Anda di halaman 1dari 67

LAPORAN PRAKTEK KERJA / MAGANG

DI RSUD BANJARNEGARA
TAHUN 2010

OLEH:
ARIE NIZAR SIDQI P17433107104
DIYAH MEGAWATI P17433107109
ERNA KUSUMASARI P17433107114
EVA YUNITA F P174331071xx
LAELI NURROHMAH P17433107128
TURSINA HABDIDIN P17433107154

DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DEPKES SEMARANG
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN PURWOKERTO
PROGRAM STUDI DIPLOMA III KESEHATAN LINGKUNGAN
PURWOKERTO
2010

i
LAPORAN PRAKTEK KERJA / MAGANG

DI RSUD BANJARNEGARA
TAHUN 2010

Laporan Praktek Kerja / Magang Ini Sebagai Salah Satu Persyaratan Untuk
Mengikuti Ujian Akhir Program Diploma III Kesehatan Lingkungan

OLEH:
ARIE NIZAR SIDQI P17433107104
DIYAH MEGAWATI P17433107109
ERNA KUSUMASARI P17433107114
EVA YUNITA F P174331071xx
LAELI NURROHMAH P17433107128
TURSINA HABDIDIN P17433107154

DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DEPKES SEMARANG
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN PURWOKERTO
PROGRAM STUDI DIPLOMA III KESEHATAN LINGKUNGAN
PURWOKERTO
2010

ii
HALAMAN PERSETUJUAN

Laporan praktek kerja / magang di RSUD Banjarnegara yang dilaksanakan


mulai tanggal 17 Maret 2010 sampai dengan tanggal 10 April 2010 ini, telah
kami setujui.

Banjarnegara,10 April 2010

Pembimbing Institusi Pembimbing Lapangan

Asep Tata Gunawan, SKM, M.Kes Susmantono, SKM


NIP.196511 16198902 1 001 NIP. 19630922 198703 1 005

Mengetahui,
Koordinator Mata Kuliah DPMKL

Asep Tata Gunawan, SKM, M.Kes


NIP.196511 16198902 1 001

iii
BIODATA PENYUSUN

Laporan praktek kerja / magang ini disusun oleh:


1. Nama : Arie Nizar Sidqi
NIM : P17433107104
Tempat, Tanggal Lahir : Pemalang, 26 Januari 1989
Alamat Rumah : Jl. R.A Kartini No. 343, RT 33 RW 04
Kec. Randudongkal, Kab. Pemalang
Nomor Telp : 085643388555

2. Nama : Diyah Megawati


NIM : P17433107109
Tempat, Tanggal Lahir : Banjarnegara, 21 Desember 1985
Alamat Rumah : Kelurahan Argasoka, RT 02 RW 08 Banjarnegara
Nomor Telp : 085728468810

3. Nama : Erna Kusumasari


NIM : P17433107114
Tempat, Tanggal Lahir : Banjarnegara, 06 April 1989
Alamat Rumah : Kelurahan Argasoka, RT 02 RW 08 Banjarnegara
Nomor Telp : 085726449955

4. Nama : Eva Yunita Ferliana Sari


NIM : P174 331071
Tempat, Tanggal Lahir : Banjarnegara, 25 Juni 1987
Alamat Rumah : JL. Letnan Karsono No.102 RT02 RW 07
Parakancanggah, Banjarnegara
Nomor Telp : 081391101006

iv
5. Nama : Laeli Nurrohmah
NIM : P17433107128
Tempat, Tanggal Lahir : Kebumen, 19 September 1989
Alamat Rumah : Kaliputih, RT 04 RW VI, Kec. Kutowinangun,
Kab. Kebumen.
Nomor Telp : 081802800759

6. Nama : Tursina Habdidin


NIM : P174331071
Tempat, Tanggal Lahir : Magelang, 3 Februari 1988
Alamat Rumah : Keron Sigug, RT 08 RW 06 Kec. Sawangan Kab.
Magelang
Nomor Telp : 085729217788

v
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat
menyelesaikan laporan praktek kerja / magang di RSUD Banjarnegara. Tujuan
penulis dalam menyusun laporan pratek kerja ini adalah untuk mencapai derajat
Ahli Madya Kesehatan Lingkungan,
Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu baik materiil maupun moril, sehingga penyusunan laporan praktek
kerja ini dapat terselesaikan. Ucapan terima kasih penulis tujukan kepada:
1. Bapak Sugiyanto, S.Pd, M.App.Sc, selaku direktur Politeknik Kesehatan
Depkes Semarang
2. Bapak Marsum, BE, S.Pd, MHP, selaku Ketua Jurusan Kesehatan Lingkungan
Purwokerto.
3. Bapak Sugeng Abdullah, SST, M.Si, selaku Ketua Program Studi Diploma III
Kesehatan Lingkungan Purwokerto.
4. Bapak Asep Tata Gunawan, SKM, M.Kes, selaku koordinator mata kuliah
DPMKL dan selaku pembimbing institusi.
5. Ibu Drg. Puji Astuti, M.Kes selaku Direktur RSUD Banjarnegara
6. Ibu Dra. Agustin Isnaeni K, selaku Kepala seksi penunjang non medis
7. Ibu Dra. Sri Susiani M, M.Si, selaku Kepala instalasi diklat
8. Bapak Susmantono, SKM, selaku Kepala Unit Penyehatan Lingkungan
9. Ibu Ida Fitri Leksanawati, Amd.KL, selaku pembimbing lapangan.
10. Bapak dan Ibu karyawan di Lingkungan RSUD Banjarnegara yang telah
membantu dalam pelaksanaan magang dan penyusunan laporan ini.
11. Bapak dan Ibu tercinta yang selalu mencurahkan cinta, kasih sayang tiada
terkira sehingga laporan kerja praktek / magang dapat terselesaikan.
12. Semua pihak yang tidak dapat disebuutkan satu persatu yang ikut membantu
penyusunan laporan praktek kerja / maganng.

vi
Penulis menyadari bahwa penulisan laporan praktek kerja / magang ini
masih jauh dari sempurna, maka dari itu kritik dan saran yang bersifat
membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan laporan praktek kerja /
magang.

Banjarnegara, April 2009

Penulis

vii
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN SAMPUL ………………………………………….............. i
HALAMAN JUDUL ……………………………………………………. ii
HALAMAN PERSETUJUAN …………………………………………… iii
BIODATA PENYUSUN ………………………………………………… iv
KATA PENGANTAR …………………………………………………… vi
DAFTAR ISI ……………………………………………………………... viii
DAFTAR TABEL ………………………………………………………... x
DAFTAR GAMBAR …………………………………………………….. xi
DAFTAR LAMPIRAN …………………………………………………... xii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ……………………………………………... 1
B. Tujuan ……………………………………………………… 2
C. Manfaat …………………………………………………….. 3
D. Waktu ………………………………………………………. 3
E. Lokasi ………………………………………………………. 3
BAB II HASIL
A. Gambaran Umum …………………………………………... 4
B. Gambaran Program Kesehatan Lingkungan Secara Umum ... 7
BAB III GAMBARAN PROGRAM KESEHATAN LINGKUNGAN
KHUSUS
A. Identifikasi Masalah ………………………………………... 13
B. Penentuan Prioritas Masalah ……………………………….. 15
C. Analisis Alternatif Pemecahan Masalah …………………… 16
D. Rencana Tindakan ………………………………………….. 20
E. Tindakan Intervensi ………………………………………… 21

viii
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan ………………………………………………… 23
B. Saran ………………………………………………………... 25
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN – LAMPIRAN

ix
DAFTAR TABEL

Tabel Halaman
3.1 Dosis Penggunaan Detergen 18
3.2 Dosis Penggunaan Pewangi Pakaian 18

x
DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman
3.1 Pengelolaan Linen 14
3.2 Rencana Tindakan Pengelolaan Linen 20

xi
DAFTAR LAMPIRAN

1. Daftar kegiatan harian praktek kerja / magang


2. Instrument penilaian
3. Inspeksi Sanitasi RS

xii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kesehatan merupakan salah satu kebutuhan pokok hidup manusia yang
bersifat asasi. Bagi setiap Negara, masalah kesehatan merupakan pencerminan
nyata kondisi dan kekuatan masyarakatnya, seperti layaknya kata bijak yang
menyebutkan “ Rakyat Sehat Negara Kuat “ sebagai salah satu Negara
berkembang, Indonesia mempunyai tingkat kesehatan dan kondisi pelayanan
yang kurang memadai dibandingkan dengan Negara-negara maju.
Penyelenggaraan upaya kesehatan yang bersifat menyeluruh dan terpadu
dilaksanakan melalui peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit
(preventif), penyembuhan penyakit (kuratif) dan pemulihan kesehatan
(rehabilitatif) disertai dengan upaya penunjang yang diperlukan (Depkes RI,
1995, h. 7).
Rumah Sakit adalah sarana upaya kesehatan yang menyelenggarakan
kegiatan pelayanan kesehatan serta dapat berfungsi sebagai tempat pendidikan
tenaga kesehatan dan penelitian ( Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 986 /
MENKES / XI / 1992). Rumah sakit merupakan bagian penting dari suatu
sistem kesehatan, karena rumah sakit menyediakan pelayanan kuratif
kompleks, pelayanan gawat darurat, berfungsi sebagai tempat rujukan, serta
pusat alih pengetahuan dan teknologi.
Salah satu mutu pelayanan kesehatan yang perlu ditingkatkan
diantaranya adalah Unit Pemeliharaan Sarana Prasarana Rumah Sakit
(UPSPRS). Yang merupakan salah satu hal penting yang berhubungan dengan
pasien pada bagian UPSPRS adalah linen, pengelolaan sampah medis dan non
medis, pengelolaan air bersih dan pengelolaan limbah cair. Bila hal tersebut
dapat dikelolaan dengan baik maka akan meminimalkan resiko penyakit
infeksius .

1
Salah satu rumah sakit yang ada di jawa tengah yaitu Rumah Sakit
Umum Banjarnegara yang didirikan tahun 1940. Pada tahun 1994 RSUD
Banjarnegara ditetapkan menjadi Rumah Sakit kelas C.
Dalam rangka meningkatkan akses dan jangkauan pelayanan bagi
masyarakat, secara bertahap RSUD Banjarnegara menambah kapasitas tempat
tidur di ruang perawatan, dan sampai tahun 2009 total jumlah tempat tidur
adalah 158 buah. Penambahan jumlah kapasitas tempat tidur disebabkan oleh
mulai dioperasikannya ruang perawatan ICU 2 TT dan ruang perawatan VIP
sebanyak 2 TT.
Kapasitas tempat tidur disiapkan untuk pasien kelas III yaitu sebanyak
76 TT (446,9%). Sedangkan untuk golongan menengah ke atas tersedia 16 TT
(10,5%) untuk pasien kelas paviliun, dan 6 TT (3,7%) untuk kelas utama.
Untuk pasien golongan menengah ke bawah tersedia 22 TT (13,6%) untuk
kelas I dan 38 (23,5%) untuk kelas II. Karena tingkat hunian yang tinggi
maka perlu penyediaan sarana rumah sakit yang memenuhi persyaratan
kesehatan. Misalnya pada pengelolaan linen, meskipun linen tidak digunakan
secara langsung dalam proses pengobatan namun secara langsung dapat dilihat
pengaruhnya. Apabila pengelolaannya tidak baik dapat menimbulkan
penularan penyakit yaitu melalui infeksi silang.

B. Tujuan
1. Mendapatkan pengalaman belajar secara terapan dalam melaksanakan atau
mengelola kegiatan kesehatan lingkungan di RSUD Banjarnegara.
2. Mengidentifikasi masalah kesehatan lingkungan di RSUD Banjarnegara.
3. Menentukan prioritas masalah kesehatan lingkungan di RSUD
Banjarnegara.
4. Menganalisis alternatif pemecahan masalah kesehatan lingkungan di
RSUD Banjarnegara.
5. Merencanakan tindakan untuk mengatasi masalah kesehatan lingkungan di
RSUD Banjarnegara.

2
C. Manfaat
1. Bagi Mahasiswa
Memberikan kesempatan pada mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu
dan ketrampilannya di bidang kesehatan lingkungan di lahan praktek.
Mengenalkan dan mempromosikan ketrampilan diri dalam pengelolaan
kesehatan lingkkungan.
2. Bagi Jurusan Kesehatan Lingkungan Purwokerto Politeknik Kesehatan
Depkes Semarang
Koreksi dan bahan pengembangan kesenjangan ilmu kesehatan lingkungan
yang ada diproses pembelajaran dengan lahan praktek.
3. Bagi Instansi / Tempat Praktek Kerja / Magang
Membantu pelaksanaan program kesehatan lingkungan yang sedang
berjalan.

D. Waktu
Waktu pelaksanaan praktek kerja / magang yaitu tanggal 17 maret sampai
dengan 11 april 2010.

E. Lokasi
Lokasi praktek kerja / magang adalah di Rumah Sakit Umum Daerah
Banjarnegara Jln. Jenderal Sudirman No. 42, Banjarnegara.

3
BAB II
HASIL

A. Gambaran Umum
1. Data Daerah
a. Nama Daera h : Kabupaten Banjarnegara
b. Luas Wilayah (2008) : 106.970.997 Ha (3,29% Provinsi
Jawa Tengah
c. Jumlah Penduduk : 1.009.331 jiwa, dengan 241.527
KK
d. Jumlah Keluarga Miskin : 85.420 KK
e. Besarnya APBD (2010) :
Pendapatan : RP. 717.108.456.000;
Belanja : RP. 751.600.856.000;
Defisit : RP. 34.492.440.000;
f. PAD : RP. 60.035.077.000;
Target Pendapatan Retribusi : RP. 40.393.434.000;
g. Target Pendapatan RSUD : RP. 21.517.000.000;
h. Anggaran RSUD : RP. 35.001.341.000;
i. Belanja Langsung : RP. 19.133.402.000;

2. Identitas Rumah Sakit


a. Nama Rumah Sakit : RSUD Kab. Banjarnegara
b. Status Kepemilikan : Pemkab Banjarnegara
c. Kependudukan : Lembaga Teknis Daerah
d. Kode Registrasi : 33.04.010
e. No Ijin operasi RS : HK.07.06/III/678/2008
f. Kelas Rumah Sakit : Kelas Type – C
(SK No.495/SK/1994)
g. Status Akreditasi : Tingkat Dasar (5 Pelayanan – 2003)
h. Alamat : Jln. Jenderal Sudirman No. 42, Banjarnegara

4
i. Telp / Fax : (0286) 591464 / 592462

3. Pelayanan
a. Jenis Pelayanan
Untuk melaksanakan tugas pokoknya RSUD Banjarnegara
menyelenggarakan kegiatan-kegiatan pelayanan sesuai dengan
fungsinya, yang meliputi :
1). Pelayanan Medis, terdiri dari :
a). Pelayanan Medis Special
b). Pelayanan Medis Umum
c). Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut
d). Pelayanan Gawat Darurat Medis
2). Pelayanan Penunjang Medis, terdiri dari :
a). Pelayanan Laboratorium Patologi Klinik
b). Pelayanan Radiologi dan Radiodiagnostik
c). Pelayanan Farmasi
d). Pelayanan Rehabilitasi Medis
e). Pelayanan Gizi
f). Pelayanan Rekam Medik
3). Pelayanan Asuhan Keperawatan
4). Pelayanan Penunjang Non Medis, terdiri dari :
a). Pelayanan Transportasi Pasien
b). Pelayanan Pemulasaran Jenazah
c). Pelayanan Medikolegal
5). Pelayanan Pendidikan dan Pelatihan
6). Pelayanan Penelitian dan Pengembangan
7). Pengelolaan Administrasi Umum dan Keuangan
8). Pelayanan lain yang mungkin diadakan menurut peningkatan dan
pengembangan RSUD Banjarnegara.

5
b. Kapasitas Tempat Tidur
Dalam rangka meningkatkan akses dan jangkauan pelayanan bagi
masyarakat, secara bertahap RSUD Banjarnegara menambah kapasitas
tempat tidur di ruang perawatan, dan sampai tahun 2009 total jumlah
tempat tidur adalah 158 buah. Penambahan jumlah kapasitas tempat
tidur disebabkan oleh mulai dioperasikannya ruang perawatan ICU 2
TT dan ruang perawatan VIP sebanyak 2 TT.
Kapasitas tempat tidur disiapkan untuk pasien kelas III yaitu
sebanyak 76 TT (446,9%). Sedangkan untuk golongan menengah ke
atas tersedia 16 TT (10,5%) untuk pasien kelas paviliun, dan 6 TT
(3,7%) untuk kelas utama. Untuk pasien golongan menengah ke bawah
tersedia 22 TT (13,6%) untuk kelas I dan 38 (23,5%) untuk kelas II.
c. Proses Produksi Pelayanan
Proses produksi jasa pelayanan saat ini masih di dukung oleh
komitmen yang cukup tinggi dari para karyawan, walaupun berdasarkan
hasil survey pengaduan masyarakat menunjukan adanya ketidakpuasan
masyarakat terhadap pelayanan Rumah Sakit. Hal ini mungkin
disebabkan oleh mulai lunturnya budaya dan falsafah pelayanan prima
yang mempunyai makna pelayanan yang cepat, tepat, ramah dan
inofatif.
d. Pemasaran Pelayanan
Berbagai upaya pemasaran sebenarnya telah mulai digerakan
sejak tahun 2002, dengan melaksanakan kegiatan promosi melalui
sosialisasi dan PKMRS, siaran radio, pengisian rubrik konsultasi sehat
pada media Derap Serayu, pemasaran social keluar Rumah Sakit
sebagai upaya perluasan/peningkatan cakupan pangsa pasar serta
peningkatan kerjasama dengan pihak ketiga. Dalam pelaksanaanya
ternyata kegiatan pemasaran ini tidak dapat berjalan dengan baik dan
konsisten, bahkan bias dikatakan terhenti karena keterbatasan sumber
daya yang dimiliki oleh Rumah Sakit.

6
B. Gambaran Program Kesehatan Lingkungan Secara Umum
1. Pengelolaan Air Bersih
a. Sumber Air
Sumber air bersih yang dipakai dalam kegiatan sehari-hari di
RSUD Banjarnegara berasal dari PDAM yang selanjutnya di
tampung pada grounteng. Jumlah grounteng yang ada di RSUD
Banjarnegara berjumlah 2 buah. Air dari grounteng setelah di
kaporisasi kemudian di distribusikan ke seluruh ruangan.
Kebutuhan air bersih rata-rata 16m3/grounteng.
b. Permasalahan
1). Tidak dilakukannya pemeriksaan kualitas air secara rutin dari
pihak Rumah Sakit.
c. Alternatif pemecahan masalah
1). Perlu dilakukannya pemeriksaan kualitas air secara berkala dari
pihak Rumah Sakit dengan cara pengambilan sampel air
melalui proses bakteriologi dan kimia.
2. Pengelolaan dan Pengawasan Air Limbah
a. Cara Pengolahan
Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) adalah suatu
bangunan untuk menampung dan mengolah air limbah rumah sakit.
Limbah rumah sakit adalah semua air buangan dan tinja yang
berasal dari rumah sakit yang kemungkinan besar mengandung
mikroorganisme pathogen, bahan kimia beracun dan radioktif. IPAL
RSUD Banjarnegara dibangun pada tahun 1995. IPAL Kapasitas
IPAL saat ini 2 x 2 x 5 = 20 m3. Limbah yang dihasilkan berasal
dari ruang pelayanan medis dan non medis.
Sistem pengelolaan limbah cair di RSUD Banjarnegara
disarankan menerapkan sistem semi lengkap (secondary treatment).
Pada sistem ini semua limbah masuk kedalam instalasi dan
selanjutnya dibersihkan melalui proses biologis. Proses
menggunakan metoda aerob dengan pertimbangan ekonomis dan

7
sesuai dengan kapasitas produksi limbah cair dengan jumlah tempat
tidur dibawah 300 bed. Dalam metoda aerob digunakan oksigen
untuk mempercepat bakteri dalam menguraikan zat organis
sehingga effluent yang dihasilkan akan jernih, baik dan tidak
berbau. Standar kualitas effluenf pada proses pengolahan dengan
metoda aerob adalah BOD 20 -30 ppm dan SS 20 ppm.
Adapun sistem pengolahan air limbah yang ada di RSUD
Banjarnegara adalah sebagai berikut :
1). Limbah yang diolah berupa limbah cair yaitu buangan yang
berasal dari ruang bangsal perawatan, dapur, laboratorium,
perkantoran.
2). Saluran perpipaan IPAL terpisah dengan saluran air hujan.
3). Saluran dibuat tertutup agar tidak terjadi pencemaran yang
disebabkan oleh bakteri dan dari segi estetika akan lebih baik.
4). Effluent yang sudah melalui IPAL selanjutnya masuk ke roil
kota.
b. Permasalahan
Salah satu ruang perawatan berdekatan dengan lokasi pengolahan
air limbah, sedangkan sistem pengilahan air limbah yang digunakan
secara terbuka sehingga kadang menimbulkan bau pada ruang
perawatan tersebut.
c. Alternatif pemecahan masalah
1). Pemeriksaan secara berkala minimal 6 bulan sekali.
2). Pembersihan sistem pengolahan limbah secara berkala pada bak
penampungan limbah awal dan jangan menunggu sampai bak
tersebut penuh.
3. Pertamanan
a. Jenis Sarana
Rumah Sakit merupakan pelayanan kesehatan yang
mempunyai fungsi utama penyembuhan dan pemulihan. Untuk
memberikan pelayanan yang optimal kepada masyarakat, RSUD

8
Banjarnegara berupaya meningkatkan pelayanan rumah sakit mulai
dari penambahan sarana, prasarana dan sumber daya manusia
sampai dengan upaya pemeliharaan kebersihan bangunan serta
pengelolaan taman dan lingkungan.
Kebersihan lingkungan meliputi ruang perawatan, kantor,
ruang pelayanan dan perawatan taman, pengawasan kebersihan
lingkungan dilakukan oleh Unit Pemeliharaan Sarana Prasarana
Rumah Sakit (UPSPRS) yang dilaksanakan oleh Cleaning Service
sebanyak ±24 orang dan cleaning service dari pihak ketiga sebanyak
12 orang.
b. Permasalahan
1). Satu pasien ditunggui oleh banyak kerabat sehingga
menyebabkan sampah menumpuk dan pengunjung tidak
membuang sampah sesuai dengan tempat sampah yang tersedia
yaitu tempat sampah kering dan tempat sampah basah.
2). Lantai licin bila musim hujan walaupun sudah dipel di
karenakan bangunan rumah sakit yang masih dalam tahap
pembangunan sehingga banyak jalan-jalan di rumah sakit yang
masih becek bercampur lumpur yang menyebabkan lantai kotor
dan licin.
3). Terkadang sampah medis dan non medis masih tercampur
karena masih terdapat berberapa petugas medis yang kurang
disiplin.
4). Cleaning service tidak memakai APD walaupun sudah diberi
peralatan APD.
c. Alternatif Pemecahan Masalah
1). Pemberian sosialisasi kepada para pengunjung tentang
pembuangan sampah yang benar dengan pemberian poster
tentang pembuangan sampah yang benar di samping tempat
sampah yang telah disediakan.

9
2). Pembersihan lantai secara rutin apabila lantai sudah terlihat
kotor dan pada musim penghujan sehingga lantai terlihat bersih
dan terawat.
3). Pemberian sosialisasi kepada para petugas medis baik secara
lisan misalnya teguran kepada petugas medis yang membuang
sampah medis tidak sesuai tempatnya, maupun tulisan tentang
pembuangan sampah medis.
4). Pemberian sosialisasi kepada petugas cleaning service tentang
kegunaan APD dan bahaya yang ditimbulkan jika APD tidak
digunakan.
4. Pengelolaan Sampah Medis
a. Jenis sampah medis
Sampah medis yang dihasilkan oleh rumah sakit ditampung
sementara di masing-masing ruangan, sebelum dibakar sampah
medis terlebih dahulu ditimbang untuk mengetahui volume sampah
medis per ruangan. Pembakaran sampah medis di incinerator pada
suhu 8000C-10000C sehingga tidak memungkinkan bakteri dapat
hidup. Hasil pembakaran sampah medis diambil oleh DLHK.
b. Permasalahan
1). Tidak dibedakan antara sampah medis sebagaimana menurut
buku pedoman sanitasi rumah sakit di Indonesia tahun 1997,
yaitu pengelolaan dapat dikategorikan menjadi 5 golongan
limbah klinis :
a). Golongan A
Dressing Bedah, swab dan semua limbah terkontaminasi
dari daerah ini.
Bahan-bahan linen dari kasus penyakit infeksius
Seluruh jaringan tubuh manusia (terinfeksi maupun
tidak), bangkai / jaringan hewan dari laboratorium dan
hal-hal ini yang berkaitan dengan swab dan dressing.
b). Golongan B

10
Syringe bekas, jarum, cartridge, pecahan gelas dan benda
tajam lainnya.
c). Golongan C
Limbah dari ruang laboratorium dan postmartum kecuali
yang termasuk dalam golongan A.
d). Golongan D
Limbah bahan kimia dan bahan-bahan farmasi tertentu.
e). Golongan E
Pelapis Bed-pan disposable, urinoir, incontinence-pad dan
stamagbags.
2). Tidak adanya pemberian label yang jelas dari berbagai jenis
limbah.
3). Tidak adanya pemberian plastik pada setiap tempat sampah
yang ada di setiap ruangan.
c. Alternatif pemecahan masalah
1). Dibedakan antara sampah medis sebagaimana menurut buku
pedoman sanitasi rumah sakit di Indonesia tahun 1997.
2). Adanya pemberian label yang jelas dari berbagai jenis limbah.
3). Adanya pemberian plastik pada setiap tempat sampah yang ada
di setiap ruangan.
5. Pengelolaan Sampah Non Medis
a Pengelolaan sampah
Sampah non medis yang dihasilkan ditampung sementara ditempat
sampah yang ada di masing-masing ruangan, setiap hari petugas
kebersihan mengambilnya menggunakan gerobak kemudian
dimasukkan ke container (TPS) milik DKP. Pengangkutan sampah
oleh DKP dilakukan setiap hari.
b Permasalahan dan alternatif pemecahan masalah
1). Jalur sampah yang sama antara pengunjung, linen bersih dan
sampah.

11
2). Masih bercampurnya sampah organic dan anorganik
dikarenakan kurangnya kesadaran pengunjung untuk
membedakan antara sampah organic dan anorganik.
6. Pengawasan Serangga dan Binatang Pengganggu
Penularan penyakit di rumah sakit dapat juga disebabkan oleh serangga
(lalat, nyamuk, kecoa) dan binatang pengganggu (tikus dan kucing)
Pengendalian serangga dilakukan sementara dengan pemeliharaan
kebersihan tempat-tempat berkembangnya serangga.
7. Pengelolaan Linen
Kegiatan ini dilakukan mulai dari pengambilan kotor dari masing-
masing ruang perawatan kemudian dikumpulkan di laundry untuk
dilakukan proses pencucian sampai dengan penyetrikaan hingga linen
siap dipakai kembali.
Menurut kami pengelolaan linen yang ada di RSUD Banjarnegara
sudah cukup baik sesuai dengan pedoman pengelolaan linen yang ada.
Untuk lebih jelasnya tentang linen serta pengelolaannya akan dibahas
pada bab selanjutnya.

12
BAB III
GAMBARAN PROGRAM KESEHATAN LINGKUNGAN
KHUSUS (PENGELOLAAN LINEN)

A. Identifikasi Masalah
1. Pengertian Linen
Dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor: 1204/MENKES/SK/X/2004 Tentang Persyaratan Kesehatan
Lingkungan Rumah Sakit, pengertian laundry rumah sakit adalah
tempat pencucian linen yang dilengkapi dengan sarana penunjangnya
berupa mesin cuci, alat dan disinfektan, mesin uap (steam boiler),
pengering, meja dan meja setrika.
Pengertian pengelolaan linen berdasarkan buku sanitasi rumah
sakit Indonesia bagian A tahun 1988 disebutkan bahwa “Pengelolaan
linen adalah suatu kegiatan yang dimulai dari pengumpulan linen kotor
dari masing-masing ruangan, pengangkutan, pencucian, penyetrikaan,
penyimpanan, dan pengangkutan linen yang sudah bersih”.
Linen kotor merupakan sumber kontaminasi penting di dalam
rumah sakit. Penanganan linen di RSUD Banjarnegara rutin dilakukan
setiap hari mulai dari pengangkutan linen kotor dari ruangan,
pengelolaan linen di laundry kemudian pendistribusian linen bersih ke
ruang perawatan, IBS (Instalasi Bedah Sentral), ICU, IGD.
2. Jenis Linen
Jenis linen di RSUD Banjarnegara antara lain:
a. Selimut
b. Sprei
c. Stik laken
d. Baju operasi
e. Handuk
f. Sarung guling

13
g. Taplak
h. Lap tangan
i. Topi operasi
j. Perlak

3. Bagan Alir Pengelolaan Linen

Linen yang ada di ember Pengangkutan dengan


menggunakan troli
diambil dari ruangan

Penyortiran linen Linen kotor ditimbang


sesuai dengan ruangan

Linen Infeksius Linen Non-Infeksius

Perendaman + Mesin cuci


klorin/desinfektan selama ½
jam

Setrika Dijemur

Pengangkutan dengan menggunakan


troli ke ruangan

Gambar 3.1 Pengelolaan Linen

14
B. Penentuan Prioritas Masalah
a. Penanganan dan Pengangkutan Linen
1. Dalam pengangkutan linen, petugas telah menggunakan kereta
dorong tetapi belum terdapat jalur khusus untuk pengangkutan
linen.
2. Linen kotor (infeksius dan non infeksius) masih belum terpisah
mulai dari ruang penghasil linen dan tidak dimasukkan ke dalam
kantong plastik sehingga petugas laundry harus melakukan
pemisahan linen infeksius dan non infeksius sendiri.
3. Kurangnya kesadaran petugas akan pentingnya penggunaan APD
dalam penanganan dan pengangkutan linen.
b. Pencucian Linen Kotor
1. Dalam melakukan pencucian linen kotor, kurangnya kesadaran
petugas dalam penggunaan APD. Hal tersebut sangat berisiko
terjadinya penularan penyakit dari linen kotor ke petugas.
2. Pengetahuan petugas tentang pengelolaan linen yang benar masih
rendah.
3. Kurangnya petugas loundy.
c. Penjemuran linen
Pada saat penjemuran, alat angkut yang digunakan masih sangat
sederhana yaitu hanya menggunakan ember dan lokasi penjemuran
berada di lantai atas tanpa adanya jalur khusus sehingga menyulitkan
dalam penjemuran linen.
d. Penanganan Linen Bersih
1. Belum dilakukan sterilisasi untuk linen yang sudah bersih.
2. Belum dilakukan pengemasan pada linen bersih.
3. Belum dilakukannya uji usap alat untuk mengetahui jumlah kuman
yang ada pada linen bersih.
4. Tidak adanya lemari khusus untuk peletakan linen bersih.

15
5. Dalam pendistribusian linen bersih, troli yang digunakan tidak
tertutup sehingga memungkinkan linen bersih terkontaminasi oleh
kuman pada saat pengangkutan.
e. Tenaga Pengelola
1. Kurangya pengetahuan petugas laundry di RSUD Banjarnegara
tentang pengelolaan linen yang baik.
2. Kurangnya tenaga petugas laundry.

C. Analisis Alternatif Pemecahan Masalah


1. Penanganan dan Pengangkutan Linen
Dalam pengelolaan linen harus diperhatikan mulai dari sumber
linen kotor yaitu dari ruang penghasil linen kotor. Di RSUD
Banjarnegara di ruang perawatan, IGD, ICU, IBS sebenarnya telah
disediakan ember untuk peletakan linen infeksius dan non-infeksius
tetapi terkadang petugas ruang tersebut belum memisahkan linen
menurut jenisnya. Sebaiknya linen telah dilakukan pemilahan mulai
dari sumber yaitu pemisahan antara linen infeksius dan non-infeksius
oleh petugas ruang penghasil linen kemudian di masukkan ke dalam
kantong plastik sesuai dengan jenisnya dan diberi label.
Pemakaian kantong plastik tersebut bertujuan agar linen kotor
tersebut pada saat pengangkutan lebih aman sehingga tidak terjadi
suatu penularan penyakit dari linen kotor.
Pada saat pengangkutan linen sebaiknya terdapat jalur khusus sehingga
pengangkutan linen tidak mengganggu aktifitas dalam rumah sakit dan
memudahkan dalam pengangkutannya.
Petugas sebaiknya dalam pengangkutan linen lebih
memperhatikan dalam menggunakan APD seperti sarung tangan,
sepatu bot dan masker. Di RSUD Banjarnegara petugas pada saat
penangan dan pengangkutan telah menggunakan APD seperti masker.

16
2. Pencucian Linen Kotor
Sebaiknya linen kotor disortir terlebih dahulu pada saat di ruang
penghasil linen dan sebelum dicuci disortir kembali. Keuntungan
penyortiran antara lain:
a. Mengurangi risiko petugas tertular penyakit dari linen kotor ke
petugas dalam menangani linen kotor mulai dari sumbernya.
b. Mempermudah dalam proses selanjutnya.
Tahapan pencucian linen di laundry adalah sebagai berikut:
1) Pembilasan pertama
Untuk menghilangkan noda-noda yaitu pada linen
infeksius, perendaman dengan air detergen bertujuan untuk
menghilangkan noda-noda. Kemudian setelah itu linen
dimasukkan kedalam bak untuk pembilasan pertama yang
diberi dengan desinfektan dengan penambahan klorin. 1 bak
diberi klorin sebanyak 100 ml dengan jumlah linen kotor ± 5
kg.
2) Pencucian
Apabila linen infeksius telah dilakukan pembilasan pertama
dan linen non-infeksius kemudian masuk ke tahap penyabunan.
Pada tahap ini telah menggunakan mesin cuci. Tahap ini
merupakan kegiatan pencucian pokok dan suhu yang
digunakan bervariasi. Pada mesin cuci, pencucian
o
menggunakna air panas dengan suhu 95 C selama 2 jam.
Sabun/ detergen yang digunakan merupakan detergen yang
ramah lingkungan dan telah ditetapkan dosis yang harus
digunakan seperti:

17
Tabel 3.1 Dosis Penggunaan Detergen
Tingkat Jenis Cucian Dosis/kg
kotoran cucian kering
Ringan Daily wears (pakaian sehari-hari) 5 gram
Sedang Linen, Katun, handuk, selimut 10 gram
Berat Serbet, taplak meja, seragam kerja 15 gram

Untuk menghilangkan/ membunuh bakteri ditambahkan


chlorine sebanyak 150 ml untuk 7 kg linen. Untuk setiap 200
ml chlorine dilarutkan dengan air sebanyak 10 – 20 liter air.
Agar linen berbau segar juga ditambahkan pewangi pakaian
dengan dosis sebagai berikut:
Tabel 3.2 Dosis Penggunaan Pewangi Pakaian
Jenis cucian Dosis/kg cucian
Handuk, selimut 4 – 6 ml
Pakaian sehari-hari 2 – 4 ml

3) Penjemuran linen
Pada tahap penjemuran linen, linen yang telah dicuci
dijemur di tempat khusus penjemuran linen yang berada di
lantai atas ruang laundry. Pengangkutan linen yang telah dicuci
ke tempat penjemuran menggunakan ember.
Lokasi penjemuran yang berada di atas seharusnya
menggunakan jalur khusus yang dapat di lewati dengan
menggunakan troli karena jalur yang ada adalah tangga
sehingga dalam pengangkutannya sedikit menyulitkan petugas.
4) Penanganan linen bersih
Dalam penanganan linen bersih harus diperhatikan seperti:
a) Para petugas yang menangani linen bersih seharusnya lebih
memperhatikan tentang pentingnya penggunaan APD
seperti mengenakan topi yang berambut panjang,
menggunakan sarung tangan, sepatu bot, dan masker. Di

18
RSUD Banjarnegara petugas juga telah menggunakan APD
seperti sepatu bot, dan masker.
b) Adanya pembungkus untuk linen bersih. Hal ini bertujuan
agar menjaga linen lebih steril, pembungkus dapat
menggunakan dengan plastik. Plastik transparan bersih
mempunyai keuntungan untuk bisa melihat isi linen yang
ada.
c) Dilakukannya uji usap pada linen bersih. Hal ini bertujuan
untuk mengetahui jumlah kuman pada linen bersih sesuai
dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor: 1204/MENKES/SK/X/2004 Tentang Persyaratan
Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit, Standar kuman bagi
linen bersih setelah keluar dari proses tidak mengandung 6
x 103 spora spesies Bacilus per inci persegi.
d) Disediakannya lemari khusus untuk linen bersih agar linen
tidak terkontaminasi dengan udara luar dan agar
memudahkan dalam penataan linen bersih.
e) Troli yang digunakan tidak berpenutup sehingga
memungkinkan terjadinya terkontaminasi linen dengan
mikroba.
5) Tenaga pengelola
Pemberian sosialisasi dan pengetahuan kepada petugas
linen untuk pengelolaan linen yang lebih baik dan mengenai
penggunaan APD pada saat pengolahan linen.

19
D. Rencana Tindakan
Rencana tindakan yang perlu dilakukan untuk pengelolaan linen
adalah sebagai berikut:

Linen dari ruangan

Linen infeksius Linen dari non-infeksius

Pencucian Penjemuran

Sterilisasi Penyetrikaan

Lemari steril Distribusi linen bersih

Gambar 3.2 Rencana Tindakan Pengelolaan Linen

20
E. Tindakan Intervensi
Berdasarkan hasil pengamatan serta rencana tindakan di ruang laundry
maka dapat dilakukan tindakan intervensi di RSUD Banjarnegara adalah
sebagai berikut:
1. Ruangan
Linen kotor yang ada di tiap ruang perawatan sebaiknya di
masukkan dahulu ke kantong plastic berlabel yang telah dipisahkan
oleh perawat antara linen infeksius dan non-infeksius.
2. Pengangkutan linen kotor
Pengangkutan linen kotor sebaiknya menggunakan kereta dorong
yang berbeda serta jalur antara linen kotor dan linen bersih juga
berbeda. Dan adanya kesadaran petugas untuk menggunakan APD
seperti sarung tangan, masker dan sepatu boot. Walaupun di RSUD
Banjarnegara petugas telah menggunakan APD seperti masker.
3. Pencucian
Pada tahap pencucian petugas lebih memperhatikan tentang
pentingnya penggunaan alat pelindung diri seperti masker, sarung
tangan dan sepatu boot.
4. Penjemuran
Pada saat pengangkutan penjemuran sebaiknya menggunakan troli
dan terdapat jalur khusus untuk pengangkutan agar mempermudah
pada proses pengangkutan dari dan ke tempat penjemuran yang berada
di lantai atas.
5. Penyetrikaan
Petugas lebih teliti dalam melakukan penyetrikaan sehingga hasil
kain yang disetrika lebih rapi.
6. Sterilisasi
a. Hendaknya disediakan ruang sterilisasi yang terpisah dengan
ruang pencucian maupun ruang penyetrikaan.
b. Sterilisasi menggunakan autoklaf yang dilakukan sesuai dengan
prosedur penggunaan yang ada.

21
c. Terdapat lemari steril yang digunakan untuk tempat linen yang
sudah disterilisasi.
d. Linen yang sudah disterilisasi dikemas (dimasukkan kedalam
kantong plastik bersih kemudian diberi kode atau label)
7. Distribusi linen bersih
a. Linen yang sudah bersih sebaiknya dibawa dengan troli berpenutup
melalui jalur khusus.
b. Distribusi untuk ruang perawatan lantai atas dan ruang perawatan
lantai bawah hendaknya dibedakan antara jam pengangkutan dan
pendistribusiannya. Misalnya: pagi untuk pendistribusian dan siang
untuk pengangkutan linen kotor.

22
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktek kerja lapangan / magang yang telah
dilaksanakan pada tanggal 17 Maret – 10 April 2010 di RSUD Banjarnegara,
maka dapat disimpulkan :
1. Program kesehatan lingkungan secara umum yang ada disana adalah :
a. Pengelolaan air bersih
b. Pengelolaan dan pengawasan air limbah
c. Pemeliharaan kebersihan ruang, taman dan lingkungan
d. Pengelolaan sampah medis
e. Pengelolaan sampah non medis
f. Pengawasan serangga dan binatang pengganggu
g. Pengelolaan linen
2. Permasalahan yang paling banyak dapat kita temukan adalah pada linen
dan pada bagian sampah medis yang masih tercampur dengan sampah non
medis. Permasalahan tersebut antara lain :
a. Linen
1). Permasalahan yang ada pada linen antara lain:
a). Pada saat penanganan dan pengangkutan linen yaitu linen kotor
(infeksius dan non infeksius) masih belum terpisah mulai dari
ruang penghasil linen dan tidak dimasukkan ke dalam kantong
plastik sehingga petugas laundry harus melakukan pemisahan
linen infeksius dan non infeksius sendiri.
b). Pencucian linen kotor yaitu Dalam melakukan pencucian linen
kotor, kurangnya kesadaran petugas dalam penggunaan APD.
Hal tersebut sangat berisiko terjadinya penularan penyakit dari
linen kotor ke petugas dan pengetahuan petugas dalam
pengelolaan linen yang masih rendah.

23
c). Penjemuran linen yaitu lokasi penjemuran yang berada di lantai
atas dan pengangkutan dengan menggunakan ember tanpa
adanya jalur khusus.
d). Penanganan linen bersih yaitu belum dilakukan sterilisasi
terhadap linen bersih, belum tersedianya lemari khusus, belum
dilakukan pengemasan terhadap linen bersih dan pada saat
pengangkutan troli yang digunakan belum berpenutup.
e). Kurangnya petugas pengelola laundry.
2). Analisis alternative pemecahan masalah linen :
a). Penanganan dan pengangkutan linen
1). Penyediaan kantong plastik untuk mengumpulkan linen
kotor.
2). Alat pengangkut utama linen di RSUD Banjarnegara adalah
troli berpenutup, sebaiknya menggunakan trolly berpenutup
yang berbeda dalam mengangkut linen bersih dan kotor.
b). Pada tahap pencucian linen sebaiknya petugas lebih
memperhatikan tentang pentingnya penggunaan alat pelindung
diri guna keselamatan dan kesehatan petugas.
c). Dibuat jalur khusus ke tempat penjemuran linen untuk
mempermudah dalam proses penjemuran.
d). Untuk penanganan linen bersih sebaiknya dilakukan sterilisasi,
disediakan lemari khusus linen bersih, dan pada saat
pengangkutan linen bersih sebaiknya linen bersih di bungkus
dengan plastik.
e). Penambahan petugas laundry.
3. Sampah medis dan non medis
a. Permasalahan:
1) Pada beberapa ruangan masih terlihat bahwa sampah medis dan
non medis masih tercampur padahal sudah tersedia tempat sampah
medis dan non medis.
2) Penangan sampah medis dan non medis masih belum maksimal.

24
3) Tenaga kebersihan pada waktu menangani sampah medis tidak
menggunakan APD.
b. Analisis alternatif pemecahan tersebut adalah :
1) Pemberian sosialisasi kepada para petugas medis baik secara lisan
misalnya teguran kepada petugas medis yang membuang sampah
medis tidak sesuai tempatnya, maupun tulisan tentang pembuangan
sampah medis.
2) Pemberian sosialisasi kepada petugas cleaning service tentang
kegunaan APD dan bahaya yang ditimbulkan jika APD tidak
digunakan
c. Rencana tindakan dan tindakan intervensi:
Perlu adanya inspeksi sanitasi pada setiap ruang perawatan
tentang pemisahan sampah medis dan non medis dan apabila
ditemukan petugas medis membuang sampah medis tidak pada tempat
yang telah disediakan maka perlu diberi teguran kepada petugas
tersebut. Pengangkutan sampah medis dan non medis dilakukan setiap
hari pada pagi hari oleh petugas cleaning service. Dalam melakukan
penganan sampah medis dan non medis petugas menggunakan APD
namum penggunaannya tidak maksimal. Penanganan sampah medis
sebelum di bakar dengan menggunakan incinerator maka perlu
dilakukan penimbangan, sedangkan untuk sampah non medis langsung
dibuang ke TPS yang selanjutnya diambil oleh DLHK untuk di buang
ke TPA.

B. Saran
1. Perlu adanya sosialisasi tentang pentingnya kesehatan lingkungan rumah
sakit dan pentingya penggunaan APD pada saat melakukan aktifitas.
2. Ada koordinasi yang baik antara petugas sanitasi dengan petugas medis di
ruang perawatan.

25
Lampiran 1
DAFTAR KEGIATAN HARIAN PRAKTEK KERJA / MAGANG
MAHASISWA JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN PURWOKERTO
POLITEKNIK KESEHATAN DEPKES SEMARANG

Nama Mahasiswa : 1. Arie Nizar Sidqi


2. Diyah Megawati
3. Erna Kusumasari
4. Eva Yunita F
5. Laeli Nurrohmah
6. Tursina Habdidin
Tempat Magang : RSUD Banjarnegara
Waktu Magang : 17 Maret – 11 April 2010
Nama Pembimbing Lapangan : 1. Susmantono, SKM
2. Ida Fitri Leksanawati, Amd. KL

No. Hari, Tanggal Uraiian Kegiatan Paraf Pembimbing


Lapangan
1. Rabu, 17 Maret 2010 1. Apel pagi
2. Penyelesaian administrasi
3. Pengenalan tempat magang
4. Pengenalan lahan praktek:
a. IPAL
b. Pengelolaan air bersih Susmantono
c. Sampah medis dan non medis
d. Linen / laundry
2. Kamis, 18 Maret 2010 1. Apel pagi
2. Pembagian tugas:
a. Linen
b. Pengelolaan sampah
c. Pemantauan ruangan Ida Fitri L
3. Jum’at, 19 Maret 2010 1. Apel pagi
2. Mengambil sampah jarum
3. Merekap data linen
4. Penimbangan sampah medis dan Susmantono
pembuangan ke incenerator
5. Kegiatan jum’at bersih
4. Sabtu, 20 Maret 2010 1. Apel pagi
2. Survey linen:
a. Melihat prosedur pengelolaan
linen
b. Mengikuti pelaksanaan
pengangkutan linen kotor dan Ida Fitri L
bersih
c. Melihat cara pencucian,
penjemuran, dan penyetrikaan
linen
5. Minggu, 21 Maret 2010 LIBUR
6. Senin, 22 Maret 2010 IZIN
7. Selasa, 23 Maret 2010 1. Apel pagi
2. Pengambilan sampah medis
3. Pemantauan ruangan
4. Penimbangan, pencatatan dan
pembuangan sampah medis ke Susmantono
incinerator
5. Bertanya prosedur kerja alat ke
DKK
8. Rabu, 24 Maret 2010 1. Apel pagi
2. Pengambilan sampah medis
3. Pemantauan ruangan
4. Penimbangan, pencatatan dan Ida Fitri L
pembuangan sampah medis ke
incinerator
5. Merekap data linen
9. Kamis, 25 Maret 2010 1. Apel pagi
2. Pengambilan, penimbangan,
pencatatan dan pembuangan
sampah medis ke incinerator.
3. Pengambilan sampel air secara Susmantono
kimia dan mikrobiologis
4. Pemberian kaporit pada
groundteng air bersih
10 Jum’at, 26 Maret 2010 1. Apel pagi
2. Senam pagi
3. Kegiatan jum’at bersih
4. Merekap data linen Ida fitri L
11 Sabtu, 27 Maret 2010 1. Apel pagi
2. Pengambilan sampah medis
3. Meminjam alat ke DKK
4. Pengambilan sampel air
mikrobiologis dan sampel angka Susmantono
kuman pada beberapa ruangan.
5. Pemberian kapotit pada
groundteng penyediaan air bersih
12 Minggu, 28 Maret 2010 LIBUR
13 Senin, 29 Maret 2010 1. Apel pagi
2. Pengambilan, penimbangan,
pencatatan dan pembuangan
sampah medis ke incinerator,
3. Merekap data linen Ida Fitri L
4. Pembuatan tempat sampah jarum
dari kardus.
14 Selasa, 30 Maret 2010 1. Apel pagi
2. Pengambilan, penimbangan,
pencatatan dan pembuangan
sampah medis ke incinerator,
3. Pembuatan tempat sampah jarum
4. Pendistribusian tempat sampah Susmantono
15 Rabu, 31 Maret 2010 1. Apel pagi
2. Merekap data linen
3. Pembuatan tempat sampah jarum Ida Fitri L
16 Kamis, 01 April 2010 1. Apel pagi
2. Pembuatan tempat sampah jarum
3. Konsultasi ke DKK
4. Pembuatan pupuk kompos Susmantono
17 Jum’at, 02 April 2010 LIBUR
18 Sabtu, 03 April 2010 1. Apel pagi
2. Pemberian kaporit pada
groundteng penyediaan air bersih
3. Pembuatan tempat sampah jarum
4. Pembuatan pupuk kompos Ida Fitri L
19 Minggu, 04 April 2010 LIBUR
20 Senin, 05 April 2010 1. Apel pagi
2. Mengecek sampah medis di
setiap ruangan.
3. Merekap data linen
4. Persiapan membuat pupuk Susmantono
kompos
21 Selasa, 06 April 2010 1. Apel pagi
2. Membuat pupuk kompos
3. Presentasi evaluasi kegiatan Ida Fitri L
magang
4. Membuat Clorin diffuser
22 Rabu, 07 April 2010 1. Apel pagi
2. Konsultasi laporan ke
pembimbing lapangan.
3. Inspeksi Sanitasi RS Susmantono
23 Kamis, 08 April 2010 1. Apel pagi
2. Penyusunan laporan
3. Inspeksi sampah medis
4. Inspeksi Sanitasi RS Ida Fitri L
24 Jum’at, 09 April 2010 1. Apel pagi
2. Konsultasi laporan dengan dosen
lapangan.
3. Pengambilan,penimbangan dan
pembuangan sampah medis ke Susmantono
incinerator.
25 Sabtu, 10 April 2010 1. Apel pagi
2. Pemasangan clorine diffuser
3. Pelepasan
Ida Fitri L
26 Minggu, 11 April 2010 LIBUR

Mengetahui
Pembimbing lapangan,

Susmantono, SKM
NIP. 19630922 198703 1 005
Lampiran 2
INSTRUMEN PENILAIAN
KEGIATAN PRAKTEK KERJA / MAGANG
MAHASISWA JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN PURWOKERTO
POLITEKNIK KESEHATAN DEPKES SEMARANG

Nama Mahasiswa : Arie Nizar Sidqi


NIM : P17433107104
Lokasi Praktek Kerja / Magang : RSUD Banjarnegara

No. ASPEK YANG DINILAI NILAI


1. Kehadiran
2. Inisiatif
3. Kerjasama
4. Kesopanan
Nilai Rata – Rata

Catatan:
1. Nilai menggunakan skala : 1 – 100
2. Nilai lulus
3. Penilaian ini diisi oleh Pembimbing Lapangan

Banjarnegara, 10 April 2010


Pembimbing Lapangan,

Susmantono, SKM
NIP. 19630922 198703 1 005
INSTRUMEN PENILAIAN
KEGIATAN PRAKTEK KERJA / MAGANG
MAHASISWA JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN PURWOKERTO
POLITEKNIK KESEHATAN DEPKES SEMARANG

Nama Mahasiswa : Diyah Megawati


NIM : P17433107109
Lokasi Praktek Kerja / Magang : RSUD Banjarnegara

No. ASPEK YANG DINILAI NILAI


1. Kehadiran
2. Inisiatif
3. Kerjasama
4. Kesopanan
Nilai Rata – Rata

Catatan:
1. Nilai menggunakan skala : 1 – 100
2. Nilai lulus
3. Penilaian ini diisi oleh Pembimbing Lapangan

Banjarnegara, 10 April 2010


Pembimbing Lapangan,

Susmantono, SKM
NIP. 19630922 198703 1 005
INSTRUMEN PENILAIAN
KEGIATAN PRAKTEK KERJA / MAGANG
MAHASISWA JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN PURWOKERTO
POLITEKNIK KESEHATAN DEPKES SEMARANG

Nama Mahasiswa : Erna Kusumasari


NIM : P17433107114
Lokasi Praktek Kerja / Magang : RSUD Banjarnegara

No. ASPEK YANG DINILAI NILAI


1. Kehadiran
2. Inisiatif
3. Kerjasama
4. Kesopanan
Nilai Rata – Rata

Catatan:
1. Nilai menggunakan skala : 1 – 100
2. Nilai lulus
3. Penilaian ini diisi oleh Pembimbing Lapangan

Banjarnegara, 10 April 2010


Pembimbing Lapangan,

Susmantono, SKM
NIP. 19630922 198703 1 005
INSTRUMEN PENILAIAN
KEGIATAN PRAKTEK KERJA / MAGANG
MAHASISWA JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN PURWOKERTO
POLITEKNIK KESEHATAN DEPKES SEMARANG

Nama Mahasiswa : Eva Yunita F


NIM : P17433107116
Lokasi Praktek Kerja / Magang : RSUD Banjarnegara

No. ASPEK YANG DINILAI NILAI


1. Kehadiran
2. Inisiatif
3. Kerjasama
4. Kesopanan
Nilai Rata – Rata

Catatan:
1. Nilai menggunakan skala : 1 – 100
2. Nilai lulus
3. Penilaian ini diisi oleh Pembimbing Lapangan

Banjarnegara, 10 April 2010


Pembimbing Lapangan,

Susmantono, SKM
NIP. 19630922 198703 1 005
INSTRUMEN PENILAIAN
KEGIATAN PRAKTEK KERJA / MAGANG
MAHASISWA JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN PURWOKERTO
POLITEKNIK KESEHATAN DEPKES SEMARANG

Nama Mahasiswa : Laeli Nurrohmah


NIM : P17433107128
Lokasi Praktek Kerja / Magang : RSUD Banjarnegara

No. ASPEK YANG DINILAI NILAI


1. Kehadiran
2. Inisiatif
3. Kerjasama
4. Kesopanan
Nilai Rata – Rata

Catatan:
1. Nilai menggunakan skala : 1 – 100
2. Nilai lulus
3. Penilaian ini diisi oleh Pembimbing Lapangan

Banjarnegara, 10 April 2010


Pembimbing Lapangan,

Susmantono, SKM
NIP. 19630922 198703 1 005
INSTRUMEN PENILAIAN
KEGIATAN PRAKTEK KERJA / MAGANG
MAHASISWA JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN PURWOKERTO
POLITEKNIK KESEHATAN DEPKES SEMARANG

Nama Mahasiswa : Tursina Habdidin


NIM : P17433107154
Lokasi Praktek Kerja / Magang : RSUD Banjarnegara

No. ASPEK YANG DINILAI NILAI


1. Kehadiran
2. Inisiatif
3. Kerjasama
4. Kesopanan
Nilai Rata – Rata

Catatan:
1. Nilai menggunakan skala : 1 – 100
2. Nilai lulus
3. Penilaian ini diisi oleh Pembimbing Lapangan

Banjarnegara, 10 April 2010


Pembimbing Lapangan,

Susmantono, SKM
NIP. 19630922 198703 1 005
INSTRUMEN PENILAIAN
KEGIATAN PRAKTEK KERJA / MAGANG
MAHASISWA JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN PURWOKERTO
POLITEKNIK KESEHATAN DEPKES SEMARANG

Nama Mahasiswa : Arie Nizar Sidqi


NIM : P17433107104
Lokasi Praktek Kerja / Magang : RSUD Banjarnegara

No. ASPEK YANG DINILAI NILAI


1. Kehadiran
2. Inisiatif
3. Kerjasama
4. Kesopanan
Nilai Rata – Rata

Catatan:
1. Nilai menggunakan skala : 1 – 100
2. Nilai lulus
3. Penilaian ini diisi oleh Pembimbing Lapangan

Banjarnegara, 10 April 2010


Pembimbing Lapangan,

Ida Fitri Leksanawati, Amd.KL


NIP. 19800813 200701 2 008
INSTRUMEN PENILAIAN
KEGIATAN PRAKTEK KERJA / MAGANG
MAHASISWA JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN PURWOKERTO
POLITEKNIK KESEHATAN DEPKES SEMARANG

Nama Mahasiswa : Diyah Megawati


NIM : P17433107109
Lokasi Praktek Kerja / Magang : RSUD Banjarnegara

No. ASPEK YANG DINILAI NILAI


1. Kehadiran
2. Inisiatif
3. Kerjasama
4. Kesopanan
Nilai Rata – Rata

Catatan:
1. Nilai menggunakan skala : 1 – 100
2. Nilai lulus
3. Penilaian ini diisi oleh Pembimbing Lapangan

Banjarnegara, 10 April 2010


Pembimbing Lapangan,

Ida Fitri Leksanawati, Amd.KL


NIP. 19800813 200701 2 008
INSTRUMEN PENILAIAN
KEGIATAN PRAKTEK KERJA / MAGANG
MAHASISWA JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN PURWOKERTO
POLITEKNIK KESEHATAN DEPKES SEMARANG

Nama Mahasiswa : Erna Kusumasari


NIM : P17433107114
Lokasi Praktek Kerja / Magang : RSUD Banjarnegara

No. ASPEK YANG DINILAI NILAI


1. Kehadiran
2. Inisiatif
3. Kerjasama
4. Kesopanan
Nilai Rata – Rata

Catatan:
1. Nilai menggunakan skala : 1 – 100
2. Nilai lulus
3. Penilaian ini diisi oleh Pembimbing Lapangan

Banjarnegara, 10 April 2010


Pembimbing Lapangan,

Ida Fitri Leksanawati, Amd.KL


NIP. 19800813 200701 2 008
INSTRUMEN PENILAIAN
KEGIATAN PRAKTEK KERJA / MAGANG
MAHASISWA JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN PURWOKERTO
POLITEKNIK KESEHATAN DEPKES SEMARANG

Nama Mahasiswa : Eva Yunita F


NIM : P17433107116
Lokasi Praktek Kerja / Magang : RSUD Banjarnegara

No. ASPEK YANG DINILAI NILAI


1. Kehadiran
2. Inisiatif
3. Kerjasama
4. Kesopanan
Nilai Rata – Rata

Catatan:
1. Nilai menggunakan skala : 1 – 100
2. Nilai lulus
3. Penilaian ini diisi oleh Pembimbing Lapangan

Banjarnegara, 10 April 2010


Pembimbing Lapangan,

Ida Fitri Leksanawati, Amd.KL


NIP. 19800813 200701 2 008
INSTRUMEN PENILAIAN
KEGIATAN PRAKTEK KERJA / MAGANG
MAHASISWA JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN PURWOKERTO
POLITEKNIK KESEHATAN DEPKES SEMARANG

Nama Mahasiswa : Laeli Nurrohmah


NIM : P17433107128
Lokasi Praktek Kerja / Magang : RSUD Banjarnegara

No. ASPEK YANG DINILAI NILAI


1. Kehadiran
2. Inisiatif
3. Kerjasama
4. Kesopanan
Nilai Rata – Rata

Catatan:
1. Nilai menggunakan skala : 1 – 100
2. Nilai lulus
3. Penilaian ini diisi oleh Pembimbing Lapangan

Banjarnegara, 10 April 2010


Pembimbing Lapangan,

Ida Fitri Leksanawati, Amd.KL


NIP. 19800813 200701 2 008
INSTRUMEN PENILAIAN
KEGIATAN PRAKTEK KERJA / MAGANG
MAHASISWA JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN PURWOKERTO
POLITEKNIK KESEHATAN DEPKES SEMARANG

Nama Mahasiswa : Tursina Habdidin


NIM : P17433107154
Lokasi Praktek Kerja / Magang : RSUD Banjarnegara

No. ASPEK YANG DINILAI NILAI


1. Kehadiran
2. Inisiatif
3. Kerjasama
4. Kesopanan
Nilai Rata – Rata

Catatan:
1. Nilai menggunakan skala : 1 – 100
2. Nilai lulus
3. Penilaian ini diisi oleh Pembimbing Lapangan

Banjarnegara, 10 April 2010


Pembimbing Lapangan,

Ida Fitri Leksanawati, Amd.KL


NIP. 19800813 200701 2 008
Lampiran 3
HASIL PENILAIAN PEMERIKSAAN KESEHATAN LINGKUNGAN
(INSPEKSI SANITASI) RUMAH SAKIT

A. Data Umum
1. Nama Rumah Sakit : RSUD Banjarnegara
2. Alamat Rumah Sakit : Jl.Jendral Sudirman No.42 Banjarnegara
3. Kelas Rumah Sakit : - A/B/C/D (RS Pemerintah, BUMN/BUMD) *)
- Utama/Madya/Pratama (RS Swasta) *)
- I/II/III/IV (RS TNI/POLRI) *)
4. Jumlah Tempat Tidur : 158 (buah)
5. Tanggal Pemeriksaan : 07 APRIL 2010

B. Data Khusus
No. Variable upaya kesling Bobot Kompopnen yang dinilai Nilai Skor
I Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit ( Jumlah bobot = 8)
1. Lantai 2 a. Kuat/utuh 20 40
b. Bersih 20 40
c. Pertemuan lantai dan dinding
berbentuk konus 15 0
d. Kedap air 15 30
e. Rata 10 20
f. Tidak licin 10 20
g. Mudah dibersihkan 10 20
2. Dinding 1 a. Rata 30 30
b. Bersih 30 30
c. Berwarna terang 20 20
d. Mudah dibersihkan 20 20
3. Ventilasi
3.1 Ventilasi Gabungan 1 a. Ventilasi alam, lubang ventilasi 50 50
minimum 15 % x luas lantai
b. Vetilasi mekanis (Fan, AC, 50 50
Exhauster)
3.2 Ventilasi alam 1 Lubang ventilasi min 5 % x luas 100 100
lantai
3.3 Ventilasi Mekanis 1 (Fan, AC, Exhauster) 100 100
4. Atap 0,5 a. Bebas seranggan dan tikus 50 25
b. Tidak bocor 30 15
c. Berwarna terang 10 5
d. Mudah dibersihkan 10 5
5. Langit-langit 0,5 a. Tinggi langit-langit min 2,7 m 50 25
dari lantai
b. Kuat 30 15
c. Berwarna terang 10 5
d. Mudah dibersihkan 10 5
6. Konstruksi Balkon 0,5 a. Tidak ada genangan air pada 30 15
Beranda dan Talang
b. Tidak jentik 40 20
c. Mudah dibersihkan 30 15
7. Pintu 0,5 a. Dapat mencegah masuknya 60 30
serangga dan tikus
b. Kuat 40 20
8. Pagar 0,5 a. Aman 60 30
b. Kuat 40 20
9. Halaman taman dan 0,5 a. Bersih 30 15
tempat parkir b. Mampu menampung mobil 20 10
Karyawan dan pengunjung
c. Tidak berdebu/becek 30 0
d. Tersedia tempat sampah yang 20 10
cukup
10. Jaringan Instalasi 0,5 a. Aman (bebas cross connection) 60 30
b. Terlindung 40 20
11. Saluran Air Limbah 1 a. Tertutup 50 50
b. Aliran air lancer 50 50
II. II RUANG BANGUNAN (Jumlah Bobot 10)
1. Ruang Perawatan 2 a. Rasio luas lantai dengan tempat 15 30
tidur
1. Dewasa : 4,5 m2/tt
2. Anak/bayi : 2 m2/tt
b. Rasio tempat tidur dengan 15 30
kamar mandi 1-10 tt/km mandi
dan toilet
c. Angka kuman maksimal 200- 15
3
500 CFU/m udara
d. Bebas serangga/tikus 10 20
e. Kadar debu maksimal 150 g/m3 10 -
udara
f. Tidak berbau (terutama H2S 10 20
dan/atau NH3
g. Pencahayaan 100-200 lux 5 0
0
h. Suhu 22 C - 24°C (dengan AC), 10 0
apabila menggunakan AC
central cooling towernya tidak
menjadi perindukan bakteri
ligionella atau suhu kamar
(tanpa AC)
i. Kelembaban 45% -60% 5 0
(dengan AC) kelembaban udara
ambien (tanpa AC)
j. Kebisingan < 45 dBA 5 10
2. Lingkungan RS 1 a. Kawasan bebas rokok 30 0
b. Penerangan dengan intensitas 20 20
cukup
c. Saluran air limbah tertutup 25 25
d. Saluran drainase aliran lancar 25 25
3. Ruang Operasi 2 a. Bebas kuman patogen 15
b. Angka kuman 10 CFU/m3 udara 15
c. Dinding terbuat dari porselin 10 20
d. Pintu harus dalam keadaan 10 20
tertutup
e. Langit-langit tidak bercelah 10 20
f. Ventilasi dengan AC tersendiri 10 20
dilengkapi filter bakteri
g. Suhu 19°C - 25°C 10 20
h. Kelembaban 45% - 60% 5 10
i. Pencahayaan ruang 300 lux - 5 10
500 lux
j. Pencahayaan meja operasi 5 10
10.000 lux - 20.000 lux
k. Tinggi langit-langit 2,7 m - 3,3 5 10
m dari lantai
4. Ruang Laboratorium 1 a. Dinding terbuat dari porselen/ 30 30
keramik setinggi 1,5 m dari
lantai
b. Lantai dan meja kerja tahan 30 30
terhadap bahan kimia dan
getaran
c. Dilengkapi dengan dapur, 20 0
kamar mandi dan toiet
d. Tinggi langit-langit 2,7 m - 3,3 10 20
m dari lantai
e. Kebisingan < 65 dBA 10 20
5. Ruang Sterilisasi 1,5 a. Pintu masuk terpisah dengan 50 -
pintu keluar
b. Tersedia ruangan khusus 30 -
c. Dinding terbuat dari porselin/
keramik
d. setinggi 1,5 m dari lantai 20 -
6. Ruang Radiologi 0,5 a. Dinding dan daun pintu dilapisi 30 15
timah hitam
b. Kaca jendela menggunakan 30 15
kaca timah hitam
c. Tinggi langit-langit 2,7 m - 3,3 20 20
m dari lantai
d. Hubungan dengan ruang gelap 20 20
harus dengan loket
7. Ruang Pendingin 1 a. Suhu -10°C s/d + 5°C 50 -
b. Bebas tikus dan kecoa 40 -
c. Dilengkapi rak untuk 10 -
menyimpan, makanan dengan
tinggi 20 cm - 25 cm dari lantai
8. Ruang Mayat 1 a. Dinding dilapisi 25 25
Porselin/keramik
b. Terletak dekat dengan bagian 20 20
Pathologi/laboratorium
c. Jauh dari poliklinik/ruang 20 20
pemeriksaan
d. Mudah dicapai dari ruang 10 10
perawatan, UGD, dan ruang
operasi
e. Dilengkapi dengan saluran 10 10
pembuangan air limbah
f. Dilengkapi dengan ruang ganti 10 10
pakaian petugas dan toilet
g. Dilengkapi dengan 5 5
perlengkapan dan bahan
pemilisan jenazah termasuk
meja memandikan mayat
9. Toilet dan Kamar 1 a. Rasio toilet/kamar mandi 30 30
Mandi dengan tempat tidur 1 : 10
b. Toilet tersedia pada setiap 20 20
unit/ruang khusus untuk unit
rawat inap dan karyawan harus
tersedia kamar mandi
c. Letak tidak berhubungan 20 20
langsung dengan dapur, kamar
operasi, dan ruang khusus
lainnya
d. Saluran pembuangan air limbah 10 10
dilengkapi dengan penahan bau
(water seal)
e. Lubang penghawaan harus 10 10
berhubungan langsung dengan
udara luar
f. Kamar mandi dan toilet untuk 10 0
pria,wanita, dan karyawan
terpisah
III. PENYEHATAN MAKANAN DAN MINUMAN (Jumlah Bobot 15)
1. Bahan Makanan dan 3 a. Kondisi bahan makanan dan 50 150
Makanan Jadi makanan jadi secara fisik
memenuhi syarat
b. Kondisi bahan makanan dan 50 -
makanan jadi secara
bakteriologis memenuhi syarat
2. Tempat 3 a. Makanan yang mudah 30 90
Penyimpanan Bahan membusuk disimpan pada suhu
Makanan dan > 56,5 °C atau < 4 °C
Makanan Jadi b. Makanan yang akan disajikan > 30 90
6 jam disimpan pada suhu -50 C
s/d -1° C
c. Bersih 10 30
d. Terlindung dari debu 10 30
e. Bebas gangguan serangga dan 10 30
tikus
f. Bahan makanan dan makanan 10 30
jadi terpisah
3. Penyajian Makanan 2 a. Menggunakan kereta dorong 40 80
tertutup
b. Tidak menyajikan makanan jadi 40 80
yang sudah menginap
c. Lalu lintas makanan jadi 20 0
menggunakan jalur khusus
4. Tempat Pengolahan 4 a. Lantai dapur sebelum dan 50 200
Makanan (Dapur) sesudah kegiatan dibersihkan
dengan antiseptic
b. Dilengkapi dengan sungkup dan 25 0
cerobong asap
c. Pencahayaan > 200 lux 25 100
5. Penjamah Makanan 2 a. Memiliki surat keterangan sehat 40 80
yang berlaku
b. Tidak berkuku panjang, koreng, 30 60
dan sejenisnya
c. Menggunakan pakaian 10 20
pelindung pengolahan makanan
d. Selalu menggunakan peralatan 10 20
dalam menjamah makanan jadi
e. Berperilaku sehat selama 10 20
bekerja
6. Peralatan 2 a. Sebelum digunakan dalam 40 80
kondisi bersih
b. Tahan karat dan tidak 30 60
mengandung bahan beracun
c. Utuh, tidak retak 15 30
d. Dicuci dengan disinfektan atau 15 30
dikeringkan dengan sinar
matahari / pemanas butan dan
tidak dibersihkan dengan kain
IV PENYEHATAN AIR (Jumlah Bobot 16)
1. Kuantitas 8 a. Tersedia air bersih > 500 lt/tt/hr 70 560
dan tersedia air minum sesuai
dengan kebutuhan
b. Air minum tersedia pada setiap 30 0
tempat kegiatan
2. Kualitas 3 Kualitas :
a. Bakteriologis 80 0
b. Kimia 15 45
c. Fisika 5 15
3. Sarana 5 a. Sumber PDAM, air tanah diolah 50 250
b. Distribusi tidak bocor 30 150
c. Penampungan tertutup 20 100
V PENGELOLAAN LIMBAH (Jumlah Bobot 16)
1. Pengelolaan Limbah 10 a. Pemusnahan limbah padat 25 0
Padat infeksius, sitotoksis, dan
farmasi dengan insinerator
(suhu > 10000C) atau khusus
untuk sampah infeksius dapat
disterilkan dengan auto clave
atau radiasi microwave sebelum
dibuang ke landfill
b. Bagi yang tidak punya 20 200
insinerator ada MoU antara RS
dan pihak yang melakukan
pemusnahan limbah medis
c. Tempat limbah padat kuat, 20 0
tahan karat, kedap air, dengan
penutup, dan kantong plastik,
dengan warna dan lambang
sesuai pedoman. Minimal 1
(satu) buah tiap radius 20 pada
ruang tunggu/terbuka
d. Tempat pengumpulan dan 15 150
penampungan limbah sementara
segera didisinfeksi setelah
dikosongkan
e. Diangkut ke TPS >2 kali/hari 5 50
dan ke TPA 1 kali/hari
f. Limbah domestik dibuang ke 5 50
TPA yang ditetapkan PEMDA
g. Sampah radioaktif ditangani 10 100
sesuai peraturan yang berlaku
2. Pengelolaan Limbah 4 a. Dilakukan pengolahan melalui 80 320
Cair instalasi pengolahan limbah
b. Disalurkan melalui saluran 20 80
tertutup, kedap air, dan lancar
3. Kualitas effluent 2 Memenuhi persyaratan Kepmen 100 200
yang dibuang ke LH Nomor 58 Tahun 1995 atau
dalam lingkungan Perda setempat
VI TEMPAT 5 a. Terdapat keran air bersih dgn 30 150
PENCUCIAN LINEN kapasitas, kualitas, kuantitas,
dan tekanan yang memadai
serta disediakan keran air panas
untuk disinfeksi awal
b. Dilakukan pemilahan antara 15 75
linen infeksius dan non-
infeksius
c. Tersedia ruang pemisah antara 15 75
barang bersih dan kotor
d. Lokasi mudah dijangkau oleh 15 75
kegiatan yang memerlukan dan
jauh dari pasien serta tidak
berada di jalan
e. Lantai terbuat dari beton/plester 10 50
yang kuat, rata, tidak licin,
dengan kemiringan > 2-3 %
f. Pencahayaan > 200 lux 10 50
g. Terdapat sarana pengering 5 25
untuk alat-alat sehabis dicuci
VII PENGENDALIAN 4 a. Fisik : Konstruksi bangunan, 80 0
SERANGGA DAN tempat Penampungan air,
TIKUS penampungan sampah tidak
memungkinkan sebagai tempat
berkembang biaknya serangga
dan tikus
b. Kimia : Insektisida yang dipakai 20 80
memiliki toksisitas rendah
terhadap manusia dan tidak
bersifat persisten
VIII DEKONTAMINASI 10 a. Menggunakan peralatan 40 400
MELALUI sterilisasi uap (autoclave) gas
DESINFEKSI DAN dengan suhu sekitar 134PPC
STTERILISASI atau peralatan radiasi
gelombang
mikroPPmicrowaveP atau
dengan cara lain yang
memenuhi syarat
b. Alat dan perlengkapan medis 20 200
yang sudah disterilkan disimpan
pada tempat khuus yang steril
c. Alat dan perlengkapan medis 20 200
yang sudah disterilkan atau
didesinfeksi terlebih dahulu,
dibersihkan dari darah, jaringan
tubuh, dan sisa bahan lain
d. Peralatan sterilisasi dikalibrasi 10 100
minimal sekali/tahun
e. Ruang operasi yang telah dipaai 10 100
harus dilakukan desinfeksi
sebelum operasi berikutnya.
IX PENGAMANAN 2 a. Ada izin mengoperasikan 40 80
RADIASI peralatan yang memancarkan
radiasi
b. Dosis radiasi pengion terhadap 20 40
pekerja dan masyarakat tidak
boleh melebihi NBD
c. Ada sistem manajemen
kesehatan dan keselamatan 20 40
kerja pada pekerja dan
masyarakat terhadap radiasi
pengion, organisasi, peralatan
proteksi radiasi, pemantauan
dosis perorangan
d. Instalasi dan gudang peralatan 10 20
radiasi ditempatkan pada lokasi
yang jauh dari tempat yang
rawan kebakaran, tempat
berkumpul orang banyak
e. Tebal bahan perlindungan pada 10 20
masing-masing ruangan
berdasarkan jenis dan energi
radiasi, aktifitas dan dimensi
sumber radiasi serta sifat bahan
pelindung sesuai peraturan yang
berlaku.
X PENYULUHAN 6 Dilakukan penyuluhan kesehatan
KESEHATAN secara langsung maupun tidak
LINGKUNGAN langsung kepada:
a. Karyawan medis/non-medis 40 240
b. Pasien 20 120
b. Pedagang makanan dalam 20 120
lingkungan RS
c. Pengunjung 20 120
XI UNIT/INSTANSI 8 a. Dipimpin oleh tenaga teknis 50 400
SANITASI RS ***) yang sudah mengikuti pelatihan
sanitasi RS
b. Dipimpin oleh tenaga teknis 30 -
yang belum mengikuti pelatihan
sanitasi RS
c. Dipimpin oleh tenaga non- 20 -
teknis yang sudah mengikuti
pelatihan sanitasi RS

**) Pilih salah satu yang sesuai


***) Pilih salah satu yang sesuai

KESIMPULAN HASIL PENILAIAN PEMERIKSAAN KESEHATAN


LINGKUNGAN RUMAH SAKIT

Dengan catatan skor minimal untuk masing-masing variabel upaya adalah


seperti tersebut pada tabel berikut :
Tipe / Skor Minimal dari masing-masing variable upaya (%)
Kelas RS I II III IV V VI VII VIII IX X XI
A *) 75 75 90 80 80 55 80 70 100 60 60
B *) 75 75 90 80 80 55 80 70 100 60 60
C *) 75 75 90 80 80 55 20 70 50 60 60
D*) 70 75 80 80 80 55 20 70 50 60 20

Berdasarkan hasil inspeksi sanitasi diperoleh hasil sebagai berikut:


Tipe Skor Minimal dari masing-masing variable upaya (%)
Kelas RS I II III IV V VI VII VIII IX X XI
C