Anda di halaman 1dari 20

Contoh Kasus

Seorang pria umur 45 tahun BB 105, TB 180 cm datang ke klinik mengeluh rasa terbakar
di dada, regurgitasi dan susah menelan makanan. Saat ini mengkonsumsi omeprazole 20 mg
setiap pagi dalam satu bulan terakhir tanpa perbaikan. Riwayat alergi ramipril dengan
manifestasi susah bernapas dan bibir bengkak.
Riwayat penyakit dyslipidemia, DM tipe 2 dan hipertensi sudah 20 tahun yang
seluruhnya terkontrol oleh pengobatan. Bekerja sebagai satpam di sekolah dasar dan hidup
dengan istri dan seorang putrinya yang masih remaja. Dia juga perokok sebanyak 2 setengah
bungkus per hari.
Riwayat pengobatan metformin 500 mg dua kali/hari, HCT 12,5 mg/hari, amlodipine 10
mg/hari, atorvastatin 20 mg/hari saat mau tidur.
Hasil pemeriksaan fisik, VS; TD 125/72 mmHg, Nadi 82/menit, Pernapasan 16kali/menit, Suhu
370C.
Pertanyaan:
1. Apa simtom yang menunjukkan GERD dan termasuk dalam klasifikasi apa GERD pasien?
2. Apa faktor risiko yang dapat memperburuk/berkontribusi terhadap kondisi GERD pasien?
3. Bagaimana terapi non farmakologi dan farmakologi pada pasien? Apakah omeprazole tetap
akan digunakan atau tidak?

Penyelesaian :
a. Identifikasi Pasien
Berdasarkan kasus diatas, pasien dapat diidentifikasi sebagai berikut:
Jenis kelamin: Pria
Umur: 45 tahun
Berat badan: 105 kg
Tinggi badan: 180 cm
b. Identifikasi Masalah
Pasien mengeluh rasa terbakar di dada, regurgitasi dan susah menelan makanan.
c. Riwayat Pasien
1) Riwayat kesehatan
 Menderita penyakit dyslipidemia, DM tipe 2 dan hipertensi sudah 20 tahun yang
seluruhnya terkontrol oleh pengobatan.
 Riwayat alergi ramipril dengan manifestasi susah bernapas dan bibir bengkak.
2) Riwayat sosial
 Bekerja sebagai satpam di sekolah dasar
 Perokok aktif sebanyak 2 setengah bungkus/hari.
3) Riwayat pengobatan
 Saat ini mengkonsumsi omeprazole 20 mg setiap pagi dalam satu bulan terakhir tanpa
perbaikan
 Mengkonsumsi obat DM dan hipertensi yaitu metformin 500 mg dua kali/hari, HCT
12,5 mg/hari, amlodipine 10 mg/hari, atorvastatin 20 mg/hari saat mau tidur.
d. Hasil Pemeriksaan Fisik
 Tekanan darah: 125/72 mmHg (tidak normal, normal 120/80 mmHg)
 Nadi: 82/menit (normal, 60-100/menit)
 Pernapasan: 16 kali/menit (normal, 12-20 kali/menit)
 Suhu tubuh: 370C (normal)
e. Tatalaksaana Terapi
1. Apa simtom yang menunjukkan GERD dan termasuk dalam klasifikasi apa GERD
pasien?
Simtom yang mendasari terjadinya GERD (dengan atau tanpa terjadinya injury
pada jaringan) pada pasien tersebut adalah terjadinya heartburn (rasa terbakar pada dada)
yang digambarkan dengan sensasi subternal seperti rasa panas atau terbakar yang berasal
dari perut naik ke leher. Gejala yang lain adalah regurgitasi atau naiknya makanan dari
kerongkongan atau lambung dan gejala alarm yang menandakan terjadinya komplikasi
adalah disfagia atau sulit menelan.
Berdasarkan algoritma pasien tersebut menunjukkan gejala GERD yang termasuk
dalam klasifikasi GERD Typical symptoms dengan gejala ringan sampai sedang. Untuk
terapi yang dapat diberikan pada pasien yaitu pasien dapat melakukan diet dan merubah
gaya hidup serta mengonsumsi obat golongan PPI (omeprazole), dan dilanjutkan dengan
perawatan/pemeliharaan.
Gambar 1. Algoritma Pengobatan untuk GERD
2. Apa faktor risiko yang dapat memperburuk/berkontribusi terhadap kondisi GERD
pasien?
Pada kasus pasien di atas, faktor resiko penunjang terjadinya GERD yaitu:
a) Usia (45 tahun) dan Mengkonsumsi Obat Hipertensi
Hal ini sesuai dengan literatur yang menyebutkan bahwa secara epidemiologi,
kasus GERD lebih banyak terjadi pada usia yang lebih tua. GERD lebih mudah
didapatkan pada pasien yang berusia lebih tua. Hal tersebut terkait dengan banyak
obat yang sering kali harus dikonsumsi pasien dengan usia lebih tua, seperti obat anti
hipertensi, yang dapat menyebabkan sensasi heartburn.
b) Obesitas
Peningkatan berat badan dan menjadi obesitas sering dialami pasien dengan usia
yang lebih tua, yang merupakan faktor risiko utama untuk terjadinya GERD. Studi ini
dikemukakan oleh Ronkainen, dkk. bahwa semakin tua usia seseorang, lebih
cenderung untuk kehilangan massa otot, terutama bila aktivitasnya sangat sedikit
(jarang berolahraga). Hal ini berakibat pada lambatnya pembakaran kalori di tubuh.
Bila disertai dengan asupan kalori yang banyak, maka peningkatan berat badan akan
terjadi. Pada pasien tersebut berat badannya yaitu 105 kg.
c) Rokok
Pasien tersebut merupakan perokok aktif sebanyak 2 setengah bungkus perhari.
Smit, dkk., mengemukakan bahwa nikotin dapat merelaksasikan cincin otot di
esofagus yang lebih rendah posisinya. Dengan demikian, asam lambung bisa naik ke
atas dan menyebabkan sensasi perasaan dada seperti terbakar (heartburn).
3. Bagaimana terapi non farmakologi dan farmakologi pada pasien? Apakah omeprazole
tetap akan digunakan atau tidak?
a) Tujuan Terapi
Tujuan terapi pada GERD adalah mengurangi atau menghilangkan gejala refluks,
mengurangi kekambuhan atau lama penyakit GERD, mempercepat penyembuhan
mukosa esofagus, serta mencegah komplikasi. Ada dua strategi pengobatan umum
untuk GERD: pendekatan "step-up" dan "step-down". Pendekatan "step up" dimulai
dengan manajemen gaya hidup dan langkah-langkah diet, secara bertahap "step-up"
obat-obatan (termasuk jenis dan dosis) sesuai kebutuhan. Sebaliknya, pendekatan
"step-down" dimulai dengan agen penekan asam poten (yaitu obat gol. PPI) untuk
mencapai pengurangan gejala yang cepat, kemudian secara bertahap berkurang
sampai terapi minimal ditemukan untuk mengelola gejala individu.
b) Strategi Terapi
1) Terapi non farmakologi
Pengobatan non farmakologi GERD yaitu dengan diet dan perubahan gaya
hidup serta dengan pembedahan. Pada pasien di atas, terapi non farmakologi yang
dapat diberikan yaitu diet dan perubahan gaya hidup, seperti menghentikan
merokok, mengurangi makanan dan obat-obatan yang merangsang asam lambung
dan menyebabkan refluks, makan tidak boleh terlalu kenyang dan makan malam
paling lambat 3 jam sebelum tidur.
2) Terapi farmakologi
Menurut (Chisholm-Burns dkk., 2016) rejimen terapi yang dapat dilakukan
adalah dengan modifikasi gaya hidup individual ditambah terapi antasida dan /
atau H2RA atau PPI, tetapi jika gejala tidak hilang dengan modifikasi gaya hidup
dan obat tanpa resep setelah 2 minggu, maka rujuk pasien untuk perhatian medis.
Seperti yang kita ketahui bahwa pasien memiliki gejala gelaja diantaranya terjadi
heartburn, regurgitasi dan disfagia atau susah menelan makanan, gelaja tersebut
mengarah pada esofagitis erosif sehingga penyembuhan esofagitis erosive atau
pengobatan gejala atau komplikasi sedang – parah yaitu dengan modifikasi gaya
hidup individual ditambah PPI kekuatan resep (hingga dua kali sehari) selama 4–
16 minggu (8 minggu direkomendasikan untuk penyembuhan erosif esofagitis).
PPI lebih unggul dari H2RA pada pasien dengan GERD sedang-parah. Hal ini
termasuk untuk pasien yang tidak hanya dengan esofagitis erosive tetapi juga
mereka yang memiliki sindrom esofagus berbasis gejala. PPI harus diberikan
secara empiris kepada pasien dengan masalah Gejala GERD. Jika rejimen sekali
sehari standar tidak menghilangkan gejala, maka terapi empiris dengan dua kali
sehari dosis harus diberikan atau pasien harus diganti menjadi PPI berbeda. Pada
terapi ini digunakan omeprazole 20 mg hingga dua kali sehari, 30 menit sebelum
sarapan pagi dan malam hari sebelum tidur.
Selain dengan meningkatkan dosis omeprazole, pasien ini juga disarankan
untuk tidak menggunakan kembali obat hipertensinya. Menurut (Tarigan dan
Pratomo, 2019) beberapa obat dapat memperburuk gejala GERD yaitu golongan
Calsium Channel Blockers (CCB) salah satunya amlodipine yang dikonsumsi
pasien. Hal ini diperkuat dengan hasil pemeriksaan fisik pasien yang
menunjukkan tekanan darahnya 125/72 mmHg.
Nama Obat : Omeprazole®
Golongan : PPI (Proton Pump Inhibitors)
Dosis : 20-40 mg dua kali sehari
Indikasi : Tukak peptik yang terkait dengan NSAIDs non-selektif
dan ulkus duodenum.
Efek Samping : Efek samping umum omeprazole berupa mual, muntah,
diare, sakit kepala, pusing, nyeri pada perut, serta rasa
kembung. Omeprazole juga dapat menyebabkan efek
samping yang lebih serius berupa kolitis akibat
infeksi Clostridium difficile, hipomagnesemia, serta nefritis
interstitial akut.
Interaksi Obat :
 Omeprazole dapat menurunkan asam peptik, sehingga bisa memengaruhi
kerja obat-obatan yang perlu dicerna dengan bantuan asam peptik, seperti
Pazopanib®, Rilpivirine®, dan obat-obatan antijamur.
 Menurunkan efektivitas obat Clopidogrel® dalam membantu mencegah
serangan jantung atau stroke.
 Meningkatkan efek dan kadar  Atorvastatin® dalam darah, sehingga
meningkatkan risiko seseorang mengalami kerusakan liver.
 Menurunkan efektivitas obat Erlotinib® untuk mengobati kanker.
 Meningkatkan kadar dan efek Alprazolam®, sehingga penggunanya berisiko
mengalami gangguan pernapasan dan sangat mengantuk
Harga : Rp 6.000/strip

Daftar Pustaka

Chisholm-Burns, M.A., Schwinghammer T.L., Wells B.G., Malone P.M., Koloesar J.M., dan
Dipiro J.T., 2016, Pharmacotherapy Principles and Practice, Mc Graw-Hill Campenies:
New York.
Tarigan, R, C., dan Bogi, P., 2019, Analisis Faktor Risiko Gastroesofageal Refluks di RSUD Saiful
Anwar Malang, Jurnal Penyakit Dalam Indonesia, Vol. 6, No. 2.
KASUS

Seorang pria umur 45 tahun BB 105, TB 180 cm datang ke klinik mengeluh rasa terbakar di
dada, regurgitasi dan susah menelan makanan. Saat ini mengkonsumsi omeprazole 20 mg setiap
pagi dalam satu bulan terakhir tanpa perbaikan. Riwayat alergi ramipril dengan manifestasi susah
bernapas dan bibirbengkak.

Riwayat penyakit dyslipidemia, DM tipe 2 dan hipertensi sudah 20 tahun yang seluruhnya
terkontrol oleh pengobatan. Bekerja sebagai satpam di sekolah dasar dan hidup dengan istri dan
seorang putrinya yang masih remaja. Dia juga perokok sebanyak 2 setengah bungkus per hari.

Riwayat pengobatan metformin 500 mg dua kali/hari, HCT 12,5 mg/hari, amlodipine 10
mg/hari, atorvastatin 20 mg/hari saat mau tidur.

Hasil pemeriksaan fisik, VS; TD 125/72 mmHg, Nadi 82/menit, Pernapasan 16kali/menit,
Suhu 370C.

Pertanyaan:

1. Apa simtom yang menunjukkan GERD dan termasuk dalam klasifikasi apa GERD pasien?
2. Apa faktor risiko yang dapat memperburuk/berkontribusi terhadap kondisi GERD pasien?
3. Bagaimana terapi non farmakologi dan farmakologi pada pasien? Apakah omeprazole tetap
akan digunakan atau tidak

Penyelesaian Kasus:

a. Identifikasi masalah
Pasien mengeluh rasa terbakar di dada, regurgitasi dan susah menelan makanan. Riwayat
penyakit Dyslipidemia, DM tipe 2 dan hipertensi. Pasien ini menunjukkan Typical symtoms
ringan sampai sedang yaitu gejala regurgitasi, dan susah menelan makanan yang terjadi
selama satu bulan (semenjak mengkonsumsi Omeprazole 20 mg setiap pagi dalam satu bulan
terakhir tanpa perbaikan). Berdasarkan hasil algoritma tersebut pasien yang menunjukan
gejala GERD yang masuk kategori Typical symptoms dengan gejala ringan sampai sedang
yang sering terjadi melakukan diet dan merubah gaya hidup, mengonsumsi obat golongan
PPI (omeprazole), dan dilanjutkan dengan perawatan/pemeliharaan. Untuk obat-obat DM
tipe 2 dan hipertensi tetap dikonsumsi.
b. Tata Laksana Terapi
1. Tujuan Terapi
Tujuan penatalaksanaan GERD adalah mengurangi atau menghilangkan gejala
refluks, mengurangi kekambuhan atau lama penyakit GERD, mempercepat penyembuhan
mukosa esofagus, serta mencegah komplikasi.
2. Strategi Terapi
a) Terapi non farmakologi
Pengobatan nonfarmakologis GERD termasuk spesifik pasien modifikasi atau
perubahan gaya hidup.
b) Terapi farmakologi
PPI lebih unggul dari H2RA pada pasien dengan GERD sedang sampai parah.
Esomeprazole, lansoprazole, omeprazole, pantoprazole, rabeprazole, dan
dexlansoprazole memblokir sekresi asam lambung dengan menghambat H + / K-
adenosin trifosfatase dalam sel parietal lambung. Ini menghasilkan efek antisekresi
yang dalam dan tahan lama yang mampu mempertahankan pH lambung di atas 4,
bahkan selama lonjakan asam yang terjadi pasca-pradi.
PPI pada umumnya ditoleransi dengan baik. Efek samping yang paling umum
adalah sakit kepala, diare, sembelit, dan sakit perut. Penggunaan PPI jangka pendek
telah dikaitkan dengan peningkatan risiko pneumonia yang didapat masyarakat pada
pasien GERD. Kekhawatiran potensial tentang penggunaan jangka panjang PPI
termasuk pengembangan infeksi enterik (misalnya, Clostridium difficile), defisiensi
vitamin B, dan hipomagnesemia. Ada sedikit bukti peningkatan risiko defisiensi
vitamin B12. Hipomagnesemia adalah efek samping yang jarang dari PPI, tetapi
dapat berpotensi mengancam jiwa. Dosis yang lebih tinggi dan penggunaan jangka
panjang (lebih dari 1 tahun) kemungkinan besar berhubungan dengan
hipomagnesemia. Pemantauan berkala konsentrasi magnesium diperlukan pada pasien
yang menerima terapi PPI jangka panjang.
Pasien tidak merespons terapi PPI dua kali sehari harus dianggap sebagai
kegagalan pengobatan, dan diagnostik lebih lanjut evaluasi harus dilakukan. PPI
harus diberikan sebelum makan untuk mendapatkan manfaat maksimal. Sebagian
besar pasien harus diinstruksikan untuk mengambil PPI mereka di pagi, 30 hingga 60
menit sebelum sarapan untuk memaksimalkan kemanjuran, karena agen-agen ini
hanya menghambat proton yang aktif secara aktif pompa. Pada pasien ini tetap
melanjutkan omeprazole.
Omeprazole adalah inhibitor CYP2C19 terkuat di antara PPI, dan karena itu
paling mungkin menyebabkan masalah pada pasien yang menggunakan clopidogrel.
Meskipun umumnya tidak menjadi perhatian utama, omeprazole dapat menghambat
metabolisme substrat CYP2C19 seperti diazepam, warfarin, atau fenitoin. Tidak ada
interaksi dengan dexlansoprazole, lansoprazole, pantoprazole, atau rabeprazole telah
terlihat dengan substrat CYP2C19. Esomeprazole tidak berinteraksi dengan warfarin
atau fenitoin. Pantoprazole dimetabolisme oleh sulfotransferase sitosolik dan karena
itu cenderung memiliki interaksi obat yang signifikan dibandingkan PPI lainnya.

B. KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi)


1. Komunikasi
- Minum obat omeprazole sesuai aturan yang diberikan
- Harus mengubah gaya hidup (misal mengurangi/berhenti merokok, dll)
2. Informasi dan Edukasi
a) Minum obat omeprazole 20 mg sesuai aturan yaitu 1x sehari di pagi hari 30-60 menit
sebelum sarapan selama 4 minggu
b) Harus mengubah gaya hidup yaitu:
- Diet dengan menghindari makanan makanan tinggi lemak, makanan pedas,
karminatif (peppermint, spearmint), kafein (kopi, teh, cola), cokelat, bawang
putih atau bawang merah, buah dan jus jeruk, tomat dan jus, dan minuman
berkarbonasi
- Hindari makan dalam porsi besar
- Hindari makan dalam waktu 3 jam sebelum waktu tidur.
- Hindari obat-obatan dengan potensi untuk bersantai lebih rendah sfingter esofagus
atau yang memiliki iritasi langsung efek pada mukosa esofagus.
- Hindari kebiasaan merokok, minum minuman beralkohol.
- Menurunkan berat badan, tinggikan kepala tempat tidur 6-8 inci atau gunakan
irisan busa, tidur dalam posisi dekubitus lateral kiri
C. Monitoring
Tahap terakhir dalam penanganan GERD yaitu:
1. Pantau adanya pengurangan gejala dan adanya komplikasi gejala.
2. Catat frekuensi dan tingkat keparahan gejala dengan mewawancarai pasien setelah
penekanan asam 4 sampai 8 minggu terapi. Gejala yang berkelanjutan dapat
mengindikasikan perlu untuk terapi pemeliharaan jangka panjang.
3. Pantau reaksi obat yang merugikan, interaksi obat-obat, dan kepatuhan.
4. Ajarkan pasien tentang gejala yang menunjukkan adanya komplikasi yang membutuhkan
perhatian medis segera, seperti disfagia atau odynophagia.
5. Rujuk pasien yang datang dengan gejala extraesophageal ke dokter mereka untuk evaluasi
diagnostik lebih lanjut.
6. Tinjau kembali kebutuhan terapi PPI kronis.
F. KASUS GERD

Seorang pria umur 45 tahun BB 105, TB 180 cm datang ke klinik mengeluh rasa terbakar di
dada, regurgitasi dan susah menelan makanan. Saat ini mengkonsumsi omeprazole 20 mg setiap
pagi dalam satu bulan terakhir tanpa perbaikan. Riwayat alergi ramipril dengan manifestasi susah
bernapas dan bibirbengkak.

Riwayat penyakit dyslipidemia, DM tipe 2 dan hipertensi sudah 20 tahun yang seluruhnya
terkontrol oleh pengobatan. Bekerja sebagai satpam di sekolah dasar dan hidup dengan istri dan
seorang putrinya yang masih remaja. Dia juga perokok sebanyak 2 setengah bungkus per hari.

Riwayat pengobatan metformin 500 mg dua kali/hari, HCT 12,5 mg/hari, amlodipine 10
mg/hari, atorvastatin 20 mg/hari saat mau tidur.

Hasil pemeriksaan fisik, VS; TD 125/72 mmHg, Nadi 82/menit, Pernapasan 16kali/menit, Suhu
370C.

Pertanyaan:

1. Apa simtom yang menunjukkan GERD dan termasuk dalam klasifikasi apa GERD pasien?

2. Apa faktor risiko yang dapat memperburuk/berkontribusi terhadap kondisi GERD pasien?

3. Bagaimana terapi non farmakologi dan farmakologi pada pasien? Apakah omeprazole tetap
akan digunakan atau tidak

A. Identifikasi Pasien

Berdasarkan kasus tersebut, pasien dapat diidentifikasi sebagai berikut:

Diketahui :

Umur : 45 tahun
Jenis Kelamin : laki-laki

Tanda dan gejala

Sakit seperti terbakar pada dada. Regurgitasi ,dan susah saat menelan makanana

Riwayat Kesehatan

Dyslipidemia, diabetes melitus selama tipe 2 dan hipertensi selama 20 tahun yang seluruhya
terkontrol oleh pengobatan dan merokok sebanyak 2 setengah bungkus perhari

Data Laboratorium dan Pengujian Fisik

Tekanan darah 125,8 mmHg Tidak normal


Laju nafas 16 x menit Tidak Normal
Nadi 82 denyut/menit Tidak Normal
Suhu tubuh 37,50C Normal

B. Tata Laksana Terapi

4. Apa simtom yang menunjukkan GERD dan termasuk dalam klasifikasi apa GERD
pasien?

Simton yang menunjukan GERD pada pasien ini yaitu dengan Rasa terbakar di dada (heartburn)
dan susah bernapas regurgitasi dan susah menelan makanan, Selain itu ada beberapa hal lainnya
yang menjadi faktor risiko penyebab GERD yaitu obesitas dan merokok dimana pasien ini
mengkonsumsi rokok dua setengah bungkus perhari.

Diagnosis presumtif ditegakan dengan pendekatan gejala adanya heatburn dan regurgitrasi.
Ketiga diagnosis presumtif ditegakan, dapat dimulai diberikan terapi PPI secara empiris.
5. Apa faktor risiko yang dapat memperburuk/berkontribusi terhadap kondisi GERD
pasien?
Hal ini biasanya bisa semakin memburuk ketika Anda selesai makan, sedang
berbaring atau membungkuk. Secara garis besarnya, gejala penyakit GERD adalah:
Merasa seperti ada makanan yang tersangkut di dalam kerongkongan, sulit menelan, serta
cegukan.Mengalami sensasi panas seolah terbakar di dada (heartburn), yang bisa
menyebar sampai ke leher. Sakit atau nyeri pada dada. Timbul rasa asam atau pahit di
mulut. Ada cairan atau makanan yang naik dari dalam perut ke bagian mulut.
Masalah pernapasan, seperti batuk kronis dan asma.Suara serak.Sakit tenggorokan.
Berbagai faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan Anda untuk mengalam penyakit
GERD adalah sebagai berikut:
o Obesitas
o Mengalami masalah pada jaringan ikat, contohnya scleroderma
o Ada tonjolan di perut bagian atas yang bisa naik sampake diafragma (hiatal
hernia) Pengosongan perut yang memakan waktu lama
Selain itu, beberapa hal lainnya yang juga dapat turut memperburuk GERD adalah
sebagai berikut:
o Merokok
o Makan makanan dalam jumlah banyak sekali makan
o Waktu makan terlalu dekat dengan waktu tidur
o Terlalu banyak makan makanan tertentu (pemicu), seperti makanan berlemak dan
gorengan
o Minum kopi
o Minum teh
o Minum alkohol
o Mengonsumsi obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID), seperti aspirin

6. Bagaimana terapi non farmakologi dan farmakologi pada pasien? Apakah omeprazole
tetap akan digunakan atau tidak
1. Terapi non farmakologi

Penatalaksanaan GERD tanpa obat yang saat ini direkomendasikan karena didasari oleh
bukti penelitian yang cukup antara lain: 1) menurunkan berat badan bagi pasien yang
overweight (kelebihan berat badan) atau yang baru saja mengalami peningkatan berat
badan, serta 2) menaikkan posisi kepala pada saat tidur dan tidak makan 2-3 jam sebelum
waktu tidur malam untuk pasien yang mengalami gejala refluks di malam hari (nocturnal
GERD).
 Penurunan berat badan
Penurunan Berat Badan Obesitas diduga menyebabkan GERD melalui berbagai faktor
antara lain meningkatkan: 1) perubahan (gradient) tekanan sfingter gastroesofagus, 2)
kejadian hiatal hernia, 3) tekanan intra-abdomen, dan 4) pengeluaran enzim pankreas dan
empedu.9 Bukti penelitian epidemiologis yang ada mengenai hal ini masih saling
bertentangan, meskipun sebagian besar mendukung hubungan GERD dengan
obesitas.9,10 Dua meta-analisis dari penelitian epidemiologis di Amerika menunjukkan
Penatalaksanaan Gastroesophageal Reflux Disease (GERD)
adanya hubungan antara indeks massa tubuh (body mass index, BMI) dengan GERD.
Salah satu meta-analisis menyatakan bahwa bila dibandingkan dengan orang yang tidak
overweight dan tidak obesitas, gejala GERD lebih banyak dialami oleh orang overweight
(BMI 25-30 kg/m2) sebesar 1,43 kali (OR 1,43; 95% CI 1,158-1,774), dan oleh obesitas
(BMI >30 kg/m2) sebesar hampir 2 kali (OR 1,94; 95% CI 1,468-2,566). Sementara itu, 2
studi berbasis populasi dan 2 studi cross sectionaldi Australia dan beberapa negara Eropa
tidak menunjukkan adanya hubungan tersebut. Perbedaan ini diperkirakan terjadi karena
1) perbedaan etnis, 2) banyaknya mekanisme patogenesis GERD, yang mana tidak semua
mekanisme tersebut berhubungan dengan atau dipengaruhi oleh adanya obesitas, serta 3)
perbedaan metodologi penelitian. Peningkatan berat badan pasien yang mempunyai BMI
normal juga berhubungan dengan munculnya gejala GERD baru.10 Penurunan berat
badan terbukti berhubungan dengan berkurangnya gejala GERD. Berdasarkan satu kajian
sistematis, terdapat 5 penelitian mengenai hal ini.9 Satu studi tak terkontrol (n = 34
pasien obesitas) dalam kajian sistematis tersebut menunjukkan penurunan berat badan
berkorelasi signifikan dengan pH esofagus (OR 0,55; p<0,001). Ketiga penelitian lainnya
juga menunjukkan korelasi positif, sementara hanya 1 penelitian (n = 20 pasien obesitas
dan refluks esofagitis) yang menunjukkan tidak ada perbedaan gejala refluks antara
kelompok kontrol dan kelompok pasien yang menurunkan berat badan sebesar 10%
setelah 6 bulan.9 Efek penurunan berat badan yang diinduksi oleh tindakan operasi atau
endoskopik juga dievaluasi. Terjadi penurunan signifikan paparan asam terhadap mukosa
esofagus selama penurunan berat badan menggunakan balon intragastrik. Perbaikan
gejala GERD juga terjadi setelah berat badan diturunkan menggunakan metode operasi
bariatrik dan Roux-en-Y gastric bypass.4,10 Suatu studi kasus-kontrol yang besar
menunjukkan bahwa dibandingkan dengan kelompok kontrol, wanita yang menurunkan
berat badannya sebesar 3,5 kali berat badan kelompok kontrol, mengalami penurunan
frekuensi gejala refluks sebesar 40%.
 Menaikkan Posisi Kepala ketika Tidur
Menaikkan Posisi Kepala ketika Tidur Posisi berbaring datar ketika tidur diperkirakan
meningkatkan risiko refluks esofagus. Terdapat 3 penelitian terkait dengan manfaat
menaikkan posisi kepala ketika tidur. Penelitian pertama (n = 63 pasien) membandingkan
berbagai posisi tubuh, antara lain: duduk, berbaring dan menaikkan posisi kepala saat
tidur. Hasilnya, dibandingkan dengan pasien yang tidur datar, pasien yang menaikkan
posisi kepala ketika tidur dengan menggunakan blok/penyangga setinggi 28 cm secara
signifikan mengalami episode dan gejala refluks lebih sedikit, durasi refluks lebih
singkat, dan pembersihan asam lebih cepat.Penelitian kedua, randomised trial,
membandingkan antara tidur menggunakan bantalan, tidur dengan posisi kepala
dinaikkan, dan tidur datar. Hasilnya, tidur dengan posisi kepala dinaikkan berhubungan
secara signifikan dengan berkurangnya paparan asam pada esofagus bila dibandingkan
dengan tidur secara datar. Pada penelitian acak lainnya, pada pasien dengan gejala refluks
yang diobati dengan golongan penghambat pompa proton (proton pump inhibitors, PPIs)
dan cisapride, tidak ada hubungan antara menaikkan posisi kepala selama 2 minggu
dengan perbedaan penggunaan antasid atau perbaikan gejala, sehingga intervensi ini
tampaknya efektif pada sebagian pasien saja.9 Contoh posisi menaikkan kepala ketika
tidur dapat dilihat pada gambar 1.

 Menghindari Makan Terlalu Malam


Menghindari Makan Terlalu Malam Satu kajian sistematis dari 2 penelitian menyelidiki
efek waktu makan di malam hari terhadap keasaman lambung selama 24 jam pada
subyek sehat. Penelitian pertama menunjukkan makan pada pk. 18.00 menghasilkan pH
lambung yang lebih rendah dibandingkan makan pada pk. 21.00 (median pH 1,39 vs
1,67; p<0,01), namun ini hanya terjadi antara tengah malam dan pk. 07.00 pagi. Studi
kedua dilakukan pada 10 pasien sehat menunjukkan bahwa keasaman lambung 24 jam
dan malam hari tidak dipengaruhi oleh perubahan waktu makan malam
Beberapa penatalaksanaan nonfarmakologi yang juga direkomendasikan antara lain:
berhenti merokok dan menghindari konsumsi makanan yang dapat memicu gejala GERD
(contoh: coklat, jeruk,kopi, makanan berlemak, makanan pedas, minuman berkarbonasi,
dan alkohol dihentikan. (
2. Terapi farmakologi

Farmakologi : Melanjutkan penggunan Omeprazole 20 mg sehari selama 1 bulan


karena pemakaian sebelumnya hanya 1 bulan dimana seharusnya pengobatan dengan
omeprazole adalah 4 – 8 minggu sehingga dalam pemakaian belum menunjukkan adanya
perbaikan. Apabila dari penggunaan selama 8 minggu belum terlihat adanya perbaikan
maka pasien disarankan untuk melakukan endoskopi

C. Komunikasi, Informasi dan Edukasi


 Memberi informasi kepada pasien tentang modifikasi gaya hidup yang harus dipatuhi
selama terapi, termasuk berhenti merokok, penurunan berat badan, mengangkat kepala
tempat tidur, makan makanan yang lebih kecil, dan menghindari makan sebelum tidur.
 Memberi informasi kepada pasien bahwa rokok, obesitas, obat-obatan (calcium
channel blocker) dan lain-lain menyebabkan GERD sehingga faktor tersebut harus
dihindari pasien.
 Memberi informasi kepada pasien waktu untuk meminum obat.
 Memberi informasi kepada pasien bahwa omeprazole memiliki efek samping berupa
paraesthesia (kesemutan, tertusuk, atau terbakar pada kulit yang umumnya dirasakan
di tangan, kaki, lengan, dan tungkai), vertigo, alopesia (kerontokan rambut), dan lain-
lain.
 Memberi informasi kepada pasien, obat-obat yang dapat berinteraksi dengan
omeprazole ketika diminum bersamaan (ketoconazoole, itraconazole, warfarin,
diazepam, cyclosporin, phenytoin, dan teofilin).
 Memberi informasi kepada pasien, gejala atau tanda yang harus dilaporkan kepada
dokter seperti (nyeri terus menerus, disfagia, penurunan berat badan, dan rasa sesak).

D. Monitoring dan Evaluasi


 Memantau adanya tanda atau gejala komplikasi.
 Memantau frekuensi dan tingkat keparahan gejala pasien.
 Memantau dan menentukan apakah perawatan pemeliharaan jangka panjang
diperlukan setelah menyelesaikan terapi awal.
 Memantau adanya gejala atipikal seperti batuk, asma non alergi, atau nyeri dada pada
pasien.
 Mengevaluasi pasien terhadap adanya reaksi obat yang merugikan, alergi obat, dan
interaksi obat.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Kesimpulan dari pokok bahasan diatas, yaitu:

a. Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) adalah suatu kondisi refluksnya HCL dari

gaster ke esofagus, mengakibatkan gejala klinis dan komplikasi yang menurunkan

kualitas hidup seseorang


b. Penyakit refluks esofageal terjadi akibat ketidakseimbangan antara pertahanan esofagus

dengan refluksat lambung. Pertahanan esofagus meliputi sfingter esofagus bagian bawah,

mekanisme bersihan esofagus, dan epitel esofagus.

c. Dua gejala khas refluks esophagus adalah Heartburn dan regurgitasi. Heartburn adalah

rasa terbakar didaerah ulu hati yang naik hingga ke retroternal atau di belakang tulang

dada.

d. Sindrom GERD esofagus dapat dibagi menjadi dua kategori berbeda: (a) sindrom

esofagus berbasis gejala dan (b) sindrom esofagus berbasis cedera jaringan.

B. Saran

Dari pembahasan yang telah diuraikan diatas, penulis memberi saran agar setiap

wanita dan laki-laki hendaknya menjaga kesehatan dengan mengurangi atau menjauhi

faktor resiko yang bisa menyebabkan Gerd dan menjaga/memperbaiki polamakan/gizi

serta gaya hidup.

DAFTAR PUSTAKA

Burns M.A,Schwinghammer T.L. wells B.G.Malone P.M Kolesar and J,M, and dipiro

Companies : Newyork

Dipiro J.T., Talbert R.L., Yee G.C., Matzke G.R., Wells B.G. and Posey L.M., 2011,
Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach, 8th ed., Mc Graw Hill, United State of
America.

Irawati.S.,2011, Penatalaksanaan Gastroesophageal Reflux Disease (GERD), Buletin Rasional,


Vol.11(1).

J.T. 2016, Pharmacotherapy principels and practice , Mc Grarwill

Sanusi.I.A., 2011, Buku Ajar Gastroenterologi, Interna Publishing: Jakarta.


Sembiring. J dan Herlina.M.S., 2012, Infeksi Helicobacter Pylori, Universitas Sumatera Utara.

Tanto.C, Frans.L, Sonia.H, dan Eka.A.P., 2014, Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ke-4 Jilid II,
Media Aesculapius: Jakarta.

Tarigan P., 2001, Buku Ajar Penyakit Dalam jilid 1 Edition 3 Sirosis hati. Jakarta :Balai Penerbit
FKUI

Tielemans, M. M.,2013. Online Follow-up of Individual with Gastroesophageal Reflux Disease


Using a Patient-Reported Outcomes Instrument. BMC Gastroenterology, 144.