Anda di halaman 1dari 133

Cerita Bokep Kos Khusus Akhawat – 

Randy Pratama….seorang pemuda berumur 26 tahun,


dibesarkan dari keluarga yang islami. Ibu nya seorang ustazah yang cukup disegani di area
kompleks tempat tinggal nya. Ayah nya pun seorang penceramah yang sering mendapatkan
panggilan di pengajian-pengajian untuk sekedar berbagi ilmu nya tentang agama.

Cerita Bokep Kos Khusus Akhawat


Ustazah Siti dan Ustadz Mahmud sebenar nya sering menyuruh randy untuk menjadi seorang
penceramah seperti mereka, tapi apa dikata, randy mempunyai hoby yang berbeda dari orang tua
nya, musik…dia sangat menyukai musik-musik dari England sana hingga beberapa kali membentuk
sebuah band, Ustadz Mahmud dan Ustazah Siti sudah hilang akal rasa nya untuk menjatuhkan
harapan pada anak laki-laki nya untuk sama menjadi penceramah, walau sesekali ia sering juga
mengikuti kajian-kajian islami yang dihadiri orang tua nya.

Dibalik semua itu ada rahasia di balik kehidupan randy yang tak banyak diketahui orang-orang di
sekeliling nya, dimana orang mengenal Randy adalah sosok yang memang “selengean” dan
“urakan” namun tetap alim dan sholeh, padahal ia memiliki nafsu sex yang tinggi dan kesukaan nya
akan sex atau zina, sangat bertolak belakang dengan latar belakang keluarga nya yang islami dalam
kehidupan sehari-hari.

Dan Dari kesukaan nya itu, sudah tak terhitung berapa wanita yang sudah jatuh ke pelukan nya dan
melakukan zina ( sex ) dengan nya. Ya…randy senang untuk menaklukan wanita untuk
melampiaskan nafsu sex nya yang tinggi. Bagi nya itu adalah tantangan yang harus di taklukan nya,
ia tak tergiur sedikit pun untuk melakukan sex instan dengan wanita-wanita PSK di luar sana, karena
disamping tak ada tantangan nya, ia juga memikirkan resiko-resiko yang bisa muncul akibat
berhubungan sex dengan PSK.

Cerita Bokep Kos Khusus Akhawat


Namun diluar itu semua, ia adalah seorang laki-laki penyayang orang tua yang ingin berbakti
seumur hidup untuk ayah dan ibu nya.

Cukup sampai disini perkenalan nya ukhti/akhi….Let me start the first story about randy adventure!

Karena suatu urusan yang di perintah kan Ustadz mahmud ayah randy, ia terpaksa harus
meninggalkan rumah dan orang tua nya 1 bulan ke kota S. Karena Ustad Mahmud ingin randy
menguruskan urusan sertifikat tanah nya dengan pemilik baru yang ada masalah sedikit dan butuh
waktu agak lama untuk di uruskan, jadi lah ia harus pergi ke kota S dan tinggal kurang lebih selama
sebulan disana.
Dan kebetulan di sana ada bibi nya yang merupakan adik dari Ustazah Siti yaitu Ummu Sholihat.
Ummu Sholihat adalah seorang ummahat shalehah berhijab syar’i sebagaimana kakak kandung
nya, karena sama-sama di besarkan dalam lingkup keluarga yang sangat islami oleh kakek randy.

Cerita Bokep Kos Khusus Akhawat


tidak berbeda jauh dengan Ummu Sholihat, suami nya yaitu Ustad Hafid juga seorang ustadz yang
sangat alim, mereka berdua pasangan serasi sama seperti ayah dan ibu randy.

Pagi itu randy sampai di rumah Ummu Sholihat adik kandung dari ibu nya sendiri, ia disambut oleh
Ummu Sholihat dan suami nya Ustad Hafid dengan ramah dan gembira karena sudah lama tidak
berjumpa dengan keponakan nya itu.

Rumah Ummu Sholihat sederhana namun sangat nyaman dan bersih karena mereka rajin menjaga
kebersihan di rumah, karena kebersihan itu sebagian dari iman. Mereka berbincang-bincang sambil
melepas rindu setelah sekian lama tidak bertemu. Bokep Barat
Ummu Sholihat lalu memanggil seseorang ke ruang tamu, dan ternyata 2 orang akhwat
menghampiri ke ruang tamu dari arah bagian dalam rumah. Mereka adalah Ukhti Alya dan Ukhti
Farah, mahasiswi-mahasiswi yang sedang menjalani kuliah nya di PTN Islam di kota S dan
kebetulan kost di rumah Ummu Sholihat.

Cerita Bokep Kos Khusus Akhawat


Ukhti Alya adalah seorang akhwat berjilbab dengan penampilan modis, cantik dengan tubuh yang
ramping dan menggoda, menjadi perhatian setiap ikhwan-ikhwan di kampus nya. Sedangkan Ukhti
Farah adalah seorang akhwat berjilbab syar’i nan sholehah juga tak kalah cantik, yang lebih
mengutamakan kuliah nya, berjuang untuk mencapai cita-cita nya untuk menjadi seorang ustazah
seperti impian nya.

Ummu Sholihat mengenalkan kedua akhwat yang kost di rumah nya kepada randy, dan berharap
mereka bisa kenal agar randy bisa betah di rumah selama 1 bulan, tapi tentu nya tetap mentaati
norma-norma agama dan tetap menjaga batas sebagai ikhwan dan akhwat.

Setelah perkenalan dan sedikit obrolan di ruang tamu, akhir nya Ukhti Farah dan Ukhti Alya
berpamitan untuk segera pergi ke kampus.

Akhir nya Ummu Sholihat mengantarkan randy sambil menunjukan kamar yang akan ia tempati
selama tinggal di rumah nya. kamar randy tidak besar namun sangat nyaman dan bersih di dalam
nya, karena Ummu Sholihat senantiasa selalu menjaga kebersihan di dalam rumah nya.

Randy berganti baju di dalam kamar sambil beristirahat sekejap, tapi di sela-sela istirahat nya ia
terus memikirkan kedua akhwat yang telah mencuri perhatian nya, Ukhti alya dan Ukhti Farah
Cerita Bokep Kos Khusus Akhawat
Di sela-sela memikirkan kedua akhwat itu, muncul gairah nya menaikan nafsu yang disebabkan
hormon testosteron nya naik, berakibat pada penis nya yang bergerak-gerak di dalam celana
pendek randy.

Dalam hati nya, randy bertekad untuk bisa mnedapat kan kedua akhwat itu dalam waku 1 bulan
selama ia tinggal di rumah Ummu Sholihat dan Ustadz Hafid.

Keesokan hari nya, pagi setellah sarapan Ummu Sholihat dan Ustadz Farid berpamitan pada randy
untuk menghadiri suatu pengajian dan pulang agak sore, mereka menyuruh randy untuk menjaga
rumah. Mereka pergi bersamaan dengan Ukhti Alya dan Ukhti Farah yang sama-sama berpamitan
untuk pergi ke kampus nya masing-masing.
Karena kebosanan, randy memutuskan untuk menonton televisi di ruang tengan, di sela-sela santai
nya, ia merasakan gairah nya naik kembali karena teringat akan kedua akhwat menggairahkan itu.

Cerita Bokep Kos Khusus Akhawat


Penis besar nya pelan-pelan bergerak bangun dari dalam celana pendek yang ia kenakan,
menyeruak membesar dan memngeras, membuat nya ingin mengeluarkan penis nya itu dari dalam
celana nya atau membuka celana pendek yag ia kena kan.
Akhir nya ia melepas kan celana pendek nya dan mengurut-ngurut penis nya sendiri sambil
merasakan sensasi mengocok penis nya sendiri dengan terbuka di ruang tengah rumah Ummu
Sholihat bibi nya sendiri.
Randy terus mengurut-ngurut penis nya sendiri sambil dalam keadaan bawah nya yang sudah
telanjang, hanya menyisakan tshirt berwarna biru yang ia kenakan.
Tetapi tanpa di ketahui, Ukhti Farah ternyata merasa handphone nya tertinggal di dalam kamar kost
nya dan berniat untuk kembali ke rumah untuk mengambil handphone nya, begitu ia melewati
halaman rumah Ummu Sholihat, ia melihat pemandangan yang membuat nya sangat kaget dari luar
jendela kaca yang langsung menuju ke ruang tengah tempat randy mengocok-ngocok penis nya
sendiri.

Cerita Bokep Kos Khusus Akhawat


Ia mengendap-ngendap menyaksikan sebuah pengalaman yang baru pertama kali ia saksikan
secara langsung dengan mata kepala nya sendiri, seorang ikhwan sedang memain kan alat kelamin
nya sendiri….dan yang membuat nya bertambah kaget, randy memainkan penis nya sambil
memanggil-manggil nama Ukhti Farah, meracau tidak jelas sambil memejam kan mata seperti orang
yang sedang menahan geli.
Perasaan Ukhti Farah menjadi tak menentu, di sisi lain ia merasa itu bukan pemandangan yang
harus ia lihat, tapi di sisi lain ini terlalu sayang untuk dilewat kan, sebuah penis laki-laki, alat kelamin
seorang ikhwan yang menurut nya mempunyai bentuk yang sangat indah, besar dan berurat.
Keringat Ukhti Farah mulai bercucuran semakin lama ia menyaksikan pemandangan itu, dibarengi
oleh rasa gatal yang menyerang pada organ tubuh bagian bawah nya yang sangat vital. javcici.com
Ukhti Farah mulai merasakan ada perasaan aneh pada vagina nya, gatal dan mulai lembab, ingin
rasa nya ia menyentuh vagina nya sendiri pada saat itu tapi rasa nya tidak mungkin.

Cerita Bokep Kos Khusus Akhawat


Seiring dengan gairah randy yang semakin memuncak, ia melepas semua pakaian nya hingga
telanjang bulat di ruang tengah, sambil mengocok penis nya dengan tambah cepat. Gerakan tangan
nya semakin membaut penis nya bertambah keras dan mengeluarkan urat di sekitar batang penis
nya…..dan keluar lah sperma dari dalam penis memuncrat keluar membasahi perut nya dengan
sangat banyak dan kental.
Ukhti Farah dengan cepat merubah posisi berdiri nya ke posisi yang lebih terbuka agar bisa
menyaksikan pemandangan yang sangat berharga ini. Ia sangat gelisah sekaligus shaywat seorang
akhwat nya naik sangat tinggi, sehingga menangkis norma-norma yang selama ini ia tekuni.
Perasaan nya berkecamuk dan memilih untuk terus menyaksikan hingga tuntas.
Setelah randy mengeluarkan sperma nya, buru-buru ia berjalan cepat menghindari posisi jendela
kaca tempat nya mengintip dan kembali ke kampus, niat awal nya untuk mengambil handphone
yang tertinggal menjadi pudar.

Cerita Bokep Kos Khusus Akhawat


Di malam hari yang sama dengan kejadian sewaktu Ukhti Farah memergoki randy sedang
bermasturbasi di ruang tengah, ia menjadi gelisah selalu terbayang di pikiran nya bentuk penis
randy yang begitu mempesona pikiran nya, dalam hati bagaimana rasa nya bila tangan nya yang
lembut itu menyentuh penis randy yg besar dan berurat itu.

Semakin buas Ukhti Farah membayang kan indah nya penis randy seorang diri dalam kamar nya,
menyebab kan ada rasa yang aneh dalam diri Ukhti Farah. Ia menjadi tak konsentrasi belajar
padahal ia adalah seorang akhwat sekaligus mahasiswi yang selalu semangat untuk mengerjakan
tugas-tugas kuliah nya atau untuk sekedar belajar di kamar.
Seiring dengan melayang nya pikiran Ukhti Farah, ia semakin tak terkontrol dan mulai merasakan
ada rasa aneh yang tadi muncul ketika menyaksi kan aksi randy yang sedang mengocok penis nya,
rasa aneh itu semakin besar menggelitik vagina nya.
Ukhti Farah lalu berbaring id atas ranjang nya sambil mengusap-usap vagina nya dari luar rok kain
nya, di gesek-gesek kan nya jari dan telapak tangan nya ke arah vagina nya dari luar kain nya.
Cerita Bokep Kos Khusus Akhawat
Ia merasakan kenikmatan yang baru pertama kali ia dapat kan, sebuah aktivitas yang tabu untuk
seorang akhwat muslimah shalehah seperti diri nya.
Ukhti Farah lalu berdiri dan buru-buru mempreteli celana rok nya sendiri hingga menyisakan celana
dalam nya saja yang berwarna kuning pada pakaian bawah nya, dan melanjutkan aktivitas baru nya
menggesek-gesek vagina dari luar celana dalam nya kembali.
Gesekan di luar vagina nya semakin cepat, tangan nya semakin intens bergerak mengusap2usap
vagina nya dari luar celana dalam. Hingga sampai ke masa dimana Ukhti Farah bergetar hebat
sambil mengangkat kedua pinggul nya.
Dan membanjir lah celana dalam Ukhti Farah, seorang akhwat muslimah berhijab lebar yang baru
merasa kan nikmat nya masturbasi. Vagina nya sangat basah dan lengket mengenai celana dalam
warna kuning yang ia kenakan.
Nafas nya tak teratur kelelahan, ia terkulai lemas di atas tempat tidur nya, sambil merenungi apa
yang baru saja ia lakukan, sebuah aktivitas yang sangat tabu bagi seorang akhwat shalehah
berhijab lebar.
Setelah beberapa waktu, ia mulai bisa mengendalikan nafas nya dan buru-buru berganti pakaian,
lalu bergegas untuk mandi junub sambil mengendap-ngendap.

Cerita Bokep Kos Khusus Akhawat


Malam itu selepas semua nya melaksana kan sholat isya berjama’ah, mereka berkumpul di ruang
tengah untuk menonton televisi sambil bersenda gurau dalam suasana hangat. Ummu Sholihat
menanyakan tentang kuliah kepada Ukhti Farah dan Ukhti Alya, Ustad Hafid menanyakan tentang
bagaimana perkembangan urusan pertanahan kepada randy, sudah sampai mana masalah yang ia
uruskan.

Ukhti Farah sambil menonton televisi dan diselangi mengobrol dengan Ummu Sholihat atau Ukhti
Alya, ia sesekali mencuri-curi pandang pada arah selangkangan randy, ia terlihat mengamati
keadaan sarung yang randy kenakan, sambil membayang kan apa yang ada di dalam sarung randy.

Ummu Sholihat beberapa kali menguap menandakan ia sudah ngantuk, begitu pun Ustad Hafid
yang terlihat sudah tidak bisa menahan kantuk, akhir nya mereka pun berpamitan untuk pergi ke
kamar nya untuk tidur.
Ukhti Alya yang malam kemarin habis begadang mengerjakan tugas pun sudah terlihat mengantuk
dan tak lama ia pun berpamitan untuk pergi ke kamar nya, sambil menyuruh Ukhti Farah untuk
cepat tidur pula, tapi Ukhti Farah berkata ingin menuntaskan film yang ia saksikan dulu di televisi.

Cerita Bokep Kos Khusus Akhawat


Kini tinggal randy dan Ukhti Farah berdua di ruang tengah, menonton televisi sambil sedikit-sedikit
berbincang dengan tetap ada rasa malu-malu. Ukhti Farah terluhat agak canggung berdua dengan
randy, namun randy merasa ini kesempatan terbaik untuk sedikit menambah kedekatan dengan
Ukhti Farah
Tanpa disangka-sangka….Ukhti Farah menanyakan sesuatu pada randy, tentang apa yang di
lakukan nya ketika ia masturbasi tempo hari itu di ruangan ini.
Ukhti Farah : Akhi…hmmm ana waktu itu liat Akhi…di sini..sambilll….
Randy : hah? sambil apa ya ukhti?
Ukhti Farah : sambil itu akh…..pegang-pegang kelamin antum sendiri….
ucap Ukhti Farah sambil menundukan kepala nya karena malu.

Cerita Bokep Kos Khusus Akhawat


Randy : hah?? jadi kemarin itu anti liat ana lagi masturbasi disini??
Ukhti Farah : hmmm iya akhi dari yang ana lihat di internet nama nya masturbasi….tapi afwan akh
ana ga sengaja lihat nya.
Randy : tapi gimana bisa ukh, anti kan kemaren pergi ke kampus?
Ukhti Farah : iya akh..tapi waktu itu ana balik lagi ke rumah untuk mengambil handphone yang
ketinggalan, ga sengaja liat antum lagi itu disini..
Randy : ohh gitu….hmm afwan ya ukh…ana waktu itu pun khilaf karena ga tau kenapa nafsu ana
naik
Ukhti Farah : i…iya gpp kok akhi, wajar dan manusiawi
Ukhti Farah masih menunjukan sikap yang malu-malu dengan sesekali menatap mata randy
Randy : hmmm berarti anti waktu itu liat penis ana dong ukh?
Ukhti Farah : i….iiya akhi..
Randy : hmmmm menurut anti gimana zakar ana? besar ga ukhti? hehe
Randy mulai berani menggoda Ukhti Farah karena melihat gelagat Ukhti Farah yang belum terlihat
untuk pergi meninggalkan obrolan yang mulai mesum ini.

Cerita Bokep Kos Khusus Akhawat


Ukhti Farah : Astagfirullah akhi……ga baik bertanya begitu
Randy : hehe ana kan cuma tanya ukhti…..lagian anti duluan kan yang bertanya soal ini pada ana
Ukhti Farah : i…iya sih, tapi itu kan ana cuma ingin tau…..tapi..
Randy : tapi apa ukhti?
Ukhti Farah : hmmm itu…zakar antum..
Randy : hehe kenapa dengan zakar ana ukh?
Ukhti Farah : hmmm …besar akh..
Randy : hehe anti suka?
Ukhti Farah : ga tau akh…
Randy : hehe hmm ukhti….boleh ana pindah kesitu duduk nya?
Ukhti Farah ? kenapa akh? kan sama aja tetap keliatan televisi nya
Randy : gpp ukh, pengen aja duduk berdekatan dengan anti
Ukhti Farah : Astagfirullah jangan akhi
Randy lalu berpindah tempat duduk ke sofa di sebelah sofa yang di duduki oleh Ukhti Farah, Ukhti
Farah terlihat agak gugup menghadapi situasi ini, ingin rasa nya segera beranjak masuk ke kamar
nya tapi ada sesuatu dalam diri nya yang membuat ia tetap tertahan dalam ruangan itu berdua
dengan randy.
Randy menawarkan Ukhti Farah untuk bisa meliat penis nya sekali lagi, tapi Ukhti Farah buru-buru
menolak nya padahal dalam hati nya ingin sekali melihat nya lagi, karena itu yang akhir-akhir ini
dalam pikiran nya, bahkan kalau bisa bukan hanya melihat nya, tapi menyentuh dengan tangan nya.
Randy : hehe iya gpp kalo ga mau liat lagi…
Ukhti Farah : hmmm

Cerita Bokep Kos Khusus Akhawat


Situasi yang mulai berpindah suasana ini membuat penis randy menyeruak bangun dari tidur nya,
mengeras sedikit-sedikit membuat sebuah tonjolan yg terlihat dari luar sarung yg dikenakan nya. Hal
itu membuat Ukhti Farah semakin gugup dan mulai berkeringat, tapi ia tak juga beranjak dari tempat
duduk nya, hal itu membuat randy semakin berani menggoda Ukhti Farah.
Randy : hmm ukhti….
Ukhti Farah : ya akhi?
Randy : anti pindah duduk disini dong
Sambil menepuk sofa menandakan untuk agar Ukhti Farah berpindah tempat duduk ke sisi nya.
Ukhti Farah menunduk sambil terlihat menimang-nimang sesuatu, namun akhir nya mengangkat
bokong nya dari sofa dan berdiri…melangkah kan kaki untuk berpindah tempat duduk ke sisi randy.
Randy sangat kegirangan dalam hati nya, lalu mulai mengeluarkan SSI nya (speak-speak iblis)

Cerita Bokep Kos Khusus Akhawat


Randy : anti cantik banget ukhti…pasti banyak di kampus ikhwan-ikhwan yang suka sm anti
Ukhti Farah : biasa aja akhi, antum terlalu memuji
Randy : anti pernah pacaran ukh?
Ukhti Farah : belum pernah akhi, pacaran itu haram tidak ada dalam islam
Randy : betul ukhti, tapi bagaimana kalau ada ikhwan yang berniat mengajak anti taaruf?
Ukhti Farah : hah? siapa akhi?
Randy : ya belum tau sih siapa, ini kan cuma misal nya
Ukhti Farah : ohhh..hmmm kalau ahklah ikhwan itu baik dan agama nya juga bagus kenapa ngga
akhi, tapi ana ingin selesaikan kuliah dulu.
Randy : alhamdulillah kalo gitu ukhti
Sedikit-sedikit randy semakin merapatkan posisi duduk nya kepada Ukhti Farah, Ukhti Farah pun tak
keberatan melihat pergerakan randy yang semakin merapatkan posisi duduk nya, membuat paha
mereka bersentuhan dari luar pakaian nya masing-masing.
Randy : malam ini dingin ya ukh, angin nya besar
Ukhti Farah : iya akhi….sudah mulai masuk musim penghujan
Randy : kalo dingin gini hormon testosteron ana suka naik ukh, apalagi ditambah lagi deket sm anti

Cerita Bokep Kos Khusus Akhawat


Bersamaan dengan randy yang melirik ke arah penis nya yang semakin tegak, memperlihatkan
posisi sarung nya  yang mirip seperti anak laki-laki yang baru saja di sunat, memakai penyangga
penis di dalam sarung, tapi ini karena penis nya yg mengacung tegak ke atas. Ukhti Farah pun
meilirik ke arah pangkuan randy dan terhentak kaget melihat nya.
Ukhti Farah : Astagfirullah akhi….
Randy : ukhti….cantik banget malem ini, wangi…..
Sambil randy mulai mendekat kan wajah nya…semakin dekat pada Ukhti Farah, mencium aroma
jilbab Ukhti Farah
Randy : iya ukhti…..makin keras sesuatu di dalam sarung ana
Ukhti Farah menjawab dengan sebuah tatapan ke arah mata randy, dibalas oleh randy yang
semakin mendekat kan wajah nya pada Ukhti Farah…semakin dekat dan mulai mengecup bibir
Ukhti Farah dengan lembut.
Ukhti Farah : ehh..jangan akhi…ini dosa

Cerita Bokep Kos Khusus Akhawat


Ukhti sedikit menjauh kan bibir nya dari bibir randy dan terlihat gemetar, namun dalam diri nya tak
bisa dipungkiri  ingin sesuatu yang lebih dari ini.
Randy : kenapa ukhti?
Randy mengangkat dagu ukhti farah lalu mulai berhadapan wajah kembali dan mulai mencium nya
lagi, lebih dalam tapi ukhti farah tetap belum membalas ciuman randy, nafas nya mulai berat dan tak
teratur, randy menenangkan nya dengan menaruh tangan nya di atas paha ukhti farah lalu
mengelus-elus nya lembut
Ukhti Farah : ouucchhh akhi…
Ukhti farah mulai membalas lumatan randy dengan lidah nya, mereka saling bergelut lidah dengan
memejam kan mata
Mereka berciuman semakin liar dan panas, ukhti farah bergerak semakin liar, memeluk tubuh randi
dan sesekali dengan sengaja menyentuh kan tangan nya ke tonjolan di sarung randy, karena ia
masih malu – malu untuk langsung meremas penis randy dari balik sarung nya.
Randy mengangkat tubuh ukhti farah lalu menduduk kan ukhti farah di pangkuan nya.
Randy : ughhh sini ukhti duduk di pangkuan ana
Ukhti Farah : aaaahhh iya akhi

Cerita Bokep Kos Khusus Akhawat


Akhwat shalehah berjilbab lebar itu semakin larut dalam lautan birahi, semakin tersesat kedalam
lorong-lorong yang berbelok-belok, gelap dan tak tentu arah, akal sehat nya sudah terpenuhi oleh
syahwat.
Malam itu ukhti farah semakin larut dalam lautan birahi nya yang lama terpendam, ia semakin irat
memeluk randy dan menempel kan dada nya pada dada randy sambil di gesek-gesekan nya,
ciuman nya semakin liar dan kotor, percumbuan antara seorang ikhwan nakal dan akhwat shalehah
berjilbab ini membuat suasana ruangan menjadi semakin panas.
Randy : uhhh ukhti…zakar ana makin keras, uhh bangun dulu ukh
Randy menjauhkan tubuh ukhti farah dengan mendorong pinggang dan paha nya hingga ukhti farah
Randy : ouuuh pegang ini ukhti, ayo pegang sayang
Randy mengelus-elus penis nya yang sudah mengeras dari luar sarung, membuat sarung nya
semakin menonjol tegak ke atas di bagian tengah nya. Ukhti farah mencondong kan tubuh nya
sedikit ke bawah lalu mulai meletak kan telapak tangan nya ke tonjolan di luar sarung randy.

Ukhti farah : astaga akhii….keras sekali…


Ukhti farah lalu meremas nya sedikit dengan lembut.

Randy : uuuughh ukhti, anti mau liat zakar ana lagi?


Ukhti farah berdiri mematung di depan randy yang masih terduduk di sofa

Cerita Bokep Kos Khusus Akhawat


Ukhti Farah : ma….mau akhi..
Randy : buka sarung ana ukh, ayo lepasin sarung ana

Dengan sedikit ragu ia mendekati randy lalu sedikit demi sedikit menarik sarung randy ke bawah
hingga terlepas dari tubuh bagian bawah randy. Randy lalu mengurut-urut penis nya di depan ukhti
farah sehingga semakin mengeras
Ukhti farah mengatakan hal yang tabu untuk di ucap kan oleh seorang akhwat shalehah berjilbab,
bahkan itu dilakukan nya di depan seorang ikhwan yang bukan muhrim sambil memperhatikan
kelamin ikhwan tersebut.

Ia sedikit demi sedikit mendekati tubuh randy, randy menyuruh ukhti farah seorang akhwat berjilbab
untuk berlutut di depan kontol nya.

Ukhti farah mulsi menggapai penis randy dan menggenggam nya, ia merasa gugup sekaligus
bernafsu, penis randy di perhatikan nya dengan seksama, di elus-elus nya dan sesekali ia meremas
sambil menatap mata randy.

Cerita Bokep Kos Khusus Akhawat


Randy : uuuuggghh ukhti nakal banget, mulai suka kontol yaa
Ukhti farah : hehe iya akhi, ana suka kontol antum, bentuk nya bagus, besar, panjang, berurat,
ternyata begini ya bentuk kontol.
Randy : aaaaaahh ayo kocok kontol ana ukh, kocok naik turun dengan tangan anti
Ukhti farah : iya akhi…astaga akhi, kontol antum semakin mengeras.
Randy : aaaaahhh iya ukh, mesti dimasukin ke dalem mulut anti, coba deh anti jilat-jilat kontol ana
uuuhh
Ukhti : ta…tapi akhi, ana blum pernah menjilaaa….

Belum selesai ukhti farah berbicara, randy menjambak dengan kasar jilbab di kepala ukhti farah lalu
menarik kepala ukhti farah ke arah penis nya sehingga dengan sekali tarikan penis randy dapat
masuk ke dalam mulut ukhti farah.

Randy : aaaaaaaaaahhhhh ukhtii…mulut anti enakk bangett..kontol ana nikmat banget di dalem
mulut anti, basahh..hangatt
Ukhti Farah : hhhaaaalallpphhhhh hhhooollllmmppp hoollmmpp hhllmmpphh

Randy menekan-nekan kepala ukhti farah sehingga penis nya semakin masuk ke dalam mulut ukhti
farah, ia terus memegang kepala ukhti farah hingga beberapa saat, setelah di lihat nya ukhti farah
mulai menggerak kan sendiri kepala nya naik turun, baru lah ia melepaskan jambakan di jilbab ukhti
farah.

Cerita Bokep Kos Khusus Akhawat


Ketika mereka semakin larut dalam lautan birahi, tanpa mereka sadari ada seseorang yang sedang
mengendap-ngendap dari arah selasar, tampak ingin tahu tentang suara apa yang sayup-sayup
terdengar di ruang tengah.
Tampak Ukhti alya terperanjat kaget melihat kejadian apa yang sedang terjadi di depan mata nya,
ukhti farah kawan satu kost dan kuliah nya yang terkenal sebagai akhwat shalehah berjilbab yang
pintar, sedang mengulum alat kelamin randy sambil berlutut dengan lutut nya, ia tampak menikmati
setiap kuluman mulut nya dan tiap-tiap jilatan lidah di penis randy.

Kekagetan Ukhti alya semakin bertambah melihat setiap gerakan ukhti farah yang semakin nakal, ia
tak menyangka seorang ukhti farah yang sehari-hari nya adalah akhwat shalehah berhijab dan
berkacamata minus, menjadi liar tingkah laku nya seperti perempuan haus sex.

Di satu sisi ia kagum juga dengan ukuran penis randy yang memang besar, diameter nya, panjang
nya, sungguh indah bentuk nya, memang ukhti alya adalah seorang akhwat berjilbab juga, tapi
predikat akhwat nya itu belum lama ia dapat kan, setelah ia diterima masuk kampus islam  ia
berubah menjadi seorang akhwat berjilbab, dari awal nya seorang gadis kota yang selalu
berpakaian modis, jilbab yang ia pakai sekarang pun termasuk model jilbab yang modis, tapi
sungguh ia ingin berubah seiring dengan keinginan nya untuk menjadi guru agama islam dengan
masuk ke perguruan tinggi islam di kota S.

Cerita Bokep Kos Khusus Akhawat


Dan tak dapat dipungkiri juga, ukhti alya sudah mengenal seks ketika ia murid SMU, ia terjebak oleh
mantan pacar nya kala itu yang merayu nya untuk berhubungan badan, disitu lah awal ukhti alya
merasakan nikmat nya bercinta, walau sebelum itu pun ia pernah menonton film-film porno di
internet secara diam-diam, dan bermasturbasi di kamar nya jika syahwat nya sedang naik.

Kala itu pun, ingin rasa nya ia segera pergi meninggalkan aktivitas mesum dua orang itu, tapi nafsu
nya berkata lain, ia sangat penasaran dengan apa yang terkadi berikut nya ditambah bagian sensitif
ukhti alya sudah sangat terangsang melihat aktivitas mereka, ingin rasa nya bergabung bersama
ukhti farah untuk menjilati penis randy, tapi bathin nya terus melarang nya, di sisi lain vagina ukhti
alya sudah mulai mengeluarkan lendir basah, ia dapat merasakan kalau celana dalam yang ia
kenakan sudah mulai basah padahal ia belum menyentuh nya sedikit pun.

Ukhti alya semakin merasakan nafsu nya naik tak terkendali, ia meraba payudara dari luar kaos
yang ia kenakan, meremas nya, sambil tangan lain sedikit-sedikit mengelus-elus vagina dari luar
celana nya. puting nya mengeras, vagina nya mulai basah, becek di dalam celana dalam.

Apalagi begitu melihat kelakuan randy yg menjambak jilbab di kepala ukhti farah dan menaik
turunkan kepala ukhti farah dengan kasar, mengeluar masukan penis nya di mulut ukhti farah,
seakan-akan mulut ukhti farah adalah sebuah fleshlight.

Cerita Bokep Kos Khusus Akhawat


Randy : aaahhhh ukhti…nikmat banget kontol ana di dalem mulut anti, basah…hangat uuhhh
Ukhti farah : hhooolllmmpphh hhoolllllppmmhh

Ukhti farah tak bisa menjawab karena mulut nya penuh dengan penis randy, ia hanya bisa
memukul-mukul kan tangan nya ke sofa kalau randy menekan kepala nya terlalu kencang sehingga
tenggorokan nya tersodok oleh kepala penis randy.

Lalu randy meremas dan menjambak jilbab di kepala ukhti farah kembali, dan menarik nya keatas
sehingga kepala nya ikut tertarik, wajah nya menengadah, setelah senyum sejenak pada ukhti farah,
randy menekan kembali kepala ukhti farah dan menaruh nya kebawah, ke arah biji penis randy yang
menggantung.

Randy : ouuuhh ukhti…..ini biji kontol ana, ayo jilat yaa, emut biji kontol ana uuhhh
Ukhti farah : aaaaahhh baik akhi

Cerita Bokep Kos Khusus Akhawat


Ukhti farah menjilati biji penis randy dengan telaten, sambil randy memain kan batang penis nya
sendiri, sesekali randy bermain-main dengan menyelipkan penis nya ke kacamata ukhti farah, atau
memukul-mukul kan batang penis nya ke kepala, jilbab, dan wajah ukhti farah, hingga ia beberapa
kali harus membetulkan posisi kacamata nya yang miring setelah terkena penis randy.

Randy : aaaaaaahh ukhti..anti bener-bener haus kontol…akhwat binal….


Ukhti farah : tapi akhi suka kaan?
Randy : sukaa bangett, ukhti lonte
Ukhti farah : lonte itu apa akhi?
Randy : lonte itu ya akhwat kayak anti ini, haus kontol
Ukhti farah : uhhhh kalo gitu ana ingin jadi akhwat lonte akhi, lonte buat kontol nya akhi

Sementara itu ukhti alya semakin konstan memainkan vagina nya dari luar celana yang dikenakan
nya, ia mencolok-colok vagina nya sendiri hingga vagina menjadi sangat basah. Ukhti alya
membayang kan andai saja ia di posisi ukhti farah sekarang, dapat memainkan penis randy dengan
puas seperti itu.

Cerita Bokep Kos Khusus Akhawat


Akhi randy : ukhti, ana pengen liat tubuh ukhti, buka dong baju nyaa
Ukhti farah : tapi ana malu akhi
Randy : ahh ga usah malu, kan cuma kita berdua disini ukhti
Ukhti farah : iya ana malu sm antum, ana belum pernah telanjang di depan ikhwan
Randy : gpp ga usah malu, ukhti kata nya pengen jadi lonte, masa lonte malu-malu gitu
Ukhti farah : hmmmm iya baik akhi

Ukhti farah lalu mencopot pakaian nya satu persatu sembari berdiri di depan randy, hingga bra dan
celana dalam nya pun ia copot padahal randy belum menyuruh untuk mencopot dalaman pakaian
ukhti farah,

Ukhti farah : akhi, jilbab nya jangan di copot ya, aurat


Randy : hehe iya ukhti, ana ga nyuruh anti buat mencopot jilbab anti kok
Ukhti farah : hehe iya akhi
Randy : uhhhhh tubuh anti mulus banget ukhti, memek anti lebat yaa bulu nya….jarang di cukur ya?
Ukhti farah : iya akhi hehe…sudah jangan di perhatikan begitu akhi…..ana malu
Randy : memek anti basah yaa ukhti
Ukhti farah : iya vagina ana basah akhi
Randy : apa shi vagina ga seru banget, ini memek nama nya ukhti bukan vagina
Ukhti farah : hmmm i..iya akhi
Randy : coba sekali lagi, ini apa nama nya?

Cerita Bokep Kos Khusus Akhawat


sembari randy mengelus-elus vagina ukhti farah

Ukhti farah : aaaahhhh geliii akhi…iyaaaa akhi, memek….memek ana basahh aaaahhh nikmat akhi
memek ana
Randy : uhhh basah banget…..coba anti maenin memek pake tangan sendiri di depan ana

Randy : ughhhh ayo balik badan ukhti…..ana pengen liat pantat ukhti
Ukhti farah : uhh baik akhi..

Ukhti farah lalu membalik kan badan nya memperlihatn kan bokong nya kepada randy sambil ia
merangkak nakal.

Ukhti farah menungging sambil merangkak dengan binal nya di depan randy yang sedang
mengocok penis nya, sambil menggoyang-goyang kan pantat nya telanjang.
Randy : uughhh ukhti, kau binal banget malem ini…kontol ana makin keras
Ukhti farah : binal itu apa kah akhi?
Randy : binal itu pokok nya kesukaan ana banget..kamu ukhti binal…akhwat binal
Ukhti farah : uhhh akhi, iya ana akhwat binal, alhamdulillah kalau antum suka sama akhwat seperti
ini

Cerita Bokep Kos Khusus Akhawat


Ukhti farah : seperti ini akhi? antum suka kontol nya di jepit pake toket ana? terus di maenin pakai
jilbab ana?
Randy : aaaaggghh iya ukhti enak banget di gituin, ana suka
Ukhti farah : iya syukur kalau antum suka akhi ouhh kontol akhi makin besar…..makin kerass yaa…
ana sukaa liat nya
Tiba-tiba randy menjambak jilbab di kepala ukhti farah dan meremas nya, ukhti farah terhentak
kaget sambil menatap mata randy. Randy lalu menekan kepala ukhti farah sehingga wajah nya
mendongak ke atas.
Randy : uuuggh ukhti, coba buku mulut anti yang lebar
Ukhti farah : ke….kenapa emang nya akhi?
Randy : buka aja ukhti, coba buka mulut nyaa
Ukhti : i….iya akhi………..aaaaaaaaaaaaaaaaahhhh
Ukhti farah menuruti apa yang disuruh oleh randy lalu memubuka mulut nya lebar sehingga randy
dapat melihat lidah, gigi dan tenggorkan ukhti farah dari arah atas. Randy lalu mengumpul kan air
liur nya di dalam mulut lalu sedikit-sedikit mendekati mulut uikhti farah yang terbuka lebar, lalu
melepehkan air liur dari dalam mulut randy ke mulut ukhti farah

Cerita Bokep Kos Khusus Akhawat


Randy : hhhhllmmphhhhh cuiiiihhhh ……cuuuiiiiihhhhhhh
Ukhti farah : aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhh aaaarrr hhhhhhhhhh
Randy : jangan tutup mulut kamu sebelum ana suruh ya ukhti binal
Ukhti farah hanya bisa menjawab dengan menggangguk kan kepala nya, sembari randy masih
menjambak jilbab di kepala nya sehingga wajah ukhti farah masih mendongak ke atas.
Randy : telan ukhti….telan liur ana hehe
Ukhti farah : aaaaaaaaaaaaahh aaahhhhll
Ukhti farah menggangguk lalu menelan ludah randy hingga habis
Randy : hehe gimana ukhti? enak ga ludah ana?
Ukhti farah : uggh akhi, kenapa sih antum ludahin mulut ana…jadi aja ana telan ludah antum
Randy : hehe abis ana suka sih ukh ludahin akhwat binal seperti anti ini
Ukhti farah : kok gitu akhi?
Randy : itu tanda nya ana suka sm anti ukhti binal hehe
Ukhti farah : hmmm kalo gitu ana ikhlas deh di ludahin oleh antum
Randy : hehe iya dong mesti ikhlas
Ukhti farah : tapi ngomong-ngomong akhi….kok ana jadi suka yaa…sensasi nya bikin gimanaa gitu
kalau ana telan ludah antum
Randy :: nah kan anti jadi suka? enak ga ludah ana ukh?
Ukhti farah : hmmm i..iya enak akhi
Randy : bilang dong terima kasih sudah ana ludahin mulut anti
Ukhti farah : i…iya akhi syukron sudah meludahi mulut ana
Randy : hehe nah gitu dong..

Cerita Bokep Kos Khusus Akhawat


khti alya yang melihat kejadian nya ini semakin panas dingin di buat nya, ia tak menyangka ukhti
farah yang terkenal sebagai akhwat shalehah merasa ikhlas untuk di ludahi mulut nya, randy
dengan santai nya meludah ke dlaam mulut ukhti farah.
Randy : ughh ukhti…ana pngen ngentotin ukhti sekarang…pengen jima sm ukhti…tapi terlalu riskan
melakukan nya disini.
Ukhti farah : ta…tapi, ana masi perawan akhi, ana takut
Randy : iya sih pasti anti masih perawan……yaudah ga jadi deh…..hmm ana zinahi mulut anti aja
yaa
Ukhti farah : zinahi mulut ana? bagaimana cara nya akhi?
Randy lalu mendorong kepala ukhti farah dengan kasar sambil ia bangun dari sofa nya lalu berdiri di
atas ukhti farah yang masih berlutut di depan randy
Randy : nahh sekarang buka mulut kamu yaa akhwat binal
Ukhti farah : ii…iya akhiii………aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhh

Cerita Bokep Kos Khusus Akhawat


Ukhti farah membuka lebar mulut nya sambil mata nya menatap randy ke atas dengan sayu. Tiba
-tiba randy mengurut-urut penis nya lalu mengarahkan penis nya ke dalam mulut ukhti farah yang
sedang terbuka lebar
Ssslllleeeeeeeeeeeeppphhh
Randy : aaaaaaaaaahhhhh enakkkk
Ukhti farah : hhaaaaaaaallllllllllmmmmmmppp
Sembali randy memegang kepala ukhti farah dengan kedua tangan nya, ia dengan cepat
memasukan penis nya ke dalam mulut ukhti farah, mendorong nya hingga ujung penis randy
menyentuh tenggorokan ukhti farah. beberapa kali ukhti farah merasa tersedak tetapi tetap
membiarkan penis randy di dalam mulut nya.
Randy lalu mengeluar kan masuk kan penis nya ke dalam mulut ukhti farah dengan lembut sambil
menikmati kuluman lidah ukhti farah di penis randy, kedua cengkraman tangan randy di jilbab dan
kepala ukhti farah berubah menjadi remas di jllbab ukhti farah, ia memaju mundur kan kepala ukhti
farah seakan-akan randy sedang melakukan penetrasi ke lubang vagina seorang wanita.
gerakan nya semakin cepat dan konstan, membuat ukhti farah menjadi kelabakan menerima
sodokan-sodokan penis randy di mulut nya.

Cerita Bokep Kos Khusus Akhawat


Di sisi ruangan lain, Ustad farid dan Ummu Sholihat sedang berduaan di kamar nya sehabis
melakukan tadarus bareng sebelum tidur, memang mereka sebagai pasangan sholeh dan sholehah
selalu melakukan ibadah secara bersama-sama.

Utad farid : umi, abi senang dengan randy, dia anak yang baik dan sopan ya
Ummu sholihat : iya abi, alhamdulillah kalau abi senang randy tinggal di sini, randy kan keponakan
umi
Ustad farid : iya abi senang kok
Ummu Sholihat : iya randy sudah besar sekarang, tumbuh menjadi laki-laki yang sopan dan sholeh,
ganteng lagi hihihi
Ustad farid : hush umi ini…….hmm umi abi kangen sama umi hehe

Ummu sholihat : iiihhhh abi zakar nya udah ngaceng aja


Ustad farid : hehe iya abis syahwat abi naik sih umi
Ummu sholihat : hihihi iyaa tuu sarung abi jadi nonjoll

Ummu sholihat lalu meremas penis ustad farid dari luar sarung yang dikenakan oleh ustad farid

Ummu sholihat : loh? abi ga pake celana dalam yaa


Ustad farid : hehe iya umi, tadi lepas sewaktu umi ke kamar mandi dulu
Ummu sholihat : iiihhh abi nakal hihihi
Ustad farid : sini cium abi umi

Cerita Bokep Kos Khusus Akhawat


Ustad farid dan ummu sholihat sudah tampak bergairah malam itu, sepasang suami istri halal
sedang memadu kasih di kamar nya.

Ustad farid : aaaahh umi syahwat abi udah naik banget, umi buka gamis nya yah
Ummu sholihat : iyah abiii umi juga…bentar umi buka gamis dulu yah
Ustad farid : iya tapi jilbab nya jangan dibuka umi hehe
Ummu sholihat : iiiihh abi nakal nihm, iyaa umi ga akan buka jilbab

Ummu sholihat membuka gamis nya di depan ustad farid sambil meliuk-liuk kan tubuh genbor nya,
bergerak nakal sambil ustad farid pun mempreteli sarung dan baju koko nya. Ustad farid lalu
menduduk kan ummu sholihat di pangkuan nya sambil berciuman liar
Ummu sholihat lalu mendorong suami nya ke ranjang supaya terlentang di ranjang kasur, lalu
langsung meraih penis suami nya dengan cepat dan mengocok nya konstan naik turun, ustad farid
merasa istri nya ini semakin liar dari hari ke hari.

Cerita Bokep Kos Khusus Akhawat


Ummu sholihat terus mengocok penis suami nya dengan cepat hingga penis ustad farid semakin
mengeras dan mengeluarkan precum yang membasahi ujung penis dari lobang kencing nya. Ummu
sholihat, seorang ummahat shalehah berhijab lebar kini berubah menjadi ummahat binal yg liar di
depan suami halal nya.

Ummu sholihat lalu menaiki tubuh suami nya, bangun berdiri mengangkangi tubuh suami nya, agak
rendah lalu menggesek-gesek kan vagina nya ke kepala penis suami nya. Bagaikan seekor cacing
kepanasan, ia bergerak liar mengusap-usap clitoris nya dengan kepala penis, membuat vagina nya
semakin basah mengeluar kan cairan pelumas vagina yang meluber membasahi penis ustad farid.

Ummu sholihat : ooohhhh abi..umi udah ga kuatt….umi masukin yaaahhh aaahhh


Ustad farid : aaaaaahhh iya umii
Ummu sholiihat : bismillahhhh

bleeeeeeeeeessssssssssssssss……

Cerita Bokep Kos Khusus Akhawat


Ummu sholihat menurun kan tubuh nya seiring dengan masuk nya penis ustad farid ke dalam
lobang vagina ummu sholihat, terus semakin dalam ummu sholihat menekan tubuh nya ke bawah
hingga batang penis ustad farid tidak terlihat lagi tenggelam ke dalam lubang vagina ummu sholihat,
sang ummahat shalehah berjilbab lebar.

Ummu sholihat lalu bergerak liar menaik turun kan tubuh nya di atas penis suami nya, ia bergerak
liar bagaikan seekor kuda betina liar, jauh sekali dari keseharian ummu sholihat yang seorang
ummahat shalehah, seorang ustazah di kompleks tempat tinggal nya.

Ustad farid : aahhh oooohhhhhh iyaa ummii…ohhh zakar abii udah ga kuat umi
Ummu sholihat : aahh ahhh nanti dulu abi umi lagi enakk…ahh nikmat bangett
Ustad farid : aaahh ahhh umii.tapi…..aaahhhhh nikmatt bangettt umi ahhhhh umi
Crrrrrrrrroooooooottt crooooooooottttttt

Ustad farid : aaaaaaaaaaaahhh umi abi udah keluarrr


Ummu sholihat : uhhh abi deh, cepet banget keluar nya seperti biasa, kan umi masih lama keluar
nya
Ustad farid : iya maaf umi…..abis enak banget farji nya umi
Ummu sholihat : uugggghh abii umi nanggungg…

Cerita Sex, Cerita Dewasa, Cerita Ngentot Hot – Cerita Sex Mahasiswi Ngentot Untuk Nyari
Uang – Ini kisah 2 tahun yang lalu, ketika aku masih indekost di kota Dps. Ketika itu aku baru
kerja di sebuah perusahaan. Ditempat kostku yang mempunyai 10 kamar lengkap dengan kamar
mandi dalam dan teras masing-masing itu merupakan tempat yang nyaman dan bebas. Maksudku
bebas karena pemilik rumah tidak tinggal disana, hanya sebulan sekali datang menarik uang kost
atau sesekali jika ada perlu mengecek keadaan.

Kalo ada yang bertamupun bebas sampai tengah malam atau menginap asal tidak ribut dan
mengganggu penghuni yang lain tidak ada masalah. Kebetulan saat aku masuk 8 kamar sudah
terisi. Aku menempati kamar paling pojok bersebelahan dengan kamar seorang mahasiswi di
sebuah PTS, berumur sekitar 20 tahun.

Lebih sepekan berlalu, aku belum begitu akrab dengan semua penghuni disana, selain karena
masing-masing kamar dibatasi tembok pembatas juga sibuk dengan urusannya masing-masing
termasuk aku dan memang disana antar penghuni jarang ada yang mengobrol satu sama lain
kecuali hanya sapaan basa-basi ketika kebetulan berpapasan. Walaupun semua penghuni disana
berstatus single tapi ada 5 pasangan yang sudah tinggal bersama, mungkin istilahnya kumpul
kebo atau apalah. Hanya aku dan 3 wanita termasuk mahasiswi disebelah kamarku yang tinggal
sendiri, tapi kuperhatikan merekapun sudah mempunyai pasangan atau minimal dekat laki-laki
karena masing-masing sering dikunjungi teman laki-laki dan tak jarang menginap sampe pagi
dikamar si wanita.

Awalnya aku tidak terlalu peduli dengan kecuekan masing-masing karena enak juga tidak ada
yang saling mengganggu atau mau tau urusan orang, ya mungkin ciri masyarakat perkotaan
pikirku, tapi lama-lama mahasiswi dikamar sebelahku, sebut saja namanya Sinta, menarik
perhatianku. Bukan saja wajahnya cantik, body yang langsing, tinggi sekitar 160 cm dan berkulit
mulus, Sinta yang kesehariannya suka berpakaian seksi itu kerap membawa laki-laki yang
berbeda menginap dikamarnya. Kupikir biasalah pergaulan bebas anak sekarang.

Suatu hari lampu dikamar mandiku mati, aku naik keatas bak mandi dengan maksud mengganti
bola lampu yang dapat dijangkau dari sini tanpa sengaja aku melihat retakan berupa celah
ditembok kamar mandiku, letaknya diatas dekat plafon. Iseng aku intip kecelah itu dan sedikit
kaget ternyata dari situ aku bisa melihat kedalam kamar Sinta tepat mengarah ke tempat
tidurnya. Pikiran iseng melintas dikepalaku, gimana kalo kuintip saja Sinta dengan teman laki-
lakinya dikamar, lumayan pertunjukan gratis.

Esoknya pulang kerja, sambil tiduran menunggu Sinta kembali ke kostnya. Kira-kira jam 22.00
kudengar langkah kaki di kamar sebelah, kuintip lewat jendela, ternyata Sinta dan teman laki-
lakinya datang. Tak sabar, aku mulai mengintip dari celah kamar mandi, Kulihat laki-laki itu
menunggu Sinta yang sedang menutup pintu kamar, kemudian mereka berpagutan sambil saling
melepaskan pakaian. Hanya dalam beberapa detik mereka sudah telanjang bulat, Sinta jongkok
di hadapan laki-laki itu yang penisnya setengah ereksi dan mengulum penis besar di hadapannya.
Mulut Sinta hampir tidak bisa menampung seluruh penisnya.
Perlahan penis laki-laki itu ereksi penuh karena permainan lidah Sinta. Laki-laki yang tinggi
besar mengangkat tubuh mungil Sinta ke tempat tidur dan langsung menindihnya. Dengan sangat
bernafsu laki-laki itu melahap buah dada kenyal milik Sinta.
Dari sini aku dengan jelas melihat wajah Sinta yang lagi merem melek menikmati permainan
lidah laki-laki itu apalagi lampu kamarnya tidak dimatikan.

Selang berapa menit mereka berganti posisi 69. Mulut Sinta disumbat dengan penis besar laki-
laki itu. Dengan sangat bernafsu Sinta memainkan penis di mulutnya, sedangkan laki-laki itu
sendiri sibuk memainkan lidahnya di clitoris Sinta, kulihat kaki Sinta mulai menegang dan paha
Sinta menjepit kepala laki-laki itu.

Setelah puas, laki-laki itu duduk bersandar di head board dan Sinta duduk di pangkuannya
dengan saling berhadapan. Dengan bertumpu pada lututnya, perlahan Sinta memasukan penis
besar laki-laki itu ke lubang vaginanya. Penis laki-laki itu mulai menerobos masuk. Dia
mendongak ke atas sedikit meringis saat menurunkan pantat bahenolnya agar penis laki-laki itu
masuk lebih dalam.
Sinta mulai menggerakkan pantatnya maju mundur, sedangkan laki-laki itu mejilati dan
menyedot buah dada Sinta. Gerakan Sinta maju mundur makin lama makin cepat dan tidak
beraturan, selang 5 menit tubuh Sinta bergetar hebat menikmati orgasme sambil melumat mulut
laki-laki itu.

Mereka istirahat sebentar sambil mencumbui Sinta agar bangkit lagi. Dengan memainkan buah
dada Sinta yang kenyal, dia bangkit lagi gairahnya, Sinta lalu mengangkangkan pahanya lebar-
lebar, dari celah ini aku bisa lihat vagina Sinta yang kemerah-merahan akibat gesekan penis
besar laki-laki itu. Dia menusukkan senjatanya ke vagina Sinta dan mulai menggerakkan
pantatnya maju mundur dengan keras, saking kerasnya sampai terdengar suara sayup-sayup,
“Plak! plok…, plak! plok!”, dari benturan paha mereka.

Sinta seperti mendesah hebat setiap kali laki-laki itu menghunjamkan penisnya dalam-dalam.
Penisku rasanya sudah tidak kuat menahan sakit karena tegang sejak tadi. Posisi ini tidak
bertahan terlalu lama, laki-laki itu minta Sinta nungging dan dia menusukkan senjatanya dari
belakang, aku bisa dengan jelas melihat penis laki-laki itu keluar masuk menusuk vagina Sinta.

Lima menit berlalu laki-laki itu menunggangi Sinta, perlahan-lahan gerakanya mulai tak
beraturan apalagi Sinta juga ikut menggoyangkan pantatnya. Akhirnya laki-laki itu mencabut
penisnya dan menyodorkan ke Sinta, Sinta tanpa canggung memasukkan penis yang baru keluar
dari vaginanya dan dipenuhi cairan vagina itu kemulut. Kulihat Sinta menghisap penis laki-laki
itu sambil tangannya sesekali ikut mengocok-ngocok penis laki-laki itu dan tak lama wajah Sinta
sudah dilumuri cairan sperma yang menyemprot keluar.

Kulihat Sinta menjilati penis laki-laki itu samapi bersih. Berdua mereka ke kamar mandi, tapi
sayangnya aku tidak bisa melihat situasi kamar mandinya dari sini. Aku balik ketempat tidurku
tapi mataku tidak bisa terpejam, dalam pikiranku masih terbayang adengan hot Sinta dengan
laki-laki itu. Membayangkan mereka, aku jadi tidak bisa tidur sampai pagi.
Beberapa hari berlalu, suatu malam samar-samar kudengar desahan dikamar sebelah, it’s show
time, cepat-cepat kulihat dari celah kamar mandi dan ternyata mereka Threesome, Sinta, laki-laki
itu dan temanya satunya lagi. Sekarang kutahu Sinta adalah mahasiswi bispak dan bisa dibayar
untuk melayani laki-laki, hanya Sinta selalu memilih laki-laki yang bisa mengencaninya. Laki-
laki yang sudah dikenalnya dengan baik, Sinta tak sungkan mengajak berkencan dikost’annya.

Sinta kulihat sedang nungging sedangkan laki-laki itu memompa vagina Sinta dari belakang,
tangan Sinta berpegangan ke pinggir ranjang sambil melumat penis milik laki-laki satunya yang
duduk di pinggir ranjang. Aku baru tahu kalau Sinta benar-benar binal. Wah ini adegan yang
sungguh sangat membuat birahi.
Laki-laki itu mencabut penisnya dari vagina Sinta dan menancapkanya lagi ke lubang pantat
Sinta. Laki-laki itu nampak mulai bernafsu, semetara Sinta berteriak kecil setiap penis besar ini
masuk lebih dalam. Dalam 5 menit laki-laki itu mencabut penisnya dan menumpahkan seluruh
cairan spermanya di punggung Sinta.

Sementara laki satunya lagi asyik menikmati permainan mulut Sinta, kemudian Sinta di
tempatkan di pinggiran bed dengan posisi nungging sementara laki-laki satunya itu berdiri di
lantai, di pingiran bed dan bersiap-siap menusukkan senjatanya ke lubang pantat Sinta.
Goyangan pantat laki-laki itu menimbulkan suara sayup-sayup, “Ceplak.., ceplok..!”,.

Penis laki-laki itu makin keras menghunjam pantat Sinta sambil tangannya meremas keras pantat
bahenol Sinta. Datang dari kamar mandi si laki-laki pertama langsung ikutan nimbrung lagi, dia
menyusup ke bawah tubuh Sinta dengan kaki menjuntai ke bawah dia memasukkan penisnya ke
vagina Sinta lalu menurunkan badan Sinta, laki-laki itu satunya lagi tetap berdiri dengan penis
menancap ke pantat Sinta, dia agak membungkuk karena badan Sinta merendah dan nempel ke
tubuh laki-laki itu. Mereka mulai bergoyang, mulut Sinta dengan lahap menjilat dada bidang si
laki-laki itu.

Laki-laki kedua pantatnya kian keras bergoyang dan akhirnya, “Cret.., cret.., cret”, spermanya
tumpah dibongkahan pantat Sinta, sementara si laki-laki itu masih asyik menikmati goyangan
Sinta dari atas, karena laki-laki satunya lagi tidak lagi menusukan senjatanya, Sinta lalu duduk
bersimpuh di penis si laki-laki itu dan bergoyang maju mundur. Tangan si laki-laki itu meremas
buah dada kenyal milik Sinta, desahan Sinta makin hebat sampai akhirnya lemas terkulai di atas
tubuh laki-laki itu.

Laki-laki itu bangkit dan mulai menyodok lubang pantat Sinta yang lagi tengkurep lemas. Plok..,
plok.., plok..!, bunyi pantat dan paha mereka beradu, selang beberapa menit si laki-laki itu
membalikkan tubuh Sinta dan mengangkangi wajah Sinta sambil mengocok-ngocok penisnya
sendiri, sementara Sinta tampak membuka mulutnya lebar-lebar ketika laki-laki itu
menumpahkan spermanya dimulut Sinta dan tampak Sinta menelan cairan sperma yang
memenuhi rongga mulutnya itu.

Laki-laki kedua datang dari kamar mandi, langsung berpakaian lalu pamitan pada mereka.
Tinggal laki-laki itu berdua dengan Sinta dikamar. Dia menggendong Sinta ke kamar mandi,
mungkin saling membersihkan diri, mereka tidur bugil dengan saling berpelukan.
Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 24.15, aku berencana besok aku akan bolos kerja. Sampai
jam 02.00 di kamar Sinta tidak ada aktivitas, mereka masih tertidur pulas dengan tetap saling
berpelukan. Akhirnya aku tertidur karena bosan menunggu.

Jam 04.00 aku terbangun dan iseng kuintip lagi sambil kekamar mandi. Eh kulihat tangan Sinta
mengocok penis si laki-laki itu yang sedang berdiri setengah tiang. Kepala Sinta dituntun oleh
laki-laki itu untuk melakukan blowjob. Mulut Sinta yang mungil tampak mengembung akibat
sumbatan penis si laki-laki itu. Setelah berapa lama akhirya tumpah juga isinya di mulut Sinta, si
laki-laki itu akhirnya tertidur pulas lagi, sementara Sinta ke kamar mandi mungkin
membersihkan mulutnya.

Jam 06.30 laki-laki itu bangun, berpakaian dan pamitan ke Sinta yang bermalas-malasan di
tempat tidur dalam keadaan bugil. Setelah si laki-laki itu pergi, tak tahan menahan konak aku
menyerbu masuk ke kamar Sinta dan mengunci pintu, dia kaget sekali melihat aku datang, aku
langsung membuka pakaianku dan menindihnya. Berberapa kali dia berontak, namun akhirnya
penisku bisa kutancapkan ke vaginanya. Puas mengocok vaginanya, aku minta dia nungging
untuk menyodok lubang satunya. Dia menolak, “Sin… kamu jangan munafik, laki-laki itu dua
orang itu kenapa kamu kasih…ah?”, aku keceplosan ngomong.

Dia terheran-heran dan menanyakan dari mana aku tahu hal itu. Akhirnya aku menjelaskan
aktivitas mengintipku di kamar sebelah. Wajah Sinta tampak merah padam antara malu dan
marah, apalagi kujelaskan secara detil pergumulannya yang hot dan binal dengan laki-laki itu.
Akhirnya sekian lama menahan konak, aku mendapat blowjob dari Sinta, bahkan melakukan
anal, dan penutup permainan dengan ngecrot di mulut mahasiswi bispak ini yang juga tak
menolak ketika kuminta menelan cairan spermaku yang tumpah dimulutnya dan selesai sudah
,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

Akhwat Kampus_Aini dan Dina

Mereka mulai memperlakukan Ani seperti Dina. Mulai dengan Afung yang langsung
menyodomi anus gadis berjilbab itu, setelah itu memek Ani kembali dihajar oleh kemaluan milik
Ujang, juga mulut Ani dipaksa mengulum kontolnya Cecep dan setelah berejakulasi menelan
spermanya, terakhir ketika Ani telah kepayahan Asep kembali menyetubuhi Ani.

 Tomi adalah seorang mandor buruh sebuah pabrik Garment di kawasan Bandung. Dia bekerja
sebagai seorang pengawas buruh dibagian produksi. Perangainya cukup sangar sikapnyapun
tegas terhadap para buruh-buruh yang bekerja disitu. Dia tidak pelit dengan kata-kata kasar dan
caci maki terhadap para buruh yang melakukan kesalahan. Bagi para buruh tidak ada pilihan lain
selain bekerja dibawah tekanan mandor Tomi karena memang mencari pekerjaan lain sangatlah
sulit.

Tomi diangkat oleh perusahaan sebagai seorang mandor karena dia memiliki latar belakang
kehidupan yang keras, memang dia adalah seorang preman disebuah kawasan yang rawan
kriminal di Bandung. Dengan harapan kedudukan Tomi sebagai mandor buruh, maka para buruh
akan segan dan takut terhadap perusahaan.

Saat ini ada seorang mahasiswi berjilbab yang kebetulan sedang tugas magang di pabrik itu
namanya Ani, usianya masih 19 tahun dan dia adalah seorang mahasisiwi Fakultas Teknik
Industri pada sebuah perguruan tinggi negeri yang terkenal di kota Bandung. Untuk seorang
gadis yang berjilbab, Ani cukup lincah dalam bekerja. Gadis cantik itu pintar dan rajin dalam
melakukan tugas-tugasnya. Dia memiliki wajah yang imut-imut dan cantik sekali seperti mojang-
mojang Bandung umumnya yang memiliki kulit putih bersih.

Penampilan Ani memang lain dibandingkan dengan gadis-gadis lainnya. Ani lebih senang
menggunakan baju longgar, rok panjang dan jilbab lebar dalam magangnya, sehingga kulitnya
yang tampak semata-mata hanyalah bagian wajah dan tangannya, karena bagian tubuh Ani
lainnya tertutup oleh jilbab longgar dan baju yang longgar pula. Selama bekerja magang di
pabrik itu, Tomi sering memperhatikan Ani. Pabrik yang mempunyai banyak jendela, sehingga
membuat sinar matahari banyak masuk, membuat baju longgar dan jilbab milik Ani tidak dapat
menutupi kemolekan tubuhnya.  Sinar matahari membuat tubuh molek Ani tampak samar dibalik
baju yang ia kenakan. Potongan tubuhnya sintal padat proporsional dengan tinggi tubuhnya yang
sekitar 160-an membuat Tomi tertarik perhatiannya kepada Ani. Apalagi karena baju longgar,
rok panjang longar dan jilbab besar yang ia kenakan selain tak mampu sempurna menutupi
kemolekan tubuhnya justru menambah ke-erotis-an fantasi Tomi. Hal itulah yang membuat para
lelaki dipabrik itu sering mencuri-curi pandang kearah kemolekan tubuh Ani. Begitu pun dengan
Tomi yang selalu haus melihat keindahan dan kemolekan tubuh Ani. Hal ini tidak disadari oleh
Ani karena dia lebih serius untuk menyelesaikan tugas-tugasnya selama magang di pabrik itu.

Sesekali Tomi menyempatkan diri untuk memasang muka ramah dan bercakap-cakap dengan
Ani hanya sekedar menikmati kecantikan wajah gadis berjilbab tersebut. Padahal dengan
karyawati atau buruh wanita yang lainnya boro-boro dia memasang muka ramah yang ada selalu
tampang sangar yang diperlihatkannya dan ucapan-ucapan yang jauh dari keramahan. Singkat
kata Tomi telah jatuh hati berat kepada Ani, mahasiswi cantik itu.

Pada suatu hari menjelang berakhirnya masa kerja magang Ani di pabrik itu, Tomi
memberanikan diri untuk mengutarakan isi hatinya. Sore hari itu ditemuinya Ani disebuah kantin
di pabrik itu, dengan rasa percaya diri dan nekat dia utarakan keinginannya untk menjadi pacar
serta pendamping hidup Ani. Namun, pada akhirnya keadaan berubah dan merupakan titik balik
perasaan Tomi, dari rasa cintanya kepada Ani berubah 180 derajat menjadi benci.

Cinta Tomi ditolak mentah-mentah oleh Ani. Dengan alasan selain perbedaan agama, usia yang
terpaut jauh dimana Tomi saat ini telah berusia 38 tahun sedangkan Ani baru 19 tahun selain itu
juga terdapat beberapa sifat Tomi yang tidak cocok dengan Ani. Seperti diketahui latar belakang
Tomi adalah seorang preman, pemabok dan penjudi. Apalagi Ani juga mengatakan bahwa ia
tidak menyukai pacaran.

Sejak itu hati Tomi menjadi panas, kesal dan marah atas jawaban dari Ani. Didalam hatinya tiba-
tiba muncul rasa dendam terhadap Ani. Dan diapun merencanakan akan berbuat sesuatu terhadap
Ani, “Hmmm… tunggu tanggal mainnya gadis sombong… puih !!!” batinnya.
Seminggu kemudian, pada sebuah Malam disebuah lorong yang gelap tampak sekelompok orang
berjalan mengendap-endap. Mereka ada Tomi berserta beberapa anggota kelompok premannya.
Mereka adalah Asep, Ujang, Cecep dan Afung, tampang-tampang mereka lusuh-lusuh dan
kumal-kumal, tampang khas para preman. Mereka juga menyimpan dendam pada Ani, karena
Ani selalu tidak menghiraukan godaan2 yang selalu dilancarkan preman2 yang mangkal didepan
kantin pabrik itu. “Sstt… sebentar lagi dia lewat kesini”, bisik Tomi kepada kawan-kawannya.
“Ok… kita tunggu aja boss…”, balas Ujang. “Boss… gue udah engga tahan nihh… udah pingin
nyodok tuh cewek sombong…”, bisik Afung. “Sstt… sabar… boy… sabarr… semua pasti dapat
tanda tangan… hehehe…”, balas Tomi. “Pokoknya gue duluan yang kasih pelajaran tuh
cewek…”, lanjut Tomi. Malam itu mereka memang tengah menghadang Ani pada suatu tempat
didekat tempat kost Ani. Tempat penghadangan itu memang sepi dan hanya terdapat beberapa
rumah kosong saja dan sebuah lapangan luas yang mengelilingi rumah kost Ani. Sehingga Tomi
dan kawan-kawannya merasa cocok dengan tempat itu sebagai lokasi penghadangan.

Ani memang lebih memilih untuk tinggal disebuah rumah kost yang sepi, agar supaya dia bisa
lebih serius dalam belajar. Seminggu lamanya sejak Ani tidak lagi magang di pabrik itu, Tomi
menyibukkan diri dengan mencari data-data diri Ani serta mengamati kegiatan-kegiatan Ani
sehari-hari. Termasuk membuntutinya pulang-pergi dari kost-kostannya menuju kekampus
sehingga dia tahu betul kegiatan serta route-route pulang-pergi Ani. Hingga akhirnya dipilihlah
tempat itu sebagai tempat yang ideal dalam menghadang korbannya.

“Nah ini dia…”, ujar Tomi sambil menunjuk kesebuah bayangan yang mendekat kearah mereka
berkumpul. “Tak salah lagi, tepat pukul 7 malam pasti tuh cewek lewat sini” lanjut Tomi sambil
tersenyum melihat sasarannya mendekat. Tapi sejenak Tomi agak bimbang karena bayangan
yang mendekat itu ternyata ada dua sosok. Tetapi setelah diamati secara mendalam ternyata
kedua-duanya adalah sosok bayangan wanita dan diyakini salah satu bayangan itu adalah Ani
dan satu lagi juga sosok wanita. Maka tanpa keraguan lagi dia pun mulai memutuskan untuk
menjalankan operasi penyergapan itu. “Ah itu dia pengantin wanitaku…”, gumam Tomi. “Ok…
jalan kan tugas masing-masing ! awas jangan sampai luput…”, perintah Tomi kepada teman-
temannya. “Ada dua boss, yang satunya gimana nih ?”, tanya Asep. “Ah sikat aja…”, jawab
Tomi. Tanpa dikomando lagi Asep, Cecep dan Afung bergerak menuju kearah gadis berjilbab itu
berjalan. Merekapun menghadang Ani beserta temannya, Gadis berjilbab itu pun nampak
kebingungan mendapati dirinya dihampiri oleh empat lelaki yang bertampang kumal itu. Tomi
hanya mengamati dari jarak sekitar 10 meter, suasanya hening sejenak. Dari tempat Tomi berdiri
sayup-sayup terdengan pembicaraan serius diantara Asep dan Ani.

Beberapa detik kemudian suasana berubah, secepat kilat Ani diringkus oleh Cecep dan Afung
yang memiliki tubuh tegap. Sedangkan temannya diringkus oleh Asep dan Ujang. Ani serta
temannya mencoba melawan dan meronta-ronta akan tetapi beberapa pukulan dilayangkan oleh
Cecep dan Afung dan akhirnya Gadis berjilbab itu pun pingsan. Setelah itu tubuh tak berdaya itu
dibopong oleh Cecep.

Sementara itu teman Ani yang juga meronta ronta dibekap dan dipukuli oleh Ujang hingga
akhirnya tak sadarkan diri pula. Lantas tubuhnya digendong oleh Asep. “Beres semuanya
boss…”, ujar Asep kepada Tomi yang kemudian keluar dari persembunyiannya. “bagus…, ayo
lekas kita bawa ke rumah kosong itu”, perintah Tomi.

Penghadanganpun berjalan dengan sukses, sasaran telah dilumpuhkan dan kini siap “diproses”.
Didalam rumah kosong itu tubuh Ani dan temannya dibaringkan disebuah dipan kayu. Kedua
tangannya Ani diikat kebelakang. Setelah lampu diruangan itu dinyalakan, kelima orang yang
telah dirasuki nafsu itupun menggunam terkagum-kagum melihat kecantikan wajah Ani yang
tengah tergolek pingsan. Dia menggunakan baju lengan panjang longgar, rok hitam  panjang dan
jilbab biru langit yang semakin menampakkan kecantikan wajah gadis berjilbab itu. Ternyata
Tomi mengenali sosok wanita satunya yang juga ikut dilumpuhkan tadi. “Ah gue inget ini kan si
Dina, temannya Ani… wah… wah… sial sekali nasibnya”, ujar Tomi. Dina memang teman
akrab Ani, usianya lebih muda dari Ani yaitu 16 tahun, dan masih duduk dibangku kelas 2 SMU.
Dina adalah keponakan dari pemilik kost dimana Ani tinggal.

Dina juga memiliki wajah yang manis, tubuhnya yang mungil namun padat juga tertutup jilbab,
walaupun tidak selebar milik Ani. Ia masih memakai baju lengan panjang merah ketat, dan
celana panjang jeans yang juga ketat.

“OK jatah gue si Ani… ini pengantin gue, yang satunya boleh elo sikat”, balas Tomi. “Ok
sekarang elu-elu pada nyingkir deh, silahkan elo bikin pesta sendiri sama si Dina itu, dan jangan
ganggu malam pengantin gue, OK!”, ujar Tomi kepada teman-temannya. “Sip boss… kita bikin
pesta sendiri”, ujar Asep. Dan menyingkirlah ke-4 teman-teman Tomi sambil membopong Dina.
“Hmmm… sayangku… mari kita nikmati malam pengantin kita sayang…”, bisik Tomi kepada
Ani yang tengah pingsan.

Dengan senyum kemenangan Tomi memandangi gadis berjilbab itu yang tengah tergeletak di
sebuah dipan kayu. “Akhirnya aku dapatkan kau…” ujarnya dalam hati. Kedua tangannya
bergerak meraba Payudara gadis berjilbab itu dari luar jilbabnya. Mulanya pelan-pelan hingga
lama kelamaan semakin keras, bahkan kini kedua tangannya dengan ganas meremas-remas
payudara Ani yang kalau terlentang terlihat membukit.

Setelah puas meremas-remas payudara gadis berjilbab itu, kini Tomi mengeluarkan pisau
lipatnya yang memang selalu dibawanya kemana-mana sebagai senjata. Tomi menyingkapkan
jilbab lebar Ani lalu mempreteli kancing baju lengan panjang Ani dan membukanya dengan
kasar, hingga akhirnya tinggal bh putihnya saja yang menutupi kedua payudaranya. Namun
akhirnya diputuskannya tali bh itu dan dicampakannya bh itu kelantai sehingga kini terlihatlah
kedua gundukan indah payudara gadis berjilbab itu, yang putih bersih menantang. Setelah itu
serta merta dengan bernafsu dikulumnya dan dijilat-jilatnya kedua payudara itu dengan sesekali
digigit-gigitnya kedua puting payudara itu. Puas dengan bagian payudara kini Tomi mempreteli
kancing rok panjang Ani dan langsung melepasnya, sreett… sekali tarik terlihatlah bagian bawah
dari Ani dengan celana dalamnya yang berwarna putih berenda. Kedua mata Tomi kembali
terbelalak melihat pemandangan indah itu, diusap-usapnya kedua paha putih Ani juga gundukan
dipangkal pahanya itu.

Sedang asyik asyiknya mengusap-usap gundukan kemaluan gadis berjilbab itu, tiba-tiba
terdengar suara kegaduhan dari ruang sebelah. Tomipun menghentikan aktifitasnya lalu bangkit
seraya berlari mendekati arah suara itu. Sesampainya disuatu ruangan asal muasal suara itu,
matanya kembali terbelalak melihat pemandangan erotis yang tengah terjadi diruangan itu.
Jantungnya berdetak keras, birahinya memuncak melihat pemandangan diruangan itu. Diruangan
itulah Tomi melihat Dina yang rupanya telah sadar tengah “dibantai” oleh Asep, Ujang, Afung
dan Cecep.

Tubuh Dina yang dengan posisi merangkak nampak tengah disodomi dari belakang oleh Asep
yang memiliki badan yang jauh lebih besar daripada Dina. Kaos lengan panjang dan celana
jeanss ketat Dina sudah nampak teronggok jauh di sudut ruangan, dan Dina kini tinggal memakai
jilbabnya yang diasampirkan ke pundaknya oleh para pemerkosanya. Memang dengan begitu,
Dina yang sedang diperkosa nampak lebih erotis dan menggairahkan. Mungkin itu juga yang
mengakibatkan Asep sangat keras dan kasarnya mengocok-ngocok kontolnya didalam lobang
anus Dina. Mula-mula Dina meraung-raung minta ampun karena kesakitan, namun teriakan-
teriakannya tidak berlangsung lama karena kemudian kepala Dina lyang masih terbungkus jilbab
langsung dicengkeram oleh Ujang, yang langsung mengarahkan kontolnya ke mulut Dina. Ujang
memposisikan dirinya didepan Dina, lalu menggosok-gosokkan kontolnya ke wajah Dina yang
masih terus menangis dan memaksa Dina untuk menjilati kontolnya, baru kemudian
menyumpalkan kontolnna ke mulut Dina. Setelah berhasil menyumpalkan kontolnya didalam
mulut Dina, kemudian dengan tangan kirinya yang memegang kepala Dina yang masih
terbungkus jilbab, dia paksa kepala Dina untuk bergerak maju mundur.

Ujang dan Asep nampak sangat menikmati keadaan itu, mereka mendesah-desah merasakan
nikmatnya bagin-bagian tubuh Dina itu. Dari mulut Dina nampak air liur Dina mengalir deras
keluar. Tak berapa lama kemudian merekapun berejakulasi. Asep berteriak tertahan sambil
menyemburkan spermanya didalam lubang anus Dina dan sejenak kemudian Ujang
memuntahkan cairan spermanya didalam mulut Dina. Nampak Dina sembari masih menangis
megap-megap dibuatnya di saat harus menelan cairan sperma Ujang yang cukup banyak.

Setelah itu kedua orang tadi menyingkir dan posisinya digantikan oleh Cecep. Cecep ini baru
berusia 23 tahun, namun perawakannya besar dan tinggi, kontolnyapun nampak telah mengacung
membesar dan siap menelan mangsa. Kini Cecep bersiap-siap menyetubuhi Dina yang masih
lemas. direntangkannya tubuh Dina yang kepayahan itu dan langsung ditindihnya.
“Oouugghhh…”, Dina melengking disaat kemaluan Cecep yang besar itu melesak kedalam liang
memeknya. Pemandangan ini sudah cukup untuk membangkitkan birahi Tomi diapun berjalan
meninggalkan ruangan pembantaian Dina itu dan kembali menghampiri Ani pasangannya.

Tiba-tiba gadis berjilbab itu terbangun dan membuka mata. Ani kaget mendapati kedua
tangannya terikat dan keadaan tubuhnya hanya tinggal jilbab yang sudah tersingkap dan celana
dalam. Dan lebih kaget lagi ketika dihadapannya melihat Tomi tertawa terkekeh-kekeh
menyaksikan dirinya yang tak berdaya. “Rasain deh lu, makanya jadi cewek jangan sombong.
Jadi terpaksa elu gua kerjain deh?” Tomi berbicara. “Kepaksa, malam ini elo harus bisa
memuaskan gue, kekasih elo” lanjutnya. gadis berjilbab itu semakin takut karena dia tahu apa
yang akan terjadi pada dirinya, badannya mulai gentar, mukanya memucat. Air matanya mulai
meleleh seiring dengan kata-kata ampunan yang keluar dari bibirnya. “Pak Tomi… ampun pak…
jangan sakiti saya…”, pintanya sambil terisak-isak. Permohonannya ini nampaknya semakin
membuat Tomi terangsang.
Satu persatu dilepaskannya baju dan celananya hingga akhirnya telanjang bulat. Badan Tomi
nampak gemuk dengan perut yang membuncit, beberapa gambar tatto nampak menghiasi
tubuhnya.

Kemaluannya nampak telah menegang keras, ukuran juga besar dengan ujungnya yang telah
basah. Ani yang baru kali ini melihat langsung kontol laki-laki, langsung shock, dan semakin
merintih-rintih ketakutan. Dia pejamkan matanya sambil terus menangis. Dia sadar akan
diperkosa. Tomi yang melihat didepannya ada gadis cantik jelita yang hanya tinggal memakai
jilbab dan menangis merintih-rintih mohon belas kasihan, malah semakin terangsang. Ia
kemudian bergerak mendekati Ani dan meraih kepala Ani yang masih terbungkus jilbab. Belum
sempat berteriak, mulut gadis berjilbab itu tiba-tiba dijejali dengan kontolnya yang sudah
menegang dan membuat gadis berjilbab itu tersedak.

Ani berusaha terus menutup mulutnya namun setelah jempol dan jari telunjuk Tomi menutup
lobang hidung Ani, gadis berjilbab itu pun membuka mulutnya sebagai reaksi karena kekurangan
oksigen. Langsung mendapat kesempatan itu dihujamkannya kontolnya kedalam mulut Ani. Dia
tak bisa berbuat apa-apa karena Tomi memegang kepala gadis berjilbab itu. Rasa mual membuat
Ani hampir muntah dan berusaha melepaskan kemaluan Tomi di mulutnya. Tomi gerak-
gerakkan batang kemluannya di mulut Ani, maju-mundur dan diputar-putar didalam rongga
mulut gadis berjilbab itu. Selama sepuluh menit Tomi menjejali mulut Ani  dengan kontolnya.
Air liur gadis berjilbab itu mengalir deras keluar dari mulutnya.

###############################################

Puas dengan itu kemudian Tomi mengeluarkan kemaluannya dari mulut gadis berjilbab itu. Ani
langsung mencoba berteriak tapi Tomi cepat-cepat membekap mulutnya dan berkata, “Diem lu,
jangan berteriak atau gue bunuh kamu?”, sambil menempelkan pisau lipatnya. Ani terdiam
karena takut ancaman itu. Dan hanya bisa menangis sampai gadis berjilbab itu kelelahan dan
lemas. Setelah sejenak menikmati wajah Ani, kini Tomi menurunkan celana dalam putih Ani dan
melemparkannya ke lantai, gadis berjilbab itu pun hanya bisa pasrah tanpa perlawanan.

“Gile, memek elo bagus banget… waw indah sekali…?” bisik Tomi kepada Ani. Memang gadis
seusia Ani memiliki kemaluan yang indah, masih perawan, bulu-bulunya pun tipis dan halus-
halus tumbuh rapih berjajar disekitar lobang memeknya. Apalagi Ani sangat menjaga
memeknya, demi suaminya kelak. Kedua tangan Tomi kembali meremas-remas payudara gadis
berjilbab itu. Ani menjerit-jerit ketika Tomi memijat-mijat putting susunya. Kembali Ani
berteriak lagi, kembali pula Tomi ancam Ani “Lu bisa diem ngga…!?”. “Sekarang, Lu harus
nyobain kontol gue ini…pasti nikmat.?” Tomi berkata.

“Kita jadikan malam ini sebagai malam pengantin kita, hahaha…”, sambungnya. “Jangaaan
pak… oouuhh… jangaaan, …ampuunn pakk… ? Ani memelas. Tapi Tomi tak peduli dengan
ucapan gadis berjilbab itu. Diapun jongkok didepan Ani, dia angkat paha gadis berjilbab itu dan
melebarkannya. Kepala Tomi menunduk memperhatikan kemaluan Ani yang ditumbuhi bulu-
bulu tipis. Kepalanya bergerak dan mulutnya mulai menjilati kemaluan gadis berjilbab itu.
Mendapatkan perlakuan itu badan Ani langsung menggeliat-geliat suaranya terengah-engah
merasakan kemaluannya kegelian karena dijilati. Hanya suara erangan gadis berjilbab itu saja
yang terdengar, “Ehhmmhh… engghh… ouuhhh… oohh… dst”. Sementara mulut Tomi terus
menjilati kemaluan Ani, tangannya bergerak ke atas dan memijat-mijat payudara Ani serta
mempermainkan putting susu gadis berjilbab itu.. Ani menggeliat antara sakit, geli dan takut.
Tiba-tiba Ani mengangkat pinggulnya dan mendesah lemah. Rupanya Gadis berjilbab itu telah
orgasme. Dari memek gadis berjilbab itu keluar cairan dengan derasnya. Ketika melihat bibir
memek gadis berjilbab itu telah basah, sambil menyeringai penuh kemenangan, cepat-cepat
Tomi mengarahkan kontolnya yang sudah menegang dan mendekatkannya ke bibir memek gadis
berjilbab itu. Sambil memegang pinggul gadis berjilbab itu, Tomi melesakkan kontolnya, dan
berkata penuh penghinaan, “daar lu!! Perek munafik!! Lagaknya saja alim, ternyata doyan
ngentot juga lu!! Nih, gua kasih!!” kata Tomi. Ani yang mendengar hinaan itu pucat pasi. Ia
ingin menolaknya, tapi tidak bisa. Namun belum selesai ia menyesali diri, ia telah merasakan
kontol Tomi memasuki lubang memeknya.

Dan…”Aahhh… sssakittt… oouughhh… a.. ammpunn… pak.. oouhhh…”, Ani merintih tajam.
tubuhnya yang putih bersih menegang kaku menahan rasa sakit dipangkal pahanya. Jilbabnya
yang tersingkap sudah mulai kusut. Walaupun dengan susah payah, akhirnya Tomi berhasil
menanamkan kontolnya masuk amblas ke dalam lubang kemaluan Ani. Ani menjerit kesakitan,
badannya meregang kesakitan. Sejenak Tomi merasakan kenikmatan hangatnya lobang
kemaluan Ani dan merasakan denyut-denyut dinding kemaluan Ani serasa memijat-mijat
kontolnya.

Akhirnya Tomipun mulai mengerakkan kemaluannya maju mundur. Tangannya memegang


pundak gadis berjilbab itu sedang mulutnya menciumi bibir dan pipi Gadis berjilbab itu. Ani
mulai mendesah-desah dan mengerang-erang membuat Tomi semakin bergairah dan
mempercepat gerakan memaju-mundurkan kemaluannya itu. “Oohh… oouufffh… ooouuh…
aahh… dst”, Ani mendesah dan mengerang-ngerang. Tubuh keduanya telah dibanjiri oleh peluh
seolah-olah mereka sedang mandi. Dan tiba-tiba, gadis berjilbab itu merasakan kedatangan
gelombang tadi. Ia ingin menahannya, namun gelombang itu terlalu kuat untuknya, akhirnya,
kembali gadis berjilbab itu memekik tertahan, susah payah menahan agar dirinya tidak berteriak
sambik mengatupkan gigi-giginya kuat-kuat, “heeeehkkkkkhhhh……” ia orgasme untuk kedua
kalinya. Ternyata pemerkosaan yang dialaminya justru membuat gadis berjilbab itu sangat
terangsang.

“dasar perek, lu!! Sambil memunculkan seringai yang penuh kemenangan, Tomi mencabut
kemaluannya dan membalikkan tubuh Ani, dan memposisikan tubuh telanjang gadis berjilbab itu
seperti Anjing. Dari arah belakang kembali Tomi menghujamkan kontolnya yang kini ke dalam
liang dubur gadis berjilbab itu. “Aaakhhh…!!!”, Ani kembali memekik kesakitan, badannya
yang lemas akibat dua kali orgasme kembali mengejang keras menahan sakit yang teramat
sangat ketika liang anusnya dibobol oleh kemaluan Tomi.

Setelah tertanam, Tomi kembali memompa dengan gerakan yang semakin cepat. Kedua tangan
Tomi yang besar semakin kasar meremas-remas susu gadis berjilbab itu. Ani semakin
mengerang-ngerang kesakitan. Tapi Tomi tak peduli. Terus saja Tomi maju mundurkan
pinggulnya dengan cepat. Sadar dirinya akan mencapai klimaks, Tomi mencabut kontolnya dari
lobang dubur Ani. Setelah itu dihempaskannya tubuh Ani hingga kembali terlentang. Kembali
Tomi menancapkan kontolnya didalam liang memek Ani yang telah dibasahi oleh cairan
kewanitaannya yang bercampur darah perawannya.

Bless…kontol Tomi menghujam masuk tanpa kesulitan, kembali digenjotnya tubuh Ani dengan
cepat dan kasar, sampai-sampai dada Tomi menghantam-hantam wajah Ani yang meringis-ringis
kesakitan, namun kembali mendesah dan mengerang-erang. Kini Tomi menggoyang tubuh Ani
dengan hebat hingga tubuh Ani terbanting-banting disodok oleh Tomi. Sampai akhirnya saat
yang ditunggu-tunggu oleh Tomi, kini tubuh Tomi mengejang, wajahnya menyeringai
menengadah keatas, otot-ototnya mengeras dan akhirnya dia menyemprotkan spermanya di
memek gadis berjilbab itu, Croottt… crrottt… crrottt… jumlahnya banyak sekali.

“Oogghhh… ahh…”, Tomi memekik puas sambil terus menyemprotkan spermanya memenuhi
rongga memek Ani sambil kedua tangannya mencengkram erat pinggul Ani. Gadis berjilbab itu
pun tiba-tiba kembali mendesah panjang… “oooooooouuuuuuuuuhhgggggggg…”, sambil
menerima tumpahan sperma Tomi yang melimpah ruah itu hingga meluber keluar dari sisi-sisi
rongga kemaluannya badannyapun mengejang dan bergetar, sepertinya diapun mengalami
orgasmenya yang ketiga.

Beberapa detik kemudian setelah sama-sama mengalami orgasme tubuh kedua insan itupun
melemas, tubuh Tomi jatuh menindih tubuh Ani. Kini hanya suara nafas kedua insan itu yang
saling memburu menghiasi akhir dari pergumulan itu. Setelah diam selama 15 menit, Tomi
kemudian bangkit dari atas tubuh Ani serta melepaskan kontolnya, “Ooohhh…”, Ani mendesah
panjang disaat Tomi mencabut kontolnya yang beberapa menit lamanya mengisi rongga
kemaluannya. “Sayang… gimana rasanya ? enak kan ?”, tanya Tomi kepada Ani.

Gadis berjilbab itu pun pucat pasi lalu diam seribu bahasa dan memalingkan wajahnya dari
pandangan Tomi. “Ayo sini sayang ada lagi tugas buat kamu…”, ujar Tomi serta meraih dan
mengangkat kepala gadis berjilbab itu untuk kemudian memaksa Ani menjilati kontol Tomi yang
masih basah oleh sperma dan darah. Anehnya Ani hanya pasrah dan menuruti saja perintah Tomi
tadi secara perlahan-lahan diraihnya kontol Tomi yang kembali menegang itu dan kemudian
dijilat-jilat serta dikulumnya kontol Tomi bak makan permen sampai bersih.

Setelah selesai dan merasa puas, Tomi bangkit dan membiarkan tubuh Ani yang telanjang itu
terjatuh lemas. Tomi bergerak mendekati Ani yang masih lemah dan membisikkan kata-kata
mesra di telinganya ” Kamu hebat sayang… aku cinta sama kamu”. Karena dilihat Ani terkulai
lemas dan sepertinya tertidur karena kecapaian, maka Tomi memutuskan untuk
meninggalkannya dulu. Tomi ingin melihat kegiatan di ruangan lain dimana tadi terjadi
pembantaian itu.

Sesampainya dirungan yang ditujunya mata Tomi terbelalak ketika melihat pemandangan yang
ada diruangan itu. Teman-temannya nampak tidur tiduran sambil melepas lelah setelah
membantai Dina yang tubuh telanjang Dina nampak tergeletak dengan posisi telentang dilantai,
kedua kakinya mengangkang lebar dengan lutut tertekuk. Jilbab yang masih ia kenakan nampak
kusut. Setelah diamati dari dekat oleh Tomi ternyata kondisi Dina sangat mengenaskan. Dia telah
diperkosa secara brutal oleh teman-temannya, mulutnya dipenuhi oleh cairan sperma yang
mengental sampai meluber disekitar mulut dan pipinya, sampai membasahi jilbabnya. Rupanya
oleh teman-teman Tomi, Dina dipaksa melakukan oral sex dan mereka telah menumpahkan
spermanya didalam mulut Dina.

Matanya nampak sayu serta nafasnya terdengar pelan terengah-engah. Tomi menurunkan tatapan
matanya keseputar payudara gadis berjilbab itu yang berukuran tidak begitu besar, disitu terdapat
banyak bekas-bekas gigitan dan salah satu putingnya nampak berdarah, disitu juga terdapat
tumpahan sperma yang telah mengering. Dan akhirnya kutatap kemaluan gadis berjilbab itu,
kondisinya rusak parah, kemaluannya sudah memerah dan membengkak, banyak ceceran darah
dan sperma didaerah itu. Tomi menggeleng-gelangkan kepalanya melihat kondisi Dina.

Tiba-tiba Asep bangkit dia menyalakan rokoknya dan kemudian menyelipkannya dibibir
kemaluan Dina. Tomi dan Aseppun tertawa terbahak-bahak, “Kasihan dia sudah bekerja keras
memuasin kita-kita orang ini, aku kasih dia rokoklah”, ujar Asep. “tapi emang memeknya cewek
berjilbab itu lebih enak ya bang.” Katanya pada Tomi. “lebih sempit. Apalagi kalo ngentotnya
gak usah buka jilbabnya. Wuih!! Tambah merangsang!! Tapi kok mereka tetep suka, ya? Tadi
aja si Dina ini ngecrot berkali-kali, bang!!” ujarnya sambil terkekeh. Tomi ikut tertawa.

“Eh sebentar gwe mau kencing dulu”, ujar Asep berjalan meninggalkan ruangan pembantaian
Dina sambil mengakhiri tawanya.

Diruangan itu pula Tomi bergerak kearah tumpukan pakaian Dina yang berserakan dilantai, dia
rupanya tertarik dengan tas punggung Dina. Dengan rasa penasaran dia buka-buka isi tas Dina,
membaca buku hariannya, membuka-buka dompet Dina, memeriksa ponsel milik Dina, kurang
lebih 5 menit lamanya dia buka-buka itu semua. Sedang asyik-asyiknya dia membuka-buka buku
Dina, tiba-tiba dia dikejutkan dengan teriakan diruangan samping. Serta merta dia berlari menuju
kearah situ.

Kembali mata Tomi terbelalak serta menggeleng-gelengkan kepalanya tatkala melihat Asep
ternyata tengah asyik menyetubuhi Ani. “Sss… sorry.. b.. boss.. gwe kagak tahan… lihat cewek
cantik ini..apalagi dia tadi masih pakek jilbab, trus tidur nungging…. Tambah terangsang,
bosss….”, ujar Asep sambil terus memompakan kemaluannya didalam kemaluan Ani.
“Oouuhhh… aaahhh… jj… jangann… kasar… kassarr… oohh… oohh..pelann….pelannn…
aahhh…ahhh….”, Ani kembali merintih-rintih sambil tubuhnya terhempas-hempas sebagai
akibat sodokan-sodokan keras Asep.

“D.. diem… luh… rasain… aja.. kontol gue… inii… aakkhh… akhh.. fuck ! ohh… fuck…!!”,
ujar Asep sambil terus menggenjot tubuh Ani. “Akhh… oouhhh… oh… a.. ampunn… oohh…”,
Ani merintih-rintih dengan tubuh yang terhempas-hempas wajahnya meringis menahan rasa
ngilu diselangkangannya. Sepuluh menit lamanya tubuh Ani disetubuhi oleh Asep, hingga
akhirnya Asep memuntahkan spermanya di lubang kemaluan Ani. Anipun mengejang lagi, dan
cairan kewanitaannya kembali meluber keluar. Tomi pun segera menghina gadis berjilbab itu
lagi.

Asep terlihat sangat puas sekali dan diapun kemudian menjatuhkan dirinya disisi Ani yang
kembali tubuhnya melemas. Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam saat mereka tersadar
akan waktu yang semakin mepet, tidak terasa sekian lamanya mereka mengerjai kedua gadis
berjilbab itu serasa waktu berlalu cepat.

Tiba-tiba birahi Tomi bangkit kembali, didekatinya kembali tubuh Ani yang tertidur kerena
kecapaian itu dan dibangunkannya Ani dari tidurnya. “Hoeii bangunnn…”, bentak Tomi kepada
Ani. “Oohhh…”, Gadis berjilbab itu pun terbangun. “Sayangku… layanin aku lagi ya…”, bisik
Tomi dengan tersenyum. “Pedangku udah bangkit lagi nih…gara-gara kamu sih yang
menggairahkan sekali…”, lanjutnya. Mimik wajah Gadis berjilbab itu pun berubah menjadi
cemas, matanya mulai berkaca-kaca.

“Pak.. Tomi… Ani udah engga kuat pak… rasanya sakittt… sekali… jangann… pak.. tolong…”,
ujar Ani dengan suara yang lirih. “Peduli setan. Kamu juga munafik. Apanya yang sakit semua.
Kamu juga menikmati, khan??”, balas Tomi seraya memposisikan dirinya diatas tubuh Ani.
“ooohhh… oohh…”, Ani mendesah panjang tatkala Tomi menanamkan kembali kemaluannya
didalam lobang kemaluannya. Kembali tubuh Ani digenjot, disetubuhi secara kasar oleh Tomi.

Ani hanya bisa pasrah, air matanya berlinangan, tubuhnya lemah hanya mengikuti irama gerakan
dari Tomi yang tengah menyodok-nyodokkan kemaluannya. Dan setelah beberapa menit
lamanya Tomi kembali berejakulasi dilobang kemaluan Ani cairan hangatnya menyembur
membasahi rahim Ani, bertemu dengan cairan kewanitaan Ani yang juga turut keluar. Ternyata
memang tubuh Ani tidak mampu berbohong. Rasa puas nampak di raut wajah Tomi, “Hahaha…
akhirnya aku berhasil mendapatkanmu gadis cantik”. “Gue mau tanya ke elu yang terakhir
kalinya, mau engga elu jadi istri gue hah ?”

Ani hanya diam membisu sambil menangis. “Kalo elu engga mau, gue suruh temen-temen gue
perkosa elu sampai mati !”, ancam Tomi. “Inget memek elu udah gue siram ama peju gue, dan
sebentar lagi elu hamil”, ujar Tomi. Kurang lebih setengah jam lamanya Tomi “merayu” Ani,
kadang terdengar bentakan-bentakan, kadang Tomi menampar wajah Ani, kadang dengan kata-
kata halus, yang jelas Tomi terus meneror hati Ani.

Rupanya bujuk rayu dari Tomi tak membuahkan hasil sementara waktu sudah menunjukkan
pukul 2 dinihari. Akhirnya Tomi mempersilahkan teman-temannya untuk “mencicipi” tubuh Ani.
“Rasain tuh kontol-kontolnya temen-temen gue biar mampus elu, cewek sombong !”, ujar Tomi
dengan mencibir. Tanpa membuang waktu lagi keempat teman Tomi mulai menjamah tubuh
Ani.

Mereka mulai memperlakukan Ani seperti Dina. Mulai dengan Afung yang langsung
menyodomi anus gadis berjilbab itu, setelah itu memek Ani kembali dihajar oleh kemaluan milik
Ujang, juga mulut Ani dipaksa mengulum kontolnya Cecep dan setelah berejakulasi menelan
spermanya, terakhir ketika Ani telah kepayahan Asep kembali menyetubuhi Ani. Kini keadaan
Ani tidak jauh beda dengan Dina, seluruh wajah badan dan kemaluannya yang telah
membengkak penuh dengan cairan sperma. Cairan sperma itu bercampur dengan cairan
kewanitaan Ani yang keluar dengan deras, dan kotoran ani yang ikut keluar saat mereka
menyodomi anusnya. Semuanya meluner keluar, sampai membasahi dipan kayu dimana gadis
berjilbab itu diperkosa secara brutal.
Kini waktu telah menunjukkan pukul 4 pagi, seluruh pemerkosa tadi telah berpakaian lengkap
dan rapi. Sebelum mereka pergi, mereka menggotong tubuh Ani untuk disatukan dengan Dina.
Kedua tubuh yang tak berdaya itu kini tergolek lemah, keduanya diposisikan terlentang sejajar
dengan kondisi tubuh mereka yang telanjang bulat, hanya tinggal menggunakan jilbab yang
sudah kusut dan penuh noda sperma. Sebelum pergi Tomi mengecup kening Ani dan Asep
kembali menyelipkan sebatang rokok yang menyala dikemaluan Ani juga Dina. Dengan diiringi
tawa serta canda kelima pemerkosa itu pergi meninggalkan rumah kosong tempat dimana tubuh
Ani dan Dina tergolek pingsan..

Birahi Buta Sang Ustadzah 1

“Sampai di sini saja perjumpaan kita, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” suara


merdu ummahat berkacamata yang tetap tampak manis di umurnya yang kian senja itu
mengakhiri sebuah program kuliah subuh di salah satu stasiun radio swasta. Sembari tersenyum
kepada operator sound di hadapannya, ia pun melepas headset yang membelit bagian atas dari
jilbab kuningnya. Sembari membetulkan sedikit posisi kacamata minusnya, wanita setengah baya
itu pun menggapit tas tangan kulit dengan tangan kanannya dan kemudian berjalan menuju pintu
keluar. Sebelum keluar, sang operator sempat memajukan tangannya untuk mengajak ustadzah
itu bersalaman. Ustadzah itu pun menyambut tangan sang operator tanpa menyentuhnya
sedikitpun sambil tetap menundukkan pandangan dan bergumam, “Assalamualaikum.” Tapi hal
itu sudah cukup membuat sang operator menelan ludahnya karena terpana akan keindahan
gundukan kembar di dada sang ustadzah yang sekilas tercetak di jubahnya ketika ia menunduk.

Baru saja keluar ruang siaran, sang ustadzah berkacamata itu langsung disambut oleh seorang
laki-laki berjanggut tipis yang berumur sekitar 27 tahun. Tubuhnya begitu kekar dan tegap
dibalut baju koko hijau muda, peci putih, dan celana panjang hitam dari bahan kain. Hidungnya
yang mancung dan tulang pipinya yang kokoh memperkuat aura keshalihan dan kelelakiannya
yang pasti menarik setiap wanita yang melihatnya termasuk ummahat berjilbab panjang di
hadapannya yang tengah berdesir sedikit darahnya berhadapan dengan ikhwan yang jelas lebih
tampan, lebih tegap, dan lebih muda dari suminya kini. “Assalamualaikum, Teh,” ujar lelaki itu
membuka suara.

“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, apa kabar Akh Ahmad?” Jawab sang ustadzah
yang baru selesai siaran itu.

“Alhamdulillah ana bi khoir, Teh. Saya baik-baik saja. Bagaimana tadi siarannya?” Lelaki
tampan yang ternyata bernama Ahmad itu sengaja atau tidak kian mendekat ke tubuh mungil
lawan bicaranya yang tampak begitu alim dan lembut itu.

Jantung sang ustadzah itu berdetak lebih kencang dari keadaan normal menyadari gerakan
ikhwan tersebut, wajahnya kian tertunduk, walau tanpa bisa dipungkiri, ketampanan dan aura
kejantanan yang terpampang jelas di wajah Ahmad membuatnya tak bisa menahan diri untuk
mencuri-curi pandang pada Ahmad, “Aa…aall…alhamdulillah, lancar-lancar saja Akhi.” Ia pun
sampai tergagap-gagap karenanya.
“Krriiiing….krriiiing….,” sebuah bunyi dari handphone di kantong sang ustadzah pun
mengakhiri situasi yang hampir tak terkendali itu, sampai-sampai sang ustadzah itu pun
menghela nafas panjang saking leganya. Ia merasa Allah telah menyelamatkannya dari hawa
nafsu yang hampir tak bisa ditahannya itu. Ia bergeser dan sedikit berpaling ke sebelah
kanan,”sebentar ya, Akh.”

“Iya, Tafadhol. Silahkan, Teh.”

“Assalamualaikum,” ujar sang ustadzah memberi salam pada lewan bicaranya di telepon yang
telah amat dikenalnya.

“Waalaikumsalam, Nih. Habis siaran ya? Kapan kamu kembali ke Bandung?” Tanya seorang
lelaki dengan logat sunda-nya yang khas di ujung telepon.

“Hmm…kayaknya baru malam ini, A. Nanti mau ke rumah Ummu Abdillah dulu di Radio
Dalam. Memang ada apa A? Kapan pulang?” Jawab ustadzah tersebut dengan suara yang sedikit
dilembut-lembutkan karena lawan bicaranya itu adalah sang suami tercinta. Namun itu sudah
cukup membuat Ahmad yang tanpa ia sadari terus memandangi wajah putih sendunya yang beitu
mempesona sedikit bergetar imannya. Sebagai lelaki, Ahmad pun tak bisa bohong bahwa
ummahat di hadapannya masih terlihat menarik walau telah memiliki beberapa orang anak.

“Nggak ada apa-apa kok, tapi kayaknya Aa sama Rini bakal lebih lama di sini. Masih banyak
yang harus diselesaikan. Jadi tolong jaga anak-anak ya, nggak apa-apa kan, Nih?” Lelaki yang
dipanggil Aa tadi menjelaskan.

Walau hatinya sedikit perih, namun ia memaksakan diri untuk menjawab pertanyaan itu
sekenanya, “Owh, nggak apa-apa kok, A. Ninih nggak apa-apa di sini. Biar Ninih yang urus
anak-anak. Ya sudah, A, lagi buru buru nih, assalamualaikum.” Ustadzah yang ternyata bernama
Ninih itu langsung menutup telepon tanpa basa-basi lagi.

Ya, ustadzah yang baru saja siaran itu adalah Teh Ninih, istri pertama Aa Gym yang alim dan
begitu cantik. Saat ini, Aa Gym tengah berada di Surabaya bersama Rini, istri kedua-nya, guna
suatu urusan dakwah. Dan baru saja suaminya itu menelepon karena urusan itu menuntut
tambahan waktu. Walau ia sudah berusaha untuk ikhlas, namun Teh Ninih hanyalah seorang
wanita biasa yang punya rasa cemburu dan butuh perhatian. Sudah seminggu Aa Gym berada di
Surabaya bersama Rini, madunya itu. Dan selama seminggu pula Teh Ninih terlarut dalam
kesendirian. Tak hanya fisiknya yang lelah, batinnya pun lelah, rindu belaian mesra sang suami
yang dicintainya.

Seperti tahu benar hal itu, Ahmad kembali menggeserkan tubuhnya mendekati Teh Ninih.
Dengan penuh aura kelelakian, ia pun membisiki telinga kiri Teh NInih,”Teteh keliatan capek,
istirahat saja dulu di ruangan saya, sebentar saja.”

Bagaikan tersihir, Teh Ninih pun menganggukkan kepalanya dengan anggun. Ummahat yang
begitu indah dipandang inipun menggoyang-goyangkan bongkahan pantatnya yang tercetak jelas
di bagian belakang jubah putihnya mengikuti Ahmad. Goyangan yang sedikit erotis dan
menggairahkan itu sudah pasti mampu menggugah iman setiap lelaki yang memandangnya.
Walau telah beberapa kali melahirkan anak lewat vaginanya yang mungil nan imut, tubuh Teh
Ninih tetap terlihat seksi dan menggairahkan. Ia adalah sosok perempuan sunda yang mampu
menjaga bentuk tubuhnya walau telah termakan usia. Walau telah berusaha menutup diri dengan
jubah dan jilbab panjang berwarna kuning, tonjolan payudara Teh Ninih yang alim dan shalihah
ini dapat kita lihat jelas, begitu montok dan berisi, mengundang setiap insan untuk meremas-
remasnya. Apalagi pagi ini ia memakai jubah yang lebih ketat dari biasanya.

Begitu melihat Ahmad memasuki sebuah ruangan, Teh Ninih pun berhenti sejenak. Sesaat ia
membaca papan nama di depan ruangan tersebut, “Ahmad Zaidi, Kepala Divisi Da’wah dan
Syari’at Islam.” Dengan perasaan tenang, karena yakin Ahmad yang baru dikenalnya di stasiun
radio ini sejak sebulan yang lalu itu adalah seorang ikhwan yang baik-baik, Teh Ninih pun
memasuki ruangan yang hanya berukuran 6 x 4 meter itu. Tanpa disuruh, Teh Ninih langsung
duduk di sofa yang berada di dekat pintu. Seperti kata Ahmad tadi, Teh Ninih memang sedang
lelah. Tak hanya lelah fisik, tapi juga lelah batinnya.

“Mau minum apa, Teh?” tanya Ahmad berbasa-basi sambil berjalan menuju dispenser. “Teh
manis, mau?”

“Boleh, Akh. Gulanya sedikit saja ya,” ujar Teh Ninih sambil meletakkan tas tangannya di atas
meja kaca di depannya. Ia tak merasa canggung sedikitpun. Walaupun ia hanya berdua saja
dengan seorang lelaki yang notabene bukan mahromnya di ruangan itu, namun pintu ruangan itu
dibiarkan terbuka oleh Ahmad. Ia pun semakin yakin bahwa Ahmad tak akan berbuat macam-
macam pada dirinya.

Tanpa sepengetahuan Teh NInih, Ahmad mencampurkan sejenis bubuk halus berwarna putih ke
dalam minuman Teh Ninih. Ia pun mengaduk-aduknya sambil memastikan bahwa Teh Ninih
yang cantik itu tidak memperhatikan apa yang baru saja ia lakukan. Agar tamu istimewanya ini
tak menunggu terlalu lama, Ahmad langsung saja membawakan cangkir putih berisikan teh
manis itu dan meletakkannya di depan ummahat berparas manis nan berbodi indah itu. “Silahkan
teh manisnya, Teh.”

“Iya, syukron ya Akh. Terima Kasih,” ujar Teh Ninih. Ia langsung meraih pegangan cangkir
yang dihidangkan di hadapannya itu sembari menyeruput perlahan teh manis yang begitu nikmat
itu dengan bibirnya yang mungil dan berwarna merah muda. Sedikit demi sedikit, Teh Ninih
menghabiskan teh manis yang terasa begitu lezat di permukaan lidahnya itu. Ia rasakan tubuhnya
terasa panas seketika dan sedikit bergetar, namun ia membiarkannya. Mungkin hanya sedikit
efek hangat dari teh manis ini, pikir Teh Ninih.

“Ada apa, Teh. Kok kelihatannya gelisah begitu?” Teh Ninih mulai menyadari kalau ini bukan
sekedar efek hangat dari teh manis biasa. Ahmad pasti telah mencampurkan sesuatu ke dalam
minumannya tadi. Kurang ajar sekali ikhwan ini, pikirnya. Tubuhnya mulai berkeringat. Sekujur
tubuhnya terasa lemas dan kelopak matanya begitu berat. Dengan mata setengah menutup, ia
menggaruk-garuk kecil pundak kirinya dengan tangan kanannya yang lentik karena terasa sedikit
gatal. Untuk mengurangi rasa kantuk yang menerpa, Teh Ninih mencoba mengalihkan
pandangan pada kaligrafi surat Yaasin pada dinding di belakangnya., namun usahanya itu tidak
membuahkan hasil.

“Tidak, tidak apa-apa kok Akh Ahmad,” Ahmad yang jauh lebih muda itu kini menyadari bahwa
istri pertama Kyai Haji Abdullah Gymnastiar itu telah masuk dalam jebakannya dan sebentar lai
akan memasrahkan tubuh molek nan sintal miliknya untuk digagahi Ahmad dengan penuh
keikhlasan. Ahmad pun semakin tak sabar dan segera mengambil tempat di sebelah kiri Teh
Ninih. Ia genggam tangan kiri Teh Ninih yang halus dengan tangan kanannya yang cukup kasar.
Sementara itu tangan kirinya mulai melakukan serangan fajar dengan mengelus-elus pipi sebelah
kanan Teh Ninih yang lembut bukan main dan penuh aroma kewanitaan. Ia hadapkan wajah
ummahat manis berjilbab yang tengah berjuang melawan sensasi aneh yang disebabkan teh
manis ajaib buatan Ahmad tadi agar menghadap ke wajahnya. Ditatapnya mata yang tengah
berpendar di balik kaca mata itu dengan penuh kemesraan.

“Akh…..Ahmad. Jangan ya, kita kan bukan mahrom. Lagipula nanti kalau ketahuan orang
bagaimana?” Ahmad tak menganggap itu sebagai penolakan. Teh Ninih tak sedikitpun menarik
telapak tangan kirinya yang tengah diremas-remas penuh nafsu oleh tangan kanan Ahmad,
lagipula Teh Ninih mengucapkannya dengan sedikit berbisik, penuh kelembutan dan keteduhan
bagai berbicara pada suaminya sendiri. Dan ketika Ahmad menarik lembut kepalanya agar wajah
mereka mendekat, Teh Ninih pun tak berpaling atau berontak sedikitpun. Ia mulai menikmati
sensasi seksual yang begitu nikmat menggerayangi tubuhnya. Apalagi sudah sekitar 2 minggu
suaminya tak sekali pun menyentuhnya. Sebelum Aa berangkat ke Surabaya, ia sedang dalam
keadaan haidh sehingga tak bisa digauli. Baru kemarin darah haidhnya berhenti. Dengan kata
lain, saat ini Teh Ninih sedang dalam masa subur sehingga membuat birahinya begitu meledak-
ledak.

“Tenang saja, Teh. Ahmad nggak akan nyakitin Teteh. Ahmad cuma mau ngasih Teteh
kenikmatan yang nggak akan pernah Teteh lupa. Lagipula, nggak akan ada yang melihat kita di
sini.” Kini bibir dua insan yang bukan mahrom ini hanya berjarak sekitar 2 cm. Teh Ninih pun
telah memejamkan matanya sebagai tanda kepasrahan dirinya akan apa yang bakal terjadi setelah
ini. Walaupun telah beristri dan mempunyai 2 orang anak, Ahmad tak pernah menghilangkan
sosok ummahat bertubuh bahenol asal sunda yang sering mengisi imajinasi liarnya ketika
bermasturbasi. Kini, langsung di hadapannya, telah terdiam seorang ummahat berjilbab kuning
dan berjubah putih idamannya itu sedangkan ia sendiri memakai baju koko hijau muda lengkap
dengan peci putihnya sebagai tanda kealiman dan keshalihan keduanya. Namun kini sang akhwat
dengan nakalnya telah memejamkan mata dan sang ikhwan pun tengah asyik meremas-remsa
tangan sang akhwat dengan syahwat membara. Tanpa terasa keduanya telah berada di tepi jurang
perzinahan.

Melihat Teh Ninih yang tak memberikan sedikitpun perlawanan dan malah telah begitu pasrah
pada keperkasaan dirinya, Ahmad pu mengambil inisiatif.Sedikit demi sedikit ia menarik wajah
Teh Ninih ke wajahnya dan…hmmm…hhmmmch…..hhmmmmpff…bibir seksi nan indah
seorang Teh Ninih telah bersarang di bibirAhmad. Ahmad pun tak tinggal diam, dibelahnya
sedikit demi sedikitbibir ummahat yang juga merupakan ustadzah terkenal itu dengan
mendorong lidahnya yang kasar dan hangat. Tanpa kesulitan berarti, di mana Teh Ninih pun
telah begitu terangsang akibat gabungan efek dari obat yang diberikan Ahmad dan gairahnya
sendiri yang sedang berada di puncak, lidah Ahmda telah mampu menembus rongga mulut Teh
Ninih yang alim itu. Tak lama kemudian, kedua anak Adam yang terkenal dengan keshalihannya
itu telah saling hisap bibir pasangannya diiringi pergulatan lidah di dalamnya yang begitu seru
dan basah. Entah karena reflek atau memang disengaja, tangan kanan Teh Ninih ganti merangkul
Ahmad hingga keduanya larut dalam pusaran syahwat yang begitu menggairahkan.

Sebagai catatan, selama berbagai aktivitas itu terjadi, pintu ruangan Ahmad, tempat semua
kemesuman itu terjadi, sama sekali tidak tertutup. Pintu itu terbuka lebar, sehingga orang-orang
yang berjalan dekat ruangan itu pasti bisa melihat segalanya. Karena itu, Ahmad berusaha
membuat suara sesedikit mungkin. Namun untungnya, ruangan Ahmad berada di ujung sebelah
barat kantor radio tersebut, sedikit terpisah dengan ruangan kantor yang lain. Sehingga suara dari
ruangan Ahmad tak akan bisa terdengar dari luar atau bahkan tertelan hiruk-pikuk kesibukan
kantor di pagi hari. Ditambah lagi ruangan Ahmad juga dilapisi dengan peredam suara karena ia
sering mengedit siaran radio di ruangan tersebut.

‘Masya Allah….”, guman Ahmad. Dalam hati Ahmad sangat kagum dengan ulah ustazah ini.
Tanpa disangka sama sekali oleh Ahmad, Teh Ninih bergerak begitu aktif. Tampaknya Teh
Ninih telah begitu kuat menahan gairah seksualnya selama ini sehingga terasa bagaikan bom
waktu yang menggemparkan ketika akan dilepaskan. Bibir dan lidah ustadzah kondang yang
pernah dinobatkan sebagai ibu teladan itu silih berganti memagut, memberi kenikmatan erotik
pada bibir lelaki beristri di hadapannya. Tampak keduanya tak lagi mengingat status dan
kedudukan diri mereka masing-masing. Keduanya telah hanyut dalam gelombang syahwat yang
menenggelamkan hasrat mereka berdua dalam lautan birahi kebinalan. Ahmad yang merasa lebih
berpengalaman membalas dengan tenang pagutan ummahat berjubah putih itu, dijulurkannya
lidahnya bagai anjing kelaparan agar segera dihisap oleh ummahat di hadapannya
itu,”hmmmm…hmmmm….hhmmppph….hhhmmmmpppf.”

“Duuh, Teteh. Kontol Ahmad jadi tegang neh. Tetek Teteh merangsang banget, bikin horny.
Boleh gak Ahmad pegang, sedikit saja?” Ahmad mulai menunjukkan niatnya secara terang-
terangan. Ia mencoba memancing libido yang selalu tersimpan rapat-rapat dalam diri seorang ibu
shalihah yang tengah memagut liar bibirnya itu.

Entah setan apa yang tengah beraksi, atau memang dorongan seksual ini begitu kuat. Nafas Teh
Ninih mulai tak beraturan dan jantungnya pun berdetak lebih kencang dari kecepatan normal. asa
kantuk yang tadi menderanya, berubah menjadi keinginan untuk memasrahkan diri secara total
kepada lelaki muda yang begitu tampan di depannya. Dengan lembut dan sedikit bergetar, ia
ucapkan dengan pasti, “Iya Mas….Pegang aja tetek Ninih, lakukan sesuka kamu…”

Mendengar kata-kata penuh penyerahan diri seutuhnya dari seorang ustadzah yang mulai
mendesah-desah tak karuan itu, tubuh Ahmad pun semakin panas. Tangan kirinya mulai
menyelusup masuk ke balik jilbab panjang Teh Ninih. Ia meraba-raba peyudara suci nan terawat
milik ustadzah cantik itu secara perlahan. Ia ingin membuat Teh Ninih merasakan sendiri getaran
syahwat yang menggebu-gebu setelah bagian sensitifnya ini jatuh ke tangan Ahmad. Benarlah,
sesaat kemudian, desahan-desahan pelan diselingi erangan binal meluncur di antara bibir sang
isteri kyai itu, “ssshh…akkhhhh….maasssshhh…mas Ahmad, enak masssshh….!!”
“Iya Tetehku sayang, Ahmad tahu. Pintunya Ahmad tutup dulu ya, biar kita tambah bebas.” Teh
Ninih tak langsung menjawab, bibirnya kelu dan hanya kembali memagut bibir Ahmad untuk
meredakan gairahnya. Namun sebuah cubitan nakal di tangan kanan Ahmad-lah yang kemudian
menjadi lampu hijau bagi Ahmad. Ia pun melepaskan kulumannya pada bibir Teh Ninih yang
nampak sedikit kecewa karenanya.

Dengan jantannya, Ahmad pun merebahnkan ustadzah yang sudah horny itu di atas sofa. Ukuran
sofa yang kecil memaksa kaki Teh Ninih tidak bisa selonjor dengan penuh namun sedikit naik
karena tertopang pegangan sofa di seberang. Dalam keadaan tubuh ‘siap entot’ itu, Ahmad
meninggalkan ummahat seksi itu sesaat. Ia berjalan ke arah pintu ruangan dan menutup serta
menguncinya. “Cklik…” bunyi itu seraya menandakan telah terkuncinya iman kedua insan yang
sebenarnya telah mempunyai pasangan masing-masing ini, dan tinggallah nafsu syaithan yang
menjadi hakim di ruangan itu.

Ahmad pun kembali mendatangi sang bidadari surga pujaan hatinya yang telah terkapar menahan
birahi di atas sofa. Subhanallah, gumamnya dalam hati. Tanpa dinyana pula, bidadari berjilbab
itu mendesah dengan binalnya, “Mas Ahmad, sini dong!” Teh Ninih yang manis itu telah
membuka jalan bagi imaji liar Ahmad dengan desahan lembut menggemaskan yang pasti
merangsang birahi setiap pria yang mendengarnya. Ahmad langsung melepas kancing baju
kokonya dari atas ke bawah satu per satu. Sesaat kemudian, tubuh tegap laksana anggota TNI itu
telah terpampang jelas di depan Teh Ninih yang tengah membuncah nafsunya hingga memaksa
ummahat itu menelan dalam-dalam ludahnya, “Mas Ahmad…tubuh kamu seksi banget. Ninih
jadi nggak tahan…”

Komentar binal seorang ustadzah terkenal itu membuat syahwat Ahmad menggelegak. Ia
langsung berlutut di sisi kaki Teh Ninih yang penuh kepasrahan hati menelantangkan tubuh
sintal khas sundanya si atas sofa. Ahmad lepaskan sepatu hitam yang melekat di kaki isteri kyai
besar itu, dan mengendus-endus bau kaki yang menyengat nan menggairahkan di kaos kaki Teh
NInih. Ia tanggalkan kaos kaki berwarna krem itu dan langsung mencaplok jemari kaki Teh
NInih yang lentik dengan mulutnya.

Teh Ninih sampai terkaget-kaget dibuatnya. Tak pernah sekalipun suaminya yang shalih itu
memanjakan birahinya seperti ini. Aa Gym hanya menganggap bersenggama adalah cukup
dengan memasukkan kontol ke dalam memek wanita, dan setelah itu selesai. Mungkin ulama
besar seperti beliau menganggap foreplay atau pemanasan seksual seperti ini hanya membuang-
buang waktu belaka. Padahal Teh NInih dan Teh Rini pun hanya wanita biasa yang butuh
sensasi-sensasi baru dalam kehidupan seksual mereka. Uups, Teh Rini? ya, Teh Rini pun begitu
haus akan rangsangan-rangsangan nakal seperti ini. Insya Allah nanti saya akan ceritakan
kisahnya.

Dan saat ini, seorang ikhwan yang telah mempunyai isteri dan anak, bertubuh tegap, macho, dan
berwajah rupawan sedang berlutut di bawah kaki Teh NInih dan menjilat-jilat serta menghisap-
hisap jari-jemarinya yang indah. Hal itu seolah menghapuskan rasa dahaga Teh Ninih akan
aktivitas seksual yang sedikit di luar kebiasaan. Tanpa terasa, vagina suci miliknya telah
berdenyut-denyut kecil dan terlontar desahan dan erangan penuh luapan syahwat dari bibir
indahnya, “Ssaaa…aakkkhhhh…Mas Ahmad, enak sekali kulumanmu….,”
Teh Ninih pun bertekad akan menundukkan diri sehina mungkin di depan lelaki yang telah
bangkitkan gairah masa mudanya yang haus akan seks.

Tanpa terasa, Ahmad telah mengangkangi tubuh mungil istri idaman itu di atas sofa. Ia telah
menyingkapkan jubah putih Teh Ninih hingga pinggang. Kini paha mulus dan berisi serta betis
yang membujur indah yang selalu dijaga dari pandangan orang itu telah terekspos bebas dan
telah dibanjiri air liur bekas jilatan Ahmad. Ya, Ahmad telah selesai menyapu bersih sepasang
paha dan betis indah seorang Teh Ninih, isteri Kyai Haji Abdullah Gymnastiar yang selama ini
hanya ada dalam lamunan joroknya dan menghisap sejumlah besar air maninya yang habis ketika
bermasturbasi menkhayalkan bersetubuh dengan akhwat sunda(l) itu.

“Teteh kepanasan ya? Ahmad lepas aja ya jubahnya…” Teh NInih tidak segera menjawab. Ia
hanya memejamkan matanya sambil berdehem ringan yang langsung diartikan Ahmad sebagai
izin.  Dalam hati wanita sholehah itu tersadar akan dosa dan zina yag ia lakukan.

Bagaikan terkejut, seolahia diingatkan akan dosa  zina ini. Sesaat ia diam dan beristighfar.

“Astaghfirullah…Astaghfirullah… ia memohon ampun atas dosa ini. Hanya sedetikia tersadar


dari dosa ini.
 Karena desakan syahwat yang melanda dirinya tak mampu dilawannya. Ia tak sanggup menahan
amuk birahi yang melanda. Ia pun kembali larut dalam perzinaan yang nikmat dan syahdu.

Dalam sekejap, jubah putih ummahat itu telah tergeletak di atas lantai meninggalkan pemiliknya
tanpa busana, hanya jilbab kuning, bra putih dan celana dalam putih berenda yang tersisa
menutupi tubuh indah Teh NInih. “Teh, tubuh Teteh indah banget, putih, mulus, beda banget
sama punya isteri saya. Memek Teteh juga pasti lebih indah dan lebih legit!”

“Akh…Ahmad, malu neh. Jilbabnya gak dilepas sekalian?” Teh NInih mulai membuka mata dan
membalas perkataan-perkataan cabul Ahmad.

“Nggak usah, Teh. Ahmad lebih suka Teteh pakai jilbab itu. Lebih cantik dan lebih anggun. Jadi
lebih semangat buat merasakan manisnya tubuh ustadzah kayak Teteh.”

“Panggil aku Ninih saja ya Ahmad. Mau kan”

“Iya deh, NInih sayang. Kamu kok binal banget sih. Akhwat binal kayak kamu tuh cocoknya
dientot tiap hari sama kontol gede ku.  Ya, akhirnya sang ustazah itupun kehilangan sifat-sifatnya
yang santun dan alim. Akhwat sunda itu telah menjelma sebagai akhwat binal dan sundal (bukan
sunda lagi).

Ruangan sempit itu, juga busana muslimah Teh Rini yang telah berserakan di lantai semua telah
terjadi. Seolah busana muslimah yang sehari-hari dipakai sang ustazah itu menjadi saksi atas
perzinaan pemiliknya. Begitu juga jilbab yang masih dipakai Teh Ninih, seakan menjadi saksi
bisu atas perbuatan dosa ini.
Mau lihat kontol Ahmad gak? Banyak bulunya lho…” Kata-kata cabul AHmad membuat Teh
NInih tambah terangsang. Ia tak memperdulikan lagi bahwa Ahmad adalah suami orang.

“Mas Ahmad….Mau dunk. KAsih lihat kontol kamu sama Ninih dong.”

“Apa NIh? Ahmad nggak denger. COba ulangi lagi?” Ahmad pun memancing rasa penasaran
ummahat yang sudah setengah telanjang itu dengan menyodorkan daun telinga sebelah
kanannya. Syahwat Teh NInih pun makin berkobar melihat tingkah Ahmad yang seperti
mempermainkan dirinya.

Dengan birahi terbakar dan siap meledak, Teh NInih meraih telinga Ahmad san berbisik lembut,
“Ahmad sayang….kasih liat dong kontol kamu sama Ninih. Nanti Ninih kasih liat memek NInih
deh, mau ga? Teh Ninih merasa begitu terhina dengan tindakannya sendiri. Ia merasa harga
dirinya telah tercabik-cabik di depan ikhwan perkasa ini. Ia langsung terkapar lemah sedangkan
Ahmad malah makin bersemangat mendengar bisikan luapan syahwat ustadzah alim yang telah
menunjukkan kebinalannya itu telah ikhlas sepenuh hati merelakan bagian paling sensitif dan
paling suci miliknya untuk dijamah Ahmad.

“Iya deh Ninih Sayang. Ini Ahmad buka kejantanan Ahmad, habis Ninih maksa teruz sih” Tanpa
butuh waktu lama, Ahmad, sang suami shalih yang merupakan kepala divisi dakwah di stasiun
radio tersebut, telah menelanjangi dirinya sendiri. Ia hadapkan kontolnya yang telah menegang
dan mengangguk-angguk seksi itu pada wajah ummahat shalihah di depannya. Ia sorongkan
seonggok daging berurat yang berdiameter 5 cm dan panjang yang lebih dari 20 cm serta
berkepala kemerahan bekas sunat itu pada bibir Teh Ninih.

Ahmad tersenyum melihat Teh Ninih yang terkagum-kagum melihat batang kemaluannnya.
Ustazah cantik itu menelan ludah, sementara kontol Ahmad menganggguk-angguk tepat di dekat
wajah sang ustazah. Teh Ninih menjulurkantangan menggapai batang perkasa itu….
dan….Ahmad mendesis sshhhh………
 Teh, bolehkah aku menyentuh memek kamu ?
 Tangan Ahmad turun ke bawah meraih bawah perut Teh Ninih, turun lagi, dan mengusap-usap
gundukan daging yang terletak di bawah perut sang ustazah.

“Ya Allah….. Teh Ninih……empuk sekali memek kamu Teh…”


 Teh Ninih yang masih mengenakan jilbab itu memejamkan mata menikmati usapan-usapan
lembut di kemaluannya.

Cukup lama tangan Ahmad bermain-main di kemaluan Teh Ninih. Tangan Ahmad yang telah
terlatih begitu lembut mengusap-usap daging empuk aurat milik sang ustazah. Dibelai-belai, dan
diremas secara ritmis nan lembut, membuat Teh Ninih tak mampu lagi bertahan.

Pertahanannya runtuh total. Iman nya pun jebol.


 Ayat-ayat suci Alqor’an yang selama ini menjadi pagar dirinyapun tak lagi diingatnya.
 Seratus persen Teh Ninih telah berniat menuntaskan perzinaan terlarang ini.

Di ruangan yang sempit itu, seorang muslimah suci telah melepaskan jubah putih sehingga
 telanjang di hadapan seorang lelaki yang bukan suaminya. Hanya  jilbab yang masih tersisa di
kepalanya.
 Dan sang lelaki bernama Ahmad itu terus membangkitkan birahi sang ustazah, terus mengusap
dan membelai-belai daging empuk di bawah perut Teh Ninih. Tangannya masuk ke dalam celana
putih berenda milik sang ustazah. Dengan kelima jari yang seolah bekerja secara kompak, jari-
jari itu menggelitik setiap inci daging montok itu. Sementara si wanita cantik berjilbab itu
merintih-rintih menahan nikmat.

Akhwat Sunda(l) itu telah menjadi akhwat binal  yang haus akan sex, dan sang akhwat
cantikjelita itu  telah bertekad untuk menuntaskan perzinaan yang syahdu ini.

“Subhanallah… Subhanallah….., memek kamu indah banget Teh?” Ahmad membisik

“Mas Ahmad…oughh……..”, hanya desis lirih yang keluar dari mulut sang Ustazah cantik itu.
 “Teh NInih… bolehkah kontolku bersilaturahmi ke dalam memek kamu Teh?”
 “Ouhh…apa mas Ahmad?”, nafsu birahi membuat Teh Ninih tak begitu jelas mendengar kata-
kata Ahmad.
 “Bolehkah kontolku bersilaturahmi ke dalam kemaluan kamu?”, Ahmad mengulang kalimatnya.

Nah teman-teman tahu kan? Apa yang dimaksud si Ahmad dengan ‘silaturahmi’.
 Silaturahmi yang semestinya adalah kunjungan ke teman atau saudara, telah bermakna lain.
 Tentu silaturahmi di sini adalah masuknya batang kontol Ahmad ke lobang kemaluan Teh
Ninih.
 Silaturahmi dalam tanda petik yang berarti perzinaan da itu yag kini sedang terjadi

Dan jilbab suci sang ustazah , menjadi saksi atas perzinaan itu. Begitu pula dengan busana
muslimah yang berserakan di lantai yang  sedari tadi  lepas dari tubuhnya. Andaikan saja jubah
putih yang tergolek dilantai itu punya mata dan telinga, pasti bisa ikut menikmati persenggamaan
dan perzinaan yang sedang dan akan dilakukan oleh pemiliknya.

(bersambung…………..DITUNGGU KOMENTARNYA……)

Nantikan episode ke-3 nya y…..

Teh Ninih yang telah dimabuk birahi itu begitu penasaran akan sebatang kontol yang
mengangguk-angguk penuh nafsu di hadapannya. Ia pun mulai mengelus-elus kontol yang telah
begitu tegang itu dengan tangannya yang lembut. Entah sadar atau tidak, tangan kanan Teh NInih
bergerak dari depan ke belakang berkali-kali dengan tempo sedang. Ini membuat semacam
kocokan yang makin membangkitkan gairah Ahmad yang sudah telanjang bulat.

Demi merasakan kocokan lembut ummahat berkacamata itu, Ahmad semakin ditenggelamkan
oleh birahinya sendiri. Ia letakkan lututnya di atas sofa dan memajukan penisnya yang begitu
bergejolak sehingga menyentuh bibir merah muda ustadzah shalihah itu. JIlbab kuning panjang
Teh NInih terlihat sedikit basah akibat keringat yang mulai mengucur sehingga menampakkan
dengan jelas body indahnya pada Ahmad. “Ayo dong, Ninih sayang….Masukin kontol Ahmad
ke dalam mulut indah kamu. Ahmad boleh kan ngentotin mulut NInih? Akkhhh… Ayo Nih,
gedean mana sih kontol Ahmad sama punya Aa?”Gesekan-gesekan pergelangan tangan Teh
NInih di bulu kemaluan Ahmad yang hitam, keriting, dan lebat itu membuat Ahmad gemetar
bukan kepalang.

“Iya sayang…masukin aja kontol kamu ke mulut NInih, Ninih pengen banget ngemut kontol
kamu. Habisnya punya kamu jauh lebih besar dan lebih panjang daripada punya Aa.”

“Duh, kamu kok ngomongnya begitu sih Nih….Kamu ustadzah dan ummahat tapi omongannya
kayak pelacur. Kontol aku kan bau banget.” Ahmad semakin puas menghina isteri pertama Kyai
kondang yang dipuja banyak orang itu. Kata-kata kotor terus keluar dari bibir Ahmad sementara
tangannya memegangi kepala Teh NInih yang terbungkus jilbab bagai memegangi kepala PSk
pinggir jalan.

“Nggak apa-apa AHmad sayang…NInih suka kok kontol bau!” tanpa pikir panjang lagi, Teh
Ninih langsng memasukkan kontol Ahmad yang besar bukan main dengan gerombolan urat di
batangannya yang telah membiru ke dalam mulutnya. Ia telan bulat-bulat kontol yang telah
berlendir di ujungnya itu, menunjukkan betapa terangsangnya pemiliknya.

“Terus NInih…OOhhh, ternyata kamu doyan sama kontol gede ya?” Ahmad terus mendesah dan
mengerang menikmati mulut dan lidah ummahat sekelas Teh NInih yang sedang memanjakan
kemaluannya. Sementara itu Teh NInih pun tak bisa berbuat apa-apa saking asyiknya ia
mengulum kejantanan pria shalih di hadapannya. “OOhh, Ninih sayang…begini yoh rasanya
ngentot mulut Teh NINih.”

“Begitu panasnya permainan kedua insan ini, di mana Teh NInih tampak begitu lihai mengoral
penis Ahmad sampai Ahmad terheran-heran karenanya. 10 menit kemudian, Ahmad merasa
gejolak nafsu di kontolnya sudah tak tertahankan lagi. “Ninih lonteku…..mana janjimu tadi,
katanya mau kasih liat memek kamu!”

Seperti robot yang selalu menurut apa kata tuannya, Teh Ninih langsung memelorotkan celana
dalamnya yang ternyata telah dibanjiri cairan cintanya akibat rangsangan-rangsangan yang
dilancarkan Ahmad betubi-tubi. Tak lupa ia tanggalkan pula bra putihnya hingga bagian-bagian
paling vital dan sensitif itu tersingkap sudah. “Ahmad sayang, Ninih udah telanjang
neh…..Entotin Ninih ya, Ninih lagi subur banget neh…”

Mendengar pengakuan jujur itu, darah Ahmad langsung menggelegak. Berarti pagi ini ia akan
menikmati manisnya kemaluan seorang isteri yang begitu alim ini lengkap dengan butir-butir
ovum yang hangat, baru saja matang, dan pastinya siap untuk dibuahi benih-benih sperma yang
begitu kental miliknya.

“Ninih, kamu mau aku hamilin…?” Bisik Ahmad lembut di telinga Teh Ninih.

Teh Ninih pun menjawab tak kalah lembutnya, “Mau sayang…..entotin Ninih sampai hamil ya.”
Ahmad langsung mengambil posisi mengangkangi pinggul sang Teteh pujaannya. Ia singkap
sedikit bulu kemaluan ummahat yang cukup lebat itu karena belum sempat dicukurnya.
Dibelahnya sedikit demi sedikit memek suci nan harum itu hingga ia melihat dengan jelas
lapisan merah muda dengan butiran sebesar kacang menggantung di atasnya. “Akkhh…Ahmad,
cepet masukin kontol kamu. Entotin aja Ninih sepuasmu…”

Seperti tak ingin cepat mengakhirikenikmatan ini begitu saja, Ahmad hanya mamarkir kepala
kontolnya yang menggunung itu di sela-sela rerumputan hitam yang menutupi gundukan bukit
menggemaskan milik seorang ustadzah terkenal itu. Sebagai gantinya, ia merapatkan dadanya ke
payudara Teh NInih dan menggesek-gesekkannya. Tak lupa payudara montok dan kencang itu
walau tak begitu besar ia remas-remas sambil sesekali memelintir putingnya yang kecoklatan.

“Aakkkhhhh….Ahmad sayang” Teh Ninih serasa menenggak anggur merah ketika diperlakukan
seperti itu. Ia telah mabuk dalam kubangan nafsu kebinatangan yang terlarang akibat birahinya
sendiri. Ahmad, yang sekalipun shalih dan bertubuh tegap, namun tetap saja sebenarnya ia tak
boleh menikmati manis dan harum tubuh dan alat seksual ummahat itu. Namun kini, Ahmad
tengah menumpahkan birahi jalangnya pada tubuh indah nan seksi ummahat itu. Gilanya lagi,
Teh NInih bukannya berontak atau menghindar, namun ia malah mengizinkan bahkan memaksa
Ahmad untuk berbuat cabul pada dirinya. Bahkan gesekan-gesekan kontol Ahmad pada bibir
vaginanya membuatnya begitu tersiksa. Bagai kesetanan, Teh Ninih langsung memeluk tubuh
Ahmad yang mulai basah akan keringat erat-erat dan mencakar-cakari punggung ikhwan perkasa
itu, “Sialan kamu Ahmad….cepet masuki kontol kamu ke memek aku. Entotin Ninih
sayaaaaaaannnggg…..!”

“Duh, kok omongan Ninih kayak pelacur gini sih. Kamu kan ummahat shalihah, jilbab kamu aja
panjang banget gini.”

“Iya aku pelacur sayang….aku perek jalang, aku budak seks kamu. Cepet yang…..ayo ngentot
sama NInih, genjoti memek NInih keras-keras…”

Tak mau membiarkan bidadari berkacamata itu lebih tersiksa lagi, Ahmad pun menurunkan
pinggulnya perlahan. Tanpa harus diperintah lagi, kepala kontol yang cukup besar itu mulai
beraksi membelah vagina yang telah melahirkan beberapa orang anak itu. “Teh…memek Teteh
kok anget banget sih. BEda sama punya isteri Ahmad….Ahmad suka banget memek Teteh,
OOOOhhhh…telen kontol Ahmad dong pake memek Teteh.”

Entah kenapa Ahmad kembali memanggil Teh NInih dengan sebutan Teteh. Mungkin
menurutnya, kata ‘Teteh’ terdengar lebih erotis daripada kata ‘Ninih’. Dan itu terbukti, Teh
Ninih yang semula sedikit pasif, kini aktif kembali. Dengan kelamin yang sudah berkedut-kedut
tak karuan, dan daraf sensualnya yang terus berkontraksi, Teh Ninih mulai menghisap-hisap
kontol Ahmad yang berusaha menyeruak ke dalam rongga vagina yang sebenarnya haram
buatnya.Teh Ninih pun kembali mendesah-desah binal seolah memberi semangat pada Ahmad
untuk segera menyetubuhinya. Setelah beberapa saat mengempot-negmpot kepala dan batang
kontol Ahmad, Teh NInih pun dapat merasakan kejantanan yang lebih besar daripada yang biasa
ia layani sebelimnya itu menerobos masuk ke dalam organ vitalnya.

“Akkhhh…Teteh….Ahmad masuk, Teh. Bismillahir Rahmannir Rahiiiiiiiiiiiimmmmmm.”


KOntol Ahmad pun langsung amblas dalam hangatnya rongga kelamin Teh Ninih. “Teteh ikhlas
kan saya entot?”
Teh NInih langsung menggeletar ketika merasakan sebatang penis dengan kehangatan dan
ukuran yang jauh berbeda dari milik suaminya tercinta, memenuhi rongga memeknya. Rasa
kenikmatan itu terus menjalar ke seluruh tubuh, apalagi ketika Ahmad menarik kontol yang
begitu ia banggakan itu disertai hentakan keras menekan dinding kemaluan suci itu setelahnya,
hingga si empunya sampai menggelinjang dan mengangkat dadanya tinggi-tinggi. “Teteh ikhlas
kok yang……Teteh ikhlas dientot sama kamu” Ahmad mulai melakukan kocokan erotis pada
vagina mungil Teh Ninih itu berkali-kali hingga Teh Ninih tak mampu membuka matanya saking
nikmatnya genjotan Ahmad. Apalagi tak henti-hentinya Ahmad meremas-remas peyudaranya
dan melumat bibirnya yang merah muda. “OOOhhh…ampun Ahmad. Ennnaaakkkk
bangeeeettt…..entoti Teteh truz sayaaaannngg….” Ummahat itu begitu histeris ketika Ahmad
meningkatkan tempo genjotannya. Untungnya, teriakan binal ummahat yang begitu keras itu
langsung diredam Ahmad dengan bibirnya agar tak terdengar keluar.

Ternyata urat-urat di batang kontol Ahmad telah benar-benar membuat Teh Ninih menjadi gila.
Ia pun turut menaik turunkan pinggul dan pantatnya yang montok seirama dengan goyangan
erotis Ahmad. Keduanya telah sama-sama bercucuran keringat saat Teh Ninih melingkarkan
kakinya di pinggul Ahmad sehingga ikhwan itu semakin mudah melesakkan kontol hitam legam
nan besar miliknya ke dalam kemaluan menggemaskan milik ustadzah yang telah begitu binal
itu, “OOOhhh….ooohh….yes….Teteh gila, memeknya unstadzah legit banget euy….Ahmad
doyan ngentotin Teteh…”

Setelah sekitar 30 menit digagahi oleh Ahmad dengan liarnya, gelora birahi Teh Ninih hampir
sampai di puncak kenikmatan untuk kesekian kalinya. Ia mulai meracau dan berteriak-teraik tak
karuan, nafasnya sudah begitu memburu demi menatap kemaluannya yang cantik itu dipompa
tanpa ampun oleh ikhwan yang tak henti-hentinya menghembuskan nafasnya yang panas dan
penuh gairah ke wajah Teh Ninih. “OOhhh…Ahmad. Teteh mau keluar lagi neh…..semprot
memek Teteh pake peju kamu dong yang anget n lengket…..ampuni Teteh ahmad……”

Ahmad pun menambah intensitas genjotannya pada vagina yang masih begitu sempit dan hangat
itu ia rasakan. Ia merasa nafsu iblisnya telah hampir sampai di batas maksimal. Dan begitu
Ahmad merasakan derasnya gelombang yang menjalari batang kemaluannya……ia pun
mendekap tubuh sang ummahat idaman dan melesakkan kontolnya sedalam mungkin.

“Aaaaaaaaakkkkkkkkkkhhhhhhhhhh……rasain nih peju Ahmad, Dasar Teh NInih pelacur


jalang……..”

“Crrrrroooooootttt…..cccrrrooooottt…” Semburan lava panas nan lengket itu pun menghentak-


hentak menghantam dinding memek Teh Ninih sehingga mebuat benteng birahi ustadzah
berjilbab panjang itu hancur lebur. Ia balas memeluk Ahmad dan mencakar-cakari apa saja yang
ia bisa raih dari tubuh Ahmad. Tubuhnya berkelojotan dan menggelinjang bagai seekor anjing
betina yang sedang disemprot air mani si jantan. Dan akhirnya….Teh Ninih pun melepaskan
cairan cintanya yang paling suci dan paling penuh dengan ovum hingga ia terkulia lemas tak
bertenaga.
Seiring dengan terlepasnya cairan cinta keduanya, ahmad pun langsung roboh di atas tubuh Teh
NInih. Dengan penis yang masih bersarang di memek Teh Ninih seraya menyemprotkan kedutan
kedutan kecil penghabisan, Ahmad pun menciumi wajah Teh Ninih sebagai ucapan terima kasih.
Ia merasa sedikit bersalah karena telah merusak kehormatan dan kesucian seorang Teh Ninih
yang tampak menggulirkan setetes air mata dari sudut matanya. Semsntara itu, pasangan zinanya
itu kini telah tak sadarkan diri setelah dipuaskan sepuas-puasnya oleh kuda binal berkontol
panjang itu. Segaris senyum tersungging di bibirnya menyiratkan perasaan hatinya yang begitu
bahagia.Keduanya pun terus berpelukan bagai tak mau dipisahkan hingga adzan zhuhur
membangunkan keduanya.

Birahi Buta sang Ustadzah 2

 Aku tak tahu apa maksud Teh Ninih membawakan ke luar kota Bandung arah Padalarang, aku
sangat menghormati Teh Ninih yang sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri, walau selama ini
pertentangan kami bisa dirukunkan. Aku tak menyadari ternyata ajakan Teh Ninih padaku
merupakan curhat yang tidak pernah kubayangkan. Aku tidak mau dicap perebut suami orang,
akan kujelaskan pada Teh Ninih apa yang ada dihatiku.

 Teh Ninih mengatakan ini pertemuan rahasia, ketika kutanyakan lebih jauh, Teh Ninih hanya
tersenyum saja, jadilah aku menurut, walau aku harus bersaing mendapatkan perhatian lebih dari
Aa Gym. Mobil yang kustir itu aku diarahkan masuk ke villa, Teh Ninih sendiri yang membuka
gerbang kemudian mengunci gerbang itu. Aku pun keluar dari mobilku. Aku diajaknya masuk.

 “Mari Teh Rini .. kita masuk ya .. hawa dingin sih .. dah sholat Azar belum ? “tanya Teh Ninih
padaku dengan senyum sumringah.

 “Alhamdulillah … Sudah Teh .. aku tak pernah lupa sholat .. “jawabku singkat dengan
mengikuti Teh Ninih masuk ke ruangan depan villa itu. Ketika aku hendak duduk, aku justru
diajaknya ke ruangan tengah karena Teh Ninih ingin bicara di dalam saja, aku pun menurut,
ketika aku masuk duluan itu, aku kaget dan terperanjat ketika ada tangan membekapku.

 “Mmmmmmmmmmmmmhhh …….. “ aku hanya bisa bersuara demikian, aku semakin marah
karena yang membekapku itu semakin kurang ajar meremas remas dadaku, terdengar suara yang
membuatku tergidik.
 “Teh Rini memang seksi habis .. aku pengin mengkontoli dirimu .. “ suara itu sampai
membuatku shock luar biasa, aku sangat ketakutan, aku sampai mau pingsan ketika melihat Teh
Ninih hanya tersenyum saja berlalu ke arah depan membuka kamar.

 Aku berontak dengan kuat, aku tak mengira, Teh Ninih benar benar biadab padaku, kukira
hatinya bersih namun malah menjadi iblis. Aku tetap berontak namun aku kalah tenaga, dengan
santai Teh Ninih bicara. Aku sampai tercengang merasakan ada benda keras menempel ke
pantatku, bentuk besar dan sampai membuatku semakin merinding, aku berdoa jangan sampai
aku jatuh dalam cobaan ini.
 “Bawa ke dalam sayaaaaaaang .. silakan kontoli Teh Rini sepuasmu .. “ sahut Teh Ninih dengan
santai. Mataku sampai melotot mendengar Teh Ninih bicara sangat vulgar. Aku masih belum
bisa melihat lelaki yang membekapku, suara yang sangat asing bagiku. Aku tak mengira
mendapatkan cobaan sangat berat, aku hendak diperkosa lelaki. Ternyata Teh Ninih mempunyai
selingkuhan.
 Aku dilemparkan ke ranjang, ketika aku berdebam di ranjang itu barulah.

 “Teh .. apa apaan ini .. tolong Teh .. kenapa Teteh berubah seratus delpan puluh derajat .. ingat
neraka Teh .. jangan lakukan .. tolong .. tolong ! “ keluhku dengan menatap bergantian ke Teh
Ninih dan lelaki itu. Teh Ninih hanya tersenyum saja, mendekati, aku melayangkan tanganku,
namun ketika tanganku menampar lelaki itu menahan tanganku.

 “Malam ini Teh Rini akan menjadi istriku kedua suami gelapku .. suami yang hanya khusus
urusan kontol dan memek .. “ sahut Teh Ninih dengan tersenyum simpul dan menarik gamisku,
aku berontak karena Teh Ninih tidak hanya menarik namun merobeknya.

 “Jangaaaaaaaaaaan “ tolakku ketakutan ketika lelaki itu mendekati aku dan memelukku.

 “Kenalkan suamiku Teh .. namanya Burhan .. dia sudah berkali kali memberikan kepuasan
batiniah padaku .. aku adalah betina muslimah yang utama .. dan kau Teh Rini .. kau adalah istri
kedua baginya ..kau adalah betina muslimah yang kedua .. porsimu yang menentukan aku “ sahut
Teh Ninih dengan buas merobek robek gamisku. Aku tak mengira, Teh Ninih yang kukenal kini
berubah sangat bengis dan benci padaku.

 “Kau telah membuatku menderita Teh .. menderita .. kini aku ingin kau juga menderita ..
TIDAK ! kau akan senang memekmu di kontoli Burhan .. “ sahut Teh Ninih sampai membuatku
terpana, aku mengenal Teh Ninih sebagai seorang muslimah yang alim, taat, religius, namun kini
sudah berubah total, bicaranya tidak mencerminkan seorang hajjah atau muslimah, tapi seorang
pelacur.

 “Dasar pelacur “ makiku tak terima, aku merasa yang berada di hadapanku bukan teh rini
sebenarnya, namun Teh Ninih yang sudah dikendalikan oleh lelaki bernama Burhan itu.

 “Aku memang lonte Teh .. dan kau juga lonte malam ini .. “ dengus Teh Ninih dengan nada
kesal. Aku hendak berontak namun Burhan sudah memelukku, meremas remas buah dadaku dan
menggelitik di kemaluanku. Aku menangis, menyesali mengapa mau diajak bertemu dengan Teh
Ninih namun justru aku dikorbankan pada selingkuhan Teh Ninih ini.

 “Kau apakan dia “ teriakku dengan parah pada Burhan. Aku tak menyangka, Teh Ninih
kemudian membuka gamisnya sendiri, kemudian dengan cepat membuang celana dalam dan
branya, aku baru kali melihat tubuh polos teh rini. Haram bagi hukum Islam jika dua istri satu
ranjang

 aku terpikat dengan Burhan .. aku tetap Teh Ninih yang kukenal .. namun aku tidak bisa
mengengkang birahiku .. aku puas dikontoli pacarku itu .. dan sekarang .. dia meminta dirimu .. “
 “Insyaf Teh .. Insyaf .. ingat  … kenapa dengan Teh Ninih .. “ kataku dengan perasaan kalut luar
biasa, aku tak mengerti jalan pikiran Teh Ninih yang nyatanya berselingkuh itu, sejenak kuamini
memang semenjak aku dinikahi Aa Gym, Teh Ninih merasa kesepian. Burhan semakin nakal
memeluk, aku hendak melawan, namun aku malah diancam Teh Ninih.

 “Akan kuijinkan kau memiliki AA Gym .. namun malam ini kau harus menghadapi ujian batin ..
kontol Burhan harus masuk memekmu “ ancam Teh Ninih dengan tersenyum padaku.

 Habis berkata dengan Teh Ninih menari celana dalamku, aku bertahan berontak, kakiku
menendang nendang, namun kakiku tidak bisa bebas karena Burhan tenaganya kuat, aku
menangis sejadi jadinya. Habis itu Burhan menindihku, melumat bibirku dengan rakus, aku tidak
menanggapi lumatan itu, aku merasa najis terhadap lelaki kurang ajar ini, enak aja menggeluti
istri orang. Apalagi istri milik ustad terkenal.

 “Bangga ya jadi istri Aa Gym .. merasa menjadi manusia istimewa “ sahut Burhan sehabis
menyerbu bibirku, aku langsung meludahi mukanya

 “Ccuuuuuuuuuuuuuuuuuuh “
 Ludah itu mengena muka Burhan, namun Burhan tidak marah, Teh Ninih kemudian ke belakang
kepalaku, mencekal kedua tanganku

 “Jangaaaaaaaaan Teeh .. ampuni akuu .. Laknatullah ada padamu “ ancamku pada Teh Ninih.
 “Oh ya ?” sahut Teh Ninih dengan enteng kemudian tertawa.

 “Segera rangsang Teh Rini sayaaaaaaaaaang .. buat dia mengerang erang puas kau kontoli .. “
sahut Teh Ninih dengan tergelak, aku menjadi ketakutan ketika lelaki ini membuka celana
kolornya. Penis besar itu teracung di atasku. Aku tidak kuat memandang benda ngaceng besar
itu, kontol itu pelan pelan ditempelkan ke pipiku, aku masih berjilbab namun bagian bawahku
sudah tidak karuan, hanya menyisakan bra dan celana dalam, gamisku sudah terlepas akibat
disobek sobek Teh Ninih, istri pertama dari suamiku Aa Gym. Aku sampai takut luar biasa, aku
mau diperkosa.

 “Cara enak atau kasar lonteku, Hajjah Ninihku sayaaaaaaaaaang .. pilih donk “sahut Burhan
dengan mesra pada Teh Ninih. Aku sampai tergidik, Burhan memanggil Teh Ninih dengan
istilah lonte, dan Teh Ninih hanya tersenyum saja, aku sampai hendak pingsan.

 “Lontemu .. pilih yang enak saja .. aku tidak mau Teh Rini dikasari .. dia milikmu sayaaang ..
silakan kau kontoli .. “ sahut Teh Ninih dengan memegang kedua tanganku kuat.

 “Kontoli dulu cepaaaaaaaat “ sambung Teh Ninih dengan gemas. Burhan langsung mundur dan
memegang kedua kakiku yang berontak, Burhan langsung menjilati kemaluanku, aku berontak
kuat, berkali kali aku menggeliat

 “Teeeeeeeeeh .. aaaaaaaampuuuuuuuun .. jangaaaaaaaaaaan .. jangaaaaaaaaaaaaan .. 


biadaaaaaab kau Teeeeh .. dasaar wanita iblis “ makiku pada Teh Ninih. Teh Ninih hanya
tersenyum saja.
 “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaauh jangaaaaaaaan aaaaaaaaaaaaah .. pleaseeeeeeee .. bajingan kau ..
bangsat kau .. “ makiku pada Burhan yang sangat kurang ajar menjilati kemaluanku, aku menjadi
cepat basah, lidah itu menjulur julur membuka jalur auratku.
 Burhan dengan rakus menjilati auratku, aku lama lama semakin kehabisan tenaga, percuma
melawan, tak lama lagi batang besar itu akan mengoyak auratku.

 “jangan biarkan aku menderita “ keluhku dalam hati, namun akibat jilatan itu aku merasakan hal
yang berbeda, aku selalu diperlakukan lembut oleh Aa Gym.. dalam berhubungan badan dengan
Aa Gym masih saja ceramah yang diberikan. Namun kini aku akan merasakan hubungan badan
dengan kata kata vulgar.
 Aku menggeliat tak karuan merasakan jilatan dan sedotan itu.

 “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaauh .. “ erangku ketika Burhan menaikan cup braku dan meremas buah
dadaku dengan nakal, aku menjadi tak karuan, aku menjadi habis tenaga, aku menggelinjang
didada menghidanri remasan nakal itu. Kedua tanganku terkunci dipegang Teh Ninih. Aku
merasa harga diriku dijual pada lelaki ini, istri pertama suamiku yang menjualku. Aku dijadikan
budak olehnya. Aku terpejam merasakan rasa itu, pelan pelan aku merasakan nikmat, namun aku
tetap membenci kedua makhluk terkutuk ini. Aku tak menyadari ketika lidah dan bibir itu
menjauh dari auratku, tiba tiba aku membuka mataku, merasakan ada benda tumpul menekan ke
auratku

 “Aaaaaaaaaaaah .. jangaaaaaaaan … “ tolakku dengan berusaha menghindar namun aku tak


kuasa.
 “Teh Rini memang montok … memekmu benar benar sempit .. “ kata Burhan dengan menekan
dan membuatku kesakitan, penis ketiga yang berhasil masuk dalam tubuhku. Kurasakan benda
itu menekan dengan kuat, dinding auratku terasa tergesek, aku menjadi terpejam, aku tidak bisa
melawan, aku harus mengalah, tak ada gunanya. Aku akan melaporkan kedua iblis ini pada
polisi, tapi kalo ketahuan publik aku dijual sama Teh Ninih apalagi jadinya, Aa Gym akan sangat
malu.

 Kedua pahaku dipegang dengan kuat, Burhan menarik kemaluannya kemudian mendorong lagi,
aku sampai menggeleng geleng. Aku sudah tidak punya tenaga lagi, pelan pelan tanganku lemas
tidak mengcengkeram kuat lagi, Teh Ninih melepaskan kedua tanganku, Burhan langsung
menindihku.

 Penis besar itu mendesak paksa masuk ke dalam auratku, kurasakan sakit bercampur nikmat,
aku langsung dilumat bibirku, aku tetap tidak menanggapi lumatan itu, namun Burhan terus
merangsangku

 “Ssssssssssssssssssshh hhhhhhhhhh aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaauh jangaaaaaaaaaan ..


jangaaaaaaaann .. berhenti .. jangaaaaan perkosaa aaaaaaaaaakuu “ keluhku dengan suara berat.

 “Kita akan pesta seks sayaaaaaaaang .. nikmatilah sayaaaaaaang .. Teh Rini sayang .. sudah
lama aku mengidamkan dirimu .. “sahut Burhan dengan mendesakkan lagi penisnya sehingga
menabrak dinding terdalam auratku.
 “Ayo genjotin aja sayaaaaaaaaaaaang .. ntar gantian memek Bu Hajjah Ninih .. “ ucap Teh Ninih
pada Burhan yang kini sudah mulai menggenjotku, aku masih berusaha berontak namun tetap sia
sia, genjotan demi genjotan itu menggesek gesek dinding auratku.

 “Aaaaaaaaaaaaaaaaauh sssssssssshhh hhh .. “ erangku, aku merasa heran kenapa jilbabku tidak
dicopot juga, namun melihat Teh Ninih yang masih berjilbab aku merasa paham, Burhan
menyukai muslimah yang disetubuhi masih berjilbab, benar benar menghina kaum muslimah.

 Aku luar biasa sakit, auratku dicoblos benda besar itu, terasa panas dalam kemaluanku, aku
terbawa genjotan itu, aku malah mendapatkan nikmat

 “Aaaaaaaaaaaaauh aaaaaaauh jangaaaan .. jangaaaaaaaaan .. berhenti .. berhenti “ racauku tidak


karuan merasakan genjotan nakal itu, aku kini merem melek tidak tahan, aku membiarkan saja
lelaki ini menyetubuhiku, yang aku takutkan lelaki ini menyemburkan air maninya, aku bisa
hamil. Namun aku sangat kaget ketika Teh Ninih justru malah berkata nekad

 “Hamili diaaaaaaaaa “ sahut Teh Ninih dengan mengelus elus kepala Burhan yang merem
keenakan menyetubuhiku, genjotan demi genjotan itu semakin kuat, aku malah mendapatkan hal
yang nikmat, belum pernah kurasakan sepanjang aku bersetubuh, kata kata vulgar itu semakin
meracuniku, apalagi Teh Ninih tak pernah berhenti bilang kontol dan memek. Baaaaaaaah !

 Kurasakan aku semakin panas, aku merasakan tubuhku gemetar diperkosa seperti itu, bibirku
kembali dilumat dan disedot, aku tak sadar membuka bibirku dan Burhan merasa aku mengalah,
bibir Burhan kembali melahap bibirku.

 Genjotan demi genjotan itu membuatku sampai tidak tahan, nikmat sekali, gesekan dalam
dinding auratku semakin lama lama semakin cepat, ada kenikmatan yang sering kuterima dari Aa
Gym, namun rasanya beda, yang sekarang kurasakan serasa menggaruk dinding auratku. Aku
pengin segera berakhir, kugerakan selakanganku

 “Ayyooo Teeeh ..aku suka goyangan Teh Rini aaaaaaaaaaaaaaaaaaaah .. enaaaaaaaaaaaaaaaaaak


“ erang Burhan menyetubuhi naik turun, Burhan kemudian meremas buah dadaku, melumat
bibirku dan tetap bergerak menggenjotku, luar biasa lelaki ini, ketiga bagian sensitif tubuhku
dirangsang hebat, aku menjadi terhipnotis

 “Aaaaaaaaaaaaaaaauh ssssssssssssssssssssshh hhh .. teruuuuuuuuuuus “ lenguhku tak sadar


keenakan.
 Kurasakan dinding aurat seakan menyempit, aku tidak tahan lagi, aku hendak mencapai klimaks,
genjotan itu semakin gencar dan liar membuatku orgasme, aku menegang kaku dengan mata
terpejam erat.
 “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah “ erangku panjang

 Kurasakan memekku muntah cairan banyak, aku kemudian berklonjotan dengan tubuh penuh
keringat. Burhan kemudian berhenti menggenjotku, menindih dan merapikan jilbabku yang
berantakan. Kurasakan benda panas itu tertanam dalam dalam di auratku, aku masih sesengukan
menangis merapati nasibku, jika aku tidak dinikahi Aa Gym pastilah aku tidak bernasib seperti
sekarang.

 Burhan membiarkan aku menangis sesengukan, namun pipiku dielus elus, aku dibuai dengan
kata kata yang belum pernah kuucapkan

 “Memek Teh Rini masih sempit .. kontolku untuk Teh Rini .. marilah Teh .. nikmati saja
kontolku .. nggak usah make etika .. kalo mau bilang kontol .. ucap saja kontol ..” sahut Burhan
dengan nafas memburu.
 “Tolong ampuni aku .. jangan teruskan ,.,.. ini dosa besaaaaaaar “ keluhku memprotes, namun
Teh Ninih yang menjawab

 “Ini nikmat sayaaaaaaaaaaaaaaaaang .. kau sudah merasakan kontolnya bukan . kini saatnya Teh
Rini mengulum kontol Burhaaan .. ayo sayaaaaaaaaaaang ..cabut kontolmu . ajak Teh Rini ..
lontemu itu ngemut kontol .. dia pernah bilang suka mengulum kontol .. “ ledek Teh Ninih
padaku, aku menjadi kecut dibuka aibku. Pelan pelan Burhan menggeliat dan menarik tubuhnya,
dengan paksa menarik penisnya. Teh Ninih menarik tanganku agar bangun.

 “Saaatnya Teh Rini merasakan kontol besaaaaaaaar .. nikmatilah sayaaaaaaaaaang .. aku rela
diceraikan Aa Gym demi Teh Rini .. namun syaratnya .. Teh Rini harus bercinta dengan
pacarku .. lakukan dengan rela Teh .. aku akan sangat rela menjadi istri yang kesepian .. biarlah
Teh .. Aa Gym menjadi milikmu sepenuhnya .. “ ucap Teh Ninih dengan mata menatapku tajam.

 Aku tak habis mengerti jalan pikiran istri pertama Aa Gym ini, berubah menjadi wanita nakal.
Aku memandang ke penis basah itu, terasa besar bagiku, belum pernah aku melihat sebesar itu,
akankan kusebut dengan istilah kontol. Aku gemetar ketika tanganku ditarik Teh Ninih
diarahkan ke kontolnya

 “Ayoo pegang sayaaaaaaaaaaaaaang .. nikmatilaaaaaaah .. masak diberi kenikmatan menolak ..


mana rasa sukronmuu .. “ sahut Teh Ninih dengan memaksaku, aku menolak namun tanganku
lemah, tanganku menyentuh penis itu. Burhan berbisik di telingaku

 “Isi kepala Teh Rini dengan istilah kontol .. kontol namanya .. bukan penis, bukan aurat, bukan
batang .. kontol namanya .. kontol .. kontol .. kontol .. kontol “ bisik Burhan seperti teriakan yang
menyayat telingaku, aku terasa terhipnotis, aku menjadi hilang kendali, lelaki ini mulai
mengendalikan tubuhku, tak sadar aku pun mengucap pelan kata jorok itu

 “Kontoool “
 Teh Ninih tertawa gemas.
 “Bisa saja Teh Rini menyebut kontol .. “ ejek Teh Ninih, aku merasa panas diejek tua bangka
ini, rupanya wanita tersesat ini mengajakku berlomba dalam urusan birahi.

 “Kita buktikan .. siapa lebih jalan antara aku dengan Teh Rini .. ayo emut sayaaaaaaaaang .. apa
Teh Ninih ajarin dulu bagaimana cara menjilati kontol, mengulum kontol dan menyepong kontol

 Luar biasa lancar dan tanpa risih, Teh Ninih yang seorang hajjah telah berubah menjadi seorang
pelacur murahan. Namun aku terkesiap, Burhan mencekal kepalaku dan menekan menempelkan
kontol eh penisnya ke bibirku yang kututup rapat.

 “Buka Teh Rini .. enaaaaaaaak kok .. ayo sayaaaaaaaaaaaaang .. kau bisa lah .. ayo emut ..
kontol dia enak lho .. djilati .. ayooo .. aku tidak akan rela kau dinikahi Aa Gym kalo belum
merasakan kontol di depanmu itu .. ini cuma seks sayaaaaaaaaaaang …“ Teh Ninih semakin
berapi api mendorongku mengulum kontol eeeh ..aduuuh .. masak aku mulai keracunan kata
kontol itu.

 Kupejamkan mataku memguatkan diriku, pelan pelan kubuka mulutku, untuk membuktikan kata
kata Teh Ninih itu, Teh Ninih sampai tersenyum ketika mulutku membuka menerima kontol itu,
kumasukan dengan rasa risih, baunya sangat menyengat namun sudah biasa bagiku, namun
kontol itu sesak masuk dalam mulutku. Masak Teh Ninih sanggup menelan kontol itu, aku pun
harus bisa mengulum kontol ini.

 Aku mulai mengikuti permainan Burhan dan Teh Ninih, kata kata yang selama ini kupegang
untuk menyebut kontol dan memek dengan satu kata : AURAT, kini aku menggantinya dengan
dua kata yang vulgar, aku harus mengikuti permainan gila ini. Ah .. masak .. aku merasa ini
merupakan cobaan terberat, kuisi otakku dengan kata vulgar : KONTOL dan MEMEK.

 Belum kontol yang tertelan di dalam mulutku benar benar sesak, pantasan Teh Ninih ketagihan.
Kurasakan sejenak kontol besar itu dalam mulutku, benar benar rasanya beda, gigiku sampai
menggigit pelan membuat Burhan meringgis keenakan, sedangkan Teh Ninih hanya mengelus
elus punggungku dan meremas buah dadaku.

 Aku percaya Teh Ninih tidak lesbi, dia melakukan itu hanya sekedar merangsangku,
membangkitkan gairahku. Aku sebenarnya lebih montok dan lebih menarik di banding tua
bangka istri pertama suamiku itu, namun aku kalah kenakalan dan kebinalan, awalnya aku tak
percaya itu Teh Ninih, namun lambat laun, aku mulai yakin, Teh Ninih melakukan selingkuh ini
karena merasa sakit hati padaku. Kukeluarkan kontol itu dari mulutku, kupandang kontol besar
yang telah menggenjot memekku.

 “Teh Ninih .. aku boleh bicara sebentar berduaaa .. “ pintaku dengan hati hati, aku tidak mau
menyinggggung perasaan istri tua suamiku. Teh Ninih memandangku.

 “Pergi sebentar, sayaaaaaaaaang .. aku pengin bicara berdua .. janjilah sayaaang .. kau harus
bercinta dengan Teh Rini berdua .. “ sahut Teh Ninih dengan tersenyum padanya, Teh Ninih
langsung melumat mesra bibir Burhan itu, aku merasa ini, Teh Ninih memang benar benar
piawai memperlakukan lelaki, bukan hanya sekedar melumat bibir Burhan, namun juga meremas
kontolnya dengan nakal. Burhan beranjak pergi, namun tangannya mencekal kepalaku dan
langsung melumat bibirku, aku tak menyangka, kubalas pagutan itu namun tidak begitu rakus
dibanding Teh Ninih.

 “Teh .. apakah kau benar benar Teh Ninih yang selama ini kukenal ?” tanyaku dengan
memandangnya dengan kecewa karena berubah
 “Ya .. aku Teh Ninih yang kau kenal, istri pertama dari Aa Gym .. apakah yang kau ragukan,
sayaaang “
 “Aku harus mengikuti kalian .. aku tak mau disakiti .. maafkan aku Teh .. aku yang membuat
Teh Ninih menderita .. seharusnya aku menolak pinangan Aa .. “ kataku sesal dengan
memandang Teh Ninih yang mulai nampak kesal mendengar uraianku.

 “Aku memaafkan Teh Rini .. tapi ada syaratnya “ sahut Teh Ninih dengan nada sedikit lebih
tinggi menaikan intonasi suaranya

 “Apa Teh ? aku akan melakukan .. tapi Teh Ninih harus janji tidak kecewa, sekalipun Aa
menceraikan Teteh .. “ tanyaku dengan kawatir, namun karena Teh Ninih tersenyum aku merasa
plong.

 “Teh Rini harus bercinta dengan pacarku .. kita berdua harus mau dikontoli kapan saja .. itu saja
syaratnya “ sahut Teh Ninih dengan enteng, aku menggigit bibirku sendiri, syarat yang sangat
berat. Namun aku harus mencari selamat, besok bisa aku pikir.

 “Baiklah Teh .. aku akan melakukan .. panggil pacar Teteh .. “ sahutku dengan kesimpulan
mengambil yang terbaik dari yang terburuk.

 “Kedua Teh .. ketika Teh Rini dikontoli tidak boleh melepaskan jilbab, jika kontol dia berlendir,
kau harus mengelap kontolnya dengan jilbab Teh Rini .. “ sahut Teh Ninih dengan meninggalkan
aku hendak keluar kamar, luar biasa beratnya, aku sudah diajar etika muslimah, kini jilbabku
harus dinodai dengan sperma. Tak mungkin aku menjadi pengkhianat yang mempercayai jilbab
lambang kesalehan.

 “Sanggup Teh .. jika tidak sanggup .. kita akan ulangi .. akan kuikat tanganmu .. memekmu agar
dihajar sampai bengkak “ ancam Teh Ninih dengan nada tegas.

 “Dan .. nasibmu dalam rumah tangga kita .. ada padaku .. jika kau pengin mendapatkan Aa
Gym, ambillah .. aku bersumpah tidak akan dendam pada kalian .. tapi kau tetap harus menjalin
cinta dengan Burhan .. itu saja yang harus kau patuhi .. silakan lapor polisi .. resikonya Aa Gym
akan murka .. menceraikan kita berdua .. ingat anak anak Teh, aku mencintai dia Teh .. “ sahut
Teh Ninih dengan membuka pintu kamar, Burhan masih kembali. Kuberikan senyum padanya,
sebelum menutup pintu Teh Ninih memberikan ucapan salam

 “Walaiukum salam Teh Rini . silakan saling mengkontoli dan memekin “ ucap Teh Ninih
dengan nada yang tidak dibuat buat

 “Walaikum salam Teh .. aku siap .. “

 Burhan merasa senang melihat perubahanku yang tersenyum.


 “Kontolmu besar Han, sayaaaang .. tadi aku merasakan hal yang berbeda “ ucapku dengan nada
jorok.
 “Teh Rini kurang jorok .. “ ucap Burhan dengan memelukku erat dan memagut bibirku, kubalas
pagutan itu dengan mesra.
 “Apa yang harus kulakukan agar memuaskanmu sayaaaaaaaaang “ tanyaku padanya.
 “Teh Rini tidak boleh menyebut dirinya dengan nama aku, harus menyebut nama Teh Rini ..
Teh Rini suka kontolmu .. Teh Rini mau dikontoli .. “ buai Burhan dengan melepaskan
pelukanku, dan tangannya nakal mengelus elus memekku yang membasah.

 “Baik sayaang .. Teh Rini pengin mengulum kontolmuu .. tadi belum puas merasakan kontol
besar itu “ sahutku dengan meremas kontol yang sudah ngaceng besar itu.
 Belum sempat Burhan menjawab aku sudah memotongnya

 Akan kulakukan mengelap kontolmu dengan jilbab Teh Rini .. “ ucapku dengan mengibaskan
jilbabku ke muka lelaki nan ganteng ini. Aku mulai kepencut pemuda ini, nafsunya benar benar
kuat, sanggup menghajar Teh Ninih. Aku suka dengan senyumnya itu, sangat membuatku
terpikat. Wajahnya bersih tanpa janggut. Tak sadar sebelum Burhan naik ke ranjang aku
mengucapkan doa

 “Bagus .. itu benar benar betina muslimah .. sebelum kita bersetubuh itu wajib diucapkan Teh ..
jangan pernah sungkan mengucapkan doa itu sebelum Teh Rini dikontoli .. “ ucap Burhan
dengan naik dan duduk di depanku. Aku sampai melotot mendengar kata betina muslimah. Benar
benar lelaki ini lebih vulgar dan jorok dibanding Teh Ninih. Bahkan Teh Ninih berani menyebut
dirinya lonte, hajjah berlonte untuk menggugah gairah birahi.

 “Apa yang kau tunggu Teh .. emut kontolku .. telan air maniku segera .. ayo sayaaaaaaaaaaang “
ajak Burhan. Aku tersenyum padanya, kontol ngaceng itu kupegang, aku membungkuk dan
langsung menjilati kontol itu dengan rakus.

 “Uuuuuuuuuuh .. benaar benaaar nakal Teh Rini ini aaaaaaaaaaaaaauh teruuus Teeeh .. “ erang
Burhan merasakan jilatanku yang rakus naik turun, aku menjilati kontol itu sangat nikmatnya,
Burhan memegang kepalaku untuk membetulkan letak jilbabku itu, selepas itu langsung
meremas pantatku di mana aku mengulum kontolnya dengan menungging. Kurasakan remasan
yang nakal itu, mengorek memekku dengan jarinya. Kujilati kontol pemuda itu sampai di
pangkal kontolnya, habis itu aku menjilati buah zakarnya.

 “Ssssssssssssh .. nikmaaaaaaaaaat Teeeh .. sayaaang .. Teh Rini sayaaaaaaaaaaaaang .. “ ucap


Burhan dengan mata merem melek menikmati nakalku mempermainkan kontolnya, kuremas
kontol itu dan kukocok, aku memandangnya dengan tersenyum padanya

 “Teh Rini memang cantik .. seksi dan mulus .. aku sayang Teh Rini “ sahut Burhan agar
membuatku semakin bergairah

 “Teh Rini juga sayaang padamu .. sayang sama kontolmuu “ sahutku dengan mengedipkan
mataku.
 Habis berkata demikian aku membuka mulutku lebar lebar, aku pengin menikmati kontol itu
dalam mulutku dan kukeluarkan masukan, aku semakijn tenggelam dalam lautan birahi terlarang
ini, dua istri Aa Gym bertekuk lutut pada lelaki ini.
 “Teeeeeeeeeh aaaaaaaaaaaaaah .. Teeh Riniii … hot banget … tubuh Teh Rini memang
segeeeeeeeer .. aku suka sama body montok dirimu Teeeeeeh .. ayo .. sayaaaaaaaaaang sepong
kontolkuuu “ sahut Burhan yang keenakan kontolnya kukeluar masukan dalam mulutku, aku
sangat rakus mempermainkan kontol itu. Aku menyukai gesekan kontol itu dalam mulutku,
kurasakan bau khas kontol yang menyengat menambah gairahku untuk menikmati
perselingkuhanku itu.

 “Aaaaaaaaaaaaaauh ssssssssssssssh sssssssssshh hhh .. teruuuuuuuuus Teeeeeeeeh ..


teruuuuuuuus ,… enaaaaknyaaaa .. Teh Rini tak beda dengan bu Hajjah lonteku itu ………..
aaaaaaaaaaaaaah sssssssssssshh uuuuuuuuuuuuuuh ..mmmmmmmmmmmmhhh “ desis dan
erang Burhan dengan tengadah merasakan kuluman dan permainan lidahku yang semakin
menggila itu.

 Kumainkan lidahku dengan menggoyang goyang kepala kontol itu dalam mulutku, kemudian
aku keluarkan kontol itu, bagian kepala kontol itu aku sepong dengan kuat, Burhan langsung
mengerang keenakan, aku tersenyum merasakan lelaki itu menikmati kuluman, sedotan dan
seponganku, akan kubuktikan aku bisa menyaingi Teh Ninih, pacar Burhan ini.

 “Hhmmmm .. haaaaaaaaaaaah … uuuuuuuuuuuuuuh .. Teh Rini memang piawai mainin


kontol .. ayoo Teh .. kocok lagi .. dikit lagi muncraaaaaaaaat “ ucap Burhan dengan nafas
memburu, matanya menatap ke buah dadaku yang montok itu, aku tersenyum senang dipandangi
dengan penuh nafsu seperti. Seperti Aa Gym ketika pertama kali menyetubuhi aku bilang tidak
tahan kemolekan tubuhku, namun aku harus menutupi semua itu karena aku juga senang dengan
Aa Gym, namun kini kebersamaanku dengan Aa Gym menjadi berbeda, kontol Burhan lebih
besar dari pada Aa Gym, belum lagi Burhan lebih muda dibanding suamiku itu .. andai Aa Gym
semuda Burhan .. aaaaaaaaaah .. aku harus menikmati kenikmatan surgawi ini. Kusingkirkan
dalil dalil yang membuatku sesat. Aku melakukan demi menyenangkan Teh Ninih agar aku bisa
berduaan terus dengan Aa Gym. Tapi kini aku mendapatkan godaan yang tidak bisa kucegah,
aku mulai ketagihan kontol pemuda ini.

 “Jangan munafik Teh .. aku yakin Teh Rini menyukai kontolku bukaaaaaaan ?” kata Burhan
dengan menghembuskan nafasnya panjang. Aku tak menjawab dan langsung kembali
memasukan kontol itu dalam mulutku, kukulum dengan rakus keluar masuk. Luar biasa nikmat
kontol itu, aku sangat beruntung mendapatkan kenikmatan yang sangat beda ini.

 “Ooooooooooooh Teeeeeeeeeh aaaaaaaaaaaaaaaaaaaauh “ lenguh Burhan dengan mata


memejam, kutarik kontol itu keluar dari mulutku dengan kusepong. Barulah aku menjawab
 “Jadikan Teh Rini menjadi lontemu, sayaaaaaaaaaang .. Teh Rini siap menjadi betina
muslimahmuu .. sayaaaaaaaaang .. maafkan Teh Rini yang munafik .. tolong jangan buat
kekerasan padaku .. aku mau bercinta denganmu dengan suka sama suka .. tapi ijinkan aku
menjadi lontemu, menjadi betina muslimah .. aku akan selalu melayani birahimu .. juga
birahiku .. kontolmu membuatku puas .. “ sahutku dengan wajah sedikit malu dengan menunduk.
Burhan menaikan daguku

 “Trim Teh .. Teh Rini kujadikan lonteku .. kau adalah betina muslimahku .. setelah kita puas
bercinta bersama .. kita akan threesome dengan Bu Hajjah Ninih .. “ sahut Burhan dengan
meremas buah dadaku dan mempermainkan puntingku, aku menjadi terangsang, kukocok kontol
itu dengan gemas, tanganku kukatubkan keduanya akan kontol itu bisa kupegang sampai
membulat, habis itu kukocok dengan cepat

 “Woooooooooooooooowwwww ..aaaaaaaaaaaaaaaauh Teeeeeeeeeh .. jangan nafsu gitu


aaaaaaaaaah “ erang Burhan tidak tahan aku mengocoknya dengan liar, kupelan kocokan kedua
tanganku itu, aku tersenyum nakal padanya.

 “Maafin Teh Rini .. maafin betina muslimahmuu ini .. aku tidak akan melakukan lagi “ ucapku
dengan menjilati kontol itu, kemudian kukocok kocok lagi

 Burhan mengerang erang, kontol itu aku masukan lagi dalam mulutku, kali ini aku menikmati
dengan nikmat kontol itu, kusedot, kukulum, kujilati dan kuremas, Burhan sudah menunjukan
tanda tanda menuju puncak pendakian.

 “Yaa aaaaaaauh Teeh aaaaaaaaaauh ssssssssssshh ..enaaaaaak sayaaaaaaaaaang .. ayoo lonteku ..


Teh Rini lonteku sayaaaaaaaaaaang .. betina muslimaaahku .. kau lebih baik dari pada Teh Ninih
“ sahut Burhan dengan menyenderkan punggungnya dengan bantal, aku senang diangap
demikian, aku siap bersaing lagi dengan Teh Ninih memperebutkan perhatiannya, aku pengin
kembali mengkadali Teh Ninih, jika perlu aku akan menyingkirkan Teh Ninih dari Burhan, biar
kunikmati sendiri Burhan. Namun aku terkesiap, pemuda ini ternyata mengetahu apa yang ada
dalam pikiranku

 “Kau tak bisa memonopoli aku seperti Teh Rini memiliki Aa Gym ..uuuuuuuuuu” ucap pemuda
dengan melenguh kemudian, kubiarkan kata kata itu dan kusedot lagi lebih kuat membuat
Burhan mulai tak karuan. Kuluman demi kuluman dan kocokanku dengan gemas membuat
pemuda itu kakinya sudah gemetar.
 “Teeeeeeeeeeeeeeeeeh aaaaaaaaaaaaaaaaaaauh “ erang Burhan untuk kesekian kalinya.
 Aku terus menyedot nyedot ketika Burhan menegang kaku mendapatkan orgasmenya, tubuhnya
menegang kaku, dan teriakan panjang menggema di kamar villa ini

 “Teeeeeeeeeeeeeeeh aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah .. lonteeeeeeeeee kaaaaaauuuuuuuuuu “ erang


Burhan menyebutku lonte, Burhan memuncratkan spermanya masuk ke dalam tenggorokanku.
 “Craaaaaaaaaaaaaaat .. craaaaaaaaaaaaat .. craaaaaaaaaat “ kurasakan sperma Burhan menembak
dalam mulutku

 Burhan berkelonjotan, kulihat banyak sperma meleleh dari bibirku, menetes ke bawah, aku
sampai terpana merasakan sperma itu masuk keluar dari kontolnya. Aku kemudian menjilati
bibirku, kurasakan spermanya sangat gurih, Aa Gym melarangku menelan sperma, namun kini
aku membuktikan menelan sperma sangat nikmat.

 Burhan ngos ngosan di ranjang, sisa sisa sperma ada yang menempel di kontolnya itu, kulepas
jilbabku dan aku kemudian mengelap kontol itu tanpa ragu, Burhan membuka matanya, baru kali
ini Burhan bisa melihat rambutku yang panjang itu. Burhan tersenyum padaku, kubalas
senyuman itu dengan memegang kontol yang kubungkus dengan jilbabku
 “Teh Rini benar benar lonte .. aku cinta betina muslimahku .. sayaaaaaaaaang .. ada hadiah
untuk Teh Rini malam ini .. aku akan memuaskan Teh Rini bak suami istri .. tidak ada kekerasan
lagi, sayaaang .. maukah Teh Rini aku kontoli dan aku hamili ?” tanya Burhan membuatku
terdiam tak bisa menjawab, karena aku takut dicemarkan, akupun menjawab tanpa sadar

 “Teh Rini mau dikontoli dan dihamili “ ucapku ceplas ceplos, namun aku menyadari, kututup
mulutku itu, aku sudah salah bicara.

 “Baik Teh .. kita istirahat dulu .. sebentar lagi aku pengin menghamili Teh Rini .. “ ucap Burhan
dengan tenang, dia tahu kalo aku sangat takut bisa hamil karena hubungan gelap ini, kembali
pemuda itu mendikteku
 “Serahkan diri Teh Rini bulat bulat padaku .. Teh Rini bersedia melakukan apa saja .. asal diberi
kenikmatan .. diewein, dientotin, dikontoli, dispermain dan dihamili .. “ dikte Burhan
membuatku tak berkutik, aku diam sejenak, melawan tak ada gunanya, aku mulai menikmati
persetubuhan sangat nikmat ini, semoga aku tidak hamil, sepulang dari villa aku akan berusaha
mengakali agar tidak hamil dikontoli Burhan.

 Ah .. nikmatnya malam ini berdua dengan pacar Teh Ninih Muthmainah, aku langsung
membuang prasangka jelek, aku akan menghargai Teh Ninih mulai sekarang, jika Teh Ninih mau
membagi keperkasaan pacarnya padaku, masak aku menyingkirkan, aku tidak mau culas lagi.
Terima kasih Teh Ninih, kau telah memberikan kepuasan batiniah padaku lewat pacarmu.
Kutarik jilbab itu karena merasakan kontol Burhan bergerak lagi, kembali ngaceng lagi. Ya
Alloh .. cepat sekali kontol ini berdiri ngaceng. Batinku sambil mengeleng geleng, kemudian
kutatap Burhan dan kuberikan senyum nakalku.

 “Teh Rini menyerahkan bulat bulat padamu, Teh Rini bersumpah menjadi menjadi milikmu
yang harus kau kontoli .. dimanapun aku akan bersedia “ jawabku dengan tersenyum kemudian
memeluk Burhan dan kutindih.

 “Teh Rini sayang kamuuu .. kontoli ya sayaaaaaaaaaaang “ rajukku manja padanya.

 Aku benar benar puas dan ketagihan kontol besar yang telah kuoral itu, kupagut bibir Burhan itu
dan aku menikmati pagutan kami. Tanganku nakal memegang kontolnya, Burhan aku tindih,
Burhan sampai menjerit kecil ketika aku memaksakan masuk kontol itu, namun belum sempat
masuk lebih dalam, Burhan mendorong dadaku, mendorongku sampai rebah telentang, kontol itu
lepas dari memekku, aku kecewa karena pengin sekali lagi diperlakukan sebagai seorang istri.
Burhan menggeleng geleng padaku, aku tidak tahu maksudnya. Dipandangnya tubuhku yang
sudah tanpa busana itu, dari kepalaku sampai turun menuju ke dadaku, ketika mata itu
memandang ke selakanganku, ku buka pahaku untuk merangsangnya

 “Sayaaaaaaaang .. Han sayaaaaaaaaang .. apa yang kurang dari Teh Rini “ kataku parau dan
kubuat mendesah agar lelaki ini semakin terpikat padaku.

 “Aku tak suka Teh Rini tanpa jilbab .. “ sahut Burhan, aku menyadari kesalahanku, kutarik
jilbabku itu.
 Burhan keluar dari ranjang ketika aku memakai jilbabku. Terdengar suara plastik disobek
dengan paksa, aku memandang pemuda itu yang berdiri di samping ranjang, tangannya kini
memegang jilbab warna hijau. Aku tersenyum senang, Burhan menyedikan banyak jilbba,
berwarna warni, kucopot jilbabku. Kuterima jilbab itu dengan tersenyum, sejenak kugenggam
kontol besar itu.

 “Subhanalloh .. kamu tahu juga selera Teh Rini .. “ sahutku dengan memakai jilbab warna hijau
itu.
 “Aku tak sudi mengkontoli betina muslimah tanpa jilbab .. Teh Ninih saja pasti mengerti mauku
“ ledek Burhan padaku.

 “lelaki ini benar benar sangat jorok .. “ batinku berteriak. Namun aku kemudian duduk dan
menarik tangan pemuda itu, aku kemudian langsung menduduki selakangan Burhan, kuletakkan
tanganku di pundaknya, kuberikan senyum mesra padanya.

 “Teh Rini benar nakaaaaaaaal .. aku tak suka sikap Teh Rini memusuhi Teh Ninih .. kalian
betina muslimah harus rukun .. tidak boleh ada yang iri, aku tidak mau dimonopoli oleh kalian
berdua .. jangan sekali kali merebutku dalam Teh Ninih .. dia idamanku .. dialah betina
muslimahkuu yang paling jorok, nakal, tak pernah bosan dikontoli .. “ ujar Burhan dengan
mengelus elus pahaku yang mulus itu, aku merasa terangsang akibat elusan nakal itu.

 “Sayaaaaaaaaang maafin Teh Rini… Teh Rini siap seperti Teh Ninih .. menjadi betina
muslimahmu .. “ sahutku dengan kubuat semesra mungkin, akan kuperlihatkan kenakalan
seorang muslimah, aku mantan model pasti akan tahu gaya bagaimana membuat lelaki bertekuk
lutut padaku. Akan kubuat Burhan terjerat nafsuku, dia sudah berhasil menjeratku, aku kini akan
membalas dengan menjeratnya agar sering mengkontoli aku.
 “Teh .. apa benar Teh Ninih sudah cerai ?” tanya Burhan, aku menatapnya dengan mesra.

 “Maafkan Teh Rini sayaaaaaaaaang .. secara hukum Islam memang sudah bercerai .. tapi itu
belum final .. karena sedang dijajaki kembali bersama .. aaaaaaaaah .. aku tidak perduli itu .. aku
sakit sayaaaaaaang .. aku telah menyakiti Teh Ninih .. Teh Rini akan membayar semua itu
dengan melayanimu dengan segenap jiwa ragaku .. Teh Ninih pengin aku selalu dikontoli
kamu .. Teh Ninih banyak berkorban untukku .. tapi aku begitu serakah .. apa yang Teh Ninih
punya selalu dibagi padaku, rela dimadu, kemudian rela pacarnya dipakai kontolnya oleh Teh
Rini .. aku tidak tahu diri .. aku munafik “ kataku dengan menunduk karena membuka aibku
sendiri dengan lelaki yang baru kukenal namun sudah memberikan kepuasan birahi tiada batas.

 “Pegang janjimu Teh .. sekarang aku pengin menyemburkan spermaku di dalam rahim Teh
Rini .. Teh Rini harus kembali mengoral kontolku .. buat aku jangan sampai orgasme .. aku suka
dengan kuluman dan sepongan Teh Rini ..” ajak Burhan dengan meremas buah dadaku itu, aku
merasakan nikmat, kurasakan benar remasan lembut tangan Burhan itu, aku memejamkan
mataku penuh keenakan sambil merem melek, tangan Burhan sangat piawai bermain di buah
dadaku, susuku diremas dengan pelan pelan memutar
 “Oooh aaaaaaaaaaauh sayaaaaaaaaaang nikmaaaaaaaaaaat .. “ erangku dengan mendongak,
Burhan meremas buah dadaku dengan mencekal ekor jilbab warna hijau itu, benar benar luar
biasa pria idamanku ini.
 “.. sayaaaaaaaaang aaaaaaaaaah .. nakaaaaaaaaaaal nakaaaaaaaaaaaaaal “ ucapku dengan
mengerang merasakan jari Burhan menusuk memekku yang basah itu.

 Aku memiringkan tubuhku ke belakang, tangan itu nakal mempermainkan bukit kembarku
bergantian, diremas remas dengan lembut, aku sampai merinding merasakan kenikmatan itu.
Kini aku menyadari, pacar Teh Ninih ini benar benar bisa memuaskan wanita. Kubuka mataku,
Burhan tersenyum melihatku keenakan memekku dicolek colek keluar masuk

 “Aaaaduuuh sayaaaaaaaaang .. kamu sangaaat nakaaaaaaaal .. teruus sayaaaaaaang enaaaak


aaaaaaaaaah .. aaauuuh .. kalo sejak dulu tahu kamu .. aku nggak bakalan nikah sama Aa Gym,
ssssssssssh sssssssshh hhh “ ucapku dengan mendesis, aku mendesah desah untuk memberikan
kepuasan tiada tara pada lelaki yang sedang merangsangku itu. Kakiku mulai gemetar merasakan
semua itu, berkali kali aku komat kami mengucapkan doa, kupejamkan mataku

 “Kalo komat kamit . mendingan ucapin, kontol ! memek ! kontol ! memek ! kontol ! memek !
kontol ! memek ! “ ucap Burhan sampai membuatku tergangga, aku tersenyum padanya

 “Teh Ninih aja bisaaa .. mosok Teh Rini nggak bisaa “ ejek Burhan, aku benar benar sangat iri
dengan Teh Ninih yang benar benar menjadi wanita idamannya. Berkali kali Burhan mengatakan
Teh Ninih memuaskan dirinya, aku benar benar tersipu malu, aku akan membuktikan bahwa aku
bisa seperti Teh Ninih.
 “kontol ! memek ! kontol ! memek ! kontol ! memek ! kontol ! memek ! kontol ! memek !
kontol ! memek ! kontol ! memek ! kontol ! memek ! “ ucapku dengan nada pelan, namun
kemudian kusambung dengan kata kata lain.

 “Kontoli ! genjotin ! kontolin ! genjotin ! kontolin ! genjotin ! kontolin ! genjotin ! kontolin !


genjotin ! kontolin ! genjotin ! kontolin ! genjotin ! “ kataku berulang ulang merasakan
kenakalan tangan itu, tangan kiri meremas susuku, tangan kanannya mencolek colek memekku
keluar masuk. Benar benar menggairahkan, pengalaman yang luar biasa dalam urusan
bersetubuh.

 “Muncratin ! hamilin ! muncratin ! hamilin ! muncratin ! hamilin ! muncratin ! hamilin !


muncratin ! hamilin ! muncratin ! hamilin ! “ kataku lagi dengan komat kamit namun dengan
suara yang jelas agar Burhan merasa puas akan kenakalanku sebagai seorang betina
muslimahnya yang baru. Aku komat kamit bak berzikir, kurasakan mendapatkan kekuatan baru,
benar benar luar biasa, setan mana yang memberikan kekuatan padaku.

 Burhan kemudian melepaskan remasan di buah dadaku, menarik tanganku untuk memegang
kontolnya, kupegang kontol besar itu. Kukocok dengan pelan pelan untuk memberikan
kenikmatan yang berbeda, aku pengin memberikan kepuasan, bahwa aku bisa lembut atau liar.

 “Teriaklah .. ucapkan kontol dengan keras “ ajak Burhan


 “KOOOOOOOOOOOOONTOOOOOOOOOOL “ teriakku kuat tanpa tertawa, Burhan
tersenyum padaku.
 “Teh Rini benar benar sudah jadi betina muslimah .. ayo lanjutin lemburmu mengocok kontolku
sayaaaaaaang“ sahut Burhan memujiku.

 “Terima kasih, sayaaaaaaaaang .. Teh Rini bangga bisa dikontoli oleh kontol besaaar .. aku isep
ya sayaaaaaaaaang “ ajakku dengan gemas membungkuk, memasukan kontol itu kembali dalam
mulutku, kali ini kulakukan dengan lembut, Burhan tengadah, jilbabku mulai basah lagi. Burhan
menaikan jilbabku yang menganggu aksiku mengulum kontolnya dengan pelan pelan

 “Yaaaaaaa aaaaaaaaaaah Teteh pintaaaaaaar .. betina muslimaaaaaah .. aaaaaauh ayoo Teeeh ..


Teeteeh bisaaaaaaaaa .. “ erang Burhan merasakan lidahku menggoyang dalam mulutku, lidahku
kutekan pada kepala penis, kutekan ke bawah agar kontol itu tertekan

 “Aaaaaaaaaaauh .. lidah nakaaaaaaaaaaal .. Teeeeeeeeeeh Rini .. aaaaaaaaaauh .. aku suka sama


Teh Rini .. kau mulai mengalahkan Teh Ninih .. Hajjah lonteku.. “ sahut Burhan, aku tak percaya
lelaki itu mengucapkan hal itu, aku bisa mulai mengalahkan Teh Ninih dalam memuaskan pria
idamanku ini.

 Kusepong kontol itu dengan pelan, Burhan mendongak merasakan seponganku itu.
 “Aaaaaaaaaauh Teeeeeeh ssssssssssssssh ssssssshhh .. aaaku suka sepongan lontekuuuu .. ayo
Betina muslimaaahku .. lagi .. sepong kontolkuuu lagiiiii “ pinta Burhan dengan merem melek
keenakan aku sepong itu, aku kemudian memasukan kontol itu lagi dalam mulutku, kusepong
dengan sedikit lebih keras.

 “Aaaaaaaaaaaaaaaaaah sayaaaaaaaaaaaaaaaaang .. benaar benaaaaaar lonte Teh Rini …


aaaaaaaaaaauh ssssssssshh .. terima kasih Teeeh .. terima kasih .. aku saayang Teh Rini .. jadilah
lonteku … jadikan betina muslimahku yang sejajar dengan Hajjah Ninih lonteku itu .. “ sahut
Burhan meremas kepalaku yang berjilbab.
 Kutarik kepalaku sedikit ke atas, bibirku penuh dengan air liur, wajahku penuh dengan keringat
birahi.

 “Baik sayaaaaaaaaang .. aku telah berniat buruk ingin merebutmu dari Teh Ninih .. aku khilaf ..
aku bersedia sejajar dengan Teh Ninih untuk dikontoli .. maafkan aku sayaaang .. aku banyak
bersalah pada Teh Ninih .. hati dia memang baik .. banyak memberikan kesempatan padaku
menikmati indahnya dikontoli .. “ sahutku dengan kembali menjilati kontol itu, pelan pelan
kujilati kontol itu naik turun dengan lembut, kusapu batang kontol menjulang tegak ke atas itu,
besarnya memang benar benar membuatku menjadi gila dan ketagihan, benar benar kontol yang
paling nikmat kurasakan.

 Luar biasa Teh Ninih bisa mendapatkan lelaki seperti ini.

 “Terima kasih Teh Ninih .. terima kasih telah menghadiahkan aku kontol yang nikmat “ ucapku
dengan sungguh sungguh, Kini aku merasa tidak dizolimi lagi, malah kurasakan sebaliknya, aku
diberi kenikmatan bersetubuh luar biasa sampai kalbuku tergetar.
 Sepongan demi sepongan itu aku lakukan membuat Burhan semakin nikmat merasakan sedotan
itu dikontolnya

 “Kocok Teeeeeeeeh .. kocooooook .. “ ajak Burhan, aku pun mengocok kontol dengan gemas,
tanganku mulai gemetar karena rasanya nikmat sekali, begitu sangat indahnya kontol itu dalam
kocokanku. Burhan sampai mendesis tak karuan.

 “Sudaaaaaaaaaaaaaaah aaaaaaaaaaaaaaaaah … jilatin .. jilatiin “ rengek Burhan keenakan, aku


pengin tergelak melihat pemuda ini blingsatan akan permainan lidah, bibir dan tanganku di
kontolnya itu.
 Aku kemudian menjilati kontol itu dengan pelan pelan walau tidak pelan amat, lidahku menekan
nekan ke kontolnya, tanganku sendiri kini meremas remas buah zakarnya, luar biasa nikmat apa
yang ada di selakangannya. Kusudahi rangsanganku karena Burhan mencekal kepalaku, menarik
kepalaku kemudian memagut bibirku dengan mesra, kunikmatan pagutan itu mili demi mili. Aku
sampai terhipnotis, pagutan kami akhirnya terlepas secara menimbulkan suara tarikan bibir kami.

 “Sayaaaaaaaaaaaang .. kamu gantian oral memek Teh Rini .. kamu sudah merasakan .. namun
itu terpaksa .. sekarang kamu harus benar benar menikmati memek Teh Rini .. rasakan
sayaaaaaaaaang .. memekku masih oke khan ? “ godaku dengan nakal, aku sendiri juga tidak
tahan untuk segera disetubuhi, dikontoli, dientotin. Aku kemudian merebahkan diri, Burhan
memberikan bantal padaku, setelah aku nyaman bersandar itu, kubuka pahaku lebar, kulihat
memekku sangat basah, lubang memerah akibat sodokan paksa saat aku diperdaya oleh Teh
Ninih dan Burhan, kekasih idamanku yang telah membuatku sangat puas dikontoli.
 Burhan mengelus elus pahaku dengan pelan, aku sampai meriding, kembali aku komat kamit
dengan kata kata

 “kontol ! memek ! kontol ! memek ! kontol ! memek ! kontol ! memek ! kontol ! memek !
kontol ! memek ! kontol ! memek ! kontol ! memek ! “ suara semakin kubuat mendesah
membuat lelaki ini berhenti mengelus elus pahaku yang berisi dan mulus itu.

 “Aku suka desahan Teh Rini sayaaaaaaaaang .. betina muslimahku benar benar luar biasa, tubuh
Teh Rini benar benar montok .. aku suka Teh .. aku suka sama tubuh Teh Rini .. “

 “Iya sayaaaaaaaaaang .. nikmatilah Teh Rini .. “ sahutku dengan menekan kepala Burhan agar
segera menjilati memekku, lidah Burhan langsung tertempel di memekku, menjilati daging
memekku yang memerah itu akan colekan nakal tangan Burhan.

 “Oooooooooouh sayaaaaaaaaaaaaaaaaaaaang .. teruuuuuuuuuuuuus “ erangku merasakan


nikmatnya lidah itu menyelusup ke dalam belahan memekku yang basah, aku benar benar kini
merasakan jilatan nakal, pelan pelan dan tidak bernafsu, aku tengadah ke atas, mataku terpejam
erat merasakan jilatan dan kemudian bibir Burhan ditempelkan, luar biasa nikmat, tanganku
sampai meremas sprei sekuat mungkin.
 “nikmaaaaaaaaaaaaaat “ seruku dengan suara mendesah lagi, kurasakan jilatan demi jilatan itu.

 “Klitorisku sayaaaaaaaaaaang “ ajakku


 “Itiiiiiiiiiiiiil “ sahut Burhan menjilati itilku.
 “Iyaaaaaaaaaaaaa .. itil .. itilku mainin .. jilatin aaaaaaaaaauh ssssssssssssssh ssssssssssshh aakuu
nggaak tahaaaaaaaaaaan ,… jangan lama lamaaaaaaaa .. jangan buat Teh Rini orgasmeeeeeee ..
berikan spermamu dalam rahimkuu sayaaaaaaaaaaaang .. uuuuuuuuuuuh .. “ aku sampai
menggeleng geleng tak karuan, ekor jilbabku berterbangan ke kanan dan kekiri, kadang aku
menggeleng ke atas bawah naik turun merasakan jilatan sangat nakal itu, aku bisa orgasme,
kutahan kepalanya

 “Sudaaaaaaaaaaaaaaah .. nggaaaaaaaak kuaaaaaaaaaaaat “ sergahku agar Burhan tidak


membuatku orgasme lagi.

 “Baik .. lonteku sayaaaaaaaaaaaang “ sahut Burhan dengan meremas buah dadaku pelan,
kumajukan dadaku
 “Saaatnya Teh Rini menumpakin kamu .. belum khan kamu Teh Rini genjot ? rasakan goyangan
ala muslimah, rasakan goyangan betina nakal Teh Rinimu .. Teh Rini pengin menjadi betina
nakalmuuu .. Teh Rini masukin ya sayaaaaaaaaaaaaaaaaang .. sudah nggak tahan pengin
dikontoli lagi “ sahutku dengan tak sabaran memegang kontol itu dan kuarahkan ke memekku
yang jembutnya tak begitu lebat.

 Pelan pelan benda keras daging itu mulai masuk, kepala penisnya membelah lubang memekku,
aku memejam sebentar merasakan kontol itu, terasa beda ketika pertama kali aku dikontoli
dengan paksa, ada rasa nikmat yang berbeda, aku menyukai gesekan itu, menggesek dinding
memekku. Burhan dengan tenang memandangku yang merem melek keenakan. Kontol itu
kutekan dengan selanganku sehingg masuk lebih dalam, benar benar sesak dalam memekku

 “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaauh uuuuuuuuuh .. rasaaanyaaa aaaaaaaaaaaah .. mana tahaaaaaaaan


sayaaaaaaaang .. Teh Rini mana tahaaaaaaaaan tidak dikontoli lagiii ……. uuuuuuuuuuuuuuh “
lenguhku tak karuan merasakan kontol itu masuk lebih separo, kulihat bagian atas memekku
yang menggelembung dimasukin kontol besar.

 Kutarik pelan dan kutekan lagi, sehingga kontol itu lebih dalam, menggesek memekku lagi,
sesak sekali dalam memekku. Gila .. aku yakin memek Teh Ninih juga sempit, namun kontol ini
sanggup masuk ke dalam memek Teh Ninih.

 Kutekan dan kuhujamkan dengan kuat membuat kontol itu membentur jalan buntu disertai
teriakan kami
 “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah “ erang kami berdua, aku sampai
terpejam, kupegang kepalaku, kurapikan jilbabku.

 “Genjot Teh .. genjot ! “ ajak Burhan.


 Aku kemudian menggenjotnya, kurasakan gesekan di dinding memekku luar biasa enaknya,
rasanya dua kali lipat aku merasakan kontol lain, benar benar kontol ini beda, kontol besar keras
itu lancar sekali keluar masuk memekku, aku naik turun dengan penuh kenikmatan, aku hanya
bisa mengerang erang.
 Pantatku diremas remas kedua tangan Burhan, merasakan aku semakin nikmat luar biasa,
kurasakan pantatku itu.
 “Uuuuuuuuuuh enaaaaaaaaaaak sayaaaaaaaaaaaaaang aaaaaaaaduuuuuuuuuuh ssssssssssssh
ssssssssssshh Ooooooooouuhh oooooooooooughhhh .. sayaaaaaaaaang aaaaaaaaaah ..ayoooooo
sayaaaaaaaang .. kamu ikut geraaaaaaaaaaaak “ajakku kepada Burhan yang keenakan dengan
memandangku penuh birahi.
 Genjotan demi genjotan aku lakukan, kedua tanganku merangkul pundak pacarku ini

 “Jadikan Teh Rini pacarmu juga sayaaaaaaaaaang “ pintaku


 “Teh Rini pacarku sekaraaaaaaaaang “ sahut Burhan keenakan.
 “sayaaaaaaaaang terima kasih “ ucapku dengan senang. Kami terus saling berpacu gerakan kami
lebih cepat, kupegang kepalanya kulumat bibirnya, dan kami pun berlumatan dengan saling
menggenjot
 “Sekarang rasakan goyangan betina muslimahmuu ..kamu diam sajaaaaaaaa “ sahutku dengan
menahan kepala Burhan.

 Aku kemudian menggoyang memutar, Burhan sampai melenguh


 “Uuuuuuuuuuuh .. muslimah nakaaaaaaaaal .. benar benar betina kau Teh Rini “ puji Burhan
padaku. Aku terus menggoyang memutar, kemudian kutekan dan kutarik sampai membuat
Burhan merem melek.

 “Rasaain sekaraaaaaaaaang .. aku lebih hebat dibanding Teh Ninih “ ejekku dalm hati,
kurasakan kontol itu lancar sekali masuk memekku, kurasakan aku semakin tidak tahan, kugenjot
naik turun lagi dengan cepat

 “Aaaaaaaaaaauh sayaaaaaaaaaang maaaaaaaaaau klimaaaaaaaaaaaaaaksss” erangku keenakan


dari turun, kini buah dadaku diremas remas, punting susu sebelah kiri diisap oleh Burhan, aku
semakin mendekati puncak, mendekati pendakian.

 Genjotan demi genjotan itu sampai membuatku kehabisan tenaga.


 “Bismillah hirohman nirohim “ ucapku menguatkan diri, kugenjot dengan lebih kuat dan cepat
 “Cepeeeeeeeeeeet aaaaaaaaaaaaah “ erang Burhan tak karuan, aku menggenjot lebih cepat,
kurasakan aku mau memuncak, memekku menjepit kontol itu lebih ketat, hujaman demi hujaman
itu benar benar membuatku sampai ke puncak, aku membusung ke depan, kubenamkan
selakanganku dalam dalam, aku mencapai puncak dengan menegang bak busur panah.

 “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah “ erangku panjang.


 Kurasakan memekku keluar cairan orgasme, aku kemudian berkelonjotan, Burhan kemudian
memiringkan tubuhku, aku sudah lemas tak berdaya. Burhan kemudian menggenjot memekku
dengan menaikan pahaku lebar lebar. Kontol itu keluar masuk dengan cepat dan keras, aku ikut
tergoncang goncang.
 “Aaaaaaah aaaaaaaah aaaaaaaauh aaaaaaaaauh aaaaaaaauh aaaaaaaaaah .. sayaaaaaaaaaang “
lenguhku suara yang hampir habis. Kontol itu terhujam dengan keras pada benaman yang
terakhir Burhan membenamkan dalam dalam kontolnya kemudian menegang dengan kaku
mencapai puncak menyusulku
 “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah “ erang Burhan. kontol itu menyemburkan air maninya
lagi dengan kuat menembak ke rahimku
 ‘Craaaaaaaaaaaaat .. craaaaaaaaaaaat .. craaaaaaaaaaaat .. craaaaaaaat “
 Empat kali kontol itu menyembur, kurasakan lendir kental itu meleleh keluar dari sela sela
memekku yang menjepit kontol yang mulai lembek pelan pelan, kurasakan aku seperti disetrum
luar biasa.
 Burhan terkapar menindihku, kupeluk dan kuhujani dengan ciuman di mana mana. Aku puas
dikontoli olehnya. Kami terdiam dengan pikiran masing masing penuh kepuasan. Kurasakan ku
bersama pria idamanku ini terbang ke awan tinggi, menikmati nikmatny saling bersetubuh
memuaskan.

 Pelan pelan Burhan menggeliat, menarik kontolnya lepas dari memekku, aku tahu apa yang
diinginkan, aku langsung bangun ,walau masih lema. Kulepas jilbabku itu.
 ““kontol ! memek ! kontol ! memek ! kontol ! memek ! kontol ! memek ! kontol ! memek !
kontol ! memek ! kontol ! memek ! kontol ! memek ! “ aku kembali berkomat kamit.

 ““ ucapku menguatkan diri mengelap kontol itu dengan jilbab, Burhan masih terpejam,
kubersihkan kontol itu pelan pelan, sperma kental itu berpindah ke memekku, lendir itu menarik
bagiku, kulap kontolnya yang loyo, aku sampai tersenyum. Kemudian aku mengelap bagian
telurnya dan akhirnya aku mengelap sendiri memekku. Setelah bersih, aku kembali mengelap
kontolnya, lalu kubungkus kontol itu dengan jilbabku.

 “Kau ganti celana dalam dengan jilbab Teh Rini sayaaaaaaaaaang .. “ godaku dengan mesra
 “Maksud Teh Ninih “ tanya Burhan sambil membuka matanya
 “Di villa ini .. kontolmu hanya boleh ditutup dengan jilbab Teh Rini atau Teh Ninih .. “ godaku
membuat Burhan tergelak.
 “Hajjaaaaaaaaaaaaaaaah Lonteeeeeeeeeeeeee … ke sini “ panggil Burhan. Lama tak ada
sahutan.
 “Teh Ninih “ panggilku lagi.
 Tak lama kemudian pintu terbuka, Teh Ninih masuk dengan tersenyum
 “Gimana rasa Teh ?” tanya Teh Ninih padaku.

 “luar biasa nikmatnya .. maafkan aku ya Teh .. aku bersedia menjadi bagian dari kalian .. asal
kita sejajar Teh .. Burhan setuju juga mengkontoli aku besok besok “ ucapku dengan ragu ragu.
 Tidak masalah Teh .. asal kau jangan rebut dia seperti Aa .. “ sahut Teh Ninih dengan sabar
 “Terima kasih Teh .. Teh Ninih memang baik .. “ ucapku dengan tersenyum. Kami terdiam,
kulihat Teh Ninih tersenyum melihat selakangan Burhan terbungkus jilbabku.

 “Teh . “ panggilku parau


 “Ya sayaaaaaaaaaang .. “ jawab Teh Ninih

 “Terima kasih .. telah membawaku ke sini .. kita istirahat dulu .. kita sebagai betina muslimah ..
mari kita layani dia .. dia telah banyak memberikan kepuasan birahi dengan kontolnya .. Aa Gym
belum pernah kita keroyok ..saatnya kita sebagai pacarnya menggeroyok kontol itu .. pasti
nikmat Teh “ ajakku dengan nakal.
 “Siapa takut .. ayo buktikan.. bahwa kita berdua memang muslimah nakaaaal yang doyan kontol
“ ucap Teh Ninih dengan tergelak. Teh Ninih memeluk Burhan yang telentang, akupun juga
rebahan di sebelahnya, Burhan memeluk kami dengan erat
 “Kedua betina muslimahku memang benar benar betina .. kalian berdua memang lonteku,
pacarku, istriku .. bersumpahlah kalian berdua bersama sama menjadi betina muslimahku, bunyi
sumpahnya : kami berdua bersumpah menjadi betina muslimahmu “ ucap Burhan nakal.

 “Kami berdua bersumpah menjadi betina muslimahmu “ sahut kami dengan kompak, kami
kemudian menciumi pipinya, sebelah kanan Teh Ninih menciumi dan aku sebelah kanannya,
tangan kami bersamaan memegang selakangannya, aku terkejut kalo kontol dalam balutan
jilbabku itu sudah ngaceng. Teh Ninih tergelak.

Akhwat Kampus_Ningsih

Kini Ningsih tinggal memakai jilbab yang telah disampirkan ke lehernya, dan kaus kaki putih
yang membuat kakinya semakin seksi dan menggairahkan. Ningsih dengan tubuh berkeringat
dan sperma yang menempel di wajahnya tersadar apa yang akan dilakukan Si gemuk pada
dirinya, ketika dirasanya batang kemaluan Si gemuk mulai menempel di lubang anusnya.
“Jangan Pak, jangan! Ampun Pak, ampun, jangan…” “Aaahkk! Jangaaan!”

Dari sebuah pengajian, seorang dara cantik yang alim, Ningsih, mengendarai motornya pulang
ke kostnya. Jam ditangannya menunjukkan pukul 20.30. untung malam minggu, jadi kostnya
yang berjarak 30menit itu tidak akan dikunci, karena di malam minggu, jam malam di rumah
kostnya adalah jam 22.00. wajahnya yang cantik dan putih terasa sangat kusam karena polusi
yang biarpun malam tetap tinggi. Tubuhnya yang montok terasa lengket. Baju terusan biru tua
dan jilbab lebarnya terasa menyatu di badannya dikarenakan keringat karena memang ia belum
mandi sejak tadi pagi. Gadim alim ayu itu ingin segera pulang, mandi dan tidur.

Di sebuah perempatan yang sepi, lampu lalulintas terlihat berwarna merah. Melihat kekanan kiri,
merasa jalanan sepi, Ningsih memutuskan untuk menerobosnya. Ia ingin segera pulang, den juga
agak takut berada di perempatan sendirian. Tiba2 belum ada 200meter, a merasakan motornya
goyah. Segera ia meminggirkan motornya, dan melihat ban belakang motornya. Yang ia takutkan
terbukti. Ban belakang motornya bocor!! Terpaksa ia menuntun motornya ke tukang tambal ban
terdekat. Belum ada 10 meter ia menuntun, tiba2 sari belakang datang mobil pick up polisi yang
memepetnya. “maaf mbak! Saya tadi lihat anda menerobos lampu merah! Anda harus ikut kami
ke kantor polisi!” kata polisi yang keluar dari mobil kepada Ningsih. Gadis berjilbab itu terpaksa
menuruti perintahnya.

Dibantu oleh polisi tadi, ia menaikkan motornya ke bak belakang pick up, dan duduk di kursi
samping sopir, ikut ke kantor polisi. “cantik2, berjilbab lagi, kokj malam2 masih di jalan, mbak?
Nggak takut diperkosa?” tanya sang polisi. Nampak pandangannya menelusuri setiap lekuk
tubuh Ningsih yang kemontokannya terlihat samar dan justru semakin menggairahkan dibalik
baju terusan panjang dan jilbab lebarnya. Ningsih yang agak risih oleh pandangan polisi itu agak
memutar duduknya agak membelakangi sang sopir, sambil berpura-pura memandang lewat
jendela samping kiri mobil. Justru sang polisi semakin terangsang disodori pantat montok dan
bahenol Ningsih, yang semakin menggairahkan tertutup baju terusannya. “dari pengajian pak…”
kata ningsih pelan. Suaranya yang lembut dan terdengar pasrah semakin membuat kontol polisi
itu berontak. “pengajian apa pengajian….” Kata polisi itu. Ningsih merasa tersinggung dengan
perkataan melecehkan polisi itu, namun tidak berani berbuat apa2.

Waktu itu sudah lewat pukul 9 malam saat mereka berdua sampai di sebuah kantor polisi kecil
yang sepi, dan dalam kantor polisi itu tidak terdapat siapa pun kecuali seorang Sersan yang
bertugas jaga dan Polantas yang membawa Ningsih. Ketika Ningsih masuk, Sersan itu
memandangi tubuh Ningsih dari bawah hingga ke atas, kelihatan sekali ia menyukai Ningsih.
Baju terusan dan jilbab lebar yang dipakai ningsih semakin membuat birahinya meninggi.
Sungguh ia ingin merasakan kelegitan memek seorang gadis alim berjilbab.

“maaf, mbak, bisa minta surat kendaraannya?”tanya sang polantas. Ningsih kebingungan, karena
memang motornya adalah motor “bodong” yang tidak mempunyai surat. “ketinggaan pak…”
katanya lirih, lembut, dan terdengar pasrah. Polantas dan sersan tadi memperhatikannya.
Wajahnya yang putih dan cantik, bibir yang tipis dan terlihat lembut, semakin membuat mereka
konak. “wah, kami nggak bisa ambli resiko mbak. Bisa jadi mbak itu komplotan maling motor.
Mbak bisa masuk ke sel. Hanya sampai kami mengecek kebenaran tentang motor itu. ” ningsih
terkesiap. “Hanya beberapa jam mbak…” kata polantas itu. Matanya masih terus jelalatan
menjelajahi tubuh Ningsih. Ningsih yang sudah panik terpaksa pasrah dan menurut saat sersan
tadi membawanya kedalam sel yang kotor dibagian belakang kantor polisi. Lalu ditinggal
sendirian.

Sepuluh menit kemudian, seorang polisi yang berumur sekitar 40-an dan berbadan gemuk dan
Seorang lagi berpakaian preman yang tinggi besar berbadan hitam, botak, dan umurnya kira-kira
45 tahun masuk ke ruang tahanan. Polisi tadi berkata, “wah, ada gadis cantik nih!! Wajahnya
polos banget!! Menggairahkan!!” si botak menimpali, “pakek jilbab yah? Aku dari dulu pingin
banget ngerasain memeknya cewek berjilbab kayak gini. Katanya legit banget!!” Ningsih sangat
takut mendengar nada bicara mereka, apalagi terus-menerus ditatap oleh mereka berdua.

Si botak keluar, lalu tak berapa lama lagi masuk sambil membawa kunci sel Ningsih, lalu
membuka sel Ningsih dan masuk ke dalam. Ningsih yang ketakutan segera merapatkan tubuhnya
ketembok, seolah berusaha menembus tembok itu dan melarikan diri dari dua olisi bejat itu.
Kepalanya menggeleng2 menolak, dan airmatanya mulai menetes turun ke pipinya yang putih.
“Sekarang denger gadis manis, kalau kamu berkelakuan baik, kami nggak akan nyakitin kamu.
Mengerti!” si gemuk langsung memegangi kedua tangan Ningsih. sementara Si botak mendekap
erat Ningsih dari belakang, menggosok-gosokkan selangkangannya ke pantat Ningsih yang
montok yang mesih terbalut baju terusan. “huuu…huuu… jangaaaan paaaakk…” tangis Ningsih
pecah. Ia berusaha berontak.

Ningsih terus meronta-ronta tanpa hasil, sementara Si gemuk yang tampaknya sudah bosan
dengan perlawanan Ningsih, melemparkan tubuh bahenol yang mesih terbalut baju terusan itu
hingga jatuh telentang ke atas ranjang besi yang ada di sel Ningsih. Dan dengan cepat
diambilnya borgol dan diborgolnya tangan Ningsih ke rangka di atas kepala Ningsih. Secepat
kilat si botak menyibakkan jilbab lebar ningsih dan menyampirkannya menyilang mengelilingi
leher Ningsih, lalu membuka kancing baju terusan Ningsih dari dada atas sampai ke perut, dan
merenggut lepas BH yang dipakai Ningsih. Kini Ningsih menangis sesenggukan sambil terus
memohon untuk dilepaskan. Bagian dada dan perutnya sudah terbuka lebar, memperlihatkan
buah dada besar yang sangat putih, dengan perut yang juga putih menggairahkan. Perlawanannya
tak berarti karena terus dipegangi oleh Si gemuk. “Wow, lihat dadanya.”

Kemudian mereka dengan leluasa menggerayangi tubuh Ningsih. Mereka meremas-remas dan
menarik buah dada gadis alim berjilbab itu, kemudian memilin-milin puting susunya sehingga
sekarang buah dada Ningsih mengeras dan puting susunya mengacung ke atas, terlihat memerah.
Kadang mereka mengigit puting susu Ningsih, sedangkan Ningsih hanya bisa meronta dan
menjerit tak berdaya. Bahkan sesaat terlihat Ningsih menggelinjang, saat lidah kasar si botak
menyapu putingnya. “eeenngghhh……” terdengar lenguhan dari mulutnya. Sungguh ia belum
pernah diperlakukan seperti ini, sehingga tapa sada, birahinya tersulut.

Sebuah pemandangan yang erotis, ironis, namun sangat menggairahkan. Seorang gadis cantik
yang alim, berjilbab lebar dan berbaju longgar yang ia gunakan untuk melindungi dirinya dari
pikiran kotor para lelaki bejat, kini terbaring tak berdaya dengan jilbab tersingkap dan buah dada
serta perut yang terbuka lebar, penuh liur dari dua orang polisi yang memperkosanya. Dari
mulutnya terdengar lenguhan dan desahan birahi yang terdengar semakin meninggi, disela jeritan
dan kata2 penolakan yang seperti dikatakan hanya untuk menjaga kehormatannya.

Kedua polisi itu lalu melepaskan pakaian mereka dan terlihat jelas kedua batang kemaluan
mereka sudah keras dan tegang dan siap untuk memperkosa Ningsih. Si botak mempunyai
batang kemaluan paling tidak sekitar 25 senti, dan Si gemuk mempunyai batang kemaluan yang
lebih besar dan panjang. Ningsih menjerit-jerit minta agar mereka berhenti, tapi kedua polisi itu
tetap mendekatinya. Sungguh gadis cantik berjilbab itu takut, karena selama ini ia tidak pernah
melihat kontol pria sebelumnya, dan saat ia melihat kontol yang sebesar itu, ia takut
membayangkan seperti apa rasa sakit yang akan dideritanya.

“Lebih baik kamu tutup mulut kamu atau kita berdua bisa bikin ini lebih menyakitkan daripada
yang kamu kira.” kata Si botak. “Sekarang mendingan kamu siap-siap buat muasin kita dengan
badan kamu yang bagus itu!” “Dia pasti sempit sekali. Biasanya masih perawan, kalo cewek
berjilbab lebar tuh!”, kata Si gemuk sambil memasukan jari-jarinya ke lubang kemaluan Ningsih.
Ia menggerakkan jarinya keluar masuk, membuat Ningsih menggelinjang kesakitan dan berusaha
melepaskan diri. “Betul kan, masih sempit sekali.”

SEMUA KARYA CIPTAAN INI HANYALAH FIKSI, DAN EDITAN DARI SEBUAH
KARYA YANG BERJUDUL SAMA. TIDAK BERMAKSUD MENYUDUTKAN
GOLONGAN TERTENTU, SEMATA-MATA HANYA ISENG DAN KARENA MENYUKAI
SEMUA JENIS GADIS, JUGA YANG BERJILBAB. (PEN.)

Kemudian Si botak tadi naik ke atas ranjang di antara kedua kaki Ningsih. Baju terusan Ningsih
yang panjang disingkapkan sampai ke perut dengan mudah. Celana dalamnya langsung melorot
dan terbang ke sudut sel dengan cepat. Ningsih semakin takut. Jeritan dan isak tangisnya
semakin keras. Rontaannya semakin intens, namun tak ada apa-apanya dibanding kekuatan
duaorang polisi itu. Kemudian mereka membuka kaki Ningsih lebar-lebar dan Si botak
memasukkan batang kemaluannya ke dalam lubang senggama gadis berjilbab yang masih
perawan itu. Ningsih mengeluarkan jeritan yang keras sekali, ketika perlahan batang kemaluan Si
botak membuka bibir kemaluan, dan masuk senti demi senti tanpa berhenti. Kadang ia menarik
sedikit batang kemaluannya untuk kemudian didorongnya lebih dalam lagi ke lubang kemaluan
Ningsih. Tiba2 ia menghentakkan kontolnya dengan keras, dan Ningsih melolong merasakan ada
yang robek didalam lubang kemaluannya. Terlihat darah segar mengalir sedikit keluar. Si botak
menyeringai. “ternyata beruntung sekali kita kali ini. Dapat perawan, peret, hangat lagi,
memeknya!!”

Sementara itu, Si gemuk naik dan mendekati wajah Ningsih, mengelus-elus wajah cantik gadis
berjilbab itu dengan batang kemaluannya. Mulai dari dahi, pipi kemudian turun ke bibir. Ningsih
menggeleng-gelengkan kepalanya agar tidak bersentuhan dengan batang kemaluan Si gemuk
yang hitam, sambil masih terhentak-hentak karena genjotan kontol si botak di memeknya. “Ayo
dong manis, buka mulut kamu”, kata Si gemuk sambil meletakkan batang kemaluannya di bibir
indah Ningsih. “Kamu belum pernah ngerasain kontol kan? Enak kok…” Ningsih tak bergeming.
“Buka!” bentak Si gemuk. “Buka mulut kamu, brengsek!” sambil menampar pipi putih gadis
berjilbab itu. Perlahan mulut Ningsih terbuka sedikit, dan Si gemuk langsung memasukkan
batang kemaluannya ke dalam mulut gadis cantik berjilbab itu.

Mulut Ningsih terbuka hingga sekitar 6 senti agar semua batang kemaluan Si gemuk bisa masuk
ke dalam mulutnya. Batang kemaluan Si gemuk mulai bergerak keluar masuk di mulut gadis
berjilbab itu, terlihat tidak semua batang kemaluan Si gemuk dapat masuk ke mulut Ningsih,
batang kemaluan Si gemuk terlalu panjang dan besar untuk bisa masuk seluruhnya dalam mulut
Ningsih. Ketika Si gemuk menarik batang kemaluannya terlihat ada cairan yang keluar dari
batang kemaluannya. Julurin lidah kamu!” Ningsih, masih terisak dan terus terhentak-hentak
karena sodokan kontok si botak, membuka mulutnya dan mengeluarkan lidahnya. Si gemuk
kemudian memegang batang kemaluannya dan mengusapkan kepala batang kemaluannya ke
lidah Ningsih, membuat cairan kental yang keluar tadi menempel ke lidah Ningsih.

“San, dia nggak mungkin bisa masukin punya kamu ke mulutnya, biar saya coba. Gantian!”
Mereka kemudian bertukar tempat, Si gemuk sekarang ada di antara kaki Ningsih dan Si botak
berjongkok di dekat wajah Ningsih. Si gemuk mulai mendorong batang kemaluannya masuk ke
liang senggama Ningsih. “eenggghhhh……mmmhhh…..!!” Ningsih mengerang lemah. Terlihat
tubuhnya menggelinjang. Rupanya napsu birahi sudah mulai mendominasai tubuh gadis alim itu.
Jeritannya sudah tidak terdengar lagi, tinggal isak tangis yang tertahan. Terlihat sekali dengan
susah payah batang kemaluan Si gemuk yang besar itu membuka bibir kemaluan Ningsih yang
masih sempit. Si botak, mengacungkan batang kemaluannya ke mulut Ningsih. “Kamu mungkin
nggak bisa masukin punya Si gemuk ke mulut kamu, tapi kamu musti ngerasain punya saya ini,
seluruhnya.” Dengan kasar ia mendorong batang kemaluannya masuk ke mulut Ningsih, sampai
akhirnya batang kemaluan itu masuk seluruhnya hingga sekarang testis Si botak berada di wajah
gadis berjilbab itu. Ia kemudian menarik batang kemaluannya sebentar untuk kemudian
didorongnya kembali masuk ke tenggorokan Ningsih. Setelah lima kali, keluar masuk, Si botak
sudah tidak bisa lagi menahan orgasmenya.
“Saya keluuarrhh. Aaahhh!” Ia tidak menarik batang kemaluannya keluar dari mulut Ningsih,
batang kemaluannya tampak bergetar berejakulasi di tenggorokan Ningsih, menyemprotkan
sperma masuk ke tenggorokannya. Gadis berjilbab itu berusaha menjerit, ketika sperma Si
gemuk mengalir masuk ke perutnya. Terlihat sekali Si gemuk yang sedang mencapai puncak
kenikmatan tidak menyadari Ningsih meronta-ronta berusaha mencari udara.

“Iyya… yaah! Telleeen semuaa! Aaahhh… aahhh… nikhmaattt!” Ketika selesai ia menarik
keluar batang kemaluannya dan Ningsih langsung megap-megap menghirup udara, dan terbatuk-
batuk mengeluarkan sperma yang lengket dan berwarna putih. Ningsih berusaha meludahkan
sperma yang masih ada di mulutnya. Si botak tertawa melihat gadis manis itu terbatuk-batuk,
“Kenapa? Nggak suka rasanya? Tenang aja, besok pagi, kamu pasti sudah terbiasa sama itu!”

Sementara Si gemuk yang masih mengerjai kemaluan Ningsih sekarang malah memegang
pinggul Ningsih dan membalik tubuh Ningsih. Dengan cepat ia melolosi baju terusan Ningsih
tanpa ada perlawanan dari Ningsh yang sudah lemas. Kini Ningsih tinggal memakai jilbab yang
telah disampirkan ke lehernya, dan kaus kaki putih yang membuat kakinya semakin seksi dan
menggairahkan. Ningsih dengan tubuh berkeringat dan sperma yang menempel di wajahnya
tersadar apa yang akan dilakukan Si gemuk pada dirinya, ketika dirasanya batang kemaluan Si
gemuk mulai menempel di lubang anusnya. “Jangan Pak, jangan! Ampun Pak, ampun, jangan…”
“Aaahkk! Jangaaan!” gadis berjilbab itu kembali menjerit-jerit ketika kepala batang kemaluan Si
gemuk berhasil memaksa masuk ke liang anusnya. Wajah Ningsih pucat merasakan sakit yang
amat sangat ketika batang kemaluan Si gemuk mendorong masuk ke liang anusnya yang kecil. Si
gemuk mendengus-dengus berusaha memasukkan batang kemaluannya ke dalam anus Ningsih.
Perlahan, senti demi senti batang kemaluan itu tenggelam masuk ke anus Ningsih. Ningsih terus
menjerit-jerit minta ampun ketika perlahan batang kemaluan Si gemuk masuk seluruhnya ke
anusnya. Akhirnya ketika seluruh batang kemaluan Si gemuk masuk, gadis berjilbab itu hanya
bisa merintih dan mengerang kesakitan merasakan benda besar yang sekarang masuk ke dalam
anusnya.

Si gemuk beristirahat sejenak, sebelum mulai bergerak keluar masuk. Kembali Ningsih menjerit-
jerit. Si gemuk terus bergerak tanpa belas kasihan. Batang kemaluannya bergerak keluar masuk
dengan cepat, membuat testisnya menampar-nampar pantat Ningsih. Si gemuk tidak peduli
mendengar Ningsih berteriak kesakitan dan menjerit minta ampun ketika sodomi itu
berlangsung. Terlihat berulang kali batang kemaluan Si gemuk keluar masuk anus Ningsih tanpa
henti. Akhirnya Si gemuk mencapai orgasme ia menarik batang kemaluannya dan sperma
menyemprot keluar menyembur ke punggung Ningsih, kemudian menyembur ke pantat Ningsih
dan mengalir turun ke pahanya, dan terakhir Si gemuk kembali memasukkan batang
kemaluannya ke anus Ningsih lagi dan menyemprotkan sisa-sisa spermanya ke dalam anus
Ningsih. Si gemuk kemudian melepaskan pegangannya dari pinggul Ningsih dan berdua dengan
Si botak mereka keluar dari sel dan menguncinya. Saya masih dapat mendengar Si gemuk
berkata pada Si botak, “Pantat paling hebat yang pernah ada. Dia bener-bener sempit!”

Dini hari, ketika Ningsih kelelahan menangis dan merintih, mereka berdua dengan langkah
sempoyongan dan dengan botol bir di tangan masuk kembali ke dalam sel Ningsih. Mereka
menendang tubuh Ningsih agar terbangun dan mereka mulai memperkosanya lagi. Sekarang Si
botak menyodomi gadis berjilbab yang sudah kelelahan itu sementara Si gemuk berbaring di
bawah Ningsih dan memasukkan batang kemaluannya ke dalam kemaluan gadis alim itu.
Kemudian mereka berganti posisi. Mereka juga menyiksa Ningsih dengan memasukkan botol bir
ke dalam liang kemaluan dan anusnya sementara batang kemaluan mereka dimasukkan ke mulut
Ningsih. Mereka terus berganti posisi dan Ningsih terus menerus menjerit dan menjerit hingga
akhirnya ia kelelahan dan tak sadarkan diri. Melihat itu polisi-polisi tersebut hanya tertawa
terbahak-bahak meninggalkan tubuh Ningsih yang memar-memar dan belepotan sperma dan bir.

Keesokan paginya, Si gemuk masuk dan membuka sel Ningsih. “Kamu boleh pergi.” Gadis
berjilbab itu segera mengenakan pakaiannya. Tubuhnya lemah lunglai berbau bir dan sperma-
sperma kering masih menempel di tubuhnya. Ningsih pergi dari kantor polisi itu dan akhirnya
sampai ke rumah kost ningsih dan kembali menangis sejadi2nya.

######################################

ketika puncak birahinya datang, si Abang ini naik merangsek dan menindih kembali tubuh
Ningsih. Ningsih rasakan kontolnya mulai menggosok-gosok paha dan selangkangan Ningsih.
Ningsih sudah benar-benar terbius. Dorongan nafsu birahi Ningsih sudah berada di ambangnya.
Ningsih sudah tak mampu lagi menahannya. Kini desah, rintih, jerit tertahan keluar dari mulut
Ningsih dan memenuhi kamar kost sempit gadis berjilbab itu.

Sore hari, Ningsih terbangun dari tidurnya. Tubuhnya masih terasa lemas setelah diperkosa para
polisi bejat dari malam sampai pagi harinya. Saat ia merasakan selangkangannya sakit, ningsih
kembali menangis. Ia menangis bukan hanya karena rasa sakit dan marah terhadap para
pemerkosanya, tapi juga marah pada dirinya sendiri, mengapa juga turut menikmati perkosaan
itu. Segera ia keluar kamar dan bergegas mandi. Ia berusaha membasuh perasaan kotor yang ia
rasakan. Semua noda sperma terasa masih lengket pada tubuhnya.

Setelah mandi, Ningsih bergegas berpakaian. Perasaan capek yang ia rasakan sudah sedikit
berkurang. Ia memakai baju panjang coklat muda dan rok yang juga sama, dengan jilbab putih
lebar yang manis. Wajahnya yang putih mulus berhidung mancung terlihat semakin cantik.
Rautnya yang lesu karena masih terbayang perkosaan semalam tidak menghilangkan kecantikan
wajahnya.

Sore itu rumah kostnya sepi. Tidak ada penghuni kost yang lain, karena sore itu kebanyakan
semua penghuni kost sedang kuliah, atau ngaji atau pergi cari makan sore. Ningsih yang
sendirian tidak mengatakan apa yang terjadi pada mereka. Ia merasa sangat malu.

Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu depan rumah kost itu. Ningsih terkejut. Trauma perkosaan
yang ia alami membuatnya paranoid. Namun segera ia berpikir, tak mungkin para polisi bajingan
pemerkosa itu berani datang kekostnya. Segera Ningsih beranjak bangun dari tempat tidurnya,
menghapus butiran air mata yang tergenang di matanya dan bergegas beranjak membuka pintu
depan.
Seorang laki-laki separuh baya berdiri didepan pintu. I amenyeringai lebar. Dilihat dari tubuhnya
yang kekar dan celana cekak yang ia pakai serta tubuhnya yang hitam, sepertinya orang tua itu
adalah seorang tukang becak.

“boleh saya masuk, neng? Tanya tukang becak itu. Tanpa menunggu jawaban, sang tukang becak
itu langsung masuk kedalam rumah kost Ningsih, dan menutup pintu depan. N ingsih yang
etrkejut tak mampu berbuat apa-apa.

“mau apa, Bang?” tanya Ningsih gelagapan. Melihat orang tua yang kekar dan hitam itu, trauma
Ningsih kembali membayanginya.

“mau ngembalikan ini, neng, dua polisi ngasih ke saya. Katanya saya suruh minta upah sama
eneng…” kata pak becak itu, masih dengan menyeringai, sambil mengulurkan sebuah dompet.
Ningsih segera mengebnalinya. It udompetnya yang tertinggal di kantor poisi, ketika para polisi
bajingan itu menikmati tubuh sintalnya.

“terima kasih bang…” jawab Ningsih sembari mengulurkan tangan, hendak mengambil dompet
yang diulurkan sang tukang becak tadi. Tapi serta merta sang tukang becak menyambar dan
menggenggam erat tangan putih halus gadis manis berjilbab itu sambil masih menyeringai.
Ningsih semakin ketakutan.

“eneng cantik banget neng… bahenol pula neng… pake baju longgar ma jilbab kayak gni juga
tetep keliatan cantik dan bahenol neng… pantes polisi2 tadi ketagihan neng… abang juga mau
neng… kata polisi2 tadi minta upahnya jangan pake uang, tapi pake memek aja neng…” kata
tukang becak tadi, bagaikan petir menyambar di siang jari di benak Ningsih. Segera ia berusaha
melepas tangannya. Namun cengkeraman sang tukang becak terlampau kencang.

“jangan baaang….ntar saya kasih uang, baaaang…” kata ningsih memelas. Sang tukang becak
malah semakin erat menggenggam tangan Ningsih dan dengan tangan yang lain, ia
memelorotkan celana cekaknya, memperlihatkan kontol yang besar dan hitam, sudah mengacung
tegak berkilat.

“ayo neeng… katanya polisi2 tadi eneng seneng… abang pingin dielus pake tangan mulus
eneng.. kontol abang pengen digesekkan ke pipi putih eneng… abang pengen nggenjot memek
eneng… kontol abang pengen ngerasain memeknya cewek yang pakek jilbab gedhe kaak eneng..
ayo neeeeng…” kata pak becak itu, membuat Ningsih semakin syok. Ia tak mampu berkata apa2.
Ketakutannya membuatnya tak mampu bergerak dan berkata-kata. Selain itu ia juga kaget,
bagaimana mungkin apra polisi yang memperkosanya tadi malam tau kalo Ningsih juga
terhanyut dan menikmati iperkosaan atas dirinya. gadis manis

“Nggak, Bang.. Cukup. Jangaaan… Sudah tinggalkan saya.. Tinggalkan rumah ini,” kata Ningsih
panik, cemas, takut dan rasanya pengin nangis atau minta tolong tetangga.

Tetapi semuanya itu langsung musnah ketika tanpa terasa tangan Ningsih yang telah berada
dalam genggaman tukang becak itu ditarik dan disentuhkan dan digenggamkan ke batang
kemaluannya yang kini telah bangkit membusung, dengan sepenuh liku ototnya, dengan
semengkilat bening kepalanya, dengan searoma lelaki yang menerpa dan menusuk sanubari
Ningsih.

“Lihat dulu, neng.. Jangan takut.. Aku nggak akan merugikan eneng, koq. Eneng ntar pasti
keenakan deh neeng…” ucap bisik getar-nya begitu terdengar penuh pengalaman dan sangat
menyihir. Dan Ningsih benar-benar menjadi korban tangkapan yang bak rusa kecil dalam
terkaman singa pemangsanya. Terasa desiran birahi didalam benak gadis berjilbab itu.

“Lihat dulu neng…” sekali lagi diucapkannya.

Kali ini dengan tangannya sambil meraih kemudian menekan bahu Ningsih yang tertutup jilbab
untuk bergerak merunduk atau jongkok. Tanpa perlawanan berarti dari Ningsih, gadis berjilbab
itu berjongkok. Dan langsung didepan wajah gadis alim berjilbab itu telah terlihat mengacung
kontol besar dan hitam milik pak tukang becak.

Ini bukan saja pesona. Ini merupakan sensasi bagi Ningsih, seorang gadis alim santun yang
berjilbab itu. Kini Ningsih bergetar. Dengan jantung Ningsih yang berdegup-degup memukul-
mukul dada mata Ningsih nanar menatap kemaluan tukang becak itu. Kesakitan namun juga
kenikmatan yang ia rasakan tadi malam terbersit lagi didalam pikiran sang gadis alim. Gelora
orgasme yang berkali2 ia capai juga kembali terbayang. apalagi dengan kemaluan besar hitam
keras nampak sangat ‘ngaceng’ bak laras meriam yang lobangnya mengarah ke wajah Ningsih.
Ningsih langsung lumpuh dan luluh, karena syok, namun juga karena gelora birahi yang kembali
membuncah. Demikianlah pula saat Ningsih saksikan ujung meriam itu mendekat, mendekat,
mendekat hingga menyentuh pipi Ningsih , hidung Ningsih dan bibir Ningsih. Sang tukang
becak memegangi belakang kepala ningsih yang tertutup jilbab dengan satu tangan, dan
menggesek-gesekkan kontolnya ke wajah ningsih yang putih mulus dengan tangan yang lain.
Gadis berjilbab itu mulai mendesah-desah. Matanya mulai sayu. Tidak terdengar lagi katak2
penolakan. Kontol hitam sang tukang becak terus dielus-eluskan ke pipi, bibir, dan hidung
Ningsih yang putih.

“Jilat, neng, isep. Isep kontol saya , neng. saya ingin merasakan bibir neng jilbab yang sangat
cantik ini. saya ingin merasakan isepan mulut neng” kata-kata kotor pak tukang becak seperti
bensin yang semakin membakar birahi ningsih. Pelan-pelan pak becak itu menggesek-gesekkan
kontolnya ke mulut tipis sang gadis berjilbab itu.

Tangan kanannya menekan kepala Ningsih dan tangan kirinya pelan-elan memasukkan
kontolnya ke mulut Ningsih. Bagaimana Ningsih mampu mengelak sementara Ningsih sendiri
serasa lumpuh. Gads sopang yang berjilbab lebar itu merasakan ada asin-asin di lidahnya.
Ningsih tersadar. Ningsih jadi sepenuhnya sadar namun segalanya tengah berlangsung. Ningsih
tak mampu menghindar, baik dari kekuatan fisik Ningsih maupun dari tekad yang dikuasai rasa
bimbang. Ningsih ingin meronta, namun ketakutan dan syok mengalahkannya. Birahi juga.
Nampak pemandangan yang menggairahkan, dmania seorang gadis cantik berjilbab lebar
berjongkok sambil mengulum kontol hitam seorang tukang becak.

Tidak lama. Mungkin baru berlangsung sekitar 1 atau 2 menit saat kontol itu terasa semakin
mengeras dan memanas. Mulut Ningsih penuh dijejali bongkol kepalanya yang menebar rasa
asin itu. Sambil berdiri mengangkangi Ningsih yang jongkok di depannya si Abang dengan
sangat kuat mencegkeram kepala gadis berjilbab itu dan menggoyangkan pinggulnya mendorong
dan menarik kontolnya ke mulut Ningsih. Lagi, lagi, lagi. Hal itu membuat gadis berjilbab itu
tersedak-sedak. Rasanya ujung kontol itu telah merangsek maju mundur ke gerbang tenggorokan
Ningsih.

Kedutan-kedutan besar yang disertai semprotan-semprotan lendir kental yang hangat penuh
muncrat ke haribaan mulut Ningsih. Gadis berjilbab itu tahu persis, sama seperti tadi malam, si
Abang telah menumpahkan air maninya ke mulut Ningsih. Dan kemudian yang tak Ningsih duga
sebelumnya adalah saat dia memencet hidung Ningsih hingga dengan ngap-ngapan gadis
berjilbab itu terpaksa menelan tuntas seluruh cairan kentalnya dan membasahi tenggorokan
Ningsih.

Sepertinya Ningsih minum dan makan kelapa muda yang sangat muda. Lendirnya itu demikian
lembut memenuhi mulut untuk Ningsih kunyahi dan terpaksa menelannya. Gadis berjilbab itu
semakin syok, dan sudah tak mampu berbuat apa-apa. Ia hendak muntah, namun sang tukang
becak mencengkeram mulutnya dan menariknya keatas, sehingga ia tak bisa muntah.

Gadis berjilbab yang cantik dan bahenol itu masih tertegun dan setengah bengong oleh rasa yang
memenuhi rongga mulutnya saat sang tukang becak menggelandang ke kamar tidur Ningsih yang
pintunya terbuka. Dengan tenaga kelelakiannya dia angkat dan baringkan tubuh Ningsih ke
ranjang. Entah kekuatan apa, Ningsih tak mampu mengelakkan apa yang si Abang ini perbuat
pada Ningsih. Dia lepasi rok panjang Ningsih. Dia tarik hingga robek baju Ningsih.

Dia renggut BH- Ningsih seketika hingga Ningsih juga yakin kancing-kancingnya lepas. Dan tak
ayal pula di renggut celana dalam Ningsih. Dia ciumi celana itu sambil menebar senyuman birahi
dari gelora syahwatnya yang sedang terbakar berkobar. Kemudian rebah menindih tubuh
telanjang gadis berjilbab itu yang sangat bahenol dan menggairahkan.

“Neng, biar abang buat neng ketagihan yaa.. Nikmati kontolku neng. Enak lhooo. Para lonte
yang kukencani saja pada ketagihan…” begitu suara orang yang dilanda prahara birahi sambil
tangannya meremasi pinggul kemudian bokong Ningsih yang montok sementara bibirnya yang
demikian tak terawat nyosor untuk melumat bibir Ningsih. Gadis berjilbab itu berusaha
menolaknya. Rasa jijik dan enggan menderanya.

Namun sasaran berikutnya benar-benar membuat Ningsih menyerah. Dia ‘kemot-kemot’ pentil
susu Ningsih. Dia gigiti dagingnya. Entah berapa lama dia isepin dan tinggalkan cupang-cupang
kotor pada seluru bidang dada Ningsih , leher Ningsih , bahu Ningsih , ketiak Ningsih.
Kemudian juga turun keperut, ke selangkangan, ke paha Ningsih. Semua itu membuat gadis
berjilbab itu merem melek keenakan. Ia menyadari bahwa saat itu ia sedang diperkosa, namun ia
tak mampu menolak rasa nikmat yang idarasakan.

Dan ketika puncak birahinya datang, si Abang ini naik merangsek dan menindih kembali tubuh
Ningsih. Ningsih rasakan kontolnya mulai menggosok-gosok paha dan selangkangan Ningsih.
Ningsih sudah benar-benar terbius. Dorongan nafsu birahi Ningsih sudah berada di ambangnya.
Ningsih sudah tak mampu lagi menahannya. Kini desah, rintih, jerit tertahan keluar dari mulut
Ningsih dan memenuhi kamar kost sempit gadis berjilbab itu.

“Tolonng baang.. Ayoo, Bang.. Aku sudah nggak tahaann.. Toloong.. Enak bangeett baang..
Ningsih mau kontol abaang.. Biar Ningsih kulum lagi nanti yaa…” kata2 kotor yang keluar dari
bibir seorang gadis berjilbab itu membuat sang tukang becak semakin terbakar nafsunya. Segera
ia menuntun kontol besarnya untuik menembusi kemaluan Ningsih yang sudah sangat
menantinya.

Masih dalam upaya penetrasi, dimana ujung kontol dahsyat itu sedang menerpa-terpa bibir
kemaluan Ningsih ketika gadis berjilbab itu meraih orgasme pertamanya. Ningsih menjerit dan
mendesah tertahan. Gadis berjilbab itu sudah dikuasai nafsu syahwat. Ningsih rajam pundak si
Abang dengan cakar Ningsih. Ningsih hunjamkan kuku Ningsih ke dagingnya. Rasanya
kemaluan Ningsih demikian mencengkeram untuk mempersempit kepala kemaluan itu
menembusinya. Namun rasa gatal ini sangat dahsyat. Si Abang cepat menerkam bibir Ningsih
sambil mendesakkan kontolnya dengan kuat ke lubang sempit gadis berjilbab itu.

Begitu blezz.. Ningsih langsung diterpa orgasme kedua Ningsih, Hanya selang 10 detik gadfis
berjilbab itu mendapatkan kembali orgasmenya.

Ternyata memang inilah. Dalam hujan keringat yang menderas dari tubuh Ningsih dan tubuhnya
selama 2 jam hingga jam 6 sore, gadis berjilbab itu mendapatkan orgasme beruntun Ningsih
hingga sekitar 10 atau 12 kali. Ningsih tak mungkin melupakan kenikmatan macam ini.
Kenikmatan ketika memeknya digenjot sebuah kontol besar dan hitam milik pak tukang becak.
Saat semuanya berakhir, dan sang tukang becak menumpahkan tets maninya yang terakhir
didalam memek Ningsih, ningsih tertidur lelap, dengan perasaan yang campur aduk antara
marah, benci, menyesal, namun juga puas yang teramat sangat.

#########################################

… Lalu pelan tukang becak itu mulai mengocok kontolnya pelan. Tubuh mereka bergoyang-
goyang, juga meja. Keringat muai membasahi tubuh sintal ningsih yang alim. Sambil
menggoyang, tukang becak itu memegang paha Ningsih dan sambil menjilati payudaranya yang
terguncang-guncang. Tangan Ningsih menumpu ke belakang. Tubuhnnya terguncang-guncang
oleh goyangan pantat tukang becak itu di selangkangannya. Gadis alim itu mendesah-desah …

Bangun dari tidurnya pukul sepuluh malam, Ningsih sudah tidak melihat keberadaan tukang
becak bajingan itu dikamarnya. Dengan isak tangis yang amsih tersisa, gadis berjilbab itu
memakai daster longgar dan jilbabnya,  melangkah gontai keluar dari kamar, menuju kamar
mandi. Suasana di rumah kostnya telah sepi, menunjukkan semuanya sudah tidur. Masuk di
kamar mandi, kembali Ningsih menangis, gadis aim yang cantik berjilbab lebar itu tidak
menegrti, mengapa ia menjadi obyek perkosaan para lelaki bejat. Saat ia masih terus meratapi
nasibnya, tiba tiba ada tangan yang merengkuhnya dari belakang. Ternyata gadis berjilbab itu
lupa menutup pintu kamar mandi, dan tukang becak bajingan itu belum pergi. Ningsih kembali
terisak dan berusaha meronta, namun rontaannya yang telah lemah sudah tidak mampu
menandingi gairah tukang becak itu yang kembali terbakar. tukang becak itu menciumi tengkuk
Ningsih dan tangannya memeluk dan sepertinya meremas payudara Ningsih dari luar bajunya.
Ningsih hanya kembali bisa pasrah dan menangis.

Tukang becak it umenyibakkan jilbab ningsih kepundak, dan langsung merenggut lepas kancing2
daster ningsih, lalu menurunkan daster ningsih hingga pundak dan tengkuk putih bersih gadis
cantik berjilbab itu terlihat, dan mulai menciuminya. terdengar suara kecupan-kecupan tukang
becak itu di leher dan tengkuk Ningsih. Lalu tukang becak itu membalik Ningsih dan menciumi
bibir gadis alim itu dengan liar. Gadis alim itu tak bisa melakukan apa2 dan hanya bisa pasrah.
Bahkan birahinya kembali tersulut, dan tanpa sada, gadis berjilbab itu membalas ciuman tukang
becak jahanam itu. Tangan tukang becak itu meremas kedua belah payudara Ningsih yang hanya
memakai daster. Desahan nikmat gadis berjilbab itu mulai terdengar.

Mereka terus berciuman, tukang becak itu menciumi pangkal leher Ningsih sambil tangannya
masuk ke selangkangan Ningsih yang dasternya diangkat keatas. Lalu tukang becak itu menarik
daster Ningsih ke bawah hingga nampak payudara putih gadis alim itu menggantung dan
langsung dilahap tukang becak itu. Putingnya dijilat dan dihisap membuat Ningsih
menggelinjang kegelian. Mulutnya mendesah-desah semakin keras sementara tangannya refleks
meremas rambut tukang becak itu yang semkain ganas manciumi perut Ningsih dan terus turun
ke selangkangannya. Tukang becak itu melahap memek gadis berjilbab yang alim itu sambil
tangannya meremas payudaranya. Ningsih mulai mengerang-erang penuh kenikmatan.

Tukang becak itu menarik semua daster dari tubuh Ningsih sehingga ningsih yang pasrah itu kini
hanya memakai jilbab putih kausnya yang tersingkap. Tukang becak itu lalu membimbing
Ningsih keluar dari kamar mandi menuju dapur didekatnya. Tukang becak itu menaikkan tubuh
gadis berjilbab yang sudah pasrah itu ke meja dapur, lalu mengangkangkan kaki ningsih yang
putih bersih. Ia sendiri kembali membuka celana yang dipakainya, menunjukkan kontolnya yang
hitam besar. Ningsih menggingit bibir dan memegang pundak tukang becak itu waktu tukang
becak itu mendekat dan mencoba menusukkan kontolnya ke memek Ningsih yang kakinya
mengangkang. Gadis berjilbab itu masih merasa takut walau juga ingin kembali menikmati
kenikmatan yang sudah ia dapatkan sebelumnya.

Lalu pelan tukang becak itu mulai mengocok kontolnya pelan. Tubuh mereka bergoyang-
goyang, juga meja. Keringat muai membasahi tubuh sintal ningsih yang alim. Sambil
menggoyang, tukang becak itu memegang paha Ningsih dan sambil menjilati payudaranya yang
terguncang-guncang. Tangan Ningsih menumpu ke belakang. Tubuhnnya terguncang-guncang
oleh goyangan pantat tukang becak itu di selangkangannya. Gadis alim itu mendesah-desah.

Lalu tiba-tiba kaki Ningsih memeluk tubuh tukang becak itu yang terus menggoyang-goyang,
Ningsih memeluk tukang becak itu dan tukang becak itu sepertinya tahu kalau Ningsih mau
orgasme, lalu dia menghentikan kocokannya dan menciumi bibir gadis alim itu pelan. Lalu
tukang becak itu menggendong tubuh Ningsih dan membawanya ke ruang tamu.

Tukang becak itu lalu duduk di sofa dan menaruh Ningsih dipangkuannya.Gadis alim itu kembali
mendesah keras waktu kontol tukang becak itu masuk ke memek Ningsih. Gadis berjilbab I tu
sudah benar-benar pasrah sehingga ia sudah tidak memberontak lagi.
Dengan posisi saling berhadap-hadapan, pak becak itu mulai menggoyang2kan pantat Ningsih
maju mundur, lalu setelab beberapa lama, Ningsih mulai menggoyangkan pantatnya sendiri.
Sang tukang becak itu menambahinya dengan menjilati payudara ningsih yang putih bersih dan
montok. Tangan Ningsih menumpu pada pegangan sofa, tukang becak itu memegani punggung
Ningsih dan mengusap-usapnya. Gadis berjilbab itu terus mengocok memeknya di kontol tukang
becak itu sambil melenguh dan mengerang. Goyangan Ningsih semakin kecang dan membuat
tukang becak itu melenguh keras dan menggigit payudara putih gadis berjilbab itu yang tepat
dihadapannya. Sang gadil alim yang biasanya santun dan menjaga kehormatannya kini terlarut
dalam gairah birahi bersama seorang tukang becak dengan kontol hitam.

Lalu tubuh Ningsih mengejang dan dia menjerit tertahan, terhentak2 beberapa kali, lalu
kocokannya berhenti. Ternyata dia sudah orgasme. Tapi tukang becak itu belum. Tukang becak
itu lalu mengangkat tubuh Ningsih dan mendudukkan sang gadis alim yang sudah pasrah itu
disampingnya. Tukang becak itu mendorong kepala Ningsih dan memaksanya mengulum kontol
tukang becak itu yang masih tegak. Tukang becak itu mengangkangkan kakinya.

Awalnya agak canggung, namun karena birahi, Ningsih mulai menjilati kontol tukang becak itu
yang masih menjulang. Lidah Ningsih terlihat menjilati buah peler tukang becak itu dan
menghisap-hisapnya, tangan kanannya meraba-raba buah pelir tukang becak itu yang mengerang
erang dengan mata terpejam. Pelan Ningsih terus menjilati kepala kontol tukang becak itu, lalu
memasukkannya ke mulut pelan, dihisap lalu dikocok-kocok dengan mulutnya. Tukang becak itu
meracau tak karuan dan mendesis-desis.

Belum sampai keluar, tukang becak itu mengendong tubuh Ningsih yang sudah lunglai dan
membawanya ke kamar mandi sambil terus mengemot-emot payudara putih gadis berjilbab lebar
itu. Di kamar mandi, dibawah guyuran shower, kembali sang tukang becak memperkosa Ningsih
dengan berdiri. Kocokan2 kontol besar di memek gadis alim itu membuatnya mengerang2 hebat
dan orgasme berkali2, sebelum kemudian sang tukang becak menyemprotkan air maninya ke
memek Ningsih, dan meninggalkannya terlentang pasrah di lantai kamar mandi yang dingin.

########################################

… Sesampainya di depan mobil, ia menidurkan Ningsih diatas kap mobil, kemudian mengangkat
kedua kaki putih Ningsih ke pundaknya dan merapatkan paha putih gadis berjilbab itu.
Tempatnya yang sepi namun terbuka menimbulkan sensasi tersendiri bagi mereka berdua.

“Ahh.. aauuughhh…paaakkghhh.. Ennakk.. mmmhhh.. HH..”…

Sudah dua hari sejak Ningsih diperkosa oleh tukang becak dekat rumah itu. Tidak ada gelagat
tukang becak itu akan kembali. Tukang becak itu, yang ternyata bernama Marno, kabarnya
pulang ke kampung haaman karena anaknya dihamili orang. Ningsih lega, karena tidak perlu
takut diperkosa lagi, namun diam-ddiam ia juga mulai merindukan kontol laki-laki. Setelah
perkosaan berturutan yang ia rasakan, gadis alim berjilbab yang cantik itu ternyata kini mulai
ketagihan digauli.
Ketika Ningsih sedang kuliah, gairah itu datang lagi. Ningsih minta ijin untuk ke toilet. Di toilet,
gadis alim itu segera menarik keatas baju terusan biru langitnya dan menyampirkan kepundak
jilbab putihnya. Segera ia jongkok dan mulai mengelus-elus memeknya sendiri. Desahan-
desahannya mulai terdengar. Gadis alim itu terus bermasturbasi memuaskan gairahnya yang
menggebu-gebu. Ia merasa bersalah, namun tidak bisa menahan gairahnya. Tangannya bergerak
semakin cepat, dan diakhiri oleh erangan tertahan dan goncangan hebat tubuh sintalnya. Cairan
cintanya menyembur keluar, menyemprot membasahi lantai kamar mandi kampus. Orgasme
yang ia rasakan begitu kuat, sehingga gadis berjilbab itu tidak menyadari ada dua pasang mata
yang mendengar desahan dan erangannya dan mengintip perbuatannya. Bahkan salah satunya
mengeluarkan HP berkamera dan mengambil gambar gadis berjilbab yang sedang orgasme itu.
Setelah selelsai bermasturbasi, sambil terengah-engah Ningsih merapikan bajunya dan bergegas
kembali ke kelas.

Saat kelas bubar, tiba-tiba ia mendapat telepon di Hnya. Ia angkat, dan terdengar suara yang
pernah ia dengar, namun ia lupa. “ningsih ya?” tanya suara itu. “iya. Siapa ini?” tanya ningsih.
“kamu sudah lupa aku? Heheheh… yang pernah memberimu kenikmatan di kantor polisi itu?”
kata suara itu, seolah petir di siang bolong bagi ningsih. “Kmu mau apa?!” tanya ningsih. Dia
sudah mulai ketakutan, manun juga merasakan birahinya naik. “jangan banyak tanya. Nanti ada
mobil sedan starlet hitam mmenunggumu di luar kampus. Kamu masuk, ikut bersama kami,
bersenang-senang. Hehehehe… jangan melawan, kami punya foto0fotomu yang lagi main sama
kami. Heheheh…” lalu telepon itu diputus. Ningsih semakin takut, namun apa daya, ia juga takut
jika bajingan2 itu menyebarkan foto2nya.

sore itu, Ningsih keluar kampus. Terlihat di seberang jalan didepan kampusnya, sudah ada mobil
sedan starlet hitam. Ningsih segera menghampirinya. Pintu samping supir terbuka, dan terlihat
polisi botak yang dulu memperkosanya. “mau apa?” tanya Ningsih. “aku rindu memekmu, nona
manis berjilbab… hueheheheh… ayo naik, kita akan bersenang-senang.” Ningsih tidak
mempunyai pilihan lain selain masuk dan meletakkan badan Ningsih dijok mobil sedan starlet
hitam si botak yang empuk. Sebelum berangkat, si botak sempat mengulurkan tangan. “dulu kita
belum berkenalan, bukan?” katanya sambil menyeringai. “heru.” Katanya lagi. Ningsih tidak
menyambut, namun malah melengos. “dengar. Kalau kamu tidak patuh, aku tidak segan
menembakmu, dan lagi, foto-fotomu akan kami sebarkan.” Kata Heru, polisi botak itu seram.
Ningsih ketakutan dan pelan menyambut tangan Heru, bersalaman. Heru tiba-tiba menarik
tangan Ningsih. “aku rindu bibirmu, nona cantik…” dan langsung menciumi bibir Ningsih.
Gadis alim itu hanya diam pasrah saat Heru mencengkeram kepala Ningsih yang tertutup ji lbab,
lalu menciumi bibir, pipinya yang putih, dan bahkan menjilatnya. Setelah puas menikmati bibir
ningsih, sambil menyeringai Heru kemudian menginjak gas, dan berangkatlah mereka.

Dalam perjalanan, sebentar-sebentar tangan kiri Heru mengusap paha Ningsih, kadang ke dada
Ningsih, dan mengusap tetek Ningsih yang berukuran 36B, hingga puting Ningsih mengeras.
Ningsih hany abisa pasrah dan mulai mendesah-desah. Gairahnya sudah mulai terbakar. Gadis
alim berjilbab lebar itu sudah mulai terangsang. “naikkan jubahmu sampai pinggang lalu agak
hadap kesini!” Perintah Heru. Ningsih awalnya hendak menolak, namun melihat wajah sangar
polisi bejat itu, Ningsih dengan berat hati menurutinya. Ningsih menarik eatas jubahnya dan
menggeser badannya menghadap Heru, memperlihatkan celah memek Ningsih yang hanya
ditutupi celana dalam tipis berenda yang sudah mulai basah. “heheheh…kok udah basah? Cewek
berjilbab lebar kayak mbak bisa terangsang juga yaaa…” kata heru, membuat wajah putih N
ingsih semakin memerah. Jari Heru pun menggeser celana dalam Ningsih kesamping, kemudian
memainkan jarinya di memek Ningsih, membuat memek gadis berjilbab itu semakin basah.
Ningsih tidak mampu menahan geli, dan menggigit bibirnya. Mata gadis berjilbab yang alim itu
terlihat semakin sayu. Jari heru yang mengorek-ngorek ke dalam memek Ningsih, seakan
berusaha menarik clitoris Ningsih keluar membuat gadis berjilbab itu merasa melayang2.

“Ssh.. Aah.. Shh.. Ah..” desah Ningsih mendesah-desah sambil mengeliat. Heru kemudian
menyampirkan jilbab Ningsih ke pundak, lalu menuntun tangan Ningsih memilin-milin
putingnya sendiri. Desahan gadis berjilbab itu semakin keras. Wajahnya merah pertanda malu,
namun juga terangsang. Terbukti Ningsih tidak melepaskan tangannya dari merangsang
payudaranya sendiri, dan terus merangsang payudaranya sendiri.

Ditengah jalanan yang macet antara puncak dan jakarta, didalam mobil sedan starlet nya yang
berkaca hitam, Heru membuka resleting celananya, mengeluarkan kontol besarnya, lalu menarik
kepala Ningsih menunduk. “ayo kulum!” bentak Heru. Ningsih mulai mengulum kontol Heru
yang sudah mulai mengeras. Batang kontol sepanjang 20 cm itu dikulum masuk ke dalam mulut
gadis berjilbab itu. Karena tidak dapat semuanya masuk, Ningsih memegang sisa batangnya
dengan tangan kanan putih mulusnya dan mulai mengocok kontol yang besar dan panjang itu.
Dioral oleh seorang gadis cantik yang alim berjilbab besar yang sedang terangsang merupakan
sensasi tersendiri yangs emakin membangkitkan nafsu Heru.

“Aaakhh.. Mbaaakkkhh.. Enak.. Pinter banget sih..” sambil tangannya sebentar sebentar
menekan kepala Ningsih.

Ningsih menjilati batang kontol polisi bejat itu, mengemput buah zakarnya. Ningsih menyedot
sedot kepala kontolnya, dan memainkan lidahnya berputar putar diatas helemnya saat kontol
Heru masih dalam mulut Ningsih, hingga kontolnya yang besar itu seperti berputar putar di
mulut Ningsih yang sempit. Tiba tiba Heru menekan kepala Ningsih hingga kontolnya terasa
penuh dalam mulut Ningsih dan ia mengeluarkan pejunya ke dalam mulut gadis alim berjilbab
itu yang terpaksa menelan habis pejunya.

“Ssshh.. Ahh.. mbak, makin mahir aja kamu nyedotnya.. Ada yang ngajarin ya?” ujar Heru
sambil tersenyum dan melirik Ningsih nakal. Ningsih yang syok kembali ke posisinya bersandar
pada sandaran kursi. Ia mulai menangis.

Heru yang melihat gadis berjilbab itu menangis justru semakin ingin mempermainkannya.
“naikkan kakimu yang kiri, lalu main sendiri pake’ dildo di dashbord!” kata Heru. Nigsih dengan
tangan bergetar mengambil dildo yang bentuknya panjang berduri dan mulai memasukkan
barang itu pelan ke memeknya.

“Sshh..” gadis alim itu mendesis merasakan ada barang yang masuk dalam memeknya. Sungguh
ia belum pernah merasakan hal yangs eperti ini sebelumnya.
Belum sampai mentok NIngsih mendorongnya, tiba-tiba Heru menariknya cepat dan membuat
duri-duri yang tadinya tidur, tiba tiba berdiri dan menggaruk dinding memek gadis berjilbab itu
yangs emakin becek.

“Aaahh.. Auuugghhh..paaakkhh..” jerit Ningsih kaget, gadis alim berjilbab itu tidak mengira
akan seenak itu.

Dengan pintu sebagai topangan badan Ningsih, gadis alim itu mulai sedikit menggoyang
pinggulnya mengikuti irama keluar masuk dildo dalam memeknya. “sshhh…auughh…” gadis
alim itu terus mendesis dan mendesah. Birahinya sudah tak tertahankan. “nih, main sendiri!” kata
heru. Ningsih mengambilnya dan mengendalikannya sendiri.

“Aaahh.. Aahh.. Paaakkk..” desah Ningsih setiap kali dildo itu Ningsih tarik keluar. Gadis
berjilbab itu telah lalrut dalam lautan gairah yang tak bertepi.

Belum Ningsih mencapai klimaks, ternyata mobil telah berhenti di pinggir sebuah jalan desa
yang sepi. Tiba-tiba Heru membuka pintu yang Ningsih sandari, hingga Ningsih hampir terjatuh,
tapi ia menahan gadis berjilbab itu dari belakang. Kemudian ia mengambil alih dildo yang ada
dalam memek Ningsih dan ia mengocoknya cepat.

“Ssshha aahh.. Aaahh.. Aaahh.. paaakkhh.. Auugghh.. jaannggaaaannhhh.. aauughh..hmmhhh…


ennnaaakkk…” gadis berjilbab yang selama ini alim dan sangat menjaga dirinya itu mulai
meracau kesetanan akibat rangsangan yang ia terima di memeknya.

Mendengar rintihan Ningsih, Heru polisi bejat langsung membalik badan Ningsih dan
mengarahkan kontolnya yang telah berdiri tegak ke lubang memek gadis alim berjilbab itu.
Ningsih yang tau apa yang hendak dilakukan heru hanya bisa terpejam dan menggigit bibir
merahnya. Tubuh gadis berjilbab lebar itu  sudah tidak sabar untuk menerima kontol besar Heru.
Sekalipun sudah basah, tapi tetap saja, kontol Heru yang berdiameter 5 cm itu tidak dapat masuk
dengan mudah. Setelah beberapa kali kepala kontolnya mengorek lubang memek Ningsih,
akhirnya dapat juga masuk.

“Sshh aaaaaahh..” jerit Ningsih ketika Heru menusukkan kontolnya dalam sekalipun masih
tersisa 4 cm diluar memek gadis alim itu.

Heru mengikatkan kaki Ningsih ke pinggulnya dan ia menarik Ningsih keluar dari mobil, hingga
gadis alim itu digendongnya dengan kontol sudah ada didalam memeknya. Jilbab putih yang
gadis itu kenakan menjuntai kebelakang. Heru membawa Ningsih kebagian depan mobil. Gadis
alim berjilbab yang cantik itu sudah mulai mengejang karena terasa sangat mengganjal dengan 4
cm kontolnya yang seperti menusuk-nusuk berusaha mendobrak lobang peranakannya. Dan kaki
Ningsih semakin kuat menjepit pinggulnya.

Sesampainya di depan mobil, ia menidurkan Ningsih diatas kap mobil, kemudian mengangkat
kedua kaki putih Ningsih ke pundaknya dan merapatkan paha putih gadis berjilbab itu.
Tempatnya yang sepi namun terbuka menimbulkan sensasi tersendiri bagi mereka berdua.
“Ahh.. aauuughhh…paaakkghhh.. Ennakk.. mmmhhh.. HH..”

Memek gadis alim itu terasa sangat sempit, dan Heru, polisi bejat itu mengocok kontolnya dan
memaksakan kontolnya yang tersisa diluar untuk masuk lebih dalam. Namun tetap tidak bisa. Ia
segera membalikkan badan Ningsih, hingga dalam posisi doggy dengan kaki gadis berjilbab itu
ikut mrnnumpu di tanah dan badannya telungkup di kap mobil. Badan Ningsih sudah mulai
bergetar keras karena nikmatnya, Heru tetap menusukkan kontolnya dengan membabi buta ke
dalam memek Ningsih, sementara tangannya memeras-meras tetek gadis alim itu dengan keras
hingga meninggalkan bekas merah. Jilbab putihnya basah oleh keringatnya yang membanjir.

“Aaahh.. ppaaakkkgghh.. SsSSHH..mmmhhh.. Ningsih mau pipiiiisshhh… paakkkhhh.. gatteeeel


paaaakkkkkhhhh….!!.” racau Ningsih dengan nafsu yang sudah hampir tidak dapat ditahan lagi.
“Samaa ssayy.. keeluaariin didalam yaaa….” tanya Heru dengan semakin cepat ia mengocok
kontolnya. “mmmhh…. Teerrseraaahhhh…Aaahh.. Ssshh.. Aaahh..” jawab Ningsih kacau. Gadis
berjilbab itu ternyata sudah ketagihan disemprot memeknya memakai peju laki2. “Baarreengngg
ssaayy.. Dikkitt llaggii.. Aahh..”

Bersamaan dengan keluarnya pejunya dalam memek Ningsih dan rongga memek gadis alim itu
yang berkedut keras. Entah berapa kali Heru semprotkan pejunya, karena cukup banyak, sampai
meleleh keluar memek Ningsih bercampur dengan cairan cinta dari dalam memek gadis berjilbab
itu.

“Makasih sayang… enak kan, kalo dinikmati? Heheheh…” ujar Heru sambil mengecup kening
Ningsih. “hhhmmhhh…!” gadis berjilbab itu tidak menjawab. Ia tidak mungkin berbohong,
karena cairan cintanya sudah berbicara.

Terlihat dari langit yang mulai gelap, hari sudah senja. Ningsih dan Heru kemudian merapikan
baju merek amasing2 dan masuk ke mobil, dimana Heru membawa N ingsih itu pulang ke
kostnya. Diperjalanan, gadis alim itu dipaksa kembali mengulum kontol Heru dan menelan air
mani Heru.

##########################################

..Ningsih mulai menangis juga merintih. Namun remasan sang satpam selain membawa rasa
sakit, juga membawa rasa nikmat di buah dadanya. Tanpa sadar gadis alim yang biasanya santun
itu mendesah nikmat. Si satpam yang mengetahui hal itu semakin bernafsu meremasi dada
montok gadis alim itu. Tangisan takut namun juga desahan nikmat Ningsih semakin keras,
memenuhi angkot yang berhenti di dalam hutan itu..

setelah kejadian pemerkosaan yang terakhir menimpanya, ningsih memutuskan untuk pindah
kost. ia tak mau kenangan buruk yang pernah menimpanya terulang, dan tempat kostnya yang
sebelumnya mengingatkannya pada kenangan buruknya.

Suatu hari, ningsih berada di rumah temannya, Rika sampai larut malam. Saat hendak pulang ia
baru menyadari bahwa ban motornya bocor. Temannya menyarankan ningsih untuk menginap
dirumahnya, namun karena sang gada alim itu mempunyai tugas menumpuk yang harus
dikerjakan, ia memaksakan diri untuk pulang dengan harapan masih ada kendaraan umum yang
lewat di jam segitu. selarut itu semua tambal ban didekat rumah Rika sudah tutup, sehingga
Ningsih menitipkan motornya dirumah Rika.

Menunggu di pinggir jalan bersama Rika. Dua orang gadis alim yang sama cantiknya, memakai
jilbab lebar, hanya berdua malam2 di pinggir jalan, sangatlah mencolok mata. Rika memaksa
untuk menemani Ningsih agar tidak kesepian saat menunggu kendaraan. Sudah beberapa saat
menunggu, tidak terlihat kendaraan umum yang muncul. “kita kerumahku aja yuk mbak, ntar
Rika anterin pagi2…” kata Rika sambil menangkupkan kedua tangannya di kedua pipinya yang
putih mulus tanpa cacat. Malam itu memang sangat dingin, dan kedua dara cantik yang alim
itupun merasakannya. Ningsih melipat tangannya didepan dada, membuat dadanya yang montok
semakin jelas terlihat montok. “nggak ah dik, aku harus pulang, kerjaan dari kampus numpuk…”
katanya. Tak lama setelah itu, terlihat mobil angkot yang mendekat, menembus malam yang
dingin. Setelah mengucapkan salam pada Rika, Ningsihpun melambaikan tangan memanggil
angkot itu dan langsung naik.

Didalam angkot itu hanya ada tiga orang pria. Si sopir, kondektur, dan seorang laki2 berpakaian
satpam. Nampaknya pulang kerja. Ningsih duduk di tengah berhadap-hadapan dengan Si satpam
sedangkan Si Kondektur duduk di depan. Selama perjalanan Si satpam tidak henti-hentinya
memperhatikan diri ningsih. Mata si satpam yang jelalatan itu seolah melahap ningsih dari ujung
jilbab sampai ke ujung kakinya. dada Ningsih yang montok yang terlihat samar dibalik jilbab
coklat tua dan baju lebar coklat muda yang ia kenakan semakin membuat mata si satpam
melotot.

Gadis alim itu sebenarnya jengah dan tidak enak dengan pandangan buas si satpam, namun apa
daya, ia takut tidak dapat angkot karena malam sudah semakin larut. Ia hanya bisa berharap,
semoga tidak terjadi apa2. Peristiwa perkosaan yang ia alami kembali terulang di pikirannya.
Muncul perasaan agak takut, namun selain itu juga membuatnya merasa panas dingin. Ternyata
peristiwa perkosaan2 yang pernah ia alami membuat gadis berjilbab yang montok itu menjadi
secara tak sadar ketagihan disetubuhi secara kasar oleh orang2 yang tidak ia kenal. Namun tetap
saja Ningsih yang cantik itu berusaha menepis pikiran itu, walaupun pikiran itu lama2 membuat
memeknya menjadi mulai basah.

“kenapa malem2 masih jalan, bang?” tanya Ningsih pada si kondektur, berusaha agar tatapan si
satpam menjauhinya. “kan bisa ketemu non jilbab.” Kata kondektur kurang ajar sambil
membalikkan wajah, menatap Ningsih sambil tersenyum. Ningsih yang semakin takut hanya bisa
tersenyum hambar, seraya berharap semoga tatapan kondektur yang tak kalah ganas dengan si
satpam tak berarti apa2. “kok baru pulang non? Gak takut diperkosa dijalan?” tanya si kondektur,
sambil masih etrsenyum penuh makna. Ningsih terkejut setengah mati mendengar perkataan sang
kondektur. Bayangan perkosaan yang pernah ia alami kembali terbersit di pikirannya. Ia semakin
takut, namun memeknya terasa semakin basah. “eee…. Kenapa abang tanya gitu? Mana ada
cewek berjilbab lebar kayak saya dperkosa bang…” kata Ningsih sambil menundukkan
wajahnya. Sungguh tatapan sang kondektur seolah melahapnya. Apalagi si satpam kebali
menatapnya.
Si Kondektur semakin melotot melihat Ningsih, soalnya waktu itu Ningsih terlihat sangat cantik.
Wajahnya yang sayu didalam mobil angkot itu terlihat sangat pasrah, bersama tiga orang yang
sebenarnya sangat bernafsu padanya. “ah, non ini gak tau yah? Kan sekarang ada angkot yang
suka menculik cewek2 jilbab besar kayak non, trus diperkosa non… soalnya, katanya memek
cewek berjilbab lebih legit dan keset!” katanya, diikuti oleh gelak tawa dari si sopir dan s
satpam. Kata2 si kodektur yang kurang ajar itu semakin membuat Ningsih pucat pasi, tapi juga
memeknya semakin basah.

Si satpam secara tiba2 mengangkat tubuhnya berdiri, dan mengambil tempat di samping tubuh
Ningsih, membuat ningsih terpojok diantara bagian belakang bangku sopir dan tubuh si satpam.
“dan kebanyakan setelah dipake, mereka malah nagih lalu pingin lagi non…” kata si satpam
sambil menyeringai buas. ‘buktinya kebanyakan kembali nunggu angkot malem2…non gak usah
khawatir non, ntar pasti non juga ikutan keenakan…” kata si satpam itu lagi.

Tangan si satpam mulai bergerilya, meraba2 tubuh Ningsih yang montok itu. Gadis berjilbab itu
berusaha berontak, namun ketakutannya membuatnya seolah tidak berdaya. Gadis itu hanya
menggeliat2 ketika tangan nista si satpam mengelus lengan, perut dan seluruh bagian tubuhnya
dari luar baju lebar sang gadis alim itu. Si satpam juga semakin merapatkan tubuhnya ke tubuh
ningsih yang montok, membuat ningsih semakin pana dingin. Si Sopir bukannya mengantarkan
Ningsih pulang tapi malah ke tempat lain yang daerahnya agak asing bagi Ningsih. Sebuah jalan
sepi yang kiri kanannya hanya ada sawah dan hutan. Kemudian si sopir membelokkan angkot itu
masuk ke sebuah jalan kecil berbatu memasuki hutan, lalu menepikan angkot itu dan mematikan
mesin. “gak usah tegang neng, disini gak akan ada yang ganggu kita…” kata si sopir sambil
membalikkan badan, melihat Ningsih yang manis yang tidak berdaya diraba2 oleh si satpam
durjana.

Si satpam ternyata semakin berani untuk mulai menyusupkan tangannya kedalam jilbab ningsih,
lalu meremas dada Ningsih yang montok. Langsung Ningsih memekik dan menepis tangan sang
satpam itu. “jangan paakk… tolong… jangan lagi…” kata ningsih. Air mata gadis alim itu sudah
mulai mengambang di pelupuk matanya yang indah. “o0oh, jadi non dah pernah diperkosa yah?”
kata si kondektur sambil menyeringai semakin lebar. “santai saja non, kami akan buat non
melayang2 ke udara! Kontol kami besar2 kok!” katanya lalu tertawa keras yang mengerikan.
Sementara itu, Si satpam mengulangi lagi perbuatannya, malah Si satpam mulai berani
meremasnya dengan kedua tangannya. Ningsih mulai menangis tersedu-sedu. “jangaaan paaak…
sakit paaak…. Eeehhhmmm….” Ningsih mulai menangis juga merintih. Namun remasan sang
satpam selain membawa rasa sakit, juga membawa rasa nikmat di buah dadanya. Tanpa sadar
gadis alim yang biasanya santun itu mendesah nikmat. Si satpam yang mengetahui hal itu
semakin bernafsu meremasi dada montok gadis alim itu. Tangisan takut namun juga desahan
nikmat Ningsih semakin keras, memenuhi angkot yang berhenti di dalam hutan itu.

Si satpam smakin berani meremas dada Ningsih dan mulai menyibakkan jilbab lebar Ningsih,
dan melilitkannya di leher jenjang ningsih. Satpam itu kemudian membuka baju Ningsih dengan
paksa, membuat kancing2 baju ningsih dari leher sampai perut ningsih terlepas, membuat buah
dada montok gadis berjilbab itu terlihat jelas, menantang dibalik Bhnya yang tampak kekecilan.
sedangkan Si kondektur turun dari mobil dan membuka bagasi belakang, mengambil sesuatu.
Ningsih disuruh turun dari mobil dengan hanya mengenakan baju yang tersibak dan BH yang
terlihat. Si satpam tidak menyia-nyiakan hal itu, memepet tubuh lemas gadis alim itu di badan
angkot dan melanjutkan rangsangannya. Tangis gadis alim itu semakin terdengar, bersamaan
dengan desahannya. Sang sopir hanya melihat sambil menikmati rokoknya, tapi tangan kanannya
memijit2 kontolnya dari luar celana jeansnya.

Si kondektur ternyata mengambil sebuah matras tipis di bagasi belakang, dan mulai
menggelarnya di bagian dalam angkot, setelah sebelumnya melipat kursi2 penumpang angkot
agar ruangannya semakin luas. Setelah siap, Ningsih kembali dipaksa masuk mobil, gadis alim
itu menangis ketakutan, namun dengan tak berdaya karena birahi yang semakin membara,
didalam mobil angkot bersama Si kondektur juga Si satpam.

Gadis alim itu semakin ketakutan saat dipaksa terlentang. Saat ia berontak, tangan si satpam
melayang ke pipinya yang putih, membuatnya semakin tak berdaya dan menuruti para bajingan
yang ingin memperkosanya. “gak usah takut, non, ntar pasti non ketagihan deh…” kata si
satpam. “kontol gue bakalan mbahagiain non kok.” Kata si kondektur menyambung. Si satpam
langsung menarik BH Ningsih hingga sobek dan Si kondektur menyingkap rok panjang hitam
Ningsih sampai perut gadis berjilbab itu, lalu menarik lepas celana dalam Ningsih yang bermodel
renda-renda. Si satpam melotot kagum saat melihat buah dada ningsih yang putih mulus tanpa
cacat,  sama seperti si kondektur saat melihat memek gadis berjilbab itu yang merah muda segar
merekah indah, dan basah.

“memek si non ini sudah basah, rupanya!” kata si kondektur ini sambil terkekeh. “ternyata si non
ini juga pingin dientot! Enak yah neng, dientot? Dah berapa kali dientot, neng jilbab?” tanya si
kondektur dengan kata2 kotor penuh penghinaan pada ningsih. Ningsih hanya bisa terdiam,
wajahnya merah padam menahan malu. Namun tak lama kemudian ia kembali memekik dan
mendesah disamping tangisannya yang semakin lirih, saat Si kondektur menjilati bibir memek
Ningsih dan menusuk-nusuknya dengan jari. Si satpam membuka celana panjangnya dan CD-nya
kemudian langsung keluar kontol Si satpam yang besar dan berurat. Langsung saja Si satpam
memasukkan kontolnya ke mulut Ningsih. Saking besarnya masuknya saja agak kesulitan, tidak
bisa semuanya masuk ke dalam mulut indah Ningsih. Gadis berjilbab itu kini dipaksa mengulum
dan menjilati kontol besar bau milik sang satpam. Airmatanya terus meleleh.

Sementara itu, Si kondektur menghentikan hisapannya dan mulai membuka celana panjangnya
sekaligus CD-nya. Keluarlah kontol yang labih besar dari kontol milik Si satpam. Si kondektur
mulai merenggangkan kaki Ningsih dan membuka memek gadis berjilab yang sudah basah itu
dengan tangannya untuk memasukkan kontolnya, ternyata tidak bisa masuk ke memek Ningsih
tapi Si kondektur terus memaksanya untuk memasukkannya. “gila! Sempit dan keset banget
memekmu non! Memek cewek jilbab gedeh emang bomor satu! Mana wajahnya cantik, lagi…”
kata si kondektur sambil terus memaksakan kontolnya masuk ke memek Ningsih. Si satpam
ternyata sudah mau keluar dan dalam hitungan tiga keluarlah sperma Si satpam ke mulut
Ningsih, banyaknya bukan main sampai gadis berjilbab itu terbatuk-batuk. Ia terpaksa menelan
sebagian sperma si satpam,sementara sebagian yang lain meleleh keluar membasahi pipi dan
jilbabnya.

Si kondektur ternyata mulai bisa memasukkan kontolnya ke memek Ningsih. Dia dengan paksa
langsung menindih badan Ningsih dengan begitu masuklah kontolnya ke memek Ningsih.
Ningsih langsung menjerit kesakitan  dan memek Ningsih langsung terasa berdenyut-denyut. Si
kondektur memaju-mundurkan kontolnya sambil terus mendesah dan meracau. “eeehh… enak
banget memek mu nooon… besok lagi yah noon… cewek berjilbab emang oke banget
memeknyaaahh…” terus si kondektur meracau mengatakan kata2 kotor, sambil terus menngenjot
Ningsih yang juga terus menangis. Namun tak lama rasa sakit yang ningsih rasakan mulai
berubah menjadi kenikmatan sehingga tangis ningsih mulai berupah pelan2 menjadi desahan dan
rintihan kenikmatan. Tiba2 ningsih merasa sangat nikmat. Gadis berjilbab itu merintih panjang.
Tubuhnya tertekuk keatas. Ternyata gadis alim itu mengalaim orgasme pertamanya. Orgasme
yang tidak ia inginkan, karena terjadi saat ia diperkosa. Sang kondektur yang menyadarinya
menyeringai dan tertawa. “enak yah, non jilbab? Emang cewek jilbab kayak elu tuh munafik!
Katanya gak mau tapi nikmatin juga!” kata si kondektur sambil terus memompa ningsih. Cairan
cinta ningsih semakin banyak, membanjir keluar dari memek gadis alim itu. Ia merasa malu
karena tak mampu menahan nafsunya, dan merasa dikalahkan oleh sang kondektur jahanam.

Si satpam keluar dari mobil lalu ebristirahat di luar, dan kini Si sopir yang masuk menggantikan
Si satpam. Si sopir langsung membuka celananya dan terlihat kontolnya yang juga besar
langsung berdiri tegak melihat ningsih. Terlihat Ningsih terlentang, digenjot oleh si kondektur.
Gadis berjilbab itu sudah tidak bisa berhenti mendesah karena merasakan nikmat bercampur
sakit, walaupun airmatanya masih terus mengalir. Bajunya sudah awut2an, dan buah dadanya
yang putih mencuat keluar tanpa penutup. Kakinya tertekuk menempel ke perutnya. memeknya
terus dipompa dengan kasar oleh si kondektur. Si sopir langsung menghisap payudara Ningsih
sambil tangannya mengusap-ngusap puting Ningsih, itu membuat Ningsih semakin tidak bisa
berhenti mendesah.

Si kondektur ternyata sudah mau keluar, desahan si kondektur semakin keras. Nafasnya semakin
memburu, “Ayo goyangin lagi, neeengghh…biar neg juga ikut keluaaarhh…”, dan “Croot…,
croot..”, terasa semburan spermanya di dalam memek Ningsih. Ternyata gadis berjilbab itu juga
kembali orgasme. Tubuh putihnya melonjak2 tak terkendali. Si kondektur kembali menyeringai.
Si kondektur langsung keluar dan Si sopir menggantikan posisi Si kondektur, siap untuk
menyetubuhi Ningsih. Ternyata Si sopir mengambil tissu untuk membersihkan memek Ningsih.
“neng dah gak perawan yah?” tanya si sopir. Ningsih diam saja. “ternyata cewek berjilbab gede
kayak eneng suka ngentot juga yah. Enak gak tadi? JAWAB!” bentak si sopir. Ningsih
menganggukkan kepalanya. Ia sadar, tubuhnya yang sudah lemas karena sudah dua kali orgasme
akan kembali jadi bulan-bulanan si sopir. “lu nikmati punyakku juga yaaa…” kata si sopir.
Setelah bersih, Si sopir langsung memasukkan dua jarinya ke memek ningsih, membuat gadis
berjilbab itu kembali merintih. Posisinya yang terlentang membuat sang sopir bebas melakukan
apa saja padanya. Si sopir mengocok2kan jarinya semakin cepat ke memek Ningsih. Cairan cinta
yang tadi sudah bersih dilap, sekarang kembali membanjir. Ningsih hanya bisa menggigit bibir
bawahnya sembari merintih2 nikmat. Ia tahu ia sudah tak bis alagi mempertahankan dirinya dari
api brahi.

Setelah dirasa cukup basah, sembari menyeringai lebar, si sopir memasukkan kontolnya ke
memek NIngsih. Kontol Si sopir hampir sebesar kontol milik Si kondektur. Si sopir memasukan
kontolnya dengan mudah tanpa ada halangan. Ningsih memekik tertahan merasakan memeknya
kembali dimasuki kontol jahanam si sopir. Keningnya berkerut, menahan sedikit pedih yang
masih tersisa, juga nikmat yang kembali ia rasa. Gadis alim yang montok itu sudah tak mampu
mengendalikan gelora syahwatnya. Si sopir mulai menggoyangkan pantatnya maju mundur.
Penisnya mulai menyodok-nyodok memek Ningsih yang sudah kembali basah, membuat gadis
alim itu kembali merintih dan mendesah. Sementara itu, Si satpam ternyata sudah masuk ke
mobil dan membisikkan sesuatu pada si sopir. Si sopir kemudian mengangkat tubuh Ningsih
yang sudah lemas, lalu merubah posisinya, sehingga kini si sopir berada terlentang di bawah,
dengan Ningsih yang mendesah2 lemas telungkup diatasnya. Jilbab yang masih dipakai ningsih
sudah basah oleh peluhnya. Begitu juga dengan baju yang masih ningsih pakai. Belum ada saat
ningsih mengambil nafas, si sopir kembali menggenjot memek ningsih, membuat ningsih
kembali mendesah-desah. Tanpa Ningsih sadari, si satpam memposisikan dirinya dibelakang
ningsih, sambil mengelus-elus pantan ningsih yang besar dan bahenol. Sesekali si satpam
menamparnya, membuat ningsih memekik tertahan. Tamparan pada pantatnya terasa sakit,
namun juga nikmat.

Si satpam, dengan kontol yang sudah kembali tegak keras mengacung mulai membasahi ibu
jarinya, dan menggunakan ibu jari basahnya untuk mengkorek-korek lubang anus Ningsih.
Ningsih yang kaget karena merasa ada benda asing berusaha melebarkan dan memasuki
duburnya, gadis berjilbab lebar itu berusaha untuk menghindar. Namun pelukan si sopir
dibawahnya yang begitu erat membuatnya tak bisa menghindar jauh. Ningsih hanya bisa
menggoyang2kan pantatnya berusaha menghindari ibu jari si satpam, yang justru membuat si
sopir semakin keenakan. “jangan paaaakk… eehhmm… jjaangan disituuuhh… aaaihhh… sakit
paaakk… ooouuughhh…eemmmhh…” ningsih meratap minta dilepaskan, tapi sembari
mendesah-desah keenakan. “santai aja nooon… jangan dilawan… ntar lama-lama enak kok
non… abang janji…sabar yaaa…” kata si satpam, sembari terus mengkorek-korek dan meludahi
lubang dubur Ningsih, agar licin. Semakin lama lubang dubur itu semakin melebar dan licin
karena ludah si satpam.

Setelah lubang dubur Ningsih sudah terlihat cukup lebar dan licin, si satpoam segera
memperbaiki posisi untuk memasukkan seluruh kontolnya ke liang dubur gadis berjilbab itu.
Rok panjang ningsih yang sudah mulai kembali turun, disingkapkannya lagi, agar tidak
mengganggu. Sesaat kemudian, diantara genjotan si sopir, ningsih merasa ada benda asing yang
bear dan hangat menempel di liang duburnya. Gadis berjilbab itu memejamkan mata pasrah dan
menggigit bibirnya erat-erat, siap-siap menahan sakit. Si satpam dengan sekali dorongan keras
memasukkan kontolnya ke lubang dubur NIngsih. Ningsih menjerit keras, merasakan sakit yang
luar biasa. Selama beberapa saat, ia terus menjerit-jerit karena sodokan si satpan di lubang
duburnya yangs angat menyakitkan. Namun lamm akelamaan, rasa sakit yang gadis alim itu
rasakan pelan-pelan berubah menjadi rasa nikmat. Jeritannya pun berubah menjadi lenguhan-
lenguhan menahan sakit nikmat. Mata ningsih terbalik, dan hanya memperlihatkan putihnya.
Gadis alim yang selalu berusaha menjaga dirinya dengan jilbab lebar dan baju longgar itu meraih
orgasmenya yang ketiga kalinya malam itu, bersama dua orang pemerkosa yang secara intens
menyodok-nyodok memek dan duburnya. Sungguh pemandangan yang kontras, seorang gadis
alim berwajah lugu dan ayu, digenjot secara bebarengan oleh dua orang tua berwajah garang.

Si kondektur yang mendengar jeritan Ningsih masuk lagi ke mobil dan menyeringai mendapati
ningsih yang menjadi bulan-bulanan dua temannya. Segera si kondektur mengambil posisi untuk
memasukkan kontolnya ke mulut Ningsih. sekarang Ningsih sudah tidak bisa apa-apa lagi,
soalnya semua lubang sudah penuh terisi oleh kontol mereka bertiga. Desahan kenikmatan yang
gadis alim itu rasakan tidak keluar, tertahan oleh kontol si kondektur yang besar. Tiba-tiba Si
satpam menarik keluar kontolnya dari anus Ningsih. Cairan kuning trut keluar saat si satopam
menarik keluar kontolnya. Awalnya, Ningsih berpikir si satpam sudah selesai, ternyata dia mulai
memasukkan kontolnya ke memek Ningsih walaupun memek Ningsih ada sudah ada kontol Si
sopir.

Si sopir berhenti sejenak dan Si satpam mulai mendorong masuk kontolnya ke dalam memek
Ningsih, ternyata memek Ningsih mulai melar dan sudah bisa menelan masuk kontol Si sopir
dan Si satpam, walaupun kontol Si satpam masih sebagian kecil saja yang masuk. Si sopir
menarik keluar sedikit kontolnya dan Si satpam mulai memasukkannya sedikit demi sedikit.
Ningsih sudah tidak tahan, rasanya memek Ningsih sudah perih dan sakitnya bukan main. Jeritan
kesakitannya tertahan oleh kontol si kondektur yang tertanam dalam mulutnya.

Ternyata kontol Si sopir dan Si satpam mulai masuk ke dalam memek Ningsih secara pelahan-
lahan. Ningsihpun terus berteriak kesakitan karena kedua kontol mereka yang berada di dalam
memek Ningsih. Ternyata Si sopir dan Si satpam masih asyik memainkan kontolnya di dalam
memek Ningsih. Ternyata Si satpam sudah tidak sabar, dia menyuruh Si sopir untuk mencabut
kontolnya dan memasukkannya ke anus Ningsih. Dengan begitu kalau pantat Ningsih, Ningsih
turunkan kontol Si sopir yang masuk ke anus. Sedangkan kalau pantat Ningsih, Ningsih naikkan
kontol Si satpam yang masuk ke memek Ningsih. Tidak lama kemudian keduanya keluar dalam
waktu yang hampir bersamaan, keduanya terjatuh di samping Ningsih.

Ningsih berusaha untuk bangun dan membersihkan memek Ningsih dari sperma mereka dengan
menggunakan tissu. Terasa perih sekali ketika tissu menyentuh bibir memek Ningsih. Setelah itu
Ningsih diantar pulang ke tempat kost Ningsih. Ningsih sudah tidak bisa berjalan dengan benar,
soalnya masih terasa perih di selangkangan Ningsih. Saat turun dari mobil, gadis berjilbab itu
berjalan pelahan-lahan dan tanpa mengenakan celana dalam dan BH, soalnya sudah sobek ditarik
oleh mereka saat di dalam mobil tadi. Dari memek Ningsih masih keluar tetesan darah yang
Ningsih tutupi dengan tissu. Ketika sampai di dalam kamar Ningsih langsung menjatuhkan
dirinya ke kasur, menyesali apa yang terjadi padanya. ia bingung, kenapa pemerkosaan terjadi
berturt2 pada dirinya. segera gadis alim itu bangkit ke kamar mandi dan mandi, berusaha
menghapus jejak nista yang masih terasa. setelah itu Ningsih berpakaian dan langsung tidur.
Keesokan harinya gadis berjilbab itu bangun dengan keadaan badan yang sangat lelah dan
selangkangan yang masih terasa perih.

Akhwat Kampus – Sinta

Sinta gemetar ketika memasuki ruangan dosen itu sore itu. Ruangan itu sepi dan hanya ada sang
dosen yangs elama ini terkenal galak dan tidak pernah amah dengan mahasiswanya. Dia
mendekati Pak Riko yangs edang duduk di depan mejanya di sudut ruangan yang sepi. Hujan dil
uar semakin menambah seram suasana sepi kantor dosen itu.
Dia menetap Pak Riko yangs edang mengerjakan koreksi jawaban ujian mahasiswanya. . “ Sinta,
duduk. . “. kata Pak Riko dingin, memerintah Sinta. Sinta pun hanya bisa menurut. aktifis
kampus cantik berjilbab lebar bertubuh sekal itu duduk di kursi di seberang meja Pak Riko.

Pak Riko kembali mengerjakan koreksinya,s ementara Sinta hanya bisa diam menunggu sambil
gelisah. Akhwat itu sebenarnya ingins egera pulang, namun karena ia harus mendosens nilainy
ayang jelek agar bisa segera ambil bebas teori semester depan, dia harus melobi Pak Riko
dosennya ini.

Beberapa waktu kemudian, sepertinya Pak Riko sudah selesai dengan pekerjaannya dan
memandang Sinta. :mau apa kamu?” tanya Pak Riko dingin.

Sinta semakin gelisah, namun segera gadis perawan alim berjilbab lebar yangs elalu menjaga
pandangannya itu memberanikan diri untuk berbicara, “ emm. . begini pak. . saya dapat nilai
jelek di mata kuliah bapak. . mohon bisa dipertimbangkan lagi pak. . saya butuh lulus dari mata
kuliah itu agar bisa ambil bebas teori. . ” kata Mahasiswi berjilbab lebar yang berkulit putih dan
cantik itu .“wah, gimana ya mbak. . anda yang ngerjain soal ujian, dan dapat nilai jelek, masak
say aharus merubahnya. . kan gak adil sama yang lain.  ” kata Pak Riko datar dan santai.

“ya. . gimana lah pak. . saya mau kerjain apa aja. . dikasih tugas seabrek, atau soal ujian ulangan
seabrek juga mau pak. . asal saya bisa lulus. . ” kata Sinta sambil menunduk. Pak Riko terdiam
sebentar lalu berdiri dan duduk dimeja, pas didepan Gadis cantik berjilbab lebar berwajah ayu
dan lugu itu .

Pak Riko tersenyum , “yaudah, gini aja. . ”.

sabentar yerdiam, Pak Riko melanjutkan, “ kamu harus mau ngeliatin celana dalammu. . ” kata
Pak Riko santai. Sinta terbelalak dan memandang wajah Pak Riko tak percaya. “aa pak?” tany
aMahasiswi cantik berjilbab lebar itu  tak percaya.

“ah, kamud engar kan. . mau gak. . kalo gak mau ya selamat mengulang tahun depan. . ” kat aPak
Riko santai.

“tapi pak. . ”

“mau gak?!”

“tapi. . say amalu pak. . ” kata Sinta tertunduk lagi. Wajahnya merah padam.

“ah, gak ada siapa2 disini. . cuman ngelihatin aja. . mau gak?” tanya Pak Riko lagi.

Dengan pelan, gadis alim berjilbab lebar itu mengangguk lemah. Ia tidak ada pilihan lain.

“ ya udah Sinta, sekarang coba kamu duduk di meja ini, trus naikkan rokmu, trus duduknya
ngongkong , saya mau lihat celana dalam kamu. . ” kata Pak Riko. Sinta menunduk , lalu pelan2
mahasiswi cantik berjilbab lebar itu bangkit dari duduknya dan menaikkan rok panjangnya lalu
duduk di sudut meja sambil melebarkan kakinya. celana dalamnya yang putih terlihat jelas oleh
pak Solohin.

“dah kan pak?” kata Sinta gemetar. Rasa malu dan marah bercampur menjadi satu.

namun tiba2 Pak Riko langusng membungkuk, mengulurkan tangan besarnya dan meraba celana
dalam Sinta. Sinta mengelijing kaget. Pak Riko mengbucek2 cepat vagina Mahasiswi berjilbab
lebar yang berkulit putih dan cantik itu ,s ampai hanya beberapa saat terasa sedikit basah tepat di
selangkangannya. Pak Riko tahu itu cairan vagina Sinta.

“mmmhh. . jangan paaak…” kata Sinta meronta lemah.

“ealah nih, Cdmu basah. .  Sinta kamu terangsang yah. . ” tanya Pak Riko. Gadis perawan alim
berjilbab lebar yangs elalu menjaga pandangannya itu  tak menjawab sambil terus menutup
kakinya, mukanya merah “ malu pak , saya malu. . ” namun tangan Pak Riko yang sudah ada di
selakangan Sinta tidak menghentikan kucekannya.

“ eit , jangan di tutup , kamu janji mau nurut kan , mau lulus gak. . ” kata Pak Riko. Sinta
menundukan kepalanya , dan kembali membuka Kakinya lebar-lebar , memperlihatkan
selangkangan celana dalam putihnya. Wajah Sinta ditundukkan. Nampak sangat merah padam
sambil menggigit bibirnya merasakan perlakuan erotis Pak Riko. Aktifis kampus cantik berjilbab
lebar bertubuh sekal itu  benar benar di buat malu.

Di saat Sinta menunduk malu , dan tiba tiba , ada sinar putih terang nyala sekejap. “ Ahh , pak
jangan di foto. . “ lalu kakinya kembali menutup rapat. Pak Riko tersenyum “ tenang saja , ini
buat koleksi pribadiKu. . ”.

“ ayo Sinta , buka lagi kaki kamu lebar. . ” kata Pak Riko. “ Pak saya tidak mau di foto seperti ini
, malu pak. . ” kata Mahasiswi berjilbab lebar yang berkulit putih dan cantik itu  Gadis cantik
berjilbab lebar berwajah ayu dan lugu itu hampir menanggis. Namun Pak Riko kembali
mengeluarkan kartu as-nya “ Kamu mau lulus gak. . ” kata Pak Riko.

Sinta hanya terdiam, mengangguk dan kembali membuka kakinya lebar-lebar pelan-pelan. Pak
Riko langsung memfotonya lagi. Beberapa shoot lalu meminta Miila menyibakkan jilbab
lebarnya dan melepas kancing bajunya.

Sinta tak kuasa , mahasiswi cantik berjilbab lebar itu menangis ,” tolong pak , saya malu , jangan
permalukan saya tolong lah pak…” kata Gadis perawan alim berjilbab lebar yangs elalu menjaga
pandangannya itu  memelas.

“ sudahlah, katany amau lulus.. sekarang buka kancing baju kamu seluruhnya , dan duduk
ngongkong. . ” perintah Pak Riko. Tak ada pilihan lain , Sinta menuruti perintah Pak Riko.

Mahasiswi berjilbab lebar yang berkulit putih dan cantik itu menyibakkan jilbab lebar ungunya
lalu membuka kancing bajunya. terlihat Bhnya yang modelnya seperti kaos kutang , tapi pendek.
Sinta kemudian  mengongkong. Pak Riko memfoto Sinta lagi ,dalam posisi seperti itu ,beberapa
shoot. Kemudian Pak Riko memfotonya lagi , Mahasiswi cantik berjilbab lebar itu  dengan baju
terbuka , Branya putih ,dan duduk ngongkong dengan celana dalam putih.

Lalu Pak Riko mengangkat branya , dan Buah dada Sinta yang sekal dangan putting yang kecil
dan berwarna kemerahan terlihat. Pak Riko meraba putingnya , lalu meremas lembut buah
dadanya Aktifis kampus cantik berjilbab lebar bertubuh sekal itu  mengelijing. Kembali Pak
Riko memfotonya beberapa shoot.

Lalu tangan Pak Riko merayap ke bawah , dan manyibak celana dalam Sinta. Sinta yang sudah
shock akan perlakuan pak dosennnya yang bejat itu bingung untk berbuat apa dan hanya bisa
pasrah. Mata Pak Riko melotot melihat Vaginanya , sama sekali bersih tanpa bulu , kecil dengan
bibir vagina yang agak basah , merah. Pak Riko menciumi vaginanya , Gadis cantik berjilbab
lebar berwajah ayu dan lugu itu  mengelijing. “ wah , Sinta memek kamu harum yah. . ” katanya.
Sinta diam tak menjawab.

Tangan Sinta di pegang , dan dibawa ke bawah “ Sinta , sibak celana dalam kamu seperti ini
yah , saya mau foto kamu. . ” kata Pak Riko.

Sinta tak bisa berbuat apa apa , selain memenuhi kemauan dosennya itu. Pak Riko memfotonya
beberapa shoot , terutama di bagian vaginanya.

Setelah puas dengan itu , Pak Riko , membuka celananya , dan juga kolornya. Penisnya yang
hitam besar , ngaceng tegak sekali. Sinta melotot melihatnya. Sinta yang selama ini selalu
menjaga pandangannya belum pernah kaipun melihat penis laki-laki secara lansung. Pernah dia
melihat sekali ua kali video porno dari laptopnya karena ingin tahu, tapi melihat langsung seperti
ini ia belum pernah. Apa lagi di video yang ia lihat  tak ada yang sebesar Pak Riko punya. Shock
sekali Mahasiswi berjilbab lebar yang berkulit putih dan cantik itu .

kemudian Pak Riko mengocok ngocok penisnya sendiri dan mendekati Gadis perawan alim
berjilbab lebar yangs elalu menjaga pandangannya itu  “ Sinta , ayo isepin kontolKu. ” kata Pak
Riko. Tangan Sinta gematar , dan meraih batang penis Pak Riko , Lalu Sinta menjulurkan
lidahnya dan menjilat ujung penis Pak Riko. Pak Riko mendesah “ ahhh……”.

“ Sinta , udah pernah liha kontol belum? ” tanya Pak Riko.


 “sudah pak.. di laptop..“ jawab Mahasiswi cantik berjilbab lebar itu  pasrah sambil meneruskan
kulumannya.
 “wah, etrnyata alim-alim kamu nakal juga yah.. besar mana sama punya bapak..” tanya Pak Riko
 “besar punya bapak.. Punya bapak besar sekali. . ” kata Sinta pelan. . Tangan Pak Riko
mengelus kepala Sinta yang masih tertutup jilbab lebar berwarna ungu yang rapi dan leegan.
 “ kamu suka sama kontol saya. . ” tanya Pak Riko. Sinta mengeleng “ saya takut.. bapak punya
besar sekali..”.

“ Sinta , kamu harus suka punya saya , ayo buka mulut kamu yang lebar, dan kulum. . ” perintah
Pak Riko. Sinta mundur sedikit , “Pak , saya jilatin aja ya pak, gak cukup… . ”
“ iyah , tapi saya suka di kulum. . ” kata Pak Riko dan terus mendorong kepala Sinta yang masih
tertutup jilbab kearah penisnya,s embari memajukan pinggulnya agar penisnya masuk ke dalam
mulut Sinta. Mahasiswi cantik berjilbab lebar itu  meronta , dan mengatup mulutnya rapat.

Tapi tangan dosennya itu turun dan menyusup ke balik jilba ungu lebar Sinta yang sudah jatuh
menutupi buah dadanya lagi, meraba buah dada kanan Sinta dan menjepit puting susunya. Sinta
menjerit keras, dan Pak Riko langsung mendorong penisnya masuk hingga tenggorokan Sinta.
Penis besar itu mulai bergerak maju mundur, sementara Aktifis kampus cantik berjilbab lebar
bertubuh sekal itu  berusaha melepaskan diri sambil terbatuk-batuk.

Sinta benar-benar shock. Penis Pak Riko yang besar tegang dan keras itu masuk hingga
tenggorokannya, gadis perawan alim berjilbab lebar yangs elalu menjaga pandangannya itu dapat
merasakan sesuatu yang asin dan lengket di dalam mulutnya.

Lalu dengan kedua tangannya Pak Riko memegang kepala Sinta yang masih memakai jilbab
lebar yang membuat Gadis cantik berjilbab lebar berwajah ayu dan lugu itu  terlihat santun dan
cantik  lalu memaju mundurkan penisnya dalam mulut Sinta yang kecil. Pak Riko mendesah dan
mengeram kenikmatan. “ ohh , nikmat sekali Oh , gua bisa keluar nih. . ”
 Sinta tahu Pak Riko akan mengalami ejakulasi di dalam mulutnya. Kembali mahasiswi berjilbab
lebar yang berkulit putih dan cantik itu meronta berusaha menarik kepalanya.

Tapi dengan kasar Pak Riko menarik kepala Sinta, penisnya makin masuk ke dalam tenggorokan
Sinta dan menahan kepala Sinta hingga tidak bisa bergerak. Pak Riko kemudian menarik sedikit
penisnya dan tertawa melihat Mahasiswi cantik berjilbab lebar itu  tersengal-sengal menghirup
udara.

Pak Riko tidak bisa bertahan lama di mulut Sinta. Tiba-tiba Pak Riko mulai mengerang dan
mendengus, tangan yang ada di buah dada Sinta mulai meremas dan menarik-narik buah dada
Sinta, sedangkan tangan yang lain memegangi kepala Mahasiswi cantik berjilbab lebar itu  yang
masih mengenakan jilbab dan menggerakannya makin cepat, membuat Sinta mengulum makin
cepat dan dalam.

Sperma Pak Riko menyembur di dalam mulut Sinta, menyemprot ke dalam tenggorokan Sinta,
membuat Gadis perawan alim berjilbab lebar yangs elalu menjaga pandangannya itu  terbatuk-
batuk. Penis Pak Riko tetap ada di dalam mulut Sinta, memompa dan menyembur selama sesaat.
Akhirnya Pak Riko menarik penisnya perlahan hingga seluruhnya keluar dari mulut Aktifis
kampus cantik berjilbab lebar bertubuh sekal itu .
 Sperma berwarna putih dan lengket mengalir keluar dari mulut Sinta, mengalir turun membasahi
jilbab unug lebar dan baju gamis longgarnya. Sinta terisak lagi. Pak Riko mengambil tisuue dan
melap bibir Sinta , dan juga melap air matanya. “ kenapa menangis , kan kamu akan saya
lluskan. . ”. Sinta hanya terdiam sambil terus terisak-isak. Mahasiswi cantik berjilbab lebar yang
santun itu sangat shock akan apa yang terjadi pada dirinya.

Pak Riko mencium bibirnya. “ Sinta , sekarang kamu buka celana dalam kamu , aku mau
menjilati memek kamu. . ” katanya.
 Sinta yang sudah shock sekali menurut dan pelan-pelan , melepas celana dalamnya. Pak Riko
tersenyum “bagus , sekarang , kamu duduk , dan buka kaki kamu lebar“. Lalu Sinta kembali
duduk diatas meja dan melebarkan kakinya yang putih dan selama ini tidak pernah terlihat oleh
mata lelaki manapun karena mahasiswi berjilbab lebar yang berkulit putih dan cantik itu jaga
dengan rok panjang. Vaginanya yang tak berbulu itu terpampang lebar. Pemandanan yang
sungguh erotis.

Lalu Pak Riko jongkok dan menciumi vagina Sinta. Gadis cantik berjilbab lebar berwajah ayu
dan lugu itu  tersentak, ketika dirasanya sebuah tangan mulai merabai vaginanya.
“Mmmmphhh,” Sinta mengerang. Kepala Sinta menengadah keatas merasakan sesuatu rasa yang
belum pernah gadis cantik yang alim itu rasakan sebelumnya.
 Tiba-tiba Sinta merasakan kehangatan mengalir di vaginanya, tubuhnya tersentak, dan tanpa
sadar pinggulnya terangkat. Mahasiswi cantik berjilbab lebar itu  merasa sangat nikmat ketika
lidah Pak Riko menjilati bagian dalam bibir vaginanya, membuatnya basah.

Sinta sama sekali tidak bisa melawan sensasi yang timbul di vaginanya. Untuk beberapa menit
Pak Riko terus menjilati bibir vagina Sinta, menciuminya dan menjilati cairan yang keluar dari
vagina Sinta. Dari mulut Gadis perawan alim berjilbab lebar yangs elalu menjaga pandangannya
itu  terdengar pelan desahannya. “ aaahhh ahhh ahh…”.

Pak Riko , meraih kedua tangan Sinta , meletakan dekat vaginanya , dan menyuruhnya membuka
lebar bibir vaginanya dengan tangannya. Sehingga Klitorisnya tertampang jelas. Agak merah ,
membesar dan berlendir.
 Pak Riko sangat hati-hati dan lembut ketika menjilati vagina Sinta itu. Kaki dan pinggul Sinta
bergarak dan tersentak-sentak tanpa bisa dikendalikan oleh Mahasiswi cantik berjilbab lebar itu .

Mahasiswi cantik berjilbab lebar itu  benar benar terangsang. Pak Riko masih terus menjilati
klitorisnya. Lendir yang keluar pun jadi makanan lezat bagi dosennya itu. Sinta terus
mengejang , nikmat desahan desahnya makin sering terdengar.

Tangan Sinta semakin membuka lebar bibir vaginanya , Dan Pak Riko makin mempercepat
sapuan lidahnya. Pantat Sinta terangkat , dan Gadis cantik berjilbab lebar berwajah ayu dan lugu
itu mengejang sesaat , lalu kembali lemas. Kakinya mengejet beberapa kali.

Sinta mendesah panjang “ ahhhhh…. ”. Gadis perawan alim berjilbab lebar yangs elalu menjaga
pandangannya itu  telah mendapat orgasmenya.
 Pak Riko , menatapnya tersenyum. “ Sinta , nikmat yah…” kata Pak Riko. Sinta tak menjawab ,
aktifis kampus cantik berjilbab lebar bertubuh sekal itu menunduk , dan mukanya merah.
 “ Sinta sekarang saya akan entotin kamu yah. . ” kata Pak Riko.

Sinta tersentak , mahasiswi cantik berjilbab lebar itu merinding dan menjerit “Jangan, jangan,
saya mohon, saya takut , punya bapak terlalu besar , Saya akan lakukan apa saja , jangan entot
pak. . ” Sinta memohon-mohon.
 Pak Riko cuma tersenyum “ tenang saja , Sinta , nanti juga kamu nikmat koq. . ”
Pak Riko mengangkat kaki Sinta lebih tinggi lagi. Penis Pak Riko sudah berada di hadapan
vagina Gadis perawan alim berjilbab lebar yangs elalu menjaga pandangannya itu  dan
menyentuh bibir vaginanya.
 Sinta gemetar , rasa takut melebihi rasa nikmatnya. Pak Riko mengesek ujung penisnya di
klitoris Sinta.

Lalu dengan perlahan Pak Riko mulai mendorong penisnya, Sinta menangis memohon agar Pak
Riko berhenti. Tanpa mendengarkan tangisan Sinta, Pak Riko terus mendorong dan merasakan
bibir vagina Mahasiswi cantik berjilbab lebar itu  mulai terbuka. Dan Dari mulut Sinta terdengar
jeritnya “ ahwwwwww “

Sinta merasa nyeri di vaginanya. Liangnya di buka paksa oleh penis besar Pak Riko. Sinta
mengejang.

Lalu Pak Riko merasakan kepala penisnya mulai masuk ke dalam vagina Sinta diiringi oleh
hentakan nafas dari Aktifis kampus cantik berjilbab lebar bertubuh sekal itu . Terus mendorong,
Pak Riko merasakan jepitan erat dari dinding vagina Sinta di penisnya.

Pak Riko melihat Sinta, gadis mahasiswi berjilbab ebar yang cantik sekali, dan tubuh yang
merangsang Tengah merintih kesakitan , dan mengerang.

Perlahan Pak Riko mulai mendorong lagi, ia sangat bernafsu untuk merasakan nikmat vagina
Sinta. Sinta sudah meronta sekuat tenaga, tapi Pak Riko tidak merasakannya sedikitpun.
Perlahan, perlahan sekali , Akhirnya penis sepanjang 20 cm itu terbenam seluruhnya. Sinta
menjerit keras “ aghhh ,sakittt. Sudah… cabut. Paaakkk… ”.

Pak Riko , melumat bibir mungil Sinta untuk membungkam jeritnya. Dan perlahan dia
mengoyang penisnya. Gadis cantik berjilbab lebar berwajah ayu dan lugu itu  mengejen ,
kesakitan. Pak Riko terus mengeluarkan dan memasukan penis besarnya di liang vagina
mahasiswi berjilbab cantik yang santun dan lugu itu. Sinta terus mengeliat , menahan nyeri di
vaginanya.
 Pak Riko terus bergerak pelan , Sinta mulai tenang. Pak Riko trus mengoyang pelan. “ aghh
aghh sakit pak. . ”. Tapi Pak Riko tak peduli. Terus mengoyang dengan pelan.

Sampai Pak Riko merasa sudah hampir sampai di puncak kenikmatannya , ,dan mulai
mengoyang cepat , dan menghentak hentak. Ini membuat Sinta menjerit jerit kesakitan “ aggghh
sakit pelan pelan , aghhhh sakit. . ”.

Pak Riko , terus mengoyang , dan mendengus. Dan akhirnya dia membenamkan habis batang
penisnya , lalu Dia tegang. dan menumpahkan spermanya di liang vagina Sinta. Perlahan penis
besarnya mengecil , dan mulai di cabut dari liang vagina Gadis perawan alim berjilbab lebar
yangs elalu menjaga pandangannya itu . Sperma Pak Riko turut mengalir keluar , bersamaan
penisnya.

Sinta lemas sekali , dan nafasnya tersenggal , mahasiswi cantik berjilbab lebar itu terisak
menangis sejadi-jadinya.
Pak Riko tertawa sambil berkata, “ iyah saya tahu , memek kamu belum terbiasa sama
kontolKu , besok besok pasti memek kamu biasa koq. . ”.

“ Besok besok , Apa maksud bapak. . ” kata Sinta sambil terus terisak.

“ iyah , kalau besok aku entot kamu pasti kamu sudah tak begitu sakit lagi , karena memek kamu
sudah melar , ha ha ha…” kata Pak Riko.

“ tidak pak saya , tidak mau lagi. . ” kata Sinta.

Pak Riko tersenyum “ kamu tahu , apa gunanya , Aku memfoto kamu tadi. . ”.

Sinta tertunduk , mahasiswi cantik berjilbab lebar itu sudah tahu ini pasti terjadi. “ maaf , Sinta
kamu akan jadi buduk nafsuKu , sayang ha ha ha ” kata Pak Riko sambil tertawa.

Lalu Pak Riko memberinya beberapa lembar tisuue , “ nih , lap memek kamu , terus keluar sana,
besok kalo aku butuh, siap2 saja ku sms. . ” katanya. Sinta membersihkan sisa sisa sperma
dosennya , lalu merapikan kembali baju dan jilbabnya yang awut-awutan dan keluar sambil
sedikit terisak.

Cerita Sex, Cerita Dewasa, Cerita Ngentot Hot – Cerita Sex Mahasiswi Ngentot Untuk Nyari
Uang – Ini kisah 2 tahun yang lalu, ketika aku masih indekost di kota Dps. Ketika itu aku baru
kerja di sebuah perusahaan. Ditempat kostku yang mempunyai 10 kamar lengkap dengan kamar
mandi dalam dan teras masing-masing itu merupakan tempat yang nyaman dan bebas. Maksudku
bebas karena pemilik rumah tidak tinggal disana, hanya sebulan sekali datang menarik uang kost
atau sesekali jika ada perlu mengecek keadaan.

Kalo ada yang bertamupun bebas sampai tengah malam atau menginap asal tidak ribut dan
mengganggu penghuni yang lain tidak ada masalah. Kebetulan saat aku masuk 8 kamar sudah
terisi. Aku menempati kamar paling pojok bersebelahan dengan kamar seorang mahasiswi di
sebuah PTS, berumur sekitar 20 tahun.

Lebih sepekan berlalu, aku belum begitu akrab dengan semua penghuni disana, selain karena
masing-masing kamar dibatasi tembok pembatas juga sibuk dengan urusannya masing-masing
termasuk aku dan memang disana antar penghuni jarang ada yang mengobrol satu sama lain
kecuali hanya sapaan basa-basi ketika kebetulan berpapasan. Walaupun semua penghuni disana
berstatus single tapi ada 5 pasangan yang sudah tinggal bersama, mungkin istilahnya kumpul
kebo atau apalah. Hanya aku dan 3 wanita termasuk mahasiswi disebelah kamarku yang tinggal
sendiri, tapi kuperhatikan merekapun sudah mempunyai pasangan atau minimal dekat laki-laki
karena masing-masing sering dikunjungi teman laki-laki dan tak jarang menginap sampe pagi
dikamar si wanita.

Awalnya aku tidak terlalu peduli dengan kecuekan masing-masing karena enak juga tidak ada
yang saling mengganggu atau mau tau urusan orang, ya mungkin ciri masyarakat perkotaan
pikirku, tapi lama-lama mahasiswi dikamar sebelahku, sebut saja namanya Sinta, menarik
perhatianku. Bukan saja wajahnya cantik, body yang langsing, tinggi sekitar 160 cm dan berkulit
mulus, Sinta yang kesehariannya suka berpakaian seksi itu kerap membawa laki-laki yang
berbeda menginap dikamarnya. Kupikir biasalah pergaulan bebas anak sekarang.

Suatu hari lampu dikamar mandiku mati, aku naik keatas bak mandi dengan maksud mengganti
bola lampu yang dapat dijangkau dari sini tanpa sengaja aku melihat retakan berupa celah
ditembok kamar mandiku, letaknya diatas dekat plafon. Iseng aku intip kecelah itu dan sedikit
kaget ternyata dari situ aku bisa melihat kedalam kamar Sinta tepat mengarah ke tempat
tidurnya. Pikiran iseng melintas dikepalaku, gimana kalo kuintip saja Sinta dengan teman laki-
lakinya dikamar, lumayan pertunjukan gratis.

Esoknya pulang kerja, sambil tiduran menunggu Sinta kembali ke kostnya. Kira-kira jam 22.00
kudengar langkah kaki di kamar sebelah, kuintip lewat jendela, ternyata Sinta dan teman laki-
lakinya datang. Tak sabar, aku mulai mengintip dari celah kamar mandi, Kulihat laki-laki itu
menunggu Sinta yang sedang menutup pintu kamar, kemudian mereka berpagutan sambil saling
melepaskan pakaian. Hanya dalam beberapa detik mereka sudah telanjang bulat, Sinta jongkok
di hadapan laki-laki itu yang penisnya setengah ereksi dan mengulum penis besar di hadapannya.
Mulut Sinta hampir tidak bisa menampung seluruh penisnya.

Perlahan penis laki-laki itu ereksi penuh karena permainan lidah Sinta. Laki-laki yang tinggi
besar mengangkat tubuh mungil Sinta ke tempat tidur dan langsung menindihnya. Dengan sangat
bernafsu laki-laki itu melahap buah dada kenyal milik Sinta.
Dari sini aku dengan jelas melihat wajah Sinta yang lagi merem melek menikmati permainan
lidah laki-laki itu apalagi lampu kamarnya tidak dimatikan.

Selang berapa menit mereka berganti posisi 69. Mulut Sinta disumbat dengan penis besar laki-
laki itu. Dengan sangat bernafsu Sinta memainkan penis di mulutnya, sedangkan laki-laki itu
sendiri sibuk memainkan lidahnya di clitoris Sinta, kulihat kaki Sinta mulai menegang dan paha
Sinta menjepit kepala laki-laki itu.

Setelah puas, laki-laki itu duduk bersandar di head board dan Sinta duduk di pangkuannya
dengan saling berhadapan. Dengan bertumpu pada lututnya, perlahan Sinta memasukan penis
besar laki-laki itu ke lubang vaginanya. Penis laki-laki itu mulai menerobos masuk. Dia
mendongak ke atas sedikit meringis saat menurunkan pantat bahenolnya agar penis laki-laki itu
masuk lebih dalam.
Sinta mulai menggerakkan pantatnya maju mundur, sedangkan laki-laki itu mejilati dan
menyedot buah dada Sinta. Gerakan Sinta maju mundur makin lama makin cepat dan tidak
beraturan, selang 5 menit tubuh Sinta bergetar hebat menikmati orgasme sambil melumat mulut
laki-laki itu.

Mereka istirahat sebentar sambil mencumbui Sinta agar bangkit lagi. Dengan memainkan buah
dada Sinta yang kenyal, dia bangkit lagi gairahnya, Sinta lalu mengangkangkan pahanya lebar-
lebar, dari celah ini aku bisa lihat vagina Sinta yang kemerah-merahan akibat gesekan penis
besar laki-laki itu. Dia menusukkan senjatanya ke vagina Sinta dan mulai menggerakkan
pantatnya maju mundur dengan keras, saking kerasnya sampai terdengar suara sayup-sayup,
“Plak! plok…, plak! plok!”, dari benturan paha mereka.

Sinta seperti mendesah hebat setiap kali laki-laki itu menghunjamkan penisnya dalam-dalam.
Penisku rasanya sudah tidak kuat menahan sakit karena tegang sejak tadi. Posisi ini tidak
bertahan terlalu lama, laki-laki itu minta Sinta nungging dan dia menusukkan senjatanya dari
belakang, aku bisa dengan jelas melihat penis laki-laki itu keluar masuk menusuk vagina Sinta.

Lima menit berlalu laki-laki itu menunggangi Sinta, perlahan-lahan gerakanya mulai tak
beraturan apalagi Sinta juga ikut menggoyangkan pantatnya. Akhirnya laki-laki itu mencabut
penisnya dan menyodorkan ke Sinta, Sinta tanpa canggung memasukkan penis yang baru keluar
dari vaginanya dan dipenuhi cairan vagina itu kemulut. Kulihat Sinta menghisap penis laki-laki
itu sambil tangannya sesekali ikut mengocok-ngocok penis laki-laki itu dan tak lama wajah Sinta
sudah dilumuri cairan sperma yang menyemprot keluar.

Kulihat Sinta menjilati penis laki-laki itu samapi bersih. Berdua mereka ke kamar mandi, tapi
sayangnya aku tidak bisa melihat situasi kamar mandinya dari sini. Aku balik ketempat tidurku
tapi mataku tidak bisa terpejam, dalam pikiranku masih terbayang adengan hot Sinta dengan
laki-laki itu. Membayangkan mereka, aku jadi tidak bisa tidur sampai pagi.

Beberapa hari berlalu, suatu malam samar-samar kudengar desahan dikamar sebelah, it’s show
time, cepat-cepat kulihat dari celah kamar mandi dan ternyata mereka Threesome, Sinta, laki-laki
itu dan temanya satunya lagi. Sekarang kutahu Sinta adalah mahasiswi bispak dan bisa dibayar
untuk melayani laki-laki, hanya Sinta selalu memilih laki-laki yang bisa mengencaninya. Laki-
laki yang sudah dikenalnya dengan baik, Sinta tak sungkan mengajak berkencan dikost’annya.

Sinta kulihat sedang nungging sedangkan laki-laki itu memompa vagina Sinta dari belakang,
tangan Sinta berpegangan ke pinggir ranjang sambil melumat penis milik laki-laki satunya yang
duduk di pinggir ranjang. Aku baru tahu kalau Sinta benar-benar binal. Wah ini adegan yang
sungguh sangat membuat birahi.
Laki-laki itu mencabut penisnya dari vagina Sinta dan menancapkanya lagi ke lubang pantat
Sinta. Laki-laki itu nampak mulai bernafsu, semetara Sinta berteriak kecil setiap penis besar ini
masuk lebih dalam. Dalam 5 menit laki-laki itu mencabut penisnya dan menumpahkan seluruh
cairan spermanya di punggung Sinta.

Sementara laki satunya lagi asyik menikmati permainan mulut Sinta, kemudian Sinta di
tempatkan di pinggiran bed dengan posisi nungging sementara laki-laki satunya itu berdiri di
lantai, di pingiran bed dan bersiap-siap menusukkan senjatanya ke lubang pantat Sinta.
Goyangan pantat laki-laki itu menimbulkan suara sayup-sayup, “Ceplak.., ceplok..!”,.

Penis laki-laki itu makin keras menghunjam pantat Sinta sambil tangannya meremas keras pantat
bahenol Sinta. Datang dari kamar mandi si laki-laki pertama langsung ikutan nimbrung lagi, dia
menyusup ke bawah tubuh Sinta dengan kaki menjuntai ke bawah dia memasukkan penisnya ke
vagina Sinta lalu menurunkan badan Sinta, laki-laki itu satunya lagi tetap berdiri dengan penis
menancap ke pantat Sinta, dia agak membungkuk karena badan Sinta merendah dan nempel ke
tubuh laki-laki itu. Mereka mulai bergoyang, mulut Sinta dengan lahap menjilat dada bidang si
laki-laki itu.

Laki-laki kedua pantatnya kian keras bergoyang dan akhirnya, “Cret.., cret.., cret”, spermanya
tumpah dibongkahan pantat Sinta, sementara si laki-laki itu masih asyik menikmati goyangan
Sinta dari atas, karena laki-laki satunya lagi tidak lagi menusukan senjatanya, Sinta lalu duduk
bersimpuh di penis si laki-laki itu dan bergoyang maju mundur. Tangan si laki-laki itu meremas
buah dada kenyal milik Sinta, desahan Sinta makin hebat sampai akhirnya lemas terkulai di atas
tubuh laki-laki itu.

Laki-laki itu bangkit dan mulai menyodok lubang pantat Sinta yang lagi tengkurep lemas. Plok..,
plok.., plok..!, bunyi pantat dan paha mereka beradu, selang beberapa menit si laki-laki itu
membalikkan tubuh Sinta dan mengangkangi wajah Sinta sambil mengocok-ngocok penisnya
sendiri, sementara Sinta tampak membuka mulutnya lebar-lebar ketika laki-laki itu
menumpahkan spermanya dimulut Sinta dan tampak Sinta menelan cairan sperma yang
memenuhi rongga mulutnya itu.

Laki-laki kedua datang dari kamar mandi, langsung berpakaian lalu pamitan pada mereka.
Tinggal laki-laki itu berdua dengan Sinta dikamar. Dia menggendong Sinta ke kamar mandi,
mungkin saling membersihkan diri, mereka tidur bugil dengan saling berpelukan.

Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 24.15, aku berencana besok aku akan bolos kerja. Sampai
jam 02.00 di kamar Sinta tidak ada aktivitas, mereka masih tertidur pulas dengan tetap saling
berpelukan. Akhirnya aku tertidur karena bosan menunggu.

Jam 04.00 aku terbangun dan iseng kuintip lagi sambil kekamar mandi. Eh kulihat tangan Sinta
mengocok penis si laki-laki itu yang sedang berdiri setengah tiang. Kepala Sinta dituntun oleh
laki-laki itu untuk melakukan blowjob. Mulut Sinta yang mungil tampak mengembung akibat
sumbatan penis si laki-laki itu. Setelah berapa lama akhirya tumpah juga isinya di mulut Sinta, si
laki-laki itu akhirnya tertidur pulas lagi, sementara Sinta ke kamar mandi mungkin
membersihkan mulutnya.

Jam 06.30 laki-laki itu bangun, berpakaian dan pamitan ke Sinta yang bermalas-malasan di
tempat tidur dalam keadaan bugil. Setelah si laki-laki itu pergi, tak tahan menahan konak aku
menyerbu masuk ke kamar Sinta dan mengunci pintu, dia kaget sekali melihat aku datang, aku
langsung membuka pakaianku dan menindihnya. Berberapa kali dia berontak, namun akhirnya
penisku bisa kutancapkan ke vaginanya. Puas mengocok vaginanya, aku minta dia nungging
untuk menyodok lubang satunya. Dia menolak, “Sin… kamu jangan munafik, laki-laki itu dua
orang itu kenapa kamu kasih…ah?”, aku keceplosan ngomong.

Dia terheran-heran dan menanyakan dari mana aku tahu hal itu. Akhirnya aku menjelaskan
aktivitas mengintipku di kamar sebelah. Wajah Sinta tampak merah padam antara malu dan
marah, apalagi kujelaskan secara detil pergumulannya yang hot dan binal dengan laki-laki itu.
Akhirnya sekian lama menahan konak, aku mendapat blowjob dari Sinta, bahkan melakukan
anal, dan penutup permainan dengan ngecrot di mulut mahasiswi bispak ini yang juga tak
menolak ketika kuminta menelan cairan spermaku yang tumpah dimulutnya dan selesai sudah
Akhwat Kampus_Laras dan Jannah

“Oouuuhhhh..” dengan pelan desahan itu keluar dari mulut Laras. Semakin gadis berjilbab itu
keluarkan suara dari mulut maka semakin mereka menjadi. Laras rasakan tali BH- Laras terlepas
dan BH-nya mengendor. Entah siapa yang melakukannya. Gadis berjilbab itu merasakan tangan
Markus mendekap dadanya secara langsung. “mmhhhh…,” Laras rasakan. Dada Laras diremas-
remas lagi dan kemudian kedua puting Laras dimainkan oleh Markus. Nikmat yang membuat
gadis berjilbab itu terasa melayang2 diudara.

Malam itu udara dingin menyapu sampai lantai tiga kampus islam itu, masuk melalui jendela
yang terbuka menuju ruangan BEM. Terlihat tiga sosok yang sedang duduk dibawah sinar ampu
bohlam yang temaram. Malam yang dingin tidak mereka rasakan.

Laras adalah seorang perempuan diantara Anto dan Markus, dua orang laki2 yang mengapitnya.
Seorang gadis alim aktifis BEM dikampusnya, berparas cantik, kulit putih dan tubuh montok
yang selalu tertutup oleh jilbab lebar dan pakaian muslimah yang longgar dan santun. Matanya
yang indah dah lentik nampak sayu, tak kuasa menahan gejolak rasa yang sedang ia rasakan, dari
sentuhan2 dua orang laki2 yang mengapitnya. Gadis alim itu tak kuasa melawan gejolak yang
diakibatkan sentuhan2 dua orang laki2 dikiri dan kanannya. Bibirnya yang tipis sedikit terbuka,
mendesahkan rintihan-rintihan birahi, dan sedikit kata2 penolakan yang tak berarti. Sang dara
berjilbab itu sudah hanyut dalam permainan dua laki2 kotor yang berbafsu padanya.

Malam itu, Laras sang gadis alim yang santun itu sebenarnya mendapat undangan rapat
mendadak persiapan mahasiswa baru di kampusnya, namun saat ia sampai di kAntor BEM,
ternyata disana hanya ada Anto, sang ketua BEM, dan Markus, si pejantan kampus dari Irian,
yang tahun ini bertugas menjadi ketua keamanan kampus. “lainnya mana pak Anto? Mas kholid?
Mbak Sari? Mbak Yulia?” tanya Laras pada Anto. “Mereka ijin nggak bisa datang. Ada acara.”
Kata Anto. Laras hanya mengangguk2 percaya. Bagaimana tidak, Anto, ketua BEM itu sudah
sangat lama menjadi seorang yang Laras idamkan. Ketampanan dan kedewasaan Anto yang
membuat Laras menaruh hati padanya. Anto bukannya tidak tahu hal itu, tapi tanpa
sepengetahuan Laras, Anto sesungguhnya adalah seorang playboy yang sangat handal. Sudah
banyak wanita baik yang menjadi korban sang ketua BEM itu, dari yang anak gaul sampai anak
rohis jang berjilbab besar di kampus nya. Dan target Anto selanjutnya adalah Laras. undangan
rapat itu juga sebenarnya hanya akal2an Anto dan Markus, karena yang diundang sebenarnya
hanya Laras.

Rapat yang terjadi ternyata menyita waktu 3 jam, sampai sekitar pukul 10 malam. Diluar gedung,
butir2 besar air hujan mengucur deras membasahi bumi. Setelah rapat selesai, belum ada tanda2
hujan akan reda. Laras hendak nekat pulang dibawah guyuran hujan deras, namun dengan lembut
Anto menahannya dan memintanya untuk menunggu barang sebentar lagi. Gadis alim itu
termakan rayuan Anto, dan menyetujuinya.

Beberapa saat kemudian, dua insan itu sudah terlibat percakapan yang hangat. Mereka tidak
mengetahui Markus yang keluar. Saat2 berlalu, percakapan kedua insan berlainan jenis itu
semakin menuju kearah BEMbicaraan pribadi, dan Laras, sang gadis alim yang lugu semakin
larut kedalam rayuan hebat Anto, ketua BEM yang playboy itu. Pipi mulus Laras sedikit2 terlihat
merona merah karena rayuan Markus. Bibir indahnyapun sedikit2 tersenyum simpul, tertipu
malu. Perlahan tangan Anto mendekat ke Laras, dan dengan lembut meraih tangan Laras. Laras
sedikit terkejut, namun gadis alim itu tidak menarik tangannya. Ia hanya tersipu malu.

“aku mau jujur sama dik Laras… aku sayang sama dik Laras…” kata Anto. Tangannya
menggenggam erat dan meremas2 tangan Laras. Laras terdiam. Wajahnya merah padam karena
malu. Tapi saat itu Markus datang. Laras salah tingkah dan hendak melepaskan genggaman
tangannya dari tangan Anto, namun Anto melarangnya. Senyum menenangkan dari Anto
membuat gadis lugu yang alim itu tenang. Markus mendekati mereka beredua dan memberikan
dua gelas susu panas. “untuk teman dingin2.” Kata Markus. Segera Anto menerima gelas berisi
susu yang diberikan Marku padanya,s ementara Laras menerima yang satu lagi. Setelah senyum2
sedikit dengan Anto, Markus segera menjauh dari Laras dan Anto, duduk disudut ruangan, dan
membuka laptopnya. Laras dan Anto meneruskan perbincangan mesra mereka. Posisi duduk
mereka semakin dekat satu sama lain, didepan komputer milik BEM.

Tak lama, Laras merasakan tubuhnya agak panas, dan kepalanya terasa ringan. Gadis lugu itu tak
tahu apa yang terjadi, namun yang pasti, ia merasakan didalam tubuhnys eolah ada sedikit
gejolak2 yang aneh dan belum pernah ia rasakan, namun ia coba menafikkannya, karena ia
mengira rasa itu hanya dari dalam dirinya saja. Ternyata, tanpa sepengetahuan Laras, Markus
telah memberi obat perangsang pada minuman susu yang Laras minum. Obat itu tidak terlalu
keras, namun sang peminumnya pasti tak bisa menolak gairah2 seks yang terjadi.

Tanpa terasa, posisi duduk Laras sudah sangat dekat dengan Anto, dan tanpa Laras sadari, tangan
Anto sudah merentang dan merangkul Laras lembut. Gadis alim itu tak mampu menolak, karena
gairah yang ia rasakan terus meninggi, dan ditambah perasaan cintanya pada Anto. “aku ingin
cium kamu…” bisik Anto lembut. Wajah Laras terlihat kembali memerah. Laras hanya bisa
menggeleng pelan. Untuk mengatakan “tidak”, ia tak mampu, karena perasaannya pada Anto
menginginkannya. Walaupun Laras menggeleng namun Anto tetap mendekatkan bibirnya ke pipi
Laras. Laras berusaha mengelak dengan halus, namun Anto tetap terus maju, sampai akhirnya
bersentuhanlah bibir Anto dan pipi mulus Laras. Laras hanya bisa mendesah lirih. Setelah
berhasil mencium untuk pertama kalinya, ciuman kedua tidak mengalami halangan yang berarti.
Bahkan di ciuman ketiga, Laras memejamkan matanya. Gadis berjilbab lebar itu tak mampu
menahan gejolak birahinya yang semakin meninggi.

Dan jadilah, seorang gadis alim yang memakai jilbab lebar, sedah merintih dan mendesah
dirangsang oleh sang ketua BEM. Sementara Anto terus menciumi Laras yang masih terus
mendesah, Markus mendekat dan mengambil posisi disisi Laras yang lain. Anto, yang merangkul
dan menciumi pipi gadis alim itu, kini mulai mengulurkan tangan yang satu lagi untuk
mengusap2 paha Laras yang masih tertutup rok panjang. Terdengar desahan Laras semakin
kencang saat tangan kiri Anto naik sampai atas, ke pangkal paha Laras, sang gadis berjilbab yang
sedang birahi.

Tangan Anto tak sampai ditiu. Ia menaikkan tangannya keatas, mengusap2 daerah dada Laras.
Gadis alim itu merasakan ngilu dan nikmat di puting Laras , dan membuat Laras merintih
semakin kencang. Kemudian, “Antooo… janganmmhh…,” Laras merintih semakin kencang.
“enak ya ras? Mau yang lebih enak lagi?” perlahan Markus menarik Laras dan perlahan Anto
melepaskan gadis alim yang cantik itu. Markus memeluk Laras , tangannya Laras rasakan
menyentuh dada Laras dan mengusap-usapnya lalu meremas-remas buah dada gadis berjilbab itu
dari luar baju longgar dan jilbabnya.

Sesaat Laras terdiam menahan nafas dan agak terkaget dengan sentuhan Markus. Gadis alim itu
merasakan putingnya mengeras dan menegang membuat aliran darah Laras terangsang keseluruh
tubuh. Rasanya ngilu dan nikmat membuat seluruh tubuh gadis alim yang cantik itu merinding
dan lemas. Perlahan mengalir ketonjolan didekat saluran kencingnya. Kemudian Laras rasakan
bibir memek dan anus Laras berdenyut-denyut. Gadis alim yang berjilbab besar itu sedang
terangsang hebat. Untung Markus tak menyentuh selangkangan Laras. “jangan too… kuusss…!”
ucap Laras sambil kedua tangan Laras dengan lemah berusaha melepaskan kedua tangan Markus
dari dada Laras. Walaupun sebenarnya gadis alim itu mulai menikmatinya, namun harga dirinya
mengatakan tidak. Tiba2 gadis alim itu merasakan sebuah bibir mencium kupingnya dari luar
jilbab merah yang ia kenakan. Mata Laras melirik ke arah wajah tersebut dan terlihat sekilas
wajah Anto. Sesaat Laras terdiam kembali. Nikmat di dalam darah gadis alim itu mengalir
kembali. Bibir Anto kemudian melumat daun telinga sang gadis alim yang sedang dilanda
gejolak birahi itu dari luar jilbab merahnya. Laras rasakan nikmat dan lembut mulut Anto dan
membuat Laras tidak dapat mengelak dan menolak. “Ehhhmmmhhh….” hanya itu yang bisa
Laras desahkan. Dagu Laras terangkat tinggi. Gadis berjilbab lebar itu merasakan putingnya
mengeras dan menegang menjadi sensitif. Laras rasakan ngilu dan nikmat di putingnya.

Tampaknya Markus tak mau kalah. Segera tangannya kembali meremas-remas dada Laras.
Perlahan mulut Markus mendekat dan melumat bibir gadis alim itu. Lidahnya menjilati semua
yang ada di mulut Laras. Laras hanya bisa terdiam tak bergerak, Laras rasakan pikiran Laras
melayang jauh. Birahi gadis alim itu mengalir di dalam darahnya. Tubuh Laras semakin sensitif
dan haus akan sentuhan. Terlintas di pikiran Laras berharap mendapatkan yang lebih lagi. Gadis
alim berjilbab itu merasakan buaian tangan Anto di pahanya sehingga membuat daerah sensitif di
selangkangan Laras semakin menjadi. Laras rasakan rok Laras perlahan diangkat Anto. Tangan
Anto dengan lembut mengelus-elus paha putih montok gadis alim berjilbab itu dari daerah paha
luar, dalam dan sampai di belahan selangkangan Laras. Tubuh Laras bergetar hebat, dan
menggelinjang. Tak beberapa lama, diiringi rangsangan2 Anto dan Markus, Tubuh Laras
menghentak2 hebat selama beberapa detik dan langsung lunglai. Desahan panjang keluar dari
mulut Laras. Gadis alim yang berjlbab dan selalu santun itu mendapat orgasmenya yang pertama
kali dalam hidupnya. Kedua pemerkosanya tersenyum karena melihat sang korban sudah jatuh
ketangan mereka.

Beberapa saat kemudia Anto menghentikan kegiatannya dan berdiri, begitu juga Markus.
“jangan disini to, ntar ada yang liat. Kita bawa ke tangga yang pernah kita pake buat ngerjain
Silvi aja.” Kata Markus. Ternyata, Markus dan Anto juga pernah melakukan hal yang sedang
mereka lakukan pada Laras pada Silvi, seorang gadis lugu yang juga berjilbab besar teman Laras.
Segera mereka berdua menuntun Laras yang sudah lunglai tak berdaya keluar dari ruang BEM,
menuju tangga. Tangga itu sudah tak pernah dipakai, karena penerangan yang minim juga lantai
dan temboknya yang rusak. Biasanya para mahasiswa memakai tangga besar di sayap utara
gedung atau lift yang ada ditengah gedung. Tangga ini tak pernah dipakai disiang hari, apalagi di
malam hari. Mereka bertiga segera menuruni tangga dan berhenti diantara lantai tiga dan dua,
dimana ada bagian datar yang besar.

Selesai turun tangga ternyata Markus langsung memeluk Laras. Kedua tangannya
menggerayangi buah dada Laras. Gadis alim itu merasakan putingnya menegang ngilu yang
nikmat. Birahi mengalir dalam darahnya membuat ia semakin terangsang. Kemudian mereka
bertiga duduk dilantai, dengan Anto dikiri dan Markus dikanan Laras. Dan tak lama kemudian
tubuh Laras kali ini dirangkul oleh Anto. Tangannya mengelus dan meraba paha Laras ,
kemudian perlahan menyusup di rok gadis berjilbab itu. Tak lama kemudian celana dalam gadis
alim itu yang membentuk belahan kemaluannya terlihat jelas, telah basah oleh cairan
orgasmenya. Tangan Anto bergerak dari bagian paha luar, dalam, dan selangkangan Laras.
Terasa bibir memek gadis berjilbab itu berdenyut dan sensitif. Rintihan gadis itu kembali
terdengar. Jelas sekali sang gadis alim yang cantik itu sedang terangsang.

“Laras… Paha kamu mulus… putih… Kulit kamu lembut…,” sahut Anto dengan kedua tangan
yang menikmati tubuh Laras. Sesaat kemudian gadis alim itu merasakan tangan Markus
mendekap salah satu buah dadanya yang sedang terangsang. Sesaat nafasnya tertahan. Ia
merasakan nikmat di dadanya. Puting Laras sedang dialiri darah birahi. Perlahan dagu Laras
terangkat tinggi. Nafas gadis alim itu memburu.

Tampaknya Markus dan Anto tahu bila gadis cantik berjilbab besar itu sudah terangsang hebat.
Tanpa basa basi lagi mereka melakukan permainan selanjutnya. Perlahan tangan Markus yang
mendekap dada Laras turun dan menyusup kedalam kemeja longgar yang dikenakan Laras.
Gadis berjilbab yang cantik itu merasakan tangan Markus menyentuh Kulit perutnya yang mulus
dan menyusup sampai mendekap dada montok mulusnya yang tertutup BH dan kemudian
meremas-remasnya. Dagu Laras terangkat tinggi. Matanya yang sayu menatap bohlam 5 watt
yang membuat tempat itu etrlihat temaram. Kemudian bibir Markus Laras rasakan mengecup dan
mencuimi leher Laras yang masih tertutup jilbab. Mata Laras terpejam. Gadis alim berjilbab
besar itu menggigit lembut bibir bawahnya, berusaha menahan gejolak nikmat birahi yang
seharusnya terlarang baginya.

“Oouuuhhhh..” dengan pelan desahan itu keluar dari mulut Laras. Semakin gadis berjilbab itu
keluarkan suara dari mulut maka semakin mereka menjadi. Laras rasakan tali BH- Laras terlepas
dan BH-nya mengendor. Entah siapa yang melakukannya. Gadis berjilbab itu merasakan tangan
Markus mendekap dadanya secara langsung. “mmhhhh…,” Laras rasakan. Dada Laras diremas-
remas lagi dan kemudian kedua puting Laras dimainkan oleh Markus. Nikmat yang membuat
gadis berjilbab itu terasa melayang2 diudara.

Perlahan kemeja Laras dibuka dan kemudian BHnya. Udara pun menyentuh puting Laras
langsung dan merangsang tubuh Laras. Celana dalam Laras dibuka Anto. Kaos dan BH-Laras
dilepas Markus. Rok Laras tidak ketinggalan. Baju muslim yang menyelimuti tubuh putih
montok sang dara alim berjilbab itu berserakan disekeliling mereka.

Akhirnya tiada sehelai kainpun di tubuh gadis berjilbab itu, kecuali jilbab besar yang ujung2nya
disampirkan ke pundak Laras, kaos kaki putih selutut dan sepatu yang masih terpakai. Ternyata
jilbab dang sepatu serta kaos kaki itu memberi sensasi tersendiri pada gairah seks Markus dan
Anto. Laras, gadis alim itu kini hanya bisa mendesah2 pasrah menerima rangsangan dari kedua
pemerkosanya, seorang preman kampus dari daerah timur Indonesia dan seorang yang
disukainya.

Perlahan tangan Anto membuat kaki Laras mengangkang lebar. Rasanya buaian angin
merangsang paha dalam dan daerah kemaluan gadis berjilbab itu. Tiba2 gadis alim itu merasakan
bibir Anto menyentuh dan mengecup bibir memeknya. Dagu Laras terus terangkat tinggi dan
dada Laras reflek membusung seakan menyodorkan diri. Mata gadis berjilbab itu terpejam erat.
Gadis alim itu merasakan seperti ada setrum yang mengalir dari bibir memek ke seluruh tubuh.

“Oouuhhhh…” dengan panjang Laras ucapkan. Laras rasakan tangan Markus meremas dada
Laras dan memainkan puting Laras. Ah, dua titik sensitif Laras terangsang. Dengan reflek dada
montok gadis berjilbab itu membusung sesampai-sampainya. Tampaknya Markus tidak diam
melihat Laras begini. Segera ia menghisap salah satu puting Laras. Sekarang ketiga titik sensitif
Laras terangsang. Gadis berjilbab itu merasakan jari-jari Anto perlahan masuk ke liang
memeknya. Lalu keluar lagi dan akhirnya keluar masuk dengan cepat dan serakah. Awalnya
Laras memekik karena merasakan sakit yang sangat, namun sejenak kemudian Laras rasakan
kenikmatan yang sangat, yang membuat birahi Laras melayang dan terangsang membuat Laras
pasrah dan menikmati cara mereka yang sedang menikmati tubuh putih mulusnya. Gadis alim itu
mearasakan kemaluannya basah kuyub. Terlihat banyak cairan cinta keluar dari memek sang
gadis alim itu, bersama darah keperawanannya. Anusnya juga terkena air yang mengalir.
Tampaknya Anto mengetahui hal ini. Perlahan salah satu jarinya masuk ke anus gadis berjilbab
itu. Semakin lama anus gadis berjilbab itu licin dan jari Anto dapat keluar masuk mudah.
Akhirnya jari-jari Anto keluar masuk dikedua liang tubuh Laras. Jilbab yang masih ia kenakan
basah kuyub oleh keringat. Bibir Anto menikmati daerah pinggang dan perut Laras. Seperti
listrik mengalir dalam darah gadis alim itu dan juga daerah daerah tubuhnya yang mereka sentuh.
Tak beberapa lama gadis alim itu kembali meraih orgasmenya yang kedua, lalu ketiga. Tubuh
montoknya yang putih terlonjak2 menahan birahi yang meledak2 dalam tubuhnya. Mulutnya
memekik-mekik keras dan erotis. Sang gadis alim berjilbab, dara di kampus itu telah dikuasai
oleh seks dan birahi.

Akhirnya Laras terbaring lemas saat ia lihat Anto melepaskan celananya. Laras lihat kontolnya
terhunus dan ia tujukan ke liang memek Laras. Gadis alim itu merasakan sentuhan milik Anto di
bibir memeknya. Perlahan-lahan masuk. Dagu dan dada gadis berjilbab besar itu terangkat
tinggi, merasakan benda hangat, besar dan keras itu masuk menyeruak memenuhi liang
memeknya. “Auuughhh!!!!” Laras memekik keras sambil akhirnya milik Anto menancap dalam
di liang memek Laras. Kemudian ia keluar-masukkan. Gadis berjilbab itu merasakan gesekan
milik Anto keluar masuk. Nikmat rasanya sampai-sampai anus gadis alim itu berdenyut-denyut.
Mata Laras setengah terpejam dan kadang-kadang tubuh Laras ikut bergoyang karena tak tahan
merasakan nikmat. Mulutnya mendesah dan merintih penuh kenikmatan. Gadis berjilbab itu
sudah terbuai sepenuhnya oleh kenikmatan terlarang. Sekilas terlihat Markus melepaskan
celananya. Gadis berjilbab itu melihat milik Markus yang lalu oleh Markus langsung
ditempelkan ke mulut Laras. Perlahan kontolnya dimasukkan ke dalam mulut Laras, dan
langsung disodok2kan keluar masuk. Saking bersemangatnya Markus, sampai sering gadis
berjilbab itu tersedak2 oleh kontol Markus yang hitam dan besar.
Beberapa saat kemudian Anto memutar posisi Laras jadi mengungging. Dengan begini Markus
dapat dengan mudah memperkosa mulut gadis alim itu dengan kontolnya hitam besarnya yang
terhunus. Perlahan Laras rasakan kenikmatan yang berbeda. Milik Anto perlahan ia cabut dari
liang memek gadis alim itu dan kemudian Anto hunuskan ke anusnya yang terasa berdenyut-
denyut nikmat. Perlahan ia masukkan ke anus Laras yang sudah terangsang, basah dan longgar
karena jemarinya. Tidak bisa masuks ecara cepat karena besarnya kontol Anto dan sempitnya
anus Laras, namun akhirnya tertancap dalam juga dan segera Anto mengeluar masukkan dengan
pelan. Laras memekik2mekik antara sakit dan nikmat. Karena sudah licin maka ia keluar-
masukkan dengan cepat dan akhirnya menyembur cairan di liang anus Laras, berbarengan
dengan gadis berjilbab itu mencapai orgasmenya yang ketiga, juga dengan melonjak2. Lantai
dibawah mereka semakin becek oleh permainan mereka bertiga.

“Ouuhh…” Laras ucapkan sambil menikmati semburan yang Anto keluarkan. Setelah itu Anto
mendiamkan kontolnya diam tertancap. Sesaat kemudian ia mainkan lagi. Anus Laras sangat
licin karena cairannya. Kadang ia keluarkan dulu dan kemudian dia tancapkan lagi. Tampaknya
ia sengaja. Karena pada setiap tancapan, gadis berjilbab itu mendesah karena merasakan nikmat.

Beberapa saat kemudian Laras rasakan banyak cairan yang menyembur dari milik
Markusmemenuhi mulutnya. Markus segera mencengkeram kepala Laras yag masih terbalut
jilbab sembari membentak sang gadis berjilbab itu untuk menelan semua spermanya. Laras
dengan susah paya menelan cairan sperma itu, namun karena saking banyaknya, cairan sperma
Markus meluber sampai keluar dan membasahi dagu sampai ke jilbab Laras, bahkan menetes ke
lantai. Setelah habis, Markus melepaskan kontolnya dari mulut Laras, dan gadis berjilbab itu
langsung terbatuk dan muntah2. Markus dan Anto tertawa melihatnya. Anto kemudian menarik
pundak Laras. Sehingga ia dapat memeluk Laras dari belakang. Tangannya meraba-raba dada
Laras.

Gadis berjilbab itu merasakan Anto berdiri dan Laras tergantung di kontolnya yang menancap.
Dari depan Laras lihat Markus ikut berdiri dan menghampiri Laras lagilalu langsung
menancapkan kontolnya ke liang memek Laras. Gadis berjilbab itu merasakan kenikmatan tiada
tara, merasakan kedua liangnya mereka penuhi dengan kontol besar hitam mereka. Dan akhirnya
setelah genjotan demi genjotan, mereka sama-sama sampai puncak dan puas. Laras terbarih
lemas dilantai, saat kedua pemerkosanya membenahi pakaian mereka.

Tak lama mereka segera membawa Laras naik kembali ke lantai tiga, lalu membawanya ke
kamar mandi untuk membersihkan badannya yang basah kuyup oleh cairan cinta. Didalam
kamar mandi kembali Laras digilir oleh mereka. Diantara genjotan2 yang gadis alim itu rasakan,
ia tahu itu bukanlah terakhir ia diperkosa oleh kedua laki2 itu, namun ia sudah tak bisa berbuat
apa2, dan hanya bisa pasrah, bahkan terhanyut dalam kenikmatan terlarang itu. Kembali cairan
orgasmenya menyemprot-nyemprot keluar ketikagadis alim yang cantik dan berjilbab lebar itu
orgasme untuk yang kesekian kalinya.

#######################################

“Auuwww.. Mas.. sakiitt” jerit Jannah.


“udaah…udah Maaassss…” air matanya mulai mengalir. Walaupun Jannah sudah tidak perawan
karena keperawanannya sudah direnggut oleh William diperpustakaan kampus beberapa hari
yang lalu, namun kontol William yang besar serta sodokan William yang kasar tetap
menyakitinya.
“Rileks Nah…. supaya enak nanti” bujuk William, sambil terus menekan lebih dalam lagi.
 Suatu hari setelah terjadinya perkosaan itu, Laras masih terus teringat. Bukan takut yang ia
rasakan, namun rasa ingin mengulanginya lagi, walaupun tak pernah ia mengungkapkannya. Ia
tahu, itu akan membuat harga dirinya hancur. Namun saat ia mengingat kontol2 besar Markus
dan Anto dan menusuk2 dua lubangnya, seringkali memeknya terasa basah. Gadis alim yang
lugu itu ternyata sudah mulai kecanduan kontol.

Disebuah sore, saat Laras baru berjalan pulang keluar dari kampus islam tempatnya kuliah, tiba2
dari belakang sebuah mobil escudo memepoetnya. Ada satu orang yang keluar darinya, dan
ternyata itu Markus! Langsung bayangan perkosaan yang pernah terjadi teringat dibenak Laras.
Kenikmatan kontol besar Markus yang menyodok2 memek dan lubang anusnya juga ikut
terbayang.
 “hai, mbak Laras… ikut camping yuk!” kata Markus langsung. Laras menundukkan
pandangannya antara malu, takut dan khawatir birahinya yang tersulut disadari oleh Markus.
Segera dia menggelengkan kepala. “maaf mas Markus … saya mau pulang… banyak kerjaan di
kost…” kata gadis alim itu dengan suara yang mendayu, terdengar seperti pasrah ditelinga
Markus.
 “cuman sampai besok mbak… besok kan sabtu, gak ada kuliah…” kata Markus. “bareng2 sama
teman2ku kok…” kata Markus lagi. “ada ceweknya juga kok. Kalo gak mau ntar kampus heboh
lhoo…” kata Markus sambil menyeringai. Laras, gadis alim itu terkesiap. Gadis berjilbab itu
menyadari Markus sedang mengancamnya, dan pasti berhubungan dengan perkosaan yang ia
alami dulu. Jangan2 Markus punya foto2 saat dia diperkosa. Dengan pucat pasi Laras
mengangguk pelan.
 “nhaaa… gitu donk!” kata Markus. Akhirnya Laras dengan setengah hati ikut mereka, tanpa
pulang ke kost dulu. “pake baju gitu aja sudah cakep kok!” kata Markus. Laras yang memakai
baju biru langit, rok hitam dan jilbab besar yang berwarna biru langit juga memang terlihat
cantik sekali.
 Didalam mobil, Laras berkenalan dengan teman Markus. Ada Robert, rekan Markus sesuku,
yang nampak lebih hitam dan lebih gahar dengan tubuh tinggi kekar. Lalu ada William, yang
mengaku dari Maluku, dan seorang wanita yang juga berjilbab besar, yang bernama Jannah.
Jannah adalah seorang mahasiswi yang etrlihat pemalu, dengan wajah yang ayu. tubuhnya yang
walaupun selalu dibalut baju terusan yang longgar, namun samar2 masih menampakkan
kemontokannya. wajahnya yang dibalut jilbab lebar coklat tua terlihat putih dan cantik,
walaupun ada beberapa noda bekas jerawat dipipinya yang putih dan agaks edikit tembam. Laras
yang mengetahui bahwa Jannah adalah seorang mahasiswi semester tiga yang sangat alim dan
pemalu juga pendiam dikampusnya heran, mengapa dia bisa bersahabat dengan Markus dan
kawan2nya. Namun Laras tak mampu bertanya2 apa2, karena dia duduk didepan disamping
Markus yang menyetir mobil, sementara Jannah ada di belakang, diapit Robert dan William.
Ketika mobil berjalan, Laras menyadari ada gelagat buruk. iA tahu dia akan kembali diperkosa
oleh orang2 dari luar jawa ini. Terlebih, nampaknya Jannah juga salah satu dari korban mereka.
Mobil berhenti didepans ebuah rumah gubug yang jauh dari peukiman. Seseorang tua keluar dari
gubug dan menyambut Markus dan teman2nya. “barang baru ya bos? Masih seger2…” kata
orang tua itu pada Markus pelan, namun terdengar oleh Laras yang kebetulan ada dibelakang
Markus. “Markus terlihat menyeringai. “legit-legit semua… lugu-lugu.” Kata Markus. Setelah
memarkir mobil dibelakang gubug itu, segera rombongan itu tanpa disertai sang orang tua yang
menjaga tempat parkiran itu berjalan menembus hutan. Sekitar 30 menit berjalan, akhirnya
sampailah mereka disebuah tanah yang agak lapang ditengah hutan, dimana segera Robert dan
teman2nya mendirikan tenda. Laras memberanikan diri untuk meminta tendanya dan Jannah
diletakkan agak jauh dari tenda Markus dan kawan2nya, dan sambil menyeringai lagi si Markus
mengangguk. Saat itu waktu menunjukkan pukul 1920.

Laras dan Jannah, sepasang gadis berjilbab itu hanya bisa duduk bersama ketiga orang dari
daerah timur indonesia itu mengelilingi api unggun. Mereka berdua hanya diam, dan terkadang
menjawab pertanyaan ketiga orang laki2 itu. Sementara itu markus, robert dan William
sepertinya sangat menikmati malam itu, camping dengan dua dara cantik berjilbab, ditemani
gitar dan beberapa botol minuman keras. Laras tidak melihat gelagat buruk dari ketiga laki2 itu,
namun firasat Laras mengatakan bahwa perbuatan itu akan segera terjadi.

“Mbak, bisa antarkan aku sebentar? Aku pingin pipis…” bisik Jannah ditelinga Laras. “pipis
dimana? Disini gak ada kamar mandi…” kata gadis berjilbab itu. “ada apa? Gak usah kasak-
kusuk, ngomong aja sama kita2…” kata William yang melihat bisik-bisik kami. “anu mas Mas…
kebelet pipis…” kata Jannah. “pipis beneran apa pipis enak?” tanya robert nakal, langsung
disambut gelak tawa kegita lelaki itu, dan rona merah padam diwajah Jannah sang gadis
berjilbab montok itu.

“terserah mau pipis beneran apa pipis enak, tapi harus kerumahnya pak penjaga tempat ini..
jalannya jauh…” kata William, masih cekikikan.

“gak papa… biar saya sama mbak Laras saja…” kata Jannah.

“jangan!” kata Masian langsung, seolah takut kami melarikan diri. “bahaya! Biar aku yang
nganterin kamu, Nah. Laras, kamu disini aja…” segera mereka berdua pergi. Sebelum pergi,
Laras melihat Jannah menatap padanya dengan tatapan takut dan khawatir.

Lima menit berlalu, Laras tak mamu menahan perasaannya. “aku juga mau nyusul mereka.
Permisi sebentar.” Katanya pada Markus dan Robert yang langsung bengong. Segera Gadis
montok berjilbab itu menyusuri jalan setapak membelah hutand engan senter robert yang
tergeletak didekat api unggun. Belum ada 50 meter ia berjalan, ia melihat dikiri jalan ada cahaya.
Ternyata cahaya lampu badai yang tadi dibawa William. Segera Laras terkejut dengan apa yang
ia lihat. Ia melihat Jannah, sang gadis berjilbab lebar dan berpayudara besar tadi sedang digeluti
oleh William si pemuda hitam dari maluku, dengan bersandar dibawah pohon. Lampu badai
diletakkan didahan diatas mereka, mampu memberi cahaya remang yang erotis.

Terlihat William menggeluti Jannah. Jannah memberikan meronta2 dan mengerang2 namun
rontaan dan erangannya tak mampu mengimbangi kekuatan Jong Ambon yang kekar itu.
Akhirnya rontaan gadis berjilbab itu tak lebih dari sekedar formalitas agar ia tidak dikira
menikmati. lidah William menjalar bagai bagai ular menjilati semua bagian wajah gadis alim itu
yang memang putih dan cantik. Bibirnya mengecup semua bagian wajah Dahia. Erangan tanda
penolakan Jannah segera berubah menjadi desahan2 tanggung, menolak namun juga seakan tak
kuasa menahan birahinya. sementara itu tangan William menyusup kebalik jilbab gadis alim itu,
membuka kancing baju terusannya dan langsung masuk kedalamnya, meremas-remas payudara
montok Jannah, yang menyebabkan gadis berjilbab itu mendesah-desah semakin keras. suaranya
desahannya terdengar sangat sensual. Sang gadis alim yang berwajah lugu itu telah terhanyut
gelora birahi,.

William menyibakkan jilbab Jannah dan dililitkannya ke leher gadis alim itu, mempertontonkan
buah dadanya yang montok, keluar dari baju terusannya yang telah terbuka kancingnya. BH yang
ia gunakan juga sudah melorot, sehingga putihnya kulih buah dada itu dan putingnya yang merah
jambu juga turut terlihat. Segera William membungkuk. Mulutnya mencaplok buah dada sang
gadis alim yang sudah terhanyut gelombang birahi itu. Lidahnya menjalar dan meliuk-liuk di
putting merah jambu gadis berjilbab itu, menghisap dan meremas-remas payudara Jannah.
Setelah itu tangannya mulai merayap kebawah, mengelus-elus bagian sensitif Jannah yang masih
tertutup celana dalam dan baju terusan itu. William pelan2 menaikkan bagian bawah baju terusan
Jannah, lalu setelah tersibak, ia berusaha membuka penutup terakhir sang gadis alim itu, tapi
ketika jari2 besar William menyentuh celana dalam Jannah, seakan Jannah sadar dari birahinya
dan langsung meronta keras

“Jangan Mas” tolak Jannah.


 “Kenapa Nah, kemarin kamu keenakan…” tanya William.
 “Jannah takut… jangan mas… ini dosa…”
 “Ntar kalo dah keenakan lu bakalan lupa, cantik…” bujuk William.
 “Jannah nggak mau..” Jannah memelas. Matanya berkaca2.
 “Mas pelan2, kamu bakalan enak…” lanjut William membujuk
 Gadis berjilbab itu diam. Kepalanya menggeleng.
 “Kamu rileks aja ya…”, kata William sambil menciumi pipi dan bibir Jannah, sembari kembali
meremasi buah dada montok sang gadis berjilbab itu. Mata Jannah kembali setengah tertutup.
Birahi kembali menghinggapinya.

William tidak membuang-buang waktu, ia membungkuk dan kembali menikmati bukit


kenikmatan Jannah yang indah itu, menyedot2 dan menggigit-gigit putingnya. Gadis berjilbab itu
menggelinjang. perlahan mulutnya merayap makin kebawah.. kebawah.. dan kebawah. Ia
mengecup-ngecup gundukan diantara paha sekaligus menarik turun celana dalam putih berenda
Jannah yang sudah basah kuyub. Dengan hati-hati William membuka kedua paha putih montok
Jannah dan mulai mengecup kewanitaannya disertai jilatan-jilatan. Tubuh montok gadis alim
yangs elalu memakai jilbab lebar dan baju terusan itu bergetar merasakan lidah William.
Kepalanya yang masih terbalut jilbab terdongak keatas. Tubuhnya kembali menggelinjang. Gadis
alim berjilbab itu terus bergetar, berdiri bersandar sebuah pohon dengan jilbab yang tersibak,
buah dada montok yang menggantung keluar penuh air liur dan cupangan, dan seorang laki-laki
yang jongkok didepannya, menjilati dan mengorek2 memeknya dengan lidahnya. Desahan dan
erangan nikmat terdengar semakin menjadi2 dari mulut sang gads berjilbab.

“Agghh.. Mas.. jangaaannhh…oouugghh.. enakk.. Mas…aaiiihh…”


Mendengar desahan Jannah, William semakin menjadi-jadi, ia bahkan menghisap-hisap
kewanitaan gadis alim yang lugu itu, dan meremas-remas payudaranya dengan liar. Hentakan-
hentakan birahi sepertinya telah menguasai Jannah, tubuh gadis berjilbab itu menggelinjang
keras disertai desahan dan erangan yang tidak berkeputusan, tangannya kirinya mengusap-usap
dan menarik-narik rambut William, seakan tidak ingin melepaskan kenikmatan yang ia rasakan,
sementara tangan kanannya mulai meremas-remas buah dada montoknya sendiri, dan
merangsang putingnya.

Jannah semakin membuka lebar kedua kakinya agar memudahkan mulut William melahap
kewanitaannya. Kepala gadis berjilbab itu mengeleng kekiri-kekanan, tangannya menggapai-
gapai keatas, lalu mencengkeram erat pohon yang menjadi tempat bersandarnya. Mata sang gadis
alim berjilbab itu terbalik dan hanya terlihat putihnya saja. Jannah sudah tenggelam dan setiap
detik belalu semakin dalam ia menuju ke dasar lautan birahi. William yang sudah yakin
rangsangannya berhasil, tahu persis apa yang harus dilakukan selanjutnya.  Ia segera membuka
retsleting celana jeansnya, dan langsung memelorotkannya bersama celana dalamnya. Terlihat
Kontol William yang besar dan hitam sudah mengacung. Ia segera bangkit dari jongkoknya,
kembali menggeluti tubuh Jannah dengan berdiri. Jannah yang sudah terhanyut dalam lautan
birahi tak mampu lagi melawan nafsunya, dan menyambut rangsangan2 dari William. Kemaluan
mereka saling beradu, menggesek, dan menekan-nekan.

Laras yang dari tadi terkesima melihat live show ditengah hutan itu merasakan degup jantungnya
berdetak kencang.  bagian-bagian sensitif di tubuhnya mengeras. Laras mulai terjangkit virus
birahi mereka.

William kemudian dengan satu kakinya tanpa kesulitan merenggangkan kaki Jannah. Pemuda
maluku itu lalu memepet sang gadis berjilbab di pohon tadi, memegang kejantannya, lalu 
mengarahkan kejantanannya keselah-selah paha putih montok sang gadis alim. “Jangan Mas…
Jannah takuut…” sergah Jannah. Tapi etrasa penolakannya tanpa tenaga apa2.
 “Rileks Nah.. ntar pasti enak.. nikmati aja..” bujuk William, sambil mengosok-gosok ujung
penisnya di kewanitaan gadis alim itu.
 “Tapi.. Mas.. oohh.. aahh” protes Jannah tenggelam dalam desahannya sendiri.
 “Nikmatin aja Nah..kamu dulu juga keenakan, kan…” kata William sambil menyeringai.
 “Ehh.. akkhh.. mpphh” Jannah semakin mendesah
 “Gitu Nah…. rileks.. nanti lebih enak lagi”
 “He eh Mas.. eesshh”
 “Enak kan, Nah….?”
 “Ehh.. Maaaasssshh…”
 Laras yang melihat itu benar-benar ternganga dibuatnya. Tubuhnya terasa tidak nyaman. Birahi
yang ia rasakan semakin meninggi gara2 live show yang terjadi.

Tidak ada lagi protes apalagi penolakan hanya desahan kenikmatan Jannah yang terdengar.
 “Aku masukin ya Nah..” pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban.
 William langsung menekan pinggulnya, ujung kejantanannya tenggelam dalam kewanitaan
gadis alim berjilbab lebar itu.
 “Aakhh.. Mas.. eengghh” erang Jannah cukup keras, membuat bulu-bulu ditubuh Laras
meremang mendengarnya.
 William lebih merunduk lagi. Perlahan pinggulnya bergerak turun naik serta mulutnya dengan
rakus melumat payudara Jannah. Lidahnya kembali merangsang putting merah jambu sang gadis
berjilbab.
 “Eeemmhhh…teruss.. Mas.. enaaakhh.. ohh.. isep yang kerasss..” Jannah meracau.
 “Aku suka sekali payudara kamu Nah…. mmhh”
 “Isep terussss…massshh…aaahhh…” secara refleks sang gadis nberjilbab itu menyorongkan
dadanya membuat William bertambah mudah melumatnya.

Bukan hanya Jannah yang terayun-ayun gelombang birahi, Laras yang terus melihat semua dari
balik belukar turut hanyut dibuatnya. Tanpa sadar jemari Laras menyusup kebalik jilbabnya,
mulai meremas-remas payudara dan memainkan putingnya sendiri dari luar bajunya, membuat
mata Laras terpejam-pejam merasakan nikmatnya.

William tahu Jannah sudah pada situasi yang sangat birahi, ia segera mencangkeram pinggul
Jannah dengan kedua tangannya yang kekar seraya terus melumat mulut dan menciumi seluruh
bagian wajah gadis alim itu. Terlihat William menekan pinggulnya lebih dalam dengan kasar.
Laras menggelinjang membayangkan bagaimana kejantanan William yang besar, tebal dan hitam
melesak masuk ke dalam rongga kenikmatan Jannah sang gadis berjilbab itu.
 “Auuwww.. Mas.. sakiitt” jerit Jannah.
 “udaah…udah Maaassss…” air matanya mulai mengalir. Walaupun Jannah sudah tidak perawan
karena keperawanannya sudah direnggut oleh William diperpustakaan kampus beberapa hari
yang lalu, namun kontol William yang besar serta sodokan William yang kasar tetap
menyakitinya.
 “Rileks Nah…. supaya enak nanti” bujuk William, sambil terus menekan lebih dalam lagi.
 “Sakit Mas.. pleasee.. jangan diterusin”
 Terlambat.. seluruh kejantanan William telah terbenam di dalam rongga kenikmatan Jannah.
Beberapa saat William tidak bergerak, masih sambil berdiri dan memepet Jannah di pohon, ia
mengecup-ngecup bibir dan seluruh wajah Jannah, dan turun ke payudara gadis alim itu yang
montok dan putih. Perlakuan William membuat birahi Jannah terusik kembali, gadis lugu
berjilbab itu mulai melenguh dan mendesah-desah, lama kelamaan semakin menjadi-jadi.
Tangan gadis alim itu merangkul leher William dan meremas2 rambut William.

William memahami sekali keadaan Jannah, pinggulnya mulai digerakan memutar perlahan sekali
tapi mulutnya bertambah ganas melahap gundukan daging gadis alim berjilbab itu yang dihiasi
puting kecil kemerah-merahan.
 “Uhh.. ohh.. Mas” desah kenikmatan Jannah, kakinya dibuka lebih melebar lagi.jilbabnya yang
tersingkap, basah oleh keringat, bajunya yang terbuka memamerkan buah dada yang montok
putih, dan bagian bawah yang tersingkap membuat segalanya semakin erotis.
 William tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dipercepat ritme gerakan pinggulnya.
 “Agghh.. ohh.. enak maass… terus Maaassss…” Jannah meracau merasakan kejantanan William
yang berputar-putar di kewanitaannya, kepalanya yang masih memakai jilbab tengadah dengan
mata terpejam, pinggulnya turut bergoyang. Merasakan gerakannya mendapat respon William
tidak ragu lagi untuk menarik-memasukan batang kemaluannya.
 “Aaauugghh.. sshh.. Mas.. ohh.. Mas” gadis alim yang biasanya santun itu tak kuasa lagi
menahan luapan kenikmatan yang keluar begitu saja dari mulutnya. Mereka berdua bersetubuh
dengan berdiri, bersandar di pohon besar ditemani cahaya remang lampu badai di malam buta.
Desahan2 erotis mereka berdua mengisi hutan. Sang gadis montok berjilbab itu kembali takluk
oleh sang pemuda maluku berkontol besar.

Pinggul William yang turun naik dan kaki Jannah yang terbuka lebar membuat darah Laras yang
sedang mengintip berdesir, menimbulkan denyut-denyut di bagian sensitifnya.  Gadis berjilbab
itu menyingkap rok panjangnya dengan tangan kiri dan menyusupkannya kebalik CD. Tubuh
sintal Laras bergetar begitu jari-jemari lentiknya meraba-raba kewanitaannya.
 “Ssshh.. sshh” desis Laras tertahan manakala jari tengah gadis balim itu menyentuh bibir
kemaluannya sendiri yang sudah basah, sesaat ‘life show’ William dan Jannah terlupakan.
Kesadaran Laras kembali begitu mendengar pekikan Jannah.
 “Adduuhh.. Mas.. nikmat sekalii” Gadis alim yang lugu itu terbuai dalam birahinya yang
menggebu-gebu.
 “enak kan Nahhh.. makanya gak usah munafik… ahh.. nikmati ajaahh..”
 “Ssshh.. ahh.. ohh.. ennaak Mas”
 “Punya kamu enaakk sekalii Nah…. uugghh.. memek gadis berjilbab kayak mau emang
legiithh..”
 “Ohh.. Mas.. eennaaakkk.. sshh…” desah Jannah seraya memeluk William. Gadis lugu yang
berjilbab itu semakin agresif, pantatnya bergoyang mengikuti irama hentakan-hentakan turun-
naik pantat William.
 “Enaak Nah…. terus goyang.. uhh.. eenngghh..cewek jilbab ternyata doyan ngentothhh…”
merasakan goyangan Jannah William semakin mempercepat hujaman-hujaman kejantanannya.
 “Ahh.. aahh.. Mas.. teruss.. mau keluaaarrhh…” pekik Jannah.
 Semakin liar keduanya bergumul, keringat kenikmatan membanjir menyelimuti tubuh mereka.
 “Mas.. tekan lagii.. uuhh.. aku mau ke.. kelu.. aarrghh..ooouuugghhh….!!!” Gadis alim yang
masih ebrjilbab itu melenguh keras dan panjang. Ia sudah mencapai orgasmenya.
 William menekan pantatnya dalam-dalam dan tubuh Jannahpun mengejang. Gema erangan
kenikmatan Jannah memenuhi malam dan kemudian Jannah terkulai lemas.

William melepaskan tubuh montok Jannah, dan pelan-pelan Jannah jatuh terduduk dibawah
pohon itu. Nafasnya memburu, dari memeknya air kenikmatannya mengalir deras. Sementara itu
William yang belum mencapai puncak kenikmatan nampaknya masih ingin meneruskan
permainan.

Dari tempat Laras bersembunyi, terlihat kontol William yang besar berkilat-kilat karena terbaluri
cairan cinta milik Jannah. Pelan2 William mengocok kontolnya sendiri dengan tangan kanan.
Tangan kirinya menaikkan kaosnya agar penisnya bisa semakin jelas terlihat. Segera ia
mendekati Jannah, si gadis berjilbab itu yang sedang terduduk bersimpuh, lemas karena baru saja
meraih orgasmenya.

“Sekarang Jannah emut punyaku.” kata William sambil menyodorkan penisnya yang hitam ke
wajah cantik gadis berjilbab itu dengan gaya santai. Jannah menggelengkan kepalanya dengan
ekspresi jijik melihat penis yang besar dan legam itu, yang sudah basah oleh cairan cintanya
sendiri.
“Jangan takut Nah, entar juga enak kok..” kata William masih dengan gaya santai, seolah
menyodorkan permen kepada anak kecil. Jannah kembali meneteskan air mata menggeleng, hal
itu membuat William tidak sabar, dicengkeramnya kepala Jannah yang masih terbalut jilbab dan
ditariknya sampai wajahnya mendongak, lalu digesek-gesekkannya penisnya ke wajah Jannah.
Gadis alim itu pelan-pelan menurut, dibukanya mulut mungilnya dangan enggan, lalu seperti
menelan permen besar, penis William meluncur masuk ke mulutnya. Terasa cairan cintanya
sendiri dilidahnya, yang kemudian dihisap dan dikulumnya penis itu dengan lembut, sesekali
Jannah diperintahkan untuk mengocok-ngocok penis itu dengan tangannya juga, lama kelamaan
gadis alim itu mulai terbiasa dengan penis William dan mulai dapat menyesuaikan diri, sesuai
dengan instruksi William. Gadis alim yang lugu dan berjilbab besar itu diajari cara memberi
kenikmatan pada lelaki dengan mulut dan tangan oleh sag pemuda maluku, William.
 Jannah diminta untuk menjilati samping-sampingnya hingga ke buah pelirnya, bahkan
memainkan ludahnya sedikit di penis itu, kemudian Jannah diperintahkan untuk kembali
memasukkan kepala penis itu ke mulutnya. William mendesah merasakan kehangatan mulut
Jannah, sentuhan lidah gadis alim yang lugu itu memberi sensasi nikmat padanya.

“Uuhhh…gitu Nah, enakmmmm.. kamu pintarrrhh…!” gumamnya sambil memegangi kepala


Jannah yang masih tertutup jilbab dan memaju-mundurkan pinggulnya. Jannah merasakan
wajahnya makin tertekan ke selangkangan dan buah pelir William yang berbulu lebat itu, penis
di dalam mulut gadis lugu yang berjilbab itu semakin berdenyut-denyut dan sesekali menyentuh
kerongkongannya.

William yang merasakan kehangatan dari bibir dan mulut Jannah makin meledak, lalu dengan
menahan kepala gadis alim itu diselangkangannya menggunakan kedua tangannya, dengan
kasarnya William menggerakkan pinggulnya maju mundur sehingga penis itu menggenjot mulut
gadis berjilbab itu.

“Aggh..aggh… .” suara Jannah terdengar tersedak oleh penis William. Air liur gadis berjilbab itu
mengalir keluar, deras membasahi dagunya, turun ke jilbabnya yang sudah tersibak, sampai
bajunya yang awut2an. Airmatanya deras mengalir. Tangan Jannah berusaha menahan pinggul
William agar tidak bisa memompa penis besar itu ke dalam mulutnya. Tapi usaha Jannah sia-sia
saja, William dengan kuat mencengkeram kepala Jannah yang masih memakai jilbabdan
mennyodok-nyodokkan penisnya dengan kasar membuat gadis alim itu menggelepar berusaha
untuk bernafas dengan baik.

Sekitar sepuluh menit lamanya gadis alim itu dipaksa untuk melakukan hal itu, sampai William
menekan kepalanya sambil melenguh panjang. William masih terus menggenjotnya selama
beberapa menit ke depan, dan akhirnya dia pun mencabut penisnya lalu buru-buru mendekati
wajah cantiks ang gadis alim yang berjilbab itu.

“Arrghhh… Oohhhh…” William kembali melenguh bagai banteng terluka, seketika Jannah
merasakan wajahnya tersiram oleh cairan hangat yang kental dan lengket dan berbau. William
menyemprotkan spermanya ke wajah lugu gadis berjilbab itu dengan deras. Cairan putih kental
pun berceceran membasahi wajah dan jilbab gadis itu.
Bersamaan dengan itu. Ditempat persembunyiannya Laras mempercepat kocokannya di
memeknya dan ditemani erangan terrahan, tubuhnya bergetar hebat. Air cintanya menyemprot
keluar. Gadis alim itu orgasme melihat rekannya sesama gadis berjilbab digauli dengan paksa.

########################################

Tusukan-tusukan kontol Robert serasa membakar tubuh, birahi Laras kembali menggeliat keras.
Gadis yang biasanya alim itu kini menjadi sangat binal merasakan sensasi erotis dua batang
kontol didalam tubuh Laras. Batang kemaluan Markus Laras lumat dengan sangat bernafsu.
Kesadaran Laras hilang sudah. Naluri birahi gadis alim itu yang menuntun melakukan semua itu.

 “Arrghhh… Oohhhh…” William kembali melenguh bagai banteng terluka, seketika Jannah
merasakan wajahnya tersiram oleh cairan hangat yang kental dan lengket dan berbau. William
menyemprotkan spermanya ke wajah lugu gadis berjilbab itu dengan deras. Cairan putih kental
pun berceceran membasahi wajah dan jilbab gadis itu.

Bersamaan dengan itu. Ditempat persembunyiannya Laras mempercepat kocokannya di


memeknya dan ditemani erangan terrahan, tubuhnya bergetar hebat. Air cintanya menyemprot
keluar. Gadis alim itu orgasme melihat rekannya sesama gadis berjilbab digauli dengan paksa.

Beberapa menit Laras istirahat mengatur nafas. Orgasmenya benar2 membuat ia capek., namun
ia semakin terangsang dan ingin ada kontol yang memasuki memeknya.

Setelah beberapa menit, ia memutuskan untuk kembali ke tenda. Ketika ia melihat Jannah da
William, ternyata William sudah kembali gairahnya dan sudah kembali menggenjot memek
jannah, kali ini dengan tiduran dan Jannah terlentang pasrah dibawahnya kembali desahan
mereka berdua terdengar. Namun Laras tidak melanjutkan acara mengintipnya, dan kembali ke
tenda.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
>> 

sekembalinya di tenda, ia tidak menemui Markus dan Robert. Segera ia duduk didean api unggun
dan berusaha mengusir bayangan tentang live show yang tadi ia lihat, namun alih-alih pergi,
bayangan itu jstru terus membayanginya. Tak terasa kembali tangan kananya menyusup kebalik
jilbabnya, meremasi buah dadanya sendiri dari luar bajunya. Tangan kirinya kembali turun
kebawah, merangsang memeknya dari luar bajunya. Gadis alim yang berjibab dan berbadan
sintal ini sudah sangat terangsang. Bibir bawahnya ia gigit 2 karena sangat terangsang.

Tiba-tiba, kegiatan Laras berhenti karena dikejutkan oleh suara dari arah belakang. Ternyata
Robert dan marku sudah kembali, entah darimana. Mereka berdua langsung tersenyum
menyeringai dan mendekati Laras.

“tenang saja mbak, kami cuman mau duduk disamping mbak.” Kata Markus sambil tersenyum
lebar.
 Akhirnya mereka duduk beralaskan tikar, didepan api unggun. Laras di tengah. Pikiran gadis
alim itu teringat pada perkosaan nikmat yang pernah ia rasakan, dan live show yang tadi ia
saksikan. Wajahnya yang cantik jadi merah padam, dan jadi salah tingkah. Tanpa ia sengaja,
kenikmatan yang dulu ia rasakan kembali membangkitkan birahi gadis berjilbab itu. Rasa gatal
menyeruak dimemek Laras mengelitik sekujur tubuh dan setiap detik berlalu semakin memuncak
saja, Laras jadi salah tingkah. Markus yang pertama melihat kegelisahan Laras.

“Kenapa Mbak Laras…, gelisah banget horny ya” tegurnya bercanda.


 “Ngga lagi, ngaco kamu Kus” sanggah Laras.
 “Kalau horny bilang aja Mbak Laras….. hehehe.. kan ada kita-kita” Robert menimpali.
 “Udah, jangan ngomong kayak gitu…” sanggah Laras lagi menahan takut. Tapi sesungguhnya
dibenaknyapun rasa itu semakin menjadi.

Markus tidak begitu saja menerima sanggahannya, diantara mereka ia paling tinggi jam
terbangnya sudah tentu ia tahu persis apa yang sedang Laras rasakan. Markus tidak menyia-
nyiakannya, bahu gadis berjilbab itu dipeluknya. Laras sedikit menggeliat hendak menghindar
namun pelukan Markus terlalu erat. “jangan kuss…” kata Laras. Suaranya yang lirih dan
terkesan pasrah membuat Markus tahu bahwa Gadis alim berjilbab lebar ini sebenarnya juga
sudah mulai terangsang.

“Santai Mbak Laras…, kalau horny enjoy aja, gak usah malu.. itu artinya kamu normal.. toh
kamu juga dah pernah ngerasain kotolku. Enak kan?” bisik Markus sambil meremas pundak
Laras yang tertutup baju dan jilbabnya. Kata2 markus membuat wajah putih gadis ebrjilbab itu
merah padam. Gadis alim itu kembali menggeliat berusaha melepaskan diri, namun sekali lagi,
tenaganya yangs etengah2 karena sudah terangsang itu tak mampu menandingi pelukan Markus.

Remasan dan terpaan nafas Markus saat berbisik menyebabkan semua bulu-bulu di tubuh Laras
meremang, tanpa terasa tangan gadis berjilbab itu meremas-remas rok panjangnya. Matanya
terpejam2 keenakan dan kembali ia menggigiti bibir bawahnya. Markus menarik tangan Laras
meletakan dipahanya ditekan sambil diremasnya, tak ayal lagi tangan Laras jadi meremas paha
Markus.
 “Remas aja pahaku Mbak Laras… daripada rok” bisik Markus lagi.
 Merasakan paha Markus dalam remasan Laras membuat darah Laras berdesir keras.
 “Ngga usah malu Mbak Laras…, santai aja.. ntar juga enak..” lanjutnya lagi.
 Entah karena bujukannya atau Laras sendiri yang sudah sangat terhanyut napsu birahi, tidak
jelas, yang pasti tangan Laras tidak beranjak dari pahanya dan setiap ada adegan yang ‘wow’
Laras meremas pahanya. Merasa mendapat angin, Markus melepaskan rangkulannya dan
memindahkan tangannya di atas paha gadis berjilbab yang alim itu yang masih terbungkus rok
panjang hitam, awalnya masih dekat dengkul lama kelamaan makin naik, setiap gerakan
tangannya membuat Laras merinding.

Entah bagaimana mulainya tanpa Laras sadari, Markus sudah menyingkap rok hitamnya keatas
dan tangan Markus sudah berada dipaha dalamnya, tangan kasar Markus mengelus-elus paha
putih laras yang selama ini tertutup rok dan baju yang longgar dengan halus, ingin menepis, tapi,
rasa geli-geli enak yang timbul begitu kuatnya, membuat Laras semakin terbuai, membiarkan
kenakalan tangan Markus yang semakin menjadi-jadi tanpa mampu berbuat apa2.
 “Ras gue pengen deh liat leher sama pundak kamu” bisik Markus seraya mengecup pundak
Laras dari luar baju dan jilbabnya..
 A Laras yang sudah terbuai elusannya karuan saja tambah menjadi-jadi dengan kecupannya itu.
Selama ini belum ada yang memperlakukan gadis alim itu seperti yang dilakukan Markus.
 “Jangan Kus” namun Laras berusaha menolak.
 “Kenapa Mbak Laras…, cuma pundak aja kan” tanpa perduli penolakan Laras Markus tetap saja
mengecup, bahkan ciuman Markus semakin naik keleher Laras yang masih tertutup jilbabnya,
disini Laras tidak lagi berusaha ‘jaim’.
 “Kus.. ahh” desah Laras tak tertahan lagi.
 “Enjoy aja Mbak Laras…” bisik Markus lagi, sambil mengecup dan menggigiti daun telinga
Laras dari luar jilbabnya.
 “Ohh Kus” Laras sudah tidak mampu lagi menahan, semua rasa yang terpendam sejak melihat
‘live show’, perlahan merayapi lagi tubuh Laras.
 Laras hanya mampu tengadah merasakan kenikmatan mulut Markus di leher dan telinga Laras.
Robert yang sedari tadi asik nonton melihat Laras seperti itu tidak tinggal diam, ia pun mulai
turut melakukan hal yang sama. Pundak, leher dan telinga sebelah kiri Laras jadi sasaran
mulutnya.

Melihat Laras sudah pasrah mereka semakin agresif. Tangan Markus semakin naik hingga
akhirnya menyentuh memek gadis alim berjilbab lebar itu yang masih terbalut CD. Elusan-
elusan di memeknya, remasan Robert di payudara Laras dan kehangatan mulut mereka dileher
Laras membuat magma birahi Laras menggelegak sejadi-jadinya.
 “Agghh.. Kuss.. Berthhh….. ohh.. sshh” desahan Laras bertambah keras.
 Robert dengan tangkas menyibakkan jilbab lebar Laras dan menyampirkannya ke bahunya, lalu
membuka kancing2 baju dan bra Laras. Bukit kenyal 34b- Laras yang putih bersih menyembul,
langsung dilahapnya dengan rakus. Markus juga beraksi memasukan tangannya kedalam CD
meraba-raba memek Laras yang sudah basah oleh cairan pelicin. Laras jadi tak terkendali dengan
serangan mereka tubuh Laras bergelinjang keras. Baju longgar dan jilbab lebar yangs elama ini
ia pakai untuk menjaga dirinya dari para hidung belang sudah awut2an.

“Emmhh.. aahh.. ohh.. aagghh” desahan Laras berganti menjadi erangan-erangan. Sang gadis
alim itu sudah tak lagi mampu menahan gejolak birahinya. Suara desahan birahinya mengisi
keheningan lapangan ditengah hutan itu.

Mereka melucuti seluruh penutup tubuh Laras kecuali jilbab biru langtnya dan kaus kaki putih
bersih gadis alim itu. Tubuh sintal Laras dibaringkan dirumput beralas tikar dan mereka pun
kembali menjarahnya. Robert melumat bibir Laras dengan bernafsu lidahnya menerobos
kedalam rongga mulutnya, lidah mereka saling beraut, mengait dan menghisap dengan liarnya.
Sementara Markus menjilat-jilat paha Laras lama kelamaan semakin naik.. naik.. dan akhirnya
sampai di memeknya, lidahnya bergerak-gerak liar di klitorisnya, bersamaan dengan itu Robert
pun sudah melumat payudaranya, puting Laras yang kemerah-merahan jadi bulan-bulanan bibir
dan lidahnya.

Diperlakukan seperti itu membuat Laras kehilangan kesadaran, tubuh Laras bagai terbang
diawang- awang, terlena dibawah kenikmatan hisapan-hisapan mereka. Mata sang gadis alim itu
terbalik sampai hanya terlihat ptihnya, terlihat sangat erotis dengan jilbab yang masih ia
kenakan. Laras mulai meremas2 punggung Robert sambil meracau tak karuan, meminta mereka
untuk tidak berhenti melakukannya.
 “Aaahh.. Kuss.. Berthhh….. teruss.. sshh.. enakk sekalii”
 “Nikmatin Mbak Laras….. nanti bakal lebih lagi” bisik Robert seraya menjilat dalam-dalam
telinga Laras dari luar jilbabnya..
 Mendengar kata ‘lebih lagi’ Laras seperti tersihir, menjadi hiperaktif pinggul Laras angkat-
angkat, seolah ingin Markus melakukan lebih dari sekedar menjilat, ia memahami, disantapnya
memek Laras dengan menyedot-nyedot gundukan daging yang semakin basah oleh ludahnya dan
cairan Laras. Tidak berapa lama kemudian Laras merasakan kenikmatan itu semakin memuncak,
tubuh putih gadis alim itu menegang, Laras peluk Robert-yang sedang menikmati puting susu-
dengan kuatnya.
 “Aaagghh.. Kuss.. Berthhh….. akuu.. oohh” jerit Laras keras, dan merasakan hentak-hentakan
kenikmatan didalam memek Laras. Tubuh mahasiswi yang biasanya selalu menjaga dirinya
dengan baju longgar dan jilbab lebar itu menggeleppar2 lalu melemas.. lungai.

Markus dan Robert menyudahi ‘hidangan’ pembukanya, dibiarkan tubuh Laras beristirahat
dalam kepolosan, sambil memejamkan mata Laras ingat-ingat apa yang baru saja Laras alami.
Permainan Robert di payudara dan Markus di memek Laras yang menyebarkan kenikmatan yang
belum pernah Laras alami sebelumnya, dan hal itu telah kembali menimbulkan getar-getar birahi
diseluruh tubuh Laras. Laras semakin tenggelam saja dalam bayang-bayang yang
menghanyutkan, dan tiba-tiba Laras rasakan hembusan nafas ditelinga Laras dan rasa tidak asing
lagi.. hangat basah.. Ahh.. bibir dan lidah Robert mulai lagi, tapi kali ini tubuh Laras seperti di
gelitiki ribuan semut, ternyata Robert sudah polos dan bulu-bulu lebat di tangan dan dadanya
menggelitiki tubuh Laras. Begitupun Markus sudah bugil, ia membuka kedua paha Laras lebar-
lebar dengan kepala sudah berada diantaranya.

Mata Laras terpejam, Laras sadar betul apa yang akan terjadi, kali ini mereka akan menjadikan
tubuh Laras sebagai ‘hidangan’ utama. Gadis alim itu sudah pasrah dengan apa yang terjadi.
Gairah Laras bangkit merasakan lidah Markus menjalar dibibir kemaluannya, ditambah lagi
Robert yang dengan lahapnya menghisap-hisap puting Laras membuat tubuh Laras mengeliat-
geliat merasakan geli dan nikmat dikedua titik sensitif tubuh Laras.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
>> 

“Aaahh.. Kuss.. Berthhh….. nngghh.. aaghh” rintih Laras tak tertahankan lagi.
 Markus kemudian mengganjal pinggul Laras dengan gulungan tikar sehingga pantat Laras
menjadi terangkat, lalu kembali lidahnya bermain dikemaluan Laras. Kali ini ujung lidahnya
sampai masuk kedalam liang kenikmatannya, bergerak-gerak liar diantara kemaluan dan anus,
seluruh tubuh Laras bagai tersengat aliran listrik Laras hilang kendali. Gadis manis berjilbab itu
merintih, mendesah bahkan menjerit-jerit merasakan kenikmatan yang tiada taranya. Lalu Laras
rasakan sesuatu yang hangat keras berada dibibir Laras.. kontol Robert! Laras mengeleng-
gelengkan kepala menolak keinginannya, tapi Robert tidak menggubrisnya ia malah manahan
kepala Laras dengan tangannya agar tidak bergerak.

“Jilat.. Mbak Laras…” perintahnya tegas.


 Gadis alim berdada sekal itu tidak lagi bisa menolak, Laras jilat batangnya yang besar dan sudah
keras membatu itu, Robert mendesah-desah merasakan jilatan Laras.
 “Aaahh.. Mbak Laras…r.. jilat terus.. nngghh” desah Robert.
 “Jilat kepalanya Mbak Laras…” Laras menuruti permintaannya yang tak mungkin Laras tolak.
 Lama kelamaan Laras mulai terbiasa dan dapat merasakan juga enaknya menjilat-jilat batang
kontol itu, lidah Laras berputar dikepala kemaluannya membuat Robert mendesis desis.
 “Ssshh.. nikmat sekali Mbak Laras…r.. isep sayangg.. isep” pintanya diselah-selah desisannya.

Laras tak tahu harus berbuat bagaimana, Laras ikuti saja apa yg pernah Laras lihat di film, kepala
kontolnya pertama-tama Laras masukan kedalam mulut, Robert meringis.
 “Jangan pake gigi Mbak Laras….. isep aja” protesnya, Laras coba lagi, kali ini Robert mendesis
nikmat.
 “Ya.. gitu sayang.. sshh.. enak.. Mbak Laras…”
 Melihat Robert saat itu membuat Laras turut larut dalam kenikmatannya, apalagi ketika sebagian
kontolnya melesak masuk menyentuh langit-langit mulutnya, belum lagi kenakalan lidah Markus
yang tiada henti-hentinya menggerayangi setiap sudut kemaluan Laras. Tubuh mahasiswi
berjilbab lebar itu sudah terkunci, dirangsang atas dan bawahnya. Laras semakin terombang-
ambing dalam gelombang samudra birahi yang melanda tubuhnya, Laras bahkan tidak malu lagi
mengocok-ngocok kontol Robert yang separuhnya berada dalam mulut Laras.

Beberapa saat kemudian Robert mempercepat gerakan pinggulnya dan menekan lebih dalam
batang kemaluannya, tangan Laras tak mampu menahan laju masuknya kedalam mulut Laras.
Laras menjadi gelagapan,  Laras geleng-gelengkan kepala Laras hendak melepaskan benda
panjang itu tapi malah berakibat sebaliknya, gelengan kepala Laras membuat kemaluannya
seperti dikocok-kocok. Robert bertambah beringas mengeluar-masukan batangnya dan..
 “Aaagghh.. nikmatt.. Mbak Laras…aa…aakkuuuhh.. kkeelluaarr” jerit Robert, air maninya
menyembur-nyembur keras didalam mulut Laras membuat Laras tersedak, sebagian meluncur ke
tenggorokan Laras sebagian lagi tercecer keluar dari mulut Laras, menetes turun membasahi
jilbab biru langit laras. Laras sampai terbatuk-batuk dan meludah-ludah membuang sisa yang
masih ada dimulut Laras. Gadis alim itu shock dengan apa yang terjadi.

Belum Laras pulih dari syoknya, Markus merebahkan tubuh Laras kembali dilantai beralas
karpet, kali ini dada Laras dilahapnya puting yang satu dihisap-hisap satunya lagi dipilin-pilin
oleh jari-jarinya. Dari dada kiri Laras tangannya melesat turun ke memeknya, dielus-elusnya
kelentit dan bibir kemaluan Laras. Birahi gadis alim itu kembali mennggi. Tubuh Laras langsung
mengeliat-geliat merasakan kenakalan jari-jari Markus.
 “Ooohh.. mmppff.. ngghh.. sshh” desis Laras tak tertahan.
 “mmmhh….Kuss.. aakkhh”
 Laras menjadi lebih menggila waktu Markus mulai memainkan lagi lidahnya di kemaluannya,
seakan kurang lengkap kenikmatan yang Laras rasakan, kedua tangan Laras meremas-remas
payudara Laras sendiri. Gadis alim itu sudah total terbakar api birahi nista.
 “Ssshh.. nikmat Kuss.. mmpphh” desahan Laras semakin menjadi-jadi.
 Tak lama kemudian Markus merayap naik keatas tubuh Laras, sambil mengelap keringat yang
muncul diwajah Laras dengan jilbab yang masih Laras pakai, lalu merapikannya. “ternyata
emang kamu lebih cantik dan seksi kalo pake jilbab, mbak laras…jadi gak sabar pengen ngentot
kamu.” Kata Markus. Terlihat binar birahi dimatanya. Gadis berjilbab itu pasrah menanti apa
yang akan terjadi. Markus membuka lebih lebar kedua kaki Laras, dan kemudian gadis alim itu 
merasakan ujung kontol Markus menyentuh mulut memek Laras yang sudah basah oleh cairan
cinta.

“Aauugghh.. Kuss.. jangaann..saakiitt…pelann..” jerit Laras lirih, saat kepala kontolnya melesak
masuk kedalam rongga kemaluan Laras.
 Markus menghentikan dorongannya, sesaat ia mendiamkan kepala kemaluannya dalam
kehangatan liang memek Laras. Kemudian-masih sebatas ujungnya-secara perlahan ia mulai
memundur-majukannya. Sesuatu dulu pernah Laras rasakan kembali menjalar dari gesekan itu
keseluruh tubuh Laras. Rasa geli, enak dan entah apalagi berbaur ditubuh Laras membuat
pinggul gadis alim itu mengeliat-geliat mengikuti tusukan-tusukan Markus.
 “Ooohh.. Kuss.. sshh.. aahh.. Kuss..mmhh..” desah Laras lirih.
 Laras benar-benar tenggelam dalam kenikmatan yang luar biasa akibat gesekan-gesekan di
mulut memek Laras. Mata Laras terpejam-pejam kadang Laras gigit bibir bawah Laras seraya
mendesis.
 “Enak.. nggaakk..mbaakk…Laraass..” tanya Markus berbisik.
 “He ehh Kuss.. oohh enakk.. Kuss.. sshh”
 “Nikmatin mbaakk.. nanti lebih enak lagi” bisiknya lagi.
 “Ooohh.. Kuss.. ngghh”

Markus terus mengayunkan pinggulnya turun-naik-tetap sebatas ujung kontolnya-dengan ritme


yang semakin cepat. Selagi Laras terayun-ayun dalam buaian birahi, tiba-tiba Markus menekan
kontolnya lebih dalam membelah memek Laras.
 “Auuhh.. sakitt Kuss” jerit Laras. Markus menghentikan tekanannya.
 “nanti juga hilang kok sakitnya” bisik Markus seraya menjilat dan menghisap telinga Laras tetap
dari luar jilbabnya. Rupanya memang Markus dan Robert sengaja tidak melepas jilbab Laras,
karena membuat Laras semakin nampak Innocent, sehingga menambah gairah dua pejantan dari
indonesia timur itu untuk menggauli sang gadis alim.

Entah bujukannya atau karena geliat liar lidahnya, yang pasti Laras mulai merasakan nikmatnya
milik Markus yang keras dan hangat didalam rongga kemaluan Laras.

Markus kemudian menekan lebih dalam lagi, membenamkan seluruh batang kemaluannya dan
mengeluar-masukannya. Gesekan kontolnya dirongga memek Laras menimbulkan sensasi yang
luar biasa! Setiap tusukan dan tarikannya membuat gadis alim itu menggelepar-gelepar.
Jilbabnya sudah kembali awut2an.
 “Ssshh.. ohh.. ahh.. enakk Kuss.. empphh” desah Laras tak tertahan.
 “Ohh.. Mbak Laras…r.. bener-bener enak banget memek kamu.. oohh..tebell..oouuhh..” puji
Markus diantara lenguhannya.
 “Agghh.. terus Kuss.. teruss” Laras meracau tak karuan merasakan nikmatnya hujaman-hujaman
kontol Markus di kemaluan Laras.
 Peluh-peluh birahi mulai membanjir membasahi tubuh. Jeritan, desahan dan lenguhan mewarnai
pergumulan mereka. Menit demi menit kontol Markus menebar kenikmatan ditubuh Laras.
Magma birahi semakin menggelegak sampai akhirnya tubuh Laras tak lagi mampu menahan
letupannya.
 “Markusi.. oohh.. tekan Kuss.. agghh.. nikmat sekali Kuss” jeritan dan erangan panjang yang
jalang terlepas dari mulut Laras.
 Tubuh Laras mengejang, Laras secara refleks memeluk Markus erat-erat, magma birahi Laras
meledak, mengeluarkan cairan kenikmatan yang membanjiri relung-relung memek Laras.

Tubuh Laras terkulai lemas, tapi itu tidak berlangsung lama. Beberapa menit kemudian Markus
mulai lagi memacu gairahnya, hisapan dan remasan didada Laras serta pinggulnya yang berputar
kembali membangkitkan birahi gadis alim yang montok itu. Lagi-lagi tubuh Laras dibuat
mengelepar-gelepar terayun dalam kenikmatan duniawi. Tubuh Laras dibolak-balik bagai daging
panggang, setiap posisi memberikan sensasi yang berbeda. Entah berapa kali memek Laras
berdenyut-denyut mencapai klimaks tapi Markus sepertinya belum ingin berhenti menjarah
tubuh Laras. Selagi posisi Laras di atas Markus, Robert yang sedari tadi hanya menonton serta
merta menghampiri mereka, dengan berlutut ia memeluk Laras dari belakang. Leher Laras
dipagutnya seraya kedua tangannya memainkan buah dada Laras. Apalagi ketika tangannya
mulai bermain-main diklitoris Laras membuat Laras menjadi tambah meradang.

Kepala Laras yang masih terbalut jilbab bersandar pada pundak Robert, mulut Laras yang tak
henti-hentinya mengeluarkan desahan dan lenguhan langsung dilumat oleh Robert. Pagutan
Robert Laras balas, mereka saling melumat, menghisap dan bertukar lidah. Pinggul Laras
semakin bergoyang berputar, mundur dan maju dengan liarnya. Laras begitu menginginkan
kontol Markus mengaduk-aduk seluruh isi rongga memek Laras yang meminta lebih dan lebih
lagi.
 “Aaargghh.. Mbak Laras…r.. enak banget.. terus Mbak Laras….. goyang terus” erang Markus.
 Erangan Markus membuat gejolak birahi Laras semakin menjadi-jadi, Laras remas buah dada
Laras sendiri yang ditinggalkan tangan Robert.. Ohh Laras sungguh menikmati semua ini.

Robert yang merasa kurang puas meminta merubah posisi. Markus duduk dengan kaki
dibentangkan ditikar, Laraspun diperintahkan merangkak kearah batang kemaluannya.
 “Isep Mbak Laras…” perintah Markus, segera Laras lumat kontolnya dengan rakus.
 “Ooohh.. enak Mbak Laras….. isep terus…aah…emang enak banget emutan cewek jilbab…
aaahh..”
 Bersamaan dengan itu Laras rasakan Robert menggesek-gesek bibir kemaluan Laras dengan
kepala kontolnya. Tubuh Laras bergetar hebat, saat batang kemaluan Robert-yang satu setengah
kali lebih besar dari milik Markus-dengan perlahan menyeruak menembus bibir kemaluan gadis
berjilbab itu dan terbenam didalamnya. Tusukan-tusukan kontol Robert serasa membakar tubuh,
birahi Laras kembali menggeliat keras. Gadis yang biasanya alim itu kini menjadi sangat binal
merasakan sensasi erotis dua batang kontol didalam tubuh Laras. Batang kemaluan Markus Laras
lumat dengan sangat bernafsu. Kesadaran Laras hilang sudah. Naluri birahi gadis alim itu yang
menuntun melakukan semua itu.

“Rasr.. terus Mbak Laras…r.. gue ngga tahan lagi.. Aaarrgghh” erang Markus.
 Laras tahu Markus akan segera menumpahkan cairan kenikmatannya dimulutnya, Laras lebih
siap kali ini. Selang berapa saat Laras rasakan semburan-semburan hangat sperma Markus.
 “Aaagghh.. nikmat banget Mbak Laras…r.. isep teruss.. telan Mbak Laras…r” jerit Markus,
lagi-lagi naluri Laras menuntun agar Laras mengikuti permintaan Markus, Laras hisap kontolya
yang menyemburkan cairan hangat dan.. gadis alim itu menelan cairan itu. Aneh! Entah karena
rasanya, atau sensasi sexual karena melihat Markus yang mencapai klimaks, yang pasti Laras
sangat menyukai cairan itu. Laras lumat terus itu hingga tetes terakhir dan benda keras itu
mengecil.. lemas.

Markus beranjak meninggalkan Laras dan Robert untuk beristirahat sebentar. meski begitu, laras
belum bisa istirahat. hujaman-hujaman kemaluan Robert yang begitu bernafsu dalam posisi
‘doggy’ dapat membuat Laras kembali merintih-rintih. Apalagi ditambah dengan elusan-elusan
Ibu jarinya dianus Laras. Bukan hanya itu, setelah diludahi Robert bahkan memasukan Ibu
jarinya ke lubang anus gadis alim itu. Sodokan-sodokan dimemek Laras dan Ibu jarinya dilubang
anus membuat gadis berjilbab lebar itu mengerang-erang.
 “Ssshh.. engghh.. yang keras Berthhh….. mmpphh”
 “Enak banget Berthhh….. aahh.. oohh”
 Mendengar erangan jalang Laras Robert tambah bersemangat menggedor kedua lubangnya, Ibu
jarinya Laras rasakan tambah dalam menembus anusnya, membuat Laras tambah lupa daratan.
Jilbab biru langtnya sudah semakin basah oleh keringat birahinya.

Sedang asiknya menikmati, Robert mencabut kontol dan Ibu jarinya.


 “Roberti.. kenapa dicabutt” protes Laras.
 “Masukin lagi Bert.. ” pinta gadis alim montok menghiba.
 Sebagai jawaban Laras hanya merasakan ludah Robert berceceran di lubang anusnya, tapi kali
ini lebih banyak. Laras masih belum mengerti apa yang akan dilakukannya. Saat Robert mulai
menggosok kepala kontolnya dilubang anus baru Laras sadar apa yang akan dilakukannya.
 “Roberti.. pleasee.. jangan disitu” Laras menghiba meminta Robert jangan melakukannya.
 Robert tidak menggubris, tetap saja digosok-gosokannya, ada rasa geli-geli enak kala ia
melakukan hal itu. Dibantu dengan sodokan jarinya dikemaluan Laras hilang sudah protes gadis
alim itu. Tiba-tiba Laras rasakan kepala kemaluannya sudah menembus anus Laras. Perlahan
namun pasti, sedikit demi sedikit batang kenikmatannya membelah anus Laras dan tenggelam
habis didalamnya.

“Aduhh sakitt Berthhh….. akhh..!” keluh Laras pasrah karena rasanya mustahil menghentikan
Robert.
 “Rileks Mbak Laras….. seperti tadi, nanti juga hilang sakitnya” bujuknya seraya mencium
punggung dan satu tangannya lagi mengelus-elus klitoris Laras.
 Separuh tubuh Laras yang tengkurap diatas gulungan tikar sedikit membantunya, dengan begitu
memudahkan Laras untuk mencengram dan mengigit tikar itu untuk mengurangi rasa sakit.
Berangsur-angsur rasa sakit itu hilang, Laras bahkan mulai menyukai batang keras Robert yang
menyodok-nyodok anus Laras. Perlahan-lahan perasaan nikmat mulai menjalar disekujur tubuh
Laras. Gadis alim itu mulai merem melek keenakan, disodomi oleh orang papua diatas tikar
ditengah hutan, dibawah sinar bulan dan cahaya api unggun.
 “Aaahh.. aauuhh.. oohh Berthhh…” erang-erangan birahi Laras mewarnai setiap sodokan kontol
Robert yang besar itu.
 Robert dengan buasnya menghentak-hentakan pinggulnya. Semakin keras Robert
menghujamkan kontolya semakin gadis alim itu terbuai dalam kenikmatan.

Markus yang sudah pulih dari ‘istirahat’nya tidak ingin hanya menonton, ia kembali bergabung.
Membayangkan akan dijarah lagi oleh mereka menaikan tensi gairah Laras. Atas inisiatif Markus
mereka b erhenti dan mengatur posisi, jantung Laras berdebar-debar menanti permainan mereka.
Markus merebahkan diri terlentang ditikar dengan kepala beralas gulungan tikar, tubuh Laras
ditarik menindihinya. Sambil mencengkeram bagian belakang kepala laras yang masih terbalut
jilbab, ia melumat mulut Laras, yang segera Laras balas dengan bernafsu. ia membuka lebar
kedua paha Laras dan langsung menancapkan kemaluannya kedalam memek Laras.
 “mmhhhh….” Gadis alim itu hanya bisa mendesah pasrah ketika memeknya kembali ditembus
kontol hitam. Robert yang berada dibelakang membuka belahan pantat Laras dan meludahi
lubang anus Laras. Menyadari apa yang akan mereka lakukan menimbulkan getaran birahi yang
tak terkendali ditubuh Laras. Sensasi sexual yang luar bisa hebat Laras rasakan saat kontol
mereka yang keras mengaduk-aduk rongga memek dan anus Laras. Hentakan-hentakan milik
mereka dikedua lubang Laras memberi kenikmatan yang tak terperikan.

Robert yang sudah lelah berlutut meminta merubah posisi, ia mengambil posisi tiduran, tubuh
Laras terlentang diatasnya, kontolnya tetap berada didalam anus Laras. Markus langsung
membuka lebar-lebar kaki Laras dan menghujamkan kontolnya dikemaluan Laras yang
terpampang menganga. Posisi ini membuat Laras semakin menggila, karena bukan hanya kedua
lubang Laras yang digarap mereka tapi juga payudara Laras. Robert dengan mudahnya memagut
leher Laras dan satu tangannya meremas buah dadanya, Markus melengkapinya dengan
menghisap puting buah dada Laras satunya. Laras sudah tidak mampu lagi menahan deraan
kenikmatan demi kenikmatan yang menghantam sekujur tubuh Laras. Hantaman-hantaman
Markus yang semakin buas dibarengi sodokan Robert, sungguh tak terperikan rasanya. Hingga
akhirnya Laras rasakan sesuatu didalam memek Laras akan meledak, keliaran Laras menjadi-
jadi.

“Aaagghh.. ouuhh.. Kuss.. Berthhh….. tekaann” jerit dan erang Laras tak karuan.
 Dan tak berapa lama kemudian tubuh Laras serasa melayang, Laras cengram pinggul Markus
kuat-kuat, Laras tarik agar batangnya menghujam keras dikemaluannya, seketika semuanya
menjadi gelap pekat. Jeritannya, lenguhan dan erangan mereka menjadi satu.
 “Aduuhh.. Kuss.. Berthhh….. nikmat sekalii”
 “Aaarrghh.. Mbak Laras…r.. enakk bangeett”
 Keduanya menekan dalam-dalam milik mereka, cairan hangat menyembur hampir bersamaan
dikedua lubang Laras. Tubuh gadis alim itu bergetar keras didera kenikmatan yang amat sangat
dahsyat, tubuh Laras mengejang berbarengan dengan hentakan-hentakan dimemek Laras dan
akhirnya mereka.. terkulai lemas.

Sepanjang malam tak henti-hentinya mereka menggilir Laras. Ketika kemudian william dan
jannah kembali, mereka melakukan pesta seks. Pesta seks dengan peserta tiga orang hitam dari
bagian timur indonesia yang memperkosa dan menggilir dua orang gadis berjilbab yang berkulit
putih, yang terus mendesah, mengerang dan menjerit, terhanyut dalam kenikmatan. Desahan dan
jeritan kenikmatan mereka mengisi hutan. pesta seks dengan dua orang gadis alim berjilbab besar
itu selesai pagi hari, dan ketiga koboy kampus itu mengembalikan kedua gadis alim kampus
yang sudah sangat lemas itu kekost mereka masing2.

################################
“Aaakkhh…!” erang Laras lirih sambil mengepalkan tangan erat-erat saat penis William melesak
masuk ke dalam memek becek gads berjilbab yang montok itu.

“Aauuuhhh…!” Laras menjerit lebih keras dengan tubuh berkelejotan karena hentakan keras
William hingga penis itu tertancap seluruhnya pada vagina Laras.
 Suatu hari, nampak Laras sedang duduk ruang tamu rumah kostnya. Sebenarnya, rumah itu
bukanlah rumah kost, namun sebuah rumah kontrakan dengan satu ruang depan, ruang tamu dan
tiga kamar. Rumah kontrakan itu disewa oleh Laras dan dua orang rekannya, Rika dan Tata.
Sama seperti Laras, Rika dan Tata juga mahasiswi yang selalu memakai jilbab lebar dan baju
longgar, yang juga aktifis di kampus. namun berbeda dengan Laras, Rika dan Tata adalah
mahasiswi baru yang baru menginjak semester 2.

Hari itu, laras sedang sendirian di kontrakan. Tata sedang pulang kampung di Temanggung
karena urusan keluarga, sementara Rika belum pulang dari kampus. Suasana rumah yang sepi
membuat Laras mengingat kembali peristiwa yang menimpanya beberapa hari yang lalu, yaitu
perkosaan yang terjadi padanya. Ia tidak menceritakan peristiwa itu pada teman2nya, satu karena
ia takut, satu lagi karena ia malu kalau ketahuan bahwa ia juga menikmati perkosaan itu. Bahkan,
saat rumah dalam keadaan sepi seperti sore itu, perasaan birahi dan rindu memeknya disodok
kontol-kontol besar kembali datang. Ternyata tanpa Laras sadari, ia telah ketagihan seks. Namun
Laras berusaha mengusir perasaan itu dengan menonton tivi diruang tengah.

Ditengah2 menonton tivi, tiba2 gadis alim itu mendengar pintu diketuk. Pasti bukan Rika, karena
Rika membawa kunci cadangan. Segera Laras memakai jilbabnya dan keruang depan untuk
membuka pintu.

“selamat sore Mbak Laras…” william berdiri didepan pintu dengan senyum yang lebar. “mau
apa kamu?!” bentak Laras. “cuman mau main mbak… masak nggak boleh. Gak usah galak-galak
gitu donk.” Kata William. Laras sudah hendak membanting pintu, namun langsung ditahan oleh
William. “aku punya fotomu ho mbak, masak mau temen2 dikampus tahu semua…” kata
William. Laras langsung pucat pasi. Tubuhnya gemetar karena marah. Namun ia menyerah.
Akhirnya gadis alim berjilbab itu pelan2 membuka pintu, lalu William masuk.

“lagi ngapa mbak?” tanya william setelah duduk disofa diruang depan. Laras tidak menyaut,
namun hanya berdiri. “mau apa kamu kesini?” tanya Laras ketus, meskipun terbersit ingatan
tentang memeknya yang disodok2 William dan teman2nya. “ya cuman main, mbak. Kali aja
mbak rindu sama saya. Or sama kontol besar saya.” Kata William, menyeringai sambil
meremas2 selangkangannya sendiri. Laras melotot.  Gadis alim berjilbab itu marah, namun
memeknya terasa basah tanpa ia bisa menghambatnya.

“Sendirian mbak? Teman2nya pada dimana?” tanya laki-laki dari ambon itu. “pergi.” Kata Laras
pendek. William tersenyum lebar. “marah ya mbak, saya lama gak kesini? Memeknya rindu
disodok2 kontol saya yah? Wah, saya jadi kepingin nih. Mbak tambah cantik aja kayaknya.”
Kata William. Laras hanya bis amemandang marah tanpa bisa berkata apa-apa. Terasa
memeknya semakin basah. Kata-kata kotor William merangsangnya.
“sebelumnya boleh saya minta minum mbak?” kata William masih sambil menyeringai. Laras
kembali memandang William dengan tatapan marah. Namun mahasiswi aktifis berjilbab itu
akhirnya beranjak kedalam, mengambilkan minum bagi tamunya.

Ketika sudah didalam, ia baru sadar kalau william ikut masuk kedalam. Ketika gadis montok
berjilbab itu berbalik, ia melihat william ada dibelakangnya. “saya pengen minum susu mbak.
Susunya mbak. Enak dikenyot-kenyot.” Kata william lagi.

“Jangan ngelunjak Will… Sana cepet keluar!” hardik Laras dengan telunjuk mengarah ke pintu.

Bukannya menuruti perintah Laras, William malah melangkah mendekati Laras, tatapan mata
William tajam seolah menembus baju ungu kaos longgar ungu muda, rok hitam dan jilbab lebar
hitam yang dipakai oleh gadis lugu montok yang alim itu.

“William… Saya bilang keluar… Jangan maksa!” bentak Laras lagi.

“Ayolah Mbak Laras, cuma sebentar saja kok… Aku sudah kebelet nih, lagian masa Mbak Laras
nggak kepingin sih, disodok2 kontol saya. Dulu itu mbak keenakan.” ucap William sambil terus
mendekat.

Wajah Laras merah padam. Memeknya terasa semakin basah. Namun gadis berjilbab itu terus
mundur selangkah demi selangkah menghindari William, jantung Laras semakin berdebar-debar.
Perasaanya campur aduk, antara tidak mau diperkosa lagi, tapi juga sulit menahan nafsu.
Akhirnya kaki gadis alim itu tersandung oleh tepi kasur busa yang berada didepan tivi diruang
tengah, Laras hingga Laras jatuh terduduk di sana. Kesempatan ini tidak disia-siakan William.
Lelaki Ambon itu langsung menerkam dan menindih tubuh Laras. Gadis alim berwajah cantik itu
menjerit tertahan dan meronta-ronta dalam himpitan William. Namun sepertinya reaksi Laras
malah membuat William semakin bernafsu, William tertawa-tawa sambil menggerayangi tubuh
Laras. Laras menggeleng-gelengkan kepala Laras yang terbungkus jilbab lebar hitam kesana
kemari saat William hendak mencium Laras dan menggunakan tangan putihnya untuk menahan
laju wajah William.

“Mmhh… Jangan Will… Laras nggak mau!” mohon gadis manis berjilbab itu.

Aneh memang, sebenarnya Laras bisa saja berteriak minta tolong, tapi tidak Laras lakukan.
Nafsu birahinya menahan gadis cantik berjilbab berwajah putih bersih itu untuk berteriak, ia
hanya bisa merintih dan mengerang. Breettt… rok hitam Laras robek sedikit di bagian bawah
dalam pergumulan yang tidak seimbang itu. William telah berhasil memegangi kedua lengan
Laras dan direntangkannya ke atas kepala Laras. Gadis alim itu sudah benar-benar terkunci,
hanya bisa menggelengkan kepalanya yang masih terbungkus jilbab hitam, itupun dengan mudah
diatasi William. Bibir William yang tebal itu sekarang menempel di bibir Laras. Gadis manis alm
berjilbab itu bisa merasakan kumis pendek yang kasar menggesek sekitar bibir Laras juga deru
nafas William pada wajah Laras.

Kecapaian dan kalah tenaga membuat rontaan Laras melemah, mau tidak mau mahasiswi aktifis
rohis dikampusnya itu harus mengikuti nafsunya. William merangsang Laras dengan mengulum
bibir Laras, mata Laras terpejam, mengakui bahwa gadis montok alim itu menikmati cumbuan
William. Lidah William terus mendorong-dorong memaksa ingin masuk ke mulut Laras. Mulut
Laras pun pelan-pelan mulai terbuka membiarkan lidah William masuk dan bermain di
dalamnya. Lidah Laras secara refleks beradu karena William selalu menyentil-nyentil lidah Laras
seakan mengajaknya ikut menari. Suara desahan tertahan, deru nafas dan kecipak ludah
terdengar jelas didalam ruangan berukuran 3X3 meter, disebuah kontrakan para gadis berjilbab
itu.

Mata Laras yang terpejam terbuka ketika gadis alim itu merasakan tangan kasar William
mengelusi paha mulusnya, dan terus mengelus menuju pangkal paha. Jari William menekan-
nekan liang vagina Laras dan mengusap-ngusap belahan bibirnya dari luar. Birahi Laras naik
dengan cepatnya, terpancar dari nafas gadis manis berjilbab itu yang makin tak teratur dan
vagina Laras yang semakin becek.

Tangan William sudah menyingkap rok panjang hitam gadis alim itu, lalu menyusup ke balik
celana dalam. Jari-jari William mengusap-usap permukaannya dan menemukan klitoris Laras.
Benda seperti kacang itu dipencet-pencet dan digesekkan dengan jari William membuat Laras
menggelinjang dan merem-melek menahan geli bercampur nikmat. Tangan gadis berjilbab itu
sudah tidak berontak, namun merentang keatas kepala, meremas-remas kasur busa. Terlebih lagi
ketika jari-jari lain William menyusup dan menyetuh dinding-dinding dalam liang aktifis dakwah
kampus itu.

“Ooohhh… Mbak Laras Laras jadi tambah cantik saja kalau lagi konak gini!” ucap William
sambil menatapi wajah Laras yang merona merah dengan matanya yang sayu karena sudah
terangsang berat.

Lalu William tarik keluar tangannya dari celana dalam Laras. Jari-jarinya belepotan cairan
bening dari vagina Laras.

“Mbak Laras cepet banget basahnya, ya. Lihat nih becek gini,” kata William memperlihatkan
jarinya yang basah di depan wajah Laras yang lalu dijilatinya.

Kemudian dengan tangan yang satunya William sibakkan jilbab dan kaos longgar Laras sehingga
payudara Laras yang memakai bra terbuka. Segera pula bra itu terlepas, dan teronggok dipinggir
ruangan, membuat ppayudara putih sekal gadis manis alim itu terlihat jelas. Mata William
melotot mengamat-ngamati dan mengelus payudara Laras yang berukuran 34B, dengan puting
kemerahan serta kulitnya yang putih mulus.

“Nnngghhh… Will” desah Laras dengan mendongak ke belakang merasakan mulut William
memagut payudara yang menggemaskan milik gadis alim itu.

Mulut William menjilat, mengisap, dan menggigit pelan putingnya. Sesekali Laras bergidik
keenakan kalau kumis pendek William menggesek puting Laras yang sensitif. Tangan lain
William turut bekerja pada payudara Laras yang sebelah dengan melakukan pijatan atau
memainkan putingnya sehingga gadis cantik berjilbab lebar itu merasakan kedua benda sensitif
itu semakin mengeras. Yang bisa Laras lakukan hanya mendesah dan merintih. Tangan putih
mulusnya tak bisa berhenti meremasi kasur busa.

Puas menyusu dari Laras, mulut William perlahan-lahan turun mencium dan menjilati perut
Laras yang rata dan terus berlanjut makin ke bawah sambil tangannya menyibakkan rok hitam
gadis alim itu kepangkal paha, lalu menurunkan celana dalamnya. Sambil memeloroti William
mengelusi paha putih mulus gadis montok berjilbab itu. CD itu akhirnya lepas melalui kaki
kanan Laras yang William angkat, setelah itu William mengulum sejenak jempol kaki Laras dan
juga menjilati kaki Laras. Darah Laras semakin bergolak oleh permainan William yang erotis itu.
Selanjutnya William mengangkat kedua kaki Laras ke bahunya, badan gadis berjilbab itu
setengah terangkat dengan selangkangan menghadap ke atas. Bajunya sudah awut2an, namun
jilbabnya masih tetap saja terpasang.

Laras pasrah saja mengikuti posisi yang William inginkan karena dorongan nafsu Laras ingin
menuntaskan birahi Laras ini. Tanpa membuang waktu lagi William melumat kemaluan Laras
dengan rakusnya. Lidah William menyapu seluruh pelosok vagina Laras dari bibirnya,
klitorisnya, hingga ke dinding di dalamnya, anus mahasiswi alim montok itu pun tidak luput dari
jilatan William. Lidah William disentil-sentilkan pada klitoris Laras memberikan sensasi yang
luar biasa pada daerah itu. Laras benar-benar tak terkontrol dibuatnya, mata Laras merem-melek
dan berkunang-kunang, syaraf-syaraf vagina Laras mengirimkan rangsangan ini ke seluruh tubuh
yang membuat Laras serasa menggigil.

“Ah… Aahh… Will… Nngghh… Terus!” erang Laras lebih panjang di puncak kenikmatan,
gadis alim itu meremasi payudaraya sendiri sebagai ekspresi rasa nikmat.

William terus menyedot cairan yang keluar dari memek gadis alim berjilbab lebar itu dengan
lahapnya. Tubuh Laras jadi bergetar seperti mau meledak. Kedua belah paha Laras semakin erat
mengapit kepala William. Setelah puas menyantap hidangan pembuka berupa cairan cinta Laras,
barulah William turunkan kaki Laras. Laras sempat beristirahat dengan menunggu William
membuka baju, tapi itu tidak lama. Setelah William membuka baju, William langsung beraksi.

William dengan paksa melepaskan rok hitam Laras, lalu membentangkan kedua paha Laras dan
mengambil posisi berlutut di antaranya. Bibir vagina Laras jadi ikut terbuka memancarkan warna
merah merekah diantara bulu-bulu hitamnya, siap untuk menyambut yang akan memasukinya.
Namun William tidak langsung mencoblosnya, terlebih dulu William gesek-gesekkan penisnya
yang besar itu pada bibirnya untuk memancing birahi gadis alim bertubuh putih mulus itu agar
naik lagi. Karena sudah tidak sabar ingin segera dicoblos, secara refleks Laras meraih batang itu,
keras sekali benda itu waktu Laras genggam, panjang dan berurat lagi.

“Aaakkhh…!” erang Laras lirih sambil mengepalkan tangan erat-erat saat penis William melesak
masuk ke dalam memek becek gads berjilbab yang montok itu.

“Aauuuhhh…!” Laras menjerit lebih keras dengan tubuh berkelejotan karena hentakan keras
William hingga penis itu tertancap seluruhnya pada vagina Laras.
Dengan gerakan perlahan William menarik penisnya lalu ditekan ke dalam lagi seakan ingin
menikmati dulu gesekan-gesekan pada himpitan lorong sempit yang bergerinjal-gerinjal itu.
Gadis alim itu ikut menggoyangkan pinggul dan memainkan otot vaginanya mengimbangi
sodokan William. Respon mahasiswi aktifis yang biasanya selalu menjaga pergaulannya itu
membuat William semakin menggila, penisnya semakin lama menyodok semakin kasar saja.
Kedua gunung Laras jadi ikut terguncang-guncang dengan kencang.

Laras merasakan selama menggenjot memeknya, otot-otot tubuh William mengeras, tubuhnya
yang hitam kekar bercucuran keringat, sungguh macho sekali, pria sejati yang memberi Laras
kenikmatan sejati. Suara desahan dan rintihan gadis montok berjilbab lebar itu bercampur baur
dengan erangan jantan William dan derit ranjang. Butir-butir keringat nampak di sejukur tubuh
Laras seperti embun, sampai kaosnya yang tersingkap juga jilbabnya basah oleh keringat.

“Uugghh… Mbak Laras Laras… Sayang… memek kamu emang enaakk… Oohh… Mbak Laras
cewek paling cantik yang pernah Aku entotin,memek kamu juga tebel dan keset..” William
memgumam tak karuan di tengah aktivitasnya.

Dia menurunkan tubuhnya hingga menindih Laras, Laras sambut dengan pelukan erat, kedua
tungkai Laras  Laras lingkarkan di pinggang William. William mendekatkan mulutnya bibir tipis
yang indah milik Laras dan memagutnya. Sementara di bawah sana penis William makin gencar
mengaduk-aduk vagina Laras, diselingi gerakan berputar yang membuat memek gadis alim
montok itu terasa diaduk-aduk. Tubuh mereka sudah berlumuran keringat yang saling
bercampur, Laras pun semakin erat memeluk William. Laras merintih makin tak karuan
menyambut klimaks yang sudah mendekat bagaikan ombak besar yang akan menghantam pesisir
pantai.

Namun begitu sudah di ambang klimaks, William menurunkan frekuensi genjotannya. Tanpa
melepaskan penisnya, William bangkit mendudukkan dirinya, maka otomatis Laras sekarang
diatas pangkuan William. Dengan posisi ini penis William menancap lebih dalam pada vagina
Laras, semakin terasa pula otot dan uratnya yang seperti akar beringin itu menggesek dinding
kemaluan Laras. Kembali gadis aktifis masjid di kampusnya itu  menggoyangkan badannya, kini
dengan gerakan naik-turun. Rintihannya semakin keras. William merem-melek keenakan dengan
perlakuan Laras. Mulut William sibuk melumat payudara Laras kiri dan kanan secara bergantian
membuat kedua benda itu penuh bekas gigitan dan air liur. Tangan William terus menjelajahi
lekuk-lekuk tubuh Laras, mengelusi punggung, pantat, dan paha. Jilbab yang Laras kenakan
semakin menaikkan birahi William.

Tak lama kemudian Laras kembali mendekati orgasme, maka gadis berjilbab lebar itu
mempercepat goyangannya dan mempererat pelukannya. Hingga akhirnya mencapai suatu titik
dimana tubuh Laras mengejang, detak jantung mengencang, dan pandangan agak kabur lalu
disusul erangan panjang serta melelehnya cairan hangat dari vagina Laras. Saat itu William gigit
puting Laras dengan cukup keras sehingga gelinjang gadis manis yang alim itu makin tak karuan
oleh rasa perih bercampur nikmat. Ketika gelombang itu berangsur-angsur berlalu, goyangan
Laras pun makin mereda, tubuh gadis berjilbab lebar itu seperti mati rasa dan roboh ke belakang
tapi ditopang dengan lengan William yang kokoh.
Dia membiarkan Laras berbaring mengumpulkan tenaga sebentar. Diambilnya tempat minum di
atas meja kecil sebelah ranjang Laras dan disodorkan ke mulut Laras. Beberapa teguk air
membuat Laras lebih enakan dan tenaga Laras mulai pulih berangsur-angsur.

################################################

“Aauughh.. Aaugghh.. Eehhmggh..”, Laras mulai bergairah kembali. Gadis alim itu mulai
kembali tenggelam dalam birahi, diperkosa untuk kesekian kalinya dikamar kontrakannya olehs
eorang asal indonesia timur. Kepalanya yang masih memakai jilbab ia benamkan kebantal,
meredam desahan dan erangan nikmatnya.
 Tak lama kemudian Laras kembali mendekati orgasme, maka gadis berjilbab lebar itu
mempercepat goyangannya dan mempererat pelukannya. Hingga akhirnya mencapai suatu titik
dimana tubuh Laras mengejang, detak jantung mengencang, dan pandangan agak kabur lalu
disusul erangan panjang serta melelehnya cairan hangat dari vagina Laras. Saat itu William gigit
puting Laras dengan cukup keras sehingga gelinjang gadis manis yang alim itu makin tak karuan
oleh rasa perih bercampur nikmat. Ketika gelombang itu berangsur-angsur berlalu, goyangan
Laras pun makin mereda, tubuh gadis berjilbab lebar itu seperti mati rasa dan roboh ke belakang
tapi ditopang dengan lengan William yang kokoh.

Dia membiarkan Laras berbaring mengumpulkan tenaga sebentar. Diambilnya tempat minum di
atas meja kecil sebelah ranjang Laras dan disodorkan ke mulut Laras. Beberapa teguk air
membuat Laras lebih enakan dan tenaga Laras mulai pulih berangsur-angsur.

Tiba-tiba, terdengar suara motor yang masuk kehalaman rmah kontrakan itu. “itu Rika!” Kata
Laras yang langsung tergesa-gesa merapikan bajunya dan mengenakan roknya. Segera mereka
berdua kembali keruang depan, duduk disofa berpura-pura tidak ada apa2.

“Assalamu alaikum…” Beberapa saat kemudian, Rika masuk. Laras dan William menjawabnya.
“ada tamu ya mbak?” tanya Rika. Laras hanya mengangguk. “kenalkan, nama saya William.”
Kata William sambil mengulurkan tangannya. Matanya jelalatan memandang Rika yang cantik
dan ramping, yang memakai baju longgar putih, jilbab coklat muda dan rok yang berwarna sama
dengan jilbabnya. Wajahnya manis dan putih, dengan bibir yang indah dan tipis. Rika tidak
menyambut tangan William, namun langsung mengatupkan tangannya, :kenalkan, nama saya
Rika.” Kata Rika. William langsung salah tingkah. “Mbak aku masuk dulu yah.” Kata Rika.
Laras mengangguk. Kemudian Rika masuk. Tak berapa lama terdengar tivi diruang tengah
didepan kasur busa yang tadi dipakai Laras dan William untuk bercinta terdengar dihidupkan.
Ternyata Rika menonton tivi.

Beberapa saat, William mendekati Laras yang masih kepayahan. “Sudah segar lagi kan, Mbak
Laras? Kita terusin lagi yuk!” sahut William senyum-senyum sambil mulai menggerayangi tubuh
Laras kembali.

“jagan will..ntar Rika tahu..” kata Laras. “ya kita mainnya disini aja… diem-diem…” kata
William sambil terus menggerayangi tubuh Laras. Tangan nakal William membuat Laras
kembali mendesah. Kaki gadis berjilbab itu mulai terbuka. Namun William menginginkan gaya
yang berbeda.

Kali ini tubuh Laras dibalikkan dalam posisi menungging telungkup diatas sofa. Kemudian
William pelan2 menyibakkan rok hitam Laras, lalu mulai menciumi pantat Laras. Lidah William
menelusuri vagina dan anus Laras memberi Laras sensasi geli. Kemudian Laras merasa William
meludahi bagian dubur Laras, ya ketika gadis aktifis masjid kampus itu melihat ke belakang
William memang sedang membuang ludahnya beberapa kali ke daerah itu, lalu digosok-
gosokkan dengan jarinya. William mau main sodomi. Laras sudah lemas dulu membayangkan
rasa sakitnya ditusuk kontol sebesar milik William pada daerah situ.

Benar saja yang Laras takutkan, setelah melicinkan daerah itu William bangkit lalu membuka
retsleting celana jeansnya, mengeluarkan kontol besarnya, lalu dengan tangan kanan
membimbing penisnya dan tangan kiri membuka anus Laras. Gadis alim itu meronta ingin
menolak tapi segera dipegangi oleh William. “ssstt..jangan berontak..ntar Rika dengar..” bisik
William ditelinga Laras.

“Jangan Will… Jangan disitu, sakit!” bisik Laras memohon, setengah meronta.

“Tenang Mbak Laras, nikmati saja dulu, ntar juga enak kok. Saya gak akan kasar. Dulu itu mbak
juga keenakan khan?” bisik William.nafasnya terasa tersengal2, menahan gejolak birahi.

Gadis ayu berjilbab itu merintih tertahan sambil menggigit sofa menahan rasa perih akibat
tusukan benda tumpul pada duburnya, yang lebih sempit dari vaginnya. Air mata Laras meleleh
keluar.

“Aduuhh… Sudah Will… Laras nggak tahan,” rintih Laras yang tidak dihiraukannya.

“Uuhh… Sempit banget nih,” William berbisik mengomentari Laras dengan wajah meringis
menahan nikmat.

Setelah beberapa saat menarik dan mendorong akhirnya mentok juga penis William. William
diamkan sebentar penisnya disana untuk beradaptasi sekalian menikmati jepitannya. Kesempatan
ini juga dipakai gadis manis berjilbab itu untuk membiasakan diri dan mengambil nafas.

Laras menjerit kecil saat William mulai menghujamkan penisnya. Secara bertahap sodokan
William bertambah kencang dan kasar sehingga tubuh gadis berjilbab itu pun ikut terhentak-
hentak. Tangan William meraih kedua payudara Laras dari luar kaos dan jilbabnya dan diremas-
remasnya dengan brutal. Keringat dan air mata Laras bercucuran akibat sensasi nikmat di tengah-
tengah rasa perih dan ngilu, gadis manis berjilbab itu menangis bukan karena sedih, juga bukan
karena benci, tapi karena rasa sakit bercampur nikmat. Rasa sakit itu Laras rasakan terutama
pada dubur dan payudara, Laras mengaduh pelan setiap kali William mengirim hentakan dan
remasan keras, namun gadis alim itu juga tidak rela William menyudahinya. Terkadang Laras
harus menggigit bibir atau sofa untuk meredam jeritannya agar tidak keluar sampai keruang
sebelah, dimana Rika ada disana.
Akhirnya ada sesuatu perasaan nikmat mengaliri tubuh Laras yang Laras ekspresikan dengan
desahan panjang, ya Laras mengalami orgasme panjang dengan cara kasar seperti ini, tubuh
gadis montok berjilbab itu menegang beberapa saat lamanya hingga akhirnya lemas seperti tak
bertulang. William sendiri menyusul Laras tak lama kemudian, William menggeram dan makin
mempercepat genjotannya. Kemudian dengan nafas masih memburu William mencabut penisnya
dari Laras dan membalikkan tubuh gadis aktifis kampus berjilbab lebar itu lalu mengarahkan
kontolnya kewajah cantk dan putih Laras. Sperma William muncrat, menyemprot dengan
derasnya dan berceceran di wajah Laras, menetes sampai membasahi jilbab hitam Laras.

Tubuh Laras tergolek lemas disofa, sementara William duduk terengah-engah dikursi empuk
sebelah sofa panjang. Ia barusaja menikmati tubuh seorang gadis alim berjilbab yang biasanya
menjaga dirinya. Terlebih lagi, william menikmatinya dikontrakan sang gadis berjilbab itu
sendiri, tanpa melepas bajunya, dan ada rekannya sesama gadis berjilbab diruang sebelah.
Sebuah senssi yang membuat gairahnya semakin tinggi dan orgasmenyapun semakin kuat.
Pelan2 Laras duduk dan mengambil tissue dimeja, lalu membersihkan wajahnya yang
berlumuran sperma, juga jilbabnya. Kemudian dengan pelan ia beranjak masuk kedalam,
sepertinya hendak ke kamar mandi. Sementara itu tivi yang ada diruang dalam tidak terdengar
lagi suaranya.

Tiba-tiba ditengah kelelahannya, William ingat Rika, rekan Laras sesama gadis berjilbab lebar
yang tadi masuk ke dalam. Kembali pikiran bejatnya penasaran,s eperti apa rasa memek sang
gadis yang terlihat lugu tadi. Setelah tenaganya sedikit terkumpul, ia kembali masuk ke ruang
tengah.

Diruang tengah, ia menjumpai ruangan itu kosong, dan televisi yang tadi menyala telah mati.
Segera ia melirik ke dua kamar di debelah ruang tengah. Dikamar yang satu, lewat pintu yangs
edikit terbuka ia melihat Larasl, berbaring menelungkup dikasur. Wajahnya terbenam dalam
bantal, dengan jilbab, baju longgar dan rok panjang yang masih ia pakai. Nampaknya gadis alim
montok itu menangis. William tidak peduli. Langsung ia berpaling ke pintu satunya, yang
tertutup. Segera ia berjongkok untuk mengintip dari lubang kunci, dan ketika ia mengintip,
terkejutlah ia teramat sangat. Birahi yang tadi telah lepas, kini kembali datang. Ia melihat Rika,
gadis alim berjilbab yang wajahnya terlihat lugu itu tidur terlentang. Baju, jilbab, kaus kaki putih
dan roknya masih ia pakai, namun roknya sudah tersingkap keatas, memperlihatkan pahanya
yang putih mulus. Keterkejutan William ialah karena Rika, sang gadis cantik berjilbab itu sedang
menyusupkan tangannya ke balik celana dalamnya dan meraba-raba memeknya sendiri.

Sesaat kemudian Rika melepaskan celana dalam putih berendanya, membuat William semakin
terkesima melihat bentuk memek Rika yang indah, dihiasi bulu-bulu tipis. William merasakan
nafsu birahi kembali bangkit, batang kemaluannya kembali mengeras. William terus mengintip.
Tangannya turun ke kontolnya yang etrtutup celana jeans, dan mengelus2nya.

Detik-detik selanjutnya, gadis berjilbab itu kembali melanjutkan aktivitasnya. Tangannya


meraba-raba bibir memeknya yang merah merekah, sambil mulutnya tak berhenti mendesah.
Pemandangan selanjutnya semakin membuat perasaan William tak karuan. Dimana, Rika
mencucuk-cucuk memeknya sendiri dengan irama yang semakin lama semakin cepat. Namun
melihat sang gadis ayu berjilbab itu masturbasi tanpa melepas jilbab dan bajunya tetap membuat
William semakin birahi.

“Akkhh.. oohh.. oughhtt.. ouhh.. akhh..” desahan dan rintihan yang keluar dari mulut Rika
semakin keras, sampai suatu saat William melihat tubuh gadis alim itu terhentak-hentak,
pantatnya terangkat dan tubuhnya mengejang beberapa saat untuk kemudian terkulai lemas dan
tertidur. Rupanya Rika sudah mencapai orgasme, pikir William dalam hati.

William yang sedari tadi mengintip tak dapat lagi membendung nafsu birahinya yang kembali
datang.s egera ia ingat pada Laras.

Dengan segera William masuk kek amar Laras, dan menindih Laras. Laras yang terkejut tidak
mampu berbuat apa-apa. “wil… udahhh…ampuuunnn… jangaaann… aku capeeeek…” rintih
Laras sambil terisak-isak, namun William tidak peduli. Segera william  bangkit dan menarik
pantat gadis montok berjilbab itu kebelakang sehingga posisi Laras sekarang agak menungging.
Laras yang sudah lemas tidak mampu berontak, kecuali hanya terisak dan merintih memohon
ampun yang tidak digubris oleh William. Gadis berjilbab itu menjerit tertahan ketika william
menyingkap rok panjangnya keatas dan memelorotkan celana dalamnya. Beberapa saat
kemudian terasa sebuah benda hangat yang besar kembali menyeruak masuk lubang memeknya.
Dengan amat bernafsu setelah melihat Rika, agdis berjilbab rekan Laras masturbasi, William
melampiaskan birahinya dengan kembali memperkosa memek Laras. disodoknya memek Laras
dari belakang.

“Ohh.. Mbak Laras.. Ooh.. Oohh.. Oohh.. Mbak Laraaashhngg”, William meracau histeris sambil
memacu kontolnya menembusi memek gadis alim itu dengan cepat dan bertenaga.

Berkecipak-kecipak suara memek Laras dihajar kontol William yang masih kokoh dan tegang
itu. Tangan kekarnya kadang menepuk pantat bahenol dan padat Laras sampai merah kulitnya,
gadis alim itu meringis-ringis antara perih dan nikmat yang mulai kembali menjalar dari
memeknya keseluruh tubuhnya. “Aauughh.. Aaugghh.. Eehhmggh..”, Laras mulai bergairah
kembali. Gadis alim itu mulai kembali tenggelam dalam birahi, diperkosa untuk kesekian kalinya
dikamar kontrakannya olehs eorang asal indonesia timur. Kepalanya yang masih memakai jilbab
ia benamkan kebantal, meredam desahan dan erangan nikmatnya.

Memek Laras berdenyut-denyut menyekap kontol William sehingga dari mulut William
mencerocos erang-erangan kenikmatan. “Emmppoott.. Mbak Laraaashhngghh.. Ennaakk..
Bbanngeet.. Adduuhh.. Heehghh..”, semakin liar sodokan William, sampai pantat Laras merah-
merah karena hantaman-hantaman paha William.

Kontol diayun untuk menyodok sedalam-dalamnya. Keduanya tercerai dari kesadaran kembali.
Erangan dan ceracau terlontar di luar kendali akal. Kemudian dengan kasar Laras ditelentangkan
dan diangkat satu kakinya yang kanan dan dipegangi. Lurus ke atas. William mendekatkan
kontolnya kembali, dengan tubuh tegak sejajar kaki kanan Laras, William memajukan dan
menghujamkan kontolnya lalu mulai mengayuh kembali. Laras sang gadis berjilbab itu
memejamkan matanya rapat0rapat. Bibirnya ia gigit, seolah menahan erangan nikmat yang akan
keluar. Tidak berhasil, karena masih etrdengar dengusan nafas birahi dan desahannya yang
erotis.

Keduanya berpacu kembali, berliter-liter keringat telah membanjir keluar dari tubuh keduanya
sampai baju yang masih mereka pakai basah kuyup. Tangan william merambat keatas, meremas
kasar tetek Laras sambil terus menggenjot memek gadis alim montok itu dengan ganas.
Hunjaman-hunjaman kontolnya kuat dan menyentak, membuat Laras merasakan kenikmatan
yang sangat dalam perkosaannya. Matanya hanya membeliak-beliak dengan erangan-erangan
yang sudah semakin menghilang.

“Oohggh.. Aaghh.. Eegh.. Eeghh.. Eeghh.. Maauuhh.. Nyampaihh.. Mbak Laraaashhnngghh.”

Laras tidak sempat menanggapi lagi karena dia sudah mencapai orgasmenya. kenikmatan kali ini
yang dia rasakan sudah tak terukur. keduanya memekik tertahan, takut ketahuan oleh Nuruk
yang tertidur dikamar sebelah.

“Aahh!!”.

Keduanya melengkungkan tubuh masing-masing ingin saling memasuki, William mencoba


menembuskan kontolnya sampai ke tempat terdalam milik Laras, gadis alim itu terlihat seolah
ingin mencakup seluruh milih William. Keduanya melipat dan saling mengatupkan dirinya
dengan kuat-kuat ingin berpadu tak teruraikan.

Setelah beberapa saat menumpahkan spermanya ke memek Laras, William berbaring terlentang
disamping Laras, kehabisan tenaga. Isak tangis Laras sudah tak terdengar. Gaids alim itu
sepertinya sudah tak punya tenaga lagi juga. Beberapa saat istirahat, William kembali merapikan
bajunya, dan beranjak pergi. Tidak lupa ia mengambil gambar Laras yang sedang tertidur dengan
bagian bawah terbuka lebar. William tahu itu berguna suatu saat nanti.

Namun ia sekarang sudah puny target baru. Sang gadis alim yang berwajah lugu dan cantik,
namun ternyata maniak masturbasi, Rika. Segera ia melenggang keluar kjontrakan gadis-gadis
berjilbab itu dengan langkah ringan karena mendapat mangsa baru.

Pagi ini entah mengapa saya bersemangat untuk pergi sekolah. Setelah menyiapkan buku, tanpa
menyia-yiakan waktu, saya langsung keluar dari asrama dan pergi ke kelas. Di tengah-tengah perjalanan
menuju ruang kelas saya bertemu dengan beberapa adik kelas, mungkin mereka habis piket. Langsung
saja saya menuju kelas tercinta, berharap saya orang pertama yang ada disana.

Seketika itu juga, saya tidak bisa mengucapkan kata apa-apa. Hendra teman sekelas saya dan juga salah
satu cowok yang saya kagumi tengah memainkan burungya yang menjulang tinggi. Sambil tanganya
mengurut ke depan dan ke belakang. Hati saya bertanya? Apa yang sedang Hendra lakukan. Sebagai
wanita, saya hanya bisa berteriak. Hendra pun sadar akan kehadiran saya. Dengan sigap, ia segera
memasukan burungnya dan menutup celana panjangnya.

"Pagi Mita, tumben pagi-pagi gini udah dateng"

"Iya nih, daripada gak ada kerjaan. Mending ke kelas aja. Sekalian belajar" jawab saya.

"Mit, kamu lihat yang aku lakuin tadi?" tanya Hendra, muka saya langsung memerah dan tak sanggup
mengatakan apa-apa.

Setelah jam pelajaran habis. Semua siswa berhamburan ke luar kelas. Saya masih memikirkan apa yang
terjadi tadi pagi. Hal ini membuat saya penasaran. Saya sungguh tabu akan hal yang berbau sex.
Sebagian dari teman saya apabila hasratnya sedang memuncak mereka slalu pergi ke kamar mandi
sambil membawa timun, wortel, dan pisang. Menurut informasi, di dalam kamar mandi mereka
membuka seluruh pakaiannya. Mulai dari kerudung, jubah, sampai rok. Timun kemudian dimasukan ke
dalam vagina, maju, mundur sambil membayangkan itu kelamin cowok yang mereka kagumi.

Saya ingin menjaga diri, tapi akibat pristiwa tadi hasrat saya memuncak, segera saya pergi ke dapur
untuk meminta timun yang masih segar. Beruntung kamar mandi pojok kosong. Langsung saja saya
masuk kesana. Sebuah timun saya keluarkan dari baju putih saya. Kemudian kerudung panjang saya
mulai saya buka, saya biarkan rambut panjang saya terurai. Saya sungguh bangga dengan paras saya
yang cantik.

Baju putih telah saya buka, begitu juga dengan rok hitam saya. Kini tinggal pakaian dalam yang
menempel di tubuh saya. Bra pink mulai saya lepaskan, mencuatlah buah dada saya yang besar dengan
puting merah muda. Celana dalam putih yang saya kenakan telah terlepas. Secara reflek saya meremas
kedua dada saya yang besar.

“Aaachhh....aachhhhh... aahhhh…” hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut saya.

Kini puting saya telah mengeras, tapi saya tetap meremas dengan penuh nafsu. Sambil tetap meremas,
timun saya ambil. Segera saya buka lubang vagina saya. Saya tertawa kecil, karena vagina saya di
tumbuhi oleh bulu-bulu halus. Dengan penuh nafsu, timun saya masukan. Kini telah masuk stengahnya
kedalam vagina saya. Nikmat rasanya, pantas saja teman-teman ketagihan. Sambil membayangkan
Hendra, saya terus memainkan timun. Maju, mundur,
“Aachhhh... achhhh... achhhhh…”

Timun yang masuk kedalam vagina saya semakin membuat tubuh saya menggelinjang. Tak sanggup
rasanya merasakan rasa nikmat yang mengalir begitu deras. Setengah dari timun telah masuk kedalam
vagina saya, andai saja timun tadi adalah penis milik Hendra. Mungkin kenikmatan yang saya rasakan
akan lebih.

“Aachh... aacchhh… ahhhh... ouchhhh…”

“Hendra... Hendra...” sambil terus meremas payudara.

Saya merasa ada sesuatu yang akan keluar, gerakan maju mundur terus saya lakukan, semakin cepat
vagina saya memerah dan mulai basah oleh cairan putih. Gerakan semakin saya percepat, semakin
cepat.

“Oochhhh... aaaachhhh...” saya mengeluarkan teriakan paling keras, disertai dengan keluarnya cairan
putih yang sangat banyak.

Saya sempat khawatir akan ada orang yang tahu apa yang saya lakukan di kamar mandi tadi. Dengan
segera saya ambil pakaian putih dan rok hitam saya. Tak lupa juga timun tadi yang saya pakai untuk
berfantasi. Kini, Mita menjadi akhwat yang tertutup jilbab lebarnya.

Di asrama saya terkenal sebagai seorang kakak kelas yang pintar, cantik, juga alim. Jadi wajar saja jika
sebagian dari mereka menghormati saya. Tidak sedikit dari adik kelas saya yang curhat tentang cowok
yang mereka taksir. Mulai dari hal ngedate, bercanda, sampai hal seperti itu. Pernah ketika itu indah
bercerita, kalau payudaranya pernah diremas oleh zacky. Selain itu di waktu kelas kosong, mereka
berdua berciuman dengan ganasnya, lidah saling berdau, sampai bertukar rasa air liur. Untung saja saya
tidak melaporkan hal itu ke ustadzah, karena saya tahu indah orangnya polos. Zacky lah orang yang
seharusnya disalahkan.

Malam ini saya berharap bisa mimpi indah bersama Hendra. Mimpi untuk menandakan kedewasaan
seseorang, mimpi yang mewajibkan untuk mandi wajib sesudahnya. Sebelum tidur saya terbiasa cuci
muka, dan gosok gigi. Ketika ditempat tidur, saya terbiasa melepas kerudung lebar saya, membiarkan
rambut panjang saya terurai. Semua pakaian dalam juga saya lepaskan. Hanya baju tidur saja yang saya
kenakan.

Tidak terasa, waktu subuh sebentar lagi, saya segera bangun dari tidur saya. Kerudung segera saya
kenakan, dan bergegas ke kamar mandi. Sedikit informasi, kamar mandi pria dan wanita saling
berhadapan. Jadi wajar saja ada mata-mata jahil yang mengintip akhwat sedang mandi. Saya masuk ke
kamar mandi untuk menyegarkan diri, tanpa ada rasa khawatir sedikitpun.

Baju tidur saya saya lepas, mencuatlah langsung payudara saya yang besar dan juga putih dengan puting
merah muda. Kemudian celana training saya, gatal rasanya vagina saya. Terakhir adalah kerudung
kesayangan saya. Saya berbalik, tampaklah sesosok mata memandang dengan penuh nafsu. Saya segera
menutup barang kebanggan saya dan berteriak.

"Ada yang ngintip, tolong!" semua akhwat langsung menuju ke kamar mandi, tapi sang pengintip tadi
langsung menghilang.

"Siapa yang ngintipnya Mit?"

Saya juga tidak begitu jelas melihatnya, tapi sorot matanya seperti orang yang saya kenal. Merasa
suasana terkendali, saya segera untuk membersihkan diri. Segar sekali rasanya mandi di pagi hari,
saatnya saya berganti pakaian sekolah. Sejenak saya memandang tubuh saya yang indah didepan kaca.
Payudara saya menjadi daya tarik tersendiri karena ukurannya yang besar, dan padat. Mengapa tidak
sekali-kali saya pakai pakaian ketat saja.

Berhubung semua pakaian yang saya miliki berukuran lebar, maka saya rayu adik kelas untuk
meminjamkan pakaiannya yang kecil. Setelah saya dapat, segera saya berpakaian. Oohhh... sungguh sulit
dipercaya, semua lekuk tubuh saya tercetak dan bagian depanlah yang paling menonjol, serasa ia ingin
mencuat, saya harus jaga diri dari tangan-tangan jahil. Rok hitam telah saya kenakan. Sedikit tampil
beda, saya pakai shadow di sekitar mata saya, di tambah sedikit pemerah wajah. Sungguh cantik dan
seksinya saya hari ini. Kira-kira apa reaksi dari ikhwan dan akhwat yang melihat saya.

Saya masuk ke kelas sambil mengucapkan "selamat pagi semua". Mendengar itu, semua berpaling ke
arah saya seakan ingin melihat siapa gerangan. Sontak semua ikhwan memandang ke arah saya.

"Mita, kamu cantik banget"


“Iya nih, hari ini Mita beda dari biasanya. Ada angin apa nih"

Semua pujian yang diarahkan ke arah saya membuat para akhwat syirik, termasuk Lisa. Ia merasa
keseksiannya tersaingi oleh saya. Walaupun berkerudung, Lisa terkenal binal. Tidak sedikit ikhwan yang
ia taklukan. Lisa juga terkenal sebagai akhwat yang sering berhbungan dengan ikhwan. Biasanya ia slalu
pintar mencari waktu yang kosong untuk itu. Topik pagi ini yang paling hangat masih tentang sang
pengintip.

"Mit, emangnya kamu gak liat jelas tadi? Sayang banget kalu dia gak ketangkap"

Ikhwan hanya bisa saling menuduh. Sedikit saya lempar senyuman manis kepada mereka. Tanpa sengaja
Hendra memandang ke arah saya. Tatapannya sungguh tajam, seakan tersimpan suatu pesan.
Penampilan yang beda berdampak tidak menyenangkan. Semenjak pelajaran dimulai, semua mata
ikhwan terus memandang saya. Apa yang salah? Apa payudara saya begitu menggoga, atau wajah saya
yang mempesona. Saya tak tahan akan keadaan ini.

Lisa tidak terlihat ketika pelajaran berakhir. Saya tidak ada rasa curiga sedikitpun terhadap Lisa. Di sisi
lain, Rendi seakan menghilang begitu saja. Apa ada kaitannya dengan Lisa? Jam pelajaran habis, semua
ikhwan dan akhwat berteriak senang. Entah mengapa sebelum pulang, saya ingin pergi ke kantin
belakang. Beberapa sapaan saya dapatkan dari teman saya yang lain.

Tiba-tiba saya terkejut ketika mendengar desahan seorang lelaki. Karena penasaran, saya mencari
sumber suara tadi. Ternyata suara tadi berasal dari gudang belakang. Positif thinking jalan yang terbaik,
siapa tahu itu orang yang membutuhkan pertolongan. Segera saya dekati, betapa terkejutnya saya. Lisa
yang tadi menghilang ternyata sedang asyik menghisap penis Rendi yang sudah tegang dan merah. Saya
ingin berteriak, tak sanggup rasanya melihat mereka berdua.

Seketika itu, bisikan setan datang. Saya mendekat dan ingin melihat jelas mereka berdua. Lisa terlihat
masih menggunakan pakaian lengkap. Rendi telah melepas celananya. Penis Rendi sungguh besar, Lisa
sangat menikmati setiap jilatannya, Rendi seakan tidak kuat menahan gigitan dan isapan dari mulut Lisa.
Sepertinya Lisa sangat handal dalam hal ini. Isapan Lisa berhenti, ketika Rendi melepasa bajunya.
Keringat telah bercucuran di tubuhnya.

Kini di depan mata saya Rendi tidak menggunakan sehelai benang pun. Nafas saya semakin tak
menentu, detak jangtung semakin cepat. Rendi membuka kancing baju Lisa satu persatu, saya semakin
bernafsu melihat hal itu. Dengan ganasnya bra pink Lisa ditarik. Sementara kerudung sengaja masih
menempel.

"Nis, payudara kamu indah banget, boleh aku remes gak?"

"Masa sih, indah apanya. Mau remas ya remas aja" Suara Lisa begitu manjanya.

Saya semakin terangsang melihat adegan mereka berdua, dengan segera saya mainkan vagina saya yang
mulai basah.

“Aachhh... aahhhhhh...” vagina saya sungguh gatal, saya jadi teringat akan Hendra, saya masukan jari-
jari saya kedalam vagina.

Rendi terus meremas payudara Lisa, menghisap, menggigit pentilnya. Lisa berteriak ketika putingnya
digigit Rendi. Lisa merasa payudaranya telah mengeras. Lisa melepas rok hitamnya, kemudian ia
meminta Rendi untuk menarik celana dalamnya. Tentu saja, Rendi tidak menolak. Celana dalam pink Lisa
telah terlepas. Vaginanya begitu merekah. Lidah Rendi bermain lincah dalam vagina Lisa.

“Oouchhhh... aachhhh... oochhhhh... yes Rendi…”

Gerakan jari saya semakin cepat. Seketika itu juga, cairan nikmat keluar dari vagina saya. Suasana yang
sepi membuat saya leluasa untuk apapun. Rok segera saya lepaskan, dilanjutkan dengan Pakaian putih
saya. Terakhir adalah kerudung ketat yang saya pakai hari ini. Seorang Mita sekarang hanya
menggunakan pakaian dalam.

"Rendi kamu pinter banget, puasin aku, aaachhh… aachhhh…"

Vagina Lisa masih dipermainkan oleh lidah Rendi. Jari-jari Rendi juga bermain di daerah licin Lisa. Saya
semakin tak kuasa, tangan saya meremas payudara indah saya. Pakaian dalam belum mau saya
lepaskan.

“Aachhhh... ochhhhh... yes...ought...” hanya teriakan kecil itu yang saya ucapakan.

Tangan Lisa meraih penis Rendi, lalu menjilatinya, sambil sesekali mengocok pelan. Ia sepertinya tak
ingin Rendi ejakuasi duluan.
"Ren, bukain kerudung Lisa dong"

"Emangnya kamu gak malu sama aku?" kata Rendi.

"Buruan ah, Lisa gak tahan nih"

Selama ini, Rendi belum pernah melihat Lisa tanpa kerudung. Walaupun ia terkenal sebagai akhwat yang
binal. Perlahan-lahan kerudung Lisa dilepasnya. Rasa penasaran terlihat dari wajahnya.

"Lisa… berkerudung ataupun tidak, kamu tetap cantik"

Rambut yang selama ini tertutupi, kini tampak dengan indahnya di depan Rendi. Saya terpana melihat
rambut Lisa yang indah, panjang dan berwarna kecoklat-coklatan. Lisa membuka vaginanya lebar-lebar,
terlihat birahinya telah memuncak. Rendi segera mengarahkan penisnya menuju vagina Lisa, ia sempat
beberapa kali gagal. Padahal yang ia tahu, Lisa sudah tidak perawan.

"Lis, vagina kamu sempit banget"

"Coba terus aja Ren"

Rendi terus mencoba, bahkan penisnya ia lumuri air liur Lisa. Baru kali ini saya merasakan hal yang
sangat nikmat sebagai akhwat. Selama ini saya hanya bisa berimajinasi tentang seks. Tubuh saya
bergoyang merasakan irama dan desiran dari hasrat birahi. Sambil terus bergoyang saya buka pakaian
dalam yang telah basah oleh keringat ini. Lisa menjerit dengan kerasnya,

"Aaachhh... aachhh... achhh… Rendi, sakit…"

Rendi sepertinya khawatir akan Lisa, "Kamu gak apa-apa kan?"

"Terusin aja Ren, jangan lupa genjot yang kenceng" Lisa memainkan rambutnya yang panjang sambil
mengigit kecil bibirnya.

Bayangan Hendra seakan hadir seketika. Mengajak saya bersenggama dan berbagi kenikmatan. Lisa
sangat menikmati setiap goyangan Rendi, begitu pula dengan Rendi. Penisnya serasa dijepit dengan
pijitan nikmat dari Vagina Lisa.

“Rendi… aachhhhh... ouchhhgggg... genjot terus” Rendi tersenyum dan mempercepat genjotannya.

"Gimana nis, kamu puas gak?"

"Puas banget. Penis kamu udah gede, keras lagi, bikin aku gereget”

Saya tak tahu harus kemana melampiaskan birahi ini. Mulut Lisa terus meracau dan mengeluarkan kata-
kata nikmat. Rambutnya berantakan, tubuhnya kilat dengan keringat. Genjotan Rendi semakin cepat,
penisnya tampak sangat merah, vagina Lisa juga telah basah dengan cairan nikmat. Lisa mengigit
bibirnya dan berteriak dengan keras.

“Aaachhhh... Rendi, Lisa udah nyampe"

Rendi seakan berhasil mengalahkan Lisa. Genjotan semakin cepat, cepat, cepat, seakan ada sesuatu
yang bedenyut dari penisnya. Tak sanggup menahan nikmat, Rendi tidak mencabut penisnya. Ia
membiarkan spermanya mengalir dalam vagina Lisa.

"Lisa, aku udah nyampe nih. Kamu siap tahan"

Crooootttt... Crooottt... Crooottt... Crottt... Croott… Rendi mengeluarkan sperma beberapa kali. Sungguh
beruntung jadi Lisa. Bisa merasakan kenikmatan dari Rendi, Mereka berdua tampak senang, saling
memuji dan beristirahat sebentar. Kini giliran fantasi liar saya. Sambil membayangkan kejadian tadi, saya
remas payudara yang indah ini. Oochhh... nikmat rasanya. Kemudian saya gosok vagina saya, dan
memasukan jemari saya.

“Aaachhh... aachhh... oouchhh...” bulu-bulu halus ini saya persembahkan untuk Hendra.

Mereka berdua masih terlihat kelelahan. Untung saja, saya semakin menikmati fantasi birahi ini. Sebagai
akhwat, ternyata birahi saya sangat besar. Hasrat yang tertahan harus saya lampiaskan. Saya semakin
memejakan mata, menahan rasa nikmat dari permainan jemari saya.

“Hendra… aachhh... aahhhhh...” tangan saya kini memainkan puting susu saya.
Kesadaran tengah hilang dari saya karna orgasme akibat kocokan tangan saya. Saya membuka mata
untuk melihat sejenak apa yang Lisa dan Rendi lakukan. Akhirnya saya pun pergi meninggalkan mereka.

Anda mungkin juga menyukai