Anda di halaman 1dari 15

TUGAS 1

MATA KULIAH
HUKUM TATA NEGARA

OLEH
HERMAN ARSAD
042317986
2020.2
UPBJJ – UT KUPANG
Semester 3

FAKULTAS ILMU HUKUM


UNIVERSITAS TERBUKA
2021
TUGAS 1

Tugas Tutorial ke-1 akan diselenggarakan setelah kegiatan Tutorial pada Sesi 3,

diharapkan mahasiswa bisa menyelesaikannya pada waktu dua minggu setelah selesai

tutorial di Sesi 3 ini.

Kerjakan soal di bawah ini dengan singkat dan jelas. Jawaban yang hanya mengambil dari

internet (plagiat) tidak akan mendapatkan nilai maksimal. Sertakan referensi dalam

mengutip.

Submit (unggah) pada tempat yang sudah disediakan dan tidak melebihi waktu yang telah

ditentukan.

 Adapun materi yang ditugaskan dalam Tugas Tutorial ke-1 ini adalah berkaitan dengan :

1. Dalam praktik ketatengaraan terdapat konstitusi yang tidak dapat dilaksanakan sebagai

mana mestinya dengan alasan tertentu.

Sebutkan jenis klasifikasi nilai konstitusi tersebut beserta contohnya.

Jawaban :

 Jenis Klasifikasi Nilai Konstitusi yang tidak dapat dilaksanakan sebagai mana

mestinya dengan alasan tertentu disebut Nilai Nominal.

 Sebuah konstitusi dinyatakan mempunyai nilai nominal jika konstitusi telah sah

secara hokum tetapi dalam kenyataannya belum sepenuhnya dilaksanakan.

 Sebagai contoh dapat dikemukakan mengenai pelaksanaan Pasal 31 ayat 4

perubahan keempat UUD 1945 sebelum tahun 2009. Walaupun ditentukan dalam

pasal 31 ayat 4 perubahan keempat UUD 1945, bahwa anggaran Pendidikan

sekurang – kurangnya 20% dari APBN dan APBD akan tetapi hal tersebut baru
terpenuhi pada APBN Tahun 2009. Tidak sesuainya jumlah anggaran Pendidikan

dalam APBN tersebut menyebabkan APBN digugat ke Mahkamah Konstitusi. Sejak

tahun 2005-2008 putusan MK terkait hal tersebut adalah sebanyak 5 putusan yaitu :

- Putusan Nomor 012/PPU-III/2005.

- Putusan Nomor 026/PPU-III/2005.

- Putusan Nomor 026/PPU-IV/2006.

- Putusan Nomor 024/PPU-V/2007.

- Putusan Nomor 013/PPU-VI/2007. Tentang pengajuan Undang- undang APBN

terhadap UUD 1945 tanggal 13 Agustus 2008.

Referensi :

- Modul BMP HKUM4201 (Hukum Tata Negara) Universitas Terbuka.

2. Contoh kasus

Indonesia: Mengapa Negara Kesatuan dan Republik?

yohanesputrasuhito

“Mengapa Indonesia harus berbentuk negara kesatuan bukan federasi?”, “Mengapa

harus republik bukan monarki atau oligarki?”, adalah sebagian besar pertanyaan yang

muncul di benak penulis mengenai apa sebenarnya yang mendasari pemilihan bentuk

Negara Kesatuan Republik Indonesia oleh Bangsa Indonesia itu sendiri. Setelah

mempelajari mengenai asal-usul nama Indonesia, sejarah perjuangan kemerdekaan,

serta sejarah kelahiran Indonesia sebagai sebuah bangsa dan negara, pada minggu ini

penulis akan mencoba menjelaskan mengapa Indonesia memilih bentuk negara

kesatuan dengan republik sebagai bentuk pemerintahannya. Tentu ada berbagai macam
alasan yang melatarbelakangi munculnya pemilihan bentuk negara kesatuan dan bentuk

pemerintahan republik bagi Negara Indonesia yang disesuaikan dengan tujuan dan

kondisi Bangsa Indonesia pada masa itu.

Kita akan memulai dari pertanyaan pertama, “Mengapa harus berbentuk negara

kesatuan?”. Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa Indonesia adalah sebuah

negara kepulauan yang memiliki fenomena tingkat heterogenitas kependudukan yang

sangat tinggi. Keragaman etnis dan budaya menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang

paling artifisial di muka bumi ini (Anderson, 1991). Hal inilah yang menjadi salah satu

alasan utama mengapa Indonesia memakai konsep bentuk negara kesatuan dimana

pemerintahan yang mengatur jalannya negara secara umum adalah pemerintah pusat.

Selanjutnya, barulah ada sebuah konsep desentralisasi serta otonomi daerah yang

nantinya akan membuat daerah-daerah mengeluarkan potensi yang mereka miliki

masing-masing. Lalu mengapa bentuk negara kesatuan adalah yang paling cocok

dengan Bangsa Indonesia yang heterogen? Hal ini dikarenakan dengan adanya sebuah

pemerintahan yang dikontrol dari pusat maka seharusnya kebijakan yang diberikan

pemerintah pusat terhadap daerah sifatnya adalah merata dan adil, tidak ada suatu

daerah yang diberi sebuah regulasi dan kebijakan yang bersifat khusus. Jika negara

Indonesia menganut sistem federasi, akan ada kesenjangan yang terjadi di tiap-tiap

daerah di Indonesia karena prinsip negara federasi adalah pemerintah daerah (atau

negara bagian) memiliki kekuasaan dan kedaulatannya sendiri namun tetap sejalan

dengan peraturan perundangan yang berlaku. Bayangkan jika tiap daerah di Indonesia

memiliki kedaulatan mereka masing-masing dan menimbulkan kesenjangan di antara

daerah-daerah tersebut, maka yang berpotensi terjadi adalah sebuah disintegrasi bangsa.
Selain itu, Bangsa Indonesia ingin memilih bentuk negaranya sendiri, yang mereka

anggap sesuai dengan situasi dan kondisi mereka, bukan sebuah bentuk negara federasi

yang merupakan ‘mandat dan syarat’ dari pemerintahan Belanda pada masa awal

kemerdekaan Indonesia (Kahin, 1952 dalam Ferrazi, 2000).

Pertanyaan selanjutnya adalah, “Mengapa Indonesia harus berbentuk republik dan 

bukan monarki atau oligarki?”. Mohammad Hatta sebagai salah satu republikan paling

berpengaruh memberikan berbagai alasan yang menjelaskan mengapa Indonesia harus

memilih bentuk republik sebagai bentuk pemerintahannya. Alasan pertama adalah

sudah jelas bahwa republik adalah sebuah bentuk pemerintahan dimana yang

memegang kedaulatan adalah rakyat (Hatta, 2014). Jika berdasarkan kedaulatan rakyat

maka yang memiliki kekuasaan tertinggi adalah rakyat, dimana pemerintahan yang

berotoritas akan berasal dari rakyat dan bekerja demi kepentingan rakyat dan negaranya

saja sehingga berbagai keputusan yang dihasilkan harus melalui jalan mufakat terlebih

dahulu. Mufakat yang dimaksud disini adalah pengambilan keputusan secara kolektif

dengan jalan permuyawaratan perwakilan (Hatta, 2014:7). Jalan mufakat inilah yang

nantinya akan menjadi sebuah jaminan keadilan yang bersifat merata bagi seluruh

rakyat Indonesia dimana tidak ada suatu golongan tertentu yang akan lebih

mementingkan kepentingan golongannya di atas kepentingan kolektif negara. Alasan

kedua adalah dengan adanya kedaulatan rakyat, maka tanggung jawab tertinggi juga ada

di pundak rakyat karena dasar pemerintahan yang adil adalah siapa yang berkuasa maka

ia yang bertanggung jawab (Hatta, 2014:8). Menurutnya, pemerintahan yang

berdasarkan kedaulatan rakyat pada dasarnya akan lebih tangguh karena dijunjung oleh

tanggung jawab kolektif dimana ketika muncul perasaan tanggung jawab bersama, akan
muncul pula sebuah sendi kenegaraan yang kokoh (Hatta, 2014:9). Alasan kedua inilah

yang sangat berkaitan dengan alasan tidak dipilihnya bentuk negara monarki atau

oligarki. Jika dalam bentuk monarki atau oligarki, yang memiliki kekuasaan adalah raja

atau sekelompok kecil masyarakat saja sehingga jalannya suatu negara akan sangat

bergantung pada figur dan kecakapan satu orang atau beberapa orang saja. Secara lebih

lanjut, Hatta menjelaskan bahwa kecakapan dan figur tersebut tidaklah bersifat kekal

jika dibandingkan dengan pemerintahan rakyat yang sifatnya lebih kekal, karena rakyat

akan selalu ada selama negara tersebut berdiri (Hatta, 2014:13). Memperkuat argumen

Hatta, Tjokroaminoto memberikan sebuah kalimat yang menyatakan bahwa

pemerintahan yang ‘sempurna’ adalah sebuah pemerintahan yang memiliki sebuah

perwakilan rakyat yang bekerja secara sungguh-sungguh untuk kepentingan rakyat di

sampingnya dimana hal ini menegaskan bahwa pemerintahan berbentuk republik adalah

sebuah bentuk pemerintahan yang paling sesuai bagi Bangsa Indonesia (Tjokroaminoto,

1981).

Pemilihan bentuk negara kesatuan dan republik itu sendiri dilatarbelakangi oleh situasi

sosial dan politik yang terjadi kala itu. Gagalnya sistem pemerintahan federasi yaitu

Republik Indonesia Serikat pada tahun 1949 yang membuat rakyat semakin gencar

menyerukan adanya bentuk negara kesatuan karena pada awalnya Indoenesia adalah

adalah sebuah negara kesatuan yang berbentuk republik. Ditambah dengan situasi dan

realitas sosial yang menunjukkan bahwa Indonesia adalah sebuah bangsa yang

heterogen dan memiliki keragaman yang sangat kompleks maka bentuk negara kesatuan

republik adalah sebuah pilihan yang sekiranya cocok bagi bangsa Indonesia itu sendiri.

Penulis sangat menyetujui pendapat berbagai ahli khususnya Hatta yang menyatakan
berbagai alasannya mengenai mengapa Indonesia harus berbentuk Negara Kesatuan

Republik Indonesia. Untuk memperkuat argumen para ahli di atas, penulis mencoba

menarik sebuah kesimpulan sederhana yaitu Indonesia adalah sebuah negara dengan

tingkat kompleksitas yang sangat tinggi baik dari sisi heterogenitas bangsa maupun

kepentingan yang ada di dalamnya, namun dapat bersatu di bawah panji negara

kesatuan yang tidak memandang etnis, agama, golongan tertentu serta di bawah bendera

republik yang menomorsatukan kepentingan seluruh rakyat (kolektif) di atas

kepentingan golongan ataupun kelompok tertentu sehingga dapat tercipta suatu

hubungan yang terintegrasi dan harmonis di antara Bangsa Indonesia itu sendiri.

 http://yohanesputrasuhito-fisip14.web.unair.ac.id/artikel_detail-135221-Studi

%20Strategis%20Indonesia%20I-Indonesia%20:%20Mengapa%20Negara

%20Kesatuan%20dan%20Republik.html

 Berdasarkan artikel di atas, berikan analisis Anda mengenai perbedaan bentuk

negara dan susunan negara Indonesia! Jelaskan beserta ciri-cirinya.

Jawaban :

 Perbedaan bentuk Negara :

Bentuk suatu negara dapat dibedakan menjadi yakni negara kesatuan dan serikat

(federal).

a. Negara Kesatuan.

Dalam negara kesatuan, kedaulatan negara bersifat tunggal dan didalam nya tidak

terdapat negara bagian, Negara kesatuan menempatkan pemerintah pusat sebagai

otoritas tertinggi. Sementara wilayah – wilayah administratif di bawahnya hanya


menjalankan kekuasaan yang dipilih oleh pemerintah pusat untuk didelegasikan.

Contoh negara yang memiliki bentuk kesatuan.

Seperti Spanyol, Brunei Darussalam dan Indonesia.

b. Negara Serikta (Federal)

Dinegara serikat atau federal berasal dari negara bagian. Dimana sebagian

kedaulatan tersebut diserahkan kepada federal. Sehingga pada hakikatnya

kedaulatan berada pada negara bagian.

Contoh negara yang berbentuk serikat seperti Amerika Serikat, India dan Jerman.

Ciri – ciri negara serikat yakni :

- Mempunyai lebih dari satu kepala negara.

- Memiliki lebih dari satu konstitusi .

- Memiliki lebih dari satu cabinet.

- Memiliki lebih dari satu Lembaga perwakilan.

 Bentuk pemerintahan

Bentuk pemerintahan dapat dibedakan ada beberapa jenis, yakni, Otokrasi, Ologarki,

Monarki dan Republik.

a. Otokrasi adalah Negara yang diperintah dengan kekuasaan tunggal seperti raja atau

dictator yang tidak dapat di ganggu gugat.

b. Oligarki adalah Pemerintahan yang dijalankan oleh beberapa orang yang berkuasa

dari golongan atau kelompok tertentu.

c. Monarki adalah bentuk pemerintahan yang kekuasaannya dipegang oleh seorang

raja atau kaisar. Pada system pemerintahan tersebut biasanya akan berlangsung
sepanjang hayat sang raja, ratu atau sultan. Selanjutnya akan digantikan oleh

penerusnya yang berasal dari keluarga kerajaan.

d. Republik adalah Negara yang dijalankan berdasarkan prinsip kedaulatan rakyat

yang dilaksanakan secara demokratis melalui pemilihan umum.

 Susunan Negara Indonesia :

a. Sesuai dengan UUD NRI 1945 pasal 1 ayat 1, Negara Indonesia ialah negara

kesatuan, yang berbentuk republik. Bunyi UUD NRI tersebut belum pernah sama

sekali diamandemen. Sehingga secara tidak langsung menjelaskan bahwa Indonesia

sejak merdeka dan mempunyai UUD NRI 1945 merupakan negara kesatuan. Hal

tersebut merupakan suatu hal yang diinginkan para pembangun negeri ini.

Pemikiran mengenai negara kesatuan ini lahir karena memang kemerdekaan yang

Indonesia dapatkan bukan hanya kerja keras serta usaha di suatu daerah, akan tetapi

merupakan kerja keras serta usaha masing-masing daerah di Indonesia yang bersatu

padu melawan penjajah. Bahkan di Indonesia sering terdengar semboyan “Bersatu

Kita Teguh Bercerai Kita Runtuh”. Hal inilah menunjukkan sekaligus menjelaskan

bahwa persatuan dan kesatuan merupakan salah satu hal yang melatar belakangi

terbentuknya NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).

b. Indonesia sendiri merupakan negara kesatuan dengan sistem desentralisasi, yaitu

daerah diberi kekuasaan untuk mengatur rumah tangganya sendiri

(otonomi, swatantra). Untuk menampung aspirasi rakyat di daerah, terdapat

parlemen daerah yaitu Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Meskipun

demikian, pemerintah pusat tetap memegang kekuasaan tertinggi. Hal tersebut


sesuai dengan UUD NRI 1945 Pasal 18 yang menjelaskan mengenai pemerintah

daerah. Yang penjelasannya secara rinci dijelaskan dengan undang-undang.

c. Secara umum, negara kesatuan adalah negara mendahulukan kewenangan daerah

terlebih dahulu, baru kemudian sisanya adalah kewenangan pusat. Dengan kata lain,

pemerintah pusat lebih banyak mendominasi dalam kepemilikan kewenangan. Akan

tetapi di Indonesia yang merupakan negara kesatuan, kewenangan pemerintah pusat

hanya terbatas pada politik luar negeri, pertahanan, keamanan, moneter dalam

fiscal, peradilan dan agama. Hal ini memunculkan opini bahwa dalam

pelaksanaanya, Indonesia merupakan negara federal.

d. Akan tetapi bagaimanapun juga, Indonesia merupakan negara kesatuan dan susunan

negara kesatuan inilah yang terbaik untuk Indonesia. Mengenai pembagian

kewenangan tersebut merupakan sebuah bentuk penyesuaian saja. Karena tidak

mungkin jika susunan negara tersebut dilaksanakan secara murni di suatu negara.

Biasanya selalu menyesuaikan dengan banyak hal, seperti: wilayah, karakter

masyarakat, serta perkembangan masyarakat.

e. Di Indonesia ada pemerintah daerah yang memiliki otonomi daerah masing-masing.

Sehingga pemerintah daerah akan berusaha keras untuk mengolah segala sesuatu

yang ada di daerahnya agar dapat bermanfaat bagi daerahnya sendiri. Dari sisi ini

dapat terlihat bahwa pemberian otonomi tersebut memiliki segi positif. Pemerintah

daerah tidak menggantungkan sepenuhnya segala sesuatu mengenai daerahnya.

Referensi :

 Modul BMP HKUM4201 (Hukum Tata Negara) Universitas Terbuka.


3. Contoh kasus

Benarkah Bersistem Presidensial?

AKURAT.CO, Ketika menerima para pemimpin Majelis Permusyawaratan Rakyat

bersilaturrahim ke kantornya, Ketua Umum Partai Nasdem Suryo Paloh menegaskan

perlunya amandemen menyeluruh terhadap UUD 1945. Selain itu, Paloh juga

menghendaki untuk mempertegas dan memperkuat sistem presidensial dalam

kekuasaan.

Menarik dipersoalkan apakah Indonesia menganut sistem presidensial? Ataukah semi-

presidensial? Jika ya, bagaimana praktik yang berlangsung selama ini? Jika tidak, lalu

sistem apa yang dianut Indoensia?

Sistem presidensial sering dikontraskan dengan sistem parlementer. Tapi sistem ini

jelas tidak dianut Indonesia. Jika sistem parlementer sering mengacu ke

gaya Wesminster di Inggris, sementara sistem presidensial umumnya mengacu ke gaya

Amerika Serikat.

Presidensial dan Semi-Presidensial

Sistem presidensial memiliki sejumlah karekteristik, di antaranya: [1] kepala

pemerintahan adalah juga kepala negara; [2] presiden merupakan eksekutif tunggal; [3]

anggota parlemen tidak boleh menduduki jabatan di pemerintahan dan begitu juga

sebaliknya; [4] tidak ada peleburan bagian eksekutif dan legislatif seperti dalam sebuah

parlemen; [5] presiden tidak dapat membubarkan atau memaksa parlemen; [6] eksekutif

bertanggungjawab langsung kepada para pemilih; [7] tidak ada fokus kekuasaan dalam

sistem politik.
Di samping itu, dikenal pula sistem semi-presidensial. Sistem ini terkadang disebut

sistem persilangan. Prancis dan Finlandia, misalnya, sedang menerapkan sistem ini

dalam pemerintahan mereka. Pada dekade-dekade terakhir ini juga banyak diadopsi

oleh negara-negara bekas komunis dengan praktik yang relatif beragam

Menurut Heywood (2011), di dalam sistem semi-presidensial terdapat sebuah

“eksekutif ganda” di mana seorang presiden yang dipilih secara terpisah bekerja

bersama dengan seorang perdana menteri dan kabinet yang diambil dari – dan

bertanggung jawab kepada – Majelis Nasional.

Sistem semi-presidensial dapat berjalan bergantung pada sebuah keseimbangan yang

sulit antara otoritas dan popularitas personal dari sang presiden, di satu sisi, dan

kerumitan politik dari Majelis Nasional, di sisi lain.

https://akurat.co/news/id-864653-read-benarkah-bersistem-presidensial

 Berdasarkan artikel di atas, berikan analisis Anda mengapa Indonesia disebut

menggunakan sistem pemerintahan presidensial? 

Jawaban :

 Indonesia disebut menggunakan sistem pemerintahan presidensial karena

Indonesia memiliki unsur – unsur system presidensial diantaranya :

a. Presiden yang dipilih rakyat

b. Presiden secara bersamaan menjabat sebagai kepala negara dan kepala

pemerintahan dan dalam jabatannya ini mengangkat pejabat-pejabat pemerintahan

yang terkait.

c. Presiden harus dijamin memiliki kewenangan legislatif oleh UUD atau konstitusi.
 Sistem presidensial atau disebut juga dengan sistem kongresional,

merupakan system pemerintahan negara republik dimana kekuasaan eksekutif

dipilih melalui pemilu dan terpisah dengan kekuasaan legislatif.

 Dalam sistem presidensial, presiden memiliki posisi yang relatif kuat dan tidak

dapat dijatuhkan karena rendah subjektif seperti rendahnya dukungan politik.

Namun masih ada mekanisme untuk mengontrol presiden. Jika presiden melakukan

pelanggaran konstitusi, pengkhianatan terhadap negara, dan terlibat masalah

kriminal, posisi presiden bisa dijatuhkan. Bila ia diberhentikan karena pelanggaran-

pelanggaran tertentu, biasanya seorang wakil presiden akan menggantikan

posisinya.

 Ciri-ciri pemerintahan presidensial yaitu:

a. Dikepalai oleh seorang presiden sebagai kepala pemerintahan sekaligus kepala

negara.

b. Kekuasaan eksekutif presiden diangkat berdasarkan demokrasi rakyat dan

dipilih langsung oleh mereka atau melalui badan perwakilan rakyat.

c. Presiden memiliki hak prerogatif (hak istimewa) untuk mengangkat dan

memberhentikan menteri-menteri yang memimpin departemen dan non-

departemen.

d. Menteri-menteri hanya bertanggung jawab kepada kekuasaan eksekutif (bukan

kepada kekuasaan legislatif).

e. Kekuasaan eksekutif tidak bertanggung jawab kepada kekuasaan legislatif.

Referensi :
- Modul BMP HKUM4201 (Hukum Tata Negara) Universitas Terbuka.

- https://id.wikipedia.org/wiki/Sistem_presidensial.