Anda di halaman 1dari 22

BAB II

A. Kerangka Teori

1. Tinjauan umum tentang tenaga Kerja

Dalam hukum perburuhan atau hukum ketenagakerjaan

terdapat beberapa istilah yang harus dipahami, seperti pekerja/buruh,

pembei kerja, pengusaha, dan lain lain. Dalam Undang-undang

Ketenagakerjaan Nomor 13 Tahun 2003 menyatkan bahwa

Ketenagakerjaan adalah segala hal yang berhubungan dengan

tenaga kerja pada waktu sebelum, selama, dan sesudah masa kerja.

Pasal 1 Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang

ketenagakerjaan menyatakan ayat (2), tenaga kerja adalah setiap

orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang

dan/atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk

masyarakat, serta ayat (3) menjelaskan bahwa Pekerja/buruh adalah

setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan

dalam bentuk lain.1

Batas pengertian Hukum Ketenagakerjaan, yang dulu disebut

dengan hukum perburuhan atau arbeidrechts sama juga dalam

pengertian hukum itu sendiri, yakni masih beragam sesuai dengan

sudut pandang ahli hukum. Tidak satupun batas pengertian itu dapat

memuaskan karena masing-masing ahli hukum memiliki alasan

1
Republik Indonesia, Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan, Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 39, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4279. Untuk selanjutnya dalam penulisan ini disebut Undang-Undang
Ketenagakerjaan

[Type here]
tersendiri. Mereka melihat hukum ketenagakerjaan dari berbagai

sudut pandang yang berbeda-beda. Akibatnya, pengertiannya pun

tentu berbeda antara ahli hukum yang satu dengan yang lainnya.

Beberapa ahli menyebutkan Hukum Perburuhan dapat dirangkum

sebagai berikut :

I. Menurut Molenaar, Hukum Perburuhan adalah bagian hukum

yang berlaku , yang pokoknya mengatur hubungan antara tenaga

kerja dan pengusaha, antara tenaga kerja dan tenaga kerja;

II. Menurut Mok, hukumperburuhan adalah hukum yang berkenaan

dengan pekerjaan yang dilakukan oleh swapekerja yang

melakukan pekerjaan atas tanggung jawab dan risiko sendiri;

III. Menurut Soetikno, hukum perburuhan adalah keseluruhan

peraturan hukum mengenai hubungan kerja yang mengakibatkan

seseorang secara pribadi ditempatkan dibawah perintah/pimpinan

orang lain dan mengenai keadaan-keadaan penghidupan yang

langsung bersangkut paut dengan hubungan kerja tersebut;

IV. Menurut Imam Sopomo, hukum perburuhan adalah himpunan

peraturan, baik tertulis maupun tidak tertulis, yang berkenaan

dengan kejadian saat seseorang bekerja pada orang lain dengan

menerima upah;

V. Menurut Daliyo, hukum perburuhan adalah himpunan peraturan,

baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis yang mengatur

hubungan kerja antara buruh dan majikan dengan mendapat

[Type here]
upah sebagai balas jasa.

Berdasarkan uraian tersebut hukum ketenagakerjaan memiliki unsur-

unsur sebagai berikut :

I. Serangkaian peraturan yang berbentuk tertulis dan tidak tertulis;

II. Mengatur tentang kejadian hubungan kerja antara pekerja dan

pengusaha/majikan;

III. Adanya orang pekerja pada dan dibawah orang lain, dengan

mendapatkan upah sebagai balas jasa;

IV. Mengatur perlindungan pekerja/buruh, meliputi masalah sakit,

hamil, haid, melahirkan, keberadaan organisasi pekerja/buruh dan

sebagainya.2

2. Tinjauan umum tetang asas, tujuan, dan sifat hukum

ketenagakerjaan

I. Asas Hukum Ketenagakerjaan

Pasal 3 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 menaskan bahwa

pembangunan ketenagakerjaann diselenggarakan atas asas

keterpaduan melalui koordinasi fungsional lintas sektoral pusat

dan daerah. Asas pembangunan ketenagakerjaan pada dasarnya

sesuai dengan asas pembangunan nasional, khususnya asas adil

dan merata. Hal ini dilakukan karena pembangunan

ketenagakerjaan menyangkut multidimensi dan terkait dengan

berbagai pihak, yaitu antara pemerintah, pengusaha, dan

pekerja/buruh. Oleh karena itu, pembangunan ketenagakerjaan


2
Jangan Mau di PHK Begitu Saja

[Type here]
dilakukan secara terpadu dalam bentuk kerjasama yang saling

mendukung.

Pembangunan ketenagakerjaan dilaksanakan secara terpadu

dan terkoordinasi. Pembangunan itu dilaksanakan tidak hanya

pada saat adanya hubungan kerja (during employment), tetapi

juga harus dilaksankan sebelum adanya hubungan kerja dan

ketika hubungan kerja telah selesai.

2. Tujuan Hukum Ketenagakerjaan

Tujuan hubungan industrial kita tidak terlepas dari pembangunan

nasional yang bertujuan membangun masyarakat Indonesia

seutuhnya dan seluruhnya. Pembangunan masyarakat Indonesia

seutuhnya adalah pembangunan masyarakat Indonesia, baik

materiil maupun spiritual. Hal ini berarti bahwa pembangunan itu

tidak hanya mengejar kemajuan lahiriah, seperti pangan,

sandang, perumahan, kesehatan, serta kepuasan batiniah seperti

pendidikan, rasa aman, bebas mengeluarkan pendapat yang

bertanggung jawab, dan rasa keadilan, melainkan juga

keselarasan, keserasian, dan keseimbangan antara keduanya.

Berdasarkan pasal 4 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003

pembangunan tenaga kerja bertujuan sebagai berikut :

a. Memberdayakan dan mendayagunakan tenaga kerja secara

optimal dan manusiawi;

[Type here]
b. Mewujudkan pemerataan kesempatan kerja dan penyediaan

tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan

nasional dan daerah;

c. Memberikan perlindungan kepada tenaga kerja dalam

mewujudkan kesejahteraan;

d. Meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja dan keluarganya.

Pembanguna ketenagakerjaan sebagai bagian dari pembangunan

nasional bertujuan meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran

nasional. Untuk melaksanakan pembangunan tersebut harus

dilaksanakan berdasarkan asas-asas dan nilai-nilai yang hidup

dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

3. Tinjauan Umum tentang Hubungan Hukum Ketenagakerjaan

Hubungan hukum adalah hubungan yang diatur oleh hukum.

Hubungan yang diatur oleh hukum itu adalah hak dan kewajiban

warga, pribadi, yang satu terhadap yang yang lainnya dalam

hidup bermasyarakat. Jadi, hubungan hukum adalah hak dan

kewajiban hukum setiap warga atau pribadi dalam hidup

bermasyarakat. Hak dan kewajiban tersebut jika tidak dipenuhi

dapat dikenai sanksi menurut hukum.

Hukum memberikan kualifikasi terhadap hubungan-hubungan

tertentu yang dipilihnya. Dengan adanya pengualifikasian oleh

hukum ini, hubungan-hubungan itu menjadi hubungan hukum.

Agar terjadi hubungan hukum diperlukan pihak-pihak yang

[Type here]
melakukan hal itu, kemudian disebut dengan subjek hukum, dan

yang menjadi sasaran dari jalinan hubungan tersebut, yaiut

subjek hukum, hubungan hukum, dan objek hukum dinamakan

kategori-kategori hukum atau pengertian yang bersifat dasar dari

hukum. Disebut demikian karena tidak mungkin ada suatu tatanan

hukum tanpa ada subjek hukum dan seterusnya.

Sebuah perusahaan dapat dikerjakan oleh seseorang

pengusaha atau beberapa orang pengusaha dalam bentuk kerja

sama. Dalam menjalankan perusahaanya seorang pengusaha

dapat bekerja sendirian atau dibantu dengan orang lain yang

disebut dengan “pembantu-pembantu perusahaan”.

Hal yang perlu diperhatikan adalah hubungan hukum antara

pembantu-pembantu dalam perusahaan dan pengusaha.

Pimpinan perusahaan bukan pengusaha, tetapi petugas yang

diberi kuasa oleh pengusaha untuk menjalankan perusahaan.

Peran pengusaha sangatlah penting dalam mewujudkan

kesejahteraan tenaga kerja, sesuai dengan peraturan perundang-

undangan yang berlaku dan cita-cita bangsa Indonesia. Tanpa

pengusaha tidak mungkin ada pekerja dan sebaliknya. Jadi,

antara pengusaha dan pekerja saling berhubungan erat dan tidak

bisa dipidahkan. Sementara itu, pemerintah hanya sebagai

pengatur antara pengusaha dan pekerja dalam hal hak dan

kewajiban kedua belah pihak yang dimuat dalam sebuah

[Type here]
ketentuan perundang-undangan.

Pimpinan perusahaan bertanggung jawab terhadap seluruh

pengelolaan dan maju mundurnya perusahaan kepada

pengusaha. Ia dibayar oleh pengusaha dengan upah yang mahal

sesuai dengan keahlian dan hasil karyanya. Jadi hubungan hukum

antara pimpinan perusahaan dan pengusaha bersifat sebagai

berikut:

a. Hubungan perburuhan, yakni hubungan yang bersifat

subordinasi antara majikan dan buruh, yang memerintah dan

yang diperintah. Manajer mengikatkan dirinya untuk

menjalankan perusahaan dengan sebaik-baiknya, sedangkan

pengusaha mengikatkan diri untuk membayar upahnya (1601 a

kuhper).

b. Hubungan pemberian kuasa, yaitu suatu hubungan hukum

yang diatur dalam pasal 1792 Kitab Undang-Undang Hukum

Perdata. Pengusaha merupakan pemberi kuasa, sedangkan

manajer merupakan pemegang kuasa. Pemegang kuasa

mengikatkan diri untuk memberi upah sesuai dengan perjanjian

yang bersangkutan.

Dua sifat hubungan hukum tersebut tidak hanya berlaku bagi

pimpinan perusahaan dengan pengusaha, tetapi juga berlaku

bagi semua pembantu pengusaha dalam perusahaannya. Karena

hubungan hukum itu bersifat campuran, berlakulah pasal 1601c

[Type here]
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, yang menyatakan, “Jika

suatu persetujuan mengandung sifat-sifat suatu perjanjian kerja

dan persetujuan lain, maka baik ketentuan-ketentuan mengenai

perjanjian kerja maupun ketentuan-ketentuan mengenai

persetujuan lain yang sifat-sifatnya terkandung di dalamnya,

keduanya berlaku, jika ada pertentangan antara kedua jenis

ketentuan tersebut, maka yang berlaku adalah mengenai

ketentuan mengenai perjanjian kerja”.

Dari uraian diatas, hubungan kerja antar-individu baru akan

terwujud jika dituangkan dalam suatu perjanjian kerja. Karenanya,

status pekerja dan pengusaha baru akan melekat pada kedua

belah pihak semenjak perjanjian tersebut ditandatangani. Dengan

demikian, hubungan hukum tersebut kemudian akan

menimbulkan konsekuensi-konsekuensi atau kewajiban-

kewajiban, baik bagi pengusaha maupun pekerja, munculnya

kewajiban adalah berbanding lurus dengan munculnya hak.

4. Tinjauan Umum Tentang Perjanjian

Hukum perikatan merupakan bagian dari hukum harta kekayaan.

Dalam sistematika ilmu pengetahuan hukum, harta kekayaan diatur

dalam buku III yang mencakup hubungan antara orang dan benda,

hubungan antara orang dan orang. Sedangkan hukum yang mengatur

tentang hubungan antara orang dan orang diatur dalam buku III

tentang perikatan.

[Type here]
Perikatan adalah terjemahan dari istilah dalam Bahasa belanda

“verbintenis”. Perikatan artinya hal yang mengikat antara orang yang satu

dengan orang yang lain3.

Hal yang mengikat adalah suatu peristiwiwa hukum yang dapat

berupa perbuatan, kejadian, dan keadaan. Peristiwa hukum tersebut

menciptakan hubungan hukum. Perikatan lahir karena suatu persetujuan

atau karena Undang-Undang4.

Hubungan hukum yang timbul diantara pihak-pihak yang terlibat

dalam perikatan tersebut melahirkan hak dan kewajiban yang kemudian

menimbullkan istilah “prestasi”, yaitu sesuatu yang dituntut oleh salah

satu pihak kepada pihak yang satu. Tiap-tiap perikatan adalah untuk

membarikan sesuatu, untuk berbuat sesuatu, atau tidak untuk berbuat

sesuatu.5

Berdasarkan penjelasan diatas, perikatan melahirkan “kewajiban” kepada

orang peserorangan atau pihak tertentu yang dapat berwujud salah satu

dari tiga bentuk berikut, yaitu :

a. Untuk memberikan sesuatu;

b. Untuk melakukan sesuatu;

c. Untuk tidak melakukan seseuatu tertentu.6

Perjanjian atau Verbintenis mengandung pengertian yaitu suatu

hubungan hukum kekayaan/harta benda antara dua orang atau lebih,

3
Abdulkadir Muhammad, Hukum Perdata Indonesia, (Bandung : PT Citra Aditya Bakti 2000),
hlm.198
4
Soedharyo Soimin, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, (Sinar Grafika, 1999), hlm.313
5
Solahudin, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, (Jakarta : Visimedia,2008)
6
http://digilib.unila.ac.id/3707/12/BAB%20II.pdf diakses pada tanggal 3 Agustus 2019

[Type here]
yang memberi kekuatan hak pada suatu pihak untuk memperoleh prestasi

dan sekaligus mewajibkan pada pihak lain untuk menunaikan prestasi. 7

Perjanjian merupakan suatu peristiwa dimana seseorang berjanji kepada

orang lain atau dapat dikatakan peristiwa dimana dua orang atau lebih

saling mengikrarkan diri untuk berbuat sesuatu. Definisi perjanjian

batasnya telah diatur dalam pasal 1313 KUH Perdata yang menyatakan

bahwa, “suatu perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu

orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih”.
8

5. Tinjauan Umum Tentang Perjanjian Kerja

Pada suatu pekerjaan tentunya pasti ada perjanjian kerja yang akan

dibuat oleh para pihak, dimana perjanjian kerja merupakan dasar dari

terbentuknya hubungan kerja yang dilakukan oleh pemberi

kerja/pengusaha dengan pekerja.

Perjanjian kerja adalah sah apabila telah memenuhi syarat-syarat sahnya

perjanjian dan asas-asas dalam hukum perikatan. Perjanjian kerja yang

dalam Bahasa Belanda biasa disebut Arbeidsovreenkomst, dapat

diartikan dala beberapa pengertian. Pengertian yang pertama disebutkan

dalam ketentuan pasal 1601a KUH Perdata mengenai perjanjian kerja

disebutkan bahwa :

Perjanjian kerja adalah suatu perjanjian dimana pihak yang satu, si

buruh mengikatkan dirinya untuk dibawah perintah pihak yang lain si


7
M. Yahya Harahap, Segi-Segi Hukum Perjanjian, (Bandung : Penerbit Alumni 2010)
8
Subekti, R, dan R. Tjitrosudibio, Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUH Perdata), Pradnya
Paramita, Jakarta, 2003

[Type here]
majikan untuk sewaktu-waktu tertentu melakukan pekerjaan dengan

menerima upah.9

Selain itu pengertian normatif diatas, perjanjian kerja juga

dikemukakan oleh R. Goenawan Oetomo, yang menerangkan

bahwa :

Perjanjian kerja haruslah berdasarka atas pernyataan kemauan

yang sepakat, dari pihak buruh kemauan yang dinyatakan dan

menyatakan untuk bekerja pada pihak majikan kemauan yang

dinyatakan dan menyatakan akan mempekerjakan buruh itu

dengan membayar upah. Disamping kemauan yang spakat antara

kedua belah pihak, harus ada pula penyesuaian antara

pernyataaan kehendak dan kehendak yang menyatakan itu

sendiri serta kehendak itu harus dinyatakan secara bebas dan

bersungguh-sungguh10.

Selanjutnya perihal pengertian perjanjian kerja, dikemukakan pula

oleh Subekti yang mengatakan bahwa:

Perjanjian adalah antara seorang buruh dengan seorang majikan,

perjanjian mana ditandai ciri; adanya upah atau gaji tertentu yang

diperjanjikan dan adanya suatu hubungan diperatas (Bahasa

Belanda, Dienstverhouding) yaitu suatu hubungan berdasarkan

mana pihak yang satu (majikan) berhak memberikan perintah-

9
R Subekti dan R Tjitrosudibio, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata ©, cet. 12, (Jakarta:
Pradnya Paramita, 1979) hal. 327.
10
R. Goenawan Oetomo, Pengantar Hukum Perburuhan & Hukum Perburuhan di Indonesia,
(Jakarta:Grahadhika Binangkit Press, 2004), hal.38

[Type here]
perintah yang harus ditaati oleh pihak yang lain. 11

Pasal 1 angka 14 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang

Ketenagakerjaan menyebutkan perjanjian kerja adalah perjanjian

antara pekerja/buruh dengan pengusaha atau pemberi kerja yang

memuat syarat-syarat kerja, hak dan kewajiban pera pihak.

Menurut Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang

Ketenagakerjaan pasal 50 yang dimaksud “Perjanjian Kerja” adalah

hubungan kerja yang terjadi karena adanya perjanjian kerja antara

pengusaha dan pekerja/buruh 12. Pasal 51 ayat 1 dinyatakan bahwa

perjanjian kerja dibuat secara tertulis atau lisan. Dalam pasal 51 ayat

2 dinyatakan bahwa perjanjian kerja dipersyaratkan secara tertulis

dilaksanakan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku 13.

Perjanjian kerja terdapat dalam beberapa jenis menurut waktu

berakhirnya perjanjian tersebut, yaitu:

a. Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) adalah perjanjian kerja

antara pekerja dengan pengusaha untuk mengadakan hubungan

kerja dalam waktu tertentu atau pekerja tertentu. Salah satu

contoh pekerja waktu tertentu adalah pekerja kontrak, tenaga alih

daya atau pekerja outsourcing.

b. Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tentu adalah perjanjian kerja antara

11
Subekti, Aneka Perjanjian (b), cet. 12, (Bandung: PT Alumni, 1977), hal. 63
12
Republik Indonesia, Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan, Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 39, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4279. Untuk selanjutnya dalam penulisan ini disebut Undang-Undang
Ketenagakerjaan
13
ibid.

[Type here]
pekerja/buruh dengan pengusaha untuk tetap mengadakan

hubungan kerja yang bersifat tetap.14

6. Tinjauan Umum tentang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK)

Menurut Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang

Ketenagakerjaan, yang dimaksud dengan pemutusan hubungan kerja

(PHK) adalah pengakhiran hubungan kerja karena suatu hal tertentu yang

menagkibatkan berakhirnya hal dan kewajiban antara pekerja/buruh dan

pengusaha.

Berdasarkan ketentuan Undang-Undang Ketenagakerjaan tersebut, maka

dapat dipahami bahwa PHK merupakan opsi terakhir dalam

penyelamatan sebuah perusahaan. Undang-Undang Ketenagakerjaan

sendiri mengatur bahwa perusahaan tidak boleh seenaknya saja

melakukan PHK terhadap karyawannya, terkecuali karyawan/pekerja

yang bersangkutan telah terbukti melakukan pelanggaran berat dan

dinyatakan oleh pengadilan bahwa si pekerja yang dimaksud telah

melakukan kesalahan berat dan putusan pengadilan telah memiliki

kekuatan hukum yang tetap.15

Pemutusan hubungan kerja yang terjadi karena adanya perselisihan,

keadaan ini akan membawa dampak terhadap kedua belah pihak, terlebih

bagi pekerja yang dipandang dari sudut ekonomis mempunyai kedudukan

yang lemah jika dibandingkan dengan pihak pengusaha. Karena

pemutusan hubungan kerja bagi pihak buruh akan memberi pengaruh


14
Indonesia. Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No.100/MEN/IV/2004 tentang
Pelaksanaan Perjanjian kerja Waktu Tertentu
15
Maringan Nikodemus, Jurnal Ilmu Hukum Legal Opinion, edisi 3. Vol 3, 2015, hlm. 3

[Type here]
psikologis, ekonomis dan finansial sebab:

a. Dengan adanya pemutusan hubungan kerja, buruh telah

kehilangan mata pencaharian.

b. Untuk mencari pekerjaan yang baru sebgai penggantinya, harus

banyak mengeluarkan biaya.

c. Kehilangan biaya hidup untuk diri sendiri dan keluarganya sebelum

mendapat pekerjaan yang baru sebagai penggantinya. 16

Sehubungan dengan akibat yang ditimbulkan dengan adanya pemutusan

hubungan kerja khususnya bagi buruh dan keluarganya, Imam Soepomo

berpendapat bahwa, pemutusan hubungan kerja bagi buruh merupakan

permulaan dari segala pengakhiran, permulaan dari berakhirnya

mempunyai pekerjaan, permulaan dari berakhirnya kemampuan

membiayai keperluan hidup sehari-hari keluarganya, permulaan dari

berakhirnya kemampuan menyekolahkan anak-anak dan sebagainya. 17

7. Tinjauan Umum Tentang Implementasi Undang-Undang

Ketenagakerjaan dalam Pelaksanaan Pemutusan Hubungan Kerja

(PHK)

Pemberhentian karyawan hendaknya berdasarkan peraturan dan

perundang-undangan yang ada agar tidak menimbulkan masalah, dan

dilakukan dengan cara sebaik-baiknya, sebagaimana pada saatmereka

diterima sebagai karyawan. Dengan demikian, hubungan antara

perusahaan dengan mantan karyawan tetap terjalin dengan baik. Akan


16
Manulang. Pokok-Pokok Hukum Ketenagakerjaan di Indonesia, Rineka Cipta: Jakarta. 1988.
hlm. 97
17
Soepomo Imam. Pengantar Hukum PerburuhanI. Cet. V Djambatan: Jakarta. 1983. Hlm. 124

[Type here]
tetapi pada kenyataannya sering terjadi pemberhentian dengan

pemecatan karena konflik yang tidak dapat diatasi lagi, yang seharusnya

pemecatan karyawan harus bersandar kepada peraturan dan perundang-

undangan karena setiap karyawan mendapat perlindungan hukum sesuai

dengan statusnya.

Terdapat 8 (delapan) alasan dalam pemutusan hubungan kerja yaitu,

karena undang-undang, keinginan perusahaan, keinginan karyawan,

pensiun, masa kontrak berakhir, kesehatan karyawan, meninggal dunia,

dan perusahaan dilikuidasi.18Keinginan perusahaan dapat menyebabkan

seseorang harus diberhentikan dari perusahaan, baik secara terhormat

atau dipecat. Permohonan izin PHK dapat diberikan dalam hal buruh

melakukan suatu pelanggaran atau kesalahan besar, antara lain:

a. Pada saat perjanjian kerja diadakan memberikan keterangan

palsu atau dipalsukan.

b. Melakukan tindakan kriminal.

c. Penganiayaan, menghina secara kasar atau mengancam

pengusaha, keluarga pengusaha atau teman kerja.

Pemberhentian berdasarkan keinginan perusahaan dapat terjadi

karena karyawan tersebut berusia lanjut dan tidak memiliki keuntungan

lagi bagi perusahaan. Karyawan tersebut biasanya sudah kurang cakap,

dan melakukan tindakan yang merugikan.19

18
Soepomo Imam. Op cit. hlm. 174
19
Maringan Nikodemus, Op cit. hlm. 4

[Type here]
Adapun beberapa cara yang dilakukan dalam proses pemberhantian

karyawan yaitu:

a. Adakan musyawarah antara karyawn dengan perusahaan;

b. Bila musyawarah menemui jalan buntu maka jalan terakhir adalah

melalui pengadilan atau instansi yang berwenang memutuskan

perkara;

c. Bagi karywan yang melakukan pelanggaran berat dapat langsung

diserahkan kepada pihak kepolisian untuk diproses lebih lanjut tanpa

meminta izin lebih dahulu kepada dinas terkait atau berwenang;

d. Bagi karyawan yang akan pensiun, dapat diajukan sesuai dengan

peraturan yang berlaku. Demikian pula terhadap karyawan yang akan

mengundurkan diri atau atas kehendak karyawan yang diatur sesuai

dengan peraturan perusahaan dan peraturan perundang-undangan

Faktor penyebab pemutusan hubungan kerja secara yuridis dalam

Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003, yang mana PHK yang dilakukan

oleh perusahan disebabkan:

1. Perusahaan mengalami kemunduran sehingga perlu rasionalisasi atau

pengurangan jumlah pekerja/buruh. Dalam hal PHK dengan alasan

rasionalisasi atau kesalahan ringan pekerja/buruh dalam Undang-

Undang Nomor 13 Tahun 2003, pasal 151 ayat (1) ditentukan bahwa

pengusaha, pekerja/buruh, serikat pekerja/buruh dan pemerintah

berupaya mengusahakan agar tidak terjadinya PHK. Dalam hal, upaya

tersebut telah dilakukan, tetapi PHK tidak dapat dihindari, maka

[Type here]
maksud PHK wajib dirundingkan oleh perusahaan dan SP/SB atau

pekerja/buruh, apabila pekerja/buruh tidak menjadi anggota SP/SB.

2. Pekerja/buruh telah melakukan kesalahan, baik kesalahan melanggar

ketentuan yang tercantum dalam peraturan perusahaan, perjanjian

kerja atau PKB (kesalahan ringan), maupun kesalahan pidana

(kesalahan berat). Pekerja/buruh yang diputuskan hubungan kerja

karena alasan telah melakukan kesalahan berat hanya dapat

memperoleh uang penggantian hak. Pemerintah mempertegas factor

penyebab terjadinya PHK dengan harapan agar pengusaha tidak

melakukan PHK terhadap pekerja/buruh secara semena-mena dan

melanggar hak buruh. Salah satu poin UU ketenagakerjaan,

sebagaimana yang tercantum dalam pasal 153 ayat (1) poin ke (3)

Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 adanya larangan

pemberlakuan PHK yaitu pekerja/buruh yang bersangkutan ibadah

yang diperintahkan oleh agamanya. Disini terlihat bentuk teori

kepedulian pemerintah dalam memperjuangkan hak pekerja untuk

menunaikan ibadahnya.20

8. Tinjauan Umum Tentang Konsekuensi Hukum Terhadap

Pemutusan Hubungan Kerja

Terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) maka dimulailah masa

sulit bagi pekerja dan keluarganya. Oleh karena itu untuk membantu atau

setidak-tidaknya mengurangi beban pekerja yang di PHK, undang-undang

mengharuskan atau mewajibkan pengusaha untuk memberikan uang


20
Maringan Nikodemus, Op cit, hlm. 5

[Type here]
pesangon, uang penghargaan, dan uang penggantian hak.

Alasan PHK berperan besar dalam menentukan apakah pekerja tersebut

berhak atas uang pesangon, uang penghargaan, dan uang penggantian

hak. Peraturan mengenai uang pesangon , uang penghargaan dan uang

penggantian hak diatur dalam pasal 156, 160 sampai 169 UU nomor 13

tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, menurut undang-undang tersebut

pihak perusahaan dapat bertanggung jawab dalam berbagai kondisi

seperti dibawah ini :

1. Pengunduran diri secara baik-baik atas kemauan sendiri.

2. Pengunduran diri secara tertulis atas kemauan sendiri karena

berakhirnya hubungan kerja.

3. Pengunduran diri karena mencapai usia pensiun.

4. Pekerja melakukan kesalahan berat.

5. Pekerja ditahan pihak berwajib.

6. Perusahaan bangkrut/perusahaan mengalami kerugian.

7. Pekerja mangkir terus menerus.

8. Pekerja meninggal dunia.

9. Pekerja melakukan pelanggaran.

10. Perubahan status, penggabungan, peleburan atau perubahan

kepemilikan.

11. Pemutusan hubungan kerja karena alasan efisiensi. 21

B. Kerangka Konseptual
21
Subekti, R, dan R. Tjitrosudibio, ibid

[Type here]
Suatu kerangka konsepsi merupakan kerangka yang

menggambarkan hubungan antara konsep-konsep khusus yang

ingin atau akan diteliti. Suatu konsep bukan merupakan gejala

yang akan diteliti, akan tetapi merupakan suatu abstraksi dari

gejala tersebut. Gejala itu sendiri biasanya dinamakan fakta,

sedangkan konsep merupakan suatu uraian mengenai hubungan-

hubungan dalam fakta tersebut.22

Konsep merupakan alat yang dipakai oleh hukum dan disamping

yang lain-lain, seperti asas dan standar. Oleh karena itu kebutuhan

untuk membentuk konsep merupakan salah satu dari hal-hal yang

dirasa penting dalam hukum. Konsep adalah suatu konstruksi

mental, yaitu sesuatu yang dihasilkan oleh suatu proses yang

berjalan dalam pikiran penelitian untuk keperluan analitis. 23

Penggunaan konsep dalam suatu penelitian adalah untuk

menghindari penafsiran yang berbeda terhadap kerangka konsep

yang dipergunakan, oleh karena itu penulis merumuskan konsep

dengan mempergunakan model definisi operasional. Adapun

definisi yang dipergunakan dalam penelitian ini yaitu:

1. Tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan

pekerjaan guna menghasilkan barang dan/jasa baik untuk


24
memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat.

22
Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum (Jakarta; UI Press, 1984), hlm.132.
23
Satjipto Rahardjo, Ilmu hukum, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2000), hlm.307.
24
Pasal 1 Angka 2 UU Nomor 13 Tahun 2003.

[Type here]
2. Pekerja/buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan

menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain. 25

3. Pemberi kerja adalah perseorangan, pengusaha, badan hukum,

atau badan-badan lainnya yang mempekerjakan tenaga kerja


26
dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain.

4. Perjanjian kerja adalah perjanjian antara pekerja/buruh dengan

penusaha atau pemberi kerja yang memuat syarat-syarat kerja,

hak, dan kewajiban para pihak. 27

5. Yang dimaksud dengan penilaian kinerja karyawan adalah

prestasi sesungguhnya yang telah dicapai oleh seorang

karyawan.28

6. Yang dimaksud dengan pemutusan hubungan kerja adalah

pengakhiran hubungan kerja karena suatu hal tertentu yang

mengakibatkan berakhirnya hak dan kewajiban antara

pekerja/buruh dan pengusaha.29

7. Perselisihan hubungan industrial adalah perbedaan pendapat

yang mengakibatkan pertentangan antara pengusaha atau

gabungan pengusaha dengan pekerja/buruh atau serikat

pekerja karena adanya perselisihan mengenai hak, perselisihan

25
Ibid. Pasal 1 Angka 3.
26
Ibid. Pasal 1 Angka 4.
27
Ibid. Pasal 1 Angka 14.
28
Arti kata kinerja berasal dari kata job performance dan disebut juga actual performance.
Moeherono, Pengukuran Kinerja Berbasis Kompetensi, (Jakarta: RajaGrafindo Persada,
2012), hlm. 69.
29
Republik Indonesia, Undang-Undang Ketenagakerjaan, BAB I Ketentuan Umum Pasal 1
Sub Angka 25.

[Type here]
kepentingan, dan perselisihan pemutusan hubungan kerja serta

perselisihan antar serikat pekerja hanya dalam satu

perusahaan.30

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Dalam penulisan skripsi ini metode penlitian yang penulis pergunakan

adalah metode penelitian hukum normatif (penelitian yuridis normatif).

Penelitian hukum normatif atau penelitian perpustakaan ini merupakan

penellitian yang mengkaji studi dokumen, yakni menggunakan berbagai

data sekunder seperti peraturan perundang-undangan, keputusan

pengadilan, teori hukum, dan dapat berupa pendapat sarjana. Penelitian

30
Pasal 1 Angka 22 UU Nomor 13 Tahun 2003.

[Type here]
jenis normatif ini menggunakan analisis kualitatif yakni dengan

menjelaskan data-data yang ada dengan kata-kata pernyataan bukan

dengan angka-angka.

Data yang penulis gunakan dalam penulisan ini adalah data sekunder

yang meliputi tiga bahan hukum, yaitu:

1. Bahan Hukum Primer, yaitu bahan hukum yang mempunyai kekuatan

hukum mengikat kepada masyarakat, seperti norma dasar, peraturan

dasar, peraturan perundang-undangan, bahan hukum tidak tertulis,

yurisprudensi, perjanjian internasional dan peraturan jaman

penjajahan yang masih berlaku. Yang berhubungan dengan penulisan

ini adalah Kitab Undang-Undang Hukum Perdata serta Undang-

Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

2.

[Type here]