerkan suspensi tanah sampai 250ml. biarkan reaksi
asam berlangsung (uji dengan lakmus biru). Bila belum berwarna merah tambah
lagi HCL 2N.

6) Siapkan corong gelas dan erlenmeyer, lapisi dengan kertas saring dan basahi
menggunakan botol semprot.

7) Setiap suspensi berada didalam gelas piala hampir hapis maka ditambahi 50ml
HCL 0,2N, setelah itu tambahkan air suling sebanyak 200ml, kemudian aduk
sebentar dan tunggu pengendapannya. Baru tuang ke dalam corong gelas
(Langkah no 6). Bila pencucian telah selesai, buang cairan yang tertampung
didalam erlenmeyer dan cuci erlenmeyer hingga bersih. Kemudian menggunakan
pancaran aquades dan lewat corong gelas, pindahkan suspensi yang berada
didalam gelas piala dan dibilas dengan air pancaran, volume suspensi JANGAN
lebih dari 250ml, kemudian tambah 10ml NaOH 1N, tutup dengan plastik rapat-
rapat dan mulai kocok selama 15menit.

8) Pindahkan suspensi yang berada didalam erlenmeyer kedalam tabung sedimentasi


1000ml (volume tetap 1000ml).
Pemipetan I

1) Tabung sedimentasi ditutup rapat, kemudian dijungkir balikkan secara teratur


sebanyak 15 kali. Letakkan tabung dekat dengan alat pemipet. Dan lihat temperature
air yang disediakan, cocokkan dengan tabel 1, berapa lama pengendapan suspensi
yang ada didalam tabung sedimentasi.

2) Setelah pengendapan, dan siapkan cawan porselin yang telah diketahui beratnya (b
gram), kemudian lakukan pemipetan kedalaman 20cm dari permukaan suspense.
Setelah itu tampung hasil kedalam cawan dan keringkan didalam oven pada suhu 105-
11℃. setelah pengovenan didinginkan didalam desikator dan cepat-cepat ditimbang
(c gram).

Pemipetan II

1) Lakukan pemipetan pada kedalaman 5cm, hasil pemipetan ditimbang di cawan


porselin yang sudah diketahui beratnya (d gram). Setelah itu tampung hasil kedalam
cawan dan keringkan didalam oven pada suhu 105- 11℃. setelah pengovenan
didinginkan didalam desikator dan cepat-cepat ditimbang.

2) Timbang cawan porselin (e gram).

c) Data

Tanah Regosol
Tanah Latosol

Tanah Grumusol

Tanah Mediteran
C. Struktur Tanah (BJ dan BV tanah)

a) Alat dan Bahan

Alat : piknometer, kawat pengaduk halus, termometer, botol semprot, timbangan


analitis, oven, tissue.

Bahan : contoh tanah kering udara 2 mm.

b) Cara kerja

1) Timbang piknometer kosong dan bersih ( misal a gram).

2) Isilah piknometer tersebut dengan air suling sampai penuh dengan menggunakan
botol semprot sampai pada garis pipa kapiler yang ada pada tutupnya.

3) Bersihkan piknometer dari sisa-sisa air yang menempel di dinding luarnya dan
timbanglah (misal b gram), Kemudian ukur temperatur air dalam piknometer (
misal t1), kemudian lihatlah berat jenis air pada saat t1 pada tabel 2 yang sudah
tersedia ( misal bj1)

4) Air di dalam piknometer dibuang, bersihkan dan keringkan sisa-sisa air dengan
memasukkan sedikit alkohol ke dalamnya dan jungkirkan piknometer sampai
alkohol di dalamnya mengering.

5) Isi piknometer yang telah kosong dengan 5 gram contoh tanah, pasang tutupnya
dan timbanglah ( misal c gram ).

6) Kemudian isikan air suling sampai kira-kira separuh volumenya dan diaduk-aduk
dengan sebuah kawat halus yang dimasukkan lewat celah kapiler yang terdapat
pada tutup piknometer. Pengadukan ini dimaksudkan untuk melepaskan jerapan
udara dari dalam tanah. Bila pengadukan telah selesai, keluarkan kawat halus
tersebut dengan hati-hati dan bilaslah dengan semprotan lemah pancaran air untuk
melepaskan butir-butir tanah yang menempel pada kawat tersebut, tutuplah
piknometer tersebut, kemudian simpanlah semalam.

7) Keesokan harinya, pelepasan jerapan udara diulangi lagi, dan bila telah selesai
tambahkan air suling sampai penuh ( Ingat : luapan air jangan samapi membawa
serta butir-butir tanah ).
8) Kemudian timbanglah piknometer tersebut ( misal d gram ) dan ukur
temperaturnya (misal t2). Temperatur t2 cocokkan dengan tabel 2 untuk
menentukan berat jenisnya ( misal bj2 ).

c) Data

Tanah Regosol

Tanah Latosol
Tanah Grumusol

Tanah Mediteran

D. Kadar Kapur

a) Alat dan Bahan

1. Timbangan analitis, biuret

2. gelas ukur 50 ml

3. erlenmeyer 250 ml

4. hot plate

5. Contoh tanah kering udara 0,5 mm


6. H2SO4 0,5 N; NaOH 0,5

7. campuran dari phenolptalein ( PP ) methylred ( (MR ) dan Bromocresol-green


(BCG)

b) Cara kerja

1) Masukan 1 gr tanah ukuran 0,5 mm dalam erlenmeyer 250 ml, kemudian


tambahkan 25 ml H2SO4 0,5 N

2) Jadikan larutan ini menjadi 150 ml dengan penambahan aquades.

3) Tempatkan dalam penangas air, dan hangatkan selama 45 menit.

4) Dinginkan. Setelah dingin tambahkan 3 tetes indikator campuran.

5) Setelah larutan menjadi merah, titrasi larutan ini dengan NaOH 0,5 N. Titrasi
dihentikan bila larutan berubah dari merah menjadi hijau dan kembali merah lagi.

6) Ulangi pekerjaan di atas tanpa tanah ( blanko ).

c) Data

Jenis Tanah Kadar Kapur

Regosol 7,5

Regosol 7,5

Regosol 7,5

Regosol 7,5

Regosol 5

Regosol 5

Regosol 5

Regosol 5
Jenis Tanah Kadar Kapur

Latosol 14

Latosol 14

Latosol 14

Latosol 14

Latosol 18,5

Latosol 18,5

Latosol 18,5

Latosol 18,5

Jenis Tanah Kadar Kapur

Grumusol 38.0

Grumusol 38.0

Grumusol 38.0

Grumusol 38.0

Grumusol 37.0

Grumusol 37.0

Grumusol 37.0

Grumusol 37.0
Jenis Tanah Kadar Kapur

Mediteran 21.5

Mediteran 21.5

Mediteran 21.5

Mediteran 21.5

Mediteran 21.5

Mediteran 21.5

Mediteran 21.5

Mediteran 21.5

E. Kadar Bahan Organik

a) Alat dan Bahan

1. labu takar 50 ml

2. pipet 10 dan 5 ml

3. gelas ukur

4. botol semprot

5. labu

6. erlenmeyer 50 ml

7. biuret

8. timbangan analitis

9. tanah kering udara 0,5 mm


b) Cara Kerja

1. Timbanglah tanah ukuran 0,5 mm sebanyak 1 gram.

2. Kemudian masukkan contoh tanah tersebut ke dalam labu takar 50 ml, dan dengan
menggunakan pipet, masukkan 10 ml K2Cr2O7 0,5 N. Kemudian tambahkan 10
ml H2SO4 pekat. Kocoklah dengan arah memutar dan mendatar ( Ingat :
pekerjaan ini jangan sampai ada tumpahan dan mengenai tangan ).

3. Warna hasil pengocokan di atas harus merah jingga. Jika warna berubah menjadi
biru /hijau, maka harus ada penambahan K2Cr2O7 dan H2SO4 pekat lagi.
Penambahan ini harus dicatat pula sehingga untuk blanko juga harus sama
banyaknya.

4. Setelah pengocokan di atas, diamkan kira-kira 1/2 jam kemudian tambahkan 5 ml


H3PO4 85 % dan 3 tetes dipenilamin. Jadikanlah volumenya 50 ml dengan
bantuan penambahan air suling lewat botol semprot. Kocok dengan cara
membalik-balikkan labu takar yang sudah disumbat, sampai didapatkan larutan
yang homogen.

5. Ambillah dengan pipet sebanyak 5 ml larutan yang jernih, kemudian masukkan ke


dalam erlenmeyer 50 ml dan tambahan air suling 15 ml.

6. Titrasilah dengan FeSO4 0,5 N hingga didapatkan warna kehijauan. Catatlah


penggunaan FeSO4 0,5 N ini.

7. Ulangi prosedur kerja di atas tetapi tanpa contoh tanah untuk keperluan blanko
(Blanko ini untuk mendapatkan ketelitian yang baik).

c) Data
Tanah Regosol

Tanah Latosol
Tanah Grumusol

Tanah Mediteran

F. pH Tanah

a) Alat dan Bahan

1. cepuk plastik
2. pH meter

3. tanah kering udara 2 mm

b) Cara Kerja

1. Masukkan 2.5 gram contoh tanah ukuran 2 mm,ke dalam cepuk kemudian
tambahkan 12.5 ml aquades.

2. Tutuplah cepuk, kemudian kocoklah selama 10 menit, kemudian diamkan sampai


tanahnya mengendap ( ±15 menit ).

3. Ukur pH larutan dengan menggunakan pH meter yang telah dikondisikan dengan


larutan buffer 7,0 dan 4,0 dan atau menggunakan pH stick.

4. Ulangi pekerjaan di atas dengan menggunakan pelarut

c) Data

Tanah Regosol
Tanah Latosol

Tanah Grumusol
Tanah Mediteran

G. Kadar N total Tanah

a) Alat dan Bahan

1. timbangan analitis

2. piranti destruksi

3. piranti destilasi

4. tabung

5. kjeldahl 250 ml, biuret 50 ml, gelas piala 100 - 150 ml, gelas ukur100 ml.

6. tanah kering udara 0,5 mm

b) Cara Kerja

TAHAP DESTRUKSI

1. Timbanglah contoh tanah kering udara 0,5 mm sekitar 1 gram, dan masukkanlah
ke dalam tabung Kjedahl serta tambahkan setengah sendok kecil campuran serbuk
CuSO4 dan K2SO4 dan kocok dengan rata kemudian tambahakan 6 ml H2SO4
pekat.

2. Setelah itu panaskan dengan hati-hati sampai tidak berasap lagi dan larutan
menjadi putih kehiijau-hijauan, kemudian dinginkan.

TAHAP DESTILASI

1. Setelah larutan dalam tabung Kjedahl menjadi dingin, maka tambahkanlah 25 - 50


ml air suling. Kocoklah kemudian endapkan. Setelah itu, masukkanlah larutannya
( Ingat : butir tanah jangan sampai terikut serta ) ke dalam labu destilasi.

2. Ambillah sebuah gelas piala 100 ml atau 150 ml dan isilah dengan 10 ml H2SO4
0,1 N serta berilah 2 tetes indikator methyl red hingga berwarna merah. Kemudian
gelas piala ini tempatkanlah di bawah alat pendingin destilasi sedemikian rupa
hingga ujung alat pendingin tersebut tercelup di bawah permukaan asam sulfat.

3. Ke dalam labu destilasi di atas ( no.1 ), tambahkanlah dengan hati-hati 20 ml


NaOH pekat ( lewat dinding labu ). Pekerjaan ini hanya dilakukan jika proses
destilasi segera akan dikerjakan.

4. Kemudian lakukanlah proses destilasi dan jagalah agar larutan di dalam gelas
piala tetap berwarna merah. Kalau warna berubah / hilang, segeralah tambahkan
lagi H2SO4 0,1 N dengan jumlah yang diketahui ( penambahan ini dalam jumlah
sama, juga harus diberikan pada saat mengerjakan analisa blanko ).

5. Setelah proses destilasi selesai, matikanlah alat pemanas dan bilaslah ujung alat
destilasi dengan air suling ( Air suling pembilas juga dimasukkan ke dalam gelas
piala ).

TAHAP TITRASI

1. Larutan di dalam gelas piala dititrasi dengan NaOH 0,1 N sampai warna merah
hilang, dan catatlah pemakaian NaOH 0,1 N.

c) Data

JENIS TANAH KADAR N


Regosol 0.029

Regosol 0.029

Regosol 0.029

Regosol 0.029

Regosol 0.043

Regosol 0.043

Regosol 0.043

Regosol 0.043

JENIS TANAH KADAR N

Latosol 0.110

Latosol 0.110

Latosol 0.110

Latosol 0.110

Latosol 0.015

Latosol 0.015

Latosol 0.015

Latosol 0.015
JENIS TANAH KADAR N

Grumusol 0.119

Grumusol 0.119

Grumusol 0.119

Grumusol 0.119

Grumusol 0.078

Grumusol 0.078

Grumusol 0.078

Grumusol 0.078

JENIS TANAH KADAR N

Mediteran 0.213

Mediteran 0.213

Mediteran 0.213

Mediteran 0.213

Mediteran 0.213

Mediteran 0.213

Mediteran 0.213

Mediteran 0.213
2. PEMUPUKAN

a) Higroskopisitas Pupuk

Berat pupuk
Pengamatan Berat
Kelompok Berat Berat Berat Berat Berat Berat
ke NPK
Urea SP-27 KCl N-K P-K N-P-K
Kemasan
(g) (g) (g) (g) (g) (g)
(g)
5 13,83 13,62 13,62 13,58 14,14 13,6 13,58
0 (Saat 6 13,30 13,73 13,52 13,43 13,60 13,60 17,31
praktikum) 7 12,86 13,25 13,44 13,44 13,53 12,52 13,21
8 13,66 13,28 13,49 13,71 13,41 13,03 13,59
5 13,95 13,64 13,75 14,05 14,41 13,72 13,81
6 13,38 13,72 13,61 13,75 13,95 13,72 17,63
Hari ke 5
7 12,95 13,25 13,55 13,82 13,79 12,63 13,44
8 14,29 13,55 14,34 15,91 16,08 14,09 15,08
5 14,19 13,66 14,03 14,8 15 13,86 14,37
6 13,49 13,73 13,75 14,12 14,42 13,72 17,99
Hari ke 10
7 13,03 13,23 13,68 14,31 14,20 12,66 13,84
8 14,32 13,70 14,50 16,1 16,23 14,21 15,42
5 14,9 13,63 14,17 15,35 15,51 13,86 14,84
6 13,50 13,73 13,75 14,36 14,79 13,85 18,23
Hari ke 15
7 13,03 13,24 13,67 14,27 14,16 12,66 13,81
8 14,28 13,62 14,42 16,08 16,17 14,16 15,33
5 14,33 13,6 14,27 15,8 15,96 13,83 15,35
6 13,50 13,74 14,76 14,63 15,23 13,85 18,61
Hari ke 20
7 13,04 13,22 13,71 14,59 14,46 12,65 14,10
8 14,23 13,57 14,37 16,02 16,11 14,09 15,31
5 14,26 13,56 14,21 15,84 16 13,76 15,43
6 13,52 13,74 14,79 15,11 15,41 13,93 18,83
Hari ke 25
7 13,92 13,31 14,22 15,88 15,97 12,92 15,17
8 14,18 13,51 14,31 15,96 16,07 14,01 15,24
Perhitungan Higroskopisitas D2

1. Kelompok 5

 Perhitungan N-K (10-0-15)


Berat yang diinginkan = 10 gram
= 2,17 gram

= 2,5 gram

N + K = 2,17 + 2,5 = 4,67 gram


Filler = 10 gram – 4,67 gram = 5,33 gram
 Perhitungan P-K (0-10-15)
Berat yang diinginkan = 10 gram

= 3,7 gram

= 2,5 gram

P + K = 3,7 + 2,5 = 6,2 gram


Filler = 10 gram – 6,2 gram = 3,8 gram

 Perhitungan N-P-K (15-15-15)


Berat yang diinginkan = 10 gram

= 3,26 gram

= 4,16 gram

= 2,5 gram
N + P + K = 3,26 + 4,16 + 2,5 = 9,92 gram
Filler = 10 gram – 9,92 gram = 0,08 gram
2. Kelompok 6

 Perhitungan N-K (10-0-15)


Berat yang diinginkan = 10 gram

= 2,17 gram

= 2,5 gram

N + K = 2,17 + 2,5 = 4,67 gram


Filler = 10 gram – 4,67 gram = 5,33 gram
 Perhitungan P-K (0-10-15)
Berat yang diinginkan = 10 gram

= 3,7 gram

= 2,5 gram

P + K = 3,7 + 2,5 = 6,2 gram


Filler = 10 gram – 6,2 gram = 3,8 gram
 Perhitungan N-P-K (15-15-15)
Berat yang diinginkan = 10 gram

= 3,26 gram
= 4,16 gram

= 2,5 gram

N + P + K = 3,26 + 4,16 + 2,5 = 9,92 gram


Filler = 10 gram – 9,92 gram = 0,08 gram
3. Kelompok 7

 Perhitungan N-K (10-0-15)


Berat yang diinginkan = 10 gram

= 2,17 gram

= 2,5 gram

N + K = 2,17 + 2,5 = 4,67 gram


Filler = 10 gram – 4,67 gram = 5,33 gram
 Perhitungan P-K (0-10-15)
Berat yang diinginkan = 10 gram

= 3,7 gram

= 2,5 gram

P + K = 3,7 + 2,5 = 6,2 gram


Filler = 10 gram – 6,2 gram = 3,8 gram
 Perhitungan N-P-K (15-15-15)
Berat yang diinginkan = 10 gram
= 3,26 gram

= 4,16 gram

= 2,5 gram

N + P + K = 3,26 + 4,16 + 2,5 = 9,92 gram


Filler = 10 gram – 9,92 gram = 0,08 gram
4. Kelompok 8

 Perhitungan N-K (10-0-15)


Berat yang diinginkan = 10 gram

= 2,17 gram

= 2,5 gram

N + K = 2,17 + 2,5 = 4,67 gram


Filler = 10 gram – 4,67 gram = 5,33 gram
 Perhitungan P-K (0-10-15)
Berat yang diinginkan = 10 gram

= 3,7 gram
= 2,5 gram

P + K = 3,7 + 2,5 = 6,2 gram


Filler = 10 gram – 6,2 gram = 3,8 gram
 Perhitungan N-P-K (15-15-15)
Berat yang diinginkan = 10 gram

= 3,26 gram

= 4,16 gram

= 2,5 gram

N + P + K = 3,26 + 4,16 + 2,5 = 9,92 gram


Filler = 10 gram – 9,92 gram = 0,08 gram

b) Cara Perhitungan Pupuk


1. Kelompok 1 (Kontrol)
 Urea
Luasan lahan 1,5 m2, 180 kg N/ha

Kebutuhan urea/ha =

urea
/15, m2 =

 SP-27
Luasan lahan 1,5 m2, 120 kg ⁄
Kebutuhan ⁄ =

⁄ =

 KCl
Luasan lahan 1,5 m2, 120 kg ⁄

Kebutuhan ⁄ =

⁄ =

2. Kelompok 2 (Metode Foliar)


 Urea
Luasan lahan 1,5 m2, 180 kg ⁄

Kebutuhan ⁄ =

⁄ =

 SP-27
Luasan lahan 1,5 m2, 120 kg ⁄

Kebutuhan ⁄ =

⁄ =

 KCl
Luasan lahan 1,5 m2, 120 kg ⁄

Kebutuhan ⁄ =

⁄ =

3. Kelompok 3 (Metode Broadcast)


 Urea
Luasan lahan 1,5 m2, 180 kg ⁄

Kebutuhan ⁄ =

⁄ =

= 58,69 gram
Susulan pertama =

Susulan kedua =

 SP-36
Luasan lahan 1,5 m2, 120 kg ⁄

Kebutuhan ⁄ =

⁄ =

Susulan pertama =

 KCl
Luasan lahan 1,5 m2, 120 kg ⁄

Kebutuhan ⁄ =
⁄ =

Susulan pertama =

Susulan kedua =

4. Kelompok 4 (Metode Placement)


 Urea
Luasan lahan 1,5 m2, 180 kg ⁄

Kebutuhan ⁄ =

⁄ =

= 58,69 gram

Kebutuhan ⁄ = ⁄

Susulan pertama =

Susulan kedua =

 SP-36
Luasan lahan 1,5 m2, 120 kg ⁄

Kebutuhan ⁄ =

⁄ =

Kebutuhan ⁄ = ⁄

Susulan pertama =

 KCl
Luasan lahan 1,5 m2, 120 kg ⁄

Kebutuhan ⁄ =
⁄ =

Kebutuhan ⁄ = ⁄

Susulan pertama =

Susulan kedua =

c) Hasil Pengamatan

Tinggi Jagung (cm)


Hari,
Kelompo Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi
tanggal
k jagung Tinggi jagung Tinggi jagung jagung
pengamatan
1 jagung 2 3 jagung 4 5 6
1 12 10 9 13 11 11
Sabtu, 27 2 9.5 8 8.5 8.5 9 9.5
Maret 2021 3 9.5 11.5 10.5 12.5 4.5 12.5
4 17 14 16 17 10 13
Sabtu 3 1 35 20 23 32 27 21
April 2021 2 30 29 20 20.5 24 24
(Pemupuka 3 34.2 40.5 40 40.5 15.6 36.5
n susulan
pertama) 4 40 38 40 42 28 38
1 78 46 52 71 66 62
Sabtu 10 2 70 68.5 64 65.5 70 70.5
April 2021 3 70.9 71.1 73.5 70.4 15 66
4 73 70 73.5 75 64 71.5
Sabtu 17 1 110 74 81 103 112 100
April 2021 2 115 113 105 103 108 109
(Pemupuka 3 118.5 111 118.3 111.4 26.5 113.7
n susulan
kedua) 4 117 102 96 107 92 110
Sabtu 24 1 150 104 127 140 156 140
April 2021 2 136.5 138.5 131 118 128 128
3 150 135.5 150 146 46 143
4 165 145 137 150 130 152
III. PEMBAHASAN

A. Sifat-sifat Tanah
Sifat fisika tanah merupakan unsur lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap
tersedianya air, udara tanah dan secara tidak langsung mempengaruhi ketersediaan
unsur hara tanaman. Sifat ini juga akan mempengaruhi potensi tanah untuk
berproduksi secara maksimal (Naldo, 2011).

Kadar Lengas

Kadar lengas tanah sering disebut sebagai kandungan air (moisture) yang terdapat
dalam pori tanah. Satuan untuk menyatakan kadar lengas tanah dapat berupa persen
berat atau persen volume. Berkaitan dengan istilah air dalam tanah, Handayani (2009)
mengemukakan bahwa secara umum dikenal 3 jenis, yaitu:

1. Lengas tanah (soil moisture) adalah air dalam bentuk campuran gas (uap air) dan
cairan.
2. Air tanah (soil water) yaitu air dalam bentuk cair dalam tanah, sampai lapisan
kedap air.
3. Air tanah dalam (ground water) yaitu lapisan air tanah kontinu yang berada
ditanah bagian dalam.

Besar kecilnya kadar lengas dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu sifat tanah,
faktor tumbuh dan iklim. besarnya kadar lengas pada suatu tanah juga dipengaruhi
oleh banyak faktor seperti diatas, mengingat bahwa tanah lahan pecobaan di
jumantono merupakan tanah alfisol dimana salah satu ciri-cirinya adalah drainase
yang kurang baik sehingga menyebabkan kapasitas tanah untuk menjerap air juga
sedikit sehingga tanah kurang subur. Ketersediaan air dalam tanah dipengarhi oleh:
banyaknya curah hujan atau irigasi, kemampuan tanah menahan air, besarnya
evapotranspirasi, tingginya muka air tanah, kadar bahan organik tanah, senyawa
kimiawi atau kandungan garam-garam, dan kedalaman solum tanah atu lapisan tanah.
Penting bagi kita untuk mengetahui kadar lengas tanah karena lengas tanah sangat
penting dalam proses genesa tanah.
Tekstur Tanah

Tekstur tanah adalah keadaan tingkat kehalusan tanah yang terjadi karena
terdapatnya perbedaan komposisi kandungan fraksi pasir, debu dan liat yang
terkandung pada tanah (Badan Pertanahan Nasional). dari ketiga jenis fraksi tersebut
partikel pasir mempunyai ukuran diameter paling besar yaitu 2 – 0.05 mm, debu
dengan ukuran 0.05 – 0.002 mm dan liat dengan ukuran < 0.002 mm (penggolongan
berdasarkan USDA). keadaan tekstur tanah sangat berpengaruh terhadap keadaan
sifat-sifat tanah yang lain seperti struktur tanah, permeabilitas tanah, porositas dan
lain-lain.

Secara umum, tekstur tanah dapat dinilai secara kualitatif dan kuantitatif.
Secara kualitatif, tekstur dapat digunakan surveyor dalam penetapan kelas tekstur
tanah di lapangan. Saat ini sudah banyak sekali badan atau lembaga penelitian yang
telah menetapkan fraksi partikel tanah. Klasifikasi tanah adalah cara mengumpulkan
dan mengelompokkan tanah berdasarkan kesamaan dan kemiripan sifat dan ciri
morfologi, fisika dan kimia, serta mineralogi. Tanah yang diklasifikasikan adalah
benda alami yang terdiri dari padatan (bahan mineral dan bahan organik), cairan dan
gas, yang terbentuk di permukaan bumi dari hasil pelapukan bahan induk oleh
interaksi faktor iklim, relief, organisma dan waktu, berlapis-lapis dan mampu
mendukung pertumbuhan tanaman, sedalam 2 m atau sampai batas aktifitas biologi
tanah (Soil Survey Staff, 2014).

Struktur Tanah (BJ dan BV tanah)

Struktur tanah merupakan sifat fisik tanah yang menggambarkan susunan


keruangan partikel-partikel tanah yang bergantung satu dengan yang lain membentuk
agregat. Dalam tinjauan morfologi, struktur tanah diartikan sebagai susunan partikel-
partikel primer menjadi satu kelompok partikel (cluster) yang disebut agregat, yang
dapat dipisah-pisahkan kembali serta mempunyai sifat yang berbeda dari sekumpulan
partikel primer yang tidak teragregasi (Wiyono et al., 2006).

Struktur tanah dipengaruhi oleh kandungan bahan organik, perharaan, kation,


dan mikroorganisme. Bila terjadi kerusakan pada tanah maka diperlukan perbaikan
tanah agar tanaman dapat tumbuh dengan baik, seperti pada tanah podzolik dilakukan
dengan memperbaiki kandungan organiknya, meningkatkan unsur hara seperti fosfor
dari oksida Fe dan Al, selain itu juga memperbaiki sifat fisik dan struktur tanahnya
dan membentuk senyawa kompleks dengan unsur mikro sehingga mengurangi proses
pencucian sulfur (Anonim, 2005).

Pada dasarnya struktur tanah adalah kondisi fisik yang berbeda dari bahan
awalnya dan dapat berhubungan dengan proses-proses pembentukan tanah. Untuk
tanah tersebut menggambarkan struktur dalam profil tanah yang terbaik adalah untuk
memeriksa seberapa jauh mengenali unit structural yang lebih besar (Kohnke. 1986).

Kadar Kapur

Kapur dalam tanah memiliki asosiasi dengan keberadaan kalsium dan


magnesium tanah. Hal ini wajar, karena keberadaan kedua unsur tersebut sering
ditemukan berasosiasi dengan karbonat. Secara umum pemberian kapur ke tanah
dapat mempengaruhi sifat fisik dan kimia tanah serta kegiatan jasad renik tanah. Bila
ditinjau dari sudut kimia, maka tujuan pengapuran adalah menetralkan kemasaman
tanah. Perlu diketahui bahwa tanah yang memiliki kandungan kapur yang tinggi,
belum tentu tanah tersebut juga memiliki tingkat kesuburan yang tinggi. bisa terjadi
suatu kapur itu menjadi racun karena kapur akan menyerap unsur hara dari dalam
tanah, dimana unsur hara tersebut dibutuhkan tanaman untuk pertumbuhannya

Kadar kapur tertinggi sampai terendah adalah tanah alfisol, entisol, vertisol,
rendzina, dan ultisol. Bahan induk pada tanah alfisol ialah kapur dengan jeluk air
sekitar 50 m. Adapun bahan induk pada tanah vertisol ialah kapur dan gamping.
Kemudian pada tanah rendzina bahan induknya juga kapur, karena pengangkatan
karst. Bahan induk tanah entisol dan ultisol berturut-turut ialah abu vulkan serta
konglomerat dan breksi.

pH Tanah

pH tanah adalah tingkat keasaman atau kebasa-an suatu benda yang diukur
dengan skala pH antara 0 hingga 14. Suatu benda dikatakan bersifat asam jika angka
skala pH kurang dari 7 dan disebut basa jika skala pH lebih dari 7. Jika skala pH
adalah 7 maka benda tersebut bersifat netral, tidak asam maupun basa. Kondisi tanah
yang paling ideal untuk tumbuh dan berkembangnya tanaman adalah tanah yang
bersifat netral. Namun demikian beberapa jenis tanaman masih toleran terhadap tanah
dengan pH yang sedikit asam, yaitu tanah yang ber pH maksimal 5. Penyusun utama
batuan induk dari tanah grumusol adalah kapur sehingga memiliki pH yang bersifat
basa, namun pada beberapa kondisi terutama jika sudah tercampur dengan abu
vulkanik yang bersifat sedikit asam, maka pH dapat berada di area netral. Jadi faktor
yang menentukan tingkat keasaman yaitu sifat bawaan dan penyebab yang berasal
dari luar seperti abu vulkanik tadi. Pada praktikum kali ini menggunakan tanah
grumosol dengan dilarutkan pada larutan H2O dan larutan KCl.

Kadar Bahan Organik

Bahan organik tanah adalah bahan yang ada di dalam atau di permukaan tanah
yang berasal dari sisa tumbuhan,hewan, dan manusia yang telah mengalami
dekomposisi sebagian atau seluruhnya. Bahan organik biasanya berwarna coklat
dengan sifat koloid yang dikenal dengan humus. Humus terdiri dari bahan organik
halus yang berasal dari hancuran bahan organik kasar dan senyawa - senyawa baru
yang terbentuk dari peristiwa tersebut melalui aktivitas mikroorganisme dalam tanah.
Humus terdiri dari asam humat, asam fulvik dan humin. ( Siradz, 2003 ).

Bahan organik tanah terdiri dari bahan yang berasal dari jaringan tanaman dan
hewan, baik yang masih hidup maupun yang sudah mati, pada berbagai tatanan
dekomposisi. Pada bahan organik terdapat bahan yang telah mengalami dekomposisi
baik sebagian atau seluruhnya, yang telah mengalami humifikasi maupun belum (
Fontaine, 2004 )

B. Pemupukan
Pemupukan adalah tindakan memberikan tambahan unsur-unsur hara pada
kompleks tanah, baik langsung maupun tidak langsung sehingga mampu
menyumbangkan bahan makanan bagi tumbuhan/ tanaman. Pemupukan pada
prinsipnya merupakan pemberian bahan penyedia hara guna menambah atau
menggantikan hara yang telah digunakan atau hilang. Pemupukan bertujuan untuk
memenuhi nutrisi yang dibutuhkan tanaman agar tanaman tumbuh secara optimal dan
menghasilkan produksi dengan mutu yang baik. Orientasi pemupukan untuk
menghasilkan bahan kering yang optimal dan berkelanjutan.
Pemupukan merupakan salah satu usaha pengelolaan kesuburan tanah. Dengan
mengandalkan sediaan hara dari tanah asli saja, tanpa penambahan hara, produk
pertanian akan semakin merosot. Hal ini disebabkan ketimpangan antara pasokan hara
dan kebutuhan tanaman. Hara dalam tanah secara berangsur-angsur akan berkurang
karena terangkut bersama hasil panen, pelindian, air limpasan permukaan, erosi atau
penguapan. Pengelolaan hara terpadu antara pemberian pupuk dan pembenah akan
meningkatkan efektivitas penyediaan hara, serta menjaga mutu tanah agar tetap
berfungsi secara lestari.
Tujuan utama pemupukan adalah menjamin ketersediaan hara secara optimum
untuk mendukung pertumbuhan tanaman sehingga diperoleh peningkatan hasil panen.
Penggunaan pupuk yang efisien pada dasarnya adalah memberikan pupuk bentuk dan
jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tanaman, dengan cara yang tepat dan pada saat
yang tepat sesuai dengan kebutuhan dan tingkat pertumbuhan tanaman tersebut.
Tanaman dapat menggunakan pupuk hanya pada perakaran aktif, tetapi sukar
menyerap hara dari lapisan tanah yang kering atau mampat. Efisiensi pemupukan
dapat ditaksir berdasarkan kenaikan bobot kering atau serapan hara terhadap satuan
hara yang ditambahkan dalam pupuk tersebut.

Macam Metode Pupuk Dasar Susulan I Susulan II


Kontrol Semua,Disebar - -

Broadcasting 1/3 N,1/2 P,1/3 K 1/3 N,1/2 P,1/3 1/3 N,1/3 K


Disebar rata K Disebar
Disebar memanjang pada
memanjang pada alur
alur
Placement 1/3 N,1/2 P, 1/3 K 1/3 N,1/2 P,1/3 1/3 N,1/3 K
1 lubang Bersama K Dibenamkan
benih Dibenamkan pada alur
pada akar
Foliar 1/3 N,1/2 P,1/3 K Disemprot 0,5% Disemprot 0,5%
Disebar NPK NPK
IV. KESIMPULAN
Kesuburan tanah adalah mutu tanah untuk bercocok tanam yang ditentukan oleh
interaksi sejumlah sifat fisika, kimia dan biologi tanah yang menjadi habitat akar aktif
tanaman. Kesuburan habitat akar dapat bersifat hakiki dari bagian tubuh tanah yang
bersangkutan , dan di imbas oleh keadaan bagian lain dari tanah atau diciptakan pengaruh
dari keadaan lain lahan seperti lahan, iklim dan musim. Tanah memberi pengaruh sangat
penting pada tanaman melalui hubungannya dengan air dan udara. Kemampuan tanah
untuk menyimpan air menentukan spesies apa yang tumbuh diatasnya, Tanah memiliki
tekstur yang komponennya adalah dari sifat tanah yang berhubungan dengan butir-butir
yang ada pada tanah. Tekstur tanah menunjukkan komposisi partikel penyusun tanah
(separat) yang dinyatakan sebagai perbandingan proporsi (%) relatif antara fraksi pasir,
fraksi debu dan fraksi liat. Hubungan antara berat jenis tanah, berat volume tanah dan
porositas tanah dengan struktur tanah yaitu berat jenis tanah kita tahu bahwa semakin
tinggi berat jenis tanah tersebut, maka kadar bahan organik didalam tanah tersebut juga
semakin tinggi.
V. DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2005. Struktur Tanah. <http://wikipedia.org>. Diakses tanggal 23 April 2011.

Naldo, R.A., 2011. Sifat Fisika Ultisol Limau Manis Tiga Tahun Setelah Pemberian
Beberapa Jenis Pupuk Hijaun. J. agroland. Fakultas Pertanian. Universitas Andalas
PEMUPUKAN. (n.d.).
SEPTA.blog: KAPUR DALAM TANAH. (n.d.). Retrieved May 16, 2021, from https://septa-
ayatullah.blogspot.com/2009/04/kapur-dalam-tanah.html
Delsiyanti, Widjajanto, D., & Rajamuddin, U. A. (2016). Sifat Fisik Tanah Pada Beberapa
Penggunaan Lahan di Desa Oloboju Kabupaten Sigi. Jurnal Agrotekbis, 4(3), 227–234.
TEKSTUR TANAH | lastriuchiha. (n.d.). Retrieved May 16, 2021, from
https://lastriuchiha.wordpress.com/2015/06/12/tekstur-tanah/
Wiyono, A., Syamsul, dan E. Hanudin. 2006. Aplikasi soil taxonomy pada tanah-tanah yang
berkembang dari bentukan karst gunung kidul. Jurnal Ilmu Tanah 6 : 13-26.

(PEMUPUKAN, n.d.)
VI. LAMPIRAN

Kelompok 5
Kelompok 6
Kelompok 7
Kelompok 8

Anda mungkin juga menyukai