Anda di halaman 1dari 40

Case Report Session

PEMERIKSAAN KESEHATAN BERKALA PADA ANAK SEKOLAH DI


PUSKESMAS LUBUK BEGALUNG

Oleh:

Cindy Arionata 1840312414

Preseptor:
dr. Hardisman, MHID, Dr. PH (Med)

BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN


UNIVERSITAS ANDALAS
2020

1
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat-Nya
penulis dapat menyelesaikan makalah berupa Case Report Session ini dengan judul
“Pemeriksaan Kesehatan Berkala Anak Sekolah di Puskesmas Lubuk Begalung”.
Case Report Session ini merupakan salah satu syarat mengikuti kepaniteraan
klinik di bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.
Penulis mengucapkan terima kasih banyak kepada dr. Hardisman, MHID, Dr. PH
(Med) selaku preseptor. Penulis mengucapkan terima kasih juga kepada Puskesmas
Lubuk Begalung dan semua pihak yang telah membantu menyelesaikan makalah ini.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan, oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik untuk
menyempurnakan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi
kitasemua.

Padang, Juli 2020

Penulis

2
DAFTAR ISI
Kata Pengantar 2
Daftar Isi 3

Daftar Gambar 5

Daftar Tabel 6

BAB 1 PENDAHULUAN 8

1.1 Latar belakang 8

1.2 Rumusan masalah 9

1.3 Tujuan penelitian 9

1.4 Metode penelitian 9

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 10

2.1 Upaya Kesehatan Puskesmas 10

2.2 Usaha Kesehatan Sekolah 11

2.2.1 Tujuan UKS 11

2.2.2 Sasaran UKS 12

2.2.3 Ruang Lingkup Program UKS 12

2.3 Pemeriksaan Kesehatan Berkala 13

2.3.1 Definisi 13

2.3.2 Tujuan 14

2.3.3 Pelaksanaan 14

2.3.4 2.3.4 Sasaran Penjaringan 20

2.3.5 Tempat dan Waktu Pelaksanaan 21

2.3.6 Sarana dan Prasarana 21

2.3.7 Alur Persiapan dan Pelaksanaan 24

3
BAB 3 ANALISIS SITUASI 25

3.1 Gambaran Umum Puskesmas Lubuk Begalung 25

3.1.1 Kondisi Geografis 25

3.1.2 Kondisi Demografis 26


3.2 Data Sekolah dan Jumlah Siswa di Wilayah Kerja Puskesmas Lubuk 29
Begalung
3.3 Laporan Hasil Pemeriksaan Skrining Anak Sekolah di Wilayah Kerja
Puskesmas Lubuk Begalung Tahun Ajaran 2019/2020 29
3.4 Laporan Hasil Pemeriksaan Kesehatan Berkala pada Anak Sekolah di
Wilayah Kerja Puskesmas Lubuk Begalung Tahun Ajaran 2019/2020 32

BAB 4 PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Pelaksanaan Program Pemeriksaan Kesehatan Berkala


Anak Sekolah di Wilayah Kerja Puskesmas Lubuk Begalunng 34

4.2 permasalahan dalam pelaksanaan program pemeriksaan Kesehatan berkala anak


sekolah di wilayah kerja puskesmas Lubuk Begalung 35
BAB 5 PENUTUP 39
5.1 Kesimpulan 39
5.2 Saran 39

DAFTAR PUSTAKA 40

4.1

4
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Alur Penjaringan Kesehatan dan Pemeriksaan Berkala 24


Gambar 3.1 Peta Wilayah Kerja Puskesmas Lubuk Begalung 26

5
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Sarana dan Prasarana Penjaringan dan Pemeriksaan Kesehatan 22

Tabel 2.2 Daftar UKS Kit 22

Tabel 2.3 Daftar UKGS Kit 23

Tabel 3.1 Data Distribusi Penduduk Berdasarkan Umur di Wilayah Kerja 27


Puskesmas Lubuk Begalung 2019
Tabel 3.2 Kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional Puskesmas Lubuk 28
Begalung
Tahun 2019
Tabel 3.3 Distribusi Jumlah Fasilitas Pendidikan Per Kelurahan di
Wilayah Kerja Puskesmas Lubuk Begalung 2019 29
Tabel 3.4 Cakupan Program UKS Tahun 2019 30

Tabel 3.5 Cakupan Status Gizi pada siswa SD, SMP, SMA di Wilayah 30
Kerja Puskesmas Lubuk Begalung Tahun Ajaran 2018/2019

Tabel 3.6 Cakupan Karies pada siswa SD, SMP, SMA di Wilayah Kerja 30
Puskesmas Lubuk Begalung Tahun Ajaran 2018/2019

Tabel 3.7 Cakupan Kelainan Refraksi pada siswa SD, SMP, SMA di 31
Wilayah Kerja Puskesmas Lubuk Begalung
Tahun Ajaran 2018/2019

Tabel 3.8 Cakupan Serumen pada siswa SD, SMP, SMA di Wilayah 31
Kerja Puskesmas Lubuk Begalung Tahun Ajaran 2018/2019

Tabel 3.9 Cakupan Program Pemeriksaan Kesehatan Berkala UKS 32


Tahun Ajaran 2018/2019

Tabel 3.10 Cakupan Status Gizi pada Siswa SD, SMP, SMA di 32
Wilayah Kerja Puskesmas Lubuk Begalung Tahun
Ajaran 2018/2019

6
Tabel 3.11 Cakupan Karies pada Siswa SD, SMP, SMA di Wilayah 32
Kerja Puskesmas Lubuk Begalung Tahun Ajaran 2018/2019
Tabel 3.12 Cakupan Kelainan Refraksi pada Siswa SD, SMP, SMA di 33
Wilayah Kerja Puskesmas Lubuk Begalung Tahun Ajaran
2018/2019
Tabel 3.13 Cakupan Serumen pada siswa SD, SMP, SMA di Wilayah 33
Kerja Lubuk Begalung Tahun Ajaran 2018/2019

7
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Usia Sekolah Dasar merupakan usia yang tepat bagi seorang guru untuk
menanamkan kebiasaan hidup sehat. Kebiasaan tersebut dilatih dengan
mengoptimalkan program UKS. Ada 3 program utama UKS atau yang disebut dengan
TRIAS UKS yaitu: pendidikan kesehatan, pelayanan kesehatan, dan pengembangan
lingkungan sehat. Keberadaan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) merupakan program
pemerintah yang wajib ada dan dilaksanakan di Sekolah dalam Pelayanan Kesehatan.1
Pelayanan kesehatan di sekolah diutamakan pada upaya meningkatkan kesehatan
(upaya promotif) dan upaya pencegahan penyakit (upaya preventif). Dalam rangka
upaya preventif, antara lain dilakukan pemeriksaan berkala. Pemeriksaan kesehatan
secara berkala disekolah tidak hanya dilakukan oleh petugas kesehatan (puskesmas)
saja, namun dapat dilaksanakan oleh wali kelas, Pembina UKS dan tim pelaksana UKS
untuk memantau, memelihara serta meningkatkan status kesehatan anak sekolah.1
Masalah kesehatan yang dialami peserta didik bervariasi. Mulai dari
ketidakseimbangan gizi, kesehatan gigi, kelainan refraksi, kecacingan, dan penyakit
menular terkait perilaku hidup bersih dan sehat yang umumnya dialami pada anak
Sekolah Dasar (SD). Pada peserta didik di tingkat lanjutan Sekolah Menengah Pertama
(SMP), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Sekolah Menengah Atas (SMA) biasanya terkait
perilaku berisiko di antaranya kebiasaan merokok dan melakukan hubungan seksual di
luar nikah.1
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar Tahun 2018, terdapat 6 perilaku
berisiko pada anak usia sekolah terkait kesehatan antara lain, kurangnya konsumsi
sayur dan buah (95,5%), kurangnya perilaku higienis (53%), perilaku BAB tidak
dijamban (11,8%), kurangnya pengetahuan mengenai HIV/AIDS (65,2%), kurang
aktifitas fisik (33,5%) serta pernah merokok (9,1%) dan minuman beralkohol (3,3%).2

Berdasarkan hasil Riskesdas 2018 diperoleh angka kejadian obesitas sentral

8
meningkat menjadi 31% dari sebelumnya (26,6% pada tahun 2013), masalah gigi dan
mulut pada usia ≥ 3 tahun proporsinya sebesar 57,6%.2
Pemeriksaan kesehatan berkala bagi anak sekolah merupakan kegiatan
pemeriksaan kesehatan dasar yang bertujuan untuk mengetahui status kesehatan
peserta didik sebagai salah satu upaya deteksi dini jika peserta didik mengalami
masalah kesehatan yang perlu ditindaklanjuti lebih serius lagi dengan cara dirujuk ke
puskesmas. Oleh sebab itu, pelaksanaan program pemeriksaan kesehatan berkala
sangat penting karena dengan adanya program pemeriksaan kesehatan berkala ini
kegiatan UKS menjadi lebih hidup dan dapat diketahui tingkat kesehatan peserta didik.1

1.2 Rumusan Masalah

Bagaimana pelaksanaan pemeriksaan kesehatan berkala pada anak sekolah di


wilayah kerja Puskesmas Lubuk Begalung?

1.3 Tujuan Penulisan


Mengetahui pemeriksaan kesehatan berkala pada anak sekolah di wilayah kerja
Puskesmas Lubuk Begalung.

1.4 Metode Penulisan


Metode penulisan makalah ini berupa tinjauan pustaka yang merujuk pada
berbagai literatur, wawancara dengan pemegang program, serta laporan tahunan
Puskesmas Lubuk Begalung tahun 2019.

9
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Upaya Kesehatan Puskesmas


Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) adalah suatu tempat yang digunakan
untuk menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan, baik promotif, preventif, kuratif
maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh pemerintah, pemerintah daerah dan/atau
masyarakat. Puskesmas menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat tingkat
pertama yang meliputi upaya kesehatan masyarakat esensial dan upaya kesehatan
masyarakat pengembangan, serta upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama.
Upaya kesehatan masyarakat esensial harus diselenggarakan oleh setiap Puskesmas
untuk mendukung pencapaian standar pelayanan minimal kabupaten / kota bidang
kesehatan meliputi3:

2.2 Usaha Kesehatan Sekolah (UKS)


Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) adalah kegiatan yang dilakukan untuk
meningkatkan kesehatan anak usia sekolah pada setiap jalur, jenis dan jenjang
pendidikan. UKS merupakan salah satu upaya kesehatan pengembangan Puskesmas.4
Menurut keputusan Menteri Kesehatan nomor 828/MENKES/SK/IX/2008, Usaha
Kesehatan Sekolah (UKS) adalah upaya terpadu lintas program dan lintas sektor dalam
rangka meningkatkan kemampuan hidup sehat dan selanjutnya membentuk perilaku
hidup sehat anak usia sekolah yang berada di sekolah.5
Landasan hukum yang mengatur:
1. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan pasal 79
(Kesehatan Sekolah)
2. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan pasal 80-81
(Kesehatan Olahraga)
3. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2017 tentang
Pengesahan Convention on the Rights of Persons with Disabilities
(Konvensi Mengenai Hak-hak Penyandang Disabilitas).

10
4. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan Undang-
Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
5. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Pedoman
Penyusunan Standar Pelayanan Minimal
6. Peraturan Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri
Kesehatan, Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 6/X/PB
Tahun 2014, Nomor 73 Tahun 2014, Nomor 41 Tahun 2014, Nomor 81
Tahun 2014 tentang Pembinaan dan Pengembangan Usaha Kesehatan
Sekolah/Madrasah
7. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 741 Tahun 2008 tentang Standar
Pelayanan Minimal Bidang Pelayanan Kesehatan Kabupaten/Kota

2.2.1 Tujuan UKS


Tujuan Umum
Tujuan Usaha Kesehatan Sekolah/Madrasah adalah untuk meningkatkan mutu
pendidikan dan prestasi belajar peserta didik dengan meningkatkan perilaku hidup
bersih dan sehat serta derajat kesehatan peserta didik dan menciptakan lingkungan yang
sehat, sehingga memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan yang harmonis dan
optimal dalam rangka pembentukan manusia Indonesia seutuhnya.4
Tujuan Khusus
Memupuk kebiasaan hidup sehat dan meningkatkan derajat kesehatan peserta
didik yang di dalamnya mencakup4:
1. Memiliki pengetahuan, sikap dan keterampilan untuk melaksanakan
prinsip hidup sehat serta berpartisipasi aktif di dalam usaha peningkatan
kesehatan;
2. Sehat, baik dalam arti fisik, mental maupun sosial dan;
3. Memiliki daya hayat dan daya tangkal terhadap Pengaruh buruk
penyalahgunaan narkotika, obat-obatan dan bahan berbahaya, alkohol
(minuman keras), rokok dan sebagainya.

11
2.2.2 Sasaran UKS
Sasaran pembinaan dan pengembangan UKS meliputi4:
a. Sasaran Primer : peserta didik.
b. Sasaran Sekunder : guru, pamong belajar/tutor, komite
sekolah/orang tua, pengelola pendidikan dan pengelola kesehatan, serta TP
UKS disetiap jenjang.
c. Sasaran Tertier : Lembaga pendidikan mulai dari tingkat
prasekolah sampai pada sekolah dan perguruan agama beserta
lingkungannya.

2.2.3 Ruang Lingkup Program UKS


Ruang lingkup UKS adalah ruang lingkup yang tercermin dalam Tiga Kegiatan
Pokok Usaha Kesehatan Sekolah (TRIAS UKS), yaitu sebagai berikut4:
a. Penyelenggaraan Pendidikan Kesehatan, yang meliputi aspek:
1. Peningkatan pengetahuan, perilaku,sikap, dan keterampilan untuk hidup
bersih dan sehat;

2. Penanaman dan pembiasaan hidup bersih dan sehat serta daya tangkal terhadap
pengaruh buruk dari luar;

3. Pembudayaan pola hidup sehat agar dapat diimplementasikan dalam


kehidupan sehari- hari.
b. Pelaksanaan pelayanan kesehatan yang mencakup hal–hal berikut:
1. Stimulasi Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK)
2. Penjaringan kesehatan dan pemeriksaan berkala
3. Pemeriksaan dan perawatan gigi mulut
4. Pembinaan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)
5. Pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K)/pertolongan
pertama pada penyakit (P3P)
6. Pemberian imunisasi
7. Tes kebugaran jasmani

12
8. Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN)
9. Pemberian Obat Cacing
10. Pemanfaatan halaman sekilah Taman Obat Keluarga (TOGA)/Apotik
hidup
11. Penyuluhan kesehatan dan konseling
12. Pembinaan dan pengawasan kantin sehat
13. Informasi gizi
14. Pemulihan pasca sakit
15. Rujukan kesehatan ke puskesmas/rumah sakit
c. Pembinaan Lingkungan Kehidupan Sekolah Sehat, baik fisik, mental, sosial
maupun lingkungan yang meliputi:
1. Pelaksanaan 7K (kebersihan, keindahan, kenyamanan, ketertiban,
keamanan, kerindangan, dan kekeluargaan )
2. Pembinaan dan pemeliharaan kesehatan lingkungan termasuk bebas asap
rokok, pornografi, narkotika psikotropika, dan zat adiktif lainnya (NAPZA)
dan kekerasan
3. Pembinaan kerjasama antar masyarakat sekolah (guru, peserta didik,
pegawai sekolah, komite sekolah dan masyarakat sekitar).

2.3 Pemeriksaan Kesehatan Berkala


2.3.1 Definisi
Pemeriksaan Kesehatan Berkala adalah salah satu program UKS yang
dilaksanakan secara berkala dengan jarak waktu yang disesuaikan dengan besarnya
risiko kesehatan yang dihadapi. Pemeriksaan ini berfungsi untuk memantau,
memelihara serta meningkatkan status kesehatan siswa dengan tujuan untuk
memperoleh data atau informasi untuk menilai perkembangan kesehatan anak sekolah
maupun untuk dijadikan pertimbangan dalam menyusun program pembinaan
kesehatan sekolah.1
Penjaringan kesehatan merupakan langkah awal berupadeteksi dini pada setiap
siswa di tahun ajaran baru mulai dari tingkat pendidikan SD, SMP, sampai dengan

13
SMA. Pemeriksaan ini mefokuskan pada deteksi dini dalam upaya preventif suatu
penyakit.1

2.3.2 Tujuan
Menurut Ahmad Selvia (2009) tujuan pemeriksaan kesehatan ada 2, yaitu6:
1) Tujuan umum
Tujuan umum pemeriksaan kesehatan berkala yaitu meningkatkan derajat
kesehatan peserta didik dan secara optimal dalam mendukung proses
belajar.
2) Tujuan khusus
1. Terdeteksinya secara dini masalah kesehatan peserta didik, sehingga
bila terdapat masalah dapat segera ditindak lanjuti.
2. Tersedianya data atau informasi untuk menilai perkembangan
kesehatan peserta didik, maupun untuk dijadikan pertimbangan dalam
menyusun program pembinaan kesehatan sekolah.
3. Termanfaatkannya data untuk perencanaan, pelaksanaan, pemantauan
dan evaluasi program pembinaan peserta didik.
Berdasarkan tujuan di atas, pada hakikatnya tujuan program pemeriksaan
kesehatan berkala yang ingin dicapai untuk kepentingan peserta didik dan seluruh
warga sekolah yaitu untuk mengetahui status kesehatan dan mencegah timbulnya
penyakit, apabila ada penyakit agar lebih mudah dalam proses penyembuhan.6

2.3.3 Pelaksanaan Pemeriksan Kesehatan Berkala


Pelaksanaan Pemeriksaan Berkala dilakukan dengan 2 (dua) rangkaian
kegiatan yaitu pengisian kuesioner oleh peserta didik/orangtua/wali peserta didik dan
pemeriksaan fisik oleh tenaga Kesehatan, guru atau kader kesehatan.1

Pengisian Kuesioner oleh Peserta Didik/Orang Tua/Wali Peserta Didik


a) Pemeriksaan Riwayat Kesehatan Peserta Didik
Pemeriksaan riwayat kesehatan peserta didik meliputi pengisian kuesioner
terkait jenis gejala/kejadian terkait kesehatan yang pernah diderita oleh peserta

14
didik seperti alergi makanan tertentu, alergi obat tertentu, cedera serius akibat
kecelakaan, kejang berulang, pingsan, tranfusi darah berulang dan ataupun
penyakit lainnya. Peserta didik yang memiliki riwayat kesehatan tertentu memiliki
kemungkinan memiliki penyakit tertentu yang dapat mempengaruhi kondisi
kesehatan peserta didik mengakibatkan kesakitan dan mengganggu proses belajar
pada masa yang akan datang. Keterangan riwayat kesehatan peserta didik dapat
digunakan oleh petugas kesehatan untuk membantu petugas kesehatan dalam
menentukan diagnosis penyakit maupun pengobatan bagi peserta didik.
Pemeriksaan riwayat kesehatan peserta didik dilakukan pada peserta didik SD/MI,
SMP/MTs, SMA/SMK/MA dan sederajat. Tujuan tindakan ini adalah untuk
mendeteksi risiko masalah kesehatan peserta didik berdasarkan gejala/kejadian
terkait kesehatan yang pernah dialami oleh peserta didik.1
b) Penilaian Status Imunisasi
Penilaian status imunisasi meliputi jenis imunisasi yang diberikan melalui
program imunisasi lanjutan yaitu Bulan Imunisasi Anak Sekolah, salah satu
vaksinnya terkait program TT 5 dosis (long life). Pemeriksaan status imunisasi
dilakukan pada peserta didik SD/MI. Pemeriksaan ini bertujuan untuk
mengetahui status imunisasi peserta didik atas imunisasi DT, Campak, dan TT.1

c) Riwayat Kesehatan Keluarga


Pemeriksaan riwayat kesehatan keluarga peserta didik meliputi pengisian
kuesioner terkait penyakit yang pernah diderita oleh keluarga peserta didik
(ayah, ibu, kakek, nenek) seperti tuberkulosis, diabetes mellitus, hepatitis, asma,
penyakit jantung, stroke, obesitas, tekanan darah tinggi, kanker/tumor ganas,
anemia, thalasemia dan hemofilia. Peserta didik yang memiliki riwayat
kesehatan keluarga yang bersifat diturunkan atau dipengaruhi oleh gaya
hidup/kebiasaan/kondisi kesehatan tertentu dalam keluarga yang dapat
mempengaruhi kondisi kesehatan peserta didik atau mengakibatkan kesakitan
dan mengganggu proses belajar. Keterangan riwayat kesehatan keluarga peserta
didik dapat digunakan oleh petugas kesehatan untuk membantu petugas
kesehatan dalam menentukan diagnosis penyakit maupun pengobatan bagi

15
peserta didik. Pemeriksaan riwayat kesehatan keluarga peserta didik dilakukan
pada peserta didik SD/MI , SMP/MTs, SMA/SMK/MA dan sederajat.1,4
d) Pemeriksaan Gaya Hidup
Pemeriksaan gaya hidup meliputi pengisian kuesioner terkait pubertas, pola
sarapan, jajan di sekolah, risiko merokok dan risiko konsumsi alkohol. Peserta
didik yang memiliki gaya hidup yang tidak sehat seperti merokok/terpapar rokok
di keluarga/rumah dan konsumsi alkohol dapat mengakibatkan peserta didik
lebih berisiko menderita penyakit pada saluran pernapasan atau ikut melakukan
perilaku berisiko tersebut sehingga pada akhirnya dapat mengakibatkan
kesakitan dan mengganggu proses belajar. Pemeriksaan bertujuan untuk
mendeteksi perilaku dan masalah kesehatan terkait gaya hidup.1
e) Pemeriksaan Kesehatan Reproduksi
Pemeriksaan risiko kesehatan reproduksi meliputi pengisian kuesioner
terkait pubertas dan masalah kesehatan organ reproduksi. Peserta didik yang
mengalami masalah kesehatan pada organ reproduksi berisiko mengalami
kehamilan yang seringkali mengakibatkan peserta didik dikeluarkan dari
sekolah, atau penyakit menular seksual yang mengakibatkan kesakitan
sehingga mengganggu proses belajar. Pemeriksaan kesehatan reproduksi untuk
mendeteksi perilaku dan masalah kesehatan reproduksi dapat dilakukan pada
peserta didik mulai dari kelas 4 SD/MI , SMP/MTs, SMA/SMK/MA dan
sederajat.1

f) Pemeriksaan Kesehatan Mental Emosional


Pemeriksaan kesehatan mental merupakan kegiatan untuk mendeteksi
secara dini adanya masalah mental emosional. Pemeriksaan ini dapat dilakukan
setiap tahun pada awal penerimaan peserta didik baru dengan menggunakan
Kuesioiner Kekuatan dan Kesulitan pada anak / remaja atau Strength and
Difficulties Questionnaire (SDQ). Adapun pemeriksaan ini bertujuan untuk
mendeteksi secara dini adanya masalah mental emosional pada peserta didik,
membantu guru dalam mengenal tingkat kesulitan dan kekuatan pada anak, serta
mengenal permasalahan emosi yang dihadapi oleh peserta didik sehingga guru

16
dapat lebih dini memberikan intervensi positif.1,4
g) Pemeriksaan Kesehatan Intelegensia
Pemeriksaan kesehatan intelegensia merupakan suatu upaya pemeriksaan
awal untuk menemukan secara dini adanya potensi kecerdasan dan hambatan
belajar dalam proses belajar mengajar pada peserta didik di pendidikan dasar dan
menengah, agar dapat segera dilakkan tindakan intervensi yang tepat.
Pemeriksaan ini diharapkan dapat membantu mengembangkan uoaya untuk
meningkatkan kualitas proses belajar mengajar, memberi masukan pada orangtua
dan guru mengenai dukungan dan bimbingan yang sesuai dengan potensi anak,
dan menemukan secara dini adanya potensi hambatan belajar.1

Pemeriksaan Fisik Oleh Tenaga Kesehatan, Guru atau Kader Kesehatan Sekolah
a) Pemeriksaan Tanda Vital
Pemeriksaan tanda vital dilakukan melelui pengukuran suhu tubuh, tekanan
darah (sistolik dan diastolik), denyut nadi per menit, frekuensi napas per menit.
Peserta didik yang mengalami masalah dengan tanda vital dapat dicurigai sakit
yang mana harus segera diobati agar tidak mengganggu proses belajar mengajar,
akibatgejala yang dikeluhkan seperti malaise (lemah), sakit kepala, sesak napas,
nafsu makan menurun. Pemeriksaan tanda vital dapat dilakukan pada peserta
didik SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA dan sederajat.1

b) Pemeriksaan Status Gizi


Untuk menilai status gizi peserta didik melalui penjaringan kesehatan
dapat dilakukan beberapa pemeriksaan berikut1:
1. Pengukuran antropometri dengan menggunakan Indeks berat badan dan
tinggi badan(BB/TB), indeks tinggi badan berdasarkan umur (TB/U)
2. Pemeriksaan kelopak mata, bibir, lidah dan telapak tangan untuk
mendeteksi dugaan adanya anemia
Masalah gizi kurang, khususnya gizi buruk dapat terjadi karena keadaan
kurang zat gizi yang disebabkan rendahnya konsumsi energi (karbohidrat,
protein dan lemak) dalam makanan sehari-hari dan atau disertai penyakit

17
infeksi sehingga tidak memenuhi Angka Kecukupan Gizi (AKG), juga sering
disertai dengan kekurangan zat gizi mikro (vitamin dan mineral). Anak yang
menderita gizi kurang tidak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal
sehingga dapat menurunkan kecerdasan anak. Demikian juga pada anak yang
menderita gizi lebih yaitu kegemukan dan obesitas dapat menyebabkan
penyakit tidak menular seperti diabetes, jantung koroner, hipertensi,
osteoporosis dll. Pada anak yang menderita Anemia Gizi Besi (AGB) dapat
menyebabkan rendahnya kemampuan belajar dan produktivitas kerja serta
menurunnya kekebalan tubuh sehingga mudah terserang penyakit infeksi. Anak
dengan anemia memiliki indeks perkembangan psikomotor dan prestasi yang
lebih rendah daripada anak yang normal. Pemeriksaan status gizi dapat
dilakukan pada peserta didik SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA dan sederajat
dengan tujuanuntuk mendeteksi secara dini masalah gizi kurang, gizi lebih dan
kekurangan zat gizi mikro antara lain Anemia Gizi Besi (AGB).
c) Pemeriksaan Kebersihan Diri
Kebersihan diri adalah penampilan diri dalam hal ini rambut, kulit dan
kuku yang bersih yang mencerminkan kesehatan. Peserta didik yang
mengalami kelainan/ penyakit dari kebersihan rambut, kulit dan kuku dapat
mengganggu kenyamanan/ kelancaran proses belajar peserta didik. Rambut,
kulit dan kuku yang tidak dijaga kebersihannya dapat menimbulkan kutu
rambut, dermatitis, jamur, yang menimbulkan gejala gatal dan dapat menular
ke peserta didik lainnya sehingga akan mengganggu proses belajar-mengajar.

Melalui kebersihan diri dapat menghindarkan diri dari penyakit diare,


infeksi saluran pernapasan, pneumonia (radang paru), infeksi cacing, infeksi
mata dan penyakit kulit. Salah satu cara sederhana yang dapat dilakukan
adalah cuci tangan pakai sabun (setelah bermain/beraktivitas, sebelum makan
dan sesudah makan dan setelah buang air besar/kecil), mandi sehari 2 kali
dengan sabun mandi dan cuci rambut minimal 2 kali seminggu. Pemeriksaan
kebersihan diri bertujuan untuk mendeteksi kelainan/ penyakit dari kebersihan
rambut, kulit dan kuku serta mengetahui cara menjaga kebersihan diri meliputi

18
rambut, kulit dan kuku yang dilakukan pada peserta didik SD/MI, SMP/MTs,
SMA/SMK/MA dan sederajat.2
d) Pemeriksaan Kesehatan Indera Penglihatan
Pemeriksaan kesehatan indera penglihatan dilakukan melalui pemeriksaan
mata luar, tajam penglihatan dan pemeriksaan buta warna. Peserta didik yang
mengalami gangguan tajam penglihatan atau radang mata dapat menimbulkan
keluhan sakit kepala, kesulitan membaca sehingga mengganggu proses belajar
mengajar. Radang Mata dapat ditularkan ke peserta didik lain. Pemeriksaan
kesehatan indera penglihatan dapat dilakukan pada peserta didik SD/MI,
SMP/MTs, SMA/SMK/MA dan sederajat.
Pemeriksaan kesehatan indera penglihatan bertujuan untuk mendeteksi
adanya penyakit pada mata, gangguan penglihatan seperti kelainan
refraksi/gangguan tajam penglihatan dan buta warna pada peserta didik serta
menindaklanjuti hasil pemeriksaan (bila terdapat ada kelainan).
e) Pemeriksaan Kesehatan Indera Pendengaran
Pemeriksaan telinga dilakukan melalui pemeriksaan telinga luar dan
fungsi pendengaran dengan tes berbisik dan tes penala.. Peserta didik yang
mengalami gangguan pendengaran mengakibatkan gangguan bicara yang
berdampak pada gangguan komunikasi, emosional, hubungan sosial dan juga
mempengaruhi nilai akademik/ prestasi belajar. Pemeriksaan telinga dapat
dilakukan pada peserta didik SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA dan
sederajat.1
Tujuan: Mendeteksi adanya gangguan fungsi pendengaran pada peserta
didik serta menindaklanjuti hasil pemeriksaan (bila terdapat ada kelainan).

f) Pemeriksaan Pemakaian Alat Bantu


Pemeriksaan pemakaian alat bantu yang dilaksanakan di sekolah
dilakukan kepada peserta didik dengan disabilitas yang meliputi pemeriksaan
penggunaan alat bantu penglihatan, pendengaran, tongkat/kurk, kursi roda,
kaki/tangan/mata prostesa. Peserta didik dengan disabilitas yang
menggunakan alat bantu yang sesuai dengan disabiltasnya akan membantu

19
aktifitas dan proses belajar serta meningkatkan kemandirian peserta didik.
Pemeriksaan pemakaian alat bantu dapat dilakukan pada peserta didik di
sekolah inklusi dan Sekolah Luar Biasa (SLB).1,2
g) Pemeriksaan Kebugaran Jasmani
Kebugaran jasmani adalah kemampuan tubuh seseorang untuk
melakukan kegiatan sehari-hari secara efektif dan efisien dalam jangka waktu
relatif lama tanpa menimbulkan kelelahan yang berlebihan. Kebugaran
jasmani tidak sama dengan kesehatan. Peserta didik yang sehat belum tentu
bugar, tetapi anak yang bugar pasti sehat. Peserta didik yang bugar tidak
mudah lelah, sehingga dapat mengerjakan tugas atau pekerjaan di sekolah
lebih lama dan lebih baik. Makin tinggi tingkat kebugaran jasmani peserta
didik, makin baik kemampuan fisik yang dapat mendukung prestasi
belajarnya. Peserta didik yang bugar setelah pulang dari sekolah masih mampu
melakukan kegiatan lain seperti bermain, bersosialisasi dengan teman sebaya,
menambah keterampilan mengikuti kursus-kursus tambahan dan kegiatan lain
sesuai kesenangannya tanpa merasa kelelahan yang berlebihan. Peserta didik
yang kekurangan aktivitas fisik berisiko obesitas, pendek, penyakit
kardiovaskuler dan metabolik. Pemeriksaan kebugaran jasmani dapat
dilakukan pada peserta didik SD/MI (kelas4-6), SMP/MTs, SMA/SMK/MA
dan sederajat.1 Tujuan :
− Mengetahui tingkat kebugaran jasmani peserta didik.
− Meningkatkan kebugaran jasmani peserta didik dengan menyusun latihan
fisik terprogram sesuai dengan hasil pengukuran kebugaran jasmani.
− Memotivasi peserta didik untuk meningkatkan aktivitas fisik, latihan
fisik, dan olahraga.

2.3.4 Sasaran Penjaringan Kesehatan Dan Pemeriksaan Berkala


Sasaran kegiatan penjaringan kesehatan adalah seluruh peserta didik baru pada
tahun ajaran baru kelas 1, 7 dan 10 di sekolah/madrasah, baik negeri atau swasta
termasuk Sekolah Luar Biasa (SLB). Sasaran kegiatan pemeriksaan berkala adalah
peserta didik selain kelas 1, 7 dan 10 (kelas 2-6 di SD/MI, kelas 8 dan 9 di SMP/MTs

20
serta kelas 11 dan 12 di SMA/SMK/MA) termasuk Sekolah Luar Biasa (SLB).1,4

2.3.5 Tempat dan Waktu Pelaksanaan


Tempat penjaringan kesehatan/ pemeriksaan berkala dilaksanakan di sekolah.
Pelaksanaan di luar sekolah adalah di Puskesmas, yang mungkin dilakukan bila
disepakati dengan sekolah untuk peserta didik yang tidak hadir pada waktu
pelaksanaan penjaringan kesehatan/ pemeriksaan berkala di sekolah. Waktu
pelaksanaan penjaringan kesehatan yang terbaik adalah pada tahun ajaran baru yaitu
antara bulan Juli sampai Desember, tetapi dalam menghadapi keterbatasan tenaga
kesehatan di puskesmas maka diberikan kesempatan sepanjang satu tahun ajaran
untuk menjangkau seluruh SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA.1
Tahun ajaran dalam pelaksanaan penjaringan kesehatan yang dimaksud yaitu dapat
dilakukan sepanjang satu tahun ajaran (Juli sampai dengan Juni)1 :
− Bulan Juli sampai dengan Desember untuk peserta didik baru kelas 1, 7, dan
10
− Bulan Januari sampai dengan Juni untuk peserta didik baru kelas 1, 7, dan 10
yang belum dilakukan penjaringan pada tahun sebelumnya.
Pemeriksaan berkala dilakukan 1 kali dalam setahun bagi peserta didik, yang
waktu pelaksanaannya dapat dilakukan sepanjang satu tahun ajaran (Juli sampai
dengan Juni).

2.3.6 Sarana dan Prasarana


Sebelum melaksanakan penjaringan kesehatan dan pemeriksaan berkala perlu
didukung dengan sarana dan prasarana seperti yang dapat digambarkan pada tabel
berikut1 :

Tabel 2.1 Sarana dan Prasarana Penjaringan dan Pemeriksaan Kesehatan


Sarana Fungsi
Ruangan, meja dan kursi untuk
Tempat pemeriksaan
pemeriksaan

21
Formulir lembar persetujuan Bukti persetujuan pemeriksaan
Dokumentasi riwayat kesehatan,
Kuesioner status imunisasi, kesehatan mental,
intelegensia, perilaku berisiko
Formulir Pencatatan Hasil Penjaringan/
Dokumentasi hasil pemeriksaan untuk
pemeriksaan berkala/ Buku rapor
peserta didik
kesehatanku
Formulir rekapitulasi hasil penjaringan Dokumentasi hasil pemeriksaan untuk
kesehatan untuk Puskesmas puskesmas
Formulir Pelaporan Penjaringan Dokumentasi hasil kegiatan
Kesehatan dari Puskesmas ke Dinas penjaringan kesehatan yang dilakukan
Kesehatan Kab/Kota oleh Puskesmas
Formulir Rujukan Surat pengantar rujukan peserta didik
Form umpan balik hasil penjaringan Dokumentasi hasil pemeriksaan untuk
kesehatan untuk sekolah sekolah
Pemeriksaan status gizi, tanda
UKS dan UKGS Kit vital,penglihatan, pendengaran, gigi,
mulut
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No 75 Tahun 2014 tentang
Puskesmas, daftar peralatan untuk kegiatan luar gedung (UKS dan UKGS), sebagai
berikut3:
Tabel 2.2 Daftar UKS Kit
Sarana Fungsi
Timbangan dewasa Pemeriksaan berat badan
Pengukur tinggi badan Pemeriksaan tinggi badan
Tabel Indeks Massa Tubuh Pemeriksaan status gizi
Stetoskop Pemeriksaan Auskultasi Jantung
Paru
Sphygmomanometer dengan manset Pemeriksaan Tekanan darah
anak dan dewasa

22
Thermometer klinis Pemeriksaan Suhu Tubuh
Timer Pemeriksaan frekuensi napas dan
denyut nadi
Garpu Tala 512 HZ/ 1024 HZ / 2084 Pemeriksaan Tajam Pendengaran
HZ
Pengait serumen Tindakan membersihkan serumen
Speculum hidung (Lempert) Pemeriksaan Rongga Hidung
Speculum telinga dengan ukuran kecil, Pemeriksaan Liang Telinga
sedang, besar
Sudip lidah, logam panjang 12 cm Pemeriksaan Tenggorok
Snellen, alat untuk pemeriksaan visus Pemeriksaan Tajam Penglihatan
Tes buta warna (ISHIHARA) Pemeriksaan Buta Warna
Pinhole Pemeriksaan Refraksi
Tas Kanvas tempat kit Tempat Kit

Tabel 2.3. Daftar UKGS Kit


Sarana Fungsi
Alat
Kaca Mulut + Tangkai Kaca Mulut Pemeriksaan Gigi
Sonde Lengkung Pemeriksaan Gigi
Ekskavator berujung dua Pemeriksaan Gigi
Pinset Gigi Pemeriksaan Gigi
Perlengkapan
Head lamp / Senter Pemeriksaan Gigi
Baki Logam tempat alat steril Pemeriksaan Gigi
tertutup
Toples pembuangan kapas Pemeriksaan Gigi
Baskom tempat cairan steril Pemeriksaan Gigi
Handuk Pemeriksaan Gigi
Tas alat tempat KIT Pemeriksaan Gigi

23
Bahan Habis Pakai
Kapas Pemeriksaan Gigi
Masker Pemeriksaan Gigi
Sarung tangan Pemeriksaan Gigi
Cairan disinfekta (Klorin 0,5%) Pemeriksaan Gigi
Sabun tangan atau antiseptic Pemeriksaan Gigi

1.. Alur Persiapan dan Pelaksanaan


Dalam melakukan penjaringan kesehatan dan pemeriksaan berkala
diperlukan persiapan dan dilanjutkan dengan tahapan proses pelaksanaan
penjaringan kesehatan dan pemeriksaan berkala. Persiapan penjaringan dapat
dilakukan minimal satu minggu sebelum pelaksanaan Penjaringan dan
Pemeriksaan Berkala. Berikut digambarkan dalam gambar alur dibawah ini1:

Gambar 2.1 Alur Penjaringan Kesehatan dan Pemeriksaan Berkala1

24
BAB 3

ANALISIS SITUASI

3.1 Gambaran Umum Puskesmas Lubuk Begalung


3.1.1 Kondisi Geografis
Puskesmas Lubuk Begalung terletak di kelurahan Parak Laweh Pulau Aia
dalam wilayah Kecamatan Lubuk Begalung. Wilayah kerja Puskesmas Lubuk
Begalung meliputi 10 kelurahan, dari 15 kelurahan di Kecamatan Lubuk Begalung,
dengan luas 12 Ha yang terdiri dari dataran rendah dan persawahan. Batas-batas
wilayah kerja Puskesmas Lubuk Begalung adalah: 7
- Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Padang Timur
- Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Lubuk Kilangan
- Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Padang Selatan
- Sebelah Selatan berbatasan dengan wilayah Puskesmas
Pegambiran
Sepuluh kelurahan yang menjadi wilayah kerja Puskesmas Lubuk Begalung
adalah sebagai berikut: 7
a. Kelurahan Parak Laweh-Pulau Aie
b. Kelurahan Banuaran
c. Kelurahan Koto Baru
d. Kelurahan Tanjung Aur
e. Kelurahan Gurun Laweh
f. Kelurahan Lubuk Begalung
g. Kelurahan Tanjung Saba Pitameh
h. Kelurahan Piai Tanah Sirah
i. Kelurahan Cengkeh
j. Kelurahan Kampung Baru

25
Gambar 3.1 Peta Wilayah Kerja Puskesmas Lubuk Begalung7

Dengan wilayah yang sebagian besar dataran rendah dan prasarana jalan yang
memadai, Puskesmas Lubuk Begalung mudah dicapai dari semua kelurahan dalam
wilayah kerja Puskesmas Lubuk Begalung atau sebaliknya, menggunakan sarana
transportasi kendaraan roda dua atau roda empat.7

3.1.2 Kondisi Demografis

Penduduk di wilayah kerja Puskesmas Lubuk Begalung pada tahun 2019


berjumlah 67.899 orang, terdiri dari penduduk asli dan pendatang. Tabel 3.1
menggambarkan distribusi jumlah penduduk tahun 2019 di wilayah kerja Puskesmas
Lubuk Begalung berdasarkan kelompok sasaran.

Tabel 3.1 Distribusi Penduduk Berdasarkan Sasaran Program Puskesmas


Lubuk Begalung Tahun 2019
Lansia
Anak WUS
Pendudu Bumi Busui/ (60+)
NO Kelurahan Bayi Balit Balita Bumil Bulin
k l Bufas 15-39 15-49
a
Resti th th
Parak
1 Laweh 10159 193 695 887 207 41 200 200 2318 2967 733
Pulau Aia
2 Banuaran 9912 187 667 854 207 41 200 200 2254 2889 714

26
Koto
3 8363 150 572 720 165 33 158 158 1918 2458 602
Baru
Tanjung
4 2072 33 127 159 36 7 34 34 467 598 149
Aur
Gurun
5 7255 114 509 621 122 24 117 117 1657 2121 524
Laweh
Lubuk
6 7086 116 493 607 122 24 115 115 1612 2063 510
Begalung
Tanjung
7 Saba- 6120 112 408 518 120 24 113 113 1404 1797 442
Pitameh
Piai-
8 Tanah 6173 110 418 524 123 25 116 116 1437 1840 446
Sirah
9 Cangkeh 4909 81 330 409 88 18 85 85 1120 1434 353
Kampung
10 5850 105 394 497 109 22 102 102 1214 1555 419
Baru
JUMLAH 67899 1201 4644 5796 1299 260 1240 1240 15401 19722 4892

Dari tabel diatas terlihat bahwa kelurahan Parak Laweh Pulau Aia memiliki
penduduk terbanyak yaitu 10.159 penduduk. Tabel 3.2 memperlihatkan distribusi
kepesertaan BPJS dari bulan Januari sampai bulan Desember Tahun 2019.

Tabel 3.1 Kepesertaan BPJS Kesehatan Puskesmas Lubuk Begalung Tahun


2019
NO BULAN KAPITAS BPJS (PNS, KIS APBD JUMLAH
I TNI Polri)

1 JANUARI 25.188 6.280 11.434 6.280 23994

2 FEBRUARI 25.086 6.280 11.434 6.280 23994

3 MARET 24.941 6.280 11.434 6.280 23994

4 APRIL 24.934 6.280 11.434 6.280 23994

5 MEI 24.891 6.280 11.434 6.280 23994

6 JUNI 24.821 6.280 11.434 6.280 23994

7 JULI 24.765 6.280 11.434 6.280 23994

8 AGUSTUS 24.938 6.280 11.434 6.280 23994

9 SEPTEMBER 24.542 6.280 11.434 6.280 23994

27
10 OKTOBER 24.381 6.280 11.434 6.280 23994

11 NOVEMBER 25.083 6.280 11.434 6.280 23994

12 DESEMBER 25.170 6.280 11.434 6.280 23994

Kapitasi Puskesmas lubuk begalung pada bulan Desember tahun 2019 adalah
25.170 jiwa, kepesertaan terbanyak adalah peserta Jamkesmas diikuti oleh peserta KIS
sebesar 11.434.

3.1.3 Sarana dan Prasarana


Sarana dan Prasarana Umum, terdiri dari:
1. Sarana ibadah ; mesjid dan mushalla.
2. Sarana-sarana lingkungan; Perumahan, Tempat-Tempat Umum (TTU),
Tempat Pengolahan Makanan (TPM), Pabrik Karet, Garam, Industri Mebel
Rotan, Sarana Air Bersih (SAB) dan Sarana Pembuangan Air Limbah (SPAL).
3. Sarana pendidikan; dari TK hingga PT, Madrasah Ibtidaiyah, SLB, Panti
Asuhan dan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini).
4. Sarana pelayanan kesehatan terdiri dari sarana kesehatan milik pemerintah,
UKBM dan swasta. Sarana kesehatan pemerintah selain Puskesmas Lubuk
Begalung juga terdapat 3 Puskesmas Pembantu yaitu Pustu Koto Baru, Pustu
Kampung Baru dan Pustu Banuaran. Sedangkan UKBM berupa Posyandu
berjumlah 65 dan 3 Pos Kesehatan Kelurahan di Tanjung Aur dan
Cengkeh,Gurun Laweh. Untuk sarana pelayanan kesehatan swasta antara lain
adalah :
5. Bidan Praktek Swasta (BPS) : 19
6. Praktek Dokter Swasta :9
7. Praktek Dokter Gigi :0
8. Klinik Pratama :1
9. Praktek Pengobatan Tradisional : 25
10. Apotik :4

28
3.2 Data Jumlah Fasilitas Pendidikan di Wilayah Kerja Puskesmas Lubuk
Begalung

Wilayah kerja Puskesmas Lubuk Begalung memiliki sarana pendidikan dari


berbagai jenjang, mulai dari pendidikan usia dini, pendidikan dasar, pendidikan
lanjutan hingga perguruan tinggi yang tersebar di sepuluh kelurahan. Semua murid
dan siswa di semua sarana pendidikan dasar dan lanjutan adalah sasaran pelayanan
kesehatan Puskesmas Lubuk Begalung, melalui program UKS, UKGS, KIA- Anak
dan Imunisasi. Sedangkan mahasiswa di universitas yang ada menjadi sasaran untuk
kegiatan Skrining Penyakit Tidak Menular (PTM). Data sarana pendidikan tahun 2019
secara rinci dapat dilihat pada tabel berikut.7
Tabel 3.3 Distribusi Sarana Pendidikan di Wilayah Kerja Puskesmas Lubuk
Begalung Tahun 20197

N SMP/ SLTA PT SLB


KELURAHAN PAUD TK SD
O MTsN SMU/MI SMK/STM

1 Parak Laweh Pulau Aia 1 3 4 2 0 0 0 0


2 Banuaran 2 3 2 1 0 0 0 0
3 Koto Baru 1 1 1 0 0 0 0 0
4 Tanjung Aua 1 0 1 0 0 0 0 0
5 Gurun Laweh 2 1 2 0 0 0 0 0
6 Lubuk Begalung 2 3 3 2 0 3 1 0
7 Pitameh-Tj Saba 1 3 2 0 0 0 0 0
8 Piai-Tanah Sirah 1 2 3 0 0 0 0 1
9 Cangkeh 1 1 2 1 3 1 0 0
10 Kampung Baru 2 1 2 0 0 0 0 0
PUSKESMAS LUBEG 14 18 22 6 3 4 1 1

Tabel 3.3 menggambarkan sarana pendidikan yang ada di Kecamatan Lubuk


Begalung wilayah kerja Puskesmas Lubuk begalung tahun 2019. Terdiri dari 14
Paud, 18 TK, 22 SD, 6 SMP/MTSN, 3 SMA/MI, SMK 4, PT 1, dan SLB 1.

3.3 Laporan Hasil Penjaringan Kesehatan Anak Sekolah di Wilayah


KerjaPuskesmas Lubuk BegalungTahun Ajaran 2019/2020
Penjaringan kesehatan anak sekolah mengarah pada peserta didik kelas I SD,

29
kelas VII SMP, dan X SMA. Berikut hasil laporan dari penjaringan kesehatan anak
sekolah yang dilakukan pada Juli, Agustus, September 2019 di wilayah kerja
Puskesmas Lubuk Begalung.7
Tabel 3.4 Cakupan Program UKS Tahun 2019

Target
Sasaran Kumulatif %
NO KEGIATAN Satuan
Populasi Cakupan Cakupan
%

Skrining
1 /DDTK
SD Sekolah 22 100 22 100
Jml murid
Kls I
yang 97,9%
diperiksa Siswa 827 100 810
SMP Sekolah 6 100 6 100
Jml siswa kls
I
yang 1148 97,7%
diperiksa Siswa 1175 100
SMA Sekolah 7 100 7 100
Jml siswa kls
I
yang 97,8%
diperiksa Siswa 1831 100 1792

Penjaringan yang dilakukan kepada anak usia sekolah berupa penilaian status
gizi, resiko gaya hidup, karies, dan gangguan lihat. Berikut gambar permasalahan
skrinning yang ditemukan dalam pemeriksaan kesehatan anak usia sekolah.

30
PERMASALAHAN KESEHATAN DALAM
SKRINNING
Sangat Kurus Kurus Normal
Gemuk Obesitas Stunting

624

126 145
85
45 33 37
23 17 3

SD

Gambar 3.2 Permasalahan Kesehatan Dalam Skrinning Siswa SD

PERMASALAHAN KESEHATAN
DALAM SKRINNING
Sangat Kurus Kurus Normal
Gemuk Obesitas Stunting
Karies Gangguan Lihat Buta Warna

921

258
101 153 212
14 56 56 41 37 8

SMP/MTSN

Gambar 3.3 Permasalahan Kesehatan Dalam Skrinning Siswa SMP/MTSN

31
PERMASALAHAN KESEHATAN
DALAM SKRINNING
Sangat Kurus Kurus Normal
Gemuk Obesitas Stunting
Karies Gangguan Lihat Buta Warna

1443

132 63 204 176 131


37 117 20 73 9

SMA

Gambar 3.4 Permasalahan Kesehatan Dalam Skrinning Siswa SMA

Pada gambar di atas dapat disimpulkan bahwa secara umum tingkat kesehatan
anak sekolah baik jenjang SD, SMP, sampai dengan SMA sudah cukup baik.
Berdasarkan penilaian status gizi, permasalahan yang perlu diintervensi berupa gizi
kurang pada siswa SD (10,$%) gizi berlebih pada SMP dan SMA. Permasalahan
tertinggi yang dialami masing-masing strata yaitu serumen pada anak SD (17,9%),
karies pada anak SMP ( 22,4%), dan SMA ( 11,3%) di wilayah kerja Puskesmas Lubuk
Begalung, serta permasalahan lain berupa resiko gaya hidup yang cukup tinggi dialami
tiap jenjang sekolah. Pada pemeriksaan tajam penglihatan menunjukkan dominan
mengalami kelainan refraksi pada anak SMA. Untuk pemeriksaan telinga didapatkan
siswa yang banyak ditemukan serumen pada anak SD.

3.4 Laporan Hasil Pemeriksaan berkala pada Anak Sekolah di Wilayah Kerja
Puskesmas Lubuk Begalung Tahun Ajaran 2019/2020
Pemeriksaan kesehatan berkala pada anak sekolah mengarah pada peserta didik

32
kelas II SD, kelas VIII SMP, dan XI SMA. Berikut hasil laporan dari pemeriksaan
kesehatan berkala pada anak sekolah yang dilakukan pada Januari, Februari, Maret,
April 2019 di wilayah kerja Puskesmas Lubuk Begalung.8
Tabel 3.5 Cakupan Program Pemeriksaan Kesehatan Berkala UKS Tahun
Ajaran 2019/2020
Target
Sasaran Kumulatif %
NO KEGIATAN Satuan
Populasi Cakupan Cakupan
%
1 SD Sekolah 22 100 51 100
Siswa 4032 100 3980 98,7%
Pemeriksaan kesehatan berkala yang dilakukan kepada anak usia sekolah berupa
penilaian status gizi, resiko gaya hidup, karies, dan gangguan lihat. Berikut gambar
permasalahan kesehatan berkala yang ditemukan dalam pemeriksaan kesehatan anak
usia sekolah.

PEMERIKSAAN KESEHATAN
BERKALA SD
2994

859
112 293 341 186 15 41 9

PERMASALAHAN KESEHATAN
Sangat Kurus Kurus Normal
Gemuk Obesitas Stunting
Karies Gangguan Lihat Buta Warna

Gambar 3.4 Permasalahan Kesehatan Dalam Skrinning Siswa SD

Pada gambar di atas dapat disimpulkan bahwa secara umum tingkat


kesehatan anak sekolah jenjang SD sudah cukup baik. Berdasarkan penilaian status
gizi, permasalahan yang perlu diintervensi berupa gizi berlebih pada siswa SD (8,6%).

33
Permasalahan tertinggi yang dialami siswa SD yaitu karies (21,5%) di wilayah kerja
Puskesmas Lubuk Begalung.

34
BAB 4

PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Pelaksanaan Program Pemeriksaan Kesehatan Berkala
Anak Sekolah di Wilayah Kerja Puskesmas Lubuk Begalung
Usaha Kesehatan Sekolah adalah wahana belajar mengajar untuk
meningkatkan kemampuan hidup sehat sehingga meningkatkan pertumbuhan dan
perkembangan peserta didik yang harmonis dan optimal, agar menjadi sumber daya
manusia yang berkualitas. UKS menjadi salah satu upaya kesehatan pengembangan
puskesmas dengan kegiatan pokoknya dilaksanakan melalui Trias UKS, yaitu
pendidikan kesehatan, pelayanan kesehatan, dan pembinaan lingkungan sekolah
sehat. Pemeriksaan kesehatan berkala merupakan salah satu program yang termasuk
dalam pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan UKS terhadap peserta didik
meliputi upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Pemeriksaan kesehatan
berkala dan penjaringan kesehatan merupakan kegiatan yang menitikberatkan pada
upaya preventif.
Program UKS dalam upaya preventif yang sudah dijalankan oleh Puskesmas
Lubuk Begalung pada Tahun 2019 yakni skrining atau penjaringan kesehatan pada
anak sekolah di wilayah kerja Puskesmas Lubuk Begalung. Penjaringan kesehatan
telah dilakukan di 35 sekolah yang terdiri dari 22 SD, 6 SMP/MTs, 7 SMA/SMK.
Kegiatan yang dilaksanakan oleh program UKS meliputi pembinaan melalui
kunjungan ke sekolah dengan frekuensi rata-rata 2-4 kali dalam satu tahun.
Kegiatannya berupa skrining kesehatan ke semua jenjang sekolah, pembinaan dokter
kecil, pembinaan dan pembentukan PKPR, pembinaan sekolah sehat, pembinaan
UKS ke sekolah dan pembinaan panti asuhan.
Prestasi yang telah didapat untuk tahun 2016 s/d 2019 adalah juara 2 sekolah
sehat tingkat provinsi Sumatera Barat yang diwakili oleh TK Rahma Abadi pada tahun
2018. Strata UKS Puskesmas Lubuk Beggalung masih ditingkat minimal hingga
optimal belum ada yang mencapai paripurna dengan rincian untuk TK (minimal 7,
standar 10, Optimal 1), SD (minimal 2, standar 18, Optimal 2), SMP (minimal 1,
standar 3, Optimal 2), SMA (minimal 1, standar 4, Optimal 2)dan SLB (minimal 1)

35
4.2 Permasalahan dalam Pelaksanaan Program Pemeriksaan Kesehatan
Berkala Anak Sekolah di Wilayah Kerja Puskesmas Lubuk Begalung

Pemeriksaan kesehatan berkala yang menjadi salah satu upaya kesehatan


puskesmas pada ruang lingkup sekolah sudah pernah dilakukan oleh Puskesmas
Lubuk Begalung sebelumnya. Pemeriksaan kesehatan ini dilakukan sekali setahun
setelah dilakukannya penjaringan kesehatan pada awal tahun ajaran baru di tiap
jenjang sekolah. Beberapa kendala seperti tenaga kesahatan yang kurang,
ketidakhadiran siswa, manfaat dari pemeriksaan Kesehatan yang belum begitu
dipahami oleh siswa dan guru disekolah, kurangnya pelatihan dan kegiatan monitoring
dari pihak puskesmas, kurangnya sarana di sekolah mendasari belum baiknya
terlaksananya program ini. Selain itu pencapaian screening Kesehatan yang belum
mencapai target memiliki permasalahan berupa kurangnya pemahaman pihak sekolah
maupun tenaga Kesehatan mengenai metode screening yang dilakukan.selain itu
didukung oleh kurangnya tenaga Kesehatan yang melakukan program tersebut.
Program kegiatan UKS tentang pelayanan kesehatan di beberapa sekolah
kegiatannya masih belum terlaksana optimal dikarenakan keterbatasan sarana UKS
serta pengelolaan yang belum berjalan maksimal, artinya UKS belum dimanfaatkan
dengan baik, selama ini UKS hanya difungsikan jika ada siswa yang sakit (kuratif),
belum dimanfaatkan untuk kegiatan kesehatan yang rutin dalam bentuk promotif dan
preventif. Beberapa hal tersebut yang membuat keterlaksanaan pemeriksaan kesehatan
belum maksimal.

Penjaringan kesehatan pada anak sekolah di wilayah Lubuk Begalung mulai


dilaksanakan sejak bulan Juli - September 2019 dengan sasaran kelas I SD, kelas VII
SMP, kelas X SMA. Penjaringan ini meliputi pengisian kuesioner oleh peserta
didik/orangtua/wali peserta didik dan dilanjutkan beberapa pemeriksaan berupa
pemeriksaan status gizi, pemeriksaan gigi dan mulut, pemeriksaan refraksi, serta
pemeriksaan telinga telah dilaksanakan di 35 sekolah di wilayah Lubuk Begalung.

36
Pemeriksaan kesehatan berkala yang dilakukan Puskesmas Lubuk Begalung
pada bulan Februari – April 2019 dengan sasaran kelas II SD, VIII SMP dan kelas XI
SMA meliputi pemeriksaan tinggi badan, berat badan, penilaian status gizi, kebersihan
diri (kuku), mata/penglihatan, gigi dan mulut serta telinga pada peserta didik/siswa
yang telah dilakukan penjaringan kesehatan sebelumnya. Namun, pemeriksaan
berkala tersebut belum sepenuhnya sesuai dengan petunjuk teknis yang dikeluarkan
oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2015 seperti tidak
dilakukannya pemeriksaan tanda vital, pemeriksaan rambut, pemeriksaan kulit,
pemeriksaan mata luar, pemeriksaan fungsi pendengaran, tidak adanya pengisian
diagram gigi, pemeriksaan kebugaran jasmani, pemeriksaan psikis/kesehatan jiwa.
Ketidaksesuaian ini terjadi karena adanya keterbatasan waktu yang diberikan sekolah
untuk pemeriksaan serta keterbatasan sarana UKS yang dimiliki tiap sekolah
sedangkan Puskesmas Lubuk Begalung hanya memiliki 1 kit UKS dan 1 kit UKGS
untuk pemeriksaan kesehatan. Selain itu, kurangnya monitoring dari pihak Puskesmas
Lubuk Begalung terkait siswa/peserta didik yang tidak hadir atau siswa yang perlu
dirujuk ke puskesmas untuk diintervensi ke sekolah yang bersangkutan dalam upaya
meningkatkan kesehatan perorangan.
Pemeriksaan berkala yang belum sesuai petunjuk teknis mungkin berhubungan
dengan adanya kendala yang dihadapi pemegang program dalam melaksanakan
pemeriksaan berkala yaitu kurangnya kerjasama oleh tim pelaksana sesuai petunjuk
teknis yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2015,
yaitu dilaksanakan oleh tim pelaksana UKS yang terdiri dari kepala sekolah/madrasah,
guru pembina UKS/pembina UKS, ketua komite sekolah/madrasah, komite
sekolah/madrasah, petugas UKS puskesmas, guru dan siswa. Pemeriksaan berkala
sebagian besar hanya dilaksanakan oleh petugas UKS puskesmas tanpa bantuan dari
tim pelaksana UKS yang lain.
Solusi yang dapat diberikan untuk meningkatkan kerjasama tim pelaksana
adalah melakukan koordinasi antara pihak sekolah dan pihak puskesmas untuk
mengidentifikasi kegiatan dan pembagian tugas serta tanggung jawab seperti yang
tercantum pada petunjuk teknis yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan

37
Republik Indonesia tahun 2015. Solusi dalam kurangnya monitoring/follow up dari
pihak Puskesmas Lubuk Begalung dapat dilakukan dengan menentukan penanggung
jawab dari pihak puskesmas untuk tiap sekolah dalam monitoring tiap bulannya atas
optimal/tidaknya keberlangsungan program UKS dan diberlakukannya punishment
dan/atau reward dari pimpinan puskesmas kepada tiap penanggung jawab dalam
memonitoringnya sehingga diharapkan program UKS tiap sekolah dapat berjalan
merata dan maksimal. Dalam hal keterbatasan sarana UKS di beberapa sekolah dapat
ditingkatkan melalui kerjasama dengan Dinas Pendidikan maupun Dinas Kesehatan
Provinsi dalam mengupayakan peningkatan sarana UKS di sekolah sehingga
diharapkan pengelolaan UKS berjalan optimal dalam hal promotif, preventif dan
kuratif.

38
BAB 5

PENUTUP

5.1. Kesimpulan
• Penjaringan kesehatan telah dilakukan oleh Puskesmas Lubuk Begalung di 35
sekolah yang terdiri dari 22 SD, 6 SMP/MTs, 7 SMA/SMK pada bulan Juli –
September 2019. Pemeriksaan kesehatan berkala pada anak sekolah dengan
frekuensi sekali setahun dilakukan pada bulan Januari – April 2019.
• Pemeriksaan kesehatan berkala yang sudah dilakukan masih belum sesuai
dengan petunjuk teknis dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Masalah yang ditemukan pada pemeriksaan kesehatan berkala anak sekolah di
Puskesmas Lubuk Begalung adalah kurangnya tenaga Kesehatan, adanya
ketidakhadiran siswa, kurangnya pelatihan dan monitoring dari pihak
Puskesmas Lubuk Begalung di tiap sekolah, keterbatasan sarana UKS dan
belum optimal pengelolaannya di beberapa sekolah, belum baiknya manajemen
waktu kerja dan belum adanya kerjasama antar tim pelaksana UKS secara baik
dalam pelaksanaan program.

5.2. Saran
• Terbentuknya koordinasi yang baik antara kepala puskesmas sebagai pembina
UKS dan kepala sekolah sebagai ketua tim pelaksana UKS dalam
menindaklanjuti kinerja tim pelaksana UKS yang belum optimal. Jika dirasakan
perlu, kepala puskesmas dapat melakukan advokasi kepada Kepala Dinas
Pendidikan dan Kebudayaan Tingkat Kecamatan untuk membuat kebijakan
mengenai pelaksanaan pemeriksaan kesehatan berkala di tingkat sekolah.
• Penentuan penanggung jawab dari pihak puskesmas untuk masing-masing
sekolah dalam monitoring tiap bulannya atas keberlangsungan
optimal/tidaknya program UKS dan sehingga diharapkan program UKS tiap
sekolah dapat berjalan merata dan maksimal.

39
DAFTAR PUSTAKA

1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Petunjuk teknis penjaringan


kesehatan dan pemeriksaan berkala di satuan dasar dan menengah. Jakarta:
Departemen Kesehatan Republik Indonesia; 2015.
2. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan Republik
Indonesia. Riset kesehatan dasar. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan Departemen Kesehatan Republik Indonesia; 2018.
3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 2014 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat.
Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia; 2014.
4. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pedoman pelaksanaan UKS di sekolah.
Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI; 2014.
5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Keputusan Menteri Kesehatan nomor
828/MENKES/SK/IX/2008 tentang Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Minimal
Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota; 2008.
6. Ahmad Selvia. Usaha kesehatan sekolah. Sidoarjo: Masmedia Buana Pustaka;
2009.
7. Puskesmas Lubuk Begalung. Laporan tahunan Puskesmas Lubuk Begalung tahun
2019. Padang: Puskesmas Lubuk Begalung; 2019.
8. Puskesmas Lubuk Begalung. Laporan tahunan UKS Puskesmas Lubuk Begalung
tahun 2019. Padang: Puskesmas Lubuk Begalung; 2019.

40