Anda di halaman 1dari 10

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..............................................................................

DAFTAR ISI.............................................................................................

BAB I PENDAHULUAN..........................................................................

A. Latar Belakang................................................................................
B. Rumusan Masalah...........................................................................
C. Tujuan.............................................................................................

BAB II PEMBAHASAN...........................................................................

A. Tradisi dan Perspektif Dalam Teori Komunikasi...........................


1. Tradisi Sosiokultural...........................................................
2. Tradisi Kritis.......................................................................
3. Tradisi Retirika...................................................................

BAB III PENUTUP...................................................................................

A. Kesimpulan.....................................................................................
B. Saran...............................................................................................

DAFTAR PUSTAKA................................................................................
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bidang ilmu komunikasi adalah bidang multidispliner. Begitu


kompleksnya sebuah kajian komunikasi ini sehingga dimanapun bidang
keilmuannya di butuhkan proses komunikasi. Keberagaman tipologi
komunikasi akhirnya membuat Robert Craig menawarkan cara melihat
dan merefleksikan kajian komunikasi dalam cara yang holistik. Craig
beranggapan bahwa teori komunikasi, adalah suatu disiplin yang praktis
yang disadari oleh kehidupan yang nyata dengan masalah sehari-hari
melalui praktek komunikasi. Craig menjelaskan bahwa semua teori-teori
komunikasi yang relevan dengan kehidupan dunia praktis yang umum
dimana komunikasi sudah menjadi istilah yang memiliki banyak makna.

Craig mengatakan bahwa komunikasi merupakan proses primer


menyangkut pengalaman kehidupan manusia, yaitu bahwa komunikasi
membentuk kenyataan. Bagaimana kita mengkomunikasi-kan pengalaman
kita justru membentuk pengalaman kita. Banyaknya bentuk pengalaman
terbentuk dari banyaknya bentuk komunikasi

B. Rumusan Masalah

1. Apa Saja Yang Menjadi Pembagian Tradisi dan Perspektif Dalam Teori
Komunikasi?

C. Tujuan

1. Untuk Mengetahui Tradisi Dalam Teori Komunikasi.


BAB II

PEMBAHASAN

A. Tradisi dan Perspektif Dalam Teori Komunikasi

Tradisi komunikasi merupakan dasar-dasar dan teori-teori komunikasi


yang memiliki kesamaan, sehingga dikelompokkan menjadi beberapa
kelompok tradisi komunikasi. Tradisi ini ditemukan oleh Robert Craig.
Craig berpendapat Teori-teori komunikasi tersebut dapat dikelompok-
kan berdasarkan jenis-jenisnya.

Robert Craig menemukan cara untuk mengatur teori komunikasi yang


beraneka ragam tersebut. Pertama tama, kita perlu memahami bahwa
terdapat beberapa kesamaan antara teori yang satu dengan yang lainnya.
Kesamaan ini disebut dengan metamodel, karena hal ini merupakan model
dari teori. Craig berpendapat bahwa semua teori memiliki manfaat untuk
mendukung cara pandang tertentu untuk melihat dunia. Berikut beberapa
tradisi komunikasi yang dikemukakan oleh Robert Craig,yaitu:

1. Tradisi Sosiokultural

Pendekatan sosiokultural dalam teori komunikasi membahas bagaimana


berbagi pengertian, makna, norma, peran dan aturan yang ada bekerja dan
saling berinteraksi dalam proses komunikasi. Teori sosiokultural dalam
ilmu komunikasi mendalami dunia interaksi di mana di dalamnya manusia
hidup. Teori ini menekankan gagasan bahwa realitas dibangun melalui
suatu proses interaksi yang terjadi dalam kelompok, masyarakat, dan
budaya.
Tradisi sosiokultural lebih berfokus pada pola-pola interaksi antar manusia
daripada hal-hal yang terkait dengan sifat atau jiwa yang dimiliki seorang
individu. Interaksi adalah proses dan tempat dimana berbagai makna,
peran, aturan, dan nilai budaya saling bekerja. Tradisi sosiokultural ini
sangat jelas menunjukkan ketertarikannya pada proses kumunikasi yang
terjadi pada situasi yang sebenarnya. Teori-teori yang berada dalam tradisi
sosiokultural sangat dipengaruhi oleh tiga teori penting dalam ilmu
komunikasi, yaitu:

a. Teori Interaksi Simbolis


Teori interaksi simbolis memiliki pengaruh yang sangat penting
dalam tradisi sosiokultural, karena teori ini berangkat dari ide
bahwa struktur sosial dan mkna diciptakan dan dipelihara dalam
interaksi sosial.
b. Teori Konstruksi Sosial
Teori konstruksi sosial atau disebut juga dengan teori konstruksi
sosial mengenai realitas. Menurut teori ini identitas suatu objek
merupakan hasil dari bagaimana kita membicarakan objek
bersangkutan bahasa yang digunakan untuk menuangkan konsep
kita dan cara bagaimana kelompok sosial memberikan
perhatiannya.
c. Teori Sosiolinguistik
Pengaruh ketiga yaitu pengaruh sosiolinguistik adalah bahwa
manusia menggunakan bahasa secara berbeda dalam kelompok
sosial dan budaya yang berbeda.

Sudut pandang lain yang berpengaruh dalam pendekatan sosiokultural


adalah etnografi atau observasi tentang bagaimana kelompok sosial
membangun makna melalui perilaku linguistic dan nonlinguistic mereka.
Etnografi melihat bentuk- bentuk komunikasi yang digunakan dalam
kelompok sosial tertentu, kata-kata yang mereka gunakan, dan apa makna
bagi mereka, sebagaimana makna-makna bagi keragaman perilaku, visual,
dan respons audio.
Akhirnya tradisi sosiokultural telah dipengaruhi oleh etnometodologi
(ethnomethodology) atau observasi yang cermat akan perilaku-perilaku
kecil dalam situasi-situasi nyata. Etnometodelogi terutama dihubungkan
dengan ahli sosiologi Harold Garfinkel, pendekatan ini melihat
bagaimana kita mengelola atau menghubungkan perilaku dalam interaksi
sosial pada waktu tertentu. Dalam komunikasi, etnometodelogi telah
memengaruhi dalam bagaimana kita melihat percakapan, termasuk cara-
cara partisipan mengelola alur percakapan dengan bahasa dan perilaku.

2. Tradisi Kritis

Tradisi-tradisi berikut tradisi kritik mengikuti banyak kecenderungan dan


asumsi sosiokultural, tetapi tradisi ini menambah dimensi penting yang
merubah tradisi deskriktif ke tradisi kritik.

Tradisi kritis menjelaskan bahwa kekuasaan dan keistimewaan yang


dimiliki suatu kelompok, serta penindasan yang dilakukan oleh kelompok
tertentu terhadap kelompok lain merupakan prosuk dari bentuk
komunikasi tertentu yang ada di masyarakat. Pemikiran yang
dikemukakan dalam tradisi kritis dipandang penting dalam perkembangan
teori komunikasi dewasa ini. Walaupun terdapat berbagai variasi
pemikiran dalam kelompok teori kritis, namun kesemuanya
mengemukakan tiga hal penting yang sama yaitu:
a. Tradisi kritis berupaya untuk memahami sistem yang sudah baku
yang diterima masyarakat begitu saja termasuk juga struktur
kekuasaan dan kepercayaan atauideologi yang mendominasi
masyarakat, namun tradisi kritis memberikan perhatian utama pada
kepentingan siapa yang lebih dilayani oleh struktur kekuasaan yang
ada.
b. Teori kritis menunjukkan ketertarikannya untuk mengemukakan
adanya suatu bentuk penindasan sosial dan mengusulkan suatu
pengaturan kekuasaan.
c. Para pendukung teori kritis berusaha untuk memadukan antara teori
dan tindakan . hubungan antara teori dan tindakan ini digambarkan
dalam ungkapan membaca dunia dengan mata tertuju pada upaya
untuk mengubahnya.

Pada bidang komunikasi, penganut tradisi kritis secara khusus


menunjukkan ketertarikannya pada bagaimana pesan dapat mendukung
penindasan di masyarakat. Dalam perkembangannya teori kritis memiliki
sejumlah percabangan antara lain yang terpenting adalah :

a. Marxsisme
Menurut ajaran marxsisme alat-alat produksi ekonomi di
masyarakat menentukan sifat dan bentuk masyarakat bersangkutan,
dengan demikian ekonomi menjadi dasar dari semua struktur
sosial.

b. Frankfurt School
Salah satu teori yang berada dalam aliran teori kritis adalah
pemikiran atau gagasan yang dinamakan frankfurt school yaitu
kelompok ahli filsafatJerman yang dimotori oleh dua sarjana yaitu
Rheodor Adorno dan Max Horkheiner bekerjasama dengan institut
for social research yang di dirikan di frankfurt pada tahun 1923.
Pengikut aliran ini percaya bahwa demi kebutuhan akan integrasi
di antara kajian khususnya filosofi, sosiologi, ekonomi, dan sejarah
untuk mempromosikan filosofi sosial yang sangat luas atau teori
kritik yang mampu menawarkan pengujian yang komprehensif
akan kontradiksi dan interkoneksi dalam masyarakat. Frankfurt
School merupakan Marxis dalam inspirasinya; pertama,
pengikutnya melihat kapitalisme sebagai tahap evolusi
perkembangan sosialisme dan kemudian komunisme.

d. Postmodernisasi
Post-modernisme dalam pengertian yang paling umum diberi tanda
oleh perpecahan dengan modernitas dan proyek pencerahan. Pada
tahun 1970-an muncul satu bentuk pemikiran baru yang disebut
Postmodernisasi di Indonesia sering disingkat dengan “Posmo”
saja.

e. Feminisme
Studi mengenai studi feminisme telah lama menjadi bahan kajian
penting dan berpengaruh dalam kelompok pemikiran atau tradisi
kritis. Orang mendefenisikan feminisme mulai dari gerakan untuk
melindungi hak perempuan hingga upaya untuk memberikan
pengertian yang luas terhadap pengertian feminisme.

3. Tradisi Retorika

Pada awalnya, ilmu ini berhubungan dengan persuasi, sehingga retorika


adalah seni menyusun argumen dan pembuatan naskah pidato. Kemudian,
berkembang sampai meliputi proses ”adfjusting ideas to people and
people to ideas” dalam segala jenis pesan. Fokus dari retirika telah
diperluas bahkan lebih lingkup segala cara manusia dalam menggunakan
simbol untuk mempengaruhi lingkungan disekitarnya dan untuk
membangun dunia tempat tinggal.

Retorika didefenisikan sebagai seni membangun argumentasi dan seni


berbicara dalam perkembangannya retorika juga mencakup proses untuk
menyesuaikan ide dengan orang dan menyesuaikan orang dengan ide
melalui berbagi macam pesan. Hal penting yang menjadi perhatian utama
dari tradisi retorika ini terdapat pada lima ajaran atau kanon retorika yaitu
penciptaan, pengaturan, gaya, penyampaian, dan ingatan. Kelima kanon
tersebut merupakan elemen-elemen dalam merencanakan dan
mempersiapkan pidato.
Dalam perkembangannya kelima kanonretorika mendapatkan penafsiran
yang semakin luas . saat ini, pengertian penciptaan sudah meluas dan
mengacu pada pengertian konseptualisasi yaitu proses pemberian makna
terhadap data melalui interpretasi ini berarti suatu pengakuan terhadap
fakta bahwa kita tidak sekedar menemukan apa yang ada tetapi
menciptakan nya melalui kategori interpretasi yang kita gunakan.
Pengaturan adalah proses mengorganisasi simbol yaitu mengatur informasi
yang terkait dengan hubungan di antara manusia, simbol, dan konteks
yang terlibat.

Gaya adalah segala hal yang terkait dengan bagaimana cara


menyampaikan atau presentasi simbol, mulai dari pemilihan sistem simbol
hingga makna yang kita berikan terhadap simbol termasuk perilaku
simbolis mulai dari kata dan tindakan, pakaian yang dikenakan hingga
perabotan yang digunakan. Penyampaian merupakan perwujudan simbol
kedalam bentuk fisik yang mencakup berbagai pilihan mulai dari non
verbal, bicara, tulisan hingga pesan yang diperantai.

Pusat dari tradisi retorika adalah kelima karya agung retorika-penemuan,


penyusunan, gaya, penyampaian, dan daya ingat. Semua ini adalah
elemen-elemen dalam mempersiapkan sebuah pidato, sedangkan pidato
orang Yunani dan Roma kuno berhubungan dengan ide-ide penemuan,
pengaturan ide, memilih bagaimana membingkai ide-ide tersebut dengan
bahasa, serta pada akhinya, penyampaian isu dan daya ingat. Dengan
perubahan pada retorika, kelima karya agung ini telah mengalami
kesamaan perluasan. Penemuan sekarang mengacu pada konseptualisasi-
proses saat kita menentukan makna dari simbol melalui interprestasi,
respons terhadap fakta yang tidak mudah kita tentukan pada apa yang telah
ada, tetapi menciptakannya melalui penafsiran dari kategori-kategori yang
kita gunakan.
Penyusunan adalah pengaturan simbol-simbol-menyusun informasi dalam
hubungannya diantara orang-orang, simbol-simbol, dan konteks yang
terkait. Gaya berhubungan dengan semua anggapan yangterkait dalam
penyajian dari semua simbol tersebut, mulai memilih sistem simbol
sampai makna yang kita berikan kepada semua simbol tersebut,
sebagaimana dengan semua sifat dari simbol, mulai dari kata-kata dan
tindakan sampai pada busana dan perabotan. Penyampaian menjadi
perwujudan dari simbol-simbol dalam bentuk fisik, mencakup pilihan non-
verbal untuk berbicara, menulis, dan memediasikan pesan. Akhirnya, daya
ingat tidak lagi mengacu pada penghafalan pidato tetapi dengan
cangkupan yang lebih besar dalam mengingat budaya sebagaimana dengan
proses persepsi yang berpengaruh pada bagaimana kita menyimpan dan
mengolah informasi.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulans

Setiap tradisi memiliki karakter khusus dan dalam beberapa hal, tradisi-
tradisi tersebut memiliki perbedaan yang cukup signifikan bahkan saling
menolak satu sama lainnya. Tetapi tradisi-tradisi ini tidaklah terpisah satu
sama lainnya. Tradisi ini saling mempengaruhi bahkan saling menutupi.
Tradisi-tradisi komunikasi tidak banyak memberikan kontribusi pada
aspek komunikasi itu sendiri, lebih dari itu tradisi komunikasi ini yang
menjadi objek kajian sehingga komunikasi menjadi multidisipliner.

Setiap tradisi memiliki nilai dan membantu dalam memaknai konteks-


konteks yang berada dalam wilayah otoritas komunikasi tetapi ketika
konteks pembahasan kita muali meluas atau keluar dari pembahasan maka
tradisi tersebut menjadi kurang berharga. Meskipun tradisi-tradisi ini tidak
membuat kedudukannya sama dengan tradisi yang lain, tetapi kajian tradisi
tersebut terdistribusi kepada kajian-kajian yang lain.

B. Saran

Kapanpun kita berpikir tentang komunikasi, maka pemikiran kita


dibangun oleh perspektif tradisi-tradisi tersebut. Maka kemungkinan besar
dengan berjalanannya waktu maka timbul tradisi-tradisi baru sesuai
dengan budaya yang ada saat itu. Dan tidak ada salahnya kita
mengapresiasi tradisi ini untuk menemukan apakah tradisi ini relevan
dengan kita untuk menjelaskan bagaiaman kita melihat dunia.