Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH MANAJEMEN PERBANKAN SYARIAH

Sistem Operasional Perbankan Syariah

Dosen Pengampu :
Ummul Fadhilah Sari, MA.Ek

Disusun Oleh :

1. Rinna Wati 1911140174


2. Rinani Puji Rahayu 1911140013
3. Silvia Permata Sari 1911140186

PRODI PERBANKAN SYARIAH


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI BENGKULU
TAHUN 2021/2022
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah melimpahkan rahmat-Nya
kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Makalah tentang “Sistem Operasional Perbankan Syariah”.Kami menyadari bahwa
dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan dan memerlukan banyak
perbaikan.Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk
penyempurnaan makalah ini.
Pada kesempatan ini, dengan tulus ikhlas kami menyampaikan terima kasih kepada
pihak-pihak yang telah memberikan bantuan dan partisipasinya baik dalam bentuk moril
maupun materiil untuk keberhasilan dalam penyusunan makalah ini.
Kami selaku penyusun berharap semoga makalah ini ada guna dan manfaatnya bagi
para pembaca.Amin.

Bengkulu, April 2021

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......................................................................................................... i
DAFTAR ISI... .................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang... ...................................................................................................... 1
B. Rumusan masalah... ................................................................................................. 2
BAB II PEMBHASAN
A. Definisi, Asas dan Tujuan Bank Syariah. ............................................................... 3
B. Fungsi bank Syariah. ............................................................................................... 4
C. Sistem Operasional bank Syariah. ........................................................................... 6
D. Prinsip dalam penghitungan dana bank syariah. ..................................................... 8
E. Prinsip penyaluran dana bank syariah. .................................................................... 10
F. Prinsip dalam pelaksanaan fungsi jasa keuangan perbankan. ................................. 13
G. Struktur dan job description dalam perbankan syariah. .......................................... 14
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan.............................................................................................................. 18
Daftar Pustaka... .................................................................................................................. 19

ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bank merupakan lembaga perantara keuangan yang seharusnya mampu melakukan
mekanisme pengumpulan dana secara seimbang sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Untuk mencapai hal itu, maka perlunya ada kejelasan sistem operasional
perbankan. Munculnya banyak lembaga keuangan yang beroperasi berdasarkan prinsip
syariah ahkir- akhir ini merupakan suatu fenomena yang menarik untuk dicermati.
Dengan diberlakukannya Undang-Undang No.10 Tahun 1992 tentang perbankan pasal 1
ayat 3 menetapkan bahwa salah satu bentuk usaha bank adalah menyediakan
pembiayaan atau melakukan kegiatan lain berdasarkan prinsip syariah, sesuai dengan
ketentuan yang ditetapkan oleh bank Indonesia. Semakin banyak bank-bank yang
menggunakan sistem bagi hasil (Bank Syariah), maka di Indonesia memberikan sebuah
solusi bagi umat Islam dalam dunia perekonomian. Dalam pelaksanaannya, bank-bank
syariah mencoba menerapkan nilai-nilai keadilan yang dibawa oleh sistem
ekonomi Islam. Seperti halnya, bank konvesional juga berfungsi sebagai suatu lembaga
intermediasi yaitu lembaga yang mengarahkan dana dari masyarakat dan
menyalurkan kembali ke masyarakat yang membutuhkan, dalam bentuk fasilitas
pendanaan.

Adanya sistem bagi hasil yang sesuai dengan hukum Islam serta kepercayaan yang
merupakan unsur terpenting dalam transaksi pembiayaan, dapat mengobati sebagian
besar masyarakat yang tahu akan keberadaan lembaga keuangan berlandaskan prinsip-
prinsip ekonomi Islam. Produk-produk pembiayaan bank syariah khusunya pada bentuk
pembiayaan, ditujukan untuk menyalurkan investasi dan simpanan masyarakat ke
sektor rill dengan tujuan produktif dalam bentuk investasi bersama (investement
financing) yang dilakukan bersama mitra usaha (kreditor) menggunakan pola bagi hasil
(mudharabah dan musyarakah) dan dalam bentuk investasi sendiri (trade financing)
kepada yang membutuhkan pembiayaan menggunakan pola jual beli (murabahah, salam,
dan istishna), dan pola sewa (ijarah dan ijarah muntahiyah bittamlik), pola pinjaman,
digunakan untuk dana talangan menggunakan pola (qardh) .

1
Dari sekian banyak produk pembiayaan bank syariah tersebut, penulis tertarik
pada pola akad yang menggunakan akad musyarakah pada pembiayaan modal kerja, dan
pembiayaan investasi. Pada umumnya modal kerja digunakan pada beragam modal kerja
usaha seperti untuk pembiayaan tenaga kerja, kontaktor proyek, usaha-usaha
perdagangan, bahan baku, dan sebagainya dapat dipenuhi dengan pembiayaan berpola
bagi hasil dengan akad musyarakah.

Musyarakah adalah suatu perkongsian antara dua pihak atau lebih dalam suatu
proyek dimana masing- masing pihak berhak atas segala keuntungan yang terjadi sesuai
dengan penyertaan masing- masing . Produk bank yang menggunakan prinsip bagi hasil,
terutama yang berasal dari deposito dan investasi menghasilkan nisbah bagi hasil
yang sangat sedikit, sebagian besar ini dipengaruhi dari praktek penerapan pembiayaan
itusendiri.

B. Rumusan Masalah
a. Jelaskan pengertian sistem operasional syariah?
b. Bagaimanakah sistem operasional penghimpunan dana bank syariah?
c. Bagaimana sistem penyaluran dananya?
d. Bagaimana sistem layanan jasa dalam bank syariah?

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi, Asas dan Tujuan Bank Syariah


Dalam pasal 1 undang-undang No. 21 tahun 2008 definisi bank adalah badan
usaha yang menghimpun dana masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya
kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan/atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka
meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Bank terdiri dari dua jenis yaitu bank
konvesional dan bank syariah. Bank konvesional adalah bank yang menjalankan kegiatan
usahanya secara konvensional, yang terdiri atas bank umum konvensional dan bank
pengkreditan rakyat (BPR) sedangkan bank syariah adalah bank yang menjalankan
kegiatan usahanya berdasarkan prinsip syariah yang terdiri atas bank umum syariah
(BUS) dan bank pembiayaan rakyat syariah (BPRS). Prinsip syariah adalah prinsip
hokum islam dalam kegiatan perbankan fatwa yang dikeluarkan oleh lembaga yang
memiliki kewenangan dalam penerapan fatwa di bidang syariah. BUS adalah bank
syariah yang kegiatannya memberikan jasa dalam lalulintas pembayaran sedangkan
BPRS adalah bank syariah yang dalam melaksanakan kegiatan usahanya tidak
memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Unit usaha syariah (UUS) adalah unit
kerja dari kantor pusat.
Bank umum konfensional yang berfungsi sebagai kantor induk dari kantor atau
unit yang melaksanakan kegiatan usahanya berdasarkan prinsip syariah, atau unit kerja
dikantor cabang dari suatu bank yang berkedudukan diluar negeri yang melaksanakan
kegiatan usahanya secara konvensional yang berfungsi sebagai kantor induk dan kantor
cabang pembantu dan/atau unit syariah.
Terkait dengan asas operasional bank syariah berdasarkan pasal 2 UU No.21
tahun 2008 disebutkan bahwa perbankan syariah dalam melakukan kegiatan usahanya
berasaskan prinsip syariah, demokrasi ekonomi dan prinsip kehati-hatian. Sedangkan
tujuan bank syariah berdasarkan pasal 3 dinyatakan bahwa perbankan syariah bertujuan
menunjang pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan keadilan,
kebersamaan dan pemerataan kesejahteraan rakyat.

3
 Karakteristik Bank Syariah
Bank Syariah beroperasi atas dasar prinsip bagi hasil (profit sharing) hal ini
merupakan karakteristik umum dan landasan dasar bagi operasional bank islam secara
keseluruhan. Bank syariah adalah bank yang beazaskan antara lain azas kemitraan, azas
keadilan, azas transparansi dan azas universal. Serta melakukan usaha perbankan
berdasarkan prinsip syariah. Kegiatan bank syariah merupakan implementasi dari prinsip
ekonomi islam dengan karakteristik anatara lain sebagai berikut :
a. Pelarangan riba dalam berbagai bentuk
b. Tidak mengenal konsep nilai waktu dari uang (time value of money)
c. Konsep uang sebagai alat tukar bukan sebagai komoditas
d. Tidak di perkenankan melakukan kegiatan yang bersifat spekulatif
e. Tidak diperkenankan menggunakan dua harga untuk satu barang
f. Tidak di perkenankan dua transaksi dalam satu akad1

B. Fungsi Bank Syariah


Berdasarkan pasal 4 UU No 21 Tahun 2008 tentang perbankan syariah, disebutkan
bahwa Bank Syariah wajib menjalankan fungsi menghimpun dan menyalurkan dana
masyarakat. Bank Syariah juga dapat menjalankan fungsi sosial dalam bentuk lembaga
baitulmal, yaitu menerima dana yang berasal dari zakat, infak, sedekah, hibah atau dana
sosial lainnya (antara lain denda terhadap nasabah atau ta’azir) dan menyalurkannya
kepada organisasi pengelola zakat
Dalam beberapa literatur perbankan syariah dengan beragam skema transaksi
yang dimiliki dalam skema non – riba memiliki setidaaknya ada empat fungsi, yaitu :
1. Fungsi Manajemen Investasi
Dengan fungsi ini, bank syariah bertindak sebagai manajer investasi dari pemilik
dana (shahibul maal) dalam hal dana tersebut harus dapat disalurkan pada penyaluran
yang produktif, sehingga dana yang dihimpun dapat menghasilkan keuntungan yang akan
dibagihasilkan antara bank syariah dan pemilik dana.
2. Fungsi Investor

1
Subektihandiyati, sistem dan operasional bank syariah,
http://subektihandiyati.blogspot.com/2014/09/sistem-dan-operasional-bank-syariah.html,1 april 2021,19.00
WIB

4
Dalam penyaluran dana , bank syariah berfungsi sebagai investor (pemiliik dana).
Sebagai investor, penanaman dana yang dilakukan oleh bank syariah harus dilakukan
pada sektor – sektor yang produktif dengan resiko yang minim dan tidak melanggar
ketentuan syariah. Selain itu dalam menginvestasikan dana bank syariah harus
menggunakan alat investasi yang sesuai dengan syariah. Investasi yang sesuai dengan
syariah meliputii akad jual beli (murabahah, salam, dan istishna), akad investasi
(mudharabah dan musyarakah), akad sewa – menyewa (ijarah dan iijarah muntahiya
bittaamlik), dan akad lainnya yang diperbolehkan oleh syariah.
3. Fungsi Sosial
Fungsi sosial bank syariah merupakan sesuatu yang melekat pada bank syariah.
Setidaknya ada dua instrumen yang digunakan oleh bank syariah dalam menjalankan
fungsi sosialnya, yaitu:
a. Instrumen Zakat, Infak, Sadaqah, dan wakaf (ZISWAF)
Instrumen ZISWAF berfungsi untuk menghimpun ZISWAF dari masyarakat,
pegawai bank, serta bank sendiri sebagai lembaga milik para insvestor , dana yang
dihimpun melalui instrumen ZISWAF selanjutnya akan disalurkan kepada yang
berhak dalam bentuk bantuan atau hibah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya
b. Instrumen Qardhul Hasan
c. Instrumen Qardhul Hasan berfungsii menghimpun dana dan penerimaan yangg
tidak memenuhi kriteria halal serta dana infak dan sedekah yang tidak ditentukan
peruntukannya secara spesifik oleh pemberi. Selajutnya dana Instrumen Qardhul
Hasan Disalurkan untuk :
 Pengadaan atau perbaikan kualitas fasilitas sosial dan fasilitas umum masyarakat
(terutama bagi dana yang berasal dari penerimaan yang tidak memenuhi kriteria
halal)
 Sumbangan atau hibah kepada yang berhak
 Pinjaman tanpa bunga yang diprioritaskan pada masyarakat golongan ekonomi
lemah, tetapi memiliki potensi dan kemampuan untuk mengembalikan pinjaman
tersebut.

4. Fungsi Jasa Keuangan


Fungsi jasa keuangan yang dijalankan oleh bank syariah tidaklah berbeda dengan
bank konvensional, seperti memberikan layanan kliring, transfer, inkaso, pembayaran gaji,

5
letter of quarantee, letter of credit, dan lain sebagainya. Akan tetapi, dalam hal
mekanisme mendapatkan keuntungan dari transaksi tersebut, bank syariah harus tetap
menggunakan skema yang sesuai dengan prinsip syariah.

C. Sistem Operasional Bank Syariah

1. Sistem Penghimpunan Dana


Metode penghimpunan dana yang ada pada bank-bank konvensional didasari teori
yang diungkapkan Keynes yang mengemukakan bahwa orang membutuhkan uang
untuk tiga kegunaan, yaitu fungsi transaksi, cadangan dan investasi. Teori tersebut
menyebabkan produk penghimpunan dana disesuaikan dengan tiga fungsi tersebut,
yaitu berupa giro, tabungan dan deposito. Berbeda halnya dengan hal tersebut, bank
syariah tidak melakukan pendekatan tunggal dalam menyediakan produk
penghimpunan dana bagi nasabahnya. Pada dasarnya, dilihat dari sumbernya, dana
bank syariah terdiri atas :
a. Modal

6
Modal adalah dana yang diserahkan oleh para pemilik (owner). Dana modal
dapat digunakan untuk pembelian gedung, tanah, perlengkapan, dan sebagainya yang
secara tidak langsung menghasilkan (fixed asset/non earning asset). Selain itu, modal
juga dapat digunakan untuk hal-hal yang produktif, yaitu disalurkan menjadi
pembiayaan. Pembiayaan yang berasal dari modal, hasilnya tentu saja bagi pemilik
modal, tidak dibagikan kepada pemilik dana lainnya. Mekanisme penyertaan modal
pemegang saham dalam perbankan syariah, dapat dilakukan melalui musyarakah fi
sahm asy-syarikah atau equity participation pada saham perseroan bank.
b. Titipan (Wadi’ah)
Salah satu prinsip yang digunakan bank syariah dalam memobilisasi dana
adalah dengan menggunakan prinsip titipan. Akad yang sesuai dengan prinsip ini
ialah al-wadi’ah.Dalam prinsip ini, bank menerima titipan dari nasabah dan
bertanggung jawab penuh atas titipan tersebut. Nasabah sebagai penitip berhak untuk
mengambil setiap saat, sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
c. Investasi (Mudharabah)
Akad yang sesuai dengan prinsip investasi adalah mudharabah yang
mempunyai tujuan kerjasama antara pemilik dana (shahibul maal) dengan pengelola
dana (mudharib), dalam hal ini adalah bank. Pemilik dana sebagai deposan di bank
syariah berperan sebagai investor murni yang menanggung aspek sharing risk dan
return dari bank. Deposan, dengan demikian bukanlah lender atau kreditor bagi bank
seperti halnya pada bank konvensional.
2. Sistem Penyaluran Dana (Financing)
Produk penyaluran dana di bank syariah dapat dikembangkan dengan tiga model,
yaitu:
a. Transaksi pembiayaan yang ditujukan untuk memiliki barang dilakukan
dengan prinsip jual beli.Prinsip jual beli ini dikembangkan menjadi bentuk
pembiayaan pembiayaan murabahah, salam dan istishna.
b. Transaksi pembiayaan yang ditujukan untuk mendapatkan jasa dilakukan
dengan prinsip sewa (Ijarah). Transaksi ijarah dilandasi adanya pemindahan manfaat.
Jadi pada dasarnya prinsip ijarah sama dengan prinsip jual beli, namun perbedaannya
terletak pada obyek transaksinya. Bila pada jual beli obyek transaksinya adalah
barang, maka pada ijarah obyek transaksinya jasa.
c. Transaksi pembiayaan yang ditujukan untuk usaha kerjasama yang ditujukan
guna mendapatkan sekaligus barang dan jasa, dengan prinsip bagi hasil.Prinsip bagi
7
hasil untuk produk pembiayaan di bank syariah dioperasionalkan dengan pola-pola
musyarakah dan mudharabah. Jasa Layanan Perbankan, yang dioperasionalkan
dengan pola hiwalah, rahn, al-qardh, wakalah, dan kafalah.2

D. Prinsip Dalam Penghimpunan Dana Bank Syariah


Penghimpunan dana dari masyarakat yang dilakukan oleh bank konvensional
maupun syariah dilakukan dengan menggunakan instrumen tabungan, deposito, dan
giro yang secara total biasa disebut dengan dana pihak ketiga. Akan tetapi, pada bank
syariah, klasifikasi penghimpunan dana bank syariah tidak didasarkan pada nama
instrumen tersebut melainkan berdasarkan pada prinsip yang digunakan. Berdasarkan
fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN), prinsip penghimpunan dana yang digunakan
dalam bank syariah ada dua, yaitu prinsip wadiah dan prinsip mudharabah.
Wadiah berarti titipan dari satu pihak ke pihak yang lain, baik individu maupun
badan hukum yang harus dijaga dan dikembalikan oleh yang penerima titipan, kapan
pun si penitip menghendaki.
Wadiah dibagi menjadi dua, yaitu : Wadiah Yad-dhamanah dan Wadiah Yad-
amanah. Wadiah Yad-dhamanah adalah titipan yang selama belum dikembalikan
kepada penitip dapat dimanfaatkan oleh penerima titipan. Apabila dari hasil
pemanfaatan tersebut diperoleh keuntungan, maka seluruhnya menjadi hak penerima
titipan.
Wadiah Yad-amanah adalah penerima titipan tidak boleh memanfaatkan
barang titipan tersebut sampai si penitip mengambil kembali titipannya.
Penerima titipan dalam transaksi wadiah dapat meminta imbalan (ujrah)
kepada penitip atas jasanya dalam menjaga barang atau uang titipan. Sebaliknya, jika
si penerima titipan, khususnya yang menggunakan akad wadiah yad-dhamanah
merasa mendapat manfaat atas sesuatu yang dititipi, maka si penerima titipan boleh
memberikan bonus kepada penitip dari hasil pemanfaatannya dengan syarat bonus
tersebut tidak dijanjikan sebelumnya dan besarnya bergantung pada penerima titipan.
Prinsip wadiah yang lazim digunakan dalam perbankan syariah adalah wadiah
yad-dhamanah dan biasa disingkat denga wadiah. Prinsip ini dapat diterapkan pada
kegiatan penghimpunan dana berupa giro dan tabungan.
2
Subektihandiyati, sistem dan operasional bank syariah,
http://subektihandiyati.blogspot.com/2014/09/sistem-dan-operasional-bank-syariah.html,1 apri 2021,19.00
WIB

8
Giro wadiah adalah titipan pihak ketiga pada bank syariah yang penarikannya
dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek, bilyet giro, ATM, sarana
perintah pembayaran lainnya, atau dengan cara pemindahbukuan.
Tabungan wadiah adalah titipan pihak ketiga pada bank syariah yang
penarikannya dapat dilakukan menurut syarat tertentu yang disepakati dengan
menggunakan kuintansi, kartu ATM, sarana perintah pembayaran lainnya, atau
dengan cara pemindahbukuan.
Mudharabah adalah perjanjian atas suatu jenis kerja sama usaha dimana pihak
pertama menyediakan dana dan pihak kedua bertanggung jawab atas pengelolaan
usaha.
Pihak yang menyediakan dana biasa disebut dengan istilah shahibul maal,
sedangkan pihak yang mengelola usaha disebut dengan istilah mudharib.
Berdasarkan PSAK 105, mudharabah dibagi menjadi tiga :
1. Mudharabah muthlaqah (investasi tidak terikat) adalah mudharabah yang member
kuasa kepada mudharib secara penuh untuk menjalankan usaha tanpa batasan
apapun yang berkaitan dengan usaha tersebut
2. Mudharabah muqayyadah (investasi terikat) adalah shahibul maal memberi batasan
kepada mudharib dalam pengelolaan dana berupa jenis usaha, tempat, pemasok,
maupun konsumen.
3. Mudharabah musytarakah adalah bentuk mudharabah di mana pengelola dana
menyertakan modal atau dananya dalam kerja sama investasi.

Pada dasarnya, semua bentuk kegiatan penghimpunan dana bank syariah


(tabungan, deposito, dan giro) dapat menggunakan prinsip mudharabah muthlaqah.
Perbankan syariah di Indonesia pada umumnya menggunakan prinsip mudharabah
muthlaqah, kendati hanya ditulis tabungan mudharabah dan deposito mudharabah.
Tabungan mudharabah adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan
menurut syarat tertentu yang disepakati, tetapi tidak dapat ditarik dengan cek atau
alat yagn dipersamakan dengan itu.
Perbedaan tabungan wadiah dan tabungan mudharabah terletak pada 3 aspek :
a. Sifat dana
b. Insentif
c. Pengembalian dana

9
Deposito mudharabah adalah simpanan dana dengan skema pemilik dana
(shahibul maal) memercayakan dananya untuk dikelola bank (mudharib) dengan
hasil yang diperoleh dibagi antara pemilik dana dan bank dengan nisbah yang
disepakati sejak awal.

E. Prinsip Penyaluran Dana Bank Syariah


Penyaluran dana bank syariah dilakukan dengan menggunakan skema jual beli,
skema investasi, dan skema sewa. Skema jual beli memiliki beberapa bentuk,
yaitu murabahah, salam, dan istishna’. Skema investasi terdiri atas dua jenis,
yaitu mudharabah dan musyarakah. Sementara itu, skema sewa terdiri atas ijarah dan
ijarah muntahiya bittamlik.
Dalam menyalurkan dananya pada nasabah, secara garis besar produk
pembiayaan syariah terbagi ked lam empat kategori yang dibedakan berdasarkan
tujuan penggunaannya, yaitu: 1) Pembiayaan dengan prinsip jual-beli, 2) Pembiayaan
dengan prinsip sewa, 3) Pembiayaan dengan prinsip bagi hasil, 4)Pembiayaan dengan
akad pelengkap

1) Prinsip jual Beli (Ba'i)

Prinsip jual beli dilaksanakan sehubungan dengan adanya perpindahan kepemilikan


barang atau benda (transfer of property). Tingkat keuntungan bank ditentukan di
depan menjadi bagian harga atas barang yang dijual.

Transaksi jual-beli dapat dibedakan berdasarkan bentuk pembayarannya dan waktu


penyerahan barangnya, yakni sebagai berikut:
a) Pembiayaan murabahah

Murabahah (al-bai bi tsaman ajil) lebih dikenal sebagai murabahah saja. Murabahah
berasal dari kata ribhu (keuntungan), adalah transaksi jual belil di mana bank
menyebut jumlah keuntungannya. Bank bertindak sebagai penjual, sementara nasabah
sebagai pembeli. Harga jual adalah harga beli bank dari pemasok ditambah
keuntungan (marjin)

Kedua belah pihak harus menyepakati harga jual dan jangka waktu pembayaran.
Harga jual dicantumkan dalam akad jual beli dan jika telah disepakati tidak dapat
berubah selama berlakunya akad. Dalam perbankan murabahah selalu dilakukan
dengan cara pembayran cicilan (bi tsaman ajil, atau muajjal). Dalam transaksi ini
barang diserahkan segera setelah akad, sementara pembayaran dilakukan secara
tangguh/cicilan.

10
Gambar Skema pembiayaan murabahah

b) Pembiayaan Salam

Salam adalah transaksi jual beli di mana barang yang diperjualbelikan belum ada.
Oleh karena itu, barang diserahkan secara tangguh sementara pembayaran dilakukan
secara tunai. Bank bertindak sebagai pembeli, sementara nasabah sebagai penjual.
Sekilas transaksi ini mirip jual beli ijon, namun dalam transaksi ini kuantitas, kualitas,
harga, dan waktu penyerahan barang harus ditentukan secara pasti.

Dalam praktik perbankan, ketika barang telah diserahkan kepad bank, maka bank
akan menjualnya kepada rekanan nasabah atau nasabah itu sendiri secara tunai atau
secara cicilan. Harga jual yang ditetapkan oleh bank adalah harga beli bank dari
nasabah ditambah keuntungan. Dalam hal ini bank menjualnya secara
secara tunai biasanya
disebut dengan pembiayaan talangan (bridging financing). Sedangkan dalam hal bank
menjualnya secara cicilan.

Ketentuan umum Pembiayaan Salam adalah sebagai berikut:

 Pembelian hasil produksi harus diketahui spesifikasinya secara jjelas seperti


jenis, macam, ukuran, mutu dan jumlahnya. Misalnya jual beli 100kg mangga
harum manis kualitas "A" dengan harga Rp. 5000/kg, akan diserahkan pada
panen dua bulan mendatang.
 Apabila hasil produksi yang diterima cacat atau tidak sesuai akad maka
nasabah (produsen) harus bertanggung jawab dengan cara antara lain
mengambilkan dana yang telah diterimanya atau mengganti barang yang
sesuai dengan pesanan.
 Mengingat bank tidak menjadikan barang yang dibeli atau dipesannya sebagai
persediaan (inventory),
(inventory), maka dimungkinkan bagi bank untuk melakukan akad
salam kepada pihak ketiga (pembeli kedua), seperti BULOG, pedagang pasar
induk atau rekanan. Mekanisme seperti ini disebut sebagai paralel salam.

c) Pembiayaan Istishna'

Produk istishna' menyerupai produk salam, tapi dalam istishna' pembayarannya dapat
dilakukan oleh bank dalam beberapa kali (termin) pembayaran. Skim istishna' dalam
Bank Syariah umumnya diaplikasikan pada pembiayaan manufaktur dan konstruksi.

11
Gambar Skema pembiayaan istishna
Ketentuan
tuan umum Pembiayaan Istishna' adalah spesifikasi barang pesanan harus jelas
seperti jenis, macam ukuran, mutu dan jumlahnya. Harga jual yang telah disepakati
dicantumkan daam akad Istishna' dan tidak boleh berubah selama berlakunya akad.
Jika terjadi perubahan
bahan dari kriteria pesanan dan terjadi perubahan harga setelah akad
ditandatangani, seluruh biaya tambahan tetap ditanggung nasabah.
2) Prinsip Sewa (jarah)

Transaksi ijarah dilandasi adanya perpindahan manfaat. Jadi pada dasarnya prinsip
ijarah sama saja dengan prinsip jual beli, tapi perbedaannya terletak pada objek
transaksinnya. Bila pada jual-beli
jual beli objek transaksinya adalah barang pada ijarah objek
transaksinya adalah jasa.

Gambar skema pembiayaan Ijarah


Pada akhir masa sewa, bank dapat saja menjual
menjual barang yang disewakannya kepada
nasabah. Karena itu dalam perbankan syariah dikenal ijarah muntahhiyah
bittamlik (sewa yang diikuti dengan berpindahnya kepemilikan). Harga sewa dan
harga jual disepakati pada awal perjanjian.3

3
OJK, https://www.ojk.go.id/id/kanal/syariah/tentang
anal/syariah/tentang-syariah/Pages/Konsep-Operasional
Operasional-PBS.aspx, (diakses
pada 2 april 2021, pukul 20.00).

12
F. Prinsip Dalam Pelaksanaan Fungsi Jasa Keuangan Perbankan
Pelaksanaan fungsi jasa keuangan perbankan dapat menggunakan prinsip-prinsip
transaksi syariah yang telah difatwakan oleh DSN. Beberapa prinsip itu adalah prinsip
wakalah, kafalah, sharf, ijarah.
1. Prinsip Wakalah
Wakalah berarti penyerahan, pendelegasian, atau pemberian mandate. Dalam
konteks muamalah, wakalah adalah pelimpahan kekuasaan oleh seseorang (muwakkil)
kepada orang lain (wakil) dalam hal-hal yang mewakilkan. Hal-hal yang diwakilkan
haruslah :
a. Diketahui dengan jelas oleh orang yang mewakili.
b. Tidak bertentangan dengan syariah Islam.
c. Dapat diwakilkan menurut syariah Islam.

2. Prinsip Kafalah
Al-kafalah merupakan jaminan yang diberikan oleh penanggung (kafiil) kepada
pihak ketiga untuk memenuhi kewajiban pihak kedua atau yang ditanggung
(makfuul ’anhu ‘ashil). Dalam fatwa DSN Nomor 11 Tahun 2000, kafalah adalah
jaminan yang diberikan oleh penanggung (kafiil) kepada pihak ketiga untuk
memenuhi kewajiban pihak kedua atau yang ditanggung (makfuul ‘anhu ‘ashil).

3. Prinsip Hawalah
Hawalah adalah pengalihan utang dari orang yang berutang (muhil) kepada orang
lain yang menanggungnya (muhal ‘alaih). Dalam praktik perbankan, prinsip hawalah
dapat digunakan untuk transaksi anjak piutang, di mana para nasabah yang memiliki
pituang kepada pihak ketiga memindahkan piutang itu kepada bank, bank lalu
membayar piutang tersebut dan bank menagihnya dari pihak ketiga itu.

4. Prinsip Sharf
Prinsip sharf adalah prinsip yang digunakan dalam transaksi jual beli mata uang,
baik antara mata uang sejenis maupun antar mata uang berlainan jenis.
5. Prinsip Ijarah
Prinsip ijarah merupakan prinsip yang sangat banyak digunakan dalam
pelaksanaan fungsi jasa keuangan bank syariah. Berdasarkan fatwa DSN Nomor 9
Tahun 2000, disebutkan bahwa objek ijarah adalah manfaat dari penggunaan barang
13
atau jasa. Ijarah bila diterapkan untuk mendapatkan manfaat barang disebut sewa
menyewa, sedangkan bila diterapkan untuk medapatkan manfaat orang disebut upah-
mengupah (Karim, 2004).4
 Larangan Bagi Bank Syariah
Larangan bagi BUS dan UUS diatur dalam pasal 24 UU Nomor 21 Tahun 2008
tentang Perbankan Syariah. Dalam pasal ini disebutkan bahwa baik BUS maupun
UUS dilarang untuk :
1. Melakukan kegiatan usaha yang bertentangan dengan Prinsip Syariah.
2. Melakukan kegiatan jual beli saham secara langsung dari pasar modal.
3. Melakukan penyertaan modal, kecuali sebagaimana dimaksud dalam pasal 20
tentang kegiatan BUS dan UUS dan,
4. Melakukan kegiatan usaha perasuransian, kecuali sebagai agen pemasaran produk
asuransi syariah

Adapun larangan bagi BPRS diatur dalam pasal 25 yang meliputi larangan untuk :
1. Melakukan kegiatan usaha yang bertentangan dengan prinsip syariah.
2. Menerima simpanan berupa Giro dan ikut serta dalam lalu lintas pembayaran.
3. Melakukan kegiatan usaha dalam valuta asing, kecuali penukaran uang asing
dengan izin Bank Indonesia.
4. Melakukan kegiatan usaha peransuransian, kecuali sebagai agen pemasaran
produk asuransi syariah.
5. Melakukan penyertaan modal, kecuali pada lembaga yang dibentuk untuk
menanggulangi kesulitan likuiditas BPRS, dan
6. Melakukan usaha lain di luar kegiatan usaha sebagaimana dimaksud dalam pasal
21 tentang kegiatan BPRS.

G. Struktural dan Job Description dalam Perbankan Syariah

Pada biasa perusahaan atau instansi sudah barang tentu memiliki struktur
organisasi yang di dalamnya terdapat orang-orang yang diberi tugas dan tanggung
jawab terhadap keahliannya masing-masing, sehingga dapat mempermudah dan

4
OJK, https://www.ojk.go.id/id/kanal/syariah/tentang-syariah/Pages/Konsep-Operasional-PBS.aspx, (diakses
pada 2 april 2021, pukul 18.50).

14
memperlancar keberlangsungan perusahaan tersebut. Selain itu, adanya struktur
organisasi yang ada dalam sebuah perusahaan akan dapat mempermudah pembagian
tugas, artinya orang-orang yang ada di dalamnya dapat menjalankan fungsinya
masing-masing.
PT. BPR Syari’ah menggunakan struktur organisasi bentuk lini (line
organization) dimana wewenang mengalir dari atas ke bawah melalui jenjang
manajemen sampai pada karyawan yang paling bawah. Oleh karena itu, dalam sistem
organisasi PT. BPR Syari’ah, pemimpin memiliki wewenang secara langsung pada
seluruh bawahannya, sedangkan bagian yang diberi wewenang tersebut memiliki
tanggung jawab pada pimpinan perusahaan.
Dari struktur organisasi di atas dapat dijelaskan lebih lanjut mengenai tugas dan
tanggung jawab masing-masing bagian adalah sebagai berikut :

1. Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)


RUPS merupakan badan tertinggi dalam struktur organisasi PT. BPRS
Situbondo dengan segenap tanggung jawab dan wewenang sebagai berikut :
a. Membuat dan menerapkan kebijaksanaan perusahaan.
b. Mengangkat dan memberhentikan Dewan Komisaris
2. Dewan Pengawas Syari’ah (DPS)
Merupakan dewan yang bertugas mengawasi jalannya Bank Islam agar di
dalam operasional tidak menyimpang dari prinsip-prinsip muamalat menurut Islam
dah juga bertugas memberikan fatwa agama dalam prudok-produk yang ditawarkan
oleh PT. BPRS Situbondo. Fatwa yang dihasilkan dari keputusan musyawarah dari
Dewan Syari’ah disampaikan secara tertulis kepada Direksi dengan tindasan Dewan
Komisaris, kemudian bersama-sama Dewan Komisaris mengawasi pelaksanaannya.
3. Dewan Komisaris
Dewan Komisaris PT. BPR Syari’ah yang memiliki tugas dan tanggung jawab
antara lain : mempertimbangkan, menyempurnakan dan mewakili para pemegang
saham dalam memutuskan kebijakan umum yang baru diusulkan oleh Direksi untuk
dilaksankan pada masa yang akan datang. Selain itu Dewan Komisaris juga bertugas
mengawasi pekerjaan Direksi, yang berkenaan dengan rencana kerja dan anggaran
pendapatan dan belanja telah dilaksanakan atau tidak, serta melakukan pemeriksaan
terhadap tata kehidupan usaha organisasi dan pelaksaan kebijaksaan Direksi.
4. Direksi
15
Dewan Direksi PT. BPR Syari’ah terdiri dari seorang Direktur Utama (Dirut)
dan seorang Direktur yang bertugas memimpin dan mengawasi kegiatan Bank setiap
hari sesuai dengan kebijakan umum yang telah disetujui oleh Dewan Komisaris dan
RUPS.
5. Manajer Marketing
Manajer Marketing bertugas membantu Direksi dalam menangani tugas-tugas
khususnya bidang marketing dan pembiayaan.
6. Manajer Operasional
Manajer Operasional bertugas membantu Direksi dalam melakukan tugas-
tugas di bidang operasional Bank. Fungsi bidang operasional meliputi aspek-aspek
kuantitatif dan kualitatif secara efektif dan efisien dalam rangka pelaksanaan dan
pengamanan pelayanan jasa-jasa perbankan berdasarkan sistem dan prosedur
operasinal Bank serta peraturan-peraturan pemerintah (Bank Indonesia).
7. Staf Markering Landing
Staf Markrting Landing bertugas memproses pengajuan pembiayaan dari calon
nasabah yang meliputi pemeriksaan kelengkapan data, survey lapangan dan analisa
pembiayaan.
8. Staf Marketing Funding
Staf Marketing Funding bertugas mencari peluang-peluang calon nasabah
sebagai perolehan sumber dana dan melalukan pendekatan dengan calon nasabah
yang potensial.
9. Costumer Service
Costumer Service memilik tugas dan tanggung jawab diantaranya, membantu
kepentingan tamu yang berhubungan dengan Bank, memberikan penjelasan tentang
produk-produk Bank yang dibutuhkan nasabah berikut segala ketentuan dan prosedur
yang ditetapkan pihak Bank, memproses pembukaan tabungan atau saham sesuai
dengan sistem dan prosedur yang telah diteapkan pihak Bank, dan memfile seluruh
berkas permohonan atau penutupan tabungan dan penggantian tabungan.
10. Personalia Umum
Personalia Umum berfungsi sebagai staf atau karyawan Bank yang bertugas
untuk membantu penyedian sarana kebutuhan karyawan atau Bank agar dapat
menjalankan tugasnya dengan baik. Di samping itu, Personalia Umum juga mengikuti
perkembangan-perkembangan yang terjadi di bidang kepegawaian dan mengusahakan

16
agar terbentuk suatu kebijakan umum yang sesuai bagi karyawan. Bidang Umum juga
dapat melaksanakan tugas lain sesuai dengan ketentuan Direksi.
11. Teller
Teller selaku kuasa Bank melakukan pekerjaan yang berkaitan dengan
penerimaan dan penarikan pembayaran uang. Tugas Teller membukukan seluruh
transaksi yang berhubungan dengan penerimaan maupun pengeluaran kas harian
untuk diserahkan kepada Accounting.
12. Staf Analis dan Penilai Jaminan
Staf pada bagian ini bertugas melaksanakan survey terhadap nasabah dan
kelayakan pembiayaan untuk memperoleh kelayakan dalam member pembiayaan
serta menghitung dan memetapkan nilai transaksi dari jaminan yang diserahkan.
13. Legal dan Administrasi Pembiayaan
Staf pada bagian ini bertugas memeriksa kelengkapan dan keafsahan dokumen
atas pembiayaan yang telah disetujui. Selain itu, staf bagian ini juga bertugas
melakukan langkah-langkah hukum terhadap akibat dari akad perjanjian sampai pada
penanganan pembiayaan yang bermasalah dan melakukan standarisasi akad perjanjian.
14. Accounting
Bagian akuntansi berhubungan masalah-masalah yang berkaitan dengan
penyusunan informasi keunagan, oleh karena adanya peristiwa transaksi ekonomi
pada usaha penyaluran dan pengerahan dana. Proses penyusunan meliputi pencatatan,
pengikhtisaran, mengelompokkan data transaksi sampai dengan pelaporan berupa
laporan keunagan neraca dan laba rugi tahunan.5

5
Syairiel, http://scienceofsyairiel.blogspot.com/2012/05/struktur-dan-job-dskription-perbankan.html,
(diakses pada 2 april 2021, pikul 22.10)

17
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Pasal 1 undang-undang No. 21 tahun 2008 definisi bank adalah badan usaha
yang menghimpun dana masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya
kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan/atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka
meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Bank terdiri dari dua jenis yaitu bank
konvesional dan bank syariah. Bank konvesional adalah bank yang menjalankan
kegiatan usahanya secara konvensional, yang terdiri atas bank umum konvensional
dan bank pengkreditan rakyat (BPR) sedangkan bank syariah adalah bank yang
menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan prinsip syariah yang terdiri atas bank
umum syariah (BUS) dan bank pembiayaan rakyat syariah (BPRS).

Berdasarkan pasal 4 UU No 21 Tahun 2008 tentang perbankan syariah, disebutkan


bahwa Bank Syariah wajib menjalankan fungsi menghimpun dan menyalurkan dana
masyarakat. Bank Syariah juga dapat menjalankan fungsi sosial dalam bentuk lembaga
baitulmal, yaitu menerima dana yang berasal dari zakat, infak, sedekah, hibah atau dana
sosial lainnya (antara lain denda terhadap nasabah atau ta’azir) dan menyalurkannya
kepada organisasi pengelola zakat

Penyaluran dana bank syariah dilakukan dengan menggunakan skema jual beli,
skema investasi, dan skema sewa. Skema jual beli memiliki beberapa bentuk,
yaitu murabahah, salam, dan istishna’. Skema investasi terdiri atas dua jenis,
yaitu mudharabah dan musyarakah. Sementara itu, skema sewa terdiri atas ijarah dan
ijarah muntahiya bittamlik.

18
DAFTAR PUSTAKA

Handiyanti, Subekti. 2014. Sistem dan operasional bank syariah.


http://subektihandiyati.blogspot.com/2014/09/sistem-dan-operasional-bank-syariah.html
(diakses pada 1 april 2021)

Ojk. 2017. Konsep Operasional Perbankan Syariah.


https://www.ojk.go.id/id/kanal/syariah/tentang-syariah/Pages/Konsep-Operasional-PBS.aspx
(diakses pada 2 april 2021)

Syairiel. 2012. Struktur dan Job Dskription Perbankan Syari'ah.


http://scienceofsyairiel.blogspot.com/2012/05/struktur-dan-job-dskription-perbankan.html
(diakses tanggal 2 april 2021)

19

Anda mungkin juga menyukai