Anda di halaman 1dari 17

BAGIAN ILMU ANESTESI DAN REANIMASI REFARAT

FAKULTAS KEDOKTERAN Oktober 2019

UNIVERSITAS PATTIMURA

Manajemen Anestesi Lokal

Oleh:

Sharlie Chrisna Mainassy

NIM. 2018-84-041

Pembimbing:

dr. Fahmi Maruapey, Sp. An

dr. Ony. W Angkejaya, Sp.An

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK

PADA BAGIAN ILMU ANESTESI DAN REANIMASI

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS PATTIMURA

AMBON

2019
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkankepada Tuhan yang Maha Esa atas
berkat dan anugerah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan
referat dengan judul “Managemen Anestesi Lokal ”,dalam rangka memenuhi
tugas sekaligus syarat mengikuti ujian kepaniteraan klinik bagian Anestesi dan
Reanimasi.

Penyusunan referat ini dapat diselesaikan berkat adanya bantuan,


bimbingan, dan dorongan dari berbagai pihak. Untuk itu, pada kesempatan ini
penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. dr. Ony W. Angkejaya, Sp.An dan dr. Fahmi Maruapey, Sp. An selaku
pembimbing yang telah bersedia meluangkan waktu, pikiran dan tenaga
guna membantu penyelesaian referat ini.
2. Rekan-rekan Co-Ass sejawat yang turut membantu dan menyemangati
penulis.

Penulis menyadari bahwa penulisan referat ini masih jauh dari kata
sempurna, untuk itu saran dan masukan sangat penulis harapkan demi
kesempurnaan penulisan referat ini. Akhir kata semoga referat dapat memberikan
manfaat bagi semua pembacanya.

Ambon, Oktober 2019

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
1.1 Definisi
2.2 Penggolongan Anestesi Lokal
2.3 Mekanisme Anestesi Lokal
2.4 Tekhnik Anestesi Lokal
2.5 Farmakologi Anestesi Lokal
2.6 Komplikasi Anestesi Lokal
BAB III
3.1 Kesempatan sumulai
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
DAFTAR ISI
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Lokal anestesi didefinisikan sebagai hilangnya sensasi pada suatu area di


tubuh yang disebabkan oleh depresi dari eksitasi akhir saraf atau inhibisi dari
proses konduksi pada nervus perifer bersifat sementara. Obat anestesi lokal adalah
obat yang dapat menyebabkan blok konduksi dari impuls saraf yang bersifat
reversibel sepanjang jalur saraf sentral maupun perifer setelah dilakukan anestesi
regional.1
Kegunaan penting yang dihasilkan oleh lokal anestesi ini berupa hilangnya
sensai tanpa hilangnya kesadaran, hal ini merupakan perbedaan besar yang
dramatis dari anestesi lokal dibandingkan dengan anestesi umum. Disamping itu,
obat anestesi lokal juga kurang menimbulkan gangguan kognitif. Pemberian
konsentrasi yang tepat dari obat anestesi lokal menyebabkan impuls saraf otonom,
sensorik somatik dan motorik somatik akan terganggu sehingga menyebabkan
blok sistem saraf, dan paralisis dari otot skeletal pada daerah yang dipersarafi
saraf yang terpapar.1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Anestesi Lokal

Anestesi lokal didefinisikan sebagai tindakan yang menghilangkan rasa

nyeri atau sakit untuk sementara pada salah satu bagian tubuh, secara topikal atau

suntikan, tanpa disertai hilangnya tingkat kesadaran. Anestesi lokal digunakan

untuk mengurangi nyeri sehingga pasien merasa nyaman saat dilakukan tindakan

dan dokter gigi mampu bekerja dengan baik.2

Anestesi lokal bertujuan untuk melumpuhkan saraf sensibel secara lokal

dengan cara pemberian obat-obatan atau intervensi medis lain sehingga pasien

tidak dapat merasakan nyeri dalam durasi waktu tertentu.2

2.2 Penggolongan Anestesi Lokal

Anestesi lokal terbagi atas dua golongan yaitu ester dan amida.

Perbandingan golongan ester dan amida.3

KLASIFIKASI POTENSI MULA KERJA LAMA KERJA TOKSISITAS

(infiltrasi,menit)

ESTER

Prokain 1 (rendah) Cepat (fast) 45-60 Rendah

Kloropokain 3-4 (tinggi) Sangat Cepat 30-45 Sangat rendah


(very rapid)
Tetrakain 8-16 Lambat (slow) 60-180 Sedang
(tinggi)

AMIDA

Lidokain 1-2 Cepat (rapid) 60-120 Sedang


(sedang)
Etidokain Lambat (slow) 240-480 Sedang
4-8 (tinggi)
Prilokain Lambat 60-120 Sedang
1-8 (rendah)
Mepivakain Sedang 90-180 Tinggi
1-5 (moderate)
Bupivakain 240-480 Rendah
(sedang)
Lambat
Ropivakain 240-480 rendah
4-8 (tinggi)
Lambat
Levobupivakain 240-480
4 (tinggi)
Lambat
4 (tinggi)

2.3 Mekanisme Anestesi Lokal

Anestesi lokal bekerja dengan menurunkan permeabilitas membran saraf

terhadap ion sodium. Anestesi lokal tidak mempunyai efek yang signifikan

terhadap konduktivitas potassium. Ion kalsium yang terdapat dalam membran sel

mengatur konduktivitas ion sodium di sepanjang membran. Pelepasan ion kalsium

dari membran sel mengatur konduktivitas ion sodium di sepanjang membran.

Pelepasan ion kalsium dari membran sel ini membuat permeabilitas sodium pada

membran saraf meningkat, ini merupakan tahap pertama terjadinya depolarisasi

membran saraf. Molekul anestesi lokal bekerja dengan cara antagonis kompetitif

terhadap kalsium pada tempat yang sama dalam membran saraf.4


Tabel 1. Mekanisme Anestesi Lokal4

2.4 Teknik Anestesi Lokal

Anestesi lokal terbagi menjadi 3 tipe yang mendasari teknik-teknik yang ada

pada maksila dan mandibula yaitu infiltrasi lokal, fieldblock, dan blok saraf.3,4

1) Infiltrasi Lokal

Teknik infiltrasi lokal dapat digunakan dengan tindakan yang hanya

melibatkan satu atau dua gigi. Untuk kasus yang melibatkan lebih dari tiga gigi

dapat digunakan teknik-teknik anestesi lain dengan cakupan area yang teranestesi

lebih luas. Penetrasi yang berkali-kali akan menyebabkan penurunan ketajaman

dari jarum yang dapat mengakibatkan nyeri saat insersi. Volume larutan anestesi

yang dideponir juga semakin besar apabila menggunakan teknik anestesi infiltrasi

untuk tindakan yang melibatkan lebih dari tiga gigi.5


Teknik infiltrasi lokal juga mempunyai indikasi dan kontraindikasi.

Indikasi dan kontraindikasi teknik infiltrasi lokal adalah sebagai berikut :4,5

 Indikasi teknik infiltrasi lokal :

1. Anestesi pulpa pada gigi maksila yang melibatkan tidak lebih dari satu

atau dua gigi.

2. Anestesi jaringan lunak apabila akaan melakukan tindakan atau prosedur

bedah pada area yang terbatas.

 Kontraindikasi teknik infiltrasi local :

1. Peradangan akut atau terdapat infeksi pada area yang akan dilakukan

injeksi.

2. Apeks gigi yang berada pada tulang yang padat. Gigi molar satu permanen

maksila pada anak-anak apeksnya terletak di bawah tulang zigomatik yang

relatif sangat padat. Keberhasilan anestesi dapat menurun akibat kepadatan

tulang yang menutupi apeks.

Teknik infiltrasi lokal memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi, biasanya

atraumatik dan teknik injeksinya relatif mudah. Teknik ini tidak

direkomendasikan untuk kebutuhan area anestesi yang luas. Area anestesi yang

luas memerlukan insersi jarum yang berkali-kali dan akan mendeponirkan volume

larutan anestesi yang besar. Tingkat keberhasilan yang tinggi dipengaruhi oleh

pemahaman dan pengetahuan operator tentang teknik anestesi infiltrasi lokal yang

baik dan benar.


2) Fieldblock

Field block merupakan teknik anestesi lokal yang dilakukan

dengan cara larutan anestesi dideposisikan didekat ujung cabang saraf terbesar

sehingga area yang teranestesi akan terbatas, agar mencegah jalannya impuls

dari gigi ke sistem saraf pusat. 5

3) Blok saraf

Blok saraf dilakukan dengan mendeposisikan larutan anestesi berdekatan

pada badan saraf utama. Deposit pada teknik ini akan menyebabkan

penghambatan impuls saraf dari lokasi injeksi hingga ke distal. Injeksi blok

saraf ini perlu berhati-hati karena pembuluh vena dan arteri yang berdekatan

dengan saraf dapat cedera. Risiko atau komplikasi pada teknik blok saraf yang

mungkin terjadi adalah hematom. Hematom sangat jarang terjadi apabila kita

memberikan tekanan pada jaringan lunak di atas area injeksi selama 2-3 menit.5

2.5 Farmako Anestesi lokal

1. Farmakokinetik

Klirens obat anestesi lokal dari jaringan saraf dan tubuh berpengaruh

terhadap lama kerja dan potensi untuk terjadi efek toksisitas. Kadar obat

anestesi lokal dalam dalam darah tergantung dari proses absorbs, distribusi

dan eliminasi dari obat anestesi lokal tersebut.


 Absorbsi sistemik

Secara umum obat anestesi lokal dengan absorbs sistemik yang

rendah akan memiliki batas aman yang besar dalam penggunaannya secara

klinis. Kemampuan obat anestesi lokal untuk diabsorbsi tergantung dari

beberapa faktor adalah lokasi injeksi, dosis obat anestesi lokal, sifat

fisikokimia obat tersebut dan penggunaan epinefrin sebagai obat tambahan.

Pembuluh darah dan jaringan lemak di sekitar lokasi injeksi obat

anestesi lokal akan berinteraksi dengan sifat fisiokimia dari obat tersebut

untuk mempegaruhi uptake sistemik. Secara umum area yang memiliki

banyak pembuluh darah akan lebih cepat dan komplit dalam mengabsorbsi

obat anestesi lokal di bandingkan dengan area yang memiliki banyak

jaringan lemak tanpa tergantung dari jenis obat anestesi lokal. Oleh karena

itu kecepatan absorbs obat anestesi lokal akan menurunkan pada beberapa

lokasi injeksi dimulai dari intercostal, kaudal, epidural, pleksus brakialis,

skiatik, atau femoral. Semakin besar dosis obat anestesi lokal yang

diinjeksikan maka akan semakin besar absorbsi sistemik dan kadar puncak

dalam darah. Secara umum semakin poten suatu obat dengan kelarutan

lemak akan menyebabkan absorbsi sistemik dan Cmax rendah.

 Distribusi

Setelah diabsorbsi secara sistemik, obatanestesi lokal didistribusikan

ke seluruh tubuh dengan cepat. Distribusi obat anestesi lokal akan

tergantung dari curah pembuluh darah dari suatu organ, koefisien partisi
obat anestesi lokal di antara kompertemen dan ikatan plasma protein. Organ

penting yang perlu diperhatikan sehubungan dengan toksisitas anestesi lokal

adalah jantung dan system saraf pusat yang merupakan organ kaya

pembuluh darah.

Distribusi obat anestesi lokal yang sering digambarkan dengan

volume distribusi yaitu jumlah obat keseluruhan yang ada pada

kompertemen sentral di bagi konsentrasinya. Volume distribusi hanya

menggambarkan distribusi pada keseluruhan tubuh sehingga tidak akurat

untuk organ spesifik. Ikatan plasma protein yang kuat akan menahan obat

anestesi lokal dalam darah.

 Eliminasi

Metabolisme obat anestesi lokal golongan ester terutama dilakukan

oleh enzim kolinesterase yang terdapat dalam plasma, sedangkan

metabolism golongan amida sebagian besar dimetabolisme di hati. Oleh

karena itu, aliran darah hati, eksresi hati, dan protein dinding sel

menemukan eliminasi obat anestesi lokal gologan amida. Golongan ester

cepat dihidrolisis dan metabolitnya akan diekskresi lewat ginjal karena larut

dalam air. Semakin tinggi kecepatan eliminasi obat anestesi lokal, maka

akan semakin lebar batas keamanannya.6


2. Farmakodinamik

Keuntungan utama dari pengetahuan akan farmakodinamik obat

anestesi lokal adalah kemampuan untuk memperkirakan Cmax daro obat

anestesi lokal sehingga pemberian dosis toksis dapat dihindari. Walaupun

demikian farmakodinamik suatu obat sangat sulit untuk diperkirakan dalam

keadaan tertentu karena setiap individu memiliki karakteristik fisik dan

fisiologis yang berbeda.6

2.6 Komplikasi Anestesi Lokal

Sejumlah faktor pengaruh yang menyebabkan komplikasi

tergantung dari pasien dan operator. Faktor pengaruh pasien mencakup

anatomi, patologi atau psikologis. Beberapa faktor yang berhubungan

dengan operator adalah kesalahan penempatan jarum, kegagalan untuk

aspirasi sebelum injeksi, maupun kecepatan injeksi.6

 Kerusakan Jarum

Sejak diperkenalkannya jarum stainless steel sekali pakai, dan

dipasarkan dalam wadah paket yang steril menyebabkan kasus patah jarum

menjadi semakin jarang terjadi. Sebelumnya, untuk memberikan sterilisasi,

dokter gigi merendam jarum hipodermik kecil dalam larutan desinfektan

kimia, namun tindakan ini dianggap tidak efektif dan bahkan dapat

mengkorosi logam.

Penyebab umum patahnya jarum adalah gerakan tiba-tiba yang tidak

terduga pada pasien saat jarum menusuk otot atau kontak periosteum. Jika
pasien berlawanan dengan arah jarum maka tekanan yang adekuat ini akan

menyebabkan patah jarum. Walaupun kebanyakan dokter gigi menggunakan

jarum 27 gauge 35 mm untuk anastesi blok nervus alveolaris inferior pada

orang dewasa,kadang muncul persepsi bahwa penggunaan jarum denan

diameter yang lebih kecil (30 gauge) dapat mengurangi rasa ketidaknyamanan

pada pasien. Hal ini bahkan ditunjukkan bahwa terdapat sedikit perbedaan

dalam persepsi rasa nyeri antara penggunaan jarum 27 dan 30 gauge. Selain

itu telah diketahui juga bahwa defleksi jarum dan tekanan mendorong pada

syringe adalah lebih besar pada jarum dengan gauge yang lebih kecil. Telah

diketahui bahwa patah jarum umumnya terjadi pada daerah hub atau pangkal

jaru, karena itulah, jarum jangan diinsersikan seluruhnya kedalam jaringan,

dan sebaiknya harus disisakan 5 mm dari seluruh panjang jarum agar jarum

tetap menonjol keluar dari permukaan mukosa bilamana terjadi kerusakan

pada jarum.

 Parastesi

Parestesi di definisikan sebagai anestesi yang menetap (anestesi melebihi

durasi yang diharapkan). Terjadinya gangguan sensasi yang berlangsung lama

pada daerah penyuntikan biasanya terjadi pada tindakan bedah seperti pencabutan

gigi molar tiga. Walaupun jarang, namun dapat juga terjadi pada pelaksanaan

anestesi lokal. Kasus ini hampir selalu mengenai saraf alveolaris inferior atau

saraf lingual disebabkan oleh trauma pada saat anestesi blok mandibula.

Komplikasi ini pada umumnya disebabkan oleh kerusakan saraf akibat

trauma langsung dari bevel jarum atau berasal dari larutan yang sudah

terkontaminasi oleh alkohol yang mengiritasi saraf, menimbulkan edema yang


meningkatkan tekanan disekitar saraf, kemudian menjadi parastesi. Perdarahan

di sekitar selubung saraf juga dapat menyebabkan peningkatan tekanan pada

saraf sehingga terjadi parastesi.

 Paralisa Wajah

Injeksi lokal anestesi pada mulut kadang-kadang dapat memberi efek

yang tidak disengaja pada saraf yang berdekatan. Contoh yang paling jelas

adalah saraf fasial setelah blok mandibula. Jika ini terjadi, pasien tidak bisa

menutup mata dan pergerakan setengah bagian wajah berubah, garis senyum

dan sudut mulut jatuh. Komplikasi ini disebabkan karena jarum diinsersikan

terlalu jauh kebelakang dan terlalu dekat dengan ramus ascendens dan larutan

terdeposit pada substansi glandula parotis serta menganestesi cabang-cabang

saraf fasialis sehingga menimbulkan paralisa otot yang disuplainya.

 Hematoma

Jaringan rongga mulut mempunyai cukup banyak pembuluh vaskular

sehingga jarum suntik dapat menembus pembuluh darah secara tidak sengaja.

Hematom dapat terjadi jika pada saat jarum dimasukkan, kemudian menembus

pembuluh darah mengakibatkan kebocoran sehingga darah merembes jaringan

sekitarnya.

Komplikasi ini paling jarang terjadi pada teknik infiltrasi dan paling sering

terjadi pada blok saraf alveolar superior posterior. Hal ini umumnya

disebabkan oleh struktur dan posisi vena pleksus pterigoid yang bervariasi.

Hematoma yang terjadi setelah blok mandibula dapat dilihat secara intraoral
sedangkan hematoma akibat blok saraf alveolar superior posterior dapat

dilihat secara ekstraoral.


BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Lokal anestesi didefinisikan sebagai hilangnya sensasi pada suatu area di

tubuh yang disebabkan oleh depresi dari eksitasi akhir saraf atau inhibisi dari

proses konduksi pada nervus perifer bersifat sementara.

Anestesi lokal digunakan untuk mengurangi nyeri sehingga pasien merasa

nyaman saat dilakukan tindakan dan dokter gigi mampu bekerja dengan baik.

Anestesi lokal bertujuan untuk melumpuhkan saraf sensibel secara lokal dengan

cara pemberian obat-obatan atau intervensi medis lain sehingga pasien tidak dapat

merasakan nyeri dalam durasi waktu tertentu. Anestesi lokal digunakan untuk

mengurangi nyeri sehingga pasien merasa nyaman saat dilakukan tindakan dan

dokter gigi mampu bekerja dengan baik.

Anestesi lokal bertujuan untuk melumpuhkan saraf sensibel secara lokal

dengan cara pemberian obat-obatan atau intervensi medis lain sehingga pasien

tidak dapat merasakan nyeri dalam durasi waktu tertentu. Anestesi lokal terbagi

atas dua golongan yaitu ester dan amida. Anestesi lokal terbagi menjadi 3 tipe

yang mendasari teknik-teknik yang ada pada maksila dan mandibula yaitu

infiltrasi lokal, fieldblock, dan blok saraf.


DAFTAR PUSTAKA

1. Sinardja CD, Budyawati NLPW. Local anesthetic [Internet]. 2016 [cited on 10


Sept 2019].
2. Gregorio GD, Neal JM, Rosenquist RW et al. Clinical presentation of local
anesthetic toxicity, a review of published cases. American Society of regional
Anesthesia and Pain Medicine. 2010
3. Mangku G, Senapathi TGA. Buku ajar ilmu anestesia dan reanimasi. Indeks:
Jakarta; 2010.
4. El-Boghdadly K, Pawa A, Chin KJ. Local anesthetic systemix toxicity: current
perspectives. Local and Regional Anesthesia. 2018;11:p.35-44.
5. Basicmedical Key. Local and general anesthetics [Internet]. 2017 [cited on 10
Sept 2019].
6. El-Boghdadly K, Chin KJ. Local anesthetic: continuing professional
development. J Can Anesth. 2016;63:p.330-349.

Anda mungkin juga menyukai