Anda di halaman 1dari 16

Judicial review, menurut 

Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, S.H. dalam buku Hukum Acara


Pengujian Undang-Undang (hal. 1-2), adalah pengujian yang dilakukan melalui mekanisme
lembaga peradilan terhadap kebenaran suatu norma.
 
Lebih lanjut, Jimly Asshiddiqie menjelaskan dalam bukunya bahwa dalam teori pengujian
(toetsing), dibedakan antara materiile toetsing dan formeele toetsing. Pembedaan tersebut
biasanya dikaitkan dengan perbedaan pengertian antara wet in materiile zin  (undang-undang
dalam arti materiil) dan wet in formele zin (undang-undang dalam arti formal). Kedua bentuk
pengujian tersebut oleh UU No. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi dibedakan
dengan istilah pembentukan undang-undang dan materi muatan undang-undang.
Pengujian atas materi muatan undang-undang adalah pengujian materiil, sedangkan
pengujian atas pembentukannya adalah pengujian formil (hal. 57-58).
 
Hak atas uji materi maupun uji formil ini diberikan bagi pihak yang menganggap hak
dan/atau kewenangan konstitusionalnya dirugikan oleh berlakunya suatu undang-undang,
yaitu (lihat Pasal 51 ayat [1] UU No. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi):
1. perorangan warga negara Indonesia;
2. kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan sesuai dengan
perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia yang
diatur dalam undang-undang;
3. badan hukum publik atau privat; atau
4. lembaga negara.
 
Hak uji ini juga diatur dalam Pasal 31A UU No. 5 Tahun 2004 tentang Perubahan atas UU
No. 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agunguntuk pengujian terhadap peraturan
perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang.
 
Jadi, judicial review adalah mencakup pengujian terhadap suatu norma hukum yang terdiri
dari pengujian secara materiil (uji materiil) maupun secara formil (uji formil). Dan hak uji
materiil adalah hak untuk mengajukan uji materiil terhadap norma hukum yang berlaku
yang dianggap melanggar hak-hak konstitusional warga negara.
 
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.
 
Dasar hukum:
1.         Undang-Undang No. 24 tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi
2.         Undang-Undang No. 5 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas UU No. 14 Tahun 1985
tentang Mahkamah Agung

Uji Materiil
Istilah yang tepat untuk pengujianperda tentang tata ruang kota itu adalah uji
materiil. Perlu diketahui, uji materiil ini merupakan salah satu cakupan judicial
review.  Penjelasan lebih lanjut dapat Anda simak dalam artikel Perbedaan Judicial Review
dengan Hak Uji Materiil.
 
Yang dimaksud dengan hak uji materiil adalah hak Mahkamah Agung untuk menilai materi
muatan peraturan perundang-undangan di bawah Undang-undang terhadap peraturan
perundang-undangan yang lebih tinggi.[2]
 
Uji materiil terhadap perda ini masih merupakan lingkup tugas dan wewenang MA
sebagaimana yang telah diatur dalam Pasal 24A ayat (1) Undang-Undang Dasar
1945 (“UUD 1945”):
 
“MA berwenang mengadili pada tingkat kasasi, menguji peraturan perundang-undangan di
bawah undang-undang terhadap undang-undang, dan mempunyai wewenang lainnya yang
diberikan oleh undang-undang.”
 
Dalam hal suatu peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang diduga
bertentangan dengan undang-undang, pengujiannya dilakukan oleh MA.[3] Ini berarti, jika
memang suatu perda dinilai bertentangan dengan undang-undang, maka terhadap perda
tersebut dapat dilakukan uji materiil. Perda, baik itu perda provinsi maupun perda
kabupaten/kota adalah salah satu jenis dan hierarki peraturan perundang-undangan di
bawah undang-undang.[4] Jadi, perda bisa dimintakan uji materilnya ke MA.
 
Prosedur Uji Materiil Perda di MA
Terhadap suatu Peraturan Daerah Kabupaten/Kota yang diduga bertentangan dengan
peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, dapat dimohonkan suatu keberatan
secara langsung kepada MA, atau dapat disampaikan melalui Pengadilan Negeri yang
membawahi wilayah tempat kedudukan Pemohon.[5]
 
Mengacu pada UU MA beserta perubahannya, prosedur mengajukan uji materil perda ke
MA adalah sebagai berikut:[6]
1.    Permohonan pengujian Perda diajukan langsung oleh pemohon atau kuasanya kepada
MA dan dibuat secara tertulis dalam bahasa Indonesia
2.    Permohonan ini hanya dapat dilakukan oleh pihak yang menganggap haknya dirugikan
oleh berlakunya Perda, yaitu:
a. perorangan warga negara Indonesia;
b. kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan sesuai dengan
perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia
yang diatur dalam undang-undang; atau
c. badan hukum publik atau badan hukum privat.
3.    Permohonan sekurang-kurangnya harus memuat:
a. nama dan alamat pemohon;
b. uraian mengenai perihal yang menjadi dasar permohonan dan menguraikan
dengan jelas bahwa:
1)    materi muatan ayat, pasal, dan/atau bagian Perda dianggap
bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi;
dan/atau
2)    pembentukan peraturan perundang-undangan tidak memenuhi
ketentuan yang berlaku; dan
c. hal-hal yang diminta untuk diputus.
4.    Permohonan pengujian dilakukan oleh MA paling lama 14 (empat belas) hari kerja
terhitung sejak tanggal diterimanya permohonan
5.    Dalam hal MA berpendapat bahwa pemohon atau permohonannya tidak memenuhi
syarat, amar putusan menyatakan permohonan tidak diterima
6.    Dalam hal MA berpendapat bahwa permohonan beralasan, amar putusan menyatakan
permohonan dikabulkan
 
Contoh Perda yang Pernah Diuji ke MA
Contoh Perda yang Pernah Diuji ke MA adalah Pasal 30 Peraturan Daerah Khusus Provinsi
Papua Nomor 6 Tahun 2011 tentang Pemilihan Umum Gubernur dan Wakil Gubernur
(“Perda Papua 6/2011”). Melalui Putusan Mahkamah Agung Nomor 16 P/Hum/2012
Tahun 2012, MA mencabut Perda Papua 6/2011.
 
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.

Dasar Hukum Judicial Review


Menurut Badriyah Khaleed dalam bukunya Mekanisme Judicial Review: Dilengkapi Contoh
Putusan MK (hal. 1), judicial review adalah pengujian undang-undang (“UU”) oleh lembaga
yudikatif atau lembaga peradilan. Judicial review diatur dalam Pasal 24C ayat (1) Perubahan
Ketiga Undang-Undang Dasar 1945 (“Amandemen III UUD 1945”) sebagai berikut:
 
Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya
bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar,  memutuskan
sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar,
memutuskan pembubaran partai politik, dan memutuskan perselisihan tentang hasil pemilihan
umum.

Selain itu judicial review atau uji materiil juga diatur dalam Pasal 24A ayat (1) Amandemen
III UUD 1945, sebagai berikut:
 
Mahkamah Agung berwenang menjadi pada tingkat kasasi,  menguji peraturan perundang-
undangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang, dan mempunyai wewenang
lainnya yang diberikan oleh undang-undang.
 
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa permohonan judicial review UU
terhadap Undang-Undang Dasar 1945 (“UUD 1945”) dapat dimohonkan ke Mahkamah
Konstitusi (“MK”), sedangkan judicial review peraturan perundang-undangan dibawah UU
terhadap UU menjadi wewenang Mahkamah Agung (“MA”).
 
Karena yang Anda tanyakan adalah judicial review UU, maka dalam jawaban ini kami
hanya akan membahas judicial review UU yang dimohonkan ke MK.
 
Baca juga: Arti Judicial Review, Legislative Review, dan Executive Review
 
Pihak yang Dapat Mengajukan Permohonan Judicial Review
Berdasarkan Pasal 51 ayat (1) Undang-Undang Nomor 24 tahun 2003 tentang Mahkamah
Konstitusi (“UU 24/2003”), pihak yang merasa hak dan/atau kewenangan
konstitusionalnya dirugikan akibat diberlakukannya suatu UU dapat mengajukan
permohonan pengujian UU terhadap UUD 1945 (judicial review) ke MK sebagai pemohon,
yaitu:
1. perorangan warga negara Indonesia, termasuk kelompok orang yang memiliki
kepentingan yang sama;[1]
2. kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan sesuai dengan
perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia yang
diatur dalam undang-undang;
3. badan hukum publik atau privat; atau
4. lembaga negara.
 
Adapun yang dimaksud dengan hak konstitusional adalah hak-hak yang diatur dalam UUD
1945.[2]
Badriyah Khaleed dalam buku yang sama (hal. 3-4) menjelaskan bahwa MK telah
memberikan batasan mengenai kriteria suatu UU dapat dikatakan menimbulkan
kerugian konstitusional (vide Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 006/PUU-
III/2005 dan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 011/PUU-V/2007), yaitu:
1. Adanya hak dan/atau kewenangan konstitusional para pemohon yang diberikan
oleh UUD 1945;
2. Hak dan/atau kewenangan konstitusional para pemohon tersebut dianggap telah
dirugikan oleh UU yang diuji;
3. Kerugian hak dan/atau kewenangan konstitusional para permohon yang dimaksud
bersifat spesifik atau berpotensi terjadi menurut penalaran yang wajar;
4. Adanya hubungan sebab akibat (causal verband) antara kerugian dan berlakunya
UU yang dimohonkan pengujian;
5. Adanya kemungkinan bahwa dengan dikabulkannya permohonan, maka kerugian
dan/atau kewenangan konstitusional yang didalilkan tidak akan atau tidak lagi
terjadi.
 
Jadi, apabila Anda memenuhi persyaratan dan kriteria yang kami jelaskan di atas, maka
Anda berhak mengajukan permohonan judicial review ke MK.
 
Tahapan Permohonan Judicial Review ke Mahkamah Konstitusi
Terdapat beberapa tahapan yang dilalui dalam pengajuan permohonan judicial review ke
MK, yaitu:[3]
 
1. Pengajuan Permohonan
Permohonan diajukan secara tertulis berbahasa Indonesia oleh pemohon atau
kuasanya kepada MK, dan ditandatangani oleh pemohon atau kuasanya dalam 12
rangkap.[4]
 
Permohonan sekurang-kurangnya harus memuat nama dan alamat pemohon, uraian
mengenai dasar perihal permohonan, dan hal-hal yang diminta untuk diputus.[5]
 
Pengajuan permohonan juga harus disertai dengan alat bukti yang mendukung
permohonan tersebut.[6]
  
Perlu dicatat bahwa permohonan judicial review tidak dikenai biaya.[7]

Baca juga: Syarat dan Tata Cara Pengajuan Judicial Review ke MA dan MK


 
2. Pendaftaran Permohonan
Mengutip artikel Prosedur Pendaftaran Permohonan pada laman MK, pendaftaran
permohonan dapat dilakukan secara langsung atau secara daring melalui Sistem
Informasi Penanganan Perkara Elektronik.
 
Terhadap permohonan yang diajukan, panitera MK melakukan pemeriksaan
kelengkapan permohonan.[8]
 
Apabila belum lengkap, maka pemohon dapat diberi kesempatan untuk melengkapi
permohonan tersebut dalam jangka waktu maksimal 7 hari sejak pemberitahuan
kekuranglengkapan tersebut diterima pemohon.[9]
 
Apabila dinilai sudah lengkap, maka permohonan tersebut akan dicatat dalam Buku
Registrasi Perkara, dan pemohon akan diberi tanda terima.[10] 
 
3. Penjadwalan Sidang
Dalam waktu 14 hari setelah permohonan dicatat dalam Buku Registrasi Perkara
Konstitusi, MK menetapkan hari sidang pertama.[11] Penetapan tersebut akan
diumumkan kepada pemohon, termohon, pihak terkait, dan masyarakat umum.[12]
 
4. Pemeriksaan Pendahuluan
Sebelum memeriksa pokok perkara, MK akan memeriksa kelengkapan dan kejelasan
materi permohonan.[13] Dalam pemeriksaan tersebut MK wajib memberi nasihat
kepada pemohon untuk melengkapi dan/atau memperbaiki permohonan dalam
jangka waktu maksimal 14 hari.[14]
 
5. Pemeriksaan Persidangan
Sidang Mahkamah Konstitusi terbuka untuk umum.[15] Dalam pemeriksaan
persidangan, Hakim Konstitusi akan memeriksa permohonan dan alat bukti yang
diajukan,[16] yang meliputi[17]:
a. Pemeriksaan pokok permohonan;
b. Pemeriksaan alat bukti tertulis;
c. Mendengarkan keterangan para pihak yang berperkara;
d. Mendengarkan keterangan saksi;
e. Mendengarkan keterangan ahli;
f. Mendengarkan keterangan pihak terkait;
g. Pemeriksaan rangkaian data, keterangan, perbuatan, keadaan, dan/atau
peristiwa yang sesuai dengan alat bukti lain yang dapat dijadikan petunjuk;
dan
h. Pemeriksaan alat bukti lain yang berupa informasi yang diucapkan,
dikirimkan, diterima, atau disimpan secara elektronik dengan alat optik atau
yang serupa dengan alat bukti itu.
6. Putusan
Setelah dilakukan pemeriksaan persidangan, hakim konstitusi melaksanakan sidang
pleno untuk mengambil putusan secara musyawarah untuk mufakat,[18] namun
apabila mufakat bulat tidak tercapai, putusan diambil dengan suara terbanyak.
[19] Apabila tidak dapat diambil dengan suara terbanyak, suara terakhir ketua
sidang pleno hakim konstitusi menentukan.[20]
 
Putusan MK ditandatangani oleh hakim yang memeriksa, mengadili, dan
memutus, dan panitera,[21] dan memperoleh kekuatan hukum tetap sejak selesai
diucapkan dalam sidang pleno terbuka untuk umum.[22]

Seluruh informasi hukum yang ada di Klinik hukumonline.com disiapkan semata –


mata untuk tujuan pendidikan dan bersifat umum (lihat Pernyataan
Penyangkalan selengkapnya). Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap
kasus Anda, konsultasikan langsung dengan Konsultan Mitra Justika.
 
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.
 
Dasar Hukum:
1. Undang-Undang Dasar 1945;
2. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah
Konstitusi sebagaimana diubah oleh Undang – Undang Nomor 8 Tahun 2011
tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 Tentang
Mahkamah Konstitusi sebagaimana telah kedua kalinya oleh Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2013 tentang
Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 Tentang
Mahkamah Konstitusi dan diubah terakhir kali oleh Undang-Undang Nomor
7 Tahun 2020 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 24
Tahun 2003 Tentang Mahkamah Konstitusi.
3. Berikut persyaratan dan tata cara pengajuan judicial review atau pengujian
peraturan perundang-undangan ke Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi:
4.  
PENGAJUAN  JUDICIAL REVIEW KE PENGAJUAN  JUDICIAL REVIEW KE
MAHKAMAH AGUNG MAHKAMAH KONSTITUSI
Kewenangan Mahkamah Agung Berdasarkan ketentuan Pasal 1 angka
(“MA”) terkait dengan judicial review 3 huruf a jo. Pasal 10 UU No. 24
adalah sebagai berikut: Tahun 2003 tentang Mahkamah
a.   MA mempunyai wewenang Konstitusi (“UU MK”), salah satu
menguji peraturan perundan kewenangan Mahkamah Konstitusi
undangan di bawah undang- (“MK”) adalah menguji undang-
undang terhadap undang-undang. undang terhadap UUD Negara
b.   MA menyatakan tidak sah Republik Indonesia Tahun 1945.
peraturan perundang-undangan  
di bawah undang-undang atas Pemohon judicial review adalah pihak

alasan bertentangan dengan yang menganggap hak dan/atau

peraturan perundang-undangan kewenangan konstitusionalnya

yang lebih tinggi atau dirugikan oleh berlakunya undang-

pembentukannya tidak memenuhi undang, yaitu (Pasal 51 ayat [1] UU

ketentuan yang berlaku. MK):

(Lihat Pasal 31 ayat [1] dan [2] UU a.        perorangan warga negara

No. 5 Tahun 2004 tentang Indonesia;

Perubahan atas UU No. 14 Tahun b.        kesatuan masyarakat hukum

1985 tentang Mahkamah Agung – adat sepanjang masih hidup dan

UU 5/2004) sesuai dengan perkembangan


  masyarakat dan prinsip Negara
Permohonan pengujian peraturan Kesatuan Republik Indonesia
perundang-undangan di bawah yang diatur dalam undang-
undang-undang terhadap undang undang;
undang diajukan langsung oleh c.        badan hukum publik atau
pemohon atau kuasanya kepada MA privat; atau
dan dibuat secara TERTULIS dan d.        lembaga negara.
rangkap sesuai keperluan dalam  
Bahasa Indonesia (lihat Pasal 31A [1] Permohonan wajib dibuat dengan

UU No. 3 Tahun 2009 tentang uraian yang jelas mengenai

Perubahan Kedua atas UU No. 14 pengujian undang-undang terhadap

Tahun 1985 tentang Mahkamah Undang-Undang Dasar Negara

Agung – UU 3/2009). Republik Indonesia Tahun 1945


  (lihat Pasal 30 ayat [1] UU MK).
Permohonan judicial review hanya  
dapat dilakukan oleh pihak yang Permohonan diajukan secara tertulis

menganggap haknya dirugikan oleh dalam Bahasa Indonesia dan

berlakunya peraturan perundang- ditandatangani oleh Pemohon atau

undangan di bawah undang-undang, kuasanya dalam 12 rangkap

yaitu: (lihat Pasal 29 UUMK) yang

a.   perorangan warga negara memuat sekurang-kurangnya:

Indonesia; a.   Identitas Pemohon, meliputi:


b.   kesatuan masyarakat hukum adat i.        Nama
ii.       Tempat tanggal lahir/ umur - Agama
sepanjang masih hidup dan sesuai
iii.     Pekerjaan
dengan
iv.    Kewarganegaraan
perkembangan masyarakat dan
v.      Alamat Lengkap
prinsip Negara Kesatuan Republik vi.    Nomor
Indonesia yang diatur dalam
telepon/faksimili/telepon
undang-undang; atau selular/e-mail (bila ada)
c.   badan hukum publik atau badan
hukum privat. b.   Uraian mengenai hal yang
(lihat Pasal 31A ayat [2] UU 3/2009) menjadi dasar permohonan yang
  meliputi:
Permohonan sekurang-kurangnya
i.        kewenangan Mahkamah;
harus memuat: ii.       kedudukan hukum (legal
a.   nama dan alamat pemohon;
standing) Pemohon yang
b.   uraian mengenai perihal yang berisi uraian yang jelas
menjadi dasar permohonan dan
mengenai anggapan Pemohon
menguraikan dengan jelas bahwa: tentang hak dan/atau
1.        materi muatan ayat, pasal,
kewenangan konstitusional
dan/atau bagian peraturan Pemohon yang dirugikan
perundang-undangan di
dengan berlakunya UU yang
bawah undang-undang dimohonkan untuk diuji;
dianggap bertentangan
iii.     alasan permohonan
dengan peraturan perundang- pengujian diuraikan secara
undangan yang lebih tinggi;
jelas dan rinci.
dan/atau  
2.        pembentukan peraturan c.   Hal-hal yang dimohonkan untuk
perundang-undangan tidak diputus dalam permohonan
memenuhi ketentuan pengujian formil, yaitu:
yang berlaku; dan i.        mengabulkan permohonan
c.   hal-hal yang diminta untuk Pemohon;
diputus. ii.       menyatakan bahwa
(lihat Pasal 31A ayat [3] UU 3/2009) pembentukan UU dimaksud
  tidak memenuhi ketentuan
Permohonan judicial review ke MA
pembentukan UU berdasarkan
diatur lebih rinci dalam Perma No. 1 UUD 1945;
Tahun 2004 tentang Hak Uji
iii.     menyatakan UU tersebut
Materiil (“Perma 1/2004”) dengan tidak mempunyai kekuatan
menggunakan terminology hukum mengikat.
Permohonan Keberatan. Permohonan
keberatan diajukan kepada MA d.   Hal-hal yang dimohonkan untuk

dengan cara: diputus dalam permohonan


a.   Langsung ke MA; atau pengujian materiil, yaitu:
b.   Melalui Pengadilan Negeri yang i.        mengabulkan permohonan
membawahi wilayah hukum Pemohon;
tempat kedudukan Pemohon. ii.       menyatakan bahwa materi
(lihat Pasal 2 ayat [1] Perma muatan ayat, pasal, dan/atau
1/2004) bagian dari UU dimaksud
c.   Permohonan Keberatan diajukan bertentangan dengan UUD
dalam tenggang waktu 180 hari 1945;
sejak ditetapkan peraturan iii.     menyatakan bahwa materi
perundang-undangan yang muatan ayat, pasal, dan/atau
bersangkutan (Pasal 2 ayat [4] bagian dari UU dimaksud
Perma 1/2004). tidak mempunyai kekuatan
d.   Pemohon membayar biaya hukum mengikat.
permohonan pada saat (lihat Pasal 31 UU MK jo. Pasal 5
mendaftarkan permohonan Peraturan MK No. 06/PMK/2005
keberatan yang besarnya akan Tahun 2005 tentang Pedoman
diatur tersendiri (Pasal 2 ayat [5] Beracara dalam Perkara Pengujian
Perma 1/2004).  Undang-Undang – Peraturan MK
e.   Dalam hal permohonan keberatan 6/2005).
diajukan langsung ke Mahkamah
Agung (Pasal 3 Perma 1/2004): Pengajuan permohonan harus

i. Didaftarkan di Kepaniteraan disertai dengan alat bukti yang

Mahkamah Agung; mendukung permohonan tersebut

ii. Dibukukan dalam buku register yaitu alat bukti berupa (Pasal 31 ayat

permohonan; [2] jo. Pasal 36 UU MK):

iii.     Panitera Mahkamah Agung a.        surat atau tulisan;

memeriksa kelengkapan b.        keterangan saksi;

berkas dan apabila terdapat c.        keterangan ahli;

kekurangan dapat meminta d.        keterangan para pihak;

langsung kepada Pemohon e.        petunjuk; dan

Keberatan atau kuasanya yang f.          alat bukti lain berupa


sah; informasi yang diucapkan,
  dikirimkan, diterima, atau
f.     Dalam hal permohonan disimpan secara elektronik
keberatan diajukan melalui dengan alat optik atau yang
Pengadilan Negeri (Pasal 4 Perma serupa dengan itu.  
1/2004):  
i.        Didaftarkan pada Di samping diajukan dalam bentuk
kepaniteraan Pengadilan tertulis permohonan juga diajukan
Negeri; dalam format digital yang disimpan
ii.       Permohonan atau kuasanya secara elektronik dalam media
yang sah membayar biaya penyimpanan berupa disket, cakram
permohonan dan diberikan padat (compact disk) atau yang serupa
tanda terima; dengan itu (lihat Pasal 5 ayat [2]
iii. Permohonan dibukukan dalam Peraturan MK 6/2005).
buku register permohonan;  
Tata cara pengajuan permohonan:
iv.    Panitera Pengadilan Negeri
1.   Permohonan diajukan kepada
memeriksa kelengkapan
Mahkamah melalui Kepaniteraan.
permohonan keberatan yang
2.   Proses pemeriksaan kelengkapan
telah didatarkan oleh
administrasi permohonan bersifat
Pemohon atau kuasanya yang
terbuka yang dapat
sah, dan apabila terdapat
diselenggarakan melalui forum
kekurangan dapat meminta
konsultasi oleh talon Pemohon
langsung kepada pemohon
dengan Panitera.
atau kuasanya yang sah.
  3.   Petugas Kepaniteraan wajib
memeriksa kelengkapan alat bukti
yang mendukung permohonan
sekurang-kurangnya berupa:
a.        Bukti diri Pemohon sesuai
dengan kualifikasi
sebagaimana dimaksud
Pasal 51 ayat (1) Undang-
undang Nomor 24 Tahun
2003 tentang Mahkamah
Konstitusi, yaitu:
i.        foto kopi identitas diri
berupa KTP dalam hal
Pemohon adalah
perorangan warga
negara Indonesia,
ii.       bukti keberadaan
masyarakat hukum adat
menurut UU dalam hal
Pemohon adalah
masyarakat hukum
adat,
iii.     akta pendirian dan
pengesahan badan
hukum baik publik
maupun privat dalam
hal Pemohon adalah
badan hukum,
iv.    peraturan perundang-
undangan pembentukan
lembaga negara yang
bersangkutan dalam hal
Pemohon adalah
lembaga negara.
b.        Bukti surat atau tulisan
yang berkaitan dengan
alasan permohonan;
c.        Daftar talon ahli dan/atau
saksi disertai pernyataan
singkat tentang hal-hal yang
akan diterangkan terkait
dengan alasan permohonan,
serta pernyataan bersedia
menghadiri persidangan,
dalam hal Pemohon
bermaksud mengajukan ahli
dan/atau saksi;
d.        Daftar bukti-bukti lain
yang dapat berupa informasi
yang disimpan dalam atau
dikirim melalui media
elektronik, bila dipandang
perlu.
4.   Apabila berkas permohonan
dinilai telah lengkap, berkas
permohonan dinyatakan diterima
oleh Petugas Kepaniteraan
dengan memberikan Akta
Penerimaan Berkas Perkara
kepada Pemohon.
5.   Apabila permohonan belum
lengkap, Panitera Mahkamah
memberitahukan kepada
Pemohon tentang kelengkapan
permohonan yang harus
dipenuhi, dan Pemohon harus
sudah melengkapinya dalam
waktu selambat-lambatnya 7
(tujuh) hari kerja sejak
diterimanya Akta Pemberitahuan
Kekuranglengkapan Berkas.
6.   Apabila kelengkapan
permohonan sebagaimana
dimaksud ayat (7) tidak dipenuhi,
maka Panitera menerbitkan akta
yang menyatakan bahwa
permohonan tersebut tidak
diregistrasi dalam BRPK dan
diberitahukan kepada Pemohon
disertai dengan pengembalian
berkas permohonan.
7.   Permohonan pengujian undang-
undang diajukan tanpa dibebani
biaya perkara.
(lihat Pasal 6 Peraturan MK 6/2005).
 
 
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.
 
Dasar hukum:
1. Undang-Undang No. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi
2. Undang-Undang No. 5 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 14
Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung
3. Undang-Undang No. 3 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang
No. 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung
4. Peraturan Mahkamah Agung No. 1 Tahun 2004 tentang Hak Uji Materiil 
5. Peraturan Mahkamah Konstitusi No. 06/PMK/2005 Tahun 2005  tentang Pedoman
Beracara dalam Perkara Pengujian Undang-Undang

1. Kampanye Hitam
Lalu apa yang dimaksud dengan kampanye hitam itu? Berdasarkan penelusuran kami,
menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yang kami akses dari laman Badan
Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,
arti Kampanye Hitam (Black Campaign) adalah:
 
Kampanye dengan cara menjelek-jelekkan lawan politik.
 
Hal-Hal yang Dilarang dalam Kampanye dan Bentuk Kampanye Hitam
Menjelek-jelekkan lawan politik dengan isu-isu yang tidak berdasar tentu merupakan
hal yang dilarang dalam pelaksanaan kampanye. Terkait dengan itu, dalam
pelaksanaannya, hal-hal yang dilarang dalam pelaksanaan kampanye Pemilu yaitu:[8]
a. mempersoalkan dasar negara Pancasila, Pembukaan Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945, dan bentuk Negara Kesatuan Republik
Indonesia;
b. melakukan kegiatan yang membahayakan keutuhan Negara Kesatuan Republik
Indonesia;
c. menghina seseorang, agama, suku, ras, golongan, calon, dan/atau Peserta
Pemilu yang lain;
d. menghasut dan mengadu domba perseorangan ataupun masyarakat;
e. mengganggu ketertiban umum;
f. mengancam untuk melakukan kekerasan atau menganjurkan penggunaan
kekerasan kepada seseorang, sekelompok anggota masyarakat, dan/atau Peserta
Pemilu yang lain;
g. merusak dan/atau menghilangkan alat peraga kampanye Peserta Pemilu;
h. menggunakan fasilitas pemerintah, tempat ibadah, dan tempat pendidikan;
i. membawa atau menggunakan tanda gambar dan/atau atribut selain dari tanda
gambar dan/atau atribut Peserta Pemilu yang bersangkutan; dan
j. menjanjikan atau memberikan uang atau materi lainnya kepada peserta
Kampanye Pemilu.
 
Khusus pengaturan dalam UU 8/2015, secara tegas disebutkan bahwa melakukan
kampanye berupa menghasut, memfitnah, mengadu domba Partai Politik,
perseorangan, dan/atau kelompok masyarakat merupakan bentuk kampanye hitam
atau black campaign.[9]
 
Dalam hal terdapat bukti permulaan yang cukup bahwa pelaksana kampanye, peserta
kampanye, atau tim kampanye melakukan pelanggaran kampanye yang kami sebutkan
di atas dan mengakibatkan terganggunya pelaksanaan Kampanye Pemilu di tingkat
kelurahan/desa, maka Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Desa/Kelurahan
menyampaikan laporan kepada Panitia Pemungutan Suara (PPS).[10]
 
Namun apabila terjadi di tingkat kecamatan, Panwaslu Kecamatan melaporkan kepada
Bawaslu Kabupaten/Kota dan menyampaikan temuan kepada Panitia Pemilihan
Kecamatan (PPK).[11]
 
Ancaman Pidana Pelaku Kampanye Hitam
Setiap pelaksana, peserta, dan/atau tim Kampanye Pemilu yang dengan sengaja
melanggar larangan pelaksanaan Kampanye Pemilu, yaitu menghasut dan mengadu
domba perseorangan ataupun masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 280
ayat (1) huruf d UU Pemilu dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun
dan denda paling banyak Rp 24 juta.[12]
 
Kampanye Negatif
Sekedar tambahan informasi untuk Anda, selain kamanye hitam, ada istilah lain yang
ada juga di masyarakat, yaitu kampanye negatif. Menurut Direktur Eksekutif Indo
Barometer Muhammad Qodari, perbedaan mendasar antara kampanye hitam dengan
kampanye negatif adalah kampanye negatif sesuai fakta, sedangkan kampanye hitam
tidak sesuai fakta.
 
Menurut Qodari, seorang kandidat bisa saja menuduh lawan politiknya melakukan
korupsi, asalkan tuduhan tersebut bersifat faktual. Ia mencontohkan salah satu
kampanye negatif yang pernah dilakukan adalah kampanye untuk tidak memilih
politisi busuk pada Pemilu 2004 lalu. Penjelasan lebih lanjut mengenai keduanya dapat
Anda simak dalam artikel Perlu Pembedaan Tegas antara  Black  dan  Negative
Campaign.

2. Tentang Hukum berlaku surut

Sebenarnya yang menjadi asas adalah non-retroaktif, yaitu asas yang melarang
keberlakuan surut dari suatu undang-undang. Asas ini sesuai dengan pasal 2 Algemene
Bepalingen van Wetgeving voor Indonesie (“AB”). Dalam hukum pidana, asas ini
dicantumkan lagi dalam pasal 1 ayat (1) KUHP:
“Tiada suatu perbuatan boleh dihukum, melainkan atas kekuatan ketentuan pidana
dalam undang-undang, yang ada terdahulu daripada perbuatan itu”
 
Prof Dr. Wirjono Prodjodikoro S.H. dalam bukunya “Asas-Asas Hukum Pidana di
Indonesia” menyatakan bahwa pengulangan pencantuman asas ini dalam KUHP
menunjukkan bahwa larangan keberlakuan surut ini oleh pembentuk undang-undang
ditekankan bagi ketentuan pidana. Larangan keberlakuan surut ini untuk menegakkan
kepastian hukum bagi penduduk, yang selayaknya ia harus tahu perbuatan apa yang
merupakan tindak pidana atau tidak.
 
Selain itu, asas non-retroaktif ini juga disebutkan dalam Pasal 28I Undang-Undang
Dasar RI Tahun 1945:
“Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani,
hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan
hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku
surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun”
 
Penyimpangan dari asas non-retroaktif dalam KUHP ada dalam pasal 1 ayat (2) KUHP,
yaitu bahwa suatu hukum yang lebih baru dapat berlaku surut, sepanjang hukum yang
baru itu lebih menguntungkan bagi tersangka daripada hukum yang lama. Pasal ini
berlaku apabila seorang pelanggar hukum pidana belum diputus perkaranya oleh
hakim dalam putusan terakhir.
 
Selain pasal 1 ayat (2) KUHP, sifat retroaktif tersebut juga dianut dalam pasal 43 ayat
(1) UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM (“UU Pengadilan HAM”):

“Pelanggaran hak asasi manusia yang berat yang terjadi sebelum diundangkannya
Undang-undang ini, diperiksa dan diputus oleh Pengadilan HAM ad hoc”
 
Dasar keberlakuan secara surut UU Pengadilan HAM terhadap pelanggaran hak asasi
manusia yang berat adalah penjelasan pasal 4 UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak
Asasi Manusia yang menegaskan bahwa:
 
“Hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut dapat dikecualikan
dalam hal pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia yang digolongkan ke dalam
kejahatan terhadap kemanusiaan.”
 
Jadi, secara umum suatu undang-undang adalah bersifat non-retroaktif, yaitu tidak
boleh berlaku secara surut. Akan tetapi, untuk hal-hal tertentu dimungkinkan untuk
diberlakukan surut, contohnya ketentuan-ketentuan Pasal 1 ayat (2) KUHP dan pasal 43
ayat (1) UU Pengadilan HAM.

Pidana itu juga sebagai paksaan psikis (teori psyuchologische dwang dari Anselm von
Feurebach). Dengan adanya ancaman pidana terhadap orang yang melakukan tindak
pidana, penguasa berusaha mempengaruhi jiwa si calon pembuat untuk tidak berbuat.
Meskipun prinsip dasar hukum berpegang pada asas legalitas namun ada beberapa
ketentuan peraturan perundang-undangan asas legalitas ini tidak berlaku mutlak.
Artinya dimungkinkan pemberlakuan asas retroaktif walaupun hanya dalam hal-hal
tertentu saja. Pemberlakuan surut diizinkan jika sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 1
ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang menerangkan bahwa:

“Bilamana ada perubahan dalam perundang-undangan sesudah perbuatan dilakukan, maka


terhadap terdakwa diterapkan ketentuan yang paling menguntungkan”

Suatu peraturan perundang-undangan mengandung asas retroaktif apabila:


1. Menyatakan seseorang bersalah karena melakukan suatu perbuatan yang Ketika
perbuatan tersebut dilakukan bukan merupakan perbuatan yang dapat dipidana;
2. Menjatuhkan hukuman atau dipidana yang lebih berat daripada hukuman atau
pidana yang berlaku pada saat perbuatan itu dilakukan (Pasal 12 Ayat 2 Deklarasi
Universal HAM).

Asas retroaktif tidak boleh digunakan, kecuali telah memenuhi 4 (empat) syarat
kumulatif, yaitu:
1. Kejahatan berupa pelanggaran HAM berat atau kejahatan yang tingkat kekejaman
dan destruksinya setara dengannya;
2. Peradilannya bersifat internasional, bukan peradilan nasional;
3. Peradilannya bersifat ad hoc, bukan peradilan permanen;
4. Keadaan hukum nasional negara yang bersangkutan tidak dapat dijalankan karena
sarana, apparat atau ketentuan hukumnya tidak sanggup menjangkau kejahatan
pelanggaran HAM berat atau kejahatan yang tingkat kekejaman dan destruksinya
setara dengannya