Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH

STANDAR MAKANAN RUMAH SAKIT

Dosen Pengampu:

Dali, SKM.,M.Kes

Disusun Oleh:

KELOMPOK 3

Alda Putri Wulandari (P00320020049)

Rahel Natalia Ongan P. (P00320020079)

Dwi Yulan Aisyah (P00320020059)

Wa Ode Musnia (P00320020089)

Miftahu Jannah (P00320020069)

POLTEKKES KEMENKES KENDARI

PRODI D-III KEPERAWATAN

TA. 2020/2021

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan
rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga saya dapat menyelesaikan makalah
ini berjudul “STANDAR MAKANAN RUMAH SAKIT”.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena
itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun, selalu saya harapkan
demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan
yang lebih luas kepada pembaca.

Akhir kata,saya sampaikan terimakasih dosen pembimbing yang telah


memberikan tugas ini sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan sesuai
dengan bidang studi yang saya tekuni.

Kendari, 10 April 2021

Penulis

ii
DAFTAR ISI

SAMPUL.........................................................................................i

KATA PENGANTAR....................................................................ii

DAFTAR ISI...................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN...............................................................4

A. LATAR BELAKANG..........................................................5
B. RUMUSAN MASALAH......................................................5
C. TUJUAN MAKALAH..........................................................5
D. MANFAAT MAKALAH.....................................................5

BAB II PEMBAHASAN................................................................6

A. PENGERTIAN MAKANAN RUMAH SAKIT...................6


B. TUJUAN MAKANAN RUMAH SAKIT............................6
C. JENIS-JENIS MAKANAN RUMAH SAKIT......................6
1. STANDAR MAKANAN RUMAH SAKIT....................6
2. STANDAR MAKANAN KHUSUS................................7
3. DIET UNTUK PEMERIKSAAN....................................7
D. PENETAPAN STANDAR PRODUKSI MAKANAN........27
1. STANDAR PORSI...........................................................27
2. STANDAR RESEP...........................................................28
3. STANDAR BUMBU........................................................28

BAB III PENUTUP.........................................................................29

A. KESIMPULAN.....................................................................29
B. SARAN.................................................................................29

DAFTAR PUSTAKA.....................................................................30

iii
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pelayanan gizi di rumah sakit adalah pelayanan yang diberikan dan
disesuaikan dengan keadaan pasien berdasarkan keadaan klinis, status gizi,
dan status metabolisme tubuh. Kegiatan pelayanan gizi di rumah sakit meliputi
asuhan gizi rawat jalan, asuhan gizi rawat inap, penyelenggaraan makanan,
serta penelitian dan pengembangan (PGRS, 2013). Pada ruang rawat inap,
pelayanan bertujuan untuk memperoleh asupan makan yang sesuai kondisi
kesehatan dalam upaya mempercepat proses penyembuhan, mempertahankan
dan meningkatkan status gizi (Kemenkes RI, 2013).
Penyelenggaraan makanan di rumah sakit bertujuan untuk menyediakan
makanan yang berkualitas sesuai kebutuhan gizi, biaya, aman, dan dapat
diterima oleh konsumen guna mencapai status gizi yang optimal (PGRS,
2013). Makanan sebagai asupan energi dan protein berkaitan erat dengan
siklus biologis manusia dan metabolisme tubuh serta menjadi pendukung
dalam terapi farmasi, dimana efektifitas obat dipengaruhi oleh ketersediaan
nutrisi dalam tubuh (NHS, 2005 dalam Rosita, 2017).
Kondisi fisik dan psikis pasien di rumah sakit dapat mempengaruhi
tingkat asupan makan pasien, sehingga tingkat asupan makan pasien dapat
dirangsang dengan cara penampilan hidangan yang menarik saat penyajian.
Menurut Semedi dkk (2013) Kepuasan pasien juga dapat meningkatkan
asupan energi dan protein pasien yang selanjutnya dapat memperkecil
penurunan status gizi pasien.
Kepuasan pasien yang mempengaruhi asupan makan merupakan salah
satu faktor penting dalam penyelenggaraan makanan, khususnya pada kegiatan
pendistribusian karena saat pendistribusian, makanan menjadi output dari
penyelenggaraan makanan. Dalam proses penyajian makanan perlu
memperhatikan prinsip-prinsip, salah satu prinsip yaitu prinsip tepat penyajian

4
yang disesuaikan dengan kelas pelayanan dan kebutuhan. Tepat penyajian
yaitu tepat menu, tepat waktu, tepat tata hidang dan tepat volume (Kemenkes
RI, 2013). Ketepatan waktu pembagian makanan dengan jam makan pasien
serta jarak waktu yang sesuai antara makan pagi, siang dan malam hari dapat
mempengaruhi sisa makanan pasien (Priyanto, 2009).

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Makanan Rumah Sakit?
2. Apa saja jenis-jenis makanan Rumah Sakit?
3. Apa pengertian Makanan Biasa?
4. Apa pengertian Makanan Lunak?
5. Apa saja macam-macam Makanan Cair?

C. Tujuan Makalah
1. Tujuan Umum
 Untuk mengetahui berbagai macam bentuk makanan secara umum.
2. Tujuan Khusus
 Mampu menjelaskan pengertian bentuk makanan lunak.
 Mampu memahami tujuan, dan syarat-syarat pemberian makanan lunak.
 Mampu mengolah menu seuai yang telah disusun.

D. Manfaat Makalah
Meningkatkan pengetahuan mahasiswa terkait macam bentuk makanan yang
akan menunjang proses pembelajaran mata kuliah Gizi dan Diet serta
meningkatkan keterampilan mahasiswa dalam menyusun dan mengolah
makanan.

5
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Makanan Rumah Sakit


Makanan adalah bahan selain obat yang mengandung zat-zat gizi dan
atau unsur-unsur /ikatan kimia yang dapat diubah menjadi zat gizi oleh tubuh,
yang berguna bila dimasukkan kedalam tubuh (Almatsier 2009).

Makanan yang disajikan oleh rumah sakit ini merupakan bagian dari
proses penyelenggaraan makanan rumah sakit. Menurut Depkes RI tahun
2006, penyelenggaraan makanan rumah sakit merupakan suatu rangkaian
kegiatan. Mulai dari perencanaan menu sampai dengan distribusi makanan
kepada pasien. Agar kesehatan pasien kembali pulih atau sembuh.
Makanan yang baik bukan hanya mengandung zat gizi seimbang tetapi
juga mempunyai rasa dan penampilan yang baik, sehingga makanan yang
disajikan dapat dihabiskan.Makanan yang dihabiskan tanpa meninggalkan sisa
merupakan suatu keberhasilan dalam penyelenggaraan makanan.

B. Tujuan Makanan Rumah Sakit


Tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan nutrisi pasien selama masa
perawatan di rumah sakit. Jadi prinsipnya dengan pemberian makanan
bernutrisi ialah menstabilkan dan mengoptimalkan status gizi selama masa
perawatan. Selain obat, makanan menjadi faktor yang berperan penting bagi
kesembuhan pasien. Makanan yang disajikan berbeda-beda sesuai dengan
berat badan, berat-ringannya penyakit, kemampuan mencerna makanan, serta
jenis penyakit itu sendiri.

C. Jenis-Jenis Mamakan Rumah Sakit


Jenis dan bentuk standar makanan Rumah Sakit meliputi:
1. Standar makanan umum rumah sakit

6
2. Standar makanan khusus
3. Diet untuk pemeriksaan

1) Standar Makanan Umum Rumah Sakit


Makanan Umum adalah makanan yang menagndung cukup kalori
dan zat-zat makanan untuk berbagai golongan sesuai dengan jenis
kelamin, umur dan aktivitas. Makanan ini dapat berupa:
a. Makanan Biasa
 Gambaran Umum
Makanan Biasa sama dengan makanan sehari-hari yang beraneka
ragam, bervariasi dengan bentuk, tekstur, dan aroma yang normal.
Susunan makanan mengacu pada Pola Menu Seimbang dan Angka
Kecukupan Gizi (AKG) yang dianjurkan bagi orang dewasa sehat.
Makanan Biasa diberikan kepada pasien yang berdasarkan
penyakitnya tidak memerlukan makanan khusus (diet). Walau
tidak ada pantangan secara khusus, makanan sebaiknya diberikan
dalam bentuk yang mudah dicerna dan tidak merangsang pada
saluran cerna.
 Tujuan Diet
Tujuan Diet Makanan Biasa adalah memberikan makanan sesuai
kebutuhan gizi untuk mencegah dan mengurangi kerusakan
jaringan tubuh.
 Syarat Diet
Syarat-syarat Diet Makanan Biasa adalah sebagai berikut:
(1) Energi sesuai kebutuh normal orang dewasa sehat dalam
keadaan istirahat.
(2) Protein 10-15% dari kebutuhan energi total.
(3) Lemak 10-25% dari kebutuhan energi total.
(4) Karbohidrat 60-75% dari kebutuhan energi total.
(5) Cukup mineral, vitamin, dan kaya serat.

7
(6) Makanan tidak merangsang saluran cerna.
(7) Makanan sehari-hari beraneka ragam dan bervariasi.
 Indikasi Pemberian
Makanan Biasa diberikan kepada pasien yang tidak memerlukan
diet khusus berhubungan dengan penyakitnya.

Berikut Bahan Makanan Biasa sehari-hari:

Bahan Makanan Berat (g) Urt2)


beras 300 41/2 gls nasi
daging 100 2 ptg sdg
telur ayam 50 1 btr
tempe 100 4 ptg sdg
kacang jijau 25 21/2 sdm
sayuran3) 200 2 gls
buah pepaya 200 2 ptg sdg
gula pasir 25 21/2 sdm
minyak 30 3 sdm

Makanan yang Tidak Dianjurkan


Makanan yang tidak dianjurkan untuk diet Makanan Biasa
adalah makanan yang merangsang, seperti makanan yang
berlemak tinggi, terlalu manis, terlalu berbumbu, dan minuman
yang mengandung alcohol.

b. Makanan Lunak
 Gambaran Umum
Makanan lunak adalah makanan yang memiliki tekstur yang
mudah dikunyah, ditelan, dan dicerna dibandingkan Makanan

8
Biasa. Makanan ini mengandung cukup zat-zat gizi, asalkan
pasien mampu mengkonsumsi makanan dalam jumlah cukup.
Menurut keadaan penyakit, Makanan Lunak dapat diberikan
langsung kepada pasien atau sebagai perpindahan dari Makanan
Saring ke Makanan Biasa.
 Tujuan Diet
Tujuan Diet Makanan Lunak adalah memberikan makanan dalam
bentuk lunak yang mudah ditelan dan dicerna sesuai kebutuhan
gizi dan keadaan penyakit.
 Syarat Diet
Syarat-syarat diet Makanan Lunak adalah sebagai berikut:
(1) Energi, protein, dan zat gizi lain cukup.
(2) Makanan diberikan dalam bentuk cincang atau lunak, sesuai
dengan keadaan penyakit dan kemampuan makan pasien.
(3) Makanan diberikan dalam porsi sedang, yaitu 3 kali makan
lengkap dan 2 kali selingan.
(4) Makanan mudah cerna, rendah serat, dan tidak mengandung
bumbu yang tajam.
 Indikasi Pemberian
Makanan lunak diberikan kepada pasien sesudah operasi tertentu
pasien dengan penyakit infeksi dengan kenaikan suhu tubuh tidak
terlalu tinggi, pasien dengan kesulitan mengunyah dan menelan,
serta sebagai perpindahan dari Makanan Saring ke Makanan
Biasa.

9
Berikut Bahan Makanan lemak Sehari:

Bahan Makanan Berat (g) Urt


Beras 250 5 gls nasi tim
Daging 100 2 ptg sdg
Telur ayam 50 1 btr
Tempe 100 4 ptg sdg
Kacang hijau 25 21/2 sdm
Sayuran 200 2 gls
Buah papaya 200 2 ptg sdg
Gula pasir 50 5 sdm
Minyak 25 21/2 sdm
Susu 200 1 gls

Bahan Makanan Lemak yang Dianjurkan dan Tidak Dianjurkan:


1) Sumber karbohidrat:
a. Dianjurkan: Beras, kentang, roti, gula, madu, tepung sagu,
madu.
b. Tidak dianjurkan: Nasi goring, beras ketan, singkong, ubi,
tales (membentuk gas).
2) Sumber protein hewani
a. Dianjurkan: Daging, ika, ayam, ungags tidak berlemak
direbus dikukus, dipanggang, telur direbus, bakso ikan, sapi
atau ayam direbus, susu dan keju.
b. Tidak Dianjurkan: Daging dan ayam berlemak dan berurat
banyak: daging ayam, ikan dan telur digoreng.
3) Sumber protein nabati
a. Dianjurkan: Tempe dan tahu direbus, dikukus, ditumis,
dipanggang, kacang hijau direbus, susu kedelai.
b. Tidak dianjurkan: tempe, tahu, dan kacang-kacangan
digoreng.

10
4) Sayuran
a. Dianjurkan: Sayuran yang tidak banyak serat dan tidak
membentuk gas, seperti bayam, daun kangkung, kacang
panjang, buncis, gambas, bunga kol, labu siam, labu
kuning, wortel, tomat.
b. Tidak dianjurkan: Sayuran berserat banyak seperti; daun
katuk, daun singkong, daun papaya, kacang panjang,
nangka muda.
5) Buah-buahan
a. Dianjurkan: Buah segar dihaluskan atau di pur tanpa kulit
seperti pisang matang, pepaya, jeruk manis, jus buah.
b. Tidak dianjurkan: Buah yang membentuk gas seperi durian,
nagka, buah berserat banyak sepri nanas dan kedondong.
6) Bumbu-bumbu
a. Dianjurkan: Dalam jumlah terbatas: bumbu dapur garam,
gula, kayu manis, asam, saos tomat, kecap.
b. Tidak dianjurkan: Cabai merah, cabai rawit, paprika dan
cuka.
7) Minuman
a. Dianjurkan: Sirop, the dank pi encer, jus sauran dan jus
buah.
b. Tidak dianjurkan: Minuman yang mengandung alcohol dan
mengandung soda.

c. Makanan Saring
 Gambaran Umum
Makanan saring adalah makanan semi padat yang mempunyai
tekstur lebih halus dari makanan lunak, sehingga lebih mudah
ditelan dan dicerna.Makanan saring diberikan kepada pasien
sesudah mengalami operasi tertentu, pada infeksi akut termasuk

11
infeksi saluran cerna, serta pada pasien dengan kesulitan
mengunyah dan menelan.Menurut keadaan penyakit, makanan
saring dapat diberikan langsung kepada pasien atau merupakan
perpindahan dari makanan cair kental ke makanan lunak.
 Tujuan Diet
Tujuan Diet Makanan Saring adalah memberikan makanan dalam
bentuk semi padat sejumlah yang mendekati kebutuhan gizi pasien
untuk jangka waktu pendek sebagai proses adaptasi terhadap
bentuk makanan yang lebih padat.
 Syarat Diet
Syarat-syarat diet Makanan Saring adalah:
(1) Hanya diberikan untuk jangka waktu singkat selama 1-3 hari,
karena kurang memenuhi kebutuhan gizi, terutama energi dan
tiamin.
(2) Rendals serat, diberikan dalam bentuk disaring atau diblender
(3) Diberikan dalam porsi kecil dan sering yaitu 6-8 kali sehari.
 Indikasi Pemberian
Makanan Saring diberikan kepada pasien sesudah mengalami
operasi tertentu, pada infeksi akut termasuk infeksi saluran cerna,
serta kepada pasien dengan kesulitan mengunyah dan menelan,
atau sebagai perpindahan dari Makanan Cair Kental ke Makanan
Lunak. Karena makanan ini kurang sehat dan vitamin c, maka
sebaiknya diberikan untuk jangka waktu pendek, yaitu selama 1-3
hari saja.

Bahan Makanan Sehari:

Bahan Makanan Berat (g) Urt


Tepung beras 90 15 sdm
Maizena 15 3 sdm

12
Telur ayam 50 1 btr
Daging sapi 100 2 ptg sdg
Tahu 100 1 bh bsr
Kacang hijau 25 21/2 sdm
Papaya 300 3 ptg sdg
Margarin 10 1 sdm
½
Santai 100 gls
Gula pasir 60 6 sdm
Gula merah 50 2 sdm
Susu 500 21/2

Bahan Makanan yang Dianjurkan dan Tidak Dianjurkan antara


lain:
1) Sumber Karbohidrat
a. Dianjurkan: Beras dibubur saring atau dihaluskan, roti
dipanggang atau dibubur, tepung dibubur atau dipuding,
bihun dibuat bubur.
b. Tidak dianjurkan: Beras ketan, jagung, ubi, singkong.
2) Sumber protein hewani
a. Dianjurkan: Daging, unggas, ikan digiling halus, telur
diceplok air.
b. Tidak dianjurkan: Daging dan ayam berlemak, ikan dan
telur digoreng, daging diawet.
3) Sumber protein nabati
a. Dianjurkan; Tempe, tahu, oncom, dan kacang kedelai,
kacang hijau dihakuskan.
b. Tidak dianjurkan: Kacang dan hasil olah seperti tempe dan
tahu digoreng.

13
4) Sayuran
a. Sayuran rendah serat dan disaring atau dihaluskan seperti
bayam, wortel, labu kuning, labu siam.
b. Tidak dianjurkan: Sayuran berserat banyak seperti
singkong, nangka muda, sayuran yang membentuk gas
seperti lobak, sawi, kol.
5) Buah-buahan
a. Dianjurkan: Buah yang tidak banyak serat disaring atau
dibuat jus atau dihaluskan seperti papaya, melon,
semangka.
b. Tidak dianjurkan: buah-buahan yang banyak serat gan
menimbulkan gas seperti nangka.
6) Bumbu-bumbu
a. Dianjurkan: Bumbu yang tidak tajam dalam jumlah
terbatas, seperti garam dan kecap.
b. Tidak dianjurkan: Sayuran berserat banyak, sayuran yang
membentuk gas.
7) Minuman
a. Dianjurkan: Teh encer, kopi encer, coklat dalam jumlah
terbatas.
b. Tidak dianjurkan: Minuman yang mengandung alcohol
seperti bir, minuman yang menagndung soda seperti air
soda.

d. Makanan Cair
 Gambaran Umum
Makanan cair adalah makanan yang mempunyai konsistensi cair
hingga kental. Makanan ini diberikan kepada pasien yang

14
mengalami gangguan mengunyah, menelan dan mencernakan
makanan yang disebabkan oleh menurunnya kesadaran, suhu
tinggi, rasa mual,muntah, pasca pendarahan saluran cerna, serta
pra dan pasca bedahmakanan dapat diberikan secara oral atau
parenteral. Menurut konsistensi makanan, makanan cair terdiri
atas tiga jenis, yaitu Makanan Cair Jernih, Makanan Cair Penuh,
dan Makanan Cair Kental.
1) Makanan Cair Jernih
Makanan Cairan Jernih adalah makanan yang disajikan
dalam bentuk cairan jernih pada suhu ruang dengan kandungan
sisa (residu) minimal dan tembus pandang bila diletakkan pada
wadah bening. Jenis cairan yang diberikan tergantung keadaan
penyakit atau jenis operasi yang dijalani.
a) Tujuan Diet
Tujuan diet Makanan Cair Jernih adalah untuk:
(1) Memberikan makanan dalam bentuk cair, yang
memenuhi kebutuhan cairan tubuh yang mudah
diserap dan hanya sedikit meninggalkan sisa (residu).
(2) Mencegah dehidrasi dan menghilangkan rasa haus.
b) Indikasi Pemberian Makanan Jernih
Makanan Cairan Jernih diberikan kepada pasien sebelum
dan sesudah operasi tertentu, keadaan mual dan muntah,
dan sebagai makanan tahap awal pasca pendarahan saluran
cerna. Nilai gizi sangat rendah karena hanya terdiri dari
sumber karbohidrat.
c) Bahan Makanan yang Boleh Diberikan
Bahan makanan yang boleh diberikan anatara lain teh, sari
buah, sirop, air gula, kaldu jernih, serta cairan mudah cerna
seperti caian yang mengandung maltodekstrin. Makanan

15
dapat ditambah dengan suplemen energy tinggi dan rendah
sisa.

2) Makanan Cairan Penuh


Makanan Cair penuh adalah makanan yang berbentuk cair
atau semicair pada suhu ruang dengan kandungan serat
minimal dan tidak "tembus pandang" bila diletakkan dalam
wadah bening. Jenis makanan yang diberikan bergantung pada
keadaan pasien. Makanan ini dapat langsung diberikan kepada
pasien atau sebagai perpindahan dari Makanan Cair Jernih ke
Makanan Cair Kental.
a) Tujuan Diet
Tujuan diet Makanan Cair Penuh meliputi:
(1) Memberikan makanan dalam bentuk cair dan setengah
cair yang memenuhi kebutuhan gizi.
(2) Meringankan kerja saluran cerna.
b) Macam Makanan Cairan Penuh dan Indikasi Pemberian
Makanan Cair Penuh diberikan kepada pasien yang
mempunyai masalah untuk mengunyah, menelan, atau
mencernakan makanan padat, misalnya pada operasi mulut
atau tenggorokan, dan/atau pada kesadaran menurun.
Makanan ini dapat diberikan melalui oral, pipa, atau
enteral (Naso Gastric Tube = NGT), secara bolus atau drip
(tetes). Ada dua golongan Makanan Cair Penuh, yaitu
Formula Rumah Sakit (FRS) dan Formula Komersial (FK).

Formula Rumah Sakit (FRS)


Ada 4 jenis Formula Rumah Sakit:
1. Dengan susu (wbolel skim): Lambung, usus halus dan
kolon bekerja noemal.

16
2. Makanan blender: Memerlukan makanan tambahan
makanan berserat.
3. Rendah laktosa: Tidak tahan terhadap laktosa (lactose
intolerance)
4. Tanpa susu: Tidak tahan protein susu.

Formula Komersial (FK)


Ada 10 (Sepuluh) Jenis Formula Komersial:
1. Renda/ bebas laktosa: tidak tahan terhadap laktosa.
2. Dengan MCT: malabsorbsi lemak.
3. Dengan BCAA: sirosis hati.
4. Protein tinggi: katabolisme meningkat.
5. Protein rendah: gagal ginjal.
6. Protein terhidrolisa: alergi protein.
7. Tanpa susu: tidak tahan protein susu.
8. Dengan serat: perlu suplemen serat.
9. Rendah sisa: reseksi usus.
10. Indeks glikemik rendah: Diabetes Mellitus

3) Makanan Cair Kental


Makanan Cair Kental adalah makanan yang mempunyai
konsistensi kental atau semi padat pada suhu kamar, yang
tidak membutuhkan proses mengunyah dan mudah ditelan.
Menurut keadaan penyakit, Makanan Cair Kental dapat
diberikan langsung kepada pasien atau merupakan
perpindahan dari makanan Cair Penuh ke Makanan Saring.
a) Tujuan Diet
Tujuan diet makanan cair kental adalah memberikan
rangsangan yang tidak membutuhkan proses mengunyah,

17
mudah ditelan, dan mencegah terjadinya aspirasi, yang
memenuhi kebutuhan gizi.
b) Indikasi Pemberian
Makanan cair kental diberikan kepada pasien yang tidak
mampu mengunyah dan menelan, serta untuk mencegah
aspirasi (cairan masuk ke dalam saluran), seperti pada
penyakit yang disertai peradangan, ulkus peptikum, atau
gangguan struktural atau motorik pada rongga mulut.
Makanan ini dapat mempertahankan keseimbangan cairan
tubuh.

2) Standar Makanan Khusus


Menurut Mansjoer (2001), makanan khusus adalah makanan yang
mengandung atau tidak mengandung zat-zat makanan tertentu untuk
penyakit tertentu. Gizi untuk penyakit tertentu adalah sebagai berikut:
a. Diet Energi Tinggi Protein Tinggi
Diet Energi Tnggi Protein Tinggi adalah diet yang mengandung
energi dan protein di atas kebutuhan normal. Diet diberikan dalam
bentuk Makanan Biasa ditambah bahan makanan sumber protein
tinggi seperti susu, telur, dan daging, atau dalam bentuk minuman
Enteral Energi Tinggi Protein Tinggi. Biar ini diberikan bila pasien
telah mempunyai cukup nafsu makan dan dapat menerima
makanan lengkap.
1.) Tujuan Diet
Tujuan diet energi tinggi protein tinggi adalah untuk:
(1) Memenuhi kebutuhan energi dan protein yang meningkat
untuk mencegah dan mengurangi kerusakan jaringan tubuh.
(2) Menambah berat badan hingga mencapai berat badan
normal.

18
2.) Syarat Diet
Syarat-syarat Diet Energi Tinggi Protein Tinggi adalah:
(1) Energi tinggi, yaitu 40-45 kkal/kg BB. (2) Protein tinggi,
yaitu 2,0-2,5 g/kg BB.
(3) Lemak cukup, yaitu 10-25% dari kebutuhan energi total.
(4) Karbohidrat cukup, yaitu sisa dari kebutuhan energi total.
(5) Vitamin dan mineral cukup, sesuai kebutuhan normal.
(6) Makanan diberikan dalam bentuk mudah cerna.
3.) Macam Diet dan Indikasi Pemberian
Diet Energi Tinggi Protein Tinggi diberikan kepada pasien:
(1) Kurang Energi Protein (KEP).
(2) Sebelum dan setelah operasi tertentu, multi trauma, serta
selama radioterapi dan kemoterapi.
(3) Luka bakar berat dan baru sembuh dari penyakit dengan
panas tinggi.
(4) Hipertirroid, hamil, dan post-partum dimana kebutuhan
energy dan protein meningkat.

Terdapat 2 macam diet TKTP, yaitu TKTP I dan TKTP II.


Diet TKTP 1 mengandung 2600 kalori dan 100 g (2g/kg BB)
protein. Diet TKTP II mengandung 3.000 kalori dan 125 g (2½
g/kg BB) protein. Untuk memudahkan menambahkan konsumsi
kalori dan protein dilakukan dengan memberikan penambahan laut
dan susu. Sumber protein hewani yang baik diberikan adalah
ayam, daging, hati, ikan, telur, susu dan keju, sedangkan sumber
protein nabati adalah kacang-kacangan dan hasilnya, seperti tahu,
tempe, dan oncom. Makanan yang terlalu manis dan gurih yang

19
dapat mengurangi nafsu makan, seperti gula-gula, dodol, cake dan
sebagainya, adalah bahan makanan yang dihindarkan.

b. Diet Garam Rendah


Diet garam rendah adalah diet yang mempunyai kandungan
natrium rendah yaitu antara 200-1300 mg per hari. Perlu diketahui
bahwa garam tidak semata mata garam dapur (NaCL), tetapi juga
soda kue (NaHCO3), baking powder, natrium benzoate, dan vetsin
(monosodium glutamate). Makanan atau diet yang diberikan pada
pasien tidak boleh tidak mengandung natrium, karena natrium
diperlukan untuk keseimbangan cairan dan asam basa tubuh yaitu
sebgai kation utama dalam cairan ekstrasellular, serta berperan
dalam transmisi saraf dan konstraksi otot.
Asupan makanan sehari-hari umumnya mengandung lebih
banyak natrium daripada yang dibutuhkan tubuh. Dalam keadaan
normal, jumlah natrium yang dikeluarkan tubuh melalui urine
dengan jumlah yang dikonsumsi sehingga terdapat keseimbangan.
Makanan sehari-hari biasanya cukup mengandung natrium yang
dibutuhkan, sehingga tidak ada penetapan kebutuhan natrium
sehari. WHO (1990) menganjurkan pembatasan konsumsi garam
dapur hingga 6 gram sehari (ekivalen dengan 2400 mg natrium).
1.) Tujuan Diet
Tujuan diet garam rendah adalah membantu menghilangkan
retensi garam atau air dalam jaringan tubuh dan menurunkan
tekanan darah pada pasien hipertensi.
2.) Syarat Diet
Syarat- syarat Diet Garam Rendah adalah:
(1) Cukup energi, proteinz mineral dan vitamin
(2) Bentuk makanan sesuai dengan keadaan penyakit

20
(3) Jumlah natrium disesuaikan dengan berat tidaknya retensi
garam atau air dan/atau hipertensi.
3.) Macam Diet dan Indikasi Pemberian
Diet garam rendah diberikan kepada pasien dengan edema
atau asites dan hipertensi seperti yang terjadi pada penyakit
decompensasi cordis, sirosis hati, penyakit ginjal tertentu dan
hipertensi esensial.

c. Diet Serat Tinggi


Serat makanan adalah polisakarida nonpati yang terdapat dalam
semua makanan nabati. Serat tidak dapat dicerna oleh enzim cerna
tapi berpengaruh baik untuk kesehatan. Serat terdiri atas dua
golongan, yaitu serat larut air dan tidak larut air Serat tidak larut
air adalah selulosa, hemiselulosa, dan lignin yang banyak terdapat
dalam dedak beras, gandum, sayuran, dan buah-buahan. Serat
golongan ini dapat melancarkan defekasi sehingga mencegah
obstipasi, hemoroid, dan divertikulosis. Serat larut air yaitu pektin,
gum, dan mukilase yang banyak terdapat dalam haver mout,
kacang-kacangan, sayur, dan buah-buahan.
Diet Serat Tinggi menimbulkan rasa kenyang sehingga
menunda rasa lapar. Saat ini di pasaran terdapat produk serat
dalam bentuk minuman, tetapi penggunaannya tidak dianjurkan.
Asupan serat berlebihan dapat menimbulkan gas yang berlebihan
dan diare, serta mengganggu penyerapan mineral seperti
magnesium, zat besi, dan kalsium. Makanan tinggi serat alami
lebih aman dan mengandung zat gizi tinggi serta lebih murah.
WHO meng anjurkan asupan serat 25-30g/hari.
1.) Tujuan Diet

21
Tujuan Diet Serat Tinggi adalah untuk memberi makanan
sesuai kebutuhan gizi yang tinggi serat sehingga dapat
merangsang peristaltik usus agar defekasi berjalan normal.
2.) Syarat-syarat Diet Serat Tinggi adalah:
(1) Energi cukup sesuai dengan umur, gender, dan aktivitas
(2) Protein cukup, yaitu 10-15% dari kebutuhan energi total.
(3) Lemak cukup, yaitu 10-25% dari kebutuhan energi total.
(4) Karbohidrat cukup, yaitu sisa dari kebutuhan energi total.
(5) Vitamin dan mineral tinggi, terutama vitamin B untuk
memelihara kekuatan otot saluran cerna.
(6) Cairan tinggi, yaitu 2-2,5 liter untuk membantu
memperlancar defekasi. Pemberian minum sebelum makan
akan membantu merangsang peristaltik usus.

3) Diet Untuk Pemeriksaan


1. Diet untuk Pemeriksaan Benzidin.
Diet ini digunakan untuk mengetahui ada tidaknya pendarahan
pada saluran cerna bagian atas. Bahan makanan yang dapat
menimbulkan reaksi dengan larutan benzidin tidak diperbolehkan
(bahan makanan yang mengandung hemoglobin dan klorofil). Diet
Benzidin biasanya hanya diberikan selama 2-3 hari saja. Menurut
keadaan pasien, makanan diberikan dalam bentuk saringan atau
lunak.
Bahan Makanan yang Boleh Diberikan dan Tidak Boleh
diberikan:
1) Sumber karbohidrat
a. Boleh diberikan: Beras dibubur atau dibubur saring; kentang
di pure; makaroni, roti, biskuit, tepung-tepungan diolah
menjadi bubur atau puding putih.

22
b. Tidak dibolehkan: Dalam bentuk nasi, digoreng, ubi,
singkong.
2) Sumber protein hewani
a. Boleh diberikan: Telur, ikan berdaging putih, susu.
b. Tidak dibolehkan: Daging, ikan berdaging merah, ayam,
telur.
3) Sumber protein nabati
a. Boleh diberikan: Tahu dan tempe ditim atau disetup
b. Tidak dibolehkan: kacang-kacangan kering.
4) Sayuran
a. Boleh doberikan: Kembang kol, labu siam, dan labu kuning.
b. Tidak dibolehkan: Sayuran hijau seperti bayam, kangkung,
buncis, atau kacang panjang.
5) Buah-buahan
a. Boleh diberikan: Pisang ambon, sari sirsak, papaya
b. Tidak dibolehkan: Buah yang berwarna hijau, seperti
advokad, buah yang dimakan dengan kulitnya seperti jambu
biji dan apel.
6) Lemak
a. Boleh diberikan: Mentega, maragrin.
b. Tidak dibolehkan: Minyak goring lemak daging.

2. Diet Untuk Pemeriksaan Pielografi Intravenus


Phelografi Intravenouse (IVP) adalah pemeriksaan dengan
menggunakan x-ray terhadap ginjal, ureter, air kencing dan
kandung kemih yang menggunakan bahan kontras yang
disuntikkan ke veins. Bila bahan kontras disuntikkan kr dalam
pemburuh darah di lengan pasien, makan perlajanan melalui aliran
darah dan dikumpulkan diginjal dan urinary tract, kembali daerah-
daerah tarang putih.

23
Diet pemeriksaan pielografi intravenous digunkan untuk
pemeriksaan kelainan di ginjal, diet diberikan sehari sebelum
pemeriksaan, bentuk makanan cair atau makan mudah dicerna,
minuman dibatasi.

Menu Untuk Diet Pmeriksaan Pielografi Intravenus.


Pagi, siang, sore: Bubur nasi 11/2 gls, telur 1 btr, kecap.
Pukul 19.00: Laksan.

Penggunaan IVP
Pyelogram intravenous membantu dokter menilai abnormalitas
dalam sistem air kencing, serta seberapa cepat dan efisien pasien
system tubuh pasien tersebut dalam memperlihatkan hasil
pemeriksaan tersebut.
Ujian ini digunakan untuk membantu mendiagnosa gejala
seperti darah dalam air seni atau sakit di bagian pinggang atau
sakit pada bagian belakang.
IVP ujian yang dapat mengaktifkan radiolog untuk mendeteksi
permasalahan di dalam sistem yang dihasilkan dari air kencing:
 Batu ginjal
 Tumors dalam ginjal, ureters air kencing atau kandung
kemih
 Batu ginjal
 Bisul kanker sel ginjal
 Transisi sel bisul kanker, atau TCCPolycystic ginjalVariasi
anatomis, yakni ladam ginjal atau mengumpulkan duplex
sistem
 Halangan (biasa di panggul-ureteric persimpangan atau
PUJ dan vesicoureteric persimpangan atau VUJ
 Polycystic ginjal

24
 Variasi anatomis, yakni ladam ginjal atau mengumpulkan
duplex sistem IVP dapat digunakan dalam hubungannya
dengan tes:
 Ultrasound
 Cystoscopy
 CT
 MRI
 Video cystometrography atau VCM
 Tes darah
 Urine analisis

3. Diet Untuk Pemeriksaan Kolesistografi


Meskipun sudah diganti dengan USG sebagai pemeriksaan
pilihan, kolesistografi masih digunakan jika alat USG tidak
tersedia. Kolesistografi oral dapat dilakukan untuk mendeteksi
batu empedu dan mengkaji kemampuan kandung empedu untuk
melakukan pengisian.
Diet intuk pemeriksaan kolesistografi
- Untuk pemeriksaan kelainan kandung empedu
- Pemberian diet 2 hari
- Hari pertama diet berbentuk makanan lunak tanpa lemak
- Dilakukan klisna
- Hari kedua difoto dan diberikan diet tinggi lemak.

Menu Untuk Pemeriksaan Kolesistografi


Hari 1 sore diberikan makanan lunak tanpa lemak berupa:
- Tim/bubur nasi 1 ½ gls
- Tahu/tempe rebus 2 potong
- Sayuran lunak tanpa santan 1 gls

25
- Pisang 1 bh sdng
Pukul 22.00 berupa klisma/laksid (pencahar). Jam 07.00
diberikan klisma lagi, kemudian difoto. Setelah itu diberikan
diet tinggi lemak (>40 %) berupa:
- Roti 2 iris
- Telur 2 butir
- Susu 1 gelas
- Margarin 3 sdm

4. Diet Untuk Pemeriksaan Toleransi Glukosa


- Untuk memeriksa toleransi terhadap glukosa
- Tiga hari berturut-turut sebelum pemeriksaan pasien diberikan
diet DM VII (350 gr KH)
- Pada hari ke 4 (hari pemeriksaan) pasien hanya diberikan
cairan (50-100 glukosa dan ½ gelas sari jeruk)
- Gula darah diukur sebeluum cairan glukosa diberikan,
kemudian setengah jam, suhu, dua, dan tiga jam setelah cairan
glukosa diberikan.

Bahan Makanan Yang Boleh Diberikan:


1) Sumber karbohidrat: Beras dibuat nasi, bubur atau saring;
kentang dipure; produk olahan tepung seperti macaroni, roti
putih dan bihun.
2) Sumber protein hewani: Daging, ikan, telur, susu full cream,
dan yoghurt.
3) Sumber lemak: Margarine, mentega, minyak, krim dalam
jumlah banyak, sayuran bebas dimask.
4) Buah-buahan: Semua jenis buah-buahan.

26
5. Diet Untuk Pemeriksaan Kolonoskopi
Kolonoskopi adalah tindakan untuk memeriksa Saluran Usus
Besar dengan menggunakan peralatan canggih berupa Lensa Serat
Optik yang sangat lentur yang dimasukkan melalui anus (dubur)
sampai menjangkau Usus Besar. Gunanya terutama untuk
memeriksa keadaan dinding Usus Besar dari bahay adanya polip
atau kelainan yang dicurigai sebagai keganasan.
a. Tujuan
- Untuk mengetahui kelainan pada kolon dengan
menggunakan endoskopi.
- Tujuan diet memberikan makanan secukupnya yang
meninggalkan sisa minimal dalam usus.
b. Syarat diet
- Energi dan protein sesuai dengan kebutuhan di atas
kebutuhan basal
- Rendah sisa agar kolon menjadi bersih
- Bnayak minum untuk melancarkan deteksi
- Diberikan 2-3 hari sebelum tindakan kolonskopi

D. Penetapan Standar Produksi Makanan


Dalam memproduksi makanan perlu adanya beberapa standar makanan
seperti standar porsi, standar resep dan standar bumbu. Standar ini dapat
menghasilkan makanan yang sama siapapun pengolahnya
1. Standar porsi
Standar porsi adalah rincian macam dan jumlah bahan makanan dalam
jumlah bersih setiap hidangan.Dalam penyelenggaraan makanan orang
banyak, diperlukan adanya standar porsi untuk setiap hidangan, sehingga
macam dan jumlah hidangan menjadi jelas. Porsi yang standar harus

27
ditentukan untuk semua jenis makanan dan penggunaan peralatan seperti
sendok sayur, centong, sendok pembagi harus distandarkan.

2. Standar resep
Resep standar dikembangkan dari resep yang ada dengan
melipatgandakan atau memperkecil jumlah penggunaan bahan makanan
yang diperlukan. Untuk mencapai standar yang baik sesuai yang diharapkan
diperlukan resep-resep yang standar. Dalam standar resep tercantum nama
makanan, bumbu yang diperlukan, teknik yang diperlukan dan urutan
melakukan pemasakan. Suhu dan waktu pemasakan, macam dan ukuran alat
yang dipakai, jumlah porsi yang dihasilkan, cara memotong, membagi, cara
menyajikan dan taksiran harga dalam porsi.
3. Standar bumbu
Standar bumbu adalah komposisi bumbu yang telah dibakukan dan
diberlakukan di institusi dalam rangka penyeragaman rasa hiding (bumbu
dasar). Tujuan dari standar bumbu adalah untuk menciptakan mutu atau
kualitas makanan yang relatif sama cita rasanya.

28
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Makanan adalah bahan selain obat yang mengandung zat-zat
gizi dan atau unsur-unsur /ikatan kimia yang dapat diubah menjadi
zat gizi oleh tubuh, yang berguna bila dimasukkan kedalam tubuh
(Almatsier 2009).
Makanan yang disajikan oleh rumah sakit ini merupakan
bagian dari proses penyelenggaraan makanan rumah sakit. Menurut
Depkes RI tahun 2006, penyelenggaraan makanan rumah sakit
merupakan suatu rangkaian kegiatan. Mulai dari perencanaan menu
sampai dengan distribusi makanan kepada pasien. Agar kesehatan
pasien kembali pulih atau sembuh.
Jenis dan bentuk standar makanan Rumah Sakit meliputi:
1. Standar makanan umum rumah sakit
2. Standar makanan khusus
3. Diet untuk pemeriksaan

B. SARAN
Diharapkan agar sebelum memberikan makanan pada pasien
sebaiknya selalu memperhatikan makan yang dibolehkan dan
makanan yang tidak dibolehkan sehingga dapat mempercepat
penyembuhan dan tercapainya tujuan dari diet secara maximal.

29
DAFTAR PUSTAKA

https://id.scribd.com/doc/313188230/Standar-Bentuk-bentuk-
Makanan-Rumah-Sakit-docx
https://id.scribd.com/doc/85752215/Makanan-Khusus-Rumah-Sakit
https://www.dictio.id/t/bagaimana-diet-atau-makanan-rumah-
sakit/124525/2
https://id.scribd.com/doc/265946971/Diet-Pemeriksaan
http://awalbros.com/umum/pentingnya-konsumsi-makanan-rumah-
sakit-bagi-pasien/

30

Anda mungkin juga menyukai